Anda di halaman 1dari 31

HALAMAN PENGESAHAN

Setelah membaca, menganalisis dan menulis makalah keperawatan anak yang berjudul
“Gangguan Muskuloskeletal” yang disusun oleh :

1. Aik Berlian Indriansyah (151611913009)


2. Dwi Damayanti (151611913031)

Kami selaku pembimbing menyetujui dan mengesahkan bahwa makalah ini layak untuk
dipresentasikan.

Lamongan,11 Mater 2018


Dosen Pembimbing

i
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr.Wb
Puji syukur penulis ucapakan kehadirat Tuhan Yang Esa yang tiada hentinya
melimpahkan rahmat dan karunia-Nya. Atas taufik dan hidayah-Nya pula penulis
dapat menyusun dan menyelesaikan makalah yang berjudul “Gangguan
Muskuloskeletal” ini tepat pada waktunya.
Penulisan makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah
Epidemiologi Lingkungan dan Kesehatan Kerja oleh dosen pembimbing yaitu dr.
Fauziah Elytha,MSc. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih jauh
dari kesempurnaan, baik dari cara penulisan, penyusunan, penguraian, maupun
isinya. Oleh sebab itu, penulis mengharapkan kritik dan saran untuk kesempurnaan
makalah ini.
Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada semua pihak yang telah
memberi dukungan baik moril maupun materi dalam proses penulisan makalah ini.
Akhirnya, penulis mengharapkan semoga makalah ini dapat berguna bagi semua
pihak, baik bagi pembaca maupun kami sendiri.
Wassalamualaikum Wr. Wb

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN PENGESAHAN.......................................................................................I
KATA PENGANTAR...................................................................................................II
DAFTAR ISI...............................................................................................................III

BAB 1 : PENDAHULUAN.........................................................................................1

1.1 Latar Belekang........................................................................................................1

1.2 Rumusan Masalah...................................................................................................2

1.3 Tujuan Penulisan.....................................................................................................2

BAB 2 PEMBAHASN.................................................................................................3

1.1 Definisi Gangguan Muskuloskeletal.......................................................................3


1.2 Sinonim Gangguan Muskuloskeletal......................................................................4
1.3 Faktor Penyebab Gangguan Muskuloskeletal...................................................4
1.4 Faktor risiko Gangguan Muskuloskeletal...............................................................6
1.5 Gejala Gangguan Muskuloskeletal.......................................................................12
1.6 Keluhan Gangguan Muskuloskeletal....................................................................13
1.7 Jenis-jenis Gangguan Muskuloskeletal.................................................................14
1.8 Dampak Gangguan Muskuloskeletal....................................................................17
1.9 Pengukuran Muskuloskeletal Disorders (Nordic Body Map)...............................18
1.10 Metode Penilaian Keluhan Sistem Muskuloskeletal...........................................19
1.11 Upaya pencegahan Gangguan Muskuloskeletal..................................................20
1.12 Pengendalian Gangguan Muskuloskeletal/ Muskuloskeletal Disorders.............20
BAB 3 : PROSES PENGKAJIAN...........................................................................21

3.1 Pengkajian............................................................................................................21
3.2 Analisa Data..........................................................................................................22
3.2 Diagnosa Keperawatan.........................................................................................23
3.4 Intervensi...............................................................................................................24
BAB 4 : PENUTUP...................................................................................................27

4.1 Kesimpulan...........................................................................................................27
4.1 Saran.....................................................................................................................27
DAFTAR PUSTAKA................................................................................................28

iii
i
BAB 1 : PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Perkembangan teknologi saat ini begitu pesat, sehingga peralatan sudah
menjadi kebutuhan pokok pada lapangan pekerjaan, artinya peralatan dan teknologi
merupakan salah satu penunjang yang penting dalam upaya meningkatkan
produktivitas untuk berbagai jenis pekerjaan. Disamping itu,akan terjadi dampak
negatifnya bila kita kurang waspada menghadapi bahaya potensial yang mungkin
akan timbul (Pusat Kesehatan Kerja Departemen Kesehatan RI, 2010).
Hal ini tentunya dapat di cegah dengan adanya antisipasi berbagai risiko, antara
lain kemungkinan terjadinya penyakit akibat kerja, penyakit yang berhubungan
dengan pekerjaan dan kecelakaan akibat kerja yang dapat menyebkan kecacataan dan
kematian. Antisipasi ini harus dilakukan oleh semua pihak dengan cara penyesuaian
antara pekerja, proses kerja dan lingkungan kerja. Pendekatan ini dikenal sebagai
pendekatan ergonomi (Pusat Kesehatan Kerja Departemen Kesehatan RI, 2010).
Sikap kerja merupakan faktor penting dalam menentukan tingkat
kenyamanan kerja. Sikap kerja yang tidak sesuai dapat menyebabkan keluhan fisik
seperti rasa nyeri pada otot dan pada akhirnya dapat berpengaruh terhadap tingkat
produktivitas.Dimana keluhan tersebut sering digambarkan sebagai rasa kesemutan,
rasa terbakar, mati rasa, kekakuan, gangguan tidur dan rasa lemah (Humantech,
1995).Gangguan muskuloskeletal yang muncul dapat merupakan akibat dari
pekerjaan yang dilakukan dan dipengaruhi oleh faktor - faktor resiko yang terbagi
dalam empat kelompok yaitu beban, postur, frekuensi dan durasi pekerjaan
(Bridger,2003).
Gangguan muskuloskeletal dapat menimbulkan kerugian bagi pekerja itu
sendiri dan bagi pengusaha. Bila kesehatan pekerja terganggu maka pekerja
menjadi tidak produktif sehingga tidak dapat bekerja dan tidak dapat memenuhi
kebutuhan hidupnya. Bagi perusahaan akan mengalami kerugian dikarenakan
hilangnya waktu kerja dan menurunnya produktifitas serta kualitas dari karyawan,
sehingga proses kerja akan terhambat dan tidak maksimal, selain itu harus
mengeluarkan biaya kompensasi pengobatan dan kerugian lainnya yang berkaitan
langsung atau tidak langsung dengan timbulnya gangguan muskuloskeletal (CTD).

1
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, terdapat beberapa rumusa masalah yaitu :
1. Apakah pengertian dari gangguan muskuloskeletal ?
2. Apakah faktor penyebab gangguan muskuloskeletal ?
3. Apakah gejala dan keluhan gangguan muskuloskeletal ?
4. Apa sajakah jenis-jenis gangguan muskuloskeletal ?
5. Bagaimana dampak gangguan musculoskeletal?
6. Bagaimana pengukuran muskuloskeletal Disorder ?
7. Bagaimana upaya pencegahan dan pengendalian gangguan muskuloskeletal ?

1.3 Tujuan Penulisan


Adapun tujuan penulisan makalah ini antara lain:
1. Untuk mengetahui definisi gangguan muskuloskeletal
2. Untuk mengetahui faktor penyebab gangguan muskuloskeletal.
3. Untuk memahami gejala dan keluhan gangguan muskuloskeletal.
4. Untuk mengetahui apa saja jenis-jenis gangguan muskuloskeletal.
5. Untuk mengetahui dampak gangguan musculoskeletal.
6. Untuk memahami bagaimana pengukuran Muskuloskeletal Disorder.
7. Untuk mengetahui upaya pencegahan dan pengendalian gangguan
muskuloskeletal.

