Anda di halaman 1dari 9

Student : Westi Susi Aysa Lecture : Ir. Adam Pamudji R., M.Sc., Ph.

D
Reg. Number : 17/419765/PTK/11875 Course : Flood Early Warning System

Laporan Kuliah Lapangan


Mata Kuliah : Flood Early Warning System

A. Latar Belakang
Banjir lahar merupakan disaster yang diakibatkan erupsi gunung Merapi yang dapat
mengakibatkan kerusakan dan kerugian pada daerah terdampak. Oleh karena, untuk mengindari
dan meminimalisir kerugian maka sangat diperlukan sebuah system yang dapat mencegah hal
tersebut. Sistem peringatan dini banjir merupakan salah satu metode yang bertujuan untuk
memitigasi kerusakan akibat banjir dalam hal ini banjir lahar. Oleh karena itu system peringatan
dini sangat penting diterapkan pada daerah yang berisiko tinggi misalnya sekitar Kawasan gunung
Merapi.
Semakin seringnya terjadi bencana, maka semakin mendesak pula untuk dilakukan kajian
terkait peringatan dini banjir. Terdapat beberapa penelitian yang sudah mengkaji dan
membangun system peringatan dini banjir, salah satunya adalah yang dilakukan Balai Litbang
SABO, Jogjakarta. Beberapa metode pengumpulan data yang telah dilakukan baik pemanfaatan
data penginderaan jauh maupun data lapangan langsung. Balai Litbang SABO sudah berhasil
membangun sauatu system yang dapat digunakan sebagai alat pemantau terjadinya banjir lahar
yakni Sistem Informasi Bencana Sedimen. Hal ini sangat membantu dalam hal peringatan dini.
Oleh karena penelitian tersebut sangat bermanfaat maka sangat perlu pula untuk
dipelajari terkait kegunaan, alur system dan alat-alat yang digunakan serta validasi dari system
tersebut. Sehingga, mahasiswa Magister Teknik Pengelolaan Bencana Alam yang mengambil mata
kuliah System Peringatan Dini Banjir melakukan kuliah lapangan dan diskusi dengan beberapa
pihak terkait.

B. Waktu & Tempat Pelaksanaan


Kuliah lapangan (field trip) dilaksanakan pada tanggal 16 Mei 2018 yang terdiri dari
beberapa kunjungan tempat yakni Kantor Balai Litbang SABO, Stasiun Radar Merapi dan Stasiun
AWLR dan ARR. Kunjungan dimulai pada pukul 08.00-12.30 WIB. Berikut beberapa tempat yang
dikunjungi :
1. Kantor Balai Litbang Sabo, Sopalan Maguwoharjo Jogjakarta
2. Stasiun AWLR KU RC3
3. Stasiun Radar di Museum Merapi
4. Stasiun ARR Donoharjo
Student : Westi Susi Aysa Lecture : Ir. Adam Pamudji R., M.Sc., Ph.D
Reg. Number : 17/419765/PTK/11875 Course : Flood Early Warning System

C. Pembahasan

1. Kunjungan Balai SABO


Balai Sabo adalah Unit Pelaksana Teknis di bidang penelitian dan pengembangan teknologi
SABO, berada di bawah dan bertanggungjawab kepada Kepala Pusat Penelitian dan
Pengembangan Sumber Daya Air. Tugas utama dari Balai sabo ini adalah melaksanakan pelayanan
jasa ilmu pengetahuan dan teknologi, pengaplikasian teknologi, pengujian dan penyiapan saran
teknis (engineering advice) teknologi SABO untuk penanggulangan bencana alam akibat gerakan
massa debris. Oleh karena itu, sangat relevan dengan materi terkait sistem peringatan dini banjir
yang telah dipelajari. Di kantor Balai Sabo ini, peserta field trip mendapat penjelasan tentang
“Sistem Peringatan Dini dan Simulasi Model Banjir Lahar Berbasis Data Radar” yang merupakan
salah satu penelitian yang dilakukan balai sabo.

Gambar 1. Penjelasan Sistem SIDS di Balai Sabo Gambar 2. Target Area SIDS
Sumber : Website SIDS

Pada penelitian tersebut, pihak Balai Sabo menjelaskan jika mereka sedang membangun
Sistem Informasi Bencana Sedimen (SDIS). Daerah yang diamati adalah sungai-sungai yang
berhulu di Gunung Merapi yakni Sungai Pabelan, Sungai Kuning, Sungai Woro, Sungai Krasak,
Sungai Boyong, Sungai Gendol, Sungai Putih dll. Secara batas administrasi, system ini mencakup
Kab. Sleman, Kab. Magelang, Kab. Klaten dan Kab. Boyolali.
Tujuan dibuatnya system ini adalah untuk menampilkan secara visual daerah bahaya (disaster
prone) terutama yang diakibatkan gunung Merapi baik secara primar disaster ataupun Sekunder
Disaster). Berikut alur yang dapat menjelaskan system informasi bencana sedimen :
Student : Westi Susi Aysa Lecture : Ir. Adam Pamudji R., M.Sc., Ph.D
Reg. Number : 17/419765/PTK/11875 Course : Flood Early Warning System

