Anda di halaman 1dari 33

D

I
S
U
S
U
N
OLEH :

 TERESIA TALAUTAN .K
 VERONIKA MAMBAYA

SMAN 3 TORAJA UTARA


TAHUN 2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur Kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang mana pada kesempatan ini
masih diberikan-Nya kenikmatan sehat lahir dan batin sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah ini dengan judul : “Materi Puisi”.

Kami sadari bahwa dalam makalah ini masih terdapat banyak kekurangan,
kekeliruan ataupun kesalahan. Maka dari itu, kritik dan saran yang sifatnya
membangun sangat kami harapkan sebagai perbaikan makalah ini dimasa mendatang.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua khususnya, dan bagi pembaca
umumnya.

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................................... i


DAFTAR ISI ................................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................. 1
1.1. Latar Belakang Masalah ................................................................................... 1

1.2 Tujuan Penulisan .............................................................................................. 1

1.3 Fokus Penelitian ............................................................................................... 2

1.4 Sistematika Penulisan ....................................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN .............................................................................................. 4


MENGANALISIS KARYA SASTRA PUISI BAHASA INDONESIA ...................... 4
2.1 Pengertian puisi ................................................................................................... 4

2.2. Hal-hal yang diperhatikan dalam menulis puisi ................................................. 4

2.3 Unsur-Unsur Puisi ............................................................................................... 6

2.4. Beberapa Hal yang Perlu Diperhatikan Dalam Membaca Puisi ......................... 8

2.5 Jenis-Jenis Puisi Menurut zamannya ................................................................... 9

2.6. Analisis Puisi Sajak Putih Karya Chairil Anwar .............................................. 21

BAB III PENUTUP .................................................................................................... 30


3.1 KESIMPULAN ............................................................................................ 30

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Penekanan pada segi estetik suatu bahasa dan penggunaan sengaja pengulangan,
meter dan rima adalah yang membedakan puisi dari prosa.Namun perbedaan ini
masih diperdebatkan.Beberapa ahli modern memiliki pendekatan dengan
mendefinisikan puisi tidak sebagai jenis literatur tapi sebagai perwujudan imajinasi
manusia, yang menjadi sumber segala kreativitas. Selain itu puisi juga merupakan
curahan isi hati seseorang yang membawa orang lain ke dalam keadaan hatinya.

Di Indonesia, puisi telah mulai ditulis oleh Hamzah Fansuri dalam bentuk syair
Melau dan ditulis dengan huruf Arab di akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17
(Ismail, 2001:5).
Ahli-ahli sastra banyak yang membedakan dan membagi perpuisian Indonesia
menjadi puisi lama dan puisi baru. Namun, apa yang disebut puisi lama itu masih
tetap diapresiasi dan diproduksi sampai saat ini. Disamping itu, puisi baru juga tidak
bisa melepaskan puisi lama karena ia bisa jadi ilham yang penuh keindahan untuk
dikerjakan.

1.2 Tujuan Penulisan

Tujuan-tujuan dalam penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :


1. Untuk mengetahui pengertian dari puisi
2. Untuk mengetahui unsur-unsur yang terdapat dalam karya sastra puisi
3. Untuk mengetahui jenis-jenis puisi di Indonesia

1
1.3 Fokus Penelitian

Fokus penelitian dalam makalah ini adalah :


1. Apakah yang dimaksud dengan puisi?
2. Unsur-unsur apa saja yang terdapat dalam karya sastra puisi?
3. Apa sajakah jenis-jenis puisi di Indonesia?

1.4 Sistematika Penulisan

Makalah ini saya susun dalam tiga bab, yang tiap-tiap babnya terdiri atas :
Gaya bahasa, yaitu penggunaan bahasa yang dapat
menghidupkan/meningkatkan efek dan menimbulkan konotasi tertentu. Bahasa
figuratif menyebabkan puisi menjadi prismatis, artinya memancarkan banyak makna
atau kaya akan makna. Gaya bahasa disebut juga majas.
Adapun macam-macam majas antara lain :
Metafora, simile, personifikasi, litotes, ironi, sinekdoke, eufemisme, repetisi,a
nafora, pleonasme, antitesis, alusio, klimaks, antiklimaks, satire, pars pro toto, totem
pro parte, hingga paradoks.
Rima adalah persamaan bunyi pada puisi, baik di awal, tengah, dan akhir
baris puisi.
Struktur Batin Puisi

Struktur batin puisi terdiri dari :

Tema (sense); media puisi adalah bahasa. Tataran bahasa adalah hubungan
tanda dengan makna, maka puisi harus bermakna, baik makna tiap kata, baris, bait,
maupun makna keseluruhan.

2
Rasa (feeling), yaitu sikap penyair terhadap pokok permasalahan yang
terdapat dalam puisinya. Pengungkapan tema dan rasa erat kaitannya dengan latar
belakang sosial dan psikologi penyair, misalnya latar belakang pendidikan, agama,
jenis kelamin, kelas sosial, kedudukan dalam masyarakat, usia, pengalaman
sosiologis dan psikologis, dan pengetahuan. Kedalaman pengungkapan tema dan
ketepatan dalam menyikapi suatu masalah tidak bergantung pada kemampuan
penyairmemilih kata-kata, rima, gaya bahasa, dan bentuk puisi saja, tetapi lebih
banyak bergantung pada wawasan, pengetahuan, pengalaman, dan kepribadian yang
terbentuk oleh latar belakang sosiologis dan psikologisnya.
Nada (tone), yaitu sikap penyair terhadap pembacanya. Nada juga berhubungan
dengan tema dan rasa. Penyair dapat menyampaikan tema dengan nada menggurui,
mendikte, bekerja sama dengan pembaca untuk memecahkan masalah, menyerahkan
masalah begitu saja kepada pembaca, dengan nada sombong, menganggap bodoh dan
rendah pembaca, dan lain-lain.
Amanat (itention); yaitu pesan yang ingin disampaikan penyair kepada
pembaca.

