Anda di halaman 1dari 18

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Rhinitis alergi merupakan peradangan mukosa hidung yang


disebabkan mediasi oleh reaksi hipersensitifitas atau alergi tipe 1. Rhinitis
alergi dapat terjadi karena sistem kekebalan tubuh bereaksi secara berlebihan
terhadap alergen. Menurut ARIA (Allergic Rhinitis and its Impact on
Asthma). Rhinitis alergi adalah kelainan pada hidung dengan gejala bersin-
bersin, rhinorrhea, rasa gatal dan tersumbat setelah mukosa hidung terpapar
alergen karena reaksi hipersensitivitas tipe I yang diperantarai oleh IgE
(Cantani, 2008; ARIA, 2008).

Rhinitis alergi telah menjadi masalah kesehatan global yang


menyerang 5-50% penduduk di dunia. Prevalensi rhinitis alergi di Indonesia
mencapai 1,5-12,4% dan cenderung mengalami peningkatan setiap tahunnya.
Peningkatan rhinitis alergi di masyarakat menjadi masalah baru yang harus
ditangani secara serius karena berdampak pada penurunan kualitas hidup
penderitanya seperti, terjadi penurunan produktifitas kerja, prestasi di sekolah,
aktifitas sosial serta dapat menyebabkan gangguan psikologi. (Girish. 2004;
Nurcahyo & Eko, 2009; Mabry, 2001).

Rhinitis alergi dapat terjadi kepada siapa saja baik anak, remaja
maupun dewasa, namun gejala rhinitis alergi biasa tampak pada usia remaja
ataupun dewasa muda. Gejala rhinitis alergi berupa bersin (5-10 kali berturut-
turut), rasa gatal (pada mata, telinga, hidung, tenggorok, dan palatum), hidung
berair, mata berair, hidung tersumbat, post nasal drip, tekanan pada sinus, dan
rasa lelah. (Girish, 2004; Nuty, 2007; Goerge, 2013).

Kegiatan konseling obat dilakukan oleh tenaga profesi dalam hal ini
Apoteker yang mempunyai kompetensi dalam pemberian konseling obat.
Apoteker yang melaksanakan kegiatan konseling harus memahami baik aspek
farmakoterapi obat maupun teknik berkomunikasi dengan pasien. Dalam

1
mewujudkan pelayanan konseling yang baik maka kemampuan komunikasi
harus ditingkatkan. Ini penting agar terjalin komunikasi yang efektif dan
intensif antara apoteker dengan pasien.

Kegiatan konseling dibutuhkan oleh pasien rinithis alergi untuk dapat


mengetahui pemakaian obat-obat dengan cara penggunaan khusus, seperti
sediaan obat nasal spray, dan obat-obat yang membutuhkan terapi jangka
panjang sehingga perlu memastikan untuk kepatuhan pasien meminum obat,
serta untuk memberikan informasi kepada pasien tentang khasiat, efek
samping, interaksi obat, dan penyimpanan obat kepada pasien.

Berdasarkan latar belakang diatas, maka dibuatlah makalah ini untuk


memberikan informasi tentang kegiatan konseling kepada pasien rinithis
alergi.

B. Rumusan Masalah

Adapun masalah yang akan dibahas pada makalah ini adalah sebagai
berikut :

a. Bagaimana definisi rhinitis alergi?


b. Bagaimana klasifikasi rhinitis alergi?
c. Bagaimana etiologi rhinitis alergi?
d. Bagaimana patofisiologi rhinitis alergi?
e. Bagaimana gejala klinis rhinitis alergi?
f. Bagaimana diagnosis rhinitis alergi?
g. Bagaimana penatalaksanaan rhinitis alergi?
h. Bagaimana kegiatan konseling pada pasien rinithis alergi?

