Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN

Anestesiologi adalah cabang ilmu kedokteran yang mendasari berbagai


tindakan meliputi pemberian anestesi, penjagaan keselamatan penderita yang
mengalami pembedahan, pemberian bantuan hidup dasar, pengobatan intensif
pasien gawat, terapi inhalasi dan penanggulangan nyeri menahun. Pada
prinsipnya dalam penatalaksanaan anestesi pada suatu operasi terdapat
beberapa tahap yang harus dilaksanakan yaitu pra anestesi yang terdiri dari
persiapan mental dan fisik pasien, perencanaan anestesi, menentukan prognosis
dan persiapan pada pada hari operasi. Sedangkan tahap penatalaksanaan
anestesi terdiri dari premedikasi, masa anestesi dan pemeliharaan, tahap
pemulihan serta perawatan pasca anestesi. 1,2
Pada Operasi TURP dari segi anesthesiology dapat dikerjakan secara
anestesi umum dan anestesi lokal tertentu. Masing-masing pendekatan
memiliki keuntungan dan kekurangan tertentu. Pada berbagai Negara maju
telah menjadi sebuah kesepakatan bahwa dalam tindakan operative TURP yang
digunakan adalah anestesi local yaitu anestesi spinal. Inggris melakukan
tindakan anestesi spinal pada 75% kasus TURP, Karena secara teoritis hal ini
meliki keuntungan seperti pendeteksian dini pada sindroma TURP. Keputusan
akan pemberian anestesi sangatlah bergantung dari keadaan pasien dan
pendekatan anesthesiologist dan urologist.

1
BAB II
LAPORAN KASUS

II.1. IDENTITAS
Nama : Ny. K
Umur : 33 Tahun
Jenis kelamin : perempuan
BB : 50 Kg
Agama : Islam
Alamat : Ma. sabak
No. MR :
Ruang : kebidanan
Diagnosis : G3P1A1 gravida 38-39 minggu inpartu kala I
fase laten JTH intrauterin preskep + riwayat SC 1x
Tindakan : Sectio Caesaria
Tanggal masuk : 15 Juli 2016

II.2. ANAMNESIS dan PEMERIKSAAN FISIK


Riwayat Penyakit
A. Keluhan Utama : nyeri perut hingga menjalar ke pinggang
B. Riwayat penyakit sekarang : Pasien mengeluh nyeri perut menjalar
kepinggang sejak 1 hari SMRS. Pasien mengatakan bahwa sudah
pernah operasi sebelumnya. Selama 1 tahun ini pasien menerima
pengobatan medikamentosa, namun karena tidak kunjung ada
perbaikan keluhan, maka pasien disarankan untuk operasi.
C. Riwayat penyakit dahulu :
 Riwayat hipertensi : -
 Riwayat Asma :-
 Riwayat DM :-
 Riwayat Batuk Lama :-

2
 Riwayat Operasi : (+) SC 2010
 Riwayat Alergi Obat :-
 Riwayat Penyakit Lain :-
D. Riwayat kebiasaan :-
E. Pemeriksaan Fisik :
1. Tanda Vital
 Kesadaran : Compos mentis
 Suhu : 36,70C
 Tekanan Darah: 110/70 mmHg
 RR : 20 kali/menit
 Nadi : 77 kali/menit
2. Kepala : Normochepal
a. Mata : CA (-/-), SI (-/-), RC (+/+), nistagmus (-
/-)
b. THT : Tidak ada kelainan
c. Leher : Pembesaran KGB (-), JVP 5+0 cm H2O
3. Thorax
 Inspeksi : simetris, sikatriks (-), massa (-)
 Palpasi : krepitasi (-), nyeri tekan (-)
 Perkusi : sonor kiri dan kanan
 Auskultasi :
 Cor : BJ I-II reguler, gallop (-), murmur (-)
 Pulmo : Vesikuler normal (+/+), wheezing (-/-),
rhonki (-/-)
4. Abdomen :
Pemeriksaa Obstetri
 Inspeksi : buncit, Striae gravidarum (+)
 Palpasi : tingi fundus uterus (TFU) 32 cm, letak
punggung janin teraba di sebelah kanan.

