Anda di halaman 1dari 34

1.

Anatomi

1.1 Anatomi Oris

1.2 Anatomi Esophagus

1.3 Anatomi Gaster

1.4 Anatomi Duodenum

1.5 Anatomi Pankreas

1.6 Anatomi Hepar

1.7 Anatomi Vesica Felea

2. Histologi

2.1. Histologi Cavum Oris

2.1.1 Bibir

2.1.2 Papila

2.1.3 Lingua

2.2. Histologi Tubulus Digestive Tract

2.2.1 Esophagus

2.2.2 Lambung

3. Fisiologi

3.1 Fisiologi Oris

3.2 Fisiologi Esophagus

3.3 Fisiologi Gaster

3.4 Fisiologi Duodenum

3.5 Fisiologi Pankreas


3.6 Fisiologi Hepar

3.7 Fisiologi Vesica Felea

4. Metabolisme Karbohidrat

4.1. Glukoneogenesis

4.2. HMP Shunt

5. Flora Normal

5.1. Flora Normal Pada Oris, Esophagus, Gaster.

5.2. Flora Normal Pada Duodenum, Pankreas, Hepar, Vesica Felea.

6. Patofisiologi Penyakit

6.1 Mual

6.2 Muntah

6.3 Hurtburn

6.4 Hepatitis

6.5 Kolelitiasis

6.6 Kolesistitis

6.7 Pankreatitis

6.8 Gastritis

6.9 Keracunan Makanan

6.10 Alergi Makanan

6.11 Sirosis

6.12 Ikterik
6.13 Kolik Bilier
1. Anatomi

1.1 Anatomi Oris

Cavitas oris berada di inferior dari cavitas nasi . Strukturnya mempunyai atap
dan dasar, dan dinding lateral, yang membuka ke regiones faciales melalui rima
oris/fissura oralis, dan kontinyu dengan cavitas pharyngis dan isthmus
faucium/isthmus oropharyngeum. Atap cavitas oris terdiri dari palatum durum
dan palatum molle. Dasarnya dibentuk terutama oleh jaringan lunak, termasuk
diaphragma musculorum dan lingua. Dinding lateralnya (pipei) terdiri dari otot
dan menyatu di anterior dengan labii yang mengelilingi rima oris/fissura oralis
(celah anterior cavitas oris). Apertura posterior cavitas oris adalah isthmus
faucium/ oropharyngeum/cavum oris propriums, yang membuka ke dalam pars
oralis pharyngis. Cavitas oris dipisahkan menjadi 2 daerah oleh arcus dentalis
superior dan arcus dentalis inferior yang terdiri dari dentes dan tulang alveolares
yang menyangganya sebagai berikut.
 Vestibulum oris bagian luar, yang berbentuk tapal kudaberada di antara arcus
dentalis dan permukaan profundus buccae/pipi dan labii-rima oris membuka
ke dalamnya dan dapat dibuka dan ditutup oleh musculi ekspresi wajah, dan
oleh pergerakan rahang bawah.
 Cavitas oris propria/cavium oris proprium di dalam tertutup oleh arcus
dentalis.
Source : (Richard L Drake, 2001)
Cavitas oris memiliki beberapa fungsi yaitu:
a) Cavitas oris merupakan tempat masuk systema digestorium yang terlibat
dalam proses awal makanan, yang dibantu oleh sekresi dari glandulae
salivariae;
b) Cavitas oris memanipulasi suara yang dihasilkan larynx dan sebagai hasilnya
adalah berbicara;
c) Cavitas oris dapat digunakan untuk bernafas karena cavitas oris membuka
pada pharynx, yang merupakan jalur bersama untuk makanan dan air.
(Richard L Drake, 2001)
1.1.1 Dinding- dinding
Dinding-dinding cavitas oris dibentuk oleh buccae/pipi. Tiap pipi terdiri
dari fascia dan selapis otot rangka terapit di antara kulit di luar dan tunica

mucosa oris di dalam. Lapisan tipis musculi di dalam buccae terutama adalah
musculus buccinator, yang merupakan sebuah musculus ekspresi wajah.
(Richard L Drake, 2001)

Source : (Richard L Drake, 2001)

1.1.2 Dasar
Dasar cavitas oris propria terutama dibentuk oleh tiga struktur:

 sebuah diaphragma musculorum, yang mengisi celah berbentuk U di


antara sisi kiri dan kanan corpus mandibulae dan dibentuk oleh sepasang
musculi mylohyoideus;
 dua musculus seperti pita diatas diaphragma, yang berjalan dari
mandibula di depan menuju tulang hyoideum di belakang;
 lingua, yang berada di superior dari musculus geniohyoideus. Juga berada
di dasar cavitas oris propria adalah glandulae salivariae dan ductusnya.
Yang terbesar dari glandulae tersebut, pada tiap sisi, adalah glandula
sublingualis dan pars oralis glandula submandibularis.
Source : (Richard L Drake, 2001)

1.1.3 Lingua

Lingua merupakan sebuah struktur musculare yang membentuk bagian


dasar cavitas oris dan bagian dinding anterior oropharynx. Bagian anteriornya
(pars presulcalis) berada dalam cavitas oris dan berbentuk seperti segitiga dengan
apex tumpul yang disebut apex linguae. Apexnya mengarah ke anterior dan
berada tepat di belakang dentes incisivi. radix linguae melekat pada
tuthyreoglossusla dan hyoideum. Dorsum linguae pars presulcalis/facies superior
oralis atau 2/3 anterior lingua mengarah dalam bidang horizontalis. Dorsum
lingua pars postsulcalis/facies pharyngealis atau 1/3 posterior lingua melengkung
ke inferior dan menjadi lebih mengarah dalam bidang verticalis.

