Anda di halaman 1dari 8

EVALUASI DESAIN GEOMETRI PELEDAKAN TERHADAP PAYLOAD BUCKET

UNTUK MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS ALAT GALI MUAT PC4000 CLASS


DI PT. SAPTAINDRA SEJATI JOBSITE PT. ADARO INDONESIA, DESA BATA, KECAMATAN JUAI,
KABUPATEN TABALONG, PROVINSI KALIMANTAN SELATAN

Rizqi Nishpuanis Sofyan1, Uyu Saismana2, Romla Noor Hakim3, Aldi Ade Rakhmawan4
1 Mahasiswa Program Studi Teknik Pertambangan, FT Universitas Lambung Mangkurat
2-3 Program Studi Teknik Pertambangan, FT Universitas Lambung Mangkurat
4PT. Saptaindra Sejati Jobsite PT. Adaro Indonesia

e-mail: *1 Rizqinishpu@gmail.com

ABSTRAK
Pada kegiatan penambangan, peledakan merupakan salah satu metode yang dapat digunakan untuk pembongkaran material.
Ukuran keberhasilan peledakan dapat dilihat dari angka jumlah muatan payload (bucket fill factor) dan produktivitas alat gali muat.
Selama penelitian diperoleh bahwa hasil peledakan di pit North Tutupan belum mencapai target yang ditetapkan perusahaan. Hal tersebut
dilatarbelakangi oleh pembatasan muatan bahan peledak oleh PT. Adaro Indonesia selaku owner dan lokasi peledakan terdiri dari batuan
yang bersifat heterogen, sehingga dengan dilakukannya pembatasan muatan bahan peledak belum mampu menghasilkan energi ledak
yang optimal.
Dalam mengkaji hasil kegiatan peledakan, angka produktivitas alat gali muat dapat diamati berdasarkan persentase boulder
dan jumlah muatan yang dihasilkan, serta nilai digging time dalam proses penggalian material hasil peledakan. Ketercapaian nilai
digging time sesuai standar perusahaan (≤ 12 detik), persentase boulder (≤ 20%) dan nilai bucket fill factor (≥ 70%) dipengaruhi oleh
faktor teknis peledakan, antara lain geometri peledakan, penetapan kolom isian dan nilai powder factor. Memprediksi hasil peledakan
yang optimal, dikaji melalui distribusi fragmentasi secara teoritis.
Upaya untuk memperoleh hasil peledakan yang lebih optimal, perlu dilakukan evaluasi dan modifikasi rancangan
peledakan yang terdiri sebagai berikut. Geometri rencana (Burden 7 m, Spasi 9 m dan tinggi jenjang 12 m). Distribusi fragmentasi
material boulder dihasilkan ≤ 20% dengan mengoptimalkan nilai powder factor. Adapun untuk meningkatkan produktivitas alat gali
muat dengan cara pengoptimalan cycle time dan perlu pengawasan terhadap tingginya digging time.

Kata-kata Kunci : Geometri peledakan, fragmentasi boulder, digging time, jumlah muatan payload, produktivitas