3
BAB II PEMBAHASAN
MENGANALISIS KARYA SASTRA PUISI BAHASA INDONESIA

2.1 Pengertian puisi

Puisi (dari bahasa Yunani kuno: ποιέω/ποιῶ (poiéo/poió) =I create)


adalah seni tertulis dimana bahasa digunakan untuk kualitas estetiknya untuk
tambahan, atau selain arti semantiknya.

Baris-baris pada puisi dapat berbentuk apa saja (melingkar, zigzag dan lain-lain).
Hal tersebut merupakan salah satu cara penulis untuk menunjukkan pemikirannnya.
Puisi kadang-kadang juga hanya berisi satu kata/suku kata yang terus diulang-
ulang.Bagi pembaca hal tersebut mungkin membuat puisi tersebut menjadi tidak
dimengerti.Tapi penulis selalu memiliki alasan untuk segala 'keanehan' yang
diciptakannya.Tak ada yang membatasi keinginan penulis dalam menciptakan sebuah
puisi.Ada beberapa perbedaan antara puisi lama dan puisi baru.

2.2. Hal-hal yang diperhatikan dalam menulis puisi


Sebelum melangkah pada hal-hal yang diperhatikan dalam pembuatan puisi,
maka terlebih dahulu kita pahami “apa yang dimaksud dengan puisi”. Secara umum,
puisi dikenal sebagai salah satu bentuk karya sastra sebagai bentuk ungkapan atau
luapan perasaan sang pengarang yang disampaikan lewat bahasa yang sarat makna.
Seorang penulis pemula sebaiknya memperhatikan hal-hal seperti:

a. Tema

Perlu dipahami bahwa sebuah puisi tentu memiliki satu tema yang digambarkan oleh
seorang pengarang dalam bentuk puisi. Seorang pemula dalam menciptakan sebuah

4
puisi, mula-mula menentuka satu jenis tema yang akan dimuat dalam puisinya. Tema
tersebut menjiwai puisi dari baris pertama hingga terakhir.

b. Tipografi

Tipografi atau perwajahan puisi adalah pengaturan terkait bentuk puisi, seperti
halaman yang tidak dipenuhi dengan kata-kata, pengaturan baris puisi, pengaturan
tepi kiri kanan, dan baris puisi yang tidak selalu dimulai dengan huruf kapital dan
diakhiri dengan tanda titik.

c. Diksi

Pendiksian merupakan pemilihan kata-kata yang akan digunakan oleh penulis puisi
agar dapat memadatkan kata, namun tetap mempertahankan makna sesuai dengan
maksud yang ingin disampaikan oleh sang penulis puisi. Oleh karena itu, seorang
penulis yang pemula harus banyak membaca puisi karya orang lain agar memperkaya
dirinya dengan pengetahuan dan penggunaan kata yang baik dalam karya pribadinya.

d. Pengimajian

Pengimajian adalah kecerdasan seorang penulis yang mampu membuat sorang


pembaca seolah-olah merasakan, mendengar, melihat, dan meraba apa yang dialami
seorang penulis melalui tulisannya.

e. Kata konkret

Kata konkret adalah kata yang berhubungan dengan khiasan atau lambang yang dapat
memunculkan imajinasi pembaca. Seperti kata ‘kembang’ yang melambangkan
seorang gadis.

5
f. gaya bahasa

Seorang penulis harus menguasai pemajasan dan mampu menggunakannya untu


menghidupkan serta memberi jiwa pada sebuah karya tulis. oleh karena itu, karya
tulis biasanya banyak mengandung gaya bahasa. seperti, personifikasi, metafora,
alusio, antitesis, simile, totem pro parte, klimaks, litotes, ironi, satire, sinekdoke,
eufemisme, repetisi, anafora, pleonasme, paradox, pars pro toto, antiklimaks.

g. Amanat

sebuah puisi seharusnya memiliki amanat atau pesan yang akan disampaikan penulis

kepada pembaca melalui puisinya.

2.3 Unsur-Unsur Puisi

Unsur-unsur puisi meliputi struktur fisik dan struktur batin puisi

A. Struktur Fisik Puisi


Struktur fisik puisi terdiri dari:

Perwajahan puisi (tipografi), yaitu bentuk puisi seperti halaman yang tidak
dipenuhi kata-kata, tepi kanan-kiri, pengaturan barisnya, hingga baris puisi yang tidak
selalu dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik. Hal-hal tersebut
sangat menentukan pemaknaan terhadap puisi.

Diksi, yaitu pemilihan kata-kata yang dilakukan oleh penyair dalam puisinya.
Karena puisi adalah bentuk karya sastra yang sedikit kata-kata dapat mengungkapkan
banyak hal, maka kata-katanya harus dipilih secermat mungkin. Pemilihan kata-kata
dalam puisi erat kaitannya dengan makna, keselarasan bunyi, dan urutan kata.
Imaji, yaitu kata atau susunan kata-kata yang dapat mengungkapkan pengalaman

6
indrawi, seperti penglihatan, pendengaran, dan perasaan. Imaji dapat dibagi menjadi
tiga, yaitu imaji suara (auditif), imaji penglihatan (visual), dan imaji raba atau sentuh
(imaji taktil). Imaji dapat mengakibatkan pembaca seakan-akan melihat, medengar,
dan merasakan seperti apa yang dialami penyair.

