Anda di halaman 1dari 4

PENENTUAN DENSITAS SUATU KRISTAL

I. TUJUAN PERCOBAAN
Tujuan percobaan ini adalah mengukur densitas suatu kristal.
II. DASAR TEORI
Densitas merupakan perbandingan antara massa dan volume dari suatu
senyawa. Makin besar volume dan massa dari suatu senyawa, makin kecil
densitasnya. Begitu juga sebaliknya, makin kecil volume dan massa suatu
senyawa, densitasnya makin besar. Kebanyakan zat padat dan cairan mengembang
sedikit bila dipanaskan dan menyusut sedikit bila dipengaruhi penambahan
tekanan eksternal (Soedojo, 1999).
Penentuan densitas berlangsung dengan piknometer, Areometer, timbangan
hidrostatik (timbangan Mohr-Westphal) dan cara manometris. Ada beberapa alat
untuk mengukur densitas, yaitu menggunakan piknometer, neraca hidrostatis
(neraca air), neraca Reimann, beraca Mohr Westphal . Prinsip metode Piknometer
didasarkan atas penentuan massa cairan dan penentuan rungan yang ditempati
cairan ini. Ruang piknometer dilakukan dengan menimbang air. Ketelitian metode
piknometer akan bertambah sampai suatu optimum tertentu dengan bertambahnya
volume piknometer. Ada dua tipe piknometer, yaitu tipe botol dengan tipe pipet
(Bird, 1993).
Polarisasi adalah proses dimana getaran-getaran suatu gerak gelombang
dibatasi menurut pola tertentu. Polarisasi oleh refleksi telah ditemukan padan1808
oleh Etienne Malus (1775-1812). Malus, yang telah melakukan percobaan
pembiasan ganda bekerja pada teori efek, mengamati dari peraturan cahaya
matahari, tercermin dari jendela yang dekat jendela, melalui Kristal dari Islandia
Spar. Zat optik aktif adalah zat-zat yang dapat memutar bidang polarisasi cahaya,
yaitu zat-zat yang molekul-molekulnya mempunyai pusat asimetris dan kurang
simetris disekitar bidang tunggal. Gejala pemutaran bidang polirasasi disebut
aktivitas optic (Tipler, 1998).
Sinar mempunyai arah getar atau arah rambat kesegala arah dengan variasi
warna dan panjang gelombang yang dikenal dengan sinar polikromatis. Untuk
menghasilkan sinar monokromatis, maka digunakan suatu filter atau sumber sinar
tertentu. Sinar monokromatis ini akan melewati suatu prisma yang terdiri dari
suatu kristal yang mempunyai sifat seperti layar yang dapat menghalangi jalannya
sinar. Sehingga dapat dihasilkan sinar yang hanya mempunyai satu arah bidang
getar yang disebut sebagai sinar terpolarisasi. Jika suatu snar dilewatkan pada
suatu larutan, larutan itu akan meneruskan sinar atau komponen gelombang yang
arah getarnya searah dengan larutan dan menyerap sinar yang arahnya tegak lurus
dengan arah ini. Di sini larutan digunakan sebagai suatu plat pemolarisasi atau
polarisator. Akhirnya sinar yang keluar dari larutan adalah sinar yang terpolarisasi
bidang.Cahaya dalam keadaan terpolarisasi mempunyai ciri-ciri yaitu gelombang
ke semua arah dan tegak lurus arah rambatnya, terdiri dari banyak gelombang dan
banyak arah getar (Danial dan Robert, 1975).
Polarimeter ialah alat untuk mengukur besarnya pemutaran (rotasi) bidang
polarisasi larutan larutan zat optik aktif. Beberapa senyawa organik seperti
alkaloid, antibiotika, gula, dan komponen minyak atsiri mempunyai sifat memutar
bidang polarisasi sinar terpolarisasi yang melewati senyawa yang memutar bidang
polarisasi kearah kanan (searah dengan perputaran jarum jam) dinamakan pemutar
kanan. Yang memutar kiri disebut pemutar kiri. Biasanya didepan nama senyawa
tersebut diberi tanda dengan tanda + atau d (dexrorotatory) untuk pemutar kanan,
dan – atau L (Levorotatory) untuk pemutar kiri. Suatu senyawa dapat sekaligus
menjadi pemutar kanan dan kiri dinamakan zat rasemi (Mik, 2010).

III. ALAT DAN BAHAN


A. ALAT
1.) Gelas Ukur 10 ml 1 buah
2.) Pipet Tetes
3.) Piknometer 5ml
4.) Neraca
B. BAHAN
1.) Kristal CuSO4.5H2O
2.) Kristal NaCl
3.) n-Heksan (densitas kecil)
4.) CS2 (densitas besar)
C. GAMBAR ALAT
IV. CARA KERJA
n-Heksana (1ml) dimasukkan ke dalam gelas ukur. 3 butir Kristal di
masukkan ke gelas ukur. Kemudian diamati. CS2 ditambahkan secara bertetes-tetes
kedalamnya sehingga Kristal melayang. Kemudian diukur densitas Kristal dengan
piknometer.
V. DATA PENGAMATAN
Wk = 9,38 gram
W = 16,504 gram
VI. PEMBAHASAN
Pada percobaan kali ini bertujuan untuk mengukur densitas suatu Kristal.
Prinsip percobaan ini adalah menentukan densitas Kristal dengan cara
memasukkan kristal kedalam piknometer yang terdapat larutan didalam nya.
Prinsip kerja dari piknometer adalah massa larutan yang akan diuji
ditentukan dengan mengurangi massa larutan dalam piknometer dengan
piknometer kosong. Dari data yang didapatkan piknometer kosong beratnya adalah
9,38 gram dan piknometer yang berisi larutan adalah 16,504 gram dan densitas
kristal yang didapatkan adalah sebesar
Pada percobaan yang telah dilakukan, kristal yang ada dalam piknometer
yang berisi larutan CS2 tidak melayang (berada dibawah larutan). Hal ini tidak
sesuai dengan literature, karena densitas dari EDTA adalah 860 g/cm³, dan
densitas dari larutan CS2 adalah 1.26 g/cm³. Literatur menunjukkan bahwa densitas
CS2 lebih besar dari EDTA dan EDTA berada di atas larutan CS2.

VII. KESIMPULAN
Densitas kristal EDTA yang didapat adalah dan densitas ini
memiliki densitas yang lebih kecil dari larutan CS2
\
VIII. DAFTAR PUSTAKA

Bird, T. 1993. Kimia Fisik untuk Universitas. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama.

Daniel, F. & Robert, A .1975. Physical Chemistry fourth edition. New York: John
Willey & Sons, Inc.

Mik. 2010. Polarimetri. Bandung : Universitas Padjadjaran.

Soedojo, P. 1999. Fisika dasar. Yogyakarta : Bumi Aksara.

Tipler, P.A. 1998. Fisika Untuk Sains dan Teknik Jilid 1. Jakarta : Erlangga

IX. LAMPIRAN

Laporan kelompok

Surakarta, 3 April 2018

Asisten Praktikum Praktikan

( Yudha Pratama Putra ) ( Muhammad Sarifudin )