Anda di halaman 1dari 9

PENCEMARAN UDARA

Pengampu : Lutfia Isna, S.Si., M.Si.

Penyusun :

M. Jauhari Hamidil jalaly 165 13 015

PROGRAM STUDI TEKNIK LINGKUNGAN

UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA

2016 / 2017

1
Commented [L1]: Tidak terdapat sitasi, padahal referensi yang
Sulfur Oksida (SOx) digunakan dalam daftar pustaka cukup banyak. Mohon
ditambahkan.

Gas belerang oksida atau sering ditulis dengan SOx, terdiri dari gas SO2 dan gas
SO3 yang keduanya mempunyai sifat berbeda. Gas SO2 berbau sangat tajam dan tidak mudah
terbakar, sedangkan gas SO3 bersifat sangat reaktif. Gas SO3 mudah bereaksi dengan uap air
yang ada di udara untuk membentuk asam sulfas atau H2SO4. Asam sulfat ini sangat reaktif,
mudah bereaksi (memakan) benda-benda lain yang mengakibatkan kerusakan, seperti proses
pengkaratan (korosi) dan proses kimiawi lainnya. Konsentrasi gas SO 2 di udara akan mulai
terdeteksi oleh indera manusia (tercium baunya) manakala konsentrasinya berkisar antara 0,3
– 1 ppm.

1. Sumber Polutan SOx

Hanya sepertiga dari jumlah sulfur yang terdapat di atmosfer merupakan hasil
dari aktivitas manusia, dan kebanyakan dalam bentuk SO2 . Sebanyak dua pertiga dari
jumlah sulfur di atmosfer berasal dari sumber-sumber alam seperti volcano, dan
terdapat dalam bentuk H2S dan oksida. Masalah yang ditimbulkan oleh polutan yang
dibuat manusia adalah dalam hal distribusinya yang tidak merata sehingga
terkonsentrasi pada daerah tertentu, bukan dari jumlah keseluruhannya, sedangkan
polusi dari sumber alam biasanya lebih tersebar merata. Transportasi bukan
merupakan sumber utama polutan SOx tetapi pembakaran bahan bakar pada
sumbernya merupakan sumber utama polutan SOx, misalnya pembakaran batu arang,
minyak bakar, gas, kayu dan sebagainya.
Pembakaran bahan-bahan yang mengandung sulfur akan menghasilkan kedua
bentuk sulfur oksida, tetapi jumlah relatif masing-masing tidak dipengaruhi oleh
jumlah oksigen yang tersedia. Meskipun udara tersedia dalam jumlah cukup, SO2
selalu terbentuk dalam jumlah terbesar. Jumlah SO2 yang terbentuk dipengaruhi oleh
kondisi reaksi, terutama suhu dan bervariasi dari 1 sampai 10% dari total SOx.
Mekanisme pembentukan SOx dapat dituliskan dalam dua tahap reaksi sebagai
berikut :

