Anda di halaman 1dari 8

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Pengertian Run Off


Air limpasan atau nama lain dari Run-Off merupakan salah satu bagian
dari air hujan yang mengalir tipis diatas permukaan tanah. Air tersebut
mmengalir ketempat yang lebih rendah dan kemudian bermuara ke Sungai
atau danau atau waduk bahkan laut. Pada akhirnya air tersebut akan ter-
evaporasi lagi (Yulianti, 2014).
Setiap tetes air hujan yang jatuh ke tanah merupakan pukulan-pukulan
kecil ke tanah. Pukulan air ini memecahkan tanah yang lunak sampai batu
yang keras. Partikel pecahan ini kemudian mengalir menjadi lumpur, dan
lumpur ini menutupi pori-pori tanah sehingga menghalangi air hujan yang
akan meresap ke dalam tanah. Dengan demikian maka semakin banyak air
yang mengalir di permukaan tanah. Aliran permukaan ini kemudian
membawa serta batu-batu dan bongkahan lainnya, yang akan semakin
memperkuat gerusan pada tanah. Goresan akibat gerusan air dan partikel
lainnya ke tanah akan semakin membesar. Goresan ini kemudian menjadi
alur-alur kecil, kemudian membentuk parit kecil, dan akhirnya berkumpul
menjadi anak sungai. Anak-anak sungai ini kemudian berkumpul menjadi
satu membentuk sungai (Norhayati, 2014).
Sebagian air hujan akan meresap ke dalam tanah dan sebagian lagi
akan mengalir di permukaan ke darah yang lebih rendah, dan kemudian akan
berkumpul di danau atau sungai dan akhirnya mengalir ke laut. Bila curah
hujan lebih besar daripada kemampuan tanah untuk menyerap air, maka
kelebihan air tersebut akan mengalir dipermukaan menuju ke danau atau
sungai. Air yang meresap ke dalam tanah (infiltrasi) atau yang mengalir di
permukaan (run off) akan menemukan jalannya untuk kembali ke atmosfer,
karena adanya evaporasi dari tanah, danau dan sungai (Anna, 2014).
Run off adalah bagian curahan hujan (curah hujan dikurangi
evapotranspirasi dan kehilangan air lainnya) yang mengalir dalam air sungai

Run Off DAS Kelara| 3


karena gaya gravitasi; airnya berasal dari permukaan maupun dari
subpermukaan (sub surface). Runoff dapat dinyatakan sebagai tebal runoff,
debit aliran (river discharge) dan volume runoff (Hartati, 2015).
Pada permulaan aliran air/sungai terjadi karena air mengalir mengikuti
retakan-retakan/patahan-patahan (joint) yang ada di permukaan bumi.
Sehingga pada awalnya daerah tersebut bukan merupakan daerah aliran
sungai, tetapi merupakan akumulasi air, kemudian terjadi proses lanjutannya
seperti prose pelapukan, erosi, pelarutan dan sebagainya. Proses tersebut
berjalan terus, sehingga berkembang menjadi sebuah parit-parit kecil yang
makin lama makin tertoreh/terkikis baik secara lateral maupun vertikal.
Akhirnya terbentuk sungai-sungai kecil sebagai sistem sungai (Gafuri,
2016).
Kegiatan-kegiatan aliran air sungai tergantung pada beberapa faktor
(Lobeck, 1939: 158) adalah sebagai berikut :
1. Curah hujan yang tinggi, hujan yang efektif (tinggi) tidak saja
menyebabkan aliran yang kuat, tetapi juga bertambah banyaknya
jumlah aliran sungai yang permanen. Sebagai contoh, sungai-sungai
dibagian timur Amerika Serikat lebih banyak jika dibandingkan
dengan di bagian barat.
2. Tanah-tanah ponus yang dalam dan banyaknya tumbuhan yang
tumbuh cenderung menyerap air hujan dan mengurangi aliran
permukaan (run-off) . Seperti pada daerah-daerah tinggi yang luas
dipantai selatan Alabama dan Missisipi, walaupun curah hujan tinggi
tetapi sungai tidak banyak jumlahnya.
3. Daerah yang terdiri dari batu gamping serta aliran bawah permukaan
(bawah tanah) tidak menyebabkan terdapatnya aliran permukaan.
Misalnya didaerah Karst Dalmatia tidak mempunyai banyak sungai,
walaupun curah hujannya paling lebat didaerah Eropa.
4. Daerah arid dengan vegetasi yang kurang menentukan aliran sungai,
baik volume, jumlah air , maupun keadan permanen aliran yang
minimum.

