Anda di halaman 1dari 385

PSIKOLOGI UMUM

DALAM LINTASAN SEJARAH


Drs. Alex Sobur M.Si

PUSTAKA SETIA BANDUNG 2003


PENDAHULUAN
BAB 1

A. Faedah Mempelajari Psikologi


Apa yang menarik perhatian manusia? "One thing only interests all human being
always, and that is the human being himself,." kata John M. Siddal, editor American
Magazine (Miller, dalam Mott and others, 1969:62)... Jadi hanya satu hal saja yang selalu
menarik perhatian manusia, yaitu manusia itu sendiri. Memang, di antara sekian banyak
segi kehidupan dunia yang telah diteliti manusia, yang paling menarik adalah manusia itu
sendiri.
Dari berbagai buku yang ditulis orang dan dari berbagai macam film serta program
televisi, tampak bahwa orang jauh lebih tertarik pada perilaku manusia, apa, siapa, dan
Bagaimana manusia daripada hal-hal lainnya.
Jika pada era informasi dan komunikasi global seperti sekarang ini para jurnalis
mengklaim bahwa "journalism touches life at all points", jurnalistik menyentuh setiap segi
kehidupan, para pakar di bidang psikologi pun serta merta menegaskan klaim yang hampir
senada. "Tidak ada orang pada masa kini yang mengaku tidak mengenal psikologi," ajar
Rita L. Atkinson dan kawan-kawan dalam buku mereka, Introduction to Psychology.
Psikologi, menurut mereka, telah menyentuh semua aspek kehidupan manusia, kehidupan
kita. Sekadar contoh: Bagaimana cara orang tua mengasuh kita mempengaruhi cara kita
mengasuh, anak-anak kita sendiri? Apa efek yang ditimbulkan oleh stres jangka panjang
pada sistem kekebalan kita? Bagaimana efektivitas psikoterapi dalam menerapi depresi?
Dapatkah proses belajar diperbaiki dengan menggunakan obat yang mempermudah
transmisi saraf? Menurut Atkinson, para ahli psikologi kini tengah meneliti untuk menjawab
serangkaian pertanyaan ini di samping berbagai pertanyaan lain.
Lalu, mengapa orang mempelajari ihwal perilaku manusia? Siapa sebenarnya yang
membutuhkan pengetahuan psikolog ?
Perhatian dan minat sementara orang untuk mempelajari perilaku atau kodrat
manusia hanya digerakkan oleh dorongan rasa ingin,tahu. Mereka, boleh jadi, ingin
sekadar tahu dan mengerti saja,, tak ubahnya seperti orang yang menyelidiki bintang
gemintang di langit, sekadar untuk tahu dan mengerti.
Yang Iainnya lagi lebih tertuju pada alat-alat yang lebih praktis dalam upaya
memperoleh pengetahuan tentang perilaku, kodrat, tabiat, atau pribadi manusia. Mereka
yakin bahwa berbagai masalah sosial akan bisa dipecahkan atau diatasi seandainya orang
mengetahui persis pangkal penyebabnya. Dalam pandangan mereka, kesukaran-
kesukaran, atau persoalan-persoalan yang dibuat dan dialami oleh manusia dapat segera
diatasi. Dengan bekal pengetahuan itu, mereka ingin mengikis, atau setidaknya,
mengurangi problema-problema sosial, seperti kegelisahan dan pemogokan karyawan
yang kerap terjadi, kejahatan dan tindak kriminalitas, konflik sosial, sampai pada perang
sebagai konflik yang dilembagakan.
Ada juga yang mempunyai alasan mempelajari psikologi atau pengetahuan perilaku
manusia itu, karena untuk lebih mengenal diri, mengenal siapa "aku" ini sebenarnya, dan
dengan pengenalan ini, dia berusaha untuk menyesuaikan diri dengan orang lain: Di sini,
kemudian muncul alasan lain, yaitu keinginan untuk bergaul'dengan orang lain. Mereka
harus tahu mengapa orang itu berpikir, berperasaan, dan berbuat menurut caranya
sendiri-sendiri.
Bagaimana pun, psikologi dapat memberikan pengertian yang lebih baik mengenai
sebab-sebab orang berpikir dan bertindak seperti yang mereka lakukan, dan memberikan
pandangan untuk menilai sikap dan reaksi yang: kita lakukan sendiri:
Singkatnya, psikologi dibutuhkan oleh mereka yang dalam kehidupannya `selalu
berhubungan dan bersama orang lain. Psikologi dibutuhkan atau dipelajari oleh mereka
yang dalam tugas dan jabatannya akan bekerja bersama orang lain. Dengan demikian,
psikologi selalu dibutuhkan oleh pimpinan perusahaan, pengurus organisasi massa,
pengurus lembaga sosial, para pejabat pemerintah, para elit politik, komandan pasukan,
wartawan, hakim, khatib, guru, dosen, pelajar, mahasiswa, dan sebagainya; juga
dibutuhkan oleh setiap orang dalam fungsi dan perannya sebagai rakyat' biasa, suami,
istri, ayah, ibu, dan anak.
Untuk menjadi seorang wartawan, misalnya, seseorang dituntut untuk memiliki
kualifikasi tertentu. Kualifikasi itu, seperti dikemukakan Jakob Oetama (1987:206-207),
adalah kepekaan terhadap masalah manusia, pikiran yang kritis, lincah, terus mencari dan
menggugat, hati yang hangat, penuh kompassi, gelisah, serta memiliki semangat kerja
keras yang tidak setengah-setengah. Di sinilah perlunya pendidikan humaniora. Dan,
psikologi sebagai salah satu bidang humaniora, tentu saja berperan dalam mengasuh,
menggugah, dan mengembangkan wartawan sebagai manusia secara utuh, sehingga di
samping memiliki sikap intelektual, ia juga memiliki beberapa atribut kepenuhan manusia.
Menurut Jakob Oetama, wartawan yang memperoleh pendidikan humaniora,
memiliki sikap, pandangan, dan karya jurnalistik yang berkembang lebih jauh, lebih penuh,
lebih Iengkap, lebih kaya. Sikap Politiknya lebih berbudaya dan kemanusiaannya lebih
penuh. Isi dan konteks tulisannya lebih dalam dan lebih "berwarna". Naluri-naluri politik
praktis lebih terkendali oleh solidaritas terhadap persoalan manusia karena itu juga lebih
etis.
Jadi, dengan mempelajari psikologi, berarti ada usaha untuk mengenal manusia.
Mengenal berarti dapat memahami; berarti pula kita dapat menguraikan dan
menggambarkan tingkah laku dan kepribadian manusia beserta aspek-aspeknya. Dengan
mempelajari psikologi, kita berusaha mengetahui aspek-aspek kepribadian (personality
traits). Salah satu sikap kepribadian itu, misalnya, sikap keterbukaan, yaitu terbuka
terhadap dunia luar, bersedia memahami perasaan orang lain. Dan sikap ini bersifat
menetap serta menjadi ciri bagi orang yang bersangkutan, yang merupakan sifat yang
unik, yang individual dari orang tersebut.
Lantas, adakah syarat-syarat untuk mempelajari psikologi itu? Memang, supaya
orang bisa mempelajari psikologi dengan baik, dibutuhkan syarat-syarat sebagai berikut
(Dahler, 1983:7):
1. Daya observasi, yaitu kemampuan untuk mengetahui keadaan dan perasaan orang
lain. Misalnya, seseorang bisa melihat tanda-tanda kesedihan, kegembiraan,
kebosanan pada orang lain meskipun hal itu tidak begitu kentara.
2. Daya empati, yaitu kemampuan untuk menghayati perasaan orang lain. Misalnya,
bisa ikut merasakan (tidak sekadar menyaksikan) kesedihan, atau keputusasaan
orang lain.
3. Daya introspeksi, yaitu kemampuan merenungkan diri sendiri, kelemahan,
keunggulan, keraguan, keinginan, dan lain-lain.
4. Daya berdialog, yaitu kemampuan untuk bertukar pikiran dengan tujuan memahami
pihak lain. Misalnya, dengan mendengarkan dulu pendapat orang lain,
menanggapinya dengan tenang, dan mengutarakan pendapat pribadinya sejujur
mungkin.

B. Pemahaman tentang istilah Psikologi dan Jiwa


Apa itu psikologi? Sebagaimana halnya istilah-istilah ilmiah dan kefilsafatan, istilah ini
pun kita peroleh dari Yunani. Secara etimologis, istilah psikologis berasal dari Yunani, yaitu
dari kata psyche yang berarti "jiwa", dan logos yang berarti ,"ilmu". Jadi, secara harfiah,
psikologi berarti ilmu jiwa, atau ilmu yang mempelajari tentang gejala-gejala kejiwaan.
Begitulah, untuk rentang waktu yang relatif lama, terutama ketika psikologi masih
merupakan bagian atau cabang dari filsafat, psikologi diartikan seperti pengertian tersebut.
"Pada masa lampau," demikian kata Paul Mussen dan Mark R. Rosenzwieg dalam buku
mereka, Psychology an Entroduction, "psikologi diartikan sebagai ilmu yang mempelajari
mind (pikiran), namun dalam perkembangannya, kata mind berubah menjadi behavior
(tingkah laku), sehingga psikologi didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari tingkah
laku manusia (Mussen & Rosenzwieg, 1975:5).
Sementara ahli: memang kurang sependapat bahwa psikologi sama dengan ilmu
jiwa walaupun ditinjau dari arti kata kedua istilah itu sama. W.A Gerungan, adalah salah
satu di antara para ahli psikologi yang tidak sependapat. Menurutnya,
1. Ilmu jiwa itu merupakan istilah bahasa Indonesia sehari-hari dan yang dikenal tiap-
tiap orang, sehingga kami pun menggunakannya dalam artinya yang bias dan telah
lazim dipahami orang. Adapun kata psikologi merupakan istilah ilmu pengetahuan,
suatu istilah yang scientific, sehingga kami pergunakan untuk menunjukkan
pengetahuan ilmu jiwa yang bercorak ilmiah tertentu.
2. Ilmu jiwa kami gunakan dalam arti yang lebih luas daripada istilah psikologi. Ilmu
jiwa meliputi segala pemikiran, pengetahuan, tanggapan, dan juga. segala khayalan
dan spekulasi mengenai jiwa itu. Psikologi meliputi ilmu pengetahuan mengenai jiwa
yang diperoleh secara sistematis dengan metode-metode ilmiah yang memenuhi
syarat-syaratnya seperti yang dimufakati para sarjana psikologi pada zaman sekarang
ini. Istilah ilmu jiwa menunjukkan ilmu jiwa pada umumnya, sedangkan istilah psikologi
menunjukkan ilmu jiwa yang ilmiah menurut norma-norma ilmiah modem (Gerungan,
1987:,1).

Dari kutipan panjang ini, dapat diambil kesimpulan bahwa apa saja yang disebut ilmu
jiwa belum tentu psikologi, sebaliknya apa yang disebut psikologi itu juga termasuk ilmu
jiwa.
Tampaknya,.para ahli psikologi modern, belakangan ini memang tidak lagi
mengartikan psikologi sebagai ilmu yang mempelajari gejala-gejala kejiwaan, sebab apa
yang dimaksud dengan jiwa itu tidak ada seorang pun yang tahu persis. Malah, jauh-jauh
hari; Thomas Alva Edison (1847-1931) pernah berujar, "My mind is incapable of
conceiving such a thing as a soul" (Pikiran saya tidak mampu untuk memahami hal seperti
jiwa). Ini disebabkan jiwa yang , mengandung arti sangat abstrak itu sukar dipelajari secara
objektif.
Jadi, amat sukar untuk mengenal jiwa manusia karena sifatnya yang abstrak. Satu-
satunya cara yang dapat dilakukan adalah mengobservasi perilakunya, meskipun perilaku
bukan merupakan jiwa secara keseluruhan. Itulah sebabnya, Allah SWT menegaskan
dalam firman-Nya yang artinya:
Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang jiwa atau roh, maka
katakanlah bahwa jiwa (roh) itu adalah urusan Tuhan dan kamu tidak diberi pengetahuan
(tentang jiwa itu) kecuali sedikit saja (Q.S. Al-Isra', 17: 85).
Ayat tersebut bukan berarti menutup kemungkinan untuk mengkaji tentang jiwa.
Meskipun hanya sedikit, ayat itu mengisyaratkan bahwa jiwa atau roh adalah sesuatu yang
bisa dipelajari. Namun; yang paling penting untuk dikatakan di sini adalah bahwa roh dan
jiwa (roh yang telah mempribadi) setidak-tidaknya merupakan suatu konsep yang bisa
dipelajari berbagai substansi tersendiri, apabila Al-Qur'an juga menunjukkan berbagai
aspek yang sifatnya bisa diubah dan dikembangkan. Memang, dengan mengatakan hal
tersebut, AI-Qur'an mengisyaratkan agar manusia mengarahkan studinya pada hal-hal
yang lebih konkret dan bermanfaat bagi manusia, misalnya mengenai perilaku manusia itu
sendiri. Akan tetapi, pembicaraan secara lebih mendalam dan khusus mengenai jiwa,
walaupun tetap berkaitan dengan raga, agaknya tidak terelakkan dalam kegiatan berpikir.
Plato dapat disebut orang pertama yang memulai studi tentang objek yang lebih khusus ini
(Rahardjo, 1996:261). la mulai dengan membedakan, antara jiwa dan raga sedemikian
rupa sehingga orang memperoleh pengertian, mengenai adanya konsep dualisme jiwa-
raga.
Dalam teorinya tentang "Pengingatan-Kembali"; Plato mengapungkan dua proposisi
(Ash-Shadr, 1993:27-28). Pertama, jiwa sudah ada sebelum adanya badan di alam yang
lebih tinggi daripada alam materi. Kedua, pengetahuan rasional tidak lain adalah
pengetahuan tentang realitas-realitas yang tetap di alam yang lebih tinggi, yang oleh Plato
disebut dengan archetypes:
Plato, dengan dua proposisi di atas, jelas menekankan lebih pentingnya jiwa
daripada raga dalam kehidupan manusia. Dengan kata lain, tubuh mempunyai nilai yang
lebih rendah dari jiwa. Akan tetapi, jiwa pun bisa rusak juga, dan kerusakan itu berasal dari
badan. Muridnya, Aristoteles, mempunyai pendapat yang berbeda dengannya. la melihat
manusia dalam kesatuan badan-jiwa. Namun, pandangannya juga mengandaikan adanya
badan dan jiwa yang berbeda, walaupun dalam asensinya menolak pandangan yang
dualistis.
Menjelang abad modem, dalam kurun pencerahan Eropa Barat, tokoh yang tampil
dalam pembahasan dualisme jiwa-badan adalah Rene Descartes (1596-1650) yang
terkenal dengan ungkapan "Cogito Ergo Sum" (saya berpikir, karena itu saya ada).
Berbeda dengan Plato, yang melihat hubungan jiwa dan badan sebagai pembagian
fungsi antara badan sebagai kapal dan jiwa sebagai nahkodanya, yang mengemudikan
dan memimpin, Descartes melihat kesalingterkaitannya, yaitu jiwa pada hakikatnya
mengarah ke badan. Kalau badan sakit, jiwa turut merasakannya. Akan tetapi, jiwalah
yang memberi kesadaran dan arti pada badan dan menunjukkan adanya "aku". Keduanya
berbeda, namun saling berkaitan. Badan dilukiskannya sebagai mesin yang, walaupun
ada substansinya, belum bisa dibilang manusia jika tidak ada jiwanya yang bisa
mengatakan "aku". Dan perkataan "aku" ini lahir ketika substansi itu mulai berpikir.
Sebagai dampak lebih lanjut dari konsep dualisme di atas, lahir berbagai pendapat
yang bertentangan dan membentuk kutub-kutub pendapat mengenai kedudukan dan
hubungan jiwa-raga, dan selanjutnya melahirkan berbagai pendapat yang terletak di
antara dua kutub itu.
Akibat' perbedaan pendapat di antara filsuf-filsuf Yunani itu; pada perkembangan
berikutnya muncul bermacam-macam aliran (Poerwantana, et al., 1988:152-153), yaitu:
1. Golongan materialisme mengatakan bahwa jiwa tidak lain hanya jiwa (badan), dan
tidak ada sifat-sifat khusus padanya.
2. Golongan spiritualisme menganggap bahwa jiwa tidak berasal dari alam
kebendaan, tetapi dari alam ketuhanan- dan mempunyai kekuatan ketuhanan-
rohani, yang turun ke bawah dan dari alam yang tinggi.
3. Ada yang berpendapat tengah-tengah dan menganggap jiwa sebagai campuran
antara badan dan roh, atau uap yang panas seperti yang dikatakan kaum Stoa;
atau jiwa itu gambaran badan seperti pendapat Aristoteles dan pengikut-
pengikutnya.

Filsuf-filsuf besar Yunani mempelajari berbagai gejala jiwa, dan mereka dapat
membedakan perasaan dan pemikiran. Buku-buku yang dikarang oleh mereka dalam
lapangan ilmu jiwa berpengaruh juga kepada kaum Muslimin. Di antaranya ialah buku-
buku:
1. Phaedo dan Terrraieus oleh Plato.
2. De Anima (jiwa) dan Parva Naturalia (Alam Kecil) dari Aristoteles.
3. On Sense Perception (Tentang Pengenalan Indra) dari Theophrastus (meninggal
286 M).
4. Tentang Jiwa (An-Nafs) dari Alexander dari Aphrodisias.
5. Ulasan-ulasan terhadap buku Aristoteles, Anima, dari Themistius dan Iamblichus
(aliran Iskandariah).
6. Buku-buku kedokteran dari Hyppocratcs dan Galenus.
7. Buku-buku dari Plotinus, yaitu Theologia dan kebaikan murni yang mempunyai
peranan penting dalam pembahasan kaum Muslimin tentang jiwa.

Buku-buku tersebut diketahui oleh kaum Muslimin, baik langsung ataupun tidak
langsung, dan menjadi bahan yang baik bagi mereka.
Golongan teologi Islam dan orang-orang sufi bisa dianggap sebagai orang yang
pertama-tama memperluas tentang pembahasan jiwa meskipun kadang-kadang terdapat
keganjilan-keganjilan dan perlawanan di dalamnya. Mereka berusaha untuk menguraikan
hakikat jiwa serta macam-macamnya dan menetapkan kebaruan serta kemakhlukannya
sebelum bertempat di badan, kemudian membuktikan keabadian jiwa sesudah berpisah
dari badan.
Pendapat ulama kalam terbagi tiga aliran, seperti yang terdapat pada filsuf-filsuf
Yunani, yaitu aliran materialisme, aliran spiritualisme, dan aliran tengah-tengah.
Ibnu Sina memberikan perhatian khusus terhadap pembahasan kejiwaan ini
(Poerwantara, et al., 1988:155-157). Ia banyak menjadikan pikiran-pikiran Aristoteles
sebagai sumber pikirannya. Namun, hal itu tidak berarti bahwa Ibnu Sina tidak mempunyai
kepribadian sendiri yang berbeda dengan pikiran-pikiran sebelumnya, baik dalam segi
pembahasan fisika maupun segi metafisika. Dalam segi fisika, ia banyak memakai metode
eksperimen dan banyak terpengaruh oleh pembahasan lapangan kedokteran. Dari segi
metafisika, terdapat kedalaman dan pembaharuan yang menyebabkan ia mendekati
pendapat filsuf-filsuf modem. Segi metafisika ini pula yang lebih menonjol dalam
pembahasan-pembahasan kejiwaannya.
Pengaruh Ibnu Sina dalam soal kejiwaan tidak dapat diremehkan, baik pada dunia
pikir Arab sejak abad ke-10 Masehi sampai akhir abad ke-11) Masehi, maupun pada
filsafat skolastik Yahudi dan Masehi, terutama pada Gundissalinus, Albert the Great,
Thomas Aquinas, Roger Bacon, dun Dun Scott. Bahkan, ada juga pertaliannya dengan
pikiran-pikiran Deskarates tentang hakikat jiwa dan wujudnya.
Lapangan kejiwaan Ibnu Sina lebih banyak menarik perhatian pembahas-pembahas
masa modern daripada segi-segi filsafatnya, antara lain berupa penerbitan buku-buku
karangannya dan kupasan serta tinjauan terhadap pandangan-pandangannya tentang
kejiwaan. Di antara mereka ialah:
1. S. Landauser yang menerbitkan karangan Ibnu Sina yang berjudul Risalatul-Quwa
an-Nasiah (Risalah tentang Kekuatan Jiwa), tahun 1875, berdasarkan teks asli Arab
dan teks-teks Ibrani serta Latin.
2. Carra de Vaux dalam bukunya Avicenna.
3. Dr. Gamil Saliba dalam bukunya Etute sur la Metaphysique d’Avicenna (tinjauan
tentang Segi Metafisika lbnu Sina).
4. Dr. Usman Najati dalam bukunya Nadlariat al-Idrak al-Hissi'inda Ibnu Sina (Teori
Persepsi Indra pada Ibnu Sina).
5. B. Haneberg yang mengarang buku Zur Erkentnislehre von Ibnu Sina (Tentang
Teori Pengenalan pada Ibnu Sina).

Segi-segi kejiwaan pada Ibnu Sina pada garis besamya dapat dibagi dalam dua segi,
yaitu:
1. Segi fisika, yang membicarakan macam-macam jiwa, pembagian kebaikan-
kebaikan, jiwa manusia, indra, dan pembahasan lain yang biasa termasuk dalam
ilmu jiwa yang sebenarnya.
2. Segi metafisika, yang membicarakan wujud dan hakikat jiwa, pertalian jiwa dengan
badan, dan keabadian jiwa.

Apapun pendapat manusia tentang jiwa, tentulah masih serba terbatas. Karena
keterbatasan pengetahuan manusia tentang jiwa atau roh ini, timbullah berbagai pendapat
mengenai definisi tentang psikologi yang saling berbeda.

C. Pemahaman Ihwal Definisi


Di dunia ilmu pengetahuan adanya perbedaan dalam definisi merupakan hal biasa.
Selain karena faktor-faktor pandangan, minat, dan aliran yang dianutnya masing-masing,
hal itu juga karena beberapa kekurangan bahasa.
Sebagai sarana komunikasi ilmiah, bahasa setidaknya mempunyai tiga kekurangan
(Suriasumantri, 1994:183-185):
Pertama., kekurangan ini terletak pada peranan bahasa itu sendiri yang bersifat
multifungsi, yakni sebagai sarana komunikasi emotif, afektif, dan simbolik. Dalam
komunikasi ilmiah, kita ingin mempergunakan aspek simbolis saja dari ketiga fungsi
tersebut, yaitu kita ingin mengomunikasikan informasi tanpa kaitan emotif dan afektif.
Dalam kenyataannya, hal ini tidaklah mungkin. Bahasa verbal, mau tidak mau, tetap
mengandung unsur-unsur emotif, afektif, dan simbolik tadi. Inilah salah satu kekurangan
bahasa sebagai sarana komunikasi ilmiah, yang dikatakan oleh Kemeny, sebagai
mempunyai kecenderungan emosional (Kemeny, 19959:5). Bahasa ilmiah pada
hakikatnya haruslah bersifat objektif, tanpa mengandung emosi dan sikap; atau dengan
kata lain, bahasa ilmiah haruslah bersifat antiseptik dan reproduktif.
Kedua, kekurangan bahasa terletak pada arti yang tidak jelas dan eksak yang
dikandung oleh kata-kata yang membangun bahasa. Jika kita ingin mengetahui arti istilah
ilmu, umpamanya, yang menjadi pokok, pembicaraan kita selama ini, sukar sekali bagi kita
untuk mendefinisikan ilmu tersebut dengan sejelas dan seeksak mungkin, bagaimanapun
hal itu kita coba. Di pihak lain, usaha untuk menyampaikan arti sejelas dan seeksak
mungkin dalam suatu proses komunikasi, mungkin akan menyebabkan proses
penyampaian informasi itu malah tidak komunikatif lagi disebabkan bahasa yang bertele-
tele dan membosankan.
Ketiga, kelemahan dan kekurangan bahasa adalah sering bersifat sirkular (berputar-
putar) dalam mempergunakan kata-kata; terutama dalam memberikan definisi.
Umpamanya, kata "pengelolaan" didefinisikan sebagai “kegiatan yang dilakukan dalam
sebuah organisasi", sedangkan "organisasi" didefinisikan sebagai "suatu bentuk kerja
sama yang merupakan wadah dari kegiatan pengelolaan". Contoh lain, yang sering kita
temukan, adalah perkataan "data" yang diartikan sebagai "bahan yang diolah menjadi
informasi", sedangkan "informasi" diartikan sebagai "keterangan yang di dapat dari data".
Dengan demikian, tak dapat dihindarkan lagi bahwa dalam memberikan definisi,
sebuah kata bergantung pada kata-kata yang lain. Hal ini, menurut Jujun S. Suriasumantri,
sebenarnya tak ada salahnya selama kata-kata yang dipergunakan itu sudah mempunyai
pengertian yang jelas dan bukan bersifat berputar-putar, seperti tampak pada contoh di
atas.
Meskipun terdapat kendala bahasa, bukan berarti kita tidak harus memberikan
definisi. Nilai dari pembuatan definisi. adalah untuk menghindari kesimpangsiuran dalam
pemberian arti yang kerap kali,.mudah terjadi, karena pengalaman orang yang berbeda-
beda, dan juga karena: setiap daerah memberikan "tekanan" dan nada yang berbeda-
beda pada kata yang sama (Susanto, 1985:277).
Mengadakan uraian dengan menunjukkan definisi dalam bidang ilmiah adalah perlu,
tidak berarti berlebih-lebihan, karena memang penjelasan dibutuhkan. Namun, bahasa
biasa, hal tersebut tidak perlu karena antara kata dan makna merupakan kesatuan utuh
atas dasar kebiasaan sehari-hari.
Definisi atau batasan yang tepat merupakan kunci dari ciri berpikir yang logis,
sehingga menjadi ciri-ciri menulis yang logis (Keraf, 1980: 495ll), Setiap orang atau tiap
pembaca pada umumnya ingin mengetahui batasan arti dari suatu istilah sebelum ia
melangkah lebih jauh untuk memahami maknanya. Tidak adanya kesepakatan mengenai
arti dari suatu hal biasanya sering menimbulkan salah paham. Sebab itu, setiap istilah
atau kata, harus mengandung pengertian yang sama bagi siapa pun. Untuk itu, perlu
diberikan batasan yang jelas dan tepat untuk setiap istilah sehingga tulisan itu akan
mendapat landasan yang kuat dan tak dapat dibantah.
Dengan demikian jelas bahwa definisi sangat penting dalam ilmu, sesuai dengan
hakikat ilmu itu sendiri. Ilmu adalah bentuk pengetahuan yang telah ditentukan batas-
batasnya, sehingga jelas batas antara ilmu satu dan ilmu yang lain. Ilmu membutuhkan
formalisasi atau bahasa formal yang khas. Maksud formalisasi adalah untuk
menyederhanakan sehingga semua lebih skematis, lebih jelas, meskipun menjadi lebih
abstrak.
Oleh karena itu, pertama yang perlu diuraikan adalah macam-macam definisi, jenis
kesalahan yang sering dibuat dalam perumusan definisi, dan syarat-syarat yang harus
diikuti untuk membuat definisi yang baik.
1. Macam-Macam Definisi
Para ahli membagi definisi dalam beberapa macam. Gorys Keraf (1980: 49-54),
misalnya, menggolongkan beberapa macam definisi berikut:
1. definisi berupa sinonim kata;
2. definisi berdasarkan etimologi;
3. definisi formal atau riil, atau disebut juga definisi logis; dan
4. definisi luas.
Astrid S. Susanto (1995:278-282) mengemukakan tujuh macam definisi sebagai
berikut:
1. definisi stipulatif;
2. definisi sinonim;
3. definisi sintesis;
4. definisi jenis konotasi;
5. definisi ostensif;
6. definisi melalui contoh;
7. definisi fungsi.
Noor M: Bakry (1996: 73 - 78) secara garis besar membedakan definisi atas tiga
macam, yaitu:
a. Definisi nominalis, terdiri atas:
1) definisi sinonim;
2) definisi simbolik; dan
3) definisi etimologis.
b. Definisi realis, terdiri atas:
1) definisi esensial, terbagi lagi menjadi:
a) definisi analitis;
b) definisi konotatif;
2) definisi deskriptif, dibedakan lagi dalam;
c) definisi aksidental, dan
d) definisi kausal.
c Definisi praktis, terdiri atas:
1) definisi operasional dan
2) definisi fungsional.

M.O Palapah dan Atang Syamsudin (1978:4-6) membagi macam-macam definisi dalam
lima golongan:
1) definisi demonstratif (demonstrative definition);
2) definisi persamaan (biverbal definition);
3) definisi yang luas (extensive definition);
4) definisi lukisan (descriptive definition);
5) definisi uraian (analitical definition).

Jika kita perhatikan, berbagai pendapat mengenai macam-macam definisi di atas


sebetulnya memiliki banyak persamaan, meskipun dengan menggunakan nama atau
istilah yang agak berbeda. Di antara sekian banyak macam definisi tersebut, yang akan
diuraikan di sini hanya tiga macam definisi saja, karena ketiga definisi itulah yang
sekarang banyak digunakan.

a. Definisi Etimologi
Definisi etimologi (asal-usul kata) adalah penjelasan dengan cara memberikan asal
mula istilahnya. Dengan kata lain, definisi etimologi berusaha membatasi pengertian
sebuah kata dengan mengikuti jejak etimologi dan arti yang asli hingga arti yang sekarang.
Tujuan definisi ini adalah usaha untuk menunjukkan bahwa istilah tersebut hanya
mengandung pengertian yang sekarang saja.
Contoh 1 : Definisi etimologi tentang "Definisi"
Definisi berasal dari kata Latin definire yang berarti menandai batas-batas pada
sesuatu, menentukan batas, memberi ketentuan atas batasan arti. Jadi,
"definisi" dapat diartikan sebagai penjelasan apa yang dimaksudkan dengan
sesuatu istilah, atau dengan kata lain, definisi ialah sebuah pernyataan yang
memuat penjelasan tentang arti suatu istilah (Bakry, 1996: 73).
Contoh 2 : Definisi etimologi tentang "Referendum"
Referendum berasal dari kata Latin re + ferre, yang berarti `membawa kembali'.
Referendum berarti sesuatu yang harus dibawa kembali, hal yang harus
diajukan kembali (untuk dipertimbangkan, disetujui, dsb).
Sebagai istilah politik, kata itu berarti: hal mengajukan suatu persoalan secara
langsung kepada pemilih (= rakyat yang mempunyai hak pilih) dengan maksud
mengetahui pendapat mereka sehubungan dengan suatu undang-undang yang diusulkan.
Yang mengajukan suatu persoalan itu ialah penguasa; secara langsung kepada pemilih (=
rakyat yang mempunyai hak pilih) berarti bahwa persoalan itu tidak diajukan kepada wakil-
wakil rakyat, tetapi langsung kepada rakyat sendiri (Kompas 3/12 - 09, dalam Keraf, 1980:
50).

b. Definisi Sinonim
Pembuatan definisi dengan penggunaan sinonim adalah definisi yang paling sering
digunakan. Justru sinonimlah yang memberikan bantuan terbesar dalam pembuatan
definisi, yaitu karena alasan berikut (Susanto, 1985: 280):,
1) merupakan objek yang memberikan persamaan yang terbesar;
2) merupakan kata/objek dengan perbedaan terkecil.
Contoh:
 Dampak adalah pengaruh yang membawa akibat.
 Rakyat adalah penduduk suatu negara masyarakat tertentu mempunyai ikatan
hukum dan politik satu sama lain.
c. Definisi uraian
Definisi yang paling banyak digunakan dalam menentukan objek formal suatu ilmu
ialah dengan definisi uraian (analytical definition). Karena melalu cara ini, definisi harus
diformulasikan dalam kalimat yang sesingkat mungkin tetapi harus selengkap mungkin,
mencakup ciri-ciri atau assential atribute dari suatu ilmu pengetahuan, formulasinya lebih
sulit daripada definisi-definisi yang lain.
Definisi uraian adalah definisi yang menerangkan sesuatu dengan menjelaskan satu
demi satu ciri-ciri dan bagian-bagiannya. Definisi ini sebetulnya merupakan istilah lain,dari
definisi formal atau riil, atau disebut juga definisi logis.
Logika merupakan dasar bagi semua definisi yang tepat dan cermat. Logika
membicarakan norma-norma berpikir benar agar diperoleh dan terbentuk pengetahuan
yang benar (Tafsir,1-993: 25). Definisi formal (riil, definisi logis,' atau definisi uraian) adalah
suatu cara untuk membatasi pengertian suatu istilah dengan membedakan genus-nya
(kelasnya) dan mengadakan diferensiasi Dengan demikian, bila kita menyebut kata
definisi, yang pertama-tama dimaksudkan adalah pengertian definisi ini. Definisi inilah
yang bertolak dari prinsip-prinsip nalar.
Karena definisi uraian atau definisi formal bertujuan memberi pengertian yang
membedakan genus dan menyebut diferensiasi suatu kata,, pertama-tarna; sebuah kata
harus,ditempatkan dalam kelasnya atau genus-nya: Proses ini disebut klaSifLknn51.
Brotowidjoyo (1993:209) mengartikan klasifikasi ini sebagai "Proses penyusunan
rangkaian objek menjadi golongan-golongan untuk memperjelas kesamaannya dan
perbedaannya, dengan memulai himpunan-himpunan tertentu kemudian menyusunnya ke
dalam golongan-golongan berdasarkan penyerupaannya. “Semakin sempit kelas yang
dimasuki suatu benda atau hal semakin baik definisi kata itu.
Contoh:
 Permadani adalah alat penutup lantai, terbuat atau ditenun dari serat.
 Bus adalah alat pengangkutan beroda, yang digunakan untuk pengangkutan umum
dan bisa memuat sekitar 20 - 50 penumpang (Keraf, 1980: 52).
Dari kedua contoh di atas, apabila dirinci, maka:
Pertama (pokok) : - permadani
- bus
Kedua (genus/kelas) : - alat penutup lantai
- alat pengangkutan darat beroda
Ketiga (diferensiasi) : - terbuat atau ditenun dari serat
digunakan untuk pengangkutan umum dan bisa memuat
sekitar 20 - 50 penumpang.

2. Beberapa Kesalahan dalam Perumusan Definisi


Harold C. Martin menyebut enam jenis kesalahan yang dibuat dalam perumusan
definisi, yaitu: overinclusion, overrestriction, duplication, circularity, ambiguity (semantic &
syrttt-itical), dan obscurity .(Susanta,.1985: 283-285).,

a. Overinclusion
Jenis kesalahan ini yang mudah sekali terjadi karena dirumuskan terlalu teliti.
Contoh : patriotisme adalah suatu perasaan yang dimiliki seseorang terhadap
negaranya.
Contoh ini salah karena "perasaan seseorang" mengenai negaranya adalah
berbeda-beda dan banyak macamnya, sehingga kesalahan yang dibuat di sini adalah
menunjukkan seakan-akan "perasaan seseorang" (= setiap orang adalah sama dengan
perasaan pembicara sendiri). Seharusnya, kalimat ini membawa penjelasan: "patriotisme
adalah perasaan patuh, cinta, serta kebangsaan yang dimiliki seseorang terhadap
negaranya".

b. Overrestriction
Jenis kesalahan ini dikarenakan pembatasan yang terlalu sempit, umpamanya:
"kerajaan adalah bentuk negara di mana kepala negara dari negara yang bersangkutan
diperoleh berdasarkan keturunan".
Definisi ini saIah, karena tidak setiap kerajaan merupakan bentuk negara
berdasarkan warisan, "hak" turun-temurun, sebab ada juga kerajaan yang dibentuk
berdasarkan kekerasan, sebagai hasil peperangan, penunjukan, atau pemilihan.

c. Duplication
Duplication adalah suatu kesalahan dalam membuat definisi yang sering terjadi
karena mudah penggunaannya.
Contoh: buku adalah kitab.
Duplication pada umumnya terjadi pada penggunaan kata-kata yang berasal dari
kata asing dan karenanya sebenarnya belum menjelaskan apa; yang. dimaksudkan.
"Penjelasan" dengan jalan terjemahan, sedapat mungkin dihindari, dan sebaliknya
dipergunakan definisi per analisis.

d. Circularity
Circularity adalah penggunaan dari definiendum (= yang dijelaskan) dalam definiens
(= yang menjelaskan), seperti:
"Kemerdekaan adalah suatu pengertian yang sukar dijelaskan; penjelasan yang
terdekat yang dapat diberikan adalah dengan menggunakan perkataan 'kebebasan'
karena kebebasan mengandung unsur 'bebas' dari tindakan tekanan atau paksaan,
orang ataupun unsur lain, sehingga orang dapat menentukan sendiri ..."
Dalam contoh di atas ini, "kemerdekaan" dijelaskan dengan "kebebasan dari tekanan
ataupun paksaan dari luar". Dalam penjelasan di atas terjadi duplikasi. Pada umumnya,
kesalahan demikian tidak terjadi dalam kalimat tunggal, tetapi dalam kalimat bersusun.
e. Ambiguity
Jenis kesalahan ambiguity adalah pengertian samar-samar yang diberikan dalam
suatu penjelasan. Arti samar-samar di sini ditemukan dalam analis keadaan historis, dalam
kamus-kamus, dan lain-lain. Kesalahan ini terjadi dalam kalimat-kalimat panjang.
Contoh: Salah satu surat kabar memuat berita kematian seorang gadis ketika sedang
mengalami perawatan (yang dianggap sebagai akibat tindakan pengguguran oleh seorang
dokter) di Jakarta. Dalam surat kabar tersebu ditulis: "Nona X meninggal tatkala sedang
mengalami perawatan oleh dr. Z waktu sedang mengandung Y bulan ..."
Di sini orang kemudian dapat bertanya: siapa yang sedang mengandung Y bulan,
Nona X atau dr. Z?
Kesalahan seperti ini terjadi karena pemikiran yang kurang teratur. Kesalahan ini
merupakan kesalahan syntax. Kesalahan selanjutnya yang termasuk dalam golongan ini
adalah kesalahan sematic yang hanya sedikit terjadi dalam bahasa Indonesia, tetapi
banyak terjadi dalam bahas Inggris, umpamanya :
here dan hear
hero dan heard
heart dan hard
food dan foot, dan seterusnya.

f. Obscurity
Obscurity adalah kesalahan membuat definisi yang tidak jelas. Pada umumnya,
obscurity terdapat pada arti baru yang diberikan untuk kata-kata yang sudah lama dipakai.
Alasan lebih lanjut menggunakan obscurity adalah berdasarkan hak setiap orang untuk
menggunakan bahasa, sesuai dengan keinginannya memberikan konotasi menurut
seleranya.

3. Beberapa Persyaratan untuk Membuat Definisi yang Baik


Bakry (1971: 26) dan Mehra (1964) menjelaskan bahwa definisi ialah pengertian
yang lengkap tentang suatu istilah yang mencakup semua unsur yang menjadi ciri utama
istilah itu. Secara lebih operasional, definisi ialah penyebutan seluruh ciri esensi suatu
objek dengan membuang seluruh ciri aksidensinya.
Ada empat syarat untuk membuat definisi yang baik (lihat Bakry, 1971: 17; Mehra &
Jazir, 1964: 24 - 25):
1) Ciri esensi yang disebut tidak boleh berlebihan dan tidak boleh kurang; atau
dengan kata lain, definisi tidak boleh terlalu luas dan tidak boleh terlalu sempit.
Misalnya, "Sapi adalah hewan". Definisi ini terlalu luas; begitu pula dengan definisi
"Hewan adalah kerbau", definisi ini terlalu sempit.
2) Definisi tidak boleh dinyatakan dalam bahasa yang samar-samar. Misalnya,
"Burung adalah yang pandai terbang".
3) Definisi tidak menggunakan kata atau istilah yang terlalu umum. Misalnya,
"Binatang adalah hewan": Definisi tidak menggunakan kata negatif. Misalnya,
"Kebenaran adalah bukan kebohongan".

Dalam bukunya Educational Psychology, H.C. Vilitherington (dalam Kertapati, 1986:


4) mengemukakan bahwa setiap definisi yang benar selalu terdiri atas empat bagian,
yaitu:
1) Kata yang akan didefinisikan (definiendum).
2) Sebuah kata kopula (dalam bahasa Indonesia, kata ‘ialah’ atau ‘adalah’)
3) Golongan yang meliputi istilah yang didefinisikan
4) Kelompok kata atau anak kalimat yang memberikan ciri khusus pada istilah
yang didefinisikan
Contoh:
Segitiga - adalah - suatu bidang - yang dibatasi oleh tiga garis lurus
(1)(2) (3) (4)

Dari contoh di atas, dapat diketahui bahwa setiap definisi yang benar dapat dibaca
dengan dua cara, yaitu, dimulai dari sebelah kiri kata kopula atau mulai dari sebelah kanan
kata kopula. Misalnya, definisi di atas dapat juga dibaca "Suatu bidang yang dibatasi `oleh
tiga garis lurus adalah segitiga".
Dilihat dari segi lain, definisi sekurang-kurangnya mengandung:,
1) penyusunan bukti -
2) cara berpikir yang tepat, dan
3) generalisasi bukti.

D. Definisi Psikologi Menurut Para Ahli


Definisi psikologi berikut ini menunjukkan beragamnya pendapat para ahli tentang
psikologi.
a. Ernest Hilgert (1957) dalam bukunya Introduction to Psychology:
"Psychology may be defined as the science that studies the behavior of men and other
animal" etc. (Psikologi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia dan hewan
lainnya).
b. George A. Miller (1974: 4) dalam bukunya Psychology and Communication
"Psychology is the science that attempts to describe, predict, and control mental and
behavioral events" (Psikologi adalah ilmu yang berusaha menguraikan meramalkan,
dan mengendalikan peristiwa mental dan tingkah laku).
c. Clifford T Morgan (1961:`2) dalam bukunya Introduction to Psychology"Psychology is
the science of human and animal behavior" (Psikologi adalah ilmu yang mempelajari
tingkah laku manusia dan hewan).
d. Robert S. Woodworth dan Marquis DG (1957:7) dalam bukunya Psychology:
"Psychdogy: is the scientific studies of individual activities relation to the inveranment"
(Psikologi adalah suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari aktivitas atau tingkah
laku individu dalam hubungan dengan alam sekitarnya).
Dalam definisi di atas menunjukkan rentangan makna psikologi dalam berbagai
perspektif. Jelas jika perhatikan, belum ada kesepakatan tentang cakupan psikologi.
Perbedaan definisi ini boleh jadi disebabkan perbedaan konotasi psikologi pada para ahli
itu. Perbedaan itu juga muncul karena perkembangan psikologi itu sendiri, sebagai ilmu
yang sudah mandiri.
Sementara ahli beranggapan, psikologi hanya tertarik pada perilaku yang tampak
saja, seperti dalam definisi Morgan dan Hilgert, sedangkan yang lain tidak dapat
mengabaikan peristiwa-peristiwa mental. Sebagian psikolog hanya ingin mendeskripsikan
apa yang dilakukan orang; sebagian lainnya ingin meramalkan apa yang akan dilakukan
orang; yang lainya lagi mengatakan bahwa psikologi baru dikatakan sebagai ilmu bila
sudah mampu mengendalikan perilaku orang. Apa pun definisi yang diberikan, untuk
sementara, pendapat George A. Miller kita anggap sebagai definisi psikologi yang relatif
mencakup semuanya.
Apabila kita amati berbagai definisi psikologi di atas, terutama definisi dari Morgan
dan Hilgert, ternyata bahwa studi psikologi tidak hanya terbatas pada tingkah laku
manusia saja, tetapi juga meliputi tingkah laku hewan.
Hal ini semakin dipertegas, misalnya, oleh Chaplin (1972); dalam Dictionary of
Psychology, yang mendefinisikan psikologi sebagai "...the science hurnutt and animal
behavior, the study of organism in all its variety and complexity it respond to the flux and
flow of the physical and social events which make up v rtivirunrnent" (...psikologi ialah ilmu
pengetahuan,mengenai perilaku manusia dan hewan, juga penyelidikan terhadap
organisme dalam segala ragam dan kerumitannya ketika mereaksi arus dan perubahan
alam sekitar dan peristiwa-peristiwa kemasyarakatan yang mengubah lingkungan).
Jadi, pada dasarnya, psikologi itu menyentuh banyak bidang kehidupan dan
organisme, baik manusia maupun hewan. Psikologi dalam kaitan ini berhubungan dengan
penyelidikan tentang bagaimana dan mengapa organisme-organisme itu melakukan
sesuatu.
Meskipun demikian, secara lebih spesifik, psikologi kerap dikaitkan dengan
kehidupan organisme manusia. Misalnya, Henry Gleitman (dalam Syah, 1995:8), yang
mendefinisikan psikologi sebagai "Ilmu pengetahuan yang berusaha memahami perilaku
manusia, alasan dan cara mereka melakukan sesuatu, dan juga memahami bagaimana
makhluk tersebut berpikir dan berperasaan". Atau Edwin G. Boring dan Herbert S.
Langfeld, seperti dikutip Sarwono (1984) yang mendefinisikan psikologi secara lebih
sederhana, yakni "Psikologi ialah studi tentang hakikat manusia".
Dalam berbagai definisi di atas, tampak jelas persamaan di samping perbedaan
pandangan para ahli. Namun, terlepas dari persamaan dan perbedaan tersebut, pendapat
yang lebih relevan untuk dijadikan pedoman dengan topik-topik pembahasan dalam buku
ini adalah pendapat Miller, Gleitman, dan Boring & Langfeld. Hal ini tentu saja didasarkan
pada pertimbangan dan beberapa alasan, antara lain di samping singkat dan tidak
berbelit-belit, pendapat mereka hanya menitikberatkan kepentingan organisme manusia.
Lalu, tingkah laku bagaimana yang dipelajari psikologi? Persoalan ini tampaknya
masih menjadi bahan perbincangan di kalangan para ahli` psikologi. Misalnya, para ahli
yang menitikberatkan pandangan psikoanalisis dalam uraiannya mengenai tingkah laku,
banyak memperhatikan aspek-aspek ketidaksadaran. Sebaliknya, ahli-ahli yang
menitikberatkan pandangan behavioristik lebih memperhatikan segi-segi yang objektif,
yang dapat diamati pada tingkah laku. Adanya berbagai pandangan yang berbeda ini
menyebabkan timbulnya macam-macam usaha merumuskan psikologi dari latar belakang
keilmiahannya masing-masing.
Yang paling penting dan yang dapat kita petik dari definisi-definisi di atas adalah
bahwa hal itu cukup memberikan wawasan pengertian mengena psikologi, sehingga
paling tidak kita dapat menyimpulkan bahwa "Psikologi adalah ilmu yang mempelajari
tingkah laku manusia dalam hubungan dengan lingkungannya".
Yang dimaksud lingkungan di sini, antara lain, meliputi semua orang, gejala,
keadaan, barang, atau peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekitar manusia.
Berdasarkan kesimpulan ini, kita melihat adanya dua unsur penting yaitu ilmu dan
tingkah laku.

1. Psikologi sebagai Ilmu


a. Apakah ilmu Pengetahuan (Science) itu?
Kata "ilmu" merupakan terjemahan dari kata Inggris science. Kata science berasal
dari kata Latin scientia yang berarti "pengetahuan". Kata scientia berasal dari bentuk kata
kerja scire yang artinya "mempelajari", "mengetahui (Soeprapto, 1996: 102).
Pada mulanya, cakupan ilmu (science) secara etimologis menunjuk pada
pengetahuan semata-mata, pengetahuan mengenai apa saja (Dampi 1966). Pada
pertumbuhan selanjutnya, pengertian ilmu (science) ini mengalami perluasan arti,
sehingga menunjuk segenap pengetahuan sistematik (systematic knowledge).
Pemakaian yang luas dari kata "ilmu" (science) ini diteruskan dalam bahasa Jerman
dengan istilah wissenchaft yang berlaku terhadap kumpulan pengetahuan apa pun yang
teratur, termasuk di dalamnya natur wissenchaften yang dalam bahasa inggris dikenal
sebagai the humanities (pengetahuan kemanusiaan). Sementara dalam bahasa Indonesia
dikenal ilmu-ilmu budaya yang pada umumnya mencakup pengetahuan tentang sastra,
estetika, sejarah, filsafat dan agama (Dampier, 1966)
Ialu apakah ilmu pengetahuan itu? Definisi umum biasanya merumuskan bahwa
"Ilmu pengetahuan adalah kajian mengenai dunia eksternal", Definisi lain yang agak
panjang "Ilmu pengetahuan adalah hasil upaya manusia dalam mencari kebenaran
tentang sesuatu, melalui suatu penelitian dengan berbagai alat dan persyaratannya, yang
disusun secara sistematis, sehingga dapat dipelajari, disebarluaskan, dan dimanfaatkan
untuk kesejahteraan umat manusia" (Soedjono, 1982: 2). Definisi lainnya yang lebih
simpel ialah "Ilmu pengetahuan merupakan kajian tentang penilaian dan yang dapat
melahirkan kesepakatan-kesepakatan universal" (Campbell, 1989: 23).

b. Historitas dan Manfaat Ilmu


Dalam sejarah ilmu pengetahuan, kita mengetahui bahwa ilmu ekonomi,
umpamanya, baru lahir pada akhir abad ke-18, sedangkan sosiologi lahir pada abad
berikutnya. Ilmu-ilmu arkeologi dan antropologi fisik lahir pada masa kolonialisme Eropa
Barat pada abad ke-19 dan ketika kolonialisme menjadi Iebih "berbudaya", hal itu seolah-
olah ditandai dengan lahirnya antropologi budaya. Ilmu psikologi baru berkembang setelah
timbul urbanisasi dan industrialisasi, tetapi ilmu pemerintahan dan sejarah sudah dikenal
sejak zaman Yunani. Mengapa ilmu-ilmu tertentu lahir pada waktu dan tempat tertentu? Ini
menunjukkan historitas ilmu-ilmu sosial. Bahkan, ilmu-ilmu eksakta, kealaman, dan
biologis juga mempunyai konteks sosio-historis. Misalnya, ilmu ekologi atau fisika nuklir
baru lahir pada abad ke-20 ( Rahardjo , 1996: 125-126).
Arti penting yang diberikan pada ilmu, bukan saja karena ilmu dapat dimanfaatkan -
dalam arti pragmatis - untuk membantu manusia memenuhi berbagai kebutuhannya dan
dalam konteks pembangunan dapat mendorong tujuannya tujuan-tujuan pembangunan.
Akan tetapi, ilmu itu sendiri pada dasarnya merupakan daya kreatif manusia yang
memungkinkan untuk memahami dirinya sendiri dan manusia-manusia lain, serta alam
yang melingkupinya sebagai ikhtiar manusia untuk terus mencari kebenaran, sebagai
sesuatu yang senantiasa harus dikejar, namun tidak pernah tercapai seluruhnya. Dengan
demikian, ilmu menjadi pengungkapan diri manusia sebagai makhluk yang mencari dan
mencintai kebenaran dan sebagai pembebas manusia dari berbagai dogma dan ajaran
yang mengikatnya. Oleh karena itu, ilmu menjadikan manusia bersifat terbuka, tidak
dipenjara oleh kebenaran-kebenaran yang dibuatnya sendiri (Soedjatmoko, 1986: ix).

c. Perbedaan Pengetahuan dan ilmu


Apa itu pengetahuan? Pengetahuan ialah keadaan tahu; pengetahuan ialah semua
yang diketahui. Ini bukan definisi pengetahuan, tetapi sekadar menunjukkan apa kira-kira
pengetahuan. Manusia ingin tahu, lantas ia mencari dan memperoleh pengetahuan. Nah,
yang diperolehnya itulah pengetahuan. "Pengetahuan ialah semua yang diketahui" (Tafsir,
1993: 14). Lalu, apa beda pengetahuan dengan ilmu? Uraian berikut ini mencoba
memberikan jawaban.
Para ahli sering membedakan antara apa yang disebut pengetahuan (knowledge)
dan ilmu pengetahuan (science).
Dalam bukunya, Pengantar ke Jalan Ilmu & Pengetahuan, Mohammad Hatta
membagi pengetahuan menjadi dua, yaitu pengetahuan yang didapat dari pengalaman
dan pengetahuan yang didapat dari keterangan.
"Pengetahuan yang didapat dari pengalaman berdasar pada kenyataan yang pasti.
Tetapi derajat kebenarannya bergantung akan benar atau' khilafnya penglihatan kita.
Pengetahuan yang didapat dengan keterangan memberi dasar yang kokoh akan
pengetahuan kita. Di sini kita meneari kebenaran dengan akal pikiran" (Hatta, 1979: 9).
Menurut Mohammad Hatta, pengetahuan yang didapat dari pengalaman disebut
"pengetahuan pengalaman" atau ringkasnya "pengetahuan' (knowledge). Pengetahuan
yang didapat dengan jalan keterangan disebut "ilmu pengetahuan" atau ringkasnya
disebut "ilmu" (science).
Tiap-tiap ilmu (science),,kata Hatta, pasti bersendi akan pengetahuan. Pengetahuan,
dalam pandangannya, adalah tangga pertama bagi ilmu untuk memberi keterangan lebih
jauh.
Partap Sing Mehra dan Jazir Burhan dalam buku mereka,. Pengttrttar: Logika
Tradisional, mengemukakan, "Pengetahuan adalah suatu sistem gagasan yang
bersesuaian dengan sistem benda-benda dan dihubungkan oleh keyakinan".
Dengan demikian, dalam pandangan kedua penulis ini, ada tiga hal yang harus
dipenuhi dalam pengetahuan (Mehra & Burhan, 1964: 3), yaitu:
1) Adanya sistem gagasan dalam pikiran;
2) Gagasan ini sesuai dengan benda-benda yang sebenarnya ada; .
3) Haruslah ada suatu keyakinan tentang adanya persesuaian.
Apabila salah satu dari tiga unsur tersebut hilang, tidak akan terjadi "pengetahuan".
Menurut Mehra dan Burhan, ada tiga sumber pengetahuan, yaitu:
1) pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman langsung.
2) pengetahuan yang diperoleh dari suatu konklusi
3) pengetahuan yang diperoleh dari kesaksian dan authority.
Berdasarkan bentuknya, Mehra dan Burhan membagi pengetahuan dalam dua
bagian yaitu:
1) Pengetahuan langsung
2) Pengetahuan tidak langsung.
Pengetahuan yang didapat dari persepsi ekstern dan persepsi intern adalah
pengetahuan langsung, sedangkan pengetahuan yang diperoleh denga cara menarik
konklusi, kesaksian, dan authority adalah pengetahuan yang tidak langsung.
llmu, menurut Mehra dan Burhan (1964: 9) adalah suatu susunan pengetahuan
secara sistematis yang mempersoalkan bagian tertentu, dari alam semesta. Jika
dibandingkan dengan pengetahuan, ilmu mengandung sifat-sifat:
1) Ilmu mempersoalkan bagian alam tertentu dan mengadakan penyelidikan
dalam batas-batas daerah itu saja, sedangkan orang biasa tampaknya tertarik pada
semua lapangan pengetahuan.
2) Ilmu sistematis merupakan kesatuan, tersusun, dan bersifat umum;
sedangkan pengetahuan merupakan campuran kenyataan khusus yang terpisah-pisah
dan merupakan fakta khusus yang tidak ada hubungan sama sekali.
3) Akhirnya, ilmu pengetahuan mempergunakan berbagai cara dan alat untuk
mendapatkan pengetahuan yang benar dan tepat, sedangkan pengetahuan
bergantung pada pengamatan yang tidak metodis.
Dalam bukunya Principles of Sociology, Alfred Mc Clung Lee. (1964), singkat,
merumuskan pengertian ilmu pengetahuan dengan "Science is systematic search for the
facts about the world"; sedangkan Albert A. Branca dalam Psychology, the Science of
Behavior, merumuskan: "The sciences are systematic classification of knowledge which
have been varified and exatly describe" (Branca, 1965: 3).
Kalau kita telaah kedua rumusan singkat tersebut, tampak jelas bahwa ilmu pengetahuan
mengandung unsur-unsur pengetahuan (knowledge), penelitian (research), sistematis
(systematic). Berdasarkan ketiga unsur tersebut, bisa dipastikan bahwa sebelum
terbentuknya, ilmu pengetahuan berasal dari pengetahuan dalam pergaulan manusia
dengan sesamanya, berupa cerita-cerita, ajaran agama, pengalaman yang dirasakan
pribadi, dan sebagainya, yang biasanya cukup menarik orang untuk mempelajarinya
sampai didapatkan jawaban yang memuaskan.
Dengan demikian, jelas pengetahuan saja bukan ilmu. Ia menjadi ilmu pengetahuan
apabila telah melalui penelitian dan dituangkan secara sistematis, sehingga mudah
dipelajari.

d. Klasifikasi Ilmu
Pada dasarnya, pembagian ilmu pengetahuan disiplin manusia dalam berbagai
bidang, berbeda dari negara yang satu dengan negara yang lain, dan tidak dapat
digunakan sebagai dasar klasifikasi. Umpamanya saja, tidak dapat dibedakan antara yang
disebut ilmu-ilmu sosial dan ilmu-ilmu kemanusiaan (human science) karena gejala sosial
ternyata sangat bergantung pada ciri-ciri kemanusiaan, termasuk di dalamnya,proses
psikofisik. Secara timbal balik, semua ilmu kemanusiaan bersifat sosial dilihat dari
berbagai sudut. Perbedaan hanya mungkin kalau kita pisahkan manusia di tempat ia hidup
dari keseluruhan umat manusia. Namun, sifat manusia banyak dikaitkan dengan ciri-ciri
yang diwariskan (inborn traits), meskipun diakui bahwa perwujudan ciri-ciri tersebut
menjadi nyata karena interaksi dengan lingkungan sosial (Semiawan, et al., 1988: 81).
Kedudukan ilmu kemanusiaan dalam sistem ilmu pengetahuan bersifat sangat
khusus sebab manusia sebagai objek memiliki beraneka manifestasi yang merupakan
hasil dari tingkah lakunya dan terjadi dalam posisi khusus yang menempatkan manusia
sebagai subjek dan objek, yang tentu- saja; membawa berbagai masalah.
Betapa luasnya ilmu pengetahuan itu. Karena perbedaan penelitian dan lapangan
kerja, ilmu pengetahuan, secara umum, dipisah-pisahkan dalam, kelompok-kelompok.
Secara umum dan konvensional, dikenal adanya empat kelompok ilmu pengetahuan
(Soekaino, 1987: 7-8; Soedjono, 1982: 10-1), yaitu:
1) Ilmu matematika (aljabar, goneometri, mekanika; dll.)
2) Ilmu pengetahuan alam, yaitu kelompok ilmu pengetahuan yang mempelajari
gejala alam, baik yang hayati maupun tidak hayati (misalnya: biologi, botani, kimia,
fisika, dll.)
3) Ilmu tentang perikelakuan (behavioral science) yang di satu pihak menyoroti
perikelakuan hewan (animal behavior), dan di pihak lain menyoroti peri kelakuan
manusia (human behavior.) Yang terakhir ini sering kali dinamakan ilmu-ilmu sosial,
yang mencakup, berbagai ilmu pengetahuan yang masing-masing menyoroti suatu
bidang dalam kehidupan masyarakat. Contoh: antropologi budaya/sosial, sejarah
sosial, ilmu politik, ekonomi, sosiologi, dll.
4) Ilmu pengetahuan kerohanian, yang merupakan kelompok ilmu pengetahuan
yang lebih mempelajari pengetahuan spiritual daripada kehidupan bersama manusia.
Dalam bukunya Ilmu Filsafat dan Agama, Endang Saifuddin Anshari secara garis
besar mengelompokkan ilmu pengetahuan dalam tiga kelompok besar yaitu (Anshari,
1979: 52-53):
a. Ilmu-ilmu pengetahuan alam (Natural Science)
1) Biologi
2) Antropologi fisika/ragawi
3) Ilmu kedokteran
4) Ilmu farmasi
5) Ilmu pertanian
6) Ilmu pasti
7) Ilmu alam
8) Ilmu teknik
9) Ilmu geologi, dan lain-lainnya.
b. Ilmu-ilmu kemasyarakatan atau ilmu-ilmu sosial (Social Sciences)
(1) Ilmu hukum
(2) Ilmu ekonomi
(3) Ilmu jiwa sosial
(4) Ilmu bumi sosial (Geografi Sosial)
(5) Ilmu sosiologi
(6) Ilmu antropolgi budaya dan sosial
(7) Ilmu sejarah
(8) Ilmu politik
(9) Ilmu pendidikan
(10) Ilmu publisistik dan jurnalistik, kemudian berkembang menjadi ilmu
komunikasi, secara resmi statusnya diperoleh melalui Keputusan Presiden
(Keppres) nomor 47 tahun 1982, tanggal 7September 1982 (tambahan penulis),
dan sebagainya.
c. Humaniora (studi humanitas; humanities study)
1) Ilmu agama
2) Ilmu filsafat
3) Ilmu bahasa
4) Ilmu seni
5) Ilmu jiwa dan sebagainya.

Berdasarkan objeknya, Hadari Nawawi membedakan ilmu menjadi dua kelompok


besar (Sunarjo, 1991: 37).
(1) Ilmu yang objeknya benda alam dengan hukum-hukumnya yang relatif bersifat pasti
dan berlaku umum disebut ilmu alam. Objeknya adalah fakta-fakta alam yang tidak
dipengaruhi oleh manusia. Di samping itu, karena hasilnya dirumuskan sebagai
kepastian, disebut juga ilmu pasti atau ilmu eksakta.
(2) Ilmu yang objeknya dipengaruhi oleh manusia termasuk manusia itu sendiri,
sehingga hukum-hukumnya tidak sama dengan hukum-hukum alam karena bersifat
secara relatif kurang pasti, disebut ilmu sosial. Bukti kebenaran ilmu ini tidak dapat
diulang-ulang karena dalam setiap pengulangan selalu terdapat perubahan. Di
samping itu, karena pendekatannya dipandang sebagai hasil kebudayaan manusia,
ilmu ini disebut juga ilmu budaya.

e. Psikologi sebagai Ilmu


Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, psikologi didefinisikan sebagai ilmu yang
mempelajari tingkah laku manusia dalam hubungan dengan lingkungannya. Tingkah laku
di sini berarti juga melibatkan proses mental manusia.
Untuk menguraikan dan menunjukkan bahwa psikologi adalah suatu ilmu (science),
bukan hal yang mudah karena memerlukan uraian yang sangat panjang.
Apakah psikologi dapat digolongkan sebagai ilmu atau tidak, dapat dijawab dengan
pertanyaan lain, "Apakah syarat-syarat untuk disebut sebagai : ilmu?" Apabila syarat-
syarat sebagai ilmu telah diketahui,, kita tinggal menjawab apakah psikologi telah
memenuhi syarat-syarat tersebut.
Para ahli umumnya menyebutkan bahwa untuk dinyatakan sebagai ilmu, dituntut
syarat-syarat sebagai berikut:
a. mempunyai objek tertentu
b. mempunyai metode tertentu
c. sistematis
d. universal.

1. Objek Psikologi
Ilmu adalah kumpulan pengetahuan. Namun, tidak dapat dibalik bahwa kumpulan
pengetahuan itu adalah ilmu. Kumpulan pengetahuan dapat disebut ilmu apabila memiliki
syarat-syarat tertentu. Syarat-syarat , yang dimaksudkan adalah objek material dan objek
formal. Setiap bidang ilmu, baik ilmu khusus maupun ilmu filsafat harus memiliki kedua
objek tersebut.
Objek: material adalah sesuatu yang dibahas, dipelajari, atau diselidiki (Sastropoetro,
1987:117; Mudhofir, 1996:6), atau suatu unsur yang ditentukan (Sunarjo,1991: 40), atau
sesuatu yang dijadikan sasaran pemikiran (gegenstand). Objek material mencakup apa
saja, baik hal-hal konkret (misalnya kerohanian, nilai-nilai, ide-ide). Gerurang (1987:42)
merinci objek material pada fakta-fakta, gejala-gejala, atau pokok-pokok yang nyata
dipelajari dan diselidiki oleh ilmu pengetahuan
Istilah objek material ini kerap disamakan atau ditumbuhkan dengan pokok persoalan
(subject matter). Pokok persoalan ini perlu dibedakan atas arti (Mudhofir, 1996: 7). Arti
pertama, pokok persoalan dimaksudkan sebagai bidang khusus dari penyelidikan faktual.
Misalnya, penelitian tentang atom termasuk bidang fisika; penelitian tentang klorofil
termasuk penelitian bidang botani atau biokimia; penelitian tentang bawah sadar termasuk
bidang psikologi. Arti kedua, pokok persoalan alam dimaksudkan sebagai kumpulan
pertanyaan pokok yang saling berhubungan. Anatomi dan fisiologi keduanya bertalian
dengan struktur tubuh. Anatomi mempelajari strukturnya, sedangkan fisiologi mempelajari
fungsinya. Kedua ilmu tersebut dapat dikatakan memiliki pokok persoalan yang sama,
namun juga, dapat dikatakan berbeda. Perbedaan ini dapat diketahui apabila dikaitkan
dengan corak pertanyaan yang diajukan dan aspek yang diselidiki dari tubuh tersebut.
Anatomi mempelajari tubuh dalam aspeknya yang statis, sedangkan fisiologi mempelajari
tubuh dalam aspeknya yang dinamis.
Objek formal adalah cara memandang, cara meninjau yang dilakukan oleh seorang
peneliti terhadap objek materialnya serta prinsip-prinsip yang digunakannya. Jadi, "sudut
dari mana objek material, itu disoroti disebut objek formal" (Poedjawijatna, 1991:41).
Dengan demikian, kita bisa menyimpulkan bahwa objek formallah yang membedakan
antara ilmu yang satu dan ilmu lain. Satu objek material dapat ditinjau dari berbagai sudut
pandangan sehingga ada beberapa ilmu yang mempelajari manusia, di antaranya ;
psikologi, antropologi, sosiologi, komunikasi. Ilmu yang mempelajari jiwa manusia dan
tingkah lakunya adalah psikologi; ilmu yang mempelajari bermacam jenis manusia dan
semua aspek dari pengalaman-pengalaman manusia adalah antropologi (Ember & Ember,
1981: 3); ilmu yang mempelajari manusia dalam ikatan kelompok adalah sosiologi; dan
ilmu yang mempelajari pernyataan antarmanusia adalah ilmu komunikasi.
Dari uraian di atas, jelas bahwa suatu objek formal dipunyai oleh satu bidang ilmu
saja. Artinya, tidak mungkin ada dua atau lebih ilmu pengetahuan mempunyai objek formal
yang sama. Jika ada ilmu yang mempunyai objek formal yang sama, kedua ilmu tadi pada
dasarnya sama pula.
Objek formal suatu ilmu dapat dilihat dari batasan atau definisi ilmu tersebut. Dengan
kata lain, objek formal suatu ilmu adalah definisi dari ilmu itu. Psikologi sebagai ilmu yang
berdiri sendiri, apabila dihubungkan dengan syarat-syarat untuk bisa disebut ilmu, dapat
memenuhi syara pertama yaitu psikologi mempunyai objek tertentu. Psikologi mempunyai
objek material,, yaitu manusia; dan objek formal atau sudut pandang keilmuannya, yaitu
dari segi tingkah laku manusia. Objek tersebut bersifat empiris.

2. Metode Psikologi
Metode (Yunani: methodos) adalah cara atau jalan (Hassan, 1971:7-8). Dalam konteks
ilmiah, metode menyangkut masalah cara kerja; yaitu cara kerja untuk memahami objek
yang menjadi sasaran ilmu yang bersangkutan.
Berkaitan dengan metode ini, cabang-cabang ilmu mengembangkan metodologinya
(yaitu pengetahuan tentang berbagai cara kerja) yang disesuaikan dengan objek studi
ilmu-ilmu yang bersangkutan. Metodik (yaitu kumpulan metode) merupakan jalan atau
cara yang nantinya akan ditempuh guna lebih mendalami objek studi.
Manusia telah mengembangkan metode untuk mengatasi terbatasnya pikiran, yaitu
metode studi yang mempunyai sifat ilmiah. Lalu, apakah sumbangan yang diberikan
psikologi ilmiah? Tugas utamanya adalah menjelajah melewati batas-batas akal sehat dan
desas-desus dan meninja apa yang sebenarnya terjadi dengan cara seobjektif mungkin.
Apakah pernyataan tertentu sesuai dengan fakta? Apakah teori tertentu merupakan
penjelasan yang memadai? Demikian seterusnya.
Ilmu pengetahuan psikologis secara metodis dan secara prinsipil sangat berbeda
dengan ilmu pengetahuan alam (Kartono, 1981:15). Sebabnya ialah: pada ilmu
pengetahuan alam, orang meneliti objeknya secara murni ilmiah, dengan menggunakan
hukum-hukum dan gejala-gejala penampakan yang bisa diamati dengan cermat. Pada
peristiwa-peristiwa ilmu alam terdapat unsur-unsur kemantapan, konstansi, dan
konsistensi yaitu semua gejala bisa berlangsung secara berulang-ulang dan bisa tetapi
sama. Dengan ciri-ciri inilah, orang bisa mengamati dan memperhitungkan dengan cermat,
dan membuat hukum-hukum alam. Lebih-lebih dengan bantuan pengertian-pengertian
logis serta perhitungan-perhitungan ilmu pasti, orang mencoba memahami sifat dan
hakikat objek penelitiannya Sebaliknya, psikologi berusaha mempelajari diri manusia
bukan sebagai "objek" murni, tetapi meninjau manusia dalam kemanusiaannya
mempelajari manusia sebagai subjek yang aktif dan mempunyai sifat-sifat tertentu. Subjek
yang aktif diartikan sebagai pelaku yang dinamis dengan segala aktivitas dan
pengalamannya.
Para ahli psikologi, seperti kebanyakan orang, menaruh minat pada perilaku manusia,
meskipun ada juga yang tertarik pada perilaku binatang. Namun;, tidak seperti orang
kebanyakan, ahli psikologi terlibat dalam kajian ilmiah,dan terus menerus mengobservasi
apa yang dilakukan orang atau binatang, mengapungkan teori mengenai alasan orang
melakukan hal tertentu, dan mengumpulkan bukti untuk mendukung atau menyangkal hal
tersebut. Mereka tentu saja, tertarik pula pada pelbagai proses "mental" seperti pikiran,
persepsi, mimpi, emosi, ingatan, perasaan; namun semua itu hanya dapat dikaji secara
tidak langsung melalui pengamatan terhadap apa yang sebenarnya dilakukan orang (atau
binatang). Kita hanya bisa mengobservasi walaupun dari sini mungkin bisa menyimpulkan
sesuatu yang lain.
Begitulah, selain mempunyai objek tertentu, psikologi sebagai ilmu yang berdiri sendiri
juga mempunyai metode untuk mendapatkan fakta, kesimpulan, dugaan, hipotesis, teori,
dan dalil-dalil baru untuk memajukan, mengemukakan, atau mengadakan pengujian dan
pembuktian. Pekerjaan ilmiah dilakukan dengan tujuan menghilangkan kesangsian
memperoleh kebenaran dan ketetapan dalam memahami dan meramalkan tingkah laku
manusia (Fauzi, 1977: 30).
Psikologi, sebagai ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri, telah menggunakan metode-
metode ilmiah dalam mengumpulkan data dan informasinya. Yang dimaksud dengan
metode ilmiah adalah "Suatu cara kerja yang mengikuti prosedur ilmiah untuk memperoleh
data atau informasi yang diperlukan suatu ilmu pengetahuan" (Effendi & Praja, 1993: 9).
Suatu metode bersifat ilmiah, antara lain, memiliki ciri-ciri:
(1) Subjektif, artinya dapat memberikan data atau informasi yang benar, sesuai
dengan keadaan objek yang sesungguhnya;
(2) Adekuat (adequate), artinya memadai, sesuai dengan masalah, dan tujuannya;
(3) Reliable, artinya, dapat dipercaya, memberikan informasi yang tepat dan tepat;
(4) Valid, artinya dapat dipercaya (sahih), sesuai dengan objeknya (kenyataan);
(5) Sistematis, artinya memberikan data/informasi yang tersusun baik, sehingga
memudahkan penarikan kesimpulan; dan
(6) akurat (accurate), artinya memberikan data/informasi dengan teliti.

Sebenarnya, istilah "ilmu pengetahuan" (scientific) itu sendiri mengandung arti bahwa
metode penelitian yang digunakan untuk mengumpulkan data senantiasa memperhatikan
hal-hal berikut:
(1) tidak boleh memiliki bias, artinya tidak memihak salah satu hipotesis; dan
(2) objektif, artinya memungkinkan ahli berkualifikasi lain untuk mengulangi observasi
dan mendapatkan hasil yang sama.
Menurut Sherif (dalam Wuryo & Sjaifullah, 1982:25-26), metode ilmiah bukan hanya
merupakan sekarung teknik. Dalam menggarap problema (sosial) dengan faktor-faktor
yang kompleks dan rumit, banyak teknik yang telah digunakan, termasuk di dalamnya
observasi, eksperimen, angket, skala penilaian, tes-tes, wawancara, pengukuran
sosiometrik, analisis bahan (content analysis), dan lain-lainnya yang terlalu banyak untuk
disebutkan. Jika memungkinkan, eksperimen lebih disarankan selama tidak merusak sifat
hakikat esensi problema yang diselidiki.
Psikologi sesungguhnya memiliki banyak metode. Berikut ini adalah beberapa di
antaranya.

a. Metode Eksperimental
Metode eksperimental merupakan observasi atau pengamatan terhadap suatu
kejadian atau gejala yang berlangsung di bawah kondisi atau syarat tertentu. Dalam
psikologi, metode eksperimental bermaksud menyelidiki pengaruh kondisi tertentu
terhadap tingkah laku individu.
Pada tahun 1971, Fehsbach dan Singer mengadakan penelitian selama enam
minggu di sekolah-sekolah panti. Dalam kasus ini, sekolah-sekolah tersebut berfungsi
sebagai lingkungan "laboratorium" yang terkontrol, karena di sana kedua pengeksperimen
mempunyai kontrol atau aktivitas dan pemirsa televisi oleh subjek (semua anak laki-laki).
Semua anak laki-laki menonton televisi selama minimum enam jam per minggu: Anak-
anak yang termasuk kelompok eksperimental harus memilih acara dari daftar film yang
menonjolkan kekerasan, sementara yang termasuk kelompok kontrol harus memilih daftar
acara yang tidak menonjolkan kekerasan. Perilaku agresif mereka diukur lewat tes
kepribadian yang dilakukan pada awal dan akhir keenam minggu tersebut dan lewat
neraca banding perilaku yang dibuat oleh guru atau orang tua. Kedua pengeksperimen ini
mendapatkan kesimpulan bahwa secara umum pemirsaan acara televisi yang
menonjolkan kekerasan selama enam minggu tidak menyebabkan meningkatnya perilaku
agresif (Silva & Lunt, 1986).
Ciri esensial dari metode eksperimental, menurut Silva dan Lun meliputi variabel.
Pengeksperimen mempunyai gagasan atau perkiraan yang diformulasikannya sebagai
hipotesis penelitian dan ia memanipulasi atau mengubah satu variabel untuk melihat efek
yang ditimbulkan perubah tersebut terhadap variabel lain. Variabel yang dimanipulasinya
(misalnya jumlah waktu untuk menonton televisi) disebut variabel bebas, sedangkan
variabel yang efek atau perubahannya ia ukur adalah variabel tak bebas (keletihan pada
keesokan pagi). Agar yakin bahwa perubahan yang diobservasi pada variabel tak bebas
disebabkan oleh variabel bebas dan bukan karena faktor lain pada subjek atau
lingkungan, ia melakukan eksperimen tersebut dalam kondisi yang dikontrol dengan
cermat, seperti sebuah laboratorium, tempat, segala sesuatu dapat dipertahankan
kekonstariannya,; :ecuali untuk satu faktor yang tengah dimanipulasinya.
Perilaku manusia jelas dipengaruhi banyak faktor; ada yang tidak diketahui
pengeksperimen atau subjek itu sendiri, namun pengeksperimen berusaha sebaik
mungkin untuk menyingkirkan sebanyak mungkin faktor, sehingga ia bisa menemukan
efek atau faktor yang menjadi minatnya.
Dengan memanipulasi satu variabel sambil mengontrol yang lain, ahli psikologi
dapat menarik kesimpulan mengenai sebab-akibat dengan tingkatan keyakinan yang tidak
mungkin diperoleh dengan metode non-eksperimental.
Apa yang dimaksud variabel tersebut adalah segala sesuatu yang bervariasi (atau
berubah) atau dibuat bervariasi (atau berubah). Dalam eksperimen yang ideal,
pengeksperimen memanipulasi variabel bebas, menjaga agar variabel konstan, sementara
ia mengobservasi dan mengukur perubahan pada variabel tak bebas. Dalam eksperimen
di atas, acara televisi menonjolkan dan tidak menonjolkan kekerasan (dimanipulasi; oleh
pengeksperimen) adalah variabel bebasnya, sedangkan variabel tak bebasnya perilaku
agresif anak laki-laki tersebut.
Metode eksperimen dapat digunakan di luar maupun di dalam laboratorium. Sebagai
contohnya, kita dapat meneliti efek berbagai metode psikoterapi dengan mencoba metode
tersebut pada kelompok individu terpisah yang mengalami gangguan emosional serupa.
Metode eksperimen ini merupakan masalah logika, lokasi. Namun, sebagian besar
eksperimen dilakukan di laboratorium , terutama karena diperlukan instrumen yang presisi
untuk mengendalikan presentasi stimuli dan mendapatkan penilaian perilaku yang tepat.
Pengetahuan psikologi yang paling dapat dipercaya berasal dari eksperimen-
eksperimen yang diselenggarakan di laboratorium (Mahmud,; 0;h). Umumnya, para ahli di
laboratorium terlatih untuk bisa membedakan antara apa yang ingin dipercaya dengan apa
yang sebenarnya terjadi, kalau menurut eksperimen ternyata dua hal itu berbeda.
Laboratorium juga merupakan tempat yang ideal untuk mengendalikan situasi
eksperimental, sehingga semua aspek dan faktornya dapat ditentukan dan diukur secara
ilmiah.
Eksperimen dalam laboratorium mempunyai kelebihan, yaitu dapat mengontrol
lingkungan sehingga ahli psikologi dapat memilih faktor-faktor tersebut (sementara yang
lain dipertahankan kekonstanannya). Misalnya, jika ia ingin menemukan efek kurang tidur
pada prestasi belajar anak berusia sepuluh tahun, ia mungkin membawa sekelompok anak
berusia sepuluh tahun dalam laboratorium dan mencoba mempertahankan kekonstanan
lingkungan dan aktivitas mereka, kecuali untuk jumlah waktu tidur. Kemudian, ia mungkin
membandingkan kelompok yang tidur sepuluh jam pada malam hari seperti seharusnya
dan yang hanya tidur tiga jam. la, misalnya, berusaha menjaga agar anak-anak tersebut
mendengar suara ribut yang sama dan bahwa ada yang tidak meminum kopi. Dalam
lingkungan yang terkontrol, tiap perbedaan di antara kelompok anak berusia sepuluh
tahun tersebut, dapat diasumsikan dengan lebih yakin bahwa memang ada kaitan antara
prestasi belajar dan faktor kurang tidur.
Sebaliknya, metode laboratorium kerap dikritik karena menciptakan situasi artifisial
(Sylva & Lunt, 1986). Orang dalam laboratorium berperilaku jauh berbeda dari kehidupan
riil, sehingga kesimpulan apa pun yang diam dari laboratorium, hanya dapat diterapkan
dengan hati-hati di tempat lain. Kita tidak mungkin memanipulasi manusia dengan cara
yang mungkin bisa digunakan untuk memanipulasi, misalnya, volume gas atau temperatur
benda cair. Oleh karena itu, generalisasi dari laboratorium terhadap kehidupan manusia
adalah berbahaya. Ahli psikologi perlu menyadari sulitnya menggeneratisasi sesuatu dari
laboratorium ke kehidupan riil, namun beberapa penemuan yang penting dan menarik,
pernah berlangsung di sana.
Ada eksperimen-eksperimen yang tidak perlu diselenggarakan laboratorium, seperti
ditunjukkan Abraham P. Sperling (Mahmud, 1990:7 kalau situasinya memungkinkan
konstannya semua faktor, kecuali satu. Misalnya, kita ingin mengetahui seberapa lebih
cepatnya anak-anak akan belajar mengeja jika diberikan pujian, dan seberapa lebih
lambatnya jika tidak diberi komentar apa-apa. Langkah pertama ialah membagi kelas
menjadi dua kelompok; kelompok yang satu akan menerima pujian sedangkan kelompok
yang satunya lagi tidak akan dipuji ataupun dicela. Agar sedapat mungkin serupa, di
samping berukuran sama, kedua kelompok itu juga terdiri atas anak-anak yang
berkemampuan relatif sama. D kelompok itu hendaknya terdiri atas anak-anak yang sama,
baik umur, tingkatan kelas, nilai sekolah, angka kecerdasan, dan latar belakan rumahnya.
Dengan kata lain, anak-anak itu hendaknya "sama" dalam segi aspek. Dengan begitu, kita
bisa lebih yakin bahwa setiap perbedaan ya mungkin ada, berakar pada ada atau tidak
adanya faktor yang sedang ditelitinya, yaitu "pujian". '

b. Metode Non-eksperimental
Pada dasarnya, metode eksperimental hanyalah salah satu dari sekian banyak cara
yang dilakukan para ahli psikologi untuk mengkaji perilaku. Pengkajian perilaku tidak
selalu dapat atau perlu dilakukan di laboratorium. Bayi yang masih kecil, umpamanya,
mungkin berperilaku amat berbeda dalam laboratorium dengan di rumah bersama orang
dan mainan yang dikenalnya di sekitar dirinya.
Jadi, terdapat banyak cara untuk mengumpulkan informasi di luar laboratorium; ada
yang formal dan tepat, ada pula yang tidak terlalu formal. Kita mungkin bisa melihat
seorang ahli psikologi yang duduk di sudut kelas sebuah taman kanak-kanak untuk
merekam atau mengobservasi anak tertentu yang sedang bermain (inilah yang disebut
observasi naturalistik), atau mungkin ia membuat catatan secara rinci dan merekonstruksi
riwayat masa lalu subjek (kajian kasus); ia mungkin mengunjungi tempat-tempat ramai
untuk wawancara sekelompok orang sebagai sampel guna mendapatkan pandangan
mereka mengenai anak-anak (survei), atau ia mungkin mengumpulkan fakta dari sebuah
pusat kesehatan yang besar untuk mencari kemungkinan hubungan antara merokok dan
kanker paru-paru (metode korelasional).

(1) Metode Observasi


Psikologi sebenarnya selalu berurusan dengan observasi. Perhatiannya tak pada
pengobservasian perilaku, perekaman atau pengukuran peristiwa, dan pengujicobaan
sesuatu untuk menarik kesimpulan. Akan tetapi, psikologi berawal dari observasi,
sehingga bisa didefinisikan sebagai kajian (atau observasi) ilmiah mengenai perilaku.
Observasi secara cermat terhadap perilaku burung dan manusia tupnkiln titik awal
untuk banyak riset (penelitian) dalam psikologi.
Dalam bukunya introduction to Psychology, Rita L. Atkinson dan kawan-kawan
mengingatkan, dalam melakukan observasi terhadap perilaku yang terjadi secara alami,
terdapat risiko munculnya penafsiran yang menggelikan ketimbang deskripsi objektif. Kata
mereka, kita mungkin tergoda, misalnya, kita mengatakan bahwa hewan yang kita ketahui
telah lama tidak mendapatkan makanan sedang "mencari-cari makan" saat kita melihat
tingkat aktivitasnya meningkat. Menurut mereka; para peneliti harus terlatih untuk
mengamati dan mencatat secara akurat untuk menghindari masuknya bias pribadi dalam
hasil laporannya.
Metode observasi dalam psikologi banyak dilakukan untuk mempelajari tingkahlaku
anak-anak, interaksi sosial, aktivitas keagamaan, peperangan, Aktivitas kejahatan, dan
kejadian lain yang tidak dapat dieksperimenkan. Hakikatnya, eksperimen merupakan salah
satu metode observasi yang dibatasi dengan menciptakan kondisi-kondisi tertentu.
Observasi atau pengamatan terhadap perkembangan hidup seseorang, sejak Lahir
disebut metode perkembangan (developmental or genetic method); sedangkan data atau
hipotesis yang dicari melalui riwayat hidup seseorang dengan menanyakan kepada orang
itu sendiri, atau orang-orang yang mengenalnya, atau melalui catatan-catatan mengenai
orang itu disebut metode riwayat hidup (case history method).

(2) Metode Studi Kasus (Case Study/Case History)


Sebagian studi kasus yang paling terkenal adalah yang dibuat oleh Freud (Sylva &
Lunt, 1986), berikut ini.
Peristiwanya terjadi di Wina, sebelum peralihan abad ini. Seorang dokter
berpenampilan sederhana, hampir dapat dikatakan puritan mengejutkan dunia kaum
terpelajar. Ketika itu, sang dokter memproklamasikan, bahwa asal muasal cinta pada
anak-anak adalah daya tarik seksual Bayangkanlah situasinya. Di hadapan hadirin
terhormat yang terdiri dari dokter-dokter zaman Victoria, Sigmund Freud muda menyajikan
teori rumit yang mengklaim bahwa anak-anak dalam keluarga biasa, kerap diseduk
(seduced) oleh orang tuanya. Ketua sidang menyatakan kuliah Freud sebagai "dongeng
nina-bobo ilmiah; dan Freud, dalam suratnya beberapa ha kemudian kepada sahabatnya,
menggambarkan kuliah tersebut; "keledai keledai itu menyambutnya dengan dingin".
Kejadian-kejadian sebelumnya yang mengantar pada kuliah Freud, tahu 1896 itu,
bagai kisah detektif. Apakah gerangan yang mendorong timbulnya pandangan yang
mengejutkan tersebut?
Sebagai seorang neurolog spesialis saran muda, Freud dan sejawatan Josef Breuer,
menjumpai banyak pasien yang menderita penyakit tanpa sebagai yang jelas. Pasien
dengan penyakit yang dikenal sebagai histeria, terserang berbagai gejala, termasuk
kebutaan, kehilangan ingatan, dan kelumpuhan, (paralisis). Masih sedikit yang diketahui
mengenai penyakit tersebut walaupun secara riil, berlawanan dengan bukti neurologis.
Misalnya, seorang pasien melaporkan bahwa ia mengalami suatu kelumpuhan tubuh,
yang secara fisiologis tidak mungkin-terjadi. Pada waktu hal itu terjadi„bentuk penyakit
misterius tersebut sesuai dengan pandangan orang awam, mengenai. fungsi tubuh
anatomi tidak ada tetapi tidak demikian menurut Freud, histeria "berperilaku seperti atau
seperti tidak mengetahui anatomi". Serangan histeria dari orang yang berpura-pura akan
menghilang jika orang itu merasa tidak sedang diamati,. sementara pada penderita histeri
gejala tersebut tetap dijumpai.
Sambil menelusuri penyebab histeria, Freud dan rekan-rekan sejawatnya memulai
penelitian formal terhadap bidang jiwa manusia, yang biasanya tidak diperhitungkan -
alam bawah sadar
Freud, dan sejawatnya Josef Breuer, percaya bahwa gejala histeris kerap didahului
rasa takut yang hebat. Salah seorang pasien yang membuat mereka meyakini hal ini
adalah seorang wanita yang disebut nona Anna O. Wanita ini mulai dirawat oleh ; Breuer
pada usia 21. Sebelum perawatan tersebut, Anna harus merawat ayahnya yang menderita
sakit parah. Salah satu gejala yang
yang menyerang Anna adalah kelumpuhan lengan kanan. Breuer yakin bahwa ia telah
menemukan penyebabnya, yaitu rasa takut yang tidak dapat diingat wanita tersebut.
Breuer menuturkan kasus tersebut seperti berikut: Pada suatu larut malam, sementara
menunggui ayahnya, Anna duduk di kursi dekat sisi ranjang ayahnya, dengan tangan
kanan disenderkan melintang pada kepala kursi. la tengah berharap-harap cemas
menunggu kedatangan dokter. Namun, dalam keadaan lelah, ia "melihat" seekor ular
besar merayap hendak menggigit ayahnya dan ingin menyelamatkan ayahnya dari
"serangan" itu. Akan tetapi, lengan yang hendak digunakannya, lengan kanan, "tertidur"
dan ia tidak dapat bergerak.
Breuer berhasil mengorek urut-urutan peristiwa yang menakutkan ini, sementara is
menjalankan apa yang disebut Anna sebagai "penyembuhan melalui bicara". Dalam
penyembuhan tersebut, is menceritakan kembali pada Breuer mengenai pikiran, mimpi,
dan khayalannya. Untuk setiap gejala, dari banyak gejala yang diidapnya, Breuer mampu
menelusuri asal muasal rasa takut dan emosi kuat lain yang tidak diungkapkan ketika
pertama kali tergugah. Pada saat peristiwa pencetusnya berhasil diidentifikasi dan
perasaan tersumbat dilepaskan, gejala pun menghilang.
Breuer dan Freud kemudian mempublikasikan teori mereka dalam Studies in Hysteria.
Mereka mengklaim bahwa histeria adalah konsekuensi dari emosi yang tidak dapat
ditolerir dan tidak dapat diungkapkan ketika emosi tersebut tergugah. Emosi tersebut
berlanjut dalam bentuk internal, hampir terjepit. Terapi berupa bantuan terhadap pasien
untuk membawa seluruh kekuatan perasaannya. Kelumpuhan lengan Anna O, misalnya,
menghilang ketika dalam ruang konsultasi, is mengungkapkan kengerian yang tidak dapat
ia lepaskan dalam kamar tidur ayahnya yang terbaring sakit.
Begitulah, kasus Anna 0, seperti telah disinggung di muka, adalah salah satu kajian
kasus Freud yang paling terkenal. Dari rekonstruksi, terinci masa lalu Anna 0 dan
peristiwa-peristiwa bermakna dalam hidupnya.,Freud dapat menelusuri sumber persoalan
neurotik wanita tersebut sampai ke peristiwa pada masa awal kanak-kanaknya.
Kathy Sylva dan Ingrid Lunt menjelaskan, metode kajian kasus biasanya melibatkan
satu subjek walaupun kajian seperti yang dilakukan Anna Freud dan Sophie Dann
menggunakan beberapa subjek individual.
Kajian kasus, lanjut Sylva dan Lunt, tidak melibatkan penelitian ilmiah dan tidak bisa
benar-benar objektif, namun memberikan alat , dalam pemahaman dan pengobatan
perilaku bermasalah.
Metode studi kasus kadang disebut "metode klin mengelirukannya dengan wawancara
klinis Piaget) karena metode ini terutama digunakan oleh dokter atau ahli psikologi klinis
ketika mereka mengobati pasien. Si ahli psikologi mencoba merekonstruksi riwayat
kehidupan masa lalu subjek berdasarkan ingatannya, laporan anggota keluarga, dan
rekaman lain. Upaya ini melibatkan pekerjaan yang agak mirip pekerjaan detektif, yaitu
dalam hal mengumpulkan gambaran peristiwa masa lalu yang akurat.
Kelemahan metode ini adalah seakan-akan memberikan kesan bahwa objeknya
adalah orang-orang yang jiwanya tidak normal, sehingga hasil yang yang dicapainya
kurang representatif untuk menggambarkan keadaan jiwa pada umumnya.

(3) Metode Survei


Survei adalah suatu metode yang bertujuan mengumpulkan sejumlah besar variabel
mengenai sejumlah besar individu melalui alat pengukur wawancara (Vrendenbregt, 1981:
44). Definisi tersebut dapat kita uraikan sebagai berikut. .
a. Individu adalah satuan penelitian.
Data dikumpulkan melalui individu dengan tujuan agar melalui generalisasi, kita
dapat menarik kesimpulan mengenai suatu kelompok masyarakat. Dengan kata lain,
suatu survei bertujuan menyifatkan suatu masyarakat berdasarkan data yang
dikumpulkan pada individu, dan sepanjang ada hubungan masalah yang ingin diteliti.
.
b. Variabel yang dikumpulkan dalam metode survei pada prinsipnya tidak terhingga
banyaknya, mulai dari variabel seperti latar belakang responden berupa jenis
kelamin, umur, agama, pekerjaan, status perkawinan, suku bangsa, dan sebagainya,
sampai sikap dan pandangan responden, lingkungan sosial manusia, kelakuan
manusia, dan juga mengenai ciri-ciri khas demografis dari suatu kelompok manusia.
c. Alat pengukur yang dipakai adalah wawancara berupa daftar pertanyaan yang
berbentuk suatu schedule atau suatu kuesioner, yang biasanya sangat berstruktur.
Apabila bermaksud mengumpulkan data yang relatif terbatas dari sejumlah kasus
yang relatif besar jumlahnya, metode yang bisa digunakan adalah metode survei. Metode
ini lebih menekankan pada penentuan informasi mengenai variabel ketimbang informasi
tentang individu (Sevilla, et al., 1988).
Survei digunakan untuk mengukur pelbagai fenomena yang ada. Dalam penelitian
seperti ini, kita tak perlu memperhitungkan hubungan antarvariabel. Tujuan pokok kita
ialah memanfaatkan data yang kita peroleh untuk memecahkan masalah daripada untuk
menguji hipotesis.
Pada dasarnya, survei mempunyai dua lingkup, yaitu survei sensus dani survei
sampel. Sensus adalah survei yang meliputi seluruh populasi yang; diinginkan; sedangkan
survei sampel adalah survei yang dilakukan hanya pada sebagian kecil dari suatu
populasi.
Kita bisa menggunakan survei untuk menabulasi objek-objek nyata atau mengukur
hal-hal yang tidak nyata seperti pendapat atau pencapaian prestasi tertentu, misalnya
survei tentang pendapat umum, mengukur konstruk, sedangkan menghitung suara hasil
suatu pemilihan umum adalah mengukur objek-objek nyata.
Jika dibandingkan dengan studi kasus, sampel survei sangat luas, sementara studi
kasus adalah studi populasi kecil. Survei bertujuan membuat generalisasi, dan sebagian
malahan untuk membuat prediksi. Generalisasi dari studi kasus terbatas pada kasus lain
yang memiliki karakteristik dan tipe yang sama. Generalisasi demikian disebut generalisasi
pada parent population-nya, bukan generalisasi dari studi sampel yang representatif
terhadap pdpulasinya; generalisasi ini disebut generalisasi pada mother population-nya.
Selain itu, survei lebih bersifat cross sectional, sedangkan studi kasus merupakan
studi longitudinal. Metode pengumpulan data pada studi kasus lebih mengutamakan
penggunaan observasi, wawancara, dan dokumentasi; sedangkan survei paling banyak
menggunakan pendekatan formal. Kesimpulan -kasus bersifat deskriptif, sedangkan survei
bersifat inferensial (Muhadjir, 1992: 69 - 70).
Perlu dicatat bahwa Charles Booth adalah bapak dari survei-survei yang bernada
ilmiah (Vredenbregt, 1981: 44 - 45).
Booth, seperti ditulis Vredenbregt, adalah seorang kaya raya, pemilik kapal laut asal
Lipervool (Inggris) yang tergerak oleh kesengsaraan kelas buruh Inggris pada akhir abad
ke-19. Booth, melalui metode survei, mengumpulkan, data mengenai kemiskinan dan
pekerjaan kaum buruh di London. Dari hasil penelitiannya, Booth menerbitkan satu buku
yang terdiri atas 17 jilid, berjudul Labour and Life of the People of London. Penerbitan
dilakukan di ant4ra tahun 1886 dan 1902. Hasil penerbitan Booth menggemparkan
masyarakat Inggris dan memberikan dampak politik yang sangat luar biasa.
Survei dari Booth bersifat deskriptif la bekerja dengan suatu klasifikasi yang terdiri
atas delapan kelas, yaitu empat kelas di atas dan empat kelas di bawah garis kemiskinan
(poverty line).
Meskipun definisi yang dipakai bagi kedelapan kelas tidak selalu tepat, sehingga
banyaknya tumpang tindih, penelitian Booth bisa dibilang sebagai pekerjaan perintis dalam
ilmu sosial yang mempunyai jangkauan ilmiah sangat luas.
Sepeninggal Booth, dilakukan banyak perubahan berupa perbaikan dalam teknik
survei, namun pola umum dari Booth, secara garis besar masih tetap dipakai. Di negeri
kelahirannya, sejak 1941, didirikan "The Government Social Survey", yang sekarang
menjadi bagian dari "Office of Population Censuses and Surveys" (Kantor Sensus dan
Survei Penduduk). Di negara tetangga kita, Singapura, lembaga serupa sejak lama juga
telah memainkan peranan penting.
Peranan metode survei, menurut Vredenbregt, tidak saja seperti pada zaman Booth,
terbatas pada penelitian kemiskinan, tetapi dipakai pula untuk beraneka ragam tujuan,
seperti penelitian pemasaran (market research) dan pengukuran pendapat umum (public
opinion polls).
Banyaknya hasil pefiting dari metode survei juga diakui Rita L. Atkinson dan
sejawatnya. Sebagai contoh, dalam riset Masters dan Johnson tentang respons seksual,
sebagian informasi tentang bagaimana manusia berperilaku secara seksual (berlawanan
dengan bagaimana mereka seharusnya berperilaku menurut hukum, agama, atau
masyarakat) berasal dari survei luas yang dilakukan oleh Alfred Kinsey dan sejawatnya 20
tahun lebih awal. Informasi dari ribuan individu yang diwawancaiai, kemudian dianalisis
dan menjadi dasar untuk menyusun buku Sexual Behavior in the Human Male dan Sexual
Behavior in the Human Female.
Survei berguna bagi politikus dan pengiklan, serta bermanfaat juga bagi ahli psikologi,
terutama jika hendak meneliti topik-topik seperti efek perumahan pada kemampuan
membaca atau berbagai cara mendisiplinkan anak pada berbagai kelompok etnis.
Walaupun tidak membentuk sebabakibat dalam perilaku, survei dapat menelurkan
gagasan untuk penelitian lebih jauh dan lebih rinci.

(4) Metode Korelasional


Metode korelasional digunakan untuk meneliti hubungan di antara berbagai variabel.
Dengan kata lain, metode korelasional bermaksud mendeteksi sejauh mana variasi-variasi
pada suatu faktor berhubungan dengan variasi-variasi atau lebih faktor lain berdasarkan
koefisien korelasinya (Rakhmat, 1984:43; Usman & Akbar, 1996:5). Contoh:
a. Studi yang mempelajari saling hubungan antara skor kepemimpinan dengan
prestasi kerja;
b. Studi secara analisis faktor mengenai tes kepribadian;
c. Studi untuk meramalkan keberhasilan kepemimpinan bexdasarkan tes bakat.

Metode korelasional digunakan untuk:


a. mengukur hubungan di antara berbagai variabel;
b. meramalkan variabel tak bebas dari pengetahuan kita tentang variabel bebas; dan
c. meratakan jalan untuk membuat rancangan penelitian eksperimental.
Melalui metode korelasional, kita bisa memastikan, berapa besar yang disebabkan
oleh satu variabel dalam hubungannya dengan variasi yang disebabkan oleh variabel lain.
Kita menggunakan pengukuran korelasi untuk menentukan besarnya arah hubungan.
Dalam metode korelasi ini, kita mengumpulkan dua atau lebih perangkat nilai dari sebuah
sampel peserta, kemudian kita menghitung hubungan antar perangkat tersebut. Sebagai
contoh, jika kita menguji hipotesis tentang hubungan antara kreativitas dan kemampuan
mental pada sampel mahasiswa, nilai dari dua variabel tersebut dikumpulkan, lalu dihitung
korelasi koefisien antara dua perangkat tersebut.
Penelitian korelasi tidak memerlukan sampel yang besar (Sevilla, et al., 1988).
Diasumsikan jika ada pertalian, hal itu, merupakan bukti bahwa sampel yang digunakan
mewakili populasi yang kita selidiki dan instrumen yang digunakan dapat dipercaya dan
sahih. Karena itu, yang sangat penting dalam memilih dan menggambarkan instrumen,
adalah memperoleh hubungan yang signifikan jika instrumen yang kita gunakan reliabel
dan valid dalam mengukur
, variabel-variabel yang diselidiki. Apabila kita mengatakan bahwa ada korela5i antara
tinggi dan berat badan seseorang, yang kita maksudkan sebenarnya adalah bahwa
keduanya ada hubungannya: korelasi positif berarti ada hubungan positif (makin tinggi s
orang, makin berat tubuhnya), sementara korelasi negatif berarti hubungan negatif
(misalnya, makin mahal harga karcis bioskop, makin sedikit penontonnya). Jelasnya,
metode korelasi bertujuan mengungkapkan peristiwa-peristiwa yang berhubungan satu
sama lain secara positif atau negatif, meskipun tidak ada hubungan sebab-akibat di antara
peristiwa-peristiwa tersebut. Jika ditemukan korelasi, itu tidak berarti bahwa satu peristiwa
pasti menyebabkan peristiwa lainnya..
Contoh berikut merupakan fakta sangat penting. Misalnya, jika kita tertarik pada
kemungkinan adanya hubungan antara kanker paru-paru dan merokok, kita bisa
mengumpulkan data dari suatu sampel pasien yang terkena kanker paru-paru dan dari
sampel lain yang tidak terkena kanker; lalu merekam apakah mereka merokok atau tidak.
Datanya mungkin akan tampak seperti ini:

Perokok Bukan Perokok Jumlah

Kanker 2.300 780 3.080


Tanpa kanker 4.650 6.520 11.170
6.950 7.300 14.250

Tabel 1.1
Dari 14.250 subjek, 6.950 adalah perokok dan 7.300 bukan perokok. Dari perokok,
2.300 terjangkit kanker paru-paru, 4.650 tidak. Dari bukan perokok, 780 terjangkit kanker
paru-paru, 6.520 tidak. Ini tampak seperti korelasi, namun tentu saja tidak
mengungkapkan secara langsung penyebab kanker paru-paru. Sebab, baik merokok
maupun kanker, dapat disebabkan oleh sesuatu yang lain, seperti kecemasan atau stres.
Korelasi yang tinggi tidak mesti menjadi indikasi bahwa satu hal menyebabkan hal
lain; tetapi, korelasi seperti itu, memungkinkan kita meramalkan bahwa kemungkinan
berlangsungnya satu hal dapat menyebabkan berlangsungnya hal lain (Sylva & Lunt,
1986). Korelasi menentukan kemungkinan adanya hubungan. Kajian korelasional terhadap
merokok dan kanker menuntun pada kajian eksperimental; dan kini, mata rantai antara
merokok dan kanker paru-paru telah dikonfirmasikan secara eksperimental.
Demikianlah beberapa metode psikologi, di antara sekian banyak metode, yang perlu
dikemukakan dalam tulisan ini; tentu dengan satu catatan, adalah metode-metode tersebut
dapat digunakan dengan segala segi kelebihan dan kekurangannya, kekuatan dan
kelemahannya, dan ini relatif ditentukan oleh tujuan, masalah yang menjadi sasaran
penyelidikan, serta subjek yang menggunakan metode dan teknik penyelidikan tertentu.
Dalam konteks ilmu-ilmu sosial dan humaniora (termasuk psikologi), soal metodik
masih menuntut banyak penyempumaan seperti halnya dengan sistematisasi fenomena-
fenomena sosial dan budaya. Oleh karena itu, "objeklah yang menentukan metode, bukan
sebaliknya; di mana metode yang telah ada menentukan objek manakah ditetapkan
sebagai sasaran upaya ilmiah" (Hassan & Koentjaraningrat, 1991:8).
Psikologi yang telah menentukan objek formalnya ternyata telah mempunyai metode
sendiri; dengan demikian syarat kedua untuk bisa dikatakan sebagai ilmu, telah terpenuhi.

3) Sistematika Psikologi
Psikologi sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari perilaku dan proses mental
merupakan ilmu atau disiplin yang akhir-akhir ini semakin meluas cakupannya. Bidang-
bidang perhatian yang menekuni segi tertentu kehidupan manusia semakin bertambah
dengan semakin kompleksnya kehidupan manusia itu. Pada literatur yang baru, misalnya,
sudah ada istilah psikologi evolusioner yang mempelajari bagaimana evolusi membentuk
proses mental dan perilaku; di samping istilah psikologi rekayasa (kerap disebut
perekayasa faktor manusia) yang mencoba memperbaiki hubungan antara orang dan
mesin.
Sebelum ini, kita telah mencoba memahami sifat psikologi dengan melihat objek dan
metode psikologi. Kita bisa memahami lebih jauh apa yang dicari oleh psikologi dengan
melihat apa yang "dilakukan" oleh ahli psikologi yang berbeda. Hasil berpikir para ahli
mengenai perilaku dan proses mental itu telah banyak sekali terkumpul, dalam buku-buku
tebal dan tipis. Setelah disusun secara sistematis, ia dinamakan sistematika psikologi.
Sekarang ini, psikologi sebagai ilmu yang mandiri, boleh dikatakan telah memiliki
sistematika yang teliti, baik sistematika dalam pencabangannya maupun sistematika
dalam pembidangannya.
Sekadar gambaran mengenai pembagian dan sistematika dalam psikologi, berikut ini
adalah ikhtisar sederhana mengenai beberapa cabang psikologi.

a. Psikologi Teoretis
Psikologi teoretis berarti psikologi yang berdasar pada teori. Lalu, apa itu teori? Suatu
teori pada hakikatnya merupakan hubungan antara dua fakta atau lebih, atau pengaturan
fakta menurut cara-cara tertentu. Fakta tersebut merupakan sesuatu yang dapat diamati
clan pada umumnya dapat diuji secara empiris (Soekanto, 1987: 22).
Mengapa orang berteori? Apakah tidak ada cara lain, kecuali berteori? Ini semua
merupakan pertanyaan-pertanyaan yang pantas untuk diajukan, terutama bila seseorang
yang pada mulanya tidak senang dengan teori ingin mendapatkan secepat mungkin
"fakta-fakta". Akan tetapi, yang benar ialah bahwa kita berteori secara sadar atau tak
sadar, dan kita menginterpretasikan fakta-fakta dalam kerangka pemikiran yang memberi
arti pada fakta-fakta itu.
Sedikitnya, ada empat fungsi teori (Dahar, 1989:2-4), yakni menyistematikkan
penemuan-penemuan; melahirkan hipotesis-hipotesis, membuat prediksi, dan memberikan
penjelasan.
Suatu teori dapat digunakan untuk menyistematikkan penemuan-penemuan penelitian
dan memberi arti pada peristiwa-peristiwa yang kelihatannya tidak saling berhubungan.
Begitu banyaknya jumlah penelitian yang dilakukan dalam psikologi dan pendidikan, kerap
kali hasil-hasil dari berbagai eksperimen dan penelitian ini tampaknya berlawanan.
Hal serupa juga dijumpai pada pengamatan-pengamatan sambil lalu. Kompleksnya
perilaku yang diperlihatkan oleh seseorang dalam satu hari, apalagi perilaku yang
diperlihatkan oleh satu kelas, adalah mengejutkan. Dilihat secara sepintas, kekompleksan
ini tidak berarti. Suatu teori dapat menunjukkan bagaimana mengurangi kekompleksan ini
sehingga dapat dianalisis, dan juga memperlihatkan bagaimana hasil-hasil dari berbagai
eksperimen itu cocok satu dengan yang lain.
Selain itu, teori merupakan suatu generator yang tidak ternilai dari berbagai hipotesis
penelitian. Salah satu kegunaan teori untuk menyampaikan para ilmuwan pada usaha
menemukan jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan. Suatu teori yang baik dapat
menghemat usaha-usaha yang tidak berguna dengan menunjukkan letak segi keuntungan
bila dilakukan penelitian. Nilai heuristika yang dimiliki teori ini sangat penting untuk
penelitian pada berbagai tingkatan.
Kemudian, teori dapat juga digunakan untuk melakukan prediksi. Fungsi ini sebetulnya
lebih mirip dengan fungsi kedua, sebagaimana dikemukakan di atas, namun fungsi ketiga
ini memiliki implikasi yang lebih kuat. Suatu teori bukan hanya membawa ilmuwan pada
pengajuan berbagai pertanyaan yang mungkin akan berguna, melainkan juga
memperlihatkan apa yang bisa diharapkannya untuk ditemukan, bila ia telah melakukan
eksperimen atau pengamatan.
-
Selanjutnya, suatu teori dapat juga digunakan untuk menjelaskan. Jadi, fungsi teori
dalam hal ini ialah untuk menjawab pertanyaan "mengapa". Mengapa terjadi peristiwa-
peristiwa tertentu, dan mengapa manipulasi suatu variabel menghasilkan perubahan pada
variabel yang lain. Banyak kejadian alam ditentukan atau disebabkan oleh faktor-faktor
yang tidak diketahui atau hanya diketahui tidak sempurna. Jadi, penjelasan kejadian-
kejadian semacam itu harus dilakukan secara teoretis.
Teori merupakan alat yang terpenting dari satu ilmu pengetahuan. Tanpa teori, hanya
ada pengetahuan tentang serangkaian fakta saja, tetapi tidak akan ada ilmu pengetahuan,
kecuali (1) menyimpulkan generalisasi dari fakta-fakta hasil pengamatan, teori itu juga;
(2).memberi kerangka orientasi untuk analisis dan klasifikasi dari fakta-fakta yang
dikumpulkan dalam penelitian; (3) memberi ramalan terhadap gejala-gejala baru yang
akan terjadi; (4) mengisi lowongan-lowongan dalam pengetahuan kita tentang gejala-
gejala yang telah atau sedang terjadi (Hassan & Koentjaraningrat, 1991:10).
Jika di muka disebutkan bahwa psikologi teoretis merupakan psikologi yang berdasar
pada teori, yang dimaksud adalah psikologi yang bertujuan menemukan dan
mengembangkan teori-teori tentang tingkah laku individu.
Ada dua kelompok yang termasuk dalam psikologi teoretis ini, yaitu psikologi umum
dan psikologi khusus.
(1) Psikologi Umum
Psikologi umum ialah psikologi yang mempelajari, menguraikan, dan menyelidiki
berbagai kegiatan atau aktivitas psikis manusia pada umumnya, antara lain
pengamatan, inteligensi, perasaan, emosi, kehendak, dan motif-motif. Psikologi
umum mencari dalil-dalil yang bersifat umum dari kegiatan-kegiatan psikos, dan
melahirkan teori-teori psikologi.
(2) Psikologi Khusus
Psikologi khusus ialah psikologi yang mempelajari tingkah laku individu dalam situasi-
situasi khusus. Psikologi khusus ini meliputi berikut ini.
(a) Psikologi perkembangan
Psikologi perkembangan ialah psikologi yang membicarakan perkembangan psikis
manusia dari masa bayi sampai masa tua. Objek psikologi perkembangan adalah
perkembangan manusia sebagai person; artinya, masyarakat hanya merupakan
tempat berkembangnya person tersebut. Psikologi perkembangan ini mencakup:
psikologi anak (termasuk masa bayi), psikologi puber dan adolensi (psikologi
pemuda), psikologi orang dewasa, dan psikologi orang tua.
(b) Psikologi sosial
Psikologi sosial adalah subdisiplin dari psikologi yang mencari pengertian tentang
hakikat dan sebab-sebab dari perilaku dan pikiran-pikiran individu dalam situasi
sosial.
(c) Psikologi pendidikan
Psikologi pendidikan adalah subdisiplin psikologi yang mempelajari tingkah laku
individu dalam situasi pendidikan, yang meliputi pula pengertian tentang proses
belajar dan mengajar.
(d) Psikologi kepribadian dan tipologi
Psikologi kepribadian dan tipologi adalah psikologi yang menguraikan tentang
struktur kepribadian manusia sebagai suatu keseluruhan, dan jenis-jenis atau tipe-
tipe kepribadian.
(e) Psikopatologi
Psikopatologi ialah psikologi yang khusus mempelajari kegiatan atau tingkah laku
individu yang abnormal (tidak normal).
(f) Psikologi diferensial dan psikodiagnostik
Psikologi ini menguraikan perbedaan-perbedaan antarindividu dalam taraf
inteligensi, kecakapan, ciri-ciri kepribadian lainnya, dan tentang cara-cara guna
menentukan perbedaan-perbedaan tersebut.
(g) Psikologi kriminal
Psikologi kriminal ialah psikologi yang khusus berhubungan dengan tindak
kejahatan atau kriminalitas.
(h) Prapsikologi
Parapsikologi adalah subdisiplin psikologi yang mempelajari fenomena supernormal
dengan alat-alat eksperimen atau alat-alat sistematis lain.
(i) Psikologi komparatif
Psikologi komparatif adalah psikologi yang mempelajari tingkah laku manusia yang
dibandingkan dengan tingkah laku hewan, atau sebaliknya.
(j) Psikologi penyesuaian
Psikologi tentang penyesuaian adalah suatu cabang psikologi yang
menggambarkan sejumlah cabang ilmu lainnya, termasuk psikologi perkembangan,
klinis, kepribadian, sosial, dan eksperimental.

b. Psikologi Praktis
Psikologi praktis -sering disebut psikologi terapan- yaitu psikologi yang mempelajari
tingkah laku individu dalam bidang kehidupan tertentu. Tujuan psikologi praktis adalah
menemukan prinsip-prinsip psikologi untuk keperluan pemecahan masalah-masalah
kehidupan atau tingkah laku individu.
Sub-subdisiplin atau cabang-cabang psikologi praktis ini bermacam-macam. Berikut ini
beberapa di antaranya.
(1) Psikologi perusahaan
Pada pokoknya, psikologi perusahaan, antara lain, berusaha membantu dalam hal-hal:
menyeleksi buruh/pegawai dalam perusahaan; menemukan cara-cara pendidikan terbaik
untuk tenaga terlatih; memperbaiki lingkungan kerja buruh/pegawai; mempertinggi
produksi perusahaan; dan, menyelesaikan pelbagai kesulitan yang dihadapi
buruh/pegawai.
(2) Psikologi klinis dan bimbingan psikologi
Ini merupakan usaha para psikolog dalam menolong orang yang menderita berbagai
macam kesulitan hidup.
Sistematika, pembidangan atau cabang-cabang psikologi yang diuraikan di atas
tampak serba sederhana dan sangat terbatas. Jika kita membaca buku-buku lain atau
jurnal-jurnal mutakhir mengenai psikologi mungkin akan kita temukan suatu daftar yang
sangat panjang. Dan sesuatu dengan perkembangannya, bidang-bidang spesialisasi
psikologi kita bertambah dari waktu ke waktu.
Demikianlah, sistematika psikologi ini setidaknya dapat menjawab syarat pang ketiga
untuk bisa disebut sebagai ilmu.

