Anda di halaman 1dari 20

ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN KEGAWAT DARURATAN

TRAUMA DADA

Tugas ini dibuat untuk memenuhi tugas KGD 1 semester 5 tahun pelajaran 2017/2018
yang diberikan oleh Ibu Pri Astuti

Disusun Oleh :

Kelompok 7

 Ade Ainul Hikmah (720153001)


 Anisah Rizky Puspitasari (720153004)
 Arif Rachman (720153006)
 Bambang Edy Prasetyo (720153009)
 Fani Setiawan (720153015)
 Irvani Naji (720153024)
 Mukhamimah (720153032)

Kelas : S1 Keperawatan 2A

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH KUDUS

Jalan Ganesha 1 Purwosari Kudus Telp./Faks.(0291)442993/437218 Kudus 59316


Website : http://www.stikesmuhkudus.ac.id

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah Yang Maha Kuasa atas limpahan rahmat,
taufiq dan hidayah-Nya, penulis dapat meyelesaikan makalah ini sesuai apa yang diharapkan
dengan tepat waktu. Makalah ini berisi materi tentang “Asuhan Keperawatan Pasien Dengan
Kegawat Daruratan Trauma Dada”.

Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah KGD 1 sekaligus menambah
pengetahuan pembaca tentang Asuhan Keperawatan Pasien Dengan Kegawat Daruratan Trauma
Dada.

Penulisan makalah ini diperoleh dari beberapa sumber pada pengumpulan beberapa
daftar pustaka yang ada pada beberapa media buku.

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan.
Maka dari itu, penulis dengan senang hati akan menerima kritik dan saran yang membangun
dari semua pihak.

Akhir kata, harapan penulis semoga makalah ini memberi manfaat bagi pembaca dan
semua pihak yang membutuhkan.

Kudus, September 2017

Penulis

ii
iii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ...................................................................................................................... i

KATA PENGANTAR ................................................................................................................... ii

DAFTAR ISI................................................................................................................................. iii

BAB I PENDAHULUAN ..............................................................................................................1

1.1 Latar Belakang..............................................................................................1


1.2 Rumusan Masalah ........................................................................................1
1.3 Tujuan Penulisan ..........................................................................................1
1.4 Manfaat Penulisan ........................................................................................1
1.5 Sistematika Penulisan ...................................................................................2

BAB II PEMBAHASAN .....................................................................................................3

2.1 Pengertian Dan EtiologiTrauma Dada..........................................................3


2.2 Patofisiologi Dan pathwayTrauma Dada......................................................3
2.3 Manifestasi KlinisTrauma Dada ...................................................................7
2.4 Penatalaksanaan ............................................................................................7
2.5 Pemeriksaan Diagnostik ...............................................................................8
2.6 Pengkajian,Diagnosa Keperawatan & Intervensi .......................................11
2.7 Implementasi- Evaluasi Keperawatan ........................................................13

BAB III PENUTUP .............................................................................................................15

3.1 Kesimpulan .................................................................................................15


3.2 Saran ...........................................................................................................15

DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................................................16

iv
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Trauma thoraks adalah luka atau cedera yang mengenai rongga thorax yang dapat
menyebabkan kerusakan pada dinding thorax ataupun isi dari cavum thorax yang
disebabkan oleh benda tajam atau benda tumpul dan dapat menyebabkan keadaan gawat
thorax akut.Trauma thoraks diklasifikasikan dengan tumpul dan tembus.Trauma tumpul
merupakan luka atau cedera yang mengenai rongga thorax yang disebabkan oleh benda
tumpul yang sulit diidentifikasi keluasan kerusakannya karena gejala-gejala umum dan
rancu (Brunner & Suddarth, 2002).
Trauma dada menyebabkan hampir 25% dari semua kematian yang berhubungan
dengan trauma di amerika serikat dan berkaitan dengan 50% kematian yang berhubungan
dengan trauma yang mencakup cedera sistem multiple. Trauma dada diklasifikasikan
dengan tumpul atau tembus (penetrasi).Meski trauma tumpul dada lebih umum, pada
trauma ini seringtimbul kesulitan dalam mengidentifikasi keluasan kerusakan karena
gejala-gejala mungkin umum dan rancu.

1.2 RUMUSAN MASALAH


a. Untuk mengetahui tentang pengertian dan Etiologi Trauma Dada
b. Untuk mengetahui tentang Patofisiologi dan Pathway
c. Untuk mengetahui tentang Manifestasi Klinis
d. Untuk mengetahui tentang Penatalaksanaan
e. Untuk mengetahui tentang Pemeriksaan Diagnostik
f. Untuk mengetahui tentang Pengkajian,Diagnosa keperawatan & Intervensi
g. Untuk mengetahui tentang Implementasi- Evaluasi Keperawatan
1.3 TUJUAN PENULISAN
Dalam pembuatan makalah ini kami berharap semoga makalah ini dapat memberikan
pengetahuan sedikit tentang Asuhan Keperawatan Pasien Dengan Kegawat Daruratan
Trauma Dada, dan dapat di gunakan sebagai penunjang proses belajar mengajar
khususnya untuk mahasiswa jurusan keperawatan.
1.4 MANFAAT PENULISAN

1
Manfaat penulisan makalah ini agar pembaca mengatahui tentangAsuhan
Keperawatan Pasien Dengan Kegawat Daruratan Trauma Dada.
1.5 SISTEMATIKA PENULISAN
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Rumusan Masalah
1.3 Tujuan Penulisan
1.4 Manfaat Penulisan
1.5 Sistematika Penulisan

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pengertian dan Etiologi Trauma Dada


2.2 Patofisiologi dan Pathway Trauma Dada
2.3 Manifestasi Klinis
2.4 Penatalaksanaan
2.5 Pemeriksaan Diagnostik
2.6 Pengkajian, Diagnosa Dan I ntervensi Keperawatan
2.7 Implementasi-Evaluasi Keperawatan

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan
3.2 Saran

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian dan Etiologi Trauma Dada


Trauma dada adalah abnormalitas rangka dada yang disebabkan oleh benturan pada
dinding dada yang mengenai tulang rangka dada, pleura paru-paru, diafragma ataupun isi
mediastinal baik oleh benda tajam maupun tumpul yang dapat menyebabkan gangguan
sistem pernapasan (Suzanne & Smetzler, 2001)
Trauma thoraks merupakan trauma yang mengenai dinding thoraks dan atau
organ intra thoraks, baik karena trauma tumpul maupun oleh karena trauma tajam.
Memahami mekanisme dari trauma akan meningkatkan kemampuan deteksi dan
identifikasi awal atas trauma sehingga penanganannya dapat dilakukan dengan
segera (Kukuh, 2002; David, 2005).

ETIOLOGI

a)Tamponade jantung : disebabkan luka tusuk dada yang tembus ke mediastinum/daerah


jantung.
b)Hematotoraks : disebabkan luka tembus toraks oleh benda tajam, traumatik atau
sponta.
c) Pneumothoraks : spontan (bula yang pecah) ; trauma (penyedotan luka rongga dada) ;
iatrogenik (“pleural tap”, biopsi paaru-paru, insersi CVP, ventilasi dengan tekanan
positif).

2.2 Patofisiologi dan Pathway Trauma Dada


Kerusakan anatomi yang terjadi akibat trauma dapat ringan sampai berat
tergantung besar kecilnya gaya penyebab terjadinya trauma. Kerusakan anatomi yang
ringan pada dinding thoraks berupa fraktur kosta simpel. Sedangkan kerusakan
anatomi yang lebih berat berupa fraktur kosta multipel dengan komplikasi
pneumothoraks, hematothoraks dan kontusio pulmonum. Trauma yang lebih berat
menyebakan robekan pembuluh darah besar dan trauma langsung pada jantung.
Akibat kerusakan anatomi dinding thoraks dan organ didalamnya dapat
mengganggu fungsi fisiologi dari pernafasan dan sistem kardiovaskuler. Gangguan
sistem pernafasan dan kardiovaskuler dapat ringan sampai berat tergantung
kerusakan anatominya. Gangguan faal pernafasan dapat berupa gangguan fungsi
ventilasi, difusi gas, perfusi dan gangguan mekanik alat pernafasan. Salah satu
penyebab kematian pada trauma thoraks adalah gangguan faal jantung dan pembuluh

3
darah (Kukuh, 2002; David, 2005).
Kontusio dan hematoma dinding thoraks adalah trauma thoraks yang paling
sering terjadi. Sebagai akibat dari trauma tumpul dinding thoraks, perdarahan massif
dapat terjadi karena robekan pada pembuluh darah pada kulit, subkutan, otot dan
pembuluh darah interkosta. Kebanyakan hematoma ekstrapleura tidak membutuhkan
pembedahan, karena jumlah darah yang cenderung sedikit.
Fraktur kosta terjadi karena adanya gaya tumpul secara langsung maupun
tidak langsung. Fraktur kosta terjadi sekitar 35-40% pada trauma thoraks.
Karakteristik dari trauma kosta tergantung dari jenis benturan terhadap dinding dada.
Gejala yang spesifik pada fraktur kosta adalah nyeri, yang meningkat pada saat
batuk, bernafas dalam atau pada saat bergerak. Pasien akan berusaha mencegah
daerah yang terkena untuk bergerak sehingga terjadi hipoventilasi. Hal ini
meningkatkan risiko atelektasis dan pneumonia (Milisavljevic, et al., 2012).
Flail chest adalah suatu kondisi medis dimana kosta-kosta yang berdekatan
patah baik unilateral maupun bilateral dan terjadi pada daerah kostokondral. Angka
kejadian dari flail chest sekitar 5%, dan kecelakaan lalu lintas menjadi penyebab
yang paling sering. Diagnosis flail chest didapatkan berdasarkan pemeriksaan fisik,
foto thoraks, dan CT scan thoraks.
Fraktur sternum terjadi karena trauma tumpul yang sangat berat sering kali
disertai dengan fraktur kosta multipel. Gangguan organ mediastinum harus dicurigai
pada pasien fraktur sternum, umumnya adalah kontusio miokardium (dengan nyeri
prekordium dan dispnea). Diagnosis fraktur sternum didapatkan dari pemeriksaan
fisik, adanya edema, deformitas, dan nyeri lokal (Milisavljevic, et al., 2012).
Kontusio parenkim paru adalah manifestasi trauma tumpul thoraks yang
paling umum terjadi. Kontusio pulmonum paling sering disebabkan trauma tumpul
pada dinding dada secara langsung yang dapat menyebabkan kerusakan parenkim,
edema interstitial dan perdarahan yang mengarah ke hipoventilasi pada sebagian
paru. Kontusio juga dapat menyebabkan hematoma intrapulmoner apabila pembuluh
darah besar didalam paru terluka. Diagnosis didapatkan dari anamnesis, pemeriksaan
fisik (adanya suara gurgling pada auskultasi), foto thoraks, dan CT scan thoraks.
Kontusio lebih dari 30% pada parenkim paru membutuhkan ventilasi mekanik .
Pneumothoraks adalah adanya udara pada rongga pleura.Pneumothoraks sangat
berkaitan dengan fraktur kosta laserasi dari pleura parietalis dan visceralis.Robekan dari
pleura visceralis dan parenkim paru dapat menyebabkan pneumothoraks, sedangkan

4
robekan dari pleura parietalis dapat menyebabkan terbentuknya emfisema
subkutis.Pneumothoraks pada trauma tumpul thoraks terjadi karena pada saat terjadinya
kompresi dada tiba-tiba menyebabkan terjadinya peningkatan tekanan intraalveolar yang
dapat menyebabkan ruptur alveolus. Udara 10
yang keluar ke rongga interstitial ke pleura visceralis ke mediastinum menyebabkan
pneumothoraks atau emfisema mediastinum. Selain itu pneumothoraks juga dapat
terjadi ketika adanya peningkatan tekanan tracheobronchial tree, dimana pada saat
glotis tertutup menyebabkan peningkatan tekanan terutama pada bivurcatio trachea
dan atau bronchial tree tempat dimana bronkus lobaris bercabang, sehingga ruptur
dari trakea atau bronkus dapat terjadi. Gejala yang paling umum pada
pneumothoraks adalah nyeri yang diikuti oleh dispneu (Milisavljevic, et al., 2012).
Hematothoraks adalah adanya darah pada rongga pleura. Darah dapat masuk
ke rongga pleura setelah trauma dari dinding dada, diafragma, paru-paru, atau
mediastinum. Insiden dari hematothoraks tinggi pada trauma tumpul, 37% kasus
berhubungan dengan pneumothoraks (hemopneumothoraks) bahkan dapat terjadi
hingga 58% (Milisavljevic, et al., 2012).

5
Pathway

6
2.3 Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis yang sering muncul pada penderita trauma dada:
1. Tamponade jantung :
a. Trauma tajam didaerah perikardium atau yang diperkirakan menembus jantung.
b. Gelisah.
c. Pucat, keringat dingin.
d. Peninggian TVJ (tekanan vena jugularis).
e. Pekak jantung melebar.
f. Bunyi jantung melemah.
g. Terdapat tanda-tanda paradoxical pulse pressure.
h. ECG terdapat low voltage seluruh lead.
i. Perikardiosentesis keluar darah (FKUI, 1995).
2. Hematotoraks :
a. Pada WSD darah yang keluar cukup banyak dari WSD
b. Gangguan pernapasan (FKUI, 1995).

3. Pneumothoraks :
a. Nyeri dada mendadak dan sesak napas.
b. Gagal pernapasan dengan sianosis.
c. Kolaps sirkulasi.
d. Dada atau sisi yang terkena lebih resonan pada perkusi dan suara napas yang terdengar
jauh atau tidak terdengar sama sekali.
e. Pada auskultasi terdengar bunyi klik (Ovedoff, 2002).

2.4 Penatalaksanaan
1. Gawat Darurat / Pertolongan Pertama
Klien yang diberikan pertolongan pertama dilokasi kejadian maupun di unit gawat
darurat (UGD) pelayanan rumah sakit dan sejenisnya harus mendapatkan tindakan yang
tanggap darurat dengan memperhatikan prinsip kegawatdaruratan.
Penanganan yang diberikan harus sistematis sesuai dengan keadaan masing-masing klien
secara spesifik.Bantuan oksigenisasi penting dilakukan untuk mempertahankan saturasi
oksigen klien. Jika ditemui dengan kondisi kesadaran yang mengalami penurunan / tidak

7
sadar maka tindakan tanggap darurat yang dapat dilakukan yaitu dengan memperhatikan
:
a. Pemeriksaan dan Pembebasan Jalan Napas (Air-Way)
Klien dengan trauma dada seringkali mengalami permasalahan pada jalan napas.Jika
terdapat sumbatan harus dibersihkan dahulu, kalau sumbatan berupa cairan dapat
dibersihkan dengan jari telunjuk atau jari tengah yang dilapisi dengan sepotong kain,
sedangkan sumbatan oleh benda keras dapat dikorek dengan menggunakan jari telunjuk
yang dibengkokkan.Mulut dapat dibuka dengan tehnik Cross Finger, dimana ibu jari
diletakkan berlawanan dengan jari telunjuk Pada mulut korban.
Setelah jalan napas dipastikan bebas dari sumbatan benda asing, biasa pada korban tidak
sadar tonus otot-otot menghilang, maka lidah dan epiglotis akan menutup farink dan
larink, inilah salah satu penyebab sumbatan jalan napas. Pembebasan jalan napas oleh
lidah dapat dilakukan dengan cara Tengadah kepala topang dagu (Head tild – chin lift)
dan Manuver Pendorongan Mandibula (Jaw Thrust Manuver)
b. Pemeriksaan dan Penanganan Masalah Usaha Napas (Breathing)
Kondisi pernapasan dapat diperiksa dengan melakukan tekhnik melihat gerakan
dinding dada, mendengar suara napas, dan merasakan hembusan napas klien (Look,
Listen, and Feel), biasanya tekhnik ini dilakukan secara bersamaan dalam satu
waktu.Bantuan napas diberikan sesuai dengan indikasi yang ditemui dari hasil
pemeriksaan dan dengan menggunakan metode serta fasilitas yang sesuai dengan kondisi
klien.
c. Pemeriksaan dan Penanganan Masalah Siskulasi (Circulation)
Pemeriksaan sirkulasi mencakup kondisi denyut nadi, bunyi jantung, tekanan darah,
vaskularisasi perifer, serta kondisi perdarahan.Klien dengan trauma dada kadang
mengalami kondisi perdarahan aktif, baik yang diakibatkan oleh luka tembus akibat
trauma benda tajam maupun yang diakibatkan oleh kondisi fraktur tulang terbuka dan
tertutup yang mengenai / melukai pembuluh darah atau organ (multiple).Tindakan
menghentikan perdarahan diberikan dengan metode yang sesuai mulai dari penekanan
hingga penjahitan luka, pembuluh darah, hingga prosedur operatif.
Jika diperlukan pemberian RJP (Resusitasi Jantung Paru) pada penderita trauma dada,
maka tindakan harus diberikan dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan atau
meminimalisir kompilkasi dari RJP seperti fraktur tulang kosta dan sebagainya.
d. Tindakan Kolaboratif

8
Pemberian tindakan kolaboratif biasanya dilakukan dengan jenis dan waktu yang
disesuaikan dengan kondisi masing-masing klien yang mengalami trauma dada. Adapun
tindakan yang biasa diberikan yaitu ; pemberian terapi obat emergensi, resusitasi cairan
dan elektrolit, pemeriksaan penunjang seperti laboratorium darah Vena dan AGD, hingga
tindakan operatif yang bersifat darurat.
2. Konservatif
a) Pemberian Analgetik
Pada tahap ini terapi analgetik yang diberikan merupakan kelanjutan dari
pemberian sebelumnya.Rasa nyeri yang menetap akibat cedera jaringan paska trauma
harus tetap diberikan penanganan manajemen nyeri dengan tujuan menghindari
terjadinya Syok seperti Syok Kardiogenik yang sangat berbahaya pada penderita dengan
trauma yang mengenai bagian organ jantung.
b) Pemasangan Plak / Plester
Pada kondisi jaringan yang mengalami perlukaan memerlukan perawatan luka
dan tindakan penutupan untuk menghindari masuknya mikroorganisme pathogen.
c) Jika Perlu Antibiotika
Antibiotika yang digunakan disesuaikan dengan tes kepekaan dan kultur. Apabila
belum jelas kuman penyebabnya, sedangkan keadaan penyakit gawat, maka penderita
dapat diberi “broad spectrum antibiotic”, misalnya Ampisillin dengan dosis 250 mg 4 x
sehari.
d) Fisiotherapy
Pemberian fisiotherapy sebaiknya diberikan secara kolaboratif jika penderita
memiliki indikasi akan kebutuhan tindakan fisiotherapy yang sesuai dengan kebutuhan
dan program pengobatan konservatif.
3. Invasif / Operatif
a. WSD (Water Seal Drainage)
WSD merupakan tindakan invasif yang dilakukan untuk mengeluarkan udara, cairan
(darah, pus) dari rongga pleura, rongga thorax; dan mediastinum dengan menggunakan
pipa penghubung.
b. Ventilator
Ventilator adalah suatu alat yang digunakan untuk membantu sebagian atau seluruh
proses ventilasi untuk mempertahankan oksigenasi. Ventilasi mekanik adalah alat
pernafasan bertekanan negatif atau positif yang dapat mempertahankan ventilasi dan
pemberian oksigen dalam waktu yang lama.( Brunner dan Suddarth, 2001).

9
2.5 Pemeriksaan Diagnostik
1.Anamnesa dan Pemeriksaan Fisik
Anamnesa yang terpenting adalah mengetahui mekanisme dan pola dari trauma,
seperti jatuh dari ketinggian, kecelakaan lalu lintas, kerusakan dari kendaraan yang
ditumpangi, kerusakan stir mobil /air bag dan lain lain.
2. Radiologi : Foto Thorax (AP)
Pemeriksaan ini masih tetap mempunyai nilai diagnostik pada pasien dengan trauma
toraks. Pemeriksaan klinis harus selalu dihubungkan dengan hasil pemeriksaan foto
toraks.Lebih dari 90% kelainan serius trauma toraks dapat terdeteksi hanya dari
pemeriksaan foto toraks.
3. Gas Darah Arteri (GDA) dan Ph
gas darah dan pH digunakan sebagai pegangan dalam penanganan pasien-pasien
penyakit berat yang akut dan menahun. Pemeriksaan gas darah dipakai untuk menilai
keseimbangan asam basa dalam tubuh, kadar oksigen dalam darah, serta kadar
karbondioksida dalam darah. Pemeriksaan analisa gas darah dikenal juga dengan nama
pemeriksaan ASTRUP, yaitu suatu pemeriksaan gas darah yang dilakukan melalui darah
arteri. Lokasi pengambilan darah yaitu: Arteri radialis, A. brachialis, A. Femoralis.
4. CT-Scan
Sangat membantu dalam membuat diagnosa pada trauma tumpul toraks, seperti
fraktur kosta, sternum dan sterno clavikular dislokasi.Adanya retro sternal hematoma
serta cedera pada vertebra torakalis dapat diketahui dari pemeriksaan ini. Adanya
pelebaran mediastinum pada pemeriksaan toraks foto dapat dipertegas dengan
pemeriksaan ini sebelum dilakukan Aortografi.
5. Ekhokardiografi
Transtorasik dan transesofagus sangat membantu dalam menegakkan diagnosa adanya
kelainan pada jantung dan esophagus. Hemoperikardium, cedera pada esophagus dan
aspirasi, adanya cedera pada dinding jantung ataupun sekat serta katub jantung dapat
diketahui segera. Pemeriksaan ini bila dilakukan oleh seseorang yang ahli, kepekaannya
meliputi 90% dan spesifitasnya hampir 96%.
6. EKG (Elektrokardiografi)
Sangat membantu dalam menentukan adanya komplikasi yang terjadi akibat trauma
tumpul toraks, seperti kontusio jantung pada trauma.Adanya abnormalitas gelombang
EKG yang persisten, gangguan konduksi, tachiaritmia semuanya dapat menunjukkan

10
kemungkinan adanya kontusi jantung.Hati hati, keadaan tertentu seperti hipoksia,
gangguan elektrolit, hipotensi gangguan EKG menyerupai keadaan seperti kontusi
jantung.
7. Angiografi
Gold Standard’ untuk pemeriksaan aorta torakalis dengan dugaan adanya cedera aorta
pada trauma tumpul toraks.
8. Hb (Hemoglobin)
Mengukur status dan resiko pemenuhan kebutuhan oksigen jaringan tubuh.

2.6 Pengkajian, Diagnosa Dan I ntervensi Keperawatan


PENGKAJIAN
A. Pengkajian Primer
1. AIRWAY
Trauma laring dapat bersamaan dengan trauma thorax.walaupun gejala kinis yang ada
kadang tidak jelas, sumbatan airway karena trauma laring merupakan cidera laring yang
mengancam nyawa. Trauma pada dada bagian atas, dapat menyebabkan dislokasi ke area
posterior atau fraktur dislokasi dari sendi sternoclavicular. Penanganan trauma ini dapat
menyebabkan sumbatan airway atas. Trauma ini diketahui apabila ada sumbatan napas
atas (stridor), adanya tanda perubahan kualitas suara dan trauma yang luas pada daerah
leher akan menyebabkan terabanya defek pada regio sendi sternoclavikula. penanganan
trauma ini paling baik dengan reposisitertutup fraktur dan jika perlu dengan intubasi
endotracheal.

2. BREATHING
Dada dan leher penderita harus terbuka selama dilakukan penilaian breathing dan
vena-vena leher. Pergerakan pernapasan dan kualitas pernapasan pernapasan dinilai
dengan diobservasi, palpasi dan didengarkan. Gejala yang terpenting dari trauma thorax
adalah hipoksia termasuk peningkatan frekuensi dan perubahan pada pola pernapasan,
terutama pernapasan yang dengan lambat memburuk. Sianosis adalah gejala hipoksia
yang lanjut pada penderita. Jenis trauma yang mempengaruhi breathing harus dikenal
dan diketahui selama primary survey.

11
3. CIRCULATION
Denyut nadi penderita harus dinilai kualitas, frekuensi dan keteraturannya. Tekanan
darah dan tekanan nadi harus diukur dan sirkulasi perifer dinilai melalui inspeksi dan
palpasi kulit untuk warna dan temperatur. Adnya tanda-tanda syok dapat disebebkan oleh
hematothorax masif maupun tension pneumothorax. Penderita trauma thorax didaerah
sternum yang menunjukkan adanya disritmia harus dicurigai adanya trauma miokard.

B. Pengkajian Sekunder
Pengkajian pasien dengan trauma thoraks (Doenges, 2000) meliputi :
a. Aktivitas istirahat
Gejala : dipnea dengan aktivitas ataupun istirahat.
b. Sirkulasi
Tanda : Takikardia ; disritmia ; irama jantunng gallops, nadi apical berpindah, tanda
Homman ; TD : hipotensi/hipertensi ; DVJ.
c. Integritas ego
Tanda : ketakutan atau gelisah.
d. Makanan dan cairan
Tanda : adanya pemasangan IV vena sentral/infuse tekanan.
e. Nyeri/ketidaknyamanan
Gejala : nyeri uni lateral, timbul tiba-tiba selama batuk atau regangan, tajam dan nyeri,
menusuk-nusuk yang diperberat oleh napas dalam, kemungkinan menyebar ke leher,
bahu dan abdomen.
Tanda : berhati-hati pada area yang sakit, perilaku distraksi, mengkerutkan wajah.
f. Keamanan
Gejala : adanya trauma dada ; radiasi/kemoterapi untuk keganasan.
g. Penyuluhan/pembelajaran
Gejala : riwayat factor risiko keluarga, TBC, kanker ; adanya bedah intratorakal/biopsy
paru.
Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri
2. Ketidak efektifan pola nafas
3. Gangguan perfusi jaringan

12
Intervensi
No Diagnosa Tujuan & KH Intervensi
Keperawatan
1. Nyeri  Pain level Pain management
Definisi:  Pain control - Lakukan pengkajian
pengalaman sensori  Comfort level nyeri secara
dan emosional yang KH komprehensif
tidak menyenangkan - Mampu mengontrol termasuk
yang muncul akibat nyeri( tahu penyebab lokasi,kualitasdan
kerusakan jaringan nyeri, mampu faktor presipitasi)
yang aktual atau menggunakan teknik - Observasi reaksi
potensial atau nonfarmakologi untuk nonverbal dari ketidak
digambarkan dalam mengurangi nyeri, nyamanan
hal kerusakan mencari bantuan) - Kaji kultur yang
sedemikian rupa - Mampu mengenali mempengaruhi respon
nyeri nyeri
- Menyatakan rasa
nyaman bila nyeri
berkurang
2. Ketidak efektifan  Respiratory Airway Management
pola nafas status:airway patency - Buka jalan
Definisi: inspirasi KH: nafas,gunakan teknik
dan/ekspirasi yang Menunjukkan jalan nafas chin lift atau jaw
tidak memberi yang paten (klien tidak thrust bila perlu
ventilasi merasa tercekik,irama - Posisikan pasien
nafas,frekuensi pernafasan memaksimalkan
dalam rentang normal,tidak ventilasi
ada suara nafas abnormal) - Auskultasi suara
nafas,catat adanya
suara tambahan

13
- Monitor respirasi dan
status o2
3. Gangguan perfusi KH : - Kaji faktor penyebab
jaringan - Tanda-tanda vital dari situasi/keadaan
dalam batas normal individu/penyebab
- Kesadaran meningkat penurunan perfusi
- menunjukkan perfusi jaringan.
adekuat - Monitor GCS dan
keadaan umum
- Berikan oksigen
tambahan sesuai
indikasi

2.7 Implementasi-Evaluasi Keperawatan

14
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Trauma dada/Thorax adalah suatu kondisi dimana terjadinya benturan baik tumpul
maupun tajam pada dada atau dinding thorax, yang menyebabkan abnormalitas (bentuk)
pada rangka thorax. Perubahan bentuk pada thorax akibat trauma dapat menyebabkan
gangguan fungsi atau cedera pada organ bagian dalam rongga thorax seperti jantung dan
paru-paru, sehingga dapat terjadi beberapa kondisi patologis traumatik seperti
Haematothorax, Pneumothorax, Tamponade Jantung, dan sebagainya.

3.2 Saran
Dalam melakukan asuhan keperawatan khususnya pada pasien dengan kegawat
daruratan hendaknya mengetahui terlebih dahulu gambaran keadaan pasien dan rencana
asuhan keperawatan yang tepat untuk penanganan yang lebih.

15
DAFTAR PUSTAKA
Brooker, Christine. 2001. Kamus Saku Keperawatan. EGC : Jakarta
Smeltzer, Suzanne C.2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth. Edisi
8.Volume 1.EGC. Jakarta

https://www.academia.edu/9402455/ASUHAN_KEPERAWATAN_DENGAN_KASUS_TRAUMA_DADA

Wilkinson, Judith M., & Nancy r R. Ahern. (2013). BUKU SAKU DIAGNOSA KEPERAWATAN DIAGNOSA
NANDA, INTERVENSI NIC, KRITERIA HASIL NOC, Jakarta:Penerbit Buku Kedokteran EGC

16