Anda di halaman 1dari 11

SATUAN ACARA PENGAJARAN

POKOK BAHASAN : Kesehatan Reproduksi Remaja


SUB POKOK BAHASAN : Masalah Kesehatan Reproduksi Remaja
WAKTU : 30 Menit
HARI / TANGGAL : Jum’at, 02 Mei 2018
SASARAN : Remaja RW 01 dan 02
TEMPAT : Depan Mesjid Miftahul

I. TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM


Setelah diberikan pendidikan kesehatan tentang cara menjaga
kesehatan reproduksi, selama 1 x 30 menit diharapkan remaja RW 01 dan
02 mengetahui tentang masalah – masalah reproduksi yang dapat muncul.

II. TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS


Setelah diberikan pendidikan kesehatan selama 1 x 30 menit tentang
kesehatan reproduksi remaja diharapkan remaja mampu :
1. Setelah mengikuti penyuluhan diharapkan remaja dapat
mengetahui tentang pengertian dari kesehatan reproduksi
2. Setelah mengikuti penyuluhan diharapkan remaja dapat
mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan
reproduksi remaja
3. Setelah mengikuti penyuluhan diharapkan remaja dapat
mengetahui penanganan masalah kesehatan reproduksi remaja
4. Setelah mengikuti penyuluhan diharapkan remaja dapat
mengetahui penerapan perilaku kesehatan reproduksi remaja
III. KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR

NO. TAHAP KEGIATAN MEDIA

1. Pembukaan  Memberi salam


(5 menit)  Menjelaskan tujuan Lisan
 Menjelaskan proses belajar mengajar
2. Pelaksanaan  Menjelaskan materi sesuai dengan
(20 menit) topik penyuluhan LCD
 Menjelaskan pentingnya kesehatan
reproduksi pada remaja
3. Penutup  Evaluasi
(5 menit)  Menyimpulkan materi Lisan
 Memberi kesempatan pada klien untuk
bertanya
 Memberi salam penutup

IV. MEDIA
1. LCD
2. Materi
3. Leaflet
V. METODE
1. Ceramah
2. Tanya jawab
VI. EVALUASI
1. Standar persiapan
a. Pengaturan tempat
b. Kesiapan materi dan LCD
c. Mempersiapkan materi
d. Pembagian leaflet
2. Standar proses
a. Membaca buku referensi tentang kesehatan reproduksi
b. Memberi penyuluhan tentang pentingnya kesehatan reproduksi
3. Standar hasil
a. Setelah mengikuti penyuluhan diharapkan remaja dapat
menjelaskan tentang pengertian dari kesehatan reproduksi
b. Setelah mengikuti penyuluhan diharapkan remaja dapat
menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan
reproduksi remaja
c. Setelah mengikuti penyuluhan diharapkan remaja dapat
menjelaskan penanganan masalah kesehatan reproduksi remaja
d. Setelah mengikuti penyuluhan diharapkan remaja dapat
menjelaskan penerapan perilaku kesehatan reproduksi remaja
KESEHATAN REPRODUKSI
REMAJA