Kata konkret, yaitu kata yang dapat ditangkap dengan indera yang
memungkinkan munculnya imaji. Kata-kata ini berhubungan dengan kiasan atau
lambang. Misalnya kata kongkret “salju: melambangkan kebekuan cinta, kehampaan
hidup, dll., sedangkan kata kongkret “rawa-rawa” dapat melambangkan tempat kotor,
tempat hidup, bumi, kehidupan, dll.

Gaya bahasa, yaitu penggunaan bahasa yang dapat menghidupkan /


meningkatkan efek dan menimbulkan konotasi tertentu. Bahasa figuratif
menyebabkan puisi menjadi prismatis, artinya memancarkan banyak makna atau kaya
akan makna. Gaya bahasa disebut juga majas. Adapaun macam-amcam majas antara
lain metafora, simile, personifikasi, litotes, ironi, sinekdoke, eufemisme, repetisi,
anafora, pleonasme, antitesis, alusio, klimaks, antiklimaks, satire, pars pro toto, totem
pro parte, hingga paradoks.

Rima/Irama adalah persamaan bunyi pada puisi, baik di awal, tengah, dan
akhir baris puisi. Rima mencakup:
Onomatope (tiruan terhadap bunyi, misal /ng/ yang memberikan efek magis
pada puisi Sutadji C.B.), Bentuk intern pola bunyi (aliterasi, asonansi, persamaan
akhir, persamaan awal, sajak berselang, sajak berparuh, sajak penuh, repetisi bunyi
[kata], dan sebagainya pengulangan kata/ungkapan. Ritma merupakan tinggi rendah,
panjang pendek, keras lemahnya bunyi. Rima sangat menonjol dalam pembacaan
puisi.

7
2.4. Beberapa Hal yang Perlu Diperhatikan Dalam Membaca Puisi

1. Ekspresi dalam membaca puisi

Menikmati keindahan sebuah puisi adalah dengan mendeklamasikan. Ketika


Anda membaca puisi maka ekspresi wajah harus diperhatikan. Ekspresi wajah
merupakan penghayatan jiwa dalam membaca puisi. Puisi yang mengisahkan
sebuah kesedihan, maka ekspresi wajah harus sendu, demikian pula bila puisi
mengisahkan suka cita, maka ekspresi wajah harus gembira. Penghayatan
ekspresi dalam membaca puisi perlu dilatih agar mudah muncul dalam
pembacaan puisi.

2. Kinesik ( gerak anggota tubuh)

Dalam membaca puisi perlu di perhatikan pula gerak anggota tubuh. Tidak
mungkin Anda membaca puisi dengan posisi terpaku dan berdiri dalam satu
titik. Ketika Anda membaca sertajkah dengan geram anggota tubuh. Misalnya
gerak tangan yang melambai, atau dengan gerak yang lainnya yeng
memberikan keindahan perpaduan antara suara dan gerakan.

3. Kejelasan artikulasi

Dalam membaca puisi arti kulasi atau pengucapan setiap kata harus jelas.
Ketepatan dalam melafalkan kata-kata dalam puisi.

4. Irama Puisi

irama puisi ini adalah panjang pendeknya, keras lembutnya, kuat lemahnya
suara. Penting anda perhatikan irama suara dalam membaca puisi. Dengan

8
adanya irama dalam membaca puisi akan memberikan keindahan pada puisi
yang dibaca.

5. Intonasi atau lagu suara.

Dalam sebuah puisi, ada tiga jenis intonasi antara lain sebagai berikut :
* Tekanan dinamik yaitu tekanan pada kata- kata yang dianggap penting.
* Tekanan nada yaitu tekanan tinggi rendahnya suara.
Misalnya : Suara tinggi menggambarkan keriangan, marah, takjud, dan
sebagainya.Suara rendah mengungkapkan kesedihan, pasrah, ragu, putus asa
dan sebagainya.
* Tekanan tempo yaitu cepat lambat pengucapan suku kata atau kata.

2.5 Jenis-Jenis Puisi Menurut zamannya

Puisi dibedakan atas puisi lama dan puisi baru.


Puisi Lama

Puisi lama adalah puisi yang terikat oleh aturan-aturan.

Aturan- aturan itu antara lain :

1. Jumlah kata dalam 1 baris


2. Jumlah baris dalam 1 bait
3. Persajakan (rima)
4. Banyak suku kata tiap baris
5. Irama
Ciri-Ciri puisi lama:

1. Merupakan puisi rakyat yang tak dikenal nama pengarangnya.


2. Disampaikan lewat mulut ke mulut, jadi merupakan sastra lisan.

9
3. Sangat terikat oleh aturan-aturan seperti jumlah baris tiap bait, jumlah suku
kata maupun rima.
Jenis-jenis puisi lama :

 Mantra adalah ucapan-ucapan yang dianggap memiliki kekuatan gaib.


Contoh:

Assalammu’alaikum putri satulung besar


Yang beralun berilir simayang
Mari kecil, kemari
Aku menyanggul rambutmu
Aku membawa sadap gading
Akan membasuh mukamu
 Pantun adalah puisi yang bercirikan bersajak a-b-a-b, tiap bait 4 baris, tiap baris
terdiri dari 8-12 suku kata, 2 baris awal sebagai sampiran, 2 baris berikutnya sebagai
isi. Pembagian pantun menurut isinya terdiri dari pantun anak, muda-mudi,
agama/nasihat, teka-teki, jenaka.
Contoh:

Kalau ada jarum patah


Jangan dimasukkan ke dalam peti
Kalau ada kataku yang salah
Jangan dimasukkan ke dalam hati
 Karmina adalah pantun

 Gurindam adalah puisi yang berdirikan tiap bait 2 baris, bersajak a-a-a-a, berisi
nasihat.
Contoh:
Kurang pikir kurang siasat (a)

