Anda di halaman 1dari 2

Miopati |1

BAB I

PENDAHULUAN

Otot serat lintang membangun konstruksi utama untuk lokomosi. Pada orang
dewasa dikatakan mempunyai berat 40% dari berat badan total. Otot ini seperti juga
bagian tubuh yang lain dapat mengalami gangguan atau kelainan. Pada keluhan-
keluhan seperti kelemahan otot atau kelelahan, nyeri, kaku, spasme, massa otot
berkurang (otot mengecil) harus dipikirkan suatu miopati. Paling sering keluhan yang
diutarakan pasien adalah kelemahan otot.

Untuk membedakan antara kelelahan dan kelemahan otot, pasien harus


dievaluasi kemampuan ototnya dengan menjalankan berbagai aktivitas sehar-hari
seperti berjalan, berlari, naik tangga, bangun dari posisi duduk, berjongkok, berlutut,
membungkuk, dsb. Kesulitan untuk melakukan kegiatan tersebut lebih merujuk pada
kemungkinan adanya kelemahan otot daripada kelelahan. Demikian pula bila
seseorang sulit melakukan kegiatan tangan dengan posisi lengan lebih tinggi dari
bahu.

Penyakit otot disebut myopathy (miopati). Miopati adalah sekelompok


kelainan yang ditandai oleh kerusakan struktural atau fungsional utama dari otot
rangka yang biasanya mempengaruhi otot tanpa melibatkan system saraf, berakibat
pada kelemahan otot.

Menurut terminologi kedokteran miopati merupakan penyakit neuromuskuler


dimana serat-serat otot tidak berfungsi sebagaimana mestinya, ditandai dengan
terjadinya kelemahan otot. Secara sederhana miopati diartikan sebagai penyakit otot
(dalam bahasa Yunani mio=otot, sementara pati=menderita). Artinya kelainan
primernya terjadi pada otot, bukan pada saraf (neuropati atau gangguan neurogenik)
atau yang lain (otak dan sebagainya).
Dalam praktek sehari-hari miopati ini relatif jarang dijumpai. Akan tetapi
pengetahuan mengenai penyakit ini tetap penting, sebab penegakan diagnosa yang
benar akan berkaitan dengan manajemen yang benar, khususnya untuk miopati ini
ditekankan pada terapi simtomatik termasuk disini fisioterapi, edukasi dan
pencapaian kwalitas hidup yang optimal. Oleh karena itu, evaluasi komprehensif
setiap pasien harus mencakup pemeriksaan menyeluruh dan kombinasi penelitian
laboratorium, radiologis, elektrodiagnostik dan patologis yang memadai. Sejalan
dengan berkembangnya ilmu biomolekuler dan genetika bahkan mungkin disamping
genetik konseling untuk mencegah keturunan dengan penyakit ini juga dapat
diberikan terapi gen.