Anda di halaman 1dari 9

BAB II

PEMBAHASAN
A. Perkembangan Fisik
Masa anak-anak dimulai setelah melewati masa bayi yang penuh ketergantungan. Masa
anak-anak awal berlangsung dari usia 2 tahun sampai 6 tahun, yang biasa dinamakan
sebagai usia pra sekolah. Perkembangan fisik pada masa ini berjalan lambat tetapi
kebiasaan fisiologis yang dasarnya diletakkan pada masa bayi menjadi cukup baik. Pada
saat masa awal anak-anak dianggap sebagai waktu belajar untuk mencapai berbagai
keterampilan dan senang mencoba hal-hal baru. Aspek-aspek perkembangan pada masa-
masa anak meliputi berbagai hal diantaranya sebagai berikut.1
1.Perkembangan Fisik
Selama masa anak-anak awal, pertumbuhan fisik berlangsung lambat dibandingkan
dengan tingkat pertumbuhan selama masa bayi. Pertumbuhan fisik yang lambat ini
berlangsung sampai mulai munculnya tanda-tanda pubertas, yakni kira-kira 2 tahun
menjelang anak matang secara seksual dan pertumbuhan fisik kembali berkembang pesat.
Meskipun selama masa anak-anak pertumbuhan fisik mengalami perlambatan, namun
ketrampilan-ketrampilan motorik kasar dan motorik halus justru berkembang pesat.
2.Tinggi dan berat badan
Selama masa anak-anak awal, tinggi rata-rata anak bertumbuh 2,5 inci dan berat
bertambah antara 2,5 hingga 3,5 kg setiap tahunnya. Pada usia 3 tahun, tinggi anak sekitar
38 inci dan beratnya sekitar 16,5 kg. pada usia 5 tahun, tinggi anak mencapai 43,6 inci dan
beratnya 21,5 kg. Ketika anak usia prasekolah bertumbuh makin besar, persentase
pertumbuhan dalam tinggi dan berat berkurang setiap tahun. Selama masa ini, baik laki-
laki maupun perempuan terlihat makin langsing, sementara batang tubuh mereka makin
panjang.
3.Perkembangan otak
Diantara perkembangan fisik yang sangat penting selama masa anak-anak awal ialah
perkembang otak dan sistem saraf yang berkelanjutan. Meskipun otak terus bertumbuh
pada masa awal anak-anak, namun pertumbuhannya tidak sepesat pada masa bayi. Pada
saat bayi mencapai usia 2 tahun, ukuran otaknya rata-rata 75% dari otak orang dewasa, dan
pada usia 5 tahun, ukuran otaknya telah mencapai sekitar 90% otak orang dewasa.
Pertumbuhan otak selama awal masa anak-anak disebabkan oleh pertambahan jumlah
dan ukuran urat saraf yang berujung di dalam dan diantara daerah-daerha otak. Ujung-
1
Desmita, Psikologi Perkembangan(Bandung: PT. REMAJA ROSDAKARYA, 2008), 127-128.
1
ujung urat saraf it uterus bertumbuh setidak-tidaknya hingga masa remaja. Beberapa
pertambahan ukuran otak juga disebabkan oleh pertambahan myelition, yaitu suatu proses
dimana sel-sel urat saraf ditutup dan disekat dengan suatu lapisan sel-sel lemak. Proses ini
berdampak terhadap peningkatan kecepatan informasi yang berjalan melalui sistem urat
saraf. Beberapa ahli psikologi perkembangan percaya bahwa myelition adalah penting
dalam pematangan sejumlah kemampuan anak.
4.Perkembangan Motorik
Perkembangan fisik pada masa anak-anak ditandai dengan berkembangnya
keterampilan motorik, baik kasar maupun halus. Sekitar usia 3 tahun, anak sudah dapat
berjalan dengan baik, dan sekitar usia 4 tahun anak hampir menguasai cara berjalan orang
dewasa. Usia 5 tahun anak sudah terampil menggunakan kakinya untuk berjalan dengan
berbagai cara, seperti maju dan mundur, jalan cepat dan pelan-pelan, melompat dan
berjingkrak, berlari kesana kemari, memanjat, dan sebagainya yang semuanya dilakukan
dengan lebih halus dan bervariasi. Anak usia 5 tahun juga dapat melakukan tindakan-
tindakan tertentu secara akurat, seperti menyeimbangkan badan di atas satu kaki,
menangkap bola dengan baik, melukis, menggunting dan melipat kertas, dan sebagainya.