10
Tentu dirimu akan tersesat (a)
Barangsiapa tinggalkan sembahyang (b)
Bagai rumah tiada bertiang (b)
Jika suami tiada berhati lurus (c)
Istri pun kelak menjadi kurus (c)

 Syair adalah puisi yang bersumber dari Arab dengan ciri tiap bait 4 baris,
bersajak a-a-a-a, berisi nasihat atau cerita.
Contoh:

Pada zaman dahulu kala (a)


Tersebutlah sebuah cerita (a)
Sebuah negeri yang aman sentosa (a)
Dipimpin sang raja nan bijaksana (a)
 Talibun adalah pantun genap yang tiap bait terdiri dari 6, 8, ataupun 10 baris.
Kalau anak pergi ke pecan
Yu beli belanak pun beli sampiran
Ikan panjang beli dahulu
Kalau anak pergi berjalan
Ibu cari sanakpun cari isi
Induk semang cari dahulu

Puisi Baru

Puisi baru bentuknya lebih bebas daripada puisi lama baik dalam segi jumlah baris,
suku kata, maupun rima.

Ciri-ciri Puisi Baru:

 Bentuknya rapi, simetris;

11
 Mempunyai persajakan akhir (yang teratur);
 Banyak mempergunakan pola sajak pantun dan syair meskipun ada pola yang lain;
 Sebagian besar puisi empat seuntai;
 Tiap-tiap barisnya atas sebuah gatra (kesatuan sintaksis)
 Tiap gatranya terdiri atas dua kata (sebagian besar) : 4-5 suku kata.

Jenis-jenis Puisi Baru Menurut isinya, puisi dibedakan atas :

 Balada adalah puisi berisi kisah atau cerita. Balada jenis ini terdiri dari 3 bait,
masing-masing dengan 8 larik dengan skema rima a-b-a-b-b-c-c-b. Kemudian skema
rima berubah menjadi a-b-a-b-b-c-b-c. Larik terakhir dalam bait pertama digunakan
sebagai refren dalam bait-bait berikutnya.
Contoh: Puisi karya Sapardi Djoko Damono yang berjudul “Balada Matinya Seorang
Pemberontak”.
 Himne adalah puisi pujaan untuk Tuhan, tanah air, atau pahlawan.
Ciri-cirinya adalah lagu pujian untuk menghormati seorang dewa, Tuhan, seorang
pahlawan, tanah air, atau almamater (Pemandu di Dunia Sastra).Sekarang ini,
pengertian himne menjadi berkembang.Himne diartikan sebagai puisi yang
dinyanyikan, berisi pujian terhadap sesuatu yang dihormati (guru, pahlawan, dewa,
Tuhan) yang bernapaskan ketuhanan.
Contoh:

Bahkan batu-batu yang keras dan bisu

Mengagungkan nama-Mu dengan cara sendiri

Menggeliat derita pada lekuk dan liku


bawah sayatan khianat dan dusta.
Dengan hikmat selalu kupandang patung-Mu
menitikkan darah dari tangan dan kaki

12
dari mahkota duri dan membulan paku
Yang dikarati oleh dosa manusia.
Tanpa luka-luka yang lebar terbuka
dunia kehilangan sumber kasih
Besarlah mereka yang dalam nestapa
mengenal-Mu tersalib di datam hati.
(Saini S.K)
 Ode adalah puisi sanjungan untuk orang yang berjasa. Nada dan gayanya sangat
resmi (metrumnya ketat), bernada anggun, membahas sesuatu yang mulia, bersifat
menyanjung baik terhadap pribadi tertentu atau peristiwa umum.
Contoh:

Generasi Sekarang
Di atas puncak gunung fantasi
Berdiri aku, dan dari sana
Mandang ke bawah, ke tempat berjuang
Generasi sekarang di panjang masa
Menciptakan kemegahan baru
Pantun keindahan Indonesia
Yang jadi kenang-kenangan
Pada zaman dalam dunia
(Asmara Hadi)
 Epigram adalah puisi yang berisi tuntunan/ajaran hidup.Epigram berasal
dari Bahasa Yunani epigramma yang berarti unsur pengajaran; didaktik; nasihat
membawa ke arah kebenaran untuk dijadikan pedoman, ikhtibar; ada teladan.
Contoh:

Hari ini tak ada tempat berdiri


Sikap lamban berarti mati

13
Siapa yang bergerak, merekalah yang di depan
Yang menunggu sejenak sekalipun pasti tergilas.
(Iqbal)
 Romansa adalah puisi yang berisi luapan perasaan cinta kasih. Berasal dari bahasa
Perancis Romantique yang berarti keindahan perasaan; persoalan kasih sayang, rindu
dendam, serta kasih mesra.
 Elegi adalah puisi yang berisi ratap tangis/kesedihan. Berisi sajak atau lagu yang
mengungkapkan rasa duka atau keluh kesah karena sedih atau rindu, terutama karena
kematian/kepergian seseorang.
Contoh:

Senja di Pelabuhan Kecil


Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
ali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut
Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.
Tiada lagi.Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap
(Chairil Anwar)

14
 Satire adalah puisi yang berisi sindiran/kritik.Berasal dari bahasa Latin Satura yang
berarti sindiran; kecaman tajam terhadap sesuatu fenomena; tidak puas hati satu
golongan (ke atas pemimpin yang pura-pura, rasuah, zalim, dan lain-lain.

