Anda di halaman 1dari 18

Analisa SWOT M3

M3 (Methode)

Factor Strategi Internal (IFAS) Bobot Rating Skor

Strength (Kekuatan)

MAKP

1. Metode yang sudah 0,2 3 0,6


diterapkan di ruangan yaitu
Metode TIM
2. Tugas KARU yang sudah 0,2 3 0,6
dilakukan dngan baik yaitu
dengan prosentase
3. Tugas KATIM yang sudah 0,2 4 1,2
dilakukan dengan baik
dengan prosentase

4. Tugas PP yang sudah 0,2 4 1,2


dilakukan dengan baik
dengan prosentase

5. Timbang Terima sudah 0,2 3 0,6


dilakukan dengan baik
sesuai dengan SOP

Total 1 4,2

S-W

4,2-3,6=0,6

Factor Strategi Intrenal Bobot Rating Skor

Weakness (Kelemahan)

1. Saat pemberian obat injeksi 0,4 3 1,2


ke pasien belum dilakukan
tanda tangan persetujuan
2. Belum adanya struktur 0,6 4 2,4
organisasi ruangan yang
terlihat jelas oleh semua
orang
Total 1 3.6

Factor Strategi Eksternal Bobot Rating Skor

Opportunity (O)

1. Adanya kebijakan 0,3 3 0,9


pemerintah tentang
profesionalisasi perawat
2. Adanya mahasiswa S1 0,3 3 0,9
Keperawatan praktek
manajemen keperawatan di
ruangan
3. Adanya kebijakan Rumah 0,4 4 1,6
O-T
Sakit tentang pelaksanaan
MAKP 3,4-3,1=0,3
Total 1 3,4

Factor Strategi Eksternal Bobot Rating Skor

Threat (T)

1. Makin tinggi kesadaran 0,2 2 0,4


masyarakat tentang hukum
2. Adanya tuntutan 0,2 3 0,6
masyarakat yang semakin
tinggi terhadap peningkatan
pelayanan keperawatan
yang lebih professional
3. Persaingan dengan rumah 0,3 3 0,9
sakit swasta semakin ketat
4. Makin tinggi kesadaran 0,3 4 1,2
masyarakat akan pentingnya
kesehatan.
Total 1 3,1

4. Sentralisasi Obat
b. Factor Strategi Internal (IFAS) Bobot Rating Skor
Strength (Kekuatan)
1. Tersedianya sarana dan 0,3 3 0,9
prasarana untuk pengelolaan
sentralisasi

2. Sudah dilakukan kegiatan 0,2 4 0,8


sentralisasi obat oleh
perawat S-W=
3. Adanya kemauan perawat 0,2 3 0,6 3,5-1=2,5
untuk melakukan
sentralisasi
4. Adanya buku sentralisasi 0,3 4 1,2
obar oral berkerja sama
dengan depo farmasi
Total 1 3,5
Bobot Rating Skor
Weakness (Kelemahan)
1. Pelaksanaan tanda tangan 0,6 1 0,6
untuk pendokumentasian
obat belum maksimal
2. Belum adanya format 0,4 1 0,4
penerimaan obat dari pasien
kepada perawat
Total 1 1

c. factor Srtategi Eksternal (EFAS)


Opportunity (O)
5. Adanya mahasiswa S1 0,5 3 1,5
keperawatan yang praktik
manajemen keperawatan
6. Kerjasama yang baik antara 0,5 3 1,5 O-T=
perawat dan mahasiswa 3-2.8=0,2
keperawatan
Total 1 3

Thtreat (T) Bobot Rating Skor

7. Adanya tuntutan tinggi dari 0,3 3 0,9


masyarakat untuk pelayanan
yang lebih professional
8. Makin tinggi kesadaran 0,2 2 0,4
masyarakat akan hukum
9. Makin tinggi kesadaran 0,2 3 0,6
masyarakat akan pentingnya
kesehatan
10. Persaingan antara Rumah 0,3 3 0,9
sakit yang kuat
Total 1 2,8

