Anda di halaman 1dari 16

DESAIN ALTERNATIF PENILAIAN DAMPAK PROGRAM

Diajukan kepada Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta


Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Evaluasi Pembelajaran

Dosen Pengampu:
Dr. Haryanto, M.Pd

Disusun Oleh:
Shoffan Fatkhulloh
NIM. 17707251002

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PEMBELAJARAN


PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan
rahmat dan karunia-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah dengan judul: DESAIN
ALTERNATIF PENILAIAN DAMPAK PROGRAM
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Evaluasi pembelajaran dengan
dosen pengampu Dr. Haryanto, M.Pd. Penyusun mengucapkan terima kasih kepada semua
pihak yang telah memberikan dukungan dalam menyelesaikan makalah ini.
Penyusun menyadari bahwa dalam penulisan makalah masih banyak kekurangan baik
isi maupun penulisannya. Oleh karena itu, penyusun sangat mengharapkan kritik dan saran
yang membangun untuk perkembangan penyempurnaan makalah ini.

Yogyakarta, April 2018


Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ----------------------------------------------------------------------------------------------------- i


DAFTAR ISI ----------------------------------------------------------------------------------------------------------------- ii
BAB I: PENDAHULUAN ----------------------------------------------------------------------------------------------- 1
A. LATAR BELAKANG ------------------------------------------------------------------------------------------ 1
B. RUMUSAN MASALAH --------------------------------------------------------------------------------------- 1
C. TUJUAN ------------------------------------------------------------------------------------------------------------ 2
BAB II: PEMBAHASAN ------------------------------------------------------------------------------------------------ 3
A. BIAS------------------------------------------------------------------------------------------------------------------ 3
1. Selection Bias --------------------------------------------------------------------------------------------------- 5
2. Sumber Bias Lainnya ------------------------------------------------------------------------------------------ 6
B. QUASI-EXPERIMENTAL DESIGN ---------------------------------------------------------------------- 8
1. Quasi-Experiments --------------------------------------------------------------------------------------------- 8
2. Pengontrolan Kelompok -------------------------------------------------------------------------------------- 8
3. Desain Quasi-Experimental---------------------------------------------------------------------------------- 9
BAB III: PENUTUP ----------------------------------------------------------------------------------------------------- 12
A. KESIMPULAN -------------------------------------------------------------------------------------------------- 12
B. SARAN ------------------------------------------------------------------------------------------------------------- 12
DAFTAR PUSTAKA ---------------------------------------------------------------------------------------------------- 13

ii
BAB I
BAB I: PENDAHULUAN
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Pada pertemuan sebelumnya telah membahas penelitian randomized field
experiments yang dipergunakan dalam melakukan penilaian terhadap dampak program.
Metode penelitian tersebut seringkali digunakan oleh evaluator karena hasil yang diperoleh
mampu menunjukkan ketidakbiasan dari program tersebut. Dengan adanya ketidakbiasan
inilah, hasil dari penilaian dampak mampu memberikan penilaian yang berimbang dan akurat.
Untuk melakukan penelitian randomized field experiments terdapat persyaratan yang harus
dipenuhi.

Dalam praktiknya, kondisi di lapangan terkadang tidak memungkinkan untuk


melakukan desain penelitian tersebut sehingga diperlukan desain penelitian alternatif dalam
melakukan penilaian dampak. Menurut Rossi, dkk. (2004), desain penelitian alternatif yang
dapat dilakukan dalam melakukan penilaian dampak, yaitu Quasi-Experiments Design. Dalam
pandangannya, hasil yang diperoleh dari quasi-experiments design mampu menghasilkan
pengukuran yang sebanding dengan hasil yang diperoleh dari penelitian yang menggunakan
randomized field experiments.

Berdasarkan pandangan tersebut, pada kesempatan ini akan dibahas lebih lanjut
mengenai desain alternatif penilaian dampak program dengan mengacu pendapat Rossi, dkk.,
yaitu quasi-experiments design. Oleh sebab itu, penulis menyusun makalah yang berjudul
DESAIN ALTERNATIF PENILAIAN DAMPAK PROGRAM dengan tujuan untuk
mengetahui desain quasi-experiments dan memahami cara menganalisisnya.

