Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PRAKTIKUM SISTEM PENCEGAHAN DAN

PENANGGULANGAN KEBAKARAN
PENGEMASAN SELANG PEMADAM KEBAKARAN

Oleh :
Nama : Ilmi Amalia Sholikha
Kelas : K3-4D
NRP : 0516040101
Kelompok :3

TEKNIK KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA


POLITEKNIK PERKAPALAN NEGERI SURABAYA
2018
BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Kebakaran merupakan sebuah fenomena kecelakaan yang sangat sering
terjadi pada era saat ini atau sesuatu bencana yang disebabkan
oleh api atau pembakaran tidak terkawal, membahayakan nyawa manusia,
bangunan atau ekologi. Ia boleh jadi sengaja atau tidak sengaja. Kebakaran
lazimnya akan menyebabkan kerusakan atau kemusnahan pada binaan dan
kecederaan atau kematian kepada manusia. Kebakaran kadangkala turut
menyebabkan ribut kebakaran atau kebakaran liar. Kebakaran bisa
menyebabkan cedera atau kematian. ditambah lagi dengan adanya industri
yang mulai menjamur fenomena kebakaran sering terjadi.
Adanya kebakaran yang semakin menjamur para ahli ciptakan sebuah
system untuk memadamkan kebakaran, system tersebut disebut dengan
sistem hidran. Sistem hidran tidak hanya terdapat pada gedung-gedung
perkantoran maupun industri namun system ini juga tersedia pada jalan raya.
Sistem ini digunakan untuk memadamkan pemadaman yang besar, dan
biasanya digunakan untuk para pemadam kebakaran, sebagai sarana untuk
menyemprotkan air dengan jumlah air yang besar untuk memadamkan api.
Pada system hidran ini terdapat beberapa bagian salah satunya adalah selang,
selang yang digunakan pada system hidran adalah untuk menyalurkan air atau
mensemprotkan air.
Selang pemadam kebakaran harus dikemas dan digulung dengan baik agar
tidak mengalami kerusakan dan untuk mempermudah saat akan
memasangkan pada tangki hidran serta untuk mempermudah saat
mentyemprot air.

2. Tujuan
1. TIU : Mahasiswa diharapkan mampu mengaplikasikan teori perawatan
peralatan pemadaman kebakaran
2. TIK : Mahasiswa mampu memahami tentang prosedur penggulungan
selang pemadam kebakaran.

3. Manfaat
1. Mampu mengaplikasikan teori pemadaman kebakaran.
2. Mampu memahami prosedur penggulungan selang pemadam kebakaran.
BAB II

LANDASAN TEORI
1. Klasifikasi kebakaran
Kebakaran diklasifikan (dikelaskan) menurut sumber apinya. Klasifikasi
kebakaran yang dimiliki di Indonesia mengacu pada standardNasional Fire
Protection Association (NFPA Standard No. 10, for the installation of
portable fire extinguishers) yang telah dipakai oleh PERMENAKERTRANS
RI No. Per 04/MEN/1980 tentang Syarat-syarat Pemasangan dan
Pemeliharaan Alat Pemadam Api Ringan (APAR).

Tabel 2.1 Kelas-kelas kebakaran


KELAS KEBAKARAN PEMADAM

Kertas, Kain,
Plastik, Kayu,
Kulit
Padat Non Logam Air, Uap Air, Pasir, Busa, CO2,
Serbuk Kimia Kering, Cairan Kimia

Metana,
Amoniak,
Solar, Minyak
tanah, Thinner
Gas/Uap/Cairan
CO2, Serbuk Kimia Kering, Busa

Arus Pendek (
Mengandung
unsur listrik)
Listrik CO2, Serbuk Kimia Kering, Uap Air

Aluminium,
Tembaga, Besi,
Baja
Serbuk Kimia sodium Klorida, Grafit
Logam
Bahan-Bahan
<Belum Diketahui Secara Spesifik>
Radioaktif