PENDAHULUAN 1. Tahap Persiapan


Banyak cara yang dapat dipergunakan untuk Pada tahap ini dilakukan penyusunan usulan tugas
membongkar batuan atau material yang bersifat akhir. Sasaran utama studi pendahuluan ini adalah
keras/kompak, tergantung dari mudah tidaknya batuan gambaran umum daerah penelitian. Studi literatur
tersebut untuk dibongkar. Apabila batuan sudah tidak bisa dilakukan dengan mencari bahan-bahan pustaka yang
dibongkar baik dengan alat mekanis maka alternatif menunjang kegiatan penelitian, yang diperoleh dari :
lainnya yang dapat dipergunakan adalah dengan a. Instansi terkait
peledakan. Kegiatan peledakan atau memberaikan batuan b. Perpustakaan
serta pengangkutan hasil pemberaian adalah bagian c. Grafik dan Tabel
terpenting dari suatu kegiatan penambangan. Material d. Informasipenunjang lainnya
yang bersifat berai cenderung akan lebih mudah digali 2. Tahap Pengumpulan Data,
daripada material yang masih bersifat kompak. Begitu Pengamatan di lapangan ditujukan untuk
juga dengan ukuran butir yang melebihi luasan bucket mendapatkan data-data yang diperlukan secara
akan mempengaruhi ruang kapasitas volume bucket yang langsung di lapangan. Pengambilan data dilakukan
secara otomatis akan menurunkan produktivitasnya. dengan pengamatan.
Berdasarkan hasil penelitian belum memenuhi 3. Tahap Pengolahan Data
target perusahaan karena dihasilkan fragmentasi boulder Pengolahan data hasil penelitian dilakukan dengan
rata-rata sebesar 36,35%, nilai digging time rata-rata perhitungan berdasarkan teori yang ada dari data hasil
sebesar 15.16 detik, nilai bucket fill factor rata-rata sebesar penelitian.
60,51% dan produktivitas rata-rata sebesar 996,73 4. Analisa data
BCM/Jam. Sehingga masih perlu perbaikan dari segi Dari rumusan-rumusan yang telah didapat kemudian
geometri yang digunakan. dilakukan analisa untuk menemukan jawaban atas
pertanyaan perihal rumusan dan hal-hal yang
METODOLOGI diperoleh dalam penelitian.
Diagram Alir Penelitian 5. Kesimpulan
Metode yang digunakan dalam penelitian ini Hasil sintesis data keseluruhan dirangkum ke dalam
didasarkan pada metode perhitungan aktual lapangan yang laporan tertulis untuk dipertanggung jawabkan dalam
bertujuan untuk mendapatkan hasil pada waktu sekarang. bentuk laporan hasil penelitian tugas akhir.
Rancangan kegiatan penelitian ini terdiri dari 5 tahapan
yaitu tahap persiapan, tahap pengumpulan data, tahap Teknik Pengumpulan Data
pengolahan data, tahap analisa data dan tahap penyusunan Cara pengumpulan data-data yang diperlukan dalam
laporan akhir. penelitian ini meliputi :
B  0,67  De  Stv / SGr 
0,33
1. Studi kepustakaan, yaitu pengumpulan data-data dari
(3)
literatur-literatur dan internet tentang target volume
Keterangan :
peledakan.
B = burden (ft)
2. Observasi lapangan, yaitu pengamatan di lapangan
meliputi kegiatan peledakan. St v = relative bulk strength
3. Wawancara dengan instruktur lapangan serta orang- De = diameter lubang ledak (inchi)
orang yang ahli dibidangnya. SGr = berat jenis batuan dibongkar (ton/m3)
Setelah diketahui nilai burden dasarnya,
Teknik Pengolahan Data maka harus dikoreksi terhadap beberapa faktor
Adapun pengolahan data-data yang diperlukan penentu, yaitu faktor jumlah baris lubang ledak (Kr),
dalam penelitian ini meliputi : faktor posisi lapisan batuan (Kd), dan faktor kondisi
1. Perhitungan distribusi fragmentasi. dari struktur geologinya (Ks).
2. Perhitungan bucket fill factor payload alat gali muat. Secara matematis persamaan burden
3. Perhitungan digging rate payload alat gali muat. terkoreksi dapat ditulis :
4. Perhitungan produktivitas alat gali muat. Bc = B x Kr x Kd x Ks (4)
5. Perhitungan geometri yang sesuai. Keterangan :
Bc = burden terkoreksi (ft)
Teknik Analisa Data Kr = faktor koreksi terhadap jumlah baris lubang
Teknik analisis data yang dipergunakan yaitu ledak
analisis kualitatif, kuantitatif dan deskriptif. Berupa Kd = faktor koreksi terhadap posisi lapisan batuan
pengamatan dan melakukan perhitungan fragmentasi yang Ks = faktor koreksi terhadap struktur geologi
dihasilkan oleh peledakan. Adapun data yang akan diolah, setempat
yaitu : 2. Spacing (S)
1. Analisa geometri peledakan. Menentukan jarak spacing didasarkan pada
2. Analisa fragmentasi hasil peledakan dan faktor - jenis detonator listrik yang digunakan dan berapa
faktor yang mempengaruhi fragmentasi. besar perbandingan antara tinggi jenjang dan jarak
3. Analisa fragmentasi yang dihasilkan terhadap burden. Bila perbandingan antara H/B lebih kecil dari
kapasitas bucket. 4 maka digolongkan jenjang rendah dan lebih besar
4. Analisa jumlah muatan bucket terhdapat produktivitas dari 4 maka digolongkan jenjang tinggi (Tabel-1).
alat gali muat PC4000 class.
Tabel-1. Persamaan Untuk Menentukan Jarak Spacing
Tipe Detonator H/B<4 H/B>4
DASAR TEORI
Instanteneous S = (H + 2B)/3 S = 2B
Kegiatan peledakan yaitu suatu upaya pemberaian
Delay S = (H + 7B)/8 S = 1,4B
batuan dari batuan induk menggunakan bahan peledak.
Peledakan dapat dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan Sumber : Saptono, 2006 ; 73
baik itu positif maupun negatif seperti untuk memenuhi
tujuan politik, ideologi, keteknikan, industri dan lain-lain. 3. Stemming (T)