B. RUMUSAN MASALAH
Adapun rumusan masalah yang mendasari disusunnya makalah ini, sebagai berikut :

1. Apa itu quasi-experiments design?


2. Apa sajakah hal-hal yang harus diperhatikan dalam quasi-experiments design?

1
C. TUJUAN
Adapun tujuan disusunnya makalah ini, yaitu :

1. Untuk mengetahui lebih jelas quasi-eperiments design.


2. Untuk hal-hal yang harus diperhatikan dalam quasi-eperiments design.

2
BAB II
BAB II: PEMBAHASAN
PEMBAHASAN

Sebelum membahas desain quasi-experiments, sebaiknya perlu dibahas terlebih dahulu bias
yang dimaksud dalam penilaian dampak program. Agar semakin memperjelas siapakah lawan
yang harus dihadapi pada saat melakukan penilaian dampak program.

A. BIAS
Bias dalam dampak program merupakan kesalahpahaman penilaian dalam
memperkirakan hasil yang sesungguhnya sehingga diperoleh hasil yang lebih tinggi atau lebih
rendah dari nilai sebenarnya. Bias inilah yang mampu mempengaruhi evaluator dalam
mengevaluasi suatu dampak program, sehingga perkiraan penilaian yang diperoleh menjadi
tidak akurat dan adil. Sehingga sebisa mungkin, bias dari pengukuran dampak program ini
harus diminimalisir.

Bias dapat dihasilkan dari beberapa penyebab, seperti desain penelitian yang secara
sistematis kurang memperhatikan atau melebih-lebihkan dampak yang tidak teramati yang
berlangsung tanpa kedapatan intervensi. Bias yang disebabkan oleh hal seperti ini dapat
diilustrasikan seperti pada gambar 2.1 berikut.

Gambar 2.1 Ilustrasi bias dalam perkiraan efek program

Bias seperti ini merupakan kesulitan tersendiri ketika melakukan penilaian terhadap dampak
program. Hal tersebut menjadi sulit dikarenakan dalam melakukan penilaian kita tidak dapat

3
mengamati bagaimana hasil sampel yang tidak menerima intervensi untuk sampel yang
menerima program. Dalam kata lain, tidak ada instrumen yang mampu merekam hal tersebut
untuk satu populasi yang sama. Oleh sebab itu, diperlukan suatu desain penelitian yang mampu
merekam kedua data tersebut agar dapat diketahui bagaimana perbandingan antar keduanya.
Hal itu juga yang menjadi pertimbangan digunakannya randomized field experiment design
yang telah dibahas pada pertemuan sebelumnya.

Selain itu, bias juga dapat disebabkan dari keadaan sampel atau peserta program itu
sendiri. Misalnya, seperti yang diilustrasikan oleh Rossi,dkk. (2004) dimana dilakukan evaluasi
terhadap dampak program membaca untuk anak-anak dengan menekankan penguasaan
kosakata. Dalam penelitian tersebut, sudah disiapkan instrumen yang valid dan sensitif dalam
perekaman atau penjaringan data. Dengan menggunakan teknik analisis membandingkan
antara hasil sebelum program dan setelah program akan diperoleh besaran efek dari program
tersebut. Dengan menggunakan teknik analisis yang seperti demikian mengakibatkan muncul
asumsi bahwa apabila peserta program tidak mengikuti program tersebut maka penguasaan
kosakata yang dimiliki peserta program diasumsikan stagnan. Padahal dalam kenyataannya,
meskipun peserta program tidak mengikuti program tersebut, penguasaan peserta program
terhadap kosakata tetap akan mengalami perkembangan meskipun tidak semaksimal apabila
peserta program memiliki program tersebut. Adanya tumpang tindih antara keadaan alamiah
dengan efek dari program inilah yang menyebabkan kebiasan. Sehingga, sulit untuk
mengetahui besaran efek program yang sesungguhnya dari program tersebut. Hal tersebut
dapat diilustrasikan seperti pada gambar 2.2 berikut.