C. Tujuan Umum
a. Mengetahui definisi rhinitis alergi.
b. Mengetahui klasifikasi rhinitis alergi.
c. Mengetahui etiologi rhinitis alergi.
d. Mengetahui patofisiologi rhinitis alergi.
e. Mengetahui gejala klinis rhinitis alergi.
f. Mengetahui diagnosis rhinitis alergi.
g. Mengetahui penatalaksanaan rhinitis alergi.
h. Mengetahui kegiatan konseling pada pasien rinithis alergi

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pelayanan Konseling
Konseling merupakan bagian dari aspek pelayanan kefarmasian di
apotek. Peran penting konseling pasien adalah memperbaiki kualitas hidup
pasien dan menyediakan pelayanan yang bermutu untuk pasien (Rantucci,
2009). Banyak penelitian yang membuktikan keefektifan penyediaan
informasi dan pemberian konseling oleh apoteker.
Pemberian konseling dan informasi kepada pasien sangat
bermanfaat untuk meningkatkan kepatuhan dan mencegah kegagalan
terapi obat pasien (Monita, 2009). Penelitian di Memphis, Tenesse,
menemukan tingkat kepatuhan 84,7 % pada pasien yang menerima banyak
informasi tentang antibiotik dibandingkan pasien yang lebih sedikit
mendapat informasi hanya menunjukkan tingkat kepatuhan 63 % (Kessler,
1992)
Konseling berasal dari kata counsel yang artinya memberikan
saran, melakukan diskusi dan pertukaran pendapat. Konseling adalah suatu
kegiatan bertemu dengan seorang yang membutuhkan (klien) dan
seseorang yang membeerikan (konselor) dukungan dan dorongan
sedemikian rupa sehingga klien memperoleh keyakinan akan
kemampuannya dalam pemecahan masalah. Adapun tahap-tahapan
konseling, antara lain:
a. Pembukaan : Apoteker harus memperkenalkan diri terlebih dahulu
sebelum memulai sesi konseling. Apoteker harus mengetahui
identitas pasien. Apoteker harus menjelaskan kepada pasien
tentang tujuan konseling serta memberitahu berapa lama sesi
konseling itu akan berlangsung
b. Diskusi untuk mengumpulkan dan identifikasi masalah : Apoteker
dapat mengetahui berbagai informasi dari pasien tentang masalah
potensial yang akan terjadi selam pengobatan.
c. Diskusi mencegah atau memecahkan masalah dan mempelajarinya

3
d. Memastikan pasien telah memahami informasi yang diperoleh
e. Menutup diskusi
B. Rinithis Alergi
Rinitis adalah inflamasi pada lapisan dalam hidung yang
dikarakterisasi dengan adanya gejala-gejala nasal seperti rinore anterior
atau posterior, bersin bersin, hidung tersumbat, dan/atau hidung gatal.
Rinitis alergi adalah wujud yang paling sering ditemui dari rinitis non-
infeksi dan berkaitan dengan respon imun setelah paparan allergen yang
diperantarai oleh immunoglobulin E (IgE).
Rinitis alergi sering pula memicu simptom okular. Prevalensi
rinitis alergi terus meningkat sepanjang 50 tahun terakhir. Perkiraan yang
tepat tentang prevalensi rinitis alergi agak sulit yaitu berkisar 4-40%.
Penyebab belum bisa dipastikan, tetapi nampaknya berkaitan dengan
meningkatnya polusi udara, populasi dust mite, kurangnya ventilasi di
rumah atau kantor, dan lain-lain (Ikawati, 2011). Lebih dari 500 juta orang
di dunia menderita rinitis alergi, dengan 50% penderitanya adalah remaja.
Usia rata-rata terjadinya rinitis alergi adalah antara usia 8-11 tahun, dan
80% rinitis alergi berkembang pada usia 20 tahun, namun di Amerika
Serikat rinitis alergi biasanya dimulai pada usia di bawah 20 tahun (Pinto
and Jeswani, 2010).
Ada beberapa cara untuk menegakkan diagnosis rinitis alergi, yaitu
dengan pemeriksaan fisik, skin test, ataupun RAST (Radio Allergo
Sorbent Test). Skin test ataupun skin prick test merupakan tes obyektif
untuk mendeteksi reaksi alergi pasien terhadap allergen tertentu secara
spesifik. Sedangkan RAST yaitu test alergi untuk mengukur kadar IgE
dalam darah, namun kurang banyak dipakai karena lebih mahal dan
kurang sensitif, sehingga hanya digunakan pada kasus-kasus tertentu di
mana skin test tidak dapat dilakukan (Bousquet et al, 2008).
Terapi rinitis dilakukan dengan tujuan untuk mengurangi gejala-
gejala yang mengganggu, meningkatkan performa kerja atau belajar
pasien, meningkatkan kualitas hidup pasien, serta mencegah peningkatan
keparahan penyakit. Dampak rinitis alergi yang paling utama adalah

4
menurunnya kualitas hidup pasien, mulai dari terganggunya tidur,
menurunnya performa saat bekerja, ataupun menurunnya
konsentrasi di sekolah (Bousquet et al, 2008).
Rinitis alergi adalah penyakit yang terkesan sepele tetapi ternyata
cukup mengganggu dan diderita oleh cukup banyak orang, tetapi di
Indonesia nampaknya belum banyak dilakukan penelitian mengenai rinitis
alergi, terutama yang mengamati efektivitas pengobatan rinitis alergi di
berbagai Rumah Sakit.