B. Perkembangan Psikososial
Perkembangan psikosisoal berkaitan dengan perkembangan anak pada bidang social
yang dibahas padwilayah psikologi. Perkembangan social sendiri memiliki makna sebagai
bentuk pencapaian kematangan dalam hubunagn social atau disebut dengan interaksi
social.
Anak dilahirkan belum bersifat sosial. Dalam arti dia belum memiliki kemampuan
untuk bergaul dengan orang lain. Untuk mecapai kematangan sosial, anak harus belajar
tentang tata cara menyesuaikan diri dengan orang lain. Kemampuan ini diperoleh melalui
pengalaman bergaul bersama orang orang dilingkungannya, baik orang tua, saudara,
teman sebaya atau orang dewasa lainnya. Proses pembimbingan ini disebut sebagai
sosialisasi. Sueann Robinson Ambron mengartikan sosialisasi sebagai proses belajar yang
membimbing anak kearah perkembangan kepribadian sosial sehingga dapat menjadi
anggota masyarakat yang bertanggung jawab dan efektif.2
Pada usia anak, bentuk-bentuk tingkah laku social ditunjukkan oleh beberapa hal
seperti: a) adanya sikap pembangkangan (negativisme), yaitu suatu bentuk tingkah laku
melawan terhadap penerapan disiplin atau tuntutan orang yang berada di lingkungan
2
Syamsu Yusuf LN., Psikologi perkembangan anak dan remaja(Bandung: PT.REMAJA
ROSDAKARYA, 2014),122.
2
sekitarnya yang tidak sesuai dengan kehendak anak; b) Agresi (agression), yaitu perilaku
menyerang balik secara fisik maupun secara verbal yang merupakan bentuk reaksi atas
rasa frustasi yang dialaminya; c) berselisih/ bertengkar (quarreling), terjadi apabila anak
merasa tersinggung atas perilaku orang lain kepadanya; d) menggoda (teasing); e)
persaingan/ rivalry, yaitu keinginan untuk melebihi orang lain dan selalu didorong oleh
orang lain; f) kerja sama; g) tingkah laku berkuasa; h) mementingkan diri sendiri; I)
simpati/ sympathy. Perkembangan psikososial yang terjadi masa masa anak-
anak.diantaranya perkembangan bermain, hubungan dengan orang lain, perkembangan
emosi, dan perkembangan moral.

1.Perkembangan bermain
Permainan adalah salah satu bentuk aktivitas social yang dominan pada awal masa
anak-anak. Sebab, anak-anak menghabiskan lebih banyak waktunya di luar rumah bermain
dengan teman-temannya disbanding terlibat dalam aktivitas lainnya. Karena itu,
kebanyakan hubungan social dengan teman sebaya dalam masa ini terjadi dalam bentuk
permainan. Hetherington & Parke mendefinisikan permainan sebagai “A nonserious and
self-containend activity engaged in for the sheer satisfaction it brings. Jadi , permainan
bagi anak-anak adalah suatu bentuk aktivitas yang menyenangkan yang dilakukan semata-
mata untuk aktivitasnya sendiri, bukan karena ingin memperoleh sesuatu yang dihasilkan
dari aktivitas tersebut. hal ini karena bagi anak-anak proses melakukan sesuatu lebih
menarik dari pada hasil yang akan didapatkannya.
Permainan memiliki arti yang sangat penting bagi perkembangan kehidupan anak-
anak. Hetherington dan packr, menyebutkan tiga fungsi utama dari permainan, yaitu fungsi
kognitif permainan membantu perkembangan kognitif anak. Melalui permainan, anak-
anak menjelajahi lingkungan, mempelajari objek-objek disekitarnya, dan belajar
memecahkan masalah yang dihadapi. Yang kedua fungsi social permainan dapat
meningkatkan perkembangan social anak, khususnya permainan fantasi, anak akan belajar
memahami orang lain dan pergerakan yang akan dilakukan dikemudian hari setelah
tumbuh menjadi orang dewasa. Fungsi emosi permainan memungkinkan anak untuk
menemukan sebagian dari masalah emosionalnya, belajar mengatasi kegelisahan dan
konflik batin. Permaina memungkinkana nak melepaskan energy fisik yang berlebihan dan
membebaskan perasaan-perasaan terpendam. Karena tekanan dapat terlepaskan di dalam
permainan, anak dapt mengatasi masalah-masalah kehidupan.