Gambar 3.
Sumber : Dokumen Balai Litbang Sabo

Berdasarkan alur kerja Sistem Informasi Bencana Sedimen (SDIS) tersebut, informasi yang
dihasilkan adalah berupa lahar risk level, rainfall indexes and disaster prone. Data yang digunakan
adalah gabungan data Radar dan data eksisting dari ground station yakni stasiun AWLR dan
stasiun ARR. Data radar yang diperoleh dari X-Band radar yang berada di Merapi dengan periode
pengiriman setiap 2 menit ke server (BPPTKG) yang selanjutnya diteruskan ke balai SABO atau
SDIS sebagai distribusi hujan. Untuk data AWLR dan ARR diperoleh dari tiap stasiun yang tersebar.
Sangat penting untuk menggabungkan 2 data tersebut dalam perolehan data untuk distribusi
hujan karena masing-masing memiliki kekurangan oleh karenanya 2 data tersebut bisa saling
melengkapi. Data AWLR dan ARR sangat bagus untuk akurasi atau kevalidan data dengan kondisi
eksisting karena menggambarkan kondisi di tanah, namun kekurangan dari data tersebut adalah
tidak unggul dalam hal spasial yakni hanya merekam data per spot saja. Hal ini dilengkapi dengan
data radar yang memiliki kelebihan dalam hal spasial sehingga untuk target informasi bias tercapai
dengan baik.
Salah satu metode system peringatan dini yang digunakan pada system ini adalah dengan
indicator Critical Line (CL) dan Snake Line. CL yang dibangun dengan data hujan yang diperoleh
dari data radar dan data ground station. Metode penentuan CL dengan menggunakan metode
RBFN. Berikut contoh CL yang ada pada system SIDS :
Student : Westi Susi Aysa Lecture : Ir. Adam Pamudji R., M.Sc., Ph.D
Reg. Number : 17/419765/PTK/11875 Course : Flood Early Warning System

Gambar 4. Critical Line Gambar 5. Snake Line

Sumber : Dokumen Balai Litbang Sabo

Critical Line Lahar adalah garis batas prediksi terjadi atau tidaknya lahar. Garis kritis dibuat
menggunakan catatan kejadian banjir lahar dan data hujan yang diikuti dengan kejadian lahar.
Pada gambar tersebut, Menurut Balai Litbang Sabo, Area dibawah garis hijau adalah area yang
relatif aman dari bahaya lahar. Apabila terjadi hujan dengan intensitas yang terletak pada area
ini, maka kecil kemungkinan akan disertai dengan terjadinya lahar. Selanjutnya Area diantara garis
kuning dan hijau adalah area dengan potensi sedang untuk terjadinya lahar. Catatan
menunjukkan bahwa ada beberapa banjir lahar yang terjadi jika intensitas hujan berapa pada area
ini. Garis yang terakhir adalah garis merah, yakni garis potensi lahar tinggi. Sedangkan area di
diantara garis kuning dan garis hijau merupakan Area di antara garis kuning dan garis merah
adalah area intensitas hujan yang berpotensi diikuti dengan banjir lahar. Banyak catatan kejadian
banjir lahar pada area ini. Selaras dengan hal itu, area yang berada di atas garis merah, adalah
area dengan potensi lahar sangat tinggi. Apabila terjadi hujan dengan intensitas yang berada pada
area ini, maka hampir dapat dipastikan bahwa lahar sangat mungkin untuk terjadi.
Jadi, Sistem Informasi Bencana Sedimen tersebut akan memberikan informasi peringatan dini
berdasarkan hasil analisis dari data-data yang ditampilkan dengan CL dan Snake Line. Hasil yang
disampaikan yakni Peringatan dengan beberapa kriteria berikut :
 Level 1 : There is almost no risk of lahar
 Level 2 : There is a risk of lahar, but no large. Some of lahar occurred in Level 2 in the past.
 Level 3 : There is high risk of lahar. Many lahar occurrences were recordedin level 3.
 Level 4 : There is Extreemly high risk of Lahar

Warning Information diberikan kepada pemangku kebijakan yang lainnya misalnya dari balai
SABO ke BPBD terkait, selanjutnya BPBD melalukan crosscheck kembali akan kevalidan data yang
diterima. Jika benar maka BPBD memberi informasi kepada pemerintah setempat untuk
mengarahkan warga seperti evakuasi warga. Berikut gambar warning information yang
disampaikan :
Student : Westi Susi Aysa Lecture : Ir. Adam Pamudji R., M.Sc., Ph.D
Reg. Number : 17/419765/PTK/11875 Course : Flood Early Warning System

Gambar 6. Warning Information from SABO


Sumber : Dokumen Balai Litbang SABO

2. Kunjungan Stasiun AWLR

Kunjungan kedua yakni di stasiun AWLR KU RC3, dimana peserta ditunjukan beberapa
komponen stasiun AWLR namun kondisinya hanya bisa dilihat dari jauh karena terkait lokasi
stasiun tersebut yang tidak memungkinkan dengan kondisi sensor water levelnya tidak
berfungsi lagi. Berikut gambar kondisi eksisting alat AWLR di stasiun KU RC3 :