5
BAB III

PEMBAHASAN

a. Definisi rinithis alergi

Rinitis alergi (RA) merupakan reaksi radang yang diperantarai


oleh IgE setelah terjadi paparan alergen. Gejala rinitis alergi meliputi
rinore, sumbatan hidung, gatal pada hidung dan bersin-bersin yang
reversibel baik secara spontan maupun dengan pengobatan. Menurut
klasifikasi ARIA WHO RA persisten bila penderita mempunyai gejala
selama lebih dari 4 hari dalam 1 minggu, dan penyakitnya sudah
berlangsung selama lebih dari 4 minggu.Pemeriksaan invivo untuk
diagnosis RA antara lain adalah skin prick test. Hasil skin prick test
menurut The Standardization Comitte of Nothern (Scandinavian) Society
of allergology adalah bila terdapat bentol sama dengan ukuran bentol
histamine (+++)/positif 3.

b. Klasifikasi rinithis alergi


Klasifikasi rinitis alergi berdasarkan rekomendasi dari WHO Initiative
ARIA (Allergic Rhinitis and its Impact on Asthma) tahun 2001, yaitu
berdasarkan sifat berlangsungnya dibagi menjadi:
1. Intermitten, bila gejala terdapat :
 Kurang dari 4 hari per minggu
 Atau bila kurang dari 4 minggu
2. Persisten, bila gejala terdapat:
 Lebih dari 4 hari per minggu
 Dan bila lebih dari 4 minggu
Berdasarkan beratnya gejala :
1. Ringan, jika tidak terdapat salah satu dari gangguan sebagai berikut:
 Gangguan tidur
 Gangguan aktivitas harian
 Gangguan pekerjaan atau sekolah
2. Sedang-berat, bila didapatkan salah satu atau lebih gejala-gejala
tersebut diatas.

6
Klasifikasi rintis alergi berdasarkan ARIA 2001
c. Etiologi rinithis alergi

Rhinitis alergi melibatkan interaksi antara lingkungan dengan


predisposisi genetik dalam perkembangan penyakitnya. Faktor genetik dan
herediter sangat berperan pada ekspresi rinitis alergi. Penyebab rinitis
alergi tersering adalah alergen inhalan pada dewasa dan ingestan pada
anak-anak. Berbagai pemicu yang bisa berperan dan memperberat adalah
beberapa faktor nonspesifik diantaranya asap rokok, polusi udara, bau
aroma yang kuat atau merangsang dan perubahan cuaca.
Berdasarkan cara masuknya allergen dibagi atas:
 Alergen Inhalan, yang masuk bersama dengan udara pernafasan, misalnya
debu rumah, tungau, serpihan epitel dari bulu binatang serta jamur.
 Alergen Ingestan, yang masuk ke saluran cerna, berupa makanan,
misalnya susu, telur, coklat, ikan dan udang.
 Alergen Injektan, yang masuk melalui suntikan atau tusukan, misalnya
penisilin atau sengatan lebah.
 Alergen Kontaktan, yang masuk melalui kontak dengan kulit atau jaringan
mukosa, misalnya bahan kosmetik atau perhiasan.

d. Patofisiologi rinitis alergi


Rinitis alergi merupakan suatu penyakit inflamasi yang ditandai
dengan tahap sensitisasi dan diikuti dengan tahap provokasi/reaksi alergi.
Reaksi alergi terdiri dari 2 fase yaitu Immediate Phase Allergic Reaction
atau Reaksi Alergi Fase Cepat (RAFC) yang berlangsung sejak kontak
dengan alergen sampai 1 jam setelahnya dan Late Phase Allergic Reaction

7
atau Reaksi Aergi Fase Lambat (RAFL) yang berlangsung 2-4 jam dengan
puncak 6-8 jam (fase hiper-reaktifitas) setelah pemaparan dan dapat
berlangsung sampai 24-48 jam.

