Anda di halaman 1dari 17

DASAR-DASAR TAMBANG TERBUKA

BAB 4
PERSIAPAN TAMBANG TERBUKA
(SURFACE MINE DEVELOPMENT)

Persiapan tambang adalah pekerjaan yang dilakukan untuk menyingkap endapan


mineral untuk siap ditambang. Proses yang termasuk di sini adalah semua tahapan
yang diperlukan untuk suatu tambang menuju ke penjadwalan produksi yang lengkap,
antara lain perencanaan, perancangan, kontruksi dan lain-lain.

Persiapan tambang umumnya mengikuti studi kelayakan pada tahap I dan II yang
dikembangkan sejauh mungkin dan informasi yang lebih baik tersedia selama
tetahapan dari proyek tersebut.

Dari sudut pandang pembukaan tambang, sifat utama persiapan adalah melengkapi
jalan menuju ke endapan bijih yang memungkinkan para pekerja, peralatan, power
supply, air dan udara dalam tambang.

Faktor-faktor yang mempengaruhi pekerjaan persiapan tambang antara lain ;


1. Faktor lokasi dan iklim
2. Faktor geologi dan alamiah
 Tanah dan topografi
 Relasi spasial (ukuran, bentuk, attitude, dll.
 Konsiderasi geologi ; mineralogi, petrografi, struktur, genesa, badan
bijih, gradien temperatur batuan, kehadiran air dll.
 Sifat mekanika batuan ; kekuatan, modulus elastik, kekerasan,
abrasivitas, dll.
 Sifat kimia dan metallurgi (akibat penyimpanan, proses, dll)
3. Faktor sosial – ekonomi – politik – lingkungan
Sangat tergantung pada faktor luar, antara lain;
 Demografi dan ketrampilan penduduk setempat
 Finansial dan pemasaran
 Kestabilan politik setempat
 Peraturan polusi
 Batuan pemerintahan yang lain

Tahapan Persiapan Tambang


1. Adopsi dan laporan studi kelayakan sebagai dokumen perencanaan, subjek ke
modifikasi sebagai kemajuan pengembangan.
2. Konfirmasi dari metode penambangan dan rencana penambangan umum.
3. Pengaturan finansial yang berdasarkan pada estimasi biaya yang telah
dikonfirmasikan pada laporan studi kelayakan.

Bab 4. Surface Mining Development, hal. 22


DASAR-DASAR TAMBANG TERBUKA

4. Pengumpulan data tanah, termasuk undang-undang pertambangan dan


permukaan.
5. Pengarsipan pernyataan dampak lingkungan, mendapatkan ijin penambangan
(termasuk rencana reklamasi).
6. Melengkapi jalan-jalan permukaan, transportasi, komunikasi dan power supply
ke tambang.
7. Perencanaan dan konstruksi pabrik, termasuk fasilitas pendukung, pelayanan
dan kontrol administrasi.
8. Pendirian pabrik pengelohan mineral, jika diperlukan dan penanganan bijih dan
fasilitas perkapalan, penimbunan dan pembuangan waste.
9. Pemilihan peralatan penambangan untuk persiapan eksploitasi.
10. Konstruksi dan bukaan jalan utama ke badan bijih dan bukaan selanjutnya ;
pengupasan tanah lanjutan (advanced stripping).
11. Pengadaan tenaga kerja dan pelatihan tenaga kerja dan pelayanan pendukung
(perumahan, transportasi, gudang yang diperlukan).

Tabel 4.1
Diagram Penjadwalan untuk Tambang Terbuka (Petty,1981)
Tahun
Tahapan Kegiatan
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11
1 dan 2 Propecting / Eksplorasi
Geologi
Pemboran pendahuluan
Survei dan ijin lingkungan
Uji jenjang metallurgi
Studi Kelayakan
Geologi
Pemboran konfirmasi
Jalan / akses ke deposit
Sampel curah (bulk samling)
Uji metallurgi dan desain flow sheet
Studi teknik dan ekonomi
Survei ijin dan kontrol lingkungan
Administrasi dan penunjang
3 Pembangunan dan Kontruksi
Desain dan rekayasa
Konstruksi fasilitas di permukaan
Pengupasan pra produksi
Kontrol lingkungan
Administrasi dan penunjang

Bab 4. Surface Mining Development, hal. 23


DASAR-DASAR TAMBANG TERBUKA

4.1 RUANG LINGKUP


Beberapa faktor pada persiapan tambang harus mendapat perhatian khusus di dalam
tahap preparasi tambang terbuka diantaranya adalah ; Faktor iklim dan lokasi, faktor
geologi, lapangan, kedalaman, karakteristik spasial, keberadaan air, faktor lingkungan
dan reklamasi. Faktor-faktor ini merupakan faktor kritis pada operasi penambangan.

