Anda di halaman 1dari 35

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN PREEKLAMSIA

Disusun untuk Memenuhi Tugas Kuliah Keperawatan Maternitas


Dosen Pembimbing : Prima Daniyati Kusuma, S.Kep., Ns., M.Kep

Disusun Oleh :

Candra Ariani 2620152723/3C


Nugraheni Putri Utami 2620152746/3 C

AKADEMI KEPERAWATAN NOTOKUSUMO

YOGYAKARTA

2017

i
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah menuntun kami sebagai penyusun
untuk menyelesaikan makalah ini dengan lancar meskipun banyak kekurangan
didalamnya. Tak lupa kami ucapkan banyak terimakasih kepada:

1. Orang tua yang telah memberikan dorongan dan motivasi terhadap penyusun
selama pembuatan makalah ini.
2. Bu Prima Daniyati Kusuma, S.Kep., Ns selaku dosen yang telah memberikan
bimbingan, arahan, serta saran dalam pembuatan makalah ini.

Kami sangat merasa bahwa makalah ini masih jauh dari yang diharapkan untuk itu
kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk hasil yang lebih
baik. Akhir kata mohon maaf apabila masih banyak kesalahan baik dalam
penyusunan maupun penulisan dalam makalah ini.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb

Yogyakarta, September 2017

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ........................................................................................... i


KATA PENGANTAR ......................................................................................... ii
DAFTAR ISI ....................................................................................................... iii
BAB 1 PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ................................................................................................1
B. Tujuan................................................................................................................2
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
A. Preeklamsia
1. Pengertian Preeklamsia .............................................................................3
2. Etiologi .......................................................................................................3
3. Tanda dan Gejala ........................................................................................5
4. Klasifikasi ..................................................................................................5
5. Patofisiologi ...............................................................................................5
6. Pathway ......................................................................................................9
7. Penatalaksanaan Medik dan Prinsip Perawatan.........................................10
B. Eklamsia
1. Pengertian Eklamsia...................................................................................12
2. Tanda dan Gejala Eklamsia .......................................................................13
3. Klasifikasi Eklamsia .................................................................................14
4. Penatalaksanaan Medik dan Prinsip Perawatan........................................ 14
C. Pemeriksaan Penunjang ................................................................................18
D. Komplikasi ......................................................................................................19
BAB 3 PEMBAHASAN
A. Pengkajian ......................................................................................................21
B. Diagnosa ........................................................................................................26
C. Intervensi........................................................................................................26
BAB 4 PENUTUP
A. Kesimpulan.......................................................................................................33
B. Saran .................................................................................................................33

DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Preeklamsia dan eklamsia merupakan masalah kesehatan yang
memerlukan perhatian khusus karena preeklamsia adalah penyebab kematian
ibu hamil dan perinatal yang tinggi terutama di negara berkembang. Sampai
saat ini preeklamsia dan eklamsia masih merupakan ”the disease of theories”,
karena angka kejadian preeklampsia-eklampsia tetap tinggi dan
mengakibatkan angka morbiditas dan mortilitas maternal yang tinggi
(Manuaba, 2010). Prevalensi preeklamsia dan eklamsia adalah 2,8% dari
kehamilan di negara berkembang, dan 0,6% dari kehamilan di negara maju
(WHO, 2005). Preeklampsia adalah sindrom spesifik pada kehamilan yang
menyebabkan disfungsi organ serta ditandai dengan terjadinya peningkatan
tekanan darah dan ditemukannya proteinuria. Preeklampsia biasanya terjadi
pada kehamilan diatas 20 minggu (Cunningham et al., 2010). Menurut
klasifikasi National High Blood Pressure Education Working Group,
preeklampsia merupakan salah satu kategori hipertensi dalam kehamilan yang
memiliki kriteria peningkatan tekanan darah > 140/90 dengan proteinuria >
300 mg pada urin 24 jam. Sebanyak 70% penderita hipertensi dalam
kehamilan didiagnosis sebagai preeklampsia (Mosayebi et al., 2013).
Angka kematian ibu di dunia mencapai 529.000 per tahun, dengan rasio
400 kematian ibu per 100.000 kelahiran hidup dimana 12% dari kematian ibu
disebabkan oleh preeklamsia (WHO, 2005). Preeklamsia juga menjadi
penyebab langsung kematian ibu di Inggris yaitu sebesar 15% (Symonds, 2
2010). Di Indonesia, pada tahun 2006 angka kematian ibu (AKI) yang
disebabkan oleh eklamsia dan preeklamsia adalah sebanyak 5,8% (Depkes,
2007). Jika dilihat dari golongan sebab sakit, persentase eklamsia dan
preeklamsia memang lebih rendah dibanding data di dunia, namun jika dilihat
dari Case Fatality Rate (CFR), penyebab kematian terbesar adalah eklamsia
dan preeklamsi dengan CFR 2,1%. Pada tahun 2011 eklamsia menempati
urutan kedua sebagai penyebab kematian pada ibu melahirkan yaitu sebanyak

1
24% (Depkes, 2012). Preeklamsia-eklamsia merupakan merupakan penyebab
utama kematian perinatal dan dapat mengakibatkan retardasi mental pada
anak (Knuppel, 1993). Selain itu preeklamsia dapat mengakibatkan kematian
ibu, terjadinya prematuritas, serta dapat mengakibatkan Intra Uterin Growth
Retardation (IUGR) dan kelahiran mati karena pada preeklamsia-eklamsia
akan terjadi perkapuran di plasenta yang menyebabkan makanan dan oksigen
yang masuk ke janin berkurang (Benson, 2009).
Preeklamsia dan eklamsia penting untuk diketahui oleh calon orang tua,
ibu hamil maupun penderita untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.
Karena prenderita preeklamsia dan eklamsia yang tidak tertangani dengan
baik dapat membahayakan ibu dan janin, seperti ibu hamil yang mengalami
kejang-kejang, koma bahkan mengalami kematian saat melahirkan.
Sedangkan akibat yang dapat ditimbulkan pada janin antara lain terganggunya
peredaran darah pada plasenta sehingga berat badan bayi yang dilahirkan
relative kecil, kelahiran premature beserta komplikasi dari kelahiran
premature yaitu keterlambatan belajar, epilepsy, cereberal palsy (kelumpuhan
otak) dan masalah pada pengelihatan dan pendengaran. Oleh karena itu
semakin awal penderita atau ibu hamil mengetahui tanda dan gejala atau
adanya kelainan, semakin cepat pula penderita atau ibu hamil mendapatkan
tindakan pencegahan ataupun pengobatan sehingga ibu maupun janin yang
dikandung dapat ditangani dengan baik.
B. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui lebih mendalam materi preeklampsia dan eklampsia
pada mata kuliah keperawatan maternitas
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui pengertian preeklampsia dan eklampsia
b. Untuk mengetahui patofisiologi preeklampsia dan eklampsia
c. Untuk mengetahui tanda dan penyebab preeklampsia dan eklampsia
d. Untuk mengetahui Asuhan keperawatan preeklampsia dan eklampsia