S + O2 ———- > SO2


2SO2 + O2 ———- > 2SO3

2
SO3 biasanya diproduksi dalam jumlah kecil selama pembakaran. Hal ini
disebabkan oleh dua faktor yang menyangkut reaksi terakhir tersebut di atas. Faktor
pertama adalah kecepatan reaksi yang terjadi, dan faktor kedua adalah konsentrasi
SO3 dalam campuran ekuilibrium yang dihasilkan dari reaksi tersebut. Reaksi
pembentukan SO3 berlangsung sangat lambat pada suhu relatif rendah (misalnya pada
200oC), tetapi kecepatan reaksi meningkat dengan kenaikan suhu. Oleh karena itu
produksi SO3 dirangsang pada suhu tinggi karena faktor kecepatan. Tetapi campuran
ekuilibrium yang dihasilkan pada suhu rendah mengandung persentase SO 3 lebih
tinggi daripada campuran yang dihasilkan pada suhu tinggi. Jadi faktor konsentrasi
ekuilibrium merangsang produksi SO3 pada suhu lebih rendah. Jelas bahwa kedua
faktor tersebut mempunyai kecenderungan untuk menghambat satu sama lain selama
pembakaran. Pada suhu tinggi reaksi mengakibatkan ekuilibrium tercapai dengan
cepat karena kecepatan reaksi tinggi, tetapi hanya sedikit SO3terdapat di dalam
campuran. Pada suhu rendah, reaksi berlangsung sangat lambat sehingga kondisi
ekuilibrium (sesuai dengan konsentrasi SO3 tinggi) tidak pernah tercapai. Jadi
produksi SO3 terhambat pada zona pembakaran suhu tinggi karena kondisi
ekuilibrium. Jika produk dijauhkan dari zona tersebut dan didinginkan, kondisi
ekuilibrium dapat tercapai, tetapi kecepatan reaksi akan menghambat pembenutkan
SO3 dalam jumlah tinggi.
Adanya SO3 di udara dalam bentuk gas hanya mungkin jika konsentrasi uap
air sangat rendah. Jika uap air terdapat dalam jumlah cukup seperti biasanya, SO3dan
air akan segera bergabung membentuk droplet asam sulfat (H2SO4).
Setelah berada di atmosfer, sebagian SO2 akan diubah menjadi SO3 (kemudian
menjadi H2SO4) oleh proses-proses fotolitik dan katalitik. Jumlah SO2 yang
teroksidasi menjadi SO3 dipengaruhi oleh beberapa faktor termasuk jumlah air yang
tersedia, intensitas, waktu dan distribusi spektrum sinar matahari.

2. Transport Polutan SOx Commented [L2]: Perbaiki penulisan senyawa kimia

SO3 di udara dalam bentuk gas hanya mungkin ada jika konsentrasi uap air
sangat rendah. Jika konsentrasi uap air sangat rendah. Jika uap air terdapat dalam
jumlah cukup, SO3 dan uap air akan segera bergabung membentuk droplet asam sulfat
(H2SO4) dengan reaksi sebagai berikut :

SO2 + H2O2 ------------ > H2SO4

3
Komponen yang normal terdapat di udara bukan SO3 melainkan H2SO4.
Tetapi jumlah H2SO4 di atmosfir lebih banyak dari pada yang dihasilkan dari emisi
SO3 hal ini menunjukkan bahwa produksi H2SO4 juga berasal dari mekanisme
lainnya.
Setelah berada di atmosfir sebagai sebagian SO2 akan diubah menjadi SO3
(kKemudian menjadi H2SO4) oleh proses-proses fotolitik dan katalitik Jumlah SO2
yang teroksidasi menjadi SO3 dipengaruhi oleh beberapa faktor termasuk jumlah air
yang tersedia, intensitas, waktu dan distribusi spektrum sinar matahari, Jumlah bahan
katalik, bahan sorptif dan alkalin yang tersedia. Pada malam hari atau kondisi lembab
atau selama hujan SO2 di udara diaborpsi oleh droplet air alkalin dan bereaksi pada
kecepatan tertentu untuk membentuk sulfat di dalam droplet.

Gambar 2. Daur Belerang dan Sulfur

SOx mempunyai ciri bau yang tajam, bersifat korosif (penyebab karat),
beracun karena selalu mengikat oksigen untuk mencapai kestabilan phasa gasnya.
SOx menimbulkan gangguan sitem pernafasan, jika kadar 400-500 ppm akan sangat
berbahaya, 8-12 ppm menimbulkan iritasi mata, 3-5 ppm menimbulkan bau.
Konsentrasi gas SO2 diudara akan mulai terdeteksi oleh indera manusia (tercium
baunya) manakala kensentrasinya berkisar antara 0,3 – 1 ppm.