Suatu operasi peledakan dinyatakan berhasil dengan baik Stemming adalah lubang ledak bagian atas
pada kegiatan penambangan apabila : yang tidak diisi bahan peledak, tetapi biasanya diisi
1. Target produksi terpenuhi (dinyatakan dalam ton/hari oleh abu hasil pemboran atau material berukuran
atau ton/bulan). kerikil dan dipadatkan di atas bahan peledak.
2. Penggunaan bahan peledak efisien yang dinyatakan Rumus untuk Stemming, yaitu :
dalam jumlah batuan yang berhasil dibongkar per T = 0,7 x B (5)
kilogram bahan peledak (powder factor). Keterangan :
3. Diperoleh fragmentasi batuan berukuran merata T = stemming (ft)
dengan sedikit bongkah (kurang dari 15 % dari jumlah De = diameter lubang ledak (inchi)
batuan yang terbongkar per peledakan). St v = relative bulk strength
4. Diperoleh dinding batuan yang stabil dan rata (tidak SGr = berat jenis batu yang akan dibongkar (ton/m3)
ada overbreak, overhang, retakan-retakan). Ukuran material stemming yang optimal yaitu
5. Aman. material yang memiliki diameter rata-rata sekitar 0.05
6. Dampak terhadap lingkungan minimal. x diameter lubang ledak. Material harus menyudut
(Koesnaryo, 2001; 1-2) agar bekerja dengan tepat, jika bentuknya membulat
maka stemming tidak akan berfungsi dengan baik.
Geometri Peledakan C. J. Konya (1972) Rumus yang digunakan, antara lain :
1. Burden (B) SZ = 0,05 x De (6)
Secara sistematis besarnya burden dan Keterangan :
hubungannya dengan faktor-faktor tersebut SZ = ukuran material (inchi)
dinyatakan sebagai berikut : De = diameter lubang ledak (inchi)
0 , 33
 SGe  (Konya-Edward, 1990; 135-136)
B  3,15  De   
 SGr  (1) 4. Subdrilling (J)
  2  SGe   Subdrilling adalah lubang ledak yang dibor
B      1,50   De
  SGr   sampai melebihi batas lantai jenjang bagian bawah
(2)
supaya batuan dapat meledak secara fullpace dan
untuk menghindari kemungkinan adanya tonjolan- yang diledakkan dengan berat bahan peledak yang
tonjolan (toe) pada lantai jenjang lantai bagian bawah. digunakan, dapat dinyatakan dalam kg/bcm.
tambahan kedalaman dari lubang tembak di bawah PF = E
rencana lantai jenjang. Rumus yang dipakai untuk V (13)
mencari subdrilling, antara lain : Keterangan :
J = 0,3 x B (7) PF = powder factor (kg/bcm)
Keterangan : V = volume batuan yang diledakkan (bcm)
J = subdrilling (m) E = berat bahan peledak yang digunakan (kg)
B = burden (m) (Saptono, 2006; 71-75)
5. Tinggi Jenjang (H) Faktor Batuan
Secara praktis hubungan diantara kedalaman Pembobotan massa batuan yang berhubungan
lubang bor dengan ketinggian jenjang dapat dengan peledakan adalah pembobotan massa batuan
ditentukan persamaan, antara lain : berdasarkan nilai indeks peledakan dan parameter-
H=L–J (8) parameter untuk pembobotan tersebut meliputi deskripsi
Keterangan : massa batuan, spasi bidang kekar, orientasi bidang kekar,
H = tinggi jenjang (m) pengaruh specific gravity dan kekerasan (Tabel-2).
L = kedalaman lubang ledak (m)
Tabel-2. Pembobotan Massa Batuan untuk Peledakan
J = subdrilling (m)
6. Kedalaman lubang ledak (L) 1. Rock Mass Description (RMD) Pembobotan
Kedalaman lubang ledak tidak boleh lebih 1.1 Powder/friable 10
kecil dari ukuran burden untuk menghindari 1.2 Blocky 20
terjadinya overbreaks dan cratering. biasanya
1.3 Totally massive 50
ditentukan berdasarkan kapasitas produksi yang
diinginkan dan kapasitas dari alat muat. Untuk 2. Joint Plane Spacing (JPS) Pembobotan
menentukan kedalaman lubang ledak digunakan 2.1 Close (< 0,1m) 10
rumus, yaitu : 2.2 Intermediate (0,1 - 1,0 m) 20
L
H  J 
Sin  (9) 2.3 Wide (>1,0 m) 50
Keterangan : 3. Joint Plane Orientation (JPO) Pembobotan
L = kedalaman lubang ledak (m) 3.1 Horizontal 10
H = tinggi jenjang (m) 3.2 Dip out of face 20
J = subdrilling (m)
 = sudut kemiringan lubang ledak yang diinginkan 3.3 Strike normal to face 30
3.4 Dip into face 40
7. Powder Column (PC)
Powder column adalah panjang lubang isian 4. SpecificGravity Influence (SGI) SGI = (25 X bobot isi) - 50
pada lubang ledak yang akan diisi bahan peledak. 5. Hardness (H) 1-10
Rumus untuk menghitung besar powder column, Sumber : Hustrulid, 1999; 107
antara lain :
PC = L – T (10) Indeks peledakan diperoleh dari pembobotan
Keterangan : parameter tersebut, sehingga diperoleh persamaan untuk
PC = panjang Powder Colom (m) nilai indeks peledakan, antara lain :
L = kedalaman lubang ledak (m) Indeks Peledakan (BI) = 0.5 x (RMD+JPS+JPO+
T = stemming (m) SGI+H) (14)
8. Loading Density (de) Dari nilai indeks peledakan dapat diketahui faktor
Loading density adalah jumlah isian bahan batuan dengan persamaan, yaitu :
peledak per meter panjang kolom isian. Perhitungan Faktor Batuan (A) = BI x 0,12 (15)
jumlah loading density, yaitu :
de = 0,34 x (SG) x De2 (11) Memperkirakan Fragmentasi Batuan Dengan Metode
Keterangan : Kuz-Ram
de = loading density (kg/m) Fragmentasi batuan hasil peledakan sangat
De = diameter lubang ledak (inchi) dipengaruhi oleh faktor batuan dan bahan peledak yang
SG = berat jenis bahan peledak (gr/cc) digunakan. Kuznetsov membuat rumusan untuk
9. Jumlah bahan peledak dalam satu lubang ledak (E) memperkirakan fragmentasi batuan hasil peledakan, yaitu :
0 ,8 0 , 63
Jumlah bahan peledak adalah jumlah isian X = A  V  x Q0.17 x  E 
Q  
bahan peledak sepanjang kolom isian. Perhitungan    115  (16)