Gambar 2.2 Ilustrasi bias dalam mengestimasikan efek program penguasaan kosakata

4
1. Selection Bias
Berdasarkan uraian sebelumnya jelas bahwa dalam melakukan penilaian terhadap
dampak suatu program diperlukan perbandingan antara kelas eksperimen dengan kelas kontrol.
Sebagai syarat dalam melakukan perbandingan antara populasi dalam kelas eksperimen dengan
kelas control, yaitu populasi dari kedua kelas haruslah dalam keadaan setara. Kesetaraan ini
juga yang menjadi dasar atau alasan digunakannya randomized field experiments seperti pada
pembahasan sebelumnya.

Apabila kesetaraan keadaan awal populasi ini tidak diperhitungkan, tentu akan
memberikan dampak kebiasan lainnya. Bias yang dihasilkanpun juga akan mempengaruhi
validitas hasil dari penilaian dampak dari program tersebut. Terutama dalam penilaian dampak
program yang menggunakan desain perbandingan kelompok nonequivalent harus mewaspadai
akan timbulnya bias seperti ini. Bias seperti inilah yang disebut dengan selection bias.

Selection bias muncul dapat disebabkan oleh beberapa hal, seperti (1) adanya unsur
ketidaktepatan dalam pemilihan responden atau sampel. Sebagai contohnya, dalam suatu
program terdapat kelas eksperimen dan kelas kontrol dimana masing-masing kelas diisi oleh
sukarelawan dan non-sukarelawan sehingga apapun hasil yang diperoleh tidak dapat
dibandingkan secara pasti karena efek program yang diterima sampel sukarelawan dengan efek
program yang diterima oleh non-sukarelawan bisa jadi berbeda. (2) adanya factor eksternal
yang berbeda dan tidak dapat dihindari dalam diri suatu populasi sampel, seperti budaya,
ekonomi, karakteristik individu, dan sebagainya, dan (3) hilangnya data dari suatu kelompok
eksperimen atau kontrol sehingga antara kedua kelompok tidak lagi dapat dilakukan
perbandingan (disebut dengan Atrisi). Misalnya, dalam kelompok eksperimen terdapat satu
atau beberapa anggota yang pada awalnya berkenan mengikuti program kemudian di tengah
pelaksanaan program mereka menolak untuk melanjutkan program. Sehingga berakibat
besaran pembanding antara kelas eksperimen dengan kelas kontrol tidak lagi setara. Hal yang
demikian menyebabkan timbulnya atrisi. Namun, terkadang hal tersebut tidak menyebabkan
timbulnya atrisi sebab meski terdapat anggota yang memutuskan kontrak program di tengah
jalan.

Berdasarkan uraian di atas, dapat diketahui bahwa bias dalam penilaian dampak
program tidak hanya dihasilkan sebelum program dimulai melainkan juga dapat dihasilkan saat
maupun setelah program dijalankan. Oleh sebab itu, sebagai seorang evaluator hal ini harus
diperhatikan dengan seksama.

5
2. Sumber Bias Lainnya
Selain berbagai macam jenis bias yang telah disebutkan sebelumnya, masih terdapat
berbagai jenis sumber yang dapat juga memunculkan bias. Jenis-jenis sumber bias lainnya ini,
juga tidak boleh dipandang sebelah mata karena ketika mengabaikan hal tersebut tentu akan
merepotkan evaluator pada saat melakukan analisis. Terlebih lagi terhadap program-program
yang berhubungan dengan permasalahan sosial termasuk dalam dunia pendidikan yang
memiliki potensi memunculkan bias lebih besar.