3
2.Perkembangan hubungan dengan orang tua
Selama bertahun tahun prasekolah, hubungan dengan orang tua atau penagsuhnya
merupakan dasar bagi perkembanagan emosional dana social anak. sejumlah ahli
mempercayai bahwa kasih sayang orang tua atau pengasuh selama beberpa tahun pertama
kehidupan merupakan kunci utama perkembangan sosial anak, meningkatkan
kemungkinan anak memiliki kompetensi secara sosial dan penyesuaian diri yang baik pada
tahun-tahun prasekolah dan sesudahnya
Salah satu aspek penting dalam hubungan orang tua dan anak adalah gaya pengasuhan
yang diterapkan oleh orang tua. Studi klasik tentang hubungan orang tua dengan anak yang
dilakukan oleh Diana Baumrind, 1972 (dalam Lerner dan Hultsh, 1983)
merekomendasikan tiga tipe pengasuhan yang dikaitkan dengan aspek aspek yang berbeda
dalam tingkah laku sosial anak, yaitu otoritatif, otoriter, dan permisif.3
Pengasuhan otoritatif (authoritative parenting) adalah salah satu gaya pengasuhan
yang memperlihatkan pengawasan ekstra ketat terhadap tingkah laku anak-anak, tetapi
mereka juga bersikap responsive, menghargai dan menghormati pemikiran, perasaan, serta
mengikut sertakan anak dalam pengambilan keputusan. Anak-anak prasekolah dari orang
tua yang otoritatif cenderung lebih percaya pada diri sendiri, pengawasan diri sendiri, dan
mampu bergaul baik dengan teman-teman sebayanya. Pengasuhan otoritatif juga
diasosiasikan dengan harga diri yang tinggi (high self-esteem), memiliki moral standar,
kematangan psikososial, kemandirian, sukses dalam belajar, dan bertanggung jawab secara
sosial.
Pengasuhan otoriter adalah salah satu gaya pengasuhan yang membatasi dan menuntut
anak untuk mengikuti perintah-perintah orang tua. Orang tua yang otoriter menetapkan
batas-batas yang tegas dan tidak memberikan peluang yang besar pada anak-anak untuk
mengemukakan pendapat. Orang tua otoriter juga cenderung bersikap sewenang-wenang
dan tidak demokratis dalam membuat keputusan, memaksakan peran-peran atau
pandangan-pandangan kepada anak atas dasar kemampuan dan kekuasaan sendiri, serta
kurang menghargai pemikiran dan perasaan mereka. Anak dari orang tua yang otoriter
cenderung bersifat curiga pada orang lain dan merasa tidak bahagia dengan dirinya sendiri,
merasa canggung berhubungan dnegan teman sebaya, cenderung menyesuaikan diri pada
awal masuk sekolah dan memiliki prestasi belajar yang rendah dibandingkan dengan anak-
anak lain