5. Supervise
a. Factor Strategi Internal Bobot Rating Skor
(IFAS)
Strength (Kekuatan)
1. Supervise telah 0,4 3 1,2
dilaksanakan secara rutin
oleh kepala ruangan di
setiap shift
2. Kepala ruangan mendukung 0,3 3 0,9
dan melaksanakan sepervisi
3. Supervise ditaati oleh setiap 0,3 3 0,9
tenaga perawat S-W=
Total 1 3 3-3,4=0,4

Weakness (Kelemahan) Bobot Rating Skor


4. Belum adanya format yang 0,3 3 0,9
baku dalam pelaksannan
supervise
5. Supervise belum terstruktur 0,3 3 0,9
dan tidak ada formulir
penilaian yang tetap
6. Belum adanya dokumentasi 0,4 4 1,6
supervise yang jelas
Total 1 3,4

b. Factor Strategi Eksternal Bobot Rating Skor


(EFAS)
Opportunity (O)
1. Adanya pengadaan sarana 0,5 3 1,5
dan prasarana yang rusak
dari bagian pengadaan
barang
2. Adanya program pelatihan 0,5 2 1
tentang pengoperasian alat
Total 1 2,5
O-T=
2,5-2=0,5
Threat (T) Bobot Rating Skor
1. Tuntutan pasien sebagai 1 2 2
konsumen untuk
mendapatkan pelayanan
yang profesional
Total 1 2

6.Timbang Terima
a. Faktor Strategi Internal (IFAS) Bobot Rating Skor
Strategi (Kekuatan)
1. Kepala ruangan memimpin 0,2 4 0,8
kegiatan timbang terima
setiap pagi
2. Adanya laporan jaga setiap 0,2 3 0,6
shift
3. Timbang terima sudah 0,2 3 0,6
merupakan kegiatan rutin
yang dilakukan timbang S-W=
terima (2,6-2,4=0,2)
4. Adanya kemauan perawat 0,2 3 0,3
untuk melakukan timbang
terima
5. Adanya buku khusus untuk 0,2 3 0,3
pelaporan timbang terima
Total 1 2,6

Bobot Rating Skor

Weakness (Kelemahan)
1. Timbang terima sudah 0,3 2 0,6
dilakukan dengan baik
2. Format timbang terima 0,3 2 0,6
sudah mencakup nama dan
paraf pada kedua shift
3. Pelaksannan timbang 0,4 3 1,2
terimamasih belum optimal,
khususnya dari shift sore ke
malam
Total 1 2,4

b. Factor Strategi Eksternal


Opportunity (O)
1. Adanya mahasiswa SI 0,5 3 1,5
keperawatan praktek
manajemen keperawatan
diruangan
2. Adanya kerjasama yang 0,5 3 1,5
baik antara mahasiswa S1
keperawatan yang praktek
dengan perawat ruangan
Total 1 3
O-T=
3-2,8=0,2
Threat (T) Bobot Rating Skor
1. Tuntutan yang lebih 0,5 3 1,5
tinggi dari masyarakat
untuk mendapatkan
pelayanan yang
profesional
2. Meningkatkan 0,2 2 0,4
kesadaran masyarakat
tentang tanggung jawab
dan tanggunggugat
perawat sebagai pemberi
asuhan keperawatan
3. Persaingan antar RS 0,3 3 0,9
semakin ketat
Total 1 2,8

7.discharge planning

a. Faktor Strategi Internal (IFAS) Bobot Rating Skor


Strategi (Kekuatan)
1. Adanya kemauan untuk 0,5 4 2
memberikan pendidikan
kesehatan sebelum
pulang kepeda pasien
dan keluarga pasien S-W=
2. Adanya kartu control 0,3 3 0,9 3,5-2=1,5
berobat
3. Adanya pemahaman 0,2 3 0,6
tentang pendidikan
kesehatan oleh perawat
Total 3,5

Bobot Rating Skor

Weakness (Kelemahan)
1. Tidak tersedianya brosur 1 2 2
atau leaflat untuk pasien
saat melakukan
discharge planning
kaerna keterbatasan
dana
Total 1 2

c. Factor Strategi Eksternal


Opportunity (O)

1. Adanya mahasiswa SI 0,3 3 0,9


keperawatan praktek
manajemen keperawatan
diruangan
2. Adanya kerjasama yang 0,3 3 0,9 O-T=
baik antara mahasiswa S1 3-2,7=0,3
keperawatan yang praktek
dengan perawat ruangan
3. Kemauan keluarga atau 0,4 3 1,2
pasien terhadap anjuran
perawat