Pars presulcalis dan postsulcalis dor sum linguae dipisahkan oleh bentuk V
dari sulcus teminalis. Sulcus terminalis tersebut membentuk margo inferior
isthmus faucium di antara cavitas oris dan cavitas pharyngis. Pada apex sulcus
yang berbentuk V terdapat sebuah cekungan kecil (foramen caecum linguae),
yang menandai tempat pada saat embryo di mana epithelium menginvaginasi
untuk membentuk glandula thyroidea. Pada beberapa orang sebuah ductus
thyreoglossus tetap ada dan menghubungkan foramen caecum linguae dengan
glandula thyroidea pada regio cervicalis. (Richard L Drake, 2001)
Dorsum linguae/facies superior atau pars oralis lingua tertutup oleh ratusan
papillae linguales yaitu:

 Papillae filiformes merupakan proyeksi-proyeksi kecil mucosa berbentuk


kerucut yang berakhir dalam satu atau lebih titik-titik.
 Papillae fungiformes berbentuk lebih bulat dan lebih besar darim pada
papillae filiformes, dan cenderung terkonsentrasi di sepanjang margo linguae.
 Papillae terbesar adalah papillae vallatae, yang merupakan papillae silindris
dengan ujung tumpul yang menginvaginasi permukaan lingua hanya ada
sekitar 8-12 papillae vallatae dalam sebuah garis berbentuk V tepat di anterior
dari sulcus terminalis lingua.
 Papillae foliatae merupakan lipatan-lipatan mucosa segaris pada sisi-sisi
lingua di dekat sulcus terminalis lingua.
Mucosa yang menutup fades pharyngealis linguae tidak teratur dalam
konturnya karena banyaknya noduli-noduli kecil jaringan lymphoid di dalam
submucosa. Noduli tersebut secara kolektif disebut tonsilla lingualis. Tidak

terdapat papillae pada facies pharyngealis.

Source: (Netter, 1989)

Lingua selengkapnya dibagi menjadi menjadi separuh kiri dan kanan oleh
septum sagittalis median yang dibentuk oleh jaringan ikat. Artinya semua musculi
linguae berpasangan. Terdapat musculi linguae intrinsik dan ekstrinsik. Musculi
intrinsik linguae berorigo dan berinsertio di dalam jaringan lingua. Musculi
tersebut dibagi menjadi musculi longitudinalis superior, longitudinalis inferior,
transversus linguae, dan verticalis linguae, dan musculi tersebut dapat mengubah
bentuk lingua. Musculi ekstrinsik lingua berorigo pada struktur-struktur di luar
lingua dan berinsertio ke dalam lingua. Terdapat 4 musculi ekstrinsik utama pada
tiap sisi, musculi genioglossus, hyoglossus, styloglossus, dan palatoglossus.
Musculi tersebut memprotrusi, meretraksi, mendeespresi, dan mengelevasi lingua.
Kecuali palatoglossus, yang dipersarafi oleh nervus vagus [X], semua musculi
lingua dipersarafi oleh nervus hypoglossus [XII]. (Richard L Drake, 2001)

Arteria utama pada lingua adalah arteria lingualis. Pada tiap sisi, arteria
lingualis berasal dari arteria carotis externa pada regio cervicalis yang berdekatan
dengan ujung cornu majus tulang hyoideum. Arteria tersebut membentuk
lengkungan ke atas dan kemudian membelok ke bawah dan ke depan untuk
berjalan di profundus dari musculus hyoglossus, dan menyertai musculus tersebut
melalui apertura yang dibentuk oleh tepi-tepi musculi mylohyoideus,
constrictores pharyngis superior, dan medius, dan memasuki dasar cavitas oris.
Arteria lingualis kemudian berjalan ke depan dalam bidang di antara musculi
hyoglossus dan genioglossus menuju apex linguae. Selain lingua, arteria lingualis
menyuplai glandula sublingualis, gingivae, daesn tunica mucosa oris pada dasar
cavitas oris. (Richard L Drake, 2001)
Lingua dialiri oleh venae dorsales linguae dan vena profunda linguae. Vena
profunda linguae dapat terlihat melalui mucosa pada facies inferior linguae.
Walaupun vena tersebut menyertai arteria lingualis pada bagian anterior lingua,
vena tersebut akan terpisah dari arterianya di posterior oleh musculus hyoglossus.
Pada tiap sisi, vena profunda linguae berjalan bersama dengan nervus
hypoglossus [XII] pada permukaan luar musculus hyoglossus dan berjalan keluar
dari dasar cavitas oris melalui apertura yang dibentuk oleh tepi-tepi musculi
mylohyoideus, constrictors pharyngis superior dan medius. Vena tersebut
bermuara ke dalam vena jugularis interna pada regio cervicalis. Venae dorsales
linguae mengikuti arteria lingualis di antara musculi hyoglossus dan genioglossus
dan, seperti vena profunda linguae, bermuara ke dalam vena jugularis interna
pada regio cervicalis.

