Anda di halaman 1dari 5

KEBIASAAN POLA MAKAN

DITUNJUKKAN UNTUK MATA KULIAH

SOSIOLOGI ANTROPOLOGI KESEHATAN


DOSEN PEMBIMBING : PUTRA APRIADI SIREGAR,SKM, M.Kes

DISUSUN OLEH :

Nadrah Himayah Gea (0801173372)


Raudhatul Wardah (0801173343)
Siti Khadijah (0801173373)
Tika Kisamiani (0801173364)

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUMATERA UTARA

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

PRODI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

TAHUN 2017-2018
A. Suku Nias

Kebiasaan waktu makan Pada hari biasa masyarakat Nias makan tiga kali
sehari. Pagi hari masyarakat Nias, makan “Sinan6” (umbi-umbian), siang hari mereka
makan “umbi-umbian” dan nasi sebagai (makanan yang menyenangkan). Pada malam
harinya mereka makan seperti makan siang. Sehingga setiap hari mereka rutin makan
nasi dua kali sehari. Pada hari minggu mereka makan dua kali sehari makan sebelum
pergi ke gereja dan pada malam harinya.
Pada saat makan sedang berlangsung tidak boleh ngomong-ngomong karena
marah “Sobawi” (yang selalu menegur anggota keluarga bila melalaikan ketertiban di
rumah). Makanan nasi ini lebih tinggi nilainya dari pada makanan yang lain. Bila
makan, tidak boleh tersisa dan dibuang begitu saja. Kemudian kalau dimasak harus
pakai ukuran apakah Tumba (jumba), Hinaoya (liter), kata (tekong) dan lain-lain serta
tidak boleh (dipadatkan) dalam periuk, tidak boleh dipukul-pukul pinggir periuk
dengan sendok. Semua pantangan ini apabila tidak ditaati maka bisa berakibat marah
“Sibaya Wache” (pemilik dari pada nasi tersebut) seandainya marah akibatnya bila
menanam padi tidak subur dan tidak menghasilkan banyak buah serta banyak
mendatangkan berbagai wabah penyakit dan bila dimasak “L6 mo’6si” (artinya
walaupun satu jumba dimasak tetapi hasil masakan nampak seperti satu liter).
B. SUKU MINANG

Makanan adalah kebutuhan biologis yang mendasar, agar tetap manusia tetap
hidup. Makan merupakan salah satu bentuk budaya, begitu juga dengan suku minang
yang menganggap bahwa makanan memiliki kekuatan tersendiri.Makanan pokok
suku minang adalah nasi yang dimasak dengan cara durebus. Suatu ungkapan yang
sering didengar adalah bialah makan samba lado asal nasinyo lamak yang artinya
biarlah makan dengan sambal asal nasinya enak. Makanan suku minang terkenal
dengan rasa pedas dan berlemak.
Makanan selingan suku minang memiliki rasa manis dan pedas yang biasanya
dimakan pada pagi atau sore hari sebagai teman minum teh atau kopi. Cara
pengolahan makanan suku minang biasanya menggunakan bahan bakar kayu dengan
waktu yang cukup lama dengan menggunakan bermacam-macam bumbu yang terdiri
dari rempah-rempah.
Pada suku minang selera makan lebih diutamakan daripada mempedulikan
penyakit yang akan ditimbulkan oleh makanan tersebut. Suku minang mempunyai
kebiasaan untuk mengajak tamu yang datang ke rumahnya untuk makan. Ada pameo
bahwa tamu tidak boleh pulang kalau belum makan dan makan bersama dengan
anggota kelaurga minimal satu kali sehari bertujuan untuk untuk mempertahankan
ikatan keluarga
C. SUKU MELAYU

POLA MAKAN SUKU MELAYU

Masyarakat Suku Melayu mata pencaharian pokok berternak seperti ternak sapi,
kerbau, kambing, domba, ayam kampung. Sebagian hasil ternak dikonsumsi dan sebagian
dijual ke pasar. Masyarakat Suku Melayu memilki hobi menangkap ikan dengan
menggunakan pancing di sungai yang ada di sekitar desa tersebut. Hasil penangkapan ikan
digunakan untuk konsumsi sendiri, yaitu memenuhi kebutuhan anggota keluarga. Selain itu
masyarakatnya juga menanam kedelai, kacang-kacangan pada lahan kering yang
konsumsinya hanya untuk makan sendiri

Masyarakat Suku Melayu selain makanan pokok beras cenderung mengonsumsi


sumber makanan dari protein hewani (5 kali dalam satu minggu). Cara pengolahan makanan
lebih sering dengan bersantan atau lebih sering dikenal dengan nama digulai lemak (3-
4x/minggu), sesuai dengan motto suku melayu “ Biar rumah condong asal gulai lemak” yang
memilki arti biar rumah mau runtuh asal gulai lemak.

KEBIASAAN MAKAN SUKU MELAYU

Makan berhidang adalah salah satu kebiasaan atau tradisi yang tergerus dengan
pergantian makan ala Barat. Hampir disetiap perhelatan, makan berhidang selalu menjadi
pemandangan yang tak asing dilihat, baik di pesta pernikahan, kenduri kematian, hingga
kepada acara sederhana yang melibatkan orang banyak.

Cara penyajian makan berhidang ternyata memiliki aturan khusus yakni dengan
penyajian awal adalah air minum terlebih dahulu, diikuti dengan nasi putih dan piring, lalu
ditutup dengan setalam hidangan , “air selain penghilang haus setelah acara doa juga
bermakna kesejukan hati, sementara nasi adalah rezeki dan simbol dari niat silaturahim yang
bersih, biasanya ketika nasi sudah disajikan, orang-orang dengan sendirinya membentuk tim
sebanyak 5 orang dalam 1 kelompok untuk menyambut setalam hidangan. Disini sudah ada
komunikasi batin yang menjadikan keharmonisan antar masyarakat terus terjaga.
D. SUKU ACEH

Pola makan atau kebiasaan makan suku aceh


- Nasi yang disebut nakan kepel atau nasi hangat dibungkus dengan daun pisang. Dua
bungkus diletakkan dalam piring makan. Satu macam lauk diletakkan dalam mangkuk
(piring kecil) segelas air minum dan satu cuci tangan

- Di dalam menghidangkan, makanan biasanya ditempatkan dalam cambung-cambung


kecil yang disebut cawan. Jenis makanan yang selalu dihidangkan dalam setiap
upacara kenduri yaitu gulai daging kambing dan gulai nangka. Kedua gulai ini dalam
penyajiannya dipisahkan sendiri-sendiri dan tidak bercampur. Daging kambing yang
sudah dimasak itu apabila dihidangkan untuk ketua adat maka dipisahkan dalam
pingggan besar yang disebut dengan pahar.

- Masyarakat petani memiliki tata cara makan yang cukup unik. Dalam kegiatan makan
sehari-hari, mereka terbiasa makan bersama-sama seluruh keluarga di atas teleten
(pondok) , yaitu semacam lantai dari papan yang ditinggikan kemudian diberi tikar.
Letak teleten ini biasanya ada di tengah ruang yang berdekatan dengan dapur.

- Bapak yang dianggap lebih tinggi dibanding anggota keluarga lain sebagai kepala
keluarga dan pencari nafkah. Tidak lupa, di setiap waktu makan pasti tersedia tempat
cuci tangan, karena mereka makan menggunakan tangan. Sendok hanya digunakan
untuk mengambil nasi dan sayur.