Anda di halaman 1dari 17

SPESIFIKASI TEKNIS

A. SPESIFIKASI TEKNIS UMUM

A. UMUM
1.1 Lokasi dan Uraian Pekerjaan
Lokasi dan uraian singkat serta macam pekerjaan seperti tercantum dalam Syarat Khusus dan
Syarat Teknis ini.

1.2 Gambar – Gambar Pelelangan


Gambar – gambar rencana seperti tercantum dalam Dokumen Pengadaan.

1.3 Umum
Semua bahan dan mutu pekerjaan harus sesuai dengan ketentuan- ketentuan dari Standar
Nasional seperti SNI, SKNI dan sebagainya. Apabila dalam Standar Nasional tidak ada, maka
dipakai Standar Internasional seperti ISO, ASTM atau padanannya yang disetujui Direksi.
Kontraktor harus melindungi pengguna barang/jasa dari tuntutan atas paten, lisensi serta hak
cipta yang melekat pada barang, bahan dan jasa yang digunakan atau disediakan Kontraktor
untuk pelaksanaan pekerjaan.
Kecuali ditentukan lain dalam kontrak, semua barang yang akan digunakan dalam pekerjaan
adalah baru, belum digunakan, dari type / model yang terakhir diproduksi / dikeluarkan, dan
termasuk semua penyempurnaan yang berlaku terhadap desain dan bahan yang digunakan.
Direksi akan menetapkan semua atau sebagian bahan yang dipesan atau diatur untuk
digunakan dalam pekerjaan, cocok untuk maksud tersebut dan keputusan Direksi dalam hal
ini pasti dan menentukan.
Jika terjadi perselisihan paham dalam hal pemeriksaan bahan – bahan, Direksi berhak meminta
kepada kontraktor untuk memeriksa bahan, contoh bahan yang dimaksud ke
Laboratorium Bahan–bahan dan biaya pemeriksaan tersebut dibebankan kepada Kontraktor.
Direksi akan menetapkan apakah bahan-bahan dapat digunakan dalam pekerjaan cocok / baik
atau tidak untuk keperluan tersebut dan keputusan Direksi mutlak.

14 Dasar Pengukuran
Ketinggian- ketinggian yang ditunjuk dalam gambar- gambar, didasar pada titik tetap (BM =
Bench Mark) tertentu. Penjelasan tentang titik tetap tersebut dapat diperoleh dengan
mengajukan permintaan secara tertulis kepada Direksi.

1.5 Pengukuran / Pematokan


Dari Ketinggian dasar yang tercantum pada pasal 1.4 kontraktor harus memeriksa /
mengoreksi semua elevasi titik tetap yang lain yang akan dipakai dalam pengukuran pekerjaan
ini dan harus membuat titik lain sedemikian sehingga jarak antara dua titik tetap tidak boleh
lebih dari satu kilometer (1 Km).
Titik tetap tersebut dibangun pada tanah milik proyek dan atas persetujuan Direksi. Semua data
yang disetujui atau tidak tentang lokasi dan elevasi dari semua titik tetap yang akan dipakai
oleh Kontraktor disimpan dalam map / file rangkap dua. Data-data dan lokasi dari titik tetap
di atas harus memenuhi toleransi 10 mm dikalikan dengan akar pangkat dua dari jarak
penyipatan datar dalam kilometer.
• Metode pengukuran yang dipakai atas dasar persetujuan dari Direksi. Buku-buku
pengukuran dan tabel-tabel harus selalu dirawat dengan baik guna pemeriksaan dari
Direksi. Ketepatan dan ketelitian harus tidak melewati batas- batas keseksamaan sebagai
berikut.
• Titik-titik untuk tampang melintang tidak boleh terletak kurang dari 20 mm dari posisi
yang ditentukan baik dari arah tegak maupun mendatar.

• engukuran titik tinggi harus diselesaikan pada titik tetap atau dibawa kembali ke titik
pertama. Kesalahan penutup harus kurang dari 10 mm kali akar pangkat dua dari jarak
pengukuran dalam kilometer.
• Pokok-pokok yang menunjukan titik tinggi akhir dari pekerjaan-pekerjaan tanah harus
dipasang dengan tidak melewati 2.5 mm dari titik tinggi permukaan yang sebenarnya.
• Garis singgung dari lengkung perbedaannya dengan yang benar, harus kurang dari 20
mm. Titik-titik bangunan harus terletak tidak lebih dari 2,5 mm dari kedudukan yang
sebenarnya kecuali pada pemasangan peralatan yang memerlukan ketelitian tinggi.

1.6 Lain Kontrak dan Pekerjaan


Pekerjaan dari kontrak lain yang mungkin dalam pelaksanaannya bersamaan waktunya dengan
pelaksanaan pekerjaan dibawah pekerjaan ini. Kontraktor tidak boleh mencampuri urusan
pekerjaan dari kontraktor lain dan kontraktor tidak dapat mengajukan tuntutan ganti rugi
kepada pemberi tugas sehubungan dengan hal ini.
1.7 Tindakan Pencegahan untuk Keselamatan
Kontraktor harus menyelenggarakan, membangun dan memelihara rintangan- rintangan
pengaman, lampu-lampu peringatan yang sesuai dan cukup, tanda-tanda bahaya dan isyarat-
isyarat serta harus mengambil tindakan pencegahan yang perlu untuk perlindungan pekerjaan
dan keselamatan umum.
Jalan-jalan yang tertutup bagi lalu lintas harus dilindungi rintangan – rintangan yang cukup.
Rintangan – rintangan tersebut harus diberi penerangan/lampu dimalam hari dan semua
lampu harus dinyalakan dari/mulai matahari terbenam hingga matahari terbit dan pada waktu
yang diperlukan.
1.8 Pemberitahuan Pelaksanaan
Kontraktor harus memberitahukan kepada Direksi sekurang-kurangnya 14 (empat belas) hari
sebelum pekerjaan dimulai.
Tidak di izinkan suatu pekerjaan dimulai sebelum Kontraktor menerima instruksi dari
Direksi atau persetujuan Direksi atas semua ketinggian dan ukuran dari dasar saluran / situ
dan bangunan – bangunan untuk ketetapan pengukuran dari pekerjaan.
Kontraktor harus memberitahukan secara tertulis dengan lengkap semua pelaksanaan yang
dianggap penting supaya Direksi dapat melakukan inspeksi dengan RFA ( Request Letter for
Approval ) atau kepentingan lain.
Kontraktor tidak diizinkan memulai pekerjaan tanpa persetujuan Direksi.

1.9 Pengukuran
Pengukuran saluran/situ yang dilakukan oleh Konsultan selama periode desain dari pekerjaan
ini akan disediakan untuk keperluan Kontraktor dan dapat dipakai sebagai dasar untuk
perhitungan dan penetapan volume pekerjaan untuk pembayaran. Apabila menurut pendapat
Direksi keadaan lapangan telah banyak berubah sejak pengukuran oleh Konsultan, maka
Direksi dapat memerintahkan kepada Kontraktor untuk mengukur ulang sebagian atau seluruh
saluran yang ada.
Apabila Kontraktor diminta untuk melakukan pengukuran dari saluran/situ maka harus
diambil data-data ketinggian sepanjang saluran / situ atau setiap bangunan. Potongan
melintang maksimum diambil setiap 25 meter untuk saluran/situ kecuali dibuat persetujuan
lain. Seluruh hasil pengukuran harus disetujui Direksi secara tertulis sebelum dipakai
keperluan perhitungan dan pembayaran.
1.10 Jalan yang ada Pipa Pertamina, Tiang Listrik dan Telepon
Pada beberapa tempat mungkin berhubungan dengan jalan yang ada, Pipa Pertamina, Tiang
Listrik dan Telepon ataupun pipa sanitair lainnya, Kontraktor harus mendapatkan persetujuan
secara tertulis dari yang berwenang, untuk setiap usulan pekerjaan sementara atau pekerjaan
tetap yang berhubungan dengan masalah di atas.
Pekerjaan di atas mungkin tidak terlihat dalam gambar-gambar, tetapi Kontraktor harus
bertanggung jawab untuk keamanan dan kelangsungan fungsi dari jalan, tiang listrik/telepone,
pipa pertamina ataupun pipa sanitair di atas.

1.11 Kisdam dan Pengeringan


Yang dimaksud pekerjaan Kisdam dan Pengeringan ialah segala usaha membebaskan suatu
tempat dan bangunan air yang mungkin dapat mengganggu pelaksanaan pekerjaan atau
Berbagai jenis pekerjaan yang dikelompokkan dalam pekerjaan dewatering meliputi
pembuatan dan pemasangan kistdam dan pemompaan air pada daerah kerja.
Dalam hal pekerjaan pengeringan, Kontraktor harus mengusahakan atau menyediakan
sejumlah pompa air dengan type dan kapasitas yang sesuai serta beberapa peralatan lainnya
sehingga mampu mengeringkan untuk keberhasilan suatu pekerjaan. Untuk keperluan
mengalirkan air, maka bilamana diperlukan Kontraktor harus membuat bangunan-bangunan
pembantu / sementara seperti Kisdam / pengelak, saluran-saluran pengelak lainnya.

|
Kemudian membongkar lagi / mengembalikan setelah pekerjaan selesai sehingga tidak
mengganggu fungsi dari bangunan-bangunan permanen. Kisdam harus dibangun sedemikian
rupa sehingga di daerah rencana bangunan mudah dibebaskan dari air genangan dengan
mempergunakan pompa air. Kontraktor harus menyediakan dan mengoperasikan pompa air
untuk menghindari / mengurangi genangan pada lokasi galian akibat rembesan yang terjadi.
Pemompaan harus dapat menjamin proses pembetonan / pengecoran dan pemasangan
pasangan batu dengan baik dan tidak mengganggu proses pemasangan dan pengerasannya.