2
BAB 2 : PEMBAHASAN

2.1 Definisi Gangguan Muskuloskeletal


Menurut National Institute of Occupational Safety and Health (NIOSH) dan
WHO MSDs merupakan gangguan yang disebabkan ketika seseorang melakukan
aktivitas kerja dan kondisi pekerjaan yang signifikan sehingga mempengaruhi adanya
fungsi normal jaringan halus pada sistem Muskuloskeletal yang mencakup saraf,
tendon, otot. MSDs umumnya terjadi tidak secara langsung melainkan penumpukan-
penumpukan cidera benturan kecil dan besar yang terakumulasi secara terus menerus
dalam waktu yang cukup lama.Yang diakibatkan oleh pengangkatan beban saat
bekerja, sehingga menimbulkan cidera dimulai dari rasa sakit, nyeri, pegal-pegal
pada anggota tubuh. Musculoskeletal disorders merupakan suatu istilah yang
memperlihatkan bahwa adanya gangguan pada sistem musculoskeletal.
Menurut Occupational Health and Safety Council of Ontario (OHSCO)
tahun 2007, Keluhan muskuloskeletal adalah serangkaian sakit pada tendon, otot,
dan saraf. Aktifitas dengan tingkat pengulangan tinggi dapat menyebabkan
kerusakan pada jaringan sehingga dapat menimbulkan rasa nyeri dan rasa tidak
nyaman pada otot. Keluhan musculoskeletal dapat terjadi walaupun gaya yang
dikeluarkan ringan dan postur kerja yang memuaskan.
Keluhan muskuloskeletal atau gangguan otot rangka merupakan kerusakan
pada otot, saraf, tendon, ligament, persendian, kartilago, dan discus invertebralis.
Kerusakan pada otot dapat berupa ketegangan otot, inflamasi, dan degenerasi.
Sedangkan kerusakan pada tulang dapat berupa memar, mikro faktur, patah, atau
terpelintir (Merulalia, 2010).
Berdasarkan pada definisi yang telah diungkapkan dari beberapa sumber,
dapat disimpulkan bahwa musculoskeletal disorders (MSDs) adalah serangkaian
gangguan yang dirasakan pada bagian otot, tendon, saraf, persendian yang
menimbulkan rasa nyeri dan ketidaknyamanan akibat dari aktifitas yang berulang-
ulang (repetitive) dalam jangka waktu yang lama.
MSDs terjadi dengan dua cara:
1. Kelelahan dan keletihan terus menerus yang disebabkan oleh frekuensi atau
periode waktu yang lama dari usaha otot.

3
2. Kerusakan tiba-tiba yang disebabkan oleh aktivitas yang sangat kuat/berat
atau pergerakan yang tak terduga.

2.2 Sinonim Gangguan Muskuloskeletal


Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, Muskuloskeletal Disorder (MSDs)
bukanlah diagnosis klinis, melainkan rasa nyeri karena kumpulan cedera pada system
musculoskeletal ekstremitas atas akibat gerakan kerja biomekanik berulang-ulang.
Pada beberapa Negara, digunakan istilah berbeda-beda untuk menggambarkan
kejadian MSDs tersebut, diantaranya (NIOSH, 1993):
a. Cumulative Trauma Disosders (CTDs)
b. Repetitive Strain Injuries (RSIs)
c. Occupational Overuse Syndrome
d. Neck and Limb Disorders
e. Overuse Syndrome
f. Wear and Tear Disorders
g. Occupational Cervico Bracial Disorders (OCD)

2.3 Faktor Penyebab Gangguan Muskuloskeletal


Menurut Peter Vi (2004), faktor penyebab keluhan muskuloskeletal antara lain:
1. Peregangan otot yang berlebihan (over exertion)
Peregangan otot yang berlebihan pada umumnya dikeluhkan oleh pekerja
dimana aktivitas kerjanya menuntut pengerahan yang besar, seperti aktivitas
mengangkat, mendorong, menarik, menahan beban yang berat.Perawat
melakukan aktivitas yang dikategorikan membutuhkan tenaga yang besar,
seperti mengangkat dan memindahkan pasien serta merapikan tempat tidur
(bed making) (Sardewi, 2006).
2. Aktivitas berulang adalah pekerjaan yang dilakukan secara terus menerus.
Seperti mencangkul, membelah kayu, angkat-angkat dan sebagainya.
Perawat memiliki aktivitas yang dilakukan berulang-ulang seperti
mengangkat dan memindahkan pasien, melakukan bed making dan aktivitas
kerja lainnya yang dilakukan setiap hari secara berulang-ulang dan dalam
waktu yang relative lama.
3. Sikap kerja tidak alamiah adalah sikap kerja yang menyebabkan posisi
bagian-bagian tubuh bergerak menjauhi posisi alamiah, misalnya pergerakan
tangan terangkat, punggung terlalu membungkuk dan sebagainya. Selain itu
terdapat faktor penyebab sekunder dari keluhan muskuloskeletal yaitu :

4
a) Tekanan
Terjadinya tekanan langsung pada jaringan otot yang lunak secara berulang-
ulang dapat menyebabkan nyeri yang menetap.
b) Getaran
Getaran dengan frekuensi yang tinggi akan menyebabkan kontraksi otot
bertambah. Kontraksi statis ini menyebabkan peredaran darah tidak lancar,
penimbunan asam laktat meningkat dan akhirnya timbul rasa nyeri otot.
c) Mikroklimat
Paparan suhu dingin yang berlebihan dapat menurunkan kelincahan,
kepekaan dan kekuatan pekerjansehingga pergerakan pekerja menjadi
lamban,sulit bergerak disertai dengan menurunnya kekuatan otot.
Penyebab lain yang berperan dalam terjadinya keluhan muskuloskeletal
apabila dalam melakukan tugas perawat di hadapkan pada beberapa factor
risiko dalam waktu yang bersamaan, yaitu:
a) Umur
Keluhan muskuloskeletal mulai dirasakan pada usia kerja, yaitu pada usia
25-65 tahun. Keluhan biasanya akan mulai dirasakan pada usia 35 tahun dan
akan semakin meningkat semakin bertambahnya usia. Hal ini terjadi karena
pada usia setengah baya, kekuatan dan ketahanan otot akan meningkat
(dryastiti, 2013).
b) Jenis Kelamin
Jenis kelamin sangat mempengaruhi ingkat risiko keluhan otot. Hal ini
terjadi karena secara fisiologis, kemampuan otot wanita lebih rendah dari
pada pria. Prevalensi sebagian besar gangguan tersebut meningkat dan
lebih menonjol pada wanita dibandingkan pria (3:1) sehingga daya tahan otot
wanita untuk bekerja lebih rendah dibandingkan pria.
c) Kebiasaan merokok
Semakin lama dan semakin tinggi tingkat frekuensi merokok, semakin
tinggi pula keluhan otot yang dirasakan. Kebiasaan merokok dapat
menurunkan kapasitas paru-paru sehingga kemampuan untuk mengkosumsi
oksigen menurun. Apabila perawat denga kebiasaan merokok melakukan
aktivitas kerja dengan beban kerja yang tinggi, maka akan sangat mudak
mengalami kelelahan otot.
d) Kesegaran jasmani
Keluahan otot jarang terjadi pada perawat yang memiliki waktu istirahat
yang cukup,tetapi perawat memiliki system kerja shift malam yang
memungkinkan tidak mendapat waktu istirahat yang cukup. Tingkat

5
kesegaran tubuh yang rendah akan mempertinggi risiko terjadinya keluhan
otot.
e) Kekuatan fisik
Secara fisiologis ada yang dilahirkan dengan struktur otot yang mempunyai
kekuatan fisik lebih kuat dibandingkan dengan yang lainnya. Apabila
dengan kekuatan otot yang sama, perawat diberikan beban kerja yang tinggi,
maka cenderung perawat yang memiliki kekuatan yang lebih rendah akan
mengalami cidera otot.
f) Ukuran tubuh (antrometri) : Keluhan muskuloskeletal yang terkait dengan
ukuran tubuh lebih disebabkan oleh kondisi keseimbangan struktur rangka di
dalam menerima beban, baik beban berat tubuh maupun beban tambahan.