jumlah bahan peledak, yaitu : Keterangan :
E = PC x de (12) X = Ukuran rata – rata fragmentasi batuan (meter)
Keterangan : A = Faktor batuan
de = loading density (kg/m) 7 untuk batuan medium strength
PC = Panjang Powder Colom (m) 10 untuk batuan keras yang berjoint intensif
10. Powder Factor (PF) 13 untuk batuan keras dengan sedikit joint
Powder factor (PF) adalah suatu bilangan V = Volume batuan yang terbongkar (m3)
untuk menyatakan perbandingan antara berat batuan Q = Berat bahan peledak tiap lubang ledak (Kg)
E = Relatif Weight Strength tetapi lebih sering digunakan untuk pekerjaan umum
n =  2,2  14 B  x  W  x  1  A  x
0,5
 PC  lainnya. Pemilihan kapasitas bucket backhoe harus sesuai
  1       (17) dengan pekerjaan yang dilakukan.
 De   B  2   H 
Keterangan : Rumus yang dipakai untuk menghitung
n = indeks keseragaman produktivitas alat gali-muat, yaitu :
De = diameter isian (mm) 3600
Q  qK E (21)
B = burden (meter) CT
W = standar deviasi pemboran (meter) Keterangan :
S = spacing (meter) Q = Produktivitas alat gali muat (m3/jam)
PC = panjang isian (meter) q = Kapasitas bucket (m3)
H = tinggi jenjang (meter) K = Bucket fill factor
A = nisbah spacing dan burden E = Effisiensi kerja
Sedangkan untuk mengetahui distribusi ukuran CT = Cycle time (detik)
fragmentasi dipergunakan persamaan Cunningham yang
digabungkan dengan persamaan Kuznetsov, yaitu : Teori Perbandingan
Xc = x 1. Perbandingan Senilai
1 Misalkan terdapat dua besaran A = {a1, a2,
0,693 n (18) a3,...,an} B = {b1,b2, b3,...,bn} yang berkorespondensi
R =  x Xc  n satu-satu, maka A dan B disebut berbanding senilai.
e (19) Jika untuk ukuran A semakin besar maka ukuran B
Keterangan : semakin besar pula.
R = Bagian material yang tertahan pada ayakan (%) Adapun rumus perhitungan perbandingan
x = Ukuran ayakan (cm) senilai adalah sebagai berikut :
Xc = Karakteristik Ukuran (cm) a1 b1
n = Indeks keseragaman =
a2 b2
(Saptono, 2006; 76-77) 𝑏1
a1 = x a 2 (22)
𝑏2
2. Perbandingan Berbalik Nilai
Faktor Isian Bucket (Bucket Fill Factor)
Produktivitas alat muat sangat dipengaruhi oleh Misal terdapat dua besaran A = {a1, a2, a3,..., an}
material yang dimuatnya. Disini dikenal istilah faktor isian dan B = {b1, b2, b3,...,bn} yang berkorespondensi satu-
bucket yaitu perbandingan antara volume material nyata satu maka A dan B disebut berbalik nilai jika untuk
yang dimuat bucket dengan kapasitas munjung bucket ukuran A semakin besar tetapi B semakin kecil.
teoritis. Faktor isian bucket ini sebenarnya sangat Menyelesaikan perbandingan berbalik nilai.
dipengaruhi oleh karekteristik material yang digali, seperti Adapun rumus perhitungan perbandingan
tingkat kekerasan material, berat jenis material, bentuk berbalik nilai adalah sebagai berikut :
a1 b1
fragmentasi material setelah digaru atau diledakan, tinggi =
jenjang penggalian, serta kemampuan skill operator dalam a2 b2
𝑏2
mengoperasikan alat gali muat tersebut. Nilai bucket fill a1= x a2 (23)
𝑏1
factor untuk excavator tipe backhoe, sebagai berikut : (Putra, 2014; 8-9)
Tabel-3. Bucket Fill Factor
HASIL DAN PEMBAHASAN
Fill Factor Range
Material (percent of heaped Dari pengumpulan data dan hasil observasi di
bucket capacity) lapangan, data yang di dapat, sebagai berikut :
Moist Loam or Sandy Clay A (100-110%)
Sand and Gravel B (95-110%)
Hard, Tough Clay C (80-90%) Problem Operasional
Rock-Well Blasted 60-75% Problem operasional berupa catatan problem dari
Rock-Poorly Blasted 40-50% laporan operator alat gali muat jika terdapat kendala di
Sumber : Maulana, 2010; 9 lapangan yang menyebabkan tidak tercapainya target
produksi alat gali muat tiap jam. Dalam penellitian ini,
Faktor isian bucket alat muat (Ff) dapat catatan problem operasional yang digunakan hanya tentang
dinyatakan sebagai perbandingan volume nyata (Vn) laporan material blasting berukuran boulder.
dengan volume munjung teoritis (Vt), seperti yang
dinyatakan dalam persamaan berikut : Geometri Peledakan
Vn
BFF  x100% Geometri peledakan menjadi parameter yang
Vt (20) sangat penting untuk menentukan tingkat fragmentasi yang
Keterangan : didapat. Apabila tingkat fragmentasi masih belum sesuai
BFF = Bucket Fill Faktor (%) dengan hasil yang diharapkan, maka dapat diperbaiki
Vn = Volume nyata bucket (m3) dengan mengubah geometri peledakan hingga diperoleh
Vt = Volume munjung bucket teoritis (m3) tingkat fragmentasi yang diharapkan. PT. Saptaindra Sejati
menetapakan diameter lubang ledak dan subdrilling
Produktivitas Alat Gali Muat sebesar 7.875 inch dan 1 meter. Geometri masing-masing
Backhoe terdiri dari alat penggerak yang dapat lokasi peledakan yang terdapat laporan masalah material
berupa crawler atau ban, boom, stick dan bucket. Backhoe boulder, dikelompokan berdasarkan burden dan spasi
beroda ban biasanya tidak digunakan untuk penggalian dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel-4. Geometri Peledakan menggali maka produktivitas yang dihasilkan akan
Geometri Peledakan 7x8 8x9 9 x 10 semakin rendah dan demikian sebaliknya.
Diameter Lubang Ledak
7.875 7.875 7.875 Faktor Batuan
(mm)
Burden (m) 7 8 9 Peledakan berhubungan dengan suatu nilai yang
disebut dengan Indeks Kemampuledakan (Blastability
Spasi (m) 8 9 10