Lingua diinervasi oleh beberapa nervus yaitu :

a) Nervus glossophaeryngeus [IX]

Sensasi pengecapan (afferentes khusus/special afferents [SA]) dan


sensasi umum yang berasal dari pars pharyngealis lingua dibawa oleh
nervus glossopharyngeus [IX]. Nervus glossopharyngeus [IX] keluar dari
cranium melalui foramen jugulare dan berjalan turun di sepanjang
permukaan posterior musculus stylopharyngeus. Nervus tersebut berjalan di
sekeliling permukaan lateral stylopharyngeus dan kemudian menyelinap
melalui aspectus posterior celah di antara musculi constrictores pharyngis
superior, medius, dan mylohyoideus. Nervus tersebut kemudian berjalan ke
depan pada dinding cavitas oropharyngis tepat di bawah polus inferior
tonsilla palatina dan masuk pars pharyngealis linguae di profundus dari
musculi styloglossus dan hyoglossus. Lebih lanjut, pengecapan dan sensasi
umum dari 1/3 posterior lingua, cabang-cabangnya menyelinap di anterior
dari sulcus terminalis lingua untuk membawa sensasi kecap (afferentes
khusus/ special afferents/SA) dan sensasi umum dari papillae vallatae.

b) Nervus lingualis
Persarafan sensasi umum dari 2/3 anterior atau pars
presulcalisdorsum linguae dibawa oleh nervus lingualis, yang merupakan
cabang utama nervus mandibularis [V3]. Nervus ini berawal di dalam fossa
infratemporalis dan berjalan ke anterior ke dalam dasar cavitas oris dengan
berjalan melalui celah di antara musculi mylohyoideus, constrictor
pharyngis superior, dan constrictor pharyngis medius. Nervus lingualis
kemudian berlanjut ke anteromedial melintasi dasar cavitas oris,
melengkung di bawah ductus submandibularis, dan berjalan naik menuju ke
dalam lingua pada permukaan luar dan superior dari musculus hyoglossus.
Selain membawa sensasi umum dari pars presulcalis dorsum linguae/pars
oralis lingua, nervus lingualis juga membawa sensasi umum dari mucosa
pada dasar cavitas oris dan gingivae yang berhubungan dengan dentes
inferior. Nervus lingualis juga membawa serabut-serabut parasympathicum
dan serabut pengecapan dari pars presulcalis dorsum linguae yang
merupakan bagian nervus facialis [VII].

c) Nervus facialis (VII)


Pengecapan (affrentes khusus/ special afferents) dari pars presulcalis
dorsum linguae dibawa menuju SSP oleh nervus facialis [VII].
Serabut-serabut sensorium khusus (afferentes khusus/ special afferents)
nervus facialis [VII] keluar dari lingua dan cavitas oris sebagai bagian
nervus lingualis. Serabut-serabut tersebut kemudian masuk nervus chorda
tympani, yang merupakan sebuah cabang nervus facialis [VII] yang
bergabung dengan nervus lingualis di dalam fossa infratemporalis.

d) Nervus hypoglossus (XII)


Semua musculi lingua dipersarafi oleh nervus hypoglossus [XII] kecuali
untuk musculus palatoglossus, yang dipersarafi oleh nervus vagus [X].
Nervus hypoglossus [XII] keluar dari cranium melalui canalis hypoglossi
dan berjalan turun hampir verticalis pada region cervicalis menuju setinggi
tepat di bawah angulus mandibulae. Di sini nervus tersebut melengkung
tajam ke depan di sekitar rami sternocleidomastoidei arteria occipitalis,
menyilang arteria carotis externa, dan berlanjut ke depan, menyilang
lengkungan arteria lingualis, untuk mencapai permukaan luar 1/3 bawah
musculus hyoglossus. Nervus hypoglossus [XII] mengikuti musculus
hyoglossus melalui celah di antara musculi constrictor pharyngis superior,
constrictor pharyngis medius, dan mylohyoideus untuk mencapai lingua.
Pada regio cervicalis superior, sebuah cabang ramus anterior Cl bergabung
dengan nervus hypoglossus [XII]. Hampir semua serabut-serabut Cl keluar
dari nervus hypoglosseus [XII] sebagai radix superior ansa cervicalis. Di
dekat tepi posterior musculus hyoglossus, serabut-serabut yang tersisa
keluar dari nervus hypoglossus [XII] dan membentuk 2 nervi:
 ramus thyrohyoideus, yang berada pada regiones ecervicales untuk
mempersarafi musculus thyrohyoideus;
 ramus geniohyoideus, yang berjalan ke dalam dasar cavitas oris
untuk mempersarafi geniohyoideus. (Richard L Drake, 2001)

1.1.4 Atap

Atap cavitas oris terdiri dari palatum, Langit-langit (Palatum) membentuk


atap Cavitas oris dan dasar Cavitas nasi. Struktur ini memisahkan Cavitas oris
dan nasi. Yang mempunyai 2 bagian palatum durum di anterior dan palatum
molle di posterior.

a. Palatum durum
Palatum durum memisahkan cavitas oris dari cavitas nasi. Struktur
tersebut terdiri dari lempeng tulang yang tertutup mucosa di atas dan di
bawah:

 Di atas, palatum durum ditutup oleh mucosa respiratorium dan


membentuk dasar cavitas nasi.
 Di bawah, palatum durum ditutup oleh selapis mucosa oris
yangmelekat erat dan membentuk sebagian besar atap cavitas oris.

Processus palatinus maxilla membentuk 3/4 anterior palatum durum


Lamina horizontalis tulang palatinum membentuk ¼ bagian posterior. Di
dalam cavitas oris, arcus alveolaris superior membatasi palatum durum di
anterior dan lateral. Di posterior, palatum durum kontinyu dengan palatum
molle. Mucosa palatum durum pada cavitas oris mempunyai sejumlah
plicae palatinae transversae (rugae palatinae) dan sebuah penonjolan
longitudinalis di median (raphe palati), yang berakhir di anterior dalam
sebuah peninggian oval kecil (papilla incisiva). Papilla incisiva berada di
atas fossa incisiva yang terbentuk di antara lamina horizontalis maxilla
tepat di belakang dentes incisivi.

b. Palatum Molle

Palatum molle kontinyu ke posterior dari palatum durum dan bertindak


sebagai sebuah katup yang dapat:

 Mendepresi untuk membantu menutup isthmus faucium;


 Mengelevasi untuk memisahkan nasopharynx dari oropharynx.

