Anda di halaman 1dari 5

PROSPEK PENDIDIKAN KEJURUAN TERHADAP PENINGKATAN

KUALITAS SUMBER DAYA MANUSIA INDONESIA

Lukman Budhi Purnomo


NIM. 15504241040/Kelas A
Program Studi Pendidikan Teknik Otomotif – FT UNY

PENDAHULUAN
Salah satu tujuan mulia negara Republik Indonesia yang tercantum dalam
pembukaan UUD 1945 adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Hal ini mengandung
makna bahwa bangsa Indonesia harus cerdas. Salah upaya pemerintah dalam
mencerdaskan kehidupan bangsa adalah melalui pendidikan. Indonesia telah memiliki
sistem pendidikan yang secara tegas diatur melalui sistem perundang-undangan.
Salah satu jenjang pendidikan di Indonesia adalah pendidikan menengah
kejuruan (SMK). Dalam Peraturan Pemerintah No. 29 Tahun 1990 Tentang Pendidikan
Menengah, Pendidikan Menengah Kejuruan adalah pendidikan pada jenjang
pendidikan menengah yang mengutamakan pengembangan kemampuan siswa untuk
pelaksanaan jenis pekerjaan tertentu. SMK menjadi alternatif bagi para lulusan SMP
dalam melanjutkan pendidikannya. Lulusan SMK saat ini memiliki banyak pilihan
setelah lulus. Lulusan SMK dapat langsung bekerja dengan bekal kompetensi maupun
sertifikat keahlian (P1) yang mereka dapatkan dari sekolah. Lulusan SMK juga dapat
melanjutkan jenjang pendidikannya ke politeknik maupun universitas, yang mana kita
tahu bahwa universitas adalah peruntukkan bagi lulusan SMA. Ataupun berwirausaha,
karena kurikulum SMK juga membekali siswa SMK dalam berwirausaha.
Salah satu negara yang berhasil menerapkan pendidikan sistem ganda atau di
negara kita disebut SMK adalah Jerman. Di jerman, lebih dari 70% generasi mudanya
memasuki sekolah kejuruan. Dan terbukti, lulusan sekolah kejuruan memiliki
keterampilan yang bekualitas tinggi. Selain itu, mereka lebih produktif saat masih
menjalani pendidikan.
Dalam pembangunan sebuah negara, keberadaan sumber daya manusia yang
berkualitas tidak dapat ditawar lagi. Kenyataan juga menunjukkan bahwa kebutuhan
tenaga kerja dilapangan 80% adalah pekerja dengan tingkat pendidikan menengah
kebawah, selebihnya atau 20% bekerja pada lapisan atas. Selain itu, para pekerja juga
menjadi font-liner dalam membangun kekuatan ekonomi negara.
Mengingat relevansinya kondisi pembangunan Indonesia dengan kebutuhan
sumber daya manusia yang terampil. Salah satunya kebijakan pemerintah saat ini
adalah menargetkan rasio SMK dan SMA adalah 70 : 30. Kebijakan tersebut telah
berjalan dan pada tahun 2017 ini pemerintah berhasil membangun 200 SMK baru di
berbagai pelosok negeri (Kompas, 2017). Akan tetapi, pembangunan gedung-gedung
SMK tersebut tidak dibarengi dengan penyediaan standar-standar pendidikan yang ada,
mulai dari kurang tersedianya guru produktif, training object praktik yang tidak
memadai, sampai pada lingkungan yang tidak mendukung penyelenggaraan jurusan
yang baru dibuka. Hal ini tentu menjadi kebijakan yang tidak efisien, bahkan bisa
dikatakan percuma. Teori Proccer (1925) menyatakan bahwah pendidikan kejuruan
memerlukan biaya investasi yang besar. Jika kemampuan untuk mendirikan SMK
hanya setengah-setengah, lebih baik pendidikan kejuruan ini ditiadakan saja.
Kenyataan menjanjikan dari output pendidikan kejuruan di luar negeri ternyata
tidak berbanding lurus dengan pendidikan kejuruan di Indonesia. Hal ini dibuktikan
dengan data statistik, yang menyatakan bahwa tingkat pengganguran tertinggi di
Indonesia diduduki oleh lulusan pendidikan kejuruan. Tingkat penggangguran yang
tinggi tentu menjadi beban ekonomi besar bagi negara. Selain itu, para pengguna
lulusan SMK yang sebagian besar adalah industri juga menyatakan hal yang kurang
memuaskan bagi eksistensi SMK. Mulai dari ketidaksesuaian program SMK dengan
kebutuhan industri sampai dengan kompetensi lulusan SMK yang belum menunjukkan
profesionalisme yang diharapkan. Dengan melihat kenyataan tersebut, lantas apakah
menjadikan pembangunan SMK yang digadang-gadang pemerintah akan membantu
meningkatkan pembangunan bangsa tersebut dianggap tidak tepat?
PERMASALAHAN YANG DIKAJI
Permasalahan yang akan dikaji dalam makalah ini adalah upaya peningkatan kualitas
SDM Indonesia melalui SMK.