Menurut Rossi, dkk (2004) alasan yang paling mendasar mengapa program-program
sosial memiliki tingkat kesulitan tersendiri (dalam hal ini berkaitan dengan bias), yaitu
terdapatnya faktor-faktor alamiah atau kebiasaan-kebiasaan yang seringkali mengganggu
dalam penilaian efektivitas program. Misalnya, seperti yang dicontohkan oleh Rossi, dkk
(2004) terdapat program pelatihan keterampilan yang diberikan kepada pemuda harus bersaing
dengan mereka yang mampu memperoleh tingkat keterampilan yang setara meskipun tidak
melalui program yang ada. Jika dihadapkan dengan fakta seperti ini, tentu dapat menimbulkan
pertanyaan apakah program tersebut benar-benar efektif atau tidak.

Oleh sebab itu, dalam sub-sub bab ini perlu dibahas lebih lanjut berkaitan sumber-
sumber lain yang berpotensi menimbulkan bias. Rossi, dkk (2004) menyebutkan bahwa
terdapat tiga jenis sumber lain yang berpotensi menghasilkan bias lainnya. Adapun ketiga jenis
sumber tersebut, sebagai berikut :

a. Tren Sekuler
Tren sekuler merupakan salah satu sumber yang berpotensi menghasilkan bias. Tren
sekuler dapat diartikan sebagai perubahan kekinian yang sedang berkembang di kalangan
masyarakat, daerah, maupun negara (Rossi, dkk., 2004). Misalnya, dalam suatu daerah,
masyarakatnya sedang memiliki tren natalitas sedang mengalami penurunan sehingga
apabila pada periode tersebut diberlakukan program, seperti Keluarga Berencana (KB),
tentu program tersebut terlihat efektif. Padahal keefektifan program tersebut belum dapat
dijamin disebabkan efektivitasnya tertutup oleh bias tren penurunan natalitas.

b. Interfering Events
Sedangkan untuk interfering events memiliki unsur kesamaan dengan tren sekuler.
Perbedaan yang mencolok antara keduanya, yaitu jika dalam tren sekuler kita tidak dapat
mengetahui ataupun memperkirakan kapan tren tersebut berakhir. Sedangkan interfering

6
events merupakan gangguan yang terjadi pada jangka waktu tertentu (jangka pendek).
Misalnya, pemadaman listrik yang mengganggu komunikasi dapat menghambat
pengiriman suplemen makanan sehingga program gizi yang sedang dilaksanakan menjadi
terganggu. Contoh lainnya, seperti program untuk meningkatkan kerjasama suatu
kelompok masyarakat yang dilaksanakan saat terjadi bencana alam akan terlihat efektif,
padahal efektivitas program tersebut bisa saja tertutupi oleh keadaan krisis pada saat itu
juga.

c. Pematangan
Seperti yang telah diuraikan sebelumnya bahwa penilaian dampak harus sering mengatasi
kenyataan bahwa proses pematangan dan perkembangan alami dapat menghasilkan
perubahan besar secara terpisah dari program. Jika perubahan tersebut termasuk dalam
perkiraan efek program, maka perkiraan tersebut akan bias. Misalnya, efektivitas
kampanye untuk meningkatkan minat dalam olahraga di kalangan dewasa muda mungkin
dapat tertutupi oleh penurunan umum dalam minat yang terjadi ketika mereka memasuki
angkatan kerja. Tren maturasi dapat mempengaruhi orang dewasa yang lebih tua juga.
Misalnya, sebuah program untuk meningkatkan praktik kesehatan preventif di kalangan
orang dewasa mungkin tampak tidak efektif karena kesehatan umumnya menurun seiring
bertambahnya usia.