Index) yang berdasarkan faktor batuan (Rock Factor).
Subdrilling (m) 1 1 1 Nilai dari Blastability Index dan Rock Factor dapat
Stemming (m) 3.6 3.6 - 4.4 3.6 - 4.4 ditentukan dengan pembobotan beberapa parameter, yaitu
Rock Mass Description (RMD), Joint Plane Spacing
Kedalaman Lubang (m) 10 9 – 11 9 - 11 (JPS), Joint Plane Orientation (JPO), Specific Grafity
Tinggi Jenjang (m) 9 8 - 10 8 - 10 Influence (SGI) dan Hardness (H).
Panjang Kolom Isian (m) 5.4 5.4 - 6.6 5.4 - 6.6
Perhitungan Fragmen Batuan Hasil Peledakan dan
130.95 - 130.95 -
Isian Bahan Peledak (Kg) 130.95 Persentase Boulder
160.05 160.05
Powder Factor (kg/m3) 0.29 0.22 - 0.23 0.18
Ukuran fragmen batuan teoritis dihitung dengan
menggunakan metode Kuz-Ram berdasarkan dari data-
data geometri peledakan, diameter lubang ledak, jumlah
Densitas Overburden penggunaan bahan peledak, volume batuan yang
Densitas overburden di area Pit North diperoleh terbongkar dan faktor batuan pada lokasi peledakan serta
dari hasil pengujian di laboratorium Geoteknik PT. Adaro adanya nisbah spasi burden. Dari salah satu contoh hasil
Indonesia. Dari 8 sampel terdapat 5 jenis batuan yang perhitungan didapatkan ukuran fragmen batuan rata-rata
berbeda yaitu silty clay, sandy silt, sandy gravelly clay, sebesar 58,22 cm. Fragmen batuan tidak baik atau yang
sandy clayey silt dan sand. Densitas material masing- dikatakan sebagai boulder pada penelitian ini diambil dari
masing lokasi peledakan dihitung dengan menentukan titik ukuran bongkah sebesar ≥ 80 cm berdasarkan ketetapan
perpotongan koordinat easting dan northing dari peta dari perusahaan.
persebaran batuan Pit North.
Bucket Fill Factor Alat Gali Muat
Payload Bucket Alat Gali Muat PC4000 Class Bucket fill factor alat gali muat diketahui dari
Payload bucket adalah berat total nyata material pengolahan data tonase payload meter pada alat angkut,
yang dimuat bucket alat gali muat ke dalam vessel alat dimana data ini diperlukan untuk menganalisa fragmentasi
angkut, dinyatakan dalam satuan ton. Dari data payload hasil peledakan terhadap geometri peledakan yang
bucket ini dapat diketahui kemampuan suatu alat gali muat digunakan.
berproduksi atau untuk memindahkan material. Data
payload bucket dapat digunakan untuk mengetahui nilai Perhitungan Produktivitas Alat Gali Muat
bucket fill factor alat gali muat yang kemudian digunakan Dari data produksi dan waktu edar (cycle time)
untuk menganalisa fragmentasi hasil peledakan terhadap alat gali muat yang didapat, kemudian dapat diketahui
geometri peledakan yang digunakan. nilai produktivitas alat gali muat tersebut. Nilai
produktivitas menunjukkan kemampuan produksi alat gali
Digging Time Alat Gali Muat muat tersebut untuk menggali dan memuat volume
Keberhasilan kegiatan peledakan dapat juga material overburden hasil peledakan dalam satu siklus
ditinjau dari kemudahan alat gali muat saat melakukan waktu kerja total, dinyatakan dalam BCM/jam. Data
digging (penggalian). Digging time merupakan waktu produksi yang didapat (dalam satuan ton) terlebih dahulu
yang diperlukan untuk menggali material hasil peledakan. dikonversi ke satuan BCM dengan mengalikan masing-
Digging time merupakan parameter untuk memberikan masing densitasnya.
penilaian terhadap kinerja alat gali muat terhadap ukuran
fragmen hasil peledakan. Selama pengamatan, alat gali Perhitungan Digging Rate Alat Gali Muat
muat yang bekerja terdiri dari tipe Liebherr R9400, PC Selain nilai produktivitas alat gali muat, untuk
Komatsu 4000-6 dan EX Hitachi 3600-6 dengan kapasitas menunjukkan kemampuan produksi alat gali muat tersebut
bucket 22 m3. juga dapat dihitung dari nilai digging rate. Satuan yang
digunakan sama dengan produktivitas yaitu BCM/jam,
Cycle Time Alat Gali Muat bedanya hanya pada catatan waktu yang digunakan
Semakin optimal ukuran fragmen batuan hasil sebagai pembanding. Jika produktivitas menggunakan
peledakan, maka akan semakin mudah alat gali muat total waktu edar (cycle time), perhitungan digging rate
tersebut dalam menggalinya. Kemudahan menggali ini menggunakan salah satu dari siklus waktu kerja alat gali
dapat mempengaruhi nilai cycle time alat gali muat, karena muat yaitu total waktu penggalian (digging time).
untuk memuat fragmen batuan hasil peledakan ke dalam
bucket alat gali muat akan semakin cepat. Sedangkan
PEMBAHASAN
sebaliknya jika hasil fragmen batuan yang dihasilkan
berukuran besar maka alat gali muat tidak bekerja dengan Analisa Hubungan Geometri Peledakan Terhadap
optimal karena akan memperlama waktu dalan penggalian Nilai Densitas Material dan Persentase Boulder
serta bucket alat gali muat tidak terisi secara sempurna. Pada Gambar-1. berikut menyajikan
Cycle time berhubungan dengan produktivitas alat gali perbandingan hubungan antara geometri peledakan
muat. Semakin lama cycle time alat gali muat dalam terhadap nilai densitas material dan persentase boulder
yang dihasilkan.
Dari gambar grafik di atas dapat disimpulkan
bahwa semakin besar geometri peledakan dan persentase
material boulder keras yang dihasilkan maka terjadi trend
penurunan kemapuan lamanya waktu menggali digging
time. Jadi untuk memperoleh lamanya waktu penggalian
yang optimal maka diperlukan persentase material boulder
keras yang rendah.

