Anda di halaman 1dari 5

Patogenesis SLE

SLE merupakan penyakit kronis yang terjadi akibat disfungsi sistem imun,
pengenalan self-antigen sebagai benda asing yang berakibat kepada inflamasi
dan kerusakan tisu dan organ etiologic SLE adalah multifactorial dan
merupakan interaksi multifaktorial antara faktor genetik, hormonal dan faktor
lingkungan. (C C Mok, C S Lau, 2003)

Kepekaan genetik pada SLE

Munculnya SLE pada kembar identik, peningkatan frekuensi SLE pada first
degree relatives dan peningkatan resiko terjadinya SLE pada saudara kandung
membuktikan adanya factor genetik yang berperan pada terjadinya SLE.

Gen yang banyak diteliti pada penderita SLE adalah gen untuk major
histocompatibility complex (MHC). Kepekaan terhadap SLE melibatkan gen
polimorfik MHC class II. MHC class II allotypes HLA-DR2 dan -DR3
dikatakan berhubungan dan berkorelasi positif terhadap terjadinya SLE.

Selain itu, pada penderita SLE juga didapatkan defisiensi komplemen yang
diekspresikan oleh gen MHC class III yang mengkode komponen protein C2
dan C4. Menurunnya aktifitas komplemen meingkatkan kepekaan terhadap
SLE karena terganggunya netralisasi dan clearance self cells dan antigen luar.
Adanya defisiensi protein komplemen berakibat defek pada clearance kompleks
imun sehingga menyebabkan deposisi kompleks imun pada berbagai organ.

Gen terkait mannose binding protein (MBP), tumor necrosis factor α (TNFα),
FcγRIIA dan FcγRIIIA, heat shock protein 70 juga meningkatkan kepekaan
seseorang terhadap SLE. (C C Mok, C S Lau, 2003)

Seks dan pengaruh hormone pada SLE

SLE adalah predominan pada wanita. Onset pertama SLE biasanya setelah
pubertas dan sebeum menopause.

Didapatkan metabolisme estrogen yang abnormal pada penderita SLE yaitu


peningkatan 16α hydroxylation of estrone sehingga terjadinya peningkatan
konsentrasi 16α hydroxyestrone. Metabolit terhidroksilasi ini membawa efek
tumerogenic estrogen pada tubuh.

Peningkatan konsentrasi estrogen memfasilitasi respon humoral yang berakibat


peningkatan proliferasi sel B dan produksi antibodi. Peningkatan estrogen juga
menyebabkan inhibisi respon sel T seperti proliferasi dan penghasilan IL-2.
Terlihat disini, estrogen memperparah SLE dengan memperpanjang survival sel
autoimun, menigkatkan produksi sitokin tipe Th2 dan menstimulsi sel B untuk
memproduksi antibodi.

Inhibisi respon Th1 dan peningkatan ekspresi CD40L pada sel T penderita lupus
meningkatkan kinerja Th2 dan akhirnya menyebabkan hiperaktifitas sel B.

Pemberian estrogen eksogenus bisa menyebabkan eksaserbasi akut pada


penderita SLE. Pil oral kombinasi dan Hormone Replacement Therapy (HRT)
meruakan contoh estrogen eksogenus yang biasa ditemukan. (C C Mok, C S Lau,
2003)

Faktor lingkungan

Paparan kepada cahaya matahari dikenal sebagai faktor yang bias menginduksia
dan menyebabkan eksaserbasi lupus sistemik dan kutaneus. Sinar UV,
khususnya UVB merupakan trigger utama pada penderita SLE. Studi terbaru
menyataka paparan terhadap sinar UV menyebabkan kematian sel keratinosit
yang akhirnya menyebabkan peningkatan antigen sitoplasma dan nucleus. Ini
bias menginduksi system imun dan memprovokasi autoimuniti.

Infeksi virus Epstein-Barr (EBV) juga dikaitkan dengan timbulnya SLE. Infeksi
virus ini meginduksi respon imun spesifik dengan molecular mimicracy dan
mengganggu regulasi imun.

Beberapa faktor pemakanan seperti alfalfa sprout juga dikatakan mempengaruhi


pathogenesis SLE namun mekanismenya belum jelas. (C C Mok, C S Lau, 2003)

Autoantibodi

Gangguan imunologi utama pada pasien SLE adalah adanya produksi


autontibodi. Autoantibodi ini tertuju kepada molekul self yang ditemukan pada
nukleus, sitoplasma, dan permukaan sel. Antinuclear antibody (ANA) adalah
karakteristik dan ditemukan pada hampir 95% pasien. Anti-double stranded
DNA (anti dsDNA) dan anti-smith juga merupakan ciri khas SLE. Antigen
untuk Anti-Sm adalah small nuclear ribonucleoprotein (snRNP). (C C Mok, C S
Lau, 2003)

Apoptosis

Apoptosis merupakan proses yang menyebabkan kematian sel secara


terprogram atau programmed cell death. Tujuannya adalah supaya konten
intraseluler tidak terbebas ke microenvironment ekstraseluler. Pada kondisi
normal, sel apoptotic di makan oleh makrofag tanpa menginduksi inflamasi
maupun respon imun.