Radioaktif

Lemak dan
Minyak
Masakan
Cairan Kimia, CO2
Bahan Masakan

2. Klasifikasi Bahaya Hunian


Bahaya kebakaran dapat diklasifikasikan menjadi beberapa kelompok, yaitu:
1) Bahaya kebakaran ringan
Merupakan bahaya terbakar pada tempat dimana terdapat bahan-bahan
yang mempunyai nilai kemudahan terbakar rendah dan apabila terjadi
kebakaran melepaskan panas rendah dan menjalarnya api lambat.
2) Bahaya kebakaran sedang
Bahaya kebakaran tingkat ini dibagi lagi menjadi dalam tiga kelompok,
yaitu :
A. Kelompok I
Adalah bahaya kebakaran pada tempat di mana terdapat bahan-
bahan yang mempunyai nilai kemudahan terbakar sedang, penimbunan
bahan yang mudah terbakar dengan tinggi tidak lebih dari 2.5 meter
dan apabila terjadi kebakaran, melepaskan panas sedang sehingga
menjalarnya api sedang.
B. Kelompok II
Adalah bahaya kebakaran pada tempat di mana terdapat bahan-
bahan yang mempunyai nilai kemudahan terbakar sedang, penimbunan
bahan yang mudah terbakar dengan tinggi tidak lebih dari 4 meter dan
apabila terjadi kebakaran melepaskan panas sedang sehingga
menjalarnya api sedang.
C. Kelompok III
Merupakan bahaya terbakar pada tempat dimana terdapat bahan-
bahan yang mempunyai nilai kemudahan terbakar tinggi dan apabila
terjadi kebakaran melepaskan panas tinggi dan menjalarnya api cepat.
3) Bahaya kebakaran berat
Merupakan bahaya terbakar pada tempat dimana terdapat bahan-bahan
yang mempunyai nilai kemudahan terbakar tinggi dan apabila terjadi
kebakaran melepaskan panas sangat tinggi dan menjalarnya api sangat
cepat.
3. Pengertian Hydrant
Pengertian hydrant adalah suatu alat yang dilengkapi dengan selang (fire
house) dan mulut pancar (noozle) untuk mengalirkan air bertekanan yang
digunakan untuk keperluan pemadaman kebakaran. (kep.Men.PU
no.12/KPTS/1985.)
Pengertian lainnya hydrant yaitu sebuah alat perlindungan api aktif yang
disediakan di sebagian wilayah perkotaan, pinggiran kota, dan perdesaan
yang memiliki ketersediaan (pasokan) air yang cukup yang memungkinkan
petugas pemadam kebakaran untuk menggunakan pasokan air tersebut untuk
membantu memadamkan kebakaran.

Gambar 2.1 Hydrant


4. Jenis-Jenis dan Letak Sambungan Selang Pemadam Kebakaran
1) Sistem kelas I
System harus menyediakan sambungan selang ukuran 63. 5 mm (2, 5
inchi) untuk pasokan air yang digunakan oleh petugas pemadam
kebakaran dan mereka yang terlatih.
Letak sambungan dengan ukuran 65 mm :
 Apabila bagian lantai atau tingkat terjauh yang tidak dilindungi oleh
springkler yang jaraknya dari jalan keluar yang diisyaratkan melampui
45,7 m atau bagian lantai yang terjauh dan dilindungi oleh springkler
yang jarak tempuhnya melebihi 61 mm dari jarak yang ditentukan.
 Di bangunan mall yang tertutup, pada pintu masuk setiap jalur jalan
keluar atau koridor jalan keluar dan pintu-pintu masuk untuk umum
menuju ke mall
 Pada lantai tangga kebakaran yang teratas dengan tangga yang
mencapai atap dan apabila tangga tidak dapat mencapai atap, maka
sambungan selang tambahan 65 mm harus disediakan pada pipa tegak
yang terjauh untuk memenuhi keperluan pengujian.
 Di setiap jalur jalan keluar pada pintu masuk dari daerah bangunan
menuju ke jalan terusan
 Pada setiap bordes diantara dua lantai pada setiap tangga kebakaran
yang dipersyaratkan. Terdapat beberapa pengecualian diantaranya
yaitu sambungan selang diijinkan untuk diletakkan pada lantai
bangunan di dalam tangga kebakaran, atas persetujuan instansi yang
berwenang.
 Pada setiap sisi dinding yang berdekatan dengan bukaan jalan keluar
horizontal.
5. Penggunaan dan Cara Penggulungan Selang Pemadam Kebakaran
Fire Hose penggunaan dan cara menggulungnya sangat perlu untuk
diketahui bagi sebuah perusahaan yang baru melakukan pemasangan sistem
jaringan hydrant, hal tersebut tentunya berkaitan dengan pembentukan team
fire brigade perusahaan tersebut. Pada dasarnya selang kebakaran ( fire hose )
ditempatkan didalam box pemadam yang sering disebut dengan hydrant box.
Peletakannya pun ada beberapa cara yaitu di tempatkan begitu saja didalam
box atau diletakkan dengan cara di gantung dengan menggunakan hose rack.
Hose rack berfungsi untuk menempatkan fire hose didalam hydrant box
dengan cara menggantungkan selang kebakaran sehingga terlihat lebih rapi.
Penggunaan hose rack tidak hanya akan membuat fire hose menjadi lebih rapi
tetapi penggunaan hose rack sebenarnya dapat bermanfaat bagi fire man agar
dapat menarik atau membentangkan selang dengan lebih cepat, karena
kecepatan sangat dibutuhkan bagi para petugas kebakaran dalam menghadapi
kasus kebakaran.