Palatum molle dibentuk dan digerakkan oleh 4 musculi dan ditutup oleh
mucosa yang kontinyu dengan mucosa yang membatasi pharynx dan cavitas
oris dan cavitas nasi. Proyeksi musculare kecil yang berbentuk air mata yang
menmusculus palatum tepi bebas posterior palatum molle disebut uvula
palatina.
1.1.5 Dentes dan Gingivae

Dentes melekat pada kantung-kantung (alveoli dentales) pada dua


peninggian lengkungan tulang pada mandibula di bawah dan maxilla di atas
(arcus alveolaris). Jika dentes disingkirkan, tulang alveolaris akan diresorbsi

dan arcus alveolaris menghilang. Gingivae (gusi) merupakan daerah khusus


mucosa oris yang mengelilingi dentes dan menutup daerah yang berdekatan
pada tulang alveolaris. Jenis-jenis dentes dibedakan eberdasarkan dasar
morfologi, posisi, dan fungsi. Pada dewasa, terdapat 32 dentes, 16 pada
rahang atas dan 16 pada rahang bawah. Pada tiap sisi baik dalam arcus
maxillaris dan arcus mandibularis terdapat 2 dentes incisivi, 1 dentes canini, 2
dentes premolares, dan 3 dentes molares.

• Dentes incisivi merupakan "gigi seri" dan mempunyai 1 radix dentis


dan sebuah corona dentis berbentuk pahat, untuk "memotong".

• Dentes canini terletak posterior dari dentes incisivi, adalah dentes


terpanjang, mempunyai sebuah corona dentis decidua 1 apex cus/
susupidis, dan berfungsi untuk "menangkap."

• Dentes premolares (bicuspidus) mempunyai sebuah corona dentis


dengan 2 apex cuspidis, 1 pada facies vestibuldecidua buccae (pipi)
dentes dan yang lain pada facies lingualis/sisi lingualis (lidah) atau
palatal (palatdeciduaecara umum mempunyia 1 radix dentis (tapi pada
premolares superior pertama di samping canini mungkin memiliki 2),
dan "untuk mengunyah."
• Dentes molares terletak di belakang dari dentes premdeci dua yang
mempunyai 3 radix dan corona dentis dengan 3 atau 5 cuspiddis, dan
"untuk mengunyah." (Richard L Drake, 2001)

Sumber :

1. Netter, Frank H. Atlas Of Human Anatomy 25th Edition. Jakarta: EGC, 2014.

2. Richard L Drake; Wayne Vogl; Adam W M Mitchell. 2014. Gray’s Anatomy:


Anatomy of the Human Body. Elsevier; 2014

Oleh : Hafsah Labiba ( 172010101005) dan Farah Fadhilah ( 172010101088)

1.2 Anatomi Esophagus

1.3 Anatomi Gaster

1.4 Anatomi Duodenum

1.5 Anatomi Pankreas

1.6 Anatomi Hepar

1.7 Anatomi Vesica Felea

2. Histologi

2.1. Histologi Cavum Oris


2.1.4 Bibir

Bibir merupakan bentukan yang dilapisi oleh epidermis tipis (11) yang terdiri
dari epitel squamosa berlapis dengan sel sel permukaan yang terkelupas
( deskuamasi ) (10). Pada bibir terdapat beberapa kelenjar, diantaranya :

 Kelenjar sebasea (12)

 Kelenjar Keringat (16)

 Kelenjar Labial ( 9, 18 ) yang menghasilkan mukus untuk melembabkan


mukosa mulut.

Selain itu pada bibir juga terdapat otot otot, diantaranya :

 Otot erektor pili ( 3, 13)

 Otot polos yang melekat pada folikel rambut ( 4, 15)

 Otot lurik berupa m. orbicularis Oris (5, 17) pada bagian tengah bibir.

Pembuluh darah terletak dekat dengan permukaan bibir sehingga bibir


berwarna merah. Selain itu pada permukaan luarnya mengandung folikel
rambut. Di sebelah dalam batas bebas bibir, lapisan luar berubah menjadi epitel
berlapis gepeng tanpa lapisan tanduk yang lebih tebal.
2.1.5 Papila

a. Papila Filiformis

Papila filiformis (1) merupakan papila terbanyak dan terkecil pada permukaan
lidah. Papila ini berbentuk kerucut dan lancip. Selain itu papila ini juga menutupi
seluruh permukaan dorsal lidah.

b. Papila Fungiformis

Papila fungiformis (2) merupakan papila yang lebih besar dari papila filiformis.
Papila ini berbentuk lebih besar, tinggi dan lebar seperti jamur. Terdapat banyak
dibagian anterior lidah.

c. Papila Sirkumvalata
Papila ini jauh lebih besar daripada papila fungiformis, dan berjumlah 8 sampai
12 buah pada posterior lidah. Papila ini memiliki ciri khas yaitu dikelilingi oleh sulkus
dalam (5) . Pada papila ini juga terdapat kuncup kecap (4). Terdapat pula kelenjar
serosa ( Von Ebner) (11).

d. Papila Foliate

Papila ini berkembang baik pada hewan tertentu, namun kurang berkembang pada
manusia.

