Anda di halaman 1dari 9

SOAL

1. Nama alat, gambar, prinsip kerja alat(semua, lebih baik kalau


ditambahkan).
2. Pilih salah satu metode yang digunakan untuk mengukur histamin(pada
pangan), cari dijurnal(lebih diutamakan jurnal Internasional): tulis
prosedur kerjanya, tulis hasilnya, tulis referensinya, tidak boleh sama.

JAWABAN:

a) METODE FLUOROMETRI
Nama Alat : fluorometer penyaring dan spektrofluorometer.
Gambar Alat :

Prinsip Kerja Alat :

Pada fluorometri, larutan zat disinari dengan sinar panjang


gelombangnya disekitar panjang gelombang maksimum penyerapan
maksimum yang berasal dari lampu raksa atau lampu pijar yang telah
disekat dengan filter. Intensitas diukur atau dibandingkan dengan
intensitas larutan baku. Sinar fluoresensi dibebaskan dari sinar hamburan
dengan melewatkan sinar melalui filter atau monokromator. Cara pengukuran
pada dasarnya sama dengan cara spektrofotometri, karena zat organik yang
berfluorosensi mungkin terurai secara fotokimia, penyinaran harus dilakukan
sesingkat mungkin. Oleh karena daerah dimana intensitas fluorosensi
sebanding dengan kadar umumnya sangat sempit, maka perbandingan (c - d) /
(a - b) tidak boleh kurang dari 0,40 dan tidak boleh lebih dari 2,50.

b) METODE SPEKTROFLUOMETRI
Nama Alat : Perkin Elemer LS 45
Gambar Alat :

Alat Spectrolorometri, Perkin Elemer LS 45


Prinsip Kerja Alat :
Histamin diekstrak dari jaringan daging contoh menggunakan
methanol dan sekaligus mengkonversi histamine ke dalam bentuk OH. Zat –
zat histamine selanjutnya dimurnikan melalui resin penukar ion dan diubah ke
bentuk derivatnya dengan senyawa OPT. Besarnya fluorosensi histamine
diukur secra flurometri pada panjang gelombang eksitasi 350 nm dan emisi
444 nm.
c) METODE ENZYME-LINKED IMMUNODORBENT
ASSAY(ELISA)
Nama Alat :
Alat yang digunakan pada metode enzyme-linked immunosorbent
assay(ELISA) yaitu: 96-Wells Microplate, Micropipettes, Multichannel
pipette.
Gambar Alat :

 Micropipettes

Prinsip Kerja Alat :

Alat yang digunakan pada metode ini adalah Micropipettes dengan


prinsip kerja untuk memindahkan cairan dalam jumlah kecil secara akurat.
Sehingga pada pemindahan cairan dengan volume kecil kurang dari 1000
microliter.
d) Kalorimetri
Nama Alat : Termodinamika
Gambar Alat :
Prinsip Kerja Alat :
Prinsip kerja dari kalorimeter adalah mengalirkan arus listrik pada
kumparan kawat penghantar yang dimasukan ke dalam air suling. Pada
waktu bergerak dalam kawat penghantar (akibat perbedaan potenial)
pembawa muatan bertumbukan dengan atom logam dan kehilangan energi.
Akibatnya pembawa muatan bertumbukan dengan kecepatan konstan yang
sebanding dengan kuat medan listriknya. Tumbukan oleh pembawa muatan
akan menyebabkan logam yang dialiri arus listrik memperoleh energi yaitu
energi kalor / panas.
e) METODE KROMATOGRAFI CAIR KINERJA TINGGI(HPLC)
Nama Alat : LC-600A
Gambar Alat :
Prinsip Kerja Alat :
prinsipnya kerja HPLC adalah pemisahan analit-analit berdasarkan
kepolarannya, alatnya terdiri dari kolom (sebagai fasa diam) dan larutan
tertentu sebagai fasa geraknya. Yang paling membedakan HPLC dengan
kromatografi lainnya adalah pada HPLC digunakan tekanan tinggi untuk
mendorong fasa gerak. Campuran analit akan terpisah berdasarkan
kepolarannya, dan kecepatannya untuk sampai ke detektor (waktu
retensinya) akan berbeda, hal ini akan teramati pada spektrum yang
puncak-puncaknya terpisah.

2. Judul : identifikasi kadar histamin dan bakteri pembentuk histamin


dari pindang badeng tongkol
Analisis spektrofluometri histamine
Histamin ditentukan dengan metode spektrofluometri
menggunakan alat spektrofluorometer tipe Varian Cary Eclipse
FL0811M007, analisis TVB adalah metode conway, Total Plate Count
(TPC) dan analisis bakteri penghasil histamin dengan media Niven adalah
laminar, incubator Dumedpower tipe DIC-104-S, autoklaf GEA/ SMIC
Type LSB 35 L.

 Prosedur kerja :
 Menyiapkan Ikan tongkol segar (A. rochei) dengan panjang 25–30cm dan
berat 150–170g per ekor.
 mengolahan ikan pindang badeng tongkol (menyusun ikan di dalam wadah
yang terbuat dari pelat logam.
 Menaburkan garam kering pada setiap lapisan ikan kemudian melakukan
perebusan) dan
 melakukan penyimpanan yang berbeda serta melakukan pengujian secara
organoleptik, TVB, histamin, TPC dan identifikasi bakteri-bakteri
pembentuk histamin serta menentukan kadar histamin dari bakteri tersebut.
 Hasil
Hasil analisis menunjukkan bahwa lama penyimpanan ikan
pindang tongkol mengakibatkan perubahan nilai penerimaan. Hasil
menunjukkan adanya perbedaan yang nyata pada parameter penampakan,
warna, aroma, tekstur dan rasa akan tetapi menunjukkan tidak adanya
perbedaan nyata pada parameter penampakan dan tekstur pada jam ke-0
dan jam ke-8. Menurut Ariyani et al. (2007), ikan kukus pada
penyimpanan jam ke-12 nilai penrimaan konsumen masih diatas nilai 5.
Suliantari et al. (1994) menjelaskan bahwa olahan ikan yang disimpan
selama 24 jam telah memungkinkan tumbuh jamur. Mutu organoleptic
selama penyimpanan dicantumkan dalam Gambar 1.

Gambar 2. Kadar histamin ikan pindang terhadap lama penyimpanan yang


berbeda. Huruf yang sama pada setiap tahap perlakuan menunjukkan tidak
berbeda nyata (p>0,05).
Gambar 5. Perubahan warna medium dari kuning menjadi merah jambu pada
medium Niventermodifikasi oleh koloni bakteri pembentuk histamin A (tanpa
bakteri) B (bakteri telah tumbuh)

Identifikasi Bakteri Pembentuk Histamin

Hasil identifikasi awal menunjukkan bahwa semua bakteri yang diuji


mempunyai kemampuan membentuk histamin, hal tersebut dapat diketahui dari
perubahan warna medium Niven dari warna kuning menjadi merah jambu atau
pink sebagaimana tercantum pada Gambar 5.
Tabel 1 Hasil identifikasi bakteri pembentuk histamin
Tabel 2 Kadar histamin bakteri pindang ikan tongkol (A. rochei)
DAFTAR PUSTAKA

Fatuni et al.2014.Identifikasi Kadar Histamin dan Bakteri Pembentuk Histamin


dari Pindang Badeng Tongkol. Volume 17 Nomor 2.