3
 Auskultasi : bising usus (+) normal, Denyut jantung
janin : (+) 132x/menit
5. Genitalia : terdapat lendir bercampur darah
6. Ekstremitas :
Superior : akral hangat (+), edema (-/-),CRT < 2 dtk, normoaktif
Inferior : akral hangat (+), edema (-/-),CRT < 2 dtk, normoaktif

II.3. PEMERIKSAAN PENUNJANG


Pemeriksaan Laboratorium tanggal : 15 Juli 2016
Darah lengkap
Hb : 10,0 gr/dl
Lekosit : 11.800 ul/ml
Hematokrit : 27 %
Eritrosit : 4,10 juta/ mm³
Trombosit : 317.000/ mm³
SGOT : 12 u/l
SGPT : 8 u/l
Ureum : 12,9 mg/dl
Kreatinin : 0,7 mg/dl
Bleeding time : 2 menit (1-3 menit)
Clotting time : 4 menit (2-6 menit)

II.4. PRA ANESTESI


 Penentuan Status Fisik ASA: 1 / 2 / 3 / 4 / 5 /
 Mallampati: grade 1
 Persiapan Pra Anestesi:
- Pasien telah diberikan Informed Consent
- Rawat inap bila setuju operasi
- Pro SC

4
- Persiapan operasi :
- a. Puasa 6 jam pre op
- b. Surat persetujuan tindakan operasi
- c. Persiapkan PRC 1 kolf
- d. Lanjutkan terapi Sp.OG

II.5. LAPORAN ANESTESI PASIEN


a) Diagnosis pra-bedah : G3P1A1 gravida 38-39 minggu inpartu
kala I fase laten JTH intrauterin preskep + riwayat SC 1x
b) Diagnosis post-bedah : P2A0 Post SCTP
c) Jenis pembedahan : Sectio caesarea trans peritoneal
d) Jenis anestesi : Anestesi Spinal
Premedikasi anestesi : Ranitidin 50 mg, Ondansentron 4 mg
Induksi : Bupivacaine 20 mg
Adjuvant : Morphin 0.1 mg
Pemeliharaan anestesi : O2

Posisi : Supine
Infus : Ringer Laktat
Status fisik : ASA II
Induksi mulai : 10.45 WIB
Operasi mulai : 11.00 WIB
Operasi selesai : 11.45 WIB
Berat badan pasien : 5 Kg
Durasi operasi : 60 menit
Pasien puasa : 7 jam

Terapi cairan
 Maintenance = 2 cc/KgBB/jam

5
= 2 cc x 50 Kg/jam
= 100 cc/jam
 Pengganti puasa = puasa x maintenance
= 7 jam x 100 cc/jam
= 700 cc

 Stress operasi = 6 cc/KgBB/jam


= 6 cc x 50 Kg/jam
= 300 cc/jam

Jadwal pemberian cairan (lama operasi 1 jam)


Jam I = ½ PP + SO + M
= 350 + 300 + 100
= 750 cc
Jam II = ¼ PP + SO + M
= 175 + 300 + 100
= 575 cc

e) Monitoring
Jam (WIB) Nadi (x/menit) RR (x/menit) TD (mmHg)

10.30 78 24 107/64

10.45 67 24 110/74

11.00 58 21 90/50

11.15 67 24 90/52

11.30 72 24 90/43

11.45 56 25 95/60

6
f) Ruang Pemulihan
1. Masuk Jam : 11.50 WIB
2. Keadaan Umum : Kesadaran: CM, GCS: 15
3. Tanda vital : TD : 100/60 mmHg
Nadi : 60 x/menit
RR : 20 x/menit

7
4. Pernafasan : Baik

5. Scoring Alderate:
Aktifitas :1
Pernafasan :2
Warna Kulit :2
Sirkulasi :2
Kesadaran :2
Jumlah : 9

Instruksi Post Operasi:


 Monitoring tanda vital, kesadaran, dan perdarahan
 Tirah baring dengan bantal 1 x 24 jam
 Boleh makan dan minum secara bertahap bila tidak mual
 Terapi sesuai dokter Obgin

8
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
3.1 Benign Prostat Hyperplasia (BPH)
3.1.1 Definisi
BPH terjadi karena proliferasi stroma dan epithelial dari glandula
prostat. Dengan bertambahnya usia, akan terjadi perubahan testosteron
estrogen karena produksi testosteron menurun dan terjadi konversi testosteron
menjadi estrogen pada jaringan adiposa di perifer. Hingga sekarang masih
belum diketahui secara pasti penyebab terjadinya hyperplasia prostat; tetapi
beberapa hipotesis menyebutkan bahwa hiperplasia prostat erat kaitannya
dengan peningkatan kadar dihidrotestosteron (DHT) dan proses aging (menjadi
tua).3
3.1.2 Gejala Klinis
Biasanya gejala–gejala pembesaran prostat jinak, dikenal sebagai
Lower Urinary Tract Symptoms (LUTS), dan dapat dibedakan menjadi :3
1. Gejala iritatif
 Frekuensi  Sering miksi. Frekuensi terutama terjadi pada malam hari
(nokturia) karena hambatan normal dari korteks berkurang dan tonus
sfingter dan uretra berkurang selama tidur.
 Nokturia  Terbangun untuk miksi pada malam hari. Nokturia dan
frekuensi terjadi karena pengosongan yang tidak lengkap pada tiap
miksi sehingga interval antar miksi lebih pendek.
 Urgensi  Perasaan miksi yang sangat mendesak
 Disuria  Nyeri pada saat miksi. Urgensi dan disuria jarang terjadi,
jika ada disebabkan oleh ketidaksatabilan detrusor sehingga terjadi
kontraksi involunter.
2. Gejala obstuktif
 Pancaran melemah
 Rasa tidak lampias sehabis miksi