2
BAB II

KONSEP DASAR

A. PREEKLAMSIA
1. Pengertian Preeklamsia
Preeklamsia adalah sekumpulan gejala yang timbul pada wanita
hamil, bersalin dan nifas yang terdiri dari hipertensi, edema, dan protein
uria tetapi tidak menunjukkan tanda-tanda kelainan vaskuler atau
hipertensi sebelumnya, sedangkan gejalanya biasanya muncul setelah
kehamilan berumur 28 minggu atau lebih (Muctar, 1998). Tidak berbeda
dengan definisi Rustam, Manuaba (1998) mendefinisikan bahwa
preeklamsia (toksemia gravidarum) adalah tekanan darah tinggi yang
disertai dengan protein uria (protein dalam air kemih) atau edema
(penimbunan cairan), yang terjadi pada kehamilan 20 minggu sampai
akhir minggu pertama setelah persalinan.
Selain itu, Mansjoer (2000) mendefinissikan bahwa preeklamsia
adalah timbulnya hipertensi disertai protein uria dan edema akibat
kehamilan setelah usia kehamilan 20 minggu atau segera setelah
persalinan (Mansjoer, 2000). Menurut kamus saku kedokteran Dorland,
preeklamsia addalah toksemia pada kehamilan lanjut yang ditandai oleh
hiperteni, edema, dan protein uria. Berdasarkan beberapa definisi diatas
maka dapat disimpulkan bahwa preeklamsia (toksemia gravidarum)
adalaah sekumpulan gejala yang timbul pada wanita hamil, bersalin dan
nifas yang terdiri dari hipertensi, edema dan protein uria yang muncul
pada kehamilan 20 minggu sampai akhir minggu pertama setelah
persalinan.
2. Etiologi Preeklamsia
Penyebab preeklamsia ampai sekarang belum diketahui. Tetapi ada
teori yang dapat menjelaskan tentang penyebab preeeklamsia, yaitu :
Bertambahnya frekuensi pada primigraviditas, kehamilan ganda
hidramnion, dan molahidatidosa. Bertambahnya frekuensi yang makin
tuanya kehamilan. dapat terjadinya perbaikan keadaan penderita dengan

3
kematian janian dalam uterus. Timbulnya hipertensi, edema, protein uria,
kejang dan koma.
Beberapa teori yang mengatakan bahwa perkiraan etiologi dari
kelainan tersebut sehingga kelainan ini sering dikenal sebagai the
diseases of theory. Adapun teori-teori tersebut antara lain: Peran
Prostasiklin dan Tromboksan.
a) Peran faktor imunologis. Beberapa studi juga mendapatkan adanya
aktivasi sistem komplemen pada preeklamsi atau eklamsia
b) Peran faktor genetik/familia. Terdapatnya kecenderungan
meningkatnya frekuensi preeklamsi/eklamsi pada anak-anak dari ibu
yang menderita preeklamsi/eklamsi. Kecenderungan meningkatnya
frekuensi preeklamsi/eklamsi dan anak dan cucu ibu hamil dengan
riwayat preeklamsi/eklamsi dan bukan pada ipar mereka. Peran renin-
angiotensin-aldosteron system (RAAS).
c) Faktor Predisposisi
1) Molahidatidosa
2) Diabetus melittus
3) Kehamilan ganda
4) Hidrops fetalis
5) Obesitas
6) Umur yang lebih dari 35 tahun
Apa yang menjadi penyebab preeklamsia dan eklamsia sampai
sekarang belum diketahui. Telah terdapat banyak teori yang mencoba
menerangkan sebab-musabab penyakit tersebut, akan tetapi tidak ada
yang dapat memberi jawaban yang memuaskan. Teori yang banyak
terjadi dewasa ini dikemukakan sebagai sebab preeklamsia ialah iskemia
plasenta, Akan tetapi, dalam teori ini tidak dapat diterangkan semua hal
yang bertalian dengan penyakit itu. Rupanya tidak hanya satu faktor,
melainkan banyak faktor yang menyebabkan preeklamsia dan eklamsia.
Diantara faktor-faktor yang ditemukan sering kali sukar ditentukan mana
yang sebab dan mana yang akibat (Wiknjosastro, dkk, 2007).
3. Tanda dan Gejala Preeklamsia
Biasanya tanda-tanda preeklamsia timbul dalam urutan:
pertambahan berat badan yang berlebihan, diikuti edema, hipertensi dan
akhirnya protein uria. Pada preeklamsia ringann tidak ditemukan gejala-

4
gejala subjektif. pada preeklamsia berat didapatkan sakit kepala didaerah
frontal, diplopia, penglihatan kabur, nyeri didaerah epigastrium, mual
atau muntah. Gejala-gejala ini sering ditemukan pada preeklamsia yang
meningkat dan merupakan peetunjuk bahwa eklamsia akan timbul.
4. Klasifikasi Preeklamsia
Dibagi menjadi 2 golongan yaitu sebagai berikut :
a) Preeklamsia ringan
Bila disertai keadaan sebagai berikut: Tekanan darah 140/90 mmHg
atau lebih yang diukur pada posisi berbaring terlentang, atau kenaikan
diastolik 15 mmHg/lebih, atau kenaikan sistolik 30 mmHg/lebih. Cara
pengukuran sekurang-kurangnya pada dua kali pemerikaan dengan
jarak periksa 1 jam, sebaiknya 6 jam. Edema umum, kaki, jari tangan,
muka; atau kenaikan berat 1 kilo atau lebih/minggu. Protein uria 0,3
gr atau lebih/liter; kualitatif 1+ atau 2+ pada urin kateter atau
midstream.
b) Preeklamsia berat
Tekanan darah 160/110 mmHg atau lebih. Protein uria 5 gr atau
lebih/liter. Oliguria, yaitu jumlah urin kurang dari 500 cc/24 jam.
Adanya gangguan cerebral, gangguan visus, dn rasa nyeri pada
epigastrium. Terdapat edema patu dan sianosis.
5. Patofisiologi Preeklamsia
Menurut Manuaba (2010), pada preeklamsia terdapat penurunan
aliran darah. Perubahan ini menyebabkan prostaglandin plasenta
menurun dan mengakibatkan iskemia uterus. Keadaan iskemia pada
uterus, merangsang pelepasan bahan tropoblastik yaitu akibat
hiperoksidase lemak dan pelepasan renin uterus. Bahan tropoblastik
menyebabkan teradinya endotheliosis menyebabkan pelepassan
tromboplastin. Tromboplastin yang dilepaskan menyebabkan pelepasan
tromboksan dan aktvasi agregasi trombosit deposisi fibrin. Pelepasan
tromboksan akan menyebabkan terjadinya fasospasme sedangkan
aktivasi atau agregasi trombosit deposisi fibbrin akan menyebabkan
koagulasi intravaskular yang mengakibatkan pervusi darah menurun dan
konsumtif koagulapati.

5
Konsumtif koagulapati mengakibatkan trombosit dan faktor
pembekuan darah menurun dan menyebabkan gangguan faal hemostasis.
Renin utterus yang dikeluarkan akan mengalir bersama darah sampai
organ hati dan bersama angiotensinogen menjadi angiotensin I dan
selanjutnya menjadi angiotensin II. Angiotensin II bersama tromboksan
akan menyebabkan terjadinya vasospasme. Vasospasme menyebabkan
lumen arteriol menyempit. Lumen arteriol yang menyempit
menyebabkan lumen hanya dapat dilewati oleh satu sel darah merah.
Tekanan perifer akan meningkat agar oksigen mencukupi kebutuhan
sehingga menyebabkan terjadinya hipertensi. Selain menyebabkan
vasospasme, angiotensin II akan merangsang glandula suprarenal untuk
mengeluarkan aldosteron. Vasospasme bersama dengan koagulasi
intravaskuler akan menyebabkan gangguan perfusi darah dan gangguan
multiorgan.
Gangguan multiorgan terjadi pada organ-organ tubuh diantaranya
otak, darah, paru-paru, hati/liver, renal dan plasenta. Padda otak akan
dapat menyebabkan terjadinya edema serebri dan selanjutnya terjadi
peningkatan tekanan intrakrnial. Tekanan intrakranial yang meningkat
menyebabkan terjadinya gangguan perfusi serebral, nyeri dan terjadinya
kejang sehingga menimbulkan diagnosa keperawatan resiko cedera. Pada
darah akan terjadi enditheliosis menyebabkan sek darah merah dan
pembuluh darah pecah. Pecahnya pembuluh darah akan meneyebabakan
terjadinya perdarahan, sedangkan sel darah merah yang pecah akan
menyebabkan terjadiinya anemia hemolitik. Pada paru-paru, LADEP
akan meningkat menyebabkan terjadinya kongesti vena pulmonal,
perpindahan cairan sehingga akan mengakibatkan terjadinya odema paru.
Oedema paru akan menyebabkan terjadinya kerusakan pertukaran gas
pada hati, vasokontriksi pembuluh darah akan menyebabkan gangguan
kontraktilitas miokard sehingga menyebabkan payah jantuung dan
memunculkan diagnosa keperawatan penurunan curah jantung. Pada
ginjal, akibat pengaruh aldosteron, terjadi peninngkattan rearbsorbsi