2.4 Faktor risiko Gangguan Muskuloskeletal


MSDs dipengaruhi oleh beberapa faktor risiko yang dapat menyebabkan
kejadian cedera yang terdiri dari:
a) Faktor Pekerjaan
Salah satu faktor yang datang dari luar adalah kondisi lingkungan kerja di sekitar
tempat kerja seperti : temparatur, sirkulasi udara, cahaya, kebisingan dan
kelembaban yang kesemuanya berpengaruh secara signifikan terhadap hasil
kerja manusia dan kondisi pekerjaan agar senantiasa memenuhi persyaratan
keselamatan dan kesehatan kerja (ILO. 1998).
1. Peregangan Otot
Peregangan otot yang berlebihan Gangguan Muskuloskeletal merupakan
gangguan yang terjadi pada tubuh manusia akibat dari kegiatan tubuh
dilakukan selama bergerak terlalu menerima beban berat yang dapat
menyebabkan kelelahan otot.Proses kerja secara manual lebih memerlukan
penggunaan tenaga otot dan kekuatan otot ditentukan oleh sifat dari sel otot
itu sendiri. Kontraksi otot memerlukan energi dan menghasilkan zat sisa
metabolisme (Cummings. 2003).
2. Gerakan berulang
Tingkat keparahan risiko tergantung pada frekuensi pengulangan,
kecepatan gerakan atau tindakan, jumlah otot yang terlibat dalam kerja, dan
gaya yang dibutuhkan. Frekuensi dapat diartikan sebagai banyaknya gerakan
yang dilakukan dalam suatu periode waktu. Jika aktivitas pekerjaan dilakukan
secara berulang, maka dapat disebut sebagai repetitive.
Bridger (1995) menyatakan bahwa aktivitas berulang, pergerakan
yang cepat dan membawa beban yang berat dapat menstimulasikan saraf

6
reseptor mengalami sakit. Posisi tangan dan pergelangan tangan berisiko
apabila dilakukan gerakan berulang/frekuensi sebanyak 30 kali dalm semenit
dan sebanyak 2 kali per menit untuk anggota tubuh seperti bahu, leher,
punggung dan kaki.
3. Postur kerja
Penyimpangan dari postur kerja yang ideal dari lengan pada sisi siku
batang tubuh, lengan, dengan pergelangan tangan lurus.Postur janggal
biasanya termasuk meraih ke belakang, memutar, dan jongkok.Jika postur
yang canggung selama bekerja, ada peningkatan risiko cidera.Semakin sendi
bergerak jauh dari posis netral, kemungkinan cedera semakin besar.
Postur tubuh adalah posisi relatif dari bagian tubuh tertentu.
Bridger (1995) menyatakan bahwa postur didefinisikan sebagai
orientasi rata-rata bagian tubuh dengan memperhatikan satu sama lain antara
bagian tubuh yang lain. Postur dan pergerakan memegang peranan penting
dalam ergonomi. Posisi tubuh yang menyimpang secara signifikan terhadap
posisi normal saat melakukan pekerjaan dapat menyebabkan stress mekanik
lokal pada otot, ligamen, dan persendian. Hal ini mengakibatkan cedera pada
leher, tulang belakang, bahu, pergelangan tangan, dan lain-lain
4. Posisi kerja
Posisi alamiah sehingga tidak menimbulkan sikap paksa yang melampaui
kemampuan fisiologis tubuh (Grandjean &Kroemer, 2000). Sikap kerja tidak
alamiah adalah sikap kerja yang menyebabkan bagian tubuh bergerak
menjauhi posisi alamiahnya.Semakin jauh posisi bagian tubuh dari pusat
gravitasi, semakin tinggi pula terjadi keluhan otot skeleta.
5. Durasi
Durasi adalah lamanya pajanan dari faktor risiko. Durasi selama bekerja akan
berpengaruh terhadap tingkat kelelahan. Kelelahan akan menurunkan kinerja,
kenyamanan dan konsentrasi sehingga dapat menyebabkan kecelakaan kerja.
Durasi manual handling yang lebih besar dari 45 menit dalam 1 jam kerja
adalah buruk dan melebihi kapasitas fisik pekerja.Selain itu, ada pula yang
menyebut durasi manual handling yang berisiko adalah > 10 detik
(Humantech. 1995).Sedangkan dalam REBA, aktivitas yang berisiko adalah 1
menit jika ada satu atau lebih bagian tubuh yang statis.
b) Faktor Individu
1. Umur
Pertambahan umur pada masing-masing orang menyebabkan adanya
penurunan kemampuan kerja pada jaringan tubuh (otot, tendon, sendi dan

7
ligament). Penurunan elastisitas tendon dan otot meningkatkan jumlah sel
mati sehingga terjadi adanya penurunan fungsi dan kapabilitas otot, tendon,
ligament yang akan meningkatkan respon setres mekanik sehingga tubuh
menjadi rentan terhadap MSDs.
Keluhan otot skeletal biasanya dialami seseorang pada usia kerja yaitu
24-65 tahun. Biasanya Keluhan pertama dialami pada usia 30 tahun dan
tingkat keluhan akan meningkat seiring dengan bertambahnya umur. Pada
usia 30 thn terjadi degenerasi berupa kerusakan jaringan, penggantian
jaringan menjadi jaringan parut, pengurangan cairan. Hal ini menyebabkan
stabilitas pada tulang dan otot berkurang. Semakin tua seseorang, semakin
tinggi resiko orang mengalami penurunan elastisitas pada tulang yang
menjadi pemicu timbulnya gejala keluhan MSDs.
2. Kebiasaan merokok
Semakin lama dan semakin tinggi frekuensi merokok, semakin tinggi
pula tingkat keluhan yang dirasakan (Tarwaka. 2004).Perokok lebih memiliki
kemungkinan menderita masalah punggung dari pada bukan perokok.
Efeknya adalah hubungan dosis yang lebih kuat dari pada yang diharapkan
dari efek batuk risiko meningkat sekitar 20% untuk setiap 10 batang rokok
perhari (Pheasant. 1991).
Meningkatnya keluhan otot ada hubungannya dengan lama dan
tingkat kebiasaan merokok. kebiasaan merokok dibagi menjadi 4 kategori
yaitu kebiasaan merokok berat > 20 batang/hari, sedang 10-20 batang/hari,
ringan < 10 batang/hari dan tidak merokok. Meningkatnya keluhan otot ada
hubungan dengan lama dan tingkat kebiasaan merokok seseorang. Risiko
meningkatnya kebiasaan merokok pada seseorang 20% untuk tiap 10 batang
rokok per hari. mereka yang berhenti merokok selama setahun memiliki
risiko MSDs. Adanya kebiasaan merokok akan menurunkan kapasitas paru-
paru, sehingga kemampuan untuk mengkonsumsi oksigen akan menurun. Jika
seseorang dituntut untuk melakukan tugas dengan pengerahan tenaga, maka
akan mudah lelah karena kandungan oksigen didalam darah rendah dan
pembakaran karbohidrat terhambat, sehingga dalam hal ini terjadi tumpukan
asam laktat dan akhirnya menimbulkan rasa nyeri otot.
3. Kebiasaan Olahraga
Tingkat kesegaran jasmani yang rendah akan meningkatkan risiko terjadinya
keluhan otot. Kesegaran tubuh terdiri dari 10 komponen, yaitu: kekuatan,
daya tahan, kecepatan, kelincahan, kelenturan, keseimbangan, kekuatan,

8
koordinasi, ketepatan dan waktu reaksi. Kesepuluh komponen tersebut dapat
diperkuat melalui kebiasaan olahraga. Bagi pekerja dengan kekuatan fisik
yang rendah, risiko keluhan menjadi tiga kali lipat dibandingkan yang
memiliki kekuatan fisik tinggi (Ariani. 2009)
4. Lama kerja
Umumnya dalam sehari seseorang bekerja selama 6-8 jam dan sisanya
14-18 jam digunakan untuk beristirahat atau berkumpul dengan keluarga dan
berkumpul dengan masyarakat.Adanya penambahan jam kerja yang dapat
menurunkan efisiensi pekerja, menurunkan produktivitas, timbulnya
kelelahan dan dapat mengakibatkan penyakit dan kecelakaan. Seseorang
biasanya bekerja selama 40-50 jam dalam seminggu.
Menurut Disnaker Lama kerja juga diatur dalam undangundang no 13
tahun yang menyatakan bahwa jam kerja yang berlaku 7 jam dalam 1 hari dan
40 jam dalam 1 minggu untuk 6 hari kerja dalam 1 minggu, 8 jam 1 hari dan
40 jam dalam 1 minggu untuk 5 hari kerja. menurut pasal 77 ayat 2 dalam
undang-undang no 13 tahun 2003 menyatakan bahwa jumlah jam kerja secara
akumulatif masing-masing shift tidak diperbolehkan bekerja lebih dari 40 jam
dalam seminggu.