Berdasarkan pada 11 tahapan persiapan tambang yang telah disebutkan di atas, ada 3
tahapan penting dan unik dalam tambang terbuka, yaitu :
1. Inisiasi rencana reklamasi sebagai bagian dari pernyataan dampak lingkungan.
2. Penentuan tempat penimbunan tanah pucuk dan limbah
3. Penentuan dan pengupasan tanah penutup lanjutan untuk mendapatkan jalan
ke ore/coal.

Sebagai petunjuk Tabel 4.1 menjelaskan diagram penjadwalam tambang terbuka yang
dirancang untuk produksi bijih metal 20.000 ton/hari. Tahap propeksi selama 2,5
tahun. Tahap eksplorasi dari studi kelayakan sekitar 5,5 tahun. Tahap persiapan
memerlukan lebih dari 3 tahun dengan tahun tambahan untuk mencapai produksi
yang direncanakan. Jadi waktu total sekitar 12 tahun.

Gambar 4.1
Plant Layout Tambang Batubara Black Thunder

Bab 4. Surface Mining Development, hal. 24


DASAR-DASAR TAMBANG TERBUKA

Gambar 4.2
Plant Layout Tambang Emas di Batu Hijau, Newmont, Sulawesi, Indonesia

4.2 RANCANGAN DAN RENCANA PIT


Tugas utama dari rancangan rekayasa pada tahap persiapan tambang terbuka adalah
perencanaan open pit. Menurut Soderberg dan Raush, 1968., Atkinson, 1983 ada tiga
faktor utama yang mempengaruhi perencanaan ini, yaitu ;
1. Faktor alamiah dan geologi ; kondisi geologi, jenis bijih, kondisi hidrologi,
topografi dan karakteristik metallurgi.
2. Faktor ekonomi ; kadar bijih, tonnase bijih, nisbah pengupasan (stripping ratio),
kadar rata-rata terendah (COG), biaya operasi, biaya investasi, keuntungan
yang diinginkan, tingkat produksi dan kondisi pemasaran.
3. Faktor teknologi ; peralatan, pit slope, tinggi jenjang, kemiringan jalan, batas
properti dan batas pit.

Selain penentuan pit limit yang sangat penting, Mathieson (1982) menekankan bahwa
tahapan optimal dan penjadwalan produksi juga merupakan hal yang sama
pentingnya, oleh karena itu, Mathieson membuat daftar objektif perencanaan
tambang seperti berikut ;
1. Menambang bijih sehingga diperoleh ongkos produksi minimum persatuan
berat bijih (Penambangan next best ore).
2. Menjaga viabilitas operasi tambang (kecukupan ukuran lebar dan tinggi
jenjang, kesiapan jalan serta alat mekanis).
3. Menjaga bijih untuk menimalisasi kesalahan perhitungan atau kekurangan data
eksplorasi.
4. Menunda pengupasan tanah penutup, bila terdapat ketidak keserasian
peralatan, tenaga kerja dan jadwal produksi.

Bab 4. Surface Mining Development, hal. 25


DASAR-DASAR TAMBANG TERBUKA

5. Mengikuti jadwal mulai yang logis dan dapat dicapai (pelatihan, pembelian
peralatan, logistik dll) yang memperkecil resiko keterlambatan.
6. Optimalisasi rancangan pit slope dan memenimalkan runtuhan slope.
7. Menguji laju produksi yang ekonomis dan alternatif kadar rata-rata terendah.
8. Akhirnya, pencapaian tujuan dengan mendapatkan metode penambangan,
peralatan, dan jadwal yang sesuai dengan perencanaan sebelum memulai
pembangunan atau pengembangan.