Jenis Gulungan Selang Pemadam Kebakaran (Fire House) :


 Doughnut Roll
Merupakan bentuk gulungan selang yang biasa dan terdiri dari dua jenis
yaitu gulangan tunggal dan gulungan ganda atau kembar

 Coil Roll

Gambar 2.2 Doughnaut roll


Merupakan jenis bentuk gulungan selang tekanan tinggi yang dibelitkan
pada roll dengan alat pemutar/penggulung
 Flatting Hose
Merupakan bentuk gulungan selang biasa yang dilipat secara teratur di
dalam kotak (locker)

Ada dua cara menggulung selang atau fire hose :


1) Cara pertama adalah menggulung dengan teknik single roll. Teknik ini
sangat sederhana baik dari cara menggulung maupun
mempergunakannya. Cara menggulungnya kita dapat memulai dengan
cara melipat pada satu ujung selang pastikan kita mulai melipat pada
bagian ujung selang male coupling ( sangat perlu untuk diperhatikan,
karena kesalahan dalam menggulung selang dapat berakibat
memperlambat proses pemadaman). Saat kita sudah selesai menggulung
selang pastikan female coupling berada pada bagian luar gulungan
tersebut. Karena saat kita melempar selang bagian female coupling adalah
bagian yang akan kita sambungkan ke hydrant valve atau hydrant pillar.

Gambar 2.3 menggulung selang dengan teknik single roll

2) Cara kedua adalah menggulung fire hose ( selang hydrant ) dengan


menggunakan teknik double roll. Teknik ini sangat berbeda dari teknik
menggulung selang single roll, langkah yang harus kita lakukan adalah
menyatukan kedua ujung selang seperti kita melipat selang dengan
mempertemukan antara ujung satu dengan ujung lainya, setelah
dipertemukan geser ujung selang yang terletak pada bagian atas lebih
kurang 20 sampai 25 sentimeter, setelah hal ini kita lakukan pindah
kamposisi kita pada posisi lipatan selang dan kemudian gulung selang
secara padat dan rapi hingga ke ujung. Bagaimana cara menggunakan
selang ini jika kita menggunakan teknik double roll ? Caranya adalah saat
kebakaran terjadi ambil selang yang telah kita gulung double roll dan
letakkan selang pada permukaan tanah dengan jarak separuh panjang
selang tersebut dari hydrant pillar atau hydrant valve yang akan
digunakan. Artinya jika panjang selang yang anda miliki 20 meter maka
letakkan selang tersebut dengan jarak 10 meter dari hydrant pillar atau
hydrant valve. Pastikan coupling female pada fire hose menuju ke hydrant
pillar atau hydrant valve sedang ujung selang male menuju ke sumber api
dan di sambungkan dengan nozzle.