5. Status gizi
Berat badan, tinggi badan dan massa tubuh erat kaitannya dengan
status gizi pada seseorang. Gizi kerja adalah gizi yang diterapkan pada
karyawan untuk memenuhi kebutuhan sesuai dengan jenis dan tempat kerja
dengan adanya tujuan dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas yang
tinggi. Status gizi pada seorang pekerja umur 18 tahun keatas ditandai dengan
indeks massa tubuh . indeks massa tubuh dihitung berdasarkan pada berat
badan dan tinggi badan. Hal ini disebabkan karena seseorang dengan
kelebihan berat badan akan berusaha untuk menopang berat badan dari
dengan cara mengontraksikan otot punggung. Dan jika ini dilakukan terus
menerus dapat menyebabkan adanya penekanan pada bantalan saraf tulang
belakang.
Indeks masa tubuh dapat digunakan sebagai indikator kondisi status
gizi pada pekerja. Dengan menggunakan rumus BB2/TB (berat badan2/tinggi
badan), sedangkan menurut WHO dikategorikan menjadi tiga yaitu kurus

9
ringan (18,5- 25), gemuk (>25,0-27,0) dan obesitas (>27,0). Kaitan indeks
masa tubuh dengan MSDs adalah semakin gemuk seseorang maka bertambah
besar risiko untuk mengalami MSDs. Hasil penelitian pada tenaga kerja
bongkar muat di pelabuhan Manado menjelaskan bahwa tidak ada hubungan
antara status gizi dengan keluhan MSDs.
c) Faktor Lingkungan
1. Getaran
Getaran ini terjadi ketika spesifik bagian dari tubuh atau seluruh tubuh
kontak dengan benda yang bergetar seperti menggunakan Power Hand
Tooldan pengoperasianforklift saat mengangkat beban. Getaran juga dapat
menyebabkan kontraksi otot meningkat yang menyebabkan peredaran darah
tidak lancar, sehingga terjadi peningkatan timbunan asam laktat yang dapat
menimbulkan rasa nyeri.
Vibrasi secara sederhana dapat didefinisikan sebagai gerakan
ditimbulkan tubuh terhadap titik tertentu. Vibrasi yang ditimbulkan oleh
mesin biasanya sangat komplek tapi regular. Vibrasi memiliki 2 parameter
yaitu: kecepatan dan intensitas (Oborne, 1995).

2. Suhu
Beda suhu lingkungan dengan suhu tubuh mengakibatkan sebagian
energi di dalam tubuh dihabiskan untuk mengadaptasikan suhu tubuh
terhadap lingkungan. Apabila tidak disertai energi yang cukup akan terjadi
kekurangan suplai energi ke otot (Tarwaka. 2004).
Pajanan pada udara dingin, aliran udara, peralatan sirkulasi udara dan
alat-alat pendingin dapat mengurangi keterampilan tangan dan merusak daya
sentuh. Beda suhu lingkungan dengan suhu tubuh mengakibatkan sebagian
energi di dalam tubuh dihabiskan untuk mengadaptasikan suhu tubuh
terhadap lingkungan. Apabila tidak disertai pasokan energi yang cukup akan
terjadi kekurangan suplai energi ke otot (Tarwaka, 2004).
3. Pencahayaan
Pencahayaan akan mempengaruhi ketelitian dan performa kerja. Bekerja
dalam kondisi cahaya yang buruk, akan membuat tubuh beradaptasi untuk
mendekati cahaya. Jika hal tersebut terjadi dalam waktu yang lama
meningkatkan tekanan pada otot bagian atas tubuh (Bridger. 1995).
Pencahayaan yang inadekuat dapat merusak salah satu fungsi organ tubuh.
Hal ini berkaitan dengan tingkat pekerjaan yang membutuhkan tingkat

10
ketilitian yang tinggi atau tidak. Bila pencahayaan yang inadekuat pada
ruangan kerja akan menyebabkan postur leher lebih condong kedepan (fleksi)
begitupun dengn postur tubuh, postur seperti ini dapat menambah risiko
MSDs.
d) Faktor Psikososial
Faktor psikososial yaitu kepuasan kerja, stress mental, organisasi kerja
(shift kerja, waktu istirahat, dll) (Dinardi, 1997). Organisasi kerja didefinisikan
sebagai distribusi dari tugas kerja tiap waktu dan diantara para pekerja, durasi dari
tugas kerja dan durasi serta distribusi dari periode istirahat. Durasi kerja dan
periode istirahat memiliki pengaruh pada kelelahan jaringan dan pemulihan. Studi
khusus pada pengaruh organisasi kerja pada gangguan leher telah dilakukan.
Ditemukan bahwa kerja VDU yang melebihi empat jam per hari berhubungan
dengan gejala pada leher (Riihimaki,1998).
Bernard et al (1997) menyatakan bahwa walaupun banyak penelitian yang
menunjukkan MSDs dipengaruhi oleh faktor psikososial tetapi umumnya
memiliki kekuatan yang lemah. Pernyataan Bernard tersebut didukung oleh
penelitian yang dilakukan oleh Kerr et al (2001) menunjukkan bahwa faktor
psikososial menyebabkan terjadinya MSDs tetapi memiliki hubungan yang lemah.

2.5 Gejala Gangguan Muskuloskeletal


MSDs ditandai dengan adanya gejala sebagai berikut yaitu : nyeri, bengkak,
kemerah-merahan, panas, mati rasa retak atau patah pada tulang dan sendi dan
kekakuan, rasa lemas atau kehilangan daya koordinasi tangan, susah untuk
digerakkan. MSDs diatas dapat menurunkan produktivitas kerja, kehilangan waktu
kerja, menimbulkan ketidakmampuan secara temporer atau cacat tetap.Untuk
memperoleh gambaran tentang gejala MSDs bisa menggunakan Nordic Body Map
(NBM) dengan cara melihat tingkat keluhan sakit dan tidak sakit. Dengan melihat
dan menganalisa peta tubuh (NBM) sehingga dapat diestimasi tingkat dan jenis
keluhan otot skeletal yang dirasakan oleh para pekerja.
Gejala keluhan muskuloskeletal dapat menyerang secara cepat maupun
lambat (berangsur-angsur), menurut Kromer (1989), ada tiga tahap terjadinya MSDs
yang dapat diidentifikasi yaitu:

11
Tahap 1 : Sakit atau pegal-pegal dan kelelahan selama jam kerja tapi gejala
inibiasanya menghilang setelah waktu kerja (dalam satu malam).
Tidak berpengaruh pada kinerja. Efek ini dapat pulih setelah istirahat;
Tahap 2 : Gejala ini tetap ada setelah melewati waktu satu malam setelah
bekerja. Tidak mungkin terganggu. Kadang-kadang menyebabkan
berkurangnya performa kerja;
Tahap 3 : Gejala ini tetap ada walaupun setelah istirahat, nyeri terjadi ketika
bergerak secara repetitif. Tidur terganggu dan sulit untuk
melakukan pekerjaan, kadang-kadang tidak sesuai kapasitas
kerja.
Menurut Humantech (1995), gejala MSDs biasanya sering disertai dengan
keluhan yang sifatnya subjektif, sehingga sulit untuk menentukan derajat keparahan
penyakit tersebut. MSDs ditandai dengan beberapa gejala yaitu sakit, nyeri, rasa
tidak nyaman, mati rasa, rasa lemas atau kehilangan daya dan koordinasi tangan, rasa
panas, agak sukar bergerak, rasa kaku dan retak pada sendi, kemerahan, bengkak,
panas, dan rasa sakit yang membuat terjaga ditengah malam dan rasa untuk memijit
tangan, pergelangan dan lengan.
Menurut Suma’mur (1996), gejala-gejala MSDs yang biasa dirasakan oleh
seseorang adalah:
1. Leher dan punggung terasa kaku
2. Bahu tersa nyeri, kaku ataupun kehilangan fleksibelitas
3. Tangan dan kaki terasa nyeri seperti tertusuk
4. Siku ataupun mata kaki mengalami sakit, bengkak dan kaku
5. Tangan dan pergelangan tangan merasakan gejala sakit atau nyeri disertai
bengkak.
6. Mati rasa, terasa dingin, rasa terbakar ataupun tidak kuat.
7. Jari menjadi kehilangan mobitasnya, kaku dan kehilangan kekuatan serta
kehilangan kepekaan.
8. Kaki dan tumit merasakan kesemutan, dingin, kaku ataupun sensasi rasa
panas.

2.6 Keluhan Gangguan Muskuloskeletal


Keluhan muskuloskeletal adalah keluhan pada bagian-bagian otot skeletal
yang dirasakan oleh seseorang mulai dari keluhan sangat ringan sampai sangat sakit.
Apabila otot menerima beban statis secara berulang dan dalam waktu yang lama,
akan dapat menyebabkan keluhan berupa kerusakan pada sendi, ligament, dan

12
tendon. Keluhan hingga kerusakan inilah yang biasanya diistilahkan dengan keluhan
MSDs atau cedera pada system musculoskeletal (Grandjean, 1993). Secara garis
besar keluhan otot dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu:
a. keluhan sementara (reversible), yaitu keluhan otot yang terjadi pada saat otot
menerima beban statis, namun demikian keluhan tersebut akan segera hilang
apabila pembebanan dihentikan.
b. Keluhan menetap (persistent), yaitu keluhan oto yang bersifat menetap.
Walaupun pembebanan kerja telah dihentikan, namun rasa sakit pada otot
masih terus berlanjut.
Selain itu, menurut Humantech (1995), keluhan yang menggambarkan keparahan
penyakit MSDs terbagi menjadi:
a. Tahap 1
Nyeri dan kelelahan pada saat bekerja tetapi setelah beristirahat yang cukup
tubuh akan pulih kembali. Tidak mengganggu kapasitas kerja.
b. Tahap 2
Keluhan rasa nyeri tetap ada setelah waktu semalam, istirahat, timbul
gangguan tidur, dan sedikit mengurangi performa kerja.
c. Tahap 3
Rasa nyeri tetap ada walaupun telah istirahat, nyeri dirasakan saat bekerja,
saat melakukan gerakan yang repetitive, tidur terganggu, dan kesulitan dalam
menjalankan pekerjaan yang pada akhirnya akan mengakibatkan terjadinya
inkapasitas.

2.7 Jenis-jenis Gangguan Muskuloskeletal


Adanya gangguan muskuloskeletal yang diakibatkan oleh cidera pada saat
bekerja yang dipengaruhi oleh lingkungan kerja dan cara bekerja. Sehingga
menyebabkan kerusakan pada otot, syaraf, tendon, persendian.Sedangkan arti
gangguan musculoskeletal sendiri adalah penyakit yang menimbulkan rasa nyeri
berkepanjangan. Gangguan musculoskeletal yang berhubungan dengan pekerjaan
dapat terjadi bilamana ada ketidak cocokan antara kebutuhan fisik kerja dan
kemampuan fisik tubuh manusia.
Jenis-jenis keluhan Keluhan muskuloskeletal antara lain:
a. Sakit Leher : Sakit leher adalah penggambaran umum terhadap gejala
yang mengenai leher, peningkatan tegangan otot atau myalgia, leher
miring atau kaku leher.

13
b. Nyeri Punggung : Nyeri punggung merupakan istilah yang digunakan
untuk gejala nyeri punggung yang spesifik seperti herniasi lumbal,
arthiritis, ataupun spasme otot.
c. Carpal Tunnel Syndrome : Merupakan kumpulan gejala yang mengenai
tangan dan pergelangan tangan yang diakibatkan iritasi dan nervus
medianus. Keadaan ini disebabkan oleh aktivitas berulang yang
menyebabkan penekanan pada nervus medianus.
d. Thoracic Outlet Syndrome : Merupakan keadaan yang mempengaruhi
bahu, lengan, dan tangan yang ditandai dengan nyeri, kelemahan, dan
mati rasa pada daerah tersebut.
e. Tennis Elbow : Tennis elbow adalah suatu keadaan inflamasi tendon
ekstensor, tendon yang berasal dari siku lengan bawah dan berjalan
keluar ke pergelangan tangan. Tennis elbow disebabkan oleh gerakan
berulang dan tekanan pada tendon ekstensor.
f. Low Back Pain : Low back pain terjadi apabila ada penekanan pada
daerah lumbal yaitu L4 dan L5. Apabila dalam pelaksanaan pekerjaan
posisi tubuh membungkuk ke depan maka akan terjadi penekanan pada
discus.
Gangguan Kesehatan Pada Muculoskeletal Tiap Bagian Tubuh
1) Cidera Pada Tangan
Cidera pada bagian tangan, pergelangan tangan dan siku bisa disebabkan dari
pekerjaan tangan yang intensif sehingga memungkinkan terjadinya postur janggal
pada tangan dengan durasi yang lama, pergerakan yang berulang/repetitif, dan
tekanan dari peralatan/ material kerja. Penelitian dari Chiang (1993) pada tiga grup
pekerjaan menyimpulkan bahwa prevalensi CTS ditemukan sebbesar 14,5% sebagai
gejala awal dari pergerakan repetitive yang dilakukan pekerja. (Bernard et al;
NIOSH, 1997).
a. Tendinitis
Merupakan peradangan pada tendon, adanya struktur ikatan yang melekat
pada masing-masing bagian ujung dari otot ke tulang. Keadaan tersebut akan
semakin berkembang ketika tendon terus menerus digunakan untuk
mengerjakan hal-hal yang tidak biasa seperti tekanan yang kuat pada tangan,
membengkokkan pergelangan tangan selama bekerja, atau menggerakkan
pergelangan tangan secara berulang. Gejala yang dirasakan antara lain Pegal,
sakit pada bagian tertentu khususnya ketika bergerak aktif seperti pada siku

14
dan lutut yang disertai dengan pembengkakan. Kemerah-merahan, terasa
terbakar, sakit dan membengkak ketika bagian tubuh tersebut beristirahat.
b. Carpal Tunnel Syndrome (CTS).
CTS dapat menyebabkan sulitnya seseorang menggenggam sesuatu pada
tangannya. CTS merupakan Gangguan tekanan/ pemampatan pada syaraf
yang mempengaruhi syaraf tengah, salah satu dari tiga syaraf yang menyuplai
tangan dengan kemampuan sensorik dan motorik. Gejalanya antara lain Gatal
dan mati rasa pada jari khususnya di malam hari, sakit seperti terbakar, mati
rasa yang menyakitkan, sensasi bengkak yang tidak terlihat, melemahnya
sensasi genggaman karena hilangnya fungsi syaraf sensorik. Faktor risiko
yang dapat menyebabkan CTS Manual handling, postur, getaran, repetisi,
force/ gaya yang membutuhkan peregangan, frekuensi, durasi, suhu.