9
 Terminal dribbling  Menetes setelah miksi. Terminal dribbling dan
rasa belum puas sehabis miksi terjadi karena jumlah residu urin yang
banyak dalam buli–buli.
 Hesitancy  Bila mau miksi harus menunggu lama. Terjadi karena
detrusor membutuhkan waktu yang lama untuk dapat melawan
resistensi uretra.
 Straining  Harus mengedan jika miksi.
 Intermittency  Kencing terputus–putus. Terjadi karena detrusor tidak
dapat mengatasi resistensi uretra sampai akhir miksi.
 Waktu miksi memanjang yang akhirnya menjadi retensio urin dan
inkontinen karena overflow.

Klasifikasi BPH
a. Early BPH

Bladder

Uretra

Enlargement of the
prostate starts to
constrict the uretra

10
b. Moderate BPH

Urethra become
narrowed

c. Severe BPH

Urethra urethra almost


Completely obstructed

Thickened bladder wall due


to obstruction of Urethra
urethra

3.1.3 Penatalaksanaan
1. Observasi
Observasi biasa dilakukan pada pasien dengan keluhan ringan (skor
Madsen Iversen  9). Setiap 3 bulan dilakukan kontrol keluhan (sistem skor),
sisa kencing dan pemeriksaan colok dubur. 3
2. Terapi Farmakologi3
a. Penghambat adregenik
Obat-obatan yang sering dipakai diantaranya prazosin, duxazosin, terazosin,
afluzosin atau yang lebih selektif tamsulosin. ( 1a). Penggunaan -1-adrenergik
secara selektif mengurangi obstruksi pada buli-buli tanpa merusak kontraktilitas

11
detrusor. Efek samping yang timbul adalah pusing-pusing, capek, sumbatan
hidung, rasa lemah.
b. Penghambat enzim 5- reduktase
Yang dipakai adalah finasteride (proscar), obat ini menghambat pembentukan
DHT sehingga prostat yang membesar akan mengecil.
c. Terapi Bedah
Indikasi absolut terapi bedah pada BPH yaitu retensio urine berulang,
hematuria, tanda penurunan fungsi ginjal, infeksi saluran kemih berulang,
tanda-tanda obstruksi berat (divertikel, hidroureter, hidrorefrosis), ada batu
saluran kemih. Intervensi bedah yang dapat dilakukan meliputi TURP Trans
Urethal Resection of The Prostate), TUIP (Trans Urethal Insicion of The
Prostate), prostatektomi terbuka, prostatektomi dengan laser. Saat ini TUR-P
masih merupakan standar emas terapi bedah pada BPH.3
Reseksi kelenjar prostat dilakukan transuretra dengan mempergunakan
cairan irigasi (pembilas) agar daerah yang akan direseksi tetap terang dan tidak
tertutup oleh darah. Cairan yang dipergunakan adalah berupa larutan non ionic,
yang dimaksudkan agar tidak terjadi hantaran listrik pada saat operasi. Cairan
yang dipakai dan harganya cukup murah yaitu H2O steril (aquadest).
Indikasi dilakukan TURP:
- Meningkatnya frekuensi buang air kecil.
- Kesulitan memulai buang air kecil.
- Aliran urin melambat.
- Berhenti sebentar di tengah aliran.
- Dribbling setelah urination.
- Tiba-tiba ada keinginan kuat untuk BAK.
- Perasaan tidak puas di akhir DAK
- Nyeri selama BAK.
- Retensi urin.
- Batu vesica urinaria

12
Gambar : Trans Urethra Resection of Prostate
d. Terapi Invasif Minimal
Meliputi :

 TUMT (Trans Urethal Microwave Thermotherapy)


 TUBD (Dilatasi Balon Trans Urethal)
 High Intensity Focused Ultrasound
 TUNA (Ablasijamm Trans Urethal)
 Stent Prostat