II. PEKERJAAN TANAH


A. Umum
2.1 Pembersihan Lapangan
Kontraktor harus membersihkan lapangan kerja untuk saluran dan bangunan yang ada dan
semua tumbuh-tumbuhan, bambu, semak termasuk pohon-pohon sampai dengan ukuran
keliling 0,75 m bila diukur 2,0 m di atas muka tanah dan semua rintanganrintangan
permukaan kecuali gedung-gedung dan bangunan- bangunan. Jika diperintahkan secara
tertulis oleh Direksi, Kontraktor harus membersihkan lapangan dari pohon-pohon dengan
ukuran keliling lebih dari 0,75 m, gedung – gedung dan bangunan – bangunan.
Kontraktor harus membongkar akar-akar, kemudian mengisi lubang-lubangnya dan
dipadatkan serta memindahkan dari tempat pekerjaan semua bahan yang timbul akibat
pembersihan lapangan.
2.2 Pekerjaan Tanah
Semua pekerjaan tanah dari beberapa bagian pekerjaan harus dilaksanakan menurut ukuran
dan ketinggian yang ditunjukan dalam gambar-gambar, atau menurut ukuran ketinggian lain,
sebagaimana mungkin akan diperintahkan Direksi. Ukuran yang berdasarkan atau
berhubungan dengan ketinggian tanah atau jarak terusan harus ditunjukan kepada Direksi
lebih dahulu, sebelum memulai pekerjaan tanah pada setiap tempat.
Yang dimaksud dengan “ketinggian tanah” dalam perincian adalah “permukaan tanah”
sesudah pembersihan lapangan dan sebelum pekerjaan dimulai.
2.3 Jalan Masuk
Kontraktor harus membangun dan memelihara jalan masuk termasuk jalan dan jembatan-
jembatan untuk keperluan pengukuran dan penyelidikan serta untuk pemindahan bahan dan
peralatan dalam masa pembangunan pemeliharaan dan pengawasan pekerjaan. Untuk tujuan
pengukuran dan penyelidikan jalan harus mempunyai ukuran dan keadaan sedemikian rupa,
sehingga dapat dilalui dengan mudah oleh kendaraan roda empat. Untuk pembangunan dan
pemeliharaan, jalanjalan itu harus sedemikian rupa sehingga bisa dilalui secara tetap oleh
kendaraan proyek dan kendaraan Kontraktor.
Tergantung pada persetujuan Direksi, jalan akan ditempatkan pada jalan-jalan yang sudah ada
dimulai dari jalan raya, atau trase baru sementara dan dalam batas daerah pekerjaan permanen,
sehingga dengan demikian dipersiapkan jalan yang berrsambung ke dan sepanjang tiap bagian
pekerjaan yang memerlukan pengukuran, penyelidikan, pembangunan atau pemeliharaan.
Apabila diperintahkan jalan yang sudah ada harus dibangun lagi dibersihkan dan diperkuat
sebagaimana mestinya. Dimana jalan merupakan jalan batu, maka pembetulan dan perbaikan
harus menjadi jalan macadam dengan lapisan batu paling sedikit 20 cm diatas lapisan pasir
dengan ketebalan 10 cm dan tebalnya paling sedikit 4 cm.
Jalan masuk lainnya harus merupakan bangunan tanah yang dibentuk dan dipadatkan dengan
baik, dengan menggunakan kerikil atau pasir dengan bahan yang ada ditempat jika
dikehendaki untuk meperoleh daya dukung yang diperlukan.
2.4 Luasnya Penggalian
Luasnya penggalian harus sekecil mungkin menurut pendapat Direksi untuk pekerjaan
bangunan, penggalian dimulai pada muka tanah dengan mengambil lebar yang cukup
menurut yang ditunjukan pada gambar atau ditentukan lain oleh Direksi dan terus ke bawah
sesuai dengan garis akhir.
2.5 Tanah Pinjaman
Dimana disebutkan atau diperintahkan oleh Direksi bahan timbunan yang diperlukan untuk
pekerjaan harus diambil dari daerah pinjaman yang disetujui, setelah diuji untuk mengetahui
kecocokan bahan sebelum penggalian pada tanah tersebut.Permukaannya harus dikupas dan
tanaman-tanaman termasuk akar-akaran. Apabila diperintah Direksi, harus dikupas sampai
kedalaman 0.25 m dan hasil kupasan untuk sementara ditimbun dan ditempatkan disekitarnya.
Setelah selesai penggalian Kontraktor harus meninggalkan daerah tersebut dalam keadaaan
rapih sampai mendapat persetujuan Direksi termasuk semua pekerjaan tanah yang diperlukan
untuk mencegah penggenangan air didaerah tersebut.
Apabila tanah pinjaman di daerah sekitar situ, pada sawah atau tanah tegalan yang dipakai
untuk timbunan tidak boleh melebihi kedalam 0,5 m kecuali ditentukan lain dan setelah semua
penggalian selesai didaerah tersebut bisa dipakai kembali untuk pertanian, termasuk hal-hal
yang menyangkut pengairan dan drainase pada daerah tersebut. Batas tanah pinjaman
|
minimum harus 20 m diluar batas pekerjaan tetap. Kontraktor harus menggali, memuat,
mengangkut, membuang, membentuk dan memadatkan bahan-bahan timbunan tersebut
seperti yang diharuskan pada Pasal 2.07 atau 2.12 sampai dengan ukuran-ukuran yang
tercantum dalam gambar.
2.6 Percobaan Pendahuluan untuk Bahan Timbunan
Jika diperintahkan oleh Direksi bahan-bahan yang diusulkan untuk keperluan timbunan harus
diuji ditempat menurut ketentuan yang berlaku guna mendapatkan karakteristik dan sifat-
sifatnya.
2.7 Pemadatan Khusus dan Timbunan
Kandungan air dari tanah harus dijaga sedemikian dengan cara pengeringan alam atau
pembasahan, pemadatan harus memakai stamper atau peralatan lain yang disetujui Direksi,
sehingga menghasilkan kepadatan tidak kurang 75% dari pemadatan atau kering Proctor.
2.8 Pengalihan Tanah Jelek
Jika sesuatu bahan yang jelek terdapat ditempat pondasi, Kontraktor harus memindahkan dan
membuangnya ketempat yang disetujui oleh Direksi. Jika tidak ditentukan lain atau perintah
Direksi, Kontraktor harus mengisi lubang dalam pondasi tersebut dengan pasangan batu atau
bangunan, dengan bahan timbunan tanggul untuk tanggul,atau dengan bahan berbutir yang
dibenarkan untuk jalan, saluran, pipa, pasangan tegak dan lapisan lindung tebing. Jika
kontraktor menjumpai sesuatu bahan yang menurut pendapatnya mungkin tidak baik dia harus
segera memberitahu secara tertulis kepada Direksi, yang akan memberi petunjuk kepada
Kontraktor apakah bahan tersebut akan ditentukan sebagai bahan jelek atau baik.
Biaya yang berhubungan dengan bahan-bahan yang jelek itu harus dipikul oleh kontraktor jika
menurut pendapat Direksi ketidakbaikan itu disebabkan oleh kegagalan Kontraktor untuk
menepati spesifikasi termasuk menjaga agar galian bebas dari air. Persetujuan Direksi untuk
hal-hal diatas tidak dapat dipakai untuk menghilangkan tanggung jawab Kontraktor apabila
terdapat kegagalan didalam melaksanakan bangunan pada tanah jelek.

2.9 Penyiapan Tanah


Sebelum penggalian di dalam saluran atau saluran pembuang yang dipakai untuk bahan
timbunan dan sebelum mengerjakan timbunan permukaan dari tanah tersebut diatas harus
dipersiapkan.
Permukaan tanah tersebut diatas harus dibersihkan dari segala tumbuh-tumbuhan termasuk
akar-akarnya.
Sebelum mulai menimbun permukaan tanahnya harus digaruk/stripping sampai kedalam yang
lebih besar dari retak-retak tanah yang ada dan paling tidak sampai kedalaman 0,15 m.
Bila oleh karena sesuatu sebab pelaksanaan pemadatan terhenti permukaan dari timbunan
harus digaruk kembali sehingga memungkinkan pelaksanaan pemadatan dilanjutkan.
Sebelum pekerjaan penimbunan dilakukan, semua lubang-lubang dan bekas-bekas yang terjadi
pada permukaan tanah, harus diratakan termasuk galangan sawah sampai memuaskan Direksi.
2.10 Tambahan untuk Penurunan Tanah
Kontraktor harus memperhitungkan tambahan pengisian untuk pemadatan sendiri dan
penurunan dari tanggul, baik disebutkan atau tidak, maka tinggi, lebar dan ukuran permukaan
yang telah selesai pada akhir masa pemeliharaan sesuai dengan gambargambar teknisnya.