4) Universalitas Psikologi
Kata "universal" (umum) menunjuk pada pemberlakuan untuk semua arang atau
melingkupi seluruh dunia.
Ilmu pengetahuan mengenal apa yang disebut ilmiah universal, yaitu dalil pengertian,
ataupun aksioma yang berlaku umum. Sebagai ilmu, psikologi juga harus mempunyai
sifat-sifat ini dan ini berarti bahwa psikologi harus mempelajari manusia dalam pengertian-
pengertian yang berlaku umum di samping mempelajarinya sebagai totalitas kepribadian
yang unik. Sifat umum yang terdapat pada setiap manusia, misalnya, adalah manusia
dalam berpikir harus menggunakan simbol dan tiap-tiap tingkah laku manusia selalu
didorong oleh kebutuhan.
Dalam perkembangan ilmu pengetahuan, dapat kita saksikan terjadinya suatu proses
universalisasi yaitu semakin banyak realitas terjangkau oleh metode ilmiah. Proses
universalisasi ini akhirnya berujung pada situasi yang serba biasa bagi kita sekarang, yaitu
keyakinan bahwa segala sesuatu bisa menjadi objek penelitian ilmiah.
Suatu tuntutan yang sepintas lalu tampaknya sedikit aneh adalah universalitas ilmu
pengetahuan. Apakah universalitas bagi ilmu alam, umpamanya, dapat berlaku juga bagi
ilmu pengetahuan psikologi yang justru terarah pada yang unik? Jawabannya harus
bernuansa. Dengan caranya sendiri, psikologi pun akan mencari yang universal atau
umum. Akan tetapi, "umum" di sini tidak berarti "dapat diulangi". Di sini, "umum"
menunjukkan bahwa hal-hal yang secara "genetis" mempunyai arti umum karena
menjalankan suatu pengaruh umum atas tingkah laku atau proses mental.
Yang dikatakan tentang universalitas tersebut dapat dikatakan juga tentang tuntutan
objektivitas. Setiap ilmu seharusnya objektif, artinya terpimpin oleh objek dan tidak
didistorsi oleh prasangka-prasangka subjektif.
Agar objektivitas terjamin sebaik mungkin, ilmu pengetahuan harus memenuhi juga
tuntutan intersubjektivitas. Ilmu pengetahuan seperti psikologi harus dapat diverifikasi oleh
semua penelitian ilmiah yang bersangkutan biarpun verifikasi akan bersifat lain sejauh
tipenya akan berbeda. Karena itu, psikologi harus dapat dikomunikasi. Bisa saja psikologi
menggunakan suatu bahasa teknis yang hanya dimengerti para ahli, namun mestinya
bahasa itu pada prinsipnya terbuka bagi siapa saja yang mempunyai bakat dan ingin
berusaha menguasainya.
Dari beberapa definisi psikologi yang diberikan oleh para ahli, seperti yang telah kita
bicarakan, pada prinsipnya sudah diakui bahwa psikologi mempelajari tingkah laku dan
proses mental manusia. Jadi, pada prinsipnya para ahli sudah sepakat, walaupun
beberapa masih terdapat perbedaan karena adanya sudut pandang yang berbeda pula;
keadaan demikian adalah lumrah bagi suatu ilmu yang relatif muda seperti psikologi
sebagai ilmu yang berdiri sendiri, terlepas ikatannya dengan ilmu-ilmu lain, seperti filsafat,
ilmu faal, ilmu kedokteran, dan sebagainya.
Universalitas psikologi ini, akhirnya, mencirikan sekaligus memenuhi syarat keempat
bahwa psikologi sudah layak untuk disebut sebagai ilmu.
Masalah nilai universal dari konsep-konsep psikologi, menurut pengamatan
Koentjaraningrat (1980:31-32), juga mendapat perhatian para ahli antropologi. Dengan
pengalaman mereka dalam hal mempelajari bangsabangsa di luar Eropa, memperdalam
ilmu psikologi, mereka mulai meragukan nilai universal dari beberapa konsep dan teori
psikologi. Mereka meragukan apakah konsep-konsep clan teori-teori ini juga berlaku untuk
individuindividu yang hidup di luar lingkungan masyarakat. Eropa-Amerika. Konsep
"kegoncangan batin masa remaja", misalnya, yang dianggap oleh para ahli psikologi
sebagai gejala penting dalam pertumbuhan remaja dalam masyarakat kota di negara-
negara Barat, menurut beberapa ahli antropologi, tidak dialami oleh para remaja dalam
masyarakat di luar Eropa, seperti masyarakat Samoa di Polinesia. Dengan demikian,
konsep psikologikal tersebut hanya berlaku untuk masyarakat Ero-Amerika clan tidak
mempunyai nilai universal. Tidak mengherankan apabila ilmu psikologi mempunyai
beberapa konsep dan teori
seperti itu, karena ilmu tersebut memang tumbuh di dalam masyarakat Ero-Amerika.
Akan tetapi, dengan ikut campurnya para ahli antropologi dalam hal penggunaan konsep
dan teori psikologi, timbullah isu ilmiah yang baru tadi, yang sebaliknya juga
menguntungkan ilmu psikologi, karena dengan kritik para ahli antropologi itu, para ahli
psikologi dapat berusaha untuk lebih mem2ertajam konsep dan teori-teori yang mereka
gunakan.

E. Hubungan Psikologi dengan Ilnau-Ilmu Lain


Psikologi beserta sub-subilmunya, pada dasarnya mempunyai hubungan yang sangat
erat dengan ilmu-ilmu lain. Hubungan itu biasanya bersifat timbal-balik. Psikologi
memerlukan bantuan ilmu-ilmu lain, dan sebaliknya, ilmu-ilmu lain juga memerlukan
bantuan psikologi.

1. Hubungan Psikologi dengan Sosiologi


Mead dan mazhabnya mengisyaratkan adanya suatu kemungkinan yang menarik
bagi apa yang dinamakan "psikologi sosiologis". Artinya, suatu psikologi yang
memperoleh perspektif-perspektif dasarnya dari suatu pemahaman sosiologis tentang
kondisi manusia (Berger & Luckmann, 1966).
Menurut S. Takdir Alisjahbana, jasa yang paling besar dari psikologi sosial modem,
seperti yang dikemukakan oleh EH. Allport, Muzafer Sherif, Salomon E. Asch, Peter R.
Hofstatter, dan lain-lain, ialah karena mengembalikan keutuhan perpecahan antara
psikologi dan sosiologi (Alisjahbana, 1986: 99).
Tampaknya, memang begitu dekat hubungan antara sosiologi dan psikologi sosial,
sehingga ada sementara orang yang mengatakan bahwa psikologi sosial merupakan
cabang dari sosiologi, seperti juga halnya bahwa psikologi sosial merupakan cabang dari
psikologi. Oleh karena itu, sekadar untuk menjelaskan kedudukan psikologi, psikologi
sosial, dan sosiologi, dapatlah kita gambarkan sebagai berikut:

Psikologi Psikologi Sosio-


Sosial logi
Gambar 1
Kedudukan psikologi, psikologi sosial, dan sosiologi

Jika psikologi dan sosiologi digambarkan sebagai dua buah lingkaran yang saling
berpotongan, psikologi sosial adalah luasan tempat tumpang tindih kedua lingkaran
tersebut.
Dalam bukunya Social Psychology, an Interdisiplinary Approach, Bonner (1953)
menyatakan bahwa ilmu lain yang berpengaruh pada psikologi sosial adalah sosiologi dan
antropologi. Sosiologi terkait dengan perilaku hubungan antarindividu, atau antara individu
dan kelompok, atau antarkelompok (interaksionisme) dalam perilaku sosial. Sebaliknya,
antropologi berpengaruh karena perilaku sosial itu selamanya terjadi dalam suprastruktur
budaya tertentu.
Pada dasamya, psikologi sosial mempunyai perbedaan dengan psikologi sebagai ilmu
induknya. Menurut Bonner, psikologi sosial mempelajari perilaku individu yang bermakna
dalam hubungan dengan lingkungan atau rangsang sosialnya. Sebaliknya, psikologi
mempelajari perilaku apa saja, terlepas dari makna sosialnya.
Perbedaan psikologi sosial dengan sosiologi adalah dalam hal fokus studinya. Jika
psikologi sosial memusatkan penelitiannya pada perilaku individu, sosiologi tidak
memperhatikan individu. Yang menjadi perhatian sasiologi adalah sistem dan struktur
sosial yang dapat berubah atau konstan tanpa bergantung pada individu-individu. Dengan
demikian; unit analisis psikologi sosial adalah individu, sedangkan unit analisis sosiologi
adalah kelompok.
Von Wiese (Susanto, 1985: 89) mengambil psikologi sosial yang telah banyak dipakai
oleh ilmu-ilmu sosial. Mengapa? Karena semua gejala sosial, menurutnya, mau tidak mau,
adalah hasil dari pengalaman jiwa (inneleben,seelischer prozess) manusia.
Psikologi merupakan bidang ilmu yang mengandung bait "sayap" subsosial maupun
sosial. Psikologi psikologis berkaitan dengan proses-proses fisik melalui proses pikiran,
perasaan, dan seterusnya. Namun, sebagian besar psikologi lainnya memang, sedikit
banyak, adalah sosial. Apa yang biasa disebut psikologi sosial nyatanya hanya merupakan
satu bagian saja dari
psikologi "sosial" yang lebih luas ini.
Psikologi sosial, seperti dikatakan Worsley dan kawan-kawan (1991), biasanya
berurusan dengan suatu kumpulan topik begitu saja, yang belum tentu berhubungan,
seperti penelitian atas kelompok-kelompok kecil atau perilaku massa. Akan tetapi, semua
psikologi non-psikologis dapat dikatakan merupakan perilaku "sosial", karena berkaitan
dengan proses-proses yang menyebabkan perilaku manusia menjadi dibakukan,
diharapkan, dan diwajibkan secara kultural; dengan kata lain, cara-cara masyarakat
mengatur pola-pola tertentu dari perilaku individu.
Lantas, apakah -baik psikologi maupun sosiologi- keduanya sama-sama berurusan
dengan cara perilaku individual dibentuk secara sosial? Jawabnya adalah "ya", namun
fokus perhatian psikologi, seperti sudah disinggung, adalah individunya, sementara
sosiolog memperhatikan kelompok atau kategori: sikap-sikap, misalnya, wanita-wanita,
orang-orang sadis, atau para pekerja tambang. Perbedaan-perbedaannya adalah bahwa
unit atau kerangka acuan bagi psikolog adalah perilaku individual, apakah "psikis"
batinnya ataukah manifestasi-manifestasi eksternalnya yang bisa diamati dalam
hubungannya dengan orang lain.
Karena itu, perilaku sosial bukan hanya mengumpulkan semua perilaku "alami",
terpisah dari banyak individu - yaitu yang disebut "aggregate . psychology" (psikologi
gabungan), tetapi merupakan suatu tingkat perilaku yang berbeda secara kualitatif, tidak
timbul dalam psikis individual di luar pengaruh dari pengalaman kemasyarakatannya,
tetapi dihasilkan dalam kelompok-kelompok sosial dan diserap ke dalam individu sebagai
hasil tekanan dari kelompok-kelompok itu.
Bagaimana jika kemudian psikolog dan sosiolog mempelajari perilaku yang sama dan
pertanyaan-pertanyaan yang sama? Menurut Worsley, hat itu boleh dibilang bukanlah
karena seseorang mempelajari kelompoknya dan orang lain mempelajari individualnya,
tetapi karena fokusnya atau "titik masuknya"nya adalah individualnya bagi psikolog,
sementara bagi sosiologi fokusnya adalah masyarakat dan budaya yang melingkupi
individu itu. Dengan demikian, kata Worsley, penelitian mereka akan selalu bertemu, dan
pada pembatasan-pembatasannya tidak menjadi soal apakah kita namakan studi psikologi
atau sosiologi. Akan tetapi pada dasarnya, psikologi berkepentingan dalam cara
bagaimana perilaku individu diorganisasikan sehingga merupakan suatu "kepribadian",
sedangkan sosiologi adalah dalam cara bagaimana individu sebagai suatu pribadi
berhubungan dengan orang-orang lainnya.
Dari uraian di atas jelas bahwa perbedaan antara psikologi dan sosiologi adalah
perbedaan dalam perspektif, seperti juga perbedaan antara seorang sejarawan yang
cenderung sosiologis dan seorang sejarawan yang "empiris" adalah perbedaan perspektif.
Soerjono Soekanto menyebutkan, di antara para sosiolog yang mendasarkan teorinya
pada psikologi adalah Gabriel Tarde (1843-1904) dari Perancis. Dia mulai dengan suatu
dugaan atau pandangan awal bahwa gejala sosial mempunyai sifat psikologis yang terdiri
atas interaksi antara jiwa-jiwa individu, dan jiwa tersebut terdiri atas kepercayaan-
kepercayaan dan keinginan-keinginan. Bentuk utama dari interaksi mental individu adalah
imitasi, oposisi, dan adaptasi atau penemuan baru. Imitasi, menurut Soekanto, sering kali
berhadapan dengan oposisi, yang menuju pada bentuk adaptasi yang baru. Dengan
demikian, mungkin terjadi perubahan sosial yang disebabkan oleh penemuan-penemuan
baru. Hal ini menimbulkan imitasi, oposisi penemuan baru, perubahan-perubahan, dan
seterusnya.
Dengan demikian, keinginan utama dari Tarde, dalam pandangan Soekanto, adalah
berusaha menjelaskan gejala-gejala sosial dalam kerangka reaksi-reaksi psikis dari orang.
Hal ini merupakan petunjuk, betapa besarnya pengaruh dari pendekatan secara
psikologis. Ajaran ini, menurut Soekanto, terutama sangat berpengaruh di Amerika Serikat,
yang banyak sosiolog mengadakan analisis terhadap individu maupun dari kelompok
terhadap kelompok. Di antara mereka adalah Albion Small (1854-1926) yang pertama-
tama membuka departemen sosiologi pada Universitas Chicago, dan menerbitkan
American Journal of Sociology yang terkenal itu (Soekanto, 1987: 32-33).

2. Hubungan Psikologi dengan Antropologi


Harus kita akui bahwa bantuan psikologi terhadap antropologi sangatlah besar,
sehingga dalam perkembangannya yang terakhir, lahir suatu sub-ilmu atau spesialisasi
dari antropologi yang disebut etnopsikologi (ethnopsychology), atau antropologi
psikologikal (psychological anthropology), atau juga studi kebudayaan dan kepribadian
(study of culture and personality), di samping spesialisasi anthropology in mental health
(Hsu, 1961; Bamouw, 1963; Clifton, 1968; Koentjaraningrat 1980; Effendi & Praia, 1993).
Sejak setengah abad lalu, di Amerika Serikat dan Inggris telah berkembang berbagai
penelitian antropologi yang dalam analisisnya menggunakan banyak konsep psikologi.
Pelbagai penelitian itu dimulai karena timbulnya perhatian terhadap tiga masalah, yaitu:
1. masalah "kepribadian bangsa";
2. masalah peranan individu dalam proses perubahan adat istiadat; dan
3. masalah nilai universal dari konsep-konsep psikologi.
Persoalan "kepribadian bangsa" muncul tatkala hubungan antar bangsa mulai kian
intensif, terutama sesudah Perang Dunia' ke-1. Sebelum itu, orang Eropa juga menaruh
perhatian terhadap masalah kepribadian bangsa-bangsa di tanah jajahan mereka.
Deskripsi tentang kepribadian suatu bangsa dalam karangan-karangan etnografi zaman
lampau itu biasanya menggunakan pelbagai konsep dan istilah yang tak cermat dan kasar.
Istilah tersebut mengenai penggunaan metode-metode ilmu sosial untuk menopang
kesimpulan umum yang bersifat subjektif tentang perbedaan jenis kepribadian
antarmasyarakat yang kompleks. Orang Belanda yang menjajah bangsa Indonesia,
misalnya, melukiskan kepribadian suku bangsa Jawa sebagai malas, tak aktif, tak
bergairah dalam tindakan (indolent), dan tidak jujur. Selain ciri-ciri kepribadian yang
negatif, tiap konsep yang dipakai dalam pelukisan seperti itu pun tidak cermat dipandang
dari sudut ilmu psikologi. Istilah "tidak jujur", misalnya, sangat tidak cermat bila dipandang
dari sudut psikologi.
Menyadari kekurangan ini, ada beberapa ahli antropologi, sekitar tahun 1920, yang
berhasrat untuk mendeskripsi kepribadian bangsa dengan lebih cermat. Selain itu, mereka
juga mempersoalkan secara ilmiah, apakah konsep "kepribadian bangsa" itu benar-benar
ada. Sebab, dalam kenyataannya, tentu ada orang Jawa yang mempunyai etos kerja
tinggi, jujur, lincah dan bergairah dalam tindakan-tindakannya; lalu timbullah pernyataan,
bilamanakah suatu ciri bangsa atau suku bangsa, dan sampai berapa jauhkah
perkecualian terhadap kepribadian umum pada individu tertentu sebagai warga bangsa
itu? Untuk mempelajari persoalan seperti itu, seorang ahli antropologi tentu perlu
mengetahui banyak tentang ilmu psikologi serta konsep dan teori-teori yang
dikembangkan di dalamnya.
Studi tentang "kepribadian bangsa" ini juga disinggung oleh Carol R. Ember dan
Melvin Ember (Ihromi, 1981). Dalam tulisannya, "Theory and Method in Cultural
Anthropology", khususnya mengenai hubungan kebudayaan dan kepribadian, disebutkan
bahwa fokus yang khusus dari studi-studi permulaan, awal tahun 1920-an, adalah tentang
pengalaman masa kanak-kanak; dan bahwa pengalaman tersebut tampaknya
mempengaruhi perilaku setelah dewasa.
Sebelum ini, tutur mereka, para ahli antropologi tidak mencatat kebiasaan-kebiasaan
mengasuh anak-anak sebagai aspek penting dari kebudayaan; tetapi kemudian di bawah
pengaruh Freud dan penulis mengenai teori pendidikan, John Dewey, para ahli antropologi
menjadi tertarik pada lingkungan kebudayaan dari bayi atau kanak-kanak, dan masa itu
dianggap sangat penting artinya bagi pembentukan kepribadian dewasa yang khas dalam
suatu masyarakat.
Pada tahun 1930-an dan 1940-an, dalam seminar di Universitas Columbia, Ralph
Linton, seorang ahli antropologi dan Abram Kardiner, seorang ahli psikologi analisis,
mengembangkan sejumlah pemikiran untuk studi kebudayaan dan kepribadian. Yang
terpenting adalah pemikiran Kardiner yang mengutarakan bahwa semua warga
masyarakat memiliki struktur kepribadian yang sama karena para warga masyarakat itu
cenderung menjalani latihan yang sama mengenai cara buang air besar/ kecil, menjalani
cara menertibkan yang sama dalam masa kanak-kanak, cara menyapih yang sama dan
sebagainya, sebagai orang dewasa, mereka cenderung mempunyai unsur-unsur
kepribadian yang sama.
Menurut Ember & Ember, selama Perang Dunia ke-2, dan tidak lama sesudahnya,
orientasi studi kebudayaan dan kepribadian itu diterapkan pada masyarakat yang
kompleks. Hampir semua penelitian yang mendalami "kepribadian bangsa" menyimpulkan
bahwa ciri-ciri kepribadian yang tampak berbeda, pada bangsa-bangsa di dunia ini,
bersumber pada cara pengasuhan masa kanak-kanak. Misalnya, dalam tiga penelitian
dikemukakan bahwa orang Jepang yang dewasa menjadi bersifat memaksakan
kehendaknya karena ketatnya latihan mengenai cara-cara buang air, yang mereka terima
pada masa kanak-kanaknya. Demikian pula emosi manic depresif yang dianggap biasa di
antara orang-orang Rusia, menurut Gorer dan Rickman, bersumber pada cara
pemeliharaan bayi, yaitu "dibedong" sejak saat kelahirannya. "Membedong" adalah meliliti
bayi dengan carikan-carikan kain sedemikian rupa, sehingga tangan dan kaki bayi tidak
dapat bergerak bebas; dan ini, katanya, menyebabkan kemarahan dan frustrasi pada si
bayi, yang kemudian hari, setelah dewasa, diekspresikan dalam manic depresif.
Sayang, kata Ember & Ember, bahwa para peneliti tentang sifat keras orang Jepang
tersebut tidak dapat melaksanakan penelitian lapangan lebih lanjut karena meletusnya
Perang Dunia ke-2. Ahli Antropologi yang mempelajari kepribadian orang Rusia, karena
perang, terpaksa juga memakai metode penelitian yang langsung. Kemudian, setelah para
peneliti sudah dapat lagi mengumpulkan data dari tangan pertama dan mencari sampel
yang lebih baik, ditemukan bahwa kesimpulan-kesimpulan penelitian di atas, tidak selalu
dapat diandalkan. Contohnya, ternyata tidak benar apabila orang Jepang menjalani latihan
yang ketat sekali mengenai cara-cara buang air. Pendek kata, penelitian yang mula-mula
tentang kepribadian bangsa adalah percobaan yang masih "kasar".
Dalam perkembangannya kemudian, fokus pendekatan psikologis pada
keanekaragaman kebudayaan, berubah. Perhatian pada teori-teori Freud dan minat
terhadap hubungan antara pengasuhan semasa anak-anak dan kepribadian setelah
dewasa, tetap dipertahankan, namun beberapa orang ahli antropologi mulai meneliti
faktor-faktor penentu apa saja yang mungkin menjadi penyebab dari kebiasaan
pengasuhan anak-anak yang beraneka ragam itu.
Di samping penjajagan faktor-faktor determinan dari pola pengasuhan anak yang
beraneka ragam dalam melatih anak tersebut, studi akhir-akhir ini mengemukakan bahwa
sifat kepribadian dan prosesnya mungkin menjadi penyebab hubungan tertentu antara
beberapa pola kebudayaan. Cara berpikirnya adalah bahwa kebudayaan tertentu
menghasilkan karakteristik psikologi tertentu, yang pada gilirannya menimbulkan ciri
budaya lainnya.
Kesimpulan, yang diberikan Ember & Ember mengenai pendekatan psikologis dalam
antropologi budaya adalah dengan menghubungkan variasi-variasi dalam pola-pola
budaya dengan masa pengasuhan anak, kepribadian, kebiasaan, dan kepercayaan yang
mungkin menjadi konsekuensi dari faktor psikologis dan prosesnya.
Hubungan psikologi dengan antropologi, seperti telah disebutkan di muka, juga dalam
hal munculnya cabang baru antropologi, yaitu anthropology in mental health.
Bidang penelitian dan pembahasan anthropology in mental health ini lebih difokuskan
pada emosi-emosi yang tertekan. Di antara pelbagai penyakit jiwa yang diobati oleh para
ahli penyakit jiwa (psikiater), ternyata ada yang tidak disebabkan oleh kelainan-kelainan
biologis atau kerusakan dalam organisme, melainkan karena jiwa dan emosi yang
tertekan. Dan, keadaan jiwa yang tertekan ini lebih disebabkan, oleh aspek-aspek sosial
budaya. Aspek sosial budaya yang melatarbelakangi inilah yang merupakan kajian dari
anthropology in mental health.

3. Hubungan Psikologi dengan Ilmu Politik


Ilmu pengetahuan lain yang erat hubungannya dengan psikologi ialah ilmu politik.
Kegunaan psikologi, khususnya psikologi sosial dalam analisis politik, jelas dapat kita
ketahui apabila kita sadar bahwa analisis sosial-politik secara makro diisi dan diperkuat
analisis yang bersifat mikro. Psikologi sosial mengamati kegiatan manusia dari segi
ekstern (lingkungan sosial, fisik; peristiwa-peristiwa, gerakan-gerakan massa) maupun dari
segi intern (kesehatan fisik perseorangan, semangat, emosi).
Psikologi merupakan ilmu yang mempunyai peran penting dalam bidang politik,
terutama yang dinamakan "massa psikologi".
Justru karena prinsip-prinsip politik lebih luas daripada prinsip-prinsip hukum dan
meliputi banyak hal yang berada di luar hukum dan masuk dalam yang lazim dinamakan
"kebijaksanaan", bagi para politisi, sangat penting apabila mereka dapat menyelami
gerakan jiwa dari rakyat pada umumnya, dan dari golongan tertentu pada khususnya,
bahkan juga dari oknum tertentu.
Kerap terdengar suara dalam masyarakat bahwa tindakan tertentu pemerintah
dinyatakan "psikologis" kurang baik. Biasanya, suara seperti ini tidak dijelaskan lebih
lanjut, dan orang-orang dianggap dapat menangkap apa yang dimaksudkan.
Selain memberi pelbagai pandangan baru dalam penelitian mengenai kepemimpinan,
psikologi sosial dapat pula menerangkan sikap dan reaksi kelompok terhadap keadaan
yang dianggapnya baru, asing, ataupun berlawanan dengan konsensus masyarakat
mengenai gejala sosial tertentu.
Psikologi sosial juga bisa menjelaskan bagaimana sikap (attitude) dan harapan
(expectation) masyarakat dapat melahirkan tindakan serta tingkah laku yang berpegang
teguh pada tuntutan sosial (conformity).
Salah satu konsep psikologi sosial yang digunakan untuk menjelaskan perilaku untuk
memilih pada pemilihan umum adalah berupa identifikasi partai. Konsep ini merujuk pada
persepsi pemilih atas partai-partai yang ada atau keterikatan emosional pemilih terhadap
partai tertentu.
Untuk memahami perilaku pemilih, bisa digunakan beberapa pendekatan. Namun
selama ini, penjelasan teoretis tentang voting behavior didasarkan pada dua model atau
pendekatan, yaitu pendekatan sosiologi dan pendekatan psikologi (Asfar, 1996).
Dalam hal pendekatan psikologis, seperti namanya, pendekatan ini menggunakan dan
mengembangkan konsep psikologi - terutama konsep sikap dan sosialisasi - untuk
menjelaskan perilaku pemilih. Menurut pendekatan ini, para pemilih di AS menentukan
pilihan karena pengaruh kekuatan psikologis yang berkembang dalam dirinya sebagai
produk dari proses sosialisasi. Mereka menjelaskan bahwa sikap seseorang - sebagai
refleksi dari kepribadian seseorang merupakan variabel yang menentukan dalam
mempengaruhi perilaku pemilih.

4. Hubungan Psikologi dengan Ilmu Komunikasi


Banyak ilmuwan dari pelbagai disiplin memberikan sumbangan kepada ilmu
komunikasi, antara lain Harold D. Lasswell (ilmu politik), Max Weber, Daniel Larner, dan
Everett M. Rogers (sosiologi), Carl I. Hovland dan Paul Lazarfeld (psikologi), Wilbur
Schramm (bahasa), serta Shannon dan Weaver (matematika dan teknik). Tidak
mengherankan bila banyak disiplin telah terlibat dalam studi komunikasi, baik secara
langsung maupun tidak langsung. Hal ini menurut Fisher (1986: 17) bermakna bahwa
komunikasi memang mencakup semuanya, dan bersifat sangat eklektif (menggabungkan
berbagai bidang).
Sifat eklektif ilmu komunikasi dikatakan oleh Schramm (1980) sebagai "Jalan simpang
paling ramai dengan segala disiplin yang melintasinya". Schramm mengumpamakan ilmu
komunikasi sebagai suatu oasis, yang merupakan persimpangan jalan, tempat
bertemunya berbagai ilmu (musafir) yang tengah dalam perjalanan menuju tujuan ilmunya
masing-masing. Meskipun musafir itu ada yang hanya singgah sejenak, sumber daya dan
ilmu yang dikembangkannya ketika berhenti di sana, membantu pertumbuhan ilmu/disiplin
ilmu si musafir selanjutnya dan sekaligus memperkaya oasis tersebut.
Apabila kita cermati, eklektisme komunikasi sebagai suatu bidang studi, tampak pada
konsep-konsep komunikasi yang berkembang selama ini, yang berhasil dirangkum oleh
Fisher (1984) dalam empat kelompok yang disebutnya perspektif (semacam paradigma,
teori, atau model). Keempat perspektif itu ialah: (1) perspektif mekanistis, (2) perspektif
psikologis, (3) perspektif interaksional, dan (4) perspektif pragmatis.
Pengaruh konsep ilmu fisika sangat kelihatan pada perspektif mekanistis, yang
merupakan perspektif paling awal dan paling luas penganutnya. Lalu, pengaruh psikologi
paling jelas pada perspektif psikologis yang merupakan pengembangan dari perspektif
mekanistis dengan menerapkan teori'S-R (Stimuli-Respons). Kedua perspektif ini
berkembang dan telah melahirkan banyak kajian.
Seperti halnya psikologi, ilmu komunikasi yang telah tumbuh sebagai ilmu yang berdiri
sendiri kemudian melakukan "perkawinan" dengan ilmu-ilmu lainnya yang pada gilirannya
melahirkan pelbagai subdisiplin seperti: komunikasi politik (dengan ilmu politik), sosiologi
komunikasi massa (dengan sosiologi), dan psikologi komunikasi (dengan psikologi).
Dengan demikian, psikologi komunikasi pun didefinisikan sebagai "Ilmu yang berusaha
menguraikan, meramalkan, dan mengendalikan peristiwa mental dan behavioral dalam
komunikasi" (Rakhmat, 1994: 9).
Komunikasi, menurut Rakhmat, adalah peristiwa sosial - peristiwa yang terjadi ketika
manusia berinteraksi dengan manusia lain. Mencoba menganalisis peristiwa sosial secara
psikologis, membawa kita pada psikologi sosial. Memang, bila ditanyakan letak psikologi
komunikasi, kita cenderung meletakkannya sebagai bagian dari psikologi sosial. Karena
itu, menurut Jalaluddin Rakhmat, pendekatan psikologi sosial juga merupakan
pendekatan psikologi komunikasi.

5. Hubungan Psikologi dengan Biologi


Sejauh mana hubungan psikologi dengan biologi? Biologi mempelajari kehidupan
jasmaniah manusia atau hewan, yang bila dilihat dari objek materialnya, terdapat bidang
yang sama dengan psikologi; hanya saja objek formalnya berbeda. Objek formal biologi
adalah kehidupan jasmaniah (fisik), sedangkan objek formal psikologi adalah kegiatan
atau tingkah laku manusia.
Menurut Bonner (dalam Sarwono, 1997:17), perbedaan psikologi dan biologi adalah
sebagai berikut. Psikologi merupakan ilmu yang subjektif, sedangkan biologi adalah ilmu
yang objektif. Psikologi disebut ilmu subjektif karena mempelajari pengindraan (sensation)
clan persepsi manusia sehingga manusia dianggap sebagai subjek atau pelaku, bukan
objek. Sebaliknya, biologi mempelajari manusia sebagai jasad atau objek. Jadi, perbedaan
selanjutnya antara psikologi clan biologi adalah psikologi mempelajari nilai-nilai yang
berkembang dari persepsi subjek, sementara biologi mempelajari fakta yang diperoleh dari
penelitian terhadap jasad manusia. Yang terakhir adalah psikologi mempelajari perilaku
secara "molar" (perilaku penyesuaian diri secara menyeluruh), sementara biologi
(termasuk ilmu faal) mempelajari perilaku manusia secara "molekular", yaitu mempelajari
molekul-molekul (bagian-bagian) dari perilaku berupa gerakan, refleks, proses ketubuhan,
dan sebagainya.

6. Hubungan Psikologi dengan Ilmu Alam


Pada permulaan abad ke-19, psikologi dalam penelitiannya banyak terpengaruh oleh
ilmu alam. Psikologi disusun berdasarkan hasil eksperimen, sehingga lahirlah, antara lain,
Gustav Fechner, Johannes Muller, Watson, dan lain-lain (Effendi & Praja, 1993: 8-9).
Namun kemudian, psikologi menyadari bahwa objek penyelidikannya adalah manusia dan
tingkah lakunya yang hidup dan selalu berkembang; sedangkan objek ilmu alam adalah
benda mati. Oleh sebab itu, metode ilmu alam yang dicoba diharapkan dalam psikologi,
dianggap kurang tepat. Karena itu, psikologi mencari metode lain yang sesuai dengan sifat
keilmuannya sendiri, yaitu antara lain metode "fenomenologi", suatu metode penelitian
yang menitikberatkan gejala hidup kejiwaan.
Pada dasarnya, psikologi, secara prinsipil dan secara metodik, sangat berbeda
dengan ilmu pengetahuan alam. Sebabnya, antara lain, pada ilmu pengetahuan alam,
orang meneliti objeknya secara murni ilmiah, dengan menggunakan hukum-hukum dan
gejala-gejala penampakan yang bisa diamati dengan cermat.
Pada peristiwa-peristiwa ilmu alam, terdapat unsur-unsur kemantapan, konstansi dan
konsistensi; yaitu semua gejalanya bisa berlangsung secara berulang-ulang dan bisa tetap
sama. Dengan ciri-ciri inilah, orang bisa mengamati dan memperhitungkan dengan cermat,
dan membuat hukumhukum alam. Lebih-lebih dengan bantuan pengertian logis serta
perhitungan ilmu pasti, orang mencoba memahami sifat dan hakikat objek penelitiannya.
Sebaliknya, psikologi berusaha mempelajari diri manusia, tidak sebagai "objek" mumi,
tetapi dalam bentuk kemanusiaannya; mempelajari manusia sebagai subjek yang aktif
clan mempunyai sifat-sifat tertentu subjek yang aktif itu diartikan sebagai pelaku yang
dinamis, dengan segala macam aktivitas dan pengalamannya. Dengan demikian, untuk
mampu memahami semua kegiatan manusia itu, orang berusaha dengan melihat
"partisipasi sosial"-nya, lalu berusaha menjadikan pengalaman orang lain sebagai
pengalaman dan pemiliknya sendiri.

7. Hubungan Psikologi dengan Filsafat


Filsafat adalah hasil akal manusia yang mencari dan memikirkan suatu kebenaran
dengan sedalam-dalamnya.
Dalam penyelidikannya, filsafat memang berangkat dari apa yang dialami manusia,
karena tak ada pengetahuan jika tidak bersentuhan lebih dahulu dengan indra, sedangkan
ilmu yang hendak menelaah hasil pengindraan itu tidak mungkin mengambil keputusan
dengan menjalankan pikiran, tanpa menggunakan dalil dan hukum pikiran yang tidak
mungkin dialaminya. Bahkan, ilmu dengan amat tenang, menerima sebagai kebenaran
bahwa pikiran manusia itu ada serta mampu mencapai kebenaran; dan tidak pernah
diselidiki oleh ilmu, sampai di mana dan bagaimana budi manusia dapat mencapai
kebenaran itu.
Sebaliknya, filsafat pun memerlukan data dari ilmu. Jika, ahli filsafat manusia hendak
menyelidiki manusia itu serta hendak menentukan apakah manusia itu, ia memang harus
mengetahui gejala tindakan manusia. Dalam hal ini, ilmu yang bernama psikologi akan
menolong filsafat sebaik-baiknya dengan hasil penyelidikannya. Kesimpulan filsafat
tentang kemanusiaan akan sangat pincang dan mungkin jauh dari kebenaran jika tidak
menghiraukan hasil psikologi (Pcedjawijatna, 1991).
Dalam berbagai literatur disebutkan, sebelum menjadi disiplin ilmu yang mandiri,
psikologi memiliki akar-akar yang kuat dalam ilmu kedokteran dan filsafat yang hingga
sekarang masih tampak pengaruhnya. Dalam ilmu kedokteran, psikologi berperan
menjelaskan apa-apa yang terpikir dan terasa oleh organ-organ biologis (jasmaniah).
Adapun dalam filsafat - yang sebenarnya "ibu kandung" psikologi itu - psikologi berperan
serta dalam memecahkan masalah-masalah rumit yang berkaitan dengan akal, kehendak,
dan pengetahuan.
Bruno, seperti dikutip Syah (1995: 8), membagi pengertian psikologi dalam tiga bagian
yang pada prinsipnya saling berhubungan. Pertama, psikologi adalah ilmu pengetahuan
mengenai "roh". Kedua, psikologi adalah ilmu pengetahuan mengenai "kehidupan mental".
Ketigq, psikologi adalah ilmu pengetahuan mengenai "tingkah laku" organisme.
Pengertian pertama merupakan definisi yang paling kuno dan klasik (bercita rasa
tinggi dan bersejarah) yang berhubungan dengan,filsafat Plato (427-347 SM) dan
Aristoteles (384-322 SM). Mereka menganggap bahwa kesadaran manusia berhubungan
dengan rohnya. Oleh karena itu, studi mengenai kesadaran dan proses mental manusia
merupakan bagian dari studi tentang roh.

8. Hubungan Psikologi dengan Ilmu Pendidikan


Sebenarnya, psikologi dan ilmu pendidikan tidak bisa dipisahkan satu sama lain.
Mengapa? Karena keduanya mempunyai hubungan timbal balik. IImu pendidikan sebagai
suatu disiplin bertujuan memberikan bimbingan hidup manusia sejak ia lahir sampai mati.
Pendidikan tidak akan berhasil dengan baik bilamana tidak berdasarkan kepada psikologi
perkembangan. Demikian pula watak dan kepribadian seseorang ditunjukkan oleh
psikologi. Karena begitu eratnya tugas antara psikologi dan ilmu pendidikan, kemudian
lahirlah suatu subdisplin psikologi pendidikan (educational psychology).
Reber (1988) menyebut psikologi pendidikan sebagai subdisplin ilmu psikologi yang
berkaitan dengan teori dan masalah kependidikan yang berguna dalam hal-hal berikut:
1. Penerapan prinsip-prinsip belajar dalam kelas.
2. Pengembangan dan pembaruan kurikulum.
3. Ujian dan evaluasi bakat dan kemampuan.
4. Sosialisasi proses-proses dan interaksi dengan pendayagunaan ranah kognitif.
5. Penyelenggaraan pendidikan keguruan.

Dengan batasan atau pengertian di atas, Reber tampaknya menganggap bahwa


psikologi pendidikan masuk dalam subdisiplin psikologi terapan (applicable).
Meskipun demikian, menurut Witherington (1991:12-13), psikologi pendidikan tidak
dapat hanya dianggap sebagai psikologi yang dipraktikkan saja. Psikologi pendidikan,
katanya, adalah suatu studi atau suatu ilmu pengetahuan yang mempunyai hak hidup
sendiri. Memang benar bahwa aspek-aspek tertentu dari psikologi pendidikan nyata-nyata
bersifat kefilsafatan, tetapi sebagai suatu ilmu pengetahuan, sebagai science, psikologi
pendidikan telah memiliki:
(1) susunan prinsip atau kebenaran dasar tersendiri,
(2) fakta-fakta yang bersifat objektif dan dapat diperiksa kebenarannya, dan
(3) teknik-teknik yang berguna untuk melakukan penyelidikan atau "research"-
nya sendiri; termasuk dalam hal ini ialah alat-alat pengukur dan penilai yang sampai
batas-batas tertentu dapat dipertanggungjawabkan ketepatannya.
Di antara alat-alat pengukur dan alat penilai ini, terdapat tes tentang hasil
perkembangan jiwa anak dan tes tentang hasil belajar anak. Kedua tes ini lazim disusun
dengan sangat hati-hati. Di laboratorium, misalnya, untuk mengetahui ada atau tidaknya
kesalahan mekanis dalam kebiasaan membaca anak-anak, diadakan pemotretan
terhadap gerakan mata anak-anak pada waktu membaca dengan mempergunakan
ophthalmograph. Untuk mengetahui apa yang harus dilakukan untuk mengembangkan
suara yang menyenangkan dan untuk memperoleh pemilihan kata-kata yang tepat pada
waktu berbicara, diadakan perekaman terhadap latihan-latihan bercakap yang dilakukan.
Jadi, meskipun psikologi pendidikan cenderung dianggap oleh banyak kalangan atau
para ahli psikologi, termasuk ahli psikologi pendidikan sendiri, sebagai .subdisiplin
psikologi yang bersifat terapan atau praktis, bukan teoretis, cabang psikologi ini
dipandang telah memiliki konsep, teori, dan metode sendiri, sehingga mestinya tidak lagi
dianggap sebagai subdisiplin, tetapi disiplin (cabang ilmu) yang berdiri sendiri.***
PSIKOLOGI DALAM LINTASAN

BAB 2 SEJARAH

A. Psikologi sebagal Bagian dari Filsafat


Pada zaman sebelum Masehi, jiwa manusia sudah menjadi topik pembahasan para
filsuf. Saat itu, para Filsuf sudah membicarakan aspek-aspek kejiwaan manusia dan
mereka mencari dalil, pengertian, serta pelbagai aksioma umum, yang berlaku pada
manusia.
Ketika itu, psikologi memang sangat dipengaruhi oleh cara-cara berpikir filsafat dan
terpengaruh oleh filsafatnya sendiri. Hal tersebut dimungkinkan karena para ahli psikologi
pada masa itu adalah juga ahli-ahli filsafat atau para ahli filsafat waktu itu juga ahli
psikologi.
Sebelum tahun 1879, jiwa dipelajari oleh para filsuf dan para ahli ilmu faal (fisiologi),
sehingga psikologi dianggap sebagai bagian dari kedua ilmu tersebut (Fauzi, 1977:14).
Selain pengaruh dari ilmu faal, psikologi juga dipengaruhi oleh satu hal yang tidak
sepenuhnya berhubungan dengan ilmu faal, meskipun masih erat hubungannya dengan
ilmu kedokteran, yaitu hipnotisme (Dirgagunarsa, 1996:36). Menurut Singgih
Dirgagunarsa, hipotisme timbul karena adanya kepercayaan bahwa dalam alam ini
terdapat kekuatan-kekuatan yang misterius, yaitu magnetisme. Paracelsus (1493-1541),
seorang ahli mistik, menunjukkan bahwa dalam tubuh manusia terdapat magnet yang -
sama halnya dengan bintang-bintang di langit - dapat mempengaruhi tubuh manusia
melalui pemancaran yang menembus angkasa. Dalam hubungan itu, Van Helmont (1577-
1644) mengemukakan doktrin animal magnetism, yaitu "Cairan yang bersifat magnetis
dalam tubuh manusia dapat dipancarkan untuk mempengaruhi badan, bahkan jiwa orang
lain" (Dirgagunarsa, 1996:36).
Para ahli ilmu filsafat kuno, seperti Plato (429-347 SM) dan Aristoteles (384-322 SM),
telah memikirkan hakikat jiwa dan gejala-gejalanya. Pada zaman kuno, tidak ada
spesialisasi dalam lapangan keilmuan, sehingga boleh dikatakan bahwa semua ilmu
tergolong dalam apa yang disebut filsafat itu. Sementara ahli filsafat ada yang
mengatakan bahwa filsafat adalah induk ilmu pengetahuan.
Sebagai induk ilmu pengetahuan, filsafat adalah ilmu yang mencari hakikat sesuatu
dengan menciptakan pertanyaan dan jawaban secara terus-menerus, sehingga mencapai
pengertian yang hakiki tentang sesuatu. Masa itu belum ada pembuktian-pembuktian
empiris, melainkan berbagai teori dikemukakan berdasarkan argumentasi logika belaka.
Psikologi benar-benar masih merupakan bagian dari filsafat dalam arti yang sebenarnya.
Filsafat itu sendiri berasal dari bahasa Yunani, philosophia; dari philos, cinta; atau
philia, persahabatan, kasih sayang/kesukaan pada, ketertarikan pada, + sophos, orang
bijak; atau sophia, kebijakan, pengetahuan, keahlian atau pengalaman praktis, inteligensi:
Bakry (1971:11) mengatakan bahwa filsafat ialah sejenis pengetahuan yang menyelidiki
segala sesuatu dengan mendalam mengenai ketuhanan, alam semesta, dan manusia,
sehingga menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana hakikat dapat dicapai akal
manusia dan bagaimana sikap manusia setelah mencapai pengetahuan itu.
Pada abad pertengahan, psikologi masih merupakan bagian dari filsafat, sehingga
objeknya tetap hakikat jiwa, sementara metodenya masih menggunakan argumentasi
logika.
Uraian oleh para filsuf abad pertengahan umumnya berkisar seputar ketubuhan dan
kejiwaan. Berbagai pandangan mengenai ketubuhan dan kejiwaan dapat digolongkan
dalam dua hal, yaitu (Dirgagunarsa, 1996:17):
a. Pandangan bahwa antara ketubuhan dan kejiwaan (antara aspek psikis dan fisik)
tidak dapat dibedakan karena merupakan suatu kesatuan. Pandarigan ini disebut
monism.
b. Pandangan bahwa ketubuhan dan kejiwaan pada hakikatnya dapat berdiri sendiri,
meskipun disadari bahwa antara kejiwaan dan ketubuhan merupakan suatu
kesatuan. Ini disebut dualism.
Tokoh-tokoh abad pertengahan, antara lain: Rene Descartes (1596-1650) yang
terkenal dengan teori tentang kesadaran, Gottfried Wilhelm Leibniz (16461716) yang
mengutarakan teori kesejajaran psikof hisik (psychophysical paralellism), John Locke
(1632-1704) dengan teori tabula rasa.

1. Psikologi Plato (429-347 SM)


Plato dilahirkan pada 29 Mei 429 SM di Athena. Sewaktu berumur 20 tahun, filsuf
Yunani yang dikabarkan terlahir di kalangan "keluarga terhormat" - ayahnya, Ariston,
disebut-sebut sebagai titisan dari Dewa Poseidon - ini, menjadi murid Socrates yang dapat
memberi kepuasan sepenuhnya pada hasratnya terhadap pengetahuan dan
kebijaksanaan. Di samping itu, ia mempunyai perasaan kepenyairan yang dalam. Setelah
Socrates meninggal, ia merantau ke Mesir, Sisilia, dan Italia Selatan. Pada tahun 389 SM,
dibukanya sekolah filsafat di Athena yang diberi nama "Acedemia". Di sini, ia mengajar 40
tahun lamanya, hanya terputus sementara karena kepergiannya ke Sisilia berapa kali.
Dalam usia 81 tahun, ia meninggal di tanah kelahirannya Schmid, 1980:10).
Buku-buku yang pada umumnya bertalian dengan psikologi dan akhlak, antara lain,
buku Phaedo tentang jiwa dan keabadiannya sesudah mati, dan buku Phaedrus tentang
cinta (Poerwantana, et.al., 1988:89; Schmid, 1980:10; Dirgagunarsa, 1996:13). Ajarannya
yang terkenal ialah tentang "idea".
Tentang "jiwa", Plato menyebutnya sebagai bersifat immaterial. Ini karena sebelum
masuk ke tubuh kita, jiwa sudah ada terlebih dahulu di alam para sensooris. Hal ini dikenal
sebagai pre-eksistensi jiwa dari Plato. Jadi, menurut Plato, menempati dua dunia, yaitu
dunia sensoris (pengindraan) dan dunia idea (yang sifat aslinya adalah berpikir).
Bahwa manusia tersusun atas jiwa dan badan, merupakan suatu konsep klasik yang
berulang kali dinyatakan kembali dalam tulisan-tulisan filsafat. Plato menekankan
perbedaan itu sedemikian rupa, sehingga kita berbicara tentang dualisme. Dalam
pandangan Plato, dualisme antara jiwa d. badan bersifat etis-religius. Jiwa ialah bagian
manusia yang tidak dapat mati; setelah berulang kali dipenjarakan dalam badan lewat
inkarnasi, akhirnya jiwa itu, setelah disucikan dari kesalahannya sendiri, mencapai dunia
yang lebih luhur, dunia tempat kita memandang idea-idea yang murni dan abadi. Jiwa
hidup terus sesudah badan mati dan bahkan sudah ada sebelum manusia lahir kembali
dalam bentuk badan baru. Semula Plato melukiskan badan itu sebagai penjara dan
kuburan bagi jiwa, kemudian sebagai alat atau sarana bagi jiwa. Selanjutnya lagi
penghargaan bagi badan, kemudian meningkat dan ia memandang badan sebagai
gambaran jiwa yang patut kita hormati (Peursen, 1991:231).
Dalam teori tentang "idea", Plato melukiskan pertentangan antara kenyataan rohani
yang tidak dapat musnah, dan kehidupan di dunia ini, yang dialami secara indrawi; teori ini
berkaitan dengan pandangannya mengenai terpisahnya jiwa manusia yang tak dapat mati
dan badan yang akan musnah. Idea-idea itu mewujudkan adanya yang paling tinggi dan
paling nyata, tetapi terarah juga ada ide, tentang kebaikan yang terdapat di sebelah sana,
segala sesuatu yang ada. Nilai ini mendorong Plato untuk menerjunkan dirinya ke dalam
kehidupan sehari-hari dan dengan demikian, ia ingin membina watak manusia di tengah-
tengah masyarakat polis itu. Di dalam alam raya pun, idea-idea itu berpengaruh dengan
pemberian wujud pada alam kebendaan yang masih tanpa wujud (Peursen, 1991:251).
Teori Plato tentang idea-idea (Plato's Theory of Ideal Forms) pada dasarnya meliputi
dua alam Tule, ed., 1995:125-126):
a. alam transenden (noumenal) yang absolut, sempurna, bentuk-bentuk ideal
yang tidak berubah di mana yang baik merupakan yang utama yang biasanya
ditafsirkan sebagai keindahan dan kebenaran; juga merupakan sumber dari
segala sesuatu yang lain, seperti keadilan, ketentraman, semangat; dan ,.
b. alam fenomenal (dunia tampak) yang tersusun dari segala sesuatu yang
berupaya berubah, tapi selalu gagal untuk meniru (menjiplak, ikut serta dalam,
mengambil badan dari) bentuk-bentuk ideal.
Cinta (atraksi, afinitas) yang dimiliki sesuatu ke arah kesempurnaan yang inheren
dalam bentuk-bentuk ideal ini mengilhami (menyebabkan, mendorong) benda-benda di
dunia fenomenal untuk berubah, bergerak, beraksi, mencari tujuan. Alam fenomenal
adalah alam yang kita indrawi, alam biasa, pengalaman sehari-hari. Alam bentuk abadi
adalah alam nyata, sejati, permanen yang terkadang dapat sedikit disingkapkan oleh rasio
setelah melewati proses pendisiplinan yang memadai. Abstraksi-seperti kesamaan,
sirkularitas, kemanusiaan-yang dapat dipahami dan dikenal dalam berbagai rupa, memberi
indikasi sederhana bahwa bentuk-bentuk itu memang ada. Bentuk-bentuk eksis secara
independen dari kesadaran.
2. Psikologi Aristoteles (384-322)
Aristoteles adalah murid terbesar Plato. Filsuf Yunani yang lahir di Stagirus (Stegira),
Chelcidice, sebelah barat laut Aegean itu, adalah putra Nichomachus, tabib pribadi istana
raja di Macedonia, juga sebagai anggota serikat kerja medik yang disebut Sons of
Aesculapius.
Pada usia tujuh belas tahun, Aristoteles dikirim ke Akademi Plato di Athena. Di sana
dia belajar dan mengajar di bawah bimbingan Plato, dari tahun 367 hingga kematian Plato,
tahun 347. Selama dua belas tahun berikutnya, Aristoteles mengajar dan mengadakan
riset di bidang biologi, zoologi, botani, dan fisiologi di berbagai tempat.
Pada tahun 342, ia ditugaskan oleh Raja Philippus untuk mendidik putranya, Iskandar
Zulkamain (Iskandar Agung) selama tujuh tahun. Kemudian, ia kembali ke Athena, dan
dari tahun 335 hingga tahun 325 SM, ia memberi kuliah filsafat di lorong-lorong Lyceum.
Disebabkan gaya mengajarnya yang sambil berjalan kian ke mari, mazhab filsafatnya
dinamakan mazhab peripatetis. Di pagi hari, diajarkan soal-soal yang paling mendalam
untuk mereka yang sudah maju pengetahuannya. Waktu malam, diajarkannya bagian
pengantamya secara populer. la selalu mendapat bantuan dari Iskandar. Setelah Iskandar
meninggal dunia, ia diadukan karena dituduh murtad. la kemudian lari ke Chalcis di Eubua,
dan ia meninggal pada tahun berikutnya, yakni tahun 322 SM, dalam usia 63 tahun.
Karya-karya Aristbtele5 di bidang psikologi adalah De Anima (tentang sifat-sifat dasar
jiwa) dan Parra Naturalia (esei-esei mengenai beberapa topik seperti sensasi, persepsi,
memori, tidur, dan mimpi).
Dalam De Anima, Aristoteles mengemukakan macam-macam tingkah laku manusia
dan adanya perbedaan tingkat tingkah laku pada organisme-organisme yang berbeda-
beda. Tingkah laku pada organisme, menurut Aristoteles, memperlihatkan tingkatan
sebagai berikut (Dirgagunarsa, 1996:15):
a. Tumbuhan : memperlihatkan tingkah laku pada taraf vegetatif (bernafas,
makan, tumbuh).
b. Hewan : selain tingkah laku vegetatif, juga bertingkah laku sensitif (merasakan
melalui pancaindra). Jadi, hewan berbeda dari tumbuhan karena
hewan mempunyai faktor perasaan, sedangkan tumbuhan tidak.
Persamaannya adalah pada tumbuhan maupun hewan terdapat
tingkah laku vegetatif, misalnya dalam hal peredaran makanan.
c. Manusia : manusia bertingkah laku vegetatif, sensitif, dan rasional. Manusia
berbeda dari organisme-organisme lainnya, karena dalam bertingkah
laku, manusia menggunakan rasionya, yaitu akal atau pikirannya.
Aristoteles adalah orang pertama yang secara eksplisit menyatakan bahwa manusia
adalah binatang berakal budi (Russell, 1991:37). Argumennya untuk pandangan ini,
menurut Bertrand Russell, sekarang tampaknya tidak kuat lagi, yaitu bahwa sebagian
orang sanggup menjumlah angka-angka. '
Aristoteles telah menamakan manusia sebagai makhluk karena kodratnya (phusei)
hidup dalam masyarakat (politikon zoon). Akan tetapi, istilah ini masih dapat diartikan
sebagai cara hidup bersama seperti masyarakat lebah dan semut. Namun, keserasian
yang dengan sendirinya timbul dari kodrat, menurut C.A. van Peursen, tidak diterima lagi
oleh ahli-ahli pikir zaman modern (Peursen, 1991:223).
Menurut Mandeville (1670-1733), masyarakat lebah, sebagai cermin masyarakat
manusia, baru dapat berjalan dengan baik karena "kebejatan" masing-masing anggotanya;
ini tampak dari subjudul bukunya: The Fable of the Bees - or Private Vices Made Public
Benefits.
Di dunia filsafat, Aristoteles terkenal sebagai Bapak Logika. Logikanya disebut logika
tradisional, karena nantinya berkembang dengan apa yang disebut sebagai logika
modern. Logika Aristoteles itu sering juga disebut logika formal.
Jika orang-orang Sofis banyak yang menganggap bahwa manusia tidak akan mampu
memperoleh kebenaran, Aristoteles dalam M4ctphysics menyatakan bahwa manusia
dapat mencapai kebenaran (Mayer, dalamTafsir,1993:52). Salah satu teori metafisika
Aristoteles yang penting ialah pendapatnyat bahwa matter dan form itu bersatu; matter
memberikan substansi tertentu, form memberikan pembungkusnya. Setiap objek terdiri
atas matter dan form (Mayer, dalam Tafsir, 1993:52). Jadi, ia telah mengatasi dualisme
Plato yang memisahkan matter dan form; bagi Plato, matter dan form berada sendiri-sendiri. la
juga berpendapat bahwa matter itu potensial dan form itu aktualitas.
Materi atau alam kebendaan, dalam pandangan Aristoteles, selalu bertalian dengan
kemungkinan untuk diberi wujud, dan tidak mempunyai arti sendiri. Materi hanya berarti
apabila diberi wujud. Bila membicarakan zat hidup, Aristoteles menekankan aspek ini:
hidup berarti terlaksananya pemberian wujud (iitelechie). Bahan, biarpun tak dapat
dilepaskan dari wujud kehidupan, niscaya harus ada. Tak ada bentuk-bentuk hidup bila tak
ada materinya.
Secara monyeluruh, Aristoteles memandang dunia dan manusia sebagai sebuah
proses perkembangan yang berlangsung terus-menerus. Proses ini dikuasai oleh
keterarahan final, yakni terarah pada "yang baik". Filsafat Aristoteles adalah suatu
teleologi ("telos", bahasa Yunani, berarti "tujuan"): seluruh perkembangan kosmos
dikuasai oleh gagasan tentang "yang baik" itu.
Dalam metafisika, Aristoteles mengatakan bahwa seluruh proses perkembangan
dikuasai oleh aktus murni yang seluruhnya sempurna, dan yang merupakan "cause
finalis", penyebab berupa tujuan, (akhir) bagi seluruh proses perkembangan alam
semesta.
Akhirnya, pada Aristoteles, kita menyaksikan bahwa pemikiran filsafat lebih maju,
dasar-dasar sains diletakkan. Tuhan dicapai dengan akal, tetapi ia percaya pada Tuhan.
Jasanya dalam menolong Plato dan Socrates memerangi orang Sofis, dalam pandangan
Tafsir (1993:52), karena bukunya yang menjelaskan palsunya logika yang digunakan oleh
tokoh-tokoh Sofisme.

3. Psikologi Rene Descrates (1596-1650 M)


Filsuf terkenal lainnya yang patut pula disebut pendapatnya mengenai psikologi (ilmu
jiwa) ialah Rene Descartes. Filsuf, metematikawan, dan ilmuwan Prancis ini lahir di
Lahaye, Touraine, pada tahun 1596, dan meninggal tahun 1650. Karyanya, antara lain,
Discourse on Method (Discours de la Methode), sebuah pengantar pada Dioptric, Meteors
dan Geomentry (semua diterbitkan pada 1636 dan 1637); Meditations on First Philosophy
and Objections (keberatan terhadap filsafatnya oleh Amauld, Gessendi, Hobbes, dan
lainnya) dan Reflies, jawabannya terhadap mereka semua (ketiga karya ini diterbitkan
pada tahun 1640 dan 1641) ; Principles of Philosophy (1644); Treatise on the Passions of
the Soul (1649); dan Rules for the Direction of the Mind (diterbitkan pada tahun 1701).
Kedua buku Descartes (Discourse dan Meditations) ini tampak saling melengkapi satu
sama lain. Dalam kedua buku inilah, ia menuangkan metodenya yang terkenal yaitu,
metode keraguan Descartes (Cartesian Doubt). Metode ini sering juga disebut Cogito
Descartes atau metode Cogito saja.
Menurut Descartes, manusia terdiri atas dua macam zat yang berbeda secara hakiki,
yaitu res cogitans atau zat yang dapat berpikir, dan res extensa u zat yang mempunyai
luas (Gerungan, 1987:7). Zat pertama adalah zat g bebas, tidak terikat pada hukum-
hukum alam, dan bersifat rohaniah; sedangkan zat kedua ialah zat materi, tidak bebas,
terikat, dan dikuasai oleh hukum-hukum alam. Jiwa manusia terdiri atas zat roh,
sedangkan badannya terdiri atas zat materi. Kedua zat itu berbeda dan terpisah
hidupannya, dan dihubungkan yang satu dengan yang lain melalui sebuah kelenjar di
dalam otak. Jiwa manusia berpokok pada kesadaran manusia u pikirannya yang bebas;
sedangkan raganya tunduk pada hukum-hukum ilmiah dan terikat pada nafsu-nafsunya.
Peranan pendapat Descartes dalam perkembangan psikologi, sangatlah ar, sehingga
jiwa sampai ke abad ke-20 apa yang disebut ilmu hanyalah tertuju pada uraian dari gejala-
gejala jiwa, terlepas dari raganya.
Dalam pandangan Descartes, psikologi (ilmu jiwa) adalah ilmu ,pengetahuan
mengenai gejala-gejala pemikiran atau gejala-gejala kesadaran 'manusia, terlepas dari
badannya. Raga manusia. yang terdiri atas materi dipelajari oleh ilmu pengetahuan yang
lain, terlepas dari jiwanya. Demikian pula makhluk hewan yang menurut Descartes tidak
mempunyai jiwa, hanya dipelajari oleh ilmu pengetahuan alamiah, yang mempelajari
materi.
Dalam pelbagai tulisan Descartes, gambaran tentang jiwa dan badan atau tubuh, lebih
bersifat teoretis-filsafati. Jiwa ialah unsur yang mengatakan 'aku" dalam diri manusia.
"Aku" itu mempunyai kesadaran dalam arti kata yang luas; Descartes lalu menggunakan
istilah "substansi berpikir". Jiwa berdiri atas dirinya sendiri (tentu saja dengan selalu
ditopang oleh Tuhan). Badan ialah "substansi luasa", substansi yang terbentang dan dapat
dideskripsikan secara tersendiri, yaitu sebagai sebuah mesin yang rumit.
Akan tetapi, dualisme Descartes itu diperhalus dari berbagai segi, antara lain karena
pengaruh Skolastik. Aristoteles telah menunjukkan bahwa jiwa dan badan sangat erat
hubungannya. Jiwa berfungsi sebagai wujud (forma, bahasa Latin) terhadap badan; bahan
(mate4a, bahasa Latin), yaitu badan, tak dapat ada tanpa wujud, yaitu jiwa.
Begitulah, Descartes dengan berbagai cara menerangkan substansi. Nuansa-nuansa
itu terutama diperlihatkannya bilamana ia melukiskan hubungan antara jiwa dan bad -an.
Tangan, bila dipandang secara tersendiri, dapat didefinisikan sebagai substansi lengkap;
tetapi bila dipandang dalam keseluruhan badan, jelas merupakan substansi yang tidak
lengkap. Itulah sebabnya, dalam pandangan Descartes, tidak hanya jiwa dan badan yang
merupakan substansi-substansi, melainkan juga manusia selaku dwitunggal antara jiwa
dan badan.
Descartes menunjukkan dengan sempuma keunikan sifat pikiran ini. Ia, bertitik
pangkal pada kenyataan bahwa "aku berpikir" (cogito ergo sum); seluruh kenyataan terdiri
atas substansi-substansi berpikir dan substansi-substansi luasa. Jiwa dan badan
merupakan dua substansi terpisah, biarpun di dalam diri manusia keduanya sangat erat
hubungannya. Badan dilukiskannya sebagai sebuah mekanisme yang sangat rumit,
sehingga di kemudian hari ahli-ahli pikir materialis seperti J.O. de la Mettrie (1709-1751)
menafsirkan manusia seluruhnya sebagai sebuah mekanisme (Peursen, 1991:253).
Ungkapan terkenal dari Descartes tentang cogito ergo sum, menarik untuk kita
cermati. "Aku,"'hlemikian kata Descartes, "yang sedang ragu itu disebabkan oleh aku
berpikit" Kalau begitu, menurut Descartes, aku berpikir pasti ada dan benar. Jika aku
berpikir ada, berarti aku ada, sebab yang berpikir itu aku. Cogito ergo sum, aku berpikir,
jadi aku ada. Tahapan metode Descartes itu dapat diringkaskan sebagai berikut (Tafsir,
1993:115):
Gerak,
Benda jumlah,
Aku sedang Aku ragu Jadi, Aku
indrawi tidak Besaran karena berpikir
ragu, ada berpikir ada
ada (ilmu pasti
tidak ada)
Gambar 2
Tahapan Metode Descartes

Pernyataan Descartes tentang intuisi itu, pasti, dan tak diragukan. Di dalamnya dia
mengenal dirinya dengan jelas dan tajam sebagai sebuah rescogitans (sesuatu atau diri
yang berpikir). Dia tidak bisa meragukan bahwa dia berpikir karena dalam tindak
meragukan itu sendiri, dia membuktikan bahwa tindakan berpikir (meragukan) itu benar.
Cogito ergo sum menjadi kebenaran yang terbukti diri atau aksioma yang darinya
Descartes mengembangkan sistem penjelasan rasionalistiknya.
Kini, Descartes sudah menemukan dasar atau basis bagi filsafatnya. Basis itu bukan
filsafat Plato, bukan filsafat Abad Pertengahan, bukan agama atau yang lainnya. Fondasi
itu ialah aku yang berpikir. Pemikiran itulah yang pantas dijadikan dasar filsafat, karena
aku yang berpikir itulah yang benar-benar ada, tidak diragukan, bukan kamu atau
pikiranmu. Di sini tampaklah sifat subjektif, individualistik, humanis, dalam filsafat
Descartes. Sifat-sifat inilah, nantinya, yang menodorong perkembangan filsafat pada Abad
Modern.
la percaya bahwa ia ada, katanya, karena ia melihat ini dengan jelas dan sangat
nyata, maka, ia lalu menyimpulkan "bahwa saya bisa menerima sebagai suatu patokan
umum bahwa tiap hal yang kita lihat secara jelas dan nyata sekali adalah benar" (Russell,
1991:123). la pun mulai melihat segala macam hal "dengan jelas dan nyata sekali" seperti,
akibat tidak mungkin lebih sempurna daripada sebabnya. Karena bisa membentuk suatu
ide tentang Tuhan - yakni, tentang sesuatu yang lebih sempurna daripada dirinya sendiri -
ide ini pasti mempunyai sebab yang lain dari dirinya sendiri, dan itu hanya mungkin oleh
Tuhan. Dengan demikian, Tuhan ada. "Dan karena Tuhan itu baik, ia takkan terus-
menerus menipu Descartes," kata Bertrand Russell dalam Pergolakan Pemikiran-nya
(1991:123). Dengan demikian, menurut Russell, objekobjek yang dilihat Descartes, selagi
sadar, pasti sungguh-sungguh ada.
Mengenai tingkah laku manusia, Descartes membaginya atas (Dirgagunarsa,
1996:18):
a. Tingkah laku rasional. Ini erat berhubungan dengan jiwa yang disebutnya sebagai
Unextended Substance. Karena dikuasai oleh jiwa, seseorang dapat merencanakan
atau meninjau kembali suatu tingkah laku.
b. Tingkah laku mekanis. Ini berhubungan erat dengan badan yang disebutnya sebagai
Extended Substance. Karena erat hubungannya dengan badan, terjadi gerakan
otomatis seperti refleks-refleks.

Dalam menguraikan tentang interaksionaisme, Descartes berupaya mencari


hubungan antara jiwa dan badan. la tahu betul bahwa kelenjar-kelenjar endokrin (kelenjar
buntu) dalam tubuh umumnya adalah berpasangan. Akan tetapi, ada satu kelenjar, yaitu
kelenjar Pinealis yang terletak pada dasar otak yang merupakan kelenjar tunggal. la
menyangka bahwa kelenjar Pinealis inilah yang merupakan penghubung antara aspek
kejiwaan dan ketubuhan. Rangsangrangsang ketubuhan ditentukan melalui kelenjar ini
pada aspek kejiwaan dan demikian pula sebaliknya.
Dalam hal ide (ideas), Descartes, menjabarkan tiga jenis ide, yakni:
1. ide-ide bawaan (innate ideas) yang datang dari struktur, aktivitas, atau potensi
(kapasitas, kemampuan) pemikiran (pikiran) itu sendiri. Tiga ide bawaan utama
adalah ide-ide tentang (a) Tuhan, (b) jiwa (pikiran, ego, substansi pikiran), dan (c)
materi (benda, objek-objek fisik ekstemal, substansi material);
2. ide-ide buatan (factitious ideas), yang dibangun oleh pikiran untuk memahami
seperti apakah sesuatu itu (seperti seorang ilmuwan fisika atau kimia memodelkan
sebuah objek material);
3. ide-ide yang tidak disengaja (adventitious ideas), yang datang sebagai rangsangan
dari dunia eksternal, seperti bunyi nQ,,t musik, sinar rembulan, panasnya api. Ide-
ide kebetulan, tidak datang dari luar ke dalam pikiran, seperti kualitas-kualitas atau
entitas-entitas tetapi dibentuk oleh pikiran dari gerak-gerak fisik yang
mempengaruhi otak.

4. Psikologi John Locke (1632 - 1704 M)


Filsuf Inggris. ini dilahirkan di Somersetshire, Bristol. Ayahnya adalah seorang sarjana
hukum yang cukup disegani pada masanya. Ia belajar di Oxford. Dialah yang
membangkitkan perhatiannya mengenai filsafat. Pikirannya banyak dipengaruhi oleh ahli
ilmu kimia, Boyle. Sebagai sekretaris kedutaan, John Locke bergaul dengan kalangan
istana di Brandenburg.
Von Schmid (1980), dalam sebuah tulisannya menuturkan, pada 1672, Locke
berkunjung ke Prancis. Di sini, ia menulis karangan utamanya mengenai pikiran manusia.
Setelah kembali; lagi ke Inggris, tahun 1679, ia terkena murka Charles II, sehinjoa ia
melarikan diri ke Belanda. Di negeri yang baru ini, ia terus-menerus berpindah tempat
karena takut diserahkan kepada pemerintah negerinya. Revolusi di Inggris pada 1688
memungkinkannya kembali ke sana. Karena persesuaian paham dengan Raja Stadhouder
Willem III, hidup menjadi tentram dan terhormat. Karangan-karangannya yang sangat
berpengaruh diterbitkan pada masa itu. la tinggal di Essex, sampai meninggalnya tahun
1704.
John Locke banyak disebut-sebut sebagai seorang realis fisik (sebagai lawan dari
immaterialisme Berkeley) dan bersama Berkeley dan Hume dipandang sebagai tiga
empirisis Inggris terkemuka. Beberapa tema sentral Locke dalam epistemologi yang
menjadi pusat dan poros konsep-konsep, seperti tabula rasa; tidak ada ide bawaan;
sensasi dan refleksi; kualitas primer dan sekunder; eksistensi hal-hal, substansi, dan
materi yang nyata, serta objektif terlepas dari kesadaran. Di antara sekian banyak
karyanya, dapat disebut : Essays Concerning Toleration (1666); Two Treatise on
Government (1685); Essay Concerning Human Understanding (1690) ; Thought on
Education (1693) ; dan The Reasonableness of Christianity as Delivered in the Scriptures
(1695).
Dalam buku Essay Concerning Human Understanding, Locke (Dirgagunarsa, 1996:19)
mengemukakan bahwa kalau suatu benda dapat dianalisis sampai sekecil-kecilnya,
demikian pula halnya dengan jiwa manusia. Locke menyetujui apa yang dikemukakan oleh
James Mill yang terkenal dengan reductio ad absurdum. Jiwa manusia diibaratkan sebagai
mental chemistry. Uraiannya yang terkenal dalam hubungan ini ialah lnengenai ide (idea).
Dikatakannya bahwa unsur atau elemen terkecil dari jiwa manusia (human mind) ialah
simple idea. James Mill berpendapat bahwa simple iaea bukan sesuatu yang dibawa sejak
lahir, melainkan sesuatu yang diperoleh. Sebab, apabila simple idea yang satu bergabung
dengan simple idea yang lain, akan terbentuk apa yang disebutnya complex idea.
Kemudian, apabila complex idea yang satu bergabung dengan complex idea yang lain,
akan terbentuk apa yang disebutnya compound idea. Tergabungnya simple idea yang satu
dengan simple idea yang lain, hanya mungkin terjadi oleh adanya asosiasi.
Simple idea adalah ide-ide yang tidak dapat dipecah-pecah menjadi bagian-bagian
komponennya lebih lanjut. Ide-ide tersebut tidak dapat direduksi, primitif, tak dapat
dijelaskan, tidak bercampur (seperti marah, sakit, titik, suara, bau, dll.), biasanya
diasosiasikan dengan objek-objek yang dekat dengan persepsi kita. Ide-ide sederhana
muncul (ada) dalam pikiran sebagai suatu kesatuan; pikiran sendiri tidak dapat membuat,
membayangkan, menciptakan, atau membangunnya, tetapi membutuhkannya untuk
menyimpannya dalam ingatan, memanggilnya kembali, membandingkan dan
mengasosiasikannya dalam kombinasi baru yang tidak. ditemukan dalam pengalaman kita
tentangnya sebagai ide-ide sederhana iTule, ed., 1995:149-150).
Dalam pandangan Locke, kita sering kali tidak memiliki pengalaman mengenai ide-ide
sederhana sebagai unit-unit yang terpisah, otonom, mandiri. Ide-ide sederhana, seperti
yang ditemukan dalam rumpun terpadu dipecahpecah oleh pikiran menjadi komponen-
komponen unik. Sebagai contoh, pengalaman tentang sepotong logam panas
menggabungkan ide-ide sederhana, seperti panas, keras, lembut. Beberapa ide
sederhana, seperti panas, sentuhan, penglihatan, dan bau, hanya datang dari indra yang
'bersesuaian. Yang lainnya, seperti bentuk, ruang, sosok, dan bilangan, berasal 3ari indra-
indra yang saling berbaur.
Complex idea adalah ide-ide yang dibangun menjadi kombinasi dari ide-ide yang
sederhana. Ide-ide yang kompleks termasuk ide-ide abstrak, ide-ide umum, universalia,
abstraksi-abstraksi, beberapa ide tentang refleksi dan instrospeksi, dan lain-lain. Ide-ide
kompleks terbagi menjadi (1) modemode, (2) relasi-relasi, dan (3) substansi. Kedua yang
terakhir disebut modemode campuran; merupakan konstruksi mental tak beraturan dan
tidak ©ersesuaian dengan entitas nyata. Sebuah mode yang sederhana merujuk pada
bentuk-bentuk yang dapat diambil oleh sebuah ide sederhana (seperti kesatuan,
spasialitas); sedangkan sebuah mode yang kompleks merujuk pada kombinasi ide
sederhana menjadi sebuah ide kompleks (seperti ide centang bilangan atau jumlah).
Relasi-relasi terdiri atas perbandingan (pengasosiasian, dll.), ide-ide (seperti kausa/efek,
identitas/diversitas, ketunggalan/kemajemukan, tempat/waktu). Substansi merujuk pada
pengenalan bahwa objek-objek eksternal senantiasa ada secara independen 3ari
kesadaran yang mencakup (1) gagasan umum tentang substansi (materi, landasan fisik
yang melatari), (2) gagasan partikular tentang substansi-subs tansi, dan (3) gagasan
kolektif tentang substansi-subs tansi (Tule, ed., 1995:149).
Dalam konsepnya tentang tabula rasa, Locke menyatakan, semua pengetahuan,
tanggapan, dan perasaan jiwa manusia diperoleh karena pengalaman melalui alat-alat
indranya. Pada waktu manusia dilahirkan, jiwanya kosong bagaikan sehelai kertas putih
yang tidak tertulisi. Segalagalanya yang tertulis pada helai kosong tadi akan tertulis oleh
pengalaman-pengalaman sedari kecil melalui alat pancaindranya. Semua pergolakan
jiwanya akan tersusun oleh pengalamannya (Gerungan, 1987:9).
Jadi, tabula rasa digunakan oleh Locke sebagai metafor dalam menguraikan
konsepnya tentang pikiran. Beberapa hal penting tentang konsep Locke ini dapat kita
catat, antara lain:
1. pikiran sebelum lahir (atau pengalaman tertentu) adalah seperti sebuah
lembaran (atau batu tulis atau selembar kertas putih) yang kosong;
2. melalui rangsangan dari dunia luar, sensasi-sensasi (ide-ide sederhana)
tercatat pada lembaran itu;
3. aktivitas seperti itu merupakan sumber dan dasar seluruh pengetahuan dan
pemikiran;
4. tidak ada ide-ide atau prinsip-prinsip bawaan sejak lahir;
5. pikiran adalah sebuah entitas pasif, sebuah wadah yang dapat menerima
rangsangan, sensasi, ide, pengetahuan, tetapi tidak bisa mengkreasinya
sendiri.
Mengenai sensasi (sensation) dan refleksi (reflections), Locke menjelaskan bahwa
semua pergolakan jiwa, baik yang sederhana maupun yang sulit, dapat diuraikan dalam
unsur-unsurnya berupa sensasi dan refleksi. Penggabungan unsur-unsur pengalaman
sederhana ini, menurut Locke, menjadi pergolakan jiwa yang kompleks, yaitu menurut
dalil-dalil asosiasi, sebagaimana diuraikan oleh Aristoteles.
Apa yang disebut sensasi adalah unsur-unsur pengalaman pancaindra yang
disebabkan oleh perangsang-perangsang di luar manusia, misalnya: cahaya, suara, bau,
manis, dsb; sedangkan refleksi adalah kesadaran atau pengetahuan tentang pengalaman
sensasi tadi. Misalnya: melihat cahaya warna putih merupakan sebuah sensasi;
sedangkan kesadaran bahwa kita sedang melihat cahaya putih merupakan suatu refleksi
(Gerungan, 1987:9).
Jelasnya, Locke menyebut sensasi sebagai kualitas (kandungan) persepsi yang
terdekat, seperti meja itu hijau, berat, dan besar; dan sesuatu yang diperoleh lewat
pengindraan; sedangkan refleksi (ideas of reflection) adalah: (1) ide-ide yang kita miliki
ketika mengintrospeksi apa yang kita lakukan dalam aktivitas-aktivitas, seperti berpikir,
berkehendak, meragukan, mendengar, menyentuh, melihat; dan (2) apa yang dipersepsi
pikiran dalam kesadaran atau refleksi atas fungsi-fungsinya.
Akhimya, Locke mengemukakan konsepnya tentang kualitas-kualitas. Singgih
Dirgagunarsa (1996) menyebutnya sebagai "tiga doktrin dari Jauh Locke". Menurut
Locke, segala sesuatu yang ada di alam sekitar kita mempunyai beberapa kualitas, yakni
(Dirgagunarsa, 1996:20-21):
1. Kualitas primer, yaitu sifat khusus dari segala sesuatu yang ada dalam alam kita
dan merupakan penghubung terpenting antara kita dan sesuatu di luar kita. Dengan
mengetahui kualitas primer dari suatu benda, kita dapat memperoleh kesan sifat
khusus dari benda itu. John Locke menjelaskan doktrinnya ini dengan
mengemukakan contoh sebutir gandum. Bilamana sebutir gandum kita potong,
demikian menurut Locke, setiap potongan masih memiliki sifat khusus dari gandum
tersebut; misalnya kerasnya, putihnya, dan sebagainya. Kalau kita teruskan
membelah potongan-potongan itu menjadi potongan-potongan yang lebih kecil,
sifat-sifat khusus itu akan terdapat terus pada potongan-potongan yang lebih kecil
tadi. Sampai pada potongan yang terkecil pun, sifat-sifat khusus dari gandum ini
masih ada. Hasil pengamatan kita terhadap kualitas primer suatu benda akan
menimbulkan simple idea tentang benda tersebut; misalnya tentang bentuknya,
besarnya, kerasnya, warnanya, dan sebagainya.
2. Kualitas sekunder, yaitu tenaga atau potensi dari suatu benda yang memungkinkan
kita mengindrakan kualitas-kualitas primer benda tersebut. Tenaga atau potensi
pada hakikatnya tidak terdapat di dalam bendanya sendiri, melainkan merupakan
sesuatu yang berada dalam lingkungan sebagai hasil interaksi antara benda dan
kita, sehingga kita dapat membedakan antara satu benda atau objek dan benda
atau objek lainnya.
3. Power, ialah kekuatan pada benda-benda atau objek-objek untuk mempengaruhi
benda-benda atau objek-objek lain. Matahari, misalnya, mempunyai power untuk
menimbulkan panas, sehingga dapat mencairkan logam; matahari bisa
mempengaruhi logam dengan power-nya. Demikian juga tinta mempunyai power
untuk mengubah kertas putih bersih menjadi bertulisan. Power ini sebenarnya tidak
mempunyai sangkut-paut dengan terjadinya suatu ide. Ide mengenai suatu benda
dalam jiwa seseorang disebabkan kualitas primer dan sekunder dari benda
tersebut; sedangkan power dari suatu benda mempengaruhi benda lain, dalam arti
mempengaruhi kualitas primer dan sekunder dari benda lain. Ide tentang benda
yang mempunyai power itu sendiri bisa tetap, tetapi ide tentang benda lain yang
dipengaruhi power, bisa berubah karena kualitas primer dan sekunder pun berubah.

5. Psikologi Leibniz (1646-1716 M)


Nama lengkapnya, Gottfried Wilhe4m von Leibniz. Filsuf, sejarawan, matematikawan,
dan fisikawan Jerman ini lahir di Leipzig, pada 1646, dan meninggal pada 1716. Leibniz
dianggap sebagai orang yang memelopori studi psikologi di Jerman. Ia menempuh
pendidikannya di Universitas Leipzig, tempat ia belajar hukum dan filsafat.
Dalam bidang filsafat, Leibniz dikenal dewasa ini karena karya-karyanya seperti
Monadology; New Essays Concerning Human Understanding; Discourse on Metaphisics;
dan Theodicy. Sebagai seorang filsuf, Leibniz sangat dikenal karena teorinya tentang
Monads and Pre-establishhed Harmony, Principles of Indiscernibles, Principles of
Sufficient Reason, Principles of Identity, dan Principles of the Best.
Sebagai seorang psikolog, ia juga getol mempelajari ihwal badan dan jiwa. Hubungan
badan dan jiwa, dikatakannya, sebagai bersifat paralel. Badan dan jiwa berjalan sendiri-
sendiri tetapi, menurut Leibniz, keduanya tunduk pada hukum-hukum yang serupa.
Hubungan seperti ini disebutnya sebagai Psychophysical paralellism, berbeda dibanding
pandangan Rene Descartes, yang beranggapan bahwa badan dan jiwa merupakan
hubungan sebab-akibat (interaksionisme).
Dalam berbagai literatur disebutkan, Leibniz menciptakan (secara terpisah dan pada
masa yang sama dengan Newton) kalkulus tak hingga dan menemukan mesin hitung
(lebih maju dari mesinnya Pascal) yang tidak hanya menambahkan dan mengurangi,
tetapi juga mengalikan, membagikan, dan menghitung akar-akar bilangan. Sebagai
seorang ahli dalam ilmu pasti, Leibniz berpendapat bahwa tingkah laku tubuh manusia
diatur oleh hukum-hukum khusus yang disebut sebagai hukum-hukum mekanika.
Dikatakannya bahwa tingkah laku tubuh manusia sama mekanisnya dengan tingkah laku
tubuh hewan lainnya; misalnya pada refleks-refleks, proses penyerapan makanan ke
dalam tubuh, dan lain-lain. Demikian juga tingkah laku mental, menurut Leibniz, diatur
dengan hukum-hukum khusus yang dapat dipelajari dengan cara mempelajari tingkah-
tingkah laku atau proses-proses mental sebelumnya.
Metafisika Leibniz juga memusatkan perhatian pada substansi. Bagi Spinoza, alam
semesta ini mekanistis dan keseluruhannya bergantung pada sebab, sementara substansi
menurut Leibniz adalah hidup, dan setiap sesuatu terjadi untuk suatu tujuan. Penuntun
prinsip filsafat Leibniz ialah "prinsip akal yang mencukupi", yang secara sederhana dapat
dirumuskan "sesuatu harus mempunyai alasan". Bahkan, Tuhan juga harus mempunyai
alasan untuk setiap yang diciptakan-Nya. Kita lihat bahwa prinsip ini menuntun filsafat
Leibniz.
Jika Spinoza berpendapat bahwa hanya ada satu substansi; Leibniz malah
menyatakan kebalikannya dengan mengatakan bahwa substansi itu banyak. la menyebut
substansi-substansi itu monad (Tafsir, 1993:122). Setiap monad berbeda satu sama lain,
dan Tuhan (sesuatu yang supermonad dan satu-satunya monad yang tidak dicipta) adalah
Pencipta monadmonad itu. Karya Leibniz tentang ini diberi judul Monadology (studi
tentang monad) yang ditulisnya tahun 1714. Menurut Ahmad Tafsir (1993), ini adalah
singkatan metafisika Leibniz.
Berkenaan dengan, konsep materi dan kuantitas, Leibniz dalam disertasinya
mengutarakan dugaannya bahwa "materi" dan "kuantitas" sama saja. la menempatkan
materi dan roh pada taraf yang sama, berlainan dengan Descartes yang
mempertentangkan materi (substansi luasa) dengan jiwa (substansi berpikir). Secara
dinamis, Leibniz menggambarkan kenyataan yang, bila di pandang dari dalam, terdiri atas
unsur-unsur daya rohani (modane). Akan tetapi, kalau unsur-unsur itu didekati dari luar,
tampak sebagai materi dan keluasan. Konsep "kuantitas" ini makin menghampakan
konsep "materi", bahkan pengertian tentang ruang bukan "kosong" lagi, melainkan
dipersempit, disamakan dengan angka dan ukuran. Pendekatan ini mendekati apa yang
dalam filsafat modern disebut ".formalisasi". Dalam hubungan ini, Peursen (1991:68)
menandaskan. "Yang harus merupakan citacita bagi filsafat, yaitu mengadakan
formalisasi, lepas dari apa yang persis menjadi isinya".
Kecenderungan untuk mengadakan formalisasi, menurut Peursen, sebetulnya tidak
begitu formalistis seperti tampaknya. Formalisasi yang dipakai dalam logika, matematika,
dan ilmu statistik, dan seperti diterapkan dalam ilmu alam, biologi, dan sosiologi, dalam
pandangan Peursen, sebetulnya berharga sekali, khususnya untuk mencari pernyataan-
pemyataan yang secara umum dapat dikaitkan satu dengan yang lain. Bila berusaha agar
hal-hal menjadi makin jelas dalam jaringan intersubjektivitas, kita mengambil jarak
terhadap data konkret dan kita menampilkan kreativitas roh kita yang tidak mau
menggantang asap, melainkan mencari saling pengertian yang jelas, yang tidak kabur
(Peursen, 1991:69).
Hampir satu abad kemudian, yaitu pada awal abad ke-19, Hegel memberi komentar
terhadap ucapan Leibniz "Materi dan kuantitas, kata Hegel" memang sama, tetapi dengan
catatan: "kuantitas" ditentukan secara murni oleh daya pikir, sedangkan "materi"
mertapakan kegiatan daya pikir menurut bentuk eksistensinya yang lahiriah. Bagi Hegel,
ahli pikir yang menganut paham idealisme, "materi" hendaklah diselami sebagai salah satu
kegiatan rohani menurut penampilan lahiriahnya. Konsep "materi" adalah hasil dari roh
yang menjauhkan diri dari dirinya sendiri.
Leibniz, yang mengutarakan ungkapan bahwa "Inilah yang terbaik bagi segenap dunia
yang mungkin" tampaknya memang seorang tokoh yang sangat lain dari Descartes.
Betrand Russell melukiskannya sebagai seorang yang "santai dan tidak begitu bergairah"
(Russel, 1988:124). la, kata Russell, adalah seorang ahli, bukan amatir. Untuk nafkahnya,
ia menulis sejarah keturunan Kerajaan Hanover, dan reputasinya dikenal melalui filsafat
yang buruk. la juga menulis filsafat yang baik, tetapi ia berhati-hati agar tidak diterbitkan
sebab menurut Russell, bisa melenyapkan tunjangan yang diterimanya dari banyak
pangeran. Salah satu karya populernya yang terpenting, yakni Theodicee, ditulisnya untuk
Ratu Sophie Charlotte dari Prussia (putri dari Electress Sophia), sebagai obat penawar
dari skeptisisme dalam Dictionary karya Boyle. Dalam karya tersebut, ia memulai dengan
gaya otentik Dr. Pangloss dari Voltaire, dasardasar bagi optimisme.
Leibniz berpendapat, banyak dunia yang secara logis mungkin, dan semua itu bisa
saja diciptakan oleh. Tuhan; bahwa beberapa di antaranya tidak disertai oleh dosa
maupun penderitaan; dan bahwa dalam dunia aktual ini, jumlah orang yang terkutuk jauh
lebih banyak daripada jumlah orang yang selamat. Tapi,. ia beranggapan bahwa dunia-
dunia tanpa kejahatan mengandung kebaikan yang jauh lebih sedikit dibanding dengan
dunia kita yang telah dipilih untuk diciptakan Tuhan. Leibniz dan Ratu SQphie Charlotte,
yang tidak merasa diri mereka termasuk di antara yang terkutuk, tampaknya memandang
optimisme seperti ini memuaskan.
Di balik segenap kedangkalan ini, menurut Russell, terdapat persoalan yang lebih
dalam lagi, ketika Leibniz berjuang sepanjang hidupnya. la ingin melepaskan diri dari
ketatnya keniscayaan yang menandai dunia kaum determinis, tanpa menyempitkan bidang
logika. Menurut pendapat Leibniz, dunia yang sesungguhnya berisi kemauan bebas.
Dalam hubungan dengan kebebasan ini, ia mengatakan, "Kita semakin bebas, semakin
kita bertindak bertanggung jawab, dan kita semakin diperbudak, semakin kita dikendalikan
oleh nafsu-nafsu kita" (Puntsch, 1996:7).
Menurut Leibniz, dunia seperti adanya, tidak mungkin menjadi lebih baik dari
keadaannya sekarang. Hal itu disebabkan kebijakan, kebaikan, dan kemahakuasaan
Tuhan telah mengharuskan Dia untuk menciptakan dunia ini sebagai yang terbaik dari
antara semua dunia yang mungkin dicipta.

6. Psikologi George Berkeley (1685 - 1753 M)


George Berkeley, banyak disebut-sebut sebagai Bapak Idealisme Modem. la juga
dijuluki sebagai immaterialis dan idealis. Berkeley yang lahir di Irlandia itu adalah seorang
yang sangat pandai. Dalam usianya yang relatif masih sangat muda (15 tahun), ia sudah
masuk perguruan tinggi, yaitu Trinity College di Inggris. Pada 1724, ia menjadi Dekan
Derry; pada 1734, menjadi Uskup Cloyme. Sebagian karya filsafat Berkeley yang
termasyhur adalah Essays Towards a New Theory of Vision (1709); A Treatise Concerning
the Principles of Human Knowledge (1710) ; Discourse on Passive Obedience (1711) ;
Three Dialogues Between Hyles dan Philonous (1713); De Motu (1721); Alciphron, or the
Minute Philosopher (1732).; dan Siris (1744).
Berkeley mendirikan sebuah sekolah di Bermuda. Selama tiga tahun tinggal di
Newport, Kepulauan Rhode. Di sana ia berupaya mengumpulkan dana bagi sekolahnya di
Bermuda. Setelah gagal, ia berangkat ke Inggris.
Berkeley dipandang sebagai salah satu dari tiga empiris Inggris (Locke, Berkeley,
Hume) sebagai lawan dari Continental Rationalist (Descartes, Spinoza, Leibniz).
Dalam teori Spinoza, substansi dilahirkan, tetapi dalam filsafat Kant konsep substansi
dikaitkan kembali dengan daya pikir manusia (Peursen, 1991:79). Dalam filsafat Berkeley,
baik substansi maupun daya pikir manusia, tidak dianggap sebagai sesuatu yang bersifat
ilahi. Juga gagasan akan sebuah substansi yang tak dapat dikenal, ditolaknya mentah-
mentah. Segala sesuatu yang ada mempunyai sifat relasional, kait-mengait, dan Berkeley
berusaha menguraikannya dalam arti rohani.
Berkeley, seorang ahli pikir yang berasal dari Irlandia ini, dalam banyak hal sebetulnya
senafas dengan kaum empiris Inggris. Namun, pada tahun 1705, ia bersama beberapa
kawannya yang ahli dalam filsafat, mendirikan sebuah perkumpulan yang bertujuan
menentang pandangan-pandangan John Locke. Berkeley, seperti juga halnya dengan
Descartes, tidak mau dipengaruhi oleh tradisi-tradisi dan asasnya adalah menentang
"matter" (benda). ~Dikatakannya bahwa "matter" bukanlah suatu realitas (kenyataan),
karena yang riil atau yang nyata adalah apa yang ada pada kegiatan jiwa (mind) kin saja.
Selanjutnya, dikatakannya bahwa ide adalah sesuatu yang mutlak, yang tidak dapat kita
sangsikan lagi (Dirgagunarsa, 1996:23).
Filsafat Berkeley dianggap sebagai titik tolak bagi tendensi idealistik atau tendensi
konseptual pada abad-abad terakhir filsafat. Inti idealisme dalam dokti7n Berkeley dapat
dipadatkan dalam ucapannya yang sangat terkenal "Esse est Percipi" (yang ada adalah
untuk dipersepsi). Inilah sebuah trase uf Berkeley yang merupakan landasan filsafatnya.
Pandangan ini mengisy a an bahwa sesuatu yang ada haruslah untuk dipersepsi atau
terlibat dal m per uatan memersepsi. Berkeley menyebut hal-hal yang dapat dipersepsi
ebagai sesuatu yang dapat diindrai atau kualitas-kualitas yang dapat diindrai; terkadang ia
menyebutnya ide-ide atau sensasi-sensasi. Contoh: rasa sakit, senang, gatal, warna,
suara, rasa, bau, bentuk-bentuk yang dapat diukur. Kualitas-kualitas yang dapat diindrai ini
ada sebagai produk-prod k pasif atau objek-objek pikiran (atau roh). Mereka tidak bisa
mengada jika tidak dipersepsi. Pikiran-pikiran merupakan wujud aktif yang berkehendak
dan memersepsi. Memersepsi adalah sebuah aktivitas. Yang ada hanyalah pikiran-pikiran
aktif bersama kualitas-kualitasnya yang dapat diindrai. Hanya karena dunia ini terus-
menerus dipersepsi oleh Tuhan, ia terus-menerus ada ketika manusia tidak
memersepsinya (Tule, ed., 1995:99).
Dalam pernyataannya Esse est Percipi, Berkeley menekankan bahwa semua yang
ada di luar manusia hanya ada sebagai persepsi (Alisjahhana, 1986:2). Dengan kata lain,
sesuatu tak mungkin dinyatakan ada selama sesuatu itu tidak mengetahui atau tidak
diketahui. Sesuatu yang mengetahui adalah jiwa, dan sesuatu yang diketahui adalah
konsepsi-konsepsi dan gagasan-gagasan yang berada dalam wilayah persepsi dan
pengetahuan indrawi. Dengan demikian, kita harus percaya adanya jiwa dan gagasan-
gagasan itu. Segala sesuatu yang berada di luar lingkup pengetahuan, yaitu segala
sesuatu yang objektif itu tidak ada karena tidak diketahui.
Berkeley mengakhiri pengembaraan filosofisnya dengan memperuntukkan bagi dirinya
sendiri dua realitas di samping pengetahuan. Salah satu dari realitas itu adalah pikiran
(mind, subjek yang mengetahui), dan yang kedua adalah Tuhan (realitas pencipta sensasi
kita). Teori tersebut, dalam pandangan Ash-Shadr (1993:75), sama sekali mengabaikan
persoalan pengetahuan manusia dan studi objektif atas nilai pengetahuan karena tidak
mengakui objektivitas pikiran (akal) dan pengetahuan, atau eksistensi sesuatu di luar
batas keduanya.
Menurut Ash-Shadr, konsep idealisme Berkeley mengandung kekaburan yang
memungkinkan untuk diberi berbagai penafsiran yang berbeda-beda dalam tingkatan
idealismenya dan kedalaman tendensi konseptualnya. Kita mengambil arti yang paling
idealistik, yaitu arti yang benar-benar idealistik yang tidak mengakui apa pun, selain
eksistensi jiwa yang mengetahui dan persepsi-persepsi indrawi yang berturut-turut di
dalam jiwa. Arti (idealisme murni) inilah yang terkenal sekali di antara pernyataan-
pernyataan filosofisnya, yang juga sesuai dengan dalil-dalil. Dengan dalil-dalil itu, ia
berusaha menegaskan konsep idealismenya. Dalil-dalil atas konsep ini dapat dirangkum
sebagai berikut (Ash-Shadr, 1993:82).
Dalil pertama adalah semua pengetahuan manusia berdasarkan dan berasal dari
indra. Jadi, indra adalah prinsip pokok pengetahuan. Dalil kedua adalah memercayai
adanya sesuatu di luar jiwa dan konsepsi kita, bertumpu pada fakta bahwa kita melihat
dan merabanya - yakni kita memercayai adanya sesuatu karena ia memberi~an kepada
kita persepsi indrawi tertentu. Akan tetapi, persepsi indrawi kita hanyalah pikiran-pikiran
yang dikandung jiwa kita. Jadi, sesuatu yang dipersepsikan oleh indra kita tidak lain
adalah pikiran, dan pikiran itu tidak mungkin berada di luar jiwa kita. Dalil ketiga, jika
kognisi dan pengetahuan manusia mempunyai kemampuan mengungkapkan secara
esensial apa yang ada di balik kognisi dan pengetahuan itu, setiap pengetahuan dan
kognisi itu benar, karena pada tak dan esensialnya, ia memang mampu
mengungkapkannya; dan sesuatu lak dapat tidak, memiliki sifatnya yang esensial. Dalil
keempat, jika pengetahuan tashdiqi dapat salah, dan jika pengungkapan esesialnya tidak
melindunginya dari kesalahan tersebut, mengapa semua pengetahuan tashdiqi a tidak
boleh salah? Bagaimana kita dapat memercayai pengungkapan esensial pengetahuan,
kalau pengungkapan seperti itu adalah sifat niscaya pengetahuan, ketika salah maupun
benar?
Apa yang dimaksud pengetahuan tashdiqi, seperti yang terangkum pada Berkeley
yang keempat, adalah penilaian jiwa mengenai adanya suatu realitas tertentu di balik
konsepsi, seperti dalam ungkapan kita: "Garis lurus ialah jarak paling pendek antara dua
titik." Penilaian ini berarti kita yakin hanya suatu realitas di balik konsepsi kita tentang garis
lurus, titik, dan jarak. Karena itu, hal ini sangat berbeda dengan berbagai konsepsi murni
sh-Shadr, 1993:79).
Jika benar-benar memperhatikan dalil-dalil Berkeley, menurut Ash-Shadr, kita terpaksa
mengakui hal-hal berikut: pertama, mengakui kontradiksi yang di atasnya dalil pertama
didasarkan. Kalau dimungkinkan, dalam pandangan Ash-hadr, tentu lndrawi dapat
disimpulkan bahwa prinsip ini tidak kausalitas dan keniscayaan. Jika ia menolak prinsip ini
dalil ini tidak ada gunanya. Sebab, orang mendasarkan dalilnya pada pendapatnya, hanya
karena ia percaya bahwa dalil adalah sebab niscaya tersebut. Apabila ia tidak memercayai
prinsip kausalitas dan keniscayaan, boleh saja dalil itu benar, tetapi, ia tetap dapat
membuktikan melalui dalilnya mengenai pendapat tersebut (As-Shadar, 1993:82).
Akhirnya, kembali pada pembicaran Berkeley mengenai substansi materi. Substansi
materi, menurut Berkeley, hanyalah sekumpulan fenomena yang tersusun secara artifisial
dalam pikirannya. Demikian pula jiwa. Ia tidak lain hanyalah sekumpulan fenomena batin
dan hubungan-hubungannya. Tidak lah membuktikan “aku” (diri) dengan kesadaran,
karena ketika saya menembus ke jantung dari apa yang saya memberi nama “aku” tiba-
tiba saya mendapat fenomena tertentu. Nah menurut Berkeley, jika semua pengetahuan
lenyap, tak ada lagi sesuatu pun yang dapat diberi nama “aku”.

7. Psikologi David Hume (1711-1776 M)


Filsuf Skotlandia ini lahir di Edinburgh dan belajar di Edinburgh Univers ty.
Ucapannya yang terkenal adalah "Be a philosopher; but amidst all losophies, be still a
man (jadilah seorang filsuf, namun berfilsafat anda harus tetap seorang manusuia).
Robert C. Solomon (1981) menyebut Hume sebagai ultimateskeptic, skeptis tingkat
tertinggi. Menurut Bertrand Russell, yang tidak bisa diragukan lagi pada Hume ialah ia
seorang skeptis (Solomon, 1981:127). Kant mengatakan bahwa Hume adalah orang yang
membangkitkannya dari "keterlenaan dogmatis"-nya (Tule, 1995:140). Memang, orang
Jerman pertama yang menaruh perhatian pada Hume adalah Emmanuel Kant, yang
hingga usia empat puluh lima tahun sudah puas dengan tradisi dogmatis yang
diperolehnya dari Leibniz. Kemudian, seperti dikatakannya sendiri, Hume
"membangkitkannya dari lelap dogmatisnya". Setelah merenungkannya selama dua belas
tahun, ia pun menulis karya besarnya, Critique of Pure Reason. Tujuh tahun kemudian,
pada usia enam puluh empat, ia menyelesaikan Critique of Practical Reason, ketika ia
kembali pada lelap dogmatisnya setelah hampir dua puluh tahun tak pernah tidur lelap.
Hasrat mendasarnya ada dua, yaitu menghendaki kepastian atau suatu rutin dan ingin
memercayai ketentuan-ketentuan moral yang telah diketahuinya semenjak bayi. Hume
mengejutkan dalam dua hitungan itu, sebab ia menyatakan takkan percaya pada kaum
kausalitas, dan ia meragukan adanya hidup di hari kemudian, sehingga orang-orang baik
tidak bisa merasa pasti tentang adanya ganjaran di surga.
Tema sentral filsafat Hume pada intinya adalah pengalaman terdiri atas kesan dan ide.
Ada prinsip-prinsip tertentu yang memandu kita dalam mengasosiasi ide-ide, yaitu
persamaan (resemblance), penghampiran (contiguity), serta sebab dan akibat.
Pengalaman menghasilkan pada diri kita kebiasaan (custom), yang bertanggung jawab
menghubungkan dua peristiwa suksesif secara kausal. la membuat pembedaan penting
antara hal-hal faktual dan hubungan ide-ide. Hanya yang terakhirlah yang melibatkan
keniscayaan. Tulisan-tulisan utamanya: Treatise on Human Nature, Enquiry Concerning
Human Understanding, Enquiry Concerning the Principles of Morals, History of England,
dan Dialogue Concerning Natural Religion.
Buku Hume, Treatise of Human Nature (1739), ditulisnya sewaktu ia masih sangat
muda, yaitu tatkala berusia dua puluh tahunan. Buku tersebut tidak banyak menarik
perhatian orang sehingga Hume pindah ke subjek lain, kemudian menjadi seorang yang
terkenal sebagai sejarawan.
Pada tahuh 1748, Hume menulis buku yang terkenal, Enquiry Concerning Human
Understanding. Baik buku Treatise maupun buku Enquiry, kedua-duanya menggunakan
metode empirisme, sama dengan John Locke. Apabila Locke hanya sampai pada ide
kabur yang tidak jelas berbasis pada sensasi (khususnya tentang substansi dan Tuhan),
Hume, dalam pandangan Ahmad Tafsir, lebih kejam. Dalam salah satu bab, ia menulis
sebagai berikut:
Bila kita membuka buku di perpustakaan, membaca prinsip-prinsip yang diajarkan oleh
empiris, malapetaka apa yang kita lakukan? Bila kita membaca satu jilid buku
metafisika, apakah ia ada menyebutkan sesuatu tentang kuantitas? Tidak. Apakah
buku itu berisi uraian tentang eksperimen tentang materi nyata? Tidak. Buang saja,
buku itu tidak berisi apa-apa selain kebimbangan dan ilusi (Tafsir, 1993:14-2)

Di sini, kita melihat Hume mengukur kebenaran dengan pengalaman sebagai alat ukur.
Banyak filsuf sebelumnya yang memercayai reason (akal) dan atau memercayai juga
pengalaman. Menurut Hume, kedua-duanya berbahaya (Tafsir, 1993 : 142).
Hume, menurut Ash-Shadr, tampaknya lebih akurat ketimbang filsuf lainnya dalam
menerapkan teori empirikal. la mendefinisikan bahwa kausalitas, dalam arti sebenarnya,
mungkin diketahui oleh indra. Karena itu, ia mengingkari prinsip kausalitas dan
mengembalikannya pada "kebiasaan pengasosiasian ide-ide" (Ash-Shadr, 1993:34).
Yang kita amati, menurut Hume, hanya dua peristiwa yang salah satunya terjadi
sesudah yang lain. Jelasnya, empirisme Hume yang condong kepada postivisme
menyangkal set bentuk kausalitas, karena pengalaman indrawi hanya mencatat bahwa
kejadian yang satu terjadi sesudah yang lain (bola bilyar bergelinding, menyentuh bola lain,
berhenti; bola lain mulai bergelinding); dan bahwa gerak yang satu disebabkan gerak yang
lain hanya berdasarkan pendapat manusia yang mengasosiasikan dua peristiwa yang dulu,
biasanya juga terjadi bersamaan. Akan tetapi, jalan pikiran Hume ini berdasarkan sebuah
pengertian abstrak tentang pengamatan kita. Bila mengamati sesuatu, kita tidak hanya
mengonstatir bahwa yang satu terjadi sesudah yang lain. Kita melihat bahwa bola bilyar
bergelindihg karena disentuh oleh bola yang lain. Baru kemudian, bila dengan kepala
dingin, ia me hitung-hitung apa yang terjadi, ia dapat membatasi pengalaman tadi,
mengatakan, bahwa dua gejala terjadi dan gejala yang satu terjadi ,sesudah yang lain.
David Hume menafsirkan bahwa "unsur niscaya" dalam hukum kausalitas itu
disebabkan oleh watak proses rasional yang digunakan untuk mencapai hukum tersebut. la
mengatakan bahwa jika salah satu proses pikiran digunakan untuk memperoleh hukum ini
dan selalu menyebabkan adanya proses pikiran yang lain yang segera mengikutinya,
berkembanglah dua proses tersebut, dengan berlalunya masa, ikatan yang kuat dan
permanen, yang kita namakan "ikatan sosiasi gagasan". Asosiasi Itu diikuti sejenis
keniscayaan rasional sedemikian, sehingga gagasan yang berhubungan dengan salah
satu proses mental tadi - begitu pula dengan gagasan yang berhubungan dengan proses
yang lain - mewujud dalam pikiran.
Ash-Shadr (1993) dengan tegas menolak doktrin empirikal seperti yang dinyatakan
Hume didasarkan atas berbagai sebab. Satu di antara sebab-sebab itu antara lain bahwa
sering terjadi asosiasi antara dua hal tanpa meyakini bahwa yang satu merupakan sebab
bagi yang lain. Menurut Shadr (1993:46), kalau David Hume dapat menjelaskan sebab
dan akibat sebagai dua peristiwa yang sering kita lihat keberiringannya, sehingga di antara
keduanya itu terjadi hubungan asosiasi,gagasan-gagasan di dalam benak, tentu malam
dan siang juga demikian. Jadi, kata Shadr, seperti panas dan mendidih, adalah dua
peristiwa yang beriringan, sehingga di antara keduanya itu berkembang hubungan
asosiasi, dan demikian pula dengan malam dan siang - keberiringan dan asosiasi
keduanya - padahal unsur-unsur kausalitas dan keniscayaan yang kita dapatkan antara
panas dan mendidih, menurut Shadr, tidak ada pada malam dan siang. Malam bukanlah
sebab bagi siang, dan siang bukanlah sebab bagi malam. Kalau begitu, dalam pandangan
Ash-Shadr, tidak mungkin menerangkan dua unsur tersebut dengan hanya berasosiasi
gagasan-gagasan, seperti dilakukan oleh Hume.
Dalam teorinya, bundle theory of the mind, Hume menyatakan bahwa pikiran "tak lebih
dari seberkas atau sekumpulan persepsi berbeda, yang bergantian satu sama lain dengan
kecepatan yang tak tercermati, serta berada dalam perubahan dan pergerakan terus-
menerus," Pikiran bukanlah sebuah substansi mental, tetapi semata-mata merupakan
seberkas pengalaman yang terjadi secara berurutan sejak lahir hingga mati. Seluruh
rangkaian tersebut membentuk kumpulan, dan kumpulan ini dapat dinamakan pikiran
(atau jiwa). Kejadian-kejadian dalam setiap kumpulan dihubungkan oleh ciri-ciri seperti (1)
keserupaan persepsi, (2) kedekatan pengalaman dalam waktu dan tempat, (3) keteraturan
urutan antarpersepsi, dan (4) memori. Jika unsur-unsur ini tidak ada, kita tidak bisa
dikatakan memiliki pikiran (atau diri). Pikiran tidak mengada sebagai sebuah entitas berdiri
sendiri terlepas dari ciri-ciri yang disebut di atas.
Berkenaan dengan konsep sensasi dan refleksi, pendapat Hume sebenarnya sekadar
melengkapi teori John Locke. Selain sensasi dan refleksi itu, menurut Hume, terdapat pula
unsur-unsur pengalaman lainnya, yaitu rasa (impression) dan ingatan (ideas), sehingga
kelangsungan di dalam jiwa orang itu dapat diuraikan dalam dasar unsur-unsurnya
sebanyak empat buah, yaitu (Gerungan, 1987: 10) : (1) impressions of sensations, contoh:
kenikmatan dari pengamatan sebuah mawar; (2) impressions of reflections, contoh:
kenikmatan dari pengamatan kesegaran badari kita; (3) ideas of sensations, contoh:
ingatan akan pengamatan sebuah mawar; dan (4) ideas of reflections, contoh: ingatan
akan rasa segar kesehatan badan kita.
Menyinggung kembali soal asosiasi, Hume menyebutkan tiga dalil asosiasi, yaitu (1)
asosiasi karena berdekatan dalam waktu dan ruang, (2) asosiasi karena persamaan arti,
dan (3) asosiasi karena sebab akibat.
Akhirnya, pada taraf perkembangan ini, psikologi (ilmu jiwa) masih merupakan cabang
dari filsafat, dan di masa sekarang, terdapat berbagai tafsiran mengenai psikologi
semacam itu. Pada umumnya, psikologi semacam itu masih dianggap pre-scientific, dan
belum bertaraf ilmu pengetahuan, karena merupakan pendapat dan anggapan yang belum
diketahui kebenarannya
secara empiris eksperimental. Baru pada permulaan abad ke-19, para sarjana mulai
mencurahkan perhatiannya pada cara-cara penelitian ilmiah yang lebih objektif, teliti, dan
lebih pasti, terutama karena timbulnya berbagai metode ilmiah yang baru, seperti
observasi yang teratur dan berbagai eksperimen yang eksakta menurut syarat tertentu
yang dapat menjamin hasil penelitian yang lebih pasti, dan pada lapangan psikologi pun
dimulai usaha-usaha penelitian secara bereksperimen.