Gambar 2.4 menggulung selang dengan teknik double roll

6. Kerusakan Selang
Titik berat dari metode pembuatan selang adalah agar tanggung jawab
kemasakan selang dapat diperhatikan sepenuhnya. Hal ini penting bahwa
semua fire man dapat mengetahui cara memelihara selang dan bagaimana
memenuhi pangilan bila terjadi kebakaran. Kerusakan selang dapat dihindari
dengan mempertegas instruksi dalam pelatihan dan setiap kesempatan
mengingatkan personil agar hati-hati dalam mempergunakan selang.
Kemampuan yang tinggi dan banyaknya pengalaman diperlukan untuk
menguji dan memelihara selang. Hal ini dapat memacu sikap hati-hati dan
menambah pengetahuan tentang selang.
 Gesekan (Abrasi)
Orang harus selalu ingat cara meletakkan selang tanpa harus
menyeretnya. Pernyataan mengenai abrasi adalah berkaitan dengan cara
pembenahan selang. Pengertian abrasi adalah rusaknya selang akibat
adanya gesekan air dengan volume yang besar saat dilakukannya proses
pemadaman.
 Lapuk (Mildew)
Lapuk atau mildew terjadi apabila selang dalam keadaan belum kering
(masih setengah basah/lembab) disimpan dalam waktu yang lama dan
akhirnya terjadi pelapukan.
 Kejutan (Shock)
Hal ini terjadi apabila selang tidak digunakan dalam waktu yang lama,
tiba-tiba digunakan secara langsung untuk mengalirkan air dalam volume
yang besar sehingga selang menjadi shock.
 Asam, minyak, pelumas dan bahan bakar
Apabila selang yang digunakan dalam pemadaman terlalu banyak terkena
minyak pelumas maupun zat cair yang bersifat asam akan mengalami
pengeroposan secara perlahan.

7. Cara Perawatan Selang Pemadam Kebakaran


1) Selang Pemadam Sering digunakan Untuk Pelatihan
Untuk selalu menjaga kualitas selang pemadam, cara yang pertama
adalah selang pemadam tersebut sering di gunakan untuk sarana
pelatihan. Apabila selang pemadam tersebut tidak sering di gunakan
untuk pelatihan maka bisa saja selang pemadam itu bisa kaku atau bisa
bocor.
2) Keringkan Setelah Digunakan
Mengeringkan bagian dalam selang pemadam setelah digunakan, agar
selang tidak menjadi lengket atau terserang jamur dan lumut. Bila selang
sudah lengket atau terserang jamur dan lumut ini bisa menghambat aksi
pemadaman karena air yang tersumbat.
3) Perhatikan Cara Membuka Selang
Banyak orang salah dengan cara membuka selang pemadam,
kebanyakan orang saat membuka selang pemadam dengan cara ditarik
padahal hal tersebut dapat merusak selang pemadam. cara membuka
selang pemadam yang benar adalah dengan mendorong bagian kumparan
selang di uraikan, bukan ditarik.
4) Minimalkan Penarikan Selang Pemadam
Diusahakan seminim mungkin untuk menarik selang, terutama saat
digunakan di aspal. Dikarenakan gesekan selang dengan aspal dapat
membuat selang pemadam tersebut bocor atau rusak dan tidak dapat di
gunakan lagi.
5) Simpan Selang Pemadam dengan Benar
Sebaiknya selang pemadam disimpan pada tempatnya yaitu hydrant
box dan diusahakan selang pemadam tersebut tidak terkena sinar matahari
langsung.