Dalam rancangan tambang terbuka yang utama adalah kompilasi rencana


penambangan jangka panjang, hal ini dapat dilihat dalam rancangan pit (Pfleider,
1973). Pada persiapan pabrik tentunya ditentukan lokasi yang dipengaruhi oleh
variasi, tipe dan batas deposit. Data eksplorasi akan sangat membantu dalam
menentukan ultimate pit limit (Gambar 4.3). Ultimate pit limit adalah ukuran dan
batas maksimal penggalian pada operasi penambangan terbuka.

Gambar 4.3
Penampang melintang (cross section) deposit bijih besi terhadap pit limit

Gambar 4.3 menunjukkan pemilihan atau alternatif pil limit 1, 2, 3 dan 4. Perubahan
untuk menentukan alternatif tersebut sangat dipengaruhi oleh nilai bijih (harga bijih)
dan teknologi penggalian. Bila nilai bijih bertambah baik, maka alternatif pit limit
dapat dikembangkan ke alternatif 2, 3 dan 4, sehingga akan berdampak terhadap
jumlah cadangan yang akan ditambang. Hal ini merupakan maximum allowable
stripping ratio SRmax dari pit limit atau break even ratio.

SRmax didefenisikan sebagai perbandingan dari nilai bijih dikurangi dengan ongkos
produksi terhadap ongkos pengupasan tanah penutup. Secara matematik dapat ditulis
sebagai berikut.

( )

Bab 4. Surface Mining Development, hal. 26


DASAR-DASAR TAMBANG TERBUKA

(4.1)

Maksimum allawance stripping ratio sangat dipengaruhi oleh lokasi batas ultimate pit,
kondisi ekonomi (harga pasar dari bijih) dan kondisi geometri pit (pit slope dan
kemiringan formasi (Soderberg and Rausch,1968 dan Pfleider, 1973). Suatu model tiga
dimensi dalam menentukan SRmax dan hubungannya dengan pit limit (Gambar 4.4).
Pada kondisi ini rancangan pit tambang tembaga ore grade dan kritis SRmax = 3,0
yd3/ton (2,5 m3/ton), sehingga bila SRmax < 3, maka alternatif metode penambangan
adalah dengan metode tambang bawah tanah (Gambar 4.5).

Gambar 4.4
Batas Pit dengan Simulasi Komputer

Bab 4. Surface Mining Development, hal. 27


DASAR-DASAR TAMBANG TERBUKA

Gambar 4.5
Lokasi Pit Limit Ore Body

4.3 PEMILIHAN ALAT DAN SISTEM

Secara garis besar, ada empat faktor dalam pemilihan alat ekskavasi (Pfleider, 1973.,
Martin dkk, 1982 dalam Harman, 1987) ;
1. Faktor performansi (unjuk kerja) ; faktor ini berhubungan langsung dengan
produktivitas mesin yang meliputi ; kecepatan putar, tenaga yang tersedia
(power supply), jangkauan penggalian, kapasitas bucket, kecepatan tempuh
dan reabilitas.
2. Faktor Desain ; mencakup kecakapan operator, teknologi yang digunakan, jenis
pengawasan dan power supply.
3. Faktor penunjang
4. Faktor biaya

Bab 4. Surface Mining Development, hal. 28


DASAR-DASAR TAMBANG TERBUKA

Tabel 4.2 memberikan petunjuk dalam pemilihan alat mekanis untuk penanganan
material (materials handling).
Tabel 4.2
Petunjuk pemilihan alat mekanis untuk penanganan material di tambang terbuka

Excavator
Dozer Dragline Wheel
Dozer Excavator Hopper
Front end (direct Excavator
Scrapper Truck Crusher
Loader casting) Conveyor
Conveyor
Produksi maksimum Sedang Sedang Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi
Laju produksi Sedang Rendah Tinggi Sedang Sedang Sedang
Umur pit Pendek Pendek Panjang Sedang Panjang Panjang
Dangkal
Kedalaman pit Sedang Sedang Dalam Dalam Sedang
Dan datar
Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Seragam
Deposit terkon terkon terkon terkon terkon Sedikit
solidasi Solidasi Solidasi Solidasi Solidasi Boulder
Bor-
Preperasi (bila perlu) Garu Garu Bor-ledak Bor-ledak Bor-ledak
ledak
Kompleksitas sistem Rendah Sedang Rendah Sedang Tinggi Tinggi
Fleksibilitas operasi Tinggi Sedang Rendah Tinggi Rendah Rendah
Kapasitas blending Tinggi Tinggi Rendah Sedang Rendah Rendah
Sangat
Penempatan selektif (Pembuangan) Baik Buruk Baik Sedang Sedang
Baik
Pengaruh cuaca basah Besar Besar Kecil Sedang Kecil Kecil
Kebutuhan penjadwalan Kecil Besar Kecil Besar Sedang Sedang
Ketersediaan sistem Sedang Sedang Tinggi Sedang Kecil Kecil
Peralatan pendukung Kecil Kecil Sedang Sedang Tinggi Tinggi
Kemudahan memulaipekerjaan Sederhana Sederhana Sedang Sederhana Rumit Rumit
Investasi Kecil Kecil Sedang Sedang Tinggi Tinggi