Contoh:

Aku bertanya
tetapi pertanyaan-pertanyaanku
membentur jidat penyair-penyair salon,
yang bersajak tentang anggur dan rembulan,
sementara ketidakadilan terjadi
di sampingnya,
dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan,
termangu-mangu dl kaki dewi kesenian.
(WS Rendra)
Sedangkan macam-macam puisi baru dilihat dari bentuknya antara lain:

 Distikon, adalah puisi yang tiap baitnya terdiri atas dua baris (puisi dua seuntai).
:

Berkali kita gagal


Ulangi lagi dan cari akal
Berkali-kali kita jatuh
Kembali berdiri jangan mengeluh
(Or. Mandank)
 Terzina, puisi yang tiap baitnya terdiri atau yang tiap baitnya terdiri atas tiga baris
(puisi tiga seuntai).

Dalam ribaan bahagia datang


Tersenyum bagai kencana

15
Mengharum bagai cendana
Dalam bah’gia cinta tiba melayang
Bersinar bagai matahari
Mewarna bagaikan sari
(Sanusi Pane)
 Kuatrain, puisi yang tiap baitnya terdiri atas empat baris (puisi empat seuntai).
Contoh :

Mendatang-datang jua
Kenangan masa lampau
Menghilang muncul jua
Yang dulu sinau silau
Membayang rupa jua
Adi kanda lama lalu
Membuat hati jua
Layu lipu rindu-sendu
(A.M. Daeng Myala)

 Kuint, adalah puisi yang tiap baitnya terdiri atas lima baris (puisi lima seuntai).
Contoh :
Hanya Kepada Tuan
Satu-satu perasaan
Hanya dapat saya katakan
Kepada tuan
Yang pernah merasakan
Satu-satu kegelisahan
Yang saya serahkan
Hanya dapat saya kisahkan

16
Kepada tuan
Yang pernah diresah gelisahkan
Satu-satu kenyataan
Yang bisa dirasakan
Hanya dapat saya nyatakan
Kepada tuan
Yang enggan menerima kenyataan
(Or. Mandank)

 Septime, adalah puisi yang tiap baitnya terdiri atas tujuh baris (tujuh seuntai).
Contoh:
Indonesia Tumpah Darahku
Duduk di pantai tanah yang permai
Tempat gelombang pecah berderai
Berbuih putih di pasir terderai
Tampaklah pulau di lautan hijau
Gunung gemunung bagus rupanya
Ditimpah air mulia tampaknya
Tumpah darahku Indonesia namanya
(Mohammad Yamin)

 Oktaf/Stanza, ada
puisi yang tiap baitnya terdiri atas delapan baris.
:
Awan
Awan datang melayang perlahan
Serasa bermimpi, serasa berangan
Bertambah lama, lupa di diri
Bertambah halus akhirnya seri

17
Dan bentuk menjadi hilang
Dalam langit biru gemilang
Demikian jiwaku lenyap sekarang
Dalam kehidupan teguh tenang
(Sanusi Pane)
 Soneta, adalah puisi yang terdiri atas empat belas baris yang terbagi menjadi dua,
dua bait pertama masing-masing empat baris dan dua bait kedua masing-masing tiga
baris. Soneta berasal dari kata sonneto (Bahasa Italia) perubahan dari kata sono yang
berarti suara.Jadi soneta adalah puisi yang bersuara. Di Indonesia, soneta masuk dari
negeri Belanda diperkenalkan olehMuhammad Yamin dan Roestam Effendi, karena
itulah mereka berdualah yang dianggap sebagai ”Pelopor/Bapak Soneta Indonesia”.
Bentuk soneta Indonesia tidak lagi tunduk pada syarat-syarat soneta Italia atau
Inggris, tetapi lebih mempunyai kebebasan dalam segi isi maupun rimanya.Yang
menjadi pegangan adalah jumlah barisnya (empat belas baris).
Contoh:
Gembala
Perasaan siapa ta ‘kan nyala ( a )
Melihat anak berelagu dendang ( b )
Seorang saja di tengah padang ( b )
Tiada berbaju buka kepala ( a )
Beginilah nasib anak gembala ( a )
Berteduh di bawah kayu nan rindang ( b )
Semenjak pagi meninggalkan kandang ( b )
Pulang ke rumah di senja kala ( a )
Jauh sedikit sesayup sampai ( a )
Terdengar olehku bunyi serunai ( a )
Melagukan alam nan molek permai ( a )
Wahai gembala di segara hijau ( c )

18
Mendengarkan puputmu menurutkan kerbau ( c )
Maulah aku menurutkan dikau ( c )
(Muhammad Yamin)

Puisi Kontemporer

Kata kontemporer secara umum bermakna masa kini sesuai dengan


perkembangan zaman atau selalu menyesuaikan dengan perkembangan keadaan
zaman.Selain itu, puisi kontemporer dapat diartikan sebagai puisi yang lahir dalam
kurun waktu terakhir.Puisi kontemporer berusaha lari dari ikatan konvensional
puisi iti sendiri.Puisi kontemporer seringkali memakai kata-kata yang kurang
memperhatikan santun bahasa, memakai kata-kata makin kasar, ejekan, dan lain-lain.
Pemakaian kata-kata simbolik atau lambing intuisi, gaya bahasa, irama, dan
sebagainya dianggapnya tidak begitu penting lagi.
Tokoh-tokoh puisi kontemporer di Indonesia saat ini, yaitu sebagai berikut:
 Sutardji Calzoum Bachri dengan tiga kumpulan puisinya O, Amuk, dan O
Amuk Kapak
 Ibrahim Sattah dengan kumpulan puisinya Hai Ti
 Hamid Jabbar dengan kumpulan puisinya Wajah Kita

Puisi kontemporer dibedakan menjadi 3 macam, yaitu :


 Puisi mantra adalah puisi yang mengambil sifat-sifat mantra. Sutardji
Calzoum Bachri adalah orang yang pertama memperkenalkan puisi mantra dalam
puisi kontemporer. Ciri-ciri mantra adalah:
1. Mantra bukanlah sesuatu yang dihadirkan untuk dipahami melainkan sesuatu
yang disajikan untuk menimbulkan akibat tertentu.
2. Mantra berfungsi sebagai penghubung manusia dengan dunia misteri.
3. Mantra mengutamakan efek atau akibat berupa kemanjuran dan kemanjuran
itu terletak pada perintah.