3
Desmita, Psikologi Perkembangan(Bandung: PT. REMAJA ROSDAKARYA, 2008), 144.
4
Pengasuhan permisif (persimisive parenting). Gaya pengasuhan permisif dapat
dibedakan dalam dua bentuk, yaitu pertama, pengasuhan permissive indulgent yaitu suatu
gaya pengasuhan dimana orang tua sangat terlibat dalam kehidupan anak, tetapi
menetapkan sedikit batas atau kendali atas mereka. Pengasuhan permissive indulgent
diasosiasikan dengan kurangnya kemampuan pengendalian diri anak, karena orang tua
yang permissive indulgent cenderung membiarkan anak-anak mereka melakukan apa yang
mereka inginkan, dan akibatnya anak-anak tidak pernah belajar mengendalikan perilaku
mereka sendiri dan selalu mengharapkan agar semua kemauannya dituruti. Kedua,
pengasuhan permissive indifferent, yaitu suatu gaya pengasuhan dimana orang tua sangat
terlibat dalam kehidupan anak. Anak-nak yang dibesarkan oleh orang tua yang permissive
indifferent cederung kurang percaya diri, pengendalian diri yang buruk, dan rasa harga diri
yang rendah.

3.Perkembangan hubungan dengan teman sebaya


Perkembangan psikososial dan kepribadian sejak usia prasekolah hingga akhir
masa sekolaj ditandai oleh semakin meluasnya pergaulan social, terutama dengan teman
sebaya. Teman sebaya sebagai sebuah kelompok social sering didefinisikan sebagai semua
orang yang memiliki kesamaan social atau yang memiliki kesamaan ciri-ciri, seperti
kesamaan tingkat usia. Akan tetapi, belakangan ini definisi teman sebaya lebih ditekankan
pada kesamaan tingkah laku atau psikologis.
Sejumlah penelitian telah merekomendasikan betapa hubungan social denagn
teman sebaya memiliki arti yang sangat penting bagi perkembangan pribadi anak. Salah
satu fungsi kelompok teman sebaya yang paling penting ialah menyediakan suatu sumber
informasi dan perbandingan tentang dunia di luar keluarga. Anak-anak menerima umpan
balik tentang kemampuan-kemampuan mereka dari kelompok teman sebaya. Anak-anak
mengevaluasi apakah yang mereka lakukan lebih baik, sama atau lebih jelek dari yang
dilakukan oleh anak-anak lain. Mereka menggunakan orang lain sebagi tolak ukur untuk
membandingkan dirinya. Proses pembandingan sosial merupakan dasar bagi pembentukan
rasa harga diri dan gambaran diri anak.
Dalam beberapa investigasi yang dilakukan oleh para ahli perkembangan
menunjukkan bahwa relasi yang baik antarteman sebaya memiliki peran penting dalam
perkembangan social yang normal. Isolasi social atau ketidakmampuan untuk melebur ke
dalam suatu jaringan social, diisolasikan dengan banyak maslaah dan kelainan yang
beragam, mulai dari kenakalan dan masalah minuman keras hingga depresi. Bahkan relasi

5
yang buruk di antara teman-teman sebaya pada masa anak-anak diasosiasikan dengan
putus sekolah dan perilaku nakal pada masa remaja. Sebaliknya, relasi yang harmonis
diantar teman-teman sebaya pada masa remaja diasosiasikan dengan kesehatan mental
yang positif pada usia tengah baya.

