Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Bahan bakar fosil terbentuk jutaan tahun yang lalu ketika tanaman, hewan dan
makhluk lainnya meninggal dan dikubur di bawah bumi. Jasad hewan dan tumbuhan secara
bertahap berubah selama bertahun-tahun karena panas dan tekanan dalam kerak bumi
terbentuk batubara, minyak dan gas. Ini adalah 3 bentuk utama dari bahan bakar fosil dan
terbentuk dari sisa-sisa organik dari tumbuhan dan hewan. Karena proses ini jutaan tahun
untuk membentuk, itu sebabnya bahan bakar fosil juga disebut sebagai sumber energi tak
terbarukan.
Bahan bakar fosil telah melayani sebagai sumber energi untuk tujuan hampir semua
kehidupan saat ini. tak terelakkan dalam semua tujuan domestik seperti memasak,
transportasi dan masih banyak kegiatan-kegiatan yang lain yang membutuhkan bahan bakar
fosil ini. Namun, ini semua sumber-sumber non-energi terbarukan. Ini berarti persedian
bahan bakar fosil ini sangat terbatas. Dengan meningkatnya populasi dan akibatnya
konsumsi bahan bakar fosil, persediaannya tampaknya mendekati ujungnya Setiap tahun
jutaan ton batubara dan galon minyak digunakan untuk mengekstrak energi dari fosil.
Melihat dari permasalahan diatas maka perlu dilakukan upaya untuk menutupi
keterbatasan ketersediaan dari pada bahan bakar fosil, diantaranya dengan menggantikan
dengan bahan bakar alternative yaitu briket sekam padi yang digunakan untuk rumah
tangga, jika dilihat dari perbandingan harga dan efisiensi penggungaannya tentu bahan bakar
briket sekam padi sangat unggul.
Limbah sekam padi sering diartikan sebagai bahan buangan/bahan sisa dari proses
pengolahan hasil pertanian. Proses penghancuran limbah secara alami berlangsung lambat,
sehingga limbah tidak saja mengganggu lingkungan sekitarnya tetapi juga mengganggu
kesehatan manusia. Pada setiap penggilingan padi akan selalu kita lihat tumpukan bahkan
gunungan sekam yang semakin lama semakin tinggi. Saat ini pemanfaatan sekam padi
tersebut masih sangat sedikit, sehingga sekam tetap menjadi bahan limbah yang
mengganggu lingkungan.
Pada daerah Lombok NTB, ketersediaan bahan baku untuk pembuatan briket sangat
berlimpah, karena sebagian wilayahnya menjadi areal persawahan dan ditanami padi.

pg. 1
Sekam padi merupakan lapisan keras yang meliputi kariopsis yang terdiri dari dua belahan
yang disebut lemma dan palea yang saling bertautan. Pada proses penggilingan beras sekam
akan terpisah dari butir beras dan menjadi bahan sisa atau limbah penggilingan. Sekam
dikategorikan sebagai biomassa yang dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan seperti
bahan baku industri, pakan ternak dan energi atau bahan bakar.
Dari proses penggilingan padi biasanya diperoleh sekam sekitar 20-30% dari bobot gabah.
Penggunaan energi sekam bertujuan untuk menekan biaya pengeluaran untuk bahan bakar
bagi rumah tangga petani. Penggunaan Bahan Bakar Minyak yang harganya terus meningkat
akan berpengaruh terhadap biaya rumah tangga yang harus dikeluarkan setiap harinya.
Melihat dari permasalahan diatas, perlu dilakukan pengkajian mengenai perbandingan
minyak tanah dengan briket baik dari segi ekonomi maupun dari segi sifat penyalaan.
1.2 Rumusan Masalah
a. Apa yang dimaksud dengan briket ?
b. Apa saja karakteristik kandungan briket ?
c. Pengertian minyak tanah & kandungan yang terdapat pada minyak tanah.?
d. Perbandingan harga briket dan minyak tanah. ?
e. Bagaimana Perhitungan ekonomi briket ?
1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan briket ini adalah sbb:
a. Sebagai pengganti penggunaan minyak tanah pada skala rumah tangga.
b. Penghematan biaya dalam penggunaan bahan bakar.
1.4 Manfaat
Adapun manfaat dari pembuatan briket ini adalah sbb:
a. Mengurangi penggunaan bahan bakar fosil pada skala rumah tangga .
b. Memanfaatkan limbah sekam padi yang sanagat berlimpah di wiayah Lombok NTB.
c. Memberikan pengetahuan kepada masyarakat bagaimana proses pengolahan sekam
padi.