PEMBAHASAN
Landasan penyelenggaraan pendidikan SMK
Peraturan Pemerintah No. 29 tahun 1990 tentang Pendidikan Menengah, Bab 1
Pasal 1 ayat 3 berbunyi, “Pendidikan menengah kejuruan adalah pendidikan pada
jenjang pendidikan menengah yang mengutamakan pengembangan kemampuan siswa
untuk melaksanakan jenis pekerjaan tertentu. Peraturan tersebut menegaskan bahwa
pendidikan kujuruan merupakan pendidikan pada jenjang menengah yang
mempersiapkan peserta didiknya untuk berkerja pada bidang tertentu.
Sedangkan landasan filosofi dari pendidikan kejuruan adalah filsafat
eksistensialisme dan esensialisme. Eksistensialisme berpandangan bahwa pendidikan
kejuruan harus mampu mengembangkan eksistensi manusia, bukan merampasnya.
Esensialisme berpandangan bahwa pendidikan kejuruan harus mengaitkan dirinya
dengan sistem-sistem yang lain, seperti ekonomi, politik, sosial, religi, dan moral. Hal
ini mengandung arti bahwa pendidikan kejuruan harus mampu menjadi wadah dalam
mengembangkan potensi manusia dalam menjalani kehidupannya. Selain itu,
pendidikan kejuruan harus mengaitkan diri dengan bidang-bidang kehidupan yang lain,
karena esensi dari pendidikan kejuruan itu adalah menjadikan peserta didik mampu
bekerja dalam salah satu bidang kehidupan tersebut.

Struktur program pendidikan SMK


Kurikulum SMK harus fleksibel, karena SMK berkaitan erat dengan kebutuhan
dunia kerja maupun masyarakat. Dunia kerja sangat dinamis, setiap saat pasti ada
perubahan. Karena sejatinya, dunia usaha selalu berkecimpung dengan pelayanan
kebutuhan manusia, sedangkan kebutuhan manusia itu sendiri tidak ada batasnya.
Sehingga dunia usaha yang tidak mau berkembang, bisa dipastikan akan tertinggal.
Begitu pula dengan SMK. Program pendidikan SMK harus selalu mengikuti
perkembangan zaman. Jika tidak, tentu SMK yang bersangkutan juga akan tertinggal,
baik oleh SMK yang lain atau tertinggal oleh dunia usaha. Hal ini yang menuntut sistem
administrasi SMK agar selalu luwes dan fleksibel, tidak kaku atau terstandar. Sehingga
tidak muncul kesulitan yang menghambat perkembangan SMK itu sendiri.