4.4 STRIPPING RATIO DAN PIT LIMIT


Pada bagian ini akan diuraikan secara umum tentang ;
1. Maximum allawance dan Overall stripping ratio
2. Ekivalen Yardage
3. Stripping ratio dengan pit limit
4. Overall stripping ratio

Maximum allawance dan Overall Stripping Ratio


Dasar perhitungan stripping ratio adalah kemampuan untuk memindahkan volume
tanah penutup per unit berat dari ore dan coal. Stripping ratio mempunyai dua bentuk
yaitu ;
 Maximum allawance stripping ratio SRmax
= volume overbudden / berat bijih (ekonomis pit limit)
= v/w
SRmax digunakan secara umum untuk segala macam bentuk deposit
 Overall stripping ratio SRo
= volume overbudden / berat bijih setiap entire ore body atau cross section
= V/W

Bab 4. Surface Mining Development, hal. 29


DASAR-DASAR TAMBANG TERBUKA

SRo hanya digunakan untuk menghitung pengupasan tanah penutup pada


deposit yang berbentuk flat, tabular dan thickness constant.

Ekivalen Yardage

Menyatakan berapa ongkos pemindahan lapisan penutup per satuan unit volume
tanah penutup ($/m3, $/yd3). Besarn ini diterima dan menjadi standar pada berbagai
tambang di distrik Amerika Serikat. Konsep ini berguna untuk menghitung maximum
allowble stripping ratio dan pit limit. Beberapa standar yang dipakai adalah ;
 Lake Superior iron ranges (louded dan hauled)
Gasial till $0.25 – 0,50 /yd3 ($0.33 – 0.651 /m3)
 Eastem US Coal fields (cast)
Tanah atau batuan lepas $0.10 – 0,30 /yd3 ($0.13 – 0.39 /m3)
 Westerm US Porphyry Copper District (blasted, loaded, hauled)
Quartz monzonite porphyry $0.50 – 1,00 /yd3 ($0.65 – 1.31 /m3)

Ekivalen Yardage Rating (e) adalah perbandingan ongkos pengupasan suatu material
terhadap ongkos pengupasan rata-rata standar pada e = 1 untuk $0,20 /yd3 (0.26 /m3).
Harga e pada bebagai material dapat dilihat pada Tabel 3.3.

Tabel 4.3
Ekivalen Yardage Rating
Material Rating, e
Dredged 0.5
Loose sand 0.7
Common soil (sand, loam, till 1.0
Hard soil (clay, hardpan) 1.5
Shaley rock 1.5-2.5
Sandstone, limestone 2-3
Hard taconite 3-5

Stripping Ratio Maksimum dan Pit Limit

Pada Gambar 4.5a menunjukkan kasus sederhana deposit mineral dengan permukaan
yang horizontal, tebal deposit (t), kemiringan (α), Tonase Faktor (TF), dan panjang
mineral deposit pit limit (m). Pit slope (β), panjang kemiringan pit slope (l), tinggi
vertikal (h), jarak horizontal out crop pit limit (d).

Dari Gambar juga memberikan uraian bahwa (d) diukur dari crest dan (m) diukur dari
toe. Volume overbudden dari penampang tersebut adalah (V) dan berat bijih adalah
(W).