MASALAH KESEHATAN REPRODUKSI BERHUBUNGAN


DENGAN CARA MENJAGA KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA

I. LATAR BELAKANG
Kesehatan reproduksi remaja adalah suatu kondisi sehat yang
menyangkut sistem, fungsi dan proses reproduksi yang dimiliki oleh
remaja. Pengertian sehat disini tidak semata-mata berarti bebas penyakit
atau bebas dari kecacatan namun juga sehat secara mental serta sosial
kultural.
Remaja perlu mengetahui kesehatan reproduksi agar memiliki
informasi yang benar mengenai proses reproduksi serta berbagai faktor
yang ada disekitarnya. Dengan informasi yang benar, diharapkan remaja
memiliki sikap dan tingkah laku yang bertanggung jawab mengenai
proses reproduksi.
Masa remaja adalah masa yang khusus dan penting, karena
merupakan periode pematangan organ reproduksi manusia. Masa remaja
disebut juga masa pubertas, merupakan masa transisi yang unik ditandai
dengan berbagai perubahan fisik, emosi dan psikis. Remaja berada dalam
situasi yang sangat peka terhadap pengaruh nilai baru, terutama bagi
mereka yang tidak mempunyai daya tangkal. Mereka cenderung lebih
mudah melakukan penyesuaian dengan arus globalisasi dan arus informasi
yang bebas yang dapat menyebabkan terjadinya perubahan perilaku
menyimpang karena adaptasi terhadap nilai-nilai yang datang dari luar.
II. PENGERTIAN
1. Pengertian Kesehatan Reproduksi
Kesehatan reproduksi menurut WHO adalah suatu keadaan fisik,
mental dan sosial yang utuh, bukan hanya bebas dari penyakit atau
kecacatan dalam segala aspek yang berhubungan dengan sistem
reproduksi, fungsi serta prosesnya. Atau suatu keadaan dimana manusia
dapat menikmati kehidupan seksualnya serta mampu menjalankan fungsi
dan proses reproduksinya secara sehat dan aman (Saifuddin, 2010).
Kesehatan reproduksi adalah suatu kondisi sehat yang menyangkut
sistem, fungsi dan proses reproduksi yang dimiliki oleh remaja.
Pengertian sehat disini tidak semata-mata berarti bebas penyakit atau
bebas dari kecacatan namun juga sehat secara mental serta sosial kultural.
2. Remaja
Remaja didefinisikan sebagai masa peralihan dari masa kanak-
kanak kemasa dewasa. Batasan usia remaja menurut WHO ( badan PBB
untuk kesehatan dunia) adalah 12 sampai 24 tahun. Namun pada usia
remaja seseorang sudah menikah, maka ia tergolong dalam dewasa atau
bukan lagi remaja. Sebaliknya, jika usia sudah bukan lagi remaja masih
tergantung pada orang tua (tidak mandiri), maka dimasukkan kedalam
kelompok remaja (BKKBN,2007).
Masa remaja adalah masa yang khusus dan penting, karena
merupakan periode pematangan organ reproduksi manusia. Masa remaja
disebut juga masa pubertas, merupakan masa transisi yang unik ditandai
dengan berbagai perubahan fisik, emosi dan psikis. Remaja berada dalam
situasi yang sangat peka terhadap pengaruh nilai baru, terutama bagi
mereka yang tidak mempunyai daya tangkal. Mereka cenderung lebih
mudah melakukan penyesuaian dengan arus globalisasi dan arus informasi
yang bebas yang dapat menyebabkan terjadinya perubahan perilaku
menyimpang karena adaptasi terhadap nilai-nilai yang datang dari luar.
III. Tumbuh Kembang Remaja
Menurut Khisbiyah, Y (2012), tumbuh kembang remaja di bagi menjadi 3
masa, yaitu :
1. Masa remaja awal/dini (early adolescence) : umur 11 – 13 tahun.
Dengan ciri khas : ingin bebas, lebih dekat dengan teman sebaya, mulai
berfikir abstrak dan lebih banyak memperhatikan keadaan tubuhnya.
2. Masa remaja pertengahan (middle adolescence) : umur 14 – 16 tahun.
Dengan ciri khas : mencari identitas diri, timbul keinginan untuk
berkencan, berkhayal tentang seksual, mempunyai rasa cinta yang
mendalam.
3. Masa remaja lanjut (late adolescence) : umur 17 – 20 tahun.
Dengan ciri khas : mampu berfikir abstrak, lebih selektif dalam mencari
teman sebaya, mempunyai citra jasmani dirinya, dapat mewujudkan rasa
cinta, pengungkapan kebebasan diri. Tahapan ini mengikuti pola yang
konsisten untuk masing-masing individu. Walaupun setiap tahap
mempunyai ciri tersendiri tetapi tidak mempunyai batas yang jelas, karena
proses tumbuh kembang berjalan secara berkesinambungan.