6
natrium dan menyebabkan retensi cairan dan dapat menyebabkan
terjadinya edema sehingga dapat memunculkan diagnosa keperawatan
kelebihan volume cairan. Selain itu, vasospasme arteriol pada ginjal akan
menyebabkan penurunan GFR dan permeabilitas terhadap protein akan
meningkat. penurunan GFR tidak diimbangi dengan peningkatan
reabsorpsi oleh tubulus sehingga menyebabkan diuresis menurun
sehingga menyebabkan terjadinya oliguri dan anuri. Oliguri atau anuri
akan memunculkan diagnosa keperawatan gangguan eliminasi urin.
Permeabilitas terhadap protein yang meningkat akan menyebabkan
banyak protein akan lolos dari filtrasi glomerulus dan menyebabkan
proteinuria.
Pada mata, akan terjadi spasmus arteriola selanjutnya
menyebabkan oedem diskus optikus dan retina. Keadaan ini dapat
menyebabkan terjadinya diplopia dan memunculkan diagnosa
keperwatan risiko cedera. Pada plasenta penurunan perfusi akan
menyebabkan hipoksia/anoksia sebagai pemicu timbulnya gangguan
pertumbuhan plasenta sehingga dapat berakibat terjadinya Intra Uterin
Gwoth Retardation serta memunculkan diagnosa keperawatan risiko
gawat janin. Hipertensi akan merangsang medula oblongata dan simtem
saraf parasimpatis akan meningkat. Peningkatan saraf simpatis akan
mempengaruhi traktus gastrointestinal dan ekstrimitas. Pada traktus
gastrointestinal dapat menyebabkan terjadinya hipoksia duodenal dan
penumpukkan ion H menyebabkan HCI meningkat sehingga dapat
menyebabkan nyeri epigastrik. Selanjutnya akan terjadi akumulasi gas
yang meningkat, merangsang mual dan timbulnya muntah sehingga
muncul diagnosa keperawatan ketidakseimbangan nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh. Pada ekstrimitas dapat terjadi metabolisme anaerob
menyebabkan ATP diproduksi dalam jumlah yang sedikit yaitu 2 ATP dan
pembentukkan asam laktat. Terbentuknya asam laktat dan sedikitnya ATP
yang diproduksi akan menimbulkan keadaan cepat lelah, lemah sehingga
memunculkan diagnosa keperawatan intoleransi aktivitas. Keadaan

7
hipertensi akan mengakibatkan seseorang kurang terpajan informasi dan
memunculkan diagnosa keperawatan kurang pengetahuan.
Preeklamsia ringan jarang sekali menyebabkan kematian ibu. Oleh
karena itu, sebagian besar pemeriksaan anatomi-patologik berasal dari
penderita eklamsia yang meninggal. Pada penyelidikan akhir-akhir ini
dengan biopsi hati dan ginjal ternyata banyak berbeda daripada yang
ditemukan pada eklamsia. Perlu dikemukakan disini bahwa tidak ada
perubahan hispatologik yang khas pada preeklamsia dan eklamsia.
Pendarahan, infrak, nekrosis, dan thrombosis pembuluh darah kecil pada
penyakit ini dapat ditemukan dalam berbagai alat tubuh. Perubahan
tersebut mungkin sekali disebabkan oleh vasospasmus arteriola.
Penimbunan fibrin dalam pembuluh darah merupakan faktor penting juga
dalam pathogenesis kelainan-kelainan tersebut (Wiknnjosastro, dkk,
2007).

8
6. Pathway

Tuliskan
sumbernya

9
7. Penatalaksanaan Medik dan Prinsip Perawatan
a) Penatalaksanaan Medik
Penatapelaksanaan pre-eklamsia bertujuan untuk menghindari
kelanjutan menjadi eklamsia dan pertolongan kebidanan dengan
melahirkan janin dalam keadaan optimal dan bentuk pertoloongan dengan
trauma minimal. Pada pre-eklamsia ringan, penatapelaksanaan simtomatis
dan berobat jalan dengan memberikan:
1) Sedatif ringan (Phenobarbital 3x30mg, Valium 3 x 10 mg)
2) Obat penunjang (Vitamin B kompleks, Vitamin C atau Vitamin E, Zat
besi)
3) Nasihat (garam dalam makanan dikurangi, lebih banyak istirahat baring
ke arah punggung janin, segera datang memeriksakan diri, bila terdapat
gejala sakit kepala, mata kabur, edema mendadak atau berat badan naik,
pernafasan semakin sesak, nyeri pada eppigastrium, kesadaran makin
berkurang, gerka janin melemah-berkurang, pengeluaran urin
berkurang)
4) Jadwal pemeriksaan hamil dipercepat dan diperketat. Petunjuk untuk
segera memasukan penderita ke rumah sakit atau merujuk penderita
perlu memerhatikan hal berikut:
i. Bila tekanan darah 140/90 mmHg atau lebih
ii. Protein dalam urine 1 plus atau lebih
iii.Kenaikkan berat badan 1,5 kg atau lebih dalam seminggu
iv. Edema bertambah dengan mendadak
v. terdapat gejala dan keluhan subjektif
Bidan yang mempunyai Polindes dapat merawat penderita pre-eklamsia
berat untuk sementara, sampai memnunggu kesempatan melakukan
rujukan sehingga penderita mendapat pertolongan yang sebaik-baiknya.
Penderita diusahakan agar terisolasi sehingga tidak mendapat rangsangan
suara ataupun sinar, dipasang infus glukosa 5%, dilakukan pemeriksaan
umum (pemeriksaan tekanan darah, nadi, suhu dan pernafasan),
pemeriksaan dalam (evaluasi pembukaan dan keadaan janin dalam rahim),
pemeriksaan kebidanan (pemeriksaan Leopold, denyut jantung janin),
pemasangan kateter, evaluasi keseimbangan cairan, pengobatan (sedatif:
Phenobarbital 3 x 100 mg, Valiium 3 x 20 mg), menghindari kejang:
magnesium sulfat (dosis awal 8 g IM, dosis ikutan 4g/ 6 jam, obervasi