8. Psikologi John Stuart Mill (1806 - 1873 M)


John Stuart Mill, lahir di London tahun 1806. Filsuf, ekonom, moralis Inggris ini adalah
putra James Mill, sejarawan, filsuf, dan psikolog. Karena latar belakang dan pendidikan
ayahnya ini, John Stuart Mill tertarik pada filsafat dan psikologi, sebagaimana terlihat
dalam bukunya, Logic (1843).
Ketika usianya baru 8 tahun, Mill telah membaca karya berbahasa Yunani Fables dari
Aesop, Anabasis dari Xenophon, seluruh karya Herodotus, enam dialog Plato, Diogenes
Laertius, dan lain-lain. Di usia ini pula, Mill mulai mempelajari bahasa Latin, geometri
Euclid, dan aljabar.
Beberapa karya utama Mill, antara lain, The System of Logic (2 jilid, 1843); Principles
of Political Economy (2 jilid 1848); On Liberty (1859); Utilitarianism (1861); An Examination
of Sir William Hamilton's Philosophy (1865); Subjection of Women (1869); dan
Autobiography (1873).
Selama abad ke-19, filsafat sosial di Inggris melewati berbagai tahap berikut. Tahap
pertama adalah radikalisme filosofis. Radikalisme ini biasanya dikaitkan dengan Jeremy
Benthadn (1748-1823) dan diungkapkan pada dasawarsa terakhir abad ke-18. Tahap
kedua adalah Benthamisme, yang sudah dimodifikasi, ditambahkan serta dikembangkan
oleh Mill. Akhirnya, tahap ketiga adalah filsafat politik idealis, yang muncul pada bagian
akhir abad ke-19 (Lanur, 1996:x).
Dasar Benthamisme adalah hedonisme psikologis. Yang dimaksud dengan hedonisme
adalah teori (dan praktik) yang mengajarkan bahwa setiap manusia menurut kodratnya
berusaha untuk mengajar kesenangan (pleasure) dan menghindari rasa sakit (pain).
Ajaran atau teori ini sebenarnya bukan sama sekali baru, seaab ajaran tersebut sudah
dikupas, antara lain oleh Epicurus, Claude Helvetius (1715-1771), dan David Hartley
(1705-1757).
Tak ada yang menyangkal bahwa Mill mulai dengan Benthamisme. Dia tidak pernah
menolak Benthamisme secara formal dan tetap mempertahankan unsur-unsurnya. Aspek
penting utilitarisme Mill ditemukan dalam gagasan-gagasan yang ditambahnya sendiri dan
yang menyimpang dari kerangka asli Jeremy Bentham sedemikian rupa, sehingga secara
tertentu mengubahnya secara radikal dan bahkan meninggalkannya. Hal ini tampak jelas,
terutama dalam karyanya, Utilitarianism. Di situ, Mill memperkenalkan gagasannya yang
paling penting, yakni perbedaan kualitatif intrinsik pelbagai macam kesenangan. Namun,
serentak juga ia menerima kenyataan bahwa beberapa jenis kesenangan lebih bernilai
dan lebih diinginkan daripada jenis kesenangan lainnya. Dan hal itu tidak bertentangan
dengan prinsip manfaat. Jadi, pentinglah untuk menilai kesenangan, baik atas dasar
kualitasnya maupun atas dasar kuantitasnya.
Mill mengacu pada suatu cita-cita mengenai manusia, tepatnya pada suatu gagasan
tentang apa dan bagaimana manusia itu seharusnya. Nyatanya, ia mengacu pada kodrat
manusia sebagai patokan untuk menentukan perbedaan kualitatif antara kegiatan-
kegiatan yang membawa kesenangan. Dia memang menekankan tindakan untuk
menyempurnakan dan memajukan kodrat manusia.
Selanjutnya, ia juga menekankan gagasan tentang individualitas, yang berarti
pengembangan diri pribadi. Dan yang dimaksudkan dengan itu lebih merupakan usaha
untuk mengintegrasikan semua daya dalam diri seseorang secara harmonis. Hal ini tidak
hanya diajarkan dalam karyanya, tetapi juga dan terutama dalam karyanya yang berjudul
On Liberty.
Salah satu ucapan Mill yang banyak diingat orang sampai sekarang adalah "The
liberty of individual must be thus far limited; he must not make himself a nuisance to other
people" (Kemerdekaan pribadi dengan demikian haruslah jauh dibatasi, hingga ia tidak
dapat membuat dirinya sendiri menjadi pengganggu bagi orang lain).
Dalam bukunya On Liberty, Mill juga mengatakan, "Umat manusia tidak luput dari
kesalahan. Kebenaran-kebenarannya pada umumnya hanya setengah benar. Oleh sebab
itu, kesatuan umat manusia, kalau bukan merupakan hasil suatu perbandingan yang
sempurna dan sebebas mungkin, bukan merupakan sesuatu yang diinginkan.
Keanekaragaman bukan suatu masalah, tetapi suatu nilai. Dan, sama seperti keberadaan
berbagai pendapat itu bermanfaat, juga bermanfaat bahwa terdapat berbagai percobaan
dalam cara kehidupan, bahwa berbagai jenis karakter diberi ruang gerak yang bebas,
kecuali kalau merugikan orang-orang secara praktis" (Puntsch, 1996 : 22).
Mill melihat bahwa kecenderungan umum manusia adalah untuk tidak bersabar dan
berlapang hati, sehingga acapkali ia selalu mendesakkan pendapatnya kepada orang lain.
Kecenderungan demikian menyebabkan Mill merasa perlu untuk merumuskan clan
sekaligus menunjukkan betapa penting dan fundamentalnya kebebasan menyatakan
pendapat. Katanya, Apabila seluruh umat manusia memiliki pendapat yang sama, dan
hanya satu yang berlainan, manusia yang lainnya tidak berhak untuk membungkam
pandangan orang yang satu ini, juga apabila orang satu ini memiliki kekuasaan, ia tidak
berhak membungkam seluruh umat manusia". Selanjutnya, demikian kata John Stuart Mill,
"membungkam pendapat yang tidak umum, bukan saja salah, juga dapat menghancurkan.
Sebab, tindakan ini mengandung arti merampas kesempatan orang lain untuk berkenalan
3engan buah pikirannya yang mungkin saja benar, ataupun setengah benar, sehingga
membungkam segala pertukaran pikiran berarti menganut anggapan bahwa kita selalu
benar."
Mill mempunyai teori khusus tentang tashdiq. Seperti sudah disinggung, pengetahuan
tashdiqi adalah "penilaian jiwa akan adanya realitas tertentu di balik konsepsi" (Ash-Shadr,
1993:79). Dengan teori khusus ini, Mill, juga filsuf empiris lain, mencoba menafsirkan
tashdiq dengan dua konsepsi terasosiasi. Pangkal tashdiq adalah hukum-hukum asosiasi
ide-ide. Isi jiwa tak lain hanyalah konsepsi tentang subjek dan konsepsi tentang predikat.
Namun, pada hakikatnya, asosiasi ide-ide itu berbeda dengan watak tashdiq. Terkadang ia
terealisasikan pada banyak lapangan yang tidak terdapat tashdiq. Misalnya, konsepsi
tentang tokoh-tokoh sejarah yang dipisahi oleh mitosmitos dengan pelbagai jenis heroisme
berkaitan dengan konsepsi tentang aksi-aksi heroik itu. Kedua konsepsi itu lalu
terasosiasikan. Padahal, kita kadang sama sekali tidak membenarkan legenda-legenda
tersebut. Jadi, tashdiq adalah unsur baru yang berbeda dengan konsepsi murni. Tidak
dibedakannya antara tashdiq dan tashawwur (konsepsi) dalam beberapa studi filsafat
modem mendatangkan sejumlah kesalahan, dan membuat beberapa filsuf mempelajari
persoalan bagaimana menjustifikasi pengetahuan dan persepsi tanpa membuat garis
pemisah (pembeda) antara tashawwur dan tashdiq. Dalam pandangan Ash-Shadr
(1993:26), teori Islam tentang pengetahuan memisahkan keduanya, dan menjelaskan
persoalan masing-masing dengan metode khusus.
Teori pengetahuan Mill adalah suatu bentuk fenomenalisme,. yang tema sentralnya
adalah materi merupakan kemungkinan permanen dari sensasi dan benda-benda (objek-
objek) harus dipandang sebagai eksistensi fenomenal.
Menyinggung ihwal teori Mill tentang "Mental Chemistry", Mill berpendapat bahwa
penguraian kesatuan mental dalam elemen-elemen (dikenal dengan istilah "reduction ad
absurdum") adalah tidak mungkin, karena elemen-elemen itu, setelah berpadu merupakan
kesatuan yang berupa jiwa atau mental, mempunyai sifa \tersendiri yang berbeda dari sifat
elemen-elemen air yang terdiri atas perpaduan antara oksigen dengan hidrogen, tetapi
tidak mempunyai sifat-sifat yang sama dengan kedua zat dasarnya itu.
Pendapat Jauh Stuart Mill vmen,genai komposisi mental ini berbeda dengan pendapat
ayahnya, James Mill. James Mill mengatakan bahwa jiwa (mental) merupakan komposisi
atau susunan yang tidak berbatas dari elemen-elemennya dan susunan itu dapat diuraikan
ke dalam elemenelemen dasarnya.
John Stuart Mill, seperti ahli-ahli terdahulu, juga banyak mempelajari persepsi dan ide
(Dirgagunarsa, 1996). Ia menerima pendapat para ahli sebelumnya bahwa persepsi dan
ide (idea) adalah elemen-elemen yang sistematis dari jiwa. Pelbagai elemen itu saling
dihubungkan satu dengan lainnya melalui asosiasi, sementara asosiasi itu berlakunya
mengikuti dua prinsip, yaitu similarity (kesamaan) dan contiguity (kedekatan).
Similarity adalah suatu keadaan ketika asosiasi terjadi karena suatu hal mempunyai
persamaan dengan satu hal lainnya, sehingga kedua hal itu saling dihubungkan; misalnya,
kalau seseorang teringat akan ibu, secara asosiatif ia akan teringat juga terhadap ayah,
karena baik ayah maupun ibu adalah orang tua. Contiguity ialah hubungan asosiasi yang
terjadi karena suatu hal berdekatan dengan hal lainnya, baik dalam pengertian ruang
maupun waktu; misalnya, kalau seseorang melihat meja, ia akan teringat pada kursi,
karena kedua benda itu biasanya selalu berdekatan (Dirgagunarsa, 1996: 25).
Selanjutnya, Mill menambahkan lagi dua prinsip yang mengatur asosiasi, yaitu
inseparability (tak terpisahkan) dan frequency (keseringan). Misalnya, jika melihat sebuah
sepeda tanpa roda, kita akan berasosiasi pada roda sepeda tersebut, karena sepeda dan
rodanya tidak pernah terpisahkan (inseparability). Demikian juga kalau kita sering sekali
melihat A berjalan bersama B (frequency), kalau pada suatu ketika kita melihat A berjalan
sendirian, kita akan teringat secara asosiatif kepada B.

B. Psikologi sebagai Ilmu yang Mandiri


Psikologi, dikukuhkan sebagai ilmu yang berdiri sendiri oleh Wilhelm Wundt dengan
didirikannya Laboratorium Psikologi pertama di dunia, di Leipzig, pada tahun 1879.
Sebelumnya, bibit-bibit psikologi sosial mulai tumbuh, yaitu ketika Lazarus & Steindhal
pada tahun 1860 mempelajari bahasa, tradisi, dan institusi masyarakat untuk menemukan
"jiwa umat manusia" (human mind) yang berbeda dari "jiwa individual" (Bonner, dalam
Sarwono, 1997:10).
Usaha Lazarus & Steindhal, yang sangat dipengaruhi oleh ilmu antropologi tersebut,
kemudian dikembangkan oleh Wundt sendiri, yang pada tahun 1880, mulai mempelajari
"Psikologi Rakyat" (Folk Psychology) dan menyejajarkannya dengan psikologi individual
dalam eksperimeneksperimennya. Eksperimen Wundt dalam bidang psikologi rakyat itu,
antara lain, untuk menemukan "proses mental yang lebih tinggi" (higher mental process)
dari kelompok atau rakyat, yang berbeda dari proses mental individual (Sarwono,
1977:11).
Yang diteliti dalam laboratorium psikologi tersebut, terutama mengenai gejala
pengamatan dan tanggapan manusia, seperti persepsi, reproduksi, mgatan, asosiasi, dan
fantasi. Tampak benar bahwa tokoh-tokoh psikologi eksperimental ini terutama meneliti
gejala-gejala yang termasuk Bewusztseinpsychologie, atau gejala-gejala psikis yang
berlangsung di dalam jiwa yang sadar bagi diri manusia itu, sesuai dengan rumusan
Descartes mengenai jiwa, yaitu bahwa ilmu jiwa (psikologi) adalah ilmu pengetahuan
mengenai gejala-gejala kesadaran manusia. Gejala-gejala jiwa "bawah sadar" belum
diperhatikannya (Gerungan, 1987:11-12).
Sebenarnya, Gustav Theodor Fechner (1807-1887) merupakan pemula dari psikologi
eksperimental (Dirgagunarsa, 1996:32). la sudah melakukan eksperimen-eksperimennya
belasan tahun sebelum Wundt mendirikan laboratorium psikologi. Namun, karena pada
zaman Fechner, psikologi belum diakui sebagai ilmu yang berdiri sendiri, ia lebih dikenal
sebagai seorang Psychopyscian (dokter jiwa) ketimbang sebagai ahli psikologi.
Tokoh lain pada awal dijadikannya psikologi sebagai ilmu yang mandiri, selain
Fechner, adalah Herman Ludwig Ferdinand von Helmholtz (18211894). Helmholtz dikenal
sebagai seorang empiriskus dengan keahlian dalam ilmu faal, fisika, dan psikologi. la
dilahirkan di dekat Berlin di Potsdam. Ayahnya adalah seorang tentara yang kemudian
menjadi guru dalam mata pelajaran filsafat dan bahasa (filologi).
Sebagai empirikus, Helmholtz menentang apa yang disebut sebagai mentalism, dan
menurutnya psikologi, merupakan pengetahuan yang eksak dan banyak bergantung pada
matematika. Meskipun begitu, ia mengakui adanya naluri (instinct), walaupun masih
dianggapnya sebagai misteri yang belum terpecahkan. la pun mengakui bahwa hewan
mempunyai kepandaian khusus yang tidak dipengaruhi oleh pengalaman.
Beberapa penemuan penting dari Helmholtz yang perlu dicatat adalah (Dirgagunarsa,
1996:43): Tahun 1850, ia menghitung kecepatan jalannya impuls; tahun 1856, ia
mengemukakan bahwa semua warna sebenarnya berasal dari tiga warna dasar, yaitu
merah, hijau,, dan biru; tahun 1863, ia mengemukakan bahwa perbedaan suara yang
dapat kita dengar disebabkan adanya reseptor pada telinga bagian dalam (cochlea atau
rumah siput), dan reseptor ini disebut membrana basillaris. Selain itu, ia juga banyak
menyelidiki tentang pengamatan, kemudian ia mengemukakan suatu doktrin yang disebut
unconscious inference atau unbewusster suhluse, yaitu penyimpulan terhadap suatu
rangsang dipengaruhi oleh adanya; faktor-faktor yang tidak disadari. Apa yang masuk
dalam pengamatan kita,jkadang-kadang hanya samar atau mungkin hanya sebagian saja
yang mastik dalam lapangan pengamatan kita. Meskipun demikian, kita dapat mangamati
rangsang itu dengan jelas ataupun mengamati objek secara keseluruhan.
Sejak psikologi berdiri sendiri dengan menggunakan metode-metodenya sendiri dalam
pembuktian dan penyelidikannya, timbullah berbagai aliran psikologi yang bercorak
khusus. Adapun ciri-ciri khusus sebelum abad ke18, antara lain (Effendi & Praja, 1993:30):
(1) bersifat elementer, berdasarkan hukum-hukum sebab akibat;
(2) bersifat mekanis;
(3) bersifat sensualistis-intelektualistis (mementingkan pengetahuan dan daya
pikir) ;
(4) mementingkan kuantitas;
(5) hanya mencari hukum-hukum;
(6) gejala-gejala jiwa dipisahkan dari subjeknya;
(7) jiwa dipandang pasif; dan
(8) terlepas dari materi-materi.
Dengan mengetahui ciri-ciri khas dari psikologi kuno (berdasarkan filsafat dan ilmu
alam), kita dapat mengetahui ciri-ciri khas dari psikologi modern yang, antara lain, tampak
sebagai berikut (Effendi & Praja, 1993:30-31) :
1. bersifat totalitas;
2. bersifat teleologis (bertujuan);
3. vitalistis biologis (jiwa dipandang aktif dan bergerak dalam hidup manusia);
4. melakukan pendalaman dan penyelaman terhadap jiwa (verstehend);
5. berdasarkan nilai-nilai;
6. gejala-gejala jiwa dihubungkan dengan subjeknya;
7. memandang jiwa aktif dinamis;
8. mementingkan fungsi jiwa;
9. mementingkan mutu atau kualitas;
10. lebih mementingkan perasaan.
Dalam uraian yang lebih simpel, perbedaan antara psikologi lama (kuno) dan psikologi
modern, adalah sebagai berikut (Kasiram, 1983:10):
a) . Psikologi Lama (Kuno)
1. psikologinya adalah psikologi unsur, yaitu mendasarkan pandangan pada
elemen dan unsur-unsur yang berdiri sendiri dan diselidiki sendirisendiri;
2. dalam peninjauannya, mencari hukum sebab-akibat, hukum kausal, dan bersifat
mekanis;
3. meninjau kehidupan kejiwaan secara terpisah dari subjeknya, yaitu manusia.
Oleh karena itu, disebut kehidupan jiwa yang pasif.
b) Psikologi Modern
1. mendasarkan peninjauannya pada psikologi totalitas, yaitu berpangkal pada
keseluruhan psychophysis;
2. dalam meninjau kehidupan kejiwaan, melihat hubungan kejiwaan sebagai
bagian dari kehidupan manusia, sebagai kehidupan kejiwaan dari manusia
sebagai makhluk hidup yang mempunyai tujuan tertentu; jadi meninjau secara
teleologis;
3. -Psikologi dalam peninjauannya, selalu mendasarkan pada peninjauan
kehidupan kejiwaan dalam hubungannya dengan subjeknya, yaitu manusia.
Jadi, kehidupan kejiwaan yang aktif.
PsikoIogi lama diwakili, antara lain, oleh aliran-aliran psikologi fisiologis, psikologi
unsur, dan psikologi asosiasi, sedangkan psikologi modern, dengan otonominya sebagai
ilmu pengetahuan itu, antara lain diwakili oleh ilmu jiwa dalam (depthpsychology), psikologi
pikir, psikologi individual (personalistis), behaviorisme, psikologi Gestalt (Gestalt
Psychology), psikologi kepribadian, dan lain-lain (Kasiram, 1983:10; Effendi & Praj a,
1993:31).
Sementara itu, sebelum sampai pada psikologi eksperimental oleh Wilhelm Wundt,
terdapat dua teori yang mulai mengarahkan berdirinya psikologi sebagai ilmu. Kedua teori
itu adalah (Fauzi, 1997:23-24) berikut ini.

a) Psikologi Nativistik atau Psikologi Pembawaan


Teori ini mengatakan bahwa jiwa terdiri atas beberapa faktor yang dibawa sejak lahir,
yang disebut pembawaan atau bakat. Pembawaan yang terpenting adalah pikiran,
perasaan, ,kehendak; yang masing-masing terbagi lagi ke dalam beberapa jenis
pembawaan yang lebih kecil. Tingkah laku atau aktivitas jiwa ditentukan oleh pembawaan-
pembawaan ini. Tokoh terkenal dari aliran ini adalah Frans Joseph Gall (1785-1828), yang
mencoba menemukan lokasi pembawaan-pembawaan itu dalam otak. Dengan teori ini,
Gall mengajukan suatu metode untuk mengenal seseorang dengan memeriksa tengkorak
kepalanya. Metode ini dikenal dengan nama Frenologi. Namun, metode ini tidak bertahan
lama, karena dianggap kurang kuat dasar-dasar ilmiahnya.

b) Psikologi Asosiasi atau Psikologi Empirik


Di sini, tidak diketahui adanya faktor-faktor kejiwaan yang dibawa sejak lahir. Jiwa,
menurut teori ini, berisi ide-ide yang didapatkan melalui pancaindra dan saling
diasosiasikan satu sama lain, melalui prinsip-prinsip : (1) kesamaan; (2) kontras; dan (3) -
kelangsungan.
Tingkah laku diterangkan oleh teori ini melalui prinsip asosiasi ide-ide, misalnya:
seorang bayi yang lapar diberi makanan oleh ibunya. Melalui pancaindranya, bayi itu
mengetahui bahwa rasa lapar selalu diikuti oleh makanan (prinsip kelangsungan) dan
makanan itu menghilangkan rasa laparnya. Lama kelamaan rasa lapar diasosiasikan
dengan makanan, dan setiap kali ia lapar, ia mencari makanan.
Begitu pula halnya dengan pelbagai ide lain yang mempunyai persamaan (misalnya,
makan dengan minum, burung dengan kupu-kupu, kursi dengan bangku) atau yang saling
berlawanan (misalnya, siang dengan malam, pria dengan wanita, air dengan api) saling
diasosiasikan satu dengan yang lainnya, melalui prinsip asosiasi yang serupa (Sarwono,
1976:14; Fauzi, 1997:24).
Berkaitan dengan konsep asosiasi ini, Wundt mengakui bahwa dalam kelangsungan
pemikiran itu dapat terjadi proses asosiasi, yang hubungan erat antara dua tanggapan
menyebabkan terseretnya tanggapan yang satu oleh yang lain dalam pemikiran itu. Akan
tetapi, menurut Wundt, terjadinya asosiasi dalam pikiran itu bukan merupakan inti dari
pemikiran itu, seperti diterangkan oleh kaum Asosianis. Asosiasi mudah berlangsung
apabila kita secara pasif saja membiarkan tanggapan-tanggapan itu timbul-tenggelam
dalam pikiran kita, dengan ditentukan oleh dalil-dalil asosiasi. Namun, apabila terjadi
pemikiran yang sebenarnya, dalil-dalil asosiasi itulah yang menentukan jalan pikiran kita;
sedangkan tujuan berpikir dan keinginan kita untuk menyelesaikan tugas berpikir itu,
menentukan jalan kelangsungannya. Jadi, bukanlah dalil-dalil asosiasi yang menentukan
kelangsungan pemikiran, tetapi tujuan dan tugasnya dalam berpikir (Geritngan, 1987:12).
Akhirnya, menyinggung kembali tentang metode eksperimen, Wundt, yang pertama
kali memakai dan mendasarkan metode ini untuk psikologi secara ilmiah, menetapkan
beberapa syarat tertentu yang harus dipenuhi oleh eksperimen psikologi (Gerungan,
1987:45):
1. Kita harus menentukan dengan tepat waktu terjadi gejala yang ingin kita selidiki.
2. Kita harus mengikuti berlangsungnya gejala yang ingin kita selidiki dari mulanya
sampai akhirnya, dan kita harus mengamatinya dengan perhatian yang khusus.
3. Tiap-tiap, observasi (pengamatan) harus dapat kita ulangi dalam keadaan-
keadaan yang sama.
4. Kita harus mengubah-ubah dengan sengaja syarat-syarat keadaan eksperimen.
Metode eksperimen ini memang dimaksudkan untuk menimbulkan dengan sengaja
suatu gejala guna menyelidiki keberlangsungannya, dengan persiapan yang cukup dan
perhatian yang khusus.
Sangat menarik apa yang dikemukakan oleh Henryk Misiak dan Virginia Staudt
Sexton (1988) bahwa pemisahan psikologi dari filsafat pada akhir abad ke-19 sebagai
syarat bagi kemandirian psikologi sebagai ilmu pengetahuan, yang disusul oleh orientasi
afilosofis, tidak bisa menghalangi filsafat - terutama fenomenologi dan eksistensialisme -
untuk memberikan pengaruhnya terhadap pemikiran dan metodologi psikologi.
Sementara, pada abad ke-19, filsafat empiris dan, pada taraf yang terendah, filsafat Kant,
menyajikan substruktur filosofis bagi psikologi. Pada abad ini, tidak ada gerakan filsafat
yang memberikan pengaruh yang lebih mendalam terhadap psikologi daripada
fenomenologi dan eksistensialisme.

C Aliran-Aliran Psikotogi
1. Strukturalisme (Structuralism)
Menurut Jean Piaget, strukturalisme itu sulit dikenali karena mencakup bentuk-
bentuk yang beragam sehingga sulit menampilkan sifat umum dan karena "struktur-
struktur" yang dirujuk memperoleh arti yang cenderung berbeda-beda (Piaget, 1995:1).
Struktur adalah sistem transformasi yang mengandung kaidah sebagai sistem
(sebagai lawan dari sifat unsur-unsur) dan yang melindungi diri atau memperkaya diri
melalui peran transformasi-transformasinya, tanpa keluar dari batas-batasnya atau
menyebabkan masuknya unsur-unsur luar. Dalam kaitan ini, Piaget menyebut tiga sifat
yang dicakup dalam sebuah struktur, yakni: totalitas, transformasi, dan pengaturan diri.
Sebuah struktur, kata Piaget, harus dilihat sebagai suatu totalitas. Meskipun terdiri
atas sejumlah unsur, struktur unsur-unsur itu berkaitan satu sama lain dalam sebuah
kesatuan. Dilihat secara hierarkis, sebuah struktur terdiri atas sejumlah substruktur yang
terikat oleh struktur yang lebih besar. Dengan demikian, pengertian struktur tidak terbatas
pada konsep terstruktur (structure), tetapi sekaligus juga mencakup pengertian proses
menstruktur (structurant). Pengertian transformasi pada dasarnya sejalan dengan konsep
tata bahasa generatif-transformasional Chomsky. Sifat yang dinamis ini berkaitan dengan
kaidah otoregulasi yang ada pada sebuah struktur.
Struktur adalah sebuah bangunan yang terdiri atas berbagai unsur yang satu sama
lain berkaitan. Dengan demikian, setiap perubahan yang terjadi pada sebuah unsur
struktur akan mengakibatkan perubahan hubungan antarunsur tersebut. Jadi, hubungan
antarunsur akan mengatur sendiri bila ada unsur yang berubah atau hilang. Inilah yang
dimaksud dengan pengaturan diri atau otoregulasi (Hoed, dalam Piaget, 1995:IX).
Pada pertengahan abad ke-19, yaitu pada awal berdirinya psikologi sebagai satu
disiplin ilmu yang mandiri, psikologi didominasi oleh gagasan serta usaha mempelajari
elemen-elemen dasar dari kehidupan mental orang dewasa normal, melalui penelitian
laboratorium dengan menggunakan metode introspeksi. Pada masa itu, tercatat satu
aliran psikologi yang disebut psikologi strukturalisme. Tokoh psikologi strukturalisme ini
adalah Wilhelm Wundt.
Wundt dan pengikut-pengikutnya disebut strukturalis karena mereka berpendapat
bahwa pengalaman mental yang kompleks itu sebenarnya adalah "struktur" yang terdiri
atas keadaan-keadaan mental yang sederhana, seperti halnya persenyawaan-
persenyawaan kimiawi yang tersusun dari unsur-unsur kimiawi. Mereka bekerja atas
dasar premis bahwa bidang usaha psikologi itu, terutama, adalah menyelidiki "struktur"
kesadaran dan mengembangkan hukum-hukum pembentukannya. Pendekatan mereka
yang terutama ialah dengan analisis introspektif (Mahmud, 1990: 14).
Seperti tercermin dalam namanya, aliran ini berpendapat bahwa untuk mempelajari
gejala kejiwaan, kita harus mempelajari isi dan struktur kejiwaan. Kaum strukturalis, yang
dipelopori oleh Wundt, menggunakan metode introspeksi atau mawas diri, yaitu orang
yang menjalani percobaan diminta untuk menceritakan kembali pengalamannya atau
perasaannya setelah ia melakukan suatu eksperimen. Misalnya, kepada orang percobaan
ditunjukkan sebuah warna atau bentuk; setelah itu, ia diminta untuk mengatakan apakah
bentuk itu indah atau tidak indah, menarik atau tidak menarik, dan sebagainya. Karena
metode introspeksi ini, strukturalisme dapat juga disebut sebagai psikologi introspeksi
(introspective psychology).
Ciri-ciri dari psikologi strukturalisme Wundt adalah penekanannya pada analisis atas
proses kesadaran yang dipandang terdiri atas elemen-elemen dasar, serta usahanya
menemukan hukum-hukum yang membawahi hubungan antarelemen kesadaran
tersebut. Karena pandangannya yang elementalistik ini, psikologi strukturalisme disebut
juga psikologi elementalisme. Selain dipandang terdiri atas elemen-elemen dasar,
kesadaran, oleh Wundt dan oleh para ahli psikologi lainnya pada masa itu, dipandang
sebagai aspek yang utama dari kehidupan mental. Segala sesuatu atau proses yang
terjadi dalam diri manusia, selalu dianggap bersumber pada kesadaran (Engkoswara,
1991:27).
Strukturalisme merupakan aliran yang pertama dalam psikologi, karena pertama kali
dikemukakan oleh Wundt setelah ia melakukan eksperimen-eksperimennya di
laboratoriumnya di Leipzig. Sebagai tokoh yang pertama kali mempelajari psikologi
sebagai ilmu yang otonom atau mandiri, wajar jika Wundt pada masa itu ingin mengetahui
apa sesungguhnya gejala kejiwaan tersebut. Selanjutnya, bagaimana strukturnya? Terdiri
atas apa saja? Apakah elemen-elemen dari gejala kejiwaan tersebut? Dalam upaya
menjawab berbagai pertanyaan itu, Wundt sampai pada strukturalisme, karena ia percaya
bahwa gejala-gejala kejiwaan dapat dibagi-bagi dalam elemenelemen yang lebih kecil.
Hanya dengan menganalisis pelbagai elemen kejiwaan inilah, kita bisa mempelajari
gejala kejiwaan.
Psikologi memulai ketika fisiologi berhenti, demikian kata Ash-Shadr (1993 :262). la
membahas kehidupan mental dan proses-proses kejiwaannya. Dalam studi-studi
praktisnya, psikologi memakai dua prosedur pokok. Yang pertama adalah introspeksi,
yang dipakai banyak psikolog. Prosedur ini, menurut Ash-Shadr, terutama merupakan
tanda pembeda antara aliran introspeksionisme psikologis yang mengambil pengalaman
subjektif sebagai sarana bagi penelitian ilmiahnya, dan yang menyerukan perasaan
sebagai subjek psikolog. Yang kedua adalah pengalaman objektif. Prosedur ini pada
akhirnya menduduki posisi terpenting dalam psikologi eksperimen.
Tokoh strukturalisme lain adalah Edward Bradford Titchener (18671927). la adalah
seorang Inggris yang dilahirkan dari keluarga yang tidak berada. la harus betul-betul
menggantungkan diri pada kecerdasannya untuk memperoleh berbagai beasiswa agar
dapat melanjutkan studinya.
Titchener, seperti ditulis Dirgagunarsa (1982:49), merupakan orang Inggris yang
mewakili pandangan-pandangan psikologi Jerman (Wundt) di Amerika Serikat. Bersama-
sama Kulpe, ia belajar pada Wundt di Leipzig, setelah ia menamatkan palajaran filsafatnya
di Oxford, Inggris. Akan tetapi, Kulpe kemudian menjadi lebih cenderung pada cara
pendekatan yang bersifat filsafat clan menentang ajaran-ajaran Wundt yang bersifat
eksperimental dengan mendirikan sekolah di Wurzburg. Titchener, di lain pihak, menjadi
lebih eksperimenal, dan sebagai murid Wundt, ia menerjemahkan beberapa buku Wundt
dalam bahasa Inggris. Setelah belajar di Leipzig, Titchener ingin kembali ke Oxford,
namun ditolak, karena psikologi di Inggris tidak sejalan dengan paham-paham Wundt.
Oleh karena itu, ia pergi ke Cornell University di Amerika Serikat, dan sebagai guru
besar, ia mengembangkan strukturalisme di Amerika Serikat dari universitas tersebut.

2. Aliran Fungsionalisme (Functional Psychology)


Aliran psikologi ini merupakan reaksi terhadap strukturalisme.tentang keadaan-
keadaan mental. Jika para strukturalis bertanya "Apa kesadaran itu", para fungsionalis
bertanya "Untuk apa kesadaran itu". Apa tujuan dan fungsinya? Karena ingin mempelajari
cara orang menggunakan pengalaman mental untuk menyesuaikan diri terhadap
ngkungan sekitar, mereka disebut fungsionalis.
Fungsionalisme adalah suatu tendensi dalam psikologi ya g menyatakan bahwa
pikiran, proses mental, persepsi indrawi, dan emosi as :lah adaptasi organisme biologis
(Ash-Shadr, 1993:259-260). Drever (1988 menyebut fungsionalisme (functional
Psychology) sebagai suatu jenis psikologi yang menggarisbawahi fungsi-fungsi dan bukan
hanya fakta-fakta dari fenomena mental, atau berusaha menafsirkan fenomena mental
dalam kaitan dengan peranan yang dimainkannya dalam kehidupan organisme itu, dan
buka,n menggambarkan atau menganalisis fakta-fakta pengalaman atau kelakuan; atau
suatu psikologi yang mendekati masalah pokok dari sudut pandang yang dinamis, dan
bukan dari sudut pandang statis.
Apa pun rumusan tentang fungsionalisme, aliran psikologi ini pada intinya merupakan
doktrin bahwa proses atau keadaan sadar seperti kehendak bebas, berpikir, beremosi,
memersepsi, dan mengindrai adalah aktivitas=aktivitas atau operasi-operasi dari sebuah
organisme dalam kesalinghubungan fisik dengan sebuah lingkungan fisik dan tidak dapat
diberi eksistensi yang penting. Aktivitas ini memudahkan kontrol organisme, daya tahan
hidup, adaptasi, keterikatan atau penarikan diri, pengenalan, pengarahan, dan lain-lain.
Seluruh organisme dapat dianalisis sebagai sebuah sistem umpan batik dan stimulus
respons.
Fungsionalisme, merupakan paham yang tumbuh di Amerika Serikat dengan sifat-
sifat'bangsa Amerika yang serbapraktis dan pragmatis. Strukturalisme,, di lain pihak,
tumbuh di Jerman, di tengah-tengah bangsa yang terkenal dengan keahliannya dalam
berfilsafat dan berteori. Dengan sendirinya, perbedaan latar belakang ini menimbulkan
pula berbagai perbedaan dalam pandangan antara kedua aliran ini (Dirgagunarsa,
1996:56).
Perbedaan pertama, terletak pada cara pendekatannya, Strukturalisme mendekati
suatu gejala psikis secara struktural; artinya, pengalamanpengalaman kesadaran
dianalisis dalam unsur-unsurnya. Pertanyaan yang timbul dalam menghadapi suatu
tingkah laku adalah "Apa unsur-unsurnya dan bagaimana unsur-unsur ini bergabung?"
Fungsionalisme, di lain pihak,, mendekati suatu gejala psikis secara fungsional.
Pengalaman kesadaran dilihat dalam hubungan dengan fungsinya untuk hidup dan
fungsinya untuk menyesuaikan diri, baik secara psikis maupun secara sosial. Pertanyaan
yang muncul dalam menghadapi tingkah laku adalah "Mengapa dan buat apa suatu
tingkah laku itu diperbuat orang?"
Perbedaan kedua, adalah strukturalisme memperhatikan isi jiwa seseorang,
sedangkan fungsionalisme lebih menitikberatkan aksi dari seseorang.
Perbedaan ketiga, kalau strukturalisme beranggapan bahwa jiwa seseorang
merupakan penggabungan berbagai pengalaman kesadaran, fungsionalisme
beranggapan bahwa jiwa seseorang diperlukan untuk melangsungkan kehidupan dan
berfungsi untuk penyesuaian diri.
Yang menjadi minat aliran fungsionalisme adalah tujuan atau akhir dari suatu aktivitas.
Sesuai dengan namanya, fungsionalisme mempelajari `fungsi" dari tingkah laku dan
proses mental, tidak hanya mempelajari strukturnya. Tokoh aliran ini ialah William James,
James R. Angell, dan John Dewey.

a. William James (1842-1910)


James adalah filsuf dan psikolog Amerika yang lahir di New York City. la adalah
saudara novelis Henry James. William James menempuh pendidikannya di Harvard
University dan Harvard Medical College. Dia mengajar fisiologi, psikologi, dan filsafat di
Harvard.
Kegiatan James mengajarkan psikologi dan filsafat di Harvard selama akhir tahun
1870-an, tampaknya penting untuk kita catat, sebab kelak akan kelihatan pada masalah-
masalah apa saja ia tertarik, dan akan kelihatan pula bakat kreatifnya dalam
mengombinasikan psikologi dan filsafat.
Tahun 1878, ia mulai menulis bukunya yang terkenal, Principles of Psychology. Yang
harus kita catat pula adalah bahwa ia merupakan pionir dalam studi psikologi modern,
sebagaimana pula dalam filsafat. Ketika menerbitkan buku itu pada tahun 1890, ia telah
menjadi guru besar filsafat di Harvard. Selain itu, ia juga menulis karangan filsafat yang
berjudul The Sentiment of Rationality dan The Dilemma of Determinism. Dalam kedua
bukunya ini, sebagaimana juga dalam Principles-nya, tampak bahwa James telah
mengombinasikan psikologi dan filsafat. The Sentiment of Rationality, yang ditulis pada
tahun 1879, memperlihatkan psikologi memasuki filsafat.
Menurut James, psikologi tidak dapat membuktikan bebasnya kemauan. Bila psikologi
bekerja sama dengan determinisme, dapatlah ia melokalisasi suatu "pilihan bebas". Akan
tetapi, psikologi tidak dapat menggunakan konsep itu begitu saja, karena konsep itu
(determinisme) adalah hipotesis yang bekerja di belakang sains dan merupakan bagian
dari pengetahuan agama (Tafsir, 1993:168).
Karya-karya James yang lain adalah The Will to Believe and Other Essays in Popular
Philosophy (1897); kemudian Human Immorality (1898), The Varieties of Religious
Experience (1902), Pragmatism : a New Name fo Some Old Ways of Thinking (1907), A
Pluralistic Universe (1909), The Meaning of Truth: a Sequel to "Pragmatism" (1909),
Some,Problems of Philosophy: a Beginning of an Introduction to Philosophy (1911), dan
Essays in Radical Empiricism (1912).
Karya psikologinya yang dianggap pionir, yang terbit pada tahun 1890, Principles of
Psychology, berisi studi usaha mempelajari mind bukan dari pandangan teoretis,
melainkan dari pandangan aksi (action), atau hasil praktis yang dihasilkan dan
berhubungan dengan mind. Bukunya sangat laris. Dua tahun setelah penerbitannya, ia
membuat ringkasannya dengan judul Psychology: The Briefer Course. Karya ini beredar
lebih luas, dan digunakan sebagai buku teks di perguruan tinggi.
Selama tahun 1890-an, ia menerbitkan banyak tulisan yang bercorak pragmatis dan
karya psikologi yang memusatkan perhatian pada pahamnya itu. The Will to Believe and
Other Essays in Popular Philosophy, yang terbit pada tahun 1897, dengan jelas
memperlihatkan sifat humanistis dalam pemikirannya.
Sikap James menghadapi aliran strukturalisme, secara gamblang diuraikan Rita L.
Atkinson dan kawan-kawan dalam buku mereka Introduction to Psychology. William
James, tutur Atkinson, tidak sabar dengan keterbatasan perkembangan psikologi di bawah
strukturalisme. James merasa bahwa penekanan yang lebih kecil seharusnya diletakkan
pada pemahaman karakter persoalan yang cair dan mengalir. Minat utamanya adalah
meneliti bagaimana pikiran bekerja sehingga organisme dapat beradaptasi terhadap
lingkungannya. Karena James bertanya bagaimana fungsi kesadaran (terutama dalam
proses adaptif), pendekatan psikologinya dinamakan fungsionalisme. Tulisan James
tentang kebiasaan sebagai cara adaptasi membantu menentukan tahap psikologi yang
memasukkan proses belajar sebagai topik utama penelitian.
Dengan penekanan pada peran fungsional kesadaran, James merasa bahwa metode
introspeksi dari strukturalisme terlalu membatasi. Untuk mengetahui bagaimana
organisme beradaptasi dengan lingkungannya, pendukung fungsionalis berpendapat
bahwa data yang berasal dari introspeksi, harus dilengkapi oleh observasi perilaku aktual,
termasuk penelitian perilaku hewan dan perkembangan perilaku (psikologi
perkembangan). Jadi, fungsionalisme memperluas lingkup psikologi dengan mencakup
perilaku sebagai variabel dependen. Namun, bersama dengan strukturalisme,
fungsionalisme masih menganggap psikologi sebagai ilmu pengetahuan pengalaman
sadar dan metode penelitian utama sebagai introspeksi.

b. James Rowland Angell (1869 - 1449)


Angell (Dirgagunarsa, 1996:52-53) adalah murid William James, yang Fada tahun
1906 pernah menjabat Presiden "American Psychological Association".
Dalam papernya "The Province of Functional Psychology", ia ,menjelaskan tiga
macam pandangannya terhadap fungsionalisme:
1. Fungsionalisme adalah psikologi tentang mental operation sebagai lawan dari
psikologi tentang elemen-elemen mental (elementisme).
2. Fungsionalisme adalah psikologi tentang kegunaan dasar dari kesadaran, yang
jiwa merupakan perantara antara kebutuhan-kebutuhan organisme dan
lingkungannya, khususnya dalam keadaan "emergency" (teori "emergency" dari
kesadaran).
3. Fungsionalisme adalah psikofisik, yaitu psikologi tentang keseluruhan organisme
yang terdiri atas jiwa dan badan. Oleh karena itu, ia menyangkut juga hal-hal yang
di balik kesadaran, seperti kebiasaan, tingkah laku yang setengah disadari, dan
sebagainya.

c. John Dewey (1859-1952)


Pendidik, psikolog, ahli etika, dan filsuf Amerika ini dilahirkan dekat Burlington,
Vermont, tanggal 20 Oktober 1859. Dua puluh tahun kemudian, ia tamat dari Universitas
Vermont; kemudian mengajar di sekolah pemerintah di Pennsylvania dan Vermont. Karena
tertarik dengan masalah-masalah filsafat, ketika ia masih di tingkat sarjana satu, Dewey
melanjutkan pendidikan filsafatnya di Universitas Johns Hopkins. Tahun 1884, ia
mendapatkan gelar doktor filsafat dari universitas itu, dan tidak lama setelah itu, ia menjadi
tenaga pengajar filsafat di Universitas Michigan. Selain menjabat sebagai guru besar
filsafat di Universitas Minnesota selama setahun, Dewey tetap tinggal di Michigan -
bertugas sebagai ketua jurusan ilmu filsafat. Di Chicago-lah, Dewey memperoleh
pengakuan secara nasional karena karyanya yang bersifat perintis dalam bidang
pendidikan dengan mengembangkan sekolah lab-nya, saat ia menyelidiki pendekatan-
pendekatan eksperimental terhadap pendidikan.
Percikan permenungannya yang terkenal dalam bidang pendidikan, terangkai dalam
kata-kata:
I believe that:
 the school is primarily a social institution;
 education, therefore, is a process of living and not a preparation for future living;
 education is the fundamental method of social progress and reform;
 all education proceeds by the participation of the individual in the social
consciousness of the race;
 education is a regulation of the process of coming to share in the social
consciousness...

(Saya yakin bahwa:


sekolah terutama adalah lembaga sosial;
 oleh karena itu, sekolah adalah suatu proses hidup dan bukan suatu persiapan
untuk hidup yang akan datang;
 pendidikan adalah metode fundamental dari kemajuan dan pembaruan sosial;
 seluruh pendidikan mulai dengan partisipasi individu dalam kesadaran sosial dari
ras manusia;
 pendidikan adalah peraturan dari proses untuk sampai pada partisipasi dalam
kesadaran sosial itu...).
Setelah berbeda pendapat derigan Universitas Chicago mengenai cara mengelola
pendidikan itu, Dewey keluar tahun 1904, dan menerima jabatan sebagai guru besar
filsafat di Universitas Columbia.
Selama dua puluh enam tahun berikutnya, posisi akademis Dewey di Columbia telah
menjadi batu loncatan baginya untuk berbagai perhatiannya yang beragam - misalnya,
masalah-masalah sosial, politik, pendidikan, dan masalah umum - reputasi nasional dan
internasionalnya telah menjadikannya bekerja dengan kelompok-kelompok.; antara lain,
Asosiasi Filsafat Amerika (American Association of University Professors) (pendiri dan
ketuanya yang pertama), Persatuan Guru (Teacher's Union), dan Persatuan Kebebasan
Sipil Amerika (American Civil Liberties Union).
Sebagai seorang ahli filsafat, pandangan-pandangan psikologi Dewey banyak
dipengaruhi oleh filsafat. la merupakan orang pertama yang menulis buku karangan asli
mengenai psikologi dalam bahasa Inggris (bukan terjemahan dari bahasa Jerman).
Publikasinya berjudul Psychology (1886), dianggap sebagai tulisan pertama yang
memperkenalkan aliran fungsionalisme di Amerika Serikat.
Pandangan filsafatnya adalah, "Manusia yang berpikir selalu berpikir tentang
perubahan". Ia menentang pendapat bahwa manusia sebaiknya pasif dan membiarkan
segala sesuatu di sekitarnya sebagaimana adanya.
Perubahan itu penting sehingga ia menjadi seorang pragmatis dan akhirnya menjadi
fungsionalis. Dalam bidang pendidikan, Dewey terkenal dengan teorinya "Learning by
doing", belajar sambil melakukan sesuatu.
Karya-karya Dewey yang diterbitkan, di antaranya ; Leibniz's Essays Concerning the
Human Understanding (1888); Outlines of a Critical Theory of Ethics (1891); The
Significance of the Problem of Knowledge (1897); Logical Condition of a Scientific
Treatment of Morality (1903); The School and the Child (1907); The Influence of Darwin on
Philosophy (1910); The School and the Society (1915); Creative Intelligence (1917);
Human Nature and Conduct (1922); dan The Quest for Certainty (1929).
Akhirnya, yang penting untuk digarisbawahi di sini adalah bahwa baik aliran
strukturalisme maupun fungsionalisme, keduanya memiliki peranan penting dalam
perkembangan psikologi awal. Karena masing-masing sudut pandang memberikan
pendekatan terhadap psikologi, dua aliran itu dianggap sebagai aliran psikologi yang
berkompetisi. Saat psikologi kian berkembang, bidang lain juga berkembang. Pada tahun
1920, strukturalisme dan fungsionalisme digantikan oleh tiga aliran yang lebih baru, yakni
psikoanalisis, psikologi Gestalt, dan behaviorisme.

3. Aliran Psikoanalisis
Lahirnya aliran psikoanalisis dalam dunia psikologi oleh para ahli psikologi sering
dianalogikan dengan revolusi Convernican dalam natural science; dicaci, ditolak, tapi pada
akhirnya diagungkan.
Kritik terhadap Sigmund Freud (1856-1940) sebagai "bapak psikoanalisis" lebih
didasarkan pada metodenya yang dianggap tidak baku, subjektif, dan jumlah klien sedikit
dan semuanya pasien klinis (penderita gangguan jiwa). Para penentang Freud tidak bisa
menerima bahwa analisis dari para pasien sakit jiwa dapat digeneralisasikan pada
populasi umum.
Di pihak lain, Freud dianggap banyak memberi kontribusi pada perkembangan
psikologi, khususnya dalam hal mengembangkan konsep motivasi dari alam
ketidaksadaran dan mengarahkan fokus penelitian pada pengaruh pengalaman masa
awal kehidupan atau masa anak terhadap perkembangan kepribadian selanjutnya sampai
dewasa. Di samping itu, Freud juga merangsang studi yang intensif tentang emosi, yaitu
cinta, takut, cemas, dan seks.
Dalam soal seks, teori Freud yang menyatakan bahwa satu-satunya hal yang
mendorong kehidupan manusia adalah dorongan id (libido seksualita), mendapat
tantangan keras. Dalam libido seksualitas, seseorang berusaha mempertahankan
eksistensinya karena bermaksud memenuhi hasrat seksualnya.. Teori ini dipandang
menyederhanakan kompleksitas dorongan hidup yang ada dalam diri manusia. Dalam
pandangan psikologi humanistik, teori Freud hanya menjelaskan adanya kebutuhan yang
paling mendasar dari manusia, yaitu kebutuhan fisiologis dan tak mampu memberikan
penjelasan untuk empat kebutuhan manusia yang lain (Ancok & Suroso, 1995:67).
Tak ayal lagi, teori Freud yang banyak menyelidiki sexual instinct manusia ini
merupakan daya tarik, sekaligus sumber kehebohan. Seksualitas, bagi Freud, merupakan
daya hidup. Libido, istilah Freud, merupakan life instinct yang memberi motivasi manusia
untuk makan, minum, beristirahat, dan prokreasi. Kaum agama dan sebagian intelektual,
dengan sisa pengaruh Victorian yang kuat waktu itu mencaci (teori) Freud yang pen-
seksual habis-habisan (Dewiana & Tjen, 1997:13).
Psikologi yang berkembang sewaktu Freud mencuatkan teorinya banyak
memfokuskan perhatian pada "kesadaran" manusia. Tak pelak, "ketidaksadaran" sebagai
aspek psikis terpenting, bagi Freud, bagai petir di siang bolong. Bahkan, Freud
berkeyakinan bahwa perilaku dan kepribadian manusia banyak dipengaruhi oleh
ketidaksadaran. Teori ketidaksadaran Freud mengalami tantangan yang luar biasa waktu
itu. Freud patut dipuji karena kegigihannya memperjuangkan psikoanalisis sebagai
psikologi ilmiah, yang pada akhirnya mendapat pengakuan dunia internasional.
Memang, jika salah satu teori Freud ingin membedakan behaviorisme dan psikologi
Gestalt, itulah interpretasinya tentang "bawah sadar". Dasar teori Freud mengenai bawah
sadar adalah konsep bahwa keinginan yang tidak dapat diterima (dilarang, dihukum) pada
masa anak-anak, dibuang dari kesadaran dan menjadi bagian bawah sadar, dan tetap
berpengaruh. Bawah sadar memberikan tekanan untuk mencari ekspresi, yang
dilakukannya dalam banyak cara, termasuk mimpi. Psikoanalisis - asosiasi bebas di
bawah bimbingan ahli analis - membantu harapan bawah sadar menemukan ekspresi
verbal. Dalam teori Freud klasik, keinginan bawah sadar itu, hampir seluruhnya seksual.
Penekanan pada seksualitas masa anak-anak merupakan salah satu penghalang
diterimanya teori Freud pada awal diperkenalkan.
Freud sedikit sekali manaruh minat pada problem-problem tradisional psikologi
akademis, seperti sensasi, persepsi, berpikir, dan kecerdasan. Karena itu, ia
mengabaikan problem "kesadaran", dan mengarahkan usahanya untuk memahami dan
menerangkan apa yang ia istilahkan sebagai "ketidaksadaran." Menurut Freud, hal ini
tidak bisa dipelajari dengan metode introspeksi ataupun eksperimen laboratorium.
Menurut teori-teori Freud, sumber utama konflik dan gangguan-gangguan mental terletak
pada ketidaksadaran ini. Karena itu, untuk bisa mempelajari gejala-gejala ini, Freud
mengembangkan teknik psikoanalisis, yang sebagian besar didasarkan atas interpretasi
"arus pikiran pasien yang diasosiasikan secara bebas" dan analisis mimpi, yang isi
maupun metodenya merupakan sudut pandang yang radikal.
Di tengah-tengah psikologi yang memprioritaskan penelitian atas kesadaran dan
memandang kesadaran sebagai aspek utama dari kehidupan mental, muncullah seorang
dokter muda dari Wina dengan gagasan-gagasannya yang radikal. Dokter muda yang
dimaksud adalah Sigmund Freud, yang ketika itu mengemukakan gagasan bahwa
kesadaran hanyalah sebagian kecil saja dari kehidupan mental; sedangkan' bagian yang
terbesarnya adalah justru ketaksadaran atau alam bawah sadar. Freud mengibaratkan
alam sadar dan tak sadar itu dengan sebuah gunung es yang terapung, di mana bagian
yang muncul ke permukaan air (alam sadar).
Dalam hubungannya dengan jiwa seseorang, yang tampak dari luar hanya sebagian
kecil saja, yaitu alam kesadaran. Bagian yang terbesar dari jiwa seseorang tidak bisa
dilihat dari luar, dan ini merupakan alam ketidaksadaran. Antara kesadaran dan
ketidaksadaran, terdapat suatu perbatasan yang disebut "prakesadaran"
(preconsciousness). Dorongan yang terdapat dalam alam prakesadaran ini sewaktu-waktu
dapat muncul ke dalam kesadaran.
Untuk lebih jelasnya, struktur kejiwaan manusia, yang diumpamakan iebagai gunung
es itu dapat digambarkan sebagai berikut (Dirgagunarsa, 1996:63);

1. Consciousness (Keadaan)
1 2. Preconsciousness (Prakeadaan)
3. Unconsciousness (Ketidaksadaran)
2

Censor
3
Gambar 3
Prakesadaran

Selain itu, Freud juga mengatakan bahwa dalam diri seseorang terdapat tiga sistem
kepribadian, yang disebut Id atau Es, Ego atau Ich, dan Super-go atau Uber Ich.
Id adalah bagian kepribadian yang menyimpan dorongan-dorongan biologis manusia -
pusat insting (Rakhmat, 1994:19). Id selalu berprinsip memenuhi kesenangannya sendiri
(pleasure principle), termasuk di dalamnya naluri , seks dan agresivitas (Sarwono,
1997:58).
Ada dua jenis insting atau naluri, yaitu Eros (naluri kehidupan untuk mempertahankan
kelangsungan kehidupan individu/atau spesies) dan Tanatos (naluri kematian, dorongan
untuk menghancurkan yang ada pada setiap manusia dan dinyatakan dalam perkelahian,
pembunuhan, perang, sadisme, dan sebagainya).
Meskipun Id mampu melahirkan keinginan, ia tidak mampu memuaskan keinginannya.
Sistem kepribadian yang kedua ialah Ego. Ego berfungsi menjembatani tuntutan Id
dengan realitas di dunia luar. Ego adalah mediator antara hasrat-hasrat' hewani dan
'tuntutan rasional dan realistik. Ego-lah yang menyebabkan manusia mampu
me~undukkan hasrat hewaninya dan hidup sebagai wujud yang rasional (pada pribadi
yang normal). Ia bergerak berdasarkan prinsip realitas (reality principle).
Sistem kepribadian yang ketiga Super-Ego - berisi kata hati atau conscience. Kata
hati ini berhubungan dengan lingkungan sosial dan mempunyai nilai-nilai moral, sehingga
rfferupakan kontrol atau sensor terhadap dorongan-dorongan yang datang dari Id. Super-
Ego menghendaki agar dorongan-dorongan tertentu saja dari Id yang direalisasikan;
sedangkan dorongan-dorongan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai moral, tetap tidak
dipenuhi. Karena itu, ada semacam kontradiksi antara Id dan Super Ego yang harus dapat
memenuhi tuntunan kedua sistem kepribadian lainnya ini secara seimbang. Kalau Ego
gagal menjaga keseimbangan antara dorongan dari Id dan larangan-larangan dari Super
Ego, individu yang bersangkutan akan menderita konflik batin yang terus-menerus; dan
konflik ini akan menjadi dasar dari neurose.
Pada dasarnya, tidak semua dorongan primitif bisa dipenuhi sesuai dengan reality
principle. Sebagian;iya tetap tidak bisa dipenuhi. Namun, dorongan-dorongan yang tidak
dipenuhi, tidak menghilang begitu saja, melainkan tetap menghendaki untuk dilaksanakan
agar memenuhi pleasure principle. Guna menjaga keseimbangan dalam kepribadian
individu yang bersangkutan, berbagai dorongan yang belum dilaksanakan ini, perlu
disalurkan. Proses penyaluran ini disebut kanalisasi (Dirgagunarsa, 1996:65). Kanalisasi
(canalization) dilakukan melalui mekanisme-mekanisme pertahanan (defence mechanism)
tertentu.
Freud, sebenarnya bukanlah satu-satunya penemu atau pencetus psikoanalisis. la banyak
belajar dari Joseph Breuer yang menggunakan metode talking cure dalam menyembuhkan
pasien-pasien histeria. Jean Charcot, juga memberi banyak inspirasi bagi lahirnya
psikoanalisis. Bahkan, I Ching dari belahan dunia Timur, menyelami relung-relung
ketidaksadaran manusia berabad-abad sebelum Freud dan kawan-kawan memulainya.
Harus diakui bahwa yang kemudian melakukan studi dengan sangat sistematis terhadap
ketidaksadaran dan segala mekanisme maupun karakternya secara sistematis adalah
Sigmund Freud. Dengan demikian, psikoanalisis, seperti halnya teori atau aliran psikologi
lain, merupakan kerja kolektif, rajutan bersama yang secara perlahan menemukan
bentuknya.
Aliran;"psikoanalisis muncul pada permulaan tahun 1900. Kemajuan-kemajuan di
bidang psikologi medis dan praktik-praktik yang dilakukan oleh aliran-aliran hypnosis
permulaan, mendorong berkembangnya gerakan Psikoanalisis ini. Di bawah pimpinan
Freud, psikoanalisis menekankan adanya proses mental tak sadar.
Freud dilahirkan pada 6 Mei 1856, dari sebuah keluarga Yahudi di Freiberg, Moravia,
sebuah kota kecil di Austria (kini menjadi bagian dari Cekoslowakia). Ketika berusia empat
tahun, keluarganya mengalami kemunduran ekonomi. Ayahnya membawa pindah Freud
sekeluarga ke Kota Wina. Setelah menamatkan sekolah menengahnya di Kota Wina,
Freud masuk sekolah kedokteran Universitas Wina dan lulus sebagai dokter pada tahun
1881.
Dari catatan pribadinya, diketahui bahwa Freud sesungguhnya tidak tertarik untuk
menjadi praktik sebagai dokter, dan lebih tertarik pada kegiatan peneliti ilmiah. Namun,
karena desakan ekonomi keluarga, Freud bersama istri a, Martha Bernays, yang dinikahi
Freud pada tahun 1886, akhirnya enjalani praktik dokter yang tidak disukainya itu. Di sela-
sela waktu praktiknya, Freud masih menyempatkan diri untuk melakukan kegiatan
penelitian, selain juga kegiatan menulis. Minat ilmiah utama Freud adalah penanganan
gangguan-gangguan eurotik, khususnya histeria.
Tampaknya, Freud sangat terkesan dengan banyak, pasien yang menutup-nutupi
ingatan yang menyedihkan . Ia menamakan suasana ini sebagai 'resistensi" (resistence)
dan percaya betul bahwa pasiennya tengah merepresikan ingatan yang penting.
Pekerjaan Freud selanjutnya adalah memeriksa ketidaksadara, serta menguak alasan
resistensi pasien tersebut.
Dalam sebuah analisisnya, Freud juga menemukan pengalaman traumatik pasien
pada masa kanak-kanak. la sangat terkejut sewaktu menemukan ingatan-ingatan tersebut
ternyata berhubungan dengan pengalaman-pengalaman seksual. Penemuan inilah yang
kemudian melahirkan teori "libido". Dalam melakukan asosiasi bebas itu, ia juga
menjumpai banyak pasien yang menyebutkan mimpi-mimpinya. Di situ, Freud menemukan
keyakinan bahwa mimpi memiliki arti penting dan membuka rahasia ketidaksadaran.
Pada tahun 1900, Freud menerima undangan dari Stanley Hall untuk memberikan
ceramah pada peringatan 20 tahun Universitas Clark di , Amerika Serikat, dan ia
menerima penghargaan doctor honoris causa atas kerja kerasnya memperjuangkan
psikoanalisis, yang akhirnya mendapat pengakuan internasional.
Sewaktu pecah Perang Dunia ke-1, peristiwa ini banyak memberikan pengaruh pada
pemikiran dan penelitian Freud. la sangat tertekan dengan pembunuhan masal dan
penderitaan, yang kemudian menyebut pengalamannya ini sebagai death instink (insting
kematian) universal dalam kehidupan manusia.
Sementara itu, dalam peristiwa lain, pada permulaan 1930-an, sewaktu Adolf Hitler
berkuasa, buku-buku Freud dibakar di Berlin dan ia pun dipindahkan oleh sahabat-
sahabatnya ke Vienna. Pada saat Nazi melakukan invasi ke Austria tahun 1938, Freud
pun lantas pindah ke London. Tahuntahun terakhir hidupnya dialami dengan penderitaan
kanker mulut dan ia telah menjalani operasi lebih dari 30 kali. Freud akhirnya meninggal
di London Tahun 1939. Tulisan-tulisannya yang sangat terkenal hingga kini, antara lain:
The interpretations of Dream, The Psychopathology of Everyday Life, Introductory
Lectures in Psychoanalysis, Humor and Its Relation to the Unconscious, The Ego and
the Id, the Problem of Anxiety, dan The Future of an Illusion.

4. Aliran Psikologi Gestalt (Gestalt Psychology)


Agak sulit memang unfuk menerjemahkan istilah Gestalt ke dalam bahasa lain. Kata
Gestalt berasal dari bahasa Jerman, yang dalam bahasa Inggris berarti form, shape,
configuration, whole (Fauzi, 1997:26); dalam bahasa Indonesia berarti "bentuk" atau
"konfigurasi", "hal", "peristiwa", "pola", "totalitas", atau "bentuk keseluruhan"
(Dirgagunarsa, 1996:86; Sarwono, 1997:82).
Berbagai istilah bahasa Inggris telah dicoba untuk menerjemahkan istilah Gestalt ini,
antara lain Shape Psychology (diajukan oleh Spearman) dan Configurationism (diajukan
oleh Titchener). Namun, istilah-istilah tersebut rupanya, tidak "pas"; dalam arti, tidak bisa
menggambarkan arti yang sesungguhnya dari istilah itu dalam bahasa Jerman. Sebab
itu, istilah Gestalt tetap digunakan sebagaimana adanya dalam bahasa Inggris dan juga
oleh kalangan para ahli psikologi di Indonesia.
Aliran yang didirikan oleh Max Wertheimer pada tahun 1912 dan kemudian
dikembangkan oleh Kurt Koffka dan Wolfgang Kohler ini mengkritik teori-teori psikologi
yang berlaku di Jerman sebelumnya, terutama teori strukturalisme dari Wilhelm Wundt.
Teori Wundt yang khususnya mempelajari proses pengindraan dianggap terlalu
elemenistik (terlalu mengutamakan elemen atau detail). Padahal, persepsi manusia
terjadi secara menyeluruh, sekaligus dan terorganisasikan, tidak secara parsial atau
sepotong-sepotong. Karena itulah, kata Wertheimer, ketika sebuah melodi terdengar
(dipersepsi), sebuah kesatuan dinamis atau keutuhan muncul dalam persepsi. Akan
tetapi, nada tersebut dalam dirinya sendiri menyebar dan saling bergantian dalam urutan
waktu tertentu. Urutan waktu itu diubah maka Gestalt-nya turut berubah (Tule, ed., 1995:
131-132). Dalam hubungan ini, Sarlito Wirawan Sarwono mencontohkan dengan lagu
"Bengawan Solo". Sebuah lagu "Bengawan Solo", kata Sarwono, "tetap terdengar
sebagai lagu Bengawan Solo (bukan sebagai lagu lain) selama nada-nada dibunyikan
dalam keteraturan tertentu, walaupun tangga nadanya diganti atau irama atau orkes
pengiringnya berlain-lainan (Sarwono, 1991; Sarwono, 1997:83).
Eksperimen Gestalt pertama, menurut Atkinson clan kawan-kawan, adalah
mempelajari gerakan, terutama fenomena phi. Jika dua cahaya dinyalakan secara
berurutan (asalkan waktu dan lokasi spasialnya tepat), subjek melihat cahaya tunggal
bergerak dari posisi cahaya pertama ke cahaya kedua. Fenomena kesan pergerakan ini
telah banyak diketahui, tetapi ahli psikologi Gestalt menangkap kepentingan teoretis pola
stimuli dalam menghasilkan efek. Pengalaman kita bergantung pada pola yang dibentuk
oleh stimuli dan pada organisasi pengalaman, menurut mereka. Apa yang kita lihat
adalah relatif terhadap latar belakang, dengan aspek lain dari keseluruhan. Keseluruhan
berbeda dengan penjumlahan bagian-bagiannya; keseluruhan terbagi atas bagian dari
suatu hubungan.
Memang, seperti disinggung di muka, bagi aliran Gestalt, yang utama bukanlah
elemen, tetapi keseluruhan. Kesadaran dan jiwa manusia tidak mungkin dianalisis ke
dalam elemen-elemen. Gejala kejiwaan harus dipelajari sebagai suatu keseluruhan atau
totalitas. Keseluruhan, dalam pandangan aliran Gestalt, lebih dari sekadar penjumlahan
unsur-unsurnya. Keseluruhan itu lebih dahulu ditanggapi dari bagian-bagiannya, dan
bagianbagian itu harus memperoleh makna dalam keseluruhan. Arti atau makna Gestalt
bergantung pada unsur-unsurnya; clan sebaliknya, arti unsur-unsur itu bergantung pula
pada Gestalt.
Gambar berikut ini barangkali bisa lebih memperjelas uraian di atas:
Keseluruhan Unsur-unsur

Gambar 4
Keseluruhan dalam Pandangan Aliran Gestalt

Makna unsur-unsur bergantung pada keseluruhan. Unsur- unsur dari


gambar muka sama dengan unsur-unsur gambar buah; tetapi karena keseluruhannya
berbeda, makna unsur-unsur tersebut berbeda pula. Misalnya, unsur hidung dan mata
pada gambar muka menjadi unsur tangkai pada gambar buah.
Sebenarnya, teori mengenai Gestalt ini dikembangkan oleh psikologi sosial. Teori ini
makin berkembang dengan teori S(timulus) - R(espons), yang juga dipakai oleh ilmu
komunikasi.
Teori ini menandaskan bahwa "setiap kegiatan S - R mempunyai organisasi" sendiri.
Hal ini disebabkan masing-masing orang mempunyai "cara" sendiri dalam persepsi,
belajar, berprestasi, dan memecahkan masalah. Karena itu, setiap individu adalah
Gestalt tersendiri, dan dari hubungan atau interaksi dua orang, terjadi pola
pengorganisasian tersendiri pula.
Pendapat ini dibuktikan oleh Eric Berne dalam teorinya games people play. Menurut
Berne (1967), setiap hubungan (sosial) dipengaruhi oleh Gestalt sosial yang dibentuk
bersama oleh komunikator dan komunikan. Dalam proses komunikasinya akan terjadi
suatu transaksi. Situasi transaksi adalah hasil dari situasi S - R; sehingga, di samping
pengiriman lambang, terjadilah proses psikologis, yaitu transaksi stimulus dan transaksi
respons.
Transaksi ini, menurut Eric Beme, bisa mempunyai implikasi (Be -me, 1967:19, 29):
a. ritual
b. pengisi waktu senggang
c. permainan atau perlombaan
d. hubungan intim
e. kegiatan dan tindakan
Menurut psikolog Gestalt, manusia tidak memberikan respons pada stimuli secara
otomatis. Manusia adalah organisme aktif yang menafsirkan dan bahkan mendistorsi
lingkungan. Sebelum memberikan respons, manusia menangkap dulu "pola" stimuli
secara keseluruhan dalam satuan-satuan yang bermakna. Pola ini disebut Gestalt. Huruf
"1" akan dianggap sebagai angka satu dalam rangkaian "1,2,3," tetapi menjadi huruf "el"
dalam rangkaian "k,l,m,n". Manusialah yang menentukan makna stimuli itu, bukan stimuli
itu sendiri.
Dalam hubungan dengan makna stimuli ini, menarik untuk menyimak ungkapan
Jalaluddin Rakhmat dalam bukunya Psikolngi Komunikasi. Dikatakan, di kalangan ilmu
komunikasi terkenal proposisi "Words don't mean, people mean" - kata-kata tidak
bermakna, oranglah yang memberi makna. Bunyi "wi" berarti "kita" menurut orang Inggris;
"siapa" menurut orang Belanda; "bagaimana" menurut orang Jerman; "duhai" menurut
orang Arab; atau hanya sekadar penggilan sayang bagi gadis Sunda bernama "Wiwi"
(Rakhmat, 1994:27).
Pada mulanya, psikologi Gestalt hanya menaruh perhatian pada persepsi objek.
Beberapa orang menerapkan prinsip-prinsip Gestalt dalam menjelaskan perilaku sosial. Di
antara mereka adalah Kurt q.ewin, Solomon Asch, dan Fritz Heider (Rakhmat, 1994:27).
Kurt Lewin (Sarwono, 1997:83) mengembangkan psikologi Gestalt dengan
mengemukakan teorinya sendiri yang dinamakan psikologi lapangan. Dengan teorinya, ia
mencoba menjelaskan apa yang terjadi dalam jiwa seseorang, sehingga terjadi persepsi
dan perilaku,yang bersifat menyeluruh. Menurut Lewin, perilaku (behavior) alalah fungsi
dari keadaan diri pribadi (personality) dan lingkungan, (en'kronment). Jika dirumuskan
menjadi: B=f(P,E). Faktor-faktor, baik dari dalam maupun dari luar pribadi itu, terwakili atau
terpetakan dalam lapangan kesadaran seseorang. Lewin menggambarkan lapangan
kesadaran sebagai lapangan yang terbagi-bagi dalam berbagai wilayah (region).
Tiaptilayah mewakili sesuatu dari dalam diri sendiri (aku, tubuhku) dan dari luar (ibuku,
rumahku, temanku, makananku, dan sebagainya). Makin banyak pengalaman seseorang,
makin majemuk keadaan lapangan psikologinya.
Lewin, dalam berbagai literatur, dise'but-sebut sebagai orang yang sangat besar
jasanya dalam menganalisis kelomolt. Dari Lewin, lahir konsep dinamika kelompok.
Sementara, Solomon Asch memperluas penelitian kelompok dengan melihat pengaruh
penilaian kelompok (group judgements) pada pembentukan kesan (impression formation).
Dengan beberapa eksperimen, Asch menunjukkan kecenderungan orang untuk mengikuti
pendapat kelompoknya.
Seperti telah disebutkan di atas bahwa yang membidani kelahiran psikologi Gestalt ini
adalah trio Wertheimer,, Koffka, dan Kohler.
Wertheimer (1880-1943) pernah menjadi murid Oswald Kulpe di \Ylurzburg, dan
mendapat gelar doktornya di sana pada tahun 1904. Pada waktu itulah, ia mulai tertarik
pada pandangan fenomenologi, yaitu suatu aliran filsafat yang terutama mempelajari
fenomena (gejala).
Pada tahun 1910, Wertheimef membuat sebuah alat yang disebut stroboscope (yang
kelak menjadi bioskop). Koffka dan Kohler bertindak sebagai orang-orang percobaannya.
Melalui alat stroboscope itu (yang sebenarnya sudah ditemukan 80 tahun sebelum
Wertheimer oleh Plateau), Wertheimer menunjukkan kepada orang-orang percobaannya,
dua gambar garis vertikal berikut (Dirgagunarsa, 1996: 87-88):

1 2
Gambar 5
Percobaan Wertheimer

Wertheimer memproyeksikan dua garis vertikal pada dua gambar, seperti tampak
dalam gambar 5. Garis pertama terletak di tengah, sedangkan garis kedua berada di
sebelah kanan. Kedua gambar ini diproyeksikan pada sebuah layar, dengan interval waktu
tertentu. Jika interval waktunyua 1/5 detik atau lebih besar, kedua gambar akan terlihat
sebagai dua gambar berurutan. Apabila interval waktunya diperkecil menjadi 1/30-1/5
detik, akan tampak satu garis yang bergerak dari tengah ke kanan kembali ke tengah, dan
seterusnya. Kalau interval waktu lebih diperkecil lagi menjadi 1/60 detik, akan terlihat dua
garis vertikal berjajar berdampingan.
Jadi, dengan interval waktu tertentu, rangsang yang diperlihatkan bisa terlihat seperti
bergerak. Wertheimer mengemukakan bahwa kita bisa melihat gerakan itu karena kita
melihat kedua garis itu sebagai keseluruhan, tidak melihatnya sebagai bagian yang terpisah-
pisah. la menanamkan gejala ini sebagai phiphenomenon (gejala gerakan).
Walaupun psikologi Gestalt merupakan gerakan pemberontakan terhadap psikologi
Wilhelm Wundt yang atomistik - sama halnya dengan fenomenologi Husserl yang
merupakan gerakan perlawanan terhadap filsafat yang dominan pada waktu itu - psikologi
Gestalt berkembang terlepas dari Husserl. Para pendiri psikologi Gesalt, yaitu Wertheimer,
Koffka, dan Kohler menerima cahaya tradisi fenomenologi Ewald Hering, Brentano, dan
Stumpf. Mereka bisa dipastikan mengenal Husserl, dan berang kali sering bertemu secara
pribadi. Namun, mereka tidak begitu tertarik pada fenomenologi Husserl, sebab mereka
tidak menemukan sesuatu yang relevan dengan teori yang mereka kembangkan. Baru
setelah di Amerika, pada tahun 1930-an, para ahli psikologi Gestalt membuat rujukan pada
Husserl.
Aron Gurwitsch, yang mempelajari psikologi Gestalt dan menyadari kedekatannya
dengan fenomenologi, adalah orang yang berjasa dalam menjadikan para ahli psikologi
Gestalt lebih menyadari nilai fenomenologi Husserl. Kohler menghargai psikologi
fenomenologi dan secara terbuka mengakui sumbangan-sumbangannya, namun ia
mengembangkan berbagai pandangan filosofisnya sendiri, terlepas dari Husserl.
Sementara itu, David Katz, seorang tokoh dan promotor terbaik bagi psikologi
fenomenologi, dalam bukunya yang terkenal Gestalt Psychology (1943), mengungkapkan
pandangannya yang jelas tentang aliran Gestalt. Bagaimana pun, demikian tulis Katz
dalam prakatanya, meskipun pandangannya berhampiran dengan pandangan para ahli
psikologi Gestalt, ia "tidak sepenuhnya sejalan dengan mereka, dan tidak percaya bahwa
segenap fakta psikologis bersesuaian dengan pandangan-pandangan Gestalt" (Misiak &
Sexton, 1988:3 1).
Kurt Koffka (1886-1941) adalah tokoh psikologi Gestalt yang banyak menulis tentang
paham-paham dan definisi-definisi dari aliran ini (Dirgagunarsa, 1996:90). Dari ketiga
tokoh yang merupakan pelopor aliran psikologi Gestalt (bersama Wertheimer dan Kohler),
Koffka-lah yang rajin merekam dan mencatat berbagai hasil eksperimen mereka, dan
tulisantulisannya dijadikan dasar oleh rekan-rekannya yang lain untuk mengadakan
penelitian selanjutnya. la juga menjadi editor dari majalah psikologi Gestalt yang bernama
Psychologische Forschung, yang mula-mula terbit di Jerman. Namun, setelah psikologi
dilarang oleh Hitler, dan tokoh-tokohnya melarikan diri ke Amerika Serikat, majalah ini
diteruskan terbit di Amerika Serikat.
Menurut Singgih Gunarsa, salah satu pendapat Koffka adalah kritiknya terhadap
Thorndike, yang telah berpendapat bahwa hewan mempelajari sesuatu semata-mata
secara mekanistis, yaitu karena refleks-refleks yang terjadi. Kofflca mengatakan bahwa
meskipun masih dalam bentuk yang sangat sederhana, seekor binatang yang mempelajari
sesuatu mesti mempunyai insight. Proses belajar hanya dimungkinkan oleh adanya proses
pemahaman atau insight, sekalipun insight yang primitif (Dirgagunarsa, 1996 : 90).
Wolfgang Kohler (1887-1967), salah seorang dari trio psikolog Gestalt ini,
menyuarakan kritik para fenomenolog, dalam bukunya yang berjudul Gestalt Psychology
(1929), dengan menekankan keterbatasan-keterbatasan dan kelemahan introspeksi
sebagai metode psikologi.
Sebagai tambahan, para ahli psikologi Gestalt, selain Wertheimer, Koffka, Kohler,
yang banyak disebut-sebut dalam uraian ini, juga termasuk Solomon Asch dan Kurt Lewin,
terdapat ahli-ahli psikologi Jerman dan Austria terkemuka seperti Rudolf Allers, Magda
Arnold, Charlotte, serta Karl Buhler, Albin Gilbert, Hans Hahn, Fritz Heider, Martin
Scheerer, Wilhelm Stem, dan Heinz Werner.
5. Aliran Behaviorisme (Behaviorism)
Behaviorisme adalah sebuah aliran dalam psikologi yang didirikan oleh John B.
Watson pada tahun 1913 dan digerakkan oleh Burrhus Frederic Skinner. Sama halnya
dengan psikoanalisis, behaviorisme juga merupakan aliran yang revolusioner, kuat dan
berpengaruh, serta memiliki akar sejarah yang cukup dalam. Sejumlah filsuf dan ilmuwan
sebelum Watson, dalam satu dan lain bentuk, telah mengajukan gagasan-gagasan
mengenai pendekatan objektif dalam mempelajari manusia, berdasarkan pendekatan
yang mekanistik dan materialistik, suatu pendekatan yang menjadi ciri utama dari
behaviorisme. Seorang di antaranya adalah Ivan Pavlov (1849-1936), seorang ahli fisiologi
Rusia.
Behaviorisme lahir sebagai reaksi terhadap introspeksionisme (yang menganalisis jiwa
manusia berdasarkan laporan-laporan subjektif) dan juga psikoanalisis (yang berbicara
tentang alam bawah sadar yang tidak tampak). Behaviorisme ingin menganalisis bahwa
perilaku yang tampak saja yang dapat diukur, dilukiskan, dan diramalkan. Belakangan,
kaum behavioris lebih dikenal dengan teori belajar, karena menurut mereka, seluruh
perilaku manusia, kecuali insting, adalah hasil belajar. Belajar artinya perubahan perilaku
organisme sebagai pengaruh lingkungan (Rakhmat, 1994:21). Tentu saja, behaviorisme
tidak mau mempersoalkan apakah manusia baik atau jelek, rasional atau emosional;
behaviorisme hanya ingin mengetahui bagaimana perilakunya dikendalikan oleh faktor-
faktor lingkungan.
Berkenaan dengan teori belajar ini, menurut Bandura (1977), sejak masa kanak-
kanaknya, manusia sudah mempelajari berbagai tata-cara berperilaku sedemikian rupa,
sehingga ia tidak canggung dan serbasalah menghadapi berbagai situasi dan persoalan.
Namun, berbeda dari teoriteori belajar sebelumnya, Bandura mengatakan bahwa manusia
tidak perlu mengalami atau melakukan sesuatu terlebih dahulu, sebelum ia mempelajari
sesuatu. Manusia dapat belajar hanya dari mengamati atau meniru perilaku orang lain.
Kaum behavioris memang sangat mengagungkan proses belajar, terutama proses
belajar asosiatif atau proses belajar stimulus-respons, sebagai penjelasan terpenting
tentang tingkah laku manusia (Goble, 1987:23). Perbedaan antara teori Freud, yang
memberi tekanan pada dorongan dari dalam pada manusia, dengan keyakinan kaum
behavioris pada kekuatan-kekuatan "luar" atau kekuatan-kekuatan yang berasal dari
lingkungan dalam diri manusia dapat dilihat dengan jelas.
Seperti telah disebutkan di atas, behaviorisme lahir sebagai reaksi terhadap
introspeksionisme. Kaum behavioris, khususnya Watson, tidak dapat menyetujui
introspeksi digunakan dalam penelitian-penelitian psikologi, dengan alasan-alasan berikut
(Dirgagunarsa, 1996:77-78).
1. Intropeksi yang digunakan sebagai metode utama oleh ahli-ahli aliran
strukturalisme, tidak dapat dipakai oleh behaviorisme yang banyak melakukan
penyelidikan terhadap hewan.
2. Watson meragukan ketelitian dan -kebenaran metode introspeksi dalam
penyelidikan-penyelidikan psikologi.
3. Introspeksi menggambarkan berlangsungnya berbagai hal dalam organisme yang
tidak dapat dilihat atau diukur secara objektif. Watson mengakui bahwa memang
ada tingkah laku yang tidak dapat langsung terlihat dari luar, misalnya berpikir atau
beremosi. Tingkah laku seperti ini dinamakannya covert behavior (tingkah laku
tertutup). Ada pula overt behavior (tingkah laku terbuka), yang dapat dengan jelas
dilihat dari luar. Sekalipun demikian, Watson berpendapat bahwa covert behavior
pun merupakan tingkah laku sebagai akibat kontraksi otototot atau sekresi
kelenjar-kelenjar, sama halnya dengan overt behavior. Bedanya adalah, gerakan-
gerakan dalam tingkah laku covert sangat kecil dan sangat lemah, sehingga tidak
bisa langsung terlihat, tetapi tetap dapat diukur dari luar. Gerakan-gerakan otot
atau sekresi kelenjar yang sangat lemah pada tingkah laku covert disebut implicit
behavior. Jadi, berpikir, menurut Watson, adalah implicit speech (bercakap yang
implisit) lidah bergerak-gerak secara halus sekali, selama kita berpikir itu.
Behaviorisme memandang bahwa ketika dilahirkan, pada dasarnya manusia tidak
membawa bakat apa-apa. Manusia akan berkembang berdasarkan stimulus yang
diterimanya dari lingkungan sekitarnya. Lingkungan yang buruk akan menghasilkan
manusia buruk; lingkungan yang baik akan menghasilkan manusia baik. Pandangan
seperti ini memberi penekanan yang sangat besar pada aspek stimulus lingkungan untuk
mengembangkan manusia dan kurang menghargai faktor bakat atau potensi alami
manusia. Pandangan ini beranggapan bahwa apa pun jadinya - seseorang, satu-satunya
yang menentukan adalah lingkungannya.
Tokoh aliran behaviorisme lainnya adalah Skinner yang berpendapat, kepribadian
terutama adalah hasil dari sejarah penguatan pribadi individu (individual's personal
history of reinforcement). Meskipun pembawaan genetis (genetis endowment) turut
berperan, kekuatan-kekuatan sangat menentukan Rerilaku khusus yang terbentuk dan
dipertahankan, serta merupakan khas bagi individu yang bersangkutan. Skinner tidak
tertarik dengan variabel struktural dari kepribadian. Menurutnya, orang mungkin berilusi
dalam menjelaskan dan meramalkan perilaku berdasarkan faktor-faktor dalam
kepribadian, tetapi ia dapat mengubah perilaku dan mengendalikannya hanya dengan
mengubah ciri-ciri lingkungan.
Dalam sebuah karyanya, Skinner, seperti dikutip Wulansari & Sujatno (1997: 110),
membuat tiga asumsi dasar.
Pertama, perilaku itu terjadi menurut hukum (behavior can be controlled). Walaupun
mengakui bahwa perilaku manusia adalah organisme yang berperan dan berpikir, Skinner
tidak mencari penyebab perilaku dalam jiwa manusia dan menolak alasan-alasan
penjelasan dengan mengendalikan keadaan pikiran (mind) atau motif-motif internal.
Kedua, Skinner menekankan bahwa perilaku dan kepribadian manusia tidak dapat
dijelaskan dengan mekanisme psikis seperti Id atau Ego. Perilaku yang dapat dijelaskan
hanya berkenaan dengan kejadian atau situasi-situasi antasenden yang dapat diamati. Ia
berulang kali menekankan bahwa kondisi-kondisi sosial dan fisik di lingkungan kita sangat
penting dalam menentukan perilaku. Menurutnya, konsep-konsep mentalistik hanya
membingungkan dan menyesatkan, ia membuat perhatian justru menjauh dari sebab-
sebab yang sebenarnya. Konsep-konsep seperti itu hanyalah penjelasan fiksi, tidak
menjelaskan apa-apa. Dalam psikologi, Skiner tidak menggunakan penjelasan-penjelasan
materialistis, dan secara tegas mengabaikan dirinya untuk meneliti sebab-sebab perilaku
yang dapat diamati.
Ketiga, perilaku manusia tidak ditentukan oleh pilihan individual. Skinner menolak
bahwa orang-orang adalah perilaku-perilaku bebas yang menentukan nasibnya sendiri.
Perilaku manusia (kepribadiannya), menurut Skinner, ditentukan oleh kejadian-kejadian di
masa lalu dan sekarang, dalam dunia objektif tempat dia mengambil bagian.
Meskipun demikian, satu hal yang patut dicatat di sini ialah, Skinner tidak menolak
adanya peranan faktor-faktor bawaan dan turunan dalam perilaku. Misalnya, pembawaan
genetis menentukan rentangan umum dari respons-respons yang dapat dilakukan, dan
juga mempengaruhi akibat-akibat yang menguatkan perilaku seseorang. Namun,
dijelaskan Skinner, keinginan menjelaskan bawaan genetis itu, lingkungan perlu
dipertimbangkan.
Terhadap aliran behaviorisme ini, kritik umumnya diarahkan pada pengingkaran
terhadap potensi alami yang dimiliki manusia. Padahal,.secara empirik, perbedaan
individual antara manusia satu dan manusia lain begitu banyak terlihat. Sewaktu bayi
dilahirkan, umpamanya, sudah terdapat perbedaan antara anak yang satu dan anak yang
lain. Ketika masih bayi, anak yang satu pandai tersenyum, sementara anak yang lain lebih
suka mengatupkan bibirnya. Perbedaan individual adalah sebuah kenyataan yang
diingkari oleh behaviorisme. Selain itu, aliran ini mempunyai kecenderungan untuk
mereduksi manusia. Bahkan, menurut pandangan ini, manusia tidak memiliki jiwa, tak
memiliki kemauan dan kebebasan untuk menentukan tingkah lakunya sendiri.
Belakangan ini, kata "behaviorisme" digunakan untuk melukiskan isi sejumlah teori
yang saling berhubungan di bidang psikologi, sosiologi, dan ilmu-ilmu tingkah laku yang
bukan hanya meliputi karya, John Watson, melainkan juga karya tokoh-tokoh, seperti
Edward Thorndike, Clark Hull, John Dolard, Neal Miller, dan masih banyak lagi. Para
pendahulu aliran pemikiran ini adalah Isaac Newton, yang berhasil mengembangkan
metode ilmiah di bidang ilmu-ilmu fisik, dan Charles Darwin, yang menyatakan bahwa
manusia merupakan hasil proses evolusi secara kebetulan dari binatangbinatang yang
lebih rendah.
Teori Sigmund Freud dikembangkan terutama dengan mendengarkan pasiennya, dan
juga dari hasil interpretasi subjektifnya atas aneka neurosis pada pasiennya itu.
Sebaliknya, kaum behavioris memusatkan dirinya pada peridekatan "ilmiah" yang
sungguh-sungguh objektif. Freud menempatkan rangsangan-rangsangan dan dorongan-
dorongan dalam sebagai sumber, motivasi; sementara kaum behavioris menekankan
kekuatan-kekuatan luar yang berasal dari lingkungan. Dalam teori mereka, segala yang
berbau subjektif sama sekali diabaikan. Berkatalah Watson, "Kaum behavioris, mencoret
dari kamus ilmiah mereka, semua peristilahan yang bersifat subjektif, seperti sensasi,
persepsi, hasrat, tujuan, bahkan termasuk berpikir dan emosi, sejauh kedua pengertian
tersebut dirumuskan secara subjektif" (Goble, 198:23).
Pencetus behaviorisme memberi penjelasan bahwa:
Irresponsible and unscientific to talk about psychology solely in terms of sujective
events, that is, events that supposedly occurred in the mind but could not be observed or
measured (for example, id, ego, and superego functions) (Calhoun & Acocella, 1990:22).
Jadi, terjemahan bebas dari kutipan di atas, "Tidak bertanggung jawab dan tidak
ilmiah membicarakan psikologi hanya semata-mata didasarkan pada kejadian-kejadian
subjektif, yaitu kejadian-kejadian yang diperkirakan terjadi di dalam pikiran, tetapi tidak
dapat diamati atau diukur (umpamanya, fungsi id, ego, dan superego) ".
Menurut mereka (para pencetus behaviorisme), untuk memperbaiki situasi ini,
psikologi harus mempelajari rumusan-rumusan yang khusus, tingkah laku yang dapat
diukur - benda yang dapat Anda lihat, sebab-sebab yang dapat dilihat dari tingkah laku
tersebut (Calhoun & Acocella, 1990:22).
Apabila psikoanalisis lebih mengutamakan unsur psikis dari organisasi sistem psiko-
fisik dari kepribadian, kaum behavioris dan para penganut teori psikologi belajar pada
umumnya lebih mengutamakan unsur fisik dari organisasi kepribadian tersebut. Teori
mereka didasari oleh pandangan Pavlov (Sarwono, 1997:153), yang melalui percobaan
dengan anjingnya membuktikan bahwa perilaku dapat dikendalikan dengan memberi
rangsangan tertentu melalui proses yang dinamakan conditioning (pembiasaan). Anjing
yang sudah dikondisikan untuk mendengar bel terlebih dahulu sebelum mendapatkan
makanannya, akan keluar air liurnya begitu mendengar bel, walaupun makanan belum
tiba. Menurut Pavlov, hewan dan manusia pada dasarnya hanyalah terjadi dari jaringan-
jaringan saraf dan otot yang bereaksi secara tertentu jika diberi rangsangan tertentu.
Dengan begitu, perilaku manusia pun dapat dikendalikan. Bahkan, Watson
kepribadian manusia dapat dibentuk melalui pemberian rangsangan-rangsangan tertentu.
Salah satu ucapan Watson yang terkenal adalah “ Berikan kepadaku selusin anak yang
sehat, aku akan membuat seperti yang aku kehendaki, yaitu menjadi dokter, pemberani,
bahkan menjadi penjahat atau pemalu" (Sarwono, 1997:153).
Watson berpendapat bahwa hampir semua perilaku merupakan hasil dari
pengondisian, dan lingkungan membentuk perilaku kita dengan memperkuat kebiasaan
tertentu. Respons yang terkondisikan dipandang sebagai unit perilaku terkecil yang tidak
dapat dibagi lagi, suatu "atom perilaku" dari tempat perilaku yang lebih rumit dapat
dibangun. Semua tipe perilaku kompleks yang berasal dari latihan atau pendidikan
khusus, tidak berarti lebih dari rangkaian respons terkondisikan.
Para pendukung behaviorisme merasa penting mendiskusikan fenomena psikologi
berawal dengan stimulus clan berakhir dengan respons - menghasilkan istilah psikologi
stimulus -respons (S-R). Ahli psikologi S-R lebih maju dibandingkan pendukung
behaviorisme awal dalam kemauan mereka guna mengambil kesimpulan hipotetik proses
antara masukan stimulus dan keluaran respons, proses yang dinamakan variabel
intervensi. ***

PERTUMBUHAN,
PERKEMBANGAN DAN "FAKTOR-
BAB 3
FAKTOR YANG MEMENGARUHI

A. Pertumbuhan dan Perkembangan


Para ahli psikologi dan ilmu pendidikan, hingga kini, tidak memiliki kesatuan pendapat
dalam memberikan definisi atau pengertian mengenai pertumbuhan dan perkembangan.
Ada yang menganggap sama, ada pula yang menyebutnya berbeda. Monks, Knoers, dan
Haditono (1984:2), misalnya, menyatakan, "Perkembangan memiliki kesamaan dengan
pertumbuhan". Sementara, Moh. Kasiram berpendapat, istilah pertumbuhan dan
perkembangan, meskipun saling melengkapi, sebenarnya mempunyai arti dan makna
yang agak berlainan. Menurut Kasiram, pertumbuhan mengandung arti adanya perubahan
dalam ukuran atau fungsi-fungsi mental, sedangkan perkembangan mengarcdung makna
adanya pemunculan hal yang baru. Pada peristiwa pertumbuhan, dalam pandangan
Kasiram, tampak adanya perubahan jumlah atau ukuran dari hal-hal yang telah ada,
sedangkan dalam peristiwa perkembangan, tampak adanya sifat-sifat yang baru, yang
berbeda dari sebelumnya (Kasiram, 1983:23).
Dalam kaitan itu, Moh. Kasiram memberi contoh. Pohon mangga kecil menjadi besar
adalah peristiwa pertumbuhan. Anak ayam kecil menjadi anak ayam besar adalah juga
peristiwa pertumbuhan. Akan tetapi, kata Kasiram, perubahan dari telur menjadi anak
ayam adalah peristiwa perkembangan. Peristiwa pembuahan sel telur dengan sperma
dalam kandungan ibu sampai menjadi anak, adalah peristiwa perkembangan.
Kalau sebatang pohon dalam musim hujan mulai berdaun, banyak orang yang
menyebut daun-daun ini sebagai pertumbuhan. Kuncup-kuncup dan daun-daun ini
sebenarnya bukanlah pertumbuhan, melainkan tanda atau manifestasi dari pertumbuhan
saja, yang dialami oleh pohon tadi sebagai suatu keseluruhan. Pertumbuhan tidak dipat
dilokalisasikan pada sebagian dari pohon atau sebagian dari individu saja. Pertumbuhan
dinyatakan dalam perubahan-perubahan yang terjadi pada bagian-bagian, tetapi
pertumbuhan itu sendiri adalah suatu sifat umum dari seluruh organisme (Whitherington,
1991:156). Tidak bisa kita berkata bahwa seseorang "cakap" tangannya, atau "terdidik"
jiwanya. Yang tumbuh atau terdidik ialah seluruh personalitas atau kepribadian. Inilah
sebabnya kata personalitas atau kepribadian tadi sangat banyak dipergunakan. Kata ini
menunjukkan adanya totalitas atau sifat keseluruhan yang terdapat pada seluruh
perbuatan atau sifat seorang individu, apabila perbuatan dan sifat-sifat itu dipandang
secara sosial.
Kartono mendefinisikan pertumbuhan sebagai "Perubahan secara fisiologis sebagai
hasil dari proses pematangan fungsi-fungsi fisik, yang berlangsung secara normal pada
diri anak yang sehat, dalam passage/peredaran waktu tertentu". la mengartikan pula
pertumbuhan sebagai "Proses transmisi dari konstitusi fisik (resam tubuh, keadaan
jasmaniah) yang herediter/warisan, dalam bentuk proses aktif yang kontinu" (Kartono,
1982:29). Adapun mengenai perkembangan dalam arti sempit dikatakan sebagai "Proses
pematangan fungsi-fungsi yang non-fisik" (Kartono, 1982:32).
Secara luas, Kartini Kartono mendefinisikan perkembangan sebagai "Perubahan-
perubahan psikofisis sebagai hasil dari proses pematangan fungsifungsi psikis dan fisis
pada diri ariak, yang ditunjang oleh faktor lingkungan dan proses belajar dalam pasage
waktu tertentu, menuju kedewasaan" (Kartono, 1982:33). Perkembangan, oleh Kartono
diartikan pula sebagai "Proses transmisi daripada konstitusi psiko-fisis (resam psikis dan
fisis) yang herediter, distimulasikan oleh faktor-faktor lingkungan yang menguntungkan,
dalam perwujudan proses aktif menjudi secara kontinu" (Kartono, 1982:33).
J.P Chaplin (1972) dalam Dictionary of Psychology-nya menyatakan, arti
perkembangan pada prinsipnya adalah tahapan-tahapan perubahan yang progresif dan ini
terjadi dalam rentang kehidupan manusia dan organisme lainnya, tanpa membedakan
aspek-aspek yang terdapat dalam organismeorganisme tersebut.
Secara lebih luas, Dictionary of Psychology memerinci pengertian perkembangan
manusia sebagai berikut:
1. The progressive and continuous change in the organism from birth to death;
2. Growth;
3. Change in the shape and integration of bodily parts into functional parts;
4. Maturation or the appearance of fundamental pattern of unlearned behavior

1. Perkembangan itu merupakan perubahan yang progresif dan terus-menerus dalam


diri organisme sejak lahir hingga mati;
2. Perkembangan itu berarti pertumbuhan;
3. Perkembangan berarti pertumbuhan dalam bentuk dan penyatuan bagian-bagian
yang bersifat jasmaniah ke dalam bagian-bagian yang fungsional;
1. Perkembangan adalah kematangan atau kemunculan
pola-pola dasar tingkah laku yang bukan hasil belajar).
Dari berbagai uraian di atas, bisa disimpulkan bahwa perkembangan adalah rentetan
perubahan jasmani dan rohani manusia menuju arah yang lebih maju dan sempurna.
Meskipun demikian, perlu pula dikemukakan bahwa sementara ahli menganggap
perkembangan sebagai proses yang berbeda dari pertumbuhan, seperti telah disinggung
di atas.
Memang, dalam psikologi perkembangan, kata pertumbuhan mengandung berbagai
arti. Ada pertumbuhan dalam arti fisik dan ada pula dalam arti psikis, seperti yang terlihat
pada perubahan dalam bentuk dan ukuran badan, perubahan dalam dimensi, dan
perubahan dalam sifat-sifat jasmaniah dari kekuatan dan kapasitas otot pada tubuh. Ada
pula pertumbuhan dalam arti proses pendewasaan, yang menghasilkan perubahan dalam
fungsi-fungsi yang bisa dipenuhi oleh seseorang, perubahan dalam kecakapan (abilitas)
dan menghasilkan perluasan dalam daerah kehidupan. Ada lagi pertumbuhan sebagai
proses mengadakan reorganisasi secara terus-menerus terhadap sesuatu yang baru ke
dalam sesuatu yang telah lama. Pertumbuhan semacam ini dapat berlangsung selama
masih ada kehidupan. Ada pula pertumbuhan yang rupa-rupanya meliputi pula suatu
proses kreatif, dalam arti bahwa apa yang timbul selama berlangsungnya rangkaian
pengalaman rupa-rupanya, dilihat dari sudut orang yang sedang tumbuh itu sendiri, tidak
hanya ditentukan oleh sifat lingkungan atau sifat perlengkapan herediter-nya, tetapi turut
pula menentukan jalan kehidupannya, meskipun mungkin peranannya kecil saja.
Jadi, perkembangan itu pada dasarnya memiliki kesamaan dengan pertumbuhan.
Sekalipun demikian, antara psikolog, malah ada yang tidak membedakan antara istilah
pertumbuhan clan perkembangan. Barangkali hal ini untuk menunjukkan bahwa
seseorang bertambah dalam berbagai kemampuannya yang bermacam-macam, bahwa ia
lebih mengalami diferensiasi clan juga bahwa ia pada tingkatan yang lebih tinggi, lebih
mengalami integrasi.
Menurut banyak psikolog dan penulis sendiri, istilah perkembangan lebih dapat
mencerminkan sifat-sifat yang khas mengenai gejala-gejala psikologis yang tampak.
Sementara dalam tulisan ini, istilah pertumbuhan, khusus dimaksudkan bagi pertumbuhan
dalam ukuran badan dan fungsi fisik yang murni.
Memang, pertumbuhan fisik memengaruhi psikologik. Bertambahnya fungsi otak,
misalnya, memungkinkan anak dapat tersenyum, berjalan; bercakap-cakap, dan
sebagainya. Kemampuan berfungsi dalam tingkat yang lebih tinggi ini, sebagai hasil
pertumbuhan, dapat disebut kemasakan (Monks, et a1.,1984) . Misalnya, seperti
dicontohkan Monks dan kawan-kawan, sebelum pendidikan akan kebersihan dapat
dilakukan, urat-urat daging pembuang6n harus sudah selesai pertumbuhannya, harus
sudah masak lebih dahulu. Meskipun dikatakan mengenai belajar berjalan, harus ada
kemasakan fungsi tertentu dahulu agar belajar tadi mungkin dilaksanakan.
Dalam bukunya Child Development and Adjustment, Crow & Crow (1962:38)
berpendapat, pertumbuhan pada umumnya dibatasi pada perubahan-perubahan
struktural dan fisiologis dalam pembentukan seseorang secara jasmaniah dari saat masih
berbentuk konsepsional (janin) melalui periode-periode prenatal (dalam kandungan), clan
postnatal (setelah lahir), ' sampai pada kedewasaannya. Sementara itu, perkembangan
berhubungan erat dengan pertumbuhan dan kemampuan pembawaan tingkah laku yang
peka, terhadap rangsangan-rangsangan sekitar.
Dikarenakan alam individu saling campur aduk, sulitlah untuk membedakan dengan
sejelas-jelasnya pengertian kedua istilah tersebut sehingga Crow & Crow juga
menganggap bahwa "Proses pertumbuhan dan perkembangan individu tidak dapat
dipisahkan satu sama lain".
Selanjutnya, persoalan mana yang lebih tepat antara kedua pendapat di atas? Dalam
hubungan ini, apabila kita perlu membedakan antara istilah-istilah tersebut, ada baiknya
kita berpandangan pada batasan-batasan berikut.
Pertumbuhan berarti proses perubahan yang berhubungan dengan kehidupan
jasmaniah individu; sedangkan perkembangan merupakan proses perubahan yang
berhubungan dengan hidup kejiwaan individu yang perubahan-perubahan tersebut
biasanya melahirkan tingkah laku yang dapat diamati, walaupun tidak bisa diukur seperti
yang terjadi pada perubahan jasmani.
Karena itu, berbeda dengan pertumbuhan, perkembangan akan berlanjut terus
hingga manusia mengakhiri hayatnya; sedangkan pertumbuhan hanya terjadi sampai
manusia mencapai kematangan fisik. Artinya, individu tidak akan bertambah tinggi atau
besar, jika batas pertumbuhan tubuhnya telah mencapai tingkat kematangan.

B. Fase-Fase dan Tugas Perkembangan


Agar mengerti ihwal manusia, baik sekali mempelajari perkembangan, tugas, dan
perubahan-perubahan yang dialami semasa hidupnya.
Dalam psikologi perkembangan, kita mengenal fase atau perkembangan. Walaupun
hakikat perkembangan tampak tidak teratur, ada urutannya. Bisa saja perkembangan tidak
maju menurut umur bahkan mungkin mundur atau menyimpang; tetapi, pada dasarnya
perkembangan itu tidak meloncat-loncat. Entah menyangkut dimensi moral atau
penemuan diri, satu tahap perkembangan harus dikuasai dulu sebelum menginjak tahap
berikutnya. Setiap keberhasilan tahap clan tugas perkembangan, dibangun atas dasar
penyelesaian tahap perkembangan sebelumnya. Betapa pun lamanya dan rumitnya jalan
perkembangan itu, tahap perkembangan yang satu diikuti oleh tahap perkembangan lain.
Satu hal yang pasti, setiap fase atau tahapan perkembangan kehidupan manusia
senantiasa berlangsung seiring dengan kegiatan belajar. Dalam hal ini, kegiatan belajar
tidak berarti kegiatan belajar yang ilmiah. Tugas belajar yang muncul dalam setiap fase
perkembangan, merupakan keharusan universal dan idealnya berlaku secara otomatis,
seperti kegiatan belajar terampil melakukan sesuatu pada fase perkembangan tertentu
yang lazim terjadi pada manusia normal. Selain itu, hal-hal lain yang juga menimbulkan
tugas-tugas perkembangan adalah:
1. adanya kematangan fisik tertentu pada fase perkembangan tertentu;
2. adanya dorongan cita-cita psikologis manusia yang sedang berkembang itu sendiri;
dan
3. adanya tuntutan kultural masyarakat.
Lima fase atau tahapan perkembangan dari Buhler dan empat tahapan perkembangan
dari Hurlock digunakan sebagai kerangka perkembangan, sekaligus sebagai bandingan.
Sementara, delapan tahapan perkembangan dari Erikson serta enam tahap
perkembangan dari Havigurst, bisa dijadikan pedoman, bukan sebagai sesuatu yang
mutlak pasti.
Dalam arti sempit, fase atau tahap itu tampak seperti sewenang-wenang, sebab anak
atau individu yang satu lebih cepat berkembang, sedangkan anak atau individu yang lain
membutuhkan waktu yang lebih lama. Meskipun demikian, setiap anak atau individu,
berkembang melalui setiap tahap perkembangan. Setiap tahap, terutama tahap-tahap
perkembangan yang dikemukakan Erikson clan Havigurst, mempunyai tema yang
menggambarkan tugas utama dari masa itu. Setiap tahap juga memiliki tugas-tugas
perkembangan konkret yang penting, yang harus dicapai si anak atau individu. Beberapa
tugas merupakan bagian penting dari suatu pertumbuhan dan akan menjadi sangat
penting dalam kebudayaan mana pun.