3.2 Anestesi Spinal


Anestesi Spinal adalah pemberian obat anestetik lokal dengan cara
menyuntikkan ke dalam ruang subarakhnoid. Teknik tersebut dinilai cukup
efektif dan mudah dikerjakan. Spinal anestesi/ Sub-arachnoid block (SAB)
diperkenalkan oleh August Bier pada tahun 1898, teknik ini telah digunakan
untuk anestesi, terutama untuk operasi pada daerah bawah umbilikus.
Kelebihan utama teknik ini adalah kemudahan dalam tindakan, peralatan yang
minimal, memiliki efek minimal pada biokimia darah, menjaga level optimal
dari analisa gas darah, pasien tetap sadar selama operasi dan menjaga jalan
nafas, serta membutuhkan penanganan post operatif dan analgesia yang

13
minimal. Spinal anestesi dilakukan di bawah lumbal 1 pada orang dewasa dan
lumbal 3 pada anak-anak dengan menghindari trauma pada medula spinalis.4-7

3.2.2 Indikasi dan kontraindikasi


Indikasi:4-7
 Bedah ekstremitas bawah
 Bedah panggul
 Tindakan sekitar rectum-perineum
 Bedah obstetri-genekologi
 Bedah urologi
 Bedah abdomen bawah
 Pada bedah abdomen atas dan bedah pediatrik biasanya dikombinasi
dengan anestesia umum ringan

Kontraindikasi Absolut4-7
 Pasien menolak
 Infeksi pada tempat suntikan
 Hipovolemia berat, syok
 Koagulopati atau mendapat terapi antikoagulan
 Tekanan intrakranial meninggi
 Fasilitas resusitasi minim
 Kurang pengalaman atau tanpa didampingi konsultan anesthesia

Kontraindikasi relative 4-7


 Infeksi sistemik (sepsis, bakteremi)
 Infeksi sekitar tempat suntikan
 Kelainan neurologis
 Kelainan psikis
 Bedah lama
 Penyakit jantung

14
 Hipovolemia ringan
 Nyeri pinggang kronis

3.2.3 Komplikasi Anestesi Spinal 4-7


Komplikasi tindakan anestesi spinal meliputi:
 Hipotensi berat
 Bradikardia
 Hipoventilasi
 Trauma pembuluh darah
 Trauma saraf
 Mual-muntah
 Gangguang pendengaran
 Blok spinal tinggi atau spinal total.

Komplikasi pasca tindakan:


 Nyeri tempat suntikan
 Nyeri punggung
 Nyeri kepala karena kebocoran likuor
 Retensio urin
 Meningitis

15
3.2.4 Persiapan Analgesia Spinal4-7
Pada dasarnya persiapan untuk analgesia spinal seperti persiapan
pada analgesia umum. Daerah sekitar tempat tusukan diteliti apakah akan
menimbulkan kesulitan, misalnya ada kelainan anatomis tulang punggung
atau pasien gemuk sekali sehingga tak teraba tonjolan prosesus spinosus.
Selain itu perlu diperhatikan hal-hal berikut
 Informed Consent (izin dari pasien)
Kita tidak boleh memaksa pasien untuk menyetujui anestesi spinal
 Pemeriksaan fisik
Tidak ada kelainan spesifik seperti tulang punggung dan lain-lain.
 Pemeriksaan laboratorium anjuran
Hemoglobin, hematokrit, PT (protrombin time) dan PTT (partial tromboplastine
time)

3.2.5 Peralatan Analgesia Spinal


a. Peralatan monitor
Tekanan darah, nadi, oksimetri, denyut (pulse oksimeter) dan EKG
b. Jarum spinal
Jarum spinal dengan ujung tajam (ujung bamboo runcing, quincke bobcock) atau
jarum spinal dengan ujung pensil (pensil poit whitecare)

16
c. Anastetik lokal untuk analgesia spinal
Berat jenis cairan cerebrospinalis pada 37 derajat celcius adalah 1.003-1.008.
Anastetik lokal dengan berat jenis sama dengan css disebut isobarik. Anastetik
lokal dengan berat jenis lebih besar dari css disebut hiperbarik. Anastetik lokal
dengan berat jenis lebih kecil dari css disebut hipobarik. Anastetik lokal yang
sering digunakan adalah jenis hiperbarik diperoleh dengan mencampur anastetik
local dengan dextrose. Untuk jenis hipobarik biasanya digunakan tetrakain
diperoleh dengan mencampur dengan air injeksi.
Anestetik lokal yang paling sering digunakan:

 Lidokaine (xylobain, lignokain) 2%: berat jenis 1.006, sifat isobarik, dosis 20-
100mg (2-5ml)
 Lidokaine (xylobain, lignokaine) 5% dalam dextrose 7.5%: berat jenis 1.033, sifat
hyperbarik, dosis 20-50 mg (1-2ml)
 Bupivakaine (markaine) 0.5% dlm air: berat jenis 1.005, sifat isobarik, dosis 5-
20mg (1-4ml)
 Bupivakaine (markaine) 0.5% dlm dextrose 8.25%: berat jenis 1.027, sifat
hiperbarik, dosis 5-15mg (1-3ml)
3.2.6 Teknik Analgesia Spinal5-8
Posisi duduk atau posisi tidur lateral dekubitus dengan tusukan pada garis
tengah ialah posisi yang paling sering dikerjakan. Biasanya dikerjakan di atas meja
operasi tanpa dipindah lagi dan hanya diperlukan sedikit perubahan posisi pasien.
Perubahan posisi berlebihan dalam 30 menit pertama akan menyebabkan
menyebarnya obat.
 Setelah dimonitor, tidurkan pasien misalkan dalam posisi lateral dekubitus. Beri
bantal kepala, selain enak untuk pasien juga supaya tulang belakang stabil. Buat
pasien membungkuk maximal agar processus spinosus mudah teraba. Posisi lain
adalah duduk.

17
 Perpotongan antara garis yang menghubungkan kedua garis Krista iliaka, misal
L2-L3, L3-L4, L4-L5. Tusukan pada L1-L2 atau diatasnya berisiko trauma
terhadap medulla spinalis. Teknik:
Inspeksi : garis yang menghubungkan 2 titik tertinggi krista iliaka kanan-kiri akan
memotong garis tengah punggung setinggi L4 atau L4-L5.
Palpasi : untuk mengenal ruang antara dua vetebra lumbalis
Pungsi lumbal hanya antara : L2-3, L3-4, L4-5 atau L5-S1
Duduk atau berbaring lateral dengan punggung fleksi maksimal.

Gambar : Spinal Anestesi

18
Gambar : Posisi penyuntikan

1. Sterilkan tempat tusukan dengan betadine atau alkohol.


2. Beri anastesi lokal pada tempat tusukan,misalnya dengan lidokain 1-2% 2-3ml
3. Cara tusukan median atau paramedian. Untuk jarum spinal besar 22G, 23G, 25G
dapat langsung digunakan. Sedangkan untuk yang kecil 27G atau 29G dianjurkan
menggunakan penuntun jarum yaitu jarum suntik biasa semprit 10cc. Tusukkan

19
introduser sedalam kira-kira 2cm agak sedikit kearah sefal, kemudian masukkan
jarum spinal berikut mandrinnya ke lubang jarum tersebut. Jika menggunakan
jarum tajam (Quincke-Babcock) irisan jarum (bevel) harus sejajar dengan serat
duramater, yaitu pada posisi tidur miring bevel mengarah keatas atau kebawah,
untuk menghindari kebocoran liquor yang dapat berakibat timbulnya nyeri kepala
pasca spinal. Setelah resistensi menghilang, mandarin jarum spinal dicabut dan
keluar liquor, pasang semprit berisi obat dan obat dapat dimasukkan pelan-pelan
(0,5ml/detik) diselingi aspirasi sedikit, hanya untuk meyakinkan posisi jarum
tetap baik. Kalau anda yakin ujung jarum spinal pada posisi yang benar dan liquor
tidak keluar, putar arah jarum 90º biasanya likuor keluar. Untuk analgesia spinal
kontinyu dapat dimasukan kateter.

4. Penyebaran anastetik lokal tergantung:7


 Faktor utama:
 Berat jenis anestetik lokal (barisitas)
 Posisi pasien
 Dosis dan volume anestetik lokal
 Kecepatan suntikan/barbotase
 Ukuran jarum
 Keadaan fisik pasien
 Tekanan intra abdominal
 Lama kerja anestetik lokal tergantung:
 Jenis anestetia lokal
 Besarnya dosis
 Ada tidaknya vasokonstriktor
 Besarnya penyebaran anestetik lokal
3.3 Pengawasan selama berlangsungnya operasi