Total 3

Threat (T) Bobot Rating Skor


1. Tuntutan yang lebih 0,3 3 0,9
tinggi dari masyarakat
untuk mendapatkan
pelayanan yang
professional
2. Meningkatkan 0,3 3 0,6
kesadaran masyarakat
tentang tanggung jawab
dan tanggunggugat
perawat sebagai pemberi
asuhan keperawatan
3. Persaingan antar RS 0,4 3 1,2
semakin ketat
Total 1 2,7

8.Ronde Keperawatan

a. Faktor Strategi Internal (IFAS) Bobot Rating Skor


Strategi (Kekuatan)
1. Bidang perawat dan 0,3 4 1,2
ruangan mendukung adanya
kegiatan ronde keperawatan
2. Adanya kasus yang 0,2 3 0,6
memerlukan perhatian
khusus oleh perawat
ruangan dan kepela ruangan S-W=
3. Sudah ada tim yang 0,3 3 0,9 3,1-3=0,1
dibentuk dalam pelaksanaan
ronde dan penyelesaian
4. Sudah ada ketentuan ronde 0,2 3 0,6
dilakukan 3 bulan sekali
Total 1 3,1

Bobot Rating Skor

Weakness (Kelemahan)
1. Normalnya ronde 1 2 2
dilakukan 1 bulan sekali
namun karena jumlah
pasiennya sedikit dan
masalah pasien teratasi
dengan baik ronde
jarang dilakukan
Total 1 2

b. Factor Strategi Eksternal


Opportunity (O)
1. Adanya diskusi tentang 1 3 3 O-T=
masalah yang terjadi di 3-2,5=0,5
ruangan
Total 1 3

Threat (T) Bobot Rating Skor


1. Tuntutan yang lebih 0,5 3 1,5
tinggi dari masyarakat
untuk mendapatkan
pelayanan yang
professional
2. Makin tinggi tingkat 0,5 2 1
kesadaran masyarakat
tentang tanggung jawab
dan tanggunggugat
perawat sebagai pemberi
asuhan keperawatan
Total 1 2,5
9. dokumentasi keperawatan

a. Faktor Strategi Internal (IFAS) Bobot Rating Skor


Strategi (Kekuatan)
1. Tersedianya sarana dan 0,2 3 0,6
prasarana dokumentasi
untuk tenaga kesehatan
2. Adanya dokumentasi SOR 0,2 3 0,6
(Source Oriented Resource)
yaitu lembar penilaian berisi
biodata, lembar dokter,
lembar riwayat medis, S-W=
catatan perawat, catatan 3,4-2=1,4
perkembangan atau evaluasi
3. Dokumentasi keperawatan 0,2 3 0,6
dilakukan meliputi
pengkajian serta diagnose
keperawatan sampai dengan
evaluasi menggunakan
SOAP
4. Format pengkajian sudah 0,2 4 0,8
ada
5. Perawat mengerti cara 0,2 4 0,8
mengisi format dokumentasi
yang ada
Total 1 3,4

Bobot Rating Skor

Weakness (Kelemahan)

1. Diagnose keperawatan yang 0,5 2 1


muncul tidak di prioritaskan
2. Penggunaan NANDA, NIC 0,5 2 1
NOC belum optimal
Total 1 2

b. Factor Strategi Eksternal


Opportunity (O)
1. Adanya mahasiswa SI 0,3 3 0,9 O-T=
keperawatan praktek 3,1-3=O,1
manajemen keperawatan
diruangan
2. Adanya kerjasama yang 0,3 4 1.2
baik antara mahasiswa S1
keperawatan yang praktek
dengan perawat ruangan
3. Adanya program pelatihan 0,4 3 1,2

Total 1 3,1

Threat (T) Bobot Rating Skor


1. Adanya kesadaran pasien 0,5 3 1,5
dan keluarga akan tanggung
jawab dan tanggung gugat
2. Akreditasi rumah sakit 0,2 3 0,6
tentang dokumentasi
3. Persaingan antar RS 0,3 3 0,9
semakin ketat dalam
memberikan pelayanan
kesehatan
Total 1 3