Sedangkan pada Gambar 4.5b volume prisma overbudden (v) dan berat prisma ore
(w). Secara matematis dapat ditulis ;

Bab 4. Surface Mining Development, hal. 30


DASAR-DASAR TAMBANG TERBUKA

(4.2)

Dimana (b) dan (l) dalam satuan feet (ft) atau meter (m) dan (v) dalam unit yd3 (m3,
dengan faktor konversi, SI units 27, omit) dan untuk ore adalah ;

(4.3)

Maksimum allawable stripping ratio dari kedua perbandingan tersebut ;

(4.4)

Gambar 4.6
Hubungan Geometri pada Paramater SRmax (a) tubuh bijih dan overbudden (b) Detail pit limit (c) Detail
intersection ore-overbudden (d) Efek berm pada Pit Limit. Dimensi Unit = 1’.

Bab 4. Surface Mining Development, hal. 31


DASAR-DASAR TAMBANG TERBUKA

Dari Gambar 4.6c diperoleh ;

α + β +ϒ + 90o = 180o

dimana ;

h = 1 x cosϒ = cos(90o – α – β) (4.5)

SRmax dapat dihitung dari persamaan (4.1) dan disubsitusi ke persmaan (4.4),
kemudian dengan memasukkan ekivalen Yardage, maka inclined slope (l) pada
ekonomi pil limit dapat ditulis ;

(4.6)

Dari trigonometri, bahwa tinggi vertikal Pit slope (h) ;

(4.7)

Jarak horizontal (m) untuk keamanan lebar berm adalah ;

(4.8)

Akhirnya, Panjang Inclined outcrop (m) adalah ;

(4.9)

Masih banyak lagi kemungkinan bentuk geometri deposit dan overbudden dalam
memperhitungkan SRmax dan Pil Limit. Berikut ini diberikan variasi formasi overbudden
yang berbeda secara signifikan akibat diagenesanya. Kemudian hal ini dihubungkan
dengan ekivalen Yardage (e1 dan e2). Gambar 4.7a menunjukkan permukaan yang
horizontal dan deposit yang mempunyai dip. Sedangkan pada Gambar 4.7b
permukaannya miring dan depositnya datar (flat). Dari modifikasi persamaan (4.4),
maka maksimum stripping ratio dapat ditulis sebagai berikut ;

(4.10)

Catatan ; sudut bank slope konstan dari kedua overbudden tersebut (b 1 = b2)

Bab 4. Surface Mining Development, hal. 32


DASAR-DASAR TAMBANG TERBUKA

Gambar 4.7
Variasi Geometri Depositt dan Overbudden

Overall Stripping Ratio


Dari Gambar 4.6 untuk semua kasus SRo juga dapat ditentukan. Volume overbudden
adalah ;

(4.11)

Hal yang sama, berat W adalah ;

(4.10)

Maka SRo adalah :

(4.11)

Bab 4. Surface Mining Development, hal. 33


DASAR-DASAR TAMBANG TERBUKA

4.5 COG DAN BESR

Sebelum menguraikan COG dan BESR terlebih dahulu harus mengetahui arti nilai
(value) dari bijih dan biaya produksi.

Nilai bijih adalah nilai endapan bijih per unit berat, dan biasanya dinyatakan dalam
$/ton atau Rp/ton. Misalnya dipunyai endapan emas 10 gram/ton. Harga emas 1 gram
Rp. 75.000, maka nilai endapan bijih adalah Rp. 750.000.
Biaya produksi adalah ongkos yang diperlukan sampai mendapatkan produknya (ore
atau metal) diluar biaya strippingnya yang dinyatakan dalam per ton bijih. Misalnya
ongkos untuk menambang dan mengolah hingga sampai menjadi metal. Bisa pula
ongkos penambangannya saja, bila kegiatan penambangan tersebut tidak dilanjutkan
kepada kegiatan pengolahan.
Cut Off Grade (COG)
Cut off grade dapat diartikan sebagai berikut :
 Kadar endapan bahan galian terendah yang masih memberikan keuntungan
apabila ditambang.
 Kadar rata-rata endapan bahan galian terendah yang masih memberikan
keuntungan apabila endapan tersebut ditambang.

Cut off grade akan menentukan batas-batas atau besarnya cadangan serta
menentukan perlu tidaknya dilakukan mixing.