3. Dampak Pencemaran Oleh SOx


SOx sebagian besar berasal dari pembakaran bahan bakar fosil, terutama
batubara. Gas buangan lebih banyak mengandung SO2 dibanding SO3. Dengan

4
oksigen dari udara SO2 menghasilkan SO3:
2SO2 + O2 ⎯→ 2SO3 Commented [L3]: setarakan

Gas SO2 berbau tajam dan tak mudah terbakar. Gas SO3 sangat reaktif. Dengan uap
air dari udara:
SO2 + H2O ⎯→ H2SO3
SO3 + H2O ⎯→ H2SO4
Jika ikut terkondensasi di udara dan jatuh bersama air hujan menyebabkan
hujan asam.
a. Dampak Terhadap Kesehatan, Hewan, dan Tumbuhan

Udara yang tercemar Sulfur Oksida (SOx) menyebabkan manusia akan


mengalami gangguan pada sistem pernafasannya. Hal ini karena gas SO x yang
mudah menjadi asam tersebut menyerang selaput lendir pada hidung,
tenggorokan, dan saluran nafas yang lain sampai ke paru-paru. Serangan gas
SOx tersebut menyebabkan iritasi pada bagian tubuh yang terkena.
Pengaruh utama polutan SOx terhadap manusia adalah iritasi sistem
pernafasan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa iritasi tenggorokan
terjadi pada konsentrasi SO2 sebesar 5 ppm atau lebih, bahkan pada beberapa
individu yang sensitive iritasi terjadai pada konsentrasi 1-2 ppm.
SO2 dianggap polutan yang berbahaya bagi kesehatan terutama terhadap orang
tua dan penderita yang mengalami penyakit kronis pada sistem pernafasan dan
kardiovaskular.
Sulfur dioksida (SO2) bersifat iritan kuat pada kulit dan lendir, pada
konsentrasi 6-12 ppm mudah diserap oleh selaput lendir saluran pernafasan
bagian atas, dan pada kadar rendah dapat menimbulkan spesme tergores otot-
otot polos pada bronchioli, speme ini dapat menjadi hebat pada keadaan dingin
dan pada konsentrasi yang lebih besar terjadi produksi lendir di saluran
pernafasan bagian atas, dan apabila kadarnya bertambah besar maka akan
terjadi reaksi peradangan yang hebat pada selaput lendir disertai dengan
paralycis cilia, dan apabila pemaparan ini terjadi berulang kali, maka iritasi
yang berulang-ulang dapat menyebabkan terjadi hyper plasia dan meta plasia
sel-sel epitel dan dicurigai dapat menjadi kanker.
Pencemaran yang cukup tinggi oleh SO2 telah menimbulkan
malapetaka yang cukup serius. Seperti yang terjadi di lembah Nerse Belgia

5
pada 1930, tingkat kandungan SO2 diudara mencapai 38 ppm dan
menyebabkan toksisitas akut. Selama periode ini menyebabkan kematian 60
orang dan sejumlah ternak sapi.
Sulfur dioksida juga berbahaya bagi tanaman. Adanya gas ini pada
konsentrasi tinggi dapat membunuh jaringan pada daun. pinggiran daun dan
daerah diantara tulang-tulang daun rusak. Secara kronis SO2 menyebabkan
terjadinya khlorosis. Kerusakan tanaman ini akan diperparah dengan kenaikan
kelembaban udara. SO2 diudara akan berubah menjadi asam sulfat. Oleh
karena itu, didaerah dengan adanya pencemaran oleh SO2 yang cukup tinggi,
tanaman akan rusak oleh aerosol asam sulfat.
Selain itu, pada kadar sebesar 0,5 ppm, pencemaran sulfur memiliki
dampak bagi tumbuhan. Dampak ini dapat berupa bintik-bintik putih pada
daun dan tanama, kemudian lama kelamaan daun tersebut akan berguguran.
Kadar SO2 yang berpengaruh terhadap gangguan kesehatan adalah
sebagai berikut :

Konsentrasi ( ppm) Pengaruh Commented [L4]: ada konsentrasi sama dengan pengaruh yang
berbeda kenapa harus dipisahkan dalam beberapa baris?

3–5 Jumlah terkecil yang dapat dideteksi dari baunya

8 – 12 Jumlah terkecil yang segera mengakibatkan iritasi tenggorokan

Jumlah terkecil yang akan mengakibatkan iritasi mata, batuk, dan jumlah
20
maksimum yang diperbolehkan untuk konsentrasi dalam waktu lama.