B. Saluran Gendong (Said Drain)


2.1 Penggalian dan Pembuangan
Tanah galian dari saluran gendong (said drain) atau saluran pembuangan harus ditempatkan
disepanjang timbunan tanggul atau jika terdapat kelebihan galian, dan jika tidak disebutkan
lain harus diletakan di tanggul lain yang memerlukan tambahan timbunan.
Kelebihan galian yang tidak dibutuhkan untuk pekerjaan tanah, baik setempat atau tempat
keseimbangan galian/timbunan disepanjang saluran, harus diletakkan pada tempat tanggul
buangan terpisah, diluar pekerjaan tanah yang selesai. Timbunan tanggul buangan ini harus
dibentuk menurut yang ditunjuk dalam gambar atau menurut perintah Direksi dan harus
dibentuk sedemikian rupa sehingga rapi dan stabil.
Kontraktor harus menyiapkan rencana pekerjaan tanah untuk setiap bagian dari pekerjaan
pada suatu saat, detail lokasi dan program penggalian dari saluran dan membuang tanahnya
sebagai timbunan.
Kontraktor harus mengajukan usul guna pelaksanaan pekerjaan selambat-lambatnya 14 hari
sebelum tanggal yang dimaksudnya untuk dimulai pekerjaan tanah dari tiaptiap bagian
pekerjaan sebagai pemberitahuan kepada Direksi.
Rencana itu harus berisi keterangan- keterangan tentang penilaian Kontraktor terhadap tanah
kelebihan yang harus ditempatkan ditempat pembuangan terpisah.

|
2.2 Timbunan Tanah untuk Tanggul
Timbunan tanah untuk tanggul keliling situ, saluran-saluran gendong, jalan-jalan dan lain-
lannya, apabila tidak dinyatakan lain harus dibentuk dari tanah hasil galian situ/saluran
gendong, bila memungkinkan. Bila bahan-bahan untuk tanggul-tanggul itu tidak
memungkinkan atau kurang bila diambil dari hasil galian-galian situ/saluran kekurangan
bahan-bahan diatas harus dari tanah pinjaman seperti yang disyaratkan pada pasal-pasal 2.05.

Tanggul keliling situ/saluran dengan ketinggian di atas tanah asli disesuaikan dengan
kebutuhan setempat dan fungsi dari bangunan tersebut, dan diusahakan sekecil mungkin ada
tanda-tanda rembesan apabila situ sudah berisi air dengan debit maximum. Tanggul – tanggul
yang dipakai sebagai joging track/pejalan yang dilengkapi dengan pasangan paving block atau
jalan masuk dibentuk seperti yang telah diuraikan di atas atau dibuat dengan cara lain yang
disetujui Direksi. Bahan timbunan dihampar horizontal dengan ketebalan merata sesuai
dengan peruntukan dan fungsi bangunan atau ditentukan lain oleh Direksi. Apabila tidak
ditentukan lain didalam gambar atau atas perintah Direksi, maka semua tanggul harus
mempunyai kemiringan (slope) 1 : 1 ( 1 vertikal : 1 horisontal ) kearah luar.

2.3 Keseksamaan Dalam Pekerjaan Tanah


Keseksamaan mengenai tinggi dan ukuran dapat diizinkan sebagai diterangkan dibawah ini,
apabila rata-rata luas basah keliling situ/saluran gendong sama dengan ditunukan pada
gambar atau seperti diperintahkan oleh Direksi.
Garis sumbu dari saluran-saluran, tanggul-tanggul dan jalan-jalan harus diletakan dengan
teliti dan tidak boleh di pengaruhi oleh keseksamaan tersebut diatas. Semua permukaan harus
diselesaikan dengan rapi dan halus.
2.4 Peralihan
Kecuali ditentukan lain, pada setiap perubahan tampang lintang, peralihan harus dibuat pada
dasar dan talud situ/saluran sedemikian rupa, sehingga perubahan kearah tegak atau mendatar
tidak lebih dari 1 : 10.
2.5 Celah-Celah di Tanggul
Dimana diperlukan pada tempat bangunan atau atau pada tempat yang diperintahkan
Kontraktor harus meninggalkan atau memberi tempat lokasi bangunan pada tanggul,
kemudian membangun kembali seperti semula setelah selesai bangunan dan membuat
landasan untuk jalan masuk sementara atau tetap seperti yang diperlukan.
2.6 Longsoran-Longsoran di Talud
Kontraktor harus mencoba dengan sangat hati-hati dan mengambil tindakan pencegahan yang
diperlukan untuk mencegah terjadinya longsoran dari talud galian dan tanggul. Dalam hal
terjadi longsoran, Kontraktor harus memperbaiki semua pekerjaan dan kerusakan yang
bersangkutan dan melaksanakan setiap perubahan yang diperlukan pada bagian pekerjaan
sampai mendapat persetujuan Direksi.
2.7 Kelebihan Penggalian
Jika situ/saluran digali atau tanggul dibentuk diluar ukuran yang disebutkan, Kontraktor harus
membangunnya kembali seperti ditentukan atau lain menurut petunjuk Direksi.

C. Bangunan – Bangunan
2.1 Pengeringan Penggalian
Kontraktor harus menjaga agar galian bebas dari air selama masa pembangunan. Cara menjaga
galian bebas dari air pengeringan dan pembangunan air harus dengan cara yang disetujui
Direksi. Kontraktor harus menjamin adanya peralatan yang baik dan cukup dilapangan setiap
waktu guna menghindari terputusnya pengeringan air sewaktu-waktu.
2.2 Cara Penggalian
Kontraktor harus menyampaikan usulnya mengenai cara-cara penggalian, termasuk
penjelasan Direksi secara tertulis selambat-lambatnya 14 hari sebelum tanggal yang
dimaskudkan untuk memulai penggalian, sehingga menjamin keamanan penggaliannya.
2.3 Penggalian pada Bangunan
Penggalian harus dilaksanakan sedemikian rupa untuk memungkinkan pengeringan yang
cukup, cukup kuat tebing dan cukup ruangan untuk pembuatan acuan, pengecoran beton,
memasang pasangan batu dan pekerjaan timbunan, termasuk pemadatan dan lain-lain
kegiatan pembangunan apapun.
2.4 Penggalian untuk Pipa-Pipa
Pembuatan galian harus akhirnya dirapikan dengan tangan, atau dengan cara lain yang
mungkin akan dibenarkan atau diperintahkan Direksi segera sebelum pipa diletakkan.

|
2.5 Kelebihan Penggalian
Penggalian yang melebihi batas yang ditentukan pada gambar atau yang diperintahkan
menurut pasal 2.20 harus diisi kembali oleh Kontraktor dengan pasangan batu atau beton dari
kelas yang sama dengan pasangan batu atau beton atau mengisinya dengan tanah yang
dipadatkan sebagaimana yang dikehendaki Direksi.
2.6 Perapihan Permukaan Galian dengan Tangan
Dimana dasar suatu galian menerima beton, pasangan batu atau isian yang dipadatkan 0,15 m
yang terakhir dan galian harus rapih dirapihkan dengan tangan, atau dengan cara lain yang
mungkin dibenarkan atau diperintahkan oleh Direksi. Hal ini dilakukan setelah pemindahan
tanah/lumpur pada waktu akan mendapatkan beton pasangan batu kali atau isian.
2.7 Pemilihan dan Pemadatan Tanah Isian
Dimana pengisian kembali dibawah muka tanah dan dekat dengan bangunan diperlukan
bahan-bahan yang akan dipakai harus disetujui oleh Direksi.

D. Gebalan Rumput
2.1 Umum
Dalam hal tertentu dimana diharuskan atau ditunjukan dalam gambar diperlukan adanya
gebalan rumput (badan tanggul, lereng dan saluran dan parit gendong) harus dilaksanakan
oleh Kontraktor dengan prosedur sebagai berikut:
Sebelum gebalan rumput dipasang, permukaan harus diratakan dan diperbaiki bila perlu
setelah gebalan rumput dipasang harus disiram dengan air secukupnya sampai gebalan itu
tumbuh dngan baik, gebalan rumput yang tidak tumbuh harus dibuang dan diganti dengan
yang baru dan dirawat sampai gebalan rumput tumbuh, dan akhir dari pekerjaan ini harus
mendapat persetujuan Direksi.
2.2 Daerah Gebalan
Daerah yang digebal adalah sebagai berikut :
a. Selebar 1.00 m pada kedua badan tanggul bagian atas.
b. Lereng dalam /bantaran situ bagian permukaan atas 0.2 m
2.3 Pegangan untuk Gebalan
Cerucuk-cerucuk bambu atau kayu harus dipakai untuk memasang gebalan rumput. Ukuran
dari cerucuk-cerucuk tadi paling tidak panjangnya 30 cm untuk yang dari bambu atau kayu
dengan diameter 2 – 3 centimeter.

E. Pengujian Mutu
Apabila dilakukan pengujian mutu bahan dan pengujian mutu selama pelaksanaan atau hasil
pelaksanaan maka biaya pengujian tersebut dibayarkan secara terpisah (tersendiri).