Gambar-1. Grafik Perbandingan Geometri Peledakan Analisa Hubungan Geometri Peledakan Terhadap
Terhadap Nilai Densitas Material dan Nilai Digging Time dan Digging Rate
Persentase Boulder Pada Gambar-4. berikut menyajikan
Dari gambar grafik di atas dapat diketahui perbandingan antara geometri peledaka terhadap nilai
semakin besar geometri peledakan dan nilai densitas digging time dan digging rate.
material di lapangan, maka akan terjadi trend peningkatan
nilai persentase material boulder yang dihasilkan. Jadi,
untuk mengurangi jumlah material boulder pada kondisi
densitas material tinggi maka perlu dilakukan perubahan
dalam rancangan geometri peledakan.

Analisa Hubungan Geometri Peledakan Terhadap


Powder Factor dan Persentase Boulder
Pada Gambar-2. berikut menyajikan Gambar-4. Grafik Perbandingan GeometrI Peledakan
perbandingan hubungan antara geometri peledakan Terhadap Nilai Digging Time dan
terhadap angka powder factor dan persentase boulder yang Digging Rate
dihasilkan. Seperti pada gambar grafik di atas, terjadi trend
penurunan nilai digging rate ketika ada peningkatan
lamanya waktu menggali (digging time). Lamanya waktu
digging saat ada indikasi kesulitan dalam menggali
material overburden loose hasil peledakan akan
menurunkan kemampuan penggalian material alat gali
muat dalam tiap jamnya. Dengan demikian untuk
memperoleh lamanya waktu penggalian yang optimal
maka diperlukan kemampuan penggalian yang mudah
Gambar-2. Grafik Perbandingan Geometri Peledakan (nilai digging rate rendah).
Terhadap Powder Factor dan Persentase
Boulder Analisa Hubungan Geometri Peledakan Terhadap
Dari gambar grafik di atas dapat diketahui Nilai Digging Time dan Jumlah Passing
semakin besar geometri peledakan dan semakin kecil Pada Gambar-5. berikut menyajikan
angka powder factor yang digunakan, maka akan terjadi perbandingan antara geometri peledaka terhadap nilai
trend peningkatan nilai persentase material boulder yang digging time dan jumlah passing.
dihasilkan. Dengan demikian untuk mengurangi jumlah
material boulder pada kondisi densitas material tinggi
maka perlu dilakukan perubahan (penambahan) nilai
powder factor dalam rancangan geometri peledakan.

Analisa Hubungan Geometri Peledakan Terhadap


Persentase Boulder dan Digging Time
Pada Gambar-3. berikut menyajikan
perbandingan antara geometri peledakan terhadap Gambar-5. Grafik Perbandingan GeometrI Peledakan
persentase boulder dan digging time. Terhadap Nilai Digging Time dan Jumlah
Passing
Dari gambar grafik di atas dapat disimpulkan
bahwa semakin besar geometri peledakan dan nilai
digging time maka terjadi trend peningkatan jumlah
passing bucket alat gali muat. Jadi, meningkatnya waktu
digging akan berpengaruh pada jumlah passing bucket.