pg. 2
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Briket
Briket adalah sebuah blok bahan yang dapat dibakar yang digunakan sebagai bahan
bakar untuk memulai dan mempertahankan nyala api
Sekam padi merupakan lapisan keras yang meliputi kariopsis yang terdiri dari dua
belahan yang disebut lemma dan palea yang saling bertautan. Pada proses penggilingan
beras sekam akan terpisah dari butir beras dan menjadi bahan sisa atau limbah penggilingan.
Sekam dikategorikan sebagai biomassa yang dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan
seperti bahan baku industri, pakan ternak dan energi atau bahan bakar.
Dari proses penggilingan padi biasanya diperoleh sekam sekitar 20-30% dari bobot
gabah. Penggunaan energi sekam bertujuan untuk menekan biaya pengeluaran untuk bahan
bakar bagi rumah tangga petani. Penggunaan Bahan Bakar Minyak yang harganya terus
meningkat akan berpengaruh terhadap biaya rumah tangga yang harus dikeluarkan setiap
harinya.
Dari proses penggilingan padi biasanya diperoleh sekam sekitar 20-30%, dedak
antara 8- 12% dan beras giling antara 50-63,5% data bobot awal gabah. Sekam dengan
persentase yang tinggi tersebut dapat menimbulkan problem lingkungan.

Ditinjau data komposisi kimiawi, sekam mengandung beberapa unsur kimia penting
seperti dapat dilihat di bawah.
2.2 Karakteristik Kandungan Briket
Komposisi kimia sekam padi menurut Suharno (1979) :
 Kadar air : 9,02%
 Protein kasar : 3,03%
 Lemak : 1,18%
 Serat kasar : 35,68%
 Abu : 17,17%
Komposisi kimia sekam padi menurut DTC - IPB :

 Karbon (zat arang) : 1,33%


 Hidrogen : 1,54%
 Oksigen : 33,64%

pg. 3
 Silika : 16,98%

Dengan komposisi kandungan kimia seperti di atas, sekam dapat dimanfaatkan


untuk berbagai keperluan di antaranya:
 Sebagai bahan baku pada industri kimia, terutama kandungan zat kimia furfural yang
dapat digunakan sebagai bahan baku dalam berbagai industri kimia,
 Sebagai bahan baku pada industri bahan bangunan, terutama kandungan silika
(SiO2) yang dapat digunakan untuk campuran pada pembuatan semen portland,
bahan isolasi, husk-board dan campuran pada industri bata merah, (c) sebagai
sumber energi panas pada berbagai keperluan manusia, kadar selulosa yang cukup
tinggi dapat memberikan pembakaran yang merata dan stabil.
 Sekam memiliki kerapatan jenis (bulk densil)1 125 kg/m3, dengan nilai kalori 1 kg
sekam sebesar 3300 k. kalori. Menurut Houston (1972) sekam memiliki bulk density
0,100 g/ ml, nilai kalori antara 3300 -3600 k. kalori/kg sekam dengan konduktivitas
panas 0,271 BTU.
 Untuk lebih memudahkan diversifikasi penggunaan sekam, maka sekam perlu
dipadatkan menjadi bentuk yang lebih sederhana, praktis dan tidak voluminous.
Bentuk tersebut adalah arang sekam maupun briket arang sekam. Arang sekam dapat
dengan mudah untuk dimanfaatkan sebagai bahan bakar yang tidak berasap dengan
nilai kalori yang cukup tinggi. Briket arang sekam mempunyai manfaat yang lebih
luas lagi yaitu di samping sebagai bahan bakar ramah lingkungan, sebagai media
tumbuh tanaman hortikultura khususnya tanaman bunga.
2.3 Pengertian Minyak Tanah
Minyak tanah atau kerosin merupakan cairan hidrokarbon yang tak berwarna dan
mudah terbakar dan memiliki titik didih antara 200 °C dan 300 °C. Minyak tanah atau
disebut juga parafin. Minyak tanah banyak digunakan untuk lampu minyak dan kompor,
sekarang banyak digunakan sebagai bahan bakar mesin jet (Avtur, Jet-A, Jet-B, JP-4 atau
JP-8). Kerosen dikenal sebagai RP-1 digunakan sebagai bahan bakar roket. Pada proses
pembakarannya menggunakan oksigen cair. Kerosin didestilasi langsung dari minyak
mentah dan memerlukan pengendalian khusus dalam sebuah unit Merox atau hydrotreater
untuk mengurangi kadar belerang dan perkaratan. Kerosene dapat juga diproduksi oleh
hydrockraker, yang digunakan untuk meningkatkan bagian dari minyak mentah yang cocok

