Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH BAKTERIOLOGI KLINIK

“INFEKSI SALURAN PERNAFASAN KRONIS”


Mycobacterium tuberculosis dan Mycobacterium leprae
Disusun untuk memenuhi salah satu tugas kelompokmata kuliahBakteriologi Klinik

Oleh :
Syafira Tidarasari (P17334116057)
Octavia Qoyumi Auliasari (P17334116059)
Eka Sindy Rizka Amalia (P17334116086)
Kelompok 6 Kelas 2B

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN BANDUNG
JURUSAN ANALIS KESEHATAN
CIMAHI
2018
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Panyayang, Penulis panjatkan puji syukur kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan
rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada penulis, sehingga penulis dapat
menyelesaikan makalah Infeksi Saluran Pernafasan Kronis (Mycobacterium
tuberculosis dan Mycobacterium leprae).
Makalah ini telah penulis susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan
dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu
penulis menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah
berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.
Terlepas dari semua itu, penulis menyadari sepenuhnya bahwa masih ada
kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu
dengan tangan terbuka penulis menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar
penulis dapat memperbaiki makalah ini.
Akhir kata penulis berharap semoga makalah Bakteriologi Klinik
tentangInfeksi Saluran Pernafasan Kronis (Mycobacterium tuberculosis dan
Mycobacterium leprae)ini dapat memberikan manfaat maupun inpirasi terhadap
pembaca.

Cimahi, 4 April 2018

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................................... i


DAFTAR ISI ................................................................................................................. ii
BAB I ............................................................................................................................ 1
PENDAHULUAN ........................................................................................................ 1
1.1 Latar Belakang .................................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ............................................................................................... 2
1.3Tujuan Penulisan .................................................................................................. 2
1.4 Manfaat Penulisan ............................................................................................... 2
BAB II ........................................................................................................................... 3
PEMBAHASAN ........................................................................................................... 3
2.1 Definisi Penyakit TBC ........................................................................................ 3
2.2 Definisi Mycobacterium sp. ................................................................................ 4
2.3 Klasifikasi, sifat pertumbuhan dan mekanisme infeksi Mycobacterium
tuberculosis ............................................................................................................... 4
2.3.1 Sifat Pertumbuhan Mycobacterium tuberculosis ......................................... 6
2.3.2 Mekanisme penyakit Mycobacterium tuberculosis...................................... 6
2.4 Definisi dan morfologi Mycobacterium leprae ................................................. 8
2.4.1 Morfologi Mycobacterium lepra .................................................................. 9
2.5 Pemeriksaan Mycobacterium sp. ....................................................................... 10
BAB III ....................................................................................................................... 11
SIMPULAN DAN SARAN ........................................................................................ 11
3.1 Simpulan ........................................................................................................... 11
3.2 Saran .................................................................................................................. 11
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................. 12

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Infeksi saluran pernapasan merupakan infeksi yang terjadi pada salah satu
atau lebih bagian dari saluran pernapasan–termasuk sinus, tenggorok, paru-paru,
dan sebagainya.
Infeksi saluran pernapasan dapat dibagi menjadi infeksi saluran
pernapasan akut (durasi singkat), atau infeksi saluran pernapasan kronik (durasi
lama). Umumnya, infeksi saluran pernapasan juga dapat dibagi sesuai lokasi
terdapatnya infeksi menjadi infeksi pada saluran pernapasan atas, yang
mencakup infeksi pada hidung, sinus, dan tenggorok, dan infeksi pada saluran
pernapasan bawah, yang mencakup infeksi pada bronkus dan paru-paru.Infeksi
tersebut dapat disebabkan oleh virus atau bakteri, diantaranya adalah
Mycobacterium tuberculocis.
Infeksi Mycobacterium menyebabkan berbagai manifestasi klinis. Spesies
yang paling terkenal dari genus ini adalah Mycobacterium tuberculosis, yang
menyebabkan tuberculosis yaitu infeksi saluran pernafasan kronis dengan jumlah
4.000.000 kasus per tahun berdasar World Health Organizaztion (WHO) pada
tahun 2001 dan Mycobacterium leprae yaitu penyebab penyakit kronis leprae.
Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, penulis menetapkan judul
makalah, “INFEKSI SALURAN PERNAFASAN KRONIS (Mycobacterium
tuberculosis dan Mycobacterium leprae)”.

