Anda di halaman 1dari 2

Diana Rachma Ningsih – Kabinet ISMAFARSI Ideal

Farmasi UMS 2018

BAB I
PENDAHULUAN

ISMAFARSI (Ikatan Senan Mahasiswa Farmasi Seluruh Indonesia) adalah organisasi mahasiswa
nasional yang terdiri dari lembaga eksekutif mahasiswa farmasi di seluruh Indonesia dan merupakan
organisasi intra perguruan tinggi yang berbasis keprofesian dan berorientasi pada keilmuan (SK DIKTI No.
974/D5.2/T/2007 dan SK), bertujuan untuk menyatukan opini dan ajang silaturahmi mahasiswa farmasi,
sekaligus sebagai satu-satunya organisasi kemahasiswaan yang mereprestasikan mahasiswa farmasi di
Indonesia (SK IAI No. 038/SKET/PP.IAI/XI/2013) (Anonim, ismafarsi.org).
Ismafarsi merupakan sebuah organisasi tingkat nasional yang mewadahi mahasiswa farmasi di
seluruh indonesia untuk ikut berkontribusi demi Indonesia yang lebih baik, khusunya dalam dunia
kesehatan. Meminjam filosofi dari sebuah ember, maka Ismafarsi diibaratkan sebagai ember yang berfungsi
untuk menampung air, yang dalam hal ini adalah menampung semua aspirasi mahasiswa farmasi. Jika
ember itu diisi air hingga penuh, maka ember tersebut akan membawa kebermanfaatan bagi orang banyak.
Bukan lagi sebuah ember kosong yang apabila bocor maka akan sangat merugikan orang-orang
disekelilingnya. Kini Ismafarsi dihadapkan pada sebuah tantangan dimana organisasi ini dituntut agar tetap
mempertahankan eksistensinya seiring dengan perkembangan zaman yang semakin modern
Dalam perjalannya ISMAFARSI sudah mengukir banyak sejarah dan cerita yang “nano-nano
rasanya” ada kisah yang mengharukan, mengispirasi dan bahkan kejadian-kejadian menegangkan. Jika
diibaratkan ISMAFARSI adalah kapal, maka adakalanya ISMAFARSI butuh beberapa elemen pendukung
agar kapal ini dapat berlayar dengan gagah ditengah lautan yang luas. Suatu kapal itu pastinya perlu nahkoda
untuk mengarahkan jalannya kapan yang berisi penumpang agar dapat berlabuh di sebuah pelabuhan dan
kemudian akan berlayar kembali dengan nahkoda dan penumpang yang baru menuju pelabuhan yang baru
pula. Sehingga yang berperan sebagai kapal adalah ISMAFARSI, nahkodanya adalah BP-BPH dan
penumpangnya adalah mahasiswa S1 Farmasi seluruh Indonesia. semua elemen itu berkaitan, dan jika salah
satu dari elemen itu goyah besar kemungkinan kapal akan karam ditengah lautan dan tidak sampai
dipelauhan yang dituju.

BAB II
GAGASAN

Sekarang, ISMAFARSI dalam kondisi yang cukup kritis dimana keadaan awak kapal, nahkoda
dan penumpang tidak dalam kondisi baik-baik saja. Hal ini menjadikan suatu problematika diantara anggota
penuh dan peninjau ISMAFARSI yang sedang gelisah menanti kira-kira kapal yang mereka tumpangi akan
berlabuh ditempat yang tepat dalam waktu yang tepat pula. Namun, hingga kini hampir 6 bulan terakhir
masa kepengurusan ISMAFARSI 2016-2018 kondisi kapan sedang diam terdampar dilautan yang bisa
kapan saja terkena badai dan karam dilautan. Jika tidak segera diatasi maka kekhawatiran itu akan terjadi
jua. Sehingga banyak yang harus dievaluasi untuk menyelamatkan ISMAFARSI dimulai dari kabinet
ISMAFARSI sekarang dan yang akan datang “bagaimanasih sebenarnya kondisi kabinet ISMAFARSI
yang Ideal?”.
Sebenarnya, kabnet ISMAFARSI yang sekarang cukup bagus, namun memang perlu pembenahan
di berbagai sisi yang jika tidak dirubah dan dipertahankan akan berdampak yang cukup signifikan. Ada
beberapa solusi yang dapat diterapkan jika berbagai masalah terjadi, seperti :
1. Ketidaksiaganya BP-BPH
Alasan ketidaksiaganya dikarenaka beberapa hal, seperti kesibukan dan jarak yang jauh dari
steakholder ISMAFARSI yaitu BPOM, IAI, KEMENKES dan lain-lain.
Solusi :
Dikarenakan steakholder berada pada daerah ibu kota sehingga BP-BPH ISMAFARSI
setidaknya berada dalam jangkauan dekat dengan ibukota juga. Dikarenakan ISMAFARSI
Diana Rachma Ningsih – Kabinet ISMAFARSI Ideal
Farmasi UMS 2018

sebagai organisasi advokasi dapat menginiasi hasil dan advokasinya cepat dan mudah difollow
up secepatnya.
2. Staff Ahli dan Tim Staff Ahli Nasional
Penyebaran SA dan Tim SA Nasional tidak merata mengakibatkan pincangnya penyebaran
informasi dari dan ke ISMAFARSI dan LEM lebih baik dan memperlancar arah gerak
program kerja yang berkaitan langsung dengan LEM.
Solusi :
Setiap wilayah, setidaknya punya 1 SA Nasional atau Tim Staff Ahli Nasional sehingga dapat
berkoordinasi dengan BPH wilayah terkait.
3. Syarat menjadi BP-BPH lebih ketat
Berkaca dari kejadian, SA Nasional yang belum mengikuti LKMMF II yang seharusnya tidak
boleh terjaring.
Solusi :
Menyiapkan kader yang dibina setelah LKMMF II dimasing-masing wilayah untuk diteruskan
untuk kepengurusan BP-BPH Nasional.

BAB III
KESIMPULAN
Jika terjadi kevakuman dalam kinerja BP-BPH, harap diberi peringatan dan sanksi yang tegas.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim, “Kabinet ISMAFARSI HEBAT”, http://ismafarsi.org (Diakses 4 januari 23.57 WIB).