Gambar 7. AWLR di stasiun KU RC3


Student : Westi Susi Aysa Lecture : Ir. Adam Pamudji R., M.Sc., Ph.D
Reg. Number : 17/419765/PTK/11875 Course : Flood Early Warning System

3. Kunjungan Stasiun Radar X-Band MP

Kunjungan ketiga yakni di stasiun RADAR X-Band MP yang terletak di museum Merapi. Di
stasiun Radar X-Band MP (X-Band Multi Parameter) ini, peserta dijelaskan tentang system
kerja radar, jenis dan kelemahan serta ditunjukan beberapa hasil tangkapan radar X-Band
tersebut. Radar X-Band yang terintall di museum Merapi merupakan radar yang diinstall oelh
SATREPS yang memiliki radius tangkapan 30 km dan Panjang gelombang 3.3 cm. Selain itu,
salah satu data output yang dihasilkan adalah data dengan extensi dBZ.
Data yang dihasilkan Radar X-Band MP ini memiliki area yang hilang. Karena pada sudut
tertentu, radar akan terhalang oleh pyramid yang berada disekitar. Hal ini menyebabkan radar
tidak bias membaca kondisi dibalik pyramid tersebut. Ini merupakan salah satu contoh
kelemahan radar.

Gambar 8. Radar X-Band MP Furuno by SATREPS

Gambar 9. Komputer Pemantauan Radar


Student : Westi Susi Aysa Lecture : Ir. Adam Pamudji R., M.Sc., Ph.D
Reg. Number : 17/419765/PTK/11875 Course : Flood Early Warning System

4. Kunjungan Stasiun ARR

Kunjungan terakhir yakni di stasiun ARR Donoharjo, dimana peserta mendapat penjelasan
terkait komponen apa saja yang terdapat di stasiun ARR Donoharjo dan system kerja dari
stasiun ARR tersebut. Stasiun hujan ARR DOnoharjo adalah stasiun yang baru berfungsi pada
maret 2018 sehingga data hujan hanya tersedia dari maret-sekarang.

Gambar 10. Stasiun ARR Donoharjo


Student : Westi Susi Aysa Lecture : Ir. Adam Pamudji R., M.Sc., Ph.D
Reg. Number : 17/419765/PTK/11875 Course : Flood Early Warning System

D. Kesimpulan
Dari beberapa penjelasan di atas, dapat disimpulkan beberapa hal yakni :
- Prosedur Peringatan (warning procedure)

X-Band radar
@merapi museum

Data AWLR Historical data saat


Data Radar
Server @BPTTKG -> Data ARR kejadian banjir lahar
Rainfall Distribution

Snake Line Critical Line

LEVEL II

INFORMATION

Peringatan Arahan

Pemerintah
BPBD Penduduk
Setempat

Gambar 11. Diagram Alur Prosedur Peringatan


Student : Westi Susi Aysa Lecture : Ir. Adam Pamudji R., M.Sc., Ph.D
Reg. Number : 17/419765/PTK/11875 Course : Flood Early Warning System

- Kriteria Peringatan (warning criteria)


Kriteria peringatannya dilihat dari snake line yang berjalan apakah mendekati CL,
dimana CL terbagi menjadi 3 garis yakni garis hijau, garis kuning dan garis merah.
Setelah melwati Cl maka dapat disimpulkan dengan beberapa peringatan yakni :
- Level 1 : There is almost no risk of lahar
- Level 2 : There is a risk of lahar, but no large. Some of lahar occurred in Level 2 in the past.
- Level 3 : There is high risk of lahar. Many lahar occurrences were recordedin level 3.
- Level 4 : There is Extreemly high risk of Lahar

- Peralatan dan Operator

Peralatan yang dimaksud adalah segala komponen dalam system peringatan dini banjir,
seperti :
1. Radar X-Band MP berguna untuk mengukur rainfall secara spasial yang diopeasikan
oleh Merapi museum dan diolah kembali oleh BPTTKG.
2. ARR beruna untuk rainfall pada ground station yang beroperasi secara otomatis
namun pemantauannya dilakukan oleh UGM.
3. AWLR berguna untuk mengukur water level di titik tertentu yang beroperasi secara
otomatis namun pemantauannya dilakukan oleh UGM
4. Sistem SIDS sebagai system yang menampilkan dan mengolah data yang
dipoerasiakn oleh Balai Litbang SABO

- Organisasi antar Institusi


Beberapa organisasi yang berperan pada system peringatan dini banjir lahar ini adalah
 Balai Litbang SABO sebagai pengolah system SISD
 BPBD yang bertugas engcross check data dan melaporkan ke kepala pemerintah
setempat.
 Kepala pemerintah setempat yang berugas untuk mengarahkan penduduk untuk
langkah selanjutnya.
 UGM terkhusus laboratorium Hidraulika sebagai pengelola dan pemantauan data
hujan di ground station.

E. Referensi
Dokumen Balai Litbang SABO
http://202.173.16.247/test_sdis/monitorcurrent_all.php?types=snakelines2’