e. Gejala Klinis rinithis alergi


Gejala klinis dari rinitis alergi yaitu:
1. obstruksi nasal oleh karena vasodilatasi dan oedema mukosa;
2. rhinorrhoeae (hidung meler) oleh karena peningkatan aktivitas
elemen glandular
3. bersin berulang karena stimulasi mukosa.
4. Hidung berair atau tersumbat, bersin, batuk
5. Tenggorokan tergores atau sakit
6. Mata gatal atau berair

f. Diagnosis rinithis alergi


Gejala-gejala rinitis alergi yang perlu ditanyakan adalah diantaranya
adanya rinore (cairan hidung yang bening encer), bersin berulang dengan
frekuensi lebih dari 5 kali setiap kali serangan, hidung tersumbat baik
menetap atau hilang timbul, rasa gatal di hidung, telinga atau daerah
langit-langit, mata gatal, berair atau kemerahan, hiposmia atau anosmia
(penurunan atau hilangnya ketajaman penciuman) dan batuk kronik.
Pada pemeriksaan hidung (rinoskopi anterior) diperhatikan adanya
edema dari konka media atau inferior yang diliputi sekret encer bening,
mukosa pucat dan edema. Perhatikan juga keadaan anatomi hidung lainnya
seperti septum nasi dan kemungkinan adanya polip nasi.
Pemeriksaan penunjang diagnosis dipertimbangkan sesuai dengan
fasilitas yang ada.
1. Uji kulit cukit (Skin Prick Test).
Tes ini mudah dilakukan untuk mengetahui jenis alergen penyebab
alergi
2. IgE serum total.
Kadar meningkat hanya didapati pada 60% penderita rinitis alergi
dan 75% penderita asma. Kadar IgE normal tidak menyingkirkan
rinitis alergi.
3. IgE serum spesifik.
Pemeriksaan ini dilakukan apabila pemeriksaan penunjang
diagnosis rinitis alergi seperti tes kulit cukit selalu menghasilkan
hasil negatif tapi dengan gejala klinis yang positif.

8
4. Pemeriksaan sitologis atau histologis, bila diperlukan untuk
menindaklanjuti respon terhadap terapi atau melihat perubahan
morfologik dari mukosa hidung.
5. Tes provokasi hidung (Nasal Challenge Test).
Dilakukan bila ada keraguan dan kesulitan dalam mendiagnosis
rinitis alergi, dimana riwayat rinitis alergi positif, tetapi hasil tes
alergi selalu negatif.
6. Foto polos sinus paranasal/CT Scan/MRi.
Dilakukan bila ada indikasi keterlibatan sinus paranasal, seperti
adakah komplikasi rinosinusitis, menilai respon terhadap terapi dan
jika direncanakan tindakan operasi.

g. Penatalaksanaan rinithis alergi

1. Terapi non-farmakologi
Terapi yang paling ideal adalah dengan alergen penyebabnya
(avoidance) dan eliminasi. Pengendalian lingkungan atau menghindari
penyebab
2. Terapi farmakologi
a. Medikamentosa- Terapi medikamentosa yaitu antihistamin, obat-
obatan simpatomimetik, kortikosteroid dan antikolinergik topikal.
 Antihistamin yang dipakai adalah antagonis H-1, yang bekerja
secara inhibitor komppetitif pada reseptor H-1 sel target, dan
merupakan preparat farmakologik yang paling sering dipakai
sebagai inti pertama pengobatan rinitis alergi. Pemberian dapat
dalam kombinasi atau tanpa kombinasi dengan dekongestan secara
peroral.Farmakokinetik AH generasi kedua (Cetirizin dan
Loratadin).
 Simpatomimetik golongan agonis adrenergik alfa dipakai
dekongestan hidung oral dengan atau tanpa kombinasi dengan
antihistamin atau tropikal. Namun pemakaian secara tropikal hanya
boleh untuk beberapa hari saja untuk menghindari terjadinya rinitis
medikamentosa.
Dekongestan oral seperti efedrin, fenilefrin, dan pseudoefedrin,
merupakan obat simpatomimetik yang dapat mengurangi gejala
kongesti hidung. Efek samping obat ini antara lain hipertensi,
berdebar-debar, gelisah, agitasi, tremor, insomnia, sakit kepala,
kekeringan membran mukosa, retensi urin, dan eksaserbasi
glaukoma atau tirotoksikosis.
Dekongestan intranasal (misalnya epinefrin, naftazolin,
oksimetazolin, dan xilometazolin) juga merupakan obat
simpatomimetik yang dapat mengurangi gejala kongesti hidung.
Obat ini bekerja lebih cepat dan efektif daripada dekongestan oral.
Penggunaannya harus dibatasi kurang dari 10 hari untuk mencegah
terjadinya rinitis medikamentosa. Efek sampingnya sama seperti
sediaan oral tetapi lebih ringan.