8. Prinsip Cara Menggelar Selang Pemadam Kebakaran


 Arah Arah lemparan dari sumber air kearah api.
 Gelaran selang tidak boleh terpuntir.
 Selang tidak boleh ditarik/diseret sepanjang permukaan tanah

9. Kerusakan Selang Pemadam Kebakaran


a. Gesekan (Abrasi)
Pernyataan mengenai abrasi adalah berkaitan dengan cara pembenahan
selang. Pengertian abrasi adalah rusaknya selang akibat adanya gesekan
air dengan volume yang besar saat dilakukannya proses pemadaman.
b. Lapuk (mildew)
Lapuk atau mildew terjadi pabila selang dalam keadaan belum kering
(masih setengah basah/lembab) disimpan dalam waktu yang lama dan
akhirnya terjadi pelapukan
c. Kejutan (Shock)
Hal ini terjadi apabila selang tidak digunakan dalam waktu yang lama,
tiba-tiba digunakan sevara langsung untuk mengalirkan air dalam volume
yang besar sehingga selang menjadi shock
d. Asam, minyak, pelumas, dan bahan bakar
Apabila selang digunakan dalam pemadaman terlalu banyak terkena
minyak pelumas maupun zat cair yang bersifat asam akan mengalami
pengeroposan secara perlahan.
e. Injury by Heat
10. Perlengkapan Selang Kebakaran (Fire Hose)
Perlengkapan selang kebakaran (Fire Hose) adalah sebagai berikut:
1. Menyambung selang (coupling)
Merupakan perlengkapan dari setiap selang, strainer, nozzle, dan pipa
outlet/inlet kendaraan pemadam yang berfungsi untuk menghubungkan
atau menyambungkan:
a. Dari satu selang ke selang yang lain
b. Dari satu selang ke nozzle (alat pemancar)
c. Dari satu selang pesngisap ke strainer (saringan)
d. Dari satu selang ke discharge pipa pengeluaran dari mesin pompa
(discharge outlet)
e. Dari satu selang ke hydrant (sumber air bertekanan)
Bahan coupling adalah dari allumunium alloy dan atau kuningan
Jenis-jenis coupling terdiri dari:
a. Ztros coupling yang digunakan oleh unit PKP-PK
b. Instantenous coupling
c. Moris coupling
Bgian dari coupling adalah:
a. Clamp fitting
b. Tail piece
c. Ring gasket

Gambar 2.5 Coupling


2. Saringan selang penghisap (strainer)
Strainer adalah saringan yang dipasang pada selang penghisap (suction
hose) dengan tujuan mencegah benda masuk seperti rumput, batu, dll ke
pompa melalui selang penghisap yang mengakibatkan kerusakan pada
pompa.
Jenis-jenis strainer adalah:
a. Basket strainer
Merupakan saringan yang terbuat dari rotan atau bamboo yang
dianyam, dipasang di luar dari metal strainer, dan berbentuk
keranjang serta mudah di lepas
b. Metal strainer
Merupakan sebuah saringan yang terbuat dari logam, dan dipasang
langsung ke selang penghisap dan dilengkapi dengan coupling
serta dapat dilepas dan dipasang
c. Conical strainer
Merupakan sebuah saringan yang terbuat dari kawat yang dianyam
dan dipasang pada bagian dala metal strainer, atau pada lubang
pemasukan (suction inlet) dan biasanya dipasang tetap

Gambar 2.6 Strainer


3. Nozzle (Pemancar)
Merupakan bagian selang yang digunakan untuk memancarkan air
atau bahan pemadam api kimia lainnya. Nozzle dibuat dengan bermacam-
macam ukuran sesuai kebutuhan dan terdiri dari berbagai jenis, yaitu:
a. Plain nozzle
Adalah suatu jenis pemancar yang dibuat khusus untuk memancarkan
air dalam bentuk pancaran padat (solid stream)
b. Variable jet nozzle
Adalah suatu jenis pemancar yang dilengkapi dengan tuas pengontrol,
dalam penggunaanya/pemancarannya dapat diatur pemancar padat
(solid stream) dan pancaran pengembang (spray)
c. Foam nozzle
Adalah suatu jenis pemancar yang dibuat khusus mendapatkan
pancaran busa
d. Fog nozzle
Adalah suatu jenis pemancar yang dibuat khusus mendapatkan satu
bentuk pancaran mengabut
e. Cellar nozzle
Adalah suatu jenis pemancar yang dibuat pada ujung nozzle terdapat
beberapa lubang yang mengelilingnya. Pancaran yang dihasilkan
padat (solid) dan setiap lubang arah pancaran tidak sama, karena
nozzle ini berputar