19
 Puisi mbeling adalah bentuk puisi yang tidak mengikuti
aturan.Aturan puisi yang dimaksud ialah ketentuan-ketentuan yang umum berlaku
dalam puisi. Puisi ini muncul pertama kali dalam majalah Aktuil yang menyediakan
lembar khusus untuk menampung sajak, dan oleh pengasuhnya yaitu Remy Silado,
lembar tersebut diberi nama "Puisi Mbeling". Kata-kata dalam puisi mbeling tidak
perlu dipilih-pilih lagi.Dasar puisi mbeling adalah main-main.
Ciri-ciri puisi mbeling adalah:
1. Mengutamakan unsur kelakar; pengarang memanfaatkan semua unsur puisi
berupa bunyi, rima, irama, pilihan kata dan tipografi untuk mencapai efek kelakar
tanpa ada maksud lain yang disembunyikan (tersirat).
Contoh:
Sajak Sikat Gigi
Seseorang lupa menggosok giginya sebelum tidur
Di dalam tidur ia bermimpi
Ada sikat gigi menggosok-gosok mulutnya supaya terbuka
Ketika ia bangun pagi hari
Sikat giginya tinggal sepotong
Sepotong yang hilang itu agaknya
Tersesat di dalam mimpinya dan tak bisa kembali
Dan ia berpendapat bahwa, kejadian itu terlalu berlebih-lebihan
(Yudhistira Ardi Nugraha dalam Sajak Sikat Gigi, 1974)
2. Menyampaikan kritik sosial terutama terhadap sistem perekonomian dan
pemerintahan.
3. Menyampaikan ejekan kepada para penyair yang bersikap sungguh-sungguh
terhadap puisi. Dalam hal ini, Taufik Ismailmenyebut puisi mbeling dengan puisi
yang mengkritik puisi.
 Puisi konkret adalah puisi yang disusun dengan mengutamakan bentuk
grafis berupa tata wajah hingga menyerupai gambar tertentu.Puisi seperti ini tidak

20
sepenuhnya menggunakan bahasa sebagai media.Di dalam puisi konkret pada
umumnya terdapat lambang-lambang yang diwujudkan dengan benda dan/atau
gambar-gambar sebagai ungkapan ekspresi penyairnya.

Penyusunan puisi kontemporer sebagai puisi inkonvensional ternyata juga perlu


memerhatikan beberapa unsur sebagai berikut:

 Unsur bunyi; meliputi penempatan persamaan bunyi (rima) pada tempat-


tempat tertentu untuk menghidupkan kesan dipadu dengan repetisi atau
pengulangan-pengulangannya.

Tipografi; meliputi penyusunan baris-baris puisi berisi kata atau suku kata yang
disusun sesuai dengan gambar (pola) tertentu.
Enjambemen; meliputi pemenggalan atau perpindahan baris puisi untuk menuju
baris berikutnya.
Kelakar (parodi); meliputi penambahan unsur hiburan ringan sebagai pelengkap
penyajian puisi yang pekat dan penuh perenungan (kontemplatif).

2.6. Analisis Puisi Sajak Putih Karya Chairil Anwar

SAJAK PUTIH

Bersandar pada tari warna pelangi


Kau depanku bertudung sutra senja
Di hitam matamu kembang mawar dan melati
Harum rambutmu mengalun bergelut senda

Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba

21
Meriak muka air kolam jiwa
Dan dalam dadaku memerdu lagu
Menarik menari seluruh aku

Hidup dari hidupku, pintu terbuka


Selama matamu bagiku menengadah
Selama kau darah mengalir dari luka
Antara kita Mati datang tidak membelah...

Karya : Chairil Anwar

A. Unsur Intrinsik

Struktur Fisik Puisi

 Diksi

Diksi merupakan makna kiasan yang harus dipahami secara seksama dan
menyeluruh, seperti:
Sajak merupakan kiasan suara hati si penyair, suara hati si aku. Putih mengiaskan
ketulusan, kejujuran, dan keihklasan. Jadi, sajak putih berarti suara hati si aku yang
sangat tulus dan jujur.

Pada bait I
1. “Warna pelangi” adalah gambaran hati seorang pemuda yang sedang senang;
2. “Bertudung sutra senja” yang dimaksud adalah pada sore hari;
3. “Di hitam matamu kembang mawar dan melati” yang di maksud adalah bola
matanya yang indah.

22
Pada bait II
1. “Sepi menyanyi” yang di maksud adalah memohon (do’a) kepada Allah;
2. “Muka kolam air jiwa” yang di maksud adalah bersedih hati;
3. “Dadaku memerdu lagu” yang di maksud adalah berkata dalam hati;
4. “Menari seluruh aku” menggambarkan rasa kegembiraan.

Pada bait III


1. “Hidup dari hidupku, pintu terbuka” menggambarkan bahwa si aku merasa
hidupnya penuh dengan kemungkinan dan ada jalan keluar;
2. “Selama matamu bagiku menengadah” merupakan kiasan bahwa si gadis
masih mencintai si aku, mau memandang wajah si aku;
3. “Selama kau darah mengalir dari luka” yang di maksud adalah hidup si aku
penuh harapan selama si gadis masih hidup wajar;
4. “Antara kita Mati datang tidak membelah” menggambarkan sampai kematian
tiba pun keduanya masih mencintai, dan tidak akan terpisahkan.