Analisa Hubungan Geometri Peledakan Terhadap


Gambar-3. Grafik Perbandingan Geometri Peledakan Persentase Boulder dan Bucket Fill Factor
Terhadap Persentase Boulder dan Digging Time Pada Gambar-6. berikut menyajikan
perbandingan antara geometri peledakan terhadap nilai
persentase boulder dan nilai bucket fill factor.
4. Peningkatan persentase boulder dan digging time alat
gali muat yang rendah (kurang optimal) dapat
menurunkan persentase bucket fill factor.
5. Peningkatan produktivitas alat gali muat dengan cara
memperkecil persentase boulder (≥ 80 cm),
mengoptimalkan waktu menggali dan memperoleh
bucket fill factor sebesar 70% - 100%..
6. Aspek teknik peledakan harus sangat diperhatikan
Gambar-6. Grafik Perbandingan Geometri Peledakan yaitu prepare lokasi yang optimal karena hal ini dapat
Terhadap Persentase Boulder dan Nilai BFF menyebabkan deviasi-deviasi, antara lain deviasi titik
Dari gambar grafik di atas dapat disimpulkan bor, deviasi arah pemboran dan deviasi pengisian
bahwa semakin besar geometri peledakan dan persentase handak per lubang karena secara aktual di lapangan
material boulder maka terjadi trend penurunan nilai handak banyak terbuang atau tidak masuk ke dalam
bucket fill factor alat gali muat. Dengan demikian untuk lubang akibat lokasi yang tidak rata sehingga MMU
memperoleh nilai bucket fill factor yang besar maka tidak leluasa dalam pengisian handak, sehingga ada
diperlukan persentase material boulder rendah. pengurangan jumlah handak pada isian lubang
tersebut yang mengakibatkan berkurangnya kekuatan
Analisa Hubungan Nilai BFF Terhadap Nilai dari hasil peledakan tersebut untuk menghancurkan
Produktivitas batuan.
Pada Gambar-7. berikut menyajikan
perbandingan nilai BFF terhadap nilai produktivitas alat Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Fragmentasi Hasil
gali muat. Peledakan
Adapun faktor-faktor teknis di lapangan yang
dapat mempengaruhi fragmentasi hasil peledakan, antara
lain :
1. Geometri Peledakan
Penentuan geometri peledakan yang tepat
sangat berpengaruh untuk mendapatkan ukuran
fragmen batuan yang baik, dimana persentase boulder
(≥ 80 cm) yang ditetapkan perusahaan kurang dari
20%. Dari hasil penelitian, geometri peledakan yang
Gambar-7. Grafik Perbandingan Nilai BFF Terhadap diterapkan masih belum dapat memberikan hasil yang
Nilai Produktivitas optimal, sehingga perlu dilakukan perbaikan agar
Seperti pada gambar grafik di atas cenderung memperoleh hasil yang diharapkan.
terjadi trend peningkatan nilai produktivitas ketika ada 2. Pemakaian Bahan Peledak
peningkatan nilai bucket fill factor. Nilai BFF yang kecil Pemakaian bahan peledak juga merupakan
(volume muatan bucket tidak standar) akan menurunkan salah satu parameter yang mempengaruhi hasil
kemampuan produksi alat gali muat dalam tiap jamnya. peledakan. Namun pada penelitian ini jumlah bahan
Dengan demikian untuk memperoleh hasil produktivitas peledak tiap lokasi berbeda tergantung dari desain
standar (1470 BCM/jam) maka diperlukan nilai bucket fill geometri peledakan yang digunakan. Bahan peledak
factor minimal 70%. yang digunakan adalah jenis emulsi dengan densitas
bahan peledak 1,15 gr/cm3. Jumlah PF maksimal yang
Evaluasi digunakan oleh perusahaan sebesar 0,30 kg/bcm.
Berdasarkan pengolahan data dan analisa data 3. Struktur dan Densitas Batuan
yang dilakukan, maka ada beberapa evaluasi dapat Secara umum kondisi massa batuan di pit
diberikan, yaitu : North PT. Saptaindra Sejati Jobsite ADMO
1. Selama penelitian berlangsung, ada 15 lokasi merupakan batuan dengan densitas tinggi. Densitas
peledakan yang belum optimalnya rancangan batuan yang tinggi dapat menyebabkan perambatan
geometri peledakan terhadap perbedaan kondisi nilai energi peledakan yang berupa tekanan gas tidak
densitas batuan di lapangan. maksimal. Akibatnya energi peledakan yang terpakai
2. Berdasarkan data dan hasil perhitungan didapat nilai untuk memecahkan batuan tidak sempurna.
rata-rata persentase boulder ≥ 80 cm sebesar 36.35%,
nilai bucket fill factor sebesar 60.51%, digging time Simulasi Rekomendasi Geometri Peledakan
sebesar 15.16 detik dan produktivitas sebesar 996.73 Berikut rekomendasi peledakan untuk
BCM/Jam, maka secara keseluruhan tidak memenuhi memperoleh hasil peledakan yang optimal dapat dilihat
target perusahaan (persentase boulder ≥ 80 cm lebih pada Tabel-6. berikut :
dari 20%, bucket fill factor kurang dari 70% dan
produktivitas kurang 1470 BCM/Jam), artinya masih
memerlukan perbaikan dalam hal geometri peledakan.
3. Geometri yang semakin besar dan powder factor yang
kurang optimum akan meningkatkan persentase
boulder.
Tabel-5. Simulasi Rekomendasi Geometri Peledakan 996,73 BCM/Jam. Sehingga pada 15 lokasi tersebut
Geometri Peledakan Nilai masih perlu perbaikan dari segi geometri yang
digunakan.
Diameter Lubang Ledak (mm) 7.875
1. Simulasi rancangan geometri peledakan optimum
Burden (m) 7 yang direkomendasikan, pada pit North Tutupan
Spasi (m) 9 sesuai dengan toleransi adanya ukuran fragmen (≥ 80
cm) sebesar ≤ 20 %, digging time ≤ 12 detik, bucket
Kedalaman Lubang (m) 14.1 fill factor ≥ 70% dan produktivitas ≥ 1470 BCM/Jam.
Tinggi Jenjang (m) 12 Adapun rancangan geometri peledakan tersebut
Subdrilling (m) 2.1
adalah adalah diameter lubang ledak 7,875 inchi,
burden 7 m, spasi 9 m, tinggi jenjang 12 m,
Stemming (m) 4.9 kedalaman lubang ledak 14,1 m, panjang kolom isian
Panjang Kolom Isian (m) 9.2 bahan peledak 9,2 m, panjang stemming 4,9 m,
Loading Density (kg/m) 24.25
subdrilling 2,1 m dengan PF sebesar 0,295 Kg/m3.