Pembahasan Pre Dan Post Intervensi

1. Model MAKP

Sebelum intervensi SW-OT 0,6 – 0,3

Setelah intervensi SW-OT 0,6 – 0,3

Keterangan : tidak ada perubahan, karena diruangan Diponegoro sudah menggunakan


model modifikasi tim dengan baik, pembagian perawat tiap tim yang dipraktekan oleh
mahasiswa praktek manajemen sudah sesuai, yakni 1 kepala ruangan , 2 orang katim, 1
perawat pelaksana bertanggung jawab untuk merawat pasien sesuai dengan TIM nya.

2. Timbang Terima

Sebelum intervensi SW-OT -0,4 – 0,2

Setelah intervensi SW-OT 0,2 – 0,2

Keterangan : terjadi peningkatan nilai SW dikarenakan pada pelaksanaan timbang terima


sudah diikuti semua perawat, disebutkannya masalah keperawatan yang muncul dan yang
belum teratasi sehingga implementasi timbang terima sesuai SOP.

3. Penerimaan Pasien Baru

Sebelum intervensi SW-OT

Setelah intervensi SW-OT

Keterangan : terjadi peningkatan, yang dipraktekan oleh mahasiswa praktek manajemen


sudah sesuai dengan SOP.

4. Ronde Keperawatan

Sebelum intervensi SW-OT 0,1 – 0,5

Setelah intervensi SW-OT 0,1 – 0,5


Keterangan : tidak terjadi peningkatan nilai disebabkan ronde keperawatan sudah
dilakukan dengan baik setiap 3 bulan sekali, bersama dengan mahasiswa praktek
manajemen mahasiswa Fikes UMM terakhir 20 April 2018 pada pasien NY ‘R’ dengan
diagnose medis vulnus granulosum cruris, dihadiri oleh berbagai profesi termasuk
perawat dan gizi.

5. Sentralisasi Obat

Sebelum intervensi SW-OT 2 – 0,2

Setelah intervensi SW-OT 2,5 – 0,2

Keterangan : terdapat peningkatan, hal tersebut terjadi karena sentralisasi obat yang
dilakukan sudah lebih efektif khususnya dalam pemasangan etiket identitas pasien pada
disposable spuit.

6. Supervise

Sebelum intervensi SW-OT 0,4 – 0,5

Setelah intervensi SW-OT 0,4 – 0,5

Keterangan : tidak ada perubahan karena supervise yang dilakukan belum efektif dan
dan belum sesuai SOP.
7. Discharger Planning

Sebelum intervensi SW-OT 1,3 – 0,3

Setelah intervensi SW-OT 1,5 – 0,3

Keterangan :terjadi peningkatan SW karena discharger planning yang dilakukan pada


pasien yang akan pulang sudah memberikan leaflet sesuai dengan penyakitnya dan
mempermudah pasien dalam mengetahui perawatan yang dilakukan saat dirumah.

8. Dokumentasi

Sebelum intervensi SW-OT 1 – 0,1

Setelah intervensi SW-OT 1,4 – 0,1

Keterangan : terdapat peningkatan , hal ini disebabkan karena dokumentasi keperawatan


sudah lebih mudah karena tersedianya format ceklis sehingga memudahkan dan beban
kerja perawat berkurang.

Rekomendasi / rencana tindak lanjut

1. Mempertahankan dan meningkatkan model modifikasi TIM yang sudah ada.

2. Membudayakan timbang terima sesuai SOP, serta melakukan klarifikasi dan validasi
setiap pergantian sift.

3. Membudayakan penerimaaan pasien baru sesuai SOP.


4. Melakukan ronde keperawatan sesuai jadwal, walaupun tidak dihadiri oleh berbagai
profesi.

5. Untuk menghindari human eror dan tuntutan hukum, sebaiknya setiap pemberian
obat diberikan etiket identitas pasien dan verifikasi dengan tanda tangan pasien/
keluarga. Membudayakan sentralisasi obat sesuai SOP.

6. Sebaiknya supervisi harus ada format dokumentasi yang jelas dan dilakukan sesuai
SOP.

7. Sebaiknya setiap melakukan discharger planning diberikan leaflet tentang penyakit


dan penatalaksaan penyakit pasien.