c. Trigger finger
Tekanan yang berulang pada jari-jari (pada saat menggunakan alat kerja yang
memiliki pelatuk) dimana menekan tendon secara terus menerus hingga ke
jari-jari dan mengakibtakan rasa sakit dan tidak nyaman pada bagian jari-jari.
d. Epicondylitis
Merupakan rasa nyeri atau sakit pada bagian siku. Rasa sakit ini berhubungan
dengan perputaran ekstrim pada lengan bawah dan pembengkokan pada
pergelangan tangan. Kondisi ini juga biasa disebut tennis elbow atau golfer’s
elbbow.
e. Hand-Arm Vibration Syndrome (HAVS).
Gangguan pada pembuluh darah dan syaraf pada jari yang disebabkan oleh
getaran alat atau bagian / permukaan benda yang bergetar dan menyebar
langsung ke tangan. Dikenal juga sebagai getaran yang menyebabkan white
finger, traumatic vasospastic diseases atau fenomena Raynaud’s kedua.
Gejala dari HAVS adalah Mati rasa, gatal-gatal, dan putih pucat pada jari,
lebih lanjut dapat menyebabkan berkurangnya sensitivitas terhadap panas dan
dingin. Gejala biasanya muncul dalam keadaan dingin. Faktor yang berisiko
menyebabkan HAVS diantaranya adalah Getaran, durasi, frekuensi, intensitas
getaran, suhu dingin.
2) Cidera Pada Bahu dan Leher

15
Pekerjaan dengan melibatkan bahu memiliki kemungkinan yang besar dalam
penyebabkan cidera pada bagian tubuh tersebut. Beberapa postur bahu seperti
merentang lebih dari 45° atau mengangkat bahu ke atas melebihi tinggi kepala.
Terdapat hubungan yang positif antara pekerjaan repetitif dan MSDs pada bahu dan
leher, studi lainnya menyatakan bahwa kejadian cidera bahu juga disebabkan karena
eksposur dengan postur janggal dan beban yang diangkat (Bernard et al, 1997).
a. Bursitis.
Peradangan (pembengkakan) atau iritasi yang terjadi pada jaringan ikat yang
berada pada sekitar persendian. Penyakit ini akibat posisi bahu yang janggal
seperti mengangkat bahu di atas kepala dan bekerja dalam waktu yang
lama.
b. Tension Neck Syndrome.
Gejala ini terjadi pada leher yang mengalami ketegangan pada otot-ototnya
disebabkan postur leher menengadah ke atas dalam waktu yang lama.
Sindroma ini mengakibatkan kekakuan pada otot leher, kejang otot, dan rasa
sakit yang menyebar ke bagian leher.
3) Cidera Pada Punggung dan Lutut
Menurut Ablett (2001) dalam Santoso (2004), terdapat 80% orang dewasa
mengalami nyeri pada bagian tubuh belakang (back pain) karena berbagai sebab dan
kejadian back pain ini mengakibatkan 40% orang tidak masuk kerja.
a. Low Back Pain.
Kondisi patologis yang mempengaruhi tulang, tendon, syaraf, ligamen,
intervertebral disc dari lumbar spine (tulang belakang). Cidera pada punggung
dikarenakan otot-otot tulang belakang mengalami peregangan jika postur
punggung membungkuk. Diskus (discs) mengalami tekanan yang kuat dan
menekan juga bagian dari tulang belakang termasuk syaraf. Apabila postur
membungkuk ini berlangsung terus menerus, maka diskus akan melemah yang
pada akhirnya menyebabkan putusnya diskus (disc rupture) atau biasa disebut
herniation. Gejala yang dirasakan adalah Sakit di bagian tertentu yang dapat
mengurangi tingkat pergerakan tulang belakang yang ditandai oleh kejang otot.
Faktor risiko yang dapat menimbulkan LBP adalah Pekerjaan manual yang berat,
postur janggal, force/ gaya,beban objek,getaran, repetisi, dan ketidakpuasan
terhadap pekerjaan.
b. Penyakit musculoskeletal

16
Yang terdapat di bagian lutut berkaitan dengan tekanan pada cairan di antara
tulang dan tendon. Tekanan yang berlangsung terus menerus akan mengakibatkan
cairan tersebut (bursa) tertekan, membengkak, kaku, dan meradang atau biasa
disebut bursitis. Tekanan dari luar ini juga menyebabkan tendon pada lutut
meradang yang akhirnya menyebabkan sakit (tendinitis).

2.8 Dampak Gangguan Muskuloskeletal


Dampak yang diakibatkan oleh MSDs pada aspek ekonomi perusahaan yaitu
(Pheasant, 1991):
a. Pada askpek produksi yang berkurangnya output, kerusakan material, prodk
yang akhirnya menyebabkan tidak terpenuhinya deadline atau target
produksi, pelayanan yang tidak memuasakan, dan lain-lain.
b. Biaya yang timbul akibat absensi perkerja yang akan menyebabkan
penurunan keuntungan, biaya untuk pelatihan karyawan baru yang
menggantikan pekerjaan yang sakit, biaya untuk menyewa jasa konsultan
atau agensi.
c. Biasa pergantian pekerjaan (turnover) untuk recruitment dan pelatihan.
d. Biaya asuransi.
e. Biaya lainnya (opportunity cost).
Sementara itu, menurut Bird (2005), MSDs dapat menjadi suatu permasalahan
penting karena dapat :
a. Waktu kerja yang hilang karena sakit umumnya disebabkan penyakit otot
rangka.
b. Menurunkan produktivitas kerja.
c. MSDs terutama yang berhubungan dengan punggung merupakan masalah
penyakit akibat kerja yang penanganannya membutuhkan biaya yang tinggi.
d. Penyakit MSDs bersifat multikausal sehingga sulit untuk menentukan
proporsi yang semata-mata akibat hubungan kerja.
e. Penurunan kewaspadaan.
f. Meningkatkan risiko terjadinya kecelakaan.

2.9 Pengukuran Muskuloskeletal Disorders (Nordic Body Map)


Pengukuran muskuloskeletal disorders (Rizka, 2012): melalui NBM dapat
diketahui bagian-bagian otot yang mengalami keluhan mulai dari rasa tidak nyaman
(agak sakit) sampai sangat sakit.

17
Nordic Body Map merupakan salah satu metode pengukuran subyektif untuk
mengukur rasa sakit otot para pekerja. Kuesioner Nordic Body Map merupakan salah
satu bentuk kuisioner checklist ergonomi. Kuisioner Nordic Body Map adalah
kuesioner yang paling sering digunakan untuk mengetahui ketidaknyamanan pada
para pekerja karena sudah terstandarisasi dan tersusun rapi.
Pada NBM terdapat empat rentang skor yaitu skor satu untuk tidak sakit,
skor dua untuk agak sakit, skor tiga untuk sakit dan skor empat untuk sangat sakit.
Setelah kuesioner diisi, skor dari masing-masing pertanyaan akan diakumulasi untuk
mengetahui tingkatan keluhan musculoskeletal yang diderita (Dryastiti, 2013).
2.10 Metode Penilaian Keluhan Sistem Muskuloskeletal
Ada beberapa cara yang telah diperkenalkan dalam melakukan evaluasi
ergonomi untuk mengetahui hubungan antara tekanan fisik dengan resiko keluhan
otot skeletal. Pengukuran terhadap tekanan fisik ini cukup sulit karena melibatkan
berbagai faktor subjektif seperti; kinerja, motivasi, harapan dan toleransi kelelahan
(Waters & Anderson, 1996). Alat ukur ergonomik yang dapat digunakan cukup
banyak dan bervariasi. Namun demikian, dari berbagai alat ukur dan berbagai
metode yang ada tentunya mempunyai kelebihan dan keterbatasan masing-masing.
Untuk itu kita harus dapat secara selektif memilih dan menggunakan metode secara
tepat sesuai dengan tujuan observasi yang akan dilakukan. Beberapa metode
observasi postur tubuh yang berkaitan dengan resiko gangguan pada sistem
muskuloskeletal (seperti metode ‘OWAS’,’RULA’ dan ‘REBA’).
1. Metode OWAS (Ovako Working Analysis System)