2.1.6 Lingua
Permukaan dorsal lidah kasar, ditandai oleh banyaknya tonjolan
mukosa yang disebut papila ( 1, 2, 6 ). Papila yang terdapat pada lidah meliputi
Papila filiformis, papila fungiformis, papila sirkumvalata, dan papila foliatae.
Sebaliknya mukosa permukaan ventral lebih licin. Diseparuh bawah lidah dan
dikelilingi oleh serat otot rangka ( 3, 7 ) yang penyebaran dan orientasinta acak
sehingga memungkinkan lidah bergerak bebas selama menguynyah, menelan dan
berbicara. selain itu terdapat kelenjar lingualis anterior ( 10 ).

Sumber : Atlas Histologi defiore

2.2. Histologi Tubulus Digestive Tract

2.2.3 Esophagus

2.2.4 Lambung

3. Fisiologi

3.8 Fisiologi Oris

Pintu masuk ke saluran cerna adalah melalui mulut atau rongga oral.
Lubang masuk dibentuk oleh bibir yang mengandung otot dan membantu
mengambil, menuntun, dan menampung makanan di mulut. Langit-langit
(palatum) yang membentuk atap lengkung rongga mulut, memisahkan mulut dari
saluran hidung. Keberadaan struktur ini memungkinkan bernapas dan mengunyah
atau menghisap berlangsung secara bersamaan. Di belakang tenggarok
menggantung pada palatum suatu tonjolan, uvula, yang berperan penting dalam
menutup saluran hidung sewaktu menelan. (Uvula adalah struktur yang terangkat
ketika Anda mengucapkan "ahh" sehingga dokter dapat melihat tenggorok Anda
dengan lebih jelas.)
Lidah, yang membentuk dasar rongga mulut, terdiri dari otot rangka yang
dikontrol secara volunter. Gerakan lidah penting dalam menuntun makanan di
dalam mulut sewaktu mengunyah dan menelan serta berperan penting dalam
berbicara. Selain itu, kuntum kecap (taste buds) terletak di lidah. Langkah
pertama dalam proses pencernaan adalah mastikasi atau mengunyah, yaitu
motilitas mulut yang melibatkan pengirisan, perobekan, penggilingan, dan
pencampuran makanan oleh gigi. Gigi tertanam kuat di dan menonjol dari tulang
rahang. Bagian gigi yang terlihat dilapisi oleh email, struktur paling keras di
tubuh. Email terbentuk sebelum gigi tumbuh oleh sel-sel khusus yang lenyap
sewaktu gigi muncul. Gigi atas dan bawah biasanya pas satu sama lain ketika
rahang menutup. Oklusi ini memungkinkan makanan digiling dan dihancurkan di
antara permukaan gigi.
Fungsi mengunyah adalah (1) untuk menggiling dan memecahkan makanan
menjadi potongan-patongan yang lebih kecil sehingga makanan mudah ditelan
dan untuk meningkatkan luas permukaan makanan yang akan terkena enzim, (2)
untuk mencampur makanan dengan liur, dan (3) untuk merangsang kuntum kecap.
Fungsi yang terakhir tidak saja menghasilkan rasa nikmat kecap yang subjektif
tetapi juga, melalui mekanisme umpan maju, secara refleks meningkatkan sekresi
liur, lambung, pankreas, dan empedu untuk persiapan menvambut kedatangan
makanan. Tindakan mengunyah dapat volunter, tetapi sebagian besar mengunyah
selama makan adalah refleks ritmik yang dihasilkan oleh pengaktifan otot rangka
rahang, bibir, pipi, dan lidah sebagai respons terhadap tekanan makanan pada
jaringan mulut.
Liur (saliva), sekresi yang berkaitan dengan mulut, terutama dihasilkan
oleh tiga pasang kelenjar liur utama yang terletak di luar rongga mulut dan
mengeluarkan liur melalui duktus pendek ke dalam mulut. Liur mengandung
99,5% H2O dan 0,5% elektrolit dan protein. Konsentrasi NaCI (garam) dalam liur
hanya sepertujuh konsentrasinya di plasma, yang penting dalam mempersepsikan
rasa asin. Demikian juga, diskriminasi rasa manis ditingkatkan oleh tidak adanya
glukosa di liur. Protein liur yang terpenting adalah amilase, mukus, dan lisozim.
Pratein-protein ini berperan dalam fungsi saliva sebagai berikut:
1) Liur memulai pencernaan karbohidrat di mulut melalui kerja amilase liur.
Produk-produk digesti mencakup maltosa, yaitu suatu disakarida yang terdiri
dari dua molekul glukosa dan α-limit dekstrin, yaitu polisakarida rantai
cabang sebagai hasil dari pencernaan amilopektin
2) Liur mempermudah proses menelan dengan membasahi partikel makanan
sehingga partikel-partikel tersebut menyatu, serta menghasilkan pelumasan
oleh adanya mukus, yang kental dan Iicin
3) Liur memiliki silat antibakteri melalui efek empat kali lipat pertama, dengan
lisozim, suatu enzim yang melisiskan, atau menghancurkan, bakteri tertentu
dengan merusak dinding sel; kedua, dengan glikoprotein pengikat yang
mengikat antibodi IgA; ketiga, oleh laktoferin yang mengikat erat besi yang
diperlukan untuk multiplikasi bakteri; dan keempat, dengan membilas bahan
yang mungkin berfungsi sebagai sumber makanan untuk bakteri
4) Liur berfungsi sebagai bahan pelarut molekul yang merangsang kuntum
kecap. Hanya molekul dalam larutan yang dapat bereaksi dengan reseptor
kuntum kecap. Anda dapat membuktikannya sendiri: Keringkan lidah Anda
dan kemudian teteskan gula di atasanya. Anda tidak merasakan gula tersebut
hingga gula terbasahi. Aliran saliva juga membilas partikel-partikel makanan
di kuntum kecap sehingga Anda dapat mengecap gigitan makanan
selanjutnya.
5) Liur membantu berbicara dengan mempermudah gerakan bibir dan lidah. Kita
sulit berbicara jika mulut kita kering.
6) Liur berperan penting dalam higiene mulut dengan membantu mulut dan gigi
bersih. Aliran liur yang konstan membantu membilas residu makanan,
partikel asing, dan sel epitel tua yang terlepas dari mukosa mulut. Kontribusi
liur dalam hal ini dapat dirasakan oleh setiap orang yang pernah mengalami
bau mulut ketika salivasi tertekan sementara, misalnya ketika demam atau
mengalami kecemasar berkepanjangan
7) Liur kaya akan dapar bikarbonat, yang menetralkan asam dalam makanan
serta asam yang dihasilkan oleh bakteri di mulut sehingga karies dentis dapat
dicegah.