Gambar 2.7 Nozle

4. Cabang (Branch Coupling)


Merupakan alat penghubung selang yang berbentuk cabang.
Jenis-jenis Branch Coupling adalah sebagai berikut:
a. Wye Connection/ Deviding Branch Coupling
Adalah jenis cabang yang digunakan untuk membagi dari satu
pancaran menjadi dua pancaran, yang bertujuan untuk memperbanyak
jumlah pancaran
b. Siemese Connection / Collecting Branching
Adalah jenis cabang yang digunakan untuk menyambung /
menggabungkan dari dua pancaran menjadi satu pancaran. Tujuan
memakai cabang ini untuk memperoleh kapasitas jumlah pancaran
c. Coupling adabtor
Adalah jenis cabang yang dibuat khusus dari coupling digabung
menjadi satu dan tidak sama besar atau dua coupling yang tidak
sejenis. Tujuannya memakai coupling adabtor ialah apabila terdapat
berbagai selang yang diameternya dan jenis coupling berbeda agar
dapat digunakan secara bersama-sama

Gambar 2.8 Branch coupling


5. Kunci Copling
Merupakan suatu alat yang dibuat khusus untuk mengikat atau
mengencangkan dan melepaskan dua buah coupling. Jenis kunci coupling
antara lain universal spanner dan universal suction spanner.
6. Pelindung selang
a. Suction pad
Merupakan alat pelindung suction hose, digunakan untuk menjaga
agar permukaan suction hose yang menempel pada suatu tempat tidak
terjadi goresan. Bahan yang digunakan yaitu terpal, karung, keset,
atau bahan lunak.
b. Chafing Block
Merupakan alat pelindung delivery hose digunakan pada saat gelaran
delivery hose melalui permukaan yang kasar seperti jalan yang
kasar/bekas bangunan dan untuk menghindari kebocoran pada
delivery hose.
c. Hose Bridge
Merupakan alat pelindung delivery hose, digunakan saat gelaran
delivery hose cross jalan raya.
d. Hose jacket
Merupakan alat pelindung delivery hose, digunakan untuk menutupi
kebocoran pada delivery hose saat operasi pemancaran
BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM

1.1 Peralatan
Selang pemadam kebakaran
1.2 Diagram Alir
1. The Roll or Coil/donut roll (digulung tunggal)

Selang diletakkan dilantai dan


mulai digulung dari kopling
female (perempuan )

Kopling male ( laki-laki) berada


di luar gulungan

Hanya di pakai untuk instantaneous


coupling

2. Dutch roll or or roill on the bight (digulung ganda)

tekukan kurang lebih 60 cm

a
a
Digulung bersama-
sama

Kompling perempuan
tetap berada di dalam

Cara memasangnya
kompling laki-laki di pasang
pada hydrant dan kopling
perempuan di larikan ke

3. Flaking (dilipat)

Selang dilipat bagian belakang dan


depan nya, sehingga kopling laki-laki
dan perempuan saling terpisah
dibagian luar dan melindungi bagian
tengah dari lipatan

Cara menguntungkan karena


kecepatan waktu menarik
selang tergantung dari
kecepatan gesekan orang
4. Model Angka 8 (figure of eight)

Bentuk lipatan untuk


menghindari bentuk
pinggiran yang tajam

Bentuk angka 8 menguntungkan


karena untuk menghindari lekukan
pada lipatan sehingga selang dapat

Lakukan kegiatan
diatas sampai benar-
benar mahir
melaksanakannya
TUGAS PENDAHULUAN