18
Metode OWAS merupakan suatu metode yang digunakan untuk
menilai, postur tubuh pada saat bekerja seperti halnya metode RULA dan
REBA. Metode ini pertama kali diperkenalkan oleh seorang penulis dari
Osmo Karhu Finlandia, tahun 1997 dengan judul “Correcting Working
postures in industry: A practical method for analysis.” Yang diterbitkan
didalam jurnal “Applied Ergonomics”. Metode OWAS ini seperti dijelaskan
oleh penulisnya adalah merupaka sebuah metode yang sederhana dan dapat
digunakan untuk menganalisis suatu pembebanan pada postur tubuh.
2. Metode RULA (The Rapid Upper Limb Assessment)
Metode ini pertama kali dikembangkan oleh Lynn McAtamney dan
Nigel Corlett, E. (1993), seorang ahli ergonomic dari Nottingham’s Institute
of Occupational Ergonomics England. Metode ini prinsip dasarnya hampir
sama dengan metode REBA (Rapid Entire Body Assessment) maupun metode
OWAS (Ovako Postur Analysis System). Metode RULA merupakan suatu
metode dengan menggunakan target postur tubuh untuk mengestimasi
terjadinya resiko gangguan otot skeletal, khususnya pada anggota tubuh
bagian atas (upper limb disorders), seperti adanya gerakan repetitif, pekerjaan
diperlukan pengerahan kekuatan, aktivitas otot statis pada otot skeletal, dll.

2.11 Upaya pencegahan Gangguan Muskuloskeletal


Diperlukan suatu upaya pencegahan untuk meminimalisasi timbulnya MSDs
pada lingkungan kerja.upaya pencegahan tersebut dapat mempunyai manfaat berupa
penghematan biaya, meningkatkan produktivitas serta kualitas kerja dan
meningkatkan kesehatan para karyawan.
Berikut upaya yang bisa dilakukan oleh para pekerja untuk mengurangi risiko
terjadinya kecelakaan kerja yaitu:
1. Peregangan otot sebelum melakukan pekerjaan pada setiap harinya.
2. Posisi sedikit berlutut saat mengambil barang jangan membungkuk.
3. Mencodongkan punggung saat mengangkat beban.

2.12 Pengendalian Gangguan Muskuloskeletal/ Muskuloskeletal Disorders


Berdasarkan rekomendasi dari Occupational Safety and Health
Administration (OSHA) dalam Tarwakal ,et al (2004), tindakan ergonomik untuk
mencegah adanya sumber penyakit adalah memalui dua cara yaitu Rekayasa

19
Teknik( desain stasiun dan alat kerja ) dan Rekayasa Manajemen ( kriteria dan
organisasi kerja).
a. Rekayasa teknik pada umumnya dilakukan melalui pemilihan beberapa
alteralitf, meliputi (et al Tarwaka, 2004) :
 Eliminasi,yaitu dengan menghilangkan sumber bahaya yang ada. Hal ini
jarang dilakukan mengingat kondisi dan tuntutan pekerja yang
mengharuskan untuk menggunakan peralatan yang ada.
 Substitusi, yaitu mengganti alat atau bahan lama dengan alat atau bahan
baru yang aman, menyempurnakan proses produksi dan menyempurnakan
prosedur penggunaan peralatan.
 Partisi yaitu melakukan pemisahan antara sumber bahaya dengan pekerja.
b. Rekayasa Menejemen dapat dilakukan melalui tindakan berikut :
 Pendidikan dan pelatihan agar pekerja lebih memahami lingkungan dan
alat kerja sehingga diharapkan dapat melakukan penyesuaian dan inovatif
dalam melakukan upaya pencegahan terhadap risiko sakit akibat kerja
 Pengaruh waktu kerja dan istirahat yang seimbang, dalam arti disesuaikan
dengan kondisi lingkungan kerja dan karakterisktik pekerjaan, sehingga
dapat mencegah paparan yang berlebihan terhadap sumber bahaya.
 Pengawasan yang intensif, agar dapat dilakukan pencegahan secara lebih
dini terhadap kemungkinan terjadinya risiko sakit akibat kerja (et al
Tarwaka, 2004)

Agar tidak mengalami risiko MSDs pada saat melakukan pekerjaan, maka
ada beberapa hal yang harus dihindari. Hal tersebut adalah :
 Jangan memutar atau membungkukkan badan ke samping.
 Jangan menggerakkan, mendorong atau menarik secara sembarangan,
karena dapat meningkatkan risiko cidera.
 Jangan ragu meminta tolong pada orang.
 Apabila jangkauan tidak cukup, jangan memindahkan barang.
 Apabila barang yang hendak dipindahkan terlalu berat, janganme
lanjutkan.
 Lakukan senam/peregangan otot sebelum bekerja. (Cohen et al, 1997).

BAB 3 : Proses Pengkajian

3.1 Pengkajian
Pengkajian pada pasien dengan gangguan sistem muskuloskeletal perlu
diperhatikan adalah sebagai berikut:

20
a. Pengumpulan data yang meluputi:
1) Biodata klien dan penanggung jawab klien
Terdiri dari nama, umum, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, agama, alamat,
tanggal masuk, rumah sakit, No. Mederc dan diagnosa medis.
2) Keluhan Utama
Pada saat dikaji klien mengalami fraktur dan memobilisasikan alasannya yaitu
mengeluh tidak dapat melakukan pergerakan nyeri: lemah dan tidak dapat
melakukan sebagian aktivitas sehari-hari
3) Riwayat Kesehatan Sekarang
Menceritakan kapan klien mengalami fraktur dimana dan bagaimana terjadinya
sehingga mengalami fraktur, klien yang mengalami fraktur akan mengeluh
nyeri pada daerah tulang yang luka sehingga dengan adanya nyeri klien tidak
dapat menggerakan anggota badannya yang terkena fraktur nyeri dirasakan
bisa pada saat bergerak saja atau terus menerus akibat tidak bisa bergerak yang
disebabkan karena nyeri akan menyebabkan klien tidak dapat memenuhi ADL-
nya secara maksimal.
4) Riwayat Kesehatan Dahulu
Perlu dikaji untuk mengetahui apakah klien pernah mengalami sesuatu
penyakit yang berat atau penyakit tertentu yang memungkinkan akan
berpengaruh pada kesehatan sekarang.
5) Riwayat Kesehatan Keluarga
Perlu diketahui untuki menentukan apakah dalam keluarga terdapat penyakit
keturunan/penyakit karena lingkungan yang kurangt sehat yang berdampak
negatif pada seluruh anggota keluarga termasuk pada klien sehingga
memungkinkan untuk memperbesar penyakitnya.
6) Riwayat Psikososial
Pengkajian yang dilakukan pada klien imobilisasi pada dasarnya sama dengan
pengkajian psikososial pada gangguan sistem lain yaitu mengenal konsep diri
(gambaran diri, ideal diri, harga diri dan identitas diri) dan hubungan serta
interaksi klien baik dengan anggota keluarga maupun dengan lingkungan di
mana ia berada.
7) Aktivitas Sehari – hari