Meskipun memiliki banyak fungsi di atas, liur tidak esensial untuk pencernaan
dan penyerapan makanan karena enzim-enzim yang diproduksi oleh pankreas dan
usus halus dapat menuntaskan pencernaan makanan meskipun tidak terdapat liur
dan sekresi lambung. Pusat liur mengontrol derajat pengeluaran liur melalui saraf
autonom yang menyarafi kelenjar liur. Tidak seperti sistem saraf autonom di tempat
lain di tubuh, respons simpatis dan parasimpatis di kelenjar liur tidak antagonistik.
Baik stimulasi simpatis maupun parasinapatis meningkatkan sekresi liur tetapi
jumlah, karakteristik, dan mekanismenya berbeda. Stimulasi parasimapatis, yang
memiliki efek dominan dalam sekresi liur, menghasilkan liur yang encer, segera
keluar, berjumlah besar, dan kaya enzim. Stimulasi simpatis, sebaliknya,
menghasilkan liur dengan volume terbatas, kental, dan kaya mukus.

Karena stimulasi simpatis menghasilkan lebih sedikit liur, mulut terasa lebih
kering daripada biasanya selama keadaan-keadaan ketika sistem simpatis dominan,
misalnya situasi penuh stres. Contohnya, orang sering merasa mulutnya kering
karena rasa cemas ketika akan berpidato. Sekresi liur adalah satu-satunya sekresi
pencernaan yang seluruhnya berada di bawah kontrol saraf. Semua sekresi
pencernaan lainnya diatur oleh refleks sistem saraf dan hormon.

3.9 Fisiologi Esophagus

Esofagus adalah saluran berotot yang relatif lurus yang terbentang antara
faring dan lambung. Struktur ini, yang sebagian besar terletak di rongga toraks,
menembus diafragma dan menyatu dengan lambung di rongga abdomen beberapa
sentimeter di bawah diafragma.
Esofagus dijaga di kedua ujungnya oleh sfingter. Sfingter adalah struktur otot
berbentuk cincin yang, ketika tertutup, mencegah lewatnya sesuatu melalui
saluran yang dijaganya. Sfingter esofagus atas adalah sfingter faringoesofagus,
dan sfingter esofagus bawah adalah sfingter gastroesofagus. Kita pertama-tama
membahas peran sfingter faringoesofagus, kemudian proses transit makanan di
esofagus, dan akhirnya pentingnya sfingter gastroesofagus.
Karena esofagus terpajan ke tekanan intrapleura subatmosfer akibat
aktivitas pernapasan, terbentuk gradien tekanan antara atmosfer dan esofagus.
Kecuali sewaktu menelan, sfingter faringoesofagus menjaga pintu masuk ke
esofagus selalu tertutup sebagai hasil dari kontraksi otot rangka sirkular sfingter
yang dipengaruhi oleh saraf. Kontraksi tonik sfingter esofageal atas mencegah
masuknya udara dalam jumlah besar ke dalam esofagus dan lambung sewaktu
bernapas. Udara hanya diarahkan ke dalam saluran napas. Jika tidak, saluran
cerna akan menerima banyak gas, yang dapat menimbulkan eructation (sendawa)
berlebihan. Sewaktu menelan, sfingter ini terbuka dan memungkinkan bolus
masuk ke dalam esofagus. Setelah bolus berada di dalam esofagus, sfingter
faringoesofagus menutup, saluran napas terbuka, dan bernapas kembali
dilakukan.
Pusat menelan memicu gelombang peristaltik primer yang menyapu dari
pangkal ke ujung esofagus, mendorong bolus di depannya menelusuri esofagus
untuk masuk ke lambung. Kata peristalsis merujuk kepada kontraksi otot polos
sirkular berbentuk cincin yang bergerak progresif maju, mendorong bolus ke
bagian di depannya yang masih melemas. Gelombang peristaltik memerlukan
waktu sekitar 5 hingga 9 detik untuk mencapai ujung bawah esofagus.
Perambatan gelombang dikontrol oleh pusat menelan, dengan persarafan melalui
saraf vagus.
Jika bolus berukuran besar atau lengket yang tertelan, misalnya potongan roti
lapis selai kacang, tidak dapat didorong peristaltik mencapai lambung oleh
gelombang peristalsis primer, bolus yang tertahan tersebut akan meregangkan
esofagus, merangsang reseptor tekanan di dindingnya. Akibatnya, pleksus saraf
intrinsik di tempat distensi memulai gelombang peristaltik tambahan untuk
mendorong bolus yang tertahan tersebut. Gelombang peristaltik kedua ini tidak
melibatkan pusat menelan, dan yang bersangkutan tidak menyadari kejadiannya.
Peregangan esofagus juga secara refleks meningkatkan sekresi liur. Bolus yang
terperangkap akhirnya terlepas dan bergerak maju melalui efek kombinasi
pelumasan oleh liur tambahan yang tertelan dan gelombang peristaltik kedua yang
kuat.
Kecuali sewaktu menelan, sfingter gastroesofagus, yang merupakan otot
polos yang berbeda dengan sfingter gastroesofagus atas, tetap berkontraksi
dengan cara aktivitas miogenik. Kontraksi juga meningkat selama inspirasi
sehingga menurunkan kemungkinan refluks isi lambung yang asam ke dalam
esofagus pada saat ketika tekanan intrapleura yang subatmosferik akan
mendorong pergerakan kembali isi lambung. Jika isi lambung akhirnya mengalir
balik meskipun terdapat sfingter, keasaman isi lambung ini mengiritasi esofagus,
menyebabkan rasa tak nyaman di esofagus yang dikenal sebagai nyeri ulu hati
atau heartburn.