8. Pendokumentasi catatan perkembangan pasien sebaiknya dilakukan uji coba dengan


system checklis.

Evaluasi proses dan hasil

a. Evaluasi proses

1. Penerimaan pasien baru

Diruang diponegoro penerimaan pasien baru masih melibatkan tenaga


administrasi dan perawat pelaksana dalam menjelaskan semua kebutuhan pasien
baru. Selama role play MAKP mahasiswa profesi ners, berusaha menerapkan
system penerimaan pasien baru yang sesuai dengan standar dan melibatkan
semua tenaga keperawatan yang ada : kepala ruang, ketua tim, dan perawat
pelaksana.

2. Timbang terima

Selama proses timbang terima yang dilaksanakan diruang diponegoro


masih menggunakan problem oriented. Timbang terima dilakukan disetiap sift
pagi, sore, malam. Timbang terima dilakukan di ners station dengan membaca
buku laporan timbang terima dan dibacakan oleh sift yang sebelumnya. Setelah
pembacaan laporan dilanjutkan keliling disetiap kamar pasien untuk validasi data
dari setiap sift sebelumnya.

3. Discharger planning

Proses discharger planning diruang diponegoro dilakukan oleh tenaga


administrasi dan perawat pelaksana, penjelasan tentang waktu control dan obat
yang dibawa pulang. Selama role play MAKP mahasiswa profesi ners UMM,
berusaha mengaktifkan kembali peran ketua tim dan perawat pelaksana untuk
menerangkan setiap penyakit yang diderita pasien selama dirawat dirumah sakit
dan pemberian leaflet yang berkaitan dengan penyakit yang diderita pasien, agar
pengetahuan pasien dan keluarga meningkat sehingga bisa meminimalkan
kekambuhan penyakit pasien.

4. Ronde keperawatan

Program ronde keperawatan yang direncanakan diruangan diponegoro


direncanakan 1 bulan sekali. Selama praktek MAKP mahasiswa profesi ners
UMM, ronde keperawatandapat dilakukan pada pasien dengan kasus yang belum
optimal dalam pemberian intervensi medis. Ronde keperawatan dilaksanakan
pada pasien NY ‘R’ dengan diagnose vulnus granulosum cruris pada 20 April
2018.

5. Sentralisasi obat

Diruangan diponegoro sudah menerapkan sentralisasi obat pasien, sudah


tersedia ruang untuk sentralisasi obat, loker pasien sesuai dengan setiap identitas
pasien dan ada kerjasama dengan pihak farmasi untuk pengantaran setiap obat
pasien atau keluarga pasien diberikan resep obat untuk diambil diapotik.

6. Supervise

Supervise dilakukan oleh kepala ruang pada setiap sift, dilakukan secara
tidak langsung, bila melalui percakapan langsung kepada ketua tim atau perawat
pelaksana.
Pemberian reward dan punishment dilakukan sesuai rencana yang
dilakukan kepala ruang.

b. Evaluasi hasil

1. Penerimaan pasien baru

Dengan memaksimalkan peran kepala ruang, ketua tim dan perawat


pelaksana dalam penerimanaan pasien baru. Pasien merasa lebih nyaman dan
diperhatikan kebutuhannya selama proses perawatan diruangan diponegoro.

2. Timbang terima

Proses timbang terima lebih terkoordinir dikarenakan semua tenaga


perawat melakukan validasi ke pasien setiap sift.

3. Discharger planning

Pasien dan keluarga lebih memahami proses penyakit dan hal – hal yang
harus dihindari selama perawatan dirumah secara mandiri.

4. Ronde keperawatan

Dengan adanya ronde keperawatan diharapkan masalah kesehatan pasien


yang belum teratasi, dapat teratasi dengan dihadirkannya seluruh disiplin ilmu
kesehatan yang ada kaitan dengan penyakit pasien.

5. Sentralisasi obat

Lebih memudahkannya dalam pemberian obat pasien dan meminimalkan


kesalahan dalam pemberian obat kepada pasien.

6. Supervise
Adanya perubahan pada setiap supervise yang dilakukan oleh kepala
ruang kepada perawat pelaksana diruangan diponegoro.