1. Fase dan Tugas Perkembangan Menurut Buhler


Dalam bukunya The First Tear of Life, Charlotte Buhler (1930) membagi fase
perkembangan sebagai berikut:
a. Fase pertama (0 - I tahun)
Fase ini adalah masa menghayati berbagai objek di luar diri sendiri serta saat
melatih fungsi-fungsi, khususnya fungsi motorik, yakni fungsi yang berhubungan
dengan gerakan-gerakan anggota badan.
b. Fase kedua (2 - 4 tahun)
Fase ini merupakan masa pengenalan dunia objektif di luar diri sendiri, disertai
dengan penghayatan yang bersifat subjektif. Mulai ada pengenalan pada "aku"
sendiri, dengan bantuan bahasa dan kemauan sendiri. Anak tidak mengenal dunia
luar berdasarkan pengamatan yang objektif, melainkan memindahkan keadaan
batinnya pada benda-benda di luar dirinya. Karena itu, pada masa-masa ini, anak
sering bercakap-cakap dengan bonekanya atau berbincang-bincang dan bergurau
dengan kelincinya. Di mata anak, benda permainan dan binatang itu seolah-olah
betul-betul memiliki sifat seperti dirinya.
c. Fase ketiga (5 - 8 tahun)
Fase ini bisa dikatakan sebagai masa sosialisasi anak. Pada masa ini, anak
mulai memasuki masyarakat luas (misalnya, taman kanak-kanak, pergaulan
dengan kawan-kawan sepermainan, dan sekolah dasar). Anak mulai belajar
mengenal dunia sekitar secara objektif. Ia mulai belajar mengenal arti prestasi,
pekerjaan, clan tugas-tugas kewajiban. Jadi, yang penting diperhatikan pada fase
ini adalah berlangsungnya proses sosialisasi.
Menurut Soe'oed (dalam Ihromi, ed., 1999:30), "Syarat penting untuk
berlangsungnya proses sosialisasi adalah interaksi sosial, karena tanpa interaksi
sosial, sosialisasi tidak mungkin berlangsung," Dalam pandangan A. Goslin,
sosialisasi adalah proses belajar yang dialami seseorang untuk memperoleh
pengetahuan, keterampilan, nilai-nilai dan norma-norma agar ia dapat
berpartisipasi sebagai anggota dalam masyarakatnya (Soe'oed, dalam Ihromi,ed.,
1999:30). Selain keluarga, ada banyak institusi lain yang turut serta dalam proses
sosialisasi seorang anak. Oleh karena itu, orang tua tidak bisa dengan sempurna
menginginkan anaknya menjadi seperti yang ia inginkan (Ritzer, 1969:114).
d. Fase Keempat (9 - 11 tahun)
Fase ini adalah masa sekolah dasar. Pada periode, ini anak mencapai
objektivitas tertinggi. Bisa pula disebut sebagai masa menyelidik, mencoba, dan
bereksperimen, yang distimulasi oleh dorongan-dorongan menyelidik dan rasa
ingin tahu yang besar; masa pemusatan dan penimbunan tenaga untuk berlatih,
menjelajah, dan bereksplorasi. Pada akhir. fase keempat ini, anak mulai
"menemukan diri sendiri", yaitu secara tidak sadar mulai berpikir tentang diri
pribadi. Pada waktu ini, anak kerap mengasingkan diri.
e. Fase kelima (14 - 19 tahun)
Fase ini merupakan masa tercapainya synthese di antara sikap ke dalam batin
sendiri dengan sikap ke luar, pada dunia objektif. Untuk kedua kali dalam
kehidupannya, anak bersikap subjektif (subjektivitas pertama terdapat pada fase
kedua, yaitu usia 3 tahun). Namun, subjektivitas kali ini dilakukan dengan sadar.
Setelah berusia 16 tahun, anak atau remaja ini mulai belajar melepas diri dari
persoalan tentang diri sendiri, dan lebih mengarahkan minatnya pada lapangan
hidup konkret, yang dahulu dikenalnya secara subjektif belaka. Lambat laun,
terbentuklah persesuaian di antara pengarahan ke dalam dan pengarahan diri ke
luar. Di, antara subjek dan objek (yang dihayatinya), mulai terbentuk satu synthese.
Dengan tibanya masa ini, tamatlah masa perkembangan anak dan perkembangan
remaja. Lalu individu yang bersangkutan memasuki masa kedewasaan.

2. Fase dan Tugas Perkembangan Menurut Hurlock ,


Dalam bukunya Developmental Psychology, Elisabeth B. Hurlock (1978)
mengadakan tahapan perkembangan sebagai berikut.
a. Prenatal (sebelum lahir) atau pralahir
Prenatal ini mulai konsepsi sampai umur 9 bulan dalam kandungan ibu.
b. Masa Natal
Masa natal ini, terdiri atas:
1) Infancy atau neonatus (dari lahir sampai 14 hari)
Fase ini merupakan fase penyesuaian terhadap lingkungan. Pada masa ini,
bayi mengalami masa tenang dan tidak banyak terjadi perubahan. 2) Masa bayi
(antara 2 minggu sampai 2 tahun)
2) Bayi di sini tak berdaya dan sangat bergantung pada lingkungan. Dengan adanya
perkembangan, lama kelamaan bayi mulai berusaha melepaskan diri dan mulai
belajar berdiri sendiri. Hal ini dimungkinkan karena tubuhnya menjadi lebih kuat,
dan ia dapat menguasai gerakan-gerakan ototnya; misalnya, jalan sendiri, bicara,
makan, bermain. Jadi, masa ini dimulai pada masa ketika anak sangat bergantung
pada lingkungan dan kemudian -karena perkembangan-anak mulai berusaha
menjadi lebih independen.
3) Masa anak (2-10/11 tahun)
Pada masa ini, anak masih immature. Tanda-tanda khas: usaha menyesuaikan
diri dengan lingkungan, sehingga ia merasa bahwa dirinya merupakan sebagian
dari lingkungan yang ada. Penyesuaian sosial dilaksanakan dengan pergaulan dan
berbagai pertanyaan. Segala hal mulai ditanyakan, diragukan. Ketika usia anak
mencapai 3 tahun, masa ini dikenal sebagai masa Sturm und Drang dan periode
haus nama. Usia 6 tahun merupakan masa penting untuk proses sosialisasi.
c. Masa Remaja (11/12 - 20/21 tahun)
Masa remaja adalah masa peralihan atau masa transisi dari anak menuju dewasa.
Masa remaja terbagi lagi dalam berikut ini.
1) Praremaja (11/12 - 13/14)
Praremaja ini mempunyai masa yang sangat pendek, kurang lebih hanya satu
tahun. Untuk wanita, 11/12 - 12/13 tahun; untuk laki-laki, 12/13 - 13/14 tahun.
Dikatakan juga sebagai fase negatif, erlihat tingkah laku yang cenderung negatif.
Fase yang sukar untuk anak dan orang tua. Perkembangan fungsi-fungsi tubuh,
terutama seks, juga mengganggu.
2) Remaja awal (13/14 - 17 tahun)
Perubahan-perubahan fisik terjadi sangat pesat clan mencapai puncaknya.
Ketidakseimbangan emosional dan ketidakstabilan dalam banyak hal terdapat
pada masa ini. la mencari identiTas diri karena pada masa ini, statusnya tidak
jelas. Pola-pola hubungan sosial mulai berubah.
3) Remaja lanjut (17 - 20/21 tahun)
Dirinya ingin selalu menjadi pusat perhatian; ia ingin menonjolkan diri;
caranya lain dengan remaja awal. la idealis, mempunyai cita-cita tinggi,
bersemangat dan mempunyai energi yang besar. Ia berusaha memantapkan
identitas diri, dan ingin mencapai ketidaktergantungan emosional.
d. Dewasa
Fase dewasa ini terbagi lagi atas berikut ini.
1) Dewasa awal (21 - 40 tahun)
Tahap ini adalah masa penyesuaian terhadap pola-pola hidup baru, dan
harapan mengembangkan sifat-sifat, nilai-nilai yang serbabaru. la diharapkan
menikah, mempunyai anak, mengurus keluarga, membuka karier, dan mencapai
satu prestasi.
2) Dewasa menengah (40 - 60 tahun)
Tahapan dewasa menengah merupakan masa transisi, masa menyesuaikan
kembali, masa equilibrium-disequilibrium. Masa yang ditakuti karena mendekati
masa tua. Wanita di sini kehilangan kesanggupan reproduksi. Ada yang
menyatakan bahwa masa ini adalah masa bahaya bagi pria dan wanita.

3. Fase dan Tugas Perkembangan Menurut Erikson


Dalam bukunya Childhood and Society, Erik Erikson (1963) membagi dan tugas
perkembangan, sebagai berikut.
a. Masa bayi (0 - 11/2 tahun)
Masa ini merupakan masa ketika berbagai kebutuhan fisik harus dipenuhi;
kebutuhan untuk menghisap harus dipuaskan. Anak biasanya senang berada
dalam gendongan atau dekapan dan belaian. Masa ini oleh Erikson disebutnya
sebagai masa saat kepercayaan harus ditanamkan, masa si anak harus belajar
bahwa dunia merupakan tempat yang baik baginya, dan masa ia belajar menjadi
optimis mengenai kemungkinan-kemungkinan mencapai kepuasan. Masa bayi
merupakan masa ketergantungan, masa ketidakberdayaan dan masa
membutuhkan pertolongan orang lain, suatu masa yang menuntut kesabaran
orang tua. Sang bayi memperoleh ketentramannya dalam kesatuannya dengan si
ibu; kesatuan itu begitu erat sampai batas-batas kemandiriannya menjadi kabur.
Pada masa ini, ibu mencintai sang bayi tanpa syarat. Apabila kepercayaan tidak
ditanamkan di masa awal ini, seseorang harus menanamkan kemudian. Bila si
anak menjadi besar dan kepercayaan yang ditanamkan kepadanya kurang, ia
akan menjadi orang yang selalu curiga serta ragu-ragu dalam menjalin hubungan
baru. Tanpa kepercayaan, tidak akan ada perkembangan yang berarti.
b. Masa toddler (11/2 - 3 tahun)
Si anak mulai memisahkan diri dan bergerak secara bebas. Dalam kaitan ini,
orang tua harus memberikan banyak kebebasan kepada si anak, namun sekaligus
mulai meletakkan batas-batas ketika si anak tidak bisa berbuat sesukanya sendiri.
Tanggapan utama dari orang tua tehadap toddler, yaitu membatasi. Tema
pokok masa ini adalah otomosi. Tugas-tugas konkret masa toddler meliputi masa
aspek penting kehidupan, bukan sekadar berjalan, bercakap, serta latihan buang
air besar atau kecil, namun juga makan sendiri serta penjelajahan yang tiada
henti. "Milikku" mungkin menjadi kata pertama yang diucapkan saat si anak
memisahkan apa yang menjadi miliknya dan apa yang tidak. Pada permulaan,
agaknya ia melihat segala sesuatu sebagai miliknya. Seandainya kakak-kakaknya
tidak bisa menerima hal itu, ia akan marah-marah.
Pada masa ini, anak menggunakan kemampuan bergerak sendiri untuk
melaksanakan dua tugas penting. Pertama, pernisahan diri dari ibu dan lain-
lainnya. Kedua, mulai menguasai diri, lingkungan, dan keterampilan dasar untuk
hidup. Walaupun demikian, tanpa pertolongan, hat itu akan berjalan secara liar,
clan membuat dia jatuh tersesat. Oleh karena itu, pembatasan oleh orang tua
menjadi penting.
c. Awal masa kanak-kanak (4 - 7 tahun)
Pada tahapan ini, pusat perhatian anak berubah dari benda kepada orang. Si
anak beralih dari bermain sendiri menuju bermain bersama. Sosialisasi
merupakan tema pokok. Si anak belajar menyesuaikan diri dengan teman
sepermainannya. Tugas-tugas yang telah dimulai pada masa toddler,
dikembangkan lebih lanjut. Si anak diharapkan untuk makan sendiri dan
berpakaian sendiri tanpa bantuan orang lain.
Tanggapan orang tua terhadap awal masa kanak-kanak adalah memberi
contoh yang baik. Si anak akan mulai mencontoh orang tuanya yang sejenis
dengan dia. Keterampilan-keterampilan untuk Pr ul paling baik diajarkan lewat
contoh orang tua.
d. Akhir masa kanak-kanak (8 - 11 tahun)
Masa ini adalah masa untuk berkelompok dan berorganisasi. Penerimaan
oleh teman-teman seusia adalah penting. Inilah waktu yang baik untuk
memperkenalkan pekerjaan rumah tangga serta mengajarkan penggunaan uang
dengan tepat. Tak seorang pun menginginkan bekerja terlalu berat dan terlalu
lama; demikian juga anak-anak. Tema pada masa ini adalah kerajinan. Energi si
anak dapat diarahkan pada tugas-tugas sosial yang terorganisasi.
Tanggapan dari orang tua adalah mengarahkan. Orang tua yang bijaksana
akan memanfaatkan kerajinan anak pada masa ini untuk mengarahkan kejadian-
kejadian, sehingga hal-hal yang baik dapat terjadi. Namun, ia menghindari
campur tangan dengan perintahperintah yang otoriter terhadap inisiatif si anak
sendiri.
e. Awal masa remaja (12 - 15 tahun)
Masa-masa seperti ini memperlihatkan bahwa semua hal yang dianggap baik
telah berakhir. Jika dia anak yang pertama, orang tua kemungkinan berpikir
bahwa mereka telah gagal. Tema awal masa remaja adalah perubahan.
Pada masa ini, anak mulai berubah-ubah, terpusat pada diri sendiri, seks
dan tubuhnya. la terus berminat pada tugas penguasaan yang sudah dimulai pada
akhir masa kanak-kanak, sekaligus mulai membuang kegiatan-kegiatan masa
kanak-kanaknya. Ini terus berlanjut sampai dia mengabaikan keluarganya. Tugas
;tugas dan latihan atletik lebih didahulukan daripada kegiatan-kegiatan keluarga,
seperti makan dan pergi bersama. Penyalahgunaan seksualitas dan barang-
barang mungkin mulai menimbulkan masalah.
Pada dasarnya, awal masa remaja merupakan suatu masa transisi. Seperti
halnya semua masa transisi, masa ini merupakan masa yang tidak
mengenakkan, baik bagi si remaja sendiri maupun bagi orang tuanya.
Tanggapan orang tua yang paling bijaksana adalah mendukung. Ini bukan
saatnya untuk menunjukkan kesalahan-kesalahan dalam pemikiran mereka atau
ketidakpantasan sifat murung mereka; atau fakta bahwa kaos yang berlubang
bukanlah pakaian yang pantas. Ini saat yang baik untuk membiarkan mereka
membeli barang dan pakaiannya sendiri serta mengatur keuangan mereka
sendiri.
Jika awal masa remaja ini dijalani dengan bantuan orang tua yang
mendukungnya, sifat yang berubah-ubah dan keterpusatan pada diri sendiri akan
hilang.
f. Masa remaja yang sejati (16 - 18 tahun)
Pada tahapan ini, kemenduaan dalam masa transisi akan berkurang. Si
remaja yang merasa cukup aman dalam identitasnya, harus menghadapi pilihan-
pilihan yang akan membentuk sisa hidupnya. Pemilihan tujuan hidup merupakan
tema pokok.
Orang tua dan guru mungkin terus-menerus menanyakan, "Mau apa kamu
setelah lulus SMU?" Tanggapan yang paling baik dari orang tua adalah
menyambut dengan senang pilihan si anak; mendorong si anak untuk
menjatuhkan pilihan, dan menghargai kebebasannya.
g. Awal masa dewasa (19- 25 tahun)
Pada masa ini, si anak mulai berdikari. Si anak mungkin kuliah di, tempat lain,
menikah, hidup sendirian dalam suatu apartemen, atau bekerja di tempat lain.
Sebagaimana tahap pertama perkembangan, tahun-tahun pertama dalam
perkawinan dan dalam pekerjaan, sangatlah penting. Tema awal masa dewasa
adalah kemandirian. Tanggapan orang tua yang bijaksana adalah tanggapan yang
memperluas persahabatan dengan anak-anak mereka yang sebelumnya masih
bergantung kepada mereka.
h. Kedewasaan dan masa tua (25 tahun ke atas)
Masa dewasa merupakan fase generativitas (menciptakan) yang selalu
dihadapkan pada adanya stagnasi. Masa ini ditandai dengan adanya perhatian
yang tercurah pada anak-anak, keahlian produktif, keluarga, dan pekerjaan. Sifat
mengasuh pada wanita tampak sangat dominan. Pada masa tua ini adalah
kebijaksanaan dan pelepasan
4. Fase dan Tugas Perkembangan Menurut Havighurst
Robert J. Havighurst (Monks, et al., 1984; Syah, 1995; Andriessen, 1974; Havighurst,
1976) memberikan gambaran dan uraian secara lebih rinci mengenai fase dan tugas-
tugas perkembangan ini.
Menurut Havighurst, perjalanan hidup seseorang ditandai oleh adanya tugas-tugas
yang harus dipenuhi. Tugas-tugas ini dalam batas-batas tertentu bersifat khas untuk
masa-masa hidup seseorang. la mengemukakan tentang tugas-tugas perkembangan
(development tasks), yaitu tugas-tugas yang harus dilakukan oleh seseorang dalam masa-
masa hidup tertentu, sesuai dengan norma-norma masyarakat serta norma-norma
kebudayaannya. Secara konkret, tugas-tugas tersebut dapat dilihat pada tabe13.1
menurut pengolahan Havighurst (1976).
Jika kita perhatikan, tugas-tugas tadi menunjukkan adanya hubungan dengan
pendidikan, yaitu pendidikan dan pelajaran formal yang diterima seseorang. Pendidikan
menentukan tugas-tugas apakah yang dapat dilaksanakan seseorang pada masa-masa
hidup tertentu. Konsep diri dan harga diri seseorang akan turun kalau ia tidak
melaksanakan, tugas perkembangannya dengan baik. Hal ini karena orang tersebut akan
mendapat kecaman dan celaan dari masyarakat sekelilingnya. Orang akan merasa sedih
dan tidak bahagia. Dengan demikian, keberhasilan dalam melaksanakan tugas-tugas
perkembangan akan memberikan perasaan berhasil dalam hidup, clan akhirnya
mendatangkan perasaan bahagia.
Apabila, misalnya, dalam masa dewasa muda, seseorang tidak berhasil menemukan
teman hidup, ia akan merasa tidak bahagia. Namun, sebetulriya hal ini bergantung juga
pada filsafat hidup orang itu sendiri; misalnya, apakah ia memang memilih untuk hidup
sendiri atau tidak. Jadi, orang yang hidup sendiri, belum tentu terus merasakan tidak
bahagia. Lain halnya, bila seseorang tidak memperoleh nafkah untuk hidup, karena hal itu
akan memberikan akibat serius bagi kesejahteraan dan kebahagiaan hidupnya.
Selanjutnya, beberapa catatan yang masih dapat dikemukakan di sini ialah, pertama,
pengertian masa dewasa muda menurut Havighurst mengandung pengertian yang lebih
luas daripada yang biasa diberikan. Di antara apa yang dimaksudkan oleh Havighurst
dengan masa dewasa awal dan masa remaja, tersisiplah, sekarang di Amerika, Eropa
Barat, dan negara-negara Skandinavia, masa dewasa milda seperti juga dalam masa
remaja, yaitu ada dalam stadium interim; artinya ia sudah terlepas dari keadaan menjadi
anak, tetapi belum memperoleh status orang dewasa secara penuh. Seorang remaja
belum memperoleh status tersebut karena ia memang belum mempunyai kedudukan
dalam masyarakat; seorang dewasa muda belum menerima suatu status dewasa, karena
belum dapat menerima peranan dan status yang dikenakan oleh masyarakat kepadanya.
Sebagai catatan kedua adalah kesejahteraan dan kebahagiaan, hanya sebagian saja
dipengaruhi oleh berhasil tidaknya melakukan tugas-tugas perkembangan. Setidak-
tidaknya, tak semua macam tugas perkembangan sama pentingnya. Menemukan seorang
teman hidup yang baik dan memperoleh pekerjaan yang memuaskan, mungkin lebih
penting daripada menjadi terpandang dalam masyarakat. Namun, kebanyakan orang tidak
menemukan pekerjaan yang memuaskan. Meskipun demikian, mereka tidak perlu hidup
menderita; mereka dapat mencari kebahagiaan hidup di tempat lain, misalnya mencari
kesenangan dalam waktu luangnya.

Tabel 3.1
Gambaran mengenai Tugas-Tugas Perkembangan
Periode bayi dan Anak sekolah Masa muda Masa dewasa Usia tengah baya Masa dewasa
anak kecil (pubertas,adolesensi) muda lanjut
Belajar berjalan
Belajar makan, makanan padata
Belajar baghasa
Kontak badab
Stabilitas psikologik Sikap sehat terhadap Menerimah keadaan Menerima dan Penyesuaian
diri sendiri sebagai jasmaniah menyesuaikan diri terhadap kekuatan
organisme yang terhadap percobaan fisik yang menurun
tumbuh fisik dan fisiologik
Belajar perbedaan Belajar peranan jenis Menerima peranan jenis Memilih jodoh, Pasangan Menyesuaikan diri
dan aturan-aturan kelamin, kontak-kontak perisapan menikah dan belajar hidup dipandang sebagai dengan kematian
jenis kelamin dengan teman sebaya. mempunyai keluarga, dengan suami/isteri person , menolong teman hidup,
konyak perasaan Belajar sikap terhadap belajar lepas orang tua mulai membentuk anak-anak muda menemukan relasi
dengan orang tua, kelompok dan secara emosional, keluarga, mengasuh menjadi dewasa dengan teman
keluarga dan orang- lembaga-lembaga. belajar bergaul dengan anak, kelompok sebaya
orang lain kelompok anak mengemudikan
wanita/anak laki-laki rumah tangga,
menemukan
kelompok sosial
Pembentukan Belajar membaca, Belajar tanggung jawab Menerima tanggung Mencapai tanggung Memenuhi
pengertian menulis, berhitung, sebagai warga negara, jawab warga negara jawab sosial dan kewajiban-kewajiban
sederhana : realita belajar pengertian- menginginkan dan warga negara sosial dan warga
fisik pengertian kehidupan mencapai tingkah laku secara penuh negara
realita sehari-hari yang bertanggung
sosial jawab sosial
Belajar apa yang Perkembangan skala
benar dan apa yang nilai secara sadara
salah, Perkembangan perkembangan
perkembangan kata moralitas skala nilai- gambaran dunia yang
hati nilai adekwat
Persiapan mandiri Mulai bekerja Mencapai dan Penyesuaian
secara ekonomis mempertahankan dengan gaji yang
pemilihan dan latihan standar hidup berkurang dan
jabatan ekonomis keadaan pensiun
Merealisasikan
keadaan hidup fisik
yang sesuai

Sumber: Monk, Knoers, dan Haditono, 1984

Kemudian, catatan ketiga ialah pendidikan banyak ditentukan oleh kebudayaan suatu
bangsa. Hal ini berarti bahwa proses belajar dan proses sosialisasi dipengaruhi oleh
keadaan masyarakat dan keadaan kultur tertentu, pada periode tertentu dalam sejarah.
Sehubungan dengan itu, tugas-tugas perkembangan bagi seorang bangsa Amerika,
misalnya, berbeda dengan tugas perkembangan seorang bangsa Eropa; lain lagi dengan
seorang bangsa Indonesia. Jadi, bagi orang Indonesia, tugas-tugas perkembangan yang
dikemukakan oleh Havighurst, harus diuji pada keadaan masyarakat dan kebudayaan
Indonesia.
Akhirnya, catatan keempat berhubungan dengan objek pembicaraan dalam pasal
berikutnya. Havighurst terlalu menitikberatkan pada pengaruh. Sifat yang ditentukan oleh
kebudayaan clan masyarakat ini memang merupakan aspek yang penting, namun kurang
ditonjolkan bahwa pribadi yang sedang berkembang tadi, terutama mulai masa remaja,
menentukan sendiri tugas-tugas mana yang harus diterima dan mana yang ditolak. Dalam
ketegangan antara keinginan untuk bergantung dan dorongan untuk bebas dari orang tua,
remaja berjuang untuk mendapatkan tanggung jawab sendiri dalam menentukan pola
hidupnya.

C. Prinsip-prinsip Perkembangan
Setiap fase atau periode perkembangan pada dasarnya selalu bertalian erat dengan
periode perkembangan yang mendahuluinya. Hal ini membuktikan bahwa manusia
merupakan kesatuan yang bulat. Dan, tujuan yang terkandung dalam setiap
perkembangan adalah "menjadi manusia dewasa yang sanggup berdiri sendiri".
Sesuai dengan "individualitas anak" yang memiliki ciri-ciri atau karakteristik,
perkembangan antara dua individu anak itu tidak mungkin bisa sama benar. Sekalipun
terdapat perbedaan perkembangan yang bersifat individual, kita dapat melihat adanya
"hukum" atau cara tertentu bagi semua perkembangan individu yang sejenis. Istilah hukum
diberi tanda petik, karena segala sesuatu yang disebut sebagai hukum dalam psikologi
sebenarnya merupakan kecenderungan atau tendensi (Kartono, 1979).
Dalam peristiwa ilmu alam, terdapat unsur-unsur kemantapan, konstansi, dan
konsistensi. Dengan ciri-ciri demikian, orang kemudian membuat hukum-hukum alam.
Sebaliknya, berbagai gejala psikis tersebut tidak menunjukkan ulangan peristiwa secara
mantap dan identik sama dengan peristiwa-peristiwa yang mendahului, melainkan hanya
menampakkan adanya kecenderungan. Karena itu, psikologi pada dasarnya menghindari
penggunaan istilah "hukum", dan lebih suka menggunakan istilah patokan, kaidah, aturan,
atau "prinsip".
Secara spesifik, prinsip perkembangan dapat diartikan sebagai "kaidah atau patokan
yang menyatakan kesamaan sifat dan hakikat dalam perkembangan". Bisa pula dikatakan,
prinsip„perkembangan adalah "patokan generalisasi mengenai sebab dan akibat
terjadinya peristiwa perkembangan dalam diri manusia".
Secara garis besar, peristiwa perkembangan mempunyai atau mengikuti prinsip-
prinsip perkembangan sebagai berikut (Atmodiwirjo, 1983; 5mandjuntak & Pasaribu, 1979;
Syah, 1995; Kartono, 1982; Kasiram 1983; 5haleh & Soerjadinata, 1971):
1. Perkembangan tidak terbatas dalam arti tumbuh menjadi
besar, namun mencakup rangkaian perubahan yang bersifat progresif, teratur,
koheren dan berkesinambungan. Jadi, antara satu tahap perkembangan dengan
tahap perkembangan berikutnya tidak terlepas, berdiri sendiri-sendiri.
2. Perkembangan selalu menuju proses diferensiasi dan
integrasi. Proses diferensiasi artinya ada prinsip totalitas pada diri anak. Dari
penghayatan totalitas itu, lambat laun bagian-bagiannya menjadi sangat nyata dan
bertambah jelas dalam kerangka keseluruhan.
Sejak bayi dilahirkan, dia telah mempunyai "gambaran total" dari dunia ini;
hanya saja gambaran tersebut masih kabur dan samar-samar. Dan, berkat
perkembangannya sepanjang pertumbuhan anak, kesamaran tersebut berangsur-
angsur berkurang. Bagian-bagiannya bertambah nyata, jelas, dan memperoleh
struktur tertentu yang semakin lengkap. Timbullah kemudian kompleks-kompleks
dan unsur-unsur. Umpamanya, unsur gerak, jarak, bentuk, struktur, warna, dan lain-
lain. Namun, semua itu merupakan bagian dari satu totalitas atau keseluruhan.
Karena manusia merupakan totalitas (kesatuan), ditemui kaitan erat antara
perkembangan aspek fisik-motorik, mental, emosi, dan sosial. Perhatian yang
berlebihan atas satu segi akan mempengaruhi segi lain.
3. Perkembangan dimulai dari respons-respons yang
sifatnya umum menuju yang khusus. Contoh, seorang bayi mula-mula akan
bereaksi tersenyum bila melihat setiap wajah manusia. Dengan bertambahnya usia
bayi, ia `mulai bisa membedakan wajah-wajah tertentu.
4. Setiap orang akan mengalami tahapan perkembangan
yang berlangsung secara berantai. Walaupun tidak ada garis pemisah yang jelas
antara satu fase dan fase yang lain, tahapan perkembangan ini sifatnya universal.
Sebagai contoh, perkembangan anak yang normal akan tampak berturut-turut:
memiringkan badan, telungkup, mengangkat kepala, duduk, merangkak, berjalan
dengan bantuan, akhirnya berjalan. Contoh lain, dalam perkembangan bicara,
misalnya, sebelum seorang anak fasih berkata-kata, terlebih dahulu ia akan
mengecoh.
Setiap fase perkembangan memiliki ciri dan sifat yang khas, sehingga ada
tingkah laku yang dianggap sebagai tingkah laku buruk atau kurang sesuai, yang
sebenarnya merupakan tingkah laku yang wajar untuk fase tertentu itu. Para orang
tua sering mengomentari perubahan kelakuan ini sebagai "dulu ia manis, patuh,
sekarang jadi bandel dan keras kepala". Para ahli mengemukakan bahwa masa
tenang atau equilibrium (ketika anak mudah diatur, penurut) dan masa
disequilibrium atau tidak tenang (ketika anak sukar diatur, mudah tersinggung,
gelisah) pada seorang anak, terjadi silih berganti, sebagaimana alur dari sebuah
spiral yang bergerak ke atas. Namun, adanya perubahan-perubahan itulah
merupakan ciri terjadinya perkembangan.
Menurut teori equilibrium, setiap individu selalu berusaha mengatasi
kesulitannya berupa iritasi, frustrasi, clan berikade-berikade pemenuhan kebutuhan.
Iritasi tadi, antara lain, berupa: rasa lapar, haus, dingin, sakit, dan macam-macam
kebutuhan primer lain, yang kesemuanya mengakibatkan timbulnya disequilibrium
atau ketidakseimbangan batin. Iritasi bisa berupa obstruksi/rintangan yang bersifat
fisis; namun juga bisa bersifat psikis. Yang bersifat psikis, umpamanya, berwujud:
friksi atau gesekan antara anak dan orang tua dan konflik dengan orang-orang lain
dalam lingkungan sosialnya.
Suatu prinsip dari teori perkembangan menyatakan bahwa motif utama dari
hidup ini ialah: meniadakan dan melepaskan diri dari semua rintangan, rasa tegang,
dan disequilibrium batin untuk mencapai kepuasan clan equilibrium batin. Dan
keseimbangan akan tercapai jika setiap kebutuhan sudah dipenuhi, sehingga
hilanglah semua ketegangan dan gangguan batin.
Teori disequilibrium berpendapat sebaliknya. Menurut teori ini, sehubungan
dengan dinamika manusia (dan anak manusia), anak itu malahan tidak mencari
keseimbangan. Bahkan, dengan sengaja ia mencari dan menantang timbulnya
ketidakimbangan, dengan mencobakan semua potensinya dalam bentuk macam-
macam aktivitas dan eksperimen. Anak selalu berusaha memasuki dunia luar
dengan jalan bereksplorasi dan berekspansi; didorong oleh rasa ingin tahu dan
sekaligus untuk mengetes kemampuan sendiri.
5. Setiap anak mempunyai tempo kecepatan perkembangan sendiri-sendiri. Dengan
kata lain, ada anak yang perkembangannya cepat, ada yang sedang, dan ada
yang lambat. Jadi, perkembangan anak yang satu berbeda dengan anak yang lain,
baik dalam perkembangan organ atau aspek kejiwaannya maupun cepat atau
lambatnya perkembangan tersebut.
Perkembangan, baik fungsi jasmani maupun fungsi rohani, tidaklah dapat
disamakan waktunya. Misalnya, lamanya perkembangan anak untuk fungsi
merangkak, dan lain-lain. Demikian pula untuk perkembangan suatu fungsi rohani,
seperti lamanya kecepatan waktu untuk mengartikan suatu kalimat bahasa akan
berbeda dengan lamanya kecepatan untuk fungsi berpikir.
Tempo perkembangan manusia pada umumnya terbagi dalam kategori: cepat,
sedang, dan lama Tempo perkembangan yang terlalu cepat atau terlalu lambat,
biasanya menunjukkan kelainan yang relatif sangat jarang terjadi.
Tempo cepat, sedang, dan lambat pada dasarnya tidak menunjukkan kausalitas
proses perkembangan seorang anak yang normal. Si X, misalnya, mungkin
berkembang lebih cepat dari pada si Y, clan si Y berkembang lebih cepat daripada
si Z. Padahal, mereka bertiga berasal dari keluarga yang sama. Jadi, setiap individu
itu berbeda, dengan kata lain, setiap orang itu khas, tidak akan ada dua orang yang
tepat sama meskipun berasal dari orang tua yang sama.
Pada setiap anak, terdapat impuls untuk berkembang dengan caranya sendiri,
untuk melatih semua bakat serta kemampuannya. Segala sesuatu yang sudah
dicapai oleh anak, dijadikan persiapan atau titik tolak baru bagi pengalaman dan
kemampuan berikutnya. Karena itu, setiap gejala baru dapat dijelaskan
berdasarkan perkembangan sebelumnya. Maka, terdapatlah apa yang disebut
sebagai proses "kematangan", yaitu matang untuk berfungsi, sebagai buah dari
satu keberhasilan, dan berlalunya satu fase perkembangan.
6. Di dalam perkembangan, dikenal adanya irama atau naik turunnya proses
perkembangan. Artinya, perkembangan manusia itu tidak tetap, terkadang naik,
terkadang turun. Pada suatu saat seorang anak mengalami perkembangan yang
tenang dan pada saat lain, ia mengalami perkembangan yang menggoncangkan.
Jadi, irama perkembangan itu tidak menetap. Ada kalanya tenang, ada kalanya
goncang.
Menurut para ahli psikologi, setiap anak biasanya mengalami dua masa
pancaroba atau krisis, yang lazim disebut trotz. Masa trotz ini terjadi dalam dua
periode, yakni:
a. trotz periode ke-1, atau krisis pertama, terjadi pada usia 2 sampai 3 tahun,
dengan ciri utama anak menjadi egois, selalu bersikap clan bertingkah laku
mendahulukan kepentingan diri sendiri; trotz periode ke-2, atau krisis kedua,
terjadi pada umur antara 14 sampai 17 tahun, dengan ciri utama sering
membantah orang tuanya sendiri dalam mencapai identitas diri.
b. Tentang trotz ke-2 di atas, perlu digarisbawahi bahwa batas umur antara 14-17
tahun, bukanlah "harga mati". Artinya, rentang usia remaja yang mengalami
krisis kedua ini di sebuah negara mungkin berbeda dengan remaja di negara
lainnya; boleh jadi lebih cepat atau lebih lambat.
Berbagai kesukaran pada trotzalter (usia keras kepala) di atas, timbul pada
saat-saat tertentu, dengan tidak ada sebab-musabab dari luar. Untuk beberapa
bulan kemudian, gejala-gejala tersebut akan hilang dengan sendirinya. Oleh
karena itu, masa menentang tadi dianggap sebagai masa pancaroba, suatu
masa yang penuh badai emosi yang tidak menentu, dan dorongan impuls yang
meledak-ledak. Karena itu, trotzalter tersebut juga disebut sebagai periode
sturm und drang (periode badai dan paksaan/desakan batin). Selain itu,
trotzalter disebut pula sebagai masa peralihan (masa transisi) dalam proses
perkembangan.
7. Setiap anak, seperti juga organisme lainnya, memiliki dorongan dan hasrat
mempertahankan diri dari hal-hal yang negatif, seperti rasa sakit, rasa tidak
aman, kematian, dan seterusnya. Untuk mereka memerlukan sandang, pangan,
papan, dan pendidikan.
Pada setiap orang, terdapat dorongan fisis dan psikis untuk
mempertahankan hidupnya. Pencernaan dan pernafasan, umpamanya,
ditujukan pada pemeliharaan dan eksistensi diri di bidang jasmaniah; sedangkan
pencapaian ilmu pengetahuan ditujukan untuk pemeliharaan di bidang rohaniah.
Pada anak balita, wujud pertahanan diri itu dapat berupa tangisan ketika
lapar atau teriakan yang disertai pelemparan batu ketika mendapat gangguan
hewan atau orang di sekelilingnya.
Selain dorongan mempertahankan diri itu, ada pula dorongan untuk
mengembangkan diri guna mendapatkan kemajuan baru. Hal ini mutlak perlu
untuk mencapai keadaban dan mencipta kebudayaan dalam usia dewasa.
Paduan antara dorongan mempertahankan diri ini merupakan proses sinthese-
integrasi baru, yaitu berwujud impuls realisasidiri dan transendensi-diri
(pengatasan diri sendiri untuk meningkat pada niveau hidup lebih tinggi).
8. Dalam perkembangan terdapat masa peka. Masa peka ialah suatu masa dalam
perkembangan anak, saat suatu fungsi jasmani ataupun rohani, dapat
berkembang dengan cepat jika mendapat latihan yang baik dan kontinu. Masa
peka di antara anak yang satu dengan anak yang lainnya tidak mudah untuk
diketahui, karena hal ini memerlukan penelitian yang saksama melalui berbagai
percobaan. Misalnya, untuk menentukan apakah seorang anak sudah
mengalami masa peka bagi pembuatan kerajinan tangan tertentu, dan lain-lain.
Suatu gejala kepekaan seyogianya diselidiki dengan percobaan, yaitu apakah
anak tersebut sudah tampak terarah minatnya pada suatu fungsi tersebut atau
belum.
Montessori mengemukakan bahwa hanya sekali saja terjadi masa peka
untuk tiap-tiap fungsi seumur hidup. Karena itu, bila lalai menggunakan masa-
masa peka itu, kita akan mengalami kerugian. Montessori, yang dalam
pendidikanya lebih diarahkan pada penemuan masa peka anak, mengadakan
metode penyediaan berbagai permainan anak dan anak harus memilih sendiri
permainan yang disukainya. Apabila minat sang anak terarah pada bentuk
permainan tertentu, barulah dicari dan ditentukan bahwa anak tersebut sudah
peka terhadap fungsi tertentu. Dan mulai saat ini pulalah, anak tersebut
mendapat latihan dan bimbingan yang kontinu dengan sebaik-baiknya.
Di antara asas-asas pendidikan Montessori yang berkenaan dengan masa
peka adalah:
a. anak-anak haruslah diberi kebebasan;
b. karena datangnya masa peka itu tidak mudah untuk diketahui, tidaklah
mungkin untuk diadakan latihan atau pendidikan secara klasikal;
c. tata tertib di sekolah hendaknya timbul dari hati sanubari anak itu sendiri dan
bukan merupakan sesuatu yang dipaksakan oleh para pendidiknya;
d. karena pancaindra merupakan gejala utama dari isi jiwa manusia,
Montessori lebih memperhatikan pancaindra anak.
9. Perkembangan tiap-tiap anak pada dasarnya tidak hanya dipengaruhi oleh
faktor pembawaan sejak lahir, tetapi juga oleh lingkungan. Anak manusia
dengan bakat pembawaannya itu, hanyalah merupakan bakat-bakat yang
tersedia untuk memberikan kemungkinan-kemungkinan berkembang saja. Agar
bakat yang tersedia itu dapat berkembang dengan sebaik-baiknya, diperlukan
adanya suatu proses menjadi matang, pemberian kesempatan kemungkinan
berkembang dari alam sekitarnya, serta pemeliharaan yang kontinu dari
manusia-manusia dewasa, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Sebagai contoh, dapat dikemukakan bahwa anak yang normal, menurut
bakat dan pembawaannya, memiliki sifat-sifat untuk berbicara. Namun demikian,
untuk berbicara tersebut, mereka mendengar kata-kata dan kalimat bahasa
dalam pergaulan dengan alam sekitarnya. Seorang anak keturunan Inggris yang
lahir dan dibesarkan di Indonesia, serta dipelihara oleh orang Indonesia dan
dalam pemeliharaan sehari-harinya, menggunakan percakapan bahasa
Indonesia, tidak mungkin bisa berbahasa Inggris, karena pendidikannya,
termasuk pergaulan sehari-harinya, tidak memberikan kesempatan untuk
berbicara bahasa Inggris.
Seorang anak yang lahir dalam keadaan tuli, walaupun alat-alat bicaranya
cukup baik dan menurut pembawaannya manusia itu adalah mahluk yang dapat
berbicara, karena kesempatan untuk belajar terganggu (alat pendengarannya
rusak), ia tidak, mungkin dapat berbicara dan mengenal bahasa.

D. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan


Sebenarnya, sudah beberapa abad lalu para ilmuwan dan para pemikir
memperhatikan seluk-beluk kehidupan anak, khususnya dari sudut perkembangannya,
untuk memengaruhi berbagai proses perkembangan, mencapai kesejahteraan dan
kebahagiaan hidup yang didambakan. Anak harus tumbuh dan berkembang menjadi
manusia dewasa yang matang, yang sanggup dan mampu mengurus dirinya sendiri, dan
tidak selalu bergantung pada orang lain, atau bahkan menimbulkan masalah bagi
keluarga, kelompok, atau masyarakat.
Sejak abad pertengahan, aspek moral dan pendidikan keagamaan, menjadi pusat
perhatian dan menjadi tujuan umum dari pendidikan. Pandangan terhadap anak sebagai
pribadi yang masih murni, jauh dari unsur-unsur yang mendorong anak pada perbuatan-
perbuatan yang tergolong dosa dan tidak bermoral, banyak dipengaruhi oleh aktivitas-
aktivitas keagamaan. Para tokoh agama dan kaum cendekiawan tentang masalah
kemanusiaan, banyak mendorong dan mempengaruhi orang tua untuk memperlakukan
anak secara berbeda dengan orang dewasa. Para teolog, dokter, filsuf, dan ahli
pendidikan memberikan pandangan mengenai anak dan latar belakang
perkembangannya, serta pengaruh-pengaruh keturunan dan lingkungan hidup terhadap
kejiwaan anak.
Memasuki akhir abad ke 17, seorang filsuf Inggris bernama John Locke
mengemukakan bahwa pengalaman dan pendidikan merupakan faktor yang paling
menentukan dalam perkembangan kepribadian anak.
Meskipun dewasa ini sudah menjadi keyakinan umum bahwa setiap anak manusia
perlu mendapatkan pendidikan, sekadar untuk menjadi bahan perbandingan, di sini
dikemukakan teori-teori yang memberikan berbagai pandangan, baik yang menolak
maupun yang menerima adanya pengaruh pendidikan tersebut.
Telah sekian lama para ahli didik, ahli biologi, ahli psikologi, dan lain-lain memikirkan
dan berusaha mencari jawaban atas pertanyaan: sebetulnya, perkembangan manusia itu
bergantung pada pembawaan ataukah pada lingkungan? Atau dengan kata lain, dalam
perkembangan anak hingga menjadi dewasa, faktor-faktor yang menentukan itu, yang
dibawa dari keturunan (pembawaan) ataukah pengaruh-pengaruh lingkungan? Dalam
upaya menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, perlu dikemukakan di sini adanya
beberapa pendapat dari berbagai aliran.

1. Aliran Nativisme atau Aliran Pembawaan


Nativisme (nativism) merupakan sebuah doktrin filosofis yang berpengaruh besar
terhadap aliran pemikiran psikologis. Tokoh utama aliran ini bernama Arthur Schopenhauer
(1788-1860), seorang filosof Jerman. Aliran filsafat nativisme konon dijuluki sebagai aliran
pesimistis yang memandang segala sesuatu dengan "kacamata hitam". Mengapa begitu?
Karena para ahli penganut aliran ini berkeyakinan bahwa perkembangan manusia
ditentukan oleh pembawaannya; sedangkan pengalaman dan pendidikan tidak
berpengaruh apa-apa. Dalam ilmu pendidikan, pandangan seperti ini disebut 'pesimisme
pedagogis" (Syah, 1995).
Aliran nativisme mengemukakan bahwa manusia yang baru dilahirkan telah memiliki
bakat clan pembawaan, baik karena berasal dari keturunan orang tuanya, nenek
moyangnya maupun karena memang ditakdirkan demikian. Manakala pembawaannya itu
baik, baik pula anak itu kelak. Begitu pula sebaliknya, andaikata anak itu berpembawaan
buruk, buruk pula pada masa kedewasaannya. Oleh sebab itu, menurut aliran ini,
pendidikan tidak dapat diubah dan senantiasa berkembang dengan sendirinya. .
Dicontohkannya, ada seorang ibu yang melahirkan anaknya di tengah hutan, tetapi si
ibu tersebut meninggal dunia seketika. Bayi tersebut kemudian dipelihara oleh seekor
serigala, yang mengurus, memberi makan, dan lain-lain. Pengurusan itu dapat berarti
sebagai suatu pendidikan (lingkungan) yang berpengaruh kepada anak manusia tersebut.
Kita tahu bahwa serigala hanya dapat berjalan dengan menggunakan keempat kakinya.
Akan tetapi, kemudian sang serigala induk angkat itu merasa aneh ketika mengenai anak
peliharaannya, dapat berjalan dengan menggunakan dua kakinya saja, padahal ia
mengajar atau memberi contoh kepadanya dengan cara empat kaki. Atas dasar contoh ini
pulalah, pendidikan itu tak ada gunanya sama sekali. Dengan demikian, menurut aliran ini,
anak manusia itu tidak perlu untuk diberi pendidikan, karena baik atau buruknya anak
tersebut sudah ditentukan oleh pembawaannya sejak lahir.
Meskipun aliran ini dikatakan sebagai teori kuno, pengaruhnya masih sangat besar
sampai abad modern ini. Dan ini, menurut beberapa literatur, ternyata dimulai dari seorang
penulis kurang lebih tahun 1900, Ellen Key, dalam bukunya De Eeuw van Het Kind (abad
anak), yang menulis, antara lain, bahwa "Bapak ataupun ibu tidak boleh memberikan
peraturan kepada si anak, seperti juga mereka tidak berhak berkuasa mengubah
peredaran bintang". Sekolah, dikatakannya, tidak lain daripada pembunuh jiwa anak yang
mencekik pelik sekali pada sesuatu yang berharga bagi seorang anak,. yaitu
kepribadiannya (Shaleh & Soerjadinata, 1971).
Jean Jacques Rousseau (1712-1778), seorang filsuf Prancis, berpendapat bahwa
semua orang ketika dilahirkan mempunyai dasar-dasar moral yang baik. Rousseau
mempergunakan istilah "noble savage" untuk menerangkan segi-segi moral ini, yakni hal-
hal mengenai baik atau buruk, benar atau salah, sebagai potensi pada anak dari
kelahirannya. Pandangan Rosseau menjadi titik tolak dari pandangan yang
menitikberatkan faktor dunia dalam atau faktor keturunan sebagai faktor yang penting
terhadap isi kejiwaan dan gambaran kepribadian seseorang. Karakteristik yang
diperlihatkan seseorang bersifat intrinsik, dan karena itu, pandangan Rosseau
digolongkan pada pandangan yang beraliran nativisme.

2. Aliran Empirisme atau Aliran Lingkungan


Aliran empirisme merupakan kebalikan dari aliran plivisme, dengan contoh utama
John Locke (1632-1704). Nama asli aliran ini adalah "The school of British Empiricism"
(aliran empirisme Inggris). Akan tetapi, aliran ini lebih berpengaruh pada para- pemikir
Amerika Serikat, sehingga melahirkan sebuah aliran filsafat bernama
"environmentalisme" (aliran lingkungan) dan psikologi bernama "environmental
psychology" (psikologi lingkungan) yang relatif masih baru (Reber, 1988; Syah, 1995)
Aliran empirisme mengemukakan bahwa anak yang baru lahir laksana kertas yang
putih bersih atau semacam tabula rasa (tabula = meja, rasa = lilin), yaitu meja yang
bertutup lapisan lilin putih. Kertas putih bersih dapat ditulis dengan tinta warna apa pun,
dan warna tulisannya akan sama dengan warna tinta tersebut. Begitu pula halnya dengan
meja yang berlilin, dapat dicat dengan berwarna-warni, sebelum ditempelkan. Anak
diumpamakan bagaikan kertas putih yang bersih, sedangkan warna tinta, diumpamakan
sebagai lingkungan (pendidikan) yang akan berpengaruh terhadapnya; sudah pasti tidak
mungkin tidak, pendidikan pun dapat membuat anak menjadi baik atau buruk. Pendidikan
dapat memegang peranan penting dalam perkembangan anak, sedangkan bakat
pembawaannya bisa ditutup dengan serapat-rapatnya oleh pendidikan itu.
Teori tabula rasa ini diperkenalkan oleh John Locke untuk mengungkapkan
pentingnya pengaruh pengalaman dan lingkungan hidup terhadap perkembangan anak.
Ketika dilahirkan, seorang anak adalah pribadi yang masih bersih dan peka terhadap
rangsangan yang berasal dari lingkungan. Orang tua menjadi tokoh penting yang
mengatur rangsangan-rangsangan dalam mengisi "secarik kertas" yang bersih ini.
Dalam pendidikan, pendapat kaum empiris terkenal dengan nama opamisme
paedagogis. Kaum behavioris pun sependapat dengan kaum empiris.
Seorang filsuf Barat, Emmanuel Kant, yang memberikan dukungan terhadap aliran ini,
pernah mengemukakan, "Manusia dapat menjadi manusia hanya karena pendidikan".
Demikianlah, betapa besar pengaruh teori ini, sehingga tidak sedikit ahli didik yang
menganutnya.
Jadi, kesimpulan aliran empirisme adalah perkembangan anak sepenuhnya
tergantung pada faktor. lingkungan; sedangkan faktor bakat, tidak ada pengaruhnya.
Dasar pikiran yang digunakan ialah bahwa pada waktu dilahirkan, anak dalam keadaan
suci, bersih, seperti kertas putih yang belum ditulis, sehingga bisa ditulisi menurut
kehendak penulisnya.

3. Aliran Konvergensi atau Aliran Persesuaian


Aliran ini pada intinya merupakan perpaduan antara pandangan nativisme dan
empirisme, yang keduanya dipandang sangat berat sebelah. Aliran ini menggabungkan
arti penting hereditas (pembawaan) dengan lingkungan sebagai faktor yang berpengaruh
dalam perkembangan manusia. Tokoh utama aliran konvergensi adalah Louis William
Stern (1871-1938), seorang filsuf, sekaligus sebagai psikolog Jerman.
Aliran filsafat yang dipeloporinya disebut "personalisme", sebuah pemikiran filosofis
yang sangat berpengaruh terhadap disiplin ilmu yang berkaitan dengan manusia. Di antara
disiplin ilmu yang menggunakan asas personalisme adalah "personologi", yang
mengembangkan teori yang komprehensif (luas dan lengkap) mengenai kepribadian
manusia (Reber, 1988}.
Stern dan para pengikutnya, dalam menetapkan faktor yang memengaruhi
perkembangan manusia, tidak hanya berpegang pada lingkungan/pegnalaman, juga tidak
berpegang pada pembawaan saja, tetapi berpegang pada kedua faktor yang sama
pentingnya itu. Faktor pembawaan tidak berarti apa-apa tanpa faktor pengalaman.
Demikian pula sebaliknya, faktor pengalaman tanpa faktor bawaan tidak akan mampu
mengembangkan manusia yang sesuai dengan harapan. ,
Perkembangan yang sehat akan berkembang jika kombinasi dari fasilitas yang
diberikan oleh lingkungan dan potensialitas kodrati anak bisa mendorong berfungsinya
segenap kemampuan anak. Dan kondisi sosial menjadi sangat tidak sehat apabila segala
pengaruh lingkungan merusak, bahkan melumpuhkan potensi psiko-fisis anak (Kartono,
1982).
Pengaruh yang paling besar selama perkembangan anak pada lima tahun pertama
ialah pengaruh orang tuanya. Pengaruh tersebut lebih mencolok lagi jika terjadi "salah
bentuk" pada diri anak akibat "salah tindak" orang tuanya.
Banyak penulis menyatakan bahwa semua sumber pangkal dari tindak kriminal dan
asusila di dunia ini adalah perbuatan orang tua yang buruk, terutama sekali sosok ibu
yang berbuat salah asuh, salah didik, salah rawat, salah santun, sehingga memprodusir
anak-anak yang abnormal, asosial, asusila dan patologis. Para teoretisi yang menganut
paham "environmentalisme," berpendapat, "Tidak ada anak yang sukar; yang ada ialah
orang tua yang sukar; "problem children are the product of problem parents."
Tentu saja, pendapat seperti itu tidak seluruhnya benar, karena tidak dilandasi prinsip-
prinsip ilmiah; dan lebih mengekspresikan hukuman moral. Memang benar, pribadi orang
tua merupakan faktor yang besar pengaruhnya pada pembentukan diri anak. Akan tetapi,
orang tua ini tidak mutlak menentukan keseluruhan nasib anak, sebab kualitas-kualitas
kodrati anak dan kemampuan anak sendiri ikut menentukan proses perkembangannya.
Individualitas dan pembawaan azali anak, menentukan cara respons anak terhadap
segenap pengaruh milieu dan pembawa lingkungan sosial lainnya. Kualitas pembawaan
anak sering memunculkan perkembangan yang berbeda sekali dengan harapan orang
tuanya.
Seorang psikolog wanita terkenal dan pernah menjadi sebagai presiden American
Psycological Association, Anne Anastasi, pada tahun 195$, mengajukan makalah klasik
yang dianggap memuaskan semua pihak, setidaknya meredakan pertentangan antara
empirisme dan nativisme, dalam memengaruhi perkembangan kepribadian seseorang.
Anastasi (dalam Gunarsa, 1983) mengemukakan bahwa pengaruh pembawaan atau
keturunan terhadap tingkah laku, selalu terjadi secara tidak langsung. Tidak satu pun dari
fungsi-fungsi psikis yang secara langsung diturunkan oleh orang tua kepada anak.
Pengaruh keturunan selalu membutuhkan perantara atau perangsang yang terdapat
dalam lingkungan, sekalipun kenyataannya memang ada semacam tingkatan yang lebih
dan yang kurang.
Hal di atas dicontohkan dengan -kenyataan-kenyataan berikut:
1. Latar belakang keturunan yang sama mungkin menghasilkan ciri-ciri kepribadian
yang berbeda pada kondisi-kondisi lingkungan yang berbeda pula.
2. Latar belakang keturunan yang berbeda dan pada lingkungan hidup yang berbeda
pula, dapat dihasilkan pola perkembangan yang sama atau hampir sama.
3. Lingkungan hidup yang sama bisa menimbulkan perbedaan-perbedaan ciri
kepribadian pada anak-anak yang berlainan latar belakang keturunannya.
4. Lingkungan hidup yang tidak sama bisa menimbulkan persamaan dalam ciri-ciri
kepribadian meskipun latar belakang keturunan tidak sama.
Tentang pengaruh lingkungan, Anastasi mengemukakan semacam faktor segmental,
yakni ada kalanya berlangsung dalam waktu yang singkat, ada kalanya berlangsung
dalam jangka waktu yang lama. Ada masa-masa ketika pengaruh lingkungan sangat kecil
dan sebaliknya, ada masa-masa ketika pengaruhnya sangat besar.
Tentang hubungan antara faktor lingkungan dan faktor keturunan (konstitusi), Anastasi
mengemukakan bahwa (Gunarsa, 1983):
1. Faktor lingkungan dan faktor konstitusi menjadi sumber timbulnya setiap
perkembangan tingkah laku.
2. Kedua faktor ini tidak bisa berfungsi secara terpisah, melainkan Baling
berhubungan.
3. Bentuk interaksi yang terjadi dapat dikonseptualisasikan sebagai bentuk hubungan
yang majemuk; artinya suatu hubungan yang terjadi memengaruhi hubungan-
hubungan lain ya akan terjadi.
Lantas, sejauh manakah pengaruh pembawan jika dibandingkan dengan lingkungan
terhadap perkembangan masa depa seseorang? Jawabannya mungkin tidak seragarn
atau mungkin berbeda antara orang yang satu dengan orang yang lain. Sebagian orang
berpendapat bahwa hal itu mungkin lebih banyak ditentukan oleh faktor lingkungannya,
namun alam hal pembawaan yang bersifat jasmaniah, hampir dapat dipastikan bahwa
semua orang berpendapat sama, yakni memiliki bentuk badan, rambut, dan mata yang
sama dengan kedua orang tuanya.***
INTELEGENI DAN
BAB 4 BAKAT

A. Inteligensi (Kecerdasan)
Apakah inteligensi itu? Istilah inteligensi yang padanan katanya "kecerdasan",
walaupun sepintas lalu kelihatan jelas, rupanya tidak mudah dirumuskan, karena tidak
semua orang atau bahkan setiap ahli menyatakan hal yang sama untuk istilah tersebut.
Umpamanya, ada dua orang yang berbeda, yakni seorang profesor (guru besar) suatu
perguruan tinggi dan seorang pengemudi truk. Bisakah kedua orang tersebut
memperlihatkan perilaku "pandai"? Bisa saja kita menganggap bahwa mereka dapat
melakukannya; sang profesor dapat berbicara dengan "pandai", sedangkan pengemudi
truk mungkin seorang pengemudi yang juga "pandai". Apakah, kerenanya, mereka dapat
dianggap memiliki "kecerdasan" yang sama? Barangkali, orang-orang,akan merasa bahwa
profesorlah yang lebih pandai daripada pengemudi truk. Jika anggapan orang-orang itu
demikian, perilaku manakah dalam diri profesor tersebut yang memperlihatkan kepada kita
bahwa dia lebih pandai?
Contoh lainnya, apakah maksudnya bila orang berkata, "Zul lebih pintar daripada
Nova"? Guru, orang tua, bahkan anak-anak sendiri acapkali membuat pernyataan seperti
ini dengan penuh keyakinan. Jadi, kualitas apakah yang terdapat pada individu sehingga
orang dapat mengatakan "Zul lebih pandai daripada Nova", atau seperti pada contoh
pertama bahwa "profesor lebih pandai daripada pengemudi truk"?
Dari sinilah, mulai muncul berbagai permasalahan mengenai pendefinisian istilah
inteligensi tersebut. Hampir semua orang memiliki pemikiran mengenai apa yang diartikan
sebagai inteligensi atau kecerdasan; misalnya "kecerdasan", "kemengertian",
"kemampuan untuk berpikir", "kemampuan untuk menguasai", "kecemerlangan sejak
lahir", dan sebagainya. Namun, berbagai definisi tersebut belum benar-benar memung-
kinkan kita untuk menentukan apakah, misalnya, suatu perilaku tertentu tergolong perilaku
pandai atau tidak pandai.
Kesulitan timbul karena kita secara salah telah menganggap bahwa kecerdasan atau
inteligensi adalah suatu "benda" (Hardy & Heyes, 1988). Misalnya, kita menyetujui
pendapat orang yang mengatakan "Dia pandai karena memiliki IQ yang tinggi" atau "Dia
berhasil memasuki perguruan tinggi karena pandai", di sini dianggap bahwa masing-
masing pernyataan tersebut memiliki kuantitas sesuatu yang dinamakan "inteligensi".
Namun, para ahli psikologi yang mempelajari perilaku, hampir semuanya
menggunakan istilah inteligensi dalam pengertian perilaku pandai. Adalah tidak mungkin
kita memiliki sejumlah kecerdasan atau inteligensi. Di dalam istilah gramatikal, mungkin
kita berpikir mengenai "pandai" sebagai kata sifat untuk menjelaskan perilaku, sedangkan
kata benda "inteligensi" akan mengarah pada suatu benda.
Sebenarnya, begitu banyak kekusutan yang dapat kita hindari jika kita memahami
bahwa inteligensi adalah sebuah kata yang menyatakan suatu konsep, dan bukan kata
yang menyatakan suatu substansi, benda, atau kekuatan. Lantas apa yang dimaksud
dengan konsep di sini?
Konsep, meminjam kata-kata Whitherington (1991:197-198), adalah pengertian umum
yang diabstraksikan dari pengertian khusus yang terdapat dalam situasi khusus. Misalnya,
bila seseorang bermain dengan jujur, kita akan berkata bahwa ia adalah seorang pemain
yang jujur. Dan apabila orang tadi membayar segala utangnya, dia akan dikatakan juga
pula. Apabila ia tidak pernah menjiplak atau mencontek dalam ujian-ujian, dia pun jujur
pula. Dan apabila dia seorang saksi selalu memberikan kesaksian yang benar, dan tidak
berbohong, dia dikatakan seorang saksi yang jujur. Begitulah seterusnya. Dari semua
keadaan tadi, dan dari keadaan lain yang serupa dengannya, kita dapat mengabstraksikan
(menarik, mengeluarkan) satu kualitas penting yang terdapat dalam segala keadaan dari
yang sudah kita bicarakan. Dan kemudian untuk mudahnya, bahasa kualitas yang kita
dapati dalam segala keadaan tadi kita namakan kejujuran; ini adalah pengertian umum.
Sudah jelas bahwa kejujuran bukan suatu benda, kekuatan, atau substansi. Dengan kata
lain, seseorang mungkin jujur dalam dalam suatu tindakannya, sedangkan dalam tindakan
lainnya, ia tidak jujur.
Demikian pula halnya dengan inteligensi. Seseorang, boleh jadi, memperlihatkan
inteligensi dalam suatu perbuatan yang memerlukan inteligensi, dan tidak demikian dalam
perbuatan lain. Jika seorang petani, misalnya, dapat mengerjakan sawahnya dengan baik,
kita katakan bahwa ia adalah seorang petani yang inteligen. Apabila seseorang dalam
pergaulannya dengan orang-orang lain selalu memperlihatkan kecakapan bergaul yang
tinggi, kita katakan bahwa ia adalah orang yang inteligen dalam soal-soal sosial. Orang
lain yang cekatan dalam soal-soal mekanika, kita katakan sebagai orang yang mempunyai
inteligensi mekanis. Dan apabila ia pandai pula dalam ilmu pasti tinggi, akan kita katakan
bahwa ia mempunyai inteligensi abstrak. Begitulah seterusnya.
Berdasarkan keadaan-keadaan seperti di atas, kita dapat menarik suatu pengertian
umum yang terdapat dalam segala keadaan tadi, dan kita namakan pengertian umum tadi
sebagai inteligensi. Jelas pulalah kiranya bahwa inteligensi pun bukan substansi, benda,
daya, suatu kekuatan, ataupun suatu ciri.
Setiap orang mempunyai semacam gagasan mengenai apa yang mereka maksud
dengan "inteligensi". Musisi yang cerdas, misalnya, mungkin mempunyai kualitas yang
berbeda dengan pelaut atau ahli matematika yang juga cerdas.
Pada umumnya, anak-anak mempunyai minat berlainan terhadap apa yang mereka
suka lakukan atau yang menjadi keahlian mereka. Ada anak yang menunjukkan bakat
khusus pada musik, ada yang pada olah raga; ada juga pada perhitungan aritmatika,
sementara yang lain lagi pada penulisan kreatif Meskipun demikian, guru dan orang tua
jarang ragu dalam memilih anak yang paling cemerlang atau cerdas dalam sebuah kelas
atau kelompok. Sebaliknya, demikian pula untuk memiliki anak yang kecerdasannya paling
rendah.
Jika sepuluh orang minta mendefinisikan "inteligensi", mungkin mereka akan
menjawab dengan sepuluh definisi yang sedikit berbeda. Ini sebagian disebabkan
kenyataan bahwa inteligensi bukanlah "benda" yang jika dimiliki, jumlahnya bisa lebih
sedikit atau lebih banyak, seperti tinggi atau berat badan.
Meskipun demikian, para ahli psikologi terus mencoba mengukur inteligensi sejak
permulaan abad ini, dan dikatakan bahwa "pengujian inteligensi adalah sumbangan
praktis utama psikologi terhadap masyarakat bebas". Namun, ahli psikologi biasanya tidak
mendefinisikan inteligensi sebagai suatu yang terpisah dari IQ (intelligence quotient).
Untuk keperluan praktis, biasanya mereka mengasumsikan bahwa inteligensi, sedangkan
adalah apa yang diukur oleh tes inteligensi. IQ hanyalah nilai yang didapat dari tes inteligensi.
Karena inteligensi amat sulit didefinisikan, ahli psikologi merancang tes yang bisa dipakai
untuk mengetes kemampuan verbal, pemecahan masalah, aritmetis, dan kemampuan lain
individu. Semua itu diberi nama "perilaku inteligensi" (Sylva & Lunt, 1986).

1. Pengertian Inteligensi dan Ciri-Ciri Perilaku


Inteligens
Apabila kita telusuri asal-usulnya, kata "inteligensi" erat sekali hubungannya dengan
kata "intelek". Hal itu bisa dimaklumi sebab keduanya berasal dari kata Latin yang sama,
yaitu intellegere, yang berarti memahami. Intellectus atau intelek adalah bentuk
participium perpectum (pasif) dari intellegere; sedangkan intellegens atau inteligensi
adalah bentuk participium praesens (aktif) dari kata yang sama. Bentuk-bentuk kata ini
memberikan indikasi kepada kita bahwa intelek lebih bersifat pasif atau statis (being,
potensi), sedangkan inteligensi lebih bersifat aktif (becoming, aktualisasi). Berdasarkan
pemahaman ini, bisa kita simpulkan bahwa intelek adalah daya atau potensi untuk
memahami, sedangkan inteligensi adalah aktivitas atau perilaku yang merupakan
perwujudan dari daya atau potensi tersebut.
Sehubungan dengan pengertian inteligensi ini, ada yang mendefinisikan inteligensi
sebagai: "Kemampuan untuk berpikir secara abstrak" (Terman) ;"Kemampuan untuk
menyesuaikan diri dengan lingkungannya" (Colvin); ada pula yang mendefinisikan
inteligensi sebagai "Intelek plus pengetahuan" (Henmon); "Teknik untuk memproses
informasi yang disediakan oleh indra" (Hunt).
Untuk memperoleh pengertian yang lebih luas dan lebih jelas tentang inteligensi,
berikut ini akan dikemukakan beberapa definisi yang dirumuskan oleh para ahli.
1. S.C. Utami Munandar
Secara umum inteligensi dapat dirumuskan sebagai berikut:
a. Kemampuan untuk berpikir abstrak;
b. Kemampuan untuk menangkap hubungan-hubungan dan untuk belajar;
c. Kemampuan untuk menyesuaikan diri terhadap situasi-situasi baru.
Perumusan pertama melihat inteligensi sebagai kemampuan berpikir;
perumusan kedua sebagai kemampuan untuk belajar; dan perumusan ketiga
sebagai kemampuan untuk menyesuaikan diri. Sekalipun menunjukkan aspek-
aspek yang berbeda dari inteligensi, ketiga aspek tersebut saling berkaitan.
2. Alfred Binet
Alfred Binet, dikenal sebagai pelopor dalam menyusun tes inteligensi,
mengemukakan pendapatnya mengenai inteligensi sebagai berikut (Effendi & Praja,
1993):
Inteligensi mempunyai tiga aspek kemampuan, yaitu:
a. Direction, kemampuan untuk memusatkan pada suatu masalah yang harus
dipecahkan.
b. Adaptation, kemampuan untuk mengadakan adaptasi terhadap masalah yang
dihadapinya atau fleksibel dalam menghadapi masalah.
c. Criticism, kemampuan untuk mengadakan kritik, baik terhadap masalah yang
dihadapi maupun terhadap dirinya sendiri.
(3) L.L. Thurstone
la mengemukakan teori multifaktor yang meliputi 13 faktor. Di antara ketiga
belas faktor tersebut, ada 7 faktor yang merupakan faktor dasar (primary abilities),
yaitu:
a. Verbal comprehension (V), kecakapan untuk memahami pengertian yang
diucapkan dengan kata-kata;
b. Word fluency (W), kecakapan dan kefasihan menggunakan kata-kata;
c. Number (N), kecakapan untuk memecahkan masalah matematika (penggunaan
angka-angka/bilangan);
d. Space (S), kecakapan tilikan ruang, sesuai dengan bentuk hubungan formal,
seperti menggambar design from memory;
e. Memory (M), kecakapan untuk mengingat;
f. Perceptual (P), kecakapan mengamati dan menafsirkan, mengamati persamaan
dan perbedaan suatu objek; Tes ini kadang-kadang dihilangkan dalam beberapa
bentuk.
g. Reasoning (R), kecalSapan menemukan dan menggunakan prinsip-prinsip.
(4) Edward Thorndike
Sebagai seorang tokoh psikologi koneksionisme, Thorndike mengemukakan
bahwa:
"Intelligence is demonstrable in ability of the individual to make good responses
from the stand point of truth or fact" (Inteligensi adalah kemampuan individu untuk
memberikan respons yang tepat (baik) terhadap stimulasi yang diterimanya).
(5) George D. Stodard
Stodard mengartikan inteligensi, sebagai berikut:
"Inteligensi adalah kecakapan dalam menyatakan tingkah laku, yang memiliki
ciri-ciri sebagai berikut :
(a) mempunyai tingkat kesukaran;
(b) kompleks;
(c) abstrak;
(d) ekonomis;
(e) memiliki nilai-nilai sosial;
(f) memiliki daya adaptasi dengan tujuan;
(g) menunjukkan kemurnian (original).
(6) William Stern
Stem mengemukakan bahwa:
"Inteligensi merupakan kapasitas atau kecakapan umum pada individu secara
sadar untuk menyesuaikan pikirannya pada situasi yang dihadapinya".
(7) Lewis Medison Terman
Menurut Terman, inteligensi terdiri atas dua faktor, yakni:
"General ability (faktor G), yaitu kecakapan umum" dan "Special ability (faktor
S), yaitu kecakapan khusus". Faktor G dan faktor S bukan merupakan faktor yang
terpisah, tetapi bekerja sama sebagai kesatuan yang bulat. Teori dari Terman ini
dikenal dengan teori dwi faktor (two factor theory)".
(8) Carl Whitherington
Dalam bukunya Educational Psychology, Whitherington mendefinisikan
inteligensi sebagai berikut:.
"... exellence of performance as manifested in efficient activity" (...inteligensi
adalah kesempurnaan bertindak sebagaimana dimanifestasikan dalam
kemampuan-kemampuan/kegiatan-kegiatan) berikut:
(a) Facility in the use of numbers (fasilitas dalam menggunakan bilangan dan
angka).
(b) Language effeciency (efisiensi penggunaan bahasa).
(c) Speed of perception (kecepatan pengamatan).
(d) Facility in memorizing (fasilitas dalam mengingat).
(e) Facility in comprehending relationship (fasilitas dalam memahami
hubungan).
(f) Imagination (menghayal atau mencipta) (Effendi & Praja, 1993).

Menurut Whitherington, sebutan inteligensi atau kecerdasan sebetulnya kurang tepat.


Yang lebih tepat adalah "kelakuan cerdas". Alasannya, kalau disebut inteligensi, seakan-
akan inteligensi itu melekat pada badan, seperti hidung, telinga, sedangkan, menurutnya,
inteligensi bukan merupakan suatu benda (substansi), melainkan suatu pengertian. Jadi,
inteligensi tidak lain dari pengertian, kumpulan kelakuan yang menunjukkan hal yang
cerdas.
Selanjutnya, Whitherington memberi batasan tentang pengertian, sebagai "suatu arti
umum, yang diabstraksikan (ditarik) dari suatu deret atau kelompok arti khusus dalam
keadaan khusus".
Pengertian itu, dalam pandangan Whitherington, mempunyai isi dan luas. Isi
pengertian ialah segenap ciri-ciri hakiki (ciri yang harus ada) dari suatu pengertian. Dan,
luas pengertian ialah segenap hal yang ada pada pengertian tersebut.. Pengertian
inteligensi, menurut Whitherington, mempunyai ciri-ciri hakiki berikut.
a. Cepat; makin cepat suatu pekerjaan diselesaikan, makin cerdaslah orang yang
menyelesaikan.
b. Cekatan; biasanya dihubungkan dengan pekerjaan tangan; dengan mudah dan
ringkas menjelaskan sesuatu.
c. Tepat; sesuai dengan tuntutan keadaan; misalnya mengukur jalan yang panjang
dengan besaran yang benar pula. Juga berarti mengukur dengan tepat; tidak lebih
tidak kurang.
d. Dengan demikian, dapatlah disebut bahwa inteligensi adalah kesempurnaan
perbuatan kecerdasan. Yang dimaksud kecerdasan ialah kecerdasan (activity)
yang efisien. Dan, dikatakan efisien, apabila memenuhi ketiga ciri-ciri hakiki
inteligensi tadi.
Penjelasan yang lebih jelas mengenai ciri-ciri tingkah laku atau perilaku inteligen ini
dikemukakan Ngalim Purwanto. Dikatakan, suatu perbuatan dapat dianggap inteligen, bila
memenuhi syarat antara lain (Purwanto, 1998:54-55):
1) Masalah yang dihadapi, sedikit banyak merupakan masalah yang baru bagi yang
bersangkutan. Umpamanya, ada soal: "Mengapa api jika ditutup dengan sehelai
karung bisa padam?" Apabila ditanyakan kepada anak yang baru bersekolah dan ia
dapat menjawab dengan betul, jawaban itu inteligen. Akan tetapi, jika pertanyaan itu
dijawab oleh anak yang baru mendapat pelajaran ilmu alam tentang api, hal itu
tidak dapat dikatakan inteligen.
2) Perbuatan inteligen, sifatnya serasi tujuan dan ekonomis. Untuk mencapai tujuan
yang hendak diselesaikan, dicarikan jalan yang dapat menghemat waktu maupun
tenaga
3) Masalah yang dihadapi, harus mengandung tingkat kesulitan bagi yang
bersangkutan. Ada suatu masalah yang bagi orang dewasa mudah dipecahkan
atau dijawab, hampir tanpa harus berpikir; sedangkan bagi anak-anak, harus
dijawab dengan berpikir. Apabila seorang anak bisa menjawab, jawaban anak itu
inteligen.
4) Keterangan pemecahannya harus dapat diterima oleh masyarakat. Misalnya, apa
yang harus Anda perbuat jika Anda lapar? Kalau dijawabnya "saya harus mencuri
makanan", tentu saja jawaban itu tidak inteligen.
5) Perbuatan inteligen sering kali menggunakan daya mengabstraksi. Pada waktu
berpikir, tanggapan dan ingatan yang tidak perlu, harus disingkirkan. Apakah
persamaan antara jendela dan daun? Jawaban yang benar memerlukan daya
mengabstraksi.
6) Perbuatan inteligen bercirikan kecepatan. Proses pemecahannya relatif cepat,
sesuai dengan masalah yang dihadapi.
7) Membutuhkan pemusatan perhatian dan menghindarkan perasaan yang
mengganggu jalannya pemecahan masalah yang sedang dihadapi. Apa yang akan
Anda lakukan jika sekonyong-konyong Anda melihat orang tertabrak mobil dan
pertolongan Anda" sangat diperlukan?
Ciri-ciri tingkah laku inteligen berikut ini, sedikit banyak bisa memperjelas atau
menambah pendapat Whitherington dan pendapat Purwanto.
Menurut Effendi & Praja (1993), beberapa ciri tingkah laku yang inteligen ialah berikut
ini.
1) Purposeful behavior, artinya tingkah laku yang inteligen, selalu terarah pada
tujuan atau mempunyai tujuan yang jelas.
2) Organized behavior, artinya tingkah laku yang terkoordinasi, semua tenaga
dan alat-alat yang diperlukan dalam suatu pemecahan masalah berada dalam
suatu koordinasi. Tidak acak-acakan.
3) Physical well toned behavior, artinya memiliki sikap jasmaniah yang baik, penuh
tenaga dan tangkas atau lincah.
4) Adaptable behavior, artinya tingkah laku yang luas fleksibel, tidak statis dan
kaku, tetapi selalu siap untuk mengadakan penyesuaian/perubahan terhadap
situasi yang baru.
5) Success oriented behavior, artinya tingkah laku yang didasari perasaan aman,
tenang, gairah, dan penuh kepercayaan akan sukses/optimis.
6) Clearly motivated behavior, artinya tingkah laku yang dapat memenuhi
kebutuhannya dan,bermanfaat bagi orang lain atau masyarakat.
7) Rapid behavior, yaitu tingkah laku yang efisien, efektif, dan cepat atau
menggunakan waktu yang singkat.
8) Broad behavior, yaitu tingkah laku yang mempunyai latar belakang dan pandangan
luas yang meliputi sikap dasar serta jiwa yang terbuka.
2. Hubungan Inteligensi dengan Kreativitas
Belakangan ini, istilah "kreativitas" atau daya cipta sering digunakan. Sering pula
ditekankan pentingnya pengembangan kreativitas, baik pada anak didik, pegawai negeri
maupun kepada mereka yang berwirausaha.
Apa itu kreativitas? Sebetulnya, kreativitas merupakan suatu bidang kajian yang sulit,
yang menimbulkan perbedaan pandangan. Biasanya, perbedaan itu terletak pada definisi
kreativitas, kriteria perilaku kreatif, proses kreatif, hubungan kreativitas dan inteligensi,
karakteristik orang kreatif, korelat-korelat kreativitas, dan upaya untuk mengembangkan
kreativitas.
Dalam berbagai kajian tentang kreativitas, istilah ini acap kali didefinisikan secara
berbeda-beda. Sedemikian beragam definisi tersebut, sehingga pengertian kreativitas
bergantung pada cara orang mendefinisikannya - "creativity is a matter of definition". Tidak
ada satu definisi pun yang dianggap dapat mewakili pemahaman yang beragam tentang
kreativitas. Hal ini disebabkan dua alasan. Pertama, sebagai suatu "konstruk hipotesis",
kreativitas merupakan ranah psikologis yang kompleks dan multidimensional, yang
mengandung berbagai tafsiran yang beragam. Kedua, definisi kreativitas memberikan
tekanan yang berbeda-beda, bergantung pada dasar teori yang menjadi acuan pembuat
definisi (Supriadi, 1994:6).
Dilihat dari segi penekanannya, definisi kreativitas dapat dibedakan dalam dimensi
person, proses, produk, dan press. Rhodes (1961) menyebut keempat dimensi kreativitas
tersebut sebagai "the Four P's of Creativity". Definisi kreativitas yang menekankan dimensi
person dikemukakan, misalnya, oleh Guilford (1950): "Creativity refers to the abilities that
are characteristics of creative people". Definisi yang menekankan segi proses diajukan
oleh Munandar (1977): "Creativity is a process that manifests itself influency, inflexibility as
well in originality of thinking". Defini yang menekankan segi produk, dikemukakan oleh
Barron (1976) yaitu: "the ability to bring something new into existence". Segi produ" juga
ditekankan oleh Semiawan dan kawan-kawan (1984), yakni : "Kemampuan untuk
menciptakan suatu produk baru. Tidak perlu seluruh produk yang harus baru, mungkin
saja gabungannya, kombinasinya, sedangkan unsur-unsumya sudah ada sebelumnya".
Sementara, Amabile (1983), seperti dikutip Supriadi (1994), mengemukakan, "Creativity
can be regarded as the quality of products or responses judged to be creative by
appropriate observers".
Dalam suatu penelitian yang telah dilakukan di Indonesia terhadap sejumlah ahli
psikologi dalam rangka mengetahui ciri-ciri manakah menurut pendapat mereka, mereka
paling mencerminkan kepribadian kreatif, diperoleh urutan ciri-ciri sebagai berikut
(Munandar, 1977):
a. mempunyai daya imajinasi yang kuat;
b. mempunyai inisiatif;
c. mempunyai minat yang luas;
d. bebas dalam berpikir (tidak kaku atau terhambat);
e. bersifat ingin tahu;
f. selalu ingin mendapat pengalaman-pengalaman baru;
g. percaya pada diri sendiri;
h. penuh semangat (energetic);
i. berani mengambil risiko (tidak takut membuat kesalahan);
j. berani dalam pendapat dan keyakinan (tidak ragu-ragu dalam menyatakan pendapat
meskipun mendapat kritik dan berani mempertahankan pendapat yang menjadi
keyakinannya).
Dalam beberapa tahun terakhir, ada topik baru yang mengundang banyak tanggapan
dan perdebatan, yaitu hubungan kreativitas dan inteligensi. Adakah hubungan antara
keduanya?
Menurut Dedi Supriadi, kreativitas dan inteligensi mempunyai perbedaan (Supriadi,
1994). Jika menggunakan teori Guilford mengenai Structure of Intellect (SOI), inteligensi,
menurut Supriadi, lebih menyangkut pada cara berpikir konvergen (memusat), sedangkan
kreativitas berkenaan dengan cara berpikir divergen (menyebar). Penelitian Torrance
(1965) mengungkapkan bahwa anak-anak yang tinggi kreativitasnya mempunyai taraf
inteligensi (IQ) di bawah rata-rata IQ kelompok sebayanya. Dalam konteks keberbakatan
(giftedness), ia menyatakan bahwa IQ tidak dapat dijadikan kriteria tunggal untuk
mengindentifikasi orang-orang yang berbakat. Jika hanya IQ yang digunakan sebagai
kriteria, sekitar 70% orang yang tinggi kreativitasnya akan tereliminasi dari seleksi.
Berbagai studi lain melaporkan hasil yang berbeda-beda mengenai hubungan antara
kreativitas dan inteligensi. Pada intinya, penelitian'itu membuktikan, bahwa sampai tingkat
tertentu terdapat hubungan antara inteligensi dan kreativitas. Namun, menurut Getzels &
Jackson, pada tingkat IQ di atas 120, hampir tidak ada hubungan antara keduanya.
Artinya, orang yang IQ-nya tinggi, mungkin kreativitasnya renda"atau sebaliknya.
Selanjutnya, kedua peneliti itu membuat empat kelompok orang, yaitu:
1. kreativitas rendah, inteligensi rendah;
2. kreativitas tinggi, inteligensi tinggi;
3. kreativitas rendah, inteligensi tinggi; dan
4. kreativitas tinggi, inteligensi rendah.
Dengan demikian, kreativitas dan inteligensi merupakan dua domain kecakapan
manusia yang berbeda. Dalam teori yang berlaku dewasa ini, baik inteligensi maupun
kreativitas, dijadikan kriteria untuk menentukan bakat seseorang.

3. Tes Inteligensi
Bagaimana kita dapat mengetahui kecerdasan atau inteligensi? Dapatkah inteligensi
itu diukur? Bagaimana kita dapat menentukan cerdas tidaknya seseorang? Salah satu
cara ialah dengan menggunakan tes yang disebut "tes inteligensi".
Tes inteligensi adalah tes yang bertujuan mengukur inteligensi -dan inteligensi adalah
apa yang diukur oleh tes inteligensi. Kita dapat memutuskan lingkaran yang
membingungkan ini dengan meninjau perkembangan tes inteligensi (atau tes IQ) untuk
melihat apa yang dimaksudkan ahli psikologi dengan perilaku cerdas.
Pada tahun 1933, seorang ahli psikologi berkebangsaan Inggris, Cyril Burt, menulis
(Silva & Hunt, 1986) :
Melalui inteligensi, ahli psikologi bisa memahami kemampuan intelektual keseluruhan
yang dibawa sejak lahir. Kemampuan tersebut diwariskan, atau paling tidak bawaan, tidak
ada kaitannya dengan pengajaran atau pelatihan; kemampuan itu intelektual, bukan
emosional atau moral, dan tidak terpengaruh oleh kerajinan atau semangat; kemampuan
tersebut umum, tidak khusus, yaitu tidak terbatas pada jenis pekerjaan tertentu, tetapi
masuk ke dalam semua yang kita lakukan, atau kita katakan, atau kita pikirkan. Dari
semua kualitas mental kita, inilah yang paling jauh jangkauannya. Untunglah
kemampua~nijtu dapat diukur dengan tepat dan mudah.
Untuk menghasilkan kualitas tes yang baik, memang diperlukan metode pengukuran
yang signifikan. Hasilnya harus tidak bersifat kebetulan.
Orang ingin yakin betul bahwa suatu tes yang diberikan kepada seseorang dua kali
-dengan selang waktu yang cukup sehingga orang melupakan pertanyaan-pertanyaannya
akan dikerjakan dengan hasil yang ; hampir sama-sama baik. Sejauh mana hasilnya cocok
merupakan ukuran reliabilitas tes tersebut. Tes inteligensi yang modern kurang lebih 95%
reliable; dalam bahasa statistik dikatakan memiliki reliability coefficient 95.
Tes yang baik juga harus valid. Artinya, tes itu harus mengukur apa yang mesti diukur.
Untuk menentukan hal ini, kita harus membandingkannya dengan ukuran yang standar
atau kriteria. Kriteria untuk mengukur validnya tes inteligensi yang pertama kali adalah
perkiraan nilai anak-anak di sekolah yang diberikan oleh gurunya. Dulu, ketika tidak ada
kriteria di luar pendapat ini, timbul kesukaran dalam mengukur valid-nya semua tes.
Karena itu, validity coefficient biasanya lebih rendah daripada reliability coefficient.
Tes inteligensi kasar yang dipakai orang awam memiliki validity coefficient yang
sangat rendah. Kemampuan mencari uang, kemampuan mengingat faktafakta, dan
kemampuan bersekolah bertahun-tahun, bukanlah tes inteligensi yang sangat valid.
Perlu diketahui bahwa hasil tes inteligensi itu bermacam-macam; bisa berupa angka-
angka dalam skala yang bermacam-macam, dan bergantung pada jenis tes yang
digunakan. Bisa pula dalam bentuk angka-angka yang menunjukkan keadaan aspek-
aspek dengan penjabarannya dalam bentuk hasil "evaluasi psikologis" dengan
psikogram. Karena ada tes inteligensi yang tujuan, landasan teori, dan skala
pengukurannya berbeda-beda, penafsirannya perlu disesuaikan. Begitu pula mengenai
kekhususan pembuatan tes yang digunakan untuk anak, orang dewasa, atau yang dalam
pelaksanaannya harus dilakukan secara individual, klasikal, sesuai dengan ciri tesnya.
Karena itu, tidak setiap angka hasil tes inteligensi yang ditulis dalam lembaran hasil
pemeriksaan adalah angka IQ.
Sternberg (1985), seperti dikutip Rita L. Atkinson dan kawan-kawan, dalam upaya
menggeneralisasikan pendekatannya, berpendapat bahwa teori komprehensif tentang
inteligensi melibatkan proses komponen yang jauh lebih besar dari yang ditemukan oleh
ahli psikologi masa lalu, yang bekerja di lingkungan laboratorium yang terbatas, atau
dalam situasi tes yang tipikal. Sternberg menyatakan bahwa komponen yang lebih besar
ini berhubungan bukan hanya dengan "inteligensi akademik", tetapi juga "inteligensi
praktis". Komponen ini dapat disusun dalam empat kelompok, yang dapat dilabel secara
kasar sebagai berikut:
1. Kemampuan untuk berpikir dan mengambil pelajaran dari pengalaman.
2. Kemampuan untuk berpikir atau menalar secara abstrak.
3. Kemampuan untuk beradaptasi dengan hal-hal yang timbul dari dunia yang
selalu berubah dan tidak pasti.
4. Kemampuan untuk memotivasi diri sendiri guna menyelesaikan secara tepat
tugas-tugas yang perlu diselesaikan.
Menurut Atkinson, ahli psikologi lain - apakah bekerja dari perspektif pendekatan
faktorial atau dari pendekatan pengolahan informasi - biasanya sependapat dengan daftar
tersebut. Sebagian besar inteligensi yang digunakan sekarang, cukup efektif dalam
menilai dua kemampuan pertama, tetapi kurang berguna dalam menilai dua yang terakhir.
Sayangnya, tes inteligensi konvensional efektif dalam memprediksi prestasi akademik,
jauh kurang efektif untuk memprediksi prestasi di luar akademik.' Kemampuan kita untuk
menilai inteligensi dengan jenis tes yang digunakan sekarang, menurut Atkinson, mungkin
telah mencapai batasnya. Dalam kaitan inilah, kata Atkinson, metode baru harus
dikembangkan dalam menilai motivasi dan kemampuan pemecahan masalah praktis untuk
meningkatkan kekuatan prediksi tes inteligensi.

4. Perkembangan dan Penggunaan Tes Inteligensi


Dalam buku-buku teks psikologi, Alfred Binet sering disebut-sebut sebagai orang yang
berjasa menemukan tes inteligensi pertama kali. Namun, sebetulnya orang pertama yang
berupaya mengembangkan tes untuk menilai kemampuan intelektual ini adalah Sir Francis
Galton, satu abad yang lalu. Galton tertarik pada berbagai perbedaan individu dari teori
evolusi sepupunya, Charles Darwin.
Sebagai seorang naturalis dan ahli matematika, Galton yakin bahwa keluarga tertentu
secara biologis adalah unggul Iebih kuat dan lebih cerdas - dibandingkan keluarga lain.
Inteligensi, menurutnya, adalah masalah keterampilan sensorik-perseptual yang luar
biasa, yang diturunkan dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Karena semua
informasi didapatkan melalui indra, semakin sensitif dan akurat alat persepsi seseorang,
semakin cerdas orang itu.
Galton mendasarkan tes inteligensinya pada asumsi bahwa keunggulan inteligensi
seseorang tercermin dalam keunggulan kekuatan fisiknya. Dengan demikian, v~riabel
yang diukur dalam tes inteligensinya adalah ukuran batok kepala, ket/ajaman penglihatan,
ingatan terhadap bentuk visual, kemampuan bernafas, dan kekuatan genggaman tangan.
Dia merasa sangat kecewa, karena ternyata para cendekiawan yang tersohor di Inggris,
ketika itu, tidak dapat dibedakan dengan orang biasa, atas dasar ukuran batok kepala dan
kuatnya genggaman tangan. Meskipun tes yang dibuat oleh Galton tidak begitu
bermanfaat, setidaknya, dia telah meletakkan tonggak dalam sejarah tes inteligensi.
Bagaimana pun, Galton (1884) tercatat telah menerapkan koefisien korelasi yang memiliki
peranan penting dalam psikologi.
Sementara itu, tes pertama yang mendekati tes inteligensi kontemporer diajukan oleh
seorang dokter yang juga ahli psikologi berkebangsaan Prancis, Alfred Binet..Ia kemudian
dibantu oleh sejawatnya, Theophile Simon, sehingga tesnya terkenal dengan nama Tes
Binet-Simon. Seri tes Binet-Simon ini, pertama kali diumumkan antara 1908-1911, yang
diberi nama Chelle matrique de I'inteligence atau skala pengukur inteligensi. Tes
inteligensi Binet-Simon ini hingga sekarang masih digunakan dalam bentuk revisi dan
kadang untuk tujuan yang sama. Sedemikian besarnya pengaruh Binet dan Simon dalam
pengetesan ini, sehingga sampai sekarang, banyak ahli yang berpendapat bahwa segala
taraf kemajuan dapat dicapai dengan kecerdasan yang cukup tinggi.
Pengetesan inteligensi, pada awalnya merupakan cara untuk menyeleksi anak-anak
untuk pendidikan yang berbeda-beda jenisnya, dan terutama sudah digunakan untuk
tujuan itu. Tidaklah mengherankan jika tes inteligensi erat kaitannya dengan prestasi dan
kemampuan sekolah yang berguna untuk keberhasilan akademis di dunia Barat.
Bagaimana Binet merancang tes tersebut? la memperhatikan anak-anak memecahkan
berbagai persoalan yang berbeda, dan membentuk serangkaian pertanyaan atau item
yang tipikal dari prestasi anak-anak yang usianya berbeda-beda dan yang membedakan
anak-anak yang cemerlang dan bodoh.
Berikut ini merupakan beberapa contoh item dari skala yang asli, yang diterbitkan
tahun 1908, yang menunjukkan jenis-jenis kemampuan yang dianggap rata-rata bagi
anak-anak pada tingkatan umur tiga dan tujuh tahun (Mahmud, 1990):
Umur 3 (tiga) tahun
a. kemampuan menunjuk hidung, mata, mulut; b. mengulang-ulang dua angka;
b. kemampuan menyebut nama akhir;
c. memberi nama pada objek-objek pada sebuah gambar;
d. mengulang-ulang kalimat yang terdiri atas enam suku kata.
Umur 7 (tujuh) tahun:
a. kemampuan memberi nama pada sesuatu yang hilang
dalam gambar-gambar yang sudah dikenal, tetapi belum selesai;
b. mengetahui jumlah jari tangan kanan dan kini tanpa
menghitungnya;
c. kemampuan mencontoh jajaran genjang;
d. mengulang lima angka;
e. menghitung tiga belas sen;
f. mengetahui nama empat macam uang logam.
Binet, seperti tampak pada contoh di atas, mengeluarkan skala soal tes dengan
kesulitan yang meningkat, yang mengukur jenis-jenis perubahan inteligensia, yang
biasanya berkaitan dengan peningkatan usia. Semakin tinggi anak di dalam skala itu
dengan menjawab soal secara tepat, semakin tinggi usia mental (MA; mental age) anak
itu. Konsep usia mental adalah penting dalam metode Binet. Dengan menggunakan
metode ini, kita dapat membandingkan MA anak dengan usia kronologis (CA;
chronological age) anak tersebut, yang ditentukan dari tanggal lahirnya.
Sistem penilaian untuk menghitung MA telah ditetapkan, sehingga MA rata-rata untuk
sekelompok besar anak pada CA tertentu, dalam faktanya, sama dengan CA. Sebagai
contoh, rata-rata MA untuk semua anak 10 tahun sama dengan CA 10 tahun; tetapi, untuk
anak 10 tahun tertentu, MA-nya dapat di bawah, sama, atau di atas CA 10 tahun. Jadi,
MA anak cerdas di atas CA-nya; MA anak bodoh di bawah C4-nya. Jenis skala usia-
mental ini mudah diinterpretasikan oleh guru dan orang lain, yang menghadapi anak-anak
dengan kemampuan mental yang berbeda-beda.
Butir soal tes yang pada umumnya dikembangkan oleh Binet, kemudian diadaptasi
untuk anak sekolah Amerika oleh Lewis Terman di Stanford University. Terman
membakukan pemberian tes dan mengembangkan norma tingkat usia, dengan
memberikan tes kepada ribuan anak. Pada tahun 1916, ia mempublikasikan revisi
Stanford dari tes Binet, yang kemudian dikenal dengan nama Stanford Binet Intelligence
Scale; dan direvisi lagi pada tahun 1937, 1960, 1972, dan terakhir pada tahun 1986.
Lewis Terman mempertankan onsep Binet mengenai usia mental. Setiap butir tes
disesuaikan dengan usia pada tingkat yang sebagian besar anak menempuhnya. Usia
mental anak didapatkan dengan menjumlahkan banyak butir soal yang dijawab secara
tepat pada tiap tingkat usia. Di samping itu, Terman menerapkan indeks inteligensi
praktis, yang disarankan oleh ahli psikologi Jerman, William Stern. Indeks ini adalah
intellegence quotient, yang lazim dikenal sebagai IQ. Indeks ini mengekspresikan
inteligensi sebagai rasio via mental (MA) terhadap usia kronologis (CA):
MA
IQ = x100
CA
100 digunakan sebagai pengali, sehingga IQ memiliki nilai 100 jika MA a dengan CA.
Jika MA lebih rendah dari CA, maka IQ lebih kecil dari 00; jika MA lebih tinggi dari CA,
maka IQ lebih tinggi dari 100.
Stanford-Binet menggunakan campuran dari berbagai jenis soal untuk menguji
inteligensi. Sampai revisi tahun 1986, semua soal berperan sama terhadap nilai IQ total.
Seorang anak mungkin mengerj akan secara sangat tes perbendaharaan kata (vocabulary
test), namun tidak baik pada tes yang memerlukan penggambaran bentuk-bentuk
geometrik. Kelebihan dan kelemahan itu mungkin diketahui oleh pemeriksa, tetapi tidak
tercermin m nilai IQ.
Kemudian, sejalan dengan pandangan sekarang mengenai inteligensi sebagai
komposit dari kemampuan yang berbeda, revisi 1986 mengelompokkan ya menjadi empat
bidang luas kemampuan intelektual, yakni; penalaran verbal, penalaran abstrak/visual,
penalaran kuantitatif, dan memori jangka dek. Nilai ya berbeda didapatkan untuk setiap
bidang.
Berikut adalah contoh tipikal soal dari Stanford-Binet Intelligence Scale, 1986, untuk
anak usia 6 sampai 8 tahun, yang dikelompokkan menurut bidangnya, sebagaimana
dikutip Rita L. Atkinson dan kawan-kawan, dalam mereka, Introduction to Psychology:
a. Penalaran verbal,
1) Perbendaharaan kata (vocabulary)
Mendefinisikan kata, seperti "uang" dan "amplop"
2) Pemahaman (comprehension)
Menjawab pertanyaan, seperti "Ke mana orang membeli makanan?" dan
"Mengapa orang menyisir rambutnya?"
3) Keganjilan (absurdities):
Mengenali bagian "lucu" dari sebuah gambar, seperti; anak perempuan
mengendarai sepeda di atas danau" atau "pria botak menyisir rambutnya".
4) Hubungan verbal (verbal relation) :
Mengatakan bagaimana tiga kata pertama di dalam urutan adalah mirip satu
sama lain, dan bagaimana mereka berbeda dari kata keempat; syal, dasi,
selendang, baju.
b. Penalaran Kuantitatif
1) Kuantitatif (quantitative)
Melakukan hitungan aritmatika sederhana, seperti memilih mata dadu dengan
enam bintik, karena jumlah bintik sama dengan kombinasi mata dadu dua bintik dan
empat bintik.
2) Urutan angka (number series)
Mengisi dua angka selanjutnya dalam urutan, seperti; 20 16 12 8....
3) Membentuk persamaan (equation building)
Bentuklah suatu persamaan dari susunan berikut: 2 3 5. Jawaban yang benar
adalah 2 + 3 = 5.
c. Penalaran Abstrak/Visual
1) Analisis pola (pattern analysis)
Mencontoh bangun sederhana dengan balok.
2) Mencontoh gambar (copying)
Mencontoh gambar geometris yang ditunjukkan oleh penguji, seperti
persegi empat yang dipotong oleh dua diagonal.
d. Memori Jangka Pendek
1) Mengingat bentuk (bead memory)
Tunjukkan gambar beberapa bentuk manik-manik yang berbeda yang disusun
di sebuah kayu. Buatlah urutan yang sama dengan berdasarkan ingatan saja.
2) Mengingat kalimat (memory for sentences)
Ulangi kalimat yang diucapkan oleh penguji, seperti "Sekarang waktunya tidur"
dan "Ken membuat gambar untuk hadiah ulang tahun ibunya".
3) Mengingat angka (memory for digits) .
Ulangi urutan angka yang diucapkan oleh penguji, seperti; 5 - 7 - 8 - 3, maju
atau mundur.
4) Mengingat benda (memory for objects)
Tunjukkan gambar satu benda, seperti jam dan gajah, satu per satu. Kenali
benda tersebut dalam urutan penampilannya,yang tepat di gambar yang juga
mencakup benda lain; sebagai contohnya; bis, badut, gajah, telur, jam.

Bagaimana IQ diinterpretasikan? Distribusi IQ kira-kira membentuk kurva yang


ditemukan pada banyak perbedaan individual, seperti perbedaan tinggi badan; kurva
berbentuk lonceng ini dinamakan kurva distribusi normal yang ditunjukkan dalam gambar
4-1. Sebagian besar kasus berkelompok di sekitar garis tengah kurva normal; dari sini,
jumlah secara bertahap menurun sampai hanya beberapa kasus pada kedua ekstrem.
Distribusi normal adalah metode untuk menyajikan bagaimana karakteristik manusia
tersebut di kalangan populasi. Kebanyakan orang adalah rata-rata, termasuk dalam
"kumpulan" kurva berbentuk lonceng, sementara sejumlah kecil mempunyai karakteristik
yang amat tidak bisa; misalnya, mereka mungkin amat kecil atau amat tinggi dan berbeda
di garis luar kurva.

Gambar 6: Distribusi normal atau kurva berbentuk lonceng, menunjukkan frekuensi


relatif dari nilai IQ (meskipun tinggi, berat, dan banyak hal lain mengikuti kurva yang
mirip). Enam puluh delapan persen dari nilai tersebut masuk di antara 85 dan 115; 95
persen di antara 70 dan 130; 99,7 persen di antara 44 dan 145; dan hanya 0,3 persen di
luar ekstrem-ekstrem tersebut pada kedua ujung (Sumber: Silva &Lunt,1986).
Gambar 7: Distribusi IQ untuk 2.904 anak berusia 2 sampai 18 tahun; ini adalah
kelompok yang digunakan untuk standardisasi tes Stanford-Binet yang telah direvisi
(Sumber:,Silva & Lunt, 1986).

Gambar 7 adalah grafik yang menunjukkan persentase anak-anak dari suatu sampel
besar, yang nilainya termasuk dalam cakupan IQ. Terlihat bahwa kebanyakan anak
mendapat nilai sekitar 100; sementara, yang mendapatkan nilai di bawah 50, atau di atas
150, hanya beberapa saja. Grafik ini merupakan contoh "distribusi normal".
Selanjutnya, untuk menginterpretasikan nilai IQ, Terman mengklasifikasikan IQ dalam
beberapa kategori, sebagai berikut:

Tabel 4.1
Distribusi Normal Tingkat Kecerdasan
IQ (Intelligence Quotient/ Deskripsi Persentase Populasi -
Tingkat Kecerdasan) Verbal dalam Setiap
Kelompok
0 - 19 Idiot 1
20 - 49 Embicile
50 - 69 Moron 2
70 - 79 Inferior
80 - 89 Bodoh 15
90 - 109 Normal 46
110 - 119 Pandai 18
120 - 129 Superior 8
130 - 139 Sangat 3
140 - 179 Gifted
180 ke atas Genius 1

Satu hal yang perlu kita cermati dari angka-angka yang tertera pada tabel 4.1 ialah
bahwa kita seyogianya berhati-hati dalam menetapkan klasifikasi ini. Mengapa? Sebab,
dalam kenyataannya, pembagian yang setajam itu pada dasarnya tidak ada. Seorang
pandai dengan IQ 110, misalnya, adalah satu kali lebih dekat ke kategori normal dengan
IQ 109, ketimbang orang yang juga pandai, tetapi dengan IQ 119.
Selanjutnya, beberapa ciri dari tiap-tiap tingkat inteligensi tersebut, dapat dijelaskan
sebagai berikut (Mahmud, 1990; Effendi & Praja, 1993):

a. Cacat Mental (Mentally Deficient/Feeble Minded)


Mereka yang IQ-nya di bawah 70 disebut cacat mental atau lemah pikiran (feeble
minded). Mereka ini menderita amentia atau kurang pikiran. Yang termasuk dalam kategori
cacat mental atau lemah pikiran adalah tingkat-tingkat; idiot, embisil, dan moron (debil).
Ciri-ciri umum dari orang yang cacat mental adalah:
(1) tidak dapat mengurus dan memenuhi kebutuhannya sendiri;
(2) walaupun dapat mengurus dirinya sendiri, mereka masih memerlukan
pengawasan yang dan memerlukan kesabaran.
(3) Pada waktu bayi, mereka sangat tidak responsif dan apatis sekali.
(4) Mereka umumnya baru bisa berjalan sendiri pada umur tiga atau empat tahun, dan
baru pada umur lima tahun mereka berbicara.
(5) Kebiasaan makan dan keberhasilannya terkebelakang tiga sampai empat tahun
(6) Mereka dapat diajari mengenal bahaya, seperti bahaya api, bahaya tenggelam di
air yang dalam, clan sebagainya.
d. Moron (IQ 50 - 69)
Moron merupakan problem terbesar masyarakat. Pada masa dewasa, moron
dianggap memiliki kecerdasan yang sederajat dengan kecerdasan anak-anak yang
berusia 7 sampai 10 tahun. Tingkat inteligensinya bergerak antara 50 sampai 70.
Ciri-ciri moron adalah:
(1) Di sekolah, mereka jarang bisa mencapai lebih dari kelas lima.
(2) Sampai pada tingkat tertentu, mereka dapat belajar membaca, menulis,
(3) dan berhitung dalam perhitungan-perhitungan yang sederhana.
(4) Mereka dapat mempelajari pekerjaan-pekerjaan rutin dan bisa terusmenerus
melakukan pekerjaan itu selama tidak mengalami perubahan-perubahan yang
berarti.
(5) Angka pelanggaran hukum adalah tertinggi di antara gadis-gadis yang moron; para
pencuri dan pelacur sering berasal dari golongan moron ini.
(6) Mereka juga memiliki dorongan, keinginan, dan emosi yang normal, tetapi tidak
mempunyai kecerdasan untuk mengontrol atau meramalkan akibat-akibat
perbuatannya.
e. Inferior (IQ 70 - 79)
Ini merupakan kelompok tersendiri dari individu-individu terbelakang.
Kecakapan pada umumnya hampir sama dengan kelompok embicile, namun
kelompok ini mempunyai kecakapan tertentu yang melebihi kecerdasannya;
misalnya dalam bidang musik.
Mereka yang termasuk kelompok inferior memiliki tingkat kecerdasan di bawah
kelompok normal dan bodoh serta di atas kelompok terbelakang. Kelompok ini bisa
memelihara dirinya sendiri, dan dengan susah payah mereka dapat mengerjakan
sejumlah kecil pekerjaan atau pelajaran sekolah lanjutan pertama, tetapi jarang
atau sukar untuk menyelesaikan kelas terakhir SLTP
f. Bodoh (IQ 80 - 89)
Pada umumnya kelompok ini agak lambat dalam mencema pelajaran di
sekolah. Meskipun demikian, mereka dapat menyelesaikan pendidikannya pada
tingkat SLTP namun agak sulit untuk menyelesaikan pendidikan SLTA.
g. Normal/Rata-rata (IQ 90 - 109)
Kelompok ini merupakan kelompok yang terbesar persentasenya di antara
populasi. Mereka mempunyai IQ yang sedang, normal, atau rata-rata.
h. Pandai (IQ 110 - 119)
Kelompok ini pada umumnya mampu menyelesaikan pendidikan tingkat
Inversitas atau perguruan tinggi. Jika bersatu dengan kelompok normal, mereka
biasanya merupakan "repid learner" atau "giveted", yaitu pemimpin dan kelasnya.
i. Superior (IQ 120 - 129)
Ciri-ciri dari kelompok superior ini, antara lain: lebih cakap dalam membaca,
berhitung; perbendaharaan bahasanya luas, cepat memahami pengertian yang
abstrak, dan mempunyai pengetahuan yang lebih luas -banding dengan orang-
orang yang termasuk kelompok pandai. Demikian pula dengan kesehatan dan
ketahanannya lebih baik daripada orang-orang normal.
j. Sangat Superior (IQ 130 - 139)
Kelompok ini termasuk kelompok superior yang berbeda pada tingkat tertinggi
dalam kelompok tersebut. Umumnya, tidak ada perbedaan yang oencolok dengan
kelompok superior.
k. Gifted (IQ 140 - 179)
Yang termasuk dalam golongan ini ialah mereka yang tidak genius, tetapi
menonjol dan terkenal. Bakatnya sudah tampak sejak kecil dan prestasinya,
biasanya, melebihi teman sekelasnya. Jika dibandingkan dengan orang normal,
adjustment-nya terhadap berbagai problem hidup lebih baik. Sekitar 80 Persen di
antara mereka ini dapat menyelesaikan studi di perguruan tinggi dengan prestasi
yang memuaskan. Jabatan yang dipegangnya pun banyak, dan jarang sakit atau
meninggal dunia pada usia muda.
l. Genius (IQ 180 ke atas)
Pada kelompok ini, bakat dan keistimewaannya telah tampak sejak kecil.
Misalnya, umur dua tahun mulai belajar membaca, dan pada umur empat tahun
belajar bahasa asing. Kelompok ini mempunyai kecerdasan yang sangat luar biasa.
Walaupun tidak sekolah, mereka mampu menemukan dan memecahkan suatu
masalah. Jumlahnya sangat sedikit, namun terdapat pada semua ras dan bangsa,
semua jenis kelamin, serta dalam semua tingkatan ekonomi. Contoh orang-orang
jenius, antara lain: John Stuart Mill (IQ 200), Francis Galton (IQ 200), dan Goethe
(IQ 185). Para psikolog klinis umumnya berpendapat bahwa mereka akan
mengalami problem-problem khusus dalam perkembangan sosial dan emosinya.
Salah satu tes inteligensi pertama untuk mengukur kemampuan yang berbeda,
dikembangkan oleh David Wechsler pada tahun 1939. Tes ini bersama tes Stanford-Binet,
mendapat peringkat sebagai salah satu tes inteligensi yang paling terkenal. Wechsler
awalnya mengembangkan tes ini, karena ia merasa, Stanford-Binet tidak tepat untuk
orang dewasa dan juga terlalu bergantung pada kemampuan berbahasa. Wechsler Adult
Intelligence Scale, atau WAIS (1939, 1955, 1981), dibagi menjadi dua bagian - skala
verbal dan skala performance - yang menghasilkan nilai berbeda serta nilai IQ skala
penuh. Tes yang serupa untuk anak-anak, Wechsler Intelligence Scale for Children
(WISC), dikembangkan kemudian (1958, 1974, 1991).
, Tes wechsler ini berbeda dengan tes Binet. Dalam tes Binet diadakan perbandingan
antara MA (mental age) dan CA (chronological age); sedangkan dalam tes Wechsler, tes
IQ hanya semata-mata hasil dari mental age saja. Binet berkeyakinan bahwa inteligensi
mencapai perkembangan tertinggi pada umur 15 tahun, hingga IQ yang berumur 15 tahun
lebih tinggi dibandingkan dengan umur di bawah 15 tahun.
5. Faktor-Faktor yang Berpengaruh terhadap Perubahan Inteligensi
Dapatkah IQ berubah? Pada permulaan abad ini, seorang psikolog bernama Robert S.
Woodworth, berpendapat, "Anak pandai, dewasa pandai; anak bodoh, dewasa pun
bodoh". Itu, kata Woodworth dan pengikutnya, dan itu adalah ketentuan; perkecualian
tidak cukup banyak untuk menggoyahkan ketentuan tersebut.
Sekarang ini, perkecualian tetap saja tidak cukup banyak untuk menggoyahkan
"ketentuan" Woodworth. Namun, menurut berbagai studi, lingkungan yang
menguntungkan (favorable) dan tidak menguntungkan (unfavorable) dapat menyebabkan
naik turunnya IQ dalam rentangan tertentu. Yang dimaksud dengan lingkungan yang
menguntungkan ialah rumah tangga yang memiliki cinta kasih dan kebudayaannya;
sebaliknya, yang tidak menguntungkan ialah rumah tangga yang tidak ada cinta kasih dan
kebudayaannya.
Sampai seberapa jauh IQ bergantung pada lingkungan tidaklah pasti. Para ahli
mengira-ngira paling sedikit 15 poin. Seseorang yang mestinya memiliki IQ 100, misalnya,
akan bertambah IQ-nya apabila dibesarkan di lingkungan yang menguntungkan. Namun,
para ahli juga berpendapat, bagaimana pun baiknya, lingkungan tersebut tidak akan bisa
mengubah orang embicile menjadi orang berinteligensi normal; tidak pula orang normal
menjadi orang genius. Setiap usaha untuk memaksa pikiran di luar kemampuan, menurut
para ahli, hanya akan mengakibatkan frustrasi dan kesengsaraan.
Apa yang sebenarnya ditunjukkan oleh studi-studi ini ialah dengan pengetahuan dan
rasa cinta kasih dari orang-orang di sekelilingnya, anak dapat dibantu untuk lebih
menggunakan seluruh potensinya secara penuh.
Sebenarnya, hubungan antara orang tua dan anak, selain didasarkan atas cinta kasih,
juga didasarkan atas proses belajar dan mengajar. Namun, yang terakhir ini acap
dilupakan karena para orang tua umumnya mengira bahwa hal itu merupakan tugas guru
di sekolah. Karena itu, selain harus memiliki sikap cinta kasih, orang tua juga seyogianya
memiliki sikap sebagai guru, jika mereka memang ingin membantu anak balitanya
mengembangkan inteligensinya seoptimal mungkin.
Bagaimana pun, kehidupan anak (balita) sangat bergantung pada orang tuanya;
terlebih lagi pada masa-masa awal kehidupannya. Begitu juga perkembangan
inteligensinya; bisa-tidaknya kemungkinan inteligensi seorang anak ditingkatkan, sangat
bergantung pada orang tuanya. Anak tidak akan mengalami sesuatu yang "baru", kalau
orang tua tidak mengaturnya; dia tidak akan pergi sama-sama jika orang tua tidak
mengajaknya; dia tidak akan mempunyai barang-barang mainan, kalau orang tua tidak
membelikannya atau menyediakannya. Karena itu, jelas bahwa seorang anak balita tidak
mungkin mengaktualisasikan potensi intelektualnya seoptimal mungkin sendirian, tanpa
didampingi oleh orang tuanya. Dia membutuhkan orang tua yang sensitif terhadap
kebutuhan-kebutuhannya; mau mendengarkan secara responsif; memberikan perhatian
bila ia mendapatkan kesulitan atau menemukan sesuatu yang menggairahkan; mau
berbicara, dan tidak banyak tuntutan atau larangan sejauh tidak membahayakan
keselamatannya.
Berkaitan dengan masalah peningkatan inteligensi anak ini, dalam bukunya How to
Raise a Brighter Citild, Joan Beck (1978) mengemukakan beberapa teori hasil berbagai
penelitian dalam bidang pendidikan, kedokteran, dan ilmu pengetahuan mengenai tingkah
laku. Sebagian teori ini, menurut Beck, belum dibuktikan kebenarannya melalui, penelitian
(dalam hal ini kebanyakan pandangan tradisional mengenai cara mendidik anak, juga tidak
didukung oleh data ilmiah). Untuk itu, kata Beck, masih harus dilakukan berbagai
penelitian dengan mengikutsertakan anak-anak dari berbagai latar belakang ekonomi,
sosial dan pendidikan, serta taraf kecerdasan yang berbeda-beda. Kemudian, harus
dilakukan pengamatan untuk mengikuti perkembangan anak-anak tersebut.
Akan tetapi, dalam pengamatan Beck, banyak sekali riset ilmiah bidang lain yang
memperkuat teori-teori tersebut. Dan, semua teori ini membentuk falsafah baru mengenai
pendidikan anak yang bisa dipraktikkan oleh para orang tua.