1. Sebutkan Jenis-jenis selang pemadam kebakaran


2. Apa yang dimaksud dengan hoserell ?
3. Sebutkan perlengkapan selang pemadam kebakaran dan jelaskan masing-masing !

JAWAB

1. Berikut jenis-jenis selang pemadam kebakaran :


a. Attack Hose Type
Attack Hose Type adalah kain yang tertutup dan bersifat fleksibel serta
digunakan untuk membawa air dari tempat penyimpanan air (resevoir) ke
nozzle . Selang ini memiliki nilai diameter dalam sekitar 1,5-3 inchi ( 38-76
mm ) dan dirancang untuk beroperasi pada tekanan sampai sekitar 400 psi (
2.760 kPa ) . Panjang standar Attack Hose Type adalah 50 kaki ( 15,24 m ) .
b. Supply and Relay Hoses Type
Supply and Relay Hoses Type memiliki berdiameter yang besar, tertutup kain,
fleksibel yang digunakan untuk membawa air dari hidran yang jauh ke tempat
penyimpanan air (resevoir) atau untuk menyampaikan air dari resevoir lain
melalui jarak jauh. Selang ini memiliki nilai diameter dalam sekitar 3,5-5,0
inchi ( 89-127 mm ). Supply and Relay Hoses dirancang untuk beroperasi
pada tekanan sekitar 300 psi ( 2.070 kPa ) untuk diameter yang lebih kecil dan
sampai 200 psi ( 1.380 kPa ) untuk diameter yang lebih besar . Panjang standar
Supply and Relay Hoses adalah 100 ft ( 30,48 m ).
c. Forestry Hose Type
Forestry Hose Type adalah kain yang tertutup yang bersifat fleksibel dan
digunakan untuk melawan kebakaran di rumput, semak-semak, dan pohon-
pohon di mana selang ringan diperlukan untuk manuver di medan curam atau
kasar. Forestry Hose Type memiliki diameter sekitar 1,0-1,5 inchi ( 25 dan 38
mm ) dan dirancang untuk beroperasi pada tekanan sampai sekitar 450 psi (
3.100 kPa ) . Panjang standar adalah 100 ft ( 30,48 m ).
d. Booster Hose Type
Booster Hose Type adalah berbahan karet tertutup, berdinding tebal , dan
bersifat fleksibel yang dapat digunakan untuk memerangi kebakaran kecil . Ini
mempertahankan penampang bulat ketika tidak di bawah tekanan dan biasanya
dilakukan pada jalur di resevoir, bukannya disimpan datar. Booster hose
memiliki diameter sekitar 0,75 dan 1,0 inchi ( 19 dan 25 mm ) diameter
nominal dalam dan dirancang untuk beroperasi pada tekanan sampai 800 psi (
5.520 kPa ) . Panjang standar Booster hose adalah 100 ft ( 30,48 m ) .
e. Suction Hose Type
Suction Hose Type disebut selang hisap keras yang terbuat dari karet tertutup,
selang semi- kaku dengan logam internal yang bala bantuan. Hal ini digunakan
untuk menyedot air dari sumber-sumber tanpa tekanan seperti kolam atau
sungai dengan cara vakum. Selang hisap berkisar pada nominal diameter 2,5-
6,0 inchi ( 64-152 mm ). Panjang standar suction hose type adalah 10 kaki (
3,05 m ).

2. Hoserell adalah spindle silinder yang terbuat dari metal, fiberglass, atau plastik
dan digunakan untuk menyimpan selang. Penggunaannya dalam kebakaran,
hoserell dapat digunakan untuk menggulung selang kebakaran dengan mundanh
dengan tuas disamping hoserell tersebut.

3. Perlengkapan selang kebakaran


1. Selang kebakaran
Selang tekanan tinggi yang membawa air atau tahan api lainnya (seperti busa )
ke api untuk memadamkannya

2. Male Coupling
Kopling laki-laki atau male coupling adalah kopling yang digunakan untuk
mehubungkan selang kebakaran dengan nozzleagar tidak mudah terlepas
ketika ada aliran air yang mengalir.
3. Female Coupling
Kopling perempuan atau female coupling adalah kopling yang digunakan
untuk mehubungkan hidran tegak dengan selang kebakaran agar tidak mudah
terlepas ketika ada aliran air yang mengalir.
DAFTAR PUSTAKA

Selang Pemadam Kebakaran (1998), Petrokimia Gresik.

Fire fighting and rescue prosedures in theather of operators (1971) Departement


of Army.

Handoko, Lukman.2009.Modul Sistem Pencegahan dan Penanggulangan


Kebakaran. Surabaya.Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya