Anda di halaman 1dari 24

Program Profesi

Pusat Jantung Terpadu (Perawatan Lantai 5)


RSUP DR. Wahidin Sudirohusodo Makassar

LAPORAN PENDAHULUAN
KELAINAN KATUP JANTUNG

Oleh:
KASMA YULIANI
R014172035

Preceptor Lahan Preceptor Institusi

(Ns. Eli Zuraida) (Saldy Yusuf, Ph.D, ETN.)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2018

1
BAB I
KONSEP MEDIS
A. Definisi
Ketika katup jantung yang secara normal memindahkan darah melalui
ruangan jantung secara efisien tidak dapat menutup atau membuka dengan
sempurna, perfusi jantung dan jaringan distal akan terganggu dan jaringan distal
akan mengalami kelelahan. Katup jantung adalah struktur yang halus dan
fleksibel, tersusun atas jaringan fibrosa yang dilapisi endotelium. Katup
memungkinkan aliran darah melalu jantung berjalan satu arah. Katup membuka
dan menutup secara pasif akibat perbedaan tekanan antara ruang jantung. Katup
yang lemah/bocor tidak akan menutup sempurna sehingga disebut regurgitasi
atau insufisiensi. Sementara katup yang kaku dan tidak dapat mem buka dengan
sempurna disebut sebagai stenosis (Black & Hawks, 2014).
Penyakit atau kelainan katup jantung merupakan penyakit yang muncul
diakibatkan karena adanya kelainan atau gangguan pada salah satu atau lebih
dari keempat katup jantung yang berfungsi sebagai penjaga aliran darah yang
berasal dari seluruh tubuh. Gangguan ini menyebabkan darah sulit mengalir ke
ruangan atau pembuluh darah selanjutnya, atau sebagian dari aliran darah
berbalik ke area sebelumnya. Penyakit katup jantung adalah penyakit yang
muncul akibat adanya kelainan atau gangguan pada salah satu atau lebih dari
keempat katup jantung, sehingga darah sulit mengalir ke ruangan atau pembuluh
darah selanjutnya, atau sebagian justru berbalik (Negasari, 2017).
Price & Wilson (2015) juga menyebutkan bahwa kelainan katup jantung
merupakan keadaan dimana katup jantung mengalami kelainan yang membuat
aliran darah tidak dapat diatur dengan maksimal oleh jantung. Katup jantung
yang mengalami kelainan membuat darah yang seharusnya tidak bisa kembali
masuk ke bagian serambi jantung ketika berada di bilik jantung membuat jantung
memiliki tekanan yang cukup kuat untuk memompa darah ke seluruh tubuh.
Akibatnya orang tersebut tidak bisa melakukan aktifitas dalam tingkat tertentu
Katup jantung atau klep jantung merupakan organ yang memiliki
mekanisme seperti gerbang atau pintu satu arah yang terdapat pada jantung.
Katup jantung berfungsi menjaga aliran darah yang berasal dari jantung dapat

2
mengalir dengan benar, baik antar ruangan jantung atau dari jantung keluar ke
pembuluh darah. Ada empat katup jantung yang masing-masing terletak:
1. Di antara serambi (atrium) kanan dengan bilik (ventrikel) kanan, bernama
katup trikuspid.
2. Di antara serambi kiri dengan bilik kiri, bernama katup mitral.
3. Di antara bilik kanan dengan pembuluh darah paru-paru (arteri
pulmonaris), yaitu pembuluh darah yang membawa darah menuju paru-
paru untuk memperoleh oksigen, bernama katup pulmonal.
4. Di antara bilik kiri dengan pembuluh darah arteri besar (aorta), yaitu
pembuluh darah yang membawa darah berisi oksigen dari jantung ke
seluruh tubuh, bernama katup aorta.
B. Etiologi
Katup jantung bekerja tiap kali jantung manusia berdetak. Katup mitral
dan katup trikuspid terbuka bersamaan dengan darah yang masuk ke dalam bilik
jantung, kemudian kedua katup menutup kembali. Bilik jantung kemudian
memompa darah keluar melalui katup pulmonal dan aorta, yang kemudian
menutup setelah darah keluar dari kedua bilik jantung. Mekanisme yang
berulang ini dapat terganggu ketika katup jantung tidak dapat bekerja dengan
baik (Willy, 2016).
Ada dua gangguan utama pada penyakit katup jantung, yaitu:
1. Stenosis katup jantung. Gangguan ini terjadi ketika katup jantung tidak
dapat terbuka dengan baik akibat katup yang menjadi kaku, menebal, atau
saling menempel. Kondisi ini membuat darah tidak dapat mengalir ke
ruangan selanjutnya atau seluruh tubuh, yang kemudian memicu otot jantung
untuk bekerja lebih keras untuk memompa darah, sehingga dapat
timbul gagal jantung pada penderitanya. Keadaan ini dapat terjadi pada
keempat katup jantung, sehingga penamaan penyakitnya mengikuti nama
katup jantung yang terkena gangguan. Misalnya stenosis katup trikuspid,
stenosis katup pulmonal, stenosis katup mitral, atau stenosis katup aorta.
2. Insufisiensi katup jantung atau regurgitasi. Umumnya dikenal dengan
istilah katup jantung bocor, adalah kondisi katup jantung yang tidak dapat
menutup dengan baik atau tidak kembali ke posisi semula. Kondisi ini

3
membuat darah mengalir kembali ke ruangan jantung sebelumnya, sehingga
mengakibatkan berkurangnya jumlah darah yang dialirkan ke seluruh tubuh.
Keadaan ini juga dapat terjadi pada keempat katup jantung seperti halnya
pada gangguan stenosis katup jantung yang dapat memicu kerusakan otot
jantung.
Penyebab adanya gangguan pada klep jantung atau penyakit klep jantung
(penyakit katup aorta) ini sebenarnya bukan merupakan penyakit yang dapat
ditularkan atau dikarenakan adanya virus, namun penyebab penyakit ini
dikarenakan adanya gangguan hati bawaan yang biasanya terjadi pada anak-
anak.Namun pada orang dewasa, penyakit ini juga dapat terjadi dan biasanya
disebabkan karena radiasi, rheumatoid arthritis, trauma, dan penyakit-penyakit
lain yang dapat memicunya yakni sejenis penyakit paget’s dan fabry’s, dan
adanya penyakit ginjal stadium akhir. Penyebab yang terdapat pada orang
dewasa memang lebih jarang, maka dari itu penyakit katup jantung ini lebih
jarang menyerang orang dewasa dibandingkan dengan anak-anak (yang lebih
sering mengalami)
Penyebab-penyebab munculnya kelainan katup jantung yang dialami oleh
seseorang terkadang tidak dapat diketahui asalnya, dan kadang-kadang juga
merupakan akibat dari penyakit lainnya yang akhirnya berimbas kepada kelainan
katup jantung. Penyakit-penyakit ini seperti misalnya, sifilis, penyakit jaringan
ikat, tekanan darah tinggi, kardiomiopati, serangan jantung, penyakit arteri
koroner, tumor, radiasi, obat-obatan tertentu dan aneurisma aorta (Negasari,
2017).
Selain itu, kelainan katup jantung juga dapat disebabkan oleh:
1. Rheumatic Fever, yakni infeksi karena adanya bakteri pada katup jantung
yang menyebabkan terjadinya peradangan dan umumnya hal ini menyerang
anak-anak
2. Endocarditis, yakni kondisi dimana dapat mengakibatkan lubang pada katup
jantung dan jaringan parut, dan disebabkan oleh adanya serangan bakteri.
Endocarditis diakibatkan oleh adanya bakteri yang masuk ke dalam aliran
darah, hal ini umumnya masih melalui prosedur operasi, prosedur

4
pemeriksaan gigi, infeksi berat dan adanya penyalahgunaan obat melalui
metode suntikan.
C. Jenis Penyakit Katup jantung
Menurut (Black & Hawks, 2014) penyakit katup jantung dibedakan menjadi
beberapa jenis:
1. Regurgitasi (insufisiensi) katup Mitral
Insufisiensi mitral terjadi bilah- bilah katup mitral tidak dapat saling
menutup selama systole. Chordate tendineae memendek, sehingga bilah
katup tidak dapat menutup dengan sempurna, akibatnya terjadilah regurgitasi
aliran balik dari ventrikel kiri ke antrium kiri. Pemendekan atau sobekan salah
satu atau kedua bilah katup mitral mengakibtakan penutupan lumen mitral
tidak sempurna saat ventrikel kiri dengan kuat mendorong darah ke aorta,
sehingga setiap denyut, ventrikel kiri akan mendorong sebagaian darah
kembali ke antrium kiri. Aliran balik darah ini ditambah dengan darah yang
masuk dari paru, menyebabkan antrium kiri mengalami pelebaran dan
hipertrofi. Aliran darah balik dari ventrikel akan menyebabkan darah yang
mengalir dari paru ke antrium kiri menjadi berkurang. Akibatnya paru
mengalami kongesti, yang pada giliranya menambah beban ke ventrikel
kanan. Maka meskipun kebocoran mitral hanya kecil namun selalu berakibat
terhadap kedua paru dan ventrikel kanan.
2. Stenosis Katup Mitral
Stenosis mitral adalah penebalan progresif dan pengerutan bilah – bilah
katup mitral, yang menyebabkan penyempitan lumen dan sumbatan progresif
aliran darah. Secara normal pembukaan katup mitral adalah selebar tiga jari.
Pada kasus stenosis berat menjadi penyempitan lumen sampai selebar pensil.
Ventrikel kiri tidak terpengaruh, namun antrium kiri mengalami kesulitan
dalam menggosongkan darah melalui lumen yang sempit ke ventrikel kiri.
Akibatnya antrium akan melebar dan mengalami hipertrofi karena tidak ada
katup yang melindungi vena pulmonal terhadap aliran balik dari antrium,
maka sirkulasi pulmonal mengalami kongesti. Akibatnya ventrikel kanan
harus menanggung beban tekanan arteri pulmonal yang tinggi dan mengalami
peregangan berlebihan yang berakhir gagal jantung (Black & Hawks, 2014).

5
Stenosis mitral di klasifikasikan menjadi 3 kelas dari ringan hingga
berat.
Ringan Sedang Berat
Mean pressure decrease <5 mmHg <6-10 mmHg >10 mmHg
Pressure half time <139ms 140-219 ms ≥220 ms
Mitral valve area (MVA) 1.6-2.0 cm2 1.5-1.0 cm2 <1.0 cm2
(Holmes, Gibbison, & Vohra, 2017)
3. Regurgitasi Katup Aorta
Insufisiensi aorta disebabkan oleh lesi peradangan yang merusak
bentuk bilah katup aorta,sehingga masing – masing bilah tidak bisa menutup
lumen aorta dengan rapt selama diastole dan akibatnya menyebabkan aliran
balik darah dari aorta ke ventrikel kiri. Defek katup ini bisa disebabkan oleh
endokarditis, kelainan bawaan, atau penyakit seperti sifilis dan pecahnya
aneurisma yang menyebabkan dilatasi atau sobekan aorta asendens
Karena kebocoran katup aorta saat diastole , maka sebagaian darah
dalam aorta, yang biasanya bertekanan tinggi, akan mengalir ke ventrikel kiri,
sehingga ventrikel kiri harus mengatasi keduanya yaitu mengirim darah yang
secara normal diterima dari atrium kiri ke ventrikel melalui lumen ventrikel,
maupun darah yang kembali dari aorta. Ventrikel kiri kemudian melebar dan
hipertrofi untuk mengakomodasi peningkatan volume ini, demikian juga
akibat tenaga mendorong yang lebih normal untuk memompa darah,
menyebabkan tekanan darah sistolik meningkat. Sistem kardiovaskuler
berusaha mengkompesansi melalui refleks dilatasi pembul;uh darah arteri
perifer melemas sehingga tahanan perifer turun dan tekanan diastolic turun
drastis.
4. Stenosis Katup Aorta
Stenosis katup aorta adalah penyempitan lumen antara ventrikel kiri dan
aorta. Pada orang dewasa stenosis bisa merupakan kelainan bawaan atau
dapat sebagai akibat dari endokarditisrematik atau kalsifikasi kuspis dengan
penyebab yang tidak diketahui. Penyempitan terjadi secara progresif selama
beberapa tahun atau beberapa puluh tahun. Bilah – bilah katup aorta saling
menempel dan menutup sebagaian lumen diantara jantung dan aorta.

6
Ventrikel kiri mengatasi hambatan sirkulasi ini dengan berkontraksi lebih
lambat tapi dengan energi yang lebih besar dari normal, mendorong darah
melalui lumen yang sangat sempit. Mekanisme kompesansi jantung mulai
gagal dan munculah tanda – tanda klinis.
Obstruksi kalur aliran aorta tersebut menambahkan beban tekanan ke
ventrikel kiri, yang mengakibatkan penebalann dinding otot. Otot jantung
menebal (hipertrofi) sebagai respons terhadap besarnya obstruksi ; terjadilah
gagal jantung bila obsruksinya terlalu berat.
5. Penyakit Katup Trikuspidalis
Penyakit katup trikuspidalis dibedakan menjadi 2 yakni stenosis
trikuspidalis dan regurgitasi trikuspidalis. Stenosis trikuspidalis atau
regurgitasi aorta biasanya berkembang dari demam reumatik atau kombinasi
demam reumatik dengan gangguan struktural lain jantung. Karena katup
berada pada sisi kanan jantung, gangguan hemodinamik utama yang biasa
terjadi biasanya berupa penurunan curah jantung dan peningkatan tekanan
atrium kanan. Ketidakmampuan atrium kanan untuk memompa darah
melewati katup yang mengalami stenosis menyebabkan kondisi tersebut.
Dengan regurgitasi trikususpidalis, tekanan di dalam atrium kanan juga akan
mengalami peningkatan karena adanya regurgitasi volume darah pada
ventrikel kanan kembali ke atrium kiri selama sistolik.
6. Penyakit Katup Pulmonal
Sama halnya dengan penyakit katup jantung yang lain, penyakit katup
pulmonal juga dibedakan menjadi 2 yakni stenosis pulmonal dan regurgitasi
pulmonal. Abnormalitas pada katup pulmonal biasanya merupakan defek
kongenital. Hanya sedikit lesi yang terjadi setelah kelahiran. Hipertensi
pulmonal yang disebabkan stenosis mitral, emboli paru atau penyakit paru
kronis dapat mencetuskan regurgitasi pulmonal fungsional. Stenosis
pulmonal dan regurgitasi menyebabkan penurunan curah jantung karena
suplai darah tidak adekuat mencapai sisi kiri jantung sesuai kebutuhan
metabolik. Regurgitasi pulmonal dapat menyebabkan keletihan dan dispnea.
Murmur berupa murmur diastolik bernada tinggi yang terdengar seperti
hembusan teerdapat sepanjang tepi kiri sternum. Tidak terdapat perubahan

7
EKG yang signifikan. Stenosis pulmonal dapat menyebabkan manifestasi
klinis yang mirip tetapi murmur sering berupa tipe kresendo-dekresendo.
Gagal jantung kanan dapat juga terjadi. Intervensi difokuskan untuk
mengatasi penyebab yang mendasari gagal jantung kanan.
D. Manifestasi Klinik
Katup jantung berperan untuk menjaga kelancaran aliran darah dalam
jantung. Makin lebar maupun makin sempitnya celah antara katup, dapat
meningkatkan tekanan pada jantung sehingga harus memompa lebih kuat (Willy,
2016). Kondisi ini menimbulkan gejala-gejala yang harus diwaspadai, seperti:
1. Nyeri dada dan sesak napas
2. Pusing.
3. Kelelahan.
4. Gangguan irama jantung.
5. Pingsan.
6. Edema (pembengkakan berlebih di bagian kaki, daerah perut, atau
pergelangan kaki sebagai akibat tersumbatnya cairan) yang juga
mengakibatkan kenaikan berat badan dengan cepat.
E. Komplikasi
Komplikasi-komplikasi yang terjadi pada kelainan katup adalah sebagai berikut:
1. Angina pectoris
2. Bedah jantung
3. Gagal jantung kongestif
4. Disritmia
5. Kondisi inflamasi jantung
6. Aspek-aspek psikososial perawatan akut
7. Penyakit jantung rematik
8. Penyakit jantung iskemik
F. Pemeriksaan Penunjang
Penyakit katup jantung dapat didiagnosis berdasarkan gejala yang muncul
dan setelah pasien menjalani tes fisik yang serupa dengan pemeriksaan pada
penderita penyakit jantung. Pemeriksaan fisik dilakukan dengan cara
mendengarkan suara detak jantung yang tidak normal pada saat pemeriksaan

8
dengan stetoskop (bising atau murmur jantung) atau irama jantung yang tidak
beraturan, serta memperkirakan ukuran jantung (Willy, 2016). Selain
pemeriksaan fisik, dokter membutuhkan beberapa pemeriksaan penunjang,
seperti:
1. Elektrokardiografi (EKG). Mengetahui gambaran aktivitas listrik jantung,
mendeteksi pembesaran ruang jantung, dan gangguan irama jantung.
2. Foto Rontgen dada. Dapat melihat pembesaran jantung dan melihat kondisi
paru-paru.
3. EKG Treadmill. Berfungsi untuk melakukan pemantauan jantung mengukur
terhadap aktivitas fisik yang dijalani.
4. Ekokardiografi. Ekokardiografi merupakan USG jantung yang memproduksi
gambar jantung menggunakan gelombang suara. Ekokardiografi dapat
melihat pergerakkan jantung, struktur jantung, katup jantung, dan aliran darah
dalam jantung. Ekokardiografi, layaknya pemeriksaan USG, dilakukan
dengan menempelkan alat (probe) melalui dinding luar dada, lalu akan
menampilkan hasil gambar ke monitor. Selain melalui dinding dada, probe
dapat dimasukan melalui mulut ke dalam kerongkongan (esofagus) dengan
tujuan melihat jantung lebih dekat lagi, tes ini disebut transesophageal
echocardiogram (TEE).
5. Kateterisasi jantung. Dilakukan dengan menyuntikan zat warna (kontras) ke
dalam pembuluh darah koroner dan dilakukan foto Rontgen. Untuk
menyuntikkan zat warna, akan dimasukan selang kecil (kateter) melalui
pembuluh darah arteri di lengan atau tungkai. Pemeriksaan ini dilakukan
untuk melihat pembuluh darah koroner secara rinci, mengukur tekanan
rongga jantung, dan evaluasi fungsi jantung.
6. MRI jantung. Pemeriksaan yang menggunakan medan magnet dan
gelombang radio untuk melihat gambaran jantung dan katupnya secara rinci,
untuk mengetahui tingkat keparahan dari penyakit katup jantung.

9
G. Penatalaksanaan
(Smeltzer & Bare, 2015) menyebutkan bahwa penatalaksanaan penyakit katup
jantung dapat dilakukan dengan berbagai cara sebegai berikut:
1. Valvuloplasti
Valvuloplasti adalah prosedur perbaikan katup. Tipe valvuloplasti tergantung
penyebab dan dan jenis disfungsi katupnya. Perbaikan yang dilakukan dapat
berupa komisura antara bilah-bilah katup (komisurotomi), pada anulus katup
(anuloplasti) atau pada bilah dan korda (kordoplasti).
2. Penggantian katup
Penggantian katup prostetik dimulai pada tahun 1960-an. Bila valvuloplasti
atau perbaikan katup tidak bisa dilakukan pada prosedur penggantian katup
perlu dilakukan. Ada 4 jenis penggantian katup yang sering dilakukan yaitu
katup mekanis, xenograf, homograf dan otograf. Katup mekanis dapat
berbentuk bola dan kurungan atau cakram. Katup mekanis dianggap lebih
kuat dibandingkan katup prostetik lainnya dan biasanya digunakan pada
pasien muda. Xenograf adalah katup jaringan (bioprostesis, heterograf),
biasanya dari babi tapi dapat juga digunakan katup dari sapi (bovin).
Homograf (katup dari manusia) diperoleh dari donor jaringan kadaver. Katup
aorta dan sebagian aorta atau katup pulmonal dan sebagian arteri pulmonalis
diambil dan disimpan secara kriogenik. Otograf (katup otolog) diperoleh
dengan memotong katup pulmonal pasien yang bersangkutan dan sebagian
arteri pulmonalis untuk digunakan sebagai katup aorta.
3. Perbaikan septum
Septum atrial dan ventrikel dapat mempunyai lubang yang abnormal antara
sisi kanan dan kiri jantung: defek septum. Meskipun kebanyakan defek
septum bersifat bawaan dan biasanya sudah diperbaiki pada saat masih bayi
atau kanak-kanak, namun defek septum dapat terjadi setelah individu dewasa
sebagai akibat dari infrak kardiak serta prosedur penanganan dan diagnostik
atau akibat belum mendapat perbaikan sewaktu kanak-kanak.

10
BAB II
KONSEP KEPERAWATAN
A. Pengkajian Keperawatan
Pengkajian keperawatan sebaiknya difokuskan pada tipe, derajat dan
perkembangan katup; adanya keletihan; manifestasi klinis adanya gagal jantung;
irama jantung (termasuk EKG); tanda vital; auskultasi dan palpasi jantung;
sistem pendukung klien dan derajat pengetahuan klien dan keluarganya
mengenai penyebab dan intervensi yang dapat dilakukan untuk gangguan
tersebut (Black & Hawks, 2014). Wawancara pengkajian kesehatan untuk
menentukan masalah pada fungsi dan struktur kardiovaskuler dapat dilakukan
selama skrining kesehatan yang berfokus pada keluhan utama misalnya nyeri
dada atau dapat menjadi bagian pengkajian kesehatans secara total. Jika pasien
mempunyai masalah kardiovaskuler analisa awitannya, karakteristik, perjalanan,
keparahan, faktor presipitasi, dan pereda, dan gejala terkait dengan
memperhatikan waktu dan keadaan. Sebagai contoh tanyakan kepada pasien
mengenai pertanyaan berikut:
1. Dimana letak nyeri dada yang anda rasakan? Apakah menjalar ke rahang atau
ke lengan kiri anda?
2. Uraikan jenis aktivitas yang menimbulkan nyeri dada anda
3. Apakah nyeri tungkai terjadi hanya saat beraktivitas seperti berjalan atau
selama istirahat?
4. Apakah anda merasakan berkunang-kunang saat jantung anda berdebar-
debar?
Wawancara dimulai dengan menggali keluhan utama pasien (nyeri dada,
nyeri tungkai, atau keletihan). Uraikan nyeri dada atau nyeri tungkai pada pasien
terkait letak, kualitas atau karakter, waktu, faktor tempat atau pemicu keparahan,
faktor yang memperburuk atau meredakan dan gejala terkait.
Gali riwayat medis pasien mengenai adanya gangguan kardiovaskuler
seperti angina, serangan jantung, gagal jantung kongestif (congestive heart
failure), stroke, hipertensi, penyakit vaskuler perifer, atau sakit kronik lain
misalnya diabetes atau kelainan pendarahan. Tanyakan kepada pasien tentang
bedah jantung atau penyakit sebelumnya seperti demam reumatik, demam sctalet

11
atau infeksi tenggorokan akibat streptococusberulang, dan terapi radiasi untuk
kanker payudara. Kaji ulang riwayat CAD, hipertensi, stroke, hiperlipidemia,
diabetes, penyakit jantung kongestif, atau kematian dalam keluarga pasien.
Tanyakan kepada pasien tentang munculnya gejala kardiovaskuler
sebelumnya atau sekarang, seperti nyeri dada, napas pendek, sulit bernapas,
batuk, palpitasi, keletiha, berkunang-kunang atau pusing, pingsan, murmur
jantung, bekuan darah, kram arau pembengkakan tungkai, perubahan warna atau
suhu kulit, vena varikosa, atau edema. Karena fungsi kardiovaskuler
mempenagruhi semua sistem tubuh lainnya, riwayat lengkap mungkin
diperlukan untuk menggali sistem terkait lain seperti fungsi pernapasan.
Tanyakan tentang pendarahan sebelumnya atau sekarang (dari hidung, gusi atau
mulut atau rektum) serta gejala terkiat kelenjar limfe (pembengkakan, nyeri,
panas), pembengkakan ektremitas dan infeksi berulang.
Kaji ulang kebiasaan pribadi pasien dan riwayat nutrisi termasuk berat
badan, pola makan, asupan diet, hipersensitivitas atau intoleransi terhadap
makanan atau atau medikasi; dan konsumsi kafein dan alkohol. Jika pasien
menggunakan produk tembakau tanyakan tentang jenis (rokok, pipa, cerutu,
tembakau sedot), durasi, jumlah, dan upaya berhenti. Jika pasien menggunakan
narkoba tanyakan tentang jenis, metode asupan (mis. Dihirup atau disuntik)
durasi pemakaian, dan upaya berhenti. Sertakan pertanyaan tentang tingkat
aktivitas dan toleransi pasien, aktivitas hiburan dan kebiasaan relaksasi. kaji pola
tidur pasien mengenai adanya gagguan tidur akibat dispnea, batuk,
ketidaknyamanan, berkemih, atau stress. Tanyakan jumlah bantal yang
digunakan pasien saat tidur (LeMone, Burke, & Bauldoff, 2017).

12
Berikut adalah wawancara pola kesehatan fungsional pada pasien dengan
kelainan jantung:

Pola Kesehatan Fungsional Pertanyaan wawancara dan Pernyataan Arahan


Persepsi kesehatan-  Apakah sebelumnya anda pernah mempunyai masalah
penatalaksanaan kesehatan jantung dan pembuluh darah? Jika ya jelaskan. Apa yang
telah anda gunakan untuk menangani masalah ini
 Apakah anda pernah didiagnosis menderita tekanan darah
tinggi? Jika ya bagaiamana penanagannya ?
 Apakah anda pernah mempunyai riwayat demam rematik,
diabetes, demam scarlet atau infeksi tenggorokan akibat
strepttococus? Jika ya jelaskan riwayat tersebut dan
terapinya
 Apakah anda pernah memeriksa kolesterol anda baru-baru
ini? Jika anda mempunayi kolesterol tinggi, bagaimana
penaganannya?
 Apakah anda pernah mempunyai masalah nyeri dadar,
keletihan, pendarahan, lebam, pembengkakan kelenjar
atau sirkulasi
 Apakah anda minum obat-obatan untuk membuat fungsi
jantung anda lebih efektif, seperti aspirin, obat untuk
mengontrol frekuensi jantung, anda, anti koagulan atau
diuretik? Berapa sering anda meminumnya?
 Apakah anda terpasangan pacu jantung pada umur berapa
anda terpasang pacu jantung dan untuk masalah apa?
Bagaimana anda memeriksa baterainya?
 Apakah anda merokok? Mengunyah tembakau, atau
menggunakan hisapan? Jika ya seberapa sering dan berapa
menit?
 Apakah anda minum alkohol? Jika ya , jenis apa, berapa
banyak, dan berapa lama?
 Aapakah anda dapat mengelola aktivitas harian anda dan
bekerja mandiri? Jelaskan.
Nutrisi-metabolik  Uraikan asupan makanan dan cairan anda dalam periode
24 jam. Berapa sering anda makan makanan yang
digoreng, makanan cepat saji, atau daging merah?
 Berapa banyak garam yang anda pakai dalam makanan?
 Apakah anda makan makanan yang berserat tinggi? Jika
ya apa saja dan berapa sering?
 Apakah akhir-akhir ini berat badan anda turun atau naik?
Jelaskan
 Apakah anda memperhatikan ada perubahan warna pada
kulit anda, misalnya pucat atau lembab atau kemerahan?
Jika ya apakah anda tahu penyebabnya?
 Apakah kaki atau tungkai anda bengkak? Dimana saja dan
berapa kali? Apa yang anda lakukan untuk meredakannya?

13
 Apakah anda memperatikan rambut anda rontok atau luka
pada tungkai anda? Apakah kuku jari kaki anda menebal?
Apakah anda pernah memakai stocking penyangga?
Eliminasi  Apakah masalah jantung memengaruhi eleminasi feses
dan urine anda?
Aktivitas-latihan  Uraikan aktivitas anda dalam 24 jam. Apakah anda latihan
fisik secara teratur? Jika ya berapa sering dan berapa lama?
 Apakah ada perubahan dalam kemampuan, energi atau
kekuatan anda untuk melakukan aktivitas biasa anda
(misalnya mandi, memberishkan rumah, berkebun,
belanja)? Jika ya jelaskan
 Apakah anda pernah harus berhenti atau istirahat saat
melakukan aktivitas harian? Jelaskan apakah anda sering
merasakan nyeri tungkai saat berjalan? Jika ya, berapa jauh
anda dapat berjalan sebelum nyeri mulai timbul?
 Apakah anda merasakan napas pendek pada aktivitas
tertentu? Jika ya, aktivitas apa? Berapa lama
berlangsungnya?
 Uraikan batuk yang pernah anda alami. Apakah kering
atau basah? Apakah anda batuk mengeluarkan lendiri? Jika
ya, apa warnanya? Berapa lama anda batuk?
 Apakah anda pernah merasakan kebas atau rasa geli,
pusing atau berkunang-kunang, atau palpitasi? Uraikan
jika ya
 Apakah anda pernah memakai oksigen?
Tidur- istirahat  Berapa lama anda tidur setiap malam? Apakah anda
merasa cukup istirahat setelah tidur?
 Apakah masalah jantung anda mengganggu kemampuan
anda untuk tidur dan istirahat? Jelaskan
 Berapa banyak bantal yang anda gunakan dimalam hari ?
 Dimana anda tidur dimalam hari? (misalnya di kursi yang
dapat diatur agar dapat bernapas dengan mudah
 Apakah anda pernah merasakan napas pendek saat anda
beristirahat atau tidur?
 Apakah ini membuat anda terbangun? Jika ya, Jelaskan
Kognitif-persepsi  Uraikan nyeri dada yang pernah anda rasakan. Kapan
kejadinnya? Dimana letaknya? Pada skala 0 sampai 10,
dengan 10 adalah nyeri terburuk yang pernah anda rasakan
, nilai nyeri anda dan uraikan (misalnya seperti terbakar,
remuk, tertusuk, seperti diremas, berat, ketat)
 Apa yang anda kerjakan pada saat nyeri muncul; misalnya
apakah anda bekerja atau istirahat? Apakah nyeri terjadi
mendadak atau bertahap? Berapa lama nyeri berlangsung?
 Apakah anda mengalami gejala lain nyeri, seperti mual,
muntah, berkeringat, jantung berdebar-debar, kulit pucat
atau palpitasi?

14
 Apakah anda pernah merasakan sensasi ini ditungkai atau
kaki anda: nyeri, kram, seperti terbakar, rasa gatal, kebas?
Jika ya kapan terjadinya dan apa yang anda lakukan untuk
meredakannya?
Persepsi-Diri-Konsep diri  Apa yang anda rasakan tentang diri Anda pada saat
menderita kondisi ini?
Peran-Hubungan  Bagaimana kondisi ini memengaruhi hubungan anda
dengan orang lain?
 Apakah mengalami kondisi ini mengganggu kemampuan
anda untuk bekerja?
Seksualitas-Reproduksi  Apakah kondisi ini mempenagruhi kondisi seksualitas diri
anda?
 Apakah anda merasakan nyeri dada selama aktivitas
seksual? Apa yang anda lakukan bila mengalaminya?
 Apakah anda memakai kecepatan yang lebih lambat atau
posisi yang berbeda yang kurang menekan untuk anda
selama aktivitas seksual? Apakah ini membantu?
Koping-stress-tolerasi  Apakah anda menderita kondisi ini menimbulkan tekanan
bagi anda?
 Apakah anda mengalami berbagai stres yang membuat
kondisi ini memburuk? Jelaskan
 Uraikan apa yang anda lakukan saat anda merasa stres?
(LeMone, Burke, & Bauldoff, 2017)

B. Diagnosa Keperawatan
1. Penurunan curah jantung b/d gangguan irama jantung, pre load dan afterload,
kontraktilitas jantung.
2. Nyeri dada b/d ketidakseimbangan kebutuhan oksigen dengan suplai darah
miokardium akibat sekunder dari aliran darah yang menurun pada arteri
koroner.
3. Intoleransi aktivitas b/d tirah baring atau imobilisasi, kelemahan menyeluruh,
serta ketidakseimbangan antara suplei oksigen dengan kebutuhan gaya hidup
yang dipertahankan.

15
C. Rencana keperawatan

Diagnosa Keperawatan/ Rencana keperawatan


Masalah Kolaborasi
Tujuan dan Kriteria Intervensi
Hasil

Penurunan curah jantung NOC : NIC :


b/d gangguan irama jantung,  Cardiac Pump  Evaluasi adanya nyeri dada
pre load dan afterload, effectiveness  Catat adanya disritmia jantung
kontraktilitas jantung.  Circulation Status  Catat adanya tanda dan gejala penurunan
 Vital Sign Status cardiac putput
Faktor resiko  Tissue perfusion:  Monitor status pernafasan yang
 perubahan afterload perifer menandakan gagal jantung
 perubahan frekuensi Setelah dilakukan asuhan  Monitor balance cairan
jantung selama………penurunan  Monitor respon pasien terhadap efek
 perubahan iraman kardiak output klien pengobatan antiaritmia
jantung teratasi dengan kriteria  Atur periode latihan dan istirahat untuk
 perubahan kontraktilitas hasil: menghindari kelelahan
 perubahan preload  Tanda Vital dalam  Monitor toleransi aktivitas pasien
 perubahan volume rentang normal  Monitor adanya dyspneu, fatigue,
sekuncup (Tekanan darah, Nadi, tekipneu dan ortopneu
respirasi)  Anjurkan untuk menurunkan stress
 Dapat mentoleransi  Monitor TD, nadi, suhu, dan RR
aktivitas, tidak ada  Monitor VS saat pasien berbaring,
kelelahan duduk, atau berdiri
 Tidak ada edema paru,  Auskultasi TD pada kedua lengan dan
perifer, dan tidak ada bandingkan
asites  Monitor TD, nadi, RR, sebelum, selama,
 Tidak ada penurunan dan setelah aktivitas
kesadaran  Monitor jumlah, bunyi dan irama jantung
 AGD dalam batas  Monitor frekuensi dan irama pernapasan
normal  Monitor pola pernapasan abnormal
 Tidak ada distensi  Monitor suhu, warna, dan kelembaban
vena leher kulit
 Warna kulit normal  Monitor sianosis perifer
 Monitor adanya cushing triad (tekanan
nadi yang melebar, bradikardi,
peningkatan sistolik)
 Identifikasi penyebab dari perubahan
vital sign
 Jelaskan pada pasien tujuan dari
pemberian oksigen
 Sediakan informasi untuk mengurangi
stress
 Kelola pemberian obat anti aritmia,
inotropik, nitrogliserin dan vasodilator

16
untuk mempertahankan kontraktilitas
jantung
 Kelola pemberian antikoagulan untuk
mencegah trombus perifer
 Minimalkan stress lingkungan

Nyeri dada berhubungan NOC : NIC :


dengan:  Pain Level,  Lakukan pengkajian nyeri secara
Ketidakseimbangan  pain control, komprehensif termasuk lokasi,
kebutuhan oksigen dengan  comfort level karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas
suplai darah miokardium Setelah dilakukan tinfakan dan faktor presipitasi
akibat sekunder dari aliran keperawatan selama ….  Observasi reaksi nonverbal dari
darah yang menurun pada Pasien tidak mengalami ketidaknyamanan
arteri koroner nyeri, dengan kriteria  Bantu pasien dan keluarga untuk mencari
hasil: dan menemukan dukungan
Batasan karakteristik:  Mampu mengontrol  Kontrol lingkungan yang dapat
nyeri (tahu penyebab mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan,
- Posisi untuk menahan nyeri, mampu pencahayaan dan kebisingan
nyeri menggunakan tehnik  Kurangi faktor presipitasi nyeri
- Tingkah laku berhati-hati nonfarmakologi untuk  Kaji tipe dan sumber nyeri untuk
- Gangguan tidur (mata mengurangi nyeri, menentukan intervensi
sayu, tampak capek, sulit mencari bantuan)  Ajarkan tentang teknik non farmakologi:
atau gerakan kacau,  Melaporkan bahwa nyeri napas dala, relaksasi, distraksi, kompres
menyeringai) berkurang dengan hangat/ dingin
- Terfokus pada diri sendiri menggunakan  Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri:
- Fokus menyempit manajemen nyeri ……...
(penurunan persepsi  Mampu mengenali nyeri  Tingkatkan istirahat
waktu, kerusakan proses (skala, intensitas,  Berikan informasi tentang nyeri seperti
berpikir, penurunan frekuensi dan tanda penyebab nyeri, berapa lama nyeri akan
interaksi dengan orang nyeri) berkurang dan antisipasi ketidaknyamanan
dan lingkungan)  Menyatakan rasa dari prosedur
- Tingkah laku distraksi, nyaman setelah nyeri  Monitor vital sign sebelum dan sesudah
contoh : jalan-jalan, berkurang pemberian analgesik pertama kali
menemui orang lain  Tanda vital dalam
dan/atau aktivitas, rentang normal
aktivitas berulang-ulang)  Tidak mengalami
- Respon autonom (seperti gangguan tidur
diaphoresis, perubahan
tekanan darah, perubahan
nafas, nadi dan dilatasi
pupil)
- Perubahan autonomic
dalam tonus otot
(mungkin dalam rentang
dari lemah ke kaku)
- Tingkah laku ekspresif
(contoh : gelisah,
merintih, menangis,

17
waspada, iritabel, nafas
panjang/berkeluh kesah)
- Perubahan dalam nafsu
makan dan minum

Intoleransi aktivitas NOC : NIC :


Berhubungan dengan :  Self Care : ADLs  Observasi adanya pembatasan klien
 Tirah Baring atau  Toleransi aktivitas dalam melakukan aktivitas
imobilisasi  Konservasi eneergi  Kaji adanya faktor yang menyebabkan
 Kelemahan menyeluruh Setelah dilakukan kelelahan
 Ketidakseimbangan tindakan keperawatan  Monitor nutrisi dan sumber energi yang
antara suplei oksigen selama …. Pasien adekuat
dengan kebutuhan bertoleransi terhadap  Monitor pasien akan adanya kelelahan
Gaya hidup yang aktivitas dengan Kriteria fisik dan emosi secara berlebihan
dipertahankan. Hasil :  Monitor respon kardivaskuler terhadap
 Berpartisipasi dalam aktivitas (takikardi, disritmia, sesak
Batasan karakteristik aktivitas fisik tanpa nafas, diaporesis, pucat, perubahan
disertai peningkatan hemodinamik)
 Respon abnormal dari tekanan darah, nadi  Monitor pola tidur dan lamanya
tekanan darah atau nadi dan RR tidur/istirahat pasien
terhadap aktifitas  Mampu melakukan  Kolaborasikan dengan Tenaga
 Perubahan ECG : aktivitas sehari hari Rehabilitasi Medik dalam merencanakan
aritmia, iskemia (ADLs) secara progran terapi yang tepat.
mandiri  Bantu klien untuk mengidentifikasi
 Keseimbangan aktivitas yang mampu dilakukan
aktivitas dan istirahat  Bantu untuk memilih aktivitas konsisten
yang sesuai dengan kemampuan fisik,
psikologi dan sosial
 Bantu untuk mengidentifikasi dan
mendapatkan sumber yang diperlukan
untuk aktivitas yang diinginkan
 Bantu untuk mendpatkan alat bantuan
aktivitas seperti kursi roda, krek
 Bantu untuk mengidentifikasi aktivitas
yang disukai
 Bantu klien untuk membuat jadwal
latihan diwaktu luang
 Bantu pasien/keluarga untuk
mengidentifikasi kekurangan dalam
beraktivitas
 Sediakan penguatan positif bagi yang
aktif beraktivitas
 Bantu pasien untuk mengembangkan
motivasi diri dan penguatan

18
 Monitor respon fisik, emosi, sosial dan
spiritual

19
BAB III
WEB OF CAUTION

Faktor predisposisi
- Respon imunologis terhadap - Mikroorganisme: Bakteri (streptococus,
infeksi enterococus, pneumococus, stafilokokus),
- Perubahan metabolisme akibat
fungi, riketsia dan streptococus vindans
penuaan
- Prosedur diagnostik invasif
- Pengobatan immunosupresif Invasi ke katup dan
- Antibiotik jangka panjang permukaan endotel jantung

Rematik endokarditis

Gagal ventrikel, pembesaran Fenomena reaksi sensitivitas: pembengkakan,


ventrikel dan bentuk ventrikel stenosis, dan perforasi daun katup serta erosi
pinggir daun katup

Kemampuan otot papilaris untuk


mendekatkan daun-daun katup pada Peningkatan pembentukan modul dan jaringan
waktu katup menutup berkurang parut, penebalan progresif dan pengerutan Proses penuaan
bilah-bilah katup

Lubang katup melebar Kerusakan katup Sklerosis jaringan katup

Peningkatan perubahan bentuk


Mempersulit penutupan Penutupan/kekakuan katup yang dialami oleh katup
katup tidak sempurna

Sumber: Muttaqin (2009) Regurgitasi/insufisiensi katup Ruptur otot papilaris oleh Tekanan hemodinamika lebih tinggi
Stenosis katup infark miokard akut pada katup mitralis dan aorta

20
WEB OF CAUTION KASUS KELOLAAN
MITRAL STENOSIS

Non
Reumatik reumatik

Bakteri Streptococcus Beta 1. Kongenital


Hemolitikus Group A 2. Lupus Eritematosis
Sistemik (SIE)
3. Arterial Miksoma
Demam 4. Endokarditis
Rheumatik 5. Virus Coxsackie

Tubuh salah persepsi,


dianggap antigen

Tubuh membentuk
antibodi

Antibodi menyerang katup mitral


jantung, karena strukturnya mirip
bakteri demam rheumatik

Katup mitral rusak

Mengalami proses perbaikan

Terdapat jaringan fibrosis pd


katup  lama-lama kaku

STENOSIS
MITRAL

21
STENOSIS MITRAL

Aliran darah dari Atrium kiri ke Ventrikel kiri terhambat

Tahanan tinggi di atrium kiri Input darah ke ventrikel kiri menurun

Pembesaran atrium kiri Cardiac output menurun

Fibrilasi atrium Suplai darah menurun

Mk:
Palpitasi
(frekuensi Gangguan Ke Ke otak Ke
tinggi dan tidak Rasa jaringan ginjal
teratur) Nyaman
hipoksia
Kebutuhan MK: Penurunan
02 jantung Gangguan MK: GFR oliguri
meningkat Perfusi Penurunan
Jaringan Perfusi
Cerebral MK:Perubahan
Tidak tercukupi  Pola Eliminasi
kelelahan Urine
Gagal jantung

MK: Intoleransi
Aktivitas

Peningkatan Tekanan
Vena dan
tekanan hidrostatik >
kapiler pecah
vena tekanan
pulmonal onkotik
Darah merembes
ke intestinal

22
Darah merembes ke
interstisial

Edema pulmonal Tekanan paru


meningkat

Mendesak
Tekanan torak
diafragma
juga meningkat
MK:
Kelebihan
Volum Tekanan di
Nyeri
Cairan abdomen
dada
meningkat

MK:
Mual, muntah,
Nyeri Akut nyeri abdomen

MK:
Perubahan
Nutrisi
Kurang dari
Kebutuhan
Tubuh

23
DAFTAR PUSTAKA

Black, J. M., & Hawks, J. H. (2014). Keperawatan Medikal Bedah Manajemen


Kritis untuk Hasil yang Diharapkan. Singapore: Elsevier.
Holmes, K., Gibbison, B., & Vohra, H. A. (2017). Mitral valve and mitral valve
disease. BJA Education, 1-9.
LeMone, P., Burke, K. M., & Bauldoff, G. (2017). Buku Ajar Keperawatan
Medikal Bedah Gangguan Kardiovaskuler. Jakarta: EGC.
Negasari, A. P. (2017, July 28). DrJantung.com. Retrieved from Pusat Jantung
Nasional: https://drjantung.com/penyakit-katup-jantung
Price, S. A., & Wilson, L. M. (2015). Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses
Penyakit. Jakarta: EGC.
Smeltzer, S. C., & Bare, B. G. (2015). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah
Ed.8 Vol.2. Jakarta: EGC.
Willy, T. (2016). INFORMASI KESEHATAN TERLENGKAP DAN TERPERCAYA.
Retrieved April 15, 2018, from ALODOKTER:
https://www.alodokter.com/penyakit-katup-jantung

24