 Citraan

Citraan dalam karya sastra berperan untuk menimbulkan pembayangan imajinatif


bagi pembaca melalui ungkapan tidak langsung.
1. Citraan visual (penglihatan) terlihat pada baris kedua dan kedelapan
yaitu “Kau depanku dan menarik menari”.
2. Citraan indera (pencium) terlihat pada bait keempat yaitu “Harum rambutmu”.
3. Citraan indera (pendengaran) terlihat pada baris kelima yaitu “Sepi menyayi”.

 Kata-kata konkret

Pada puisi ini ditemukan diksi yang berupa kata-kata konkret yang dapat
membangkitkan citraan seperti penglihatan, penciuman, pendengaran. Kata-kata
konkret tersebut sangat jelas menunjukan sikap tindakan baik dari penyair maupun

23
dari pembaca. Kata-kata konkret tersebut bertujuan untuk menggambarkan unsur-
unsur puisi secara tepat agar pembaca dapat merasakan keadaan yang dirasakan
penyair.
 Gaya Bahasa (Majas)

Dalam puisi “Sajak Putih” gaya bahasa (majas) yang muncul yaitu:
1. Pada baris ketiga bait pertama, yaitu “Dihitam matamu kembang mawar dan
melati”, merupakan majas metafora yang bersifat membandingkan sesuatu
secara langsung. Mawar dan melati yang mekar menggambarkan sesuatu yang
indah dan menarik, biasanya mawar itu berwarna merah yang menggambarka
cinta dan melati putih menggambarkan kesucian. Jadi dalam mata si gadis
tampak cinta yang tulus, menarik, dan mengikat.
2. Majas repetisi pada baris kesembilan bait ketiga, yaitu terjadi pengulangan
kata, “Hidup dari hidupku”, menggambarkan bahwa si aku merasa hidupnya
penuh dengan kemungkinan.
3. Pada baris 1 bait 1 yaitu, “Tari warna pelangi” merupakan bahasa kiasan
personifikasi yang menggambarkan benda mati dapat digambarkan seolah-
olah hidup. “Rambutmu mengalun bergelut senda” juga menggunakan bahasa
kiasan personifikasi.
4. Dalam bait kedua baris pertama, “Sepi menyanyi” adalah personifikasi karena
mereka berdua tidak berkata-kata, suasana begitu khusuk seperti waktu malam
untuk mendoa tiba. Dalam keadaan diam itu, jiwa si akulah yang berteriak
seperti air kolam kena angin.
5. Majas Anatonomasia pada bait kesatu baris kedua yaitu, “Kau depanku
bertudung sutra senja” yang menggunakan ciri fisik seseorang sebagai
penggantinya.

24
 Rima dan ritma

Puisi “Sajak Putih” secara keseluruhan didominasi dengan adanya vokal /a/, /i/, dan
/u/. Asonansi vokal /a/ terdapat pada baris puisi yaitu baris 2, 4, 5, 6, 9, 10, 11, dan
12. Misalnya:
Asonansi vokal (a)
“Kau depanku bertudung sutra senja” (baris kedua bait pertama).
“Harum rambutmu mengalun bergelut senja” (baris keempat bait pertama).

Asonansi vokal (i)

“Bersandar pada tali warna pelangi” (bait pertama baris pertama).


“Dihitam matamu kembang mawar dan melati” (bait pertama baris ketiga).

Dari asonansi vokal diatas dapat disimpulkan bahwa puisi ini mempunyai irama yang
tepat dan beraturan yakni irama vokal i i a a.

Struktur Batin Puisi

 Tema

Tema dalam puisi “Sajak Putih” adalah “Percintaan”. Dalam puisi Sajak Putih
menceritakan seorang gadis yang sangat cantik yang mempunyai cinta yang sangat
tulus dan memikat terhadap seorang pria yang membuat pria tersebut merasa terharu
dan tertarik terhadapnya. Tetapi kedua insan tersebut belum ada kesiapan untuk
saling menyatakan perasaannya masing-masing, mereka hanya diam tanpa ada
sepatah kata yang diucapakn, mereka hanya berbicara didalam hatinya masing–
masing, tetapi si pria tersebut mempunyai banyak harapan bahwa gadis tersebut
mencintainya. Kedua insan tersebut berjanji bahwa sampai kapanpun mereka tak akan
terpisahkan.

25
 Perasaan

Perasaan yang ditekankan pada puisi ini adalah rasa bahagia karena kedua insan yang
tadinya tidak mempunyai keberanian untuk saling menyatakan perasannya, tetapi
pada akhirnya mereka mempunyai keberanian untuk saling menyatakaan
perasaannya. Karena cinta yang dimiliki oleh kedua insan tersebut sangat tulus dan
suci.

 Nada

Nada yang ditunjukan dalam puisi “Sajak Putih” ini adalah kegembiraan dan
kebahagiaan. Nada gembira dan bahagia ini muncul karena, rasa gembira seorang pria
yang memiliki seorang gadis yang mempunyai cinta yang sangat tulus dan suci
terhadapnya yang terlihat pada kata tali warna pelangi, sutra senja, menarik menari.
Maka munculah benih-benih cinta diantara mereka. Unsur nada dalam puisi ini
adalah optimis, dan kesetiaan.
Unsur nada optimis
Hidup dari hidupku, pintu terbuka
Selama matamu bagiku menengadah

Unsur nada kesetiaan

Selama kau darah mengalir dari luka


Antara kita Mati datang tidak membelah

 Amanat

Dalam puisi ini amanat yang disampaikan oleh penyair adalah bahwa jika kita
mencintai seseorang harus berani untuk menyatakaan perasaan kita masing-masing,
menerima segala kelebihan dan kekurangan pasangan kita, dan berusahalah untuk
selalu mencintai dan ada disisinya sampai hembusan nafas terakhir