Cut off grade dipengaruhi kemajuan teknologi dan pamasaran, jika harga logam naik
maka cut off grade dapat diturunkan dan cadangan akan bertambah. Sebagai contoh
(Tabel 4.4) suatu endapan besi sekunder memiliki bed rock yang mengandung kadar
Fe yang kecil. Jumlah cadangan dan kadar Fe dan stripping ratio adalah sebagai
berikut.

Tabel 4.4
Data kadar, COG, jumlah cadangan dan stripping ratio endapan besi

Kadar Fe2O3 Cut off Grade Cadangan Overburden


Stripping ratio
(%) (%) (juta ton) (juta ton)

60 59,5 1 25 25 : 1
60 54,5 6 20 3,3 : 1
55 49,5 11 15 1,4 : 1

Cut off grade yang rendah akan memerlukan ongkos pengolahann, namun umumnya
dengan menurunkan Cut off graden selalu menaikkan recovery dan keuntungan.
Tetapi sebaiknya dalam suatu penambangan harus mempunyai nilai kadar rata-rata
endapan bahan galian yang konstan dengan melakukan mixing atau blending.

Bab 4. Surface Mining Development, hal. 34


DASAR-DASAR TAMBANG TERBUKA

Prinsip mixing dapat ditulis sebagai berikut.

Axa  Bxb  Cxc


Kadarrata  rata  x100%
abc
dimana :
A = Kadar bijih endapan A, %
a = Jumlah cadangan A, ton
B = Kadar bijih endapan B, %
b = Jumlah cadangan B, ton
C = Kadar bijih endapan C, %
c = Jumlah cadangan c, ton

A C

Keterangan :

A = Daerah dengan kadar bijih A% dan jumlah cadangan a ton

B = Daerah dengan kadar bijih B% dan jumlah cadangan b ton


Gambar 4.8
Mixing dalam operasi penambangan

Bab 4. Surface Mining Development, hal. 35


DASAR-DASAR TAMBANG TERBUKA

Break Even Stripping Ratio (BESR)


BESR adalah perbandingan antara biaya penggalian bijih (ore) dengan biaya
pengupasan tanah penutup (overburden) atau merupakan perbandingan biaya
penambangan bawah tanah dengan penambangan terbuka. BESR ini disebut juga
overrall stripping ratio, yang dapat dinyatakan sebagai berikut.
A B
BESR1 
C
Dimana :
A = Biaya penambangan bawah tanah per ton bijih
B = Biaya penambangan terbuka per ton bijih
C = Biaya pengupasan tanah penutup per ton
Untuk menganalisis kemungkinan metoda penambangan yang akan digunakan baik
tambang terbuka ataupun tambang bawah tanah, maka sangat penting mengetahui
nilai BESR1. Misalnya biaya penambangan secara tambang bawah tanah $2,00 per ton
bijh, biaya penambangan secara tambang terbuka $ 0,30 per ton bijih dan ongkos
pengupasan tanah penutup $ 0,35 per ton. Maka untuk memilih salah satu metoda
penambangan dapat dihitung sebagai berikut.

$2,00  $0,30
BESR1   4,86
$0,35
Ini berarti bahwa hanya bagian endapan bahan galian yang mempunyai BESR 4,86
yang dapat ditambang secara terbuka dan menguntungkan. Jadi 4,86 adalah BESR 1
terendah yang masih dibolehkan untuk operasi tambang terbuka untuk kondisi
tersebut di atas.
Setelah ditentukan bahwa akan digunakan metoda tambang terbuka, maka dalam
rangka pengembangan rencana penambangan digunakan BESR2 dengan rumus
sebagai berikut.

DE
BESR 2 
C
dimana :
D = Nilai recovery per ton bijih
E = Biaya produksi per ton bijih
C = Biaya pengupasan tanah penutup per ton
BESR2 ini disebut sebagai economic stripping ratio yang artinya berapa besar
keuntungan yang dapat diperoleh bila endapan bijih tersebut ditambang secara
tambang terbuka.
Contoh perhitungan BESR2 untuk bijih tembaga dengan kadar 0,80%, 0,70% dan
0,60% Cu adalah sebagai berikut. (Tabel 4.5)

Bab 4. Surface Mining Development, hal. 36


DASAR-DASAR TAMBANG TERBUKA

Tabel 4.5
Contoh Perhitungan Break Even Stripping Ratio (BESR2)