Sekali lagi, berdasarkan uraian yang telah dijabarkan sebulumnya semakin


membuktikan bahwa bias dalam penilaian dampak tidak dapat dipandang sebelah mata karena
segala bentuk bias yang ada tentu akan mempengaruhi hasil dari penilaian dampak suatu
program. Apabila desain penelitian yang digunakan randomized field experiement, tentu segala
bentuk bias yang telah diuraikan sebelumnya dapat terminimalisir karena telah dilakukan
pengacakan di awal sehingga kesetaraan sampel sudah dapat dipastikan dengan mudah. Hanya
tinggal melakukan perawatan sampel pada saat eksperimen dilakukan agar selection bias tidak
muncul. Sedangkan, dalam bahasan kali ini, segala bentuk bias atau sumber yang berpotensi
menghasilkan bias harus benar-benar diperhatikan. Hal tersebut bertujuan agar seorang
evaluator mampu memperoleh desain penelitian yang sesuai dan mampu menjaring informasi
yang valid. Jika mengacu terhadap saran yang diberikan oleh Rossy, dkk, terdapat satu desain
penelitian yang mampu mewujudkan hal tersebut, yaitu Quasi-Experimental Design yang akan
dibahas pada sub bab selanjutnya.

7
B. QUASI-EXPERIMENTAL DESIGN
1. Quasi-Experiments
Desain quasi-experiemental dapat dikatakan bukan merupakan desain penelitian
eksperimen sesungguhnya. Ia hanya mengadopsi beberapa bagian dari penelitian eksperimen.
Hal tersebut disebabkan, desain penelitian ini tidak mampu mengontrol sumber-sumber yang
berpotensi menimbulkan bias seutuhnya. Hal ini juga sesuai dengan pendapat Tuckman (1972)
bahwa desain quasi-experimental merupakan bagian dari desain eksperimen sesungguhnya
dimana mereka hanya mampu mengontrol beberapa sumber-sumber dari invaliditas.

Rossi, dkk (2004) dalam pandangannya berpendapat bahwa quasi-experimental


design ini sangat berguna apabila ketika dalam mendeskripsikan penilaian dampak program
terdapat pengacakan (randomized) terhadap kelas eksperimen dan kelas kontrol. Dalam
pandangan lain, Tuckman (1972) juga berpandangan serupa bahwa

“quasi-experimental design exist for situations in which complete experimental


control is difficult or impossible”.
Lanjutnya, kesulitan tersebut juga terdapat dalam penelitian yang berhubungan dengan
Pendidikan. Bahwasannya dalam dunia pendidikan terkadang tidak memungkinkan untuk
dilakukan pengacakan terhadap suatu sampel karena kondisi di lapangan memiliki batasan-
batasan yang tidak memungkinkannya dilakukan hal tersebut, seperti pemilihan subjek atau
manipulasi kondisi. Misalnya, penelitian yang melibatkan warga sekolah khususnya siswa.
Pada kenyataannya, hampir di semua sekolah memiliki sistem yang baku (kecuali sekolah yang
memang dikhususkan sebagai laboratorium) sehingga pembagian, pemilahan, maupun
pengacakan tidak memungkinkan dilakukan oleh peneliti karena hal tersebut nantinya akan
berdampak terhadap sistem yang sudah ada. Oleh sebab itu, desain penelitian ini sangat
bermanfaat ketika menjumpai situasi yang seperti demikian.

2. Pengontrolan Kelompok
Berdasarkan uraian-uraian yang telah dijabarkan sebelumnya bahwa dalam
melakukan evaluasi (dalam bahasan ini berkaitan dengan penilaian dampak program) harus
terbebaskan dari segala macam bentuk bias. Dengan batasan-batasan yang ada, Picardi dan
Masick (2014) menyarankan dua solusi untuk mengatasi sumber-sumber yang berpotensi
menghasilkan bias :

8
a. Holidng Variables Constant
Picardi dan Masick (2014) menjelaskan bahwa dalam menjaga variabel agar tetap
konstan, seorang peneliti harus memiliki kemampuan untuk mengurangi penjelasan-
penjelasan alternative (penjelasan yang berpotensi menghasilkan bias). Misalnya, Hahn,
dkk (2011), Oostrom, dkk (2012), dan Peterson & Luthans (2006) menguraikan bahwa
perbedaan individu antar grup dapat ditangani dengan melakukan penilaian demografis
variabel dan pengalaman sebelumnya yang kemudian ditentukan melalui hasil analisis
statistik.