20
Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan selama berlangsungnya TURP adalah
gejala-gejala komplikasi yang dapat terjadi. Komplikasi mayor yang dapat terjadi
pada TURP adalah :
1. Pendarahan
Perdarahan pada TURP akan menimbulkan hipovolemia, menyebabkan
kehilangan kemampuan mengangkut oksigen secara signifikan sehingga bisa menuju
iskemia myokardial dan infark miokard. Kehilangan darah berkorelasi dengan ukuran
kelenjar prostat yang direseksi, lamanya pembedahan dan skill dari operator. Rata-
rata kehilangan darah saat TURP adalah 10ml/gram dari reseksi prostat.
2. Sindrom TURP
Reseksi prostat transurethral sering membuka jaringan ekstensif sinus vena
pada prostat dan memungkinkan absorbsi sistemik dari cairan irigasi. Absorbsi dari
cairan dalam jumlah yang besar (2 liter atau lebih) menghasilkan gejala dan tanda
yang disebut dengan sindrom TURP.
Manifestasi dari Sindrom TURP :
- Hiponatremia
- Hipoosmolaritas
- Overload cairan
- Gagal jantung kongestif
- Edema paru
- Hipotensi
- Hemolisis
- Keracunancairan
- Hiperglisinemia
- Hiperamonemia
- Hiperglikemia
- Ekspansi volume intravaskular

21
Sindrom TURP adalah satu dari komplikasi tersering pembedahan endoskopi
urologi. Insiden sindrom TURP mencapai 20% dan membawa angka mortalitas yang
signifikan. Walaupun terdapat peningkatan di bidang anestesi 2,5%-20 % pasien yang
mengalami TURP menunjukkansatu atau lebih gejala sindrom TURP dan 0,5% - 5%
diantaranya meninggal pada waktu perioperatif. Angka mortalitas dari sindrom TURP
ini sebesar 0,99%
Reseksi kelenjar prostate transuretra dilakukan dengan mempergunakan cairan
irigasi agar daerah yang di irigasi tetap terang dan tidak tertutup oleh darah. Syarat
cairan yang dapat digunakan untuk TURP adalah: isotonik, non-hemolitik,
electrically inert , non-toksik, transparan, mudah untuk disterilisasi dan tidak mahal.
Akan tetapi sayangnya cairan yang memenuhi syarat seperti di atas belum ditemukan.
Untuk TURP biasanya menggunakan cairan nonelektrolit hipotonik sebagai
cairan irigasi seperti air steril, Glisin 1,5% (230 mOsm/L), atau campuran Sorbitol
2,7% dengan Mannitol 0,54% (230 Osm/L). Cairan yang boleh juga dipakai tapi
jarang digunakan adalah Sorbitol 3,3%,Mannitol 3%, Dekstrosa 2,5-4% dan Urea
1%.
a. Hipovolemi, Hipotensi
Tanda hemodinamika klasik dari Sindrom TURP, ketika glisin digunakan
sebagai cairan irigasi, terdiri dari transient arterial hipertension, yang bisa tidak
muncul jika pendarahan berlebihan, diikuti dengan perpanjangan hipertensi.
Pelepasan substansi jaringan prostatik dan endotoksin menuju sirkulasi dan asidosis
metabolik yang bisa berkontribusi terhadap hipotensi

b. Gangguan Penglihatan
Salah satu komplikasi dari Sindrom TURP adalah kebutaan sementara,
pandangan berkabut, dan melihat lingkaran disekitar objek. Pupil menjadi dilatasi dan
tidak merespons. Lensa matanormal. Gejala bisa muncul bersamaan dengan gejala
lain dari Sindom TURP atau bisa juga menjadi gejala yang tersembunyi. Penglihatan
kembali normal 8-48 jam setelah pembedahan. Kebutaan TURP disebabkan oleh

22
disfungsi retina yang kemungkinan karena keracunan glisin. Karena itu persepsi dari
cahaya dan refleks mengedipkan mata dipertahankan dan respon pupil terhdap cahaya
dan akomodasi hilang pada kebutaan TURP, tidak seperti kebutaan yang disebabkan
karena disfungsi Kortikal serebri.
c. Perforasi
Perforasi dari kandung kemih bisa terjadi saat TURP berkaitan dengan
instrumen pembedahan, pada reseksi yang sukar, distensi berlebihan dari kantung
kemih dan letusan didalam kantung kemih. Perforasi instrumen dari kapsul prostatik
telah diestimasi terjadi pada 1% dari pasien yang melakukan TURP. Tanda awal dari
perforasi, yang sering tidak diperhatikan adalah penurunan kembalinya cairan irigasi
dari kantung kemih. Dan diikuti oleh nyeri abdomen, distensi dan nausea. Bradikardi
dan hipotensi arterial juga ditemukan. Juga ada resiko tinggi kesalahan diurese
spontan. Pada perforasi intraperitoneal, gejalanya berkembang lebih cepat. Nyeri alih
bahu yang berkaitan dengan iritasi pada diafragma merupakan gejala khas Pallor ,
diaphoresis, rigiditas abdomen, nausea, muntah dan hipotensi bisa terjadi.
d. Koagulopati
DIC ( Disseminated Intravasculer Coagulation) bisa terjadi berkaitan dengan pelepasan
partikel prostat yang kaya akan jaringan thrombopalstin menuju sirkulasi yang
menyebabkan fibrinolysis sekunder. Dilutional trombositopenia bisa memperbusuk
situasi. DIC bisa dideteksi pada darah dengan timbulnya penurunan jumlah platelet, FDP
( Fibrin Degradation Products) yang tinggi (FDP > 150 mg/dl) dan plasma fibrinogen yang
rendah (400 mg/dl).