III. BETON
A. Bahan – Bahan

3.1 Semen
Semen yang dipergunakan dalam pekerjaan harus Portland Cement yang sesuai dengan
persyaratan dalam Standar Indonesia N.18 untuk pekerjaan ini tidak dianjurkan
pemakaian semen dari jenis yang mengandung aditif (bahan tambahan) untuk
pengeringan cepat.
3.2 Bahan Batuan
(i) Pasir harus diambil dari sungai atau tambang pasir. Penambahan bahan lain seperti
pasir dan batu pecah akan diizinkan, apabila menurut pendapat Direksi pasir yang
ada tidak memenuhi gradasinya. Kandungan maksimum terhadap lempung, lanau
dan debu tidak boleh lebih dari 5% (perbandingan berat)
(ii) Bahan batuan (kerikil) harus bergradasi baik dengan diameter maksimum
tergantung kelas betonnya. Kerikil harus dari batu pecahan.
• Agregate harus dari sumber yang telah disetujui. Ini harus terdiri dari agregate
atau batu pecah an atau bahan pengisi lain atau kombinasi dari semua seperti
yang telah dirincikan.
• Agregate kasar harus bersih dan bebas dari butiran- butiran halus, mudah
pecah, tipis atau panjang, bersih dari alkali, bahan organis, atau substansi yang
rusak dalam jumlah yang merugikan.

|
• Besarnya prosentase dari semua substansi yang merusak dalam jumlah
berapapun tidak boleh mencapai 3% (tiga persen) dari beratnya.
• Agregate kasar harus berbentuk baik, keras, awet dan tidak berpori-pori.
Agregate kasar harus bergradasi baik dengan ukuran butir berada antara 5 mm
sampai 70 mm atau sampai ukuran dalam batas sebagaimana diperinci untuk
pekerjaan- pekerjaan khusus.
Pasir dan kerikil halus, harus bersih dan bebas dari gumpalan tanah liat, gumpalan
kecil dan lunak dari tanah karang, alkali, bahan-bahan organik tanah liat dan hal-
hal yang merugikan dari substansi yang rusak. Apabila kelas dari beton
menghendaki perlawanan abrasi yang baik, maka bahan batuan harus diambil dari
lokasi yang menurut pendapat Direksi adalah terbaik.
Kontraktor harus mengirim contoh material apabila dibutuhkan oleh Direksi.
Kontraktor harus membuat percobaan dari contoh material secara rutin dan dengan
frekwensi yang disetujui Direksi serta mengirimkan kepada Direksi setiap copy
laporan test. Apabila hasil test abrasi dibutuhkan oleh Direksi maka Kontraktor
harus melakukan test untuk membandingkan dengan datadata dari beberapa lokasi.
Bahan batuan untuk beton tahan abrasi mempunyai berat jenis 2,6 dan nilai tahan
aus kurang dari 15%.
3.3 Air
Air yang dipakai untuk membuat dan merawat beton dan membuat adukan harus dari
sumber yang disetujui oleh Direksi dan pada waktu pemakaian harus terhindar dari
bahan-bahan yang bisa mengotorkan air dalam jumlah berapapun yang :
(i) Mempengaruhi waktu permulaan pengerasan dari semen yang melebihi dari 30
menit, atau mengurangi kekuatan dari percobaan kubus dari 20%.
(ii) Mencegah tercapainya kekuatan dari percobaan kubus yang ditentukan dalam 28
hari untuk beton kelas tertentu.
(iii) Menghasilkan perubahan warna atau “gambang garam” diatas permukaan semen
yang sedang mengeras.
(iv) Memperburuk atau memulai reaksi alkali bahan batuan.
Air harus bebas dari minyak, alkali, garam-garam, bahan-bahan organis atau bahan yang
dapat merusak beton dan / atau baja tulangan. Larutan bubuk dari bahan organik tidak
boleh lebih dari 500 ppm. Kontraktor harus mengadakan percobaan terhadap air yang
akan dipakai dan harus menyerahkan catatan- catatan mengenai percobaan tersebut pada
Direksi sebelum melaksanakan pekerjaan beton permanen. Kontraktor harus membuat
percobaan- percobaan yang teratur dari air beton atau adukan dalam suatu pola dan
ulangan yang disetujui oleh Direksi dan harus memberikan kepada Direksi salinan dari
hasil tiap percobaan.
3.4 Zat Tambahan.
Beton dan adukan harus dibuat dari semen, pasir, kerikil dan air sebagaimana ditentukan.
Tidak boleh ada campuran campuran bahan- bahan lain pada beton atau adukan tanpa
persetujuan Direksi. Kontraktor boleh memakai zat pelambat untuk mempermudah
pembuatan sambungan-sambungan cor, bagaimana susunannya zat pelambat dan cara
pemakaiannya harus mendapat persetujuan
Direksi.
3.5 Tulangan
Kontraktor harus menyediakan tulangan baja sesuai dengan kebutuhan (gambar teknis )
dan bila ada hal-hal yang diduga perlu adanya pertimbangan supaya konsultasi dengan
Direksi.
3.6 Penyimpanan Bahan-Bahan Bangunan
Semua bahan yang dikirim ketempat pekerjaan harus disimpan ditempat-tempat tertentu
(gudang) dan memerlukan perlakuan khusus. Penyimpanan ditempat terbuka dapat di
izinkan pada pekerjaan kecil dengan persetujuan tertulis dari Direksi, dalam mana selalu
ditempatkan diatas yang dilindungi dengan penutup tahan air menurut persetujuan
Direksi. Kiriman semen harus disimpan terpisah sedemikian rupa sehingga ada jalan
masuk dengan mudah untuk pemeriksanaan.
Tiap-tiap jenis bahan batuan pasir dan kerikil maupun batu merah, kapur dan batubatu
harus disimpan dalam tempat yang terpisah atau dihalaman yang tanahnya ditutup
dengan lembaran logam atau tutup lainnya yang harus keras dan bersih, yang harus bisa
kering sendiri dan dilindungi dari percampuran dengan tanah atau benda-benda lainnya
yang merusak. Tulangan baja harus disimpan jauh dari tanah dan diganjal untuk
mencegah perubahan bentuk.

|
B. Acuan dan Pekerjaan Penyelesaian

3.1 Acuan (Bekisting)


Acuan harus dibuat agar kaku selama masa pengecoran sampai proses pengerasan dari
beton berakhir guna memperoleh bentuk permukaan yang diperlukan. Kontraktor harus
menyerahkan rencana dan penjelasan tentang acuan dan harus membuat contoh-contoh
acuan untuk mendapat pengesahan Direksi
(bila diperlukan).
Acuan harus dipasang dengan sempurna, sesuai dengan bentuk-bentuk dan ukuran yang
benar dari pekerjaan beton yang ditunjukan dalam gambar. Cara memberi perkuatan yang
akan mengahasilkan lubang-lubang atau tali-tali kawat yang membentang pada seluruh
lebar dari permukaan kepermukaan beton, tidak dibenarkan acuan penutup harus dibuat
pada permukaan beton, yang kemiringannya lebih landai dari satu (v) 3 (h), acuan
permukaan beton harus sedemikian rupa untuk mencegah hilangnya bahan-bahan dari
beton dan bisa menghasilkan permukaan beton yang padat.
Jika dibutuhkan Direksi acuan dibuat sedemikian rupa, sehingga menghasilkan
permukaan yang halus tanpa adanya garis atau kelihatnya terputus. Tiap kali sebelum
pembetonan dimulai, acuan harus diperiksa dengan teliti dan dibersihkan. Pembetonan
hanya dimulai apabila Direksi sudah memeriksa dan memberi persetujuan terhadap acuan
yang telah dibangun.
Acuan hanya boleh dibuka dengan izin Direksi dan pekerjaan pembukaan setelah
mendapat izin harus dilaksanakan dibawah pengawasan seorang mandor yang
berpengalaman untuk menghindari kegoncangan atau pembalikan tegangan dalam beton.
Dalam hal mana Direksi berpendapat bahwa usul Kontraktor untuk membuka acuan
belum pada waktunya baik berdasarkan perhitungan atau dengan alasan lainnya, maka ia
boleh memerintahkan Kontraktor untuk menunda pembukaan acuan dan Kontraktor tidak
boleh menuntut kerugian atas penundaan tersebut.
Untuk beton dengan semen portland biasanya waktu paling sedikit untuk pembukaan
acuan harus menurut dibawah ini :
• Muka sisi blok, lantai dan dinding = 1 hari
• Bagian bawah = 21 hari
3.2 Pekerjaan Permukaan
Permukaan beton untuk jalan kendaran atau jembatan-jembatan harus mempunyai
penyelesaian akhir sebagaimana keadaannya setelah diratakan. Permukaan dari beton
kedap air yang membuka harus diratakan dengan alat lepa baja sampai halus. Permukaan
yang kelihatan lainnya harus diratakan dengan alat perata kayu sampai halus.
Peralatan harus dilaksanakan sesudah beton mengeras secukupnya sehingga tidak
berakibat mengalirnya air membawa bahan halus ke permukaan. Permukaan yang
kelihatan waktu acuan dibuka, tidak boleh diperbaiki tanpa izin tertulis dari Direksi.
Kecuali jika ditunjukan lain dalam gambar-gambar, sudut-sudut tajam harus dibuat
tumpul dengan ukuran 20 mm x 20 mm.