pg. 4
Untuk bahan bakar minyak.
Minyak tanah sifatnya berada antara minyak gas dan bensin.
Sifat fisik minyak tanah :
Titik didih : 175-284oC
berat jenis : 0,7-0,83
Minyak bumi biasanya mengandung 5-25% minyak tanah, sedangkan dalam minyak tanah
mengandung senyawa-senyawa seperti parafin, naften, aromatik, dan senyawa belerang.
Jumlah kandungan komponen senyawa dalam minyak tanah akan mempengaruhi sifat-sifat
minyak tanah. Sifat-sifat yang harus dimiliki minyak tanah adalah :
 Titik nyala,
 Titik asap,
 Kekentalan,
 Kadar belerang,
 Sifat pembakaran serta
 Bau dan warna yang khas
2.4 Perbandingan Briket, Bahan Bakar Fosil dan Bahan Bakar Lain

a. Table perbandingan nilai kalor

No. Nama bahan bakar komposisi Nilai kalor


C H O ( Kj/Kg)

1. Minyak tanah 85 12 0 45
2. Batu bara 82 1 2 31
3. Bensin 85 15 0 48
4. Briket 100 0 0 34
5. Kayu 50 6 44 18
6. LPG 70 23 0 49
Table 1. Perbandingan nilai kalor bahan bakar
(https://www.google.com/search?q=tabel+perbandingan)
Dilihat dari table diatas nilai kalor yang terdapat pada minyak tanah lebih tinggi
dibandingkan yang terdapat pada briket, namun dibandingkan dengan batubara dan kayu
kering masih tinggi nilai kalornya.

pg. 5
b. Table perbandingan harga bahan bakar dari segi harga

No. Nama bahan bakar Harga (Rp/ Kg)

1. Minyak tanah 10.000


2. Minyak tanah non subsidi 19.000
3. Batu bara 1.700
4. Bensin 7.500
5. Briket 1.000
6. Kayu 500
7. LPG 8.500
Tabel 2. Perbandingan harga Bahan Bakar
(http://image.slidesharecdn.com/26-jurnalbriket)
Dilihat dari table 2. Diatas bahwa perbandingan harga dari berbagai jenis bahan
bakar sangat beragam mulai dari Rp.500,- Sampai Rp. 19.000,-. Perbandingan harga briket
dengan minyak tanah sangat jauh perbedaannya. Jika disimpulkan dari kedua table diatas
bahan bakar memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, minyak tanah unggul
dengan nilai kalornya yang tinggi namun harganya yang sangat mahal, sebaliknya briket
memiliki nilai kalor yang rendah dibandingkan dengan minyak tanah namaun jika dilihat
dari segi harga sangat terjangkau. Sesuai dengan daerah Lombok yang sebagian
masyarakatnya menyandang ekonomi menengah kebawah sangat cocok untuk
menggunakan jenis bahan bakar briket sekam padi.
2.5 Perhitungan Ekonomi Bahan Bakar Briket
1. Bahan
a. Sekam Padi
Produksi untuk 1 hari
Sekam padi 1 karung ukuran 50 kg = Rp. 2500,-
Pada tiap satu karung ukuran 50 kg sekam padi bisa menghasilkan 5 kg bubuk hasil
tumbukan arang sekam padi yang sudah dilakukan pengarangan.
 20 karung x Rp. 1.500,- = Rp. 30.000,-
 menghasilkan bubuk sekam padi = 100 kg.
 1 Kg bubuk sekam padi dicampur dengan adonan tanah liat sebanyak 2 ons
menghasilkan briket yang sudah dicetak sebanyak 10 biji.

pg. 6
 jadi untuk 100 Kg dicampur dengan adonan tanah liat sebanyak 20 Kg.
 menghasilkan briket yang sudah dicetak = 1000 biji.
b. Tanah liat. Untuk tanah liat tidak dibeli. Tanah liat digunakan sebagai perekat untuk
mengikat serbuk/ bubuk arang sekam.
c. Air, Menggunakan air sumur, jadi tidak ada biaya untuk penyediaan air. Digunakan
untuk membuat adonan yang dicampurkan dengan tanah liat
2. Alat yang digunakan adalah cerobong asap.
Harga untuk membeli cerobong asap Rp. 100,000,- .
3. Biaya proses pembuatan.
a. Proses pengarangan membutuhkan waktu 2-3 jam
b. Pencampuran/pembuatan adonan dari tanah liat membutuhkan waktu 5-8 menit.
c. Pencampuran adonan dengan serbuk/bubuk sekam padi membutuhkan waktu 1 jam,
dengan pekerja 2 orang.
d. Proses peencetakan adonan menjadi briket yang berbentuk silinder membutuhkan
waktu 3 jam, dengan pekerja 2 orang.
Total kebutuhan waktu untuk menetak 1000 briket/ hari adalah lebih kurang 7 jam 14
menit.
Total keseluruhan (satu hari)
Harga cerobong asap Rp. 100.000,- (sekali beli)
Sekam padi Rp. 30.000,-
Gaji karyawan @20.000,- / x 2= Rp. 40.000,-
Jumlah = Rp. 170.000,- = 1000 biji briket

