Anda di halaman 1dari 7

AGAMA DALAM HI

Moderenization and Westernization the Cultural Reconfiguration


of Global Politics

- Ahmad albin
- Billgart Yoshua
- Dinda Ayu Pramitasari
- Lutfijar Hidayat
- Mela
- Silvester M.L.D
- Retno Widiarti
- Wisnu suaka prastowo
Moderenization and Westernization the Cultural Reconfiguration
of Global Politics

Modernisasi diartikan sebagai perubahan-perubahan masyarakat yang bergerak dari keadaan


yang tradisional atau dari masyarakat pra modern menuju kepada suatu masyarakat yang
modern. ecara sederhana modernisasi dapat diartikan sebagai perubahann masyarakat dari
masyaraat tradisional ke masyarakat modern dalam seluruh aspeknya. Bentuk perubahan dalam
pengertian modernisasi adalah perubahan yang terarah yang didasarkan pada suatu
perencanaan yang biasa diistahkan dengan social planning. Sedangkan westernisasi berarti
proses pembaratan, pengambilalihan, atau peniruan budaya Barat. Segala tata cara kehidupan
berkiblat ke dunia Barat, dan proses pengambilan atau peniruannya langsung, tanpa ada seleksi
atau penyesuaian dengan budaya setempat. Kebudayaan timur yang dahulu dianggap
masyarakat lebih bergensi gotong royong, ramah, sopan, bersifat kerohanian, lama-kalamaan
pudar karena pengaruh westernisasi. Oleh karena itu, banyak orang diantara kita menjadi orang
yang tanggung, dan menjadi tidak modern karena sikap dan perilaku modernnya tidak diadopsi,
tetapi kebudayaan materinya atau westernisasinya sudah dengan cepat diadopsi.

The West and Modernization

Kemunculan peradaban secara universal merupakan hasil dari proses modernisasi yang
luas dan telah berlangsung sejak abad ke-18. Proses modernisasi tersebut melibatkan
industrialisasi, urbanisasi, peningkatan tingkat literasi, pendidikan, kekayaan, dan mobilisasi
sosial. Hal ini merupakan hasil dari perluasan ilmu pengetahua dan teknik yang luar biasa, yang
dimulai pada abad kedelapan belas yang memungkinkan manusia untuk mengendalikan dan
membentuk lingkungan mereka dengan cara yang benr-benar belum pernah digunakan
sebelumnya. Modernisasi merupakan proses revolusioner dimana terjadi pergeseran dari
masyarakat primitif menuju ke masyarakat yang beradab.

Sikap, nilai, pengetahuan, dan budaya orang dalam masyarakat modern sangat berbeda
dari masyarakat tradisional. Sebagai peradaban pertama yang memodernisasi, Barat memimpin
dalam akuisisi budaya modernitas. Selama masyarakat memperoleh pola pendidikan,
pekerjaan, kekayaan, dan struktur kelas yang sama, budaya modern dari Barat ini akan menjadi
budaya universal di seluruh dunia. Tetapi argumen atau anggapan bahwa masyarakat modern
harus mendekati tipe Barat, dan peradaban modern adalah peradaban Barat merupakan
identifikasi yang salah. Para ilmuan telah mengidentifikasi karakteristik pembeda masyarakat
Barat selama ratusan tahun sebelum dimodernisasi, yang berbeda dalam poin tertentu terhadap
lembaga-lembaga kunci, praktik, dan keyakinan yang dapat diidentifikasi sebagai inti
peradaban Barat.

The Classical Legacy

Barat telah mewarisi banyak dari peradaban sebelumnya, termasuk peradaban yang paling
klasik, yang mana warisan klasik sendiri adalah sebagai peradaban generasi ketiga. Beberapa
warisan peradaban klasik yaitu diantaranya filsafat yunani dan rasionalisme, hukum roma,
latin, dan Kristen. Islamic dan peradaban orthodox sebenarnya juga termasuk dalam peradaban
klasik, namun peradaban tersebut tidak mendekati tingkat yang sama dilakukan oleh barat.

Catholicism and Protestantism

Khatolik dan Protestan, Kekristenan barat, Khatolikisme pertama dan kemudian Khatolik dan
Protestantisme, merupakan karakteristik dari peradaban barat. Komunitas yang berkembang
dengan baik di kalangan barat adalah orang-orang Kristen. Orang-orang Kristen berbeda dari
Turki, Moor, dan Bizantium. Reformasi, kontra-reformasi, dan pembagian Kristen barat
menjadi protestan utara dan Khatolik selatan menjadi fitur khas sejarah barat.