26
B. Unsur Ekstrinsik
Sajak putih adalah sebuah puisi karya Chairil Anwar yang sarat akan nilai-nilai
romantika. Ketulusan, kejujuran dan keikhlasan seorang pujangga dalam romantika
cinta tersirat jelas di sini. Puisi ini menggambarkan ungkapan tulus perasaan penulis
kepada kekasih yang sangat dipujanya pada pandangan pertama.
Seperti puisi-puisinya yang lain, dalam sajak putih Chairil Anwar ini penulis memilih
bersembunyi di balik metafora dan kiasan-kiasan. Dalam puisi ini, Chairil anwar
menggambarkan gelora hati ‘Aku’ terhadap seorang gadis yang mencuri hatinya
dengan keindahan sore yang berpelangi. Begitu indah, menyenangkan namun juga
mencemaskan karena akan berakhir senja yang sepi dan gelap. Perasaan cinta dalam
sajak putih Chairil Anwar ini juga disembunyikan dalam kiasan indah. Bagaimana
Chairil mengilustrasikan keindahan cinta dengan kembang mawar yang diharapkan
bertemu dengan ketulusan hati si gadis yang diilustrasikan dengan melati, sangat
indah dan menarik mencari dan menafsirkan teka-teki romantika cinta di balik puisi
sajak putih Chairil Anwar ini.

Chairil Anwar selalu menyimpan semangat dan optimisme dalam puisinya, termasuk
dalam sajak putih ini. Meski di bagian tengah puisi digambarkan bahwa romantika
cinta antara ‘Aku’ dan si gadis hanya sebatas kekaguman saat melihat satu sama lain,
tidak ada pembicaraan cinta dan rayuan yang terucap, tidak ada janji bertemu di
berikan, hanya tatapan mata yang menyiratkan kekaguman yang menjadi pegangan.
Namun ‘Aku’ tetap optimis bahwa ada masa yang akan mempersatukan mereka
dalam kisah cinta yang suci.

Akan ada harapan, demikian akhir yang dikiaskan oleh Chairil dalam puisi ini. Hal
ini sangat terlihat pada cuplikan kalimat berikut “Selama matamu bagiku
menengadah”.
Begitulah ciri khas puisi-puisi Chairil Anwar. Selalu melahirkan semangat dan

27
optimisme untuk menggapai harapan. Chairil seakan berpesan pada pembacanya,
bahwa selalu ada harapan selama usaha dan doa bersanding dalam langkah kaki kita.

C. Makna Puisi “Sajak Putih”

Dalam puisi sajak putih digambarkan gadis si aku pada suatu senja hari yang indah ia
duduk dihadapan si aku. Ia besandar yang pada saat itu ada warna pelangi yaitu langit
senja yang indah penuh dengan macam-macam warna. Gadis itu bertudung sutra
diwaktu haru sudah senja. Sedangkan rambut gadis itu yang harum ditiup angin
tampak seperti sedang bersenda gurau, dan dalam mata gadis yang hitam kelihatan
bunga mawar dan melati yang mekar. Mawar dan melati yang mekar menggambarkan
sesuatu yang indah dan menarik . Suasana pada saat itu sangat menyenangkan,
menarik dan penuh keindahan yang membuat si aku haru dengan semua itu.
Dalam pertemuan kedua insan itu sepi menyanyi, malam dalam doa tiba yang
menggambarkan tidak ada percakapan dari keduanya. Mereka hanya diam tanpa ada
sepatah kata yang diucapkan seperti hanya ketika waktu berdoa. Hanya kata hati yang
berkata dan tidak keluar suara. Kesepian itu mengakibatkan jiwa si aku bergerak
seperti hanya permukaan kolam yang terisa air yang beriak tertiup angin. Dalam
keadaan diam tanpa kata itu, didalam dada si aku terdengar lagu yang merdu yang
menggambarkan kegembiraan. Rasa kegembiraan itu digambarkan dengan menari
seluruh aku.

Hidup dari hidupku, pintu terbuka menggambarkan bahwa si aku merasa hidupnya
penuh dengan kemungkinan dan ada jalan keluar serta masih ada harapan yang pasti
bisa diwujudkan selama gadis kekasihnya masih menengadahkan mukanya ke si aku.
Ini merupakan kiasan bahwa si gadis masih mencintai si aku, mau memandang
kemuka si aku.

28
Begitu juga hidup si aku penuh harapan selama si gadis masih hidup wajar, dikiaskan
dengan darahnya yang masih mengalir dan luka, sampai kematian tiba pun keduanya
masih mencintai, dan tidak akan terpisahkan. Sajak merupakan kiasan suara hati si
penyair, suara hati si aku. Putih mengiaskan ketulusan kejujuran, dsan keihklasan.
Jadi sajak putih berarti suara hati si aku yang sangat tulus dan jujur.

29
BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

Puisi (dari bahasa Yunani kuno: ποιέω/ποιῶ (poiéo/poió) =I create)


adalah seni tertulis dimana bahasa digunakan untuk kualitas estetiknya untuk
tambahan, atau selain arti semantiknya.

Syair adalah puisi yang bersumber dari Arab dengan ciri tiap bait 4 baris,
bersajak a-a-a-a, berisi nasihat atau cerita.
Pantun adalah puisi yang bercirikan bersajak a-b-a-b, tiap bait 4 baris, tiap
baris terdiri dari 8-12 suku kata, 2 baris awal sebagai sampiran, 2 baris berikutnya
sebagai isi.Pembagian pantun menurut isinya terdiri dari pantun anak, muda-mudi,
agama/nasihat, teka-teki, jenaka.
Pada dasarnya Puisi, Syair dan Pantun saling berkaitan satu sama lain.

30