9
 Kortikosteroid Kortikosteroid digunakan sangat luas dalam
pengobatan berbagai penyakit alergi oleh karena sifat anti
inflamasinya yang kuat.
Kortikosteroid intranasal (misalnya beklometason, budesonid,
flunisolid, flutikason, mometason, dan triamsinolon) dapat
mengurangi hiperreaktivitas dan inflamasi nasal. Obat ini
merupakan terapi medikamentosa yang paling efektif bagi rinitis
alergik dan efektif terhadap kongesti hidung. Efeknya akan
terlihat setelah 6-12 jam.
Kortikosteroid oral/IM (misalnya deksametason, hidrokortison,
metilprednisolon, prednisolon, prednison, triamsinolon, dan
betametason) poten untuk mengurangi inflamasi dan
hiperreaktivitas nasal.
 Anti-leukotrien seperti montelukast, pranlukast, dan zafirlukast,
akan memblok reseptor CystLT, dan merupakan obat yang
menjanjikan baik dipakai sendiri ataupun dalam kombinasi
dengan antihistamin-H1 oral
b. Operatif - Tindakan konkotomi (pemotongan konka inferior).
c. Imunoterapi - Jenisnya desensitasi, hiposensitasi & netralisasi.
Desensitasi dan hiposensitasi membentuk blocking antibody.
Keduanya untuk alergi inhalan yang gejalanya berat, berlangsung
lama dan hasil pengobatan lain belum memuaskan.

10
Kerja dari golongan-golongan obat tersebut secara singkat
ditampilkan pada tabel di bawah ini :
Golongan Mekanisme Kerja
P
Antihistamin Antagonis efek histamin yang dimediasi reseptor H1
i Dekongestan Bekerja lebih dominan pada reseptor adrenergik mukosa jalan
l napas

i Kortikosteroid Menghambat efek dari beberapa jenis sel dan mediator


intranasal dan oral
h
Penstabil sel mast Menghambat pelepasan mediator dari sel mast
a
Antikolinergik Antagonis aksi asetilkolin pada reseptor muskarinik
nAnti leukotrien Antigonis aksi reseptor leukotrien atau menghambat 5-
lipoksigenase dan pembentukan leukotrien
f
armakologis pada rinitis alergi berdasarkan efeknya terhadap gejala dapat
dilihat pada tabel berikut
Hidung Gejala pada
Sediaan Bersin Gatal Rinore
tersumbat mata
Antihistamin
++ ++ +/- ++ ++
oral
Antihistamin
+ + + + -
nasal
Kortikosteroid
++ ++ +++ ++ +
intranasal
Anti
+ + + + +
leukotrien
Dekongestan
- - ++ - -
oral
Dekongestan
- - +++ - -
nasal
Mast cell
+ + + + -
stabilizer
Antikolinergik
- - - +++ -
topikal

11
Treatment options for allergic rhinitis adapted from ARIA, 2001.

Type of First-line Alternative or add-on Comment


allergicrhinitis Treatments Treatments

Mild Oral Intranasal decongestants Allergen avoidance


Intermittent antihistamines, may eliminate need
Intranasal for drugs.
antihistamines
Mild persistent Oral Intranasal Sodium
or modetaye- antihistamines, decongestants, Sodium cromoglicateis a
severe Intranasal cromoglicate useful alternative to
intermittent corticosteroids, antihistamines and
intranasal corticosteroids,
antihistamines especially in children.
Moderatesevere Intranasal Oral antihistamines, Ipratropiumbromide
persistent corticosteroids intranasal is useful for
antihistamines, sodium persistent runny
cromoglicate, nose. Leukotriene
Ipratropiumbromide, antagonists may be
Leukotriene antagonists useful if there is
coexisting asthma

12
h. Kegiatan konseling pada pasien rinithis alergi
Skenario : Seorang Pria berusia 55th datang ke apotek menebus obat
untuk penyakit rinithis alergi dengan resep dokter.
 Pasien : Selamat siang bu. Saya mau menebus resep obat saya, ini resep
nya :