C. Kelas Beton dan Mutu Pekerjaan

3.1 Kelas Mutu Beton


Kelas dan mutu beton yang dipergunakan dalam pekerjaan seperti tercantum di dalam
tabel dibawah ini :
Bm
Bk Dengan s = 46
Kelas Mutu
(Kg/Cm2) (Kg/Cm2)
I Bo - -

|
II B1 - -
K125 125 200
K125 175 250
K125 225 300

3.2 Perbandingan Campuran


Kontraktor harus menentukan perbandingan bahan-bahan untuk beton sesuai dengan
kelasnya sampai mendapat persetujuan dari Direksi (try mix).
Kontraktor tidak boleh merubah perbandingan campuran beton dan sumber dari bahan-
bahan tanpa mendapat persetujuan terlebih dahulu dari Direksi.
Bila dipandang perlu oleh Direksi perbandingan campuran beton akan ditentukan /
diperbaiki selama masa pekerjaan berlangsung. Izin Direksi tidak akan diberikan terhadap
perbandingan bahan-bahan yang diusulkan Kontraktor sampai Kontraktor membuat dan
menguji campuran percobaan seperti disyaratkan untuk setiap kelas beton dan telah
menyerahkan semua data dari hasil pekerjaan (faktor air semen, faktor kepadatan dan
slump) kekuatan dan berat jenis kepada Direksi. Kontraktor tidak boleh memulai pekerjaan
beton permanen sampai izin Direksi untuk campuran bahan-bahan yang diusulkan
disetujui.
Berat jenis dari kubus uji beton selama pekerjaan berlangsung tidak boleh kurang dari 5 %
dari rata-rata kubus beton percobaan.
Perbandingan kekuatan beton pada berbagai-bagai umur.
Umur Beton (hari) 3 7 14 21 23
PC Biasa 0.40 0.65 0.88 0.95 1
PC Dengan kekuatan 0.55 0.75 0.90 0.95 1
awal yang tinggi

3.3 Campuran Percobaan (Trial Mixes)


Kontraktor harus membuat campuran percobaan untuk setiap kelas beton dengan
memakai alat-alat yang sama yang akan dipakai dalam pekerjaan- pekerjaan. Campuran
percobaan akan diizinkan bila kekuatan dari setiap kubus dari tiga buah kubus percobaan,
yang diambil dari setiap kotak dari 3 percampuran beton pada hari yang sama dengan
memakai perbandingan campuran yang sama, setelah 28 hari mempunyai kekuatan tekan
yang lebih besar daripada tercantum pada tabel 3.10 untuk kekuatan percobaan dari setiap
kelas beton.
3.4 Pengujian Beton
Kontraktor selama masa pelaksanaan harus menyediakan, memelihara dan menggunakan
alat-alat yang diperlukan guna pembuatan benda uji beton berbentuk silinder dan atau
kubus beton dengan menggunakan ukuran 15 Cm x 15 Cm, untuk diuji. Kontraktor
juga harus menyediakan thermometer yang diperlukan untuk mengukur suhu beton,
bahan-bahan beton dan udara. Kontraktor harus mengambil contoh beton dari campuran
beton yang baru dicor dan merawat sebagaimana mestinya dan kemudian mengirimkan
ke laboratorium yang disetujui Direksi. Sebelum mengecor untuk pekerjaan tetap,
Kontraktor harus melaksanakan pengujian “Slump Test” dan harus dilaksanakan
sebagaimana diterangkan dalam PBI 1971 (NI-2). Jika tidak diperintahkan lain, turunnya
harus melebihi dari 50 mm dan tidak lebih dari 100 mm. Pengambilan contoh dan
pengujian dari beton, bahan batuan dan kandungan air harus dilaksanakan sesuai dengan
aturan yang berlaku khususnya terhadap kubus beton, harus dibentuk dalam catatan
dengan panjang tiap sisi tidak kurang dari 150 mm kubus. Paling sedikit 6 kubus diambil
dari masing-masing pengecoran beton untuk diuji 3 kubus sesudah 7 hari dan 3 kubus
sesudah 28 hari. Kontraktor harus membuat catatan untuk tiap pengujian dan
memberikan keterangan secukupnya dalam sistem matrik. Kontraktor harus membuat
dalam bentuk yang disetujui oleh Direksi tidak lebih dari 3 hari sesudah tiap percobaan
selesi dilaksanakan. Kontraktor juga membuat dan menyerahkan catatan tentang suhu
udara dan suhu beton untuk mendapat persetujuan Direksi.
3.5 Mengawasi dan Mencampur Bahan-Bahan
Kontraktor harus mencampur dengan hati-hati bahan-bahan dari tiap kelas beton dengan
perbandingan berdasarkan usulan volume, air harus ditambah pada bahan dan batuan,
pasir dan semen didalam mesin pengaduk mekanis, banyaknya harus menurut jumlah
|
paling kecil yang diperlukan untuk memperoleh pemadatan penuh, dan kemudian bahan-
bahan beton seluruhnya harus benar-benar tercampur. Beton pra campur boleh
digunakan dengan persetujuan Direksi lebih dahulu, asalkan bahwa bahan itu sesuai
dengan ketentuan. Dalam keadaan demikian, air untuk mencampur harus dicampur
dilapangan dan benar-benar diaduk dengan bahan-bahan lainnya pada tempat sedekat
meungkin dengan lokasi pekerjaan. Apabila percampuran kelas Bo diizinkan dilakukan
dengan tangan maka semen dan bahan-batuan dan psir harus dicampur diatas laintai kayu
yang rapat. Bahanbahan harus dibalikkan paling sedikit tiga kali sesudah air dicampurkan
sampai campuran beton, sampai warna dan kekentalan yang sangat (homogen).
Kontraktor harus merencanakan tempat dari alat percampuran dan tempat bahanbahan
untuk memberi ruang kerja yang cukup. Rencana ini harus diserahkan untuk mendapat
persetujuan Direksi, sebelum alat pencampur dan bahan-bahan diletakkan.
3.6 Mengangkut, Menempatkan dan Memadatkan Beton
Beton harus dibawa dengan cara sedemikian rupa sampai ditempat penuangan masih
mempunyai mutu yang diinginkan dan kekentalan yang dibenarkan, dijaga jangan terjadi
penambahan atau pengurangan berupa apapun sejak meninggalkan tempat adukan
sampai lokasi pengecoran. Kontraktor harus mendapat persetujuan Direksi mengenai tata
cara yang diusulkan, sebelum pekerjaan pembetonan dimulai. Beton tidak diizinkan untuk
dijatuhkan atau digelincirkan secara tak terkendalikan dari ketinggian lebih dari 1,5
meter. Dalam satu periode pengecoran, ketinggian beton dalam ruangan tidak boleh lebih
dari 1,5 meter pengecoran harus dilaksanakan terus menerus sampai ketempat sambungan
cor yang disediakan sebelum permulaan pembetonan. Kontraktor harus memperhatikan
pemadatan dari beton sebagai pekerjaan yang penting dengan tujuan untuk menghasilkan
beton rapat air dengan kepadatan terbesar.. Pemadatan harus dibantu dengan mesin
penggetar dari jenis penyelam, tetapi tidak mengakibatkan bergetarnya tulangan dan
acuan. Jumlah jenis alat getar yang disediakan untuk dipakai pada setiap masa
pembetonan, harus dengan persetujuan Direksi.
3.7 Sambungan
Rencana penjelasan dan kedudukan dari tempat sambungan- sambungan harus
diserahkan kepada direksi untuk mendapatkan persetujuan sebelum ada satupun bagian
cor berlangsung. Tempat sambungan harus ditempatkan sedemikian rupa, sehingga
pengaruh dari penyusutan akibat suhu kecil dimana pekerjaan beton memanjang atau
meluas dam jika menurut pendpat Direksi mungkin dilaksanakan, maka Kontraktor harus
mengatur rencana pelaksanaan sedemikian rupa, sehingga beton sudah mempunyai umur
empat minggu sebelum beton baru diletakan terhadapnya. Sambungan cor harus rapat air
dan harus dibentuk dalam garis-garis lurus dengan acuan yang kaku tegak lurus pada
garis tegangan pokok dan sejauh mungkin dapat dilaksanakan pada tempat gaya lintang
yang terkecil. Itu jenis sambungan biasa, kecuali jika jenis lain disetujui oleh Direksi.
Sebelum pengecoran beton yang baru dilaksanakan disamping beton yang sudah
mengeras, beton yang lama harus dibersihkan dari batu-batuan diatas seluruh
penampangnya dan meninggalkan permukaan kasar, baik, serta bebas dari buih
semen/lapis kaca.
Ukuran dari beton yang dituangkan pada satu periode pelaksanaan harus tidak lebih dari
1,5 m kearah vertikal dan ukuran mendatar harus tidak lebih dari 7 m, kecuali ditentukan
lain oleh Direksi.
3.8 Perletakan Jembatan
Karet perletakan jembatan harus dari karet berlapiskan baja seperti disediakan oleh PT.
Beton Pratekan dengan kebutuhan sebagai berikut :
Jenis Perletakan Muatan Gerak
Tegak Lurus Mendatar
Terbesar Terbesar
Lantai jembatan yang diganjal sederhana dengan 7,5 ton / m 2 mm
bentang bersih kurang dari 4,5 m
Lantai jembatan yang diganjal sederhana dengan 8,5 ton / m 3 mm
bentang bersih kurang dari 4,5 m
Balok yang diganjal sederhana dengan bentang 14 ton / m 4 mm
kurang dari bersih 9 m

Karet pendukung harus sesuai dengan “Ministry of Transport Memorandum No. 802
Profesional Ruller the Use of Bearing in High Way Bridges” yang diterbitkan oleh HSMO
49 high London WCI. Karet pendukung yang dipakai pada ujung terjepit dari balok dan
|
lantai beton harus dipasang dengan pasak baja lunak melalui bantalan pendukung, diisi
kedalam lubang yang sudah dibuat lebih dahulu dengan adukan semen pasir 1 : 1. Pasak-
pasak itu harus dibungkus dengan dua lapis kertas bangunan dimana ia menonjol kedalam
lantai beton. Jika diizinkan oleh Direksi, Kontraktor dapat mengganti dengan lembaran-
lembaran pendukung dari timah hitam dengan ukuran dan mutu yang disetujui.
3.9 Beton Pracetak
Satuan-satuan beton pracetak sesuai dengan kebutuhan seperti tercantum dalam
perincian. Semua beton tercetak harus diberi tanda tanggal pencetakan yang tidak bisa
hilang dan sesudah acuan dibuka tidak boleh diganggu selama 28 hari sesudahnya.
3.10 Pembetonan diatas Permukaan yang dapat Ditembus
Kontraktor tak boleh menempatkan beton diatas permukaan yang dapat ditembus air tanpa
menutupi permukaan itu lebih dahulu dengan kertas kulit kedap air sesuai dengan
kebutuhan. Untuk bangunan kedap air semuanya harus mendapat persetujuan Direksi.
3.11 Pembetonan dalam Cuaca yang tak Menguntungkan
Kontraktor tidak boleh mencor pada waktu hujan deras atau angin berdebu.
Apabila suhu udara melebihi 35 o C misalnya menjaga bahan-bahan beton dan acuan-
acuan agar terlindung dari matahari dan bahan-bahan batuan dan acuanacuan
disemprotkan dengan air.
3.12 Melindungi dan Merawat Beton
Sampai beton mengeras seluruhnya dalam waktu tidak kurang dari tujuh hari Kontraktor
harus melindungi dari pengaruh jelek dari angin, matahari, tinggi atau rendahnya suhu
pergantian atau pembalikan derajat suhu, muatan sebelum waktunyan, benturan atau
tumbukan air tanah yang merusak jika tidak ditentukan lain oleh Direksi, permukaan
beton yang kelihatannya harus dijaga supaya terus basah sesudah dicor, tidak kurang dari
tujuh hari untuk beton dengan semen sulfat atau tiga hari untuk beton dengan semen yang
cepat mengeras, permukaan- permukaan seperti itu segera dibuka acuannya, maka harus
segera ditutup dengan kain tebal atau pasir atau lain-lain bahan yang mungkin disetujui
oleh Direksi yang harus terus menerus berhubungan dengan beton dan terus dijaga supaya
dalam keadaan basah sesuai dengan petunjuk Direksi.

D. Tulangan Baja

3.1 Daftar Pembengkokan Tulangan


Berdasarkan gambar kerja, Kontraktor menyediakan dan mengerjakan, kebutuhan-
kebutuhan akan tulangan baja yang dapat dipakai dalam pekerjaan. Antar tulangan baja
harus dipotong dari batang-batang yang lurus yang bebas dari delitan dan bengkok atau
kerusakan lainnya dan dibengkokkan dalam keadaan dingin oleh tukang yang
berpengalaman. Batang-batang dengan garis tengah 20 mm atau lebih harus
dibengkokkan dengan mesin pembengkokkan yang direncanakan untuk itu dan disetujui
oleh Direksi.
Bentuk-bentuk tulangan harus dipotong sesuai dengan gambar tidak menyambung
tulangan tanpa persetujuan Direksi.
3.2 Pemasangan
Kontraktor harus menempatkan dan memasang tulangan baja dengan tepat pada tempat
kedudukan yang ditunjukan dalam gambar-gambar dan harus ada jaminan bahwa
tulangan itu akan tetap pada kedudukan itu pada waktu pengecoran beton berlangsung.
Untuk memasang dengan tepat tulangan baja yang bersilang dengan sudut tegak lurus,
apabila mendapat persetujuan Direksi, tetapi tidak diperbolehkan ada pengelasan lainnya.
Pengganjalan alat pereggang dan tali kawat harus mendapat persetujuan Direksi.
Perenggang dari beton harus dibuat dengan mutu yang sama seperti mutu beton yang akan
dicor. Pereggangan tulangan dari besi beton dan kawat pengikat harus sepadan dengan
bahan-bahan tulangan dan selimut beton yang ditentukan. Tulangan utama dari tulangan
anyaman eks pabrik yang berdampingan harus disambung overlap minimal 300 mm, dan
minimal 150 mm untuk tulangan melintang.

E. Sambungan Gerak

3.1 Penahan Air (water Stop)


Kontraktor harus menyediakan dan memasang penahan air pada semua tempat
sambungan gerak pada bagian yang memerlukan atau tercantum sperti didalam gambar.

|
Sambungan tersebut harus kedap iar. Apabila tidak diminta lain, penahan air dibuat dari
karet sperti tercantum dalam gambar dan dijelaskan dalam “Daftar Kuantitas dan Harga”.
Penahan air tersebut harus didapatkan / produksi dari pabrik yang disetujui oleh Direksi
dan harus disimpan dan dipasang sesuai peetunjuk dari pabrik. Penahan air diatas tersebut
harus dicetak sampai kepanjang yang memungkinkan dan lengkap dengan bagian yang
memberntuk sudut dan persilangan, dan harus dibuat untuk keperluan bangunan-
bangunan dibawah air secara terus menerus atau seperti yang tercantum didalam gambar.
Usul dari Kontraktor untuk menyambung penahan air dilapangan harus disetujui Direksi
lebih dahulu, semua sambungan harus rapat.
Ukuran minimum dan bentuk penahan air harus seperti dalam daftar tersebut dibawah ini
:
Beban Leba Tebal Diameter Diameter
r (mm) Diamete Lingkaran Lubang
(mm) r Lingkaran Lingkaran
(mm Tengah
Ujung (mm) mm) (mm)
)

Karet 230 9,5 25 38 19


Polyvinil 150 9,5 19 -- --

Pada bagian ujung harus mempunyai potongan lingkaran.


Karet penahan air harus selalu dijaga pada kedudukan seperti tercantum pada gambar dan
harus dilindungi dari kerusakan karena benda tajam dan panas selama masa pelaksanaan
persiapan, pemasangannya dan pemeliharaannya. Papan acuan pada kedua ujungnya
harus dibentuk sedemikian hingga menggambarkan potongan dari penahan airnya. Pada
pengecoran betonnya harus dipadatkan dengan hati-hati dan seksama sehingga tidak ada
lubang-lubang yang terjadi.
Kontraktor harus menyediakan hasil pengujian dari pabrik untuk setiap penahan air yang
dikirim ke lapangan dan apabila diminta Direksi harus mengadakan percobaan uji
terhadap karet untuk penahan air tersebut untuk mendapatkan keyakinan akan mutu
barang tersebut.
Karet untuk penahan air harus memenuhi persyaratan - persyaratan dibawah ini apabila
bahannya dicoba menurut percobaan yang dinyatakan pada BS 903.

Kuat tarik minimum 2 kg/mm


Pertambahan panjang sebelum putus 500 %
Kebesaran 60o – 65 o
Kepadatan max pada methode deflection secara tetap 20 % dari
deflection asli
Penyerapan air max, setelah 2 hari pada 20o C 5%
Sesudah percepatan memuai setelah 48 jam pada 70 o C diadakan
udara dengan 0,20 kj/mm2
(1) Kuat minimum
80 o C dari nilai asli
(2) Pertambahan panjang sebelum
80 o C dari nilai asli
Kontraktor harus menyediakan sertifikat uji dari pabrik untuk setiap jenis karet yang
dikirim kelapangan pekerjaan dan macam pengujian itu harus dikerjakan sesuai dengan
methode pengujian standar.

F. Pengujian Mutu
Apabila dilakukan pengujian mutu bahan dan pengujian mutu selama pelaksanaan atau hasil
pelaksanaan maka biaya pengujian tersebut dibayarkan secara terpisah
(tersendiri).

|
IV. PASANGAN BATU

A. Bahan – bahan
4.1 Batu
Batu yang dipakai pada pekerjaan yang ditunjukan dalam gambar-gambar seperti batu
atau lapisan batu, haruslah batu belah yang bersih dan keras tahan lama, sejenis dan bersih
dari campuran besi, noda-noda, lubang-lubang, pasir, cacat dan ketidak sempurnaan
lainnya menurut persetujuan Direksi, batu tersebut baru diambil dari sumber / tempat
yang disetujui Direksi.
4.2 Adukan
Jika tidak ditentukan lain, adukan yang dipakai untuk pekerjaan batu menurut
perbandingan volume harus 1 : 4 (PC : Pasir) atau lainnya yang diperintahkan oleh Direksi.
Pasir harus sama dengan yang disyaratkan untuk pekerjaan beton pada pasal 3.02 kecuali
gradasi harus sesuai dengan tabel dibawah ini :