10
pernafasan tidak kurang 16 menit, refleks patela positif, urine tidak kurang
dari 600cc/ 24 jam), valium (dosis awal 20 mg IV, dosis ikutan 20 mgr/
drip 20 tetes/ menit; dosis maksimal 120 mg/ 24 jam), kombinasi
pengobatan (Pethidine 50 mg IM, klorpromazin 50 mg IM, diazepam
(Valium) 20 mg IM, bila terjadi oliguria diberikan glukosa 40% IV untuk
menarik cairan dari jaringan, sehingga dapat merangsang diuresis).
Setelah keadaan preeklamsia berat dapat diatasi, pertimbangan
mengakhiri kehamilan berdasarkan: kehamilan cukup bulan,
mempertahankan kehamilan sampai mendetekati cukup bulan, kegagalan
pengobatan preeklamsia berat kehamilan diakhiri tanpa memandang umur,
merujuk penderita ke rumah sakit untuk pengobatan utama untuk
memustuskan kelanjutan preeklamsia menjadia eklamsia. Dengan
perawatan sementara di polindes, maka melakukan rujukan penderita
merupakan sikap yang paling tepat.
a) Prinsip Perawatan
Preeklamsia dan eklamsia merupakan komplikasi kehamilan yang
berkelanjutan dengan penyebab yang sama. Oleh karena itu,
pencegehan atau diagnosis dini dapat mengurangi kejadian dan
menurunkan angka kesakitan dan kematian. Untuk menegakkan
diagnosis dini diperlukan pengawasan hamil yang teratur dengan
memperhatikan kenaikan berat badan, kenaikkan tekanan darah, dan
pemeriksaan urine untuk menentukkan proteinuria. Untuk mencegah
kejadian preeklamsia ringan dapat diberikan nasihat tentang:
1) Diet-makanan. Makanan tinggi protein , tinggi karbohidrat, cukup
vitamin dan rendah lemak, kurangi garam apabila berat badan
bertambah atau edema; makanan berorientasi papda empat sehat
lima sempurna; untuk meningkatkan jumlah protein dengan
tambahan satu butir telur setiap hari
2) Cukup istirahat. Istirahat yang cukup sesuai pertambahan usia
kehamilan berarti bekerja seperlunya dan disesuaikan dengan
kamampuan; lebih banyak duduk dan berbaring ke arah punggung
janin sehingga aliran darah menuju plasenta tidak mengalami
gangguan.

11
3) Pengawasan antenatal (hamil). Bila terjadi perubahan perasaan dan
gerak janin dalam rahim segera datang ke tempat pemeriksaan.
Keadaan yang memerlukan perhatian:
i. Uji kemungkinsn preeklamsia
(1) Pemeriksaan tekanan darah atau kenaikkannya
(2) Pemeriksaan tinggi fundus uteri
(3) Pemeriksaan kenaikkan berat badan atau edema
(4) Pemeriksaan protein dalam urine
(5) Jika mungkin dilakukan pemeriksaan fungsi ginjal, fungsi
hati, gambaran darah umum, dan pemeriksaan retina mata.
ii. Penilaian kondisi janin dalam rahim
(1) Pemantauan tinggi fundus uteri
(2) Pemeriksaan janin: gerakan janin dalam rahim, denyut
jantung janin, pemantauan air ketuban
(3) Usulkan untuk melakukan pemeriksaan ultrasonografi
B. EKLAMSIA
1. Pengertian Eklamsia
Istilah eklamsia berasal dari bahasa Yunani dan berarti “halilintar”.
Kata tersebut dipakai karena seolah-oleh gejala-gejala eklamsia timbul
dengan tiba-tiba tanpa didahului tanpa tanda-tanda lain. Sekarang kita
ketahui bahwa eklamsia pada umumnya timbul pada wanita hamil atau
dalam nifas dengan tanda-tanda preeklamsia. Pada wanita yang menderita
eklamsia timbul serangan kejang yang diikuti oleh koma. Tergantung dari
saat timbulnya eklamsia dibedakan eklamsia gravidarum, eklamsia
parturientum dan eklamsia puerpale. Perlu dikemukan bahwa pada
eklamsia gravidarum sering kali persalinan mulai tidak lama kemudian.
Dengan pengetahuan bahwa biasanya eklamsia didahului oleh
preeklamsia, tampak pentingnya pengawasan antenatal yang teliti dan
teratur, sebagai usaha untuk mencegah timbulnya penyakit itu
(Wiknjosastro, dkk, 2007).
Eklamsia merupakan kelanjutan dari preeklamsia berat dengan
tamabahan kejang-kejang dan atau koma. Kedatangan penderita sebagian
besar dalam keadaan preeklamsia berat atau eklamsia. Menjelang kejang-
kejang dapat didahului gejala subyektif, yaitu nyeri kepala di daerah
frontal, nyeri epigastrium, penglihatan semakin kabur, dan terdapat mual

12
dan muntah dan pemeriksaan menunjukkan hiperreflrksia atau mudah
terangsang (Bagus Ida, 2002).
2. Tanda dan Gejala Eklamsia
Pada umumnya kejangan didahului oleh makin memburuknya
preeklamsia dan terjadinya gejala-gejala nyeri kepala didaerah frontal,
gangguan pengelihatan, mual keras, nyeri di epigastrium, dan
hiperrefleksia. Bila keadaan ini tidak dikenal dan tidak segera diobati,
akan timbul kejang. Konvlusi eklamsia dibagi menjadi 4 tingkat, yakni:
a) Tingkat awal atau aura. Keadaan ini berlangsung kira-kira 30 detik.
Mata penderita terbuka tanpa melihat, kelopak mata bergetar demikian
pula tangannya, dan kepala diputar ke kanan atau ke kiri.
b) Kemudian timbul tingkat kejang tonik yang berlangsung kurang lebih
30 detik. Dalam tingkat ini seluruh otot menjadi kaku, wajahnya
kelihatan kaku, tangan menggenggam, dan kaki membengkok ke
dalam. Pernapasan terhenti, muka mulai menjadi sianotik, lidah dapat
tergigit.
c) Stadium ini kemudian disusul oleh tingkat kejang klonik yang
berlangsung antara 1-2 menit. Spasmus tonik menghilang. Semua otot
kontrasi dan berulang-ulang dalam tempo yang cepat. Mulut
membuka dan menutup dan lidah dapat tergigit lagi. Bola mata
menonjol. Dari mulut ke luar ludah yang berbusa, muka menunjukkan
kongesti dan sianosis. Penderita menjadi tak sadar. Kejang klonik ini
dapat demikian hebatnya, sehingga penderita dapat terjatuh dari
tempat tidurnya. Akhirnya, kejangan terhenti dan penderita menarik
napas secara mendengkur.
d) Kemudian penderita memasuki tingkat koma. Lamanya
ketidaksadaran tidak selalu sama. Secara prlahan-lahan penderita
menjadi sadar lagi, akan tetapi dapat pula bahwa sebelum itu timbul
serangan baru dan yang berulang, sehingga ia tetap dalam koma.
Selama serangan tekanan darah meninggi, nadi cepat dan suhu
meningkat sampai 40 derajat celcius. Sebagai akibat serangan dapat terjadi
komplikasi-komplikasi seperti (1) lidah tergigit; perlukaan dan fraktura (2)
gangguan pernapasan; (3) solusio plasenta; dan (4) pendarahan otak.
3. Klasifikasi Eklamsia