 Apoteker : Iya, selamat siang pak (membaca dan menganalisa resep).


resep ini atas nama bapak Erik usia 55th, apa benar ini bapak?
 Pasien : Ya benar, saya Erik
 Apoteker : Perkenalkan saya amira apoteker yang bertanggung jawab
disini, sambil menunggu obatnya siap. Saya ingin memberikan konseling
tujuannya untuk memberikan informasi penggunaan obat dengan benar
agar tercapai keberhasilan pengobatan, apakah bapak punya waktu sekitar
5 menit untuk mendapatkan penjelasan mengenai obat di resep ini?
 Pasien : Iya, Silahkan bu,
(RUANG KONSELING)
 Apoteker : Apa yang dokter katakan mengenai pengobatan pak Erik?
 Pasien : Berdasarkan hasil pemeriksaan, dokter mengatakan saya
terkena penyakit rinithis alergi.
 Apoteker : Apakah pak Erik memiliki riwayat alergi?

13
 Pasien : tidak ada bu
 Apoteker : Gejala apa yang bapak rasakan? Dan sudah berapa lama?
 Pasien : Saya sering bersin-bersin, hidung tersumbat dan berair,
batuk-batuk, mata berair dan sulit tidur, sudah 5 hari saya marasakan
gejala ini.
 Apoteker : Sehari-hari aktivitas bapak seperti apa? Apakah sering
terpapar debu dan asap?
 Pasien : Saya pekerja konstruksi bangunan bu,saya sering terpapar
debu dan asap
 Apoteker : Bisa jadi itu penyebab nya pak, sebaiknya dihindari
dengan pemakaian masker, dan olahraga teratur agar dapat mengurangi
gejalanya.
 Apoteker : Apakah dokter telah memberi informasi terkait obat-obat
ini?
 Pasien : Kata dokter, obat-obat tersebut digunakan untuk
mengobati dan mengurangi gejala-gejala alergi, tapi saya belum paham
kegunaan masing-masing obat nya.
 Apoteker : Apakah bapak sudah mengetahui cara penggunaan
masing-masing obat ini?
 Pasien : Belum
 Apoteker : Baik pak, sebelum saya memberikan informasi obat-obat
ini saya ingin bertanya. Apakah sebelumnya pak Erik pernah
menggunakan obat ini?
 Pasien : Belum pernah ,bu
 Apoteker : Apakah bapak ada alergi terhadap makanan atau obat
tertentu ?
 Pasien : Tidak ada
 Apoteker : Baik pak, jadi di resep ini ada 4 obat, yaitu Iliadin nasal
spray, Cefspan, Kaflam dan Rhinos.Saya akan jelaskan satu-persatu
 Pasien : Ya bu silahkan

14
 Apoteker : untuk Iliadin nasal spray obat ini digunakan untuk
meringankan hidung tersumbat, di semprot pada hidung kanan dan kiri 3
kali sebanyak 2 semprotan, cara penggunaannya yaitu
o Buka tutup inhaler dan hadapkan keatas, Kocok dahuluMiringkan
kepala kebelakang
o Tekan inhaler untuk mengeluarkan obat
o Bernafaslah perlahan-lahan ( 3-5 detik )
o Tahan nafas sekitar 10 detik untuk membiarkan obat mencapai
paruparu
o Ulangi menekan inhaler sesuai aturan pakai, beri jarak 1 menit
antara dosis pertama dan kedua untuk membiarkan penetrasi ke
paru-paru sempurna, Setelah selesai tutup kembali penutup inhaler
dengan rapat.
Apakah sudah jelas pak?
 Pasien : Ya bu, selanjutnya?
 Apoteker : Untuk Cefspan merupakan antibiotic untuk membunuh
bakteri penyebab infeksi saluran pernapasan, diminum 3x sehari setelah
makan. Kaflam digunakan sebagai obat Pereda nyeri diminum 3 kali 1 hari
setelah makan dan Rhinos sebagai obat untuk mengurangi gejala alergi
seperti bersin, hidung tersumbat diminum 2 kali 1 hari setelah makan.
 Pasien : Apakah ada efek samping dari penggunaan obat-obat itu
bu?
 Apoteker : Efek samping jarang terjadi pak, namun apabila bapak
mengalami keluhan seperti hidung terasa panas setelah pemakaian nasal
spray atau mengalami mual muntah dan gangguan pencernaan setelah
minum obat, bapak harus segera konsultasikan ke dokter
 Pasien : Baik bu, untuk penyimpanan obat sebaiknya dimana ya
bu, apakah ada perlakuan khusus?
 Apoteker : Setelah obat digunakan, sebaiknya simpan pada kotak
obat dalam suhu ruang hindari cahaya matahari. Apakah ada yang ingin
bapak tanyakan lagi?
 Pasien : Tidak bu, informasinya sudah cukup jelas