1
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis merumuskan masalah sebagai
berikut :
1. Apa pengertian dari penyakit tuberculosis atau TBC?
2. Apa pengertian dari Mycobacterium sp.?
3. Bagaimana klasifikasi, sifat pertumbuhan dan mekanisme infeksi
Mycobacterium tuberculosis?
4. Apa pengertian dan morfologi dari Mycobacterium leprae?
5. Bagaimana cara pemeriksaan Mycobacterium sp.?

1.3 Tujuan Penulisan


Adapun tujuan penulisan makalah ini sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui apa itu penyakit tuberculosis atau TBC.


2. Untuk mengetahui pengertian dari Mycobacterium sp.
3. Untuk mengetahui bagaimana klasifikasi, sifat pertumbuhan dan mekanisme
infeksi Mycobacterium tuberculosis.
4. Untuk mengetahui pengertian dan morfologi dari Mycobacterium leprae.
5. Untuk mengetahui bagaimana cara pemeriksaan Mycobacterium sp.

1.4 Manfaat Penulisan


Manfaat penulisan makalah ini sebagai berikut ;

1. Untuk menambah wawasan penulis dan pembaca menegenaibakteri penyebab


infeksi saluran pernafasan kronis.
2. Agar pembaca lebih memahami tentangspesies Mycobacterium tuberculosis
dan Mycobacterium leprae.

2
BAB II
PEMBAHASAN

Berdasarkan perumusan masalah pada Bab I, dapat penulis bahas


permasalahan sebagai berikut :
2.1 Definisi Penyakit TBC
Tuberkulosis (TBC) adalah suatu penyakit infeksi menular yang disebabkan
oleh bakteri Mycobaterium tuberculosis, yang dapat menyerang berbagai organ
terutama paru-paru. Mycobacterium tuberculosis dapat menular dari individu yang
satu ke individu lainnya melalui percikan droplet yang terbawa oleh udara seperti
batuk, dahak atau percikan ludah.

World Health Organization (WHO) melaporkan pada tahun 2014 terdapat


sekitar 9,6 juta kasus baru dan 1,5 juta kematian karena TBC di dunia diantaranya
890.000 laki-laki, 480.000 wanita dan 140.000 anak-anak yang meninggal. 58%
berada di Asia Tenggara dan Pasifik Barat. Indonesia menempati urutan ketiga di
Asia Tenggara dengan kasus TBC terbanyak setelah India (23%) dan China (10%)
yakni 647 kasus per 100.000 penduduk.

Di Indonesia tercatat jumlah kasus basil tahan asam (BTA) positif pada tahun
2015 sebanyak 193.321 kasus berdasarkan Pusat Data dan Informasi Kementerian
Kesehatan RI tahun 2016. Data yang sama juga melaporkan bahwa TBC paling
banyak menyerang kelompok usia produktif (25-34 tahun) yaitu 18,73% dengan
kasus terbanyak dialami oleh laki-laki 60,9% kemudian perempuan 39,1%.

Mycobacterium tuberculosisdi dalam tubuh yang tidak segera diobati akan


terus berdiam di dalam paru-paru manusia kemudian menggerogoti paru-paru hingga
dapat menyebar ke bagian tubuh lainnya melalui aliran darah. Mycobacterium
tuberculosis dapat menyerang tulang, merusak hati dan ginjal, jantung dan berbagai

3
organ lainnya, menurunkan sistem kekebalan tubuh, dan terjadi penurunan berat
badan yang signifikan sehingga jika dibiarkan dapat menyebabkan kematian.

2.2Definisi Mycobacterium sp.


Mycobacterium adalah salah satu bakteri yang banyak ditemukan
dimasyarakat. Salah satu spesiesnya adalah Mycobacterium tuberculosis yang dapat
menularkan kuman tuberculosis melalui udara, percikan dahak, atau ludah yang
terinfeksi oleh kuman tuberculosis. Menurut Sommer dan Good dalam buku Journal
of Clinical tahun 1980, dilakukan kajian tentang KlasifikasiMycobacteria, pada
masing-masing kelompok terdiri dari Divisio, Class, Family, Genus, dan spesies.
Pada bagian spesies ini banyak ditemukan macam dan ragam dari koloninya, dan juga
kehidupannya dipengaruhi dengan sifat asam atau basa pada media yang
ditumbuhinya. Jika dilakukan pembiakan di laboratorium maka akan tampak
perbedaan koloni serta sifat pertumbuhannya, hal ini juga dipengaruhi oleh suhu dan
pH pertumbuhan koloni.

Sebagian besar dari golongan Mycobacterium ini hidup bebas dan tidak
merugikan manusia, akan tetapi beberapa spesies dapat menyebabkan penyakit pada
manusia, binatang, burung, dan mamalia. Spesies yang menyebabkan penyakit pada
manusia umumnya adalah Mycobacterium tuberculosis dan Mycobacterium leprae.