13
Berdasarkan waktu terjadinya, eklamsia dapat dibagi menjadi:
a) Eklamsia gravidarum
1) Kejadian 50% sampai 60 %
2) Serangan terjadi dalam keadaan hamil
b) Eklamsia parturientum
1) Kejadian sekitar 30% sampai 35%
2) Saat sedang inpartu
3) Batas dengan eklamsia gravidarum sukar ditentukan terutama saat
melalui inparrtu
c) Eklamsia puerperium
1) Kejadian jarang, 10%
2) Terjadi serangan kejang atau koma setelah persalinan berakhir
4. Penatalaksanaan Medik dan Prinsip Perawatan
a) Penatalaksanaan Medis
Perawatan di rumah sakit dilaksanakan sebagai berikut:
1) Kamar isolasi
i. Menghindari rangsangan dari luar: sinar atau keributan
ii. Mengurangi menerima kunjungan
iii. Yang merawat jumlahnya terbatas
2) Pengobatan medis
Banyak pengobatan yang telah diperkenalkan untuk dapat
menghindari kejang berkelanjutan dan meningkatkan vitalitas
janin dalam kandungan.
i. System stroganoff
(1) Suntikan 100 mg luminal IM
(2) 1/2 jam kemudian suntikan 10cc magnesium sulfat 40% IM
(3) Selanjutnya tiap 3 jam berganti-ganti diberi luminal 50 mg
dan 10 cc magnesium sulfat 40%
ii. Sodium pentothal
Pemberian sodium penthotal dapat menghilangkan kejang.
Inisial dosis pentothal antara 200-300 mg IV perlahan-lahan.
iii. Magnesium sulfat
Magnesium sulfat mempunyai efek:
(1) Menurunkan tekanan darah
(2) Mengurangi sensitivitas sarag pada sinapsis
(3) Meningkatkan diuresis
(4) Mematahkan sirkulasi iskemik plasenta, sehingga
menurunkan gejala klinis eklamsia
Dosis pemberian larutan MgSO4 40%:
(1) Intramuscular
(a) 8 gr daerah gluteal kanan kiri
(b) 4 gr interval 6 jam

14
(2) Intravena
(a) 10 cc magnesium sulfat 40% intravena perlahan-lahan
(b) Diikuti intramuscular 8 gr
Syarat pemberian magnesium sulfat adalah:
(1) Reflex patella masih positif
(2) Pernapasan tidak kurang dari 16 permenit
(3) Diuresis minimal 600cc/24 jam
Antidotum untuk magnesium sulfat adalah 1 gr kalsium klorida
atau glukonas kalsikus.
iv. Diazepam atau valium
Diazepam atau valium dipergunakan sebagai pengobatan
eklamsia, karena mudah didapat dan murah. Dosis maksimal
diazepam adalah 120 mgr/24 jam.
Metode pemberian valium:
(1) Pasang infus glukosa 5%
(2) Inisial dosis diberikan 20 mg IV
(3) Dosis ikutan dalam glukosa 5% 10-20 mgr dengan tetesan
20/menit.
(4) Observasi yang dilakukan:
(a) Kesadaran penderita
(b) Keadaan janin dalam Rahim
(c) Kejang-kejang
(d) Diuresis
(e) Tekanan darah, nadi, dan pernapasan
v. Litik koktil
Litik koktil terdiri dari petidin 100 mgr, klorpromazim 100
mgr, dan prometazin 50 mgr yang dilarutkan dalam 500 cc
glukosa 5% diberikan intravena dengan memperhatikan
tekanan darah, nadi dan kejang. Observasi pengobatan
dilakukan setiap 5 menit, karena tekanan darah dapat turun
mendadak.
3) Pengawasan dalam pengobatan
Observasi dalam pengobatan eklamsia sangat penting karena
sewaktu-waktu dapat terjadi komplikasi yang memberatkan
penderita dan janin dalam kandungan. Observasi tanda vital
dilakukan 30 menit.
i. Pernapassan dan ronki basal
ii. Suhu

15
iii. Serangan kejang
iv. Dalam keadaan koma:
(1) Tidur terlentang, kepala miring ke samping
(2) Siapkan pengisap lender
(3) Berikan O2 untuk ibu dan janinnya
v. Dalam keadaan serangan kejang: ditunggu agar tidak jatuh,
sediakan tong spatel untuk menghindari gigitan lidah
vi. Ukur jumlah cairan yang masuk dan keluar melalui infus dan
dauer kateter
vii. Jumlah cairan yang masuk dalm 24 jam 2000 cc
viii. Nutrisi penderita koma dengan glukosa 10%, menghindari
metabolism lemak dan protein: pemberian asam amino dengan
aminofusin: pemberian B kompleks dan vitamin C.
Pengobatan yang berhasil dijumpai perbaiakan:
i. Diuresis makin bertambah
ii. Tekanan darah menurun, nadi membaik
iii. Kesadaran membaik
iv. Kejang0kejang berkurang
Kegagalan pengobatan dapat dijumpai gejala kejang-kejang lebih
dari 12 kali, suhu meningkat diatas 390 C, kesadaran makin
menurun, nadi meningkat diatas 100 kali permenit.
4) Tindakan kebidanan
Penderita preeklamsia berat dan eklamsia tidak tahan terhadap
perdarahan dan trauma persalinan, sehingga perlu dipikirkan agar
persalinan dengan trauma minimal.
Pemilihan persalinan tergantung dari beberapa faktor:
a) Paritas penderita
b) Umur anak terkecil
c) Umur penderita
d) Keadaan serviks: pembukaan, arah serviks, kekakuan serviks
e) Keadaan janin intrauterine: ketuban belum pecah/pecah,
jumlah air ketuban, warna air ketuban, tanda asfiksia intauterin
f) Tempat pertolongan dilakukan: di rumah sakit dengan fasilitas
cukup, obat tersedia, tenaga terlatih dan anastesi.
b) Prinsip Perawatan
Eklamsia merupakan gawat darurat kebidanan yang memerulukan
pengobatan di rumah sakituntuk memberikan pertolongan yang
adekuat.

16
Konsep pengobatannya adalah:
1) Menghindari terjadinya kejang, mengurangi koma, dan
meningkatkan jumlah diuresis
2) Perjalanan ke rumah sakit dapat diberikan:
i. Penenang dengan suntikan 20 mgr valium
ii. Pasang infus glukosa 5% dan dapat ditambah valium 10-20
mgr
3) Disertai petugas untuk memberikan pertolongan:
a) Menghindari gigitan lidah dengan memasang penyangga lidah
b) Resusitasi untuk melapangkan napas dan memberikan O2
c) Menghindari terjadinya trauma tambahan
C. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Pemeriksaan laboratorium
a) Pemeriksaan darah lengkap dengan hapusan darah
1) Penurunan hemoglobin (nilai rujukan atau kadar normal hemoglobin
untuk wanita hamil adalah 12-14 gr%)
2) Hematocrit meningkat (nilai rujukan 37-43 vol%)
3) Trombosit menurun (nilai rujukan 150-450 ribu/mm3)
b) Urinalisis
Ditemukan protein dalam urin
c) Pemeriksaan fungsi hati
1) Bilirubin meningkat (N =< 1 mg/dl)
2) LDH (laktat dehidrogenasse) meningkat
3) Aspartate aminotransferase (AST) >60 ul
4) Serum glutamate pirufat transaminase (SGPT) meningkat (N=< 15-
45 u/ml)S
5) erum glutamate oxaloacetik transaminase (SGOT) meningkat
(N=<31 u/l)
6) Total protein serum menurun (N=6,7-8,7 gr/dl)
d) Tes kimia darah
Asam urat meningkat (N=2,4-2,7 mg/dl)
2. Radiologi
a) Ultrasonografi
Ditemukan retardasi pertumbuhan janin intrauterus. Pernafasan
intrauterus lambat, aktivitas janin lambat, dan vvolume cairan ketuban
sedikit.
b) Kardiotografi
Diketahui denyut jantung janin bayi lemah
B. KOMPLIKASI
Komplikasi yang terberat ialah kematian ibu dan janin. Usaha utama ialah
melahirkan bayi hidup dari ibu yang menderia preeklamsia dan eklamsia.