Saringan Presentase berat yang lolos


8 10 100
115 max
Dengan batasan diatas, pasir haruslah mempunyai gradasi yang baik dan kekasaran yang
memungkinkan untuk menghasilkan adukan yang baik Semen haruslah Portland Cement
seperti yang dimaksud pada pasal 3.01.
Air yang dipakai untuk membuat adukan haruslah memenuhi pasal 3.03 dari spesifikasi
ini. Air haruslah sedikit mungkin untuk menghasilkan adukan yang baik.
Cara dan alat yang dipakai untuk mencampur haruslah sedemikian rupa sehingga jumlah
dan setiap bahan adukan bisa ditentukan secara tepat dan disetujui oleh Direksi. Apabila
pencampuran dilaksanakan dengan mesin pengaduk, bahanbahan kecuali air harus
dicampur lebih dahulu didalam mesin selama paling tidak 2 menit. Bila pengadukan
dilakukan dengan tangan, bahan-bahan adukan harus dicampur didalam kotak dan
diaduk dua kali secara kering dan akirnya tiga kali setelah diberiair sampai adukan
sewarna dan merata. Adukan harus dicampur sebanyak yang diperlukan untuk dipakai
dan adukan yang tidak dipakai dalam jangka waktu 30 menit harus dibuang. Pemakaian
kembali dari adukan tidak diperkenankan. Kotak untuk mengaduk harus dibersihkan
setiap akhir dari hari kerja.
4.3 Kerikil Landasan
Kerikil landasan harus dari kerikil sungai yang bersih dan tahan lama atau pecahan batu
dengan gradasi baik dari 50 mm sampai 1 mm kesemuanya menurut persetujuan Direksi.
Bahan itu tidak boleh mengandung besi, belerang, batu lempung atau bahanbahan lainnya
yang serupa yang berbentuk lempengan, berlapis-lapis atau panjang-panjang, kulit-kulit
kerang atau bahan-bahan lainnya yang berpori atau rapuh yang menurut pendapat
Direksi akan mengurangi kekuatan atau tidak tahan lama dari saringan bila kena air atau
bahan-bahan lainnya. Kerikil harus terdiri batuan bulat dan harus mempunyai pembagian
butir sedemikian memenuhi syaratsyarat seperti dibawah :
(I) Yang berukuran 50 % berada antara 5 sampai 8 kali dari bahan yang dilindungi.
(II) Keseragamannya harus sama dengan bahan yang dilindungi dimana
perbandingannya antara yang berukuran 60 % dengan yang berukuran X% dari
contoh bahan yang dimaksud. Kontraktor harus mengadakan pengujianpengujian
terhadap pembagian butir, jika Direksi membutuhkannya, untuk meyakinkan
bahwa syarat-syarat perincian tetap diikuti.
4.4 Saringan Pasir
Pasir untuk saringan (Filter) pada umumnya harus sesuai dengan ketentuan untuk bahan
batuan, tetap harus merupakan pasir kasar dan mudah dilalui air menurut persetujuan
Direksi.
4.5 Penyimpanan dari Bahan-Bahan
Semen harus disimpan seperti disyaratkan pada pasal 3.06, diatas lantai beton atau
lembaran logam atau lantai kayu untuk mencegah peresapan dari air. Dan juga dilindungi
dengan atap atau penutup yang tahan air.

|
B. Pasangan Batu

4.1 Ukuran Batu


Pasangan batu terdiri dari batu belah yang disusun sedemikian rupa sehingga bisa saling
menutup dan mengisi, setiap batu berukuran antara 10 kg s.d 20 kg, akan tetapi batu yang
lebih kecil boleh dipakai atas persetujuan Direksi, ukuran maksimum harus
memperhatikan tebal konstruksi bangunan, tetapi harus pula memperhatikan batasan
seperti tercantum diatas sebagai contoh : sebuah batu berukuran 200 x 200 x 500 mm
akan mempunyai berat kira-kira 50 Kg.
4.2 Alas dan Sambungan
Setiap batu untuk pasangan harus seluruhnya dibasahi lebih dahulu sebelum dipakai dan
harus diletakkan dengan alasnya tegak lurus arah tegangan pokok. Setiap batu harus diberi
alas adukan, semua sambungan diisi padat dengan adukan apada waktu pekerjaan
berlangsung. Tebal adukan tidak lebih dari 50 mm, serta tidak boleh ada berimpit satu
sama lain. Pasak tidak boleh disisipkan sesudah semua batu selesai dipasang.
4.3 Pekerjaan Muka
Pekerjaan muka pada permukaan yang kelihatan harus menyatukan batu-batu belah yang
dipasang, paling sedikit satu batu pengikat untuk tiap-tiap meter persegi. Pekerjaan muka
harus dinaikan bersama-sama dengan pasangan yang mengganjal atau mengisi, agar
supaya batu pengikat dipasang sepatutnya. Batubatu harus dipilih dan diletakkan dengan
hati-hati sehingga tebalnya adukan tidak kurang dari pada rata-rata 10 mm. Semua
pekerjaan muka yang kelihatan harus disiar, adukan untuk siar terdiri dari campuran 1
PC : 2 Ps, kecuali ditentukan lain. Sebelum pekerjaan siar dimulai semua bidang smbungan
diantara batu muka harus dibersihkan dengan memakai sikat kawat dan dibasahi.
Pekerjaan siar tenggelam (masuk kedalam + 1 Cm), dengan lebar antara 2 – 3 Cm. Batu
muka dibuat bentuk batu muka yang rajin.
4.4 Pipa Peresapan (Suling-Suling)
Tembok-tembok penahan, perkuatan talud dan tembok-tembok kepala, harus diberi
suling-suling (bila tidak ditentukan lain). Suling-suling harus dibuat dari pipa PVC dengan
diameter 50 mm (2 inchi) dan paling tidak 1 buah untuk setiap 2 m luas permukaan. Setiap
ujung pemasukan dari suling-suling harus dilengkapi dengan saringan. Saringan tersebut
dari kerikil dan bagian luar ditutup ijuk. Urugan tidak boleh dilaksanakan sebelum
mendapat persetujuan dari Direksi dan bahan urugan harus pasir yang kasar dan mudah
dilalui air, kecuali ditentukan lain. Kerikil yang teratur ukurannya sehingga dapat
mencegah kehilangan pasir harus dipasangn pada akhir pembuang air.
4.5 Contoh Pekerjaan
Pada permulaan pekerjaan pasangan batu, Kontraktor harus membuat contoh
tampang/pasangan tembok, perkuatan talud, sehingga mutu dan wujudnya disetujui oleh
Direksi. Semua pekerjaan berikutnya harus sederajat dengan atau lebih dari contoh yang
disetujui.
4.6 Perlindungan Perawatan
Dalam membangun / mengerjakan pekerjaan pasangan batu dalam cuaca yang tidak
menguntungkan dan dalam melindungi dan merawat pekerjaan yang telah selesai,
kontraktor harus memenuhi persyaratan yang sama seperti yang ditentukan untuk beton.
Pekerjaan pasangan tidak boleh dilaksanakan pada waktu hujan deras atau hujan yang
cukup lama sehingga mengakibatkan adukannya larut. Adukan yang telah dipasang dan
larut harus dibuang dan diganti sebelum pekerjaan selanjutnya diteruskan. Diatas
pasangan batu atau pasangan batu kosong yang belum keras tidak boleh diletakkan beban,
baik bersifat statis maupun dinamis.

C. Pekerjaan Perlindungan
4.1 Penyiapan Permukaan Tanah untuk Lapis Lindung
Kontraktor harus menyiapkan untuk lapis lindung dengan merapihkan permukaan galian
dan atau timbunan dengan seksama menurut ukuran yang ditentukan. Kemudian
penyaringan kerikil seperti yang ditentukan, haruslah disediakan dan ditempatkan diatas
permukaan yang rata dan sejajar terhadap permukaan yang direncanakan untuk lapis
lindung.

4.2 Lapis Lindung Batu Beton (Concrete Blok)


Dimana ditunjukkan dalam gambar-gambar Kontraktor harus menyediakan dan
meletakkan lapis lindung batu beton diatas muka tanah / tanggul yang disiapkan sampai
|
ukuran-ukuran yang ditentukan. Batu beton / paving blok harus disiapkan dengan
seksama untuk membuat permukaan yang benar dan rata, dengan sambungan terbuka
sejajar dengan lebar 10 mm diantara tiap-tiap batu. Semua itu harus dibuat dari beton
kelas B kecuali ditentukan lain.
4.3 Lapis Lindung Batu Kosong
Dimana ditunjukan dalam gambar-gambar Kontraktor harus menyediakan dan
meletakkan lapis lindung batu kosong terdiri dari batu yang dipecahkan dangan palu
secara kasar sedemikian rupa sehingga semuanya cocok satu sama lain.
Tiap batu mempunyai tebal, panjang dan lebar yang tidak kurang dari 200 mm. Batu-batu
harus diberi landasan pasir dan diletakkan pada dasar alamiah sedemikian, sehingga
permukaan yang telah selesai merupakan bidang yang benar-benar rata. Kecuali
ditentukan lain, pasangan batu kosong dikerjakan tanpa siar dan spasi.
4.4 Lapis Lindung Batu Memakai Adukan
Sesuai dengan gambar-gambar, Kontraktor harus menyediakan dan meletakkan lapis
lindung batu memakai adukan diatas dasar yang telah ditetapkan. Batu-batu harus seperti
yang ditentukan untuk lapis lindung batu kosong, tetapi semuanya harus didasari dan
disambung dengan adukan semen : pasir seperti ditentukan dalam pasal 4.07 dan 4.08
tentang alas, sambungan dan pasangan muka.
4.5 Parit Pengering dari Batu
Sesuai dengan gambar-gambar, Kontraktor harus membangun parit pengering dari batu
yang dibungkus dengan ijuk menururt ukuran yang ditentukan. Semuanya harus terdiri
dari parit-parit yang digali dan diisi kembali dengan batu belah yang dibungkus dengan
ijuk. Batu belah harus terdiri dari batu-batu seperti ditentukan dalam pasal 4.01 yang akan
tertinggal diatas ayakan 40 mm.
4.6 Bronjong dan Matras
Sesuai dengan gambar-gambar, dan jika tidak ditunjukan secara khusus, Kontraktor harus
membuat bronjong dan menampakkannya dalam keadaan seperti diuraikan dibawah,
termasuk penyiapan permukaan tanahnya, batu-batu untuk bronjong adalah batu
kali/batu gunung dengan ukuran tidak kurang dari 120 mm dan tidak lebih dari 250
mm. Ukuran kawat bronjong galvanis dengan kawat anyaman tiga lilitan ukuran 2,70
mm, kawat sisi 3,40 mm dan kawat pengikat 2,0 mm, ukuran lubang heksagonal 80 x
100mm atau ukuran anyaman menurut daftar dibawah ini :
Ukuran Bronjong Ukuran kawat Ukuran lubang
(m) yang dipakai (mm) ayaman (mm)
2,00 x 1,00 x 1,00 2,70 – 3,00 mm 80 x 100
2,00 x 1,00 x 0,50 2,70 - 3,00 mm 80 x 100
Bronjong kotak dan bersusun harus mempunyai batas pemisah bagian dalam dengan
bahan dan bentuk anyaman yang sama. Batas pemisah itu ditempatkan sedemikian rupa
sehingga berbentuk matras berukuran 2,00 m x 0.60 m (maksimum). Hubungan antara
bronjong-bronjong atau matras-matras harus diikat erat dengan kawat yang bergaris
tengah sama pada ujung-ujungnya sehingga bronjong-bronjong atau matras-matras itu
menjadi satu kesatuan. Bila bronjong ditempatkan diatas lapisan saringan, pengerjaan
bronjong harus hati-hati untuk mencegah kerusakan dari saringan. Batu harus diletakkan
didalam bronjong dengan hati-hati untuk mencegah rusaknya kawat dan atau lapisannya.
Tutup bronjong harus diikat dengan kawat (ukuran kawat 2 mm) erat-erat pada sisi yang
berdampingan sepanjang tepinya. Ukuran dari bronjong seperti yang ditunjukan didalam
gambar atau diperintahkan oleh Direksi.