2.3Klasifikasi, sifat pertumbuhan dan mekanisme infeksi Mycobacterium


tuberculosis
Mycobacterium tuberculosis (mikobakterium) adalah bakteri berbentuk
batang aerob yang tidak membentuk spora. Pada jaringan, basil tuberculosis adalah
bakteri batang tipis lurus berukuran sekitar 0,4x3 μm. Mycobacterium tuberculosis
pada umumnta tidak dapat diklasifikasikan menjadi Gram-positif atau Gram-negatif.

4
Basil tuberkulosis ditandai dengan “tahan asam”. Sifat tahan asam ini tergantung
pada integritas selubung yang terbuat dari lilin (Jawetz, 2008).
Mycobacterium tuberculosis kaya akan lipid yang terdiri dari asam mikolat
(asam lemak rantai panjang C78-C90), lilin, dan fosfat. Di dalam sel, lipid banyak
terikat dengan protein dan polisakarida. Muramil dipeptida (dari peptidoglikan) yang
membuat kompleks dengan asam mikolat dapat menyebabkan pembentukan
granuloma fosfolipid penginduksi nekrosis kaseosa. Penghilangan lipid dengan
menggunakan asam yang panas menghancurkan sifat tahan asam bakteri ini, yang
tergantung dari integritas dinding sel dan adanya lipid-lipid tertentu (Jawetz, 2008).

Gambar 2.3 Mikroskopis Mycobacterium tuberculosis.


Mycobacterium tubercuosis bersifat tahan asam, berbentuk batang halus, tidak
bergerak, tidak membentuk spora dan bersifat aerobic. Penguraian karbohidrat
dilaksanakan melalui proses oksidasi.
Klasifikasi Ilmiah dari Mycobacterium tuberculosis diantaranya:
Kingdom : Bacteria
Filum : Actinobacteria
Ordo : Actinomycetales
Sub ordo : Corynebacterineae
5
Famili : Mycobacteriaceae
Genus : Mycobacterium
Spesies : Mycobacterium tuberculosis

2.3.1 Sifat Pertumbuhan Mycobacterium tuberculosis


Mycobacterium tuberculosis bersifat aerob obligat dan mendapatakan energi
dari oksidasi banyak komponen karbon sederhana. Peningkatan CO2 mendukung
pertumbuhan. Waktu replikasi basilus tuberkulosis sekitar 18 jam. Bentuk saprofitik
cenderung untuk tumbuh lebih cepat, untuk berproliferasi dengan baik pada suhu 22-
23oC, untuk memproduksi pigmen, dan tidak terlalu bersifat tahan asam bila
dibandingkan dengan bentuk patogennya (Jawetz, 2008).

2.3.2 Mekanisme penyakit Mycobacterium tuberculosis


Bakteri ini dikeluarkan melalui sputum dan saluran pernafasan. Infeksi terjadi
melalui muntahan atau saluran pernafasan. Lesion utama terjadi pada paru-paru dan
limfoglandula. Penyebaran penyakit TBC biasanya dimulai melalui udara yang
tercemar dengan bakteri Mycobacterium tuberculosis yang dilepaskan pada saat
penderita TBC batuk. Bakteri akan masuk ke dalam tubuh melalui inhalasi, apabila
bakteri mencapai jumlah yang banyak, serta kondisi imunitas tubuh yang lemah,
maka bakeri ini akan berkembang biak di dalam paru-paru. Bakteri dapat menginfasi
ke seluruh jaringan tubuh seperti paru-paru, otak ginjal, saluran pencernaan, tulangm
kelenjar getah bening, dan jaringan tubuh lainnya melalui pembuluh darah.

Mycobacterium tuberculosis berhasil menginfeksi paru-paru, maka dengan


segera akan tumbuh koloni bakteri yang berbentuk globular (bulat). Biasanya melalui
serangkaian reaksi imunologis bakteri TBC ini akan berusaha dihambat melalui
pembentukan dinding di sekeliling bakteri itu oleh sel-sel paru. Mekanisme
pembentukan dinding itu membuat jaringan di sekitarnya menjadi jaringan parut dan

6
bakteri TBC akan menjadi dormant (istirahat). Bentuk-bentuk dormant inilah yang
sebenarnya terlihat sebagai tuberkel pada pemeriksaan foto rontgen.

