Anda di halaman 1dari 5

Skoliosis Pada Tulang Belakang

Tjhia Theonardy Gilroy 102013346

Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Alamat Korespondensi: Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana


Jalan Terusan Arjuna no. 6
Jakarta 11510

Pendahuluan
Skoliosis adalah tulang punggung melengkung ke samping, membentuk kurva
berbentuk S atau C dan mungkin menyebabkan pinggul dan bahu miring. Skoliosis adalah
kondisi yang umum pada masa anak-anak dan remaja awal, ketika mereka tumbuh cepat
(dikenal sebagai juvenile scoliosis). Anak perempuan lebih mungkin untuk memilikinya
daripada anak laki-laki. Skoliosis dapat disebabkan oleh cacat lahir, kejang otot, peradangan
atau memiliki panjang kaki yang berbeda. Kondisi ini bisa bersifat permanen atau
sementara. Skoliosis berat mungkin perlu koreksi bila menimbulkan gangguan penampilan
dan fungsi tubuh. Tujuan saya membuat makalah ini adalah untuk membahas bagian-bagian
columna vertebra yang bersangkutan ketika seseorang menderita scoliosis. Yang akan saya
bahas adalah osteology, myology, fisiologi
Osteology
Lumbal

Gambar 1.1 Lumbal

Vertebra Lumbalis atau ruas tulang pinggang adalah yang terbesar. Badannya sangat
besar dibandingkan dengan badan vertebra lainnya dan berbentuk seperti ginjal. Prosesus
spinosusnya lebar dan bentuknya seperti kapak kecil, sedangkan prosesus transversusnya
panjang dan langsing. Ruas kelima membentuk sendi dengan sacrum pada sendi lumbo-
sakral. 1
Lumbal mempunyai pedicle dan prosesus transversusnya lebih pendek dari thoracal.
Cedera pada lumbal lebih sering daripada di thorakal.
Myologi
Berikut adalah nama otot-otot di sekitar T7-L5 berurutan dari superficial ke
profunda. Musculus latissimus dorsi,fascia thoracolumbar, musculus erector spinae,
musculus seratus posterior inferior, musculus multifidus, musculus lumborum interspinalis,
musculus intertransverius, dan musculus quadratus lumborum. 3

Gambar 2.1 Otot-otot pada columna vertebra bagian superficial


Gambar 2.2 Otot-otot pada columna vertebra bagian profunda

Fisiologi
Mekanisme Kontraksi Otot
Terjadinya kontraksi dimulai karena adanya stimulus yang menimbulkan impuls di
motor neuron, di mana ujung-ujung akson melepaskan asetilkolin dan menimbulkan
potensial generator pada motor end-plate. Selanjutnya, jika sudah mencapai ambang batas
letup akan berubah menjadi potensial aksi di serat otot dan menyebar ke seluruh serat otot.
Potensial aksi menimbulkan reticulum sarkoplasma melepaskan ion kalsium sehingga
muatan ion kalsium lebih tinggi.4
Selanjutnya, ion kalsium diikat oleh troponin C dan mengakibatkan ikatan troponin I
dengan aktin terlepas, sehingga tropomiosin bergeser dan binding site aktin menjadi
terbuka. Sementara itu, di kepala myosin ATP di aktifkan oleh enzim ATPase menjadi ADP
dan fosfat anorganik + energy. Energi yang dilepaskan ini mengaktifkan kepala myosin untuk
mengikat aktin. Terbukanya celah tropomiosin membuka peluang untuk interaksi aktin dan
Myosin. Kepala myosin tetap terikat dengan aktin sampai sebuah molekul ATP baru melekat
ke padanya dan melemahkan ikatan aktin dan myosin.5
Proses relaksasi otot mulai terjadi ketika kepala myosin terlepas dari aktin dan
condong kembali dan menarik kembali untuk mengundang siklus. Terlepasnya ikatan myosin
dimulai saat ion kalsium dipompakan secara aktif ke dalam reticulum sarkoplasma. Ion
kalsium pada troponin C terlepas dan myosin-ATPase menjadi tidak aktif maka terbentuklah
kembali kompleks troponin-tropomiosin-aktin.

Kesimpulan
Skoliosis menyebabkan asimetri pada bahu sehingga terlihat bahwa bahu lebih tinggi
sebelah. Tentu saja jika ada bagian tubuh yang tidak ditopang dengan sempurna sehingga
menimbulkan rasa nyeri. Skoliosis disebabkan oleh tulang bagian lumbal mengalami
pergeseran.

Daftar Pustaka
1. Pearce, E.C. Anatomi dan fisiologi U.Ps. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama; 2005.h.58
2. Wibowo, D.S. Anatomi tubuh manusia. Jakarta: Grasindo; 2005.h.65
3. Netter, F.H. Atlas of human anatomy 5th edition. United States: Saunders;
2011.h.168-170
4. Sherwood, L.S. Fisiologi manusia dari sel ke sistem. Jakarta: EGC ;2001.h.217-21
5. Watson, R. Anatomi & fisiologi. Jakarta: EGC; 2002.h.196-9