Sewaktu gelombang peristalsis menyapu menuruni esofagus, sfingter


gastroesofagus melemas sehingga bolus dapat masuk ke dalam esofagus. Setelah
bolus masuk ke lambung, proses menelan tuntas dan sfingter gastroesofagus
kembali berkontraksi. (Sherwood, 2014)

Sumber :

1. Sherwood, Lauralee. Fisiologi Manusia Dari Sel ke Sistem: Edisi 6 . Jakarta:


EGC; 2011.

3.10 Fisiologi Gaster

3.11 Fisiologi Duodenum

3.12 Fisiologi Pankreas

3.13 Fisiologi Hepar

3.14 Fisiologi Vesica Felea

4. Metabolisme Karbohidrat

4.3. Glukoneogenesis

4.4. HMP Shunt

Alur pentosa fosfat adalah rute alternatif untuk metabolisme glukosa. Jalur
ini tidak menyebabkan terbentuknya ATP, tetapi memiliki dua fungsi utama:

1) Pembentukan NADPH untuk sintesis asam lemak dan steroid, dan

2) sintesis ribosa untuk membentuk nukleotida dan asam nukleat.


Glukosa, fruktosa, dan galaktosa adalah heksosa utama yang diserap dari
saluran cerna, dan masing-masing berasal dari pati/kanji, sukrosa, dan laktosa
dalam diet. Fruktosa dan galaktosa dapat diubah menjadi glukosa, terutama di
hati.

Defisiensi genetik glukosa-6-fosfat dehidrogenase, yaitu enzim pertama jalur


pentosa fosfat adalah kausa utama hemolisis sel darah merah yang menyebabkan
anemia hemolitik pada sekitar 100 juta orang di seluruh dunia. Asam glukuronat
disintesis dari giukosa melalui jalur asam uronat yang secara kuantitatif sedikit,
tetapi sangat penting untuk mengekskresi metabolit dan bahan kimia asing
(xenobiotik) sebagai glukuronida. Defisiensi di jalur ini menyebabkan pentosuria
esensial. Ketiadaan salah satu enzim di jalur ini (gulonolakton olaidase) pada
primata dan beberapa hewan lain menjelaskan mengapa asam askorbat (vitamin C)
dibutuhkan oleh manusia, tetapi tidak oleh kebanyakan mamalia lain. Defisiensi
di enzim-enzim untuk metabolisme fruktosa dan galaktosa menyebabkan penyakit
metabolik, seperti fruktosuria esensial dan galaktosemia.

Jalur pentosa fosfat (pirau heksosa monofosfat) adalah suatu jalur yang lebih
rumit daripada glikolisis. Tiga molekul glukosa 6-fosfat menghasilkan tiga
molekul CO, dan tiga gula lima-karbon. Zat-zat ini disusun kembali untuk
menghasilkan dua molekul glukosa 6-fosfat dan satu molekul zat antara glikolitik,
yaitu gliseraldehida 3-fosfat. Karena dua molekul gliseraldehida 3-fosfat dapat
menghasilkan glukosa 6-fosfat, jalur ini dapat mengoksidasi glukosa secara
tuntas.

Seperti glikolisis, enzim-enzim di jalur pentosa fosfat terdapat di sitosol. Tidak


seperti glikolisis, oksidasi terjadi melalui dehidrogenasi dengan menggunakan
NADP+, bukan NAD+, sebagai penerima hidrogen. Rangkaian reaksi di jalur ini
dapat dibagi menjadi dua fase:

1) Fase oksidatif nonreversibel.

Pada fase ini, glukosa 6-fosfat mengalami dehidrogenasi dan dekarbolailasi


untuk menghasilkan suatu pentosa, ribulosa 5-fosfat. Dehidrogenasi glukosa
6-fosfat menjadi 6-fosfoglukonat terjadi melalui pembentukan
6-fosfoglukonolakton yang dikataiisis oleh glukosa 6-fosfat dehidrogenase,
yakni suatu enzim dependen-NADP (Gambar l dan 2).. Hidrolisis
6-fosfoglukonolakton dilakukan oieh enzim glukonolakton hidrolase. Tahap
oksidatif kedua dikatalisis oleh 6-fosfoglukonat dehidrogenase yang juga
memerlukan NADP- sebagai penerima hidrogen. Kemudian terjadi
dekarboksilasi disertai pembentukan ketopentosa ribulosa 5-fosfat.
Gambar 1. Bagan alur jalur pentosa fosfat dan hubungannya dengan jalur
glikolisis. jalur lengkap, seperti yang ditun.iukkan, terdiri dari tiga siklus
yang saling berhubungan, dengan glukosa 6-fosfat yang menjadi substrat
maupun produk akhir. Reaksi-reaksi di atas garis putus-putus bersifat
nonreversibel, sedangkan semua reaksi di bawah garis tersebut bersifat
reversibel selain reaksi yang dikatalisis oleh fruktosa 1,6-bisfosfatase.
Gambar 2. Jalur pentosa fosfat. (P, −PO32- ; PRPP, 5Josforibosil
1-pirofosfat.)
2) Fase nonoksidatif reversibel.