Adapun riwayat terjadinya tuberculosis dapat dibagi menjadi 2 tahap yaitu


tahap infeksi primer dan pasca primer. Infeksi primer terjadi saat seseorang terpapar
pertama kali dengan kuman TBC. Infeksi dimulai saat kuman TBC berhasil
berkembang biak dengan cara pembelahan diri di paru-paru, yang mengakibatkan
peradangan di dalam paru, saluran limfe akan membawa kuman TBC ke kelenjar
limfe disekitar hilus paru, dan ini disebut sebagai kompleks primer. Kelanjutan
setelah infeksi primer tergantung kuman yang masuk dan besarnya respon daya tahan
tubuh (imunitas seluler). Pada umumnya reaksi daya tahan tubuh tersebut dapat
menghentikan perkembangan kuman TBC. Meskipun demikian, ada beberapa kuman
akan menetap sebagai kuman persister atau dormant (tidur). Kadang-kadang daya
tahan tubuh tidak mampu mengehentikan perkembangan kuman, akibatnya dalam
beberapa bulan, yang bersangkutan akan menjadi penderita Tuberkulosis.

Tahap kedua yaitu Tuberkulosis Pasca Primer (Post Primary TB) biasanya
terjadi setelah beberapa bulan atau tahun sesudah infeksi primer, misalnya karena
daya tahan tubuh menurun akibat terinfeksi HIV atau status gizi yang buruk. Ciri
khas dari pasca primer ini adalah kerusakan paru yang luas dengan terjadinya kavitas
atau efusi pleura. Penderita penyakit tuberculosis dapat mengalami komplikasi
dimana komplikasi ini sering terjadi pada penderita stadium lanjut. Pada tahap
komplikasi, bakteri dapat menyerang beberapa organ vital tubuh, di antaranya adalah
tulang, usus, otak serta ginjal. Bakteri TBC biasanya akan berkembang biak dengan
pesat saat kondisi tubuh sedang lemah, misalnya selagi anak terkena penyakit berat.
Saat itu kekebalan tubuhnya menurun, sehingga bakteri pun leluasa menjalankan
aksinya.

7
Gambar 2.3.2 Penyebaran Mycobacterium tuberculosis

2.4 Definisi dan morfologi Mycobacterium leprae


Mycobacterium leprae bukanlah bakteri penyebab infeksi saluran pernafasan
kronis, namun Mycobacteriumleprae dapat menyababkan penyakit kronis lainnya
yaitu penyakitleprae.
Leprae (penyakit Hansen) adalah infeksi menahun yang terutama ditandai
oleh adanya kerusakan saraf perifer (saraf di luar otak dan medulla spinalis), kulit,
selaput lendir hidung, buah zakar (testis) dan mata.
Mycobacterium leprae, juga disebut Basillus Hansen, adalah bakteri yang
menyebabkan penyakit kusta (penyakit Hansen). Bakteri ini merupakan bakteri
intraselular. Mycobacterium leprae merupakan Gram-positif berbentuk batang.
Mycobacterium leprae mirip dengan Mycobacterium tuberculosis dalam besar dan
bentuknya.
Klasifikasi Mycobacterium leprae secara taksonomi adalah sebagai berikut:
Kingdom: Bacteria
Filum: Actinobacteria
8
Ordo: Actinomycetales
Sub Ordo: Corynebacterineae
Famili: Mycobacteriaceae
Genus: Mycobacterium
Spesies: Mycobacterium leprae

2.4.1 Morfologi Mycobacterium leprae


Secara morfologi Mycobacterium leprae berbentuk pleomorf lurus dengan
kedua ujung bulat dengan ukuran panjang 1-8 mikron dan lebar 0,2 - 0,5 mikron,
bersifat tahan asam, berbentuk batang dan Gram positif, biasanya berkelompok dan
ada yang tersebar satu-satu, hidup dalam sel terutama jaringan yang bersuhu dingin
seperti kulit, mukosa hidung, saraf tepi (terutama sel Schwann). Dengan pewamaan
Ziehl Neelsen termasuk golongan Basil Tahan Asam. Mycobacterium leprae tidak
dapat dikultur dalam media buatan. Kuman ini tumbuh lambat dan untuk membelah
dirinya memerlukan waktu sekitar 20-30 hari.