Beberapa teori tersebut adalah sebagai berikut.


a. Anak tidak memiliki taraf kecerdasan yang sudah terbentuk dan tidak juga memiliki
tempo perkembangan yang tidak bisa diubah. Lingkungan dapat meningkatkan
ataupun menurunkan taraf kecerdasan anak, terutama pada masa-masa permulaan
kehidupannya.
b. Rangsangan di masa kecil bisa mengubah ukuran dan fungsi kimiawi dari otak.
c. Faktor keturunan menentukan batas tertinggi bagi taraf kecerdasan anak tetapi batas
ini demikian tinggi sehingga para sarjana yakin, tidak seorang manusia pun yang
pernah mencapainya.
d. Perubahan-perubahan dalam kemampuan mental, paling besar terjadi pada saat otak
mengalami pertumbuhan yang paling pesat. Sementara, pertumbuhan otak semakin
menurun dengan bertambahnya umur.
e. Pada umur 4 tahun, anak telah mencapai separuh dari kemampuan kecerdasannya,
dan pada umur 8 tahun, ia mencapai 80%. Setelah umur 8 tahun, tanpa melihat bentuk
pendidikan dan lingkungan yang diperoleh anak, kemampuan kecerdasannya hanya
dapat diubah sebanyak 20%.
f. Cortex dari otak seorang anak secara kasar dapat dibandingkan dengan sebuah
komputer, yang perlu diberi "program" sebelum dapat bekerja secara efektif. Anak
memberi program pada otaknya dengan jalan mengirimkan rangsangan-rangsangan
sensorik yang berasal dari mata, telinga, hidung, mulut, dan perabaan ke otak melalui
saraf-saraf. Lebih banyak rangsangan sensorik yang merangsang otak, lebih besar
pula kemampuan otak untuk berfungsi secara cerdas.
g. Ada suatu batas waktu ketika sel-sel otak tidak dapat digiatkan lagi dengan mudah.
h. Terdapat masa-masa peka pada kehidupan anak terhadap beberapa jenis belajar.
Masa peka ini merupakan tingkatan dalam perkembangan ketika keadaan otak sedang
tumbuh, sehingga memudahkan anak untuk melakukan beberapa jenis belajar tertentu.
Setelah masa peka ini lewat, anak akan sulit atau kadang-kadang tidak mungkin lagi,
melakukan jenis belajar tersebut.
i. Dalam perkembangan bicara, tercakup di dalamnya faktor kecerdasan. Belajar
berbicara dengan baik, sebenarnya cukup sulit, tetapi anak-anak berhasil
melakukannya sebelum umur 5 tahun.
j. Sifat fisiologis otak memungkinkan anak lebih mudah belajar bahasa kedua, atau
Ketiga, pada tahun-tahun pertama dari kehidupannya, dibandingkan masa-masa
selanjutnya.
k. Setiap anak memiliki dorongan untuk eksplorasi (menyelidiki), memeriksa, mencoba,
mencari hal-hal baru, belajar dengan menggunakan alat-alat indranya, serta
memuaskan rasa ingin tahunya yang sangat besar. Dorongan-dorongan ini sama
kuatnya seperti lapar, haus, menghindarkan rasa sakit dan dorongan lain yang oleh
para psikologi disebut dorongan "primer".
l. Setiap anak mempunyai dorongan untuk melakukan sesuatu dan belajar melakukan
sesuatu. la mencoba, mengulangi, meneliti, dan berusaha untuk menguasai
lingkungannya sebanyak mungkin, terutama demi kegembiraan yang dirasakannya
dalam melakukan kegiatan itu.
m. Belajar pada dasarnya bisa menyenangkan, dan anak kecil akan belajar dengan
sendirinya bila usaha-usaha mereka tidak diganggu oleh tekanantekanan, persaingan ,
penghargaan, hukuman, ataupun rasa takut.
n. Semakin banyak yang dilihat dan didengar oleh anak, semakin banyak pula yang ingin
diketahuinya. Semakin beraneka ragam rangsangan lingkungan yang pernah
dihadapinya, semakin besar pula kemampuannya untuk mengatasi atau menguasai
rangsangan-rangsangan itu.
Sehubungan dengan soal rangsangan lingkungan ini, Rosenzweig & Krech (dalam
Hardy & Heyes, 1985:80-81) dari Universitas California, berhasil merancang berbagai
penelitian untuk menyelidiki pengaruh dari kelangkaan rangsangan lingkungan terhadap
tikus-tikus yang diberi makan secara normal. Tikus-tikus yang dibesarkan bersama-sama
dengan jodoh seperindukan di lingkungan yang dirangsang dengan jejak-jejak roda,
tangga, mainan ayunan, jalan yang melingkar, dan pengubahan letak alat-alat tersebut
setiap hari, memperlihatkan perbedaan nyata, baik pada struktur otak maupun pada
perilakunya, dibandingkan dengan tikus-tikus yang dibesarkan di lingkungan yang tidak
dirangsang, yaitu setiap ekor tikus dipelihara di dalam kandang kedap suara, dan tidak
dilengkapi dengan alat permainan apa pun.
Perbedaannya ialah bahwa tikus-tikus yang "diperkaya" secara nyata, memiliki ukuran
otak yang lebih besar dan memiliki lebih banyak molekul pemancar - dengan kata lain,
tikus tersebut memiliki otak yang lebih besar dan lebih aktif - daripada kelompok tikus yang
"kekurangan"; dan tikus-tikus yang "diperkaya" tersebut, secara nyata juga lebih berhasil
memecahkan tugas-tugas belajar diskriminasi ketimbang tikus-tikus yang "kekurangan".
Agaknya, lingkungan yang merangsang telah membantu berkembangnya intelektual tikus.
Tikus-tikus yang dipelihara oleh anak perempuan Hebb sebagai binatang piaraan
rumah, menurut Rosenzweig & Krech, memperlihatkan secara nyata, kelebihberhasilan
dalam menjalankan tugas belajar melewati jalan yang bersimpang-siur, daripada tikus-
tikus yang dibesarkan di dalam kandang tikus, dan tidak diperlakukan sebagai binatang
piaraan.
Menurut Joan Beck (1978:27), eksperimen dengan anjing, kucing, tikus, kera, dan
babi, bahkan dengan ayam dan ikan, menunjukkan bahwa bila diberi rangsangan ketika
masih kecil, binatang-binatang ini akan berkembang lebih cepat dan menjadi lebih cerdas,
dibandingkan dengan binatang lain, yang tidak diberi rangsangan.
Tentu saja, kita tidak bisa begitu saja mengambil kesimpulan, bahwa hasilhasil
eksperimen dengan binatang-binatang seperti yang dilakukan oleh Rosenzweig & Krech,
atau seperti yang dikatakan Joan Beck, berlaku juga pada manusia. Dan, tentu saja tidak
mungkin mengadakan eksperimen yang sama dengan bayi manusia. Akan tetapi, karena
begitu banyak eksperimen dengan binatang memberikan hasil yang sama, dan karena
binatang yang diberi rangsangan lebih banyak semasa kecil menjadi lebih cerdas,
peneliti-peneliti lebih yakin bahwa hasil yang sama ini berlaku juga bagi manusia.
Masih seputar eksperimen, Steven Rose, yang bekerja pada Universitas Terbuka,
melangkah lebih jauh. Keadaan kekurangan protein dan kekurangan rangsangan di masa
kecil ternyata tidak hanya berpengaruh terhadap perkembangan inteligensi seorang
wanita. Namun, keadaan tersebut juga akan berpengaruh terhadap perkembangan
inteligensi anakanaknya, dan boleh jadi bahkan cucu-cucunya. Malagizi pada tikus betina
di masa kecilnya, misalnya, akan berpengaruh terhadap perkembangan fisik dan
perilakunya. Janin yang dikandungnya boleh jadi tidak akan berkembang sebagaimana
mestinya, dan tikus tersebut akan memperlihatkan pola-pola perilaku yang tidak
berkembang secara normal. Bahkan, apabila tikus tersebut diberi makan secara baik di
kemudian hari; keadaan janin yang dikandung serta perilaku keibuan yang diperlihatkan
akan tetap di bawah standar, sehingga keturunan yang dibesarkan akan tetap terlihat
dibesarkan di lingkungan yang "kekurangan". Inilah yang dinamakan transmisi
transgenerasional, karena keadaan malagizi dapat memengaruhi perkembangan binatang
sejak sebelum dilahirkan, sehingga seakan-akan merupakan pengaruh genetik, sekalipun
kenyataannya merupakan pengaruh lingkungan. Rose yakin bahwa proses yang sama
pun bisa terjadi pada diri manusia, dan secara nyata dapat pula menjadi salah satu
pendukung faktor genetik dalam perkembangan inteligensi.
Dalam bukunya Introduction to Psychology, Rita L. Atkinson dan kawankawan
menjelaskan, kondisi lingkungan yang menentukan potensi inteligensi individu akan
berkembang, antara lain; nutrisi, kesehatan, kualitas stimulasi (rangsangan), iklim
emosional di rumah, dan jenis umpan balik yang ditimbulkan oleh perilaku. Misalnya, dua
anak yang memiliki gen yang sama, anak dengan nutrisi prenatal dan postnatal yang lebih
baik, yang mendapatkan rangsangan intelektual lebih banyak, dan rumah yang secara
emosional lebih nyaman, serta hadiah yang lebih tepat untuk pencapaian akademik, akan
mendapatkan nilai IQ yang lebih tinggi jika diuji di kelas satu. Atkinson memberi contoh,
nutrisi pada kehidupan awal, dapat memiliki pengaruh jangka panjang terhadap inteligensi.
Dalam salah satu penelitian, WISC (Wechsler Intelligence Scale for Children)
digunakan untuk menilai IQ pada usia 8 tahun untuk sekelompok 300 anak yang lahir
secara prematur. Selama minggu awal kehidupan, diet bayi prematur tersebut dipantau
secara cermat. jenis nutrisi yang dikonsumsi selama minggu-minggu awal tersebut,
memiliki pengaruh sebanyak sepuluh poin jika IQ diuji delapan bulan kemudian.
Selama ini, berlaku pandangan bahwa setiap anak memiliki tingkat inteligensi tertentu
yang tidak bisa berubah selama hidupnya. Tingkat inteligensi atau taraf kecerdasan ini
tumbuh dan berkembang secara otomatis pada berbagai tingkatan perkembangan. Selain
itu, taraf kecerdasan dapat diukur dengan tepat melalui tes IQ. Angka yang diperoleh
melalui tes ini dianggap tidak berubah semasa hidup, dan tidak bisa dipengaruhi oleh
pendidikan ataupun lingkungan hidupnya. Bila seorang anak mempunyai IQ antara 80
dan 90, misalnya, selama hidupnya tingkat inteligensi anak itu tidak akan lebih dari
tingkatan di bawah rata-rata.
Tak mengherankan jika para psikolog dan guru merasa takut untuk mendorong anak
agar belajar lebih awal. Memang betul bahwa pada sebagian besar anak usia sekolah,
angka IQ-nya secara relatif, konstan. Akan tetapi, sekarang, terbukti bahwa angka IQ
dapat berubah, terutama selama masa prasekolah.
Mengapa IQ mengalami perubahan? Dan mengapa kadang-kadang IQ itu berubah
demikian besar? Para peneliti mengatakan bahwa tes IQ untuk bayi dan anak kecil,
terutama hanya mengukur keterampilan motorik, dan keterampilan ini belum tentu
berhubungan langsung dengan kecerdasan pada masa-masa berikutnya.
Berbagai faktor emosional juga dianggap bisa menyebabkan naik turunnya angka IQ.
Namun, para peneliti berpendapat bahwa perubahan
IQ, mungkin disebabkan taraf kecerdasan yang sebenarnya memang sudah berubah.
Dan, menurut mereka, peningkatan atau penurunan ini disebabkan banyak atau
kurangnya rangsangan dari lingkungan.
Sementara psikolog beranggapan bahwa lingkungan verbal seorang anak lebih
penting daripada lingkungan fisiknya. Bahasa yang didengar oleh seorang anak setiap
harinya dapat memajukan atau menghambat perkembangan inteligensinya. Suatu
eksperimen yang dilakukan di New York beberapa tahun lalu, telah menunjukkan bahwa
rangsangan bahasa dapat meningkatkan IQ anak. Sekelompok anak TK yang berusia tiga
sampai empat tahun, setiap hari selama 15 menit, diberi pelajaran bahasa secara
perseorangan. Kelompok lain dari kelas yang sama, setiap hari selama 15 menit, diberi
perhatian perseorangan, tetapi tidak diberi pelajaran bahasa. Setelah empat bulan,
kelompok anak yang diberi perlajaran bahasa, IQ-nya bertambah 14; sedangkan
kelompok yang tidak diberi pelajaran bahasa, hanya bertambah angka IQ-nya 1 atau 2
(Hadisubrata, 1988).

B. Bakat

Pada dasarnya, setiap individu atau setiap anak memiliki bakat yang berbeda-beda.
Perbedaan itu terletak pada jenis bakat. Anna Pavlova, misalnya, sangat berbakat sebagai
penari Ballet. Rembrandt, Van Gogh, Leonardo da Vinci, Affandi, Basuki Abdullah, S.
Sudjojono, Barly, dan Ahmad Sadali, sanggup memesonakan dunia dengan lukisan-
lukisan mereka. Rocky Marciano, Joe Louis, Mohammad Ali, adalah beberapa nama yang
kini melegenda karena bakat tinju mereka. Bobby Fisher, Anatoly Karpov, dan Garry
Kasparov, menjadi sangat terkenal karena bakat mereka dalam bermain catur. Siapa pula
yang tidak kenal dengan kejeniusan seorang musikus Beethoven dan Mozart; kepandaian
seorang akrobatik dan pesulap Hodini; kepandaian penyanyi biduanita Maria Anderson
yang tersohor karena suara emasnya; serta kepiawaian Rudy Hartono, Susi Susanti, Ricky
Subagja-Rexy Mainaki, dan Taufik Hidayat dalam bermain bulutangkisnya itu? Dari mana
datangnya kejeniusan mereka dalam masing-masing bidang itu? Karena bakat dari
pembawaan? Karena nasib? Karena insting? Karena latihan keras? Karena mutu-mutu
istimewa dari kepribadian? Karena adanya indra-indra istimewa atau ilham-ilham?
Begitulah pertanyaan-pertanyaan yang sebetulnya merupakan bidang penyelidikan
biologi, psikologi, dan ilmu genetika.

1. Apakah Bakat Itu?


Apakah yang diartikan dengan istilah "bakat" (aptitude) ? Apa bedanya dengan
"kemampuan" (ability) dan dengan "kapasitas" (capacity)? Apa pula bedanya dengan
"prestasi" (achievement)?
Bakat (aptitude) biasanya diartikan sebagai kemampuan bawaan yang merupakan
potensi (potential ability) yang masih perlu dikembangkan atau dilatih agar dapat terwujud
(Semiawan, et al., 1984:1; Munandar, 1987:17).
Kemampuan (ability) adalah daya untuk melakukan suatu tindakan sebagai hasil dari
pembawaan dan latihan. Kemampuan menunjukkan bahwa suatu tindakan dapat
dilaksanakan sekarang, sedangkan "bakat" memerlukan latihan dan pendidikan agar suatu
tindakan dapat dilakukan di masa yang akan datang.
Kapasitas (capacity) acap digunakan sebagai sinonim untuk "kemampuan", dan
biasanya diartikan sebagai kemampuan yang dapat dikembangkan sepenuhnya di masa
mendatang apabila kondisi latihan dikemukakan secara optimal. Dalam praktik, kapasitas
seseorang jarang tercapai.
Jadi, bakat adalah kemampuan alamiah untuk memperoleh pengetahuan atau
keterampilan, yang relatif bisa bersifat umum (misalnya, bakat intelektual umum) atau
khusus (bakat akademis khusus). Bakat khusus disebut juga talent.
Bakat dan kemampuan menentukan "prestasi" seseorang. Orang yang berbakat
matematika, misalnya, diperkirakan akan mampu mencapai prestasi tinggi dalam bidang
itu. Jadi, prestasi merupakan perwujudan dari bakat dan kemampuan., Prestasi yang
sangat menonjol dalam salah satu bidang, mencerminkan bakat yang unggul dalam
bidang tersebut.
Sebaliknya, belum tentu apabila orang yang berbakat akan selalu mencapai prestasi
yang tinggi. Ada faktor-faktor lain yang ikut menentukan sejauh mana bakat seseorang
dapat terwujud. Faktor-faktor itu sebagian ditentukan oleh keadaan lingkungan seseorang,
seperti kesempatan, sarana, dan prasarana yang tersedia, dukungan dan dorongan orang
tua, taraf sosial ekonomi orang tua, tempat tinggal, di daerah perkotaan atau di daerah
pedesaan, dan sebagainya. Sebagian faktor ditentukan oleh keadaan dalam diri orang itu
sendiri, seperti minatnya terhadap suatu bidang, keinginannya untuk berprestasi, dan
keuletannya untuk mengatasi kesulitan atau rintangan yang mungkin timbul. Sejauh mana
seseorang dapat mencapai prestasi yang unggul, banyak bergantung pada motivasinya
untuk berprestasi, di samping bakat bawaannya. Keunggulan dalam salah satu bidang,
apakah itu bidang sastra, matematika, atau seni, merupakan hasil interaksi dari bakat
pembawaan dan faktor lingkungan yang menunjang, termasuk minat dan dorongan
pribadi.

2. Siapa Anak-Anak Berbakat Itu?


Undang-undang tentang Pendidikan untuk Anak Berbakat Amerika Serikat
menyebutkan bahwa anak-anak berbakat adalah anak-anak yang di tingkat prasekolah,
sekolah dasar, dan sekolah menengah, diidentifikasi memiliki kemampuan yang tinggi,
baik yang sudah nyata maupun yang potensial, dalam bidang-bidang, seperti intelektual,
kreatif, kepandaian khusus, kepemimpinan atau seni (Sobur, 1991:62).
Anak berbakat, menurut definisi dari U.S. Office of Education (1971), ialah anak-anak
yang diidentifikasi oleh orang-orang profesional, yang karena kemampuannya yang sangat
menonjol, dapat memberikan prestasi yang tinggi. Anak-anak ini membutuhkan program
pendidikan yang berdiferensiasi dan atau pelayan di luar jangkauan program sekolah yang
biasa, untuk mewujudkan sumbangannya terhadap diri sendiri maupun terhadap
masyarakat. Kemampuan-kemampuan tersebut, baik secara potensial maupun yang
sudah nyata, meliputi, kemampuan intelektual umum, kemampuan akademik khusus,
kemampuan berpikir kreatif dan produktif, kemampuan dalam salah satu bidang seni, dan
kemampuan psikomotor (Martinson, 1974; Munandar, 1982).
Keuntungan definisi U.S. Office of Education tersebut ialah:
(1) menekankan pada multidimensionalitas dari konsep anak berbakat;
(2) menekankan bahwa bakat-bakat kemampuan pada anak bisa secara potensial
dimiliki atau bisa sudah menjadi nyata.
Dalam upaya mengidentifikasi keberbakatan seseorang, Renzulli menyarankan
beberapa cara berikut (Gunarsa & Gunarsa, 1991):
a. Pendekatan Psikometri
Pendekatan psikometri yaitu suatu teknik yang dipakai untuk melakukan penilaian
dan pengukuran aspek psikis, antara lain dengan tes inteligensi, tes prestasi belajar,
tes bakat dan kemampuan khusus, meliputi kreativitas, penalaran, bakat mekanik,
angka-angka dan kemampuan-kemampuan verbal. Penyusunan alat harus melalui uji
coba dan penelitian yang cermat, sehingga validitas dan reliabilitas alat tersebut cukup
mantap, serta digunakan secara benar, bertanggung jawab oleh ahli-ahli yang sudah
terdidik dan berwenang untuk melakukan itu. Banyak tes telah diciptakan dan sudah
menunjukkan hasil yang baik. Namun, masih perlu pula diperhatikan, mengenai
pendekatan yang tidak hanya terpaku pada teknik tunggal, melainkan harus
memperhatikan pula faktor-faktor yang lebih luas, misalnya sebagai pembanding.
Karena itu, acap kali dipakai tes batere, suatu rangkaian tes yang saling berkaitan
(ada hubungan korelatif).
b. Hal-Hal yang Terlihat dalam Perkembangan
Identifikasi bisa dilakukan oleh guru atau orang tua yang mengamati dan mencatat
adanya perkembangan yang berbeda dibanding pada umumnya, karena lebih cepat.
Dalam perkembangan, ada tempo perkembangan dengan akselerasi sesuai dengan
keadaan dan kematangannya.
Akselerasi perkembangan pada mereka yang berbakat luar biasa, lebih cepat
dibanding pada umumnya, ini dikenal dengan terminologi prekositas (precocity, yang
arti sebenarnya; cooked too soon). Prekositas ini meliputi banyak aspek
perkembangan, bahkan banyak ahli
menghubungkan antara prekositas pada aspek fisik (seperti tinggi dan berat
badan) dan prekositas pada aspek mentalnya. Nama-nama terkenal seperti : Sir
Humpry Davy (scientist), Friederich Wolf (musisi), Torquato Tasso (penulis), Voltaire
(seni sastra), Albrecht von Haller (ilmuwan), sampai nama-nama besar, seperti: John
Stuart Mill, Mozart, Beethoven, dan Rembrandt, menunjukkan perkembangan yang
luar biasa, kematangan yang jauh mendahului teman-teman seumurnya, misalnya
sudah bisa berbahasa asing, membaca kamus, bermain atau menggubah musik pada
umur yang masih sangat muda.
Yang selalu menjadi masalah menarik ialah apakah keadaan yang luar biasa
(mental acceleration) ini hasil dari proses kematangan (dari dalam developmental
acceleration) ataukah hasil campur tangan faktor lingkungan
(environmental acceleration).
c. Penampilan yang Meliputi Prestasi dan Perilaku
Mengenai hal ini, lebih mudah dilihat di sekolah melalui prestasiprestasi formal,
yakni angka-angka yang dicapainya. Di samping itu, bakat yang luar biasa, bisa pula
diamati dalam perilaku-perilakunya yang kadang-kadang secara tak terduga
menunjukkan kualitas berpikir yang luar biasa, misalnya dengan pertanyaan yang
tidak puas-puas, ucapan atau komentar yang acap kali terlihat aneh, tidak terduga,
orisinal, juga dalam pemikiran dan karyanya. Dalam hal perilaku dan pengamatannya,
tidak sedemikian mudah melakukan pengamatan dan penilaian yang objektif, bahkan
sebaliknya pengaruh subjektif besar sekali, khususnya pada orang tua, sesuai dengan
peribahasa yang sering terdengar; bahwa anak sayalah yang paling "pandai", paling
"cantik", paling "hebat" di dunia ini. Hal inilah yang sering menimbulkan kesalahan
identifikasi, kesalahan diagnosis yang bisa berakibat buruk dalam perkembangan
kepribadian lebih lanjut.
Pengamatan terhadap perilaku keberbakatan yang luar biasa bisa dilakukan
terhadap ekspresi, minat, dan perhatiannya yang besar terhadap suatu hal yang
khusus atau suatu bidang studi, aktivitas, ekstrakurikuler, kesenian, tulisan,
mengarang, dan kejadian-kejadian di lingkungannya. Ini disertai oleh keinginan-
keinginan untuk melakukan atau memperoleh sesuatu lebih dari "porsi" pada
umumnya, serta untuk mendapat hasil sebaik-baiknya dan setinggi-tingginya. Reaksi-
reaksi yang tidak pernah puas merupakan salah satu ciri dari "task commitment" yang
baik, yang ditandai oleh ketekunan, kegigihan, keuletan, dan tidak mudah menyerah,
suatu "pushing/will power" yang kuat sekali.
d. Pendekatan Sosiometri
Identifikasi bakat dapat pula dilakukan melalui cara tidak formal oleh lingkungan sosial,
lingkungan permainan, pergaulan maupun organisasi, yang mengamati dan menilai
adanya bakat anak yang luar biasa, dan karena itu bisa pula memperlakukan mereka
secara khusus, misalnya sebagai tempat bertanya, atau kalau kapasitas kemimpinannya
menonjol, bisa dimanfaatkan oleh lingkungan.

3. Ciri-Ciri Anak Berbakat


Bagaimana kita mengetahui bahwa anak itu berbakat? Conni M. Eales (1983) dalam
bukunya Raising Your Talented Child mengajukan beberapa pertanyaan penting:
a. Apakah anak tersebut tidak pernah puas dalam keinginannya untuk
mengetahui hampir segala hal?
b. Apakah anak memiliki perbendaharaan kata yang lebih luas dan lebih maju
dibanding anak-anak seusianya?
c. Apakah anak sangat tekun berusaha mencapai apa yang dianggapnya
sebagai tujuan, entah dalam bentuk mendapatkan informasi tertentu,
menyelesaikan tugas, atau melaksanakan rencana kreatif,tertentu? Apakah
anak mampu menangkap kahalusan dalam lelucon, kiasan, dan permaian
kata lainnya?
d. Apakah anak mampu menangkap lebih dari satu segi dalam suatu situasi atau
permasalahan?
e. Apakah anak lebih menyukai permainan yang sulit dan menantang?
f. Pendek kata, apakah ia mampu merencanakan dan melaksanakan kegiatan-
kegiatan yang rumit?
g. Bila menghadapi sesuatu yang menjemukan, apakah anak tersebut
menyuntikkan buah pikirannya sendiri untuk membuamya lebih menarik?
h. Apakah anak tampak terlalu terkait pada kaharusan untuk selalu bertindak
sebagaimana yang diharapkan?
i. Apakah anak cepat mempelajari sesuatu? Apakah ia mampu belajar sendiri
tanpa pernah diajari orang tuanya? Dapatkah anak menggunakan sendiri
sumber-sumber belajar yang ada?
j. Apakah anak memiliki ingatan yang kuat dan pengamatan yang tajam?
k. Apakah anak selalu menuntut alasan dan penjelasan? Apakah ia cepat
melihat kesalahan dalam pikiran atau ucapannya?
l. Apakah anak menaruh perhatian pada keinginan, perasaan, dan pikirannya,
serta keinginan, perasaan, dan pikiran orang lain?
m. Dapatkah anak mengajukan gagasan-gagasan baru, hal-hal yang oleh orang
dewasa belum pernah terpikirkan, atau bahkan gagasan-gagasan abstrak
pada, usianya yang masih sangat mengantisipasi akibat-akibat yang akan
terjadi?
n. Dapatkah anak menampilkan keterampilan pada taraf jauh di atas tingkat yang
biasanya diharapkan untuk kelompok usianya, misalnya di bidang seni rupa,
musik, mengarang, drama, olah raga, kepemimpinan, atau bidang lain?
o. Dapatkah anak menyelesaikan tugas dengan penuh perhatian sambil terus
mengawasi apa yang berlangsung di dalam ruangan yang luas dan riuh?
Memang, para ahli sudah menemukan banyak sekali ciri anak berbakat, tetapi
umumnya sangat jarang seorang anak memiliki semua sifat tersebut sekaligus, seperti
yang disebutkan Eales di atas.
Banyak ahli telah menyusun daftar ciri-ciri anak berbakat yang bervariasi, baik dalam
jumlah maupun isi. Ini tidak berarti bahwa setiap anak berbakat memiliki semua ciri-ciri
tersebut, sebab setiap individu itu unik dan tidak ada dua kepribadian yang persis sama.
Walaupun demikian, ada beberapa kecenderungan atau ciri-ciri umum yang sama pada
mereka. Vernon (1997), misalnya, berpendapat, meskipun perkembangan fisik dan motorik
tidak jelas,merupakan tanda dari keunggulan mental, anak-anak yang berbakat sekurang-
kurangnya normal dalam perkembangan fisik dan motorik. Parker (1975) menjelaskan,
anak-anak berbakat sejak kecil lebih aktif dan lebih menaruh perhatian terhadap
lingkungannya. Walaupun pengecualian-pengecualian selalu ada; misalnya beberapa
anak berbakat, lambat dalam perkembangan motorik.
Renzulli dan kawan-kawan (1981), dari hasil penelitiannya, menyimpulkan bahwa
yang menentukan bakat seseorang pada pokoknya merujuk pada tiga kelompok ciri-ciri,
yakni : (1) kemampuan di atas rata-rata; (2) kreativitas; dan (3) tanggung jawab atau
pengikatan diri terhadap tugas (Semiawan, et al., 1984:6-7)
Seberapa jauh seorang anak bisa disebut berbakat,
sebetulnya bergantung pada keterikatan antara ketiga kelompok
ciri-ciri tersebut. Setiap kelompok mempunyai peran yang sama-
sama menentukan. Jadi, bukan kemampuan di atas rata-rata saja,
tetapi kreativitas dan tanggung jawab atau pengikatan diri
terhadap tugas (task-commitment) pun sama pentingnya.
Kemampuan di atas rata-rata, tidak berarti bahwa kemampuan
itu harus unggul. Yang pokok ialah kemampuan itu harus cukup
diimbangi oleh kreativitas dan tanggung jawab terhadap tugas.
Selain itu, yang dimaksud dengan kemampuan umum ialah
bidang-bidang kemampuan umum yang biasanya diukur dengan tes inteligensi, tes
prestasi (achievement test), tes bakat (aptitude test), atau tes kemampuan mental.
Kreativitas, seperti pernah disinggung, ialah kemampuan untuk memberikan gagasan-
gagasan baru dan menerapkannya dalam pemecahan masalah. Kreativitas meliputi, baik
ciri-ciri aptitude seperti kelancaran, keluwesan (fleksibilitas), dan keaslian (orisinalitas)
dalam pemikiran maupun ciri-ciri (non-aptitude), seperti rasa ingin tahu, senang
mengajukan pertanyaan, dan selalu ingin mencari pengalaman baru.
Tanggung jawab atau pengikatan diri terhadap tugas, menunjuk pada semangat dan
motivasi untuk mengerjakan dan menyelesaikan suatu tugas; suatu pengikatan diri dari
dalam; jadi, bukan tanggung jawab yang diterima dari luar.
R.A. Martison dalam bukunya The Identification of the Gifted and Talented (1974),
memerinci ciri-ciri anak berbakat sebagai berikut:
 membaca pada usia yang relatif lebih muda
 membaca lebih cepat dan lebih banyak
 memiliki perbendaharaan kata yang luas
 mempunyai rasa ingin tahu yang kuat
 mempunyai minat yang luas, juga pada persoalan "dewasa"
 mempunyai inisiatif, dapat bekerja sendiri
 menunjukkan keaslian (orisinalitas) dalam ungkapan verbal
 memberi berbagai jawaban yang baik
 bisa memberikan banyak gagasan
 luwes dalam berpikir
 terbuka pada rangsangan-rangsangan dari lingkungan
 memiliki pengamatan yang tajam
 bisa berkonsentrasi untuk jangka waktu panjang, terutama terhadap tugas atau
bidang yang diminati
 berpikir kritis, juga terhadap diri sendiri
 senang mencoba hal-hal baru
 mempunyai daya abstraksi, konseptualisasi, dan sintesis yang tinggi
 senang terhadap kegiatan intelektual dan pemecahan masalah
 cepat menangkap hubungan-hubungan (sebab akibat)
 berperilaku terarah pada tujuan
 mempunyai daya imajinasi yang kuat
 mempunyai banyak kegemaran (hobi)
 memiliki daya ingat yang kuat tidak cepat puas dengan prestasinya sensitif dan
menggunakan intuisi (firasat) menginginkan kebebasan dalam gerakan dan
tindakan.
Melihat begitu banyak ciri anak berbakat, dari sekian banyak ciri tersebut, mana yang
akan kita pakai sebagai indikator dalam proses penelusuran anak berbakat? Jika kita
kembali pada konsep Renzulli mengenai
bakat sebagai perpautan antara tiga kelompok (cluster) ciri, yaitu; kemampuan
intelektual di atas rata-rata (untuk anak berbakat intelektual), kreativitas,
dan pengikatan diri terhadap tugas atau motivasi, masing-masing dimensi (matra) ciri
tersebut dapat dijabarkan menjadi ciri-ciri perilaku yang bisa
diamati. Hal ini sudah dilakukan dalam menyusun suatu Kuesioner Penilaian Ciri-Ciri
Anak Berbakat yang harus diisi oleh guru kelas (Munandar, 1982;
Munandar, 1987). Ciri-ciri tersebut meliputi:
a. Dimensi Ciri-Ciri Intelektual
 mudah menangkap pelajaran
 ingatan baik
 perbendaharaan kata luas
 penalaran tajam (berpikir logis-kritis, memahami hubungan sebab akibat)
 daya konsentrasi baik (perhatian tidak mudah teralihkan)
 menguasai banyak bahan tentang macam-macam topik
 senang dan sering membaca
 ungkapan diri lancar dan jelas
 pengamatan cermat
 senang mempelajari kamus, peta, ensiklopedi
 cepat memecahkan soal
 cepat menemukan kekeliruan atau kesalahan
 cepat menemukan asas dalam suatu uraian
 mampu membaca pada usia lebih muda
 daya abstraksi tinggi
 selalu sibuk menangani berbagai hal
b. Dimensi Ciri-Ciri Kreativitas
 dorongan ingin tahu besar
 sering mengajukan pertanyaan yang baik
 memberikan banyak gagasan dan usul terhadap suatu masalah
 bebas dalam menyatakan pendapat
 mempunyai rasa keindahan
 menonjol dalam salah satu bidang seni
 mempunyai pendapat sendiri dan dapat mengungkapkannya,
 tidak mudah terpengaruh orang lain
 rasa humor tinggi
 daya imajinasi baik
 keaslian (orisinalitas) tinggi (tampak dalam ungkapan gagasan, karangan, dan
sebagainya; dalam pemecahan masalah menggunakan cara-cara orisinal, yang
jarang diperlihatkan anakanak lain)
 dapat bekerja sendiri
 senang mencoba hal-hal baru
 kemampuan mengembangkan atau merinci suatu gagasan (kemampuan
elaborasi).
c. Dimensi Ciri-Ciri Motivasi
 tekun menghadapi tugas (dapat bekerja terus-menerus dalam waktu yang lama,
tidak berhenti sebelum selesai)
 ulet menghadapi kesulitan (tidak lekas putus asa)
 tidak memerlukan dorongan dari luar untuk berprestasi
 ingin mendalami bahan/bidang pengetahuan yang diberikan
 selalu berusaha berprestasi sebaik mungkin (tidak cepat puas dengan
prestasinya)
 menunjukkan minat terhadap macam-macam masalah "orang dewasa"
(misalnya terhadap pembangunan, korupsi, keadilan, clan sebagainya)
 senang dan rajin belajar, penuh semangat, cepat bosan dengan tugas-tugas
rutin
 dapat mempertahankan petadapat-pendapatnya (kalau sudah yakin akan
sesuatu, tidak mudah melepaskan hal yang diyakini tersebut)
 mengejar tujuan-tujuan jangka panjang (dapat menunda pemuasan kebutuhan
sesaat yang ingin dicapai kemudian)
 senang mencari dan memecahkan soal-soal.
Dalam melihat daftar ciri-ciri yang relatif cukup banyak dan dirinci cukup panjang ini,
sekalipun belum meliputi semua ciri yang ditemukan para ahli, kita hendaknya tidak
mengartikan bahwa semua anak berbakat
memiliki semua ciri tersebut. Daftar ini, sekali lagi, hanya merupakan kumpulan dari
ciri-ciri yang ditemukan pada sejumlah besar orang berbakat, namun setiap orang berada
dalam tatanan (konstelasi) yang berbeda-beda.,
Jika selama ini orang beranggapan bahwa bakat hanya ditentukan oleh kemampuan di
atas rata-rata atau kecerdasan yang tinggi, kenyataan tidak menunjukkan demikian. Akan
tetapi, adanya kreativitas pada diri anak untuk mencoba-coba, bereksperimen untuk
menciptakan suatu gaya tulisan yang baru, serta dorongan dan semangat yang kuat
dalam mengerjakan dan menyelesaikan apa yang telah ia mulai. Meskipun mengalami
banyak rintangan atau kegagalan, ia tidak akan menghasilkan karya-karya tulis yang
bermakna.

4. Jenis-Jenis Bakat
Yoesoef Noesyirwan (Fauzi 1997:159-161) menggolongkan jenis bakat atau
kemampuan menurut fungsi atau aspek-aspek yang terlibat dan menurut prestasinya.
Berdasarkan fungsi atau aspek jiwa raga yang terlihat dalam berbagai macam prestasi,
bakat dapat dibedakan dalam:
a. Bakat yang Lebih Berdasarkan Psikofisik
Bakat jenis ini adalah kemampuan yang berakar pada jasmaniah sebagai dasar
dan fundamen bakat, seperti kemampuan pengindraan, ketangkasan atau
ketajaman pancaindra, kemampuan motorik, kekuatan badan, kelincahan jasmani,
keterampilan jari-jemari, tangan, dan anggota badan.
b. Bakat Kejiwaan yang Bersifat Umum
Yang dimaksud dengan jenis bakat ini ialah kemampuan ingatan daya khayal
atau imajinasi dan inteligensi. Daya ingat adalah kemampuan menyimpan isi
kesadaran pada satu saat dan membawanya kembali ke permukaan pada saat
yang lain. Dalam ingatan, jiwa kita bersifat menerima dan reproduktif. Daya khayal
merupakan isi kesadaran yang berasal dari dunia dalam diri kita sendiri, berupa
gambar khayalan clan ide-ide kreatif, sehingga jiwa kita bersikap spontan clan
produktif Adapun inteligensi adalah kemampuan menyesuaikan diri pada keadaan
dengan menggunakan alat pemikiran yang berbeda dengan penyesuaian diri
karena kebiasaan atau sebagai akibat latihan (drill) dan coba-coba (trial and error).
Penyesuaian diri karena kebiasaan, drill, dan trial and error, bersifat mekanis,
kadang-kadang secara kebetulan memerlukan banyak waktu. Penyesuaian diri
dengan pemikiran terjadi karena pengertian, pendapat pemahaman, pencarian
makna dan hubungannya yang tampak dalam pemecahan dan penguasaan
keadaan baru dari kesulitan yang dihadapinya. Inteligensi dapat diuraikan sebagai
kemampuan menangkap, memahami, menjelaskan, menguraikan, memadukan,
dan menyimpulkan arti hubungan dan sangkut-paut makna. Tiap orang memiliki isi,
proses, dan cara berpikir yang berbeda satu dengan lainnya.
c. Bakat-Bakat Kejiwaan yang Khas dan Majemuk
Bakat-bakat yang khas atau bakat dalam pengertian sempit ialah bakat yang
sesak awal sudah ada dan terarah pada suatu lapangan yang terbatas, seperti
bakat bahasa, bakat melukis, bakat musik, bakat seni, bakat ilmu, dan lain-lain.
Adapun bakat majemuk berkembang lambat laun dari bakat produktif ke arah yang
sangat bergantung dari keadaan di dalam dan di luar individu, seperti bakat filsafat,
bakat hukum, bakat pendidik, bakat psikologi, bakat kedokteran, bakat ekonomi,
bakat politik, dan lain-lain.
d. Bakat yang Lebih Berdasarkan pada Alam Perasaan dan Kemauan
Bakat ini berhubungan erat dengan watak, seperti kemampuan -untuk
mengadakan kontak sosial, kemampuan. mengasihi, kemampuan merasakan atau
menghayati perasaan orang lain. Berdasarkan sifat prestasinya, bakat dapat
digolongkan dalam:
a. Bakat reproduktif ialah kemampuan untuk memprodusir hasil pekerjaan orang
lain dan menguraikan kembali dengan tepat pengalaman-pengalaman sendiri.
Bakat ini berhubungan erat dengan daya ingat.
b. Bakat aplikatif ialah kemampuan memiliki, mengama4kan, mengubah, dan
menerangkan, pendapat, buah pikiran, dan metode yang berasal dari orang lain.
c. Bakat interpretatif ialah bakat menerangkan dan menangkap hasil pekerjaan
orang lain, sehingga di samping sesuai dengan maksud penciptanya, dalam
penjelasan itu juga tampil pendapat atau pendirian pribadi.
d. Bakat produktif ialah kemampuan menciptakan hal-hal baru berupa sumbangan
dalam ilmu pengetahuan, pembangunan, dan lapangan kehidupan lain yang
berharga.
5. Mengembangkan Kemampuan Anak Berbakat
Pada dasarnya, setiap anak membutuhkan, kesempatan untuk mengembangkan
kemampuannya, apa pun bentuk kemampuannya itu. Terkadang, kemampuan tersebut
mudah diukur, kadang-kadang terlampau sukar.
"Kesempatan" memang merupakan kata kunci bagi anak-anak berbakat maupun
orang tua mereka. Konon, seperti dituturkan Connie Eales (1983), ketika masih sangat
kecil, Louis Amstrong sudah diberi mainan alat musik tiup. Konon pula, seorang tetangga
suka mengajak Albert Einstein bermain matematika ketika genius besar itu masih kanak-
kanak. Kita pun tidak heran bahwa banyak di antara jago-jago renang Olimpiade berasal
dari kota-kota kecil yang tidak memiliki kolam renang, namun kaya dengan sungai-sungai.
Kita mengenal riwayat orang-orang yang kemudian kita ketahui berhasil. Namun,
bagaimanakah nasib mereka yang tidak pernah mendapatkan kesempatan?
Semua anak memang seharusnya mendapatkan kesempatan sebanyak yang mereka
butuhkan dan mereka inginkan. Anak-anak berbakat umumnya bisa menemukan lebih
banyak kesempatan dibandingkan dengan anak-anak biasa, dan secara aktif, mereka
akan selalu mencari kesempatan tersebut. Dalam hubungan ini, orang-orang tua yang arif
mesti bisa membedakan antara cara seorang ibu yang sangat ambisius mengartikan
pernyataan di atas dengan cara yang seharusnya kita diartikan dengan tepat. Menurut
Eales (1983), umumnya akan kita temukan bahwa jauh lebih mudah membimbing anak
yang berbakat dibandingkan dengan membimbing anak yang lemah.
Biasanya, anak-anak berbakat bisa menciptakan, menyesuaikan benda-benda di
lingkungannya menurut kebutuhan mereka. Sebuah kotak kaleng dapat menjadi
pesawat.luar angkasa; kotak atau botol dapat menjadi alat musik; kotak korek api dapat
disusun menjadi bangunan istana. Anak-anak. yang benar-benar memiliki bakat kreatif
dapat memanfaatkan lingkungannya dengan cara yang sungguh-sungguh baru dan
menakjubkan. Sebuah alat musik dapat dibuat bukan dari kotak atau botol, melainkan dari
alat elektronik tertentu atau dari alat lain yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan
alat musik. Bahkan, anak mungkin mengemukakan rumusan baru ihwal musik. Bangunan
istana dapat pula dibuat bukan dengan kotak korek api, melainkan dengan angan-angan
belaka. Begitu pula, sebuah pesawat ruang angkasa tidak berupa sebuah kotak kaleng,
tetapi mungkin berupa balok main timbangan. Anak-anak berbakat mendambakan
keanekaragaman dan konsep baru, yang sebagian terasa aneh bagi kita pada permulaan,
atau paling sedikit tidak lumrah. Memang, bagi anakanak berbakat, terbentang
kemungkinan yang tidak mengenal batas.
Hal yang harus mendapat perhatian adalah bahwa anak-anak berbakat butuh diberi
kesempatan untuk berkembang dengan kecepatan rang serasi bagi mereka. Memberikan
kesempatan kepada anak untuk berkembang menurut kecepatannya sendiri berarti bahwa
kita harus waspada akan adanya bakat yang Bering terlambat berkembang. Acap kali
terjadi, anak-anak tidak tahu bahwa mereka memiliki bakat istimewa di bidang bahasa
asing, misalnya, sampai is menginjak bangku SMU dan mulai berkenalan dengan mata-
mata pelajaran baru. Mungkin mereka menemukan bakat baru yang menonjol di bidang
kepemimpinan, seperti yang dialami oleh Winston Churchill pada usianya yang sudah
agak lanjut. Mereka sadar bahwa mereka mempunyai bakat mekanik, sesudah belajar
teknik di Sekolah Kejuruan.
Dalam sebuah tulisannya, Busse dan Mansfield (Eales, 1983) menyatakan bahwa
kelompok yang "late bloomer" (lambat berkembang) terkadang relatif agak lamban memilih
karier. Namun, sekali karier itu dipilih, mereka sering kali menunjukkan dorongan yang
lebih kuat dibandingkan dengan teman-temannya. Motivasi dan dorongan yang kuat
merupakan dua sifat yang amat berharga dibandingkan dengan minat yang biasa-biasa
saja. Motivasi yang kuat itu harus kita pertahankan. Kita, kata Busse dan Mansfield, akan
berhasil menemukan seorang berbakat yang lambat berkembang seperti itu andaikata kita
mau bersabar memberikan kesempatan kepada anak untuk berkembang menurut
kecepatannya sendiri.
Belakangan ini, kian banyak perhatian tertuju pada anak yang disadvantaged dan
dengan cara bagaimana anak berbakat yang, mengingat perkembangan mental atau
pendidikannya, berada dalam kedudukan yang dirugikan (educationally disadvantaged)
bisa ditemukan. Yang dimaksud dengan anak-anak yang "educationally disadvantaged"
ialah mereka yang karena keadaan perkembangan bahasa, kebudayaan, ekonomi, atau
lingkungan yang merugikan, mengalami hambatan dalam perkembangan dari kemampuan
intelektual dan kreatif serta hambatan dalam perkembangan optimal dari bakatnya.
Kerugian yang dapat dialami seorang anak, menyangkut (Munandar, 1985) hal berikut.
(1) Faktor lingkungan, misalnya:
 situasi rumah yang tidak atau hanya sedikit memberikan pengayaan atau
perangsang;
 sikap orang tua terhadap pendidikan yang menunjukkan penolakan, sikap acuh
tak acuh, dan sebagainya;
 sering pindah sekolah;
 kelas yang terlalu penuh, dan sebagainya.
(2) Faktor bahasa, misalnya:
 kurang kesempatan untuk mempelajari bahasa dengan baik;
 kurang perangsangan intelektual verbal, dan sebagainya.
(3) Faktor kebudayaan, seperti:
 kurang kesempatan mendapat pengalaman kebudayaan yang merangsang
perkembangan intelektual;
 ketidakjelasan mengenai nilai-nilai kebudayaannya sehingga
 tidak mempunyai pegangan.
(4) Keadaan ekonomi, antara lain:
 penghasilan keluarga yang rendah;
 keluarga yang terlalu besar;
 anak harus ikut mencari nafkah;
 ketidakmampuan untuk membeli buku-buku atau mendapat macam-macam
pengalaman di luar rumah, dan sebagainya.
Menurut Utami Munandar (1985), banyak usaha yang telah dilakukan untuk mengatasi
masalah identifikasi anak, yang dalam kedudukan tidak menguntungkan, seperti: (1)
merancang tes yang tidak mendiskriminasi anakanak golongan minoritas atau yang dalam
kedudukan tidak menguntungkan, atau tes adil budaya; (2) anak-anak yang tidak biasa
untuk dites sehingga pengalaman tersebut asing baginya. Untuk itu, diusahakan agar
sebelum diuji, anak dilatih dalam situasi pengetahuan pengetesan pengujian.
Di Washington D.C. (USA), yang populasi kebanyakan terdiri atas golongan yang tidak
menguntungkan, yaitu Negro, menurut Munandar, tidak digunakan tes intelektual untuk
melakukan seleksi bagi anak berbakat, karena anggapan bahwa tes inteligensi terlalu
mendiskriminasi golongan minoritas. Sebaliknya, mereka menganggap tes kreativitas
adalah "non-biased". Dengan demikian, dalam prosedur seleksi anak berbakat hanya
digunakan tes prestasi belajar dengan norma-norma lokal dan tes kreativitas, atas dasar
pertimbangan bahwa bakat harus diuji secara relatif terhadap populasinya.
Kriteria untuk menerima anak berbakat untuk pendidikan khusus, . dalam pandangan
Munandar, juga bergantung pada tempat yang tersedia. Makin sedikit tempat yang
tersedia, makin tinggi persyaratan untuk diterima.
Dengan pertimbangan ini, di Hunter College Campus School di New York,
persyaratan untuk menerima murid-murid Taman Kanak-kanak yang berbakat, ialah
memiliki IQ 150 ke atas. Dengan kriteria setinggi itu pun, masih lebih banyak anak yang
memenuhi persyaratan daripada yang tidak dapat diterima. Oleh karena itu, menurut
Munandar, kriteria seleksi selanjutnya ialah faktor non-intelektual seperti; sejauh mana
anak dapat berkonsentrasi, ketidaktergantungan emosionalnya, kematangan sosial, dan
lain-lain.
Pada umumnya, di kalangan orang tua yang mempunyai anak berbakat, kerap kali
timbul berbagai pertanyaan; bagaimana membina anak berbakat sebaik-baiknya? Berapa
banyak perhatian yang mesti diberikan kepada anak berbakat, tanpa anak-anak lain
dalam keluarga merasa iri, tersinggung, atau kurang diperhatikan? Apakah anak berbakat
perlu didorong untuk belajar lebih banyak, ataukah lebih baik ia melakukan kegiatan di
luar sekolah, termasuk kesenian, olah raga, dan sebagainya?
Untuk menjawab berbagai persoalan di atas, J. Ginsberg dan Ch. H. Harrison
memberikan beberapa petunjuk penting, yang sedikit banyak bisa membantu kita,
khususnya para orang tua, agar lebih mantap dalam menghadapi dan membina, serta
mengembangkan anak berbakat di rumah. Petunjuk-petunjuk tersebut terangkum dalam
buku mereka, How to HelpYour Gifted Child, sebagai berikut (Ginsberg & Harrison, 1977):
(1) Yang perlu diingat pertama-tama ialah bahwa anak berbakat tetaplah seorang
anak dengan kebutuhan seorang anak. Meskipun memiliki berbagai kemampuan
mental yang lebih unggul dibandingkan anak-anak lain pada umumnya, dalam
perilakunya, kebanyakan mereka sama seperti anak-anak biasa. Mereka bisa
diliputi perasaan jengkel, marah, atau menangis, clan mengucapkan kata-kata
seperti anak-anak lain. Jangan mengharapkan agar setiap pernyataannya atau
pertanyaannya senantiasa mencerminkan keunggulannya. Anak berbakat
membutuhkan kasih sayang serta pembinaan yang pada dasarnya sama seperti
anak-anak lain.
(2) Apabila dalam keluarga terdapat anak-anak lain, janganlah kemudian
membandingkan anak berbakat dengan kakak-adiknya atau sebaliknya. Tidak
perlu mencurahkan lebih banyak perhatian terhadapnya daripada terhadap anak-
anak lain. Setiap anak adalah unik, mempunyai kekhasannya sendiri. Kadang-
kadang, memang anak berbakat membutuhkan perhatian khusus, apabila
misalnya mengalami kesulitan di sekolah karena kurang mendapat pengertian
atau penerimaan dari guru atau dari anak-anak lain. Adiknya mungkin
membutuhkan perhatian tambahan karena mempunyai kelemahan fisik tertentu.
Kakaknya membutuhkan perhatian khusus karena sedang dalam masa remaja
dengan aneka masalahnya. Begitulah, setiap anak dalam keluarga pada dasarnya
memerlukan perhatian khusus 'dari orang tua.
(3) Jangan membandingkan anak berbakat dengan anak-anak tetangga, misalnya
"memamerkan" keungulannya di depan orang tua atau kenalan-kenalan lain.
Bahkan, keluarga dekat seperti kakek, nenek, paman, clan bibi, lama-lama bisa
menjadi bosan jika terus-menerus mendengarkan cerita-cerita mengenai prestasi
anak berbakat.
(4) Sempatkan diri untuk mendengarkan dan menjawab pertanyaanpertanyaannya.
Anak berbakat sering mengajukan lebih banyak pertanyaan yang membutuhkan
pemikiran untuk dijawab. Pupuklah rasa ingin tahunya dengan memberi jawaban-
jawaban selengkap mungkin yang dapat diberikan dan secara jujur. Jika kita, pada
saat itu, belum bisa menjawab, katakan dengan terus terang, atau katakan
misalnya "pertar4yaan itu terlalu sulit untuk dijelaskan".
(5) Usahakanlah baginya aneka ragam buku, majalah, surat kabar, serta bahan-
bahan lain yang bisa memperkaya pengalamannya. Ajaklah ia mengunjungi
museum, perpustakaan, tempat-tempat bersejarah, tempat-tempat pertunjukan
seni, dan sebagainya. Berilah ia kesempatan untuk bertemu dengan' orang-orang
lain dan melihat tempat-tempat yang dapat memuaskan rasa ingin tahunya dan
yang menantang kecerdasan serta kreativitasnya. Rencanakan dengan orang tua
yang lain dan dengan sekolah, untuk mengadakan anjangsana ke tempat-tempat
yang menarik.
(6) Berilah kesempatan seluas-luasnya untuk memuaskan rasa ingin tahunya dengan
menjajaki macam-macam bidang, namun jangan memaksakan minat-minat
tertentu. Misalnya, karena orang tua berpendapat bahwa bagi seorang anak laki-
laki penting untuk mengetahui soal-soal teknik, lalu dalam memberikan bahan-
bahan bacaan atau permainan, orang tua cenderung hanya mengusahakan bahan
atau alat-alat permainan tertentu saja, yang mungkin lebih mencerminkan minat
atau ambisi orang tua.
(7) Seandainya anak berbakat ingin mendalami salah satu bidang yang diamati,
berilah kesempatan karena belum tentu kesempatan itu ada di sekolah. Tentu
saja, perlu dilihat apakah minat itu asli atau hanya mengikuti minat sekelompok
anak tertentu, dan sejauh mana keadaan keuangan keluarga memungkinkan hal
itu. Misalnya, ada seorang anak yang nilai rapornya sebagian besar terdiri atas
angka 9 dan 10. Ia meminta ayahnya membelikan komputer, karena berminat
mempelajari bidang tersebut. Lagi pula, banyak di antara teman-temannya yang
sudah memilikinya. Harga komputer relatif mahal, karena itu perlu
dipertimbangkan sejauh mana minat anak itu serius, dan juga tidak perlu cepat-
cepat membelikannya. Tidak baik pula bagi seorang anak apabila terlalu mudah
mendapatkan segala sesuatu.
(8) Kalau anak mengatakan ingin dan bisa melakukan sesuatu sendiri, berilah
kesempatan itu. Dengan demikian, orang tua memupuk kemandirian, kepercayaan
diri, dan rasa tanggung jawab anak. Lebih daripada anak-anak biasa, anak
berbakat mampu menilai baik kemampuan maupun keterbatasannya. Sayang
sekali, orang tua sering kurang memahami atau menyadari ciri-ciri mana yang
paling penting dipupuk pada anak agar kelak ia menjadi orang dewasa yang
mandiri dan percaya kepada diri sendiri.
(9) Pada umumnya, anak berbakat itu kreatif, tetapi ini tidak berarti bahwa ia selalu
kreatif. la tidak perlu sepanjang hari sibuk dengan kegiatan mental. Orang tua
hendaknya berhati-hati, jangan sampai berlebih lebihan dalam memberikan
"santapan mental". Berilah juga waktu untuk kegiatan fisik (olah raga) dan untuk
melamun atau berkhayal. Banyak orang tua mengira bahwa berkhayal tidak baik
dan tidak berguna. Sesungguhnya dari wawancara terhadap tokoh-tokoh unggul
dalam salah satu bidang, baik bidang ilmu atau seni, tampak bahwa banyak ide
yang baik timbul ketika seseorang sedang "berkhayal" atau "melamun". Anak
berbakat dalam kegiatannya harus berselang-seling antara kerja dan bermain,
antara sibuk dan santai.
(10) Orang tua hendaknya tidak lupa menghargai dan memuji usaha-usaha baik dari
anak. Ini berlaku untuk semua anak, tetapi khusus bagi anak berbakat, kadang-
kadang mereka memerlukan dukungan agar mau dan berani melakukan hal-hal
dan tugas-tugas yang sulit, yang majemuk, dengan risiko membuat kesalahan
atau mengalami kegagalan. Banyak tokoh, antara lain Thomas Alva Edison,
baru berhasil mendapatkan penemuan yang bermakna bagi seluruh umat
manusia, setelah beratus-ratus kali gagal dalam eksperimennya. Tidak
mengherankan jika Edison mengatakan, "Genius is 1% inspiration, but 99%
perspiration". Karya-karya unggul hanya 1% merupakan hasil inspirasi, tetapi
99% adalah hasil dari "berkeringat", dari usaha terus-menerus.
(11) Anak berbakat, bagaimana pun, harus belajar menyesuaikan diri dengan
berbagai aturan serta norma yang berlaku dalam lingkungannya, yaitu
lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Sehubungan dengan ini, ia tidak
perlu memperoleh "hak-hak istimewa" hanya karena ia dikaruniai bakat-bakat
unggul. Anak berbakat pun memerlukan pengarahan dan belajar berdisiplin.
(12) Orang tua anak berbakat harus berhati-hati agar tidak memproyeksikan minat
dan aspirasi mereka sendiri terhadap anak. Misalnya, karena ayah dulu tidak
sempat menjadi dokter, sekarang anaklah yang harus mewujudkan cita-cita
ayah. Seorang anak berhak menemukan tujuan hidupnya sendiri dan
mempunyai kehidupan sendiri.
(13) Kerap dipertanyakan apakah orang tua perlu mengatakan kepada anaknya
bahwa ia berbakat. Sebaliknya, hal itu tidak perlu ditonjolkan. Jangan sampai
anak mendapat kesan bahwa kehidupan keluarga terpusat kepada dirinya.
Selain itu, Mendapat julukan "berbakat" juga dapat dirasakan sebagai beban
oleh anak.
(14) Orang tua mesti dapat membedakan antara "memberikan perhatian kepada
anak dan memberikan kesempatan untuk mewujudkan bakatbakatnya" dengan
"menekan anak secara berlebihan untuk berprestasi". Perlu ada keserasian
antara perkembangan intelektual, emosional, sosial, dan moral, demi
pertumbuhan manusia seutuhnya. Keunggulan dalam bidang mental intelektual
harus diimbangi dengan kematangan emosional dan penyesuaian sosial yang
baik.
(15) Perhatian khusus perlu diberikan kepada anak-anak berbakat yang
underachiever, yaitu anak-anak yang tidak dapat mewujudkan potensi-
potensinya yang unggul, anak-anak yang prestasinya di sekolah tidak
mencerminkan bakat bawaannya yang superior. Cukup banyak anak yang
underachiever, bahkan yang akhirnya menjadi putus sekolah. Anak-anak inilah
yang memerlukan bimbingan yang bijaksana. Ciri-ciri yang sering tampak pada
anak-anak seperti ini ialah kurang menunjukkan keuletan mencapai tujuan,
kurang percaya pada diri sendiri, dan karena satu dan lain hal merasa rendah
diri.

6. Tes Bakat
Pada dasarnya, tes bakat atau yang lazim dikenal sebagai aptitude-test, dapat
membantu seseorang untuk mengerti sesuatu yang mungkin dapat atau tidak dapat
berhasil dikerjakannya. Tes bakat itu meliputi banyak bidang, seperti bidang seni, ilmu
pengetahuan, profesi tertentu, dan bidang-bidang yang memerlukan skill yang tidak begitu
tinggi.
Seseorang yang ingin meyakinkan dirinya apakah akan berhasil dalam pekerjaan yang
bersifat mekanis, dapat menempuh tes bakat mekanis (mechanical aptitude test).
Beberapa persoalan dalan tes ini ialah (Mahmud,
1990:102) :
Pertama, testee (orang yang dites) diminta menarik garis vertikal lewat ggis horisontal
pada huruf H besar secepat-cepatnya (makin tidak baik koordinasi motoriknya, masih
besar kemungkinannya testee menyinggung garis samping huruf H tersebut).
Kedua, testee disuruh memilih salah satu dari beberapa alat yang ditunjukkan, yang
akan digunakannya pada pekerjaan tertentu (kalau untuk memotong papan, testee lebih
menyukai tanah, bukan gergaji, ia tidak akan memperoleh banyak manfaat dari latihan
mekanis).
Ketiga, tesfee diminta menyusun bagian-bagian bergambar tertentu secara teratur.
Mewujudkan benda tertentu secara teratur, dan mewujudkan benda tertentu (di sini testee
dapat menunjukkan kemampuannya untuk memahami lukisan-lukisan mekanis, dan
kemampuannya untuk berpikir mekanis).
Tugas-tugas seperti di atas dapat mengukur minat khusus seseorang serta
keterampilan dan kecepatan berpikirnya.
Memang, alat utama yang digunakan untuk mencari bakat adalah tes yang sudah
dibakukan. Banyak orang yang khawatir bahwa tes-tes itu tidak akurat - bahwa tes itu
akan menghasilkan penilaian yang tidak adil atas bakat-bakat yang sesungguhnya dimiliki
seseorang. Kenyataan bahwa tes itu mempunyai keterpercayaan statistis dan validitas
yang tinggi, tidaklah mengurangi kritik atasnya. "Tetangga saya bilang pada saya bahwa
tes-tes itu benar sembilan puluh lima persen, tapi andaikata Billy anak saya berada pada
lima persen yang meleset?" tutur Gardner (1984) dalam bukunya Excellence, Can We Be
Equal and Excellent too?
Menurut John William Gardner, kritik kerap dipertajam oleh kenyataan bahwa sulit
sekali bagi mereka yang tidak memiliki pelatihan profesional di bidang psikologi untuk
memahami proses pengukuran mental. Tidak seorang pun yang mau dinilai melalui proses
yang ia sendiri tidak dapat memahaminya.
Belakangan diperdebatkan bahwa tes-tes itu menguntungkan mereka yang latar
belakang keluarganya baik dan sebaliknya merugikan mereka yang latar belakang
keluarganya buruk. Hingga tingkat tertentu, ini benar. Akan tetapi, jangan sampai
dilupakan bahwa tes-tes itu menerapkan objektivitas ke dalam pengukuran kemampuan
manusia yang belum pernah ada sebelumnya. Sebelum tes-tes itu dikembangkan, banyak
orang percaya bahwa bagian-bagian masyarakat yang kurang terdidik tidak mampu
memperoleh pendidikan, dan pandangan ini masih hidup di banyak masyarakat.
Berdasarkan pengamatan Gardner (1984), dari semua kesalahan yang dibuat oleh
penggunaan tes bakat, mungkin hal terburuk dilakukan kala orang mencoba menerapkan
hasil-hasilnya dengan melampaui batas prestasi akademis atau intelektual seperti yang
dimaksudkan oleh tes sebelumnya. Kesalahan demikian, menurut Gardner, terjadi karena
alasan-alasan yang dapat dimengerti. Semua orang memaklumi bahwa ada faktor-faktor
kuat dalam suatu prestasi yang berhasil-sikap, nilai-nilai, motif, bakat nonakademis- tetapi
sulit sekali menilai faktor-faktor lain tersebut. Dalam pandangan Gardner, terdapat godaan
besar untuk terlalu bersandar pada sarana-sarana efektif-namun terbatas yang telah kita
punyai.
Tampaknya, kita sudah cukup mengetahui bahwa tes-tes itu untuk mengajukan
ketentuan-ketentuan guna mengurangi bahayanya serta memperbesar manfaatnya.
Dengan segenap tantangan yang ada, ketentuan yang paling penting ialah bahwa tes
itu tidak boleh merupakan satu-satunya sandaran untuk mengidentifikasi bakat. Penilaian
atas bakat dan prestasi skolastik anak (remaja) haruslah didasarkan atas berbagai jenis
bukti. Tes adalah salah satu jenis bukti. Angka-angka sekolah adalah jenis lainnya.
Penilaian tertulis oleh guru atau murid, juga merupakan jenis yang lainnya lagi.
Penilaian kepada sekolah, pimpinan fakultas, dan penasihat pendidikan yang telah
berhubungan dengan anak, mungkin berguna juga. Hal penting yang harus dihargai ialah
bahwa setiap alat pengukur bakat dan prestasi yang kita kenal, memiliki kekurangan-
kekurangan. Hanya dengan menghimpun jenis-jenis bukti yang cukup, kita dapat
memastikan bahwa penilaian pengetes adalah utuh dan adil bagi remaja yang
bersangkutan.
Ketentuan penting lainnya ialah bahwa diagnosis atas bakat dan prestasi remaja
haruslah merupakan proses yang terus-menerus. Adalah menyesatkan jika kita berkata
bahwa penilaian tes harus berkali-kali lantaran kita mengharapkan adanya variasi pada
bakat remaja bersangkutan dari tahun ke tahun. Yang benar ialah bahwa bakatnya
mungkin akan tetap stabil. Akan tetapi pada tingkat usia tertentu, angka-angka tes atau
sekolah atau pengukuran-pengukuran lainnya, mungkin saja bukan cerminan persis dari
bakat dan prestasinya. Penilaian yang diulang beberapa kali memantapkan diagnosis.***
I

TEORI BERPIKIR
BAB 5
A. Berpikir sebagai Aktivitas Mental
"Berpikir" mencakup banyak aktivitas mental. Kita berpikir saat memutuskan barang
apa yang akan kita beli di toko. Kita berpikir saat melamun sambil menunggu kuliah
pengantar psikologi dimulai. Kita berpikir saat mencoba memecahkan soal ujian yang
diberikan di kelas. Kita berpikir saat menulis artikel, menulis makalah, menulis surat,
membaca buku, membaca koran, merencanakan liburan, atau mengkhawatirkan suatu
persahabatan yang terganggu.
Berpikir adalah suatu kegiatan mental yang melibatkan kerja otak. Akan tetapi, pikiran
manusia, walaupun tidak bisa dipisahkan dari aktivitas kerja otak, lebih dari sekadar kerja
organ tubuh yang disebut otak. Kegiatan berpikir juga melibatkan seluruh pribadi manusia
dan juga melibatkan perasaan dan kehendak manusia. MemikAan sesuatu berarti
mengarahkan diri pada objek tertentu, menyadari kehadirannya seraya secara aktif
menghadirkannya dalam pikiran kemudian mempunyai gagasan atau wawasan tentang
objek tersebut.
Berpikir juga berarti berjerih-payah secara mental untuk memahami sesuatu yang
dialami atau mencari jalan keluar dari persoalan yang sedang dihadapi. Dalam berpikir
juga termuat kegiatan meragukan dan memastikan, merancang, menghitung, mengukur,
mengevaluasi, membandingkan, menggolongkan, memilah-milah atau membedakan,
menghubungkan, menafsirkan, melihat kemungkinan-kemungkinan yang ada, membuat
analisis dan sintesis, menalar atau menarik kesimpulan dari premis-premis yang ada,
menimbang, dan memutuskan.
Biasanya, kegiatan berpikir dimulai ketika muncul keraguan dan pertanyaan untuk
dijawab atau berhadapan dengan persoalan atau masalah yang memerlukan pemecahan.
Seperti dikemukakan oleh Charles S. Pierce, dalam berpikir ada dinamika gerak dari
adanya gangguan suatu keraguan (irritation of doubt) atas kepercayaan atau keyakinan
yang selama ini dipegang, lalu terangsang untuk melakukan penyelidikan (inquiry),
kemudian diakhiri (paling tidak untuk sementara waktu) dalam pencapaian suatu
keyakinan baru (the attainment of belief).
Kegiatan berpikir juga dirangsang oleh kekaguman dan keheranan dengan apa yang
terjadi atau dialami. Kekaguman atau keheranan tersebut menimbulkan pertanyaan-
pertanyaan untuk dijawab. Jenis, banyak, sedikit, dan mutu pertanyaan yang diajukan
bergantung pada minat, perhatian, sikap ingin tahu, serta bakat dan kemampuan subjek
yang bersangkutan. Dengan demikian, kegiatan berpikir manusia selalu tersituasikan
dalam kondisi konkret subjek yang bersangkutan. Kegiatan berpikir juga dikondisikan oleh
struktur bahasa yang dipakai serta konteks sosio-budaya dan historis tempat kegiatan
berpikir dilakukan (Sudarminta, 2000).
Kita semua berpikir, tetapi dengan cara yang berbeda-beda. Sebagian anak,
umpamanya, tumbuh dengan kemahiran "alami" dalam bidang angka-angka, namun
sebagai anak lainnya mempunyai kemampuan "intuitif" dan ada juga anak-anak yang
"bagus dalam kata-kata". Sebagian pria kerap mengatakan bahwa wanita cenderung
berpikir "secara tidak logis". Sebagian wanita suka mengatakan bahwa pria cenderung
"tidak berperasaan". Kita mungkin mengatakan tentang seseorang bahwa "ia mempunyai
pikiran yang sistematis dan logis. la mempertimbangkan masak-masak segala sesuatu";
dan kita mengatakan tentang orang lain lagi bahwa "ia sangat imaginatif. Ia mempunyai
ide-ide yang tak akan mungkin pernah timbul dari pikiran saya".
Seseorang mungkin berpikir bahwa objek yang ingin kita ketahui sebenarnya sudah
ada, sudah tertentu (given), sehingga tak diperlukan adanya pemikiran. Yang mesti
dilakukan hanyalah sekadar membuka mata kita atau memusatkan perhatian kita
terhadap objek tersebut. Kalau ternyata objek yang ingin kita ketahui itu belum tertentu
(non-given), kelihatannya berpikir tidak akan pernah mendekatkan kita kepadanya.
Namun, semua itu ternyata tidak benar. Dalam kedua hal di atas, kalau kita menyimak
pengalaman •kita, berpikir ternyata memerankan peranan yang sangat membantu,
bahkan sangat menentukan.
Marilah kita lihat contoh pertama, yaitu objek yang ingin diketahui sudah tertentu.
Yang harus disadari adalah objek tersebut tidak pernah sederhana. Biasanya, objek itu
sangat rumit. Mungkin mempunyai beratus-ratus segi, aspek, karakteristik, dan
sebagainya. Pikiran kita tak mungkin untuk mencakup semuanya dalam suatu ketika.
Dalam upaya untuk mengenal benar-benar objek semacam itu, seseorang harus dengan
rajin memperhatikan semua seginya, menganalisis objek tersebut dari pelbagai pendirian
yang berbeda. Kesemuanya ini adalah berpikir (Bochenski, dalam Suriasumantri,
1999:52-53).
Perbedaan dalam cara berpikir dan memecahkan masalah merupakan hal nyata dan
penting. Perbedaan ini mkngkin sebagian disebabkan oleh #aktor pembawaan sejak lahir
dan sebagian lagi berhubungan dengan taraf kecerdasan seseorang. Namun, jelas bahwa
proses keseluruhan dari pendidikan formal dan pendidikan informal sangat mempengaruhi
gaya berpikir seseorang di kemudian hari, di samping mempengaruhi pula mutu
pemikirannya (Leavitt, 1978).
Para ahli melihat ihwal berpikir ini dari perspektif yang berlainan. Ahli-ahli psikologi
asosiasi, misalnya, menganggap bahwa berpikir adalah kelangsungan tanggapan-
tanggapan ketika subjek berpikir pasif. Plato beranggapan bahwa berpikir adalah
berbicara dalam hati. Sehubungan dengan pendapat Plato ini, ada yang berpendapat
bahwa berpikir adalah aktivitas ideasional (Woodworth dan Marquis, dalam Suryabrata,
1995:54). Pada pendapat yang terakhir itu dikemukakan dua kenyataan, yakni: (1) berpikir
adalah aktivitas; jadi subjek yang berpikir aktif, dan aktivitas bersifat ideasional; jadi bukan
sensoris dan bukan motoris, walaupun dapat disertai oleh kedua hal itu; berpikir
menggunakan abstraksi-abstraksi atau "ideas".
Piaget menciptakan teori bahwa cara berpikir logis berkembang secara bertahap, kira-
kira pada usia dua tahun dan pada sekitar tujuh tahun. la menunjukkan bahwa anak-anak
tidak seperti bejana yang menunggu untuk diisi penuh dengan pengetahuan. Mereka
secara aktif membangun pemahamannya akan dunia dengan cara berinteraksi dengan
dunia. Pada beberapa periode yang berbeda dari perkembangan mereka, anak-anak
mampu melakukan berbagai jenis interaksi yang berbeda, dan sampai pada berbagai
pemahaman yang berbeda. Periode sebelum sekitar usia dua tahun disebutnya periode
sensori-motor, usia dua sampai tujuh tahun periode praoperasional, clan dari usia tujuh
tahun seterusnya periode operasional (yang dibaginya menjadi dua) - periode operasi
konkret (tujuh sampai sebelas tahun) clan periode operasi formal (sebelas tahun sampai
usia dewasa) (Sylva 6. Lunt, 1986).
Menurut Piaget, cara berpikir anak-anak sama sekali tidak seperti cara berpikir orang
dewasa. Pikiran anak-anak tampaknya diatur berlainan dengan orang yang lebih besar.
Anak-anak kelihatannya memecahkan persoalan pada angkatan yang sama sekali
berbeda. Perbedaan anak-anak yang lebih kecil dan lebih besar tidak terlalu berkaitan
dengan persoalan bahwa anak yang lebih besar mempunyai pengetahuan yang lebih
banyak, melainkan karena pengetahuan mereka berbeda jenis. Dengan penemuan ini,
Piaget mulai mengkaji perkembangan struktur mental.
Perbedaan dalam cara berpikir dan memecahkan masalah merupakan hal nyata dan
penting. Perbedaan ini mungkin sebagian disebabkan oleh faktor pembawaan sejak lahir
dan sebagian lagi berhubungan dengan taraf kecerdasan seseorang. Namun, jelas bahwa
proses keseluruhan dari pendidikan formal dan pendidikan informal sangat mempengaruhi
gaya berpikir seseorang di kemudian hari, di samping mempengaruhi pula mutu
pemikirannya (Leavitt, 1978).
Para ahli melihat ihwal berpikir ini dari perspektif yang berlainan. Ahli-ahli psikologi
asosiasi, misalnya, menganggap bahwa berpikir adalah kelangsungan tanggapan-
tanggapan ketika subjek berpikir pasif. Plato beranggapan bahwa berpikir adalah
berbicara dalam hati. Sehubungan dengan pendapat Plato ini, ada yang berpendapat
bahwa berpikir adalah aktivitas ideasional (Woodworth dan Marquis, dalam Suryabaya,
1995:54). Pada pendapat yang terakhir itu dikemukakan dua kenyataan, yakni:
(1) berpikir adalah aktivitas; jadi subjek yang berpikir aktif, dan
(2) aktivitas bersifat ideasional; jadi bukan sensoris clan bukan motoris, walaupun
dapat disertai oleh kedua hal itu; berpikir menggunakan abstraksi-abstraksi atau
"ideas".
Piaget menciptakan teori bahwa cara berpikir logis berkembang secara bertahap, kira-
kira pada usia dua tahun dan pada sekitar tujuh tahun. la menunjukkan bahwa anak-anak
tidak seperti bejana yang menunggu untuk diisi penuh dengan pengetahuan. Mereka
secara aktif membangun pemahamannya akan dunia dengan cara berinteraksi dengan
dunia. Pada beberapa periode yang berbeda dari perkembangan mereka, anak-anak
mampu melakukan berbagai jenis interaksi yang berbeda, dan sampai pada berbagai
pemahaman yang berbeda. Periode sebelum sekitar usia dua tahun disebutnya periode
sensori-motor, usia dua sampai tujuh tahun periode praoperasional, clan dari usia tujuh
tahun seterusnya periode operasional (yang dibaginya menjadi dua) - periode operasi
konkret (tujuh sampai sebelas tahun) dan periode operasi formal (sebelas tahun sampai
usia dewasa) (Sylva & Lunt, 1986).
Menurut Piaget, cara berpikir anak-anak sama sekali tidak seperti cara berpikir orang
dewasa. Pikiran anak-anak tampaknya diatur berlainan dengan orang yang lebih besar.
Anak-anak kelihatannya memecahkan persoalan pada tingkatan yang sama sekali
berbeda. Perbedaan anak-anak yang lebih kecil dan lebih besar tidak terlalu berkaitan
dengan persoalan bahwa anak yang lebih besar mempunyai pengetahuan yang lebih
banyak, melainkan karena pengetahuan mereka berbeda jenis. Dengan penemuan ini,
Piaget mulai mengkaji perkembangan struktur mental.
Cobalah sekali-kali bertanya kepada seorang anak berusia empat tahun tentang nama
ibukota Indonesia maka si anak akan tertawa dan berlari meninggalkan Anda. Atau,
tanyakan pada anak berusia lima tahun beberapa uang kembali yang akan ia terima jika ia
membeli barang seharga Rp 250,00 dengan uang Rp 5.000,00. la akan melihat Anda
dengan rasa terkejut, seperti juga halnya anak berusia enam tahun yang diminta mengeja
kata "canggih". Tidaklah mengherankan jika anak kecil tidak mengetahui geografi,
pengurangan, dan ejaan karena prestasi intelektual seperti ini hanya dapat dikuasai
melalui pelajaran di sekolah.
Kini ambil kasus lain. Seorang anak berusia empat tahun terjatuh dari sepedanya, lalu
berkata, "Saya terjatuh karena hari ini hari ulang tahun Hana". Bagi kita, sudah jelas
bahwa hari ulang tahun tidak menyebabkan jatuhnya si anak, namun anak tersebut
tampaknya berpendapat demikian. Tiga tahun kemudian, bila terjatuh, anak yang sama
akan mengatakan, "Saya terjatuh karena roda depan tergelincir dalam kubangan dan saya
terlempar". Jelas, anak-anak memperoleh gagasan canggih mengenai sebab akibat yang
tidak mereka pelajari di sekolah.
Guru-guru berkonsentrasi pada angka, huruf, dan fakta historis. Mereka tidak terlalu
memperhatikan pembelajaran yang berlangsung secara "alamiah". Akan tetapi,
sebenarnya teori yang paling komprehensif mengenai perkembangan pikiran, berfokus
pada pembelajaran "spontan" ketimbang "lewat buku". Ini merupakan karya ahli psikologi
Swiss, Jean Piaget (Sylva & Lunt, 1986).
Pada tahun-tahun terakhir ini, para ahli psikologi perkembangan telah berupaya
mengamati cara anak-anak mencari arti mengenai benda-benda. Perkembangan dari
pengertian semacam itu, pada anak-anak, tampak bergerak melalui tiga tahap yang besar.
Anak-anak yang sangat muda cenderung menemukan arti dari benda-benda melalui
penghayatan (actively). Menghayati di sini berarti bertindak terhadap benda tersebut, yaitu
meraba, merasakan, dan memegangnya. Sebuah apel ialah apa yang menurut perasaan
adalah seperti apel.
Lantas, sekitar kurang lebih umur lima tahun, karena suatu proses pematangan yang
tidak begitu jelas, anak-anak mulai berpikir melalui wujud. Mereka mulai memahami
benda-benda melalui wujudnya. Jika Anda bertanya kepadanya tentang apel, mereka
cenderung untuk menyimpulkan secara umum gambar yang berada di dalam dirinya
tentang apel, yang hampir-hampir merupakan gambaran satu-untuk-satu dari objek yang
sesungguhnya.
Selanjutnya, anak menuju tahap perkembangan proses berpikir berikutnya. Sekarang
sebuah apel dapat dimengerti secara simbolik dengan mempergunakan simbol abstrak
sebagai sarana berpikir. Apel menjadi suatu buah-buahan yang dapat dimakan yang
besarnya kira-kira sekian dan sifatnya demikian. Apel itu dimengerti dengan simbol kata
atau mungkin dengan angka. Adalah cukup beralasan bila dikatakan bahwa tingkatan dan
batas berpikir melalui simbol sangat erat hubungannya dengan pendidikan, karena
sebagian besar simbol yang kita pikirkan adalah buatan manusia dan diajarkan kepada
kita oleh manusia lain. Maka, sebagian anak-anak dan sebagian masyarakat
mengembangkan perbendaharaan kata-kata lebih cepat dan dalam batas-batas yang lebih
luas ketimbang anak-anak lain atau sebagian masyarakat lainnya.
Kesemua ide mengenai perkembangan ini memberikan suatu cara pemikiran tentang
adanya gaya-gaya berpikir pada manusia. Misalnya, mungkin jenis pekerjaan atau
pendidikan tertentu memberikan dorongan ke arah berpikir yang lebih teliti dan lebih mahir
dalam segi pengkhayalan; sedangkan yang lain dalam segi wujud, dan yang lainnya lagi
dalam segi simbol. Seorang ahli matematika atau seorang akuntan tidak akan bisa bekerja
terlalu jauh, kecuali apabila ia dapat mempergunakan simbol-simbol 3bstrak dengan baik.
Namun, seorang pelukis atau seorang juru potret atau (jika kita mengatakan tentang wujud
suara)musikus-musikus tertentu mungkin mengembangkan derajat keahlian yang tinggi
dalam gaya berpikir secara wujud. Dan seorang balerina atau seorang ahli mesin yang
baik mungkin mengembangkan "pembendaharaan kata-kata" tentang penghayatan,
mengembangkan kemampuan untuk merasakan perbedaan-perbedaan yang sangat kecil,
yang kebanyakan orang mungkin sama sekali tidak memilikinya.
Namun, tampaknya ada dimensi lain yang sangat tersendiri dalam persoalan tersebut.
Tak hanya sebagian orang yang lebih mahir ketimbang yang lain dalam mempergunakan
wujud atau perasaan-perasaan perabaan, tetapi ada juga sebagian orang yang berpikir
jauh lebih analitik ketimbang orang-orang lain. Kata-kata analitik dan imaginatik agak
sukar untuk 3itegaskan dalam rincian yang tajam. Akan tetapi, secara garis besar, dengan
tepat pembaca dapat merasakan kesannya. Seorang pemikir yang analitik ialah seseorang
yang dapat memisah-misahkan satu masalah yang kompleks menjadi bagian-bagian,
merincinya menjadi kepingan-kepingan yang saling berhubungan secara logis, kemudian
menyatukannya kembali. Adapun seorang pemikir yang imaginatif ialah seseorang yang
dapat menyimpulkan dengan cepat ide-ide dan pemecahan masalah yang bersifat ganda;
atau orang memecahkan masalah dengan cara trial and error (coba-coba) yang bersifat
lokal, yaitu yang mengambil langkah pertama dan kemudian melihat letak posisi dirinya,
kemudian mencoba langkah kedua dan melihat kembali posisi dirinya clan seterusnya
(Leavitt, 1978).
Sebenarnya, perbedaan antara berpikir secara analitik dan berpikir secara imaginatif
telah menjadi bahan kajian dengan bermacam cara dan pendekatan selama beratus-ratus
tahun oleh banyak pengamat dari berbagai kebudayaan. Dalam dasawarsa terakhir, suatu
penelitian pendahuluan telah dilakukan pada taraf neurofisiologis (ilmu faal saraf). Kita
telah menemukan bahwa otak manusia terdiri atas dua belahan yang sama. Eksperimen
terhadap orang-orang yang dua belahan otaknya dipisah dengan pembedahan
memperlihatkan perbedaan serupa, antara kemampuan dari belahan otak kiri dan
kemampuan otak kanan. Belahan otak kiri tampak mempunyai kemampuan yang bersifat
verbal, bersifat merangkaikan secara berturut-turut (serial) dan logis, Sedangkan belahan
otak kanan (yang mengendalikan separuh sebelah kiri) tampak merupakan belahan yang
mempunyai kemampuan imaginatif. Belahan otak kanan tampaknya mempunyai
kemampuan yang lebih bersifat "emosional", dan hampir-hampir bisu secara "verbal",
tetapi tampak lebih bersifat holistik atau lebih melihat keseluruhan objek ketimbang
bagian-bagian.
Dalam menjelaskan proses berpikir, Arthur Koestler dalam bukunya The Art of
Creativity, telah mengajukan teori berpikir bisosiatif sebagai cara melukiskan proses
kreativitas. Jenis berpikir yang kreatif, divergen, dan imaginatif, yang dibedakan dari
berpikir konvergen, logis, analitik, sebagaimana menjadi tugas dan fungsi dari masing-
masing belahan otak, kanan dan kiri, telah dilukiskannya sebagai proses berpikir yang
bisosiatif.
Apabila bagi berpikir analitik berlaku peraturan yang memungkinkan suatu pendekatan
logis, vertikal, yang menuju satu jawaban tunggal, atau dapat diramalkan sebelumnya
(terutama merupakan ciri fungsi dan tugas belahan otak kiri), dalam berpikir holistik,
imaginatif merupakan proses berpikir kreatif yang mempertimbangkan berbagai
kemungkinan, terutama merupakan ciri, tugas, dan fungsi otak kanan. Koestler
menganggap bahwa dalam proses berpikir kreatif, pikiran dalam mencari jawaban
terhadap suatu persoalan pada suatu bidang mengembara sepanjang permukaan bidang
itu. Pencarian dan pengembaraan berlangsung terus tanpa banyak hasil sampai
ditemukan bidang yang lain. Pikiran meloncat atau melakukan bisosiasi ke dalam bidang
baru clan menemukan jawaban terhadap persoalan. Dua bidang itu saling berpisah, clan
pada permukaannya tidak berhubungan sama sekali. Namun, setelah terjadi loncatan
melintasi bidang, terlihat jawaban yang orisinal unik terhadap persoalan tersebut.
Menurut Gowan (Semiawan et al., 1988), kemampuan berpikir lintas bidang ini,
terletak pada tingkat berpikir di atas tingkat berpikir abstrak konvergen, sebagaimana
dilukiskan oleh Piaget yang merupakan ciri utama dari kemungkinan perkembangan
berpikir usia 17 tahun,ke atas.
Berpikir itu, seperti kata ahli pikir, tampaknya mudah saja; sejak kecil semua orang
biasa melakukannya. Namun, apabila diselidiki lebih lanjut, dan terutama bila dipraktikkan,
ternyata mengandung banyak kesulitan. Orang dengan mudah bisa tersesat. Perasaan
dan prasangka dapat memengaruhi jalan pikiran. Semboyan-semboyan serta "pendapat
umum" dapat menutup mata orang terhadap kenyataan, dan dalam perdebatan, terutama
tentang hal-hal yang sulit dan berbelit-belit, sering sukar untuk menentukan letak
kebenaran.
Guna menghindari kesesatan dan kesalahan dalam upaya mencapai kebenaran,
disusunlah logika, yaitu sebagai pegangan buat pikiran kita dalam perjalanannya mencari
insight mengenai seluruh kenyataan.
Pada dasarnya, segala sesuatu yang kita lihat di dalam alam ini, bekerja menurut
aturan atau hukum tertentu. Peristiwa di dalam alam, dikuasai oleh hukum-hukum
tersendiri, dan sebagainya. Demikian pula pikiran kita; alat'untuk berpikir itu bekerja
menurut hukum atau aturan tertentu. Hukumhukum itu tentu saja harus ditaati jika orang
hendak menghindari kesesatan.
Dalam perspektif Islam, agama ini membantah akidah apa pun, kecuali yang didasari
argumentasi clan pandangan mendalam serta pikiran jernih. Karena itu.Al-Quran mencela
orang-orang yang berakidah batil: "Katakanlah
(hai Muhammad): 'Berikanlah argumentasi kalian jika kalian memang orang-'. orang
yang benar'." (QS:2:111). Tidak aneh jika ungkapan-ungkapan yang membangunkan
pikiran dan membebaskan manusia dari belenggu taklid dan jumud berulang kali
ditemukan, seperti :
"Apakah kamu tidak berakal?"
"Apakah kamu tidak berpikir?"
"Apakah mereka tidak melihat?"
"Apakah mereka tidak berpikir?"
"Bagi kaum yang berakal."
"Bagi kaum yang mengetahui."
"Bagi kaum yang berpikir."
Beruntung bagi yang membaca seruan tajam dan gamblang yang mengajak berpikir
"Katakanlah: 'Sesungguhnya Aku hendak memperingatkanmu suatu hal saja, yaitu
agar kamu menghadap Allah, baik dalam keadaan berdua maupun sendiri, kemudian
engkau pikirkan (tentang Muhammad) teman kamu, sedikit pun tidak berpenyakit gila,
tak lain hanyalah pemberi peringatan bagi kamu sebelum kamu menemui azab yang
amat dahsyat'." (QS:34:46).
Ayat inilah, menurut Yusuf Al-Qardhawi (1991) , yang mendorong Abbas Al'Akkad
mengeluarkan sebuah buku yang diberi judul At-Tafkiiru Faridlatan Islamiyatun (Berpikir
adalah Kewajiban Islam). Sebuah ungkapan yang sahih. Sebab, sebagaimana Islam
memerintahkan ibadah, memerintahkan pula berpikir. Menurut Islam, akidah harus
berdasarkan ilmu, bukan dengan penyerahan diri secara buta. Allah berfirman: "Maka,
ketahuilah bahwasanya tidak ada tuhan selain Allah." (QS:47:19).
"Ketahuilah bahwasanya Allah sangat kejam dalam menyiksa dan bahwasanya Allah
Maha Pengampun dan Maha Penyayang" (QS:5:98).
"Dan ketahuilah olehmu bahwasanya Allah mengetahui apa saja yang add di dalam
jiwamu. Karena itu, ketahuilah Dia. Dan ketahuilah bahwasanya Allah Maha Pengampun
dan Mahalembut" (QS:2:235).
Dalam Islam, seruan berpikir, memperhatikan, dan mengetahui, tidak dikhawatirkan
akan membawa dampak negatif yang bertolak belakang dengan kebenaran agama.
Sebab, Islam beranggapan: kebenaran agama tidak akan bertentangan dengan
kebenaran rasio. Kebenaran mustahil bertentangan dengan kebenaran. Yang yakin, kata
Al-Qardhawi, mustahil bertentangan dengan yang yakin pula. Yakin bertentangan dengan
xhan, clan prasangkalah yang menafikan hakikat. Karena itu, tidak mungkin terjadi,
pertentangan antara naqli sahih dengan akal sahih. Jika ternyata keduanya bertentangan,
kemungkinannya ada dua: Naqli=nya yang tidak sahih atau akalnya yang tidak sahih. Hal
seperti ini sering terjadi. Sesuatu yang sebetulnya bukan agama dianggap agama, atau
yang bukan ilmu dianggap sebagai ilmu. Padahal, seperti dikatakan Al-Qardhawi,
pemahaman oleh penganut suatu agama tidak dengan sendirinya menjadi
ketentuan.agama, seperti tidak semua teori ilmuwan dinyatakan sebagai ilmu (Al-
Qardhawi, 1991).
Pada hakikatnya, berpikir merupakan ciri utama bagi manusia untuk membedakan
antara manusia dan makhluk lain. Dengan dasar berpikir ini, manusia dapat mengubah
keadaan alam sejauh akal dapat memikirkannya. Berpikir disebut juga sebagai proses
bekerjanya akal; manusia dapat berpikir karena manusia berakal. Akal merupakan intinya,
sebagai sifat hakikat, sedangkan makhluk sebagai genus yang merupakan dhat, sehingga
manusia dapat dijelaskan sebagai makhluk yang berakal. Akal merupakan salah satu
unsur kejiwaan manusia untuk mencapai kebenaran, di samping rasa untuk mencapai
keindahan dan kehendak untuk mencapai kebaikan. Dengan akal inilah, manusia dapat
berpikir untuk mencari kebenaran hakiki.

B. Berpikir dan Bernalar

Dalam pemakaian sehari-hari, kata berpikir sering disamakan dengan bernalar atau
berpikir secara diskursif dan kalkulatif. Kecenderungan ini menjadi sangat besar dengan
semakin dominannya rasionalitas ilmiah teknologis atau rasionalitas instrumental. Akan
tetapi, menurut Sudarminta, sesungguhnya berpikir lebih luas dari sekadar bernalar (Basis
05-06, 2000:54). Seperti dikemukakan oleh Habermas, selain rasionalitas ilmiah-
teknologis, masih ada rasionalitas tindakan komunikatif.
Dalam penalaran model rasionalitas yang pertama, pikiran menyibukkan diri dengan
penemuan sarana yang paling efektif dan efisien untuk mencapai tujuan. Benar-salah
dalam konteks ini dilihat dari sukses-gagalnya apa yang dipikirkan dioperasionalisasikan
secara teknologis. Adapun dalam penalaran model rasionalitas yang kedua, arahnya
adalah upaya saling memahami.
Menurut Sudarminta, bernalar adalah kegiatan pikiran untuk menarik kesimpulan dari
premis-premis yang sebelumnya sudah diketahui. Bernalar bisa mengambil bentuk
induktif, deduktif, ataupun abduktif. Penalaran induktif merupakan proses penarikan
kesimpulan yang berlaku umum (universal) dari rangkaian kejadian yang bersifat khusus
(partikular). Sebaliknya, penalaran deduktif adalah penarikan kesimpulan khusus
berdasarkan hukum atau pernyataan yang berlaku umum. Adapun penalaran abduktif
(suatu istilah yang diperkenalkan oleh Charles S. Pierce) adalah penalaran yang terjadi
dalam merumuskan suatu hipotesis berdasarkan kemungkinan adanya korelasi antara dua
atau lebih peristiwa yang sebelumnya sudah diketahui. Sebagai contoh, kita tahu bahwa
semua pohon semangka di kebun kita adalah semangka non-biji; sewaktu makan siang
kita mendapat buah semangka non-biji. Nah, barangkali semangka yang disediakan di
ruang makan itu diambil dari kebun kita.
Memang kegiatan bernalar merupakan aspek yang amat penting dalam berpikir. Akan
tetapi, menyamakan berpikir dengan bernalar, seperti dikatakan Sudarminta, merupakan
suatu penyempitan konsep berpikir. Penalaran adalah kegiatan berpikir seturut asas
kelurusan berpikir atau sesuai dengan hukum logika. Penalaran sebagai kegiatan berpikir
logis, belum menjamin bahwa kesimpulan yang ditarik atau pengetahuan yang dihasilkan
pasti benar. Walaupun penalarannya betul atau sesuai dengan asas-asas logika,
kesimpulannya yang ditarik bisa saja salah kalau premis-premis yang mendasari
penarikan kesimpulan itu ada yang salah.
Dalam bernalar memang belum ada benar-salah. Yang ada adalah betulkeliru, sahih
atau tak sahih. Tolok ukur penilaiannya adalah asas-asas logika atau hukum penalaran.
Akan tetapi, kalau kegiatan berpilcir dimengerti secara lebih luas dan menyeluruh, mulai
dari pencerapan indrawi, konseptualisasi atau proses pemahaman atas data yang
diperoleh, serta berakhir dengan penegasan putusan, dapat saja kita bicara tentang
benar-salah dalam berpikir. Penalaran yang betul merupakan unsur yang amat penting
dalam kegiatan berpikir, dan dapat menunjang kegiatan berpikir yang benar.

C. Bahasa dan Pikiran

Dalam pengertian yang terbatas, berpikir tak bisa didefinisikan. Tiap kegiatan jiwa
yang menggunakan kata-kata dan pengertian selalu mengandung hal berpikir. Namun,
secara umum, tiap perkembangan dalam ide, konsep, dan sebagainya dapat disebut
berpikir (Bochenski, dalam Suriasumantri, 1999:52). Umpamanya, jika seseorang bertanya
kepada saya, "Apakah yang sedang kamu pikirkan?" Mungkin saya menjawab, "Saya
sedang memikirkan keluarga saya." Hal ini berarti bahwa bayangan, kenangan, dan
sebagainya hadir dan ikut-mengikuti dalam kesadaran saya. Karena itu, definisi yang
paling umum dari berpikir adalah perkembangan ide dan konsep.
Berpikir adalah satu keaktifan pribadi manusia yang mengakibatkan penemuan yang
terarah pada suatu tujuan. Kita berpikir untuk menemukan pemahaman atau pengertian
yang kita inginkan.
Ciri-ciri yang terutama dari berpikir adalah adanya abstraksi (Purwanto, 1998:43).
Abstraksi dalam hal ini berarti anggapan lepasnya kualitas atau relasi dari benda-benda,
kejadian-kejadian, dan situasi-situasi yang mula-mula dihadapi sebagai kenyataan.
Hal abstraksi, sebagai faktor penting dalam berpikir, juga ditegaskan Astrid S. Susanto
dalam bukunya Pengantar Sosiologi dan Perubahan Sosial. Menurutnya, sesuai dengan
kemampuan abstraksi ini, pada seseorang akan meningkat pula kemampuan
merumuskan sesuatu dengan tepat. Bila seseorang kurang memiliki daya abstraksi yang
tepat, "bahasa" atau "lambang" yang dipergunakannya/dimilikinya adalah terbatas pula
(Susanto, 1979:33). Berbagai penyelidikan di lapangan industri dan kemiliteran
menghasilkan bahwa para pemimpin kelompok mempunyai kecakapan untuk berpikir
abstrak yang lebih tinggi daripada rata-rata anggota kelompok yang mereka pimpin
(Gerungan, 1987:136).
Berpikir banyak sekali macamnya, namun secara garis besar dapat dibedakan antara
berpikir alamiah dan berpikir ilmiah (Bakry, 1996). Berpikir alamiah yang dimaksudkan di
sini ialah pola penalaran yang berdasarkan kebiasaan sehari-hari dari pengaruh alam
sekelilingnya, misal: penalaran tentang panasnya api yang dapat membakar, jika
dikenakan kayu, pasti kayu tersebut akan terbakar. Adapun berpikir ilmiah yang
dimaksudkan adalah pola penalaran berdasarkan sarana tertentu secara teratur dan
cermat, misalnya dua hal yang bertentangan penuh tidak dapat sebagai sifat hal tertentu
pada saat yang sama dalam satu kesatuan.
Berpikir merupakan daya yang paling utama serta merupakan ciri yang khas yang
membedakan manusia dari hewan. Manusia dapat berpikir karena manusia mempunyai
bahasa, sedangkan hewan tidak. "Bahasa" hewan adalah bahasa insting yang tidak perlu
dipelajari dan diajarkan, sedangkan bahasa manusia adalah hasil kebudayaan yang harus
dipelajari dan diajarkan.
Makin bertambah dan menakjubkan kemampuan manusia, semakin gelisah dan tidak
puas. la ingin mengangkat tanggung jawab sepenuhnya atas hari kemarin, hari ini, dan hari
esok, serta berusaha mengenal clan memahami dirinya, lantaran dirinya selalu
merupakan problem yang mendesak. Ilmu pengetahuan biologi, sumber mengenai
kodratnya secara objektif, tidak memberikan keterangan yang sungguh-sungguh baru.
Istilah zoologi "homo sapiens" memang mengandung makna bahwa manusia, di antara
golongan hewan, memiliki daya pikir, daya renung, daya abstraksi, dan daya membentuk
konsep. Namun, pikiran manusia, bagaimana pun kompleksnya, tampak di mata psikologi
hanya sebagai perkembangan evolusioner dari apa yang sudah membibit dalam jenis-
jenis binatang yang lebih rendah.
Psikisme sudah tampak pada tingkat hidup yang lebih rendah, dan kini kelakuan
makhluk-makhluk yang paling sederhana terlihat jauh lebih rumit daripada yang terlihat
dahulu oleh para penyidik pertama. Orang telah menelaah bangsa burung dan binatang-
binatang menyusui, lebih-lebih yang bertingkat tinggi, seperti kera anthoropoid, anjing,
atau kucing. Penjinakan binatang-binatang itu menunjukkan masalah seperti yang ada
pada manusia. Ini bukanlah berbuat antropomorfisme, melainkan membuat pernyataan
secara ilmiah bahwa binatang itu sangatlah dekat dengan manusia. "Homo sapiens" tidak
mengasingkan diri seasing-asingnya; ia bukan satu-satunya yang berakal dalam alam
binatang.
Alam ini, serta mencapai tingkat manusia, mencapai tingkat kompleksifikasi yang
krisis: di sinilah sifat-sifat baru timbul dari perkembangan kuantitatif, dan terjadi
perubahan-perubahan dan kemungkinan-kemungkinan yang sedemikian, sehingga
bolehlah kita mengatakan ada perbedaan kodrat (Chauchard, 1976).
Menurut Paul Chauchard, kalau kita merendahkan alam pikiran binatang, itu semata-
mata karena kita hanya mengenal dari luar, yaitu dari beberapa reaksi mereka. Kita harus
mengadakan eksperimen yang lama, menggunakan tes bermacam-macam untuk menguji
benar-tidaknya pernyataart-pernyataan yang kadang-kadang kelewat batas yang dibuat
oleh "teman-teman segolongan binatang itu". Ketika menyaksikan ekspresi seekor anjing
atau simpanse yang menunjukkan bahwa mereka cerdas dan tahu-menahu, sebaiknya
kita cenderung berkata: hanya kekurangannya, mereka tidak tahu kata-kata untuk
mengeluarkan pikirannya.
Dengan bahasa, manusia bisa memberi nama kepada segala sesuatu, baik yang
kelihatan maupun yang tidak kelihatan. Semua benda, sifat, pekerjaan, dan lain-lain yang
abstrak, diberi nama. Dengan begitu, segala sesuatu yang pernah diamati clan dialami
dapat disimpan, menjadi tanggapan-tanggapan dan pengalaman-pengalaman, kemudian
diolah (berpikir) menjadi pengertian-pengertian.
Inteligensi manusia telah membuat suatu penemuan besar, yaitu menyatakan
bermacam-macam benda di dunia ini dengan pertanda bunyi yang diartikulasikan. Kode ini
ternyata sangat menguntungkan bagi pikiran, karena kode ini, yang semula merupakan
hasil aktivitas motoris terkehendaki, kini telah menjadi aspek kerja otak seluruhnya. Hal
baru sama sekali akibat adanya otak manusia yang lebih besar yang memungkinkan
manusia semakin hadir bagi dunia ini dan bagi dirinya sendiri dan kemudian menjadi
sebab sewajarnya dari fenomena baru itu. Akan tetapi, hal baru itu tidak mengakibatkan
modifikasi struktur dan fungsi pada kulit otak. Sebenarnya tidak ada fisiologi khas bahasa:
pusat-pusat bahasa adalah spesialisasi dari pusat-pusat praksis dan gnosis yang sudah
ada pada binatang. Orang yang tahu akan fisiologi dan patologi bahasa atau sensoris
dapat mengerti fisiologi atau patologi bahasa. Bahasa pada tingkat fisiologi otak, berdasar
pada rangkaian kerja otak yang menjamin kerja saraf yang lebih tinggi: bahasa bergantung
pada proses berlatih, mengingat, dan karena itu patuh pada hukum-hukum refleks bertata-
syarat.
Pavlov, pada awal penelitiannya, tidak menaruh minat kepada manusia dan bahasa. la
melakukan berbagai penyelidikan ilmiah atas fenomena-fenomena proses berlatih
(belajar); ia menilai secara kuantitatif variasi daya rangsang otak berdasar penilaian atas
jumlah air liur yang keluar selama refleks bertata-syarat berjalan. Namun, dari penelitian-
penelitian itu, akhirnya ia sampai juga pada pengetahuan akan kerja kulit otak yang
mendasari seluruh fisiologi bahasa, sebagaimana ia dapati kemudian.
Sebelum dia, dalam otak digambarkan ada suatu simpanan yang memuat image-
image kata, tersimpan dalam neuron-neuron pelbagai otak; (ini pandangan materialistis,
dan melokalisasi sedemikian tidak bisa diterima). Orang telah menyelidiki refleks bertata-
syarat yang menyangkut daya ingatan. Penyelidikan-penyelidikan itu tidak menjelaskan
dasar ingatan itu, tetapi menunjukkan kepada kita bahwa sebenarnya ingatan itu bukanlah
sesuatu yang non-jasmani, tetapi sesuatu yang fungsional belaka. Dasar ingatan ialah
bahwa dalam bangunan neuron-neuron pada kulit otak, keseluruhan perpindahan alir
impuls pada suatu ketika kelihatan tak berjejak, tetapi dapat membentuk diri lagi bila
kondisi-kondisi (pertatasyaratan) muncul lagi. Kata bukanlah semacam substansi yang
gaib tersimpan dalam neuron, tetapi merupakan aspek perhubungan fungsional antara
berjuta-juta neuron. Tidak ada hal asasi dalam rangkaian, kerja otak, yang membedakan
pikiran mekanis dari mesin-mesin besar yang menghitung aliran-aliran listrik pikiran kita;
dalam kedua hal gelombang-gelombang listrik menyampaikan suatu berita yang
dikodekan, dan perputaran impuls dalam lingkaran tertutup merupakan dasar ingatan
langsung (Chauchard, 1977).
Dalam kehidupan sehari-hari, mudah sekali diamati bahwa bermula dari pikiran, lalu
tertuang dalam omongan, muncullah sekian banyak efek, baik yang positif maupun yang
negatif. Jadi, kebenaran sebuah bahasa bukan semata-mata terletak pada susunan
gramatikanya saja, tetapi juga pada tata pikir, intensi, dan implikasi yang muncul dari
sebuah ucapan. Mengingat selalu terdapat jarak antara kehendak batin dan ucapan lahir,
eksternalisasi gagasan tidak pernah cukup terwadahi hanya dalam satu kata, melainkan
memerlukan bentuk kalimat. Sedemikian eratnya hubungan emosi, pikiran, dan ucapan,
kalau saja kita rekam apa yang kita omongkan mulai dari bangun tidur sampai menjelang
tidur, lalu kita transkrip ke dalam tulisan, barangkali setiap hari kita menghasilkan
monograf, berlembar-lembar, meskipun secara gramatikal tentu banyak ungkapan yang
tidak benar dan banyak pula kata yang diulang-ulang.
Masih seputar hubungan bahasa dan pikiran, pepatah lama mengatakan, "Bahasa
menunjukkan kualitas pembicara." Atau diperluas lagi, "Bahasa menunjukkan bangsa."
Artinya, kepribadian seseorang atau bangsa bisa diamati dan dianalisis dari tutur
katanya, bacaan yang digemarinya, juga dari karakter bahasa yang ada, karena setiap
bahasa memiliki muatan filsafat yang akan membentuk sifat masyarakatnya dan, pada
urutannya, secara dialektis karakter masyarakat akan membentuk karakter bahasa yang
ada. Ibarat sebuah disket komputer, perasaan; pikiran, dan perilaku kita, disadari atau
tidak, banyak dipengaruhi oleh nilai-nilai yang termuat dalam bahasa. Bahasa masuk
dalam sistem memori, kemudian bekerja mempengaruhi program perasaan dan pikiran
yang diteruskan output-nya dalam bentuk ucapan dan perilaku. Itulah sebabnya, agama
maupun para psikolog sangat menekankan agar orang tua membiasakan untuk
mengenalkan kata-kata yang sehat pada anak, yang bersifat positif dan optimis. Sebab,
hal itu akan memengaruhi cara berpikir sampai dewasa. Dari hasil pengamatan para
psikolog, bisa disimpulkan bahwa anak yang terbiasa hidup dicaci dan diumpat, kelak
kalau sudah besar, sulit menumbuhkan rasa percaya diri. Anak yang selalu disalahkan
dan tak pernah memperoleh penghargaan, kelak kalau besar, sulit bekerja sama dengan
orang lain, dan sulit baginya untuk menghargai prestasi orang lain (Hidayat, 1996).
Dalam lapangan berpikir, Watson terkenal dengan teorinya bahwa berpikir pada
hakikatnya adalah implicit behavior (Dirgagunarsa, 1996).
Menurut Watson, berpikir haruslah merupakan suatu tingkah laku motoris. Anak-anak,
bahkan juga orang dewasa, sering berpikir dengan bersuara. Berpikir dengan bersuara ini
adalah untuk membisiki diri sendiri. Pada fase selanjutnya, berbicara terhadap diri sendiri
ini menghilang dan diganti dengan gerakan-gerakan kecil pada lidah yang tidak dapat
terlihat dari luar. Seorang anak belajar bicara terhadap diri sendiri bukan hanya mengenai
apa yang sedang dikerjakan, tetapi juga apa yang telah atau akan diperbuat. Oleh karena
itu, ia dapat mencapai bentuk berpikir pada orang dewasa. Orang tuli, yang
"berbicara"dengan tangan, menurut Watson, juga berpikir dengan gerakan, yaitu gerakan
tangan yang tidak tampak atau implicit hand movement.