Total hari selanjutnya


Sekam padi Rp. 30.000,-
Gaji karyawan @20.000,- / x 2= Rp.40.000,-
Jumlah = Rp. 70.000,- = 1000 biji briket
Ambil bersihnya Rp. 70.000x26 hari = 1.820.000,- menghasilkan briket sebanyak
26000 biji.

pg. 7
4. Perbandingan penggunaan bahan bakar briket dengan minyak tanah pada skala rumah
tangga.
Pada rumah tangga, kebutuhan kebutuhan nyala api pada satu kali masak ( 1 kg)
sekitar 30-40 menit
a. Menggunakan minyak tanah 0,5 liter, @liter = Rp. 19000,-. Jadi membutuhkan uang
Rp. 9500,- untuk sekali masak nasi.
b. Menggunakan briket sebanyak 60 biji = Rp.5000,-
Pada penggunaan briket memerlukan waktu yang lebih banyak dibandingkan
dengan menggunakan minyak tanah, namun keunggulan briket yaitu pada harga
yang sangat terjangkau. Dari hasil perhitungan diatas maka penggunaan briket
sebanyak 26000 biji/ bulan, dapat digunakan oleh sebanyak 14 rumah tangga (
ansumsi 1 x masak/ hari).
Jika diansumsikan memasak 1 kali sehari, maka untuk 30 hari membutuhkan :
 Menggunakan minyak tanah Rp.9500,- x 30 hari = Rp. 285.000,-
 Menggunakan briket Rp. 5000,- x 30 hari = Rp. 150.000,-
 Melisihnya adalah Rp. 135.000,-/ bulan
5. Harga penjualan
Dijual, untuk harga per 60 bijinya adalah Rp. 5000,-
Menghasilkan sebanyak 1000 biji x 26 hari = 26000 biji briket. 26000 biji/60 = 433 x
Rp. 5000,- = Rp. 2.165.000,-
Laba = harga penjualan – modal produksi
Jadi : Rp. 2.165.000 - Rp. 1.820.000 = Rp. 345.000,- ( keuntungan bersih)
Pada bulan pertama Rp. 345.000 - Rp. 100.000,- ( biaya untuk membeli drum) = Rp.
245.000,-.
Pada bulan selanjutnya yaitu Rp. 245.000,-

pg. 8
BAB III
PENUTUP
a. Kesimpulan
Dari pembahasan makalah briket sebagai energi pengganti bahan bakar fosil pada
rumah tangga diatas dapat kita simpulkan bahwa :
 Briket adalah bahan bakar alternative yang sangat bagus prospek kedepannya, karena
mampu menyaingi bahan bakar fosil dari segi ekonomi dan menyamai dari segi
kualitas nyala api.
 Pemanfaatan limbah sekam padi merupakan upaya penyelamtan lingkungan dari
tumpukan sekam padi yang tidak dipakai.
 Pada pembuatan briket sekam padi, melibatkan masyarakat sehingga membuka
lapangan kerja baru bagi para pegangguran.
 Harga bahan bakar alternative briket sangat terjangkau bagi masyarakat menengah
kebawah.
b. Saran
 Agar bahan bakar alternative briket ini bisa dikenal luas oleh masyarakat maka perlu
campur tangan pemerintah untuk mempublikasikan.
 Dukungan moral dan moril dari semua pihak.

pg. 9
DAFTAR PUSTAKA

Jamilatun, S. 2008,Sifat-Sifat Penyalaan dan Pembakaran Briket Biomassa,

Briket Batubara dan Arang Kayu,Vol. 2. Jogya.


Nugraha , S. 2006,Pemanfaatan Sekam pada Sistem Agroindustri Padi Terpadu .
 Hartanto, F.P,and Alim, F.,2011, Optimasi Operasi Pirolisis Sekam Padi untuk
Menghasilkan Bahan Bakar Briket Bioarang sebagai Bahan Bakar Alternatif, Semarang.

 Sipahutar, D. 2010, Teknologi Briket Sekam Padi , Semarang.

 http://bapelkescikarang.or.id/bapelkescikarang/images/stories/KurmodTTG/pengelolaans
ampah/mi-3c%20modul%20pembuatan%20briket.pdf
 http://www.smallcrab.com/others/329-sekam-padi-sebagai-sumber-energi-alternatif
 https://www.google.com/search?q=tabel+perbandingan
 http://image.slidesharecdn.com/26-jurnalbriket)

pg. 10