Gambar 2.4.1 Pewarnaan tahan asam Mycobacterium leprae


Mycobacterium leprae ini mampu bertahan pada hembusan kering dari hidung
selama 7 hari pada suhu 20,6°C dengan kelembaban 43,7% dan 10 hari pada suhu
35,7° dengan kelembaban 77%. M. leprae dikatakan mampu bertahan diluar tubuh
manusia selama beberapa bulan pada kondisi yang sesuai, misalnya: tanah, air. Ada
juga yang mengatakan bahwa M. leprae bertahan selama beberapa minggu (2-4
minggu) di lingkungan khususnya kondisi lembab. Kondisi ini ada di dan sekitar
9
lingkungan hidup pada area-area endemik. Reservoir M. leprae, selain manusia, dapat
dijumpai pada hewan armadillo, sejenis monyet dan tikus.

2.5 Pemeriksaan Mycobacterium sp.


1.Pemeriksaan Mikroskopik
Bahan pemeriksaan dibuat sediaan apus pada object glass. Sediaan yang telah
kering, dilakukan pengecatan menurut cara Ziehl-Neelsen. Mula-mula digenangi
dengan Ziehl-Neelsen A (carbon-fuchsin) dan dipanaskan tidak sampai mendidih
tetapi tampak ada asap, selama 5 – 7 menit. Dicuci dengan air dan dilakukan
dekolorisasi dengan Ziehl-Neelsen B (larutan 3% HCI pekat dalam alkohol 95%)
sampai wama hilang. Setelah dicuci, dicat dengan wama kontras Ziehl-Neelsen C
(biro methylen 0,2%). Setelah dicuci dan kering diperiksa di bawah mikroskop
perbesaran 100 kali. Basil tahan asam (BTA) tampak bentuk batang berwama merah
di atas dasar biru. jika di bawah mikroskop tampak adanya basil tahan asam, maka
diperkirakan sedikitnya ada 10.000 basil tahan asam dalam tiap 1 ml sputum.
2.Pembiakan
Perbenihan yang dipakai untuk biakan adalah Lowenstein-Jensen dan Ogawa
yang mengandung telur. Medium padat lainnya adalah medium Middlebrook 7H10
dan 7H11 baik selektif maupun non selektif.
3.Uji Biokimiawi
Uji biokimia ini dibagi menjadi 3 uji yakni uji tes merah netral, uji niacin tes,
dan katalase tes. Berikut adalah langkah kerja masing-masing uji biokimia.
4. Uji Ketahanan (Resistensi Test)
Obat-obatan yang dipakai resistensi adalah Streptomyci, INH, dan PAS.
Caranya, dengan mencampur obat-obat tersebut dalam medium Lowenstein-Jensen,
kemudian ditanami bakteri tuberculosis. Hasil resistensi menunjukkan adanya
pertumbuhan Mycobacterium tuberculosis, sedangkan hasil sensitif tidak
menunjukkan adanya pertumbuhan Mycobacterium tuberculosis.

10
BAB III
SIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan pembahasan pada Bab III, maka penulis dapat memberi simpulan
sebagai berikut :

3.1 Simpulan
1. Tuberkulosis (TBC) adalah suatu penyakit infeksi menular yang
disebabkan oleh bakteri Mycobaterium tuberculosis, yang dapat
menyerang berbagai organ terutama paru-paru.
2. Mycobacterium tuberculosis pada umumnta tidak dapat diklasifikasikan
menjadi Gram-positif atau Gram-negatif. Basil tuberkulosis ditandai
dengan “tahan asam”. Sifat tahan asam ini tergantung pada integritas
selubung yang terbuat dari lilin.
3. Mycobacterium leprae bukanlah bakteri penyebab infeksi saluran
pernafasan kronis, namun Mycobacterium leprae dapat menyababkan
penyakit kronis lainnya yaitu penyakit leprae.

3.2 Saran
Alangkah baiknya kitamencegah penularan infeksi saluran pernapasan
dengan cara mempraktekkan kebersihan diri yang baik dengan mencuci
tangan menggunakan sabun secara rutin.

11
DAFTAR PUSTAKA

Jurnal :

1. Rosdiana. 2016. Makalah Bakteriologi Mycobacterium tuberculosis. Jakarta:


Universitas Nasional Jakarta.
2. Mohamad, Ramalia P. 2016. Hasil diagnostik Mycobacterium tuberculosis
pada penderita batuk ≥2 minggu dengan pewarnaan Ziehl-Neelsen di
Puskesmas Ranomuut dan Puskesmas Kombos Manado.Manado: Kandidat
Skripsi Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado.

Internet :

1. http://andre4088.blogspot.com/2012/02/mycobacterium-leprae.htmldiakses
pada Kamis, 3 April 2018.
2. https://khanzima.wordpress.com/2011/09/13/mycobacteria/diakses pada Rabu,
2 April 2018.

12