D. Macana-Macanl Berpikir

Secara garis besar, ada dua macam berpikir: berpikir autistik dan berpikir realistik
(Rahmat, 1994:69). Yang pertama mungkin lebih tepat disebut melamun. Contoh berpikir
autistik antara lain mengkhayal, fantasi, atau wishful thinking. Dengan berpikir autistik,
seseorang melarikan diri dari kenyataan,dan melihat hidup sebagai gambar-gambar
fantastis. Adapun berpikir realistik atau sering pula disebut reasoning (nalar), adalah
berpikir dalam rangka menyesuaikan diri dengan dunia nyata. Floyd L. Ruch (1967),
seperti dikutip Rakhmat (1994:69), menyebut tiga macam berpikir realistik: deduktif,
induktif, evaluatif.
Apa yang dimaksud berpikir dedukatif, berpikir induktif, dan berpikir evaluatif? Uraian
berikut bisa memberi sedikit penjelasan.
1. Berpikir Deduktif
Deduktif merupakan sifat deduksi. Kata deduksi berasal dari kata Latin
deducere (de berarti `dari', dan kata ducere berarti `mengantar', `memimpin').
Dengan demikian, kata deduksi yang diturunkan dari kata itu berarti 'mengantar dari
suatu hal ke hal lain'. Sebagai suatu istilah dalam penalaran, deduksi merupakan
proses berpikir (penalaran) yang bertolak dari proposisi yang sudah ada, menuju
proposisi baru yang berbentuk suatu kesimpulan (Keraf, 1994:57).
Reasoning yang deduktif berasal atau bersumber dari pandangan umum
(general conclusion). Sumber filsafat berpikir (philosophy of thinking) seperti ini
berasal dari Plato dan Aristoteles.
Ada sebuah kisah yang menyatakan bahwa ketika Galileo mengemukakan
pendapatnya bahwa dia dapat melihat adanya tempat yang gelap pada permukaan
matahari, pengetahuannya dianggap sebagai suatu noda terhadap konklusi umum
(general conclusion) waktu itu, bahwa matahari adalah suatu "heavenly body" yang
tidak mungkin ada cirinya.
Meskipun cara ini kurang sempurna, tetap bermanfaat kalau deduksi ini
didasarkan pada suatu perumusan yang betul. Dasar dari pelajaran ilmu pasti dan
alam adalah demikian pula halnya. Dari suatu rumus umum, dapat ditarik berbagai
kesimpulan. Metode berpikir ini dapat juga disebut berpikir analisis (analytic
thinking).
Dilihat dari prosesnya, berpikir deduktif berlangsung dari yang umum menuju
yang khusus. Dalam cara berpikir ini, orang bertolak dari suatu teori, prinsip, atau
kesimpulan yang dianggapnya benar dan sudah bersifat umum. Dari situ, ia
menerapkannya pada fenomena-fenomena yang khusus, dan mengambil
kesimpulan khusus yang berlaku bagi fenomena tersebut. Jadi, untuk lebih
jelasnya, berpikir deduktif adalah mengambil kesimpulan dari dua pernyataan; yang
pertama merupakan pernyataan umum. Dalam logika, ini disebut silogisme.
Contoh klasik yang biasa digunakan sebagai penjelasan adalah seperti contoh
berikut:
Semua manusia akan mati (kesimpulan umum)
Socrates adalah manusia (kesimpulan khusus)
Jadi, Socrates akan mati (kesimpulan deduksi)
Selain contoh di atas, ada pula semacam kesimpulan deduksi yang tidak bisa
kita terima kebenarannya, yang disebut silogisme semu. Contohnya: Semua
manusia bernafas dengan paru-paru (premis mayor)
Kerbau bernafas dengan paru-paru (premis minor) Jadi, kerbau adalah
manusia (kesimpulan yang salah).
Contoh lain:
Semua anggota PKI bukan warga negara yang baik (premis mayor)
Si Waru bukan seorang warga negara yang baik (premis minor) Sebab
itu, Si Waru seorang anggota PKI.
2. Berpikir Induktif
Induktif artinya bersifat induksi. Induksi adalah proses berpikir yang bertolak
dari satu atau sejumlah fenomena individual untuk menurunkan suatu kesimpulan
(inferensi). Proses penalaran ini mulai bergerak dari penelitian dan evaluasi atas
fenomena-fenomena yang ada. Karena semua fenomena harus diteliti dan
dievaluasi terlebih dahulu sebelum melangkah lebih jauh ke proses penalaran
induktif, proses penalaran itu juga disebut sebagai corak berpikir ilmiah. Namun,
induksi tidak akan banyak manfaatnya jika tidak diikuti oleh proses berpikir yang
pertama, yaitu deduksi, seperti telah kita bicarakan sebelumnya.
Berpikir induktif (inductive thinking) ialah menarik suatu kesimpulan umum dari
berbagai kejadian (data) yang ada di sekitarnya. Dasarnya adalah observasi.
Proses berpikirnya adalah sintesis. Tingkatan berpikirnya adalah induktif. Jadi jelas,
pemikiran semacam ini mendekatkan manusia pada ilmu pengetahuan.
Pada hakikatnya, semua pengetahuan yang dimiliki manusia berasal dari
proses pengamatan (observasi) terhadap data. Rangkaian pengamatan data
tersebut kemudian memberikan pengertian terhadap kejadian berdasarkan
reasoning yang bersifat sintesis (synthesis).
Dalam ilmu pasti dan alam, metode sintesis merupakan kelanjutan dari metode
analisis. Sumber dari tingkatan berpikir ini berasal dari "the philosophy of thinking"
para ilmuwan pada waktu itu, seperti Galileo, Newton, dan Descartes.
Dalam ilmu statistik, dikenal istilah inductive statistics. Menarik satu general
conclusion dari data yang didapatkan dari suatu sampel, yang berlaku untuk
seluruh populasi tempat sampel itu berasal, adalah contoh berpikir induktif. Istilah
lain yang sama maknanya ialah generalizing atau integral (Effendy, 1981).
Berikut ini adalah contoh berpikir induktif:
Seorang guru mengadakan eksperimen-eksperimen menanam biji-bijian
bersama murid-muridnya; jagung ditanam, tumbuh ke atas; kacang tanah
ditanam, tumbuhnya ke atas pula; kacang merah ditanam dengan mata
lembaganya di sebelah bawah, tumbuhnya ke atas pula; biji;biji yang lain
demikian pula. Kesimpulannya: semua batang tanaman, tumbuhnya ke atas
mencari sinar matahari.
Tepat atau tidaknya kesimpulan (cara berpikir) yang diambil secara induktif
ini terutama bergantung pada representatif atau tidaknya sampel yang diambil,
yang mewakili fenomena'keseluruhan. Makin besar jumlah sampel yang
diambil, makin representatif dan makin besar pula taraf validitas dari
kesimpulan itu; dan sebaliknya. Taraf validitas kebenaran kesimpulan itu masih
ditentukan pula oleh objektivitas dari si pengamat dan homogenitas dari
fenomena-fenomena yang diselidiki (Purwanto, 1998:47-48).
3. Berpikir Evaluatif
Berpikir evaluatif ialah berpikir kritis, menilai baik-buruknya, tepat atau tidaknya
suatu gagasan. Dalam berpikir evaluatif, kita tidak menambah atau mengurangi
gagasan. Kita menilainya menurut kriteria tertentu (Rakhmat, 1994).
Perlu diingat bahwa jalannya berpikir pada dasarnya ditentukan oleh berbagai
macam faktor. Suatu masalah yang sama, mungkin menimbulkan pemecahan
yang berbeda-beda pula. Adapun faktor-faktor yang memengaruhi jalannya berpikir
itu, antara lain, yaitu bagaimana seseorang melihat atau memahami masalah
tersebut, situasi yang tengah dialami seseorang dan situasi luar yang dihadapi,
pengalaman-pengalaman orang tersebut, serta bagaimana inteligensi orang itu.***
BAB 6 BELAJAR
A. Apakah Belajar Itu?

Bagi kebanyakan siswa, juga mahasiswa, belajar berarti menggarisbawahi buku


pelajaran dengan stabilo kuning sambil mendengarkan alunan musik dari ruang lain. Atau,
bila menghadapi ujian akhir semester esok hari, belajar berarti minum kopi sebanyak
mungkin atau minum pil anti ngantuk dan menghabiskan sepanjang malam untuk
berusaha menjejali otaknya dengan semua bahan kuliah yang, sebetulnya, mesti dipelajari
selama kurang lebih dua belas Minggu sebelumnya. Maka, SKS pun kemudian sering
diplesetkan menjadi "sistem kebut semalam".
Kebiasaan belajar semacam itu, menurut pengamatan sepintas, biasanya
menghasilkan pemahaman yang cukup untuk bisa lepas dari masa percobaan di sekolah
atau perguruan tinggi. Dan, karena kebiasaan itu diperkuat dengan cara tersebut, ada
kecenderungan untuk tetap terpelihara (Fox, 1962). Namun, menurut Calhoun & Acocella
(1990:181), "The constitute the least efficient way of learning," kebiasaan itu merupakan
cara yang paling tidak efisien dalam belajar.
Belajar, menurut anggapan sementara orang, adalah proses yang terjadi dalam otak
manusia. Saraf dan sel-sel otak yang bekerja mengumpulkan semua yang dilihat oleh
mata, didengar oleh telinga, dan lain-lain, lantas disusun oleh otak sebagai hasil belajar.
Itulah sebabnya, orang tidak bisa belajar jika fungsi otaknya terganggu.
Belajar memang merupakan peristiwa yang terjadi dalam diri manusia. Hingga kini,
para ahli tidak mengetahui seratus persen bagaimana persis terjadinya peristiwa itu. Pada
masa lalu, ada ahli yang percaya bahwa peristiwa belajar semata-mata merupakan proses
kimia yang terjadi dalam sel-sel, terutama dalam sel dan saraf otak. Pendapat ini kadang-
kadang dirumuskan terlalu ekstrem, seakan-akan manusia itu hanya kumpulan jasad
kebendaan saja. Ini adalah pengaruh pandangan hidup yang materialistik, yang artinya
tidak percaya adanya jiwa atau roh.
Memang, ilmu pengetahuan sudah menemukan bahwa terdapat bagianbagian tubuh
di otak maupun di berbagai kelenjar tubuh yang sangat mempengaruhi daya ingat kita.
Walaupun demikian, pendapat yang materialistik sudah ditinggalkan orang karena tidak
terbukti kebenarannya. Belajar bukanlah semata-mata proses jasmaniah (Surakhmad,
1982).
Dalam bukunya The Organization of Behavior (1949), D.O. Hebb (Hardy & Heyes,
1988:32-33) mengemukakan teorinya mengenai proses berlangsungnya belajar dan
penyimpanannya di otak. Pada masa penerbitan buku ini, bukti-bukti yang mendukung
teori ini masih sangat kurang, karena teknik pembedahan yang canggih serta peralatan
yang diperlukan untuk mempelajari fungsi otak, belum ada. Sejalan dengan bertambahnya
pengetahuan mengenai fungsi otak yang berhasil diperoleh para peneliti otak yang lain,
kenyataan membuktikan bahwa teori Hebb, sekalipun mungkin kurang benar dalam
beberapa hal, telah menunjukkan kesahihannya.
Inti teori Hebb adalah bahwa semakin sering dua atau lebih neuron di otak meletup
pada saat bersamaan, semakin besar kecenderungan bagi neuron tersebut untuk bekerja
sama pada kesempatan berikutnya. Perlu diingat, bahwa neuron dapat mengaktifkan satu
sama lain pada celah sinapsis; dan impuls sebuah neuron dapat melompati celah ini
dalam bentuk bahan pemancar, yang kemudian melepaskan impuls dari neuron berikutnya
pada suatu rantai neuron. Kedua neuron yang dihubungkan oleh celah sinapsis, ada
kemungkinan, tidak perlu bekerja bersama-sama, karena masing-masing neuron tersebut
menjadi anggota pada sirkit yang berbeda otak.
Sesungguhnya masalah belajar itu demikian kompleksnya, sehingga apabila orang
menganggap beberapa macam perilaku yang berbeda dapat diistilahkan secara umum
sebagai belajar, tampak bahwa pendefinisian belajar menjadi sangat kabur, karena di
dalamnya tercakup semua perilaku tersebut. Bandingkan, misalnya, antara "belajar
merasakan (sesuatu)" dengan belajar "pengantar psikologi" sebelum ujian; kegiatan yang
disebut terakhir ini melibatkan konsentrasi, penerapan, dedikasi, dan frustrasi; sedangkan
pada kegiatan yang disebutkan pertama, kita tidak perlu duduk dan mempelajari prinsip-
prinsip persepsi dari berbagai buku. Meskipun begitu, untuk kedua kasus tersebut, sama-
sama digunakan kata "belajar".
Secara singkat dan secara umum, belajar dapat diartikan sebagai "perubahan perilaku
yang relatif tetap sebagai hasil adanya pengalaman". Di sini, tidak termasuk perubahan
perilaku yang diakibatkan oleh kerusakan atau cacat fisik, penyakit, obat-obatan, atau
perubahan karena proses pematangan.
Pengertian belajar memang selalu berkaitan dengan perubahan, baik yang meliputi
keseluruhan tingkah laku individu maupun yang hanya terjadi pada beberapa -aspek dari
kepribadian individu. Perubahan ini dengan sendirinya dialami tiap-tiap individu atau
manusia, terutama hanya sekali sejak manusia dilahirkan. Sejak saat itu, terjadi
perubahan-perubahan dalam arti perkembangan melalui fase-fasenya. Dan karena itu
pula, sejak saat itu berlangsung proses-proses belajar.

B Berbagai Rumusan Tentang Belajar

Para ahli berusaha merumuskan tentang belajar. Di bawah ini dikemukakan beberapa
perumusannya.
1. Dalam bukunya Conditioning and Instrumental Learning (1967), Walker
mengemukakan arti belajar dengan kata-kata yang singkat, yakni "Perubahan
perbuatan sebagai akibat dari pengalaman". Definisi yang singkat dan sederhana
ini tampaknya mencakup segala sesuatu yang diinginkan dalam pengertian belajar.
Ini jelas mencakup pengertian dari variabilitas-variabilitas yang merupakan syarat
mutlak bagi tiap-tiap perubahan dari perbuatan. Selain itu, Walker menggunakan
susunan kata "perubahan perbuatan" berlawanan dengan "perbaikan perbuatan"
yang lebih banyak digunakan, sebab dalam belajar, orang dapat memperoleh, baik
kebiasaan-kebiasaan yang buruk maupun kebiasaan-kebiasaan yang baik.
Beranjak dari definisi yang dikemukakannya, itu ia menjelaskan, perkataan
"perbaikan" akan menghilangkan banyak problem yang menarik dan sulit dari
penyelidikan belajar. Kesulitan utama dari definisi ini, menurut Walker, adalah
terkadang "perubahan perbuatan yang terjadi sebagai akibat dari pengalaman"
disebabkan berbagai faktor lain dari belajar. Dikatakan, sebelum mencoba
membuat definisi yang lebih saksama, kita akan meninjau beberapa dari faktor ini -
kemasakan (kematangan), kelelahan, motivasi, dan perubahan-perubahan dalam
stimulus.
2. C.T Morgan, dalam Introduction to Psychology (1961), merumuskan belajar
sebagai "Suatu perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku sebagai akibat
atau hasil dari pengalaman yang lalu". Menurut Morgan, berbagai perubahan
tingkah laku yang bisa diamati pada perkembangan seseorang sejak bayi hingga
dewasa, terdapat tiga hal, yaitu:
(1) Perubahan yang terjadi karena adanya proses-proses fisiologis, misalnya sakit,
penyakit.
(2) Perubahan yang terjadi karena adanya proses-proses pematangan
(maturation).
(3) Perubahan yang terjadi karena adanya proses-proses belajar.

3. Dalam Educational Psychology: a Realistic Approach (1977), Good & Boophy


mengartikan belajar sebagai "The development of new associations as a result of
experience". Bertitik tolak dari definisi ini, mereka selanjutnya menjelaskan bahwa
belajar merupakan proses yang benarbenar bersifat internal. Belajar, menurut
Good & Boophy, adalah suatu proses yang tidak bisa dilihat dengan nyata. Proses
itu terjadi dalam diri seseorang yang sedang mengalami belajar. Jadi yang
dimaksud dengan belajar, menurut pandangan mereka, bukanlah suatu tingkah
laku yang tampak, tetapi terutama prosesnya yang terjadi secara internal pada
individu dalam usaha memperoleh berbagai hubungan baru. Hubungan-hubungan
baru itu bisa berupa: hubungan antarperangsang antarreaksi, atau antara
perangsang dan reaksi.
4. Crow & Crow, dalam buku Educational Psychology (1958), menyatakan, "Learning
is acquisition of habits, knowledge, and attitude", Belajar adalah memperoleh
kebiasaan-kebiasaan, pengetahuan, dan sikap. Menurut mereka, hal-hal yang
dirumuskan di atas meliputi cara-cara yang baru guna melakukan suatu upaya
memperoleh penyesuaian diri terhadap situasi yang baru. Belajar, dalam
pandangan Crow & Crow, menunjuk adanya perubahan yang progresif dari tingkah
laku. Belajar dapat memuaskan minat individu untuk mencapai tujuan.
5. Dalam bukunya The Psychology of Learningand Memory (1978), Hintzman
berpendapat, Learning is a change in organism due to experience which can affect
the organism's behavior"; belajar ialah suatu perubahan yang terjadi dalam diri
organisme disebabkan pengalaman tersebut yang bisa memengaruhi tingkah laku
organisme itu. Dengan demikian, menurut Hintzman, perubahan yang disebabkan
pengalaman tersebut baru bisa disebut belajar jika memengaruhi organisme.
Hintzman lebih lanjut menjelaskan bahwa pengalaman hidup sehari-hari, dalam
bentuk apa pun, amat memungkinkan untuk diartikan sebagai belajar. Mengapa?
Sebab, menurutnya, sampai batas tertentu, pengalaman hidup juga mempunyai
pengaruh besar terhadap pembentukan kepribadian organisme yang bersangkutan.
6. Laurine, seperti dikutip Effendi & Praja (1993), dalam bukunya Building the High
School Curriculum (1958) mengemukakan, "Belajar adalah modifikasi atau
memperteguh kelakuan melalui pengalaman". Menurut pengertian ini, belajar
merupakan proses, kegiatan dan bukan hasil atau tujuan. Belajar bukan hanya
mengingat, tetapi lebih luas dari itu dan bukan hanya penguasaan hasil latihan,
melainkan perubahan kelakuan. Pengertian ini sangat berbeda dengan pengertian
lama tentang belajar yang menyatakan bahwa belajar adalah memperoleh penge-
tahuan, belajar adalah latihan-latihan, pembentukan kebiasaan secara otomatis,
dan seterusnya.
Dalam bukunya Introduction to Psychology, Atkinson dan kawan-kawan
mendefinisikan belajar sebagai "Perubahan yang relatif permanen pada perilaku yang
terjadi akibat latihan". Atkinson tidak memasukkan perubahan perilaku yang terjadi karena
maturasi (bukannya latihan), atau pengondisian sementara suatu organisme (seperti
kelelahan atau akibat obat). Mereka berpendapat bahwa semua kasus belajar tidaklah
sama. Mereka selanjutnya menyebutkan empat jenis belajar, yang satu sama lain
berbeda, yaitu: (a) habituasi, (b) conditioning klasik, (c) conditioning operan, dan (d)
belajar kompleks.
Hilgard & Bower dalam Theories of Learning, seperti dikutip Purwanto (1998),
mengemukakan, "Belajar berhubungan dengan perubahan tingkah laku seseorang
terhadap situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalamannya yang berulang-ulang
dalam situasi itu, dan perubahan tingkah laku tersebut tidak dapat dijelaskan atas dasar
kecenderungan respons pembawaan, kematangan, atau keadaan sesaat seseorang
(misalnya kelelahan, atau pengaruh obat).
Berdasarkan beberapa rumusan definisi di atas, bisa dikemukakan beberapa unsur
penting yang menjadi ciri atas pengertian mengenai belajar, yaitu berikut ini.
1. Situasi belajar mesti bertujuan, dan tujuan-tujuan tersebut diterima, baik oleh
individu maupun masyarakat;
2. Belajar merupakan suatu perubahan dalam tingkah laku, dan perubahan itu bisa
mengarah pada tingkah laku yang lebih baik, akan tetapi juga ada kemungkinan
mengarah pada tingkah laku yang lebih buruk;
3. Belajar merupakan suatu perubahan yang terjadi melalui latihan dan pengalaman,
dalam arti, perubahan-perubahan yang disebabkan oleh pertumbuhan atau
kematangan tidak dianggap sebagai hasil belajar.
4. Untuk bisa disebut belajar, perubahan itu harus relatif mantap, harus merupakan
akhir daripada periode waktu yang cukup panjang. Seberapa lama periode waktu
itu berlangsung, sulit ditentukan dengan pasti, namun perubahan itu hendaknya
merupakan akhir dari suatu periode yang mungkin berlangsung berhari- hari,
berbulan-bulan, ataupun bertahun-tahun. Ini berarti kita harus mengenyampingkan
perubahan-perubahan tingkah laku yang disebabkan oleh motivasi, kelelahan,
adaptasi, ketajaman perhatian atau kepekaan seseorang, yang biasanya hanya
berlangsung sementara.
5. Tingkah laku yang mengalami perubahan karena belajar menyangkut aspek-aspek
kepribadian, baik fisik maupun psikis, seperti: perubahan dalam pengertian,
pemecahan suatu masalah, keterampilan, kecakapan, sikap, ataupun kebiasaan.
Akhirnya, perlu juga dikemukakan adanya pengertian belajar yang lebih plastis,
seperti yang dikemukakan Dimyati Mahmud (1990:59). la mengemukakan, tiga
pengertian mengenai perkataan belajar, yakni:
 menemukan;
 mengingat;
 menjadi efisien.
Contoh:
 Apakah Anda telah belajar bagaimana cara memecahkan teka-teki ini? Belajar di
sini berarti menemukan.
 Apakah Anda pernah belajar kata-kata "Starspangled Banner"? Belajar di sini
berarti mengingat.
 Apakah Anda telah belajar bagaimana cara mengendarai mobil? Belajar di sini
berarti menjadi efisien.
"Apakah Anda telah belajar bagaimana caranya memakai dasi tanpa bercermin?"
Dalam contoh ini, ketiga arti di atas berada secara bersama-sama. Pertama, apakah Anda
telah mengatasi masalah itu untuk diri Anda sendiri. Kedua, kalau sudah, apakah Anda
telah mengingat langkah-langkah memakai dasi itu? Ketiga, apakah Anda telah
mengembangkan kecekatan urutan perbuatan yang membantu mengatasi masalah
tersebut.
Menurut Mahmud, kadang-kadang cara terbaik atau bahkan satu-satunya cara untuk
menunjukkan bahwa seseorang ingat cara memecahkan problem adalah melakukannya.
Memang, jauh lebih mudah mendemonstrasikan cara mengikat tali sepatu daripada
menerangkannya. Dalam hal ini, tampak langkah ketiga dalam keseluruhan proses
belajar,menyangkut langkah kedua. Orang mengingat pemecahan problem dengan
menjadi efisien melakukannya. Dengan begitu, orang telah "membentuk kebiasaan".
Pada saat-saat lain, kata Mahmud, pemecahan itu bisa terdiri dari deskripsinya. Ini,
menurutnya, adalah masalah mengingat. Di sini, bukti telah belajar terdiri atas mengingat
kembali kata-kata yang menyatakan ide pemecahan problem secara sempurna. Dalam hal
ini, langkah kedua dalam keseluruhan proses belajar, dalam pandangan Mahmud,
tampaknya menyangkut langkah ketiga. Orang menjadi efisien ketika mengingat kembali
pemecahan problem dengan jalan mengingatnya.
Kesimpulannya, proses belajar dapat terdiri dari semua, beberapa, atau salah satu
langkah (Mahmud, 1990:60-61):
 Menemukan pemecahan yang asli, atau berpikir;
 mengingat;
 menjadi efisien menerapkan pemecahan itu terhadap suatu problem, atau
membentuk kebiasaan.

C. Teori-Teori Belajar

Dalam psikologi, teori belajar selalu dihubungkan dengan stimulusrespons dan teori-
teori tingkah laku yang menjelaskan respons makhluk hidup dihubungkan dengan stimulus
yang didapat dalam lingkungannya. Proses yang menunjukkan hubungan yang terus-
menerus antara respons yang muncul serta rangsangan yang diberikan dinamakan suatu
proses belajar (Tan, 1981:91).
Untuk lebih memperjelas pengertian kita mengenai proses belajar yang merupakan
hasil penyelidikan para ahli psikologi. Berikut ini, kita perlu mengenal beberapa teori
belajar. Teori belajar yang dimaksud ialah: (1) teori conditioning, (2) teori connectionism,
dan (3) teori,psikologi Gestalt.
1. Teori , Conditioning
Bentuk paling sederhana dalam belajar ialah conditioning. Karena conditioning sangat
sederhana bentuknya dan sangat luas sifatnya, para ahli sering mengambilnya sebagai
contoh untuk menjelaskan dasar-dasar dari semua proses belajar. Meskipun demikian,
kegunaan conditioning sebagai contoh bagi belajar, masih menjadi bahan perdebatan
(Walker, 1967).
a. Conditioning Klasik (Classical Conditioning)
Conditioning adalah suatu bentuk belajar yang kesanggupan untuk berespons
terhadap stimulus tertentu dapat dipindahkan pada stimulus lain.
Percobaan mengenai anjing yang mengeluarkan air liur oleh Pavlov, sering kali
dikutip karena dianggap sebagai salah satu bentuk percobaan conditioning formal
yang pertama.
Memang, satu di antara teori belajar yang paling awal dan paling terkenal
adalah conditioning klasik (classical conditioning), yang kini banyak dikaitkan
dengan nama Ivan Pavlov. Namun, menurut Malcolm Hardy dan Steve Heyes,
sebenarnya bukan Pavlov yang pertama kali mengemukakan teknik ini, karena
seorang Amerika, bemama Twitmeyer, telah memperkenalkan hasil percobaan tipe
conditioning klasik beberapa tahun sebelum Pavlov (Hardy & Heyes, 1985:35).
Lepas dari itu, nama Pavlov kemudian dihubungkan dengan teori conditioning
klasik, yang terkadang disebut pula sebagai Conditioning ala Pavlov (Pavlovian
Conditioning) atau terkadang disebut pula sebagai Conditioning Responden
(Respondent Conditioning).
Prinsip dasar dari model conditioning klasik adalah sebuah unconditioned
stimulus (US), unconditioned response (UR), dan conditioned stimulus (CS). US
merupakan objek dalam lingkungan orgariisme yang secara otomatis diperoleh
tanpa harus mempelajarinya terlebih dahulu atau bisa dikatakan sebagai suatu
proses yang nyata (UR). Sebagai contoh, seekor anjing meneteskan air liurnya
(UR) melihat sebuah tulang (US); seorang anak menangis (UR) ketika ia melihat
seekor gorila (US); seorang anak tertawa (UR) ketika ia melihat badut (US). UR
terbentuk secara otomatis ketika respons tersebut berhadapan dengan US. Reaksi
atau respons ini dinamakan respons alami. Conditioning klasik timbul ketika
stimulus netral sebelumnya (CS) mampu menimbulkan respons yang nyata atau
terlihat dengan sendirinya. Hal ini terjadi melalui pemasangan yang berulang-ulang
antara US dan CS; dan CS disajikan pada waktu yang bersamaan dengan US.
Pasangan ini masing-masing akan menghasilkan UR, karena UR merupakan
respons alami terhadap US. Conditioning klasik diperoleh ketika US tidak diperoleh,
CS dapat menghasilkan UR dari organisme tersebut.
Sebagai contoh, seorang anak selalu tertawa setiap kali melihat badut.
Seandainya badut itu (US) dihubungkan dengan iklan pada televisi untuk bubur
sarapan pagi (CS) secara berulang-ulang, anak itu tertawa pada pemasangan iklan
ini karena adanya badut tersebut. Conditioning klasik terjadi seandainya kotak
bubur tersebut mampu membuat si anak tertawa meskipun tidak didapatinya
seorang badut. Kemudian, anak tersebut mengasosiasikan hal-hal yang
menyenangkan dengan bubur tersebut, meskipun tanpa kehadiran badut. Teknik ini
tentu saja sering digunakan oleh periklanan. Pengulangan hubungan dari stimulus
terlihat dalam pemindahan sifat-sifat reaksi yang dihasilkan dari rangsangan atau
stimulus yang satu (US) ke stimulus yang lain (CS).
Menurut Alexis S. Tan, penelitian menunjukkan bahwa sejumlah faktor
memengaruhi conditioning klasik ini. Salah satunya adalah frekuensi pemasangan
antara US dan CS. Lebih sering pemasangan itu dilaksanakan, lebih kuat pulalah
pengaruh penyesuaian itu. Juga, proses belajar yang maksimum terjadi jika CS
mendahului US beberapa waktu, misalnya satu setengah detik (Tan, 19981:92).
Pavlov adalah seorang psikolog yang mengadakan pengamatan terhadap
refleks pengeluaran air liur pada anjing. Pada bagian dari percobaannya,
dirancanglah sebuah alat untuk mengukur banyaknya sekresi air liur yang
dikeluarkan seekor anjing. Kemudian diungkapkannya bahwa taraf pengeluaran air
liur anjing akan meningkat bilamana anjing tersebut melihat asisten laboratorium
membawa ember berisi makanan baginya; juga bilamana anjing tersebut
sebenarnya tidak melihat ada tidaknya makanan di dalam ember.
Dalam keadaan normal, anjing akan mengeluarkan air liur hanya pada saat
melihat, membaui, dan merasakan makanan, namun, anjing pada percobaan ini
pasti mengeluarkan air liur pada saat dia melihat ember. Pavlov ingin mengetahui
mengapa anjing tersebut menunjukkan penyimpangan perilaku dari perilaku
normalnya. la berpikir bahwa apabila dapat menghubungkan antara ember dan
makanan, tentu anjing tersebut dapat juga menghubungkan antara makanan dan
beberapa benda atau kejadian yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan
makanan, sehingga anjing tersebut mulai merespons dengan mengeluarkan air liur.
Langkah berikutnya, dibunyikan lonceng beberapa saat sebelum makanan
dihadapkan kepada anjing itu. Setelah dilakukan beberapa kali, makanan tidak
diletakkan di hadapan anjing itu, tetapi lonceng tetap dibunyikan. Ternyata, anjing
tersebut mengeluarkan air liur sebagai reaksi terhadap bunyi lonceng, sekalipun
tidak ada makanan.
Dari percobaan ini, dapat diketahui bahwa ternyata anjing bisa memperlihatkan
reaksi-reaksi (dalam hal ini air liur) melalui proses-proses persyaratan
(conditioning). Artinya, dari satu rangsangan (stimulus) dipindahkan ke rangsangan
yang lain (makanan - lonceng, dan lonceng dapat diteruskan dengan lampu).
Dengan demikian, juga terjadi pemindahan dari satu refleks ke refleks yang lain.
Langkah berikutnya, membunyikan lonceng terus-menerus tanpa disertai
makanan. Semakin sering dibunyikan, semakin lama keluarnya air liur, makin
sedikit dan akhirnya tidak keluar sama sekali. Proses ini disebut kejenuhan
(Extinction). Supaya anjing tersebut mengeluarkan air liur kembali, sertai lagi
dengan makanan pada waktu dibunyikan lonceng.
Berdasarkan contoh tersebut, bisa disimpulkan mengenai hal belajar sebagai
berikut.
(1) Laku yang satu (perbuatan maupun refleks) bisa dipindahkan ke laku yang lain.
Demikian pula terjadi dalam pembentukan kebiasaan dan juga kemampuan-
kemampuan lain seperti kemampuan mengingat.
(2) Belajar erat hubungannya dengan prinsip penguatan kembali atau dengan
perkataan lain, ulangan-ulangan dalam hal belajar adalah penting.
Prosedur conditioning Pavlov disebut "klasik", karena merupakan suatu penemuan
bersejarah dalam psikologi. Barangkali yang menyebabkan conditioning tersebut terkenal
ialah kita sering pula merasakan diri kita terkondisi pada macam-macam penglihatan dan
bunyi, misalnya: air liur keluar karena melihat, mencium, ataupun memikirkan makanan
lezat.
Berbagai istilah yang menggambarkan conditioning dapat digambarkan oleh
percobaan Pavlov. Tepung daging yang menyebabkan keluarnya air liur tanpa latihan
disebut uncontioned stimulus (US) yang menimbulkan suatu uncontioned respons (UR).
Setelah prosedur conditioning; bunyi lonceng yang menyebabkan keluarnya air liur
disebut sebagai conditioned stimulus (CS) yang menimbulkan conditioned respons (CR).
(Sebelum ada conditioning, bunyi lonceng tidak menimbulkan respons yang kita
kehendaki. Oleh karena itu, ia disebut sebagai stimulus netral). Lihat prosedur ini pada
gambar 8.
Pada proses conditioning, sering CR tampak sama dengan UR, hanya terkadang
berbeda dalam jumlahnya.
Conditioning Klasik
CS
US UR
CS
US UR
CS
CR
Gambar 8
Bagan-bagan dari conditioning klasik yang menimbulkan model substansi dan
reinforcement dari proses belajar. Pada bagan ini, CS adalah conditioned stimulus;
US, unconditioned stimulus; UR, unconditioned respons; CR, conditioned respons.
Walaupun begitu, sering kedua bentuk respons tersebut jelas berbeda. Kimble (1961),
seperti dikutip Walker (1967), mengatakan bahwa pendapat yang paling sering
dikemukakan tentang hubungan antara US dan CR adalah hubungan tersebut merupakan
respons pendahuluan sebagai antisipasi terhadap US.
Meskipun Pavlov melakukan eksperimennya melulu pada binatang, temuannya juga
relevan bagi perkembangan anak. Anak-anak mungkin belajar mengasosiasikan dokter
dengan suntikan yang menyakitkan dan menangis ketika berjalan memasuki ruang praktik.
Dalam kasus ini, suntikan merupakan US dan si dokter adalah CS. Sesuatu yang pada
mulanya tidak membangkitkan respons "alamiah", selanjutnya menimbulkan hal itu karena
adanya pengasosiasian.
Setelah Pavlov, banyak ahli psikologi lain yang mengadakan percobaanpercobaan
dengan binatang, antara lain Guthrie, Skinner, dan Watson.
Watson mengadakan berbagai eksperimen mengenai "perasaan takut" pada anak
dengan menggunakan tikus dan kelinci. Dari hasil percobaannya, dapat ditarik kesimpulan
bahwa perasaan takut pada anak dapat diubah atau dilatih. Anak percobaan Watson yang
mula-mula tidak takut kepada kelinci, dibuat menjadi takut kepada kelinci. Kemudian anak
tersebut dilatihnya pula sehingga tidak menjadi takut lagi kepada kelinci.
Begitulah, menurut teori conditioning, belajar adalali suatu proses perubahan yang
terjadi karena adanya syarat-syarat (conditions) yang kemudian menimbulkan respons.
Untuk menjadikan seseorang itu belajar, kita harus memberikan syarat-syarat tertentu.
Yang terpenting dalam belajar, menurut teori conditioning, ialah adanya latihan-latihan
yang kontinu. Yang diutamakan dalam teori ini ialah hal belajar yang terjadi secara
otomatis.
Penganut teori ini mengatakan bahwa segala tingkah laku manusia juga tidak lain
merupakan hasil dari conditioning, yakni hasil dari latihanlatihan atau kebiasaan mereaksi
terhadap syarat-syarat atau perangsangperangsang tertentu yang dialaminya dalam
kehidupannya.
Kelemahan conditioning klasik, antara lain, adalah sebagai berikut (Purwanto, 1995):
(1) Teori ini menganggap bahwa belajar hanyalah terjadi secara otomatis;
keaktifan dan penentuan pribadi dalam tidak dihiraukannya.
(2) Peranan latihan/kebiasaan terlalu ditonjolkan; sedangkan kita tahu bahwa dalam
bertindak dan berbuat sesuatu, manusia tidak sematamata bergantung pada
pengaruh dari luar. Aku atau pribadinya sendiri memegang peranan dalam
memilih dan menentukan perbuatan serta reaksi apa yang akan dilakukannya.
(3) Teori conditioning memang tepat kalau kita hubungkan dengan kehidupan
binatang. Namun, pada manusia, teori ini hanya dapat kita tenma dalam hal-hal
belajar tertentu saja; umpamanya dalam belajar mengenai skills (kecekatan-
kecekatan) tertentu dan mengenai pembiasaan pada anak-anak kecil.
b. Conditioning Operan (Operant Conditioning)
Istilah conditioning operan (operant conditioning) diciptakan oleh Skinner dari memiliki
arti umum conditioning perilaku. Istilah "operan" di sini berarti operasi (operation) yang
pengaruhnya mengakibatkan organisme melakukan suatu perbuatan pada lingkungannya;
misalnya perilaku motor yang biasanya merupakan perbuatan yang dilakukan secara
sadar (Hardy & Heyes, 1985; Reber, 1988).
Tidak seperti dalam respondent conditioning (yang responsnya didatangkan oleh
stimulus tertentu), respons dalam conditioning operan terjadi tanpa didahului stimulus,
melainkan oleh efek yang ditimbulkan oleh reinforcer. Reinforcer itu sendiri sesungguhnya
adalah stimulus yang meningkatkan kemungkinan timbulnya sejumlah respons tertentu,
akan tetapi tidak sengaja diadakan sebagai pasangan stimulus lainnya seperti dalam
classical respondent conditioning.
Penelitian conditioning operan dimulai pada awal abad ini dengan sejumlah
eksperimen oleh Thorndike (1898). la, yang banyak dipengaruhi oleh teori evaluasi
Darwin, mencoba menunjukkan bahwa proses belajar pada hewan merupakan proses
yang terus-menerus, sama seperti proses belajar pada manusia.
Thorndike mempelajari pemecahan masalah pada kucing dan berhasil merancang
sebuah "kotak teka-teki", sehingga kucing yang diletakkan di dalam kotak tersebut dapat
keluar dari kotak dengan cara menarik simpul tali, baik dengan menggunakan kaki
maupun dengan mulut. Dengan menarik simpul tali, kait akan terlepas dan pegas akan
menarik pintu sehingga pintu terbuka. Setelah meletakkan seekor kucing di dalam kotak,
Thorndike mencatat waktu yang dibutuhkan kucing untuk keluar dari kotak tersebut. Jika
berhasil keluar, kucing tersebut dimasukkan lagi ke dalam kotak untuk dicatat lagi waktu
keberhasilan kucing keluar dari kotak. Ketika hasil pencatatan waktu ini digambarkan,
Thorndike melihat bahwa pada umumnya hewan tersebut membutuhkan waktu yang lebih
singkat pada setiap percobaan berikutnya. Sesudah kira-kira dua puluh kali percobaan,
kucing mampu meloloskan diri secepat ketika dia dimasukkan ke dalam kotak. Thorndike
kemudian mengemukakan hipotesisnya: apabila suatu respons berakibat menyenangkan,
ada kemungkinan respons yang lain cenderung berakibat sama. Hipotesis ini kemudian
dikenal sebagai hukum efek (Law of Effect).
Thorndike berpendapat bahwa dalam conditioning operan, hukum efek menyeleksi,
dari jumlah respons acak, hanya respons yang diikuti oleh konsekuensi positif. Proses ini
mirip dengan evolusi, yang hukum kelangsungan hidup bagi yang terkuat memilih, dari
sekumpulan variasi spesies acak, hanya perubahan yang meningkatkan kelangsungan
hidup spesies. Dengan begitu, hukum efek meningkatkan kelangsungan hidup respons
yang paling kuat.
Kontribusi Thorndike terhadap psikologi adalah bahwa ia meletakkan kembali kucing-
kucing itu di dalam kotak pada hari-hari berikutnya, dan dengan hati-hati merekam waktu
yang mereka butuhkan untuk meloloskan diri. Tidaklah mengherankan jika ia
mendapatkan kenyataan bahwa semakin lama upaya meloloskan diri itu semakin
memakan waktu singkat, sampai akhirnya mereka mulai memecahkan teka-teki tersebut
sesegera mereka ditempatkan di dalam. "Penemuan" pertama semacam itu mungkin
tampak sangat biasa dan sulit untuk dikatakannya. Yang membedakan karya Thorndike
ialah pendekatannya yang saksama dan eksperimental terhadap kajian pemerolehan
perilaku baru. Ia menciptakan ilmu pengetahuan mengenai pembelajaran yang bisa diukur
(Sylva & Lunt, 1986).
Dalam berbagai eksperimen Thorndike, pembelajaran adalah konsekuensi langsung
dari ganjaran. Tidak seperti bayi yang baru merangkak, yang berusaha menguasai
sesuatu untuk keperluannya sendiri, kucing dalam kotak itu mempelajari urutan tindakan
yang rumit, karena tindakan tersebut diikuti oleh terbukanya jalan menuju makanan.
Meskipun Thorndike yang menjadi pelopor dalam pengkajian bagaimana rasa puas
mendorong pembelajaran, Skinner-lah yang menyelidiki kerja terinci "hukum efek" (Sylva
& Lunt, 1986). B.E Skinner dianggap sebagai Bapak conditioning operan. Walaupun hasil
karyanya didasarkan pada hukum efek yang dikemukakan oleh Thorndike, Skinner telah
memasukkan unsur penguatan dalam hukum efek tersebut (Hardy & Heyes, 1985: 42).
Seperti sudah disinggung di muka, conditioning operan adalah nama yang digunakan
oleh Skinner (1938) untuk suatu prosedur yang menyebabkan individu bisa mengontrol
tingkah laku organisme melalui pemberian ganjaran yang bijaksana dalam lingkungan
yang relatif bebas. Dalam beberapa hal, pelaksanaannya jauh lebih fleksible ketimbang
conditioning klasik.
Umpamanya, dalam conditioning klasik, seseorang selalu mulai. dengan suatu
respons yang ditimbulkan oleh stimulus spesifik yang dikendalikan oleh seorang ahli
eksperimen. Jadi, dengan memberikan stimulus, seorang ahli eksperimen dapat
menimbulkan respons yang dikehendakinya. CS, US, dan respons-respons semuanya
langsung dikendalikan dengan teliti oleh si ahli eksperimen. Fleksibilitas dari situasi hampir
seluruhnya terbatas hanya pada pemindahan hubungan asosiatif dari US ke CS. Skinner
(1938) menyebut proses belajar semacam ini sebagai respondent conditioning untuk.
membedakan, baik proses maupun prosedur, dari proses belajar yang fleksibel, yaitu
conditioning operan (Walker, 1967).
Conditioning operan dirumuskan berdasarkan prosedurnya. Akan tetapi, program
penyelidikan yang dikembangkannya memiliki sejumlah corak khusus yang tidak menuruti
prosedur. Prinsip-prinsip yang penting itu ditata oleh Skinner (1938, 1951, 1953, 1961) dan
sebagian dikembangkan oleh orang-orang lain, yaitu mengenai persoalan-persoalan dasar
yang berhubungan dengan bidang belajar dan teori belajar. Keseluruhan istilah yang
khusus, cara membuat eksperimen, dan sikap terhadap persoalan-persoalan teoretis dan
eksperimental, demikian pula arah dan penyelidikan utama, disebut sebagai aspek-aspek
analisis eksperimental dari tingkah laku.
Perbedaan antara proses belajar klasik dan belajar operan adalah adanya stimulus
diskriminan tersebut, yaitu yang membedakan antara kondisi saat suatu perilaku berhasil
secara efektif dan kondisi perilaku tidak akan efektif (Sarwono, 1997:69).
Menyinggung kembali ihwal hukum efek, Skinner menciptakan sebuah alat yang lebih
sederhana dibandingkan alat Thorndike. la memasukkan hewan eksperimen ke dalam
sebuah kotak, yang tidak berisi apa-apa kecuali pengungkit dan baki makanan. Dengan
menekan pengungkit tersebut, sebutir makanan secara otomatis disimpan pada baki
tersebut. Dalam satu hal, cara ini mirip dengan pembekerjaan (employment); "pekerja"
melakukan pekerjaan untuk mendapat "bayaran". Secara khas, beberapa butir makanan
pertama hanya menimbulkan sedikit efek pada penekanan batang pengungkit, namun
tikus dengan cepat mempelajari hubungan antara kerja dan makanan (Lihat Gambar 9)
Gambar 9

A. Efek dorongan: Tikus A dan Tikus B, keduanya tengah belajar menekan


pengungkit untuk mendapatkan makanan. Setiap langkah pada kurva
mengindikasikan satu tekanan. Namun, Tikus A yang tidak mendapat makanan selama
30 jam, belajar lebih cepat dibandingkan Tikus B yang baru 10 jam tidak mendapat
makanan.
B. Efek pengukulian: Dua ekor tikus tengah "menanggalkan pelajaran" karena
pengukuhan telah berakhir. Kurva atas penunjukan penekanan yang dilakukan oleh
tikus yang mendapat 100 butir makanan pengukuh. Kurva bawah menunjukkan
penekanan yang dilakukan oleh tikus yang hanya mendapat satu butir makanan
(Sumber : Sylva & Lunt, 1986).
Dengan menggunakan peralatan ini, Skinner dan pengikutnya mendapatkan sejumlah
besar ganjaran potensial, yang kesemuanya menimbulkan pembelajaran. Ini mencakup
pembelajaran yang biasa seperti makanan dan yang tidak terlalu jelas seperti
kesempatan untuk lari menuju sebuah roda atau melihat ke luar jendela. Pada saat
penyelidikan berlanjut, sulit untuk mengetahui sebelumnya pengalaman mana yang
menyenangkan dan mana yang tidak. Bayangkan, binatang yang secara teratur
mendapatkan makanan yang mewah. Pemberian butiran makanan yang kecil dan kering
seperti pada eksperimen di atas, mungkin sama sekali tidak memberikan gambaran
mengenai ganjaran, dan hal ini dibuktikan oleh kenyataan bahwa penyajian butir
makanan tidak menambah penekanan palang pengungkit. Sebaliknya, binatang yang
diberi makanan sesedikit mungkin akan berusaha keras untuk mendapatkan butir
makanan kering yang sama. Hasil seperti ini menyebabkan kekuatiran besar di kalangan
ahli psikologi, karena tampaknya tidak mungkin menyusun suatu daftar ganjaran yang
menyeluruh. Apa yang baik untuk yang satu, belum tentu baik untuk yang lain.
Skinner memecahkan masalah yang mengganjal ini dengan menghindari istilah-istilah
seperti "kesenangan" atau "kepuasan", kemudian ia menggunakan kata "pengukuh".
Secara harfiah, segala sesuatu bisa menjadi pengukuh sepanjang sesuatu itu
meningkatkan kemungkinan tindakan sebelumnya. Jika penyalaan lampu pada kandang
burung dara membuat burung tersebut lebih giat mematuk, cahaya itulah pengukuhnya.
Jika tikus makin sering menekan batang pengungkit ketika hal itu diikuti dengan
terbukanya jalan masuk ke roda untuk berlari-lari, jalan masuk itulah yang dianggap
pengukuh. Skinner mendefinisikan pengukuh sebagai objek atau peristiwa yang
meningkatkan kemungkinan bahwa respons yang mereka ikuti akan terjadi lagi. Misalnya,
jika seorang ibu memeluk bayinya setiap kali si bayi tersenyum, pelukan itulah yang
menjadi pengukuh karena mendorong dilakukannya senyum. Istilah itu mungkin tampak
mirip dengan gagasan Thorndike mengenai "keputusan", namun pengukuh didefinisikan
lewat cara kerjanya; tidak ada asumsi mengenai rasa senang (Sylva & Lunt, 1986).
Skinner sependapat dengan Watson bahwa perilaku manusia selalu dikendalikan oleh
faktor luar (faktor lingkungan, rangsangan, atau stimulus). Ia mengatakan bahwa dengan
memberikan ganjaran positif (pocitive reinforcement), suatu perilaku akan ditumbuhkan
dan dikembangkan. Sebaliknya, jika diberikan ganjaran negatif (negative reinforcement),
suatu perilaku akan dihambat.
Sebagai contoh, anak yang buang air di celana, selalu dimarahi ibunya (ganjaran
negatif). Sebaliknya, jika ia mengatakan terlebih dahulu kepada ibunya bahwa ia akan
buang air sehingga ibu bisa membawanya ke WC, anak itu akan dipuji ibunya (ganjaran
positif). Lama-kelamaan anak itu belajar buang air di WC saja, bukan di sembarang
tempat. Di pihak lain, jika anak itu mengatakan bahwa ia ingin buang air, padahal ia tidak
sakit perut, ibunya juga akan memarahinya karena setelah berepot-repot
mendudukkannya di WC, anak itu tidak mau buang air. Dengan demikian, anak itu belajar
bahwa ia hanya boleh mengatakan "mau buang air" jika sakit perut. Proses belajar seperti
ini oleh Skinner dinamakan proses belajar operan.
Teori-teori pembelajaran Thomdike, Skinner, dan pengikut-pengikut mereka boleh
dikatakan sangat ilmiah. Teori-teori tersebut didasarkan pada eksperimen laboratorium
terkendali dengan gangguan minimum dalam interpretasi hasilnya. Karya mereka
dicobakan secara konsisten; hipotesis yang tidak didukung oleh data perilaku
dikesampingkan; sedangkan yang baru, disusun dan dites. Lebih jauh lagi, berbagai
pekerja di bidang ini saling menunjang karya yang satu dengan yang lain, sehingga
menghasilkan kumpulan investigasi yang seragam, berbagi istilah yang sama.
Meskipun begitu, penekanan pada eksperimen laboratorium terkendali, selain memiliki
kekuatan, juga kelemahan. Di antara kelemahan-kelemahan teori tersebut adalah sebagai
berikut (Syah, 1995:108).
(1) Proses belajar dapat diamati secara langsung, padahal belajar adalah proses
kegiatan mental yang tidak dapat disaksikan dari luar, kecuali sebagai gejalanya.
(2) Proses belajar bersifat otomatis-mekanis sehingga terkesan seperti gerakan mesin
dan robot, padahal setiap individu memiliki self-direction
(kemampuan mengarahkan diri) dan self control (pengendalian diri) yang
bersifat kognitif, sehingga ia bisa menolak untuk merespons jika ia tidak
menghendaki, misalnya karena lelah atau berlawanan dengan kata hati.
(3) Proses belajar manusia yang dianalogikan dengan perilaku hewan itu sangat sulit
diterima, mengingat mencoloknya perbedaan karakter fisik dan psikis antara
manusia dan hewan.

2. Teori Psikologi Gestalt


Teori belajar menurut psikologi Gestalt sering kali disebut insight full learning atau field
theory. Ada pula istilah lain yang sebetulnya identik dengan teori ini, yaitu organismic,
pattern, holistic, integration, configuration, dan closure.
Dalam sebuah eksperimen, Wolfgang Kohler, pendiri aliran psikologi Gestalt,
menempatkan seekor simpanse yang bernama Sultan ke dalam sangkar yang di
dalamnya berisi dua potong bambu; yang satu berukuran kecil, satunya lagi lebih besar
garis tengahnya. Di luar sangkar tersebut diletakkan sebuah pisang, yang jaraknya tidak
terjangkau, baik oleh tangan Sultan maupun oleh salah satu dari kedua bambu itu.
Selanjutnya, Sultan yang telah mengerti cara meraih pisang ke dalam sangkar dengan
sepotong bambu, tidak berhasil mendapatkan pisang tersebut dengan salah satu bambu
yang tersedia. Kemudian, diletakkannya sepotong bambu di tanah dan didorongnya
dengan sepotong bambu lain, sehingga menyentuh pisang itu. Hal ini tidaklah
memecahkan problemnya, tetapi sekadar memberi kepuasan karena ia dapat
mengadakan kontak dengan pisang itu. Kemudian, kedua bambu itu ditariknya kembali,
lantas dipermainkannya sampai akhirnya, secara kebetulan, Sultan meletakkan ujung
bambu yang satu ke ujung bambu yang lain. Segera setelah itu, bambu yang satu
dimasukkannya ke bambu yang lain, sehingga berujud sebuah tongkat yang cukup
panjang, lalu larilah Sultan ke tepi sangkar dan menarik pisang tersebut.
Tingkah laku Sultan berbeda sekali dengan tingkah laku kucing percobaan Thorndike,
seperti telah diuraikan di muka.
Sultan menyadari pertautan-pertautan yang relevan, yang terkandung di dalam
pemecahan tugasnya dengan pasti dan segera. Tampaknya, ia mengombinasikan
ingatannya mengenai "menarik pisang ke dalam sangkar" dan persepsi tentang
sambungan bambu. Untuk bisa melakukan ini, ia harus mereconditioning dirinya; dia harus
melepaskan tentang "menarik pisang ke dalam sangkar" dari gambaran tentang
"mengeluarkan sepotong bambu keluar sangkar", dan menghubungkannya dengari
gambaran sintesis tentang "mengulurkan bambu yang disambung".
Dalam kasus Sultan di atas, berlakulah apa yang disebut dengan hukum "closure" dan
hukum "proksimitas", yaitu adanya kecenderungan yang kuat untuk memersepsi pola-pola
yang tidak lengkap sebagai keseluruhan seperti dalam persepsi, dan bahwa item-item
yang saling berdekatan cenderung untuk dikelompokkan. Dalam memecahkan problem
semacam itu, binatang mendemonstrasikan apa yang oleh psikolog disebut pengertian
Gestalt tentang problem. Bedanya dengan manusia adalah tingkat simbolisasi pada
binatang itu rendah (Mahmud, 1990).
Jiwa manusia, menurut aliran ini, adalah suatu keseluruhan yang berstruktur atau
merupakan suatu sistem, bukan hanya terdiri atas sejumlah bagian atau unsur yang satu
sama lain terpisah, yang tidak mempunyai hubungan fungsional. Manusia adalah individu
yang merupakan berbentuk jasmani-rohani. Sebagai individu, manusia itu bereaksi, atau
lebih tepatnya berinteraksi, dengan dunia luar, dengan kepribadiannya, dan dengan cara
yang unik pula. Sebagai pribadi, manusia tidak secara langsung bereaksi terhadap suatu
perangsang, dan tidak pula reaksinya itu dilakukan secara trial and error seperti dikatakan
oleh penganut teori conditioning. Interaksi manusia terhadap dunia luar bergantung pada
cara ia menerima stimulus dan bagaimana serta apa motif-motif yang ada padanya.
Manusia adalah makhluk yang memiliki kebebasan. la bebas memilih cara bagaimana ia
berinteraksi; stimulus mana yang diterimanya dan mana yang ditolaknya.
Atas dasar itu, maka belajar, dalam pandangan psikologi Gestalt, bukan sekadar
proses asosiasi antara stimulus-respons yang kian lama kian kuat disebabkan adanya
berbagai latihan atau ujangan-ulangan. Menurut aliran ini, belajar itu terjadi apabila
terdapat pengertian (insight). Pengertian ini muncul jika seseorang, setelah beberapa saat,
mencoba memahami suatu problem, tiba-tiba muncul adanya kejelasan, terlihat olehnya
hubungan antara unsur-unsur yang satu dengan yang lain, kemudian dipahami sangkut-
pautnya, untuk kemudian dimengerti maknanya.
Prinsip-prinsip belajar berikut ini lebih merupakan rangkuman atau kesimpulan dari
teori psikologi Gestalt:
(1) Belajar dimulai dari suatu keseluruhan, kemudian baru menuju bagianbagian. Dari
hal-hal yang sangat kompleks menuju hal-hal yang lebih sederhana.
(2) Keseluruhan memberi makna pada bagian-bagian. Bagian-bagian terjadi dalam
suatu keseluruhan. Bagian-bagian itu hanya bermakna dalam rangka keseluruhan
tersebut.
(3) Belajar adalah penyesuaian diri dengan lingkungan. Seseorang belajar jika ia dapat
bertindak dan berbuat sesuai dengan yang dipelajarinya.
(4) Belajar akan berhasil bila tercapai kematangan untuk memperoleh pengertian.
Pengertian adalah kemampuan hubungan antara berbagai faktor dalam situasi yang
problematis.
(5) Belajar akan berhasil jika ada tujuan yang berarti bagi individu.
(6) Dalam proses belajar itu, individu selalu merupakan organisme yang
aktif, bukan bejana yang harus diisi oleh orang lain.

D. Belajar sebagai Suatu Proses


Apakah yang dimaksud proses itu? Proses, yang sering kita gunakan dalam
percakapan sehari-hari, adalah kata yang berasal dari bahasa Latin "processus", yang
artinya "berjalan ke depan". Kamus Besar Bahasa Indonesia (1995) mengartikan proses
sebagai: (1) runtunan perubahan (peristiwa) dalam perkembangan sesuatu; (2) rangkaian
tindakan, pembuatan, atau pengolahan yang menghasilkan produk; (3) perkara di
pengadilan.
Dalam konteks belajar, tentu saja yang dimaksud proses di sini - jika kita mengacu
pada kamus di atas - adalah pada pengertian yang pertama. Kata ini, kalau kita cermati,
mempunyai konotasi urutan langkah atau kemajuan yang mengarah pada suatu sasaran
atau tujuan. Chaplin dalam Dictionary of Psychology-nya menjelaskan proses itu sebagai
"Any change in any object or organism, particularly a behavioral or psychological change".
Jadi, proses ialah suatu perubahanYong menyangkut tingkah laku atau kejiwaan.
Selanjutnya, yang dimaksud ~istilah "proses belajar" adalah "Cara-cara atau langkah-
langkah yang memungkinkan timbulnya beberapa perubahan serta tercapainya hasil-hasil
tertentu" (Reber, 1988).
Dengan demikian, jelas bahwa belajar pada dasarnya bukanlah suatu tujuan atau
benda, tetapi merupakan suatu proses kegiatan untuk mencapai tujuan. Pengertian
proses di sini lebih merupakan "cara" mencapai tujuan atau benda. Inilah langkah-
langkah atau prosedur yang ditempuh. Dalam belajar, setiap kegiatan saling berinteraksi
atau saling mempengaruhi.
Pada hakikatnya, belajar adalah suatu proses kejiwaan atau peristiwa pribadi yang
terjadi di dalam diri setiap individu. Proses belajar itu sendiri, apabila berjalan dengan
baik, kelak akan memberi hasil, yang kita sebut "hasil belajar". Hasil belajar itu tidak akan
bisa kita capai jika dalam diri kita sendiri tidak terjadi proses belajar. Jadi, kita tidak usah
heran apabila kita merasa tidak mencapai hasil apa-apa jika memang dalam diri kita tidak
pemah terjadi proses belajar itu. Kalau proses itu berlangsung kurang mantap, hasilnya
pun tidak akan memuaskan.
Proses dalam belajar merupakan faktor yang paling penting. Proses sebetulnya
menekankan kreativitas. Pada umumnya, proses berkenaan dengan cara belajar
berkembang, bagaimana siswa bergaul dengan guru, ba .gaimana siswa terlibat dalam
proses itu.
Soepartinah Pakasi dalam bukunya Anak dan Perkembangannya (1981),
menguraikan beberapa sifat proses belajar sebagai berikut:
(1) Belajar merupakan suatu interaksi antara anak dan lingkungan
Dari lingkungannya, si anak memilih apa yang ia butuhkan dan apa yang dapat
ia pergunakan untuk pertumbuhan dan perkembangannya. Menyediakan suatu
lingkungan belajar yang kaya dengan stimulus (perangsang-perangsang) berarti
membantu anak dalam pertumbuhan dan perkembangannya. Lagi pula,
kesanggupan memilih apa yang ia butuhkan dan perlukan, sesuai dengan minat
dan kesanggupannya, membawa anak ke arah kesanggupan untuk mengarahkan
diri. Dikatakan bahwa lingkungan yang tidak dapat mengadakan stimuli,
menghambat perkembangan anak.
(2) Belajar berarti berbuat
Belajar adalah suatu kegiatan. Dengan bermain, berbuat, bekerja dengan alat
alat, banyak hal menjadi jelas. Sebab, dengan berbuat, anak menghayati sesuatu
dengan seluruh indra dan jiwanya. Konsep-konsep menjadi terang dan dipahami
oleh anak, sehingga betul-betul menjadi milik anak. Di sini menjadi jelas arti
perlengkapan yang ada di dalam dan di luar kelas.
(3) Belajar berarti "mengalami"
Dengan mengalami berulang-ulang, perbuatan menjadi makin efektif, teknik
menjadi makin lancar, konsep makin lama makin terang, dan generalisasi makin
mudah disimpulkan. Belajar adalah pertumbuhan dan pertumbuhan memerlukan
waktu dan pengalaman.
(4) Belajar adalah suatu aktivitas yang bertujuan
Belajar adalah suatu aktivitas yang dilakukan anak karena adanya dorongan
akan kesibukan. Dorongan ini membawa anak ke tingkat perkembangan yang
dibutuhkan untuk memahami lingkungannya, agar ia dapat menyesuaikan diri
dengan lingkungan itu. Nyatalah di sini bahwa belajar adalah suatu aktivitas yang
bertujuan, suatu kegiatan untuk memenuhi kebutuhan.
(5) Belajar memerlukan motivasi
Pemenuhan kebutuhan merupakan motivasi untuk melakukan suatu kegiatan.
Banyak jenis kebutuhan, antara lain kebutuhan untuk mengetahui dan menyelidiki,
kebutuhan untuk memperbaiki prestasi, kebutuhan untuk mendapat kepuasan atas
hasil pekerjaan. Hal ini berarti untuk merangsang motivasi, kita hendaknya: (a)
merencanakan kegiatan belajar dengan memperhitungkan kebutuhan, minat, dan
kesanggupan murid; (b) menggunakan perencanaan bersama dengan anak-anak.
(6) Belajar memerlukan kesiapan pada pihak anak.
Kesiapan ini merupakan suatu keadaan rohaniah (emosional, intelektual, dan
sosial). Dalam keadaan ini, anak merasa siap clan sanggup untuk menerima tugas
perkembangan atau pelajaran baru. Kesiapannya menyatakan bahwa ia sudah
"matang", sudah menguasai apa yang diperlukan untuk menerima tugas
perkembangan atau pelajaran (pengalaman) baru. Dengan kata lain, ia sudah siap,
karena telah menguasai tingkat pelajaran yang diperlukan untuk menerima tingkat-
berikutnya. Kesiapan ini adalah syarat penting untuk kelancaran jalannya proses
belajar.
(7) Belajar memerlukan kesiapan pada pihak anak.
Belajar merupakan aktivitas yang membawa anak dari tingkat berpikir konkret
menjadi tingkat berpikir abstrak. Pada suatu saat dalam perkembangannya, anak
harus berpikir secara abstrak. Apabila menetap pada tingkat konkret, proses
berpikir anak akan terhambat.:Lingkungan hidupnya yang makin meluas,
memaksanya meninggalkan taraf konkret itu. Lagi pula, pengertian dan konsep
adalah hal-hal yang abstrak. Misalnya, tidak mungkin anak terus-menerus
memerlukan benda-benda dalam' konsepnya tentang bilangan 5. Satu kali bilangan
itu harus dilepaskan dari keterikatannya pada benda. Demikian pula dengan
pengertian lain.
(8) Belajar bersifat integratif
Sejak dilahirkan, anak merupakan suatu totalitas dalam perkembangannya.
Secara total, ia mengadakan interaksi dengan lingkungannya dan segala sesuatu
mempengaruhinya secara total. Demikian juga halnya dengan hasil-hasil
belajarnya. Hasil yang diperolehnya itu tidak "ditambahkan" pada apa yang telah
ada di dalam dirinya. Tidak demikian, pengalaman baru itu dijalinkan dalam rangka
pengalaman-pengalaman yang sudah ada padanya, pengertianpengertiannya,
kecakapan-kecakapannya, sikapnya, dan tingkah lakunya. Dijalinkan artinya
disatukan dengan yang sudah ada sehingga menjadi bagian yang organis dari
kepribadiannya.
Dalam uraiannya mengenai proses belajar, Udai Pareek menyebutkan tiga dimensi
penting, yaitu penemuan pengetahuan, mengadakan percobaan, clan perencanaan auto
sistem (Pareek, 1996:257-258).
1. Penemuan
Belajar dapat mengembangkan seseorang secara efektif jika ia. "menemukan"
pengetahuan dan lain-lain dimensi penting, dan bukan "hanya menerimanya" dari guru.
Belajar dengan cara penemuan menekankan pentingnya si pelajar, dan menyatakan
kepercayaan pada kemampuan belajar untuk aktif dan kreatif. Hal ini penting bagi
teknologi dan sistem-sistem lainnya - endosistem dan sistem pengaruh (guru). Salah
satunya adalah dengan memberikan bimbingan minimum dari garis besar yang diperlukan,
lalu mendorong si pelajar untuk menjelajahi lingkungan, bidang pengetahuan, keadaan
dan organisasi, serta menemukan berbagai segi sendiri sehingga mendorong para pelajar
untuk belajar menambah kreativitas.
Penemuan juga menekankan penggunaan pengalaman dalam belajar, pengalaman si
pelajar. Hal ini terutama berlaku dalam hal keterampilan keperilakuan. Keterampilan
semacam itu tidak dapat dipelajari, kecuali jika si pelajar, melalui keikutsertaan secara
aktif dan pengambilan risiko, menemukan sendiri "prinsip-prinsip" perilaku. Misalnya,
belajar tentang empati, tidak mungkin diperoleh dari buku-buku. la harus "menemukan" apa
empati itu dalam suatu pergaulan ia terlibat, dan di mana ia mengambil risiko yang
diperlukan dalam memperoleh umpan balik dan bantuan.
Pelatihan laboratorium diselenggarakan bedasarkan asumsi ini. Hal ini juga berlaku
untuk semua pelajaran lainnya. Orang dapat belajar tentang merencanakan suatu sistem
pengendalian, namun belajar yang sesungguhnya terjadi ketika ia "menemukannya"
melalui pengertian sekonyong-konyong yang menjadikan pelajaran kognitif mempunyai
arti. Pada saat itulah maka berbagai ide, teknik, dan fakta menjadi pola yang berarti
sebagai potongan gambar yang dijadikan teka-teki.

2. Mengadakan Percobaan
Erat hubungannya dengan penemuan adalah percobaan suatu peran aktif. Semua
keterampilan memerlukan percobaan. Jika belajar harus kreatif dan menuju kreativitas,
percobaan diperlukan. Melalui percobaanlah, si pelajar akan mengetahui bahwa ada
berbagai cara untuk mengerjakan sesuatu, dan ia menemukan berbagai alternatif yang
membuatnya lebih efektif dalam kemampuannya untuk memilih dari berbagai alternatif
yang tersedia. Sebenarnya, ia belajar menciptakan berbagai altenatif baru.
Tanpa percobaan, pelajar tidak dapat membantu pengembangan suatu bidang. Jika
hanya mempelajari cara menggunakan beberapa teknik seperti yang telah diajarkan, ia
hanya menjadi seorang ahli teknik. Padahal ia harus menjadi seorang insinyur untuk
mengurus dan mengubah sesuatu sesuai dengan tantangannya.
Percobaan sangat penting bagi belajar keterampilan perilaku. Pelatihan laboratorium
dan jenis pelatihan perilaku lainnya sangat banyak menggunakan percobaan. Setelah
seorang pelajar tidak puas dengan tingkat suatu keterampilan atau perilaku tertentu, atau
belajar suatu keterampilan baru, ia akan mengadakan percobaan dengan perilakunya
dalam suatu kelompok yang memberikan dorongan dan keamanan psikologis. Umpan
balik tentang percobaannya akan memperkuat dan mendorongnya untuk mempraktikkan
keterampilan atau perilaku itu. Dalam semua keadaan belajar, hendaknya pelajar diberi
cukup peluang untuk bereksperimen, mencoba cara-cara baru, dan belajar dari usaha itu.

3. Perencanaan Auto-Sistem
Belajar juga harus membantu si pelajar untuk mengetahui cara belajar lebih lanjut.
Untuk keperluan ini, si pelajar harus dibantu untuk mengembangkan sistem pribadi untuk
belajar sendiri. Tiap orang menggunakan suatu sistem. Satu orang belajar dengan
mengatur pikirannya melalui suatu garis besar sistematis; seorang lagi mungkin belajar
melalui penerapan, lalu membuat konsepsi tentang hal ini, dan sebagainya. Ada pula,
yang membuat cara sendiri untuk mengingat berbagai hal, menyiapkan catatan-catatan,
menyiapkan kartu-kartu acuan serta bahan, desain acuan, dan sebagainya. Para pelajar
hendaknya didorong untuk meninjau efektivitas sistem mereka, dan mengetahui seluk-
beluk mekanis lainnya yang tersedia, sehingga akhirnya mereka dapat memilih sistem
sendiri dan mengembangkannya.
Menurut Wittig (1981), dalam bukunya Psychology of Learning, setiap proses belajar
selalu berlangsuhg dalam tiga tahapan (Syah, 1995):
(a) Acquisition (tahap perolehan/penerimaan informasi).
(b) Storage (tahap penyimpanan informasi)
(c) Retrieval (tahap mendapatkan kembali informasi)
Pada tingkatan acquisition, seorang pelajar mulai menerima informasi sebagai
stimulus dan melakukan respons terhadapnya, sehingga menimbulkan pemahaman
dengan perilaku baru. Pada tahap ini, terjadi pula asimilasi antara pernahaman dan
perilaku baru dalam keseluruhan perilakunya. Proses acquisition dalam belajar
merupakan tahapan yang paling mendasar. Kegagalan dalam tahap ini akan
mengakibatkan kegagalan pada tahap-tahap berikutnya.
Pada tingkatan storage, seorang pelajar secara otomatis akan mengalami proses
penyimpanan pemahaman dan perilaku baru yang ia peroleh ketika menjalani proses
acquisition. Peristiwa ini sudah tentu melibatkan fungsi short term dan long term metriori.
Pada tingkatan retrieval, seorang pelajar akan mengaktifkan kembali fungsi-fungsi
sistem memorinya, misalnya ketika ia menjawab pertanyaan atau memecahkan masalah.
Proses retrieval pada dasamya adalah upaya atau peristiwa mental dalam
mengungkapkan atau memproduksi kembali apaapa yang tersimpan dalam memori
berupa informasi, simbol, pemahaman, dan perilaku tertentu sebagai respons atas
stimulus yang sedang dihadapi.
Dalam bukunya The Guidance of Learning Activities, Burton (1952:316317)
menyimpulkan proses belajar ini sebagai berikut.
(1) Proses belajar adalah mengalami, melakukan, memberikan reaksi, dan
melampaui.
(2) Proses belajar mengalami berbagai macam pengalaman serta mata pelajaran-
mata pelajaran yang terpusat pada tujuan tertentu.
(3) Proses dan pengalaman belajar secara maksimum bermakna untuk kehidupan
individu.
(4) Proses belajar bersumber dari kebutuhan dan tujuan individu sendiri yang
mendorong motivasi secara kontinu.
(5) Proses belajar dan hasil belajar dipengaruhi oleh faktor-faktor hereditas dan
lingkungan.
(6) Proses dan hasil belajar secara material dipengaruhi oleh berbagai ' perbedaan
individual di kalangan individu-individu.
(7) Proses belajar berjalan secara efektif jika pengalaman-pengalaman dan hasil-
hasil yang diharapkan disesuaikan dengan kematangan individu.
(8) Proses yang terbaik ialah jika pelajar mengetahui status serta kemajuannya.
(9) Proses belajar adalah fungsional dari produser-produser.
(10) Proses belajar berjalan secara efektif di bawah bimbingan yang memberikan
rangsangan, tanpa ada paksaan atau tekanan.

E. Jenis-Jenis Belajar

Jenis-jenis belajar bisa dikelompokkan berdasarkan tujuan dan hasil yang diperoleh
dari kegiatan belajar, cara atau proses yang ditempuh dalam belajar, teknik atau metode
belajar, dan sebagainya. Perkembangan atas pengelompokan jenis belajar ini muncul
dalam dunia pendidikan sejalan dengan kebutuhan kehidupan manusia yang juga
bermacam-macam.
Dilihat dari tujuan dan hasil yang diperoleh dari kegiatan belajar, para ahli umumnya
mengemukakan delapan jenis belajar berikut (Saodih & Surya, 1971; Syah, 1995; Effendi
& Praja, 1993).

1. Belajar Abstrak (Abstract Learning)


Belajar abstrak pada dasarnya adalah belajar dengan menggunakan caracara berpikir
abstrak. Tujuannya ialah memperoleh pemahaman Serta pemecahan yang tidak nyata.
Dalam mempelajari hal-hal yang abstrak peranan akal atau rasio sangatlah penting. Begitu
pula penguasaan atas prinsip-prinsip dan konsep-konsep. Termasuk dalam jenis ini,
misalnya, belajar tauhid, astronomi, kosmografi, kimia, dan matematika.

2. Belajar Keterampilan (Skill Learning)


Belajar keterampilan merupakan proses belajar yang bertujuan memperoleh
keterampilan tertentu dengan menggunakan gerakan-gerakan motorik. Dalam belajar jenis
ini, proses pelatihan yang intensif dan teratur sangat diperlukan. Termasuk belajar dalam
jenis ini, misalnya belajar cabang-cabang olah raga, melukis, memperbaiki benda-benda
elektronik. Bentuk belajar keterampilan ini disebut juga latihan atau training.

3 Belajar Sosial (Social Learning)


Belajar sosial adalah belajar yang bertujuan memperoleh keterampilan dan
pemahaman terhadap masalah-masalah sosial, penyesuaian terhadap nilai-nilai sosial dan
sebagainya. Termasuk belajar jenis ini misalnya belajar memahami masalah keluarga,
masalah penyelesaian konflik antaretnis atau antarkelompok, dan masalah-masalah lain
yang bersifat sosial.

4. Belajar Pemecahan Masalah (Problem Solving)


Belajar pemecahan masalah pada dasarnya adalah belajar untuk memperoleh
keterampilan atau kemampuan memecahkan berbagai masalah secara logis dan rasional.
Tujuannya ialah memperoleh kemampuan atau kecakapan kognitif guna memecahkan
masalah secara tuntas. Untuk itu, kemampuan individu dalam menguasai berbagai
konsep, prinsip, serta generalisasi, amat diperlukan.

5. Belajar Rasional (Rational Learning)


Belajar,rasional adalah belajar dengan menggunakan kemampuan berpikir secara
logis atau sesuai dengan akal sehat. Tujuannya ialah memperoleh beragam kecakapan
menggunakan prinsip-prinsip dan konsep-konsep. Jenis belajar ini berkaitan erat dengan
belajar pemecahan masalah. Dengan belajar rasional, individu diharapkan memiliki
kemampuan rational problem solving, yaitu kemampuan memecahkan masalah dengan
menggunakan pertimbangan dan strategi akal sehat, logis, dan sistematis.

6. Belajar Kebiasaan (Habitual Learning)


Belajar kebiasaan adalah proses pembentukan kebiasaan baru atau perbaikan
kebiasaan yang telah ada. Belajar kebiasaan, selain menggunakan perintah, keteladanan,
serta pengalaman khusus, juga menggunakan hukum dan ganjaran. Tujuannya agar
individu memperoleh sikap dan kebiasaan perbuatan baru yang lebih tepat dan lebih
positif, dalam arti selaras dengan kebutuhan ruang dan waktu atau bersifat kontekstual.

7. Belajar Apresiasi (Appreciation Learning)


Belajar apresiasi pada dasarnya adalah belajar mempertimbangkan nilai atau arti
penting suatu objek. Tujuannya agar individu memperoleh dan mengembangkan
kecakapan ranah rasa (effective skills), dalam hal ini kemampuan menghargai secara
tepat, arti penting objek tertentu, misalnya apresiasi sastra, apresiasi musik, dan apresiasi
seni lukis.
Dalam mengapresiasi mutu karya sastra, misalnya, seorang individu perlu mengetahui
"hakikat keindahan" (estetika) di samping mengetahui hal-hal lain, seperti bentuk
ungkapan, isi ungkapan, bahasa ungkapan, dan nilai ekspresinya.
Bidang studi agama juga memungkinkan untuk digunakan sebagai alat
pengembangan apresiasi individu, misalnya dalam hal seni baca tulis Al- Quran.

8. Belajar Pengetahuan (Study)


Belajar pengetahuan dimaksudkan sebagai belajar untuk memperoleh sejumlah
pemahaman, pengertian, informasi, dan sebagainya. Belajar pengetahuan juga dapat
diartikan sebagai sebuah program belajar terencana untuk menguasai materi pelajaran
dengan melibatkan kegiatan investigasi atau penelitian dan eksperimen. Tujuan belajar
pengetahuan ialah agar individu memperoleh atau menambah informasi dan pemahaman
terhadap pengetahuan tertentu, yang biasanya lebih rumit dan memerlukan kiat khusus
dalam mempelajarinya, misalnya dengan menggunakan alat-alat laboratorium dan
penelitian lapangan.
Berdasarkan cara atau proses yang ditempuh dalam belajar, Nasution M.A., seperti
dikutip Effendi & Praja (1993), menyebutkan lima jenis belajar berikut:
1. Belajar Berdasarkan Pengamatan (Sensory Type of Learning)
Jenis belajar ini adalah belajar berdasarkan pengamatan sensoris terhadap
objek-objek dunia sekitar dengan pelbagai alat indra untuk melihat, mendengar,
meraba, mengecap, dan sebagainya. Contoh, berkat pengamatan, seorang anak
mula-mula mengenal ibunya, kemudian anggota keluarga lainnya, alat-alat rumah
tangga, dan sebagainya. Demikian pula belajar taraf tinggi, tidak terlepas dari faktor
pengamatan, sekalipun sering juga dibantu dengan alat-alat, seperti mikroskop
untuk melihat bakteri, teleskop, dan sebagainya.
2. Belajar Berdasarkan Gerak (Motor Type of Learning)
Ada beberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam belajar motoris.
a. Mengetahui tujuan dengan jelas dan yakin terhadap faedah tujuan itu baginya.
b. Mempunyai tanggapan yang jelas tentang kecakapan yang dipelajari.
Tanggapan itu diperoleh melalui demonstrasi, gambaran-gambaran, atau
penjelasan lisan.
c. Pelaksanaan yang tepat pada taraf permulaan, sebab kesalahan yang
dilakukan pada taraf permulaan belajar akan mengurangi efisiensi belajar
selanjutnya "It is necessary to tress accuracy and speed later".
d. Latihan untuk mempertinggi kecepatan.
e. Metode keseluruhan atau bagian.
Dalam belajar motoris pada umumnya metode keseluruhan lebih efisien
daripada metode bagian. Misalnya belajar menulis katakata atau kalimat, lebih
baik ketimbang belajar menulis huruf.

f. Latihan seperti dalam situasi hidup/dalam situasi sebenarnya.


Latihan (belajar motoris) lebih efektif bila perhatian tidak terlampau dipusatkan
kepada gerakan itu sendiri. Misalnya belajar mobil, perhatian ditujukan pada
keadaan lalu lintas atau situasi jalan, tidak pada gerakan kaki atau tangan.
g. Tidak banyak kritik, terutama pada proses belajar permulaan.
h. Analisis kecakapan.
Si pelajar harus mengetahui bentuk dan teknik pelaksanaan yang sempurna,
mengenai detail gerakan yang relatif cepat.
Bentuk dan teknik. Untuk tiap kecakapan diperlukan bentuk dan teknik tertentu
untuk melaksanakan latihan dengan efisien, dengan tidak memboroskan tenaga.
3. Belajar Berdasarkan Menghafal (Memory Type of Learning)
Beberapa petunjuk tentang menghafal adalah berikut ini.
a. Apa saja yang dihafal terlebih dahulu harus dipahami/dimengerti benar-benar
b. Hal yang dihafal harus jelas kaitannya antara satu masalah dan masalah
lainnya, sehingga merupakan suatu kerangka keseluruhan.
c. Menggunakan haI-hal yang dihafal secara fungsional dalam situasi tertentu.
d. Menggunakan memo teknik. Misalnya: Repelita.
e. Mengulangi hafalan (aktive recall dan review).
4 . Belajar Berdasarkan Pemecahan Masalah (Problem Solving Type of Learning)
Langkah-langkah dalam problem solving, antara lain:
a. memahami masalah atau problema;
b. mengumpulkan keterangan atau data;
c. merumuskan hipotesis;
d. menilai/mengkaji hipotesis;
e. mengadakan eksperimen atau percobaan;
f. membentuk kesimpulan.
Metode problem solving dapat digunakan untuk memecahkan berbagai
masalah/pelajaran, misalnya, sejarah, biologi, ilmu alam, bahasa, ilmu pasti, dan
sebagainya.
5. Belajar Berdasarkan Emosi (Emotional Type of Learning)
Belajar berdasarkan emosi bertujuan menanamkan aspek-aspek kepribadian,
misalnya, ketekunan, ketelitian, kebersihan, sikap yang sehat terhadap pekerjaan,
minat yang luas, dan sebagainya. Jadi, belajar tidak semata-mata dititikberatkan pada
"how to- make a living", tetapi juga "how to live".

F. Faktor-Faktor yang Memengaruhi Belajar

Secara garis besar, faktor-faktor yang mempengaruhi belajar anak atau individu dapat
dibagi dalam dua bagian.
(1) Faktor endogen atau disebut juga faktor internal, yakni semua faktor yang
berada dalam diri individu.
(2) Faktor eksogen atau disebut juga faktor eksternal, yakni semua faktor yang
berada di luar diri individu, misalnya orang tua dan guru, atau kondisi
lingkungan di sekitar individu.
Kedua faktor di atas, dalam banyak hal, acap kali saling berkaitan dan memengaruhi
satu sama lain.

1. Faktor Endogen
Faktor endogen atau faktor yang berada dalam diri individu meliputi dua faktor, yakni
faktor fisik dan faktor psikis.
a. Faktor Fisik
Faktor fisik ini bisa kita kelompokkan lagi menjadi beberapa kelompok, antara
lain faktor kesehatan. Umpamanya anak yang kurang sehat atau,_ kurang gizi,
daya tangkap dan kemampuan belajarnya akan kurang dibandingkan dengan anak
yang sehat.
Selain faktor kesehatan, ada faktor lain yang .penting, yaitu cacatcacat yang
dibawa sejak anak berada dalam kandungan. Keadaan cacat ini juga bisa
menghambat keberhasilan seseorang. Misalnya orang tersebut bisu, tuli sejak lahir,
atau menderita epilepsi bawaan dan geger otak karena jatuh. Keadaan seperti di
atas dapat menjadi hambatan dalam perkembangan anak, sehingga anak
menghadapi kesulitan untuk bereaksi dan berinteraksi dengan lingkungan
sekelilingnya. Misalnya, anak yang tidak bisa menangkap pelajaran, terutama anak
yang duduk di sekolah dasar, kadang-kadang bukan karena tidak mampu, tetapi
setelah diadakan pemeriksaan terhadap anak ini, ternyata ia kurang baik
pendengarannya, dan mengakibatkan anak tersebut kurang lancar dalam berbicara
karena daya pendengarannya kurang.
Untuk mengatasi kemungkinan timbulnya masalah pendengaran atau
penglihatan, pihak guru seyogianya bekerja sama dengan pihak sekolah untuk
memperoleh bantuan pemeriksaan rutin dari dinas-dinas kesehatan setempat.
Bagaimana pun, daya pendengaran dan penglihatan anak yang rendah akan
menyulitkan sensory register dalam menyerap item-item informasi yang bersifat
echoic dan econic (gema dan citra). Akibat negatif selanjutnya adalah terhambatnya
information processing yang dilakuk;an oleh sistem memori anak tersebut.
b. Faktor Psikis
Banyak faktor yang termasuk aspek psikis yang bisa memengaruhi kuantitas
dan kualitas perolehan pembelajaran. Di antara begitu banyak faktor psikis, yang
paling banyak atau paling sering disoroti pada saat ini adalah faktor-faktor berikut.
1) Faktor inteligensi atau kemampuan
Pada dasarnya, manusia itu berbeda satu sama lain. Salah satu perbedaan itu
adalah dalam hal kemampuan atau inteligensi. Kenyataan menunjukkan, ada orang
yang dikaruniai kemampuan tinggi, sehingga mudah mempelajari sesuatu. Dan,
sebaliknya, ada orang yang kemampuannya kurang, sehingga mengalami kesulitan
untuk mempelajari sesuatu. Dengan demikian, perbedaan dalam mempelajari
sesuatu disebabkan, antara lain, oleh perbedaan pada taraf kemampuannya.
Kemampuan ini penting untuk mempelajari sesuatu.
Sebagai contoh, seorang anak yang taraf kemampuannya umumnya tergolong
kurang atau lebih rendah dari taraf kemampuan umum anak-anak seusianya, akan
mengalami kesukaran untuk mengikuti pelajaran-pelajaran yang dirasakan biasa
oleh anak-anak lain. Kalau anak-anak lain cukup dengan dua kali membaca dan
mengerti apa yang dipelajari, ia harus membaca berkali-kali untuk bisa mengerti.
Proses belajar pada anak ini lebih lambat dan ia membutuhkan lebih banyak waktu
karena taraf kemampuan umumnya lebih rendah daripada anak-anak lain.
Akibatnya, ia selalu mengalami kesulitan untuk bisa naik kelas dengan lancar.
Sebaliknya, anak yang dikaruniai kemampuan tinggi akan lebih berhasil dalam
kegiatan belajar karena ia lebih mudah menangkap dan memahami pelajaran. Anak
yang cerdas akan lebih mudah berpikir kreatif dan cepat mengambil keputusan.
Meskipun demikian, anak yang mempunyai kemampuan tinggi tidak berarti tidak
akan mengalami kesulitan dalam belajar. Kemungkinan kesulitan belajar tetap ada,
karena ia terlalu mc-nganggap mudah pelajaran-pelajaran di sekolah, sehingga
segan atau malas untuk belajar. Mungkin, di dalam kelas, ia kurang atau tidak
mendengarkan keterangan-keterangan dari guru, sering mengganggu temannya,
dan perilaku lainnya yang kurang menyenangkan. Hal-hal demikian menyebabkan
anak tertinggal pelajaran di sekolah.
2) Faktor perhatian dan minat
Bagi seorang anak, mempelajari suatu hal yang menarik perhatian akan lebih
mudah diterima daripada mempelajari hal yang tidak menarik perhatian. Dalam
penyajian pelajaran pun, hal ini tidak bisa diabaikan, terutama anak kecil. Anak-
anak akan tertarik pada hal-hal yang baru dan menyenangkan.
Dalam hal minat, tentu saja seseorang yang menaruh minat pada suatu bidang
akan lebih mudah mempelajari bidang tersebut. Secara sederhana, minat berarti
kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap
sesuatu.
Keinginan atau minat dan kemauan atau kehendak sangat memengaruhi corak
perbuatan yang akan diperlihatkan seseorang. Sekalipun seseorang itu mampu
mempelajari sesuatu, tetapi bila tidak mempunyai minat, tidak mau, atau tidak ada
kehendak untuk mempelajari, ia tidak akan bisa mengikuti proses belajar. Minat
atau keinginan ini erat pula hubungannya dengan perhatian yang dimiliki, karena
perhatian mengarahkan timbulnya kehendak pada seseorang. Kehendak atau
kemauan ini juga erat hubungannya dengan kondisi fisik seseorang, misalnya
dalam keadaan sakit, capai, lesu, atau mungkin sebaliknya, yakni sehat dan segar.
Juga erat hubungannya dengan kondisi psikis, seperti senang, tidak senang,
tegang, bergairah, dan seterusnya.
3) Faktor bakat
Pada dasarnya bakat itu mirip dengan inteligensi. Itulah sebabnya seorang
anak yang memiliki inteligensi sangat cerdas (superior) atau cerdas luar biasa (very
superior) disebut juga sebagai talented child, yakni anak berbakat.
Bakat setiap orang itu berbeda-beda. Seorang anak yang berbakat musik akan
lebih cepat mempelajari musik tersebut. Orang tua terkadang kurang
memperhatikan faktor bakat ini, sehingga mereka memaksakan kehendaknya untuk
menyekolahkan anaknya pada bidang keahlian tertentu tanpa mengetahui terlebih
dahulu bakat yang dimiliki anaknya itu. Pemaksaan kehendak terhadap anak tentu
saja akan berpengaruh buruk terhadap prestasi anak yang bersangkutan.
4) Faktor motivasi
Motivasi adalah keadaan internal organisme yang mendorongnya untuk berbuat
sesuatu. Karena belajar merupakan suatu proses yang timbul dari dalam, faktor
motivasi memegang peranan pula. Kekurangan atau ketiadaan motivasi, baik yang
bersifat internal maupun yang bersifat eksternal, akan menyebabkan kurang
bersemangatnya anak dalam melakukan proses pembelajaran materi-materi
pelajaran, baik di sekolah maupun di rumah.
Jika guru atau orang tua dapat memberikan motivasi yang baik pada anak-
anak, timbullah dalam diri anak-anak itu dorongan dan hasrat untt4.k belajar lebih
baik. Anak bisa menyadari apa gunanya belajar dan apa tujuan yang hendak
dicapai dengan pelajaran itu jika ia diberi perangsang, atau motivasi yang baik dan
sesuai.
5) Faktor kematangan
Kematangan adalah tingkat perkembangan pada individu atau organorgannya
sehingga sudah berfungsi sebagaimana mestinya. Dalam proses belajar,
kematangan atau kesiapan ini sangat menentukan. Oleh karena itu, setiap usaha
belajar akan lebih berhasil bila dilakukan bersamaan dengan tingkat kematangan
individu. Kematangan ini erat sekali hubungannya dengan masalah minat dan
kebutuhan anak.
Kita tentu tidak bisa melatih anak yang baru berumur 5 bulan untuk belajar
berjalan. Kalaupun kita paksa, anak itu tetap saja tidak akan sanggup
melakukannya, karena untuk bisa berjalan, ia memerlukan kematangan potensi-
potensi fisik maupun psikisnya. Begitu juga, kita tidak bisa mengajar ilmu filsafat
kepada anak-anak yang baru duduk di bangku SLTP Semua itu disebabkan
pertumbuhan mentalnya belum matang untuk menerima pelajaran itu. Mengajarkan
sesuatu baru bisa berhasil apabila taraf pertumbuhan pribadi telah
memungkinkannya; potensi-potensi jasmani maupun rohaninya telah matang untuk
itu.
6) Faktor kepribadian
Faktor kepribadian seseorang turut memegang peranan dalam belajar. Orang
tua terkadang melupakan faktor ini, yaitu bahwa anak adalah makhluk kecil yang
memiliki kepribadian sendiri. Jadi, faktor kepribadian anak mempengaruhi keadaan
anak. Fase perkembangan seorang anak tidak selalu sama. Dalam proses
pembentukan kepribadian ini, ada beberapa fase yang harus dilalui. Seorang anak
yang belum mencapai fase tertentu akan mengalami kesulitan jika ia dipaksa
melakukan hal-hal yang terjadi pada fase berikutnya. Anak yang memasuki fase
sekolah sudah mulai tertarik pada hal-hal yang baru dan dapat melepaskan diri dari
orang tua dalam waktu yang terbatas tanpa menyebabkan ketegangan bagi si anak.
Selain itu, anak mulai tertarik untuk belajar sesuatu. Keadaan ini terjadi pada
fase sekolah di taman kanak-kanak. Anak-anak yang tadinya selalu membuntuti
dan tidak mau terpisah dari orang tuanya, mulai mau memisahkan diri dari orang
tua untuk belajar di sekolah.
Lama-kelamaan, fase ini makin berkembang dan anak memasuki masa
sekolah, dalam arti kata anak mulai belajar membaca dan berhitung. Pada fase ini,
anak sudah tidak terlalu egosentrik dalam pemikirannya. Semakin berkembang
kepribadiannya, semakin membantu dalam mengatasi hambatan-hambatan yang
dialaminya.
2 Faktor Eksogen
Seperti sudah dijelaskan, faktor eksogen berasal dari luar diri anak. Faktor eksogen
sebetulnya meliputi banyak hal, namun secara garis besar kita bisa membaginya dalam
tiga faktor, yakni: (a) faktor keluarga, (b) faktor sekolah, dan (c) faktor lingkungan lain, di
luar keluarga dan sekolah.
a. Faktor Keluarga
Menurut pandangan sosiologis, keluarga adalah lembaga sosial terkecil dari
masyarakat. Pengertian keluarga ini menunjukkan bahwa keluarga merupakan
bagian dari masyarakat; bagian ini menentukan keseluruhan masyarakat.
Kesejahteraan masyarakat ditentukan oleh kesejahteraan keluarga. Dan,
kesejahteraan masyarakat mempunyai pengaruh pada kesejahteraan keluarga.
Analisis ini merupakan akibat logis dari pengertian keluarga sebagai sesuatu yang
kecil, sebagai bagian dari sesuatu yang besar.
Pada setiap masyarakat, keluarga merupakan pranata sosial yang
sangat penting artinya bagi kehidupan sosial. Betapa tidak, warga
masyarakat menghabiskan paling banyak waktunya dalam keluarga
dibandingkan, misalnya, dengan di tempat bekerja, dan keluarga adalah wadah
anak-anak sejak dini dikondisikan dan dipersiapkan untuk kelak dapat melakukan
peranannya dalam dunia orang dewasa. Dan melalui
pelaksanaan peranan itu, pelestarian berbagai lembaga clan nilai-nilai
budaya pun akan dapat tercapai dalam masyarakat yang bersangkutan.
Dapatlah diibaratkan bahwa keluarga adalah jembatan yang
menghubungkan individu yang berkembang dengan kehidupan sosial
yang kelak ia sebagai orang dewasa, ia harus melakukan peranannya.
Individu-individu yang baru berkembang, yang dilahirkan dalam
suatu keluarga, harus mengalami proses belajar sehingga akan mengambil alih
nilai-nilai yang umum berlaku dalam kelompoknya.
Keluarga merupakan kelompok sosial per tama-tama dalam kehidupan manusia
tempat ia belajar clan menyatakan diri sebagai manusia sosial di dalam hubungan
interaksi dengan kelompoknya. Dalam keluarganya, yang interaksi sosialnya
berdasarkan simpati, seorang anak pertama-tama belajar memperhatikan
keinginan-keinginan orang lain, belajar bekerja sama, bantu-membantu; dengan
kata lain, anak pertama-tama belajar memegang peranan sebagai makhluk sosial
yang mempunyai norma-norma dan kecakapan-kecakapan tertentu dalam
pergaulannya dengan orang lain.
Dalam hubungan dengan belajar, faktor keluarga tentu saja mempunyai
peranan penting. Keadaan keluarga akan sangat menentukan berhasil-tidaknya
anak dalam menjalin proses belajarnya. Ada keluarga miskin, ada, pula yang kaya.
Ada keluarga yang selalu diliputi suasana tentram dan damai, tetapi ada pula yang
sebaliknya. Ada keluarga yang mempunyai cita-cita tinggi bagi anak-anaknya, ada
pula yang biasa-biasa saja. Kondisi dan suasana keluarga yang bermacam-macam
itu, dengan sendirinya turut menentukan bagaimana dan sampai di mana hakikat
belajar dialami dan dicapai oleh anak-anak. Termasuk dalam faktor keluarga ini,
tersedia-tidaknya berbagai fasilitas yang diperlukan dalam menunjang proses
belajar anak.
Faktor keluarga sebagai salah satu penentu yang berpengaruh dalam belajar,
dapat dibagi lagi menjadi tiga aspek, yakni: (1) kondisi ekonomi keluarga, (2)
hubungan emosional orang tua clan anak, serta (3) caracara orang tua mendidik
anak.
(1) Kondisi ekonomi keluarga
Faktor ekonomi sangat besar pengaruhnya terhadap kelangsungan kehidupan
keluarga. Keharmonisan hubungan antara orang tua dan anak kadang-kadang tidak
terlepas dari faktor ekonomi ini. Begitu pula faktor keberhasilan seorang anak.
Pada keluarga yang kondisi ekonominya relatif kurang, boleh jadi menjadi
penyebab anak kekurangan gizi; dan kebutuhan-kebutuhan anak mungkin tidak
dapat terpenuhi. Selain itu, faktor kekurangan ekonomi menyebabkan suasana
rumah menjadi muram yang pada gilirannya menyebabkan hilangnya kegairahan
anak untuk belajar. Namun, hal ini sebetulnya bukan sesuatu yang mutlak;
terkadang faktor kesulitan ekonomi ini justru bisa menjadi cambuk atau pendorong
bagi anak untuk lebih berhasil. Sebaliknya, bukan berarti pula keadaan ekonomi
yang berlebihan tidak akan menyebabkan kesulitan belajar. Pada tingkat ekonomi
yang berlebihan, yang biasanya menjadi alat untuk memenuhi semua kebutuhan
anak, bukan tidak mungkin bisa menyebabkan berkurangnya perhatian anak
terhadap kegiatan belajar, karena perhatian anak justru lebih tertuju pada aspek
kesenangan, misalnya dengan terlalu seringnya mengunjungi tempat-tempat
hiburan, atau karena sebagian besar waktunya habis untuk bermain dengan alat- -
alat permainan yang beraneka ragam.
2) Hubungan emosional orang tua dan anak
Hubungan emosional antara orang tua dan anak juga berpengaruh dalam
keberhasilan belajar anak. Dalam suasana rumah yang selalu ribut dengan
pertengkaran akan mengakibatkan terganggunya ketenangan dan konsentrasi
anak, sehingga anak tidak bisa belajar dengan baik. Hubungan orang tua dan anak
yang ditandai oleh sikap acuh tak acuh dapat pula menimbulkan reaksi frustrasi
pada anak. Orang tua yang terlalu keras pada anak dapat menyebabkan "jauh"-nya
hubungan mereka yang pada gilirannya menghambat proses belajar. Sebaliknya,
hubungan anak clan orang tua yang terlalu dekat, misalnya, ke mana pun orang tua
pergi, anak selalu lekat berada di samping, kadang pula mengakibatkan anak
menjadi selalu "bergantung".
3) Cara mendidik anak
Biasanya, setiap keluarga mempunyai spesifikasi dalam mendidik. Ada
keluarga yang menjalankan cara-cara mendidik anaknya secara diktator militer, ada
yang demokratis, pendapat anak diterima oleh orang tua, tetapi ada juga keluarga
yang acuh tak acuh dengan pendapat setiap anggota keluarga. Ketiga cara
mendidik ini, langsung atau tidak langsung, dapat berpengaruh pada proses belajar
anak.
b. Faktor Sekolah
Faktor lingkungan sosial sekolah seperti para guru, pegawai administrasi, dan
teman-teman sekolah, dapat memengaruhi semangat belajar seorang anak. Para
guru yang selalu menunjukkan sikap dan perilaku yang simpatik serta
memperlihatkan suri teladan yang baik dan rajin, khususnya dalam hal belajar-
misalnya rajin membaca dan rajin berdiskusi-dapat menjadi daya dorong yang
positif bagi kegiatan' belajar anak. Bimbingan yang baik dan sistematis dari guru
terhadap pelajar yang mendapat kesulitan-kesulitan dalam belajar, bisa membantu
kesuksesan anak dalam belajar.
Dalam belajar di sekolah, faktor guru dan cara mengajarnya merupakan faktor
yang penting pula. Bagaimana sikap dan kepribadian guru, tinggi rendahnya
pengetahuan yang dimiliki guru, dan bagaimana cara guru mengajarkan
pengetahuan itu kepada anak didiknya, bisa turut menentukan hasil belajar yang
dapat dicapai anak.
Selain cara mengajar, faktor hubungan antara guru dan murid juga ada
pengaruhnya. Hal ini dapat dengan jelas dilihat, misalnya, pada taman kanak-
kanak. Seorang anak yang dekat dan mengagumi sang guru akan lebih mudah
mendengarkan dan menangkap pelajaran dibandingkan dengan anak yang tidak
senang terhadap gurunya. Semua pelajaran merupakan hal yang memberatkan
dan tidak menyenangkan bagi si anak.
Faktor lain yang membantu kesungguhan belajar anak di sekolah adalah faktor
disiplin, sudah tentu anak-anak tidak akan serius dalam belajar, sehingga mutu
pelajarannya akan menurun.
c. Faktor Lingkungan Lain
Anak yang dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang baik, memiliki
inteligensi yang baik, bersekolah di suatu sekolah yang keadaan guru-gurunya
serta alat-alat pelajarannya baik, belum tentu pula menjamin anak belajar dengan
baik. Masih ada faktor lain yang dapat mempengaruhi hasil belajarnya. Misalnya,
karena jarak antara rumah dan sekolah itu terlalu jauh, sehingga memerlukan
kendaraan untuk keperluan perjalanan yang relatif cukup lama, dan ini dapat
melelahkan anak yang bisa berakibat pada proses dan hasil belajar anak.
Selain itu, faktor teman bergaul dan aktivitas dalam masyarakat dapat pula
mempengaruhi kegiatan belajar anak. Aktivitas di luar sekolah memang baik untuk
membantu perkembangan seorang anak. Namun, tidak semua aktivitas dapat
membantu anak. Jika seorang anak terlalu banyak melakukan aktivitas di luar
rumah dan di luar sekolah, sementara ia kurang mampu membagi waktu belajar,
dengan sendirinya aktivitas tersebut akan merugikan anak karena kegiatan
belajarnya menjadi terganggu.
Demikianlah beberapa faktor endogen dan eksogen, atau faktor internal dan
eksternal, yang dapat memengaruhi proses belajar anak.