European, Sparation, Rule of Law and Social Pluralism

Pemisahan antara agama dan politik atau pemerintahan dalam sekularisasi berkaitan
erat dengan pemisahan antara ruang privat dan publik dalam liberalism yang menjunjung tinggi
kebebasan individu, kebebasan politik dalam partisipasi demokratis, kesamaan antar manusia,
dan pluralisme. Dalam konteks pluralisme, liberalisme dikaitkan dengan kebebasan
berekspresi dan kebebasan menganut bentuk-bentuk kehidupan tertentu. Liberalisme pun
menegaskan bahwa setiap pengambilan kebijakan publik harus dipisahkan antara masalah -
masalah yang menyangkut publik secara luas (tanpa membedakan agama, etnisitas, dan
orientasi politik) dengan bentuk-bentuk kehidupan yang spesifik. Itulah yang disebut sebagai
the problem of justice.
Bahasa eropa merupakan hal kedua setelah agama dalam faktor membedakan orang-
orang dari satu budaya dan budaya lainnya. Bahasa barat berbeda dari keragaman perdaban
lainnya seperti di Jepang, Hindi, atau Mandarin. Pada abad ke-16, bahasa-bahasa eropa pada
umumnya diasumsikan sebagai bentuk kontemporer mereka, yaitu pemisahan otoritas spiritual
dan temporal. Sepanjang sejarah di barat, gereja terpisah dari kenegaraan. Otoritas spiritual dan
otoritas temporal telah menjadi dualisme yang berlaku dalam budaya barat. Dalam peradaban
agama hindu politik juga dipisahkan dan dapat terlihat dengan amat jelas. Perpisahan dan
bentrokan yang berulang antara gereja dan negara yang melambangkan Peradaban Barat telah
ada di peradaban lain. Pembagian otoritas ini berkontribusi pada perkembangan kebebasan di
Aturan hukum Barat (rule of law).

Konsep sentralitas hukum terhadap eksistensi beradab diwarisi dari Roma. Pemikir
abad pertengahan menguraikan gagasan hukum kodrat menurut raja mana yang seharusnya
menggunakan kekuasaan mereka, dan tradisi hukum umum yang dikembangkan di Inggris.
Selama fase absolutisme pada abad 16 dan 17 aturan hukum pelanggaran lebih di amati
daripada dalam kenyataannya, atau disebut juga dengan "Non sub homine sed sub Deo et lege."

Tradisi aturan hukum meletakkan dasar untuk konstitusionalisme dan perlindungan hak
asasi manusia, termasuk hak milik dan terhadap pelaksanaan kekuatan sewenang-wenang. Di
sebagian besar hukum peradaban lainnya adalah faktor dalam membentuk pemikiran dan
perilaku. Beberapa karakteristik tersebut bukan dimaksudkan untuk menjadi acuan dalam
mengkaji karakteristik khas peradaban Barat, dan juga tidak dimaksudkan untuk menyiratkan
bahwa beberapa karakteristik tersebut selalu dan secara universal ada di dalam masyarakat
Barat, juga tidak ingin mengatakan bahwa karakteristik tersebut tidak ada di peradaban lain.
Berbagai konsep, praktik dan lembaga tersebut lebih lazim terjadi dan ada di peradaban Barat
daripada di peradaban lain. Hal-hal tersebutlah yang membentuk bagian inti penting dari
peradaban Barat, dan menjadi faktor yang memungkinkan untuk Barat dapat memimpin dalam
memodernisasi diri dan dunia.

Respons to the West and Modernization

Ekspansi dari Barat telah membawa moderenisasi dan westerisasi ke masyarakat bukan
barat. Pemimpin Politik dan intelektual pada lingkungan ini telah merespon dampak kebaratan
dalam 3 cara, menolak moderenitas dan westerisasi, menerima keduanya, atau menerima satu
dan menolak lainnya. Dan aliran yang merespon 3 cara itu adalah Rejection, Kemalism, dan
Reformist.

Dari pertama melakukan kontak dengan barat, Jepang sudah melakukan aliran
rejection secara substansi pada tahun 1542. Kristenisasi sangat dibatasi pada masa itu. Pada
pertengahan abad-17 orang-orang Barat diusir dari Jepang. Hingga akhirnya rejectionist
berakhir dengan adanya pembukaan paksa oleh Commodore Perry 1854 untuk menyusul
Restorasi Meiji 1868. Akan tetapi Jepang mulai menerima modernisasi pada pertengahan abad-
19 seperti perolehan senjata api, dan impor dari barat.

Berabad-abad Cina berusaha menghentikan modernisasi dan westernisasi meskipun


masih mengizinkan orang-orang kristen untuk datang ke Cina pada tahun 1601. Baru pada
tahun 1722, Cina melarang kedatangan orang-orang kristen ke Cina yang merupakan orang
Barat. Alasan rejeksi Cina ini dikarenakan Cina sebagai “Kingdom Middle”. Kemudian terjadi
serangan senjata oleh Inggris yang disebut Perang Candu atau Perang Opium 1939-1842.