Run Off DAS Kelara| 4


5. Tanah-tanah liat yang kedap air sungai glacial, menambah aliran air
permukaan yang mengurangi jumlah aliran bawah tanah, sehingga
mempercepat pengerjaan erosi.
Aliran air pada sebuah sungai pada umumnya mengalir tidak tetap,
mengikuti muatan sedimen unsure-unsur lain yang larut didalam air. Oleh
karena itu, sungai mempunyai ciri yang tersendiri dan berbeda dengan
massa air lain seperti danau, laut, dan sebagainya (Hartati, 2014).
Adapun ciri tersebut adalah sebagai berikut seperti yang dikemukakan
oleh Sudarja dan Akub (1977: 38) antara lain adalah sebagai berikut :
1) Pengalirannya tidak tetap, kadang kala alirannya deras dan ada
kalanya lambat, menghilang ke bawah permukaan dan sebagainya.
2) Mengangkut material, dari mulai Lumpur yang halus, pasir,
kerikil sampai pada material batuan yang lebih besar yang
tergantung besar alirannya.
3) Mengalir mengikuti saluran tertentu yang pada sisi kanan kirinya
dibatasi oleh tebing yang bias curam berupa lembah-lembah dari
lembah dangkal sampai pada lembah-lembah yang dalam.
Air sungai dalam perjalannanya dari hulu ke hilir melakukan kegiatan
mengikis, mengambil bahan lepas, mengangkut dan mengendapkan.Suatu
lembah penampangnya tidak tetap dan sifatnya dinamik (mengalami
perubahan-perubahan). Perubahan ini di sebabkan karena erosi, erosi
tersebut bias berupa erosi mudik(menyebabkan lembah panjang kearah ulu),
erosi lateral (menyebabkan pelebaran lembah), dan erosi vertical
(menyebabkan pendalaman lembah). Lembah dapat bertambah panjang
akibat terjadi erosi lateral pada daerah-daerah aliran sungai pada stadium
tua. Terbentuknya meander menyebabkab bertambah panjangnya lembah.
Meander merupakan aliran merupakan aliran sungai yang berliku-liku
sebagai akibat dari erosi lateral, sehingg dengn berliku-likunya aliran sungai
lembah sungaipun bertambah panjang (Yulianti, 2014).
Perubahan muka air laut dimana sungai tersebut bermuara. Penurunan
muka air laut ini dapat disebabkan karena terjadi pengangkatan dasar laut

Run Off DAS Kelara| 5


atau penurunana dasar laut. Terjadinya penurunan dan pendangkalan dasar
laut menyebabkan aliran sungai bertambah panjang kearah laut, muara
bergeser kearah laut dan garis pantai bertambah lebar.
B. Klasifikasi Limpasan Permukaan
Klasifikasi atau Komponen Limpasan:
Limpasan terdiri dari air yang berasal dari tiga sumber :
1. Aliran permukaan
Aliran Permukaan (surface flow) adalah bagian dari air hujan yang
mengalir dalam bentuk lapisan tipis di atas permukaan tanah. Aliran
permukaan disebut juga aliran langsung (direct runoff).Aliran
permukaan dapat terkonsentrasi menuju sungai dalam waktu
singkat,sehingga aliran permukaan merupakan penyebab utama
terjadinya banjir.
2. Aliran antara
Aliran antara (interflow) adalah aliran dalam arah lateral yang terjadi
di bawah permukaan tanah.Aliran antara terdiri dari gerakan air dan
lengas tanah secara lateral menuju elevasi yang lebih rendah.
3. Aliran air tanah
Aliran air tanah adalah aliran yang terjadi di bawah permukaan air
tanah ke elevasi yang lebih rendah yang akhirnya menuju sungai atau
langsung ke laut.
Dalam analisis hidrologi aliran permukaan dan aliran antara dapat
dikelompokkan menjadi satu yang disebut aliran langsung,sedangkan aliran
tanah disebut aliran tak langsung (Yulianti, 2014)
Tipe Sungai:
Memperhatikan berbagai jenis fluktuasi debit di sungai, sungai dapat
dikelompokkan menjadi tiga macam, yaitu :
 Sungai Parennial
Yaitu sungai – sungai yan kondisi akifernya sedemikian baik.
sehingga baik selama musim hujan ataupun musim kemarau, masih dapat
memberikan sumbangan aliran dasar kesungai ( sungai yang mempunyai