b. Matched Design
Rossi,dkk (2004) berpendapat bahwa matched design merupakan salah satu prosedur
yang dapat digunakan dalam membentuk kelas kontrol dengan cara membangun
kesamaan unsur dengan kelas eksperimen. Sebagai contoh, Latham, Ford, dan Tzabbar
(2012) memanfaatkan interrupted-time series quasi-experimental dengan pelanggan
rahasia mengukur rating kinerja dari pelayan di tiga restoran yang berbeda. Adapun
prosedur dalam melakukan penilaiannya, pelanggan rahasia tersebut disesuaikan
keadaannya berdasarkan demografis dari pelanggan restoran tersebut seperti usia,
pendidikan, dining preferences¸ dan penghasilannya. Dengan menyesuaikan pelanggan
rahasia tersebut dapat menambah validitas dari hasil studi yang diperoleh karena
pelanggan rahasia tersebut telah didesain agar dapat merefleksikan tipe dari pelanggan
restoran tersebut (Picardi dan Masick, 2014).

Dengan memanfaatkan kedua solusi yang ditawarkan oleh Picardi dan Masick, tentu dapat
semakin meminimalisir bias-bias yang nantinya dapat dihasilkan dari kelas kontrol. Oleh sebab
itu, desain penelitian quasi-experiment merupakan desain alternative yang dapat dijadikan
sebagai pilihan ketika dalam melakukan penilaian dampak program, tidak dimungkinkan untuk
menggunakan randomized field experiment.

3. Desain Quasi-Experimental
Seperti yang telah diuraikan sebelumnya bahwa desain quasi-experimental
merupakan bagian dari desain eksperimen yang sesungguhnya dimana desain tersebut hadir
untuk situasi disaat terdapat kesulitan atau tidak memungkinkan dalam melakukan
pengontrolan. Quasi-experimental sendiri dapat digolongkan ke dalam studi reflexsive

9
controls. Hal tersebut dikarenakan inti dari quasi-experimental design adalah bagaimana cara
membandingkan dampak program untuk sasaran yang sulit atau tidak memungkinkan
dilakukan pengontrolan, sehingga cara yang memungkinkan untuk digunakan, yaitu seperti
cermin yang mampu memantulkan bayangan dengan sempurna. Dalam studi reflexsive
controls, perkiraan efek program sepenuhnya berasal dari informasi sasaran sebanyak dua kali
atau lebih penggalian dan setidaknya satu diantaranya dilakukan sebelum pelaksanaan
program. Ketika menggunakan reflexsive control, hal yang harus dilakukan adalah
mengasumsikan bahwa sasaran tidak akan mengalami perubahan yang disebabkan oleh selain
intervensi. Desain quasi-experimental sendiri memiliki beberapa bentuk atau pola desain yang
dapat diterapkan. Rossi, dkk (2004) menjelaskan bahwa terdapat beberapa desain kuasi
eksperimental yang dapat digunakan, yaitu time-series design dan simple pre-post studies.

a. Time-Series Design
Seperti yang telah dibahas sebelumnya, terkadang kelompok pembanding atau kelas
kontrol tidak dapat dimasukkan ke dalam eksperimen. Misalnya, ketika terjadi perubahan
sistem di sekolah secara menyeluruh, maka akan sulit menemukan sekolah kedua yang
(1) sebanding dengan sekolah pertama, (2) belum menerima intervensi, dan (3) bersedia
diajak bekerjasama. Perubahan-perubahan seperti demikian terkadang yang menyulitkan
peneliti dalam mengatur kelas kontrol. Dalam menyikapi keadaan sulit yang demikian,
Tuckman (1972) memberikan solusi menggunakan time-series design, seperti pada
diagram berikut :
O1O2O3O4 X O5O6O7O8