17
Komplikasi yahg tersebut dibawah ini biasanya terjadi pada preeklamsia berat
dan eklamsia.
1. Solusio plasenta
Komplikasi ini biasanya terjadi pada ibu yang menderita hipertensi akut
dan lebih sering terjadi pada preeklamsi.
2. Hipofibrinogenemia
Pada preeklamsia berat Zuspan (1978) menemukan 23%
hipofibrinogrnrmia, maka dari itu penulis menganjrkan pemeriksaan
kadar fibrinogen secara berkala.
3. Hemolysis
Penderita dengan preeklamsia berat kadang-kadang menunjukkan gejala
klinik hemolysis yang dikenal karena ikterus. Belum diketahui dengan
pasti apakah ini merupakan kerusakan sel-sel hati atau destruksi sel darah
merah. Nekrosis periportal hati yang sering ditemukan pada autopsy
penderita preeklamsia dapat menerangkan icterus tersebut.
4. Pendarahan otak
Komplikasi ini merupakan penyebab utama kematian maternal penderita
eklamsia.
5. Kelainan mata
Kehilangan pengelihatan untuk sementara, yang berlangsung sampai
seminggu, dapat terjadi. Perdarahan kadang-kadang terjadi pada retika;
hal ini merupakan tanda gawat akan terjadinya apopleksia serebri.
6. Edema paru-paru
Zuspan (1978) menemukan hanya satu penderita dari 69 kasus eklamsia,
hal ini disebabkan karena payah jantung.
7. Nekrosisi hati
Nekrosis periportal hati pada preeklamsia-eklamsia merupakan akibat
vasopasmus arteriol umum. Kelainan ini diduga khas untuk eklamsia,
tetapi ternya juga ditemukan pada penyakit lain. Kerusakan sel-sel hati
dapat diketahui dengan pemeriksaan faal hati, terutama penentuan enzim-
enzimnya.
8. Sindrom HELLP
Yaitu haemolysis, elevated liver ensymes, dan low platelet.
9. Kelainan ginjal
Kelainan ini berupa endoteliosis glomerulus yaitu pembengkakan
sitoplasma sel endothelial tubulus ginjal tanpa kelainan struktur lainnya.
Kelainan lain yang dapat timbul ialah anuria sampai gagal ginjal.

18
10. Komplikasi lain
Lidah tergigit, trauma dan fraktura karena jatuh akibat kejang-kejang
pneumonia aspirasi, dan DIC (disseminated intravascular coagulation).
11. Prematuritas, dismaturitas dan kematian janin intra-uterin.

19
BAB III

PEMBAHASAN

A. PENGKAJIAN
1. Identitas
a. Umur, biasanya sering terjadi pada primigravida, kurang dari 20 tahun
atau lebih dari 35 tahun.
b. Jenis kelamin
2. Riwayat kesehatan
a. Keluhan utama : biasanya klien dengan preeklamsia mengeluh
demmam, sakit kepala
b. Riwayat kesehatan sekarang : terjadi peningkatan tensi, oedema,
pusing, nyeri, epigastrium, mual muntah, pengelihatan kabur.
c. Riwayat kesehatan dahulu : penyakit ginjal, anemia, vaskuler esensial,
hipertensi kronik, DM
d. Riwayat kesehatan keluarga
Kemungkinan mempunyai riwayat preeklamsi ringan atau berat dan
eklamsi dalam keluarga.
e. Pola nutrisi
Jenis makanan yang dikonsumsi baik makanan pokok maupun
selingan.
3. Riwayat perkawinan
Biasanya terjadi pada wanita yang menikah dibawah usia 20 tahun/diatas
35 tahun
4. Riwayat kehamilan
Riwayat kehamilan ganda, molahidatidosa, hidramnion serta riwayat
kehamilan dengan eklamsia sebelumnya.
5. Riwayat KB
Perlu ditanyakan pada ibu apakah pernah atau tidak mengikuti KB jika ibu
pernah ikut KB maka yang ditanyakan adalah jenis kontrasepsi, efek
samping. Alasan pemberhentian kontrasepsi (bila tidak memakai lagi)
serta lamanya menggunakan kontrasepsi.
6. Psikososial spiritual
Emosi yang tidak stabil dapat menyebabkan kecemasan, oleh karenanya
perlu kesiapan moril untuk menghaddapi resikonya.
7. Pola aktivitas sehari-hari
a. Aktivitas

20
Gejala : biasanya pada preeklamsi terjadi kelemahan, penambahan
berat badan atau penurunan berat badan, reflek fisiologis +/+, reflek
patologis -/-.
Tanda-tanda: pembengkakan kaki, jari tangan dan muka
b. Sirkulasi
Gejala: biasanya terjadi penurunan oksigen
c. Abdomen
Gejala:
1) Inspeksi biasanya perut membuncit sesuai usia kehamialan aterm,
apakah adanya sikatrik bekas operasi atau tidak (-).
2) Palpasi
a) Leopold I : biasanya teraba fundus uteri 3 jari dibawah proc.
Xyphoideus teraba masa besar, lunak, noduler
b) Leopold II : teraba tahanan terbesar disebelah kiri, bagian-
bagian kecil janin disebelah kanan
c) Leopold III : biasanya teraba massa keras, terfiksir.
d) Leopold IV : biasanya pada bagian terbawwah janin telah
masuk pintu atas panggul
3) Auskultasi biasanya terdengan BJA 142x/10 reguler.
d. Eliminasi
Gejala : biasanya proteinuria + lebih dari sama dengan 5 gr/24 jam
atau lebih besar sama dengan 3 pada tes celup, oliguria
e. Makanan atau cairan
Gejala : biasanya terjadi peningkatan berat badan dan penurunan,
muntah-muntah
Tanda-tanda : biasanya nyeri epigastrium
f. Integritas ego
Gejala : perasaan takut
Tanda-tanda : cemas
g. Neurosensory
Gejala: biasanya terjadi hipertensi
Tanda-tanda : biasanya terjadi kejang atau koma
h. Nyeri/kenyamanan
Gejala : biasanya nyeri epigastrium, nyeri kepala, sakit kepala, iketrus,
gangguan pengelihatan
Tanda-tanda : biasanya klien gelisah
i. Pernafasan
Gejala: biasanya terjadi suara nafas antara vesikuler, ronci, wheezing,
sonor
Tanda-tanda : biasanya ada irama teratur/tidak, apakah ada bising atau
tidak

21
j. Keamanan
Gajala : apakah adanya gangguan paengelilhatan, perdarahan spontan.
k. Seksualitas
Gejala : status opstetrikus
8. Pemeriksaan fisik
a. Keadaan umum : baik, cukup, lemah
b. Kesadarah : kompos mentis (C=4, V=5, E=6)
c. Pemeriksaan fisik (persistem)
1) Sistem pernafasan
Pemeriksaan pernafasan, biasanya mungkin kurang, <14x/menit,
klien biasanya mengalami sesak sehabis melakukan aktivitas,
krekes mungkin ada, adanya oedema paru hiper refleksia klonus
pada kaki
2) Sistem kardiovaskuler
a) Inspeksi : apakah adanya sianosis, kulit pucat, konjungtiva
anemis.
b) Palpasi
(1) Tekanan darah : biasanya pada preeklamsia terjadi
peningkatan TD, melebihi tingkat dasar setelah 20
minggu kehamilan
(2) Nadi : biasanya nadi menigkat atau menurun
(3) Leher : apakah ada bendungan atau tidak pada
pemeriksaan vena jugularis, jika ada bendungan
menandakan bahwa jantung ibu mengalami gangguan.
Oedema periorbital yang tidak hilang dalam kurun waktu
24 jam suhu dingin.
c) Auskultasi : untuk mendengarkan detak jantung janin uuntuk
mengetahui adanya fotal distress, bunyi jantung janin yang
tidak teratur, gerakan janin melemah
3) Sistem reproduksi
a) Dada
Payudara : dikaji apakah ada massa abnormal, nyeri tekan
pada payudara
b) Genetalia
Inspeksi : adakah pengeluaran pervaginam berupa lender
bercampur darah, adakah pembesaran kelenjar
bartholini/tidak
c) Abdomen