IV. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kesehatan Reproduksi


Remaja
Kesehatan reproduksi remaja dipengaruhi oleh beberapa hal yaitu:
Menurut Khisbiyah, Y (2012), faktor-faktor yang mempengaruhi
kesehatan reproduksi remaja antara lain :
1. Kebersihan organ-organ genital
2. Akses terhadap pendidikan kesehatan
3. Hubungan seksual pranikah
4. Penyalahgunaan NAPZA
5. Pengaruh media massa
6. Akses terhadap pelayanan kesehatan reproduksi
7. Hubungan harmonis dengan keluarga
V. Penanganan Masalah Kesehatan Reproduksi Remaja
Menurut Iskandar, Meiwita B. et.al (2011), ruang lingkup masalah
kesehatan reproduksi perempuan dan laki-laki menggunakan pendekatan
siklus kehidupan. Berdasarkan masalah yang terjadi pada setiap fase
kehidupan, maka upaya- upaya penanganan masalah kesehatan reproduksi
remaja sebagai berikut :
1. Gizi seimbang.
2. Informasi tentang kesehatan reproduksi
3. Pencegahan kekerasan, termasuk seksual.
4. Pencegahan terhadap ketergantungan NAPZA.
5. Pernikahan pada usia wajar.
6. Pendidikan dan peningkatan ketrampilan.
7. Peningkatan penghargaan diri.
8. Peningkatan pertahanan terhadap godaan dan ancaman.

VI. PENERAPAN PERILAKU KESEHATAN REPRODUKSI


SEHAT PADA REMAJA
1. Remaja Wanita
a. Perlindungan terhadap infeksi
1) Penggunaan celana dalam
Menggunakan celana dalam dari kain yang menyerap keringat,
tidak ketat dan tidak membiarkan basah. Hal ini dikarenakan
kondisi basah dan lembab sangat mungkin memicu tumbuhnya
kuman yang dapat mengganggu kesehatan genital. Mengganti
celana dalam paling sedikit 2 kali dalam sehari.
2) Hindari mandi berendam
3) Penggunaan antiseptic
Hindari penggunana antiseptik, desinfektan, minyak atau busa
mandi dengan pengharum yang kuat. Karena akan merusak
keseimbangan PH yang ada sehingga memungkinkannya terjadi
infeksi.
4) Rambut yang tumbuh disekitar daerah kewanitaan perlu
diperhatikan kebersihannya. Jangan mencabut-cabut rambut
tersebut. Perawatan rambut didaerah kewanitaan cukup
dipendekkan dengan gunting atau alat cukur dan busa sabun yang
lembut. Rambut di daerah kewanitaan berguna untuk merangsang
pertumbuhan bakteri baik serta menghalangi masuknya benda kecil
ke dalam vagina.
c. Hygiene genital
1) Mencuci tangan
Melakukan cuci tangan sebelum menyentuh alat genitalia
karena tangan merupakan sumber kuman
2) Membersihkan vagina dengan benar
Membersihkan alat genitalia (vagina) dari depan ke belakang
sesuai dengan susunan anatomis. Tidak boleh membersihkan
dengan cara bolak - balik karena akan menyebabkan
penyebaran kuman dari daerah anus ke arah vulva atau
kebalikannya dari arah vulva ke anus
3) Tidak menggunakan obat pembersih wanita
Cara menjaga kesehatan organ reproduksi wanita sebaiknya
tidak menggunakan obat pembersih kewanitaan. Organ
reproduksi jika dibersihkan menggunakan obat pembersih
kewanitaan justru bisa merangsang pertumbuhan bakteri dan
jamur penyebab keputihan,. Alasannya adalah ph yang tidak
seimbang justru mematikan bakteri baik yang ada di vagina.
Kadar keasaman yang tidak sesuai justru menjadi penyebab
timbulnya bakteri jahat di dalam organ reproduksi. Bagi wanita
yang ingin membersihkan organ kewanitaannya cukuplah dia
menggunakan air yang mengalir saja, jangan menggunakan
sabun pembersih yang phnya tidak seimbang.
4) Merapikan mons veneris
Merapikan dengan cara mencukur sebagian secara berkala
karena bulu disekitar alat genital dapat ditumbuhi jamur atau
kutu yang menimbulkan tidak nyaman dan gatal