4.Perkembangan moral
Seiring dengan perkembangan social, anak-anak usia prasekolah juga mengalami
perkembangan moral. Adapun yang dimaksud dengan perkembangan moral adalah
perkembangan yang berkaitan dengan aturan dan konvensi mengenai apa yang seharusnya
dilakukan oleh manusia dalam interaksinya dengan orang lain. Anak-anak ketika
dilahirkan tidak memiliki moral. Tetapi dalam dirinya terdapat potensi moral yang siap
untuk dikembangkan. Karena itu, melalui pengalamannya berinteraksi dengan orang lain
(dengan orang tua, saudara an teman sebaya), anak belajar memahami tentang perilaku
mana yang baik, yang boleh dikerjakan dan tingkah laku mana yang buruk, yang tidak
boleh dikerjakan.
Dalam perkembangan moral anak peran orang tua sangatlah penting, terutam apad
amasa kecil. Adapun beberapa sikap yang perlu diperhatikan orang tua yang berhubungan
dengan perkembangan moral anak. a) kosisten dalam mendidik anak; b) sikap orang tua
dalam keluarga; c) penghayatan dan pengamalan agama yang dianut; d) sikap konsisten
orang tua dalam menerapkan norma
Perkembangan moral pada anak juga dikemukakan oleh beberapa ahli melalui
teori psikologi perkembangan mereka diantaranya sebagai berikut,
a. Teori Psikoanalisis Tentang Perkembangan Moral, menurut teori ini perkembangan
moral berhubungan dengan struktur kepribadian manusia yang mana oleh Freud dibagi
menjadi tiga, yaitu id, ego, dan superego. Menurutnya struktur superego adalah struktur
kepribadian yang terdiri atas aspek social yang berisikan system nilai dan moral, yang
benar-benar memperhitungkan “benar” atau “salahnya” sesuatu. Struktur superego ini
terbentuk dari konflik Oedipus yang dialami semua manusia. Ketika anak mengalami
konflik Oedipus ini, maka perkembangan moral mulai terjadi. Salah satu alasan mengapa
anak mengatasi konflik Oedipus adalah perasaan khawatir akan kehilangan kasih saying
orang tua dan ketakutan akan dihukum karena keinginan mereka tidak dipenuhi oleh orang
tuanya. Untuk mengurangi kecemasan, menghindari hukuman, dan mempertahankan kasih
sayang orang tua, anak akan membentuk suatu superego dengan mengidentifikasikan diri.

6
b. Teori belajar social tentang perkembangan moral, teori belajar social melihat tingkah
laku moral sebagai respon dan stimulus. Dalam hal ini proses penguatan, penghukuman,
dan peniruan digunakan untuk menjelaskan perilaku moral anak-anak. Bila anak diberi
hadiah atas perilaku yang sesuai dengan aturan dan kontrak social, mereka akan
mengulangi perilaku tersebut. Sebaliknya, bila mereka dihukum atas perilaku yang tidak
bermoral, maka perilaku itu akan berkurang atau hilang.
c. Teori kognitif piaget tentang perkembangan moral, menurut piaget dalam teori
kognitifnya, perkembangan moral digambarkan melalui aturan permainan. Karena itu
hakikat moralitas adalah kecenderungan untuk menerima dan menaati system peraturan.
Piaget menyimpulkan bahwa pemikiran anak-anak tentang moralitas dapat dibedakan
menjadi dua tahap , yaitu tahap heteronomous morality dan autonomous morality. Tahap
heteronomous atau morality of constraint ialah tahap perkembangan moral yang terjadi
pada anak usia 6 hingga 9 tahun. anak-anak menghormati ketentuan suatu permainan
sebagai sesuatu yang bersifat suci dan tidak dapat diubah. Anak-anak pada masa ini yakin
akan keadilan immanen, yaitu konsep bahwa bila suatu aturan dilanggar maka hukuman
akan segera dijatuhkan. Sedangkan tahap autonomous morality atau morality of
corporation ialah tahap perkembangan moral yang terjdi pada anak-anak usia 9 sampai 12
tahun. pada tahap ini anak mulai sadar bahwa aturan dan hokum-hukum atas suatu
tindakan harus mempertimbangkan maksud pelaku serta sebab-akibatnya. Anak juga
meninggalkan penghormatan sepihak kepada otoritas dan mengembangkan perhongmatan
kepada teman sebaya.