22
Palpasi : untuk mengetahui tinggi fundus uteri, letak janin,
lokasi edema, periksa bagian uterus biasanya terdapat
kontraksi uterus

4) Sistem integument perkemihan


a) Periksa vitting udem biasanya terdapat edema pada
ekstremitas akibat gangguan filtrasi glomerulus yang
meretensi garam dan natrium (fungsi ginjal menurun).
b) Oliguria
c) Proteinuria
5) Sistem persarafan
Biasanya hiperrefleksi, klonus pada kaki
6) System pencernaan
Palpasi : biasanya pada abdomen terdapat nyeri tekan daerah
epigastrium (kuadran II kiri atas), anoreksia, mual dan muntah
9. Pemeriksaan penunjang
a. Pemeriksaan laboratorium
1) Pemeriksaan darah lengkap dengan hapusan darah
a) Penurunan hemoglobin (nilai rujukaan atas kadar normal
hemoglobin untuk wanita hanil adalah 12-14gr%)
b) Hematocrit meningkat (nilai rujukan 37-43vol%)
c) Trombosit menurun (nilai rujukan 150-450 ribu/ mm3)
2) Urinanalisis : ditemukan protein dalam urin
3) Pemeriksaan fungsi hati
a) Bilirubin meningkat (N=<1 mg/dl)
b) LDH (Laktat dehydrogenase) meningkat
c) Aspartate aminotransferase (AST) >60 ul
d) Serum glutamate pirufat transaminase (SGOT) meningkat
(N=6,7-8,7 g/dl)
4) Tes kimia darah : asam urat meningkat (N=2,4-2,7 mg/dl)
b. Pemeriksaan radiologi
1) Ultrasonografi : ditemukannya retardasi pertumbuhan janin
intrauterus, pernapasan intrauterus lambat, aktivitas janin lambat
dan volume cairan ketuban sedikit.
2) Kardiografi : diketahui denyut jantung bayi lemah
10. Data social ekonomi
Preeklamsia berat lebih banyak terjadi pada wanita dan golongan ekonomi
rendah, karena mereka kurang mengonsumsi makanan yang mengandung
protein dan juga kurang melakukan perawatan antenatal yang teratur.

23
11. Data psikologis
Biasanya ibu preeklamsia ini berada dalam kondisi yang labil dan mudah
marah, ibu merasa khawatir akan keadaan dirinya dan keadaan janin dalam
kandungannya, dia takut anaknya nanti lahir cacat atau meninggal dunia,
sehingga ia takut untuk melahirkan.
B. DIAGNOSA
1. Nyeri akut berhubungan dengan luka operasi
2. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan gangguan mekanisme
regulasi
3. Ansietas berhubungan dengan perubahan besar (status kesehatan)
4. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri
5. Resiko infeksi berhubungan dengan gangguan integritas kulit
C. INTERVENSI
1. Nyeri akut berhubungan dengan luka operasi
a) Kriteria hasil:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama......... x 24 jam
diharapkan pasien membaik dengan indikator:
1) Kontrol Nyeri (1605)

Indikator A T
- Mengenali kapan nyeri terjadi
- Menggunakan teknik
nonfarmakologi
- Melaporkan nyeri yang
terkontrol
Ket: 1 = Tdk pernah menunjukan
2 = Jarang menunjukan
3 = Kadang-kadang menunjukan
4 = Sering menunjukan
5 = Secara konsisten menunjukan
2) Tingkat Nyeri (2102)
Indikator A T
- Mengerang&menangis
- Ekspresi nyeri wajah
- Tidak bisa istirahat
- TTV

Ket: 1 = Berat
2 = Cukup berat
3 = Sedang
4 = Ringan
5 = Tidak ada
b) Intervensi
1) Managemen nyeri

24
i. Lakukan pengkajian nyeri komprehensif yang meliputi lokasi,
karakteristik, onset, frekuensi, kualitas, intensitas dan faktor
pencetus
ii. Kolaborasi pemberian terapi obat analgetik
iii. Gunakan strategi komunikasi terapeutik untuk mengetahui
pengalaman nyeri dan sampaikan penerimaan pasien terhadap nyeri
iv. Berikan informasi mengenai nyeri, seperti penyebab nyeri, berapa
lama nyeri akan dirasakan dan antisipasi dari ketidaknyamanan
akibat prosedur
v. Kendalikan faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi respon
pasien terhadap ketidaknyamanan
vi. Kurangi atau eliminasi faktor yang dapat mencetuskan atau
meningkatkan nyeri
vii. Ajarkan penggunaan tehnik nonfarmakologi
viii. Motivasi pasien untuk istirahat atau tidur yang adekuat untuk
membantu penurunan nyeri
2. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan gangguan mekanisme
regulasi
a) Kriteria hasil
1) Kelebihan volume cairan dapat dikurangi, yang dibuktikan oleh
Keseimbangan elektrolit dan asam basa, keseimbangan cairan, fungsi
ginjal yang adekuat
2) Keseimbangan cairan tidak akan terganggu/kelebihan yang dibuktikan
oleh indicator sebagai berikut:
1. Gangguan eksterm
2. Berat
3. Sedang
4. ringan
5. Tidak ada gangguan
Indikator 1 2 3 4 5
Keseimbangan asupan dan haluaran
dalam 24 jam
Berat badan stabil
Berat jenis urin dalam batas norma
Suara napas tambahan
Stress, distensi vena leher, dan edema
perifer

25
b) Intervensi
1) Tentukan lokasi dan derajat edema perifer, sacral, dan periorbital
pada skala 1+ sampai 4+
2) Kaji komplikasi pulmonal atau kardiovaskuler yang diindikasikan
dengan peningkatan tanda gawat napas, nadi, TD, buni jantung yang
abnormal, dan suara napas tidak normal
3) Kaji ekstremitas atau bagian tubuh yang edema terhadap gangguan
sirkulasi dan integritas kulit
4) Kaji efek pengobatan
5) Pantau secara teratur lingkar abdomen atau ekstremitas
Manajemen cairan (NIC):
1) Timbang berat badan setiap hari dan pantau kecenderungannya
2) Pertahankan catatan asupan dan haluaran yang akurat
3) Pantau hasil laboratorium yang relevan terhadap retensi cairan
4) Pantau indikasi kelebihan atau retensi cairan, sesuai dengan
keperluan
3. Ansietas berhubungan dengan perubahan besar (status kesehatan)
a) Kriteria hasil:

b) Intervensi:
Manjemen Energi (0180)
1) Kaji status fisiologis pasien yang menyebabkan kelelahan sesuai
dengan konteks usia dan perkembangan
2) Monitor tanda tanda vital pasien
3) Kolaborasi terapi baik secara farmakologis maupun non farmakologis
dengan tepat untuk mengurangi kelelahan
4) Monitor intake nutrisi untuk mengetahui sumber energi yang adekuat
5) Kaji adanya kelelahan emosional yang dialami pasien
6) Monitor adanya ketidaknyamanan yang dialami pasien
7) Tingkatkan tirah baring/pembatasan kegiatan