50 – 100 Maksimum yang diperbolehkan untuk kontrak singkat ( 30 menit )

6
400 -500 Berbahaya meskipun kontak secara singkat

b. Dampak Terhadap Ekosistem dan Lingkungan


Pengaruh pencemaran SO2 terhadap lingkungan telah banyak
diketahui. Pada tumbuhan, daun adalah bagian yang paling peka terhadap
pencemaran SO2, di mana akan terdapat bercak atau noda putih atau coklat
merah pada permukaan daun. Dalam beberapa hal, kerusakan pada tumbuhan
dan bangunan disebabkan karena SO2 dan SO3 di udara, yang masing-masing
membentuk asam sulfit dan asam sulfat. Suspensi asam di udara ini dapat
terbawa turun ke tanah bersama air hujan dan mengakibatkan air hujan bersifat
asam. Reaksi terbentuknya hujan asam adalah:

2SO2 + O2 + 2H2O ⎯→ 2H2SO4)aq Commented [L5]: Maksud tulisan ini bagaimana?

Biasanya pH biasa air hujan asam adalah kurang dari 5,6 karena
adanya peningkatan emisi SO2 dan NOx di atmosfer. Pencemar udara seperti Commented [L6]: ?

SO2 dan NO2 bereaksi dengan air hujan membentuk asam dan menurunkan pH Mulai dari kalimat ini, mohon penjelasan yang diberikan ditulis
lebih teratur agar mudah dipahami
air hujan. Dampak dari hujan asam ini antara lain: Mempengaruhi kualitas air Formatted: Not Superscript/ Subscript

permukaan, Merusak tanaman, Melarutkan logam-logam berat yang terdapat


dalam tanah sehingga mempengaruhi kualitas air tanah dan air permukaan.
Sifat asam dari air hujan ini dapat menyebabkan korosif pada logam-
logam dan rangka-rangka bangunan, merusak bahan pakian dan tumbuhan.
Adanya hujan asam akan dapat menyebabkan danau atau kolam menjadi
terlalu asam, akibat yang ditimbulkan adalah ikan-ikan yang terdapat di dalam
kolam tersebut akan mengelami kematian dan tanaman di sekitarnya menjadi
banyak yang mati. Pada benda-benda, SO2 bersifat korosif. Cat dan bangunan
gedung warnanya menjadi kusam kehitaman karena PbO pada cat bereaksi
dengan SOx menghasilkan PbS. Jembatan menjadi rapuh karena mempercepat
pengkaratan.

c. Dampak Terhadap Material

7
Pada benda-benda, SO2 bersifat korosif. Cat dan bangunan gedung
warnanya menjadi kusam kehitaman karena PbO pada cat bereaksi dengan
SOx menghasilkan PbS. Jembatan menjadi rapuh karena mempercepat
pengkaratan.
Kerusakan juga dialami oleh bangunan yang bahan-bahannya seperti
batu kapur, batu pualam, dolomit akan dirusak oleh SO2 dari udara. Efek dari
kerusakan ini akan tampak pada penampilannya, integritas struktur, dan umur
dari gedung tersebut.

8
Daftar Pustaka

Achmad. Rukaesih, Kimia Lingkungan, Jakarta: Universitas Negeri Jakarta,


2004.
Fardiaz. 1992. Polusi Air dan Udara. Gramedia: Jakarta

Wardhana.2001.Dampak Pencemaran Lingkungan.Malang: Erlangga.

Buchari, dkk. 2001. Kimia Lingkungan. Direktorat Jenderal Pendidikan

Tinggi, Jakarta.

Setio, H.P. 2009. Polutan Udara : Studi Kasus Polusi Udara di Jakarta. Formatted: Normal, Left, Indent: Hanging: 0.69", Line
spacing: single, Pattern: Clear, Tab stops: Not at 2.27"
Jakarta : Jurnal Pencemaran Udara dan Pengaruhnya Terhadap
Lingkungan Hidup.