Powder Factor (kg/m ) 3


0.295 SARAN
Jenis Handak Emulsi
Adapun saran yang dapat penulis sampaikan adalah
sebagai berikut :
1. Pengoptimalan penggunaan bahan peledak dengan
Berdasarkan hasil simulasi rancangan geometri menambah panjang kolom isian bahan peledak.
peledakan diprediksikan persentase toleransi adanya 2. Saat pengisian stemming usahakan menggunakan
boulder (≥ 80 cm) sebesar 19,07%, bucket fill factor temper atau alat pemadat untuk memadatkan material
sebesar 115.34%, digging time selama 7.95 detik dan penutup, hal ini perlu dilakukan karena energi
produktivitas sebesar 2436 BCM/Jam pada penggunaan peledakan yang dihasilkan maksimal jika bahan
PF minimum sebesar 0,295 Kg/m3 peledak dalam keadaan terkurung dengan baik.
Agar rancangan geometri peledakan ini sesuai 3. Saat prepare lokasi diusahakan lokasi dalam keadaan
penerapannya dilapangan, perlu adanya perbaikan dalam rata agar hasil peledakan lebih optimal lagi dan hasil
kegiatan penitikan lubang bor. Jika diamati di lapangan, peledakan tidak menimbulkan tonjolan atau
penentuan burden dan spasi yang masih menggunakan permukaan bergelombang karena dapat menyebabkan
metode tali segitiga sangat berperan besar terjadinya ketidaktepatan titik bor dan arah pemboran. Jadi
deviasi. Perlu dilakukan penitikan (stake out) dengan GPS perlunya pengoptimalisasi alat support (bulldozer).
agar hasilnya lebih akurat. Metode preparasi lokasi
pemboran pun perlu dipastikan terlaksana sudah sesuai DAFTAR PUSTAKA
prosedur, agar alat bor bisa diposisi yang benar-benar
tegak lurus titik bor. [1] Hustrulid, W. 1999. Blasting Principles for Open Pit
Mining Volume 1-General Design Concepts. A.A.
Balkemea, Rotterdam, Brookfield. P. 107.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan [2] Koesnaryo, S. 2001. Design Of Rock Blasting.
mengenai distribusi ukuran material hasil peledakan pada Teknik Pertambangan. Universitas Pembangunan
PT. Saptaindra Sejati, maka dapat ditarik beberapa Nasional Veteran Yogyakarta. Hal. 1-2.
kesimpulan, antara lain :
1. Geometri yang digunakan pada PT. Saptaindra Sejati [3] Konya, C.J and Edward J.W. 1990. Surface Blast
masih belum optimal sesuai dengan kondisi nilai Design. Pren126tice Hall, Engle Wood Cliffs, New
densitas material di area pit North. Geometri yang Jersey. P. 135-136.
digunakan yaitu burden 7 sampai 9 meter, spasi 8
sampai 10 meter dengan kedalaman lubang yang [4] Maulana, T,O,. 2010, Kajian Teknis Produktivitas
bervariasi antara 8 sampai 13 meter. Alat Gali Muat dan Alat Angkut Pada Kegiatan
2. Peledakan pada 15 lokasi pada saat penelitian belum Pengupasan Material Tanah Penutup (Overburden)
memenuhi target karena dihasilkan fragmentasi PT. Darma Henwa, Tbk Site Asam-asam Kec. Jorong
boulder (≥ 80 cm) rata-rata sebesar 36,35%. Faktor- Kab. Tanah Laut, Kalimantan Selatan, Teknik
faktor teknis yang mempengaruhi fragmentasi hasil Pertambangan Universitas Lambung Mangkurat,
peledakan adalah perlakuan yang sama terhadap Banjarbaru. Hal. 9.
perbedaan densitas di tiap lokasi peledakan sehingga
menimbulkan boulder pada lokasi yang memiliki [5] Prodjosumarto, P., 1993. Pemindahan Tanah
densitas tinggi. Prepare lokasi yang tidak maksimal Mekanis. Departemen Tambang Institut Teknologi
sehingga menyebabkan deviasi-deviasi, antara lain Bandung, Bandung. Hal. 186-187.
deviasi titik bor, deviasi arah pemboran dan deviasi
pengisian jumlah bahan peledak per lubang, serta [6] Putra, Agung Dwi. 2014. Modul Pembelajaran
penggunaan temper saat pemadatan material Matematika Tentang Perbandingan. Hal. 8-9.
stemming tidak maksimal.
3. Dari pengamatan di lapangan dan analisa hasil [7] Saptono, Singgih. 2006. Teknik Peledakan. Teknik
perhitungan didapat nilai digging time rata-rata Pertambangan : Universitas Pembangunan Nasional
sebesar 15.16 detik, nilai bucket fill factor rata-rata Veteran Yogyakarta. Hal. 14, 71-77.
sebesar 60,51% serta produktivitas rata-rata sebesar