Run Off DAS Kelara| 6


aliran sepanjang tahun). Sungai tipe ini terjadi pada DAS yang sangat
baik, misalnya masih berhutan lebat.
 Sungai Ephemeral
Adalah sungai yang mempunyai debit hanya apabila terjadi hujan
yang melebihi laju infiltrasi. Permukaan air tanah selalu berada dibawah
dasar sungai, sehingga sungai tidak menerima aliran air tanah, yang berarti
tidak mempunyai aliran dasar. Dengan demikian di sungai hanya terdapat
aliran pada saat terjadi hujan saja dan aliran hanya terdiri dari komponen
saja yaitu limpasan permukaan dan mungkin aliran antara.
 Sungai Intermitten
Adalah sungai yang mempunyai karakteristik campuran antara kedua
tipe diatas. Yaitu sungai yang keadaan akifer lebih buruk, sehingga pada
saat musim kemarau tidak dapat memberikan sumbangan aliran dasar
kedalam aliran sungai. elevasi muka air tanah berubah dengan musim.
Pada saat musim penghujan muka air tanah naik sampai diatas dasar
sungai sehingga pada saat tidak ada hujan masih terdapat aliran yang
berasal dari dari aliran dasar. Pada musim kemarau muka air tanah turun
sampai dibawah dasar sungai sehingga disungai tidak ada aliran (Yulianti,
2014).
C. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Volume Limpasan Permukaan
Ada beberapa faktor khusus lokasional (daerah tangkapan air) yang
berhubungan langsung dengan kejadian dan volume runoff.
1. Tipe Tanah
Kapasitas infiltrasi suatu tanah dipengaruhi oleh porositas tanah, yang
menentukan kapasitas simpanan air dan mempengaruhi resistensi air untuk
mengalir ke lapisan tanah yang lebih dalam.
Porositas suatu tanah berbeda dengan tanah lainnya. Kapasitas
infiltrasi tertinggi dijumpai pada tanah-tanah yang gembur, tekstur berpasir;
sedangkan tanah-tanah liat dan berliat biasanya mempunyai kapasitas
infiltrasi lebih rendah.

Run Off DAS Kelara| 7


Kapasitas infiltrasi juga tergantung pada kadar lengas tanah pada
akhir periode hujan sebelumnya. Kapasitas infiltrasi aweal yang tinggi
dapat menurun dengan waktu (asalkan hujan tidak berhenti) hingga
mencapai suatu nilai konstan pada saat profil tanah telah jenuh air.
Kondisi seperti ini hanya berlaku kalau kondisi permukaan tanah tetap
utuh tidak mengalami gangguan. Telah diketahui bahwa rataan ukuran
tetesan air hujan meningkat dengan meningkatnya intensitas hujan. Dalam
suatu intensitas hujan yang tinggi, energi kinetik tetesan air hujan sangat
besar pada saat memukul permukaan tanah. Hal ini dapat menghancurkan
agregat tanah dan dispersi tanah, dan mendorong partikel-partikel halus
tanah memasuki pori tanah. Pori tanah dapat tersumbat dan terbentuklah
lapisan tipis yang padat dan kompak di permukaan tanah sehingga
mereduksi kapasitas infiltrasi.
Fenomena seperti ini lazim disebut sebagai “capping, crusting atau
sealing”. Hal ini dapat menjelaskan mengapa di daerah-daerah arid dan
semi-arid yang mempunyai pola hujan dengan intensitas tinggi dan
frekuensi tinggi, volume rinoff sangat besar meskipun hujannya sebentar
dan kedalaman hujan relatif kecil.
Tanah-tanah dengan kandungan liat tinggi (misalnya tanah-tanah abu
volkan dengan kandungan liat 20% ) sangat peka untuk membentuk kerak-
permukaan dan selanjutnya kapasitas infiltrasi menjadi menurun. Pada
tanah-tanah berpasir, fenomena kerak-permukaan ini relatif kecil (Yulianti,
2014)
2. Vegetasi
Besarnya simpanan intersepsi pada tajuk vegetasi tergantung pada
macam vegetasi dan fase pertumbuhannya. Nilai-nilai intersepsi yang lazim
adalah 1 - 4 mm. Misalnya tanaman serealia, mempunyai kapasitas
simpanan intersepsi lebih kecil dibandingkan dengan rumput penutup tanah
yang rapat. Hal yang lebih penting adalah efek vegetasi terhadap kapasitas
infiltrasi tanah. Vegetasi yang rapat menutupi tanah dari tetesan air hujan
dan mereduksi efek kerak-permukaan. Selain itu, perakaran tanaman dan