21
Upaya mengetahui adanya perubahan pola yang berhubungan dengan
penyimpangan/terganggunya sistem tubuh tertentu serta dampaknya terhadap
pemenuhan kebutuhan dasar pasien.
b. Pemeriksaan Fisik
1) Keadaan Umum
Pada klien imobilisasi biasanya mengalami, kelemahan kebersihan diri kurang
bentuk tubuh kurus akibat penurunan berat badan kesadarannya kompementis.
2) Sistem Pernapasan
Dikaji ada tidaknya sekret, gerak dada saat bernapas auskultasi bunyi napas,
ada tidaknya nyeri tekan pada daerah dada serta frekuensi napas.
3) Kajian Nyeri
a. Klien mengeluh nyeri pada kaki kiri
b. Mengeluh kaki kirinya tidak bisa digerakkan
c. Saat dikaji skala nyeri 1 – 10 klien mengatakan nyerinya berada di no. 3

3.2 Analisa Data


No Data Kemungkinan Penyebab Masalah
1. DS: Trauma Gangguan rasa
Klien mengeluh sakit pada  nyaman nyeri
bagian kaki kiri Terputusnya kontinuitas jaringan
DO: 
Eskpresi wajah klien Pengeluaran epineprin dan non
meringis kesakitan epineprin
Skala nyeri 8 
Dihantarkan ke Hipotalamus

Nyeri
2. DS: Adanya/timbul rasa nyeri yang Kurangnya
Klien mengeluh kaki bertambah bila digerakkan aktivitas/mobilitas
kirinya tidak bisa digerakkan  fisik
DO: Klien membatasi gerak tubuhnya
Setiap tindakan dibantu 
oleh keluarga dan perawat Aktivitas yang dilakukan
Klien tampak lemah terbatas/minimal

22
Kaki klien di pasang gips
dan traxi

3. DS: Kurangnya pengetahuan klien Gangguan rasa


Klien selalu menanyakan tentang keadaan dan prosedur aman cemas
tentang keadaannya yang dilakukan
DO: 
Klien kelihatan bingung Stresor psikologi bagi klien
dan cemas 
cemas

3.2 Diagnosa Keperawatan


1. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas
jaringan
2. Kurangnya aktivitas/mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri.
3. Gangguan rasa aman cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan

3.4 Intervensi
No DX. keperawatan Intervensi Rasional
1. Gangguan rasa Pertahankan imobilisasi Menghilangkan nyeri dan
nyaman nyeri bagian yang sakit dengan tirahmencegah kesalahan posisi
baring tulang/tegangnya jaringan yang
cedera
Meningkatkan aliran balik
Tinggikan dan dukungvena menurunkan oedema dan
ekstremitas yang terkena menurunkan rasa nyeri
Meningkatkan relaksasi otot
dan meringankan partisipasi
Beri obat sebelum perawatan Mempertahankan kekuatan
aktivitas mobilitas otot yang sakit dan
memudahkan resolusi inflamasi
Lakukan dan awasi rentangpada jaringan yang cedera.
gerak aktif/pasif Menurunkan oedema/

23
pembentukan hematoma
menurunkan sensasi nyeri
Diberikan untuk menurunkan
Lakukan kompres dingin/ esatau meng-hilangkan rasa nyeri
24 – 48 jam pertama atau dan spasme otot

Berikan obat sesuai indikasi


2. Kurangnya Kaji derajat immobilitas Pasien mungkin dibatasi oleh
aktivitas/mobilitas yang dihasilkan olehpandangan diri tentang
fisik cedera/pengobatan dan danketerbukaan fisik aktual
perhatian persepsi pasienmemerlukan infor-
terhadap immo-bilisasi masi/intervensi untuk
meningkatkan kemajuan
Bantu/dorong perawatan dirikesehatan
atau kebersihan seperti mandi. Meningkatkan kekuatan otot
dan sirkulasi, meningkatkan
Awasi TD dengankesehatan diri langsung
memikirkan aktifitas atau Hipotensi posteral atau
kebersihan seperti mandi masalah umum menyertai tirah
baring yang lemah dan dapat
memerlukan intervensi khusus.
Ubah posisi secara periode Mencegah/menurunkan
dan dorong untuk latihaninsiden komplikasi kulit/
bentuk napas dalam pernapasan (dekutibus)
Dorong peningkatan
masukan cairan sampai 2000- Mempertahankan hidrasi
3000 ml/hari termasuk airtubuh menurunkan resiko
asam infeksi urinarius, pem-bentukan
Beri penjelasan padabatu dan konstepasi.
keluraga tentang kondisi klien
3. Gangguan rasa aman Kaji tingkat kecemasan Menggali tingkat kecemasan
cemas keluarga klien keluarga klien dapat diketahui
apakah keluarga berada dalam
tahap cemas, ringan, sedang,

24
dan berat.
Penjelasan dapat menambah
Beri penjelasan padapengetahuan keluarga tentang
keluarga tentang kondisi klien kondisi klien.
Dengan selalu berdoa akan
Ajarkan pada kleuarga untukmengurangi kecemasan bagi
selalu beradoa dan mesnuportkeluarga klien
klien agar cepat sembuh
Beri reinforcement positif Reinforcement positif dapat
bila kelaura dapat menjelaskanmemberikan motivasi dan
kembali tentang kondisi klien meningkatkan semangat
keluarga sehingga dapat
mengurangi cemas.

25
BAB 1 : PENUTUP

1.1 Kesimpulan
World Health Organization (WHO) mendefinisikan gangguan
muskuloskeletal (musculoskeletal disorder/MSD) merupakan gangguan pada
otot, tendon, sendi, ruas tulang belakang, saraf perifer, dan sistem vaskuler yang
dapat terjadi secara tiba-tiba dan akut maupun secara perlahan dan kronis.
Faktor risiko gangguam muskuloskeletal adalah faktor pekerjaan, faktor individu,
faktor lingkungan dan faktor psikosoasial.
Prevalensi penyakit muskuloskeletal di Indonesia berdasarkan pernah
didiagnosis oleh tenaga kesehatan yaitu 11,9 persen dan berdasarkan diagnosis atau
gejala yaitu 24,7 persen (Riskesdas, 2013). Prevalensi penyakit musculoskeletal
tertinggi berdasarkan pekerjaan adalah pada petani, nelayan atau buruh yaitu 31,2
persen (Riskesdas, 2013).
Berikut upaya yang bisa dilakukan oleh para pekerja untuk mengurangi risiko
terjadinya kecelakaan kerja yaitu:
1. Peregangan otot sebelum melakukan pekerjaan pada setiap harinya.
2. Posisi sedikit berlutut saat mengambil barang jangan membungkuk.
3. Mencodongkan punggung saat mengangkat beban.
Berdasarkan rekomendasi dari Occupational Safety and Health
Administration (OSHA) dalam Tarwakal , et al (2004), tindakan ergonomik untuk
mencegah adanya sumber penyakit adalah memalui dua cara yaitu Rekayasa teknik
( desain stasiun san alat kerja) dan Rekayasa Manajemen ( kriteria dan organisasi
kerja).
1.2 Saran
Penulis menyarankan kepada perusahaan atau tempat kerja untuk selalu
menerapkan prinsip ergonomis untuk mencegah gangguan muskuloskeletal.
Kemudian menyarankan dalam melakukan kajian terhadap metode penilaian
gangguan muskuloskeletal harus lebih rinci lagi, agar penanganan yang dilakukan
untuk gangguan muskuloskeletal dapat teratasi dengan baik.

26
DAFTAR PUSTAKA

Harrianto, Ridwan. 2010. Buku Ajar Kesehatan Kerja. Jakarta: Buku Kedokteran
EGC.

Doenges, Marilynn., et.all. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan, EGC Jakarta

Engram Barbara. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah, volume 2,


EGC Jakarta

Suddarth Brunner, 2001, Buku Ajaran Keperawatan Medikal Bedah, volume 3, EGC
Jakarta

Wim de Jong, Sjamsuhidayat R 1997. Buku Ajar Ilmu Bedah, Revisi, EGC, Jakarta

27