Pada fase kedua ini, ribulosa 5-fosfat diubah kembali menjadi glukosa
6-fosfat melalui serangkaian reaksi yang terutama melibatkan dua enzim:
transketolase dan, transaldolase. Ribulosa 5-fosfat adalah substrat untuk dua
enzim. Ribulosa 5-fosfat 3-epimerase mengubah konfigurasi di sekitar karbon
3 yang membentuk epimer xilulosa 5-fosfat, yang juga merupakan suatu
ketopentosa. Ribosa 5-fosfat ketoisomerase mengubah ribulosa 5-fosfat
menjadi aldopentosa-nya, ribosa 5-fosfat, yaitu prekursor untuk ribosa yang
diperlukan untuk sintesis nukleotida dan asam nukleat. Transketolase
memindahkan unit dua-karbon yang terdiri dari karbon 1 dan 2 suatu ketosa
ke karbon aldehida suatu gula aldosa. Oleh sebab itu, enzim ini menyebabkan
perubahan gula ketosa menjadi aldosa dengan pengurangan dua karbon dan
gula aldosa menjadi suatu ketosa dengan penambahan dua karbon. Reaksi
tersebut memerlukan Mg2+ dan tiamin difosfat (vitamin B,) sebagai koenzim.
Gugus dua-karbon yang dipindahkan mungkin adalah glikolaldehida
yang melekat pada tiamin difosfat. Jadi, transketolase mengatalisis
pemindahan unit dua-karbon dari xilulosa 5-fosfat ke ribosa 5-fosfat yang
membentuk ketosa tujuh-karbon sedoheptulosa 7-fosfat dan aldosa
gliseraldehida 3-fosfat. Kedua produk ini kemudian mengalami transaldolasi.
Tiansaldolase mengatalisis pemindahan gugus tiga-karbon dihidroksiaseton
(karbon 1-3) dari ketosa sedoheptulosa 7-fosfat ke aldosa gliseraldehida
3-fosfat untuk membentuk ketosa fruktosa 6-fosfat dan aldosa empat-karbon,
yaitu eritrosa 4-fosfat. Dalam suatu reaksi lebih lanjut yang dikatalisis oleh
transketolase, xilulosa 5-fosfat berfungsi sebagai donor glikolaldehida. Dalam
hal ini, eritrosa 4fosfat adalah penerima, dan produk reaksi ini adalah fruktosa
6-fosfat dan gliseraldehida 3 -fosfat.

Untuk mengoksidasi glukosa secara sempurna menjadi CO, melalui jalur


pentosa fosfat, di jaringan harus terdapat enzim-enzim untuk mengubah
gliseraldehida 3-fosfat menjadi glulosa 6-fosfat. Hal ini melibatkan
pembalikan glikolisis dan enzim glukoneogenik, yakni fruktosa
1,6bisfosfatase. Di jaringan yang ddak memiliki enzim ini, gliseraldehida
3-fosfat mengikuti jalur normal glikolisis menjadi piruvat.
 Jalur Pentosa Fosfat dan Glutation Peroksidase Melindungi Eritrosit dari
Hemolisi

Di sel darah merah, jalur pentosa fosfat menghasilkan NADPH untuk


mereduksi glutation teroksidasi yang dikatalisis oleh glutation reduktase, suatu
flavoprotein yang mengandung FAD. Glutation tereduksi mengeluarkan H2O2
dalam suatu reaksi yang dikatalisis oleh glutation peroksidase, suatu enzim yang
mengandung analog selenium sistein (selenosistein) di bagian aktifnya (Gambar
3). Reaksi ini penting karena penimbunan H2O2 dapat mempersingkat umur
eritrosit dengan menyebabkan kerusakan oksidatif di membran sel sehingga
terjadi hemolisis.

Gambar 3. Peran jalus pentosa fosfat dalam reaksi glutation peroksidase di eritrosit.
(G-S-S-G, glutation teroksidasi; G-SH, glutation tereduksi; Se, enzim yang
mengandung selenium).

Sumber:

1. Murray, R. K., Granner, D. K., & Rodwell, V. W. Biokimia Harper (ed. 27.).
Jakarta: Buku Kedokteran EGC; 2009.

Oleh : Manda Ayu Novitasari ( 172010101059)


5. Flora Normal

5.3. Flora Normal Pada Oris, Esophagus, Gaster.

5.4. Flora Normal Pada Duodenum, Pankreas, Hepar, Vesica Felea.

6. Patofisiologi Penyakit

6.14 Mual

6.15 Muntah

6.16 Hurtburn

6.17 Hepatitis

6.18 Kolelitiasis

6.19 Kolesistitis

6.20 Pankreatitis

6.21 Gastritis

6.22 Keracunan Makanan

6.23 Alergi Makanan

6.24 Sirosis

6.25 Ikterik

6.26 Kolik Bilier