15
 Apoteker : Baik pak, sekedar untuk meyakinkan saya supaya tidak
ada yang kelupaan, bisa bapak ulangi kembali cara penggunaan obatnya?
 Pasien : Iliadin nasal spray obat ini digunakan untuk meringankan
hidung tersumbat, di semprot pada hidung kanan dan kiri 3 kali sebanyak
2 semprotan, cara penggunaannya yaitu
o Buka tutup inhaler dan hadapkan keatas, Kocok dahuluMiringkan
kepala kebelakang
o Tekan inhaler untuk mengeluarkan obat
o Bernafaslah perlahan-lahan ( 3-5 detik )
o Tahan nafas sekitar 10 detik untuk membiarkan obat mencapai
paruparu
o Ulangi menekan inhaler sesuai aturan pakai, beri jarak 1 menit
antara dosis pertama dan kedua untuk membiarkan penetrasi ke
paru-paru sempurna, Setelah selesai tutup kembali penutup inhaler
dengan rapat.
Untuk Cefspan merupakan antibiotic untuk membunuh bakteri penyebab
infeksi saluran pernapasan, diminum 3x sehari setelah makan. Kaflam
digunakan sebagai obat Pereda nyeri diminum 3 kali 1 hari setelah makan
dan Rhinos diminum 2 kali 1 hari setelah makan.
Setelah obat digunakan, sebaiknya simpan pada kotak obat dalam suhu
ruang hindari cahaya matahari.
 Apoteker : Benar pak, saya anggap bapak sudah mengerti. Jika
sewaktu-waktu ada yang ingin bapak tanyakan kembali silahkan hubungi
no telp apotek kami yang ada di brosur ini.
 Apoteker : Ini obatnya bu sudah siap, apakah ada yang ingin
ditanyakan kembali?
 Pasien : Terima kasih, tidak ada, semua sudah jelas bu. Informasi
yang ibu berikan sangat membantu saya
 Apoteker : Baik kalau begitu saya harap Bapak Erik lekas sembuh
dan sehat kembali.

16
BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Menurut WHO ARIA (Allergic Rhinitis and its Impact on Asthma)


tahun 2001, rinitis alergi adalah kelainan pada hidung dengan
gejala bersin-bersin, rinore, rasa gatal dan tersumbat setelah
mukosa hidung terpapar alergen yang diperantarai oleh IgE.
2. Klasifikasi rhinitis alergi berdasarkan rekomendasi dari WHO
Iniative ARIA (Allergic Rhinitis and its Impact on Asthma) tahun
2000, yaitu berdasarkan sifat berlangsungnya dibagi menjadi :
Intermiten (kadang-kadang) dan Persisten/menetap. Sedangkan
untuk tingkat berat ringannya penyakit, rinitis alergi dibagi
menjadi: Ringan dan Sedang.
3. Rhinitis alergi melibatkan interaksi antara lingkungan dengan
predisposisi genetik dalam perkembangan penyakitnya. Faktor
genetik dan herediter sangat berperan pada ekspresi rinitis alergi.

B. Saran
Diharapkan agar makalah ini dapat memperluas wawasan pembaca
mengenai rhinitis alergi.

17
DAFTAR PUSTAKA

ARIA -World Health organisation initiative, allergic rhinitis and its impact
on asthma. J allergy clinical immunology : S147-S276.

Becker, W., Naumann, H., Pfaltz, C.1994. Ear, Nose, and Throat Disease Edisi
kedua. Thieme. New York

Harmadji S, 1993. Gejala dan Diagnosa Penyakit Alergi THT. Dalam : Kumpulan
Makalah Kursus Penyegar Alergi Imunologi di Bidang THT.Bukit Tinggi.

DEPKES RI. 2007. Pedoman Konseling Pelayanan Kefarmasian Di Sarana


Kesehatan.

DEPKES RI. 2000. Informatorium Obat Nasional Indonesia.

18