Anda di halaman 1dari 6

TERAPI CAIRAN DAN TRANSFUSI DARAH

Hampir pada setiap pasien yang akan menjalani prosedur pembedahan memerlukan akses vena
untuk pemberian cairan intravena dan obat-obatan. Anesthesiologist harus bisa menilai volume
cairan intravaskular dengan akurat dan menggantikan defisit cairan dan elektrolit. Kesalahan
dalam penggantian cairan dan elektrolit atau transfusi dapat menyebabkan morbiditas atau
kematian.
EVALUASI VOLUME CAIRAN INTRAVASKULAR
Volume cairan intravascular dapat dinilai dari riwayat pasien (anamnesis), pemeriksaan fisik,
pemeriksaan laboratorium atau dengan bantuan monitoring hemodynamic yang canggih.
- Riwayat Pasien
Riwayat pasien merupakan penilaian penting dalam pemeriksaan pre-operatif
diantaranya adalah jumlah cairan peroral, muntah, diare, gastric suction, kehilangan
darah yang signifikan, drainase luka, pemberian cairan intravena dan darah, dan
hemodialisis pada pasien gagal ginjal.

- Pemeriksaan Fisik
Tanda-tanda hipovolemia meliputi turgor kulit abnormal, dehidrasi, denyut nadi
meningkat, peningkatan denyut jantung, penurunan tekanan darah, dan penurunan
produksi urin.

TRANSFUSI
GOLONGAN DARAH
Membran sel darah merah terdiri dari 300 antigen yang berbeda, dan setidaknya ada 20 antigen
golongan darah yang diketahui. Namun, hanya sistem ABO dan Rh yang sangat penting pada
transfusi darah. Antibodi bertanggungjawab untuk reaksi-reaksi dari transfusi
Sistem ABO
Golongan darah ABO ditentukan berdasarkan ada atau tidaknya antigen A atau antigen B pada
sel darah merah. Golongan darah A memiliki antigen A pada sel darah merah, golongan darah
B memiliki antigen B pada sel darah merah, golongan darah AB memiliki antigen A dan B
pada sel darah merah, dan golongan darah O tidak memiliki antigen A maupun B pada sel darah
merah.
Sistem Rh
Terdapat sekitar 46 Rhesus pada sel darah merah, tetapi pasien dengan Rhesus antigen D berarti
memiliki Rhesus positif. Sekitar 85% populasi berkulit putih dan 92% populasi berkulit hitam
memiliki antigen D dan sisanya tidak memiliki antigen D yang artinya memiliki Rhesus
negatif.
TES KOMPATIBILITAS
Tujuan dari tes kompatibilitas adalah memprediksi dan mencegah reaksi antigen-antibodi yang
dihasilkan pada saat transfusi darah
Tes ABO-Rh
Reaksi yang paling berbahaya dari transfusi adalah inkompatibilitas ABO, antibodi dapat
bereaksi melawan antigen dari transfusi (pendonor), mengaktifkan komplemen, dan
menyebabkan hemolisis intravaskular. Sel darah merah pasien diuji dengan serum yang dikenal
yang mempunyai antibodi melawan A dan B untuk menentukan golongan darah. Serum pasien
diuji dengan sel darah merah yang jenis antigen nya diketahui.
Sel darah merah pasien juga diuji dengan anti-D antibodi untuk menentukan Rhesus. Jika
pasien memiliki Rh negatif, akan timbul anti-D antibodi jika serum pasien dicampur dengan
sel darah merah yang memiliki Rh positif
Antibody Screen
Tujuan tes ini adalah mendeteksi adanya antibodi dalam serum yang biasanya berhungan
dengan reaksi hemolitik non-ABO. Tes ini dikenal dengan Coombs Test, memerlukan waktu
45 menit. Serum pasien dicampur dengan sel darah merah yang antigen nya diketahui, jika
terdapat antibodi spesifik akan timbul aglutinasi.
Crossmatch
Dilakukan pencampuran antara sel darah merah pendonor dengan serum pasien. Crossmatch
mempunyai tiga fungsi yaitu: (1) konfirmasi jenis ABO dan Rh, (2) mendeteksi antibodi pada
golongan darah lain, (3) mendeteksi antibodi dalam titer yang rendah dan tidak mudah terjadi
aglutinasi
TRANSFUSI EMERGENSI
Jika golongan darah dan jenis Rhesus penerima tidak diketahui dengan pasti dan transfusi harus
segera dilakukan, maka golongan darah O dengan Rh negatif (universal donor) dapat
digunakan.
BANK DARAH
Darah pendonor harus di screening untuk menghindari kondisi medis yang mungkin terjadi
pada pendonor maupun penerima. Setelah darah dikumpulkan, kemudian tentukan golongan
darah nya, dilakukan screening antibodi, dan diperiksa hepatitis B, hepatitis C, sifilis, dan HIV.
Larutan anticogulant ditambahkan, yang paling umum digunakan adalah CPDA-1, yang
mengandung citrate sebagai antikoagulan (berikatan dengan calsium), phosphate sebagai
buffer, dextrose sebagai sumber energi sel darah merah, dan adenosin sebagai precusor dari