Kadar bijih, % Cu 0,80 0,70 0,60


Smelter recovery, % 81,80 83,02 85,80
Recovery Cu per ton, lb 14,10 12,20 10,30
Ongkos Produksi Tiap Ton Bijih
Penambangan $ 0.45 $ 0.45 $ 0.45
Milling, depreciation & Gen.cost $1.25 $ 1.25 $ 1.25
Treatment, ect $0.85 $ 0.76 $ 0.65
Ongkos produksi total $ 2.55 $ 2.45 $ 2.35
Ongkos pengupasan per ton waste $ 0.40 $ 0.40 $ 0.40
Recovery Value
Harga jual per ton bijih
1. Untuk $ 0.25/lb Cu $ 3.53 $ 3.05 $ 2.58
BESR 2,5 : 1 1,5 : 1 0,6 : 1
2. Untuk $ 0.30/lb Cu $ 4.23 $ 4.23 $ 3.09
BESR 4,2 : 1 3,0 : 1 1.8 : 1
3. Untuk $ 0.35/lb Cu $ 4.94 $ 4.27 $ 3.61
BESR 6,0 : 1 4,5 : 1 3,2 : 1

GRAFIK BESR
6

4
$ 0,25 per lb Cu
BESR

3
$ 0,30 per lb Cu
2 $ 0,35 per lb Cu

0
0,3 0,4 0,5 0,6 0,7 0,8 0,9 1
KADAR Cu

Gambar 4.9
Grafik Break Even Stripping Ratio (BESR)

Dari hasil perhitungan (Tabel 4.5) terlihat bahwa bila harga logam Cu = $0.25/lb,
ternyata untuk bijih Cu dengan kadar 0,80% mempunyai BESR 2,5 : 1, untuk kadar 0,70
mempunyai BESR 1,5 : 1 dan untuk kadar 0,60% mempunyai BESR 0,6 : 1. Demikian
untuk harga logam $ 0.30/lb Cu dan $ 0.35/lb Cu. Harga logam Cu = $0.30/lb, untuk
bijih Cu dengan kadar 0,80% mempunyai BESR 4,2 : 1, untuk kadar 0,70 mempunyai

Bab 4. Surface Mining Development, hal. 37


DASAR-DASAR TAMBANG TERBUKA

BESR 3,0 : 1 dan untuk kadar 0,60% mempunyai BESR 1,8 : 1. Dan harga logam Cu =
$0.35/lb, untuk bijih Cu dengan kadar 0,80% mempunyai BESR 6,0 : 1, untuk kadar
0,70 mempunyai BESR 4,5 : 1 dan untuk kadar 0,60% mempunyai BESR 3,2 :1.
Dari grafik BESR (Gambar 4.9) menunjukkan bahwa tinggi rendahnya BESR dipengaruhi
oleh :
- kadar logam dari bijih yang akan ditambang
- harga logam dipasaran

Jadi pada dasarnya, jika terjadi kenaikan harga logam di pasaran, maka akan dapat
mengakibatkan perluasan tambang sehingga cadangan akan bertambah, sebaliknya
jika harga logam turun, maka jumlah cadangan akan berkurang.

Dalam operasi penambangan ada dua pilihan yaitu melakukan stripping overbudden
terlebih dahulu, kemudian baru menggali ore, atau menggali overbudden dalam batas-
batas tertentu kemudian diikuti dengan penggalian ore.

Keuntungan melakukan stripping overbudden secara keseluruhan baru mengambil ore


adalah ; Bila overbudden telah terkupas, maka akan diperoleh ore secara terus
menerus dan pengontrolan lebih mudah. Adapun kerugiannya adalah selama
melakukan pengupasan, produksi ore tidak diperoleh, sehingga nilai BESR nya kecil.
Sedangkan keuntungan melakukan pengupasan pada batas-batas tertentu, kemudian
dilakukan penggalian ore, sehingga memperoleh produksi, maka biaya pengupasan
dapat ditutupi dengan penjualan ore. Hal ini tidak membutuhkan penanaman modal
yang besar dibandingkan dengan cara yang pertama. Namun kerugiannya adalah ;
disamping mengurusi pengupasan overbudden, sekaligus memikirkan pengangkutan
ore dari dalam pit.

Bab 4. Surface Mining Development, hal. 38

Anda mungkin juga menyukai