Time-series design ini sedikit berbeda dengan one group pretest-posstest design. Dalam
one group pretest-posstest design, peneliti hanya memberikan tes sekali sebelum dan
sesudah perlakuan diberikan (dalam bahasan kali ini perlakuan merupakan program).
Sedangkan pada desain ini, pemberian tes sebelum dan perlakuan tidak hanya diberikan
satu kali melainkan dilakukan beberapa kali sehingga desain ini mampu memperkirakan
hal-hal yang mampu mempengaruhi validitas hasil yang diperoleh nantinya. Adapun
contoh dari time-series design seperti pada gambar 2.3 berikut

10
Gambar 2.3 Contoh empat jenis penelitian yang menggunakan time-series design.
(sumber: Tuckman, Bruce W. 1972. Conducting Educational Reseach)

b. Simple Pre-Post Studies


Simple pre-post studies merupakan salah satu pengukuran dampak dalam satu kelompok
yang sama yang dilaksanakan sebelum dan sesudah mengikuti program dalam kurun
waktu yang cukup lama untuk memperoleh efek yang diharapkan. Desain seperti ini,
terlihat sederhana tetapi cukup efektif mengingat sasaran yang dituju, yaitu dampak dari
suatu program. Akan tetapi, desain ini memiliki satu kekurangan, yaitu kurang mampu
dalam memperkirakan efek bias dari pematangan (maturation). Misalnya, sepeti yang
dicontohkan dalam Rossi, dkk (2004) terdapat seorang evaluator yang berkeinginan
untuk melakukan penilaian terhadap efek medicare dengan membandingkan status
kesehatan seseorang sebelum memunihi persyaratan dengan keadaan mereka setelah
mengikuti program setelah beberapa tahun. Dari hal tersebut tampak jelas terdapat bias
(dari sumber maturation) yang dapat mengganggu validitas hasil penilaian. Karena efek
penuaan pada umumnya mengarah ke kondisi kesehatan yang semakin memburuk
sehingga grafik perkembangan akan mengalami penurunan. Perubahan seperti itulah
yang menyebabkan desain ini kurang sesuai apabila digunakan untuk penilaian dalam
jangka waktu panjang, sehingga lebih disarankan untuk evaluasi dalamjangka waktu yang
relative lebih pendek. Jika evaluasi dilakukan dalam jangka waktu yang relatif lebih
panjang, disarankan menggunakan time-series design yang telah diuraikan sebelumnya.
Adapun ilustrasi dari simple pre-post design ini dapat divisualisasikan, seperti berikut :
O1 X _____O2

11
BAB III
BAB III: PENUTUP
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Berdasarkan uraian yang telah dijabarkan pada bab 2, dapat disimpulkan bahwa
desain quasi-experimental merupakan bagian dari desain eksperimen sesungguhnya dimana
mereka hanya mampu mengontrol beberapa sumber-sumber dari invaliditas. Adapun hal utama
yang harus diperhatikan dalam desain quasi-experimental, yaitu perkiraan sumber yang dapat
menimbulkan efek bias terhadap dampak program dan bagaimana pengontrolan sumber
tersebut yang selanjutnya diwujudkan dalam bentuk desain quasi-experimentalyang seperti
apa.

B. SARAN
Adapun saran yang dapat diberikan oleh penulis, yaitu perlu dilakukannya pengkajian
lebih lanjut yang berkaitan dengan desain-desain quasi-experimental lain yang memungkinkan
bisa digunakan dalam melakukan penilaian dampak program. Sehingga, semakin banyak
referensi desain quasi-experimental yang dapat digunakan atau dijadikan sebagai pilihan dalam
melakukan penilaian dampak program.

12
DAFTAR PUSTAKA

Picardi, Carrie A., & Masick, Kevin D,. 2014. Research Methods : Designing and Conducting

Research With a Real-World Focus. Thousand Oaks, California : SAGE

Publication, Inc.

Rossi, Peter H., et all. 2004. Evaluation A Systematic Approach 7th Edition. Thousand Oaks,

California : SAGE Publication, Inc.

Tuckman, Bruce W,. 1972. Conducting Educational Research. New York : Harcourt Brace

Jovanovich, Inc.

13