4.7 Pekerjaan Plesteran


Apabila dipermukaan dinding dan lantai dari pasangan batu belah yang ada maupun yang
baru harus diplester, mortar/spasi terbuat dari adukan 1 PC : 3 Ps. Bahan campuran untuk
pekerjaan plesteran harus memenuhi persyaratan pasal
3.02 pekerjaan plesteran dikerjakan secara dua lapis sampai ketebalan minimal 1,5 Cm.
Apabila tidak diperintahkan lain pasangan harus diplester pada bagian atas dari dinding,
ujung-ujung saluran pasangan, dan untuk 0,10 m dibawah tepi atas dinding.
D. Pengujian Mutu
Apabila dilakukan pengujian mutu bahan dan pengujian mutu selama pelaksanaan atau hasil
pelaksanaan maka biaya pengujian tersebut dibayarkan secara terpisah (tersendiri).

|
V. PERLENGKAPAN DIREKSI
5.1 Kantor Sementara di Lapangan
Kontraktor harus menyiapkan kantor lapangan sebelum pekerjaan dimulai.
5.2 Peralatan Survey / Pengukuran
Kontraktor harus menyediakan dan memelihara alat-alat perlengakapan Survey/Pengukuran
dan lain-lain yang dipakai dalam pelaksanaan. Alat dan perlengkapan tersebut harus baik
menurut persetujuan Direksi, serta dijaga supaya tetap dalam keadaan baik. Jika ada perbaikan,
hilang atau rusak harus diganti, semua alat-alat dan perlengkapan itu tetap menjadi milik
Kontraktor.
Penjelasan secukupnya harus diserahkan bersama penawaran untuk memungkinkan Direksi
menilai mutu dari alat-alat dan perlengkapan yang akan disediakan Kontraktor. Alat-alat dan
perlengkapan itu tidak boleh ditukar dalam waktu pelaksanaan pekerjaan kecuali dengan izin
atau atas perintah Direksi.
5.3 Jadwal Waktu Pelaksanaan Pekerjaan
Kontraktor harus membuat Jadwal Waktu Pelaksanaan Pekerjaan berupa rencana dan realisasi
pekerjaan. Jadwal Pelaksanaan ditempel di papan pengumuman atau yang lainnya sehingga
mudah terbaca. Jadwal Waktu Pelaksanaan Pekerjaan harus sesuai dengan metode pelaksanaan.
5.4 Foto-foto
Foto-foto dari situasi sebelum pekerjaan dimulai, selama pekerjaan berlangsung dan setelah
pekerjaan selesai harus diambil secara periodik, dan diambil dari arah sedemikian sehingga
subyeknya tampak dengan jelas dan pada titik yang tetap sehingga urutan-urutan pelaksanaan
pekerjaan tersebut. Dari setiap film negatifnya harus dicetak 3 (tiga) buah ukuran kartu pos.
Semua foto harus dimasukkan ke dalam album, setiap foto diberi keterangan kegiatan dan
pengambilan foto-foto dilaksanakan oleh Kontraktor dengan petunjuk dari Direksi.
5.5 Pelaporan
Kontraktor harus membuat laporan harian, laporan mingguan dan laporan bulanan selama
pekerjaan berlangsung. Laporan ini dilaporkan secara berkala kepada pengguna barang/jasa.
Laporan dibuat seinformatif mungkin.
5.6 Gambar-Gambar Purna Pelaksanaan (As Built Drawing )
Kontraktor harus membuat gambar-gambar yang sesuai dengan pekerjaan yang dilaksanakan.
Gambar-gambar digambar diatas kertas kalkir dengan memakai tinta dan diserahkan kepada
Direksi setelah bagian pekerjaan tersebut selesai. Semua gambar harus berukuran standard dan
menunjukkan semua penjelasan dari pekerjaan yang dilaksanakan dan dicetak sebanyak 3 (tiga)
rangkap.

5.7 Gambar Kerja


Direksi mungkin memerlukan gambar-gambar kerja yang menggambarkan penjelasan-
penjelasan yang diperlukan pada bagian pekerjaan yang pokok, untuk ini Kontraktor harus
menyediakan gambar-gambar kerja demikian menurut/berdasar gambar-gambar standard,
permukaan tanah asli, ketinggian- ketinggian, penyelesaian yang diperintahkan dan lain-lain
persyaratan dari Direksi digambar diatas kertas kalkir dan dicetak sebanyak 5 (lima) rangkap.
Ukuran gambar kerja dan setiap perubahan pada gambar tersebut harus diserahkan kepada
Direksi, untuk persetujuan tidak lebih dari 14 (empat belas) hari sebelum pelaksanaan pekerjaan
pada bagian tersebut dimulai.

VI. PEKERJAAN AKHIR DAN PEMERIKSAAAN PEKERJAAN.


6.1 Pekerjaan Akhir
Pada akhir pekrejaan Kontraktor harus :
- Membongkar semua bangunan- bangunan sementara dan mengeluarkan dari lokasi
pekerjaan, kecuali terhadap sesuatu yang dinyatakan lain oleh Direksi.
- Melakukan perapihan seperti membersihkan lapangan dari sisa bahan bangunan, sisa
bongkaran bangunan sementara, tanah / lumpur, sampah, rumput dan lain-lain sesuai
petunjuk Direksi.

|
6.2 Pemeriksaaan Pekerjaan
1. Pemeriksaan yang dilakukan Direksi :
- Direksi akan melaksanakan pengawasan semua kegiatan pekerjaan setiap hari dan
mencatat semua kegiatan pekerjaan pada buku harian.
- Pada waktu pekerjaan akan diserahkan kepada PPK. Direksi akan mengadakan
pemeriksanaan akhir pekerjaan tersebut.
2. Pemeriksaan oleh Team Pemeriksa Serah Terima Pekerjaan.
- Sebelum diadakan Serah Terima Pertama pekerjaan kepada PPK, Team Pemeriksa Serah
Terima Pekerjaan (TPSTP) mengadakan pemeriksaan hasil pekerjaan tersebut.
- Pada waktu pemeriksaan oleh TPSTP, TPSTP akan membuat foto-foto hasil pekerjaan
dan hasil pemeriksaan dilapangan
- Apabila setelah diadakan evaluasi dari hasil pemeriksaan oleh TPSTP ternyata masih
ditemukan kekurangan- kekurangan pekerjaan / tidak sesuai dengan syarat-syarat
teknis dan gambar desainnya, maka Kontraktor diwajibkan untuk memeperbaiki sesuai
syarat-syarat yang ditentukan.
- Segala keperluan / peralatan / biaya yang diperlukan untuk keperluan pemeriksaan
hasil pekerjaan dan segala akibat yang timbul akibat pemeriksaan pekerjaan ini menjadi
tanggung jawab Kontraktor.

B. SPESIFIKASI TEKNIK KHUSUS


I. PEKERJAAN PERSIAPAN
1.1 Pemilihan / Pembuatan Jalan Masuk Sementara
- Untuk menunjang kelancaran pekerjaan pengangkutan peralatan, pekerja dan
material.
- Lebar jalan disesuaikan dengan adanya jaringan saluran tanggul atau rencana antara
blok primer.
- Dipilih beberapa alternatif jalan darat atau jalan air yang lebih ekonomis.
1.2 Pengukuran / Uitzeting
- Referensi BM. PU atau titik bantu yang sudah dibuat oleh proyek (konsultasi dengan
Direksi Lapangan).
- Pembuatan BM baru 2 buah, lokasinya dapat dikonsultasikan dengan Direksi Lapangan
ukuran 30 x 30 x 1 meter.
- Pengukuran dan perhitungan dilakukan 2 kali yakni uitzet (MC. 0) dan Penyerahan I
(MC. 1).
- Hasil dari MC. 0 : MC. 1 diperiksa kebenarannya oleh Panitia untuk disetujui.
1.3 Umum
Sebelum pekerjaan dilaksanakan pada masing-masing pekerjaan seperti yang diuraikan
dibawah ini Kontraktor harus menyerahkan gambar mutual check dan program kerja atau
konsultasi mengenai pelaksanaan pekerjaan yang akan dimulai.

Liwa, Mei 2018


Dibuat Oleh
Pejabat Pembuat Komitmen

ADE KURNIAWAN,SPT
NIP. 19840721 201001 1 003