Pengurangan Kecemasan (5820)


1) Dorong pasien untuk mengungkapkan perasaannya
2) Dorong keluarga untuk mendampingi pasien
3) Ciptakan atmosfer yang nyaman untuk meningkatkan kepercayaan
pasien
4) Identifikasi pada saat terjadi perubahan tingkat kecemasan
5) Bantu klien mengidentifikasi situasi yang memicu kecemasan

26
6) Kaji tanda verbal dan non verbal kecemasan pada pasien
7) Ajarkan teknik relaksasi atau terapi non farmakologi untuk
mengurangi kecemasan
4. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri
a) Kriteria hasil:
1) Klien meningkat dalam aktivitas fisik
2) Mengerti tujuan dan peningkatan mobilitas
3) Memverbalisasikan perasaan dalam meningkatkan kekuatan dan
kemampuan berpindah
4) Memperagakan penggunaan alat
5) Bantu untuk mobilisasi (walker)
b) Intervensi:
1) Monitoring vital sign sebelum/sesudah latihan dan lihat respon pasien
saat latihan
2) Konsultasikan dengan terapi fisik tentang rencana ambulasi sesuai
dengan kebutuhan
3) Bantu klien untuk menggunakan tongkat saat berjalan dan cegah
terhadap cedera
4) Ajarkan pasien atau tenaga kesehatan lain tentang teknik ambulasi
5) Kaji kemampuan pasien dalam mobilisasi
6) Latih pasien dalam pemenuhan kebutuhan ADLs secara mandiri sesuai
kemampuan
7) Dampingi dan Bantu pasien saat mobilisasi dan bantu penuhi
kebutuhan ADLs pasien.
8) Berikan alat bantu jika klien memerlukan.
9) Ajarkan pasien bagaimana merubah posisi dan berikan bantuan jika
diperlukan.
5. Resiko infeksi berhubungan dengan gangguan integritas kulit
a) Kriteria hasil:
1) Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi
2) Mendeskripsikan proses penularan penyakit, faktor yang
mempengaruhi penularan serta penatalaksanaannya

27
3) Menunjukkan kemampuan untuk mencegah timbulnya infeksi
4) Jumlah leukosit dalam batas normal
5) Menunjukkan perilaku hidup sehat
b) Intervensi:
1) Bersihkan lingkungan setelah dipakai pasien lain
2) Pertahankan teknik isolasi
3) Batasi pengunjung bila perlu
4) Instruksikan pada pengunjung untuk mencuci tangan saat berkunjung
dan setelah berkunjung meninggalkan pasien
5) Gunakan sabun antimikrobia untuk cuci tangan
6) Cuci tangan setiap sebelum dan sesudah tindakan keperawatan
7) Gunakan baju, sarung tangan sebagai alat pelindung
8) Pertahankan lingkungan aseptik selama pemasangan alat
9) Ganti letak IV perifer dan line central dan dressing sesuai dengan
petunjuk umum
10) Gunakan kateter intermiten untuk menurunkan infeksi kandung
kencing
11) Tingktkan intake nutrisi
12) Berikan terapi antibiotik bila perlu
13) Infection Protection (proteksi terhadap infeksi)
14) Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik dan lokal
15) Monitor hitung granulosit, WBC
16) Monitor kerentangan terhadap infeksi
17) Batasi pengunjung
18) Sering pengunjung terhadap penyakit menular
19) Pertahankan teknik aspesis pada pasien yang beresiko
20) Pertahankan teknik isolasi k/p
21) Berikan perawatan kulit pada area epidema
22) Inspeksi kulit dan membran mukosa terhadap kemerahan, panas,
drainase
23) Inspeksi kondisi luka / insisi bedah

28
24) Dorong masukkan nutrisi yang cukup
25) Dorong masukan cairan
26) Dorong istirahat
27) Instruksikan pasien untuk minum antibiotik sesuai resep
28) Ajarkan pasien dan keluarga tanda dan gejala infeksi
29) Ajarkan cara menghindari infeksi
30) Laporkan kecurigaan infeksi
31) Laporkan kultur positif

29
BAB IV
PENUTUPAN

A. Kesimpulan
1. Preeklampsia
Preeklampsia adalah penyakit dengan tanda-tanda hipertensi, odema, dan
protein urine yang timbul karena kehamilan, penyakit ini umumnya terjadi
dalam trisemster ke-3 kehamilan. Preeklampsia juga merupakan penyulit
kehamilan yang akut dan dapat menyebabkan kematian pada ibu dan bayi
pada masa ante, intra dan post partum. Pre eklamsi merupakan suatu
kondisi spesifik kehamilan dimana hipertensi terjadi setelah minggu ke-20
pada wanita yang sebelumnya memiliki tekanan darah normal.
Preeklampsia adalah suatu penyakit vasospastik, yang melibatkan banyak
system yang ditandai oleh hemokonsentrasi, hipertensi, dan proteinuria
(Bobak, 2004).
2. Eklampsia
Eklamsia adalah kejang yang dialami oleh ibu hamil pada usia kehamilan
8-9 bulan. Eklamsia disebabkan oleh beberapa faktor di antaranya
keracunan pada saat mengkonsumsi obat-obatan dan penyakit darah tinggi
yang diderita oleh ibu hamil. Selain faktor medisa tersebut, eklamsia bisa
disebabkan juga oleh faktor psikis dari sang ibu yaitu, faktor trauma atau
ketakutan saat kehamilan sebelumnya.
B. Saran
1. Bagi Tenaga Kesehatan Semua tenaga kesehatan khususnya bidan
sebaiknya lebih waspada terhadap terjadinya kejadian preeklamsi terutama
pada wanita yang hamil pada usia reproduksi tidak sehat (35 th) dan pada
wanita primigravida yaitu dengan memberikan konseling mengenai tanda
bahaya preeklamsi dan memberikan ANC sesuai usia kehamilan.
2. Bagi Mahasiswa Kesehatan Melanjutkan penelitian tentang preeklamsi
dengan meneliti faktor predisposisi yang belum diteliti seperti sosial
ekonomi, hiperplasentosis, genetik dan obesitas.
3. Bagi masyarakat

30
a. Menurut hasil penelitian sebaiknya wanita tidak mengandung pada
usia 35 tahun karena pada usia tersebut wanita masuk dalam faktor
risiko terjadinya preeklamsi.
b. Wanita primigravida sebaiknya melakukan ANC rutin pada tenaga
kesehatan untuk mencegah terjadinya kejadian preeklamsi karena
menurut hasil penelitian yang telah dilakukan peneliti wanita
primigravida merupakan faktor risiko terjadinya preeklamsi.

31
DAFTAR PUSTAKA

Herman, T. Heather. 2015. Nanda Internasional Inc. Diagnosis Keperawatan:


Definisi & Klasifikasi 2015-2017. Edisi 10. Jakarta: EGC

Sukarni, Icesmi, Sudarti. 2014. Patologi: Kehamilan, Persalinan, Nifas dan


Neonatus Resiko Tinggi cetakan I. Yogyakarta: Nuha Medika.

Manuaba, Ida Ayu Chandranita. 2010. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan
KB untuk Pendidikan Bidan Edisi 2. Jakarta: EGC.

Bagus Ida, Manuaba. 2002. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan, dan Keluarga
Berencama. Jakarta: EGC.

Wiknjosastro, Hanife, dkk. 2007. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo.

32