Kemalism. Aliran kemungkinan kedua merespon barat adalah Toynbee’s herodialism,


untuk menerima dua duanya. Respon ini berdasar pada asumsi bahwa modernitas adalah
diperlukan. Budaya pribumi bertentangan dengan modernitas dan harus ditinggalkan sehingga
masyarakat harus mengejar modernitas dengan melalui westernisasi. Argument ini didukung
dengan adanya argument pada abad 19, pemikir Jepang dan China menyatakan bila ingin
modern, masyarakat haruslah membuang bahasa historis dan beralih pada bahasa inggris
sebagai bahasa nasionalnya.

“Nilai agama, asumsi moral, dan struktur sosial dari masyarakat non barat adalah hal
yang bertentangan dengan nilai praktek industrialism. Oleh karena itu, pembangunan ekonomi
membutuhkan pembaharuan kehidupan dan bermasyarakat yang radikal dan destruktif yang
mafsirkan ulang maksud dari keberadaan pembangunan ekonomi yang ada. Pipes memberikan
penjelasan yang jelas untuk islam bahwa islam tidak memberikan cara alternatif untuk modern,
sehingga sekularisme tidak bisa dihindari. Sains dan teknologi modern membutuhkan
pengetahuan, dan pendidikan bahasa eropa dan barat yang akan mempermudah mereka untuk
hidup nyaman dan bebas bersuara. Hanya jika islam mau menerima westernisasi.” Hal ini
ditulis oleh Mustafa Kemal Ataturk sebelum ia membangun turki baru dari runtuhnya Ottoman
Empire dengan usaha besarnya ya itu “westernisasikan untuk memodernkannya”.

Reformist. Berbeda dengan rejection dan kemalism, aliran ini mengkombinasikan


nilai, praktek dan institusi budaya masyarakat pribumi. Atau bisa dikatakan
mengkombinasikan budaya pribumi dengan westernisasi karena modernitas berdampingan dan
tidak dapat dijauhkan walaupun tidak diinginkan. Aliran ini popular dikalangan elit non-
Westernisasi. Di Cina, pada akhir dinasti Ching terdapat selogan Ti-Yong “orang Cina belajar
untuk prinsip fundamental, Barat belajar untuk penggunaaan praktek”. Dan juga di Jepang
“orang Jepang pada spiritnya, Barat pada tekniknya”.

Di Mesir tahun 1830an, Muhammad Ali mencoba modernisasi pada teknik tanpa
budaya westernisasi yang berlebih namun gagal. Sehingga hal tersebut memberikan statement
bahwa modernitas memang membutuhkan westernisasi. Begitu juga ketika Jamal Al-Din Al-
Afgani Muhammad Abduh berusaha memulihkan Islam dan modernitas dengan berargumen
“kompabilitas islam dengan sains modern dan pemikiran terbaik Barat” untuk merasionalkan
Islam menerima Ide dan Institusi Modern, sains, teknologi atau politik dalam hal konstitusi dan
keberadaan pemerintahan.

No Rejectionalism Kemalism Reformism


Menerima
Menerima
Menolak westernisasi modernitas dan
1 modernisasi dan
dan modernisasi. mengadakan
westernisasi.
westernisasi.
Menghilangkan
kebudayaan pribumi Menemukan
Memegang teguh
2 untuk mencapai modernitas di dalam
budaya pribumi.
modernisasi melalui budaya pribumi.
westernisasi.
Nilai agama, nilai
Menghargai dan Westernisasi tidak
moral dan
3 berpegang teguh pada memandang agama
berkembang menjadi
ajaran leluhur. dan moral.
modern.
Modernitas
dibutuhkan dan
Tidak dibutuhkan dan Dibutuhkan dan diinginkan,
4
tidak diinginkan. diinginkan. westernisasi
dibutuhkan tetapi
tidak diinginkan.
Kesimpulan.

Modernisasi dan westernisasi memiliki kepantingan yang sama tentang masalah


material. Kebudayaan merupakan unsur dari negara-negara Barat yang diadopsi oleh
masyarakat. Modernisasi dan westernisasi memiliki kesamaan sebagai hasil perbandingan dari
bermacam-macam aspek kehidupan manusia yang dirasionalisasikan. Mereka yang melakukan
modernisasi dan westernisasi dianggap sebagai suatu proses perubahan dari sesuatu yang
dianggap kurang menjadi sesuatu yang dianggap lebih bagi mereka yang menganut prinsip-
prinsip tersebut. Modernisasi, mutlak ada dan diperlukan oleh setiap negara, tidak
mengeyampingkan nilai-nilai agama, tidak mutlak sebagai westernisasi, proses perkembangan
lebih umum. Sedangkan westernisasi, sebagai suatu pembaratan, tidak mempersoalkan atau
mempertentangkan budaya barat dengan budaya setempat, modernisasi munculnya di Barat,
sehingga cara westernisasi merupakan satu-satu cara untuk mencapainya.