d.Teori Kohlberg Tentang Perkembangan Moral, teori ini merupakan perluasan dari teori
Piaget. Teori inididasarkan atas analisis data hasil wawancara anak lai-laki usia 10-16
tahun yang dihadapkan pada suatu dilemma moral, disana mereka harus memilih antara
tindakan menaati peraturan atau memenuhi kebutuhan hidup dengan cara bertentangan
dengan peraturan. Kemudian Kohlberg mengklasifikasikan perkembangan moral atas tiga
tingkatan yang kemudian dibagi lagi menjadi enam tahap (lihat table 1.1)

Tabel 1.1
Tingkat Dan Tahap Perkembangan Moral Menurut Teori Kohlberg

Tingkat Tahap
1. Prakonvensional Moralitas 1. Orientasi kepatuhan dan hukuman
Pada awal level ini anak Pemahaman nak tentang baik dan buruk
mengenal moralitas berdasarkan ditentukan oleh otoritas. Kepatuhan

7
dampak yang ditimbulkan oleh terhadap aturan dari otoritas
2. Orientasi hedonistic-instrumental
suatu perbuatan, yaitu
Suatu perbuatan dinilai baik apabila
menyenangkan (hadiah) atau
berfungsi senagai instrument untuk
menakutkan (hukuman). Anak
memenuhi kebutuhan atau kepuasan diri
tidak melanggar aturan karena 3. Orientasi anak yang baik
Tindakan berorientasi pada orang lain.
takut akan ancaman hukuman
Suatu perbuatan dinilai baik apabila
dari otoritas.
2. Konvensional menyenangkan bagi orang lain.
Suatu perbuatan dinilai baik oleh 4. Orientasi keteraturan dan otoritas
Perilaku yang diniali baik adalah
anak apabila mematuhi harapan
menuanaikan kewajiban, menghormati
otoritas atau kelompok sebaya
3. Pasca-konvensional otoritas dan memelihara ketertiban
Pada level ini aturan dan institusi
sosial
dari masyarakat tidak dipandang 5. Orientasi control social-legalistik
Ada semacam perjanjian antara dirinya
sebagai tujuan akhir, tetapi
dengan lingkungan social. Perbuatan
diperlukan sebagi subjek. Anak
dinilai baik apabila sesuai dengan
menaati aturan untuk
perundnag-undangan yang berlaku
menghindari hukuman kata hati
6. Orientasi kata hati
Kebenaran ditentukan oleh kata hati,
sesuai dengan prinsip-prinsip etika
universal yang bersifat abstrak dan
penghormatan terhadap martabat
manusia

5.Perkembangan Emosi

Emosi dapat didefinisikan sebgai suatu keadaan perasaan yang kompleks yang
disertai karakteristik kegiatan kelenjar dan motoris. Sedangkan Sarlito Wirawan Sarwono
berpendapat bahwa emosi merupakan setiap keadaan pada diri seseorang yang disertia
warna afektif baik pada tingkat lemah maupun pada tingkat yang luas.

Pada masa awal anak-anak, emosi anak sanagt kuat, ditandai oleh ledakan marah,
ketakutan yang hebat, iri hati yang tidak masuk akal. Emosi yang diungkapkan dengan
menangis dan murung apabila susah dan emosi tersenyum, tertawa jika senang mengalami
perkembangan saat anak mencapai usia 5 tahun. pada saat itu perasaan ketidaktenangan

8
anak berkembang menjadi malu, cemas, kecewa, sedangkan perasaan kesenangan
berkembang menjadi harapan dan kasih sayang.

Table 1.2

Karakteristik emosi anak dan orang dewasa

EMOSI ANAK EMOSI ORANG DEWASA


1. Berlangsung singkat dan berakhir 1. Berlangsung lebih lama dan berakhir
tiba-tiba dengan lambat
2. Terlihat lebih hebat/ kuat 2. Tidak terliahat hebat/ kuat
3. Bersifat sementara/ dangkal 3. Lebih mendalam dan lama
4. Lebih sering terjadi 4. Jarang terjadi
5. Dapat diketahui dengan jelas dari 5. Sulit diketahui karena pandai
tingkah lakunya menyembunyikannya