e. Bakteremia, Septisemia dan Toksemi


Sekitar 30% dari semua pasien TURP memiliki urin yang terinfeksi saat
preoperatif. Ketika prostat sinus vena terbuka dan digunakan irigasi dengan tekanan
tinggi, maka bakteri akanmasuk menuju sirkualsi. Pada 6% pasien, bakteremia
menjadi septisemia. Absorbsi dariendotoksin bakteri dan produksi toksin dari
koagulasi jaringan akan berakibat keadaan toksik pada pasien postoperatif. Gemetar

23
yang parah, demam, dilatasi kapiler dan hipertensi bisa terjadi secara temporer pada
pasien ini.
f. Hipotermia
Hipotermia merupakan observasi yang selalu dilakukan pada pasien yang
akan dilakukan TURP. Penurunan dari suhu tubuh akan mengubah situasi
hemodinamika, yang mengakibatkan pasien menggigil dan peningkatan konsumsi
oksigen. Irigasi kandung kemih merupakan sumber utama dari hilangnya panas dan
penggunaan cairan irigasi pada suhu ruangan menghasilkan penurunan suhu tubuh
sekitar 1-2oC. Ini diperburuk oleh keadaan ruangan operasi yang bersuhu dingin.
Pasien geriatri diduga akan mengalami hipotermia karena disfungsi otonom.
Vasokonstriksi dan asidosis bisa berefek pada jantung dan berkontribusi terhadap
manifestasi sistem saraf pusat. Menggigil juga bisa diperparah oleh pendarahan dari
tempat reseksi.

Tata laksana sindrom TURP


Terapi Sindrom TURP meliputi koreksi berbagai mekanisme patofisiologikal
yang bekerja pada homeostasis tubuh. Idealnya terapi tersebut harus dimulai sebelum
tejadi komplikasi sistem saraf pusat dan jantung yang serius. Ketika Sindrom TURP
didiagnosa, prosedur pembedahan sebaiknya diakhiri secepatnya. Kebanyakan pasien
bisa dimanajemen dengan restriksi cairan dan diuretic loop.
Identifikasi gejala awal sindrom TURP dan pencegahan, penting untuk
mencegah efek yang fatal bagi pasien yang mengalami pembedahan endoskopik.
Hiponatremia yang terjadi sebelum operasi harus dikoreksi terutama pada pasien
yang menggunakan obat-obatan diuretic dan diet rendah garam.
Antibiotic profilaksis memiliki peran dalam pencegahan bakterimia dan
septisemia. Central Venous Pressure (CVP) monitoring atau kateterisasi arteri
pulmonalis diperlukan untuk pasien dengan penyakit jantung. Tinggi ideal cairan
irigasi adalah 60 cm. Untuk mengurangi timbulnya sindroma TURP operator harus
membatasi diri untuk tidak melakukan reseksi lebih dari 1 jam.