5) Penggunaan handuk
Menggunakan handuk pribadi dan bahan kain yang menyerap
air untuk mengeringkan setelah buang air agar tidak lembab
6) Pantyliner
Jangan sering-sering menggunakan pantyliner. Gunakan
pantyliner sesuai dengan kebutuhan artinya ketika mengalami
keputihan yang banyak sekali. Dan gunakan pantyliner yang
tidak berparfum untuk mencegah iritasi. Sering-sering
mengganti pantyliner saat keputihan
7) Pemakaian pembalut
Haid merupakan mekanisme tubuh untuk membuang darah
kotor. Waktu haid, sering ganti pembalut karena pembalut juga
menyimpan bakteri kalau lama tidak diganti. Bila dipermukaan
pembalut sudah ada segumpal darah haid meskipun sedikit,
sebaiknya segera mengganti pembalut. Gumpalan darah haid
yang ada di permukaan pembalut menjadi tempat sangat baik
untuk perkembangan bakteri dan jamur. Oleh karena itu
gantilah pembalut setiap kali terasa basah atau sekitar tiga jam
sekali.
8) Secara teratur bersihkan keringat yang ada disekitar alat
kelamin dengan air bersih, lebih baik air hangat, dan sabun
lembut terutama setelah Buang Air Besar (BAB) dan buang air
kecil. Cara membasuh alat kelamin wanita yang benar adalah
dari arah depan (vagina) ke belakang (anus). Jangan terbalik
karena bakteri yang ada disekitar anis bisa terbawa ke dalam
vagina. Setelah dibersihkan gunakan handuk bersih atau tisu
kering untuk mengeringkannya.
9) Hindari melakukan hubungan seks pra nikah atau berganti-
ganti pasangan
2. Remaja Laki –laki
a. Mencuci tangan
Mencuci tangan sebelum menyentuh alat genitalia karena tangan
merupakan sumber penyakit
b. Celana ketat
Penggunaan celana yang ketat dapat mempersempit ruang pembuluh
darah selain itu menyebabkan suhu disekitar alat genital menjadi
panas. Hal ini dapat menimbulkan kuman - kuman.
c. Alkohol
Konsumsi alkohol dapat mengurangi kualitas sperma
d. Merokok
Merokok mengakibatkan rusaknya alat reproduksi
e. Merapikan mons veneris
Merapikan dengan cara mencukur sebagian secara berkala karena bulu
disekitar alat genital dapat ditumbuhi jamur atau kutu yang
menimbulkan tidak nyaman dan gatal
f. Membersihkan alat kelamin
Setelah buang air besar atau kecil, siram penis dengan benar - benar
bersih supaya tidak ada bekas kotoran yang menempel. Bila belum
sunat maka harus dibersihkan sampai dengan bagian kulup sehingga
bagian tutup penis yang tertutup kulup bersih. Hal ini untuk mencegah
kanker
g. Hindari melakukan hubungan seks pra nikah atau berganti-ganti
pasangan
DAFTAR PUSTAKA

 Saifuddin, A.F & Hidayana, I.M. 2010. Seksualitas Remaja. Pustaka


Sinar Harapan, Jakarta

 Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) & Yayasan Widya


Prakarsa. 2011. Evaluasi Proyek Youth Center di 6 Propinsi di
Indonesia. PKBI & Yayasan Widya Prakarsa, Jakarta

 Triratnawati, A. 2011. Perilaku Seks Mahasiswa dan Pencegahan AIDS


(Studi Kasus pada 10 Mahasiswa Kesehatan di Yogyakarta).
Jurnal Epidemiologi Indonesia volume 3 Edisi 1-1999

 Iskandar, Meiwita B. et.al. 2011. A Pioneer Establishment of One-Stop


Family Clinic for Urban Young People’s Sexual and
Reproductive Health Problems in South Jakarta. The Population
Council, Jakarta

 Khisbiyah, Y. 2012. Kehamilan tak Dikehendaki di Kalangan Remaja.


PPK UGM, Yogyakarta