G. Metode dan Eefisiensi Belajar


Dapatkah belajar itu dipelajari? Hingga sekarang masalah bisa tidaknya belajar itu
dipelajari masih menjadi bahan perdebatan umum. Sementara pihak beranggapan bahwa
sebenarnya petunjuk cara-cara belajar tidak banyak gunanya, sebab, katanya, semua itu
bergantung sepenuhnya pada orang yang bersangkutan. Kalau dasarnya orang
berinteligensi tinggi, tanpa membaca buku petunjuk pun, ia tetap pintar. Sebaliknya, kalau
orang itu memang dasarnya sudah bodoh, ya tetap saja ia bodoh.
Barangkali memang benar; bagi orang yang sudah ahli memasak, buku resep masak-
memasak tingkat permulaan, jelas tidak berguna. Namun, hampir-hampir tidak ada orang
yang begitu lahir, langsung pandai memasak. Memasak merupakan suatu kepandaian
yang harus dipelajari, walaupun barangkali tidak dipelajari di sekolah memasak. Begitu
pula mengenai kepandaian belajar. Kepandaian serupa ini perlu dipelajari, tak cuma oleh
mereka yang tengah duduk di bangku SLTP maupun SMU, tetapi juga oleh para
mahasiswa di perguruan tinggi.
Bagaimana pun, sejak.,manusia dilahirkan, hingga menjelang akhir hidupnya, ia
selalu menghadapi situasi saat ia harus memberi tanggapan. Untuk itu, ia harus
mempelajari berbagai hal. Satu di antaranya ialah belajar mengenai cara-cara belajar.
1. Metode Belajar
Apa itu metode? Kamus Besar Bahasa Indonesia (1995:652) menyebut metode
sebagai "cara yang teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai maksud (dalam ilmu
pengetahuan, dsb)," atau "cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan
suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan".
Berdasarkan pengertian tersebut, yang dimaksud metode belajar, secara singkat,
adalah cara yang teratur untuk mencapai maksud belajar.
Dari sekian banyak metode belajar yang dikemukakan para psikolog dan ahli
pendidikan, kita perlu mengetahui beberapa metode penting berikut.
a. Metode SQ3R
Banyak ahli psikologi - misalnya Robinson (1970) dan Fox (1962) menunjukkan
bahwa kebanyakan metode membaca buku teks yang digunakan murid terlampau
pasif. Murid hanya sekadar membaca bab buku, kemudian menutupnya atau
membaca sambil menggarisbawahi secara sambil lalu. Dengan cara tersebut, seperti
dikatakan Calhoun & Acocella (1990), murid bagaikan melamun dan membiarkan
bahan bacaan tersebut masuk ke dalam pikirannya. Dan lebih lanjut, banyak bahan
yang dibacanya itu keluar lagi dari pikirannya.
Oleh sebab itu, yang kini kita perlukan adalah pendekatan yang lebih aktif
terhadap membaca. Caranya? Pendapat, atau lebih tepatnya, saran dari Calhoun &
Acocella berikut ini barangkali ada baiknya untuk kita cermati (Calhoun & Acocella,
1990:186):
You need to meet the material halfway, "attack" it, make demands on it, and work
along with it. Above all, you need to practice doing what you will be asked to do in
classroom discussion and on exams-that is, recapitulate the material in your own
words. (Anda perlu membaca bahan ajar separuhnya, "garaplah", kemudian buatlah
rasa butuh terhadapnya, dan berkutat terus selama mungkin dengan bahan tersebut.
Selain itu, Anda harus berlatih melakukan apa yang akan diperintahkan dalam kelas
atau pada ujian yaitu menyebutkan kembali bahan pelajaran tersebut dengan bahasa
Anda sendiri).
Selanjutnya, kebutuhan tersebut dapat diwujudkan dengan menggunakan metode
belajar yang dirancang oleh pakar psikologi, Prancis P Robinson (1970), yaitu
"Metode SQ3R". Nama tersebut merupakan kependekan dari lima tugas yang harus
kita hadapi atau kita lakukan: survey (menyelidiki), question (bertanya), read
(membaca), recite (menceritakan kembali), dan review (mengulangi).
1) Survey (menyelidiki)
Sebelum mulai membaca, perhatikan judul dan rangkuman bab (jika ada) untuk
menemukan persoalan bab tersebut. Hal itu akan memberi Anda kerangka berpikir
yang bisa digunakan untuk mengatur bahan yang Anda baca. Sebelum melanjutkan
langkah berikutnya, pastikan bahwa Anda mengerti tujuan bab itu dan apa yang
hendak diajarkan. . Melakukan penyelidikan sebaiknya tidak memakan waktu lebih
dari satu menit. Dengan mempunyai gambaran mengenai pokok-pokok yang akan
dipelajari, Anda akan dapat membaca bab itu dengan lebih cepat dan juga pokok-
pokok itu akan bisa dihubungkan satu sama lain dengan baik.
2) Question (bertanya)
Sekarang, lihat kembali judul bab, ubah menjadi pertanyaan, dan tulislah
pertanyaan tersebut. Katakan, misalnya, bab judul: "Pendiri Psikologi Modern" dan
subjudul pertamanya adalah "Sigmund Freud". Pertanyaannya diharapkan "Ide
apakah yang disumbangkan Freud pada psikologi?" Dengan merumuskan
pertanyaan ini, Anda meningkatkan keingintahuan Anda dan mengubah
pembacaan Anda menjadi tugas yang bertujuan - tugas untuk menjawab
pertanyaan tersebut.
3) Read (membaca)
Bacalah bagian bab di bawah subjudul tersebut untuk mencari jawaban
pertanyaan Anda. Dengan cara ini, Anda harus menggali bahan, aktif mencari hal-
hal yang penting. Kunci tipe pembaca adalah selektif. Perhatian dipusatkan pada
bahan yang paling penting..Membaca hendaknya tidak merupakan suatu
perbuatan yang pasif, melainkan berupa perbuatan aktif untuk mencari jawaban
atas pertanyaanpertanyaan yang telah Anda buat.
4) Recite (menceritakan kembali)
Setelah menyelesaikan bagian bab tersebut, jangan melihat buku dan
ceritakan kembali kepada Anda sendiri melalui ingatan (diucapkan dengan keras
jika mungkin) jawaban pertanyaan Anda. Gunakan kata-kata sendiri dan beri
contoh. Selanjutnya, buka kembali lembaran tempat Anda menulis pertanyaan dan
buatlah jawaban dengan beberapa kata kunci. Paksakan untuk membuat catatan
tersebut sesingkat mungkin (jika Anda tidak dapat menjawab pertanyaan, lihat
kembali bahannya sehingga Anda dapat menjawabnya). Langkah menceritakan
kembali ini adalah sangat penting bagi "pemasukan" bahan tersebut ke dalam
otak.
5) Review (mengulangi)
Segera setelah menyelesaikan bab ini, atau tugas harian di dalamnya, simak
sebentar catatan ulangan tentang hal-hal yang penting dan simpulkan
hubungannya satu dengan lainnya. Pastikan Anda mengerti arti di balik kata-kata
kunci. Kemudian, untuk tiap pertanyaan dan jawaban dalam catatan Anda, tutup
kata-kata kunci Anda, baca pertanyaan-pertanyaannya, berilah jawaban.
Mengulang ini menolong Anda tidak cepat lupa, yaitu lupa apa yang baru saja
dipelajari. Setelah itu ulangi bahan tersebut secara berkala (katakanlah, seminggu
sekali) agar terhindar dari lupa secara berangsur-angsur.
Menurut Calhoun & Acocella, metode AQ3R telah diuji oleh mahasiswa pada
beberapa perguruan tinggi dan telah terbukti berhasil menaikkan nilai rata-rata.
Meskipun demikian, perlu diingat tujuan pokok metode ini adalah menolong Anda
mengingat dan menyimpulkan isi buku teks. Jangan lupa bahwa Anda diharapkan
mengulangi kembali isi buku teks itu. Pikirkan apa yang sedang Anda baca.
Masukkanlah itu dalam pikiran. Hubungkanlah hal tersebut dengan apa yang telah
Anda ketahui dari pelajaran lain clan dari pengalaman Anda.
b. Metode PQRST
Setelah metode SQ3R, ada lagi metode lain yang pokok isinya hampir sama, yaitu
metode PQRST, yang merupakan singkatan dari (P)review, (Q)uesdon, (R)ead,
(S)tate, clan (T)est. Metode ini dibuat oleh Thomas F Staton dalam bukunya How to
Study (1952):
1) Preview (menyelidiki)
Preview adalah suatu langkah atau tahapan sebelum seseorang membaca
sebuah buku. Penyelidikan ini bisa dilakukan dengan membaca kalimatkalimat awal
atau kalimat-kalimat pokok pada permulaan atau akhir suatu paragraf, ataupun
ringkasan pada akhir suatu bab. Jika ketiga hal tersebut tidak ada, Anda dapat
mempergunakan mata Anda untuk memeriksa setiap halaman dengan cepat,
membaca satu dua kalimat di sana-sini, sehingga diperoleh gambaran sekadarnya
mengenai apa yang akan dibaca.
2) Question (Bertanya)
Pada tahapan Question, seperti pada metode SQ3R, langkah yang pertama
adalah bertanya. Jika pada akhir suatu bab telah ada daftar pertanyaan yang dibuat
oleh pengarangnya, daftar itu sebaiknya dibaca lebih dahulu.
3) Read (membaca)
Di sini juga dianjurkan membaca secara aktif, yaitu pikiran seseorang harus
memberikan reaksi terhadap apa yang dibacanya itu.
4) State (menyatakan)
Langkah selanjutnya ialah mengucapkan dengan kata-kata sendiri apa yang
sudah dibaca.
5) Test (menguji)
Langkah yang terakhir dari metode PQRST ialah menguji pikiran apakah masih
ingat akan hal-hal yang dibaca itu. Di sini, seseorang mengulangi pelajarannya itu
sambil berusaha mengingat-ingat pokok-pokok dalam pelajaran tersebut.
Selain SQ3R dan PQRST, masih ada dua rumus lainnya, yaitu (Gie, 1972):
1. RTP (Read the Problem), yang berarti "bacalah masalahnya".
2. Rumus ini dipergunakan, biasanya, oleh sebagian pelatih di lingkungan angkatan
bersenjata.
3. PERU (Preview, Enguire, Read, Use), menyelidiki, menanyakan, membaca,
mempergunakan.

c. Metode Quantum Learning


Bobbi DePorter telah menghabiskan pengalaman seumur hidup untuk membantu
orang agar menyadari potensi belajarnya dan menerjemahkannya menjadi buku
mengagumkan yang mudah dipahami, Quantum Learning: Unleashing the Genius In You
(1992). Metode ini memberikan kiat-kiat, petunjuk, strategi, dan seluruh proses yang bisa
menghemat waktu, mempertajam pemahaman dan daya ingat, dan menjadikan belajar
sebagai proses yang menyenangkan dan bermanfaat.
Quantum Learning berakar dari upaya Dr. Georgi Lozanov, seorang pendidik
berkebangsaan Bulgaria yang bereksperimen dengan apa yang disebutnya sebagai
"suggestology" atau "suggestopedia". Prinsipnya adalah sugesti dapat clan pasti
mempengaruhi hasil situasi belajar, dan setiap detail apa pun memberikan sugesti positif
ataupun negatif (DePorter & Hernacki, 1999:14).
Teknik-teknik yang digunakannya untuk memberikan sugesti positif
adalah mendudukkan murid secara nyaman, memasang musik latar di
dalam kelas, meningkatkan partisipasi individu, menggunakan poster-poster
untuk memberi kesan sambil menonjolkan informasi, dan
menyediakan guru-guru yang terlatih baik dalam seni; pengajaran sugestif.
"Saya menggunakan teknik ini dan teknik lainnya," demikian Bobbi DePorter
menjelaskan metode 'belajar' temuannya dalam mengantarkan buku Quantum Learning,
edisi bahasa Indonesia (1999:xiii), "karena semua itu selaras dengan cara kerja otak
Anda, dengan cara-cara terbaik Anda. Teknik-teknik tersebut telah teruji dan terukur
selama bertahun-tahun. Semuanya berhasil. Quantum Learning berhasil. Ribuan siswa
Quantum; yang telah kami latih beberapa tahun merupakan bukti nyata. Dalam buku ini,
tantangan saya adalah membuktikan kepada Anda bahwa metode ini berhasil."
Istilah lain yang hampir dapat dipertukarkan dengan sugestology adalah
"pemercepatan belajar" (accelerated learning). Pemercepatan belajar didefinisikan
sebagai "memungkinkan siswa untuk belajar dengan kecepatan yang mengesankan,
upaya yang normal, dan dibarengi kegembiraan" (DePorter & Hernacki, 1999:14). Menurut
DePorter, cara ini menyatukan unsur-unsur yang secara sekilas tampak tidak mempunyai
persamaan: hiburan, permainan, warna, cara berpikir positif, kebugaran fisik, dan
kesehatan emosional. Namun, semua unsur ini bekerja sama untuk menghasilkan
pengalaman belajar yang efektif.
Pada dasarnya, Quantum Learning mencakup aspek-aspek penting dalam program
neurolinguistik (NLP), yaitu suatu penelitian tentang cara otak mengatur informasi.
Program ini meneliti hubungan antara bahasa dan perilaku, dan dapat digunakan untuk
menciptakan jalinan pengertian antara siswa dan guru. Para pendidik dengan
pengetahuan NLP mengetahui cara menggunakan bahasa yang positif untuk
meningkatkan tindakan-tindakan positif-faktor penting untuk merangsang fungsi otak yang
paling efektif. Semua ini dapat pula menunjukkan dan menciptakan gaya belajar terbaik
dari setiap orang, dan menciptakan "pegangan" dari saat-saat keberhasilan yang
meyakinkan.
Kami, kata DePorter, mendefinisikan Quantum Learning sebagai "Interaksi-interaksi
yang mengubah energi menjadi cahaya". Semua kehidupan adalah energi. Rumus yang
terkenal dalam fisika kuantum adalah Massa kali kecepatan cahaya kuadrat sama dengan
energi. (DePorter & Hernacki, 1999:16). Teori kuantum, menurut Semiawan dan kawan-
kawan (1988:94), berbeda dengan teori' relativitas dalam sejumlah hal utama. Hampir tiap
orang pernah mendengar teori relativitas dengan penyusun utama, Albert Einstein, tetapi
hanya ilmuwan dan sejumlah kecil nonilmuwan (yaitu mereka yang tertarik pada sains
atau pernah belajar sains) menyadari adanya teori kuantum. Sebaliknya, 'hampir tiap
orang yang berurusan dengan aspek apa pun dari ilmu-ilmu fisik-yaitu bukan hanya ilmu
fisika, melainkan juga ilmu-ilmu fisik ahli di bidang kimia astronomi, biokimia, biologi
molekuler, metalurgi-secara teratur memanfaatkan teori kuantum atau hasil-hasilnya
dalam pekerjaan mereka, sedangkan relativitas umum jauh lebih jarang.
Selain meresap ke dalam bidang-bidang ilmu yang disebut di atas, menurut Semiawan
dan kawan-kawan, teori relativitas menyebabkan perubahan fundamental dalam pemikiran
ilmiah dan penalaran filsafat ilmu kita.

2. Efisiensi Belajar
Efisiensi adalah sebuah pengertian atau konsepsi yang menggambarkan
perbandingan terbaik antara usaha dan hasil yang dicapai (Gie, 1972:5). Dengan
demikian, efisiensi sebagai perbandingan yang paling baik, dapat ditinjau dari dua segi,
yaitu segi usaha belajar; dan segi hasil belajar.
a. Segi Usaha Belajar
Suatu kegiatan bisa dikatakan efisien jika prestasi belajar yang diinginkan dapat
dicapai dengan usaha yang minimal. Pengertian "usaha" di sini meliputi segala
sesuatu yang digunakan untuk mendapat hasil belajar yang memuaskan, seperti
tenaga dan pikiran, waktu, peralatan belajar, dan lain-lain hal yang relevan dengan
kegiatan belajar. Efisiensi dari sudut usaha ini dapat digambarkan sebagai berikut:
Efisiensi Usaha Belajar

Usaha
biasa Zul
Zul

Usaha
lebih
kecil Nova Prestasi
Nova Prestasi
Belajar
Belajar
Usaha
terkecil
Asep Gambar 10
Asep
Gambar 10 di atas memperlihatkan kepada kita bahwa Asep lebih efisien
ketimbang Nova dan Zul, karena dengan usaha yang minim, bisa mencapai hasil
belajar yang sama tingginya dengan prestasi belajar Nova dan Zul. Padahal, Nova
dan Zul telah berusaha lebih keras daripada Asep.
b. Segi Hasil Belajar
Suatu kegiatan belajar dapat dikatakan efisien, jika usaha belajar tertentu
memberikan prestasi belajar tinggi. Untuk lebih jelasnya,
perhatikan gambar 11.
Efisiensi Hasil Belajar
Hasil/prestasi rendah
Asep
Asep

Prestasi sedang
Belajar
Belajar Nova
Usaha Nova
Usaha Prestasi
tinggi
Gambar 11
Gambar 11 memperlihatkan bahwa Zul adalah mahasiswa yang efisien ditinjau dari
prestasi yang dicapai, karena ia menunjukkan perbandingan yang terbaik dari segi hasil.
Zul
Zul
Dalam hal ini, meskipun usaha belajar Zul sama besarnya dengan usaha Nova dan Asep
(lihat kotak usaha belajar), ia sudah memperoleh prestasi yang optimal atau lebih tinggi
daripada prestasi Nova dan Asep.
Menentukan cara-cara belajar yang baik, dalam arti yang efektif dan efisien, bukanlah
hal mudah. Banyak eksperimen telah dilakukan oleh para ahli psikologi. Dari sekian
banyak penelitian dan percobaan yang dilakukan, sekejap banyak pula jawaban yang
dikemukakan. Akan tetapi, di antara berbagai jawaban yang heterogen tersebut, terdapat
pula beberapa cara, teknik, atau metode yang bersifat umum yang dapat kita pergunakan
sebagai pegangan.
Untuk membuat belajar lebih efektif, Udai Pareek (1996) mengemukakan enam
langkah berikut.
1) Langkah pertama dalam belajar ialah pemerolehan masukan baru berkenaan
dengan pengetahuan dan pengertian (kognitif), atau suatu kegiatan fisik atau
motorik, atau suatu perilaku baru (termasuk sikap dan nilai). Jika proses ini
berjalan cepat, belajar adalah efektif.
2) Langkah berikutnya ialah pengasimilasian masukan baru itu. Masukan
tersebut tidak saja harus diperoleh dengan cepat, tetapi harus ditahan dalam
diri seseorang untuk waktu yang lama. Jika apa yang diperoleh itu tidak lama
ditahan dalam diri orang itu, cara belajar itu tidak efektif.
3) Belajar bukanlah proses pengumpulan berbagai masukan. Jika masukan-
masukan ini lepas, bergantung bebas satu sama lain, orang hanya bertindak
sebagai suatu wadah yang pasif untuk, pengetahuan, keterampilan motorik,
atau perilaku. Hal ini mungkin sering terjadi. Misalnya, seorang sarjana dapat
memperoleh berbagai fakta, pengetahuan, dan keterampilan ilmiah, namun ia
tetap bertakhayul. Hal ini ibarat menyimpan pengetahuan ilmiah dalam
ruangan terpisah. Pengembangan teknologi baru telah meningkatkan
ancaman penyakit schizofrenik seperti ini (menghayati suatu kehidupan yang
terpecah belah atau bertentangan dalam hal pengetahuan dan perilaku di
lingkungan yang berlainan, tanpa menyadari adanya pertentangan itu). Belajar
efektif mempunyai ciri internisasi dari masukan-masukan baru itu. Masukan-
masukan baru itu diperoleh dari sistem luar. Akan tetapi setelah masukan itu
diasimilasikan, mereka hendaknya jangan tetap asing. Mereka harus menjadi
bagian dari kepribadian orang, gaya hidup dan dunia psikologinya. Internisasi
juga berarti bahwa mengubah masukan-masukan itu sesuai dengan sistem
psikologis dan sistem kognitif orang itu, lalu mengintegrasikannya.
4) Setelah masukan-masukan yang diperoleh itu diinternisasikan, dapat
dipergunakan secara efektif jika diperlukan. Jika apa yang dipelajari hanya
dijadikan hiasan belaka dan tidak digunakan secara efektif, belajar tidak dapat
dikatakan efektif. Misalnya, belajar berbagai teknik dan keterampilan
manajemen, hendaknya menghasilkan manajemen yang lebih baik atas
berbagai kegiatan dan bidang di tempat orang itu bekerja.
5) Penggunaan pelajaran secara efektif juga berarti kreativitas. Belajar harus
mempunyai nilai "keluwesan". Apa yang telah dipelajari di satu bidang harus
dapat diterapkan dan digunakan di bidang lain. Ini juga merupakan konsepsi
dalam internisasi. Setelah seseorang belajar teknik manajemen, ia mungkin
harus menerima penugasan lain, misalnya mengurus suatu proyek pertanian,
suatu departemen pemerintahan, atau suatu partai politik. la seharusnya dapat
menggunakan pengetahuan clan keterampilan menajemen dalam keadaan
baru itu. Ini berarti bahwa ia harus kreatif, memberi sumbangan kepada apa
yang telah ia pelajari. Dengan demikian, akan terus terjadi pengayaan
pengetahuan dan praktik.
6) Belajar hendaknya menambah kemampuan orang itu untuk lebih banyak
belajar sendiri. Hal ini memang terjadi dalam belajar yang efektif. Setelah anak
kecil belajar berjalan beberapa langkah, ia lalu belajar sendiri jalan lebih jauh
dan memperoleh keseimbangan. Demikian pula, belajar semula dalam bidang
tertentu memungkinkan seseorang mengatur pelajaran selanjutnya sendiri.
Tanpa belajar sendiri seperti itu, pertumbuhan orang akan terbatas dan
bergantung pada sumber daya dari luar. Jadi, manajemen belajar digunakan
untuk menjamin bahwa belajar terjadi cepat, dipertahankan, diinternkan, dan
digunakan secara efektif, menimbulkan pengembangan kreativitas, dan
meningkatkan kemampuan untuk belajar sendiri.

H. Hubungan Belajar dengan Menghafal dan Ingatan

Menurut pandangan psikologi kuno, belajar ditafsirkan sebagai menghafal (Effendi &
Praja, 1993). Oleh karena itu, belajar dilakukan semata-mata dengan menghafal. Hasil
belajar ditandai dengan hafalnya seseorang tentang materi yang dipelajarinya.
Bahwa antara belajar dan menghafal terdapat hubungan timbal balik, memang benar.
Namun, belajar dalam arti sesungguhnya, sebetulnya berbeda dengan. menghafal.
Menghafal hanya merupakan sebagian dari kegiatan belajar secara keseluruhan.
Persamaannya adalah keduanya menyebabkan perubahan dalam diri individu.
Menghafal erat hubungannya dengan proses mengingat, yaitu proses untuk
menerima, menyimpan, dan memproduksikan tanggapan-tanggapan yang telah
diperolehnya melalui pengamatan (antara lain melalui belajar). Menghapai adalah
kemampuan untuk memproduksikan tanggapan-tanggapan yang telah tersimpan secara
cepat dan tepat, sesuai dengan tanggapan-tanggapan yang diterimanya.
Dalam menghafal, aspek perubahannya terbatas dalam kemampuan menyimpan dan
memproduksikan tanggapan. Adapun dalam belajar, perubahan itu tidak saja dalam hal
kemampuan tersebut, namun juga meliputi perubahan tingkah laku lainnya, seperti sikap,
pengertian, skills, dan sebagainya. Dengan demikian, belajar akan berhasil dengan baik
jika disertai kemampuan menghafal.
Sementara itu, sekalipun dalam belajar, kita menuju pengertian, tidak dapat kita
abaikan peranan ingatan dalam hal ini. Bahkan, apa yang kita mengerti, apa yang kita
alami sendiri, itu mudah kita ingat dan sukar kita lupa.
Dengan demikian, jelas, antara proses-proses belajar dan ingatan terdapat hubungan
yang erat. Tidak mungkin kita dapat mempelajari sesuatu tanpa tersangkutnya fungsi
ingatan sebagai salah satu aspek atau fungsi psikis. Belajar tanpa memori, tanpa
mengingat apa yang dipelajari adalah nonsens, tidak ada artinya. Dengan belajar, kita
bermaksud mendapatkan sesuatu; ini tidak mungkin tanpa pertolongan ingatan. Ingatan
yang kaya dan kuat sangat berjasa sekali dalam proses belajar.
Proses belajar telah kita ketahui mempunyai hubungan yang erat dengan pengertian
perubahan. Berbagai perubahan ini dialami secara setapak demi setapak, yaitu suatu
rangsangan dipersepsikan, kemudian diingat atau dicamkan, baru kemudian, menginjak
tahap berikutnya, yaitu latihan. Kadang-kadang, tanpa latihan terjadi proses pencaman
misalnya, suatu rangsang itu sangat berkesan. Dengan proses yang sifatnya berurutan ini,
kita dapat mempelajari sesuatu secara keseluruhan.
Manusia sebagai-pribadi, tidak saja dikenai oleh pengaruh-pengaruh dan proses-
proses pada waktu ini, atau yang akan datang saja, tetapi dikenai pula oleh sesuatu yang
pernah dialami, oleh pengalaman-pengalaman yang tertinggal pada dirinya dan
memungkinkan untuk mengaktifkan kembali.
Mengaktifkan kembali segala apa yang pernah dialami atau diamati, sebenarnya
bergantung dari fungsi-fungsi ingatan pada diri kita. Tertinggalnya jejak-jejak ingatan ini
dalam kesadaran kita adalah hakikat dari fungsi ingatan. Dengan demikian, sebenarnya
ingatan meliputi diperolehnya kesankesan (impression) dan pengalaman-pengalaman,
kemudian pencaman kesankesari ini, dan akhirnya mengeluarkan kembali dalam
kesadaran.
Masalahnya sekarang, bagaimana agar kemampuan yang ada pada diri kita dapat
digunakan sebaik-baiknya dalam proses belajar kita? Dalam hal ini Poespoprodjo (1969)
memberikan beberapa petunjuk sebagai berikut:
1) Sebelum Anda mulai, tanamlah selalu keinginan kuat untuk mengingat
yang harus atau hendak diingat. Sesuatu akan melekat pada ingatan Anda bila Anda
memang menghendaki mengingatnya. Akan tetapi, pastikan apa yang hendak Anda
ingat-ingat. Mengingat segala sesuatunya adalah tidak mungkin, karena tidak semua
perlu diingat.
2) Buatlah apa yang Anda ingat itu mempunyai arti sebesar mungkin.
Aturlah terlebih dahulu apa yang hendak Anda ingat. Arahkan pikiran pada hal
tersebut. Sering pikirkanlah. Bila mengulang, gunakanlah kalimat kunci yang dapat
menarik keluar seluruh rantai.
3) Mengetahui rantai hubungan diperlukan untuk ingatan. Ini memudahkan
kerjanya ingatan. Dan kita memasukkan hal berguna dalam proses belajar.
4) Perkaya dan perdalam dengan membaca buku-buku yang ada sangkut
pautnya.
5) Karena ingatan tanpa campur tangan akal budi bisa bekerja onfeilbaar,
tanpa salah sedikit pun, bila pada permulaan Anda menemukan suatu kesalahan,
segeralah mengambil tindakan menyingkirkan kesalahan tersebut. Gantilah dengan
yang benar. Segeralah! Jangan sekali-kali membiarkan kesalahan tadi berkecambah
clan berakar dalam ingatan Anda. Sangat berbahaya.
6) Jangan memusatkan terlalu banyak bahan pada ingatan. Ini mematikan
kerja akal budi dan mengganggu perhatian. Ingatlah baik-baik hal yang pokok,
esensial, lebih-lebih untuk menolong Anda maju nantinya. Pikiran bisa lumpuh
karena terlalu sarat muatan ingatan. Seperti makan terlalu banyak, merusak
kesehatan. Kita memakai memori untuk hidup.
7) Jangan menyimpan hal-hal yang tidak ada hubungannya. Ini tidak
berguna, hanya meracuni.
8) Jangan menimbun materi, kemudian memompanya dalam ingatan. Hal
tersebut memerkosa kodrat, dan kita cepat lupa semuanya. Ingatlah, ingatan
mempunyai waktunya sendiri. Bagi Anda, mana waktu yang terbaik bagi kerja
memori. Yang biasa ialah di akhir hari, ketika keadaan tenang, dan esok harinya
dikontrol kembali. Gunakanlah pada waktu-waktu singkat untuk mengadakan kontrol.
Memorasi dengan menggunakan waktu singkat tetapi sering frekuensinya adalah
lebih efisien.***

BAB 7 MOTIVASI

A. Studi Ilmiah tentang Motivasi Manusia


Konon selama paling sedikit dua ribu tahun, menurut David C. McClelland dalam
bukunya yang terkenal The Achieving Society (1961), para filsuf Barat berupaya mengkaji
alasan dan hasrat sebagai dua unsur yang jelas-jelas berbeda dalam pikiran manusia.
Unsur "hasrat", kata McClelland, niscaya merupakan jenis "kekuatan yang bersifat
mendorong", yang acap bertentangan dengan alasan, tetapi akhirnya selalu dikontrol oleh
alasan tersebut.
Dengan berkembangnya psikologi ilmiah modem pada pertengahan abad ke-19,
kaitan antara dua unsur itu memperoleh arti baru yang spesifik. Studi mengenai motivasi
manusia, ketika itu, sangat dipengaruhi oleh karya-karya biolng Inggris, Charles Darwin,
bahwa manusia dianggap sebagai makhluk yang terlibat dalam pergulatan keras dengan
alam untuk bisa bertahan hidup. Dari pergumulan keras tersebut, diasumsikan bahwa
manusia memiliki hasrat atau keinginan yang kuat untuk tetap hidup.
Para biolog dan psikolog menyatakan bahwa hasrat seperti itu secara mekanis
dikendalikan oleh tubuh manusia. Lebih lanjut, mereka mengatakan bahwa berbagai
kebutuhan badaniah, apabila tak terpenuhi, akan menggerakkan tanda-tanda bahaya
tertentu yang akan mengganggu tubuh hingga kebutuhan tersebut terpenuhi.
Sebuah contoh yang paling jelas adalah kebutuhan makanan. Apabila tidak
memperoleh makanan, kita tidak akan bertahan hidup. Oleh karena itu, tubuh kita
dilengkapi dengan tanda-tanda bahaya (yang mungkin dikendalikan oleh mengerutnya
perut yang kosong), yang akan bekerja bilamana tubuh memerlukan makanan. Kegiatan-
kegiatan "berakal" yang merupakan unsur alasan paling penting yang dimiliki manusia,
yang diyakini serta diarahkan oleh dorongan rasa lapar, dalam arti, rasa lapar itu
merangsang kegiatan sampai makanan menghentikan tanda-tanda bahaya tersebut.
Rasa lapar ini memang merupakan motivator yang kuat, dan semua orang yang
pernah mengalami kelaparan bisa membuktikannya. Untuk bertahan hidup, kita harus
makan, dan kita makan dengan cara sedemikian rupa untuk mempertahankan berat
badan. Bagaimana tepatnya kita melakukannya? Apa yang menentukan kapan kita mulai
makan, dan apa yang menentukan kapan kita berhenti?
Sebetulnya, terdapat sejumlah jawaban yang jelas mengenai pertanyaan tersebut,
yang semuanya tidak memuaskan. Kita barangkali menganggap bahwa yang memicu
makan adalah sesuatu yang eksternal dari tubuh kita; misalnya, kita makan karena
memang sudah tiba jam makan. Namun, hal tersebut bukan merupakan determinan utama
untuk makan. Jumlah makanan yang dimakan oleh seseorang tiap hari sangat berbeda-
beda di antara kultur (sebanyak lima kali pada sebagian kultur Eropa dan hanya sedikit
pada sebagian kultur Afrika); tetapi, selama makanan tersedia, orang pada kultur atau
kebudayaan yang berbeda memiliki berat yang kira-kira sama. Kemungkinan pemicu
eksternal lain untuk makan adalah melihat dan mencium bau makanan. Isyarat tersebut
kadang-kadang menyebabkan orang makan (atau makan berlebihan); namun sekali lagi,
hal ini bukan merupakan determinan utama makan. Meskipun isyarat tersebut dihilangkan,
orang masih dapat secara mudah mengatur asupan makanannya. Kita kian dekat dengan
jalan yang benar jika meninjau faktor internal. Faktor yang paling jelas adalah keadaan
lambung - kontraksi lambung memberi sinyal "inilah waktu untuk makan", dan lambung
yang terdistensi memberi sinyal agar berhenti. Jawaban ini mungkin tampak benar, tetapi
sekali lagi bukan jawaban yang memuaskan, karena orang yang lambungnya diangkat
(karena kanker atau ulkus yang besar) masih meregulasi asupan makanannya secara
cukup baik.
Lalu, apa sebenarnya yang merupakan determinan untuk makan? Menurut Atkinson
dan kawan-kawan, riset terakhir menyatakan bahwa kita secara otomatis memantau
jumlah berbagai nutrien yang disimpan dalam tubuh (sebagai contohnya, glukosa dan
lemak) dan termotivasi untuk makan bilamana cadangan energi itu turun di bawah tingkat
kritis.
Suatu kemajuan paling penting yang dibuat oleh para ahli psikologi adalah mereka
pada akhirnya membedakan antara makan dan alasan untuk makan. Psikologi yang
didasarkan atas akal sehat memberikan kesan bahwa semakin banyak seseorang makan,
semakin banyak pula keinginannya untuk makan. Begitu juga semakin banyak seseorang
itu mencapai, semakin banyak pula yang ingin dicapainya. Jika hasrat untuk makan
tersebut dapat benar-benar diasumsikan berasal dari kegiatan makan, sama sekali tidak
diperlukan konsep alasan. Namun, para ahli psikologi menemukan bahwa jika kekuatan
rangsangan lapar itu diukur dengan jumlah jam tanpa makanan, ternyata hal ini sama
sekali tidak sesuai dengan kegiatan makan yang sesungguhnya dari individu tersebut.
Karena itu, para psikolog cenderung membedakan antara motivasi dan tindakan, rasa
lapar dan makan, hasrat untuk berprestasi dan prestasi nyata itu sendiri.
Walaupun demikian, masih banyak yang mesti diteliti. Memang benar, bahwa para
psikolog Amerika bukan cuma meneliti mengenai alasan dan rangsangan rasa lapar.
Sebab, mereka juga meneliti rangsangan rasa haus, rangsangan untuk menghindari rasa
sakit, dan berbagai rangsangan dasar lainnya. Mereka meninjau berbagai rangsangan
tersebut sebagai kekuatan yang merangsang tingkah laku manusia sampai tubuh
menghentikannya dengan sesuatu yang dilakukannya. Sayang, seperti dikatakan
McClelland, hingga kini tidak ada perhatian khusus mengenai perbedaan-perbedaan
dalam kekuatan berbagai alasan dari beragam individu, misalnya dalam kemungkinan
bahwa seseorang tertentu memiliki rangsangan rasa lapar yang sangat kuat, baik karena
kebutuhan badaniah yang khas atau karena pengalaman-pengalaman khusus tertentu
yang dipelajarinya di masa lalu yang telah memperkuat kebutuhan tersebut. Baru-baru ini
saja para psikolog secara khusus tertarik pada perilaku manusia dan motif-motif sosial
yang bisa melengkapi tinjauan yang lebih bersifat holistik.
Dalam pandangan McClelland, banyak di antara psikolog yang terpengaruh oleh karya
Sigmund Freud, seorang psikolog Austria yang mengkhususkan diri dalam
ketidakteraturan pikiran manusia. Dia sendiri sebenarnya juga sangat dipengaruhi oleh
teori Darwin. Freud menyadari pentingnya kebutuhan untuk mempertahankan hidup
seperti lapar, tetapi menurut McClelland, ia lebih memuaskan perhatiannya pada
rangsangan untuk mengekalkan makhluk manusia, yaitu kehangatan seksual. Freud yakin
bahwa daya motif yang umum yang dinamakan "libido", merangsang manusia untuk
menemukan cara-cara terbaik untuk memuaskannya atau membelokkannya ke arah
sasaran lainnya.
Sementara itu, seorang psikolog, R.S. Woodworth (Effendy, 1983:7173), telah
mengadakan berbagai eksperimen mengenai motivasi ini, yang hasilnya disarankan untuk
dipraktikkan dalam kelompok kekaryaan. Salah satu di antaranya ialah persaingan
(competition). Dalam percobaan ini, diambil seorang karyawan yang sedang bekerja.
Sebagai hasil pekerjaannya, ia memperoleh jumlah tertentu. Kemudian, ia digantikan oleh
karyawan lain yang diperkirakan lebih tinggi jumlah hasilnya. Karyawan yang pertama
disuruh menyaksikannya. Setelah melihat kawan yang menggantikannya itu berprestasi
lebih tinggi, karyawan pertama tersebut berusaha dengan sungguh-sungguh untuk
menyamai hasil kerja saingannya tadi.
Eksperimen kedua ialah dengan cara bersaing sendiri (self competition). Ini sederhana
saja. Berikan kepada seorang karyawan sebuah pekerjaan. Lalu, berikanlah kepadanya
kesempatan untuk mencoba beberapa kali lagi. Namun sebelumnya, perlihatkan dulu hasil
percobaan pertama. la berusaha agar berhasil lebih baik daripada sebelumnya.
Eksperimen berikutnya ialah dengan cara "membuat jarak (pace making)".
Eksperimen ini sebenarnya dilakukan di luar situasi kerja, tetapi dapat dipraktikkan dalam
pekerjaan. Eksperimen dilakukan terhadap seorang pelari. Seorang pelari akan "lari lebih
cepat" jika di depannya terdapat seorang pengendara sepeda sebagai pembuat jarak
(pace maker) yang terusmenerus berada di depannya. Si pembuat jarak bukanlah saingan
yang sebenarnya, dan si pelari pun tidak ingin menyusulnya. Jadi, apakah gunanya
pembuat jarak itu? la merupakan tujuan terdekat yang selalu berada dekat di depan si
pelari, sehingga si pelari, dari waktu ke waktu, selalu berusaha sebaik-baiknya agar
jaraknya dengan pace maker itu tetap. Adapun untuk tujuan yang jauh daya pendorongnya
kurang. Eksperimen ini menunjukkan betapa pentingnya tujuan yang dekat dan dapat
dilihat. Dalam situasi kerja pun demikian. Target yang dekat akan menimbulkan daya
dorong yang lebih besar daripada target yang jauh untuk dicapai.
Ketiga eksperimen tersebut telah menggunakan perangsang-perangsang. Dan
perangsang-perangsang itu telah menimbulkan motif serta menggerakkan motif itu untuk
mencapai tujuan.

B. Motif dan Motivasi

Apakah motif itu? Apa pula bedanya dengan motivasi? Sebelum membicarakan
masalah motif atau motivasi lebih lanjut, ada baiknya kita menyimak terlebih dahulu
contoh-contoh berikut ini.
Beberapa hari belakangan ini, seorang mahasiswa begitu tekun mempelajari buku
hingga lewat tengah malam. Lelah dan kantuk tak dihiraukannya. Sementara itu, di tempat
lain, seorang petani mencangkul sawahnya dari pagi-pagi buta sampai terbenamnya
matahari, tanpa henti.
Apa sebetulnya yang menyebabkan mereka, mahasiswa dan petani, melakukan atau
bekerja seperti itu? Apa yang mendorong mereka berbuat demikian? Apa motif mereka
itu?
Pada dasarnya, motif merupakan pengertian yang melingkupi penggerak. Alasan-
alasan atau dorongan-dorongan dalam diri manusialah yang menyebabkan manusia itu
berbuat sesuatu. Semua tingkah laku manusia pada hakikatnya mempunyai motif. Juga
tingkah laku yang disebut tingkah laku secara refleks dan yang berlangsung secara
otomatis mempunyai maksud tertentu meskipun maksud itu tidak disadari oleh manusia.
Motif manusia bisa bekerja secara sadar dan juga secara tidak sadar. Untuk mengerti dan
memahami tingkah laku manusia dengan lebih sempurna, patutlah kita pahami dan
mengerti terlebih dahulu apa dan bagaimana motif-motifnya daripada tingkah lakunya.
Motif manusia merupakan dorongan, hasrat, keinginan, dan tenaga penggerak
lainnya, yang berasal dari dalam dirinya,. untuk melakukan sesuatu. Motif itu memberi
tujuan dan arah kepada tingkah laku kita. Juga berbagai kegiatan yang biasanya kita
lakukan sehari-hari mempunyai motif tersendiri. Kita membaca surat kabar pagi, misalnya,
untuk mengetahui peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekeliling kita. Kita makan tiga kali
sehari dari tidur setiap malam, dengan motif memenuhi kebutuhan makanan dan
kebutuhan istirahat.
Ada beberapa pendapat mengenai pengertian motif. Sherif & Sherif (1956), misalnya,
menyebut motif sebagai suatu istilah generik yang meliputi semua faktor internal yang
mengarah pada berbagai jenis perilaku yang bertujuan, semua pengaruh internal, seperti
kebutuhan (needs) yang berasal dari fungsi-fungsi organisme, dorongan dan keinginan,
aspirasi, dan selera sosial, yang bersumber dari fungsi-fungsi tersebut. Giddens (1991:64)
mengartikan motif sebagai impuls atau dorongan yang memberi energi pada tindakan
manusia sepanjang lintasan kognitif/perilaku ke arah pemuasan kebutuhan. Menurut
Giddens, motif tak harus dipersepsikan secara sadar. la lebih merupakan suatu "keadaan
perasaan". Secara singkat, Nasution menjelaskan bahwa motif adalah segala daya yang
mendorong seseorang .untuk melakukan sesuatu.
Dalam bukunya Management, Harold Koontz dan kawan-kawan (1980:632), mengutip
pendapat Berelson dan Steiner, mengemukakan bahwa motif "is an inner state that
energizes, activates, or moves (hence `motivation'), and that directs or channels behavior
toward goals" (adalah suatu keadaan dari dalam yang memberi kekuatan, yang
menggiatkan, atau yang menggerakkan, sehingga disebut `penggerakan' atau `motivasi',
dan yang mengarahkan atau menyalurkan perilaku ke arah tujuan-tujuan).
Menurut Guralnik (1979:314) dalam Webster's New World Dictionary, "Motive: an inner
drive, impulse, etc., that causes one to act" (Motif: suatu perangsang dari dalam, suatu
gerak hati, dan sebagainya, yang menyebabkan seseorang rnelakukan sesuatu).
R.S. Woodworth mengartikan motif sebagai suatu set yang dapat atau mudah
menyebabkan individu untuk melakukan kegiatan-kegiatan tertentu (berbuat sesuatu) dan
untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu.
Jadi, motif itu adalah tujuan. Tujuan ini disebut insentif (incentive). Adapun insentif
bisa diartikan sebagai suatu tujuan yang menjadi arah suatu kegiatan yang bermotif.
Contoh motif, seperti telah disinggung, adalah lapar (hunger), maka insentifnya adalah
makanan.
Meskipun para ahli memberikan pengertian tentang motivasi dengan "bahasa" dan titik
tekan yang berbeda-beda, sesuai bidang ilmu yang mereka pelajari, pada dasarnya ada
juga semacam kesamaan pendapat yang dapat ditarik mengenai pengertian motif ini,
yakni bahwa motif adalah kondisi seseorang yang mendorong untuk mencari suatu
kepuasan atau mencapai suatu tujuan. Jadi, motif adalah suatu alasan atau dorongan
yang menyebabkan seseorang berbuat sesuatu, melakukan tindakan, atau bersikap
tertentu.
Secara etimologis, motif atau dalam bahasa Inggrisnya motive, berasal dari kata
motion, yang berarti "gerakan" atau "sesuatu yang bergerak". Jadi, istilah "motif" erat
berkaitan dengan "gerak", yakni gerakan yang dilakukan oleh manusia, atau disebut juga
perbuatan atau tingkah laku. Motif dalam psikologi berarti rangsangan, dorongan, atap
pembangkit tenaga bagi terjadinya suatu tingkah laku.
Selain motif, dalam psikologi dikenal pula istilah motivasi. Sebenarnya, motivasi
merupakan istilah yang lebih umum yang menunjuk pada seluruh proses gerakan,
termasuk situasi yang mendorong, dorongan yang timbul dalam diri individu, tingkah laku
yang ditimbulkannya, dan tujuan atau akhir dari gerakan atau perbuatan. Karena itu, bisa
juga dikatakan bahwa motivasi berarti membangkitkan motif, membangkitkan daya gerak,
atau menggerakkan seseorang atau diri sendiri untuk berbuat sesuatu dalam rangka
mencapai suatu kepuasan atau tujuan.
Seseorang melaksanakan kecakapannya karena ada suatu motif. Jika, motif itu tidak
timbul, belum tentu ia berbuat demikian. Di muka dikatakan bahwa pada umumnya
mahasiswa itu rajin belajar. Akan tetapi, kalau seorang mahasiswa begitu tekun belajar,
membaca buku hingga lewat tengah malam, tanpa menghiraukan atau merasakan kantuk
dan kelelahan, itu disebabkan oleh adanya motif yang timbul padanya. Contoh lain, jika
terjadi suatu pembunuhan, misalnya, yang pertama-tama timbul pada benak seorang
petugas kepolisian atau seorang hamba hukum ialah pertanyaan "apakah motif
pembunuhan itu". Artinya, jika seseorang membunuh, pasti ada motifnya.
Oleh sebab itu, pembahasan mengenai motivasi akan memberi jawaban atas
pertanyaan "mengapa": "mengapa mahasiswa harus tekuh belajar", "mengapa petani
harus bekerja keras", "mengapa orang itu membunuh", "mengapa dia bersikap demikian",
"mengapa orang itu bertingkah laku aneh", dan seterusnya.
Sesungguhnya, motivasi itu sendiri bukan merupakan suatu kekuatan yang netral,
atau kekuatan yang kebal terhadap pengaruh faktor-faktor lain, misalnya pengalaman
masa lampau, taraf inteligensi, kemampuan fisik, situasi lingkungan, cita-cita hidup, dan
sebagainya.
Dalam suatu motif, umumnya terdapat dua unsur pokok, yaitu unsur dorongan atau
kebutuhan dan unsur tujuan (Handoko, 1992:10). Proses interaksi timbal balik antara
kedua unsur ini terjadi di dalam diri manusia, namun dapat dipengaruhi oleh hal-hal di luar
diri manusia. Misalnya, keadaan cuaca, kondisi lingkungan, dan sebagainya. Oleh karena
itu, bisa saja terjadi perubahan motivasi dalam waktu yang relatif singkat jika ternyata
motivasi yang pertama mendapat hambatan atau tidak mungkin terpenuhi.
Psikologi mengajukan pertanyaan tentang motivasi karena psikologi ingin mengerti
gejala-gejala psikis yang menjadi objek ilmu jiwa. Seperti setiap ilmu pengetahuan yang
melebihi taraf deskripsi belaka, psikologi pun tidak hanya memandang dan melukiskan
objeknya, tetapi juga ingin mengerti. "Mengerti" berarti mengetahui sebab-musababnya.
Dan karena tingkah laku manusia yang hendak dimengerti oleh psikologi, sebab-
musababnya disebut "motif" atau "motivasi", mengingat manusia adalah makhluk berbudi.
Karena itu, Nico Syukur Dister OFM memakai "motif" tersebut sebagai "penyebab
psikologis yang merupakan sumber serta tujuan dari tindakan dan perbuatan seorang
manusia" (Dister, 1994:71). Menurut Dister, penyebab ini bersifat kausal dan sekaligus
final. Artinya, manusia melakukan perbuatannya, baik karena terdorong maupun tertarik.
Yang khususnya diselidiki psikologi ialah kebutuhan dan keinginan manusia, baik
keinginan yang disadari maupun yang tidak disadarinya.
Dalam pandangan Dister, setiap tingkah laku manusia merupakan buah hasil dari
hubungan dinamika timbal-balik antara tiga faktor. Ketiga-tiganya memainkan peranan
dalam melahirkan tindakan manusia, walaupun dalam tindakan, faktor yang satu lebih
besar peranannya dibandingkan faktor yang lain. Ketiga faktor yang dimaksudkan Dister
tersebut ialah: (1) sebuah gerak atau dorongan yang secara spontan dan alamiah terjadi
pada manusia; (2) ke-aku-an manusia sebagai inti pusat kepribadiannya; (3) situasi
manusia atau lingkungan hidupnya (Dister, 1994:72-73). Tinjauan secara rinci mengenai
ketiga faktor tersebut adalah sebagai berikut.
1. Dorongan Spontan Manusia
Pada setiap orang, terdapat kecenderungan yang bersifat spontan. Artinya, dorongan
ini timbul dengan sendirinya dan tidak ditimbulkan manusia dengan sengaja. Dorongan
semacam ini bersifat alamiah dan bekerja otomatis. Tidak dikerjakan manusia dengan
"tahu dan mau". Contohnya, dorongan seksual, nafsu makan, kebutuhan akan tidur.
Sejauh perbuatan manusia didasarkan pada dorongan spontan itu, perbuatan tersebut
boleh dikatakan "mendahului pribadi manusia". Artinya, perbuatan itu belum dijiwai atau
diserapi oleh inti kepribadian orang yang bersangkutan.
2. Ke-aku-an sebagai Inti-pusat Kepribadian Manusia
Suatu dorongan yang secara spontan "terjadi" pada diri manusia dapat ia jadikan
miliknya sendiri, kalau ia menanggapi dorongan itu secara positif. la mengiyai, menyetujui
dorongan itu. Kalau demikian, ke-aku-an manusia, pusat kebebasan itu, dengan tahu dan
mau, mengambil bagian dalam "kejadian" itu. Akibatnya ialah proses yang tadinya "terjadi"
padaku kini kujadikan sendiri sehingga kini menjadi perbuatanku. Bahkan, jika aku tidak
giat-aktif melainkan lebih pasif, misalnya jika aku menanggung atau menderita sesuatu,
tanggungan dan penderitaan itu dapat dijadikan milikku sendiri, sehingga menjadi betul-
betul perbuatanku. Berkat ke-aku-annya, manusia bersifat bebas dan sedikit banyak dapat
melaksanakan atau menolak apa yang terjadi pada dirinya. Itulah sebabnya tingkah
laku .manusia dapat mempertahankan otonominya terhadap dorongan spontan yang
merupakan asal-usul tingkah laku itu. Dengan menunda saat makan, misalnya, walaupun
ia lapar, manusia mampu mempertahankan otonomi tersebut.
3. Situasi atau Lingkungan Hidup Manusia
Selain faktor pertama dan kedua, masih ada faktor ketiga yang harus diikutsertakan
dalam menerangkan tingkah laku manusia secara psikologis, yaitu situasi atau
lingkungan hidup seseorang. Tindakan dan perbuatan manusia itu tidak terlepas dari
dunia di sekitarnya. Tentu saja akulah yang melakukan perbuatan tertentu untuk
melaksanakan rencanaku (= faktor keakuan), tetapi rencana itu kuterima tidak hanya dari
dorongan-dorongan spontan yang ada padaku (= faktor naluri), tetapi juga dari
perangsang-perangsang yang berasal dari dunia sekitarku (= faktor lingkungan). Lagi
pula, pelaksanaan tersebut berlangsung di dunia, sehingga seluruh perbuatan itu
menjurus ke dunia juga. Perlu dicatat bahwa yang disebut "dunia" atau "lingkungan" ialah
buah hasil dari pertukaran antara pengalaman batin manusia dan hal-ihwal di luar diri
manusia. Perlu pula dicatat bahwa ketiga faktor tersebut tidak boleh dipisah-pisahkan
satu sama lain. Amat keliru bila memutlakkan satu faktor dan menghilangkan faktor
lainnya.

C. Lingkaran Motivasi (Motivational Cycle)

Sudah dijelaskan di muka bahwa motif dalam psikologi mempunyai arti rangsangan,
dorongan, atau pembangkit tenaga bagi terjadinya suatu tingkah laku. Karena
dilatarbelakangi adanya motif, tingkah laku tersebut disebut "tingkah laku bermotivasi"
(Dirgagunarsa, 1996:92). Tingkah laku bermotivasi itu sendiri dapat dirumuskan sebagai
"Tingkah laku yang dilatarbelakangi oleh adanya kebutuhan dan diarahkan pada
pencapaian suatu tujuan, agar suatu kebutuhan terpenuhi dan suatu kehendak
terpuaskan" (Dirgagunarsa, 1996:93-94). Dalam perumusan tersebut, kita lihat beberapa
unsur pada tingkah laku yang membentuk lingkaran motivasi (motivational cycle), seperti
digambarkan berikut ini.

Kebutuhan

Tujuan

tingkah laku

1. Kebutuhan
Motif pada dasarnya bukan hanya merupakan suatu dorongan fisik, tetapi juga
orientasi kognitif elementer yang diarahkan pada pemuasan kebutuhan. Energi semacam
ini bukan tanpa tatanan. Meminjam katakata Giddens (1984:13), ada "suatu hubungan
dinamis antara motivasi dan tujuan". Jadi, jika kita menganalisis aktualisasi fisik dan
kognitif terhadap kebutuhan (atau betapa pun kita ingin mengonseptualkan perilaku yang
bermotivasi), kita menemui pertanyaan-pertanyaan politik, ekonomi, ideologi, dan budaya.
Ketika orang-orang berupaya memuaskan kebutuhan cinta, penerimaan masyarakat, atau
rasa memiliki, misalnya, mereka senantiasa dihadapkan pada saran-saran mengenai
bagaimana memuaskan kebutuhan itu. Impuls-impuls yang bermotivasi tidaklah kebetulan.
Mereka mencerminkan pengalaman sosial. Karena itu, ada hubungan dinamis antara
agitasi di dalam diri dan organisasi dari dunia di luar diri, yaitu "Apa yang orang
orientasikan dalam hidup sehari-hari, apa yang mereka rasakan patut didiskusikan. Dan
yang mereka coba kelola, adalah harapan dan kekuatiran mereka, impian, kecemasan,
rasa bersalah, dan sebagainya, serta ciri-ciri struktural dari hubungan serta institusi sosial
tempat mereka merasa terlibat" (Herre, et al., 1985:29-30).
Memang, hampir semua ahli teori kegunaan dan kepuasan merekomendasikan
sebuah konsep sentral dalam psikologi, yakni kebutuhan, sebagai titik tolak analisis.
Namun, pikiran dan persepsi mereka tentang apakah kebutuhan itu, tidaklah sama. Katz
dan kawan-kawan, misalnya, menelusuri asal-usul kebutuhan pada apa yang secara
samar-samar mereka identifikasikan sebagai "asal-usul sosial dan psikologis"-nya (Katz,
et.al;, 1974:14). Rosengren (1974:270) mendefinisikan kebutuhan sebagai "infrastruktur
biologis dan psikologis yang menjadi landasan bagi semua perilaku sosial manusia" dan
bahwa "sejumlah besar kebutuhan biologis dan psikologis... menyebabkan kita beraksi
dan bereaksi".
Dari segi arti psikologis, Musthafa Fahmi menjelaskan kata "kebutuhan" sebagai suatu
istilah yang digunakan secara sederhana untuk menunjukkan suatu pikiran atau konsep
yang menunjuk pada tingkah laku makhluk hidup dalam perubahan dan perbaikan yang
tergantung atas tunduk dan dihadapkannya pada proses pemilihan (Fahmi, 1977: 45).
Batasan ini, menurut Fahmi, dikenal sebagai batasan pragmatis.
McQuail, Blumler, dan Brown (1972:144) berpendapat bahwa kebutuhan berasal dari
"pengalaman sosial" dan bahwa media massa sekalipun "kadang-kadang dapat
membantu membangkitkan khalayak ramai mengenai suatu kesadaran akan kebutuhan
tertentu yang berhubungan dengan situasi sosialnya".
Pada akhirnya, semua penulis ini mengakui bahwa mereka kehilangan kata-kata
untuk menjelaskan apa sebenarnya "kebutuhan" itu. Secara tak terelakkan, mereka
tunduk pada konsep kebutuhan yang berlandaskan pada teori psikologi mengenai
motivasi seperti pendekatan aktualisasi diri dari Abraham Maslow (1952;1962).
Karena kebutuhan tidak bisa diamati secara langsung, kita hanya bisa berspekulasi
tentang usul-usul dan bentuknya. Karena itu, barangkali ada manfaatnya untuk berpaling
pada para ahli psikologi untuk definisi dan tipologi. Dalam psikologi, konsep "kebutuhan"
merupakan landasan bagi sejumlah karya teoretis paling penting dalam disiplin ilmu
tersebut, termasuk teori disonansi kognitif (cognitive dissonance), teori pertukaran sosial
(social exchange), teori atributif (attribution), dan beberapa aliran psikoanalisis.
Psikolog Amerika Frederick Samuels, seperti dikutip Lull (1998), meninjau sejarah
kebutuhan sebagai sebuah konsep psikologis. Samuel berpendapat bahwa kebutuhan
untuk bertahan hidup (fisiologis), seperti kebutuhan akan pangan, air, dan tidur,
merupakan bagian dari sistem kategori setiap teoretikus. Bahkan, ia mencatat bahwa di
antara para teoretisi yang "telah bergerak melampaui (pertimbangan) kebutuhan fisiologis
... sebagai dasar bagi perilaku manusia" sekalipun, ada suatu konsensus umum bahwa
"kebutuhan merupakan sesuatu yang fundamental bagi kodrat manusia individual.
Kebutuhan diam di dalam individu itu, disadari atau tidak" menurut Samuel, kebutuhan
fisiologis dan psikologis seperti keamanan pribadi, merasa diri bagian masyarakat, dan
harga diri, boleh jadi malahan
"terletak di dalam inti pra-diri dari setiap manusia yang lahir". Konsepkonsep lain yang
lebih abstrak mengenai kebutuhan seperti aktualisasi diri, kebutuhan kognitif (rasa ingin
tahu), kebutuhan estetis, dan kebutuhan berekspresi, kurang jelas diberikan bersama kita
ketika lahir, namun sentral bagi pengalaman manusia. Lebih lanjut, kebutuhan tidak
berdiri sendiri. Sebagian kebutuhan terkandung di dalam atau bertumpang tindih dengan
kebutuhan-kebutuhan lain.
Istilah "kebutuhan" juga mengimplikasikan suatu keadaan kekurangan seperti lapar
dan haus atau akan hal-hal esensial seperti tempat berlindung, keamanan pribadi, serta
stabilitas kognitif dan sosial. Jelas bahwa kebutuhankebutuhan ini mendasar bagi
kesejahteraan individu. Akan tetapi mamuaskan suatu kebutuhan dapat bermakna jauh
lebih luas daripada sekadar bereaksi terhadap kekurangan yang bersifat bilogis atau
psikologis (Lull, 1998).
Pada umumnya, para ahli psikologi berpendapat bahwa manusia juga tergerak untuk
menemukan, menumbuhkan, mentransendensikan, dan saling berbagi. Kebutuhan-
kebutuhan tingkat tinggi ini dibahas, misalnya, dalam hierarki kebutuhan Maslow yang
terkenal itu. Kebutuhan-kebutuhan tingkat yang lebih tinggi menjadi menonjol ketika
kebutuhan biologis dan rasa aman su,dah terpenuhi. *

2. Teori-Teori Kebutuhan
Uraian berikut ini membahas teori-teori penting mengenai kebutuhan dalam psikologi
modern. Teori-teori ini setidaknya dapat membantu kita untuk memahami masalah
kebutuhan secara lebih utuh. Di sini, hanya akan diketengahkan enam teori saja sebagai
hasil pemikiran para ahli, yakni: Abraham Maslow, Alderfer, Herzberg, Murray, McClelland,
dan Vroom.
a. Hierarki Kebutuhan Maslow
Hierarki kebutuhan Maslow merupakan salah satu teori motivasi paling
terkenal. Teori ini dapat dijumpai di hampir semua buku pelajaran psikologi di
universitas. Teori ini sangat berpengaruh dalam psikologi industri dan organisasi
sebagai teori motivasi kerja dan digunakan dalam bidang terapan lainnya, seperti
konseling, pemasaran, dan pariwisata. Secara singkat, Maslow berpendapat
bahwa kebutuhan manusia sebagai pendorong (motivator) membentuk suatu
hierarki atau jenjang peringkat. Pada awalnya, Maslow mengajukan hierarki lima
tingkat yang terdiri atas kebutuhan fisiologis, rasa aman, cinta, penghargaan dan
mewujudkan jati diri. Di kemudian hari, ia menambahkan kebutuhan lagi, yaitu
kebutuhan untuk mengetahui dan memahami, serta kebutuhan estetika (Ross,
1998). Namun, tidak jelas bagaimana kedudukan kedua kebutuhan ini dalam
hierarki awal tersebut. Maslow berpendapat, jika tidak ada satu pun dari kebutuhan
dalam hierakhi tersebut dipuaskan, perilaku akan didominasi oleh kebutuhan
fisiologi. Akan tetapi, jika kebutuhan fisiologis telah terpuaskan serta kebutuhan
tersebut tidak lagi dapat mendorong atau memotivasi; orang itu akan dimotivasi
oleh kebutuhan tingkat berikutnya dalam hierakhi itu, yaitu kebutuhan rasa aman.
Begitu kebutuhan rasa aman terpuas orang itu beranjak ke tingkat berikutnya, dan
begitu seterusnya, terus menaiki hierarki, tingkat demi tingkat.
Dalam bukunya yang berjudul Motivation and Personality (195 Maslow
menggolongkan kebutuhan manusia itu pada lima ting kebutuhan (five hierarchy of
needs). Kelima tingkat kebutuhan ini menurut Maslow, ialah berikut ini.
1) Kebutuhan-kebutuhan yang bersifat fsiologis (physiological needs) Yang paling
dasar, paling kuat, dan paling jelas di antara segala kebutuhan manusia adalah
kebutuhan untuk mempertahankan hidupnya secara fisik, yaitu kebutuhan
makanan, minuman, tempat berteduh, seks, tidur, dan oksigen. Seseorang
yang mengalami kekurangan makanan, harga-diri, dan cinta, pertama-tama
akan memburu makanan terlebih dahulu. la akan menahan kebutuhan fsiologis
lainnya sampai kebutuhan itu terpuaskan. "Bagi orang yang berada dalam
keadaan sangat lapar dan membahayakan, tak ada minat lain, kecuali pada
makanan. la bermimpi tentang makanan, ia teringat tentang makanan, ia berpikir
tentang makanan, emosinya tergerak hanya pada makanan, ia hanya
mempersiapkan makanan dan ia hanya menginginkan makanan ... orang
semacam itu secara tegas dapat dikatakan bisa hidup dengan makanan
belaka" (Goble, 1987:71).
Memang, di antara sekian banyak kebutuhan fisik, makanan adalah yang
utama; baru menyusul pakaian, perumahan, dan sebagainya. Tidak
mengherankan kalau ada ungkapan yang berbunyi the stomach can't wait,
perut tidak bisa menuttggu. Orang bisa bingung, sedih, marah, bahkan kalap
apabila tidak menjumpai makanan.
Maslow berpendapat, keyakinan kaum Behavioris bahwa kebutuhan-
kebutuhan fisiologis memiliki pengaruh yang besar pada tingkah laku manusia
hanya dapat dibenarkan sejauh kebutuhan-kebutuhan itu tidak terpuaskan.
Bagi banyak orang yang hidup di tengah masyarakat yang beradab, jenis-jenis
kebutuhan dasar ini telah terpuaskan secara memadai. "Lalu apa yang terjadi
dengan hasrat-hasrat manusia tatkala telah tersedia makanan secara melimpah
dan tatkala perut mereka kenyang?" Maslow bertanya lalu menjawab, "Dengan
segera, kebutuhan-kebutuhan lain (dan yang lebih tinggi) akan muncul, lalu
kebutuhan-kebutuhan inilah yang akan mendominasi si organisme, bukan lagi
kebutuhan-kebutuhan fisiologis. Selanjutnya, jika pada gilirannya kebutuhan-
kebutuhan ini telah pula dipuaskan, lagi-lagi muncul kebutuhan-kebutuhan baru
(lebih tinggi lagi), dan begitu seterusnya. Inilah yang kami maksud tatkala kami
menyatakan bahwa kebutuhan-kebutuhan dasar manusia diatur dalam sejenis
hierarki kekuatan yang bersifat relatif" (Goble, 1987:72).
Menurut Maslow, selama The nethidupnya,
ful fll praktis manusia selalu mendambakan
sesuatu. Manusia adalah binatang yang berhasrat dan jarang mencapai taraf
One’s unique
kepuasan yang sempurna,Potential kecuali untuk suatu saat yang terbatas. Begitu suatu
Self-actualitation Needs
hasrat berhasil dipuaskan, segera muncul hasrat lain sebagai gantinya.
(kebutuhan mengatualisasikan
2) Kebutuhan akan rasa aman (safety needs). Pada dasarnya,kebutuhan Diri) rasa
aman ini mengarah pada dua bentuk, yakni:
a) Kebutuhan keamanan jiwa;to achive, be
Eseem needs:
b) Kebutuhan keamanan Competent gain approval
harta.
and recognition
Kebutuhan rasa aman muncul sebagai kebutuhan yang paling penting
(kebutuhan kepercayaan diri:
kalau kebutuhanmencapai, psikologis telah terpenuhi. Ini meliputi kebutuhan
mampu, mendapat
perlindungan, keamanan,
pencapaianhukum, kebebasan dari rasa takut, dan kecemasan.
dan pengakuan)
Dalam pandangan Maslow, kebutuhan rasa aman sudah dirasakan individu
Psychological
sejak kecil ketika ia mengeksplorasi lingkungannya. Misalnya,Needs ketika ia merasa
(Kebutuhan
terancam oleh bunyi guntur, kilatan lampu, dan sebagainya. Seperti anak-anak,
Psikologis)
orang dewasaBelongingnes
pun membutuhkan
and lob needs:rasa aman, hanya saja kebutuhan tersebut
to affiliate
lebih kompleks. With others; to
Karena kebutuhan rasa aman
Be accepted and belongini biasanya terpuaskan pada orang-orang
(kebutuhan akan cinta dan anggota
dewasa yang normal dan sehat, cara terbaik untuk memahaminya ialah dengan
Keluarga: berhubungan dengan orang
mengamati orang-orang dewasa yang mengalami gangguan neurotik. Orang-
lain, diterima dan jadi anggota)
orang dewasa yang tidak aman atau neurotik,' bertingkah laku sama seperti
anak-anak yang tidak aman. "Orang semacam ini", kata Maslow, "bertingkah
laku seakan-akan selalu dalam keadaan terancam bencana besar. Artinya, ia
bertindak Safety needs: to feel menghadapi
seolah-olah secure, safe, and out of danger darurat........dapat dikatakan,
keadaan
(kebutuhan keamanan, merasa pasti , aman
seorang dewasa yang neurotik akan bertingkah dan bebas dari laku
bahaya)seolah
Fundamental
Needs
(Kebutuhan
Dasar)
Psyiological needs: to statisty hunger, thrist, and sex drives
(kebutuhan fisik: memenuhi rasa lapar, dahaga dan dorongan nafsu)
Gambar 13
Hierarki Kebutuhan dari Maslow.
Menurut Maslow, kebutuhan dasar (kebutuhan dasar fisik dan kebutuhan
rasa aman) harus lebih dulu dipenuhi sebelum beranjak pada pemenuhan
kebutuhan psikologis (kebutuhan akan cinta, menjadi anggota kelompok, dan
harga diri). Selanjutnya hal ini harus dilakukan secara hati-hati sebelum kita
memenuhi kebutuhan kita.

seakan-akan selalu dalam keadaan terancam bencana besar. Artinya, ia selalu


bertindak seolah-olah menghadapi keadaan darurat ... dapat dikatakan, seorang
dewasa yang neurotik akan bertingkah laku seolah-olah ia benar-benar takut kena
pukul..." (Goble, 1987: 73). ,
3) Kebutuhan cinta dan memiliki-dimiliki (belongingness and love ' needs)
Kebutuhan untuk memiliki dan mencintai, muncul ketika kebutuhan sebelumnya
telah dipenuhi secara rutin. Orang butuh dicintai dan pada gilirannya butuh
menyatakan cintanya. Cinta di sini berarti rasa sayang dan rasa terikat (to belong).
Rasa saling menyayangi dan rasa diri terikat antara orang yang satu dan lainnya,
lebih-lebih dalam keluarga sendiri, adalah penting bagi seseorang. Di luar keluarga,
misalnya teman sekerja, teman sekelas, dan lain-lainnya, seseorang ingin agar
dirinya disetujui dan diterima.
Maslow mengatakan bahwa kita semua membutuhkan rasa diingini dan
diterima oleh orang lain. Ada yang memuaskan kebutuhan ini melalui berteman,
berkeluarga, atau berorganisasi: Tanpa ikatan ini, kita akan merasa kesepian.
Namun, tentu saja rasa kesepian ini tidak selalu memberi dampak negatif pada
kepribadian. Bagi sejumlah orang, rasa sepi bisa menciptakan kreativitas.
Konseptualisasi Maslow tentang cinta sebagai deficiency needs merupakan ciri
selfish seseorang yang mencari cinta dari orang lain. Akan tetapi, sebenarnya,
Maslow membedakan. kebutuhan ini dengan B-love (being love). Bagi Maslow, B-
love memiliki tingkat yang lebih tinggi. Hal itu bisa terwujud jika seseorang telah
terpuaskan kebutuhan dasarnya dan bergerak menuju aktualisasi diri.
Cinta, sebagaimana kata itu digunakan oleh Maslow, tidak boleh dikacaukan
dengan seks, yang dapat dipandang sebagai kebutuhan fisiologis semata-mata.
Menurut Maslow, biasanya tingkah laku seksual ditentukan oleh banyak kebutuhan,
bukan hanya oleh kebutuhan seksual, melainkan juga oleh aneka kebutuhan lain,
yang utama. Di antaranya ialah kebutuhan cinta dan kebutuhan kasih sayang.
Maslow menyukai rumusan Carl Rogers tentang cinta, yaitu "keadaan dimengerti
secara mendalam dan diterima dengan sepenuh hati".
4) Kebutuhan penghargaan (esteem needs)
Pemenuhan kebutuhan penghargaan menjurus pada kepercayaan terhadap
diri sendiri dan perasaan diri berharga.
Kebutuhan akan penghargaan sering kali diliputi frustrasi dan konflik pribadi,
karena yang diinginkan orang bukan saja perhatian dan pengakuan dari
kelompoknya, melainkan juga kehormatan dan status yang memerlukan standar
moral, sosial, dan agama.
Maslow membagi kebutuhan penghargaan ini dalam dua jenis: Pertama,
penghargaan yang didasarkan atas respek terhadap kemainpuan, kemandirian,
dan perwujudan kita sendiri. Kedua, penghargaan yang didasarkan atas penilaian
orang lain. Penghargaan yang terakhir ini dapat dilihat dengan baik dalam usaha
untuk mengapresiasikan diri dan mempertahankan status.
Kebutuhan penghargaan diri umumnya diabaikan oleh Sigmund Freud, namun
sangat ditonjolkan oleh Alfred Adler. Seseorang yang memiliki cukup harga diri
akan lebih percaya diri serta lebih mampu, dan selanjutnya lebih produktif.
Sebaliknya, jika harga dirinya kurang, ia akan diliputi rasa rendah diri serta rasa
tidak berdaya, yang selanjutnya dapat menimbulkan rasa putus asa serta tingkah
laku neurotik. Harga diri yang paling stabil, karenanya juga yang paling sehat,
tumbuh dari penghargaan yang wajar dari orang-orang lain, bukan karena nama
harum, kemasyhuran, serta sanjungan kosong.
5) Kebutuhan aktualisasi diri (self-actualization needs)
Kebutuhan aktualisasi diri timbul pada seseorang jika kebutuhan-kebutuhan
lainnya telah terpenuhi. Karena kebutuhan aktualisasi diri, sebagaimana kebutuhan
lainnya, menjadi semakin penting, jenis kebutuhan tersebut menjadi aspek yang
sangat penting dalam perilaku manusia.
Maslow melukiskan kebutuhan aktualisasi ini sebagai hasrat untuk menjadi diri
sepenuh kemampuannya sendiri, menjadi apa saja menurut kemampuannya. Ia
mendasarkan teori aktualisasi diri dengan asumsi bahwa setiap manusia memiliki
hakikat intrinsik yang baik, dan itu memungkinkan untuk mewujudkan
perkembangan. Perkembangan yang sehat terjadi bila manusia mengaktualisasikan
diri dan mewujudkan segenap potensinya.
Lebih jauh, Maslow mengatakan bahwa perkembangan yang sehat hanya
mungkin ada di dalam masyarakat yang sehat. Apakah potensi kita terpenuhi atau
teraktualisasi, bergantung pada kekuatan-kekuatan individu dan sosial yang
memajukan atau menghambat aktualisasi diri. Jika lingkungan menekan, individu
akan berkembang menjadi neurotik. Tujuan Maslow adalah mempelajari berapa
banyak potensi yang dimiliki manusia untuk bisa berkembang dan mengungkap
manusia sepenuhnya. Baginya, untuk menyelidiki kesehatan psikologis, satu-
satunya tipe orang yang dipelajari adalah orang yang sehat.
Maslow, sebetulnya, tidak memberikan teori yang komprehensif mengenai
perkembangan kepribadian. la hanya lebih merasa prihatin mengenai perkembangan
aktualisasi diri manusia. Lebih jauh lagi, Maslow mengungkapkan berbagai
gagasan bagaimana seorang individu bisa mengaktualisasikan diri, dan bagaimana
melalui pendidikan, masyarakat dapat mendorong aktualisasi diri.
Namun, aktualisasi diri merupakan suatu tujuan yang tak pernah bisa dicapai
sepenuhnya. Hanya sedikit orang, kata Maslow, yang mencapai aktualisasi diri
sepenuhnya, sebab gerakan ke arah aktualisasi diri ini tidak secara otomatis. Salah
satu prasyarat untuk mencapai aktualisasi diri adalah terpuaskannya berbagai
kebutuhan yang lebih rendah, yaitu kebutuhan-kebutuhan fisiologis, rasa aman,
memiliki dan cinta, serta penghargaan. Meskipun demikian, sebenarnya orang-
orang yang telah memenuhi kebutuhan dasar pun, gerakan ke arah aktualisasi diri
ini tidaklah mudah. Hal ini disebabkan beberapa faktor (Budiharjo, 1997):
Pertama, aktualisasi diri adalah kebutuhan naluriah yang paling lemah (jauh
lebih lemah dari basic needs), sehingga dapat dengan mudah dikuasai oleh
kebiasaan, tekanan, kebudayaan, dan sikap yang salah terhadap aktualisasi diri.
Kedua, orang-orang sering takut untuk mengetahui diri sendiri yang sebenarnya
penting untuk aktualisasi diri. Dengan mengetahui diri sendiri, konsep diri
seseorang dapat berubah dan secara tak terelakkan melibatkan dilepaskannya
kepastian yang telah lama diketahui dan dipercayai untuk digantikan dengan
konsep-konsep yang baru, hal-hal yang tidak diketahui dan tidak pasti.
Ketiga, aktualisasi diri pada umumnya memerlukan lingkungan yang memberi
kebebasan kepada seseorang bebas untuk mengungkapkan dirinya, menjelajah,
memilih perilakunya, dan mengejar nilai-nilai seperti kebenaran, keadilan, dan
kejujuran.
Pada dasarnya, kebutuhan aktualisasi diri berbeda pada setiap orang ; artinya,
aktualisasi diri antara orang yang satu berbeda dengan orang yang lain. Selain itu,
aktualisasi diri tidak melibatkan bakat istimewa atau kegiatan-kegiatan yang artistik
atau kreatif. Aktualisasi dapat diwujudkan dalam aktivitas-aktivitas manusia yang
mana pun. Orang yang mengaktualisasi diri dimotivasi oleh metakebutuhan-
metakebutuhan (growth motivation/being motives/metamotives) yang berorientasi
penyesuaian kehidupan individu dengan kecenderungan-kecenderungan
aktualisasi diri yang unik dan ditujukan untuk meningkatkan pengalaman atau
ketegangan yang mengarah pada pertumbuhan dalam diri.

b. Teori ERG (Existence, Relatedness, Growth)


Apabila Maslow mengemukakan lima kebutuhan manusia, Alderfer (1972),
sebagaimana dikutip Pace & Paules (1998:121-122), mengemukakan tiga kategori
kebutuhan. Ketiga kebutuhan tersebut adalah exsistence (E) atau eksistensi,
relatedness (R) atau keterkaitan, dan growth (G) atau pertumbuhan. Eksistensi
meliputi kebutuhan fisiologis, seperti rasa lapar, rasa haus, dan seks, juga
kebutuhan materi seperti gaji dan lingkungan kerja yang menyenangkan.
Kebutuhan keterkaitan menyangkut hubungan dengan orang-orang yang penting
bagi seseorang, seperti anggota keluarga, sahabat, dan penyelia di tempat kerja.
Kebutuhan pertumbuhan meliputi keinginan untuk produktif dan kreatif dengan
mengerahkan segenap kesanggupan.
Ranah-ranah ketiga kebutuhan ini mirip dengan ranah-ranah ' kebutuhan yang
di kemukakan Maslow, dan sebenarnya meliputi seluruh rentang kebutuhan seperti
yang disarankan Maslow.
Umumnya, konsep kebutuhan ERG ini merupakan penghalusan dari sistem
kebutuhan Maslow, namun berbeda dalam dua aspek.
Pertama, meskipun urutan kebutuhan serupa, ide hierarki tidak dimasukkan.
Alderfer menyatakan bahwa bila kebutuhan eksistensi tidak terpenuhi,
pengaruhnya mungkin kuat, namun kategori-kategori kebutuhan lainnya barangkali
masih penting dalam mengarahkan perilaku untuk mencapai tujuan. Kedua,
meskipun suatu kebutuhan terpenuhi, kebutuhan tersebut dapat berlangsung terus
sebagai pengaruh kuat dalam keputusan. Misalnya, kata Alderfer, Anda boleh
menerima gaji yang cukup besar dan pekerjaan yang aman, namun terus
menginginkan peningkatan meskipun kebutuhan akan,eksistensi tampaknya sudah
terpenuhi.
Dalam kasus tersebut, suatu kebutuhan yang sudah terpenuhi boleh jadi terus
berlangsung menjadi motivator. Sebaliknya, kebutuhan akan keterkaitan dan
pertumbuhan boleh jadi meningkat ketika terpenuhi. Semakin banyak cara yang
Anda temukan untuk produktif dan kreatif, semakin besar keinginan Anda untuk
produktif dan kreatif.

c. Teori Motivasi Dua Faktor


Frederick Herzberg (1966) menganalisis motivasi manusia dalam organisasi
dan memperkenalkan teori motivasi dua 'faktor (Curtis et al., 1996; Pace & Faules,
1998; Kossen, 1983; Pareek, 1996). Teori Maslow tentang motivasi secara mutlak
membedakan antara aktualisasi diri sebagai kebutuhan yang bercirikan
pengembangan dan pertumbuhan individu, sedangkan kebutuhan-kebutuhan
lainnya mengejar suatu kekurangan. Perbedaan ini secara dramatis dipertajam oleh
Herzberg, yang teori motivasi kerjanya paling dikenal, digunakan, dan dibicarakan.
Teorinya juga disebut teori motivasi dua faktor, karena ia membicarakan dua
golongan utama kebutuhan menutup kekurangan dan kebutuhan pengembangan
(Pareek, 1996).
Dengan menggunakan teknik insiden kritis, Herzberg mengumpulkan data
tentang kepuasan dan ketidakpuasan orang dalam pekerjaan mereka. Analisis,
katanya, menimbulkan dua kumpulan faktor (Face & Paules, 1998:122-124), atau
dua perangkat kegiatan yang memuaskan kebutuhan manusia: (1) kebutuhan yang
berkaitan dengan kepuasan kerja, dan (2) kebutuhan yang berkaitan dengan
ketidakpuasan kerja. Faktor-faktor yang memengaruhi kepuasan kerja disebut
motivator. Ini meliputi prestasi, penghargaan, tanggung jawab, kemajuan atau
promosi, pekerjaan, itu sendiri, dan potensi bagi pertumbuhan pribadi. Semua ini
berkaitan dengan pekerjaan itu sendiri.
Bila faktor-faktor ini ditanggapi secara positif, pegawai cenderung merasa puas
dan termotivasi. Namun, bila faktor-faktor tersebut tidak ada di tempat kerja,
pegawai akan kekurangan motivasi, namun tidak berarti tidak puas dengan
pekerjaan mereka.
Faktor-faktor yang berkaitan dengan ketidakpuasan disebut faktor
pemeliharaan (maintenance) atau kesehatan (hygiene), dan meliputi gaji,
pengawasan, keamanan kerja, kondisi kerja, administrasi, kebijakan organisasi, dan
hubungan antar pribadi dengan rekan kerja, atasan, dan bawahan di tempat kerja.
Faktor-faktor ini berkaitan dengan lingkungan atau konteks pekerjaan alih-alih
dengan pekerjaan itu sendiri. Itulah sebabnya program-program untuk memotivasi
pegawai yang menggunakan sistem Herzberg menyebutnya "motivasi melalui
pekerjaan itu sendiri." Bila faktor-faktor ini ditanggapi secara positif, pegawai tidak
mengalami kepuasan atau tampak termotivasi, namun, bila faktor-faktor tersebut
tidak ada, pegawai akan merasa tidak puas.
Tabe17.1
Teori Motivasi Dua-Faktor Herzberg

Faktor Hygiene Motivator


Gaji Kemajuan
Kondisi Kerja Perkembangan
Kebijakan Perusahaan Tanggung Jawab
Penyeliaan Penghargaan
Kelompok kerja Prestasi
Pekerjaan itu sendiri

Herzberg memahami bahwa para pegawai menginginkan dan mengharapkan gaji


yang memadai, jaminan pekerjaan dan kehidupan pribadi, kondisi kerja yang baik, status,
dan kebijakan-kebijakan perusahaan serta perilaku administrasi yang bertanggung jawab.
Apabila kebutuhan dasar ini tidak terpenuhi, mereka akan mencari peluang pekerjaan ke
tempat lain, kemangkirannya (absen) meningkat, hubungan kerja memburuk, munculnya
sikap-sikap yang menderita, dan seterusnya. Banyak manajer berpikir bahwa pemuasan
kebutuhan-kebutuhan ini akan meningkatkan motivasi dan produksi. Akan tetapi, Herzberg
menyanggah hal itu (Curtis, et al., 1996). Menurutnya, saat kebutuhan dasar ini tidak
terpenuhi, para pegawai akan merasa tidak puas dan tidak dapat dimotivasi karena
perhatian mereka tertuju pada pemenuhan kebutuhan dasar. Penyediaan kebutuhan ini
dapat menghasilkan kepuasan, tetapi tidak meningkatkan produksi secara langsung.
Sebaliknya, kebutuhan motivasi (motivator) dalam urutan yang lebih tinggi meliputi
kemajuan dan perkembangan, tanggung jawab, penghargaan, prestasi, dan kenyamanan
pekerjaan itu sendiri. Menurut Herzberg, untuk memotivasi seorang pegawai, sebagai
langkah awal, seorang manajer 'pertama-tama harus memenuhi, atau sekurang-
kurangnya memelihara kebutuhan dasar. Setelah hal itu terpenuhi, kebutuhan motivasi
menjadi prioritas.
Face & Paules (1'998:123-124) mencoba mengadakan "studi banding" mengenai
kategori kebutuhan Maslow, Alderfer, dan Herzberg. Menurut Face & Paules, banyak
kemiripan di antara ketiga cara menjelaskan motivasi tersebut. Setiap sistem
menggambarkan aktualisasi diri, pertumbuhan, dan motivator dengan istilah-istilah yang
serupa. Faktor pemeliharaan atau kesehatan cenderung memuaskan, kebutuhan
eksistensi. Hubungan antar pribadi dan pengawasan dapat dianggap cara-cara untuk
memenuhi keterkaitan, kebutuhan rasa memiliki, dan kebutuhan penghargaan. Gambar 14
berikut melukiskan hubungan di antara ketiga pendekatan tersebut.

Hubungan Pendekatan Maslow, Alderfer, dan Herzberg


Eksistensi Keterkaitan Pertumbuhan ALDERFER

Aktualisasi diri
Penghargaan MASLOW
Rasa memiliki
Keamanan
Fisiologis

Faktor kesehatan Motivator HERZBERG


Sumber: Pace & Paules (1998: 123)

TIGA TEORI KEBUTUHAN


Gambar 14

d. Teori Desakan Kebutuhan Murray


Klasifikasi Murray (Ross, 1994), dibandingkan dengan hierarki kebutuhan
Maslow, tidak mudah disajikan pada orang yang bukan ahli psikologi. Selain itu,
teori Murray tentang kebutuhan manusia, tidak seperti teori Maslow, tidak mudah
diterapkan. Berbeda dengan Maslow, menurut Murray, kebutuhan-kebutuhan
manusia berdiri sendiri-sendiri, terpisah satu dari yang lain. Ini berarti, jika kita
mengetahui kekuatan atau tingkat kepuasan satu kebutuhan, tidak berarti kita
akan tahu pula mengenai kekuatan kebutuhan-kebutuhan lain. Jadi, untuk
mengetahui apa yang memotivasi, kita harus mengukur kekuatan semua
kebutuhannya yang penting, dan bukannya hanya sekadar menentukan tingkat
yang telah dicapainya dalam suatu hierarki atau jenjang kebutuhan. Mungkin,
karena itu, karya Murray tentang kebutuhan manusia tidak sepopuler karya
Maslow. Namun demikian, menurut Glenn F Ross (1994), karya Murray
mendorong kegiatan penelitian yang berpengaruh mengenai kebutuhan-
kebutuhan tertentu, khususnya kebutuhan untuk berhasil, kebutuhan untuk
berkumpul (affiliation), otonomi, dan kekuasaan.
Teori motivasi kebutuhan Henry A. Murray (1983) yang dinamakan teori
kebutuhan manifestasi atau teori desakan kebutuhan, rumusan awalnya dibuat
oleh Murray pada tahun 1930-an dan tahun 1940-an. Model tersebut banyak
dikembangkan dan diperluas oleh David McClelland dan John Atkinson. Sama
seperti Maslow, Murray yakin bahwa orang dapat dikelompokkan menurut
kekuatan berbagai kebutuhan tersebut. Setiap orang dianggap memiliki jenis
kebutuhan yang berbeda (dan kadang-kadang bertentangan) yang memengaruhi
perilaku. Definisi kebutuhan di sini adalah "perhatian sekarang untuk mencapai
suatu sasaran" (McClelland, 1971:13). Masing-masing kebutuhan terdiri atas dua
komponen (Ross, 1994):
(1) Komponen kualitatif atau arah yang mencakup sasaran yang dibidik
kebutuhan; dan
(2) Komponen kuantitatif atau energi yang terdiri atas kekuatan atau
intensitas kebutuhan menuju sasarannya.
Dengan kata lain, kebutuhan dipandang sebagai kekuatan motivasi utama bagi
orang dari sisi arah dan intensitas.
Secara keseluruhan, Murray berpendapat bahwa setiap orang mempunyai kira-
kira dua lusin kebutuhan, termasuk kebutuhan untuk berhasil, bergaul, kekuatan,
dan otonomi. la yakin bahwa kebutuhan lebih banyak diperoleh dari luar, bukan
sesuatu yang diwarisi, dan diaktifkan (atau dimanifestasikan) oleh isyarat dari
lingkungan luar. Misalnya, seorang pekerja dengan kebutuhan untuk berhasil yang
tinggi akan mengejar kebutuhan tersebut (yaitu mencoba meraih tujuan kerja
tertentu) hanya kalau kondisi lingkungannya tepat (misalnya, kalau dia diberi tugas
yang menantang), maka barulah kebutuhan tersebut muncul. Jika tidak terpenuhi,
kebutuhan tersebut disebut bersifat laten dan tidak diaktifkan.
e. Teori Kebutuhan untuk Berprestasi McClelland
McClelland adalah seorang ahli psikologi sosial yang terkenal dengan
pemikirannya mengenai kebutuhan untuk berprestasi (needs for achievement).
Konsep ini disingkat dengan sebuah simbol yang kemudian menjadi sangat
terkenal, yakni: n-Ach. Menurut David McClelland, untuk membuat sebuah
pekerjaan berhasil, yang paling penting adalah sikap terhadap pekerjaan tersebut.
Ia melakukan penelitian yang sangat mendalam mengenai motif dalam hubungan
dengan kebutuhan untuk berprestasi sejak akhir tahun 1940-an. Hasil
penelitiannya menunjukkan bahwa jatuh bangunnya negara-negara beserta
kebudayaannya berhubungan erat dengan perubahan pada kebutuhan untuk
berprestasi.
Seperti juga konsep Etika Protestan, keinginan, kebutuhan, atau dorongan
untuk berprestasi ini tidak sekadar untuk meraih imbalan material yang besar.
Orang dengan n-Ach yang tinggi, yang memiliki kebutuhan untuk berprestasi,
mengalami kepuasan bukan karena mendapatkan imbalan dari hasil kerjanya,
tetapi karena hasil kerja tersebut dianggapnya sangat baik. Ada kepuasan batin
tersendiri kalau dia berhasil menyelesaikan pekerjaannya dengan sempurna.
Imbalan material menjadi faktor sekunder. Dengan konsep n-Ach ini, kita lihat
adanya pengaruh Max Weber terhadap McClelland.
Menurut McClelland, perbedaan dalam kebutuhan untuk berprestasi sudah
tampak sejak anak berusia lima tahun. Hal ini sangat erat hubungannya dengan
kehidupan keluarga, terutama dalam pengaruh itu ketika si anak menginjak usia'
delapan sampai sepuluh tahun. Para ibu dari anak yang berusia delapan tahun,
dengan kebutuhan prestasi yang tinggi, dapat mengharapkan anak-anaknya
memiliki perilaku berdasarkan kepercayaan pada diri sendiri, misalnya dalam hal
mencoba dengan sekuat tenaga untuk mencapai keinginannya, berusaha keras
dalam persaingan, atau mempunyai keberanian untuk keliling kota. Anak-anak itu
sudah dapat membuat keputusan-keputusan penting.
Dalam batas tertentu, dorongan atau kebutuhan berprestasi adalah sesuatu
yang ada dan dibawa dari lahir. Namun, di pihak lain, kebutuhan untuk berprestasi
ternyata, dalam banyak hal, adalah sesuatu yang ditumbuhkan, dikembangkan,
hasil dari mempelajari melalui interaksi dengan lingkungan. Adapun lingkungan
hidup anak yang pertama dan terutama ialah keluarga, sekolah, lingkungan
pergaulan, dan masyarakat pada umumnya.
Kebutuhan untuk berprestasi, menurut McClelland, adalah suatu daya dalam
mental manusia untuk melakukan suatu kegiatan yang lebih baik, lebih cepat, lebih
efektif, dan lebih efisien daripada kegiatan yang dilaksanakan sebelumnya. Ini
disebabkan oleh virus mental. Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut.
Dalam kehidupan psikis manusia, ada daya yang mampu mendorongnya ke
arah suatu kegiatan yang hebat sehingga, dengan daya tersebut, ia dapat
mencapai kemajuan yang teramat cepat. Daya pendorong tersebut dinamakan
virus mental, karena apabila berjangkit di dalam jiwa manusia, daya tersebut akan
berkembang biak dengan cepat; dengan kata lain, daya tersebut akan meluas dan
menimbulkan dampak dalam kehidupan.
Selanjutnya, McClelland mengatakan bahwa kalau dalam sebuah masyarakat
terdapat banyak orang yang memiliki n-Ach yang tinggi, masyarakat tersebut akan
menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, bila dia hanya berhenti di sini.
Karena konsep n-Ach sebenarnya hanya bentuk lain dari konsep Weber tentang
Etika Protestan.
McClelland kemudian mengambil cerita anak-anak sebagai bahan untuk
mengukur n-Ach sebuah masyarakat modern. Alasannya, di semua negara selalu
dapat dijumpai cerita anak yang diajarkan di sekolah atau diceritakan oleh orang
tua mereka sebelum tidur. Juga, cerita anak-anak belum dipengaruhi oleh
kepentingan politik, sehingga tampil secara murni. Oleh karena itu, dikumpulkanlah
sekitar 1.300 cerita anak-anak yang beredar pada tahun 1925 dari 21 negara, dan
dari yang beredar pada tahun 1950 dari 31 negara lainnya. Seperti juga
sebelumnya, cerita-cerita ini diberi nilai oleh beberapa ahli berdasarkan kriteria
tinggi atau rendah nilai n-Ach-nya.
Hasilnya memang seperti yang diharapkan. Korelasi antara tingkat n-Ach pada
cerita anak-anak tahun 1925 dan pertumbuhan pemakaian listrik di negara tersebut
antara tahun 1925 sampai tahun 1950, nilainya adalah 0,53. Secara statistik, nilai
ini dianggap, cukup tinggi. Jadi, hubungan ini jelas bukan kebetulan saja. Dengan
demikian, memang terdapat korelasi antara tingkat n-Ach dengan keberhasilan
pertumbuhan ekonomi. Ini dibuktikan lagi pada penelitian sejenis di negaranegara
lain.
f. Teori Harapan Vroom
Vroom (1964) mengembangkan sebuah teori motivasi berdasarkan jenis-jenis
pilihan yang dibuat orang untuk mencapai suatu tujuan, alih-alih berdasarkan
kebutuhan internal. Teori harapan (expectancy theory) memiliki tiga asumsi pokok
(Pace & Faules, 1998:124-125).
1) Setiap individu percaya bahwa ia berperilaku dengan cara tertentu, ia akan
memperoleh hal tertentu. Ini disebut sebuah harapan hasil (outcome
expectancy). Misalnya, Anda mungkin 'percaya (atau mempunyai suatu
harapan) bahwa bila memperoleh suatu skor sekurang-kurangnya 85 pada tes
mendatang, Anda akan dinyatakan lulus dalam kuliah. Juga mempunyai
harapan atau kepercayaan bahwa bila memperoleh sekurang-kurangnya B di
kelas, keluarga Anda akan menyetujui apa yang Anda lakukan. Jadi, kita dapat
mendefinisikan suatu harapan hasil sebagai penilaian subjektif seseorang atas
kemungkinan bahwa suatu hasil tertentu akan muncul dari tindakan orang
tersebut.
2) Setiap hasil mempunyai nilai atau daya, tarik bagi orang tertentu. Ini disebut
valensi (valence). Misalnya, Anda mungkin menghargai sebuah gelar atau
peluang untuk kemajuan karier, sementara orang lain mungkin menghargai
suatu program pensiun atau kondisi kerja. Valensi atau nilai sebagian aspek
pekerjaan biasanya berasal dari kebutuhan internal, namun motivasi yang
sebenarnya merupakan proses yang lebih rumit lagi. Jadi, kita dapat
mendefinisikan valensi sebagai nilai yang diberikan orang pada suatu hasil
yang diharapkan.
3) Setiap hasil berkaitan dengan suatu persepsi mengenai seberapa sulit
mencapai hasil tersebut. Hal ini disebut harapan usaha' (effort expectancy).
Misalnya, Anda mungkin mempunyai persepsi bahwa bila mempelajari buku ini
dengan giat, Anda akan memperoleh nilai 85 dalam ujian berikutnya. Namun,
Anda harus berusaha lebih giat lagi untuk mempelajari kuliah ini agar
memperoleh nilai 90. Jadi, kita dapat mendefinisikan harapan usaha sebagai
kemungkinan bahwa usaha seseorang akan menghasilkan pencapaian tujuan
tertentu.
Motivasi, menurut Pace & Faules (1998: 125), dijelaskan dengan
mengombinasikan ketiga prinsip ini. Orang akan termotivasi bila ia percaya bahwa
(1) perilaku tertentu akan menghasilkan hasil tertentu, (2) hasil tersebut mempunyai
nilai positif baginya, dan (3) hasil tersebut dapat dicapai dengan usaha yang
dilakukan seseorang. Jadi, seseorang akan memilih, ketika ia melihat alternatif-
alternatif, tingkat kinerja yang memiliki kekuatan motivasional tertinggi yang
berkaitan dengannya.

3. Tingkah Laku
Unsur kedua dari lingkaran motivasi ialah tingkah laku yang dipergunakan sebagai
cara atau alat agar suatu tujuan bisa tercapai. Jadi, tingkah laku, pada dasarnya-ditujukan
untuk mencapai tujuan. Tujuan tertentu tidak selalu diketahui secara sadar oleh seorang
individu. Kita semua ingin mengetahui, misalnya, "Mengapa saya melakukan hal itu?"
Alasan tindakan kita sering tidak jelas bagi ingatan atau pikiran yang sadar. Stimulus-
stimulus yang memotivasi pola perilaku individu tertentu ("personalitas") sampai tingkat
tertentu adalah di bawah sadar dan karenanya tidak mudah diperiksa dan dinilai.
Sebenarnya, semua perilaku merupakan serentetan kegiatan. Sebagai manusia, kita
selalu melakukan sesuatu seperti berjalan-jalan, berbicara, makan, tidur, bekerja, dan
sebagainya. Dalam banyak hal, kita melakukan lebih dari satu kegiatan pada satu waktu.
Misalnya, kita berbicara dengan seseorang sambil berjalan atau sambil mengendarai
mobil. Pada suatu ketika kita mungkin memutuskan untuk mengubah satu atau gabungan
kegiatan dan mulai melakukan sesuatu yang lain. Ini menimbulkan beberapa pertanyaan
penting: mengapa orang-orang melakukan suatu kegiatan dan bukan kegiatan lain?
Mengapa mereka mengubah kegiatan? Mengapa orang-orang itu bermain gapleh,
sementara orang-orang lain pada waktu yang sama melakukan shalat Jumat?
Para ahli psikologi tertarik pada hal yang membuat orang melakukan suatu perbuatan
lakukan dan yang membuat mereka seperti apa adanya. Namun, kita tidak mungkin
mengkaji dan mengobservasi semua itu secara langsung. Melihat, merasakan,
memimpikan, memikirkan, mengingat, semuanya adalah, proses yang diasumsikan
berlangsung dari semacam tingkah laku yang bisa diobservasi secara langsung. Mengapa
saya bisa mengatakan bahwa Anda merasa sedih? Karena saya mengobservasi Anda
menangis. Mengapa saya tahu bahwa Anda lapar? Karena saya melihat Anda mengerling
pada makanan dan menelan ludah. Meskipun demikian, ahli psikologi menggunakan kata
tingkah laku atau perilaku dengan arti setiap kegiatan atau aktivitas yang bisa mereka
observasi. Dengan demikian, bicara, tidur, denyut jantung, semua adalah perilaku dalam
pengertian ahli psikologi. Demikian pula halnya dengan laporan seseorang mengenai
gagasan atau perasaannya. Perilaku melulu berarti aktivitas yang dapat diobservasi,
sedangkan psikologi adalah kajian mengenai tingkah laku.
Sebetulnya, amat sukar untuk mengenal jiwa manusia karena sifatnya yang abstrak.
Satu-satunya cara yang bisa dilakukan adalah mengobservasi tingkah lakunya meskipun
tingkah laku tidak merupakan pencerminan jiwa keseluruhan. Jiwa selalu diekspresikan
melalui raga atau badan. Ketika kepada para mahasiswa sebuah fakultas diumumkan
hasil ujian akhir semester mata kuliah pengantar psikologi, tampak ada yang tertawa
berjingkrak-jingkrak, sementara ada pula yang diam seribu bahasa, yang lemah lunglai,
yang matanya berkaca-kaca: menangis. Jelas, yang tertawa adalah pencerminan jiwa
yang gembira karena lulus, boleh jadi dengan Nilai “A". Sebaliknya, yang menangis adalah
pencerminan jiwa yang sedih karena gagal; sedih karena ia membayangkan betapa
repotnya mengulang mata kuliah yang sebenarnya tidak perlu dilakukannya jika ia disiplin
dalam belajar.
Walaupun begitu, karena keunikan manusia pula, kita tidak boleh memberikan
penilaian tertentu,terhadap jiwa seseorang atas dasar pengamatan tingkah laku seketika,
sebab ada orang yang menangis bukan karena sedih, melainkan karena gembira. Ada
pula orang yang ketika mendengar berita sedih tidak langsung menangis, bahkan tetap
tersenyum, sehingga orang lain mengira ia tidak terpengaruh oleh berita tadi, tetapi begitu
sampai di rumahnya, ia pun menangis sejadi-jadinya sebagai pelampiasan rasa sedihnya.
Misalnya, kita mengajukan pertanyaan tentang bermacam-macam manusia: "Apakah
kebenaran yang mendasar dan tanpa kecuali mengenai tingkah laku manusia" kepada
para mahasiswa, anggota serikat pekerja, manajer tingkat menengah dan tingkat puncak,
arsitek, guru, dan dokter. Jawaban-jawaban akan mengandung kesimpulan umum sebagai
berikut (Leavitt, 1978);
 Manusia adalah produk dari lingkungannya. '
 Manusia menginginkan keamanan.
 Yang dikehendaki manusia adalah roti dan keju (atau nasi dan ikan pen.)
 Manusia pada dasarnya malas.
 Manusia pada dasarnya suka mementingkan diri sendiri.
 Manusia hanya mengerjakan apa yang harus mereka kerjakan.
 Manusia adalah makhluk yang dibentuk oleh kebiasaannya.
 Manusia adalah produk dari sifat-sifat yang diturunkan oleh nenek moyang mereka.
Di antara berbagai jawaban tersebut, menurut Leavitt, tampak ada yang bertentangan
satu sama lain, namun pada taraf tertentu, pertentangan tersebut lenyap. Dalam
pandangan Leavitt, jika seseorang menyusunnya dengan baik, ia akan sampai pada
kesimpulan umum yang intinya sama dengan yang dihasilkan oleh para ahli psikologi
modern.
Dalam rangkaian pernyataan tersebut, menurut Leavitt (1978), terkandung tiga asumsi
penting.
Pertama, pandangan tentang sebab-akibat (causality), yaitu pendapat bahwa tingkah
laku manusia itu ada sebabnya, sebagaimana tingkah laku benda-benda alam yang
disebabkan oleh kekuatan yang bergerak pada benda-benda alam tersebut. Sebab
musabab merupakan hal yang mutlak bagi paham bahwa lingkungan dan keturunan
mempengaruhi tingkah laku dan bahwa apa yang ada di luar mempengaruhi apa yang ada
di dalam.
Kedua, pandangan tentang arah atau tujuan (directedness), yaitu bahwa tingkah laku
manusia tidak hanya disebabkan oleh sesuatu, tetapi juga menuju ke arah sesuatu, atau
mengarah pada suatu tujuan, atau bahwa manusia pada hakikatnya ingin menuju sesuatu.
Ketiga, konsep tentang motivasi (motivation), yang melatarbelakangi tingkah laku,
yang dikenal juga sebagai suatu "desakan" atau "keinginan" (want) atau "kebutuhan"
(need) atau suatu "dorongan" (drive).
Ketiga pandangan tersebut dapat merupakan sumbangan bagi pemahaman mengenai
tingkah laku manusia. Dengan bantuan pandangan tersebut, manusia bisa dipandang
sebagai bagian dari suatu permainan ganda dari motif ke arah tingkah laku dan kemudian
ke arah tujuan. Juga bermanfaat untuk meneliti rantaian sebab-musabab yang pada
umumnya membentuk lingkaran yang tertutup. Bila seseorang telah mencapai tujuannya,
hilanglah motif dan hal ini akan menghilangkan pula tingkah laku.
Psikologi memandang tingkah laku manusia (human behavior) sebagai reaksi yang
dapat bersifat sederhana maupun bersifat kompleks. Pada manusia khususnya dan pada
berbagai spesies hewan umumnya, memang terdapat bentuk tingkah laku instingtif
(species-specific behavior) yang didasari oleh kodrat untuk mempertahankan kehidupan.
Sepanjang menyangkut pembahasan mengenai hubungan sikap dan tingkah laku, bentuk-
bentuk perilaku instingtif itu tidak dibicarakan. Demikian pula, halnya dengan beberapa
bentuk perilaku abnormal yang ditunjukkan oleh para penderita abnormalitas jiwa ataupun
oleh orang-orang yang sedang berada dalam ketidaksadaran akibat pengaruh obat-
obatan, minuman keras, situasi hipnotik, serta situasi-situasi emosional yang sangat
menekan. Sikap selalu dikaitkan dengan tingkah laku yang berada dalam batas kewajaran
dan kenormalan yang merupakan respons atau reaksi terhadap stimulus lingkungan
sosial.
Menurut Saifuddin Azwar, salah satu karakteristik reaksi perilaku manusia yang
menarik adalah sifat diferensialnya (Azwar, 1995). Maksudnya, satu stimulus dapat
menimbulkan lebih dari satu respons yang berbeda, dan beberapa stimulus yang berbeda
dapat saja menimbulkan satu respons yang sama. Secara ilustratif, ia menggambarkan hal
itu sebagai berikut:
Ilustrasi Sifat Diferensial Perilaku

S1 R1

S2 R2
(I)
S3 R3

S4 R4

Gambar 15
Dalam ilustrasi di atas, S melambangkan bentuk stimulus lingkungan yang diterima
oleh individu I yang menimbulkan respons yang dilambangkan oleh R. Jadi, respons R3
dapat saja timbul dikarenakan stimulus S3 ataupun oleh stimulus S 1 dan stimulus S2
dapat saja menimbulkan respons R2 ataupun respons R4..
Azwar mengakui bahwa ilustrasi sifat diferensial perilaku tentu tidak akan banyak
menolong kita dalam memahami perilaku individu apabila digambarkan seadanya seperti
di atas. Penyederhanaan model hubungan antarvariabel penyebab perilaku dengan satu
bentuk perilaku tertentu akan lebih memudahkan pemahaman yang pada gilirannya akan
memberikan dasar teoretik yang lebih kuat guna prediksi perilaku.
Teori perilaku (behavioral theory) memiliki asumsi dasar bahwa perubahan dalam cara
orang menilai perilaku akan dihasilkan lebih efisien dengan menitikberatkan perilaku yang
dapat diobservasi daripada menitikberatkan kepercayaan dan cara berpikir, seperti yang
disarankan teori rasional. Pada kenyataannya, sikap dan pikiran internal dapat dipahami
dengan mengobservasi dan mengukur perilaku nyata. Hal tersebut tidak berarti perilaku
tersebut tidak dipengaruhi oleh proses internal dan berpikir. Hal ini sekadar berarti bahwa
perilaku-perilaku yang dapat diobservasi adalah
fokus perhatian. Filosofi perilaku mengasumsikan juga bahwa perubahan perilaku
secara khusus menghasilkan hubungan dengan perubahan dalam berpikir atau bersikap.
Bartlet (1967) berpendapat, "Lebih mudah mengubah perilaku daripada mengubah sikap!
Mengapa melancarkan serangan gencar langsung pada sikap ketika sikap akan mengikuti
jika perilaku berubah?" (Pace & Faules, 1998).
C.T Morgan menyebut instrumental behavior untuk tingkah laku yang dipergunakan
sebagai alat atau cara agar tujuan dapat tercapai. Tingkah laku ini, apakah sesuai atau
tidak sesuai, baik atau tidak baik, melanggar atau tidak melanggar norma, semuanya
disebut tingkah laku. Jadi, berbeda dengan pengertian sehari-hari, tingkah laku yang
dimaksud di sini meliputi kelakuan yang baik sampai kelakuan yang tidak baik. Misalnya,
seorang anak yang ingin sekali diberi uang oleh ibunya, ia bisa bertingkah laku merengek-
rengek di tanah, mengancam, atau merusak barang-barang.
Selanjutnya, Morgan mengemukakan beberapa bentuk tingkah laku instrumental
berikut.
(1) Aktivitas, ialah gerakan-gerakan yang timbul menyertai adanya kebutuhan.
Misalnya gerakan yang diperlihatkan bayi ketika ia lapar, atau gerakan .gelisah
pada seorang yang sedang berusaha memecahkan persoalan.
(2) Gerakan-gerakan naluriah. Suatu gerakan yang dapat dilakukan tanpa dipelajari
terlebih dahulu. Gerakan-gerakan inilah yang memungkinkan seorang bayi dapat
melangsungkan hidupnya. Misalnya, gerakan pada bayi yang tengah menetek pada
ibunya.
(3) Refleks. Suatu gerakan yang diperlihatkan seseorang untuk mempertahankan atau
melindungi tubuh dari kemungkinan-kemungkinan cacat, cedera, luka, dan lain-lain.
Biasanya gerakan refleks terjadi secara cepat sekali. Misalnya, refleks pada mata
agar tidak rusak kalau tiba-tiba ada cahaya yang intensitasnya kuat, atau benda
asing yang mungkin merusak mata.
(4) Belajar secara instrumental, yaitu mempelajari sesuatu yang terjadi tanpa sengaja.
Misalnya, seorang anak mengatakan "pusing" ketika sedang membuat soal-soal
berhitung yang sulit. Karena anak mengatakan "pusing", gurunya mengizinkannya
pulang untuk beristirahat. Kalau itu terjadi berulang-ulang, anak lama-lama akan
'paham' bahwa untuk menghindarkan diri dari soal-soal hitungan sulit, ia cukup
mengatakan "pusing kepala". Jadi, "pusing kepala" dipergunakan sebagai alat,
sehingga keinginannya menghindari tugas yang tidak menyenangkan tercapai.
Setelah membicarakan ihwal tingkah laku, ada hal lain yang juga penting untuk
diperhatikan, yaitu bagaimana seorang bertingkah laku maka seseorang akan melalui
tahap-tahap sebagai berikut (Dirgagunarsa, 1996).
(1) Adanya atau timbulnya konflik.
(2) Pertarungan antara motif-motif bilamana pada suatu saat terdapat beberapa motif
yang muncul secara serempak.
(3) Mengambil putusan atau menentukan pilihan motif.
(4) Mewujudkan tingkah laku bermotivasi.
Berkaitan dengan tahapan di atas, yang perlu lebih kita perhatikan adalah tahapan
kedua, yaitu tahap pertarungan antarmotif-motif, karena menurut Dirgagunarsa, tahap ini
bisa membawa seseorang dalam suatu situasi konflik.
Situasi konflik adalah situasi ketika seseorang merasa bimbang atau bingung karena
harus memilih antara dua atau beberapa motif yang muncul pada saat bersamaan.
Kebimbangan itu ditandai pula dengan adanya ketegangan dalam mengambil suatu
keputusan atau pilihan.
Walaupun banyak di antara kita bisa menghindari konflik dan menandai hubungan
ideal sebagai bebas dari perselisihan, menjelang kita dewasa, kita biasanya telah
menyaksikan banyak konflik, baik yang sepele ataupun yang hebat. Sedikit orang muda
mencapai kedewasaan tanpa konflik dengan kedua orang tua, saudara-saudara kandung,
dan kawan-kawan sebaya mereka.
Para ahli teori cenderung menganggap konflik sebagai aspek alamiah hubungan
manusia, yang tidak dengan sendirinya bersifat destruktif. Menurut Hocker dan Wilmot
(1991), seperti dikutip Tubbs dan Moss (1996), "Konflik adalah suatu proses alamiah yang
melekat pada sifat semua hubungan yang penting dan dapat diatasi dengan pengelolaan
konstruktif lewat komunikasi". Konflik, sebagaimana yang didefinisikan Hocker dan Wilmot,
adalah "suatu perjuangan ternyatakan antara sekurang-kurangnya dua pihak yang saling
bergantung yang memersepsi tujuan-tujuan yang tidak selaras, ganjaran yang langka, dan
gangguan dari pihak lain, dalam mencapai tujuan-tujuan mereka".
Konflik mempunyai beberapa bentuk, (Dirgagunarsa, 1996:98-99):
1) Konflik mendekat-mendekat (approach-approach conflict)
Konflik ini timbul jika suatu ketika terdapat dua motif yang kesemuanya positif
(menyenangkan, menguntungkan), sehingga muncul kebimbangan, untuk memilih
satu di antaranya. Memilih satu motif berarti mengorbankan atau mengecewakan
motif lain yang tidak dipilih.
2) Konflik mendekat-menjauh (approach-avoidance conflict)
Konflik ini timbul jika dalam waktu yang sama timbul dua motif yang berlawanan
mengenai satu objek, motif yang satu positif (menyenangkan), yang lain negatif
(merugikan, tidak menyenangkan). Karena itu, ada kebimbangan, apakah akan
mendekati atau menjauhi objek itu. Misalnya, seorang ingin naik kuda karena
menyenangkan (motif positif), tetapi ia takut jatuh (motif negatif).
3) Konflik menjauh-menjauh (avoidance-avoidance conflict)
Konflik ini terjadi apabila pada saat yang bersamaan, timbul dua motif yang
negatif, dan muncul kebimbangan karena menjauhi motif yang satu berarti harus
memenuhi motif lain yang juga negatif. Contoh, seorang calon mahasiswa terlambat
mengikuti ospek (orientasi studi dan pengenalan kampus). Ia dihukum: melakukan
push up 50 kali. Kalau ia tidak suka push up, ia boleh berlari sejauh dua kilometer
tanpa henti. Namun, berlari sejauh itu pun ia tidak suka.
Umumnya, konflik dapat dikenali karena beberapa ciri (Dirgagunarsa, 1996:99-
100):
(1) Terjadi pada setiap orang dengan reaksi yang berbeda untuk rangsang yang
sama. Hal ini bergantung pada faktor-faktor yang sifatnya pribadi.
(2) Konflik terjadi bilamana motif-motif mempunyai nilai yang seimbang atau kira-kira
sama sehingga menimbulkan kebimbangan dan ketegangan.
(3) Konflik dapat berlangsung dalam waktu yang singkat, mungkin beberapa detik,
tetapi bisa juga berlangsung lama, berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan bertahun-
tahun.