24
Di samping itu beberapa operator memasang sistotomi suprapubik terlebih
dahulu sebelum reseksi diharapkan dapat mengurangi penyerapan air ke sistemik.
Untuk kasus dengan operasi lebih dari satu jam staging TURP harus dilakukan.
Kapsul prostat harus dijaga dan distensi kandung kemih harus dicegah. Caranya
dengan sering mengosongkan kandung kemih.
Koreksi hiponatremia sebaiknya dilakukan dengan diuresis dan pemberian
salin hipertonis 3-5% secara lambat dan tidak lebih dari 0,5 meq/per 1 jam atau tidak
lebih cepat dari100 ml/jam. Tepatnya 200 ml salin hipertonis diperlukan untuk
mengkoreksi hiponatremia. Pemberian secara cepat dari salin akan mengakibatkan
edema paru dan central pontine myelinolysis. Dua pertiga dari salin hipertonis
mengembalikan serum sodium dan osmolaritas, sedangkan 1/3 meredistribusi air dari
sel menuju ruang ekstraseluler, dimana akan diterapi dengan terapi diuretik
menggunakan furosemide.
Furosemide sebaiknya diberikan dengan dosis 1 mg/kg bb secara intravena.
Tetapi, penggunaan furosemide dalam terapi Sindrom TURP dipertanyakan karena
meningkatkan ekskresi natrium. Oleh sebab itu 15% manitol disarankan sebagai
pilihan, dalam kaitan dengan kerjanya yang bebas dari ekskresi natrium dan
kecenderungan untuk meningkatkan osmolaritas ekstraseluler.
Oksigen harus diberikan dengan penggunaan nasal kanul. Edema paru
sebaiknya dimanajemen dengan intubasi dan ventilasi dengan penggunaan 100%
oksigen. Gas darah, hemoglobin dan serum sodium dinilai. Kalsium intravena bisa
digunakan untuk merawat gangguan gangguan jantung akut saat pembedahan. Kejang
sebaiknya diterapidengan diazepam / midazolam / barbiturat / dilantin aau
penggunaan pelemas otot tergantungdari tingkat keparahannya.
Gejala hiponatremia yang bisa berakibat seizure bisa dihubungkan dengan
dosis kecil dari midazolam (2-4mg), diazepam (3-5 mg), thiopental (50-100 mg).
Kehilangan darah diterapi dengan transfusi PRC. Pada kasus dengan DIC,
maka fibrinogen 3-4gram sebaiknya diberikan secara intravena diikuti dengan infus
heparin 2000 unit secara bolus (dan kemudian diberikan 500 unit tiap jam). Fresh
25
Frozen Plasma (FFP) dan platelet juga bisa digunakan tergantung dari jenis
koagulasinya. Drainase pembedahan dari cairan retroperitoneal pada kasus perforasi
bisa menurunkan morbiditas dan mortalitas secara signifikan. Arginin dapat diberikan
sebagai tambahan infus glisin untuk menurunkan efek toksik dari glisin pada jantung.
Mekanisme bagaimana arginin memproteksi jantung belum diketahui.
Phenytoin yang diberikan secara intravena (10-20 mg/kg) juga harus
dipertimbangkan untuk memperoleh aktivitas antikonvulsan. Intubasi endotrakeal
secara umum disarankan untuk mencegah aspirasi sampai status mental pasien
menjadi normal. Jumlah dan kadar salin hipertonik (3-5 %) diperlukan untuk
mengkoreksi hiponatremia menjadi batas / level yang aman, yang didasarkan
konsentrasi serum sodium pasien. Solusi salin hipertonis harus tidak diberikan
dengan kecepatan tidak lebih dari 100 ml/jam sehingga tidak menimbulkan
eksaserbasi overload dari cairan sirkulasi.
Hipotermi dapat dihindari dengan meningkatkan suhu ruang operasi,
penggunaan selimut hangat dan menggunakan cairan irigasi dan intravena yang telah
dihangatkan sampai suhu 37’C. Manajemen pasien yang mengalami koma harus
meliputi oksigenasi, sirkulasi yang memadai, penurunan tekanan intrakranial,
penghentian kejang, terapi infeksi, menjaga keseimbangan asam basa dan elektrolit
dan suhu tubuh.
Pemantauan yang dilakukan glukosa, elektrolit (Na, K, Ca, Cl, CO3, PO4),
urea kreatinin, osmolaritas, glisin, dan amonia. Pemeriksaan gas darah dapat melihat
PH, PO2, PCO2, dan karbonat. Perlu juga dilakukan EKG untuk memonitor fungsi
kardiovaskular.

26
DAFTAR PUSTAKA

1. Latief SA, Suryadi KA, dan Dachlan MR, Eds. Petunjuk Praktis
Anestesiologi. Edisi Ke-2. Jakarta : Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif
FKUI; 2009.
2. Dahlan MR, Soenarto RF. Buku Ajar Anestesiologi. Jakarta : Departemen
Anestesiologi dan Intensif Care FKUI; 2009.
3. Purnomo, Basuki. 2011. Dasar-dasar Urologi edisi ketiga. Sagung seto
4. Medscape. Regional Anesthesia for Postoperative Pain Control. 2015.
http://emedicine.medscape.com/article/1268467-overview#a1
5. Medscape. Perioperative Medication Management. 2015.
http://emedicine.medscape.com/article/284801-overview#showall
6. Medscape. Subarachnoid Spinal Block. 2015
http://emedicine.medscape.com/article/284801-overview#showall

27