Profil Kompetensi Lulusan SMK


Wardiman Djojonegoro (1998) menyatakan, sebagai sub sistem dari sistem
pembangunan nasional, SMK harus dapat diandalkan untuk peranan dan tugas sebagai
berikut: (a) Menghasilkan tamatan yang memiliki keterampilan dan penguasaan iptek.
(b) Menghasilkan tamatan yang memiliki kemampuan produktif. (c) Menghasilkan
tamatan yang berkualitas tinggi dan memiliki keunggulan. (d) Menghasilkan tamatan
yang memiliki bekal dasar pengetahuan. Tingkat keberhasilan yang dicapai SMK akan
diukur sebagai “rate of return” biaya investasi yang dibelanjakan untuk pembangunan
dan penyelenggaraan pendidikan kejuruan, tidak cukup dengan “social return” saja.
Sehingga, jika data statistik menunjukkan bahwa tingkat pengangguran tertinggi di
Indonesia diduduki oleh lulusan SMK. Hal ini jelas merupakan sebuah kerugian negara
yang harus segera dicari penyelesaiannya.
Pengangguran tidak selamanya disebabkan karena kalahnya mutu lulusan SMK
dengan lulusan jenjang pendidikan lain. Banyak faktor lain yang justru menjadi
penyebab tingginya angka pengangguran di Indonesia, mulai dari lesunya
perekonomian, banjirnya tenaga kerja asing, ataupun malah memang jumlah lapangan
kerja yang tersedia tidak mampu menampung bangyaknya jumlah angkatan kerja.
Seperti kita tahu bahwa saat ini, Indonesia sedang menikmati bonus demografi. Hal ini
merupakan keuntungan dalam rangka pembangunan bangsa, tapi bisa berlaku
sebaliknya, jika banyak kesulitan yang muncul akibat tingginya pengangguran.
Peningkatan kualitas SDM Indonesia melalui SMK
Meskipun saat ini banyak sekali permasalahan yang menghinggapi pendidikan
kejuruan di negara kita. Tentu menjadi terlalu cepat menyimpulkan jika kita
berpendapat bahwa lulusan yang dihasilkan oleh SMK memang sebatas itu. Negara
maju seperti Jerman dalam mengembangkan sistem pendidikan gandanya hingga
berhasil tidak ditempuh hanya dalam waktu singkat. Perlu proses yang perlahan namun
pasti. Karena sesuatu yang besar memang tidak didapatkan dengan instan. Perlu proses
panjang dan komitmen dari semua pihak, baik itu pemerintah, industri, maupun dari
masyarakat sendiri. Sehingga, percepatan upaya pembangunan SDM Indonesia yang
berkualitas dapat segera terwujud.

KESIMPULAN
Peningkatan kualitas SDM Indonesia dapat diupayakan melalui pengembangan
SMK. Jenjang pendidikan SMK saat ini sangat relevan bagi upaya penyiapan SDM
Indonesia yang unggul dalam mewujudkan cita-cita pembangunan nasional. Bonus
demografi yang diterima Indonesia saat ini tentu menjadi sub sistem dari faktor
pembangunan bangsa. Banyaknya generasi usia produktif ini tentu akan menjadi aset
bangsa, jika mereka mampu berkarya dan memiliki keunggulan. Revitalisasi dalam
sistem pendidikan kita memang perlu dilakukan, terutama SMK yang menjadi harapan
baru dalam mewujudkan SDM Indonesia unggul.

DAFTAR PUSTAKA
Djojonegoro, Wardiman. (1998). Pengembangan Sumberdaya Manusia Melalui
Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Jakarta: PT. Jayakarta Agung Offset
Rajasa, M. Hatta. (2008). Menggagas Sumber Daya Manusia Kreatif Dalam
Membangun Bangsa di Masa Depan. Diakses dari www.setneg.go.id Pada
17 April 2012
Usman, Husaini & Darmono. (2016). Pendidikan Kejuruan Masa Depan. Jakarta:
Pusat Kurikulum dan Perbukuan BALITBANG KEMDIKBUD