Run Off DAS Kelara| 8


bahan organik dalam tanah dapat meningkatkan porositas tanah sehingga
memungkinkan lebih banyak air meresap ke dalam tanah. Vegetasi juga
menghambat aliran air permukaan terutama pada lereng yang landai,
sehingga air mempunyai kesempatan lebih banyak untuk meresap dalam
tanah atau menguap (Yulianti, 2014).
3. Kemiringan dan ukuran daerah tangkapan
Pengamatan pada petak-petak ukur runoff menunjukkan bahwa petak-
petak pada lereng yang curam menghasilkan runoff lebih banyak dibanding
dengan petak-petak pada lereng yang landai. Selain itu, jumlah runoff
menurun dengan meningkatnya panjang lereng. Hal seperti ini terjadi karena
aliran air permukaan lebih lambat dan waktu konsentrasinya lebih panjang
(yaitu waktu yang diperlukan oleh tetes air hujan untuk mencapai outlet
daerah tangkapan air). Hal ini berarti bahwa air mempunyai lebih banyak
kesempatan untuk infiltration dan evaporasi sebelum ia mencapai titik
pengukuran di outlet. Hal yang sama juga berlaku kalau kita
membandingkan daerah-daerah tangkapan yang ukurannya berbeda
(Yulianti, 2014)
Efisiensi runoff (volume runoff per luasan area) meningkat dengan
menurunnya ukuran daerah-tangkapan air, yaitu semakin besar ukuran
daerah-tangkapan berarti semakin besar (lama) waktu konsentrasi air dan
semakin kecil efisiensi runoff.
Disis lain, adapun faktornya ;
a. Elemen-elemen meteorologi
 Jenis presipitasi
 Intensitas curah hujan
 Lamanya curah hujan
 Distribusi curah hujan
 Kondisi – kondisi meteorology.
b. Elemen daerah pengaliran
 Kondisi penggunaan tanah
 Daerah pengaliran

Run Off DAS Kelara| 9


 Kondisi topografi dalam daerah pengaliran
 Jenis tanah
 Faktor – faktor yang memberikan pengaruh.
Besar kecilnya volume air yang mengalir (debit air sungai)
dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain sebagai berikut :
1) Iklim, usur iklim sangat berpengaruh terhadap debit air sungai.
Banyaknya curah hujan (Presipitasi) dan besarnya penguapan
(evaporasi) sangat menentukan volume air yang ada dalam
sungai.Pada saat musim penghujan presipitasi lebih besar
dibandingkan besarnya evaporasi yang mengakibatkan debit air
menjadi besar bahkan terjadi luapan air atau banjir. Tetapi
sebaliknya, pada musim kemarau jumlah presipitasi menurun tetapi
tingkat penguapan meningkat sehingga debit air semakin kecil.
2) Kondisi Daerah Aliran Sungai (DAS), luas dan ketinggian daerah
aliran sungai berpengaruh besar terhadap debit air sungai. Daerah
aliran sungai adalah bagian permukaan bumi yang berfungsi untuk
menerima, menyimpan, dan mengalirkan air hujan yang jatuh di
atasnya melalui sungai. Contoh : hujan yang jatuh pada bagian
permukaan bumi mengalirkan airnya ke sungai, misalnya sungai
Kapuas. Bagian permukaan bumi yang menerima air hujan dan
mengalirkan airnya ke sungai Kapuas disebut DAS Kapuas. Das
biasanya dibatasi oleh punggung/igir perbukitan atau pegunungan.
DAS yang luas berarti memiliki daerah tangkapan hujan yang luas
pula, sehingga debit air sungai yang mengalir pada DAS itu akan
lebih besar (Verrina, 2013).

Gambar 2.1 Penampang Air Bawah Tanah

Run Off DAS Kelara| 10