Pada kondisi apoptosis normal, sel akan mengerucut dan dan sitoplasma menjadi
lebih dense dan organel akan dikemas menjadi ebih rapi. Kromatin akan
dikondensasi ke dalam nuclear envelope (pyknosis). Kemudian DNA di dalam
nuclear envelope akan di fragmentasi (karyorrexhis) menjadi unit yang lebih
kecil yaitu chromatin bodies. Membrane sel akan membentuk budding yang
dinamakan blebs. Sel akan memecah menjadi apoptotic bodies yang akhirnya
akan difagositosis.

Pada SLE, terjadi peningkatan apoptosis sel sehingga meningkatnya peluang


untuk terjadinya leakage dari antigen intraseluler yang mampu menginduksi
system imun dan terjadinya pembetukan immune complexes. Clearance
terhadap sel apoptotik ini oleh makrofag juga terganggu sehingga terjadinya
penumpukan antigen intraseluler

Penyebab defek pada clearance sel apoptosis pada SLE masih belum jelas. Ini
mungkin terkait dengan menurunnya jumlah protein komplemen C2, C4 dan
C1q seperti yang dibahas di bagian gen. Reseptor C1q pada permukaan fagosit
sangat berperan pada clearance sel apoptosis. Penderita dengan defisiensi
homozigus pada komponen komplemen tersebut akan menunjukkan gejala yang
lebih parah. (C C Mok, C S Lau, 2003)
Gangguan respon imun

SLE dikenal sebagai penyakit autoimun dengan berbagai penyimpangan dari


system imun dasar yang melibatkan sel B, sel T, dan sel dari monocytic lineage
yang berakibat aktivasi sel B poliklonal, peningkatan produksi autoantibodi dan
pembentukan kompleks imun.

Terjadi loss of tolerance pada sel T dan sel B pada penderita SLE. Ini
menyebabkan produksi antibodi IgG yang mengenal self antigen termasuk
DNA, DNA-protein complexes dan RNA-protein complexes.

Aktivasi sel B dan T memerlukan stimulasi dari antigen yang spesifik. Bahan
kimia, DNA dan fosfolipid dari dinding sel bakteri dan antigen virus dapat
memicu produksi autoantibodi pada mencit. Self antigen seperti protein DNA
dan RNA juga bisa memicu produksi autoantibodi. Antigen-antigen ini di kenal
oleh antigen presenting cell, kemudian diproses menjadi peptide dan
mempresentasikan peptide tersebut kepada sel T. Sel T yang teraktivasi akan
menstimulasi sel B untuk memproduksi autoantibodi. Interaksi antara sel T dan
sel B ini memerlukan beberapa sitokin seperti IL-10 dan beberapa molekul
aksesoris seperti CD40/CD40L.

Aktivasi sel B pada pasien SLE adalah abnormal, dimana didapatkan


peningkatan jumah sel B yang teraktivasi di sirkulasi darah perifer. Sel B pada
pasien SLE dikatakan lebih sensitif terhadap efek stimulasi sitokin seperti IL-6.
Sel B pada pasien SLE lebih cenderung untuk melakukan aktivasi poliklonal
terhadap stimuli antigen dan sitokin.

Pada penderita SLE, didapatkan peningkatan respon Th2 sekaligus produksi


sitokin Th2 yang berlebihan. IL-10 merupakan sitokin yang merupakan
stimulator yang poten untuk proliferasi dan differensiasi sel B. IL-10 juga
merupakan mediator potensial untuk aktivasi poliklonal sel B pada SLE. (C C
Mok, C S Lau, 2003)
Patogenesis SLE. (a) kehilangan tolerans dari sel B akan menyebabkan kegagalan untuk
menghilangkan sel B dan sel T yang autoreaktif, paparan terhadap self-antigen saat apoptosis atau
aktivasi sel B ang abnormal akibat dari defek sinyal inhibisi. (b) sel APC akan mempresentasikan
antigen terhadap sel T autoreaktif yang akan selanjutnya akan mengaktifkan sel B sehingga
terhasilnya auto-antibodi. (c) autoantibodi yang dihasilkan oleh sel B akan menyebabkan munculnya
gejala seperti anemia hemolitik, pembentukan kompleks imun in-situ atau kompleks imun yang
bersirkulasi dan tidak dihancurkan dengan baik sehingga akhirnya mengendap di glomerulus. (d)
pengendapan kompleks imun akan menginisiasi respon imun melalui aktivasi makrofag dan
neutrophil, serta pengaktifan komplemen. (M. R. Clatworthy, K. G. C. Smith, 2007)

References
CC Mok, CS Lau. (2003). Pathogenesis of systemic lupus erythematosus. Journal of
Clinical Pathology, 481–490.

Clatworthy MR, Smith KG. (2007). B cells in glomerulonephritis: focus on lupus nephritis.
Journal of Immunology, 337-53.