4. Tujuan
Unsur ketiga dari lingkaran motivasi ialah tujuan yang berfungsi untuk memotivasikan
tingkah laku. Tujuan juga menentukan seberapa aktif individu akan bertingkah laku.
Sebab, selain ditentukan oleh motif dasar, tingkah laku juga ditentukan oleh keadaan dari
tujuan. Jika tujuannya menarik, individu akan lebih aktif bertingkah laku.
Pada dasarnya, tingkah laku manusia itu bersifat majemuk. Karena itu tujuan tingkah
laku acap kali tidak hanya satu. Selain tujuan pokok (primary goal), ada pula tujuan lain
atau tujuan sekunder (secondary goal). Misalnya, seorang anak kecil ingin makan. Untuk
mendapatkan makan, ia menangis. Karena menangis, anak digendong ibunya dan diberi
makanan. Pada saat ia diberi makan, tujuan pokoknya tercapai, yaitu mendapatkan
makanan. Namun, pada saat itu pula, ia merasakan senangnya digendong. Pada lain
waktu, kalau ia menangis lagi, ia tidak saja ingin makan, tetapi juga ingin digendong
sambil makan. Jadi, sudah timbul tujuan sekunder, yaitu digendong.
Sebagaimana halnya dalam proses belajar instrumental, tujuan sekunder juga
diperoleh melalui suatu proses belajar. Akan tetapi, berbeda dengan proses belajar
instrumetal, seseorang seakan-akan secara sengaja mempelajari suatu cara untuk
memperoleh sesuatu, dalam terjadinya tujuan sekunder, tidak ada persoalan sengaja atau
tidak sengaja. Dalam tujuan sekunder, memang tujuan itu sudah ada dalam situasi,
dikehendaki atau tidak dikehendaki, disadari atau tidak disadari.
Tujuan ini juga bisa berupa objek yang konkret atau berupa sesuatu yang abstrak. Bila
seseorang merasa lapar, tujuannya adalah makanan. Bila seseorang kesepian, tujuannya
adalah bertemu dengan orang lain. Dan bila tujuan-tujuan ini bisa diperoleh, kebutuhan-
kebutuhan terpenuhi. Terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan ini juga barangkali hanya untuk
sementara, sebab pada saat lain, kebutuhan-kebutuhan bisa timbul lagi.

D. Klasifikasi Motif

Para ahli psikologi berusaha mengklasifikasikan atau menggolonggolongkan motif


yang ada dalam diri manusia atau suatu organisme ke dalam beberapa golongan, menurut
pendapatnya masing-masing. Oleh karena itu, hingga saat ini, terdapat berbagai cara
mengklasifikasikan motif manusia. Ada pengklasifikasian motif yang mendasarkan pada
reaksi seseorang terhadap stimulus yang datang, ada yang mendasarkan pada asal-usul
tingkah laku, ada pula yang mendasarkan pada tingkat kesadaran orang bertingkah laku,
di samping dasar-dasar lainnya.
Dalam,pembahasan ini, penulis akan membatasi pada beberapa pengklasifikasian
motif manusia yang sudah banyak dikenal, khususnya di kalangan orang yang
mempelajari psikologi. Pengklasifikasian yang dimaksud adalah: (1) motif primer dan motif
sekunder, (2) motif intrinsik dan motif ekstrinsik, (3) motif tunggal dan motif bergabung, (4)
motif mendekat clan motif menjauh, (5) motif sadar dan motif tak sadar, serta (6) motif
biogenetis, motif sosiogenetis, dan motif theogenetis.

1. Motif Primer dan Motif Sekunder


Pengklasifikasian motif menjadi motif primer dan motif sekunder didasarkan pada
latar belakang perkembangan motif (Handoko, 1992). Suatu motif disebut motif primer
bila dilatarbelakangi oleh proses fisio-kemis di dalam tubuh. Dengan kata lain, motif
primer ini bergantung pada keadaan organik individu. Yang termasuk dalam golongan
motif primer adalah motif lapar, haus, seks, bernafas, istirahat.
Motif-motif primer sangat bergantung pada keadaan fisiologis, terutama bertujuan
mempertahankan equilibrium di dalam tubuh individu. Bila keadaan tubuh pada suatu
ketika menjadi tidak seimbang, tidak dalam keadaan equilibrium, misalnya, karena kurang
makan atau sakit, tubuh segera mencari jalan untuk memulihkan keadaan seimbang
dalam tubuh. Kecenderungan untuk selalu mempertahankan keadaan seimbang di dalam
tubuh ini disebut homeostasis. Karena motif-motif primer bertujuan menjaga
keseimbangan tubuh, motif primer sering kali juga disebut homeostasis.
Adapun motif sekunder tidak bergantung pada proses fisio-kemis yang terjadi di
dalam tubuh. Berdasarkan pengertian ini, semua motif yang tidak langsung pada keadaan
organisme individu dapat digolongkan dalam motif sekunder. Memang tidak dapat
disangkal bahwa motif-motif sekunder pun sering kali ada hubungannya dengan motif
primer, namun bukan hubungan yang langsung. Sebagai contoh adalah motif takut. Motif
takut bukanlah motif primer, namun sering kali ada hubungannya dengan motif primer,
misalnya motif sakit. Pada umumya, motif primer mempunyai tujuan mempertahankan
equilibrium di dalam tubuh organisme.
Kemudian, ciri lain yang ikut menandai apakah suatu motif termasuk motif primer atau
motif sekunder adalah motif primer bersifat bawaan, tidak dipelajari, artinya tidak ada
pengalaman yang mendahuluinya. Sebagai contoh konkret adalah motif haus. Begitu
anak dilahirkan, tidak perlu diajarkan oleh ibunya, dan tanpa pengalaman sebelumnya,
dia dapat merasa haus. Jadi, jelas bahwa rasa haus tersebut bersifat asli atau bersifat
bawaan.
Sebaliknya, motif sekunder sangat bergantung pada pengalaman individu. Bayi yang
baru saja dilahirkan, jelas tidak mempunyai motif sekunder, karena ia belum mempunyai
pengalaman apa pun. Makin bertambah usia seseorang, yang berarti makin bertambah
pengalamannya, makin bertambah pula hal-hal yang ia pelajari, berarti makin banyak ia
mempunyai motif sekunder.
Ada dua ciri pokok yang membedakan apakah suatu motif tergolong dalam motif
primer berdasarkan pada keadaan fisiologis manusia, sedangkan motif sekunder tidak
berhubungan dengan keadaan fisiologis manusia. Motif primer juga tidak bergantung
pada pengalaman seseorang, sedangkan motif sekunder sangat bergantung pada
pengalaman seseorang.

2. Motif Intrinsik dan Motif Ekstrinsik


Berdasarkan atas jalarannya, motif dibedakan menjadi motif intrinsik dan motif
ekstrinsik (Suryabrata, 1995: 7).
Motif intrinsik, yaitu motif-motif yang dapat berfungsi tanpa harus dirangsang dari luar.
Dalam diri individu sendiri, memang telah ada dorongan itu. Seseorang melakukan
sesuatu karena ia ingin melakukannya. Misalnya, orang yang gemar membaca tanpa ada
yang mendorongnya, ia akan mencari sendiri buku-buku untuk dibacanya; orang yang rajin
dan bertanggung jawab tanpa usah menunggu komando, sudah belajar dengan sebaik-
baiknya.
Motif ekstrinsik ialah motif-motif yang berfungsi karena ada perangsang dari luar.
Misalnya, seseorang melakukan sesuatu karena untuk memenangkan hadiah yang khusus
ditawarkan untuk perilaku tersebut.
Perlu diingat bahwa perbuatan yang kita lakukan sehari-hari banyak didorong oleh
motif-motif ekstrinsik, tetapi banyak pula yang didorong oleh motif-motif intrinsik, atau
keduanya sekaligus. Meskipun demikian, yang paling baik, terutama dalam hal belajar,
ialah motif intrinsik.

3. Motif Tunggal dan Motif Bergabung


Berdasarkan banyaknya motif yang bekerja di belakang tingkah laku manusia, motif
dapat kita bagi menjadi motif tunggal dan motif bergabung (Sastropoetro, 1986:240).
Handoko (1992: 40) menyebut motif bergabung ini sebagai motif kompleks.
Motif kegiatan-kegiatan kita bisa merupakan motif tunggal ataupun motif bergabung.
Misalnya, membaca surat kabar itu mungkin mempunyai motif yang umum seperti
diuraikan di atas, mungkin pula bermotif lain, misalnya membaca artikel tertentu yang
berhubungan dengan tugas mata kuliah atau pekerjaan kantor kita.
Contoh lain, apabila seseorang menjadi anggota suatu perkumpulan atau organisasi,
motifnya biasanya bergabung. la mungkin ingin belajar sesuatu yang baru bersama-sama
anggota perkumpulan tersebut. Selain itu, ingin melatih kemampuan berorganisasi, atau
ingin mengenal dari dekat beberapa anggota kelompok; atau ingin memperluas, relasi
guna kelancaran pekerjaan kantornya, dan lain-lain.

4. Motif Mendekat dan Motif Menjauh


Pengklasifikasian motif menjadi motif mendekat dan motif menjauh didasarkan pada
reaksi organisme terhadap rangsang yang datang. Suatu motif disebut motif mendekat bila
reaksi terhadap stimulus yang datang bersifat mendekati stimulus; sedangkan motif
menjauh terjadi bila respons terhadap stimulus yang datang sifatnya menghindari stimulus
atau menjauhi stimulus yang datang.
Stimulus yang menimbulkan respons mendekat disebut stimulus positif, sedangkan
stimulus yang menimbulkan respons menjauh disebut stilumus negatif. Respons mendekat
maupun menjauh ini bisa diperoleh dengan pengalaman maupun tanpa pengalaman.
Dengan kata lain, yang menimbulkan reaksi mendekat maupun menjauh itu dapat berupa
motif primer maupun motif sekunder.
Sebagai contoh bisa disebutkan tentang motif lapar. Motif lapar tergolong pada motif
primer, karena tidak perlu berdasarkan pengalaman, tidak perlu dipelajari. Orang yang
berada dalam keadaan lapar bila diberi stimulus makanan secara spontan, ia akan
mendekat timbul nafsu untuk memakannya. Namun, jika berdasarkan pengalamannya
ternyata makanan yang disediakan tersebut dapat menyebabkan kambuhnya suatu
penyakit yang dideritanya, ia akan menjauhinya.
Berdasarkan uraian di atas, dapatlah disimpulkan bahwa motif mendekat maupun
motif menjauh dapat digabung dengan motif primer maupun motif sekunder. Berdasarkan
penggabungan ini, terjadilah empat macam motif baru, yakni motif primer mendekat, motif
primer menjauh, motif sekunder mendekat, dan motif sekunder menjauh.

5. Motif Sadar dan Motif Tak Sadar


Pengklasifikasian motif menjadi motif sadar dan motif tidak sadar, semata-mata
didasarkan pada taraf kesadaran manusia terhadap motif yang sedang melatarbelakangi
tingkah lakunya (Handoko, 1992). Apabila ada seseorang yang bertingkah laku tertentu,
namun orang tersebut tidak bisa mengatakan alasannya, motif yang menggerakkan
tingkah laku itu disebut
motif tidak sadar. Sebaliknya, jika seseorang bertingkah laku tertentu dan dia mengerti
alasannya berbuat demikian, motif yang melatarbelakangi tingkah laku itu disebut motif
sadar.
Dalam kehidupan sehari-hari, ternyata tidak semua tingkah laku selalu disadari
motifnya. Kadang-kadang manusia bertingkah laku, misalnya takut, namun ia tidak
mengerti mengapa ia takut. Berdasarkan penyelidikan para ahli, dapat disimpulkan bahwa
pada umumnya tingkah laku abnormal, misalnya fobia, kompulsi, homoseks, dan
sebagainya digerakkan oleh motif-motif tak sadar.
Pada umumnya, tingkah laku manusia disadari motivasinya, tetapi taraf kesadaran
setiap tingkah laku tentu saja berbeda-beda. Ada tingkah laku yang sungguh-sungguh
disadari motivasinya, ada yang kurang begitu disadari, dan ada pula yang hampir tidak
disadari lagi motivasinya. Dari penelitian, dapat disimpulkan bahwa semakin penting
tindakan seseorang, baik bagi dirinya sendiri ataupun bagi orang lain, semakin penuh
kesadaran akan motivasi yang menggerakkannya. Semakin rutin tindakan seseorang,
semakin kurang taraf kesadarannya.
Tingkah laku yang banyak melibatkan aktivitas berpikir, pada umumnya digerakkan
oleh motif-motif sadar, dan taraf kesadarannya pun penuh. Sebaliknya, tingkah laku
instinktif, kebiasaan-kebiasaan, adat tradisi, dan lain-lain, acap kali kurang disadari
motivasi yang ada di belakangnya.

6. Motif Biogenetis, Sosiogenetis, dan Teogenetis


Ditinjau dari sudut asalnya, motif pada diri manusia dapat digolongkan dalam motif
biogenetis dan motif yang sosiogenetis, yaitu motif yang berkembang pada diri orang dan
berasal dari organismenya sebagai makhluk biologis, dan motif-motif yang berasal dari
lingkungan kebudayaannya (Gerungan, 1987).
Motif biogenetis merupakan motif-motif yang berasal dari kebutuhan organisme orang
demi kelanjutan kehidupannya secara biologis. Motif biogenetis ini bercorak universal dan
kurang terikat pada lingkungan kebudayaan tempat manusia itu kebetulan berada dan
berkembang. Motif biogenetis ini adalah ash dalam diri-orang, dan berkembang dengan
sendirinya.
Contoh motif biogenetis misalnya lapar, haus, kebutuhan akan kegiatan dan istirahat,
mengambil nafas, seks, buang air.
Selanjutnya, motif sosiogenetis adalah motif-motif yang dipelajari orang dan berasal
dari lingkungan kebudayaan tempat orang itu berada dan berkembang. Motif sosiogenetis
tidak berkembang dengan sendirinya, mau tak mau, tetapi berdasarkan interaksi sosial
dengan orang-orang atau hasil kebudayaan orang. Motif sosiogenetis ini berbeda-beda
sesuai dengan perbedaan yang terdapat di antara bermacam-macam corak kebudayaan
di dunia. .
Banyak motif orang dewasa merupakan motif sosiogenetis, walaupun terdapat pula
motif biogenetis yang dipengaruhi oleh corak kebudayaan masyarakat tertentu.
Selain kedua motif di atas, ada pula motif lain yang disebut teogenetis. Motif-motif ini
berasal dari interaksi antara manusia dan Tuhan, seperti yang nyata dalam ibadahnya
dan dalam kehidupannya sehari-hari saat ia berusaha merealisasi norma-norma agama
tertentu.
Manusia memerlukan interaksi dengan Tuhannya untuk bisa menyadari tugasnya
sebagai manusia yang berketuhanan dalam masyarakat yang beragam ini. Contoh motif
teogenetis ialah keinginan untuk mengabdi pada Tuhan Yang Maha Esa, keinginan untuk
merealisasi norma-norma agamanya menurut petunjuk kitab suci, dan lain-lain.
Di samping pengklasifikasian di atas, masih banyak pengklasifikasian motif-motif lain.
Woodworth, misalnya, dalam bukunya Psychology, a Studi of Mental Life, mengadakan
klasifikasi motif-motif.
Mula-mula ia membagi atau membedakan motif-motif tersebut menjadi dua bagian:
unlearned motives (motif-motif pokok yang tidak dipelajari) dan learned motives (motif-
motif yang dipelajari). Namun, pengklasifikasian motif Woodworth ini sebenarnya hanya
sebutan lain dari motif primer dan motif sekunder yang sudah kita uraikan di atas.***

BAB 8
KEPRIBADIAN

A. Definisi Kepribadian

Apakah kepribadian itu? Siapa yang belum pernah menyadari bagaimana sulitnya
menerangkan kata-kata, seperti cinta, tabiat, dan kebahagiaan? Meskipun begitu, setiap
orang sedikit banyak mengetahui maksud kata-kata itu. Sama halnya dengan istilah
"kepribadian". Kepribadian seumpama tenaga listrik. Secara samar-samar kita tahu apa
artinya. Namun, apabila hendak memaparkan seluruh maknanya, kita seolah kehilangan
akal.
Kata "kepribadian" (personality) sesungguhnya berasal dari kata Latin: persona.
Pada mulanya, kata persona ini menunjuk pada topeng yang biasa digunakan oleh
pemain sandiwara di zaman Romawi dalam memainkan peranan-peranannya. Pada saat
itu, setiap pemain sandiwara memainkan peranannya masing-masing sesuai dengan
topeng yang dikenakannya. Lambat-laun, kata persona (personality) berubah menjadi
satu istilah yang mengacu pada gambaran sosial tertentu yang diterima oleh individu dari
kelompok atau masyarakatnya, kemudian individu tersebut diharapkan bertingkah laku
berdasarkan atau sesuai dengan gambaran sosial (peran) yang diterimanya (Koswara,
1991:10).
Dalam penelitian kepribadian, terdapat berbagai istilah, seperti motif, sifat, dan
temperamen, yang menunjuk kekhasan permanen pada perseorangan (Berry, et al.,
1999:141). Konsep-konsep ini menyiratkan keajegan lintas-waktu dan lintas-situasi
dalam pola perilaku individu. Asal awal keajegan yang dianggapkan (presumed) itu tidak
selalu sama. Temperamen, misalnya, lebih menunjuk pada dasar biologis dari perilaku,
sementara motif dan sifat terkait dengan pengaruh-pengaruh lingkungan sosial. Apa pun
itu, keajegan yang disebut-sebut terlanjur ada, bahkan dianggap mencerminkan disposisi
psikologis perseorangan, yang mengejawantah dalam tebaran tindakan yang luas.
Agaknya, pengertian atau definisi mengenai "kepribadian" yang bisa dikemukakan
sedemikian banyaknya. Lebih dari enam dasawarsa lalu, Allport (1971) dalam bukunya
Personality, mendaftarkan tidak kurang dari lima puluh definisi yang berbeda, dan sejak
itu jumlahnya kian bertambah banyak.
Allport mendefinisikan kepribadian sebagai berikut:
Personality is the dynamic organization within the individual of those psychophysical
systems that determine his unique adjustments to his environment
(Kepribadian adalah organisasi-organisasi dinamis dari sistem-sistem psikofisik dalam
individu yang turut menentukan cara-caranya yang unik/khas dalam menyesuaikan diri
dengan lingkungannya).
Dengan demikian, berdasarkan definisi di atas, kepribadian memiliki beberapa unsur,
yakni berikut ini.
1. Kepribadian itu merupakan organisasi yang dinamis. Dengan kata lain, ia tidak
statis, tetapi senantiasa berubah setiap saat.
2. Organisasi tersebut terdapat dalam diri individu. Jadi, tidak meliputi hal-hal yang
berada di luar diri individu.
3. Organisasi itu berdiri atas sistem psikis, yang menurut Allport meliputi, antara lain,
sifat dan bakat, serta sistem fisik (anggota dan organ-organ tubuh) yang saling
terkait.
4. Organisasi itu menentukan corak penyesuaian diri yang unik dari tiap individu
terhadap lingkungannya.
Definisi deterministik menganggap kepribadian sebagai keadaan internal individu,
sebagai organisasi proses dan struktur dalam diri seseorang: "Kepribadian adalah apa
yang menentukan perilaku dalam situasi yang ditetapkan dan dalam kesadaran jiwa yang
ditetapkan" (Cattel, 1965:27). Atau, seperti yang dikemukakan Allport, "Kepribadian
terletak di balik tindakan tertentu dan dalam individu; dan sistem yang menyusun
kepribadian dalam segala hal adalah kecenderungan yang menentukan" (Allport, 1971).
Jika didefinisikan seperti itu, kepribadian adalah:
1. Seperangkat kecenderungan kecondongan internal yang terorganisasi untuk
berperilaku dengan cara tertentu;
2. Keberadaan tersendiri yang disimpulkan dari perilaku, bukan yang langsung dapat
diamati;
3. Agak stabil dan konsisten dalam perjalanan waktu dan dipicu oleh rangsangan yang
fungsinya sepadan;
4. Kekuatan yang menjadi penengah di antara penghargaan seseorang kepada dunia
dan kegiatan dalam suatu situasi; dan
5. Membantu individu dalam menyaring realitas, mengungkapkan perasaan, dan
mengidentifikasikan diri kepada orang lain.
Allport menggunakan istilah "sistem psiko-fisik" dengan maksud menunjukkan bahwa
"jiwa" dan "raga" manusia merupakan suatu sistem yang terpadu dan tidak dapat
dipisahkan satu sama lain, serta di antara keduanya selalu terjadi interaksi dalam
mengarahkan tingkah laku. Sementara itu-istilah "khas" dalam definisi kepribadian Allport
memiliki arti bahwa setiap individu bertingkah laku dalam caranya sendiri, karena setiap
individu memiliki kepribadian sendiri. Tidak ada dua orang yang berkepribadian sama,
sehingga tidak akan ada dua orang yang bertingkah laku sama.
Koentjaraningrat (1980) menyebut "kepribadian" atau personality sebagai "Susunan
unsur-unsur akal dan jiwa yang menentukan perbedaan tingkah laku atau tindakan dari
tiap-tiap individu manusia." Definisi tentang kepribadian tersebut, diakuinya sendiri, sangat
kasar sifatnya, dan tidak banyak berbeda dengan arti yang diberikan pada konsep itu
dalam bahasa sehari-hari.
Dalam bahasa populer, istilah "kepribadian" juga berarti ciri-ciri watak seseorang
individu yang konsisten, yang memberikan kepadanya suatu identitas sebagai individu
yang khusus. Jika dalam bahasa sehari-hari kita anggap bahwa seseorang mempunyai
kepribadian, yang kita maksudkan ialah orang tersebut mempunyai beberapa ciri watak
yang diperlihatkannya secara lahir, konsisten, dan konsekuen dalam tingkah lakunya,
sehingga tampak bahwa individu tersebut memiliki identitas khusus yang berbeda dari
individu lainnya.
Apabila definisi umum yang banyak menyerupai arti konsep dalam bahasa sehari-hari
tersebut itu hendak kita pertajam, akan timbul banyak kesukaran. Hal itu sudah banyak
dilakukan oleh para ahli psikologi yang berasal dari berbagai aliran khusus dalam ilmu
psikologi yang memang merupakan tugas mereka, tetapi tidak ada satu definisi yang tajam
dan seragam. Agaknya, konsep kepribadian merupakan konsep yang begitu luas,
sehingga menjadi suatu konstruksi yang tidak mungkin dirumuskan dalam satu definisi
yang tajam, namun bisa mencakup keseluruhannya.
Hermann (1969), sebagaimana dikutip Monks, Knoers, dan Haditono (1984:3),
berpendapat bahwa pengertian kepribadian yang masih bersifat teoretis ini, yang juga
dapat disebut masih merupakan suatu "construct", sangat kabur definisinya. Oleh karena
itu, menurut Hermann, definisi lebih baik itu diberikan sesudah dilakukan penelitian-
penelitian lebih lanjut ketimbang diberikan sekarang.
Menurut para psikolog, istilah "kepribadian" mempunyai arti yang lebih daripada
sekadar sifat menarik. Kepribadian seseorang itu tersusun dari semua sifat yang
dimilikinya. Sifat itu bermacam-macam, antara lain berikut ini.

(1) Ada yang berkenaan dengan cara orang berbuat, seperti tekun, tabah, dan cepat.
(2) Ada yang menggambarkan sikap, seperti sosiabilitas dan patriotisme.
(3) Ada yang berhubungan dengan minat, seperti estetis, atletis, dan sebagainya.
(4) Yang terpenting ialah temperamen emosional, meliputi optimisme, pesimisme,
mudah bergejolak, dan tenang.
Dalam bukunya The Anatomy of Personality (1954), Adams berpendapat bahwa
pengertian istilah kepribadian itu bisa digali jika kita selidiki dengan saksama apa yang kita
maksudkan dengan cakap setiap kali kita menggunakan istilah "saya". Pada waktu Anda
mengatakan "saya", menurut Adams, pada dasarnya Anda menyimpulkan segala sesuatu
mengenai diri Anda - apa yang disukai dan tidak disukai, pilihan dan kegemaran,
ketakutan dan kebencian, kekuatan dan kelemahan Anda. Kata "saya" mendefinisikan
Anda sebagai orang seorang, sebagai orang yang terpisah dan jauh dari semua orang lain
di dunia ini. Kita bisa - dalam upaya merumuskan definisi kata itu - dengan lebih tepat
melihat asal-usulnya. Kepribadian atau dalam bahasa Inggris personality, seperti
disinggung di muka, berasal dari kata Latin persona. Persona adalah topeng yang
digunakan oleh pemain pentas dalam sandiwara atau teater Yunani. Dari sini, kita dengan
mudah bisa melihat bagaimana kata persona akhirnya menunjukkan penampilan luar,
wajah luar yang diperlihatkan orang seorang kepada orang-orang di sekitarnya.
Berdasarkan asal-usul kata itu, bisa disimpulkan bahwa kepribadian menggambarkan
aspek-aspek luar seseorang yang tampak dan dapat diamati orang lain, yaitu seperti apa
orang itu tampak.
Akan tetapi, apakah itu saja yang kita maksudkan ketika kita menggunakan kata
"kepribadian"? Apakah kita hanya bicara tentang sesuatu yang benar-benar bisa dilihat,
sesuatu yang diperlihatkan seseorang kepada kita? Apakah kepribadian hanya
menyangkut bagian muka saja, topeng, peranan yang kita perlihatkan kepada orang lain?
Kebanyakan dari kita, kemungkinan besar mengartikan kata tersebut lebih dari itu. Kita
biasanya mengartikannya berbagai ciri orang seorang - jumlah total atau kumpulan
berbagai ciri khas yang meliputi lebih dari yang tampak di permukaan. Kita juga
mengartikannya sejumlah ciri khas yang subjektif atau di dalam, sesuatu yang mungkin
tidak dapat kita lihat secara langsung atau mungkin dicoba disembunyikan dari kita dan
mungkin kita coba sembunyikan dari orang lain.
Sehubungan dengan hal itu, kepribadian barangkali dapat diberi batasan
sebagaimana dikatakan oleh Newcomb (1950:344-345), yaitu bahwa kepribadian
merupakan organisasi dari sikap-sikap (predispositions) yang dimiliki seseorang sebagai
latar belakang terhadap perikelaktaan. Kepribadian menunjuk pada organisasi dari sikap-
sikap seseorang untuk berbuat, mengetahui, berpikir, dan merasakan secara khusus
apabila ia berhubungan dengan orang lain atau menanggapi suatu keadaan. Karena
kepribadian itu merupakan abstraksi dari individu dan kelakuannya sebagaimana halnya
dengan masyarakat dan kebudayaan, ketiga aspek tersebut mempunyai hubungan saling
memengaruhi satu sama lain.
Harus diakui bahwa para ahli psikologi acap kali berbeda pendapat mengenai bagian
mana dari kepribadian itu yang paling hakiki atau terpenting. Pendapat tersebut hanya
dapat dijelaskan sepenuhnya dengan menelaah terlebih dahulu filsafat antropologi yang
mendasarinya. Dengan kata lain, menelaah jawaban atas pertanyaan "Apakah
sesungguhnya manusia itu". Pendapat filsafat mengenai manusia akan mewarnai
pendapat seseorang mengenai bagian yang dianggap hakiki dari kepribadian dan pada
akhirnya menentukan pengertian tentang kepribadian.
Buku-buku filsafat antropologi dan psikologi kepribadian pada umumnya sering
menyebut perbedaan antara pandangan kontinental (daratan Eropa, terutama Jerman),
pandangan Amerika, dan pandangan Asia. Sebenarnya, perbedaan itu lebih tepat jika
dikatakan karena adanya pengaruh pandangan filsafat yang berbeda, bukan karena
perbedaan tempat, daerah, atau benua. Dengan pesatnya perkembangan teknologi,
terutama ilmu komunikasi, bumi menjadi sempit dan terbentuklah apa yang oleh Marshall
McLuhan disebutsebut sebagai global village (desa dunia), dan manusia mudah sekali
berhubungan satu sama lain, sehingga berbagai aliran filsafat itu pun saling memengaruhi
dan saling menyempurnakan pandangan masing-masing.
Karena itu, sering dikatakan bahwa berbagai pandangan yang berbeda, dalam
psikologi kepribadian hanya, merupakan kesan atau pengaruh masa lampau.
Umpamanya, di daratan Eropa, pandangan ahli-ahli filsafat Leibniz (1646-1716) dan
Immanuel Kant (1724-1804) sangat besar pengaruhnya, sedangkan di Amerika dan
Inggris lebih dipengaruhi oleh ajaran John Locke (1632-1704). Di Asia, pandangan
mengenai manusia dan kepribadian sangat dipengaruhi oleh filsafat agama Hindu, Budha,
Konfusius, dan Islam. Tentu saja, antara ketiga pandangan tersebut satu sama lain saling
meminjam pemikiran guna menyempurnakan pemahamannya terhadap masalah kejiwaan.
Meskipun berbeda-beda, definisi atau batasan kepribadian yang n dirumuskan oleh
para ahli psikologi tersebut menunjukkan bahwa pengertian kepribadian menurut ilmu
psikologi berbeda dan jauh lebih luas ketimbang pengertian kepribadian yang biasa kita
jumpai dalam perbincangan sehari-hari, baik dalam hal isi maupun dalam jangkauannya.
Di antara berbagai perbedaan, sebagian besar definisi yang dirumuskan oleh para
psikolog, khususnya oleh para teoretisi kepribadian, memiliki beberapa persamaan yang
mendasar, yaitu berikut ini.
(1) Pada umumnya, definisi menekankan perlunya memahami arti perbedaan-
perbedaan individual. Dengan istilah "kepribadian", keunikan dari setiap individu
ternyatakan. Dan melalui studi mengenai kepribadian, sifat-sifat individu yang
membedakannya dengan individu lain diharapkan menjadi jelas atau bisa lebih
dipahami. Singkat kata, para teoretisi kepribadian memandang kepribadian
sebagai sesuatu yang unik atau khas pada diri setiap orang.
(2) Pada umumnya, definisi melukiskan kepribadian sebagai suatu struktur atau
organisasi hipotesis, dan tingkah laku dilihat sebagai sesuatu yang diorganisasi
dan diintegrasikan oleh kepribadian. Atau dengan kata lain, kepribadian
dipandang sebagai "organisasi" yang menjadi penentu atau pengarah tingkah
laku.
(3) Pada umumnya, definisi menekankan pentingnya melihat kepribadian dari sudut
"sejarah hidup", perkembangan, dan perspektif. Kepribadian, menurut para
teoretisi kepribadian, merepresentasikan proses keterlibatan subjek atau
individual atas pengaruh internal dan eksternal, yang mencakup faktor genetik
atau biologis, pengalaman sosial, dan perubahan lingkungan. Atau dengan kata
lain, corak dan keunikan kepribadian individu ditentukan atau dipengaruhi oleh
faktor-faktor bawaan dan lingkungan.

B. Teori-Teori Kepribadian

Seorang antropolog dan seorang psikolog, Clyde Kluckhohn clan Henry Murray
(1954), pernah menyatakan bahwa setiap orang dalam segi-+Jegi tertentu adalah (a)
seperti semua orang lain, (b) seperti sejumlah orang lain, (c) seperti tak seorang lain pun
(Supratiknya, 1993). Dari ketiga kondisi tersebut, yang terakhirlah terutama yang telah
merangsang usaha mengembangkan teori-teori kepribadian di bidang psikologi.
Seandainya, dalam semua segi, setiap orang sama seperti kebanyakan atau bahkan
semua orang lain, kita bisa tahu apa yang diperbuat seseorang dalam situasi tertentu
berdasarkan pengalaman diri kita sendiri. Kenyataannya, dalam banyak segi, setiap orang
adalah unik, khas. Akibatnya, yang lebih sering terjadi adalah kita mengalami salah paham
dengan teman di kampus, sejawat di kantor, tetangga, atau bahkan dengan suami/istri dan
anak-anak di rumah. Kita terkejut oleh tindakan di luar batas yang dilakukan oleh
seseorang yang biasa dikenal alim dan saleh, dan masih banyak lagi.
Oleh karena itu, kita membutuhkan sejenis kerangka acuan untuk memahami dan
menjelaskan tingkah laku diri sendiri dan orang lain. Kita membutuhkan teori-teori tentang
tingkah laku, teori-teori tentang kepribadian.
Dalam bukunya Theories of Personality (1981), Schultz mengatakan, paling sedikit
ada sembilan teori kepribadian, yakni psikoalanisis, neopsikoanalisis, interpersonal, sifat,
perkembangan, humanistik, kognitif, behaviorisme, dan bidang terbatas. Dalam beberapa
hal, pandangan ini menunjukkan adanya kekuatan penting yang aktif dalam seluruh
bidang psikologi, bukan hanya dalam bidang kepribadian.
Dalam buku ini, kita akan membahas empat teori kepribadian utama yang satu sama
lain tentu saja berbeda, yakni teori kepribadian psikoanalisis, teoriteori sifat (trait), teori
kepribadian behaviorisme, dan teori psikologi kognitif.

1. Teori Kepribadian Psikoanalisis


Dalam mencoba memahami sistem kepribadian manusia, Freud membangun model
kepribadian yang saling berhubungan dan menimbulkan ketegangan satu sama lain.
Konflik dasar dari tiga sistem kepribadian tersebut menciptakan energi psikis individu.
Energi dasar ini menjadi kebutuhan instink individu yang menuntut pemuasan. Tiga
sistem tersebut adalah, id, ego, dan superego. Meskipun memiliki ciri-ciri, prinsip kerja,
fungsi dan sifat yang berbeda, ketiga sistem ini merupakan satu tim yang saling bekerja
sama dalam memengaruhi perilaku manusia
Id bekerja menggunakan prinsip kesenangan, mencari pemuasan segera impuls
biologis; ego mematuhi prinsip realita, menunda pemuasan sampai bisa dicapai dengan
cara yang diterima masyarakat, dan superego (hati nurani; suara hati) memiliki standar
moral pada individu. Jadi, jelas bahwa dalam teori psikoanalisis Freud, ego ini harus
menghadapi konflik antara id (yang berisi naluri seksual dan agresif yang selalu minta
disalurkan) dan superego (yang berisi larangan yang menghambat naluri-naluri itu).
Selanjutnya, ego masih harus mempertimbangkan realitas di dunia luar sebelum
menampilkan perilaku tertentu.
Namun, dalam psikoanalisis Carl Gustav Jung, ego bukannya menghadapi konflik
antara id dan seperego, melainkan harus mengelola dorongan-dorongan yang datang dari
ketidaksadaran kolektif (yang berisi naluri-naluri yang diperoleh dari pengalaman masa
lalu dari masa generasi yang lalu) dan ketidaksadaran pribadi yang berisi pengalaman
pribadi yang diredam dalam ketidaksadaran. Berbeda dari Freud, Jung tidak
mendasarkan teorinya pada dorongan seks.
Selanjutnya, teori Freud mengenai dinamika kepribadian menyatakan bahwa terdapat
sejumlah energi psikis (libido) yang konstan untuk setiap individu. Jika tindakan atau
dorongan yang terlarang disupresi, energinya akan mencari penyaluran lain, seperti
mimpi atau gejolak neurotik. Teori ini berpendapat bahwa dorongan id yang tidak bisa
diterima dapat menimbulkan kecemasan, yang bisa diturunkan oleh mekanisme
pertahanan.
Jika diamati dari cara memandang manusia sebagai suatu sistem energi yang
kompleks, bisa diketahui bahwa pemikiran Freud dipengaruhi oleh filsafat yang
deterministik dan positivistik yang mendominasi ilmu pengetahuan abad ke-19, terutama
dalam bidang fisika dan fisiologi. Menurut keyakinan Freud, yang juga menjadi keyakinan
para ilmuwan bidang fisika dan fisiologi pada waktu itu, energi yang terdapat pada
manusia, yang digunakan untuk berbagai aktivitas, seperti bernafas, kontraksi otot,
mengingat, mengamati, dan berpikir berasal dari sumber yang sama, yakni makanan yang
dikonsumsi individu. Dalam hubungan ini, Freud menambahkan bahwa energi manusia
dapat dibedakan hanya dari penggunaannya, yakni untuk aktivitas fisik - disebut energi
fisik, dan energi yang digunakan untuk aktivitas psikis - disebut energi psikis. Dari sini pun
dapat diketahui bahwa Freud telah menerapkan hukum kelangsungan energi
(conservation of energy) yang berasal dari fisika pada manusia. Menurut hukum
kelangsungan energi, energi bisa diubah dari satu keadaan atau bentuk ke keadaan atau
bentuk yang lain, tetapi tidak akan hilang dari sistem kosmik secara keseluruhan. Atas
dasar hukum ini, Freud mengajiikan gagasan bahwa energi fisik bisa diubah menjadi
energi psikis, dan sebaliknya. Yang menjembatani energi fisik dengan kepribadian adalah
id dengan naluri-nalurinya.
Kemudian, teori Freud mengenai perkembangan kepribadian menyatakan bahwa
individu melewati tahap psikoseksual (seperti oral, anal, falik) dan harus memecahkan
konflik oedipal, saat anak kecil memandang orang tua berjenis kelamin sama sebagai
saingan untuk mendapatkan kasih sayang dari orang tua berjenis kelamin lain. Teori
kecemasan dan mekanisme Freud, menurut Atkinson, bernasib lebih baik selama
bertahun-tahun dibandingkan teori struktural dan perkembangannya. Teori psikoalanisis
telah dimodifikasi oleh ahli lain, seperti Jung, Adler, Horney, Sullivan, Fromm, dan Erikson
- yang semuanya lebih menekankan fungsi ego dan motif, selain dari seks dan agresi.
Bagi Erikson, misalnya, meskipun ia mengakui adanya id, ego, dan superego,
menurutnya, yang terpenting bukannya dorongan seks dan bukan pula konflik antara id
dan superego. Bagi Erikson, manusia adalah makhluk rasional yang pikiran, perasaan,
dan perilakunya dikendalikan oleh ego. Jadi, ego itu aktif, bukan pasif seperti pada teori
Freud, dan merupakan unsur utama dari kepribadian yang lebih banyak dipengaruhi oleh
faktor sosial daripada dorongan seksual. Dengan kata lain, Erikson lebih, mementingkan
faktor psikososial, sementara Freud lebih mengutamakan faktor psikoseksual dalam
menganalisis kepribadian.

2. Teori-Teori Sifat (Trait Theories)


Yang dimaksud dengan teori-teori sifat (trait theories) pada dasarnya meliputi
"psikologi individu" Gordon Williard Allport, "psikologi konstitusi" William Sheldon, dan
"teori faktor" Raymond Cattell (Hall & Lindzey, 1993:9). Teori-teori sifat ini juga dikenal
sebagai teori-teori tipe (type theories) yang menekankan aspek kepribadian yang bersifat
relatif stabil atau menetap. Tepatnya, teori-teori ini menyatakan bahwa manusia memiliki
sifat atau sifat-sifat tertentu, yakni pola kecenderungan untuk bertingkah laku dengan cara
tertentu. Sifat-sifat yang stabil ini menyebabkan man;usia bertingkah laku relatif tetap dari
situasi ke situasi.
Allport menekankan bahwa keunikan seseorang hanya satu-satunya yang dimiliki
orang tersebut. Namun, ada satu fokus yang kuat ketika kognitif internal dan proses
motivasional seseorang memengaruhi dan menyebabkan perilaku. Struktur internal ini
terdiri atas berbagai refleks, dorongan, kebiasaan dan kemampuan, kepercayaan, sikap,
nilai, intensi, dan sifat.
Sebetulnya, teori Allport bisa dikatakan bercorak eklektik dan barangkali menjadi
gambaran yang luas karena ia memasukkan pengertian dari psikologi, sosiologi, filsafat,
dan agama. Dalam pandangannya, kepribadian pada prinsipnya mengandung karakteristik
atau keunikan perilaku dan pemikiran seseorang. Allport menunjukkan bahwa semua sifat
kita adalah unik. Kita tidak hanya menyesuaikan diri dengan lingkungan dengan bertindak
dalam cara tertentu, tetapi juga merefleksikannya. Dengan melakukannya, kita bukan
hanya mampu bertahan, melainkan . juga bertumbuh.
Bagi Allport, sifat adalah sesuatu yang sesungguhnya eksis, namun tidak terlihat. Itu
terletak dalam bagian tertentu dalam sistem saraf. Meskipun tidak melihat, kita bisa
merasakan kehadirannya dengan mengamati konsistensi dari perilaku seseorang.
Allport membedakan antara sifat umum (general trait) dan kecenderungan pribadi
(personal disposition). Sifat umum adalah dimensi sifat yang dapat membandingkan
individu satu sama lainnya. Kecenderungan pribadi dimaksudkan sebagai pola atau
konfigurasi unik sifat-sifat yang ada dalam diri individu. Dua orang mungkin sama-sama
jujur, namun berbeda dalam hal kejujuran berkaitan dengan sifat lain. Orang pertama,
karena peka terhadap perasaan orang lain, kadang-kadang menceritakan "kebohongan
putih"; bagi orang ini, kepekaan sensitivitas adalah lebih tinggi dari kejujuran. Adapun
orang kedua menilai kejujuran lebih tinggi, dan mengatakan apa adanya walaupun hal itu
melukai orang lain. Orang mungkin pula memiliki sifat yang sama, tetapi dengan motif
berbeda. Seseorang mungkin berhati-hati karena ia takut terhadap pendapat orang lain,
dan orang lain mungkin hati-hati karena mengekspresikan kebutuhannya untuk
mempertahankan keteraturan hidup.
Selanjutnya, Allport, membagi sejumlah perbedaan di antara berbagai jenis sifat, yaitu:
(1) Sifat-sifat kardinal (cardinal traits). Sifat-sifat ini merupakan karakteristik yang
meresap dan dominan dalam kehidupan seseorang, dan bisa dikatakan sebagai
motif utama, sifat utama. Umpamanya, kebutuhan seseorang untuk berkuasa.
Orang demikian tidak hanya mencoba mendominasi istrinya, namun juga ingin
memenangkan pertandingan tenis meja dengan anaknya. Ini terkumpul dalam
semua perilakunya.
(2) Sifat-sifat sentral (central traits). Sifat-sifat ini merupakan karakteristik yang
kurang mengontrol atau memotivasi perilaku individu, namun tidak kalah penting.
Meskipun mengontrol perilaku dalam berbagai situasi, sifat ini tidak mendorong
atau menekan dengan kuat seperti sifat-sifat kardinal.
(3) Sifat-sifat sekunder (secondary traits). Sifat-sifat ini merupakan karakteristik
periferal dalam individu. Sifat ini tampaknya berfungsi lebih terbatas, kurang
menentukan dalam deskripSi kepribadian, dan lebih terpusat (khusus) pada
respons-respons yang didasarinya serta perangsang-perangsang yang
disukainya. Umpamanya, seseorang ingin berlibur atau rekreasi, rileks, dan
sebagainya.
Termasuk dalam teori-teori sifat berikutnya adalah teori-teori dari William Sheldon.
Sheldon, dikenal sebagai pendukung utama "psikologi konstitusi" pada zamannya. la adalah
seorang psikolog, dokter, dan ahli ilmu alam yang percaya bahwa struktur fisik
menentukan perilaku seseorang.
Teori Sheldon sering digolongkan sebagai teori tipologi (Yuniami, 1977). Meskipun
demikian, ia sebenarnya menolak pengotakkan menurut tipe ini. Ini, menurut Sheldon,
karena variabel yang diajukannya bukan satu pembedaan secara kategorial. Manusia
tidak bisa digolongkan dalam tipe ini atau tipe itu. Akan tetapi, setidak-tidaknya, seseorang
memiliki tiga komponen fisik yang berbeda menurut derajat dan tingkatnya masing-
masing. Kombinasi ketiga komponen ini menimbulkan berbagai kemungkinan tipe fisik
yang disebutnya sebagai somatotipe.
Istilah "konstitusional" sebenarnya sering digunakan dalam psikologi untuk
menunjukkan faktor-faktor yang muncul pada saat kelahiran, baik faktor genetis maupun
pengaruh lingkungan dalam kandungan. Sheldon menggunakan istilah ini dengan
memperhatikan aspek-aspek yang bisa dilihat dan diukur. Menurut Sheldon, psikologi
konstitusi adalah suatu studi mengenai aspek-aspek psikologis dari perilaku manusia yang
berkaitan dengan morfologi dan fisiologi tubuh. Konstitusi merupakan aspek dalam diri
manusia yang relatif menetap seperti. bentuk atau struktur tubuh manusia.
Sheldon mengumpulkan 650 jenis sifat kepribadian yang didapatnya dari literatur-
literatur kepribadian, terutama yang membicarakan sifat-sifat manusia (Yuniarni, 1977).
Semua sifat. ini kemudian dikelompokkan lagi ke dalam 50 sifat. Berdasarkan pada 50
sifat tersebut, Sheldon melakukan penelitian terhadap 33 mahasiswa pascasarjana,
dosen, dan lain-lain. Dengan metode korelasi, ia mengelompokkan sifat-sifat tersebut.
Dari hasil korelasi yang ada, diperoleh 20 sifat yang dimasukkan dalam tiga komponen
atau dimensi temperamental.
Ketiga kelompok tersebut adalah sebagai berikut:
(1) Viscerotonia. Individu yang memiliki nilai vi scerotonia yang tinggi, memiliki sifat-
sifat, antara lain suka makan enak, pengejar kenikmatan, tenang, toleran, lamban,
santai, pandai bergaul.
(2) Somatotonia. Individu dengan sifat somatotonia yang tinggi memiliki sifatsifat
seperti suka berpetualang dan berani mengambil risiko yang tinggi,
membutuhkan aktivitas fisik yang menantang, agresif, kurang peka dengan
perasaan orang lain, cenderung menguasai dan membuat gaduh.
(3) Cerebretonia. Pribadi yang mempunyai nilai cerebretonia dikatakan bersifat
tertutup dan senang menyendiri, tidak menyukai keramaian dan takut kepada
orang lain, serta memiliki kesadaran diri yang tinggi. Bila sedang dirundung
masalah, ia memiliki reaksi yang cepat dan sulit tidur.
Teori-teori sifat lainnya adalah "teori faktor" Raymond Cattell. Penelitian analisis
faktor tentang kepribadian yag paling intensif telah dilakukan oleh Raymond Cattell
(1957; 1966). la pertama kali memadatkan daftar AllportOdbert menjadi 200 istilah
dengan menghilangkan lagi kata-kata yang jarang clan sinonim dekat. Ia kemudian
meminta orang menilai kawan-kawan mereka berdasarkan sifat kepribadian tersebut,
kemudian ia melakukan analisis faktor terhadap hasilnya. Analisis ini menghasilkan 12
faktor kepribadian, yang kemudian ditambah 4 lagi dengan penilaian sendiri yang
dianalisis faktor. Walaupun Cattell memberikan nama teknik bagi faktornya yang
terdengar aneh (sebagai contohnya, affectia versus sizia), ia juga memberi label yang
lebih dikenal (ramah versus tak-ramah). Sebagian faktor lain adalah stabil emosional,
dominan-tunduk dan imaginatif-praktis.

3. Teori Kepribadian Behaviorisme


Menurut Skinner, penyelidikan mengenai kepribadian hanya sah jika memenuhi
berbagai kriteria ilmiah. Umpamanya, ia tidak akan menerima gagasan bahwa kepribadian
(personality) atau diri (self) yang membimbing atau mengarahkan perilaku. Baginya,
pendekatan seperti ini adalah sisa Animisme, suatu ajaran yang mengandaikan
keberadaan jiwa dalam tubuh yang menggerakkan tubuh itu. Ia juga tidak akan puas
dengan penjelasan perilaku yang buntu seperti jawaban "Mengapa para perampok
membunuh orang-orang yang tidak berdaya? Apakah karena mereka gila?"
Dalam pandangannya, penyelidikan tentang kepribadian melibatkan pengamatan yang
sistematis dan sejarah belajar yang khas, serta latar belakang genetis yang unik dari
individu. Menurut Skinner, individu adalah organisme yang memperoleh perbendaharaan
tingkah lakunya melalui belajar. Dia bukanlah agen penyebab tingkah laku, melainkan
tempat kedudukan atau suatu point yang faktor-faktor lingkungan dan bawaan yang khas
secara bersama-sama menghasilkan akibat (tingkah laku) yang khas pula pada individu
tersebut.
Bagi Skinner, studi mengenai kepribadian itu ditujukan pada penemuan pola yang
khas dari kaitan antara tingkah laku organisme dan berbagai konsekuensi yang
diperkuatnya.
Selanjutnya, Skinner telah menguraikan sejumlah teknik yang digunakan untuk
mengontrol perilaku. Kemudian banyak di antaranya dipelajari oleh social-learning
theoritists yang tertarik dalam modeling din modifikasi perilaku. Teknik tersebut adalah
sebagai berikut (Wulansari & Sujatno, 1977).
(1) Pengekangan fisik (physical restraints)
Menurut Skinner, kita mengontrol perilaku melalui pengekangan fisik. Misalnya,
beberapa dari kita menutup mulut untuk menghindari diri dari menertawakan
kesalahan orang lain. Orang kadang-kadang melakukannya dengan bentuk lain,
seperti berjalan menjauhi seseorang yang telah menghina kita agar tidak
kehilangan kontrol dan menyerang orang tersebut secara fisik.
(2) Bantuan fisik (physical aids)
Dalam pandangan Skinner, bantuan fisik dapat digunakan untuk mengontrol
perilaku. Kadang-kadang, orang menggunakan obat-obatan untuk mengontrol
perilaku yang tidak diinginkan. Misalnya, pengendara truk meminum obat
perangsang agar tidak mengantuk saat menempuh perjalanan jauh. Bantuan fisik
bisa juga digunakan untuk memudahkan perilaku tertentu, yang bisa dilihat pada
orang memiliki masalah penglihatan dengan cara memakai kacamata.
(3) Mengubah kondisi stimulus (changing the stimulus conditions)
Suatu teknik lain adalah mengubah stimulus yang bertanggung jawab.
Misalnya, orang yang berkelebihan berat badan menyisihkan sekotak permen dari
hadapannya sehingga dapat mengekang diri sendiri. Dalam contoh tersebut, orang
menyingkirkan discriminative stimuli yang menyebabkan perilaku yang tidak
diinginkan. Akan tetapi, menurut Skinner, kita tidak hanya menyingkirkan stimulus
tertentu pada situasi tertentu. Kita tidak juga menghadirkan stimulus untuk
melakukan suatu perilaku tertentu. Misalnya, kita menggunakan kaca cermin untuk
berlatih menguasai tarian yang sulit.
(4) Memanipulasi kondisi emosional (manipulating emotional conditions)
Skinner menyatakan bahwa terkadang kita mengadakan perubahan emosional
dalam diri kita untuk mengontrol diri. Misalnya, beberapa orang menggunakan
teknik meditasi untuk mengatasi stres. Serupa dengan itu, kita mungkin membuat
diri sendiri memiliki suasana hati yang baik sebelum menghadiri pertemuan yang
membuat stres agar kita dapat menunjukkan perilaku yang tepat.
(5) Melakukan respons-respons lain (performing alternative responses)
Menurut Skinner, kita juga sering menahan diri dari melakukan perilaku yang
membawa hukuman dengan melakukan hal lain. Misalnya, untuk menahan diri agar
tidak menyerang orang yang sangat tidak kita sukai, kita mungkin melakukan
tindakan yang tidak berhubungan dengan pendapat kita tentang mereka.
(6) Menguatkan diri secara positif (positive selfireinforcement)
Salah satu teknik yang kita gunakan untuk mengendalikan perilaku, menurut
Skinner, adalah positive self-reinforcement. Kita menghadiahi diri sendiri atas
perilaku yang patut dihargai. Misalnya, seorang pelajar menghadiahi diri sendiri
karena telah belajar keras dan dapat mengerjakan ujian dengan baik, dengan
menonton film yang bagus.
(7) Menghukum diri sendiri (self punishment)
Akhirnya, seseorang mungkin menghukum diri sendiri karena gagal mencapai
tujuan diri sendiri. Misalnya, seorang mahasiswa menghukum dirinya sendiri karena
gagal melakukan ujian dengan baik dengan cara menyendiri dan belajar kembali
dengan giat.

4. Teori Psikologi Kognitif


Menurut para ahli, teori psikologi kognitif dapat dikatakan berawal dari pandangan
psikologi Gestalt di Jerman beberapa saat sebelum Perang Dunia II. Mereka berpendapat
bahwa dalam memersepsi lingkungannya, manusia tidak sekadar mengandalkan diri pada
apa yang diterima dari pengindraannya, tetapi masukan dari pengindraan itu diatur, saling
dihubungkan dan diorganisasikan untuk diberi makna, dan selanjutnya dijadikan awal dari
suatu perilaku. Karena itulah, menurut tokoh psikologi Gestalt - Christian von Ehrenfels,
sebuah lagu akan tetap dikenal, walaupun nadanya berbeda. Tokoh psikologi Gestalt
lainnya, Kurt Koffka, membuktikan bahwa simpanse dapat mengambil pisang yang terletak
di luar kandangnya dengan menyambung dua batang pipa, walaupun simpanse itu belum
pernah mendapatkan pengalaman seperti itu (Sarwono, 1977).
Teori psikologi Gestalt kemudian dikembangkan oleh Kurt Lewin (1936) dengan teori
lapangannya, dan berkembang di Amerika Serikat menjadi psikologi kognitif.
Pandangan teori kognitif menyatakan bahwa organisasi kepribadian manusia tidak lain
adalah elemen-elemen kesadaran yang satu sama lain saling terkait dalam lapangan
kesadaran (kognisi). Dalam teori ini, unsur psikis dan fisik tidak dipisahkan lagi, karena
keduanya termasuk dalam kognisi manusia. Bahkan, dengan teori ini dimungkinkan juga
faktor-faktor di luar diri dimasukkan (diwakili) dalam lapangan psikologis atau lapangan
kesadaran seseorang. Patung dewa milik Lueli, misalnya, merupakan salah satu elemen
yang sangat penting dan bernilai sangat positif dalam kognisi Lueli, sehingga Pak Fortune
tidak dapat menyuruh Lueli melupakan patung itu (bahkan, patung itu disuruh bakar saja
oleh Pak Fortune) untuk digantikan dengan Tuhan lain sebagaimana yang diajarkan atau
diyakini oleh Pak Fortune.

C. Proses PerkenlbangaN Kepribadian

Carl Gustav Jung (1875-1961) mengatakan bahwa pertumbuhan pribadi merupakan


suatu dinamika dan proses evolusi yang terjadi sepanjang hidup. Individu secara kontinyu
berkembang dan belajar keterampilan baru serta bergerak menuju realisasi diri.
Pada dasarnya, Jung tidak menerima pandangan Freud bahwa kepribadian individu
relatif berhenti dengan berakhirnya masa kecil. Jung menolak pula konsep Freud bahwa
kejadian masa lalu menentukan perilaku seseorang. Bagi Jung, perilaku individu
ditentukan bukan hanya oleh pengalaman masa lalu, melainkan juga oleh tujuan masa
depan. la melihat individu sebagai seseorang yang secara kontinu merencanakan masa
depannya. Akan tetapi, walaupun individu dapat mengalami progresivitas menuju diri
pribadi dengan mengembangkan fungsi-fungsi psikologis yang berbeda, dapat juga
mengalami kemunduran.
Pada hakikatnya, kepribadian dapat dikatakan mencakup semua aspek
perkembangan, seperti perkembangan fisik, motorik, mental, sosial, moral, tetapi melebihi
penjumlahan semua aspek perkembangan tersebut. Kepribadian merupakan suatu
kesatuan aspek jiwa dan badan, yang menyebabkan adanya kesatuan dalam tingkah laku
dan tindakan seseorang. Ini disebut integrasi, integrasi dari pola-pola kepribadian yang
dibentuk oleh seseorang. Dan pembentukan pola kepribadian ini terjadi melalui proses
interaksi dalam dirinya sendiri, dengan pengaruh-pengaruh dari lingkungan luar.
Murray (dalam Hall & Lindzey, 1993) beranggapan bahwa faktor-faktor genetika dan
pematangan mempunyai peranan yang penting dalam perkembangan kepribadian.
Menurutnya, proses-proses genetik pematangan bertugas memprogramkan sejenis
suksesi atau urutan pergantian berbagai masa sepanjang kehidupan seorang individu.
Selama masa pertama - yakni masa kanak-kanak, adolesen dan masa dewasa awal -
komposisi struktural baru muneul dan menjadi bertambah banyak. Masa usia setengah
baya ditandai oleh rekomposisi konservatif atas struktur dan fungsi yang telah muncul.
Selama masa terakhir, masa usia lanjut, kapasitas untuk membentuk komposisi baru
menjadi berkurang. Sebaliknya, atrofi dari bentuk dan fungsi yang ada menjadi meningkat.
Dalam setiap periode, terdapat banyak program peristiwa tingkah laku dan pengalaman
yang lebih kecil yang berlangsung di bawah bimbingan proses pematangan yang dikontrol
secara genetis.
Sebetulnya, banyak faktor yang berperan dalam pembentukan kepribadian seseorang.
Dalam hubungan pengaruh-memengaruhi, terlihat bahwa anak dalam perkembangan
dirinya memperlihatkan sifat-sifat yang tertuju pada lingkungan. Lingkungan menerima
sifat tersebut dan memperlihatkan reaksi yang dibentuk atas dasar sifat-sifat, penampilan
anak, dan pengolahan lingkungan itu. Jadi, lingkungan juga berubah dan memperlihatkan
proses perubahan. Lingkungan yang berubah itu memberikan juga perangsang pada
anak, yang berpengaruh terhadap perkembangan anak, khususnya perkembangan
pembentukan kepribadian. Dengan demikian, anak yang berkembang memberikan
penampilan pada lingkungan pada satu pihak, clan di pihak lain menerima penampilan
lingkungan yang mengubahnya. Akhirnya, terlihat hubungan timbal balik antara anak dan
konstitusi yang berkembang terus dan lingkungan yang berubah juga.
Menurut Hall & Lindzey (1993), perkembangan berlangsung menurut tiga dimensi
kepribadian. Dalam dimensi vertikal, orang berkembang dari posisi tengah pada skala ke
arah luar dan juga ke dalam. la mengembangkan kebutuhan yang lebih dalam dan lebih
menyeluruh serta pola tingkah laku yang lebih terinci untuk memuaskan kebutuhannya.
Dalam dimensi progresif, perkembangan berarti meningkatkan efisiensi dan produktivitas. la
mencapai tujuannya dengan cara yang lebih langsung dan dengan lebih sedikit gerakan
yang sia-sia. Dalam dimensi transvers, pertumbuhan mengakibatkan koordinasi yang lebih
baik dan keluwesan bertingkah laku yang lebih besar. Perkembangan yang harmonis pada
ketiga dimensi tersebut akan memperkaya dan memperluas kepribadian.
Teori psikoanalisis mengenai perkembangan kepribadian berlandaskan dua premis
(Koswara, 1991). Pertama, premis bahwa kepribadian individu dibentuk oleh berbagai
jenis pengalaman masa kanak-kanak awal. Kedua, energi seksual (libido) ada sejak lahir,
dan kemudian berkembang melalui serangkaian tahapan psikoseksual yang bersumber
pada proses-proses naluriah organisme.
Freud menegaskan bahwa pada manusia terdapat empat fase atau tahapan
perkembangan psikoseksual yang kesemuanya menentukan pembentukan kepribadian,
dan masing-masing fase berkaitan dengan daerah erogen tertentu. Yang disebut daerah
erogen adalah bagian tubuh tertentu yang peka dan bisa mendatangkan kenikmatan
seksual apabila dikenai rangsangan. Daerah-daerah erogen itu adalah mulut atau bibir
(oral), alat pembuangan atau dubur (anal), dan alat kelamin (genital). Adapun fase
perkembangan psikoseksual adalah fase oral, fase anal, fase falik, dan fase genital.
Periode laten, yang biasanya muncul antara usia 6 atau 7 tahun sampai masa pubertas,
oleh Freud dimasukkan dalam skema keseluruhan perkembangan, dan secara teknis
bukan merupakan suatu fase. Menurutnya, pengalaman sosial individu pada masing-
masing fase meninggalkan sejumlah bekas yang permanen, berupa sikap, sifat, dan nilai
yang khas.

D. tipe-tipe Kepribadian
Pada dasarnya, setiap orang memiliki kepribadian yang berbeda satu sama lain.
Penelitian mengenai kepribadian manusia sudah dilakukan para ahli sejak dulu kala. Kita
mengenal Hippocrates dan Galenus (400 SM dan 175 M) yang mengemukakan bahwa
manusia bisa dibagi menjadi empat golongan menurut keadaan zat cair yang ada dalam
tubuhnya.
(1) Melancholicus (melankolisi), yaitu orang-orang yang banyak empedu hitamnya,
sehingga orang-orang dengan tipe ini selalu bersikap murung atau muram,
pesimistis, dan selalu menaruh rasa curiga.
(2) Sanguinicus (sanguinisi), yakni orang-orang yang banyak darahnya, sehingga orang-
orang tipe ini selalu menunjukkan wajah yang berseri-seri, periang atau selalu
gembira, dan bersikap optimistis.
(3) Flegmaticus (flegmatisi), yaitu orang-orang yang banyak lendimya. Orang tipe ini
sifatnya lamban dan pemalas, wajahnya selalu pucat, pesimis, pembawaannya
tenang, pendiriannya tidak mudah berubah.
(4) Cholericus (kolerisi), yakni yang banyak empedu kuningnya. Orang tipe ini bertubuh
besar dan kuat, namun penaik darah dan sukar mengendalikan diri, sifatnya garang
dan agresif.
Eduard Spranger, ahli ilmu jiwa dari Jerman, mencoba mengadakan penyelidikan
kepribadian manusia dengan cara lain. Ia mengadakan penggolongan tipe
manusia'berdasarkan sikap manusia itu terhadap nilai kebudayaan yang hidup di dalam
masyarakat. Nilai kebudayaan itu dibaginya menjadi enam golongan, yaitu: politik,
ekonomi, sosial, seni, agama, dan teori. Berdasarkan hal tersebut, ia membagi
kepribadian manusia menjadi enam golongan atau tipe.
(1) Manusia politik. Orang bertipe politik memiliki sifat suka menguasai orang lain. Nilai
terpenting bagi orang ini ialah politik, sehingga cukup beralasan bila dalam
kesehariannya ia sangat senang berbicara soal-soal politik dan kenegaraan, mengikuti
setiap pergolakan yang terjadi di dalam dan luar negeri.
(2) Manusia ekonomi. Suka bekerja dan mencari untung merupakan sifat-sifat yang paling
dominan pada tipe orang ini. Karena itu, bisa dimaklumi jika uang (ekonomi)
dianggapnya sebagai nilai yang paling penting. Semboyannya ialah time is money.
Segala usahanya ditujukan pada penguasaan materi sebanyak-banyaknya. Tujuan
hidupnya adalah mencapai kebahagiaan melalui harta kekayaan. Setiap kegiatan
selalu diperhitungkan untung ruginya. Mereka tidak mau membuang waktu dengan
percuma.
(3) Manusia sosial. Orang bertipe sosial memiliki sifat-sifat suka mengabdi dan berkorban
untuk orang lain. Bagi orang ini, nilai-nilai sosial paling memengaruhi jiwanya. Mereka
senang bergaul, suka bekerja sama dalam menyelesaikan masalah, dan suka
membantu orang lain, terutama yang mengalami kesulitan.
(4) Manusia seni. Jiwa orang yang bertipe seni selalu dipengaruhi oleh nilai-nilai
keindahan. Sebagian besar waktunya- dipergunakan untuk mengabdi kepada
kesenian. Paling berharga dalam pandangan mereka adalah segala sesuatu yang
memiliki nilai seni. Pada -umumnya, mereka suka menyendiri, jauh dari kebisingan
dan kemewahan hidup.
(5) Manusia agama. Bagi mereka, yang lebih penting dalam hidup ialah mengabdi kepada
Tuhan Yang Maha Esa. Mereka selalu ingin berbuat kebajikan terhadap orang lain
serta melaksanakan syariat agamanya semaksimal mungkin. Dalam semua tindak-
tanduknya, mereka senantiasa memperlihatkan ajaran-ajaran agama.
(6) Manusia teori. Sifat-sifat tipe manusia ini, antara lain lain suka berpikir, berfilsafat, dan
mengabdi pada ilmu. Orang tipe ini suka membaca, senang berdiskusi mengenai teori-
teori ilmu pengetahuan, menyelidiki suatu kebenaran/mengadakan penelitian,
cenderung menyendiri ketimbang mengobrol dengan orang lain secara iseng. Orang-
orang ini berpendapat bahwa ilmu pengetahuan adalah yang paling penting dan
berada di atas segala-galanya.
C.G. Jung, seorang ahli penyakit jiwa dari Swiss, membuat pembagian tipe manusia
dengan cara lain lagi. la menyatakan bahwa perhatian manusia tertuju pada dua arah, yakni
ke luar dirinya yang disebut extrovert, dan ke dalam dirinya yang disebut introvert. Ke
mana arah perhatian manusia itu yang terkuat ke luar dirinya atau ke dalam dirinya, itulah
yang menentukan tipe orang itu. Jadi, menurut Jung, tipe manusia bisa dibagi menjadi dua
golongan besar, yaitu (Purwanto, 1998):
(1) Tipe extrovert, yaitu orang-orang yang perhatiannya lebih diarahkan ke luar
dirinya, kepada orang-orang lain dan kepada masyarakat.
(2) Tipe introvert, orang-orang yang perhatiannya lebih mengarah pada dirinya,
pada "aku"-nya.
Orang yang tergolong tipe extrovert mempunyai sifat-sifat: berhati terbuka, lancar
dalam pergaulan, ramah, penggembira, kontak dengan lingkungan besar sekali. Mereka
mudah memengaruhi dan mudah pula dipengaruhi oleh lingkungannya. Adapun orang-
orang yang tergolong tipe introvert memiliki sifat-sifat: kurang pandai bergaul, pendiam,
sukar diselami batinnya, suka menyendiri, bahkan sering takut kepada orang.

Crow dan Crow menguraikan lebih terinci sifat dari kedua golongan tersebut, sebagai berikut:
Extrovert Introvert
 Lancar dalam bicara Lebih lancar menulis
 Bebas dari  ketimbang hicara
Cenderung atau sering
kekhawatiran atau diliputi
 Tidak lekas malu  Lekas malu dan
dan tidak canggung.
 Umumnya bersifat  Cenderung bersifat
konservatif. radikal.
 Mempunyai minat pada  Suka membaca buku-
atletik buku dan majalah.
 Dipengaruhi oleh data  Lebih dipengaruhi
objektif oleh perasaan
 Ramah dan suka berteman.  Agak tertutup jiwanya
 Suka bekerja  Lebih senang bekerja
bersama orang-orang lain. sendiri.
 Kurang  Sangat
memedulikan penderitaan menjaga/berhati-hati
dan milik sendiri. terhadap penderitaan dan
 Mudah menyesuaikan diri  miliknya.
Sukar menyesuaikan diri
dan luwes. dan kaku dalam pergaulan

Heymans (1857-1930), seorang ahli psikologi berkebangsaan Belanda, mencoba


membuat pembagian kepribadian manusia berdasarkan sifat psikis yang, menurut
pendapatnya, merupakan sifat-sifat pokok dari jiwa manusia. Sifat psikis tersebut ialah
emosionalitas, aktivitas, dan sekunder-fungsi (proses pengiring).
Gerart Heymans membagi tipe kepribadian manusia, berdasarkan kuat lemahnya
ketiga unsur di atas dalam diri setiap.orang, menjadi tujuh tipe, seperti berikut.
(1) Gapasioneerden (orang hebat) : orang yang aktif dan emosional serta fungsi
sekundernya kuat. Orang ini selalu bersikap keras, emosional, gila kuasa, egois,
suka mengecam. Mereka adalah patriot yang baik, memiliki rasa kekeluargaan
yang kuat, dan suka menolong orang yang lemah.
(2) Cholerici (orang garang): orang yang aktif dan emosional, tetapi fungsi
sekundernya lemah. Orang ini lincah, rajin bekerja, periang, pemberani, optimis,
suka pada hal-hal yang faktual. Mereka suka kemewahan, pemboros, dan sering
bertindak ceroboh tanpa pikir panjang.
(3) Sentimentil (orang perayu): orang yang tidak aktif, emosional, clan fungsi
sekundernya kuat. Orang ini suka bersikap emosional, sering impulsif
(menurutkan kata hati), pintar bicara sehingga mudah memengaruhi orang lain,
senang terhadap kehidupan alam, dan menjauhkan diri dari kebisingan dan
keramaian.
(4) Nerveuzen (orang penggugup): Orang yang tidak aktif dan fungsi sekundernya
lemah, tetapi emosinya kuat. Orang-orang tipe ini sifatnya emosional (mudah
naik darah, tetapi cepat menjadi dingin), suka memprotes/mengecam orang lain,
tidak sabar, tidak mau berpikir panjang, agresif, tetapi tidak pendendam.
(5) Flegmaciti (orang tenang): orang yang tidak aktif dan fungsi sekundemya kuat.
Orang-orang tipe ini selalu bersikap tenang, sabar, tekun bekerja secara teratur,
tidak lekas putus asa, berbicara singkat, tetapi mantap. Mereka berpandangan
luas, berbakat matematika, senang membaca dan memiliki ingatan yang baik.
Orang tipe ini rajin dan cekatan serta mampu berdiri sendiri tanpa memerlukan
banyak bantuan orang lain.
(6) Sanguinici (orang kekanak-kanakan): orang yang tidak aktif, tidak emosional,
tetapi fungsi sekundernya kuat. Orang ini, antara lain, sukar mengambil
keputusan, kurang berani/ragu-ragu bertindak, pemurung, pendiam, suka
menyendiri, berpegang teguh pada pendiriannya, pendendam, tidak gila hormat
dan kuasa, dan dalam bidang politik selalu berpandangan konservatif.
(7) Amorfem (orang tak berbentuk): orang-orang yang tidak aktif, tidak emosional
dan fungsi sekundernya lemah. Sifat-sifat tipe orang ini, antara lain,
intelektualnya kurang, picik, tidak praktis, selalu membeo, canggung, dan
ingatannya buruk. Mereka termasuk orang yang perisau, peminum, pemboros,
dan cenderung membiarkan dirinya dibimbing dan dikuasai orang lain.
Kretschmer, ahli penyakit jiwa berkebangsaan Jerman, mengemukakan adanya
hubungan yang erat antara tipe tubuh dengan sifat dan wataknya. Ia membagi manusia
dalam empat golongan menurut tipe atau bentuk tubuhnya masing-masing, yaitu berikut
ini.
(1) Atletis, dengan ciri-ciri tubuh: besar, berotot kuat, kekar dan tegap, berdada
lebar.
(2) Astenis, dengan ciri-ciri: tinggi, kurus, tidak kuat, bahu sempit, lengan clan
kaki kecil.
(3) Piknis, dengan ciri-ciri: bulat, gemuk, pendek, muka bulat, leher pejal.
(4) Displatis, merupakan bentuk tubuh campuran dari ketiga tipe di atas.
Tipe watak orang yang berbentuk atletis dan astenis adalah schizothim, yang menurut
Kretschmer mempunyai sifat-sifat, antara lain: sulit bergaul, mempunyai kebiasaan yang
tetap, sukar menyesuaikan diri dengan situasi baru, kelihatan sombong, egoistis dan
bersifat ingin berkuasa, kadang-kadang optimis, kadang pula pesimis, selalu berpikir
terlebih dahulu masak-masak sebelum bertindak.
Lain halnya dengan orang yang memiliki bentuk tubuh piknis, atau tipe wataknya
sering disebut siklothim. Sifat orang-orang ini adalah mudah bergaul, suka humor, mudah
berubah-ubah stemming-nya, mudah menyesuaikan diri dengan situasi yang baru, lekas
memaafkan kesalahan orang lain, tetapi kurang setia dan tidak konsekuen.
Sheldon mengetengahkan pendapat: hendaknya kita berpikir tentang dimensi-dimensi
fisik, bukan tentang tipe-tipe (Muhadjir, 1992:16). Ia menggambarkan kepribadian manusia
terdiri atas berbagai komponen, yaitu (1) komponen kejasmanian, (2) komponen
temperamen (Muhadjir, 1992; Suryabrata, 1995), clan (3) komponen psikiatris (Suryabrata,
1995).
1) Komponen kejasmanian
Komponen kejasmanian terdiri atas dua macam, yaitu:
a) Komponen kejasmanian primer, yang terdiri atas:
(1) endomorphy,
(2) mesomorphy,
(3) ectomorphy.
b) Komponen-komponen kejasmanian sekunder, yang terdiri atas:
(1) dysplasia,
(2) gynandromorphy, dan
(3) texture.
2) Komponen temperamen
Komponen temperamen ini terdiri atas tiga macam komponen, yaitu:
a) viscerotonia
b) cerebrotonia, dan,
c) somatotonia.
3) Komponen psikiatris
Komponen psikiatris terdiri atas tiga komponen, yaitu :
a) affective,
b) paranoid, dan
c) heboid.

1) Komponen Kejasmanian
a) Komponen kejasmanian primer
Penggunaan istilah endomorphy, mesomorphy, dan ectomorphy itu dihubungan
dengan tiga lapisan terbentuknya fetus manusia, yaitu endoderm, mesoderm, dan
ectoderm. Ketiga lapisan itulah yang nantinya berkembang menjadi bermacam-
macam bagian tubuh dan organ pada manusia. Karena itu, pada ketiga lapisan
itulah berpangkal variasi tubuh manusia. Dalam praktiknya, kita dapati juga
dominasi salah satu dari ketiga lapisan itu dalam pertumbuhan dan berfungsinya
tubuh manusia. Dengan demikian, jika kita berbicara mengenai tipologi, menurut
teori Sheldon ini, ditinjau dari komponen jasmani primernya, manusia bisa
digolongkan menjadi tiga macam tipe.
(1) Tipe Endomorph
Menurut Sheldon, orang yang komponen endomorph-nya tinggi, sedangkan
kedua komponen lainnya rendah, ditandai oleh alatalat dalam dan seluruh sistem
digestif (yang berasal dari endoderm) memegang peranan terpenting. Sheldon
menyebut tipe endomorph dengan kecenderungan pada kebulatan, keluwesan,
kehalusan, dan gemuknya tubuh, serta tangan-kaki yang lembut dan kecil.
(2) Tipe Mesomorph
Dalam pandangan Sheldon, orang yang bertipe mesomorph, komponen
mesomorph-nya tinggi, sedangkan komponen lainnya lagi rendah. Karena itu,
bagian-bagian tubuhnya yang berasal dari mesoderm relatif berkembang lebih baik
ketimbang yang lain-lain; misalnya: otot-ototnya dominan, pembuluh-pembuluh
darah kuat, jantung juga dominan. Orang tipe ini punya kecenderungan kokoh,
keras, otot tampak bersegi-segi, tahan sakit. Termasuk pada golongan tipe ini,
misalnya, para olahragawan, pengelana, dan tentara.
(3) Tipe Ectomorph
Orang-orang yang termasuk pada golongan tipe ectomorph ini adalah organ-
organ mereka berasal dari ectoderm yang terutama berkembang, yaitu kulit, sistem
saraf. Kecenderungan tipe ectomorph adalah pada tangan-kaki yang lutus,
tubuhnya tampak lemah dan langsing, jangkung, dada pipih, clan otot-otot hampir
tidak tampak berkembang.

b) Komponen kejasmanian sekunder


(1) Dysplasia
Istilah dysplasia dipakai oleh Sheldon untuk menunjukkan setiap ketidaktetapan
clan ketidaklengkapan campuran ketiga komponen primer pada berbagai daerah
tubuh. Dalam awal-awal penelitiannya, Sheldon menemukan bahwa banyak
dysplasia berhubungan dengan ectomorphy, dan lebih banyak pada wanita
daripada laki-laki. Penelitian-penelitian selanjutnya membuktikan bahwa dysplasia
lebih banyak terjadi pada para penderita psychosis ketimbang pada para
mahasiswa.
(2) Gynandromorphy
Pada dasarnya, gynandromorphy menun ukkan sejauh manakah jasmani
memiliki sifat-sifat yang biasanya terdapat pada jenis kelamin lawannya. Komporien
ini dinyatakan oleh Sheldon dengan huruf "g". Jadi, laki-laki yang memiliki
komponen "g" tinggi akan memiliki tubuh yang lembut, pinggul besar, dan sifat-sifat
wanita yang lain. Seseorang yang memiliki komponen "g" ini maksimal adalah
band.
(3) Texture
Texture (tampang) ialah komponen yang menunjukkan kecenderungan orang
itu (tampak keluar).

2) Komponen temperamen
Komponen temperamen terdiri atas tiga macam komponen.
a) Tipe viscerotonis
Komponen temperamen yang pertama disebut viscerotonis, karena sifat-sifat
yang dicakupnya berhubungan dengan fungsi dan anatomi alat-alat
visceral/digestif. Orang yang viscerotonis mempunyai alat pencernaan yang relatif
besar dan panjang, dengan hati besar.
Sifat-sifat orang yang bertipe viscerotonis ini ialah:
(1) sikapnya tidak tegang,
(2) suka kesenangan (hiburan),
(3) gemar makan-makan,
(4) besar kebutuhannya akan resonansi orang lain,
(5) tidurnya nyenyak,
(6) bila menghadapi kesulitan, membutuhkan orang lain.
b) Tipe somatotonis
Komponen somatotonis mencakup kelompok sifat yang berhubungan dengan
dominasi dan anatomi daripada struktur somatis. Orang yang bertipe somatotonis
gemar akan ekspresi muskuler,. gemar mengerjakan sesuatu yang
mempergunakan otot, dan gemar mendapat pengalaman fisik. Sifat-sifat
temperamen somatotonis, antara lain:
(1) perkasa (energetic) dan sikapnya gagah,
(2) kebutuhan bergerak besar,
(3) suka berterus terang,
(4) suaranya lantang,
(5) lebih dewasa dari usia yang sebenarnya,
(6) Jika menghadapi kesulitan, ia melakukan gerakan-gerakan.
c) Tipe Cerebrotonis
Sheldon sebetulnya belum yakin benar ihwal penamaan ini; dinamakan demikian
karena dikirakan bahwa aktivitas pokok orang yang cerebrotonis adalah perhatian
dengan sadar, serta inhibisi terhadap gerakan-gerakan jasmaniah.
Sifat-sifat orang bertipe cerebrotonis ini ialah:
(1) reaksinya cepat,
(2) sikapnya ragu-ragu,
(3) kurang berani bergaul dengan orang banyak (ada sociophobia),
(4) kurang berani berbicara di depan orang banyak,
(5) kebiasaan-kebiasaannya tetap, hidup teratur,
(6) suaranya kurang bebas,
(7) tidur kurang nyenyak (sulit tidur),
(8) penampilannya lebih muda dari usia yang sebenarnya,
(9) jika menghadapi kesulitan, ia mengasingkan diri.

3) Komponen psikiatris
Pada dasarnya, penelitian-penelitian Sheldon tidak hanya terbatas kepada orang-orang
yang normal saja, namun meluas juga pada masalahmasalah ketidaknormalan. Dari basil
penelitiannya selama beberapa tahun, Sheldon menemukan konsepsi tentang gangguan
kejiwaan yang selanjutnya menelorkan pendapat tentang adanya komponen psikiatris
pada manusia. Adapun komponen psikiatris tersebut ialah:
a) Affective, dalam bentuknya yang ekstrem terdapat pada para penderita psikosis
jenis manis-defresif.
b) Paranoid, yang bentuk ekstremnya terdapat pada para penderita psikosis jenis
paranoid, yaitu banyak berkhayal, banyak berpikir. banyak gambaran yang sangat
jauh dari kenyataan, misalnya selalL merasa bahwa orang dengan tipe ini merasa
dikejar-kejar oleh oranC lain, merasa bahwa ia selalu dikelilingi oleh musuh-
musuh yang akan membunuhnya.
c) Heboid, yaitu bentuk ekstremnya terdapat pada para penderita
hebephrenia, yaitu suatu bentuk dari schizoprenia (antisosial).

E. Pengukuran-Pengukuran Kepribadian

Melakukan pengukuran terhadap kepribadian seseorang pada dasarnya bertujuan


mengetahui corak kepribadiannya secara pasti dan terinci. Dengan mengetahui corak atau
tipe kepribadian seseorang, pemahaman kita terhadap orang tersebut menjadi lebih
sempurna, sehingga proses pendidikannya dapat disesuaikan.
Sifat kepribadian biasa diukur melalui angka rata-rata pelaporan diri (self-report)
kuesioner kepribadian (untuk sifat khusus) atau penelusuran kepribadian seutuhnya
(personality inventory, serangkaian instrumen yang menyingkap sejumlah sifat). Dukungan
empirik terpenting pada kesahihan sifat dalam instrumen pelaporan diri diperoleh melalui
kajian analisis faktor. Informasi dalam butir-butir pertanyaan diperas (direduksi) ke dalam
sejumlah faktor yang terbatas, tanpa kehilangan informasi penting. Setiap faktor diambil
untuk mewakili suatu disposisi psikologis yang penting (Barry, et al., 1999:141).
Menurut pandangan beberapa ahli, di antara psikolog kontemporer, tidak ada tokoh
yang telah memberikan sumbangan penting bagi pengukuran kepribadian yang melebihi
Murray. la telah menciptakan sejumlah besar alat untuk mengukur kepribadian yang
meskipun hanya sedikit di antaranya yang telah dimanfaatkan secara sistematis. Buku
Explorations in Personality dan Assessinent of Men, seperti dikutip Hall & Lindzey (1993),
memberikan gambaran luas tentang kecanggihan dan keanekaragaman instrumen yang
diciptakannya atau dikembangkan orang lain dengan mengikuti pengaruhnya. Salah satu
di antaranya, thematic apperception test, merupakan teknik proyektif yang paling banyak
digunakan dewasa ini setelah Rorschach test.
Menurut Hall & Lindzey, hampir semua instrumen Murray sesuai dengan keyakinan
dasarnya bahwa pemahaman terdalam tentang tingkah laku manusia tidak akari berasal
dari penelitian tentang organisme yang lebih rendah. Teori Murray adalah khas karena ia
menekankan sekaligus pentingnya masa lampau organisme dan konteks sekarang tempat
terjadinya tingkah laku. Dalam dunia psikologi, yang kebanyakan teoretikus secara sadar
memberikan tekanan pada masa kini atau kembali pada masa lampau organisme sebagai
kunci satu-satunya untuk memahami tingkah laku, kalau ada pandangan lain yang
memperlakukan kedua kelompok faktor tersebut sebagaimana mestinya. Perhatiannya
pada medan atau lingkungan tempat terjadinya tingkah laku menghasilkan sistem khas
tentang konsep-konsep tekanan yang memungkinkan peneliti melukiskan lingkungan
sebagaimana dipersepsikan maupun lingkungan objektif.
Ada perbedaan antara berbicara secara umum tentang pentingnya lingkungan dan
melaksanakan tugas yang membutuhkan tekad teguh dan keahlian untuk mengadakan
spesifikasi tentang kategori yang bisa digunakan untuk menggambarkan aspek penting
dari lingkungan. Murray adalah salah seorang di antara sangat sedikit teoretikus yang
berhasil melaksanakan atau melakukan tugas ini.
Sebetulnya, ada beberapa macam cara untuk mengukur atau menyelidiki kepribadian.
Berikut ini adalah beberapa di antaranya.
1. Observasi Direk
Salah satu metode untuk mengukur kepribadian adalah dengan menggunakan
observasi direk (Muhadjir, 1992). Observasi direk berbeda dengan observasi biasa.
Observasi direk mempunyai sasaran yang khusus, sedangkan observasi biasa
mengamati seluruh tingkah laku subjek. Observasi direk memilih situasi tertentu,
yaitu saat dapat diperkirakan munculnya indikator dari ciri-ciri yang hendak diteliti,
sedangkan observasi biasa mungkin tidak merencanakan untuk memilih waktu.
Observasi direk diadakan dalam situasi yang dikontrol, dapat diulang atau
dapat dibuat replikasinya. Misalnya, pada saat berpidato, sibuk bekerja, dan
sebagainya. Dengan demikian, metode observasi direk pada hakikatnya merupakan
observasi quasi experimental.
Ada tiga tipe metode dalam observasi direk, yaitu (a) tipe sampling, (b) incident
sampling, (c) metode buku harian terkontrol.
a. Time Sampling Method
Dalam time sampling method, tiap-tiap subjek diselidiki pada periode waktu
tertentu. Periode tersebut' mungkin hanya beberapa menit, mungkin hanya
beberapa detik, tetapi dapat pula beberapa jam, tergantung pada tipe tingkah laku
atau indikator ciri-ciri yang hendak diselidiki. Distribusi periode waktu juga dapat
beragam. Mungkin cukup dalam sehari, tetapi dapat pula membutuhkan waktu
beberapa hari, beberapa bulan, dan bahkan beberapa tahun bergantung pada
subjes yang diselidiki. Hal yang diobservasi mungkin sekadar muncul tidak respons,
atau aspek tertentu.
b. Incident Sampling Method
Dalam incident sampling method, sampling dipilih dari berbagai tingkah laku
(pada time sampling, dipilih dari berbagai situasi). Laporan observasinya mungkin
berupa catatan-catatan dari ibu tentang anaknya khusus pada waktu menangis,
pada waktu mogok makan, dan sebagainya; mungkin berupa catatan-catatan dari
komandan tentang anak buahnya pada waktu-waktu pertempuran sedang sengit,
dan sebagainya. Dalam pencatatan tersebut, hal-hal yang menjadi perhatian adalah
tentang intensitasnya, lamanya, juga tentang efek-efek beriku: setelah respons.
c. Metode Buku Harian Terkontrol
Metode ini dilakukan dengan cara mencatat dalam buku harian tentang tingkah
laku yang khusus hendak diselidiki oleh yang bersangkutan sendiri. Misalnya,
mengadakan observasi sendiri pada waktu sedang marah. Syarat penggunaan
metode ini, antara lain, bahwa peneliti adalah orang dewasa dan cukup inteligen,
dan lebih jauh lagi adalah benar-benar ada pengabdian pada perkembangan ilmu
pengetahuan. Cara-cara ini banyak dikerjakan oleh para scientist. Meskipun
demikian, perlu juga disadari penyimpangan-penyimpangan yang mungkin terjadi,
misalnya perubahan standar yang dipakai untuk menetapkan kriteria-kriteria
kemarahan dan sebagainya, ada tendensi teredusirnya kemarahan.

2. Wawancara (Interview)
Menilai kepribadian dengan wawancara (interview) berarti mengadakar. tatap muka
dan berbicara dari hati ke hati dengan orang yang dinilai.
Dalam psikologi kepribadian, orang mulai mengembangkan dua jenis wawancara,
yakni (a) stress interview, dan (b) exhaustive interview (Muhadjir, 1992).
a. Stress Interview
Stress interview digunakan untuk mengetahui sejauh mana seseorang dapat
bertahan terhadap hal-hal yang dapat mengganggu emosinya dan juga untuk
mengetahui seberapa lama seseorang dapat kembali menyeimbangkan emosinya
setelah tekanan-tekanan ditiadakan. Interviewer ditugaskan untuk mengerjakan
sesuatu yang mudah, kemudian dilanjutkan dengan sesuatu yang lebih sukar.
Dengan ekspresi yang diamati, interviewer memberitahukan bahwa skornya atau
hasilnya buruk sekali (tanpa melihat has;;l yang sebenarnya); suasananya dibuat
"dingin" dengan dibuatkan jalan untuk melupakannya.
Kemudian, interviewee diberi tugas untuk mengerjakan tes lagi. Diberikan
gangguan seperti kejutan listrik dan yang lainnya. Setelah selesai, interviewee
diberi tahu bahwa hasil tesnya lebih baik dan suasana dikembalikan ke suasana
ramah tamah. Selanjutnya, interviewee diminta memberi komentar atau
pertanyaan-pertanyaan tentang hal-hal yang baru saja dia kerjakan. Pada
hakikatnya, ini adalah tes daya ingatan dan untuk mengetahui seberapa lama dia
dapat memberikan keseimbangan emosinya.
b. Exhaustive Interview
Exhaustive Interview merupakan cara interview yang berlangsung sangat lama;
diselenggarakan nonstop. Interviewer berganti-ganti, sementara interviewee terus
melayani pertanyaan-pertanyaan para interviewer tersebut. Tujuannya adalah
membuat interviewee lelah, melepaskan sikap defensifnya supaya berbicara terus
terang. Cara ini biasa digunakan untuk meneliti para tersangka di bidang tindak
kriminal dan sebagai pemeriksaan taraf ketiga. Juga peranah digunakan exhaustive
interview tersebut dalam memilih pegawai untuk jabatan penting, seperti pimpinan
eksekutif eselon atas.

3. Tes Proyektif
Cara lain untuk mengatur atau menilai kepribadian adalah dengan menggunakan tes
proyektif. Orang yang dinilai akan memproyeksikan pribadinya melalui gambar atau hal-hal
lain yang dilakukannya. Tes proyektif pada dasarnya memberi peluang kepada testee
(orang yang dites) untuk bebas dalam memberikan makna atau arti atas hal yang
disajikan; tidak ada pemaknaan yang dianggap benar atau salah. Semua pemaknaan
benar-benar saja, diasumsikan sesuai dengan kepribadian atau minatnya; dan memang
dalam tes proyektif, tujuan sesungguhnya (hendak mengungkap apa) memang
disamarkan.
Jika kepada subjek diberikan tugas yang menuntut penggunaan imajinasi, kita dapat
menganalisis hasil fantasinya untuk mengetahui cara ia merasa dan berpikir. Jika
melakukan kegiatan yang bebas, orang cenderung menunjukkan dirinya, memantulkan
(proyeksi) kepribadiannya untuk melakukan tugas yang kreatif.
Jenis yang termasuk tes proyektif, antara lain berikut ini.
a. Tes Rorschach
Tes Rorschach boleh jadi merupakan percobaan yang paling luas. dipergunakan
dalam penelitian kepribadian, termasuk penelitian kebudayaan (Barnouw, 1981). Tes
yang dikembangkan oleh seorang dokter psikiatrik Swiss, Hermann Rorschach, pada
tahun 1920=an, terdiri atas 10 kartu, yang masing-masing menampilkan bercak tinta
yang agak kompleks. Sebagian bercak itu berwarna; sebagian lagi hitam-putih. Kartu-
kartu tersebut diperlihatkan kepada mereka yang mengalami percobaan dalam urutan
yang sama. Mereka ditugaskan untuk menceritakan hal apa yang dilihatnya tergambar
dalam noda-noda tinta itu. Si peneliti mencatat semua uraian subjek tes kemudian
membicarakan jawaban itu dengan para subjek itu untuk mengetahui bagian mana
dari noda-noda tinta yang mereka pergunakan pada setiap jawaban, dan bagaimana
mereka memandangnya. Meskipun noda-noda itu secara objektif sama bagi semua
peserta, jawaban yang mereka berikan berlainan satu sama lain. Ini menunjukkan
bahwa mereka yang mengalami percobaan itu memproyeksikan sesuatu-dal9m noda-
noda itu. Karena itu, percobaan Rorschach itu disebut percobaan proyektif. Analisis
dari sifat jawaban yang diberikan peserta itu memberikan petunjuk mengenai susunan
kepribadiannya.
Jika serangkaian tes ditunjukkan kepada subjek, subjek mungkin melihat berbagai
hal dalam noda atau tetes tinta itu. Responsnya kemudian diskor menurut jawaban-
jawaban terhadap pertanyaan berikut (Mahmud, 1990) :
 Berapa banyak respons atau jawaban yang dibuatnya?
 Seberapa banyak subjek itu merespons?
 Apakah subjek merespons tetes tinta itu sebagai keseluruhan atau
merespons bagian-bagiannya?
 Sampai seberapa derajatkah keaslian respons tersebut?
 Seberapa dari respons-respons itu yang menyerupai figur manusia.
 Apakah figur-figur ini dalam keadaan bergerak atau berhenti?
 Seberapa mudah figur-figur yang dilihat subjek itu dapat dilihat
oleh pengamat-pengamat yang objektif?
 Apakah reaksinya terhadap tetes-tetes tinta yang berwarna itu
berbeda dengan reaksinya terhadap yang hitam dan putih?
Berdasarkan skor subjek tersebut, diperoleh kesimpulan-kesimpulan yang
menakjubkan. Umpamanya, melihat tetes-tetes tinta sebagai keseluruhan
menunjukkan tendensi yang kuat terhadap ide-ide yang abstrak, sedangkan melihat
bagian-bagiannya menunjukkan kecenderungan yang lebih terhadap kenyataan-
kenyataan yang konkret. Melihat bentuk manusia dalam keadaan bergerak
mencerminkan tendensi yang kuat untuk berpikir. Perbedaan respons terhadap warna
melukiskan sifat implusif-emosional. Melihat bentuk-bentuk baru menggambarkan
keaslian bereaksi.
Banyak ahli psikologi yang mengecam percobaan Rorschach ini, tetapi banyak pula
yang membelanya. Beberapa ahli antropologi,. sebagaimana dikutip Barnouw (1981),
menganggap bahwa nilainya dalam penelitian kebudayaan dan kepribadian diragukan
dan hanya menghabiskan banyak waktu yang sebenarnya bisa dimanfaatkan untuk
usaha lapangan lain yang lebih berguna. Namun, percobaan Rorschach itu mempunyai
peranan yang sangat besar dalam beberapa penelitian kebudayaan dan kepribadian.
Salah satu keuntungan dari percobaan Rorschach ini bagi para ahli antropologi, dalam
pandangan Barnouw, ialah bahwa subjek yang dites, tidak usah yang pandai membaca
dan menulis. Percobaan juga tidak terikat kepada kebudayaan tertentu (karena noda -
noda itu, menurut Barnouw, tidak menggambarkan sesuatu yang khusus), dan dapat
dicobakan kepada orang-orang yang berbeda-beda umurnya, kepada anak-anak dan
kepada orang dewasa.
b. Tes Apersepsi Tematik (Thematic Apperception Test/TAT)
Tes proyektif populer lainnya, tes apersepsi tematik atau thematic apperception
test (TAT), dikembangkan di Harvard University oleh Henry Murray pada tahun 1930-
an. TAT mempergunakan suatu seri gambargambar. Sebagian adalah reproduksi
lukisan-lukisan, sebagian lagi kelihatan sebagai ilustrasi buku atau majalah. Para
peserta diminta mengarang sebuah cerita mengenai tiap-tiap gambar yang
diperlihatkan kepadanya. Mereka diminta membuat cerita mengenai latar belakang dari
kejadian yang menghasilkan adegan pada setiap gambar, mengenai pikiran dan
perasaan yang dialami oleh orang-,orang di dalam gambar itu, dan bagaimana episode
itu akan berakhir. Sebagian kartu dari seri itu hanya ditunjukkan kepada kaum pria,
sebagian lagi hanya kepada kaum wanita, sebagian hanya kepada anak-anak,
sebagian lagi diperlihatkan kepada semua peserta.
Ada gambar yang dimaksudkan untuk memancing cerita-cerita mengenai
hubungan seorang pria dengan seorang yang berwajah ibu, yang menjadi tokoh ayah,
atau dengan teman wanita, dengan pekerjaan dan ambisi, dan tema-tema lain. Dalam
membuat cerita tersebut, sukar bagi yang bersangkutan untuk tidak mengungkapkan
sedikit riwayatnya.
Dia cenderung mengemukakan nilai-nilainya, sikapnya, serta aspirasinya. Cerita-cerita
ini dapat dianalisis untuk melihat tema yang timbul berulang-ulang, tema yang agak
lain dari yang biasa, macam-macam konflik yang dipaparkan, dan bentuk
penyelesaiannya.
Sebagian gambar itu memperlihatkan keadaan dalam rumah orang Amerika kelas
menegah, pakaian pada gambar adalah pakaian orang Amerika, dan orangnya
berwajah kulit putih (caucasian). Gambar-gambar semacam ini sulit untuk
diperlihatkan kepada masyarakat yang bukan berasal dari Barat, yang rumahnya,
pakaiannya, dan rupanya berlainan. Untuk mengatasi kesulitan ini, diperlihatkan
gambar-gambar yang tidak terlalu terikat pada suatu kebudayaan. Ini, misalnya,
dilakukan dengan hasil yang baik sekali dengan anak-anak dari sukti Ojibwa, yang
telah mengalami proses asimilasi kebudayaan. Usaha lain untuk mengatasi kesukaran
itu ialah mempergunakan seri TAT yang telah disesuaikan, dengan mengubah
gambar-gambar dari seri yang asli, agar sesuai dengan kebudayaan clan tempat-
tempat tes atau percobaan; itu diberikan.
TAT pada dasarnya ditujukan untuk mengungkapkan tema dasa: yang terjadi
dalam produk imaginatif subjek. Apersepsi adalah kesiapan, untuk menghayati dalam
cara tertentu berdasarkan pengalaman. sebelumnya. Orang yang menginterpretasikan
gambar ambiguous menurun apersepsinya dan menguraikan cerita dalam plot atau
tema yang disukai yang mencerminkan fantasinya. Menurut Atkinson, jika masalah
tertentu mengganggu subjek,.hal itu mungkin jelas dalam sejumlah cerita atau dalam
penyimpangan yang jelas dari tema lazim dalam satu atau dua cerita.
Dalam menganalisis respons terhadap kartu TAT, ahli psikolog melihat tema yang
berulang yang bisa mengungkapkan kebutuhan, motif atau karakteristik cara
seseorang melakukan hubungan antar pribadinya

4. Inventori Kepribadian
Inventori kepribadian adalah kuesioner yang mendorong individu untuk melaporkan
reaksi atau perasaannya dalam situasi tertentu. Kuesioner ini mirip wawancara terstruktur
dan ia menanyakan pertanyaan yang sama untuk setiap orang, dan jawaban biasanya
diberikan dalam bentuk yang mudah dinilai, sering kali dengan bantuan komputer.
Menurut Atkinson dan kawan-kawan, investori kepribadian mungkin dirancang untuk
menilai dimensi tunggal kepribadian (misalnya, tingkat kecemasan) atau beberapa sila:
kepribadian secara keseluruhan.
Berkenaan dengan inventori kepribadian ini, Noeng Muhadjir (1992) menjelaskan,
metode "inventori" mula-mula muncul atas inisiatif R.S Jworth sebagai jawaban atas
permintaan Jenderal Pershing pada Perang :a I. Jenderal Pershing, ketika itu, meminta
agar tentara yang dikirim Asi sedemikian rupa sehingga yang mentalnya tidak "fit", tidak
terkirim.
Aur interview atau wawancara psikiatrik biasanya individual. Untuk memenuhi
permintaan Jenderal Pershing, tidak cukup tersedia interviewer, -1gga Woodworth dan
A.T Poffenberger mengganti dengan "interview" ais yang harus dijawab tertulis pula.
Inventori kepribadian menanyakan pada teruji mengenai dirinya atau dapatnya.
Pertanyaan mungkin menyatakan kebiasaannya, kegemaran perasaannya, atau
pendapatnya. Itemnya bisa berbentuk kalimat berita; dinyatakan bagi si teruji sebagai
orang pertama (saya), atau orang ia (Anda).
Contoh: Apakah Anda membutuhkan lebih sedikit tidur daripada orang lain? Saya
hanya membutuhkan sedikit tidur dibandingkan orang lain. Kalimat-kalimat di atas
umumnya hanya membutuhkan jawaban "ya" "tidak", "benar" atau "salah", "setuju" atau
"tak setuju". Mungkin juga disisipi pilihan tengah :"tak tahu", "tak tentu" atau "?". Dilihat
dari jajaran isi kalimatnya, bentuk ini mirip dengan checklist.
Inventori kepribadian yang terkenal dan banyak digunakan untuk nilai kepribadian
seseorang ialah: (a) Minnesota Multiphasic Personality Inventory (MMPI), (b) Rorced-
Choice Inventories, dan (c) Humm-Wadsworth :perament Scale (H-W Temperament
Scale).
a. Minnesota Multiphasic Personality Inventory (MMPI)
MMPI terdiri atas kira-kira 550 pernyataan tentang sikap, reaksi emosional, gejala
fisik dan psikologis, serta pengalaman masa lalu. Subjek menjawab tiap pertanyaan
dengan menjawab "benar", "salah", atau "tidak dapat mengatakan". Berikut ini, sekadar
beberapa contoh:
 Saya tidak pernah melakukan hal berbahaya untuk merasakan tantangannya.
 Saya jarang melamun. .
 Kedua orang tua saya sering memaksa saya untuk menuruti kemauan mereka
meskipun pada hal-hal yang menurut saya tidak masuk akal.
 Kadang-kadang gagasan di kepala saya meluncur lebih cepat dari yang dapat saya
katakan.
Pada prinsipnya, jawaban mendapat nilai menurut kesesuaiannya dengan jawaban
yang diberikan oleh orang-orang yang memiliki berbagai macam masalah psikologi.
Sebenarnya, MMPI lebih banyak dipakai untuk praktik klinis. seperti juga H-W
Temperamet Scale. MMPI ini dalam scoring-nya juga bertolak dari konsep patologik dari
Kraepelin.
Berikut ini kategori scoring yang dipakai (Muhadjir, 1992):
Hs : Hypochondriasis; kerisauan tentang kesehatan fisik.
D : Depresi: pesimisme, kurang gairah.
Ha : Hysteria: menghindari tugas atas alasan gangguan fisik.
Pd : Penyimpangan psikopatik: perilaku salah, delinquent.
Pa : Paranoia: curiga.
Pt : Psychastenia: diliputi rasa ragu, takut, dan obsesi.
Sc : Schizophrenia: berpikir dan berperilaku kacau.
Ma : Hypomania: menyukai sanjungan.
Mf : Maskulinitas feminitqs: kecenderungan maskulinitas.
MMPI dikembangkan guna membantu klinisi dalam mendiagnos gangguan
kepribadian. Para perancang tes tidak menentukan sifat kepribadian tertentu dan
merumuskan berbagai pertanyaan untuk mengukurnya, tetapi memberikan ratusan
pertanyaan tes untuk mengelompokkan individu. Tiap kelompok diketahui berbeda
dari normalnya menurut kriteria tertentu. Hanya pertanyaan yang membedakan
kelompok satu dengan kelompok lainnya yang tentu dipakai untuk menyusun
inventori. Misalnya, untuk membentuk butir yang membedakan individu paranoid dan
normal, pertanyaan yang sama diberikan kepada dua kelompok. Kelompok kriteria
terdiri atas individu yang telah dirawat dengan diagnosis gangguan paranoid.
Kelompok kontrol terdiri atas orang yang belum pernah didiagnosis menderita
masalah psikiatrik, tetapi mirip dengan kelompok kriteria dalam : usia, jenis kelamin,
status sosioekonomi, dan variabel penting lain.
b. Rorced - Choise Inventories (Inventori Pilihan-Paksa)
Rorced-Choise Inventories atau Inventori Pilihan-Paksa termasuk klasifikasi tes
yang volunter. Suatu tes dikatakan volunter bila sub dapat memilih pilihan yang lebih
disukai, dan tahu bahwa semua pilihan itu benar, tidak ada yang salah (Muhadjir,
1992). Subjek, dalam : ini, diminta memilih pilihan yang lebih disukai, lebih sesuai,
lebih cocok dengan minatnya, sikapnya, atau pandangan hidupnya. Dalam Inventor.
Pilihan-Paksa, semua itu benar atau baik atau semua pilihan itu salah/buruk.
Penetapan skor tinggi dan rendah didasarkan pada kriteria yang dipakai. Untuk
pengukuran kepribadian, tentu saja kriteria yang dipakai bersumber pada
pandangan hidup tentang nilai-nilai atau berdasar teori kepribadian tertentu. Pilihan
semua baik dimaksudkan agar subjek tidak berusaha menghindar dari sesuatu yang
negatif atau terhindar dari "hello effect".
Inventori Pilihan-Paksa berada pada posisi "ragu" apakah akan menggunakan
bahasa tersamar atau tak tersamar. Yang dimaksud bahasa tersamar adalah
terjadinya perbedaan penafsiran antara testee dengan maksud sesungguhnya dari tes
tersebut; testee mempunyai persepsi yang berbeda dengan fungsi sebenarnya dari
tes tersebut. Adapun pada tes yang tidak bersamar, testee mempunyai persepsi yang
benar sesuai dengan fungsi tes itu sendiri.
Dalam konteks -budaya Indonesia yang mempunyai pedoman: "njaga rasa, njaga
praja, dan njaga lara," bentuk Inventori Pilihan-Paksa mempunyai prospek untuk
dieksperimenkan. Agar "bias" jawaban tidak membuat agar orang lain tersinggung
(njaga rasa), agar atasan tetap berkenan di hati dan tidak berakibat buruk pada kita
(njaga lara), agar kita tahu harga diri dan tidak menjadi hina (njaga praja),
kita.sebaiknya menyusun pilihan pada setiap item yang semua benar/ baik, sehingga
dalam menjawab, responden terbebas dari kewajiban "njaga rasa" dan "njaga lara".
Humm-Wadsworth Temperament Scale (H-W Temperament Scale)
H-W Temperament Scale dikembangkan dari teori kepribadian Rosanoff (Muhadjir,
1992). Menurut teori ini, kepribadian memiliki enam komponen, yang lebih banyak
bertolak dari keragaman abnormal, yaitu:
1) Schizoid Autistik, mempunyai tendensi tak konsisten, berpikirnya lebih mengarah
pada khayalan.
2) Schizoid Paranoid, mempunyai tendensi tak konsisten, dengan angan bahwa
dirinya penting.
3) Cycloid Manik, emosinya tidak stabil dengan semangat berkobar.
4) Cycloid Depress, emosinya tak stabil dengan retardasi dan pesimisme.
5) Hysteroid, ketunaan watak berbatasan dengan tendensi kriminal.
6) Epileptoid, dengan antusiasme dan aspirasi yang bergerak terus.
H-W Temperament Scale tersusun dalam sejumlah item yang berfungsi untuk
memilahkan kelompok yang patologik dari kelompok nonpatologik. Kriteria seleksi
patologik-nonpatologik sifatnya internal; penderita hysteroid, misalnya, diasumsikan
memiliki mental kriminal.

F. Kepribadian yang Sehat

Apa dan bagaimana kepribadian yang sehat? Setiap kali berbicara tentang
kepribadian yang sehat, kesehatan kepribadian, atau kesehatan mental, sebenarnya kita
hanya dapat berbicara mengenai derajat kesehatan mental. Artinya, kondisi kesehatan
mental bukanlah sesuatu yang abso (Sadli, 1994). Tidak ada garis pemisah yang jelas
antara sehat dan sakit. Atau, tidak mudah untuk membagi anggota masyarakat dalam dua
kelompok yang jelas berbeda, mereka yang harus berada dalam rumah sakit jiwa d
mereka yang tak perlu berada di sana. Karena, kebanyakan dari kita pada waktu-waktu
tertentu bisa menunjukkan sifat atau pola perilaku yang berjalan secara terus-menerus
menyebabkan kita menjadi calon penghuni rumah sakit jiwa.
Pendekatan mengenai kesehatan mental dapat mempunyai pangkal tolak dengan
berorientasi pada aspek penyesuaian diri seseorang. Hal ini berarti yang ditekankan ialah
aspek-aspek psikis. Yang penting ialah bagaimana seseorang harus menyesuaikan diri
untuk dikatakan sehat. Orientasi berkembang untuk mengatasi kelemahan dari "orientasi
klasik" ya menganggap seseorang "sehat" bila ia tidak mempunyai keluhan tertentu
Orientasi klasik banyak digunakan dalam psikiatri. Pemikiran mengenai kesehatan mental
yang lebih menekankan kemampuan penyesuaian di seseorang menyamakan seorang
yang "sehat psikologis" dengan pengertian kemampuan seseorang untuk
mengembangkan dirinya sesuai tuntunan realita sebenarnya. Artinya, menyesuaikan diri
terhadap tuntutan yang berasal d masyarakat pada umumnya, atau terhadap tuntutan
orang-orang la khususnya. Anggapan ini, antara lain, dinyatakan dalam definisi M. Jahoda
(pelopor gerakan kesehatan mental) tentang kesehatan mental, "Kesehatan mental adalah
kondisi seseorang yang menyangkut penyesuaian diri yang aktif dalam menghadapi dan
mengatasi permasalahan, dengan kondisi-kondisi bar , serta mempunyai penilaian nyata
tentang kehidupan maupun keadaan d sendiri" (Sadli, 1994). Dalam perumusan yang lebih
konkret, dapat juga dikatakan, kemampuan seseorang untuk berfungsi secara efektif dan
dengan rasa senang dalam mengisi peranan sesuai apa yang diharapkan darinya sebagai
anggota suatu kelompok.
Menurut Allport (1976), kepribadian dipandang sebagai kepribadian yang sehat,
matang, dan terlepas dari trauma-trauma ataupun konflik-konflik pada masa kanak-kanak.
Pada dasarnya, pembentukan dan pertumbuhan kepribadian yang sehat dan matang
banyak dipengaruhi oleh motivasi, proprium, dan otonomi fungsional. Motivasi merupakan
kekuatan-kekuatan yang mendorong dan menarik, atau suatu cara pengaturan perbuatan
manusia. Allport menganggap bahwa motivasi merupakan motif dari perilaku yang
dirangsang, didorong, diperjuangkan, dan diarahkan menuju masa depan yang
menimbulkan ketegangan. Semua ketegangan ini memiliki sumber sendiri dalam suatu
disturbance. Disturbance yang hebat dan terbesar adalah keadaan yang mendesak
individu untuk mereduksi ketegangannya, yang berguna untuk mempertahankan suatu
tingkat kepuasan. Di samping itu, ketegangan yang terus-menerus tanpa adanya
penyaluran tidak akan memberikan pengetahuan yang berarti bagi kepentingan pribadi.
Jadi, dengan kata lain, jika individu mereduksikan ketegangan yang ada pada dirinya, ia
akan memiliki kepribadian yang sehat, matang, dan juga pemuasan yang diarahkan pada
pemuasan akan hal-hal yang lainnya, sehingga manusia tersebut dapat bertumbuh.
Allport dalam teorinya mengenai dorongan dari kepribadian yang sehat,
memasukkan juga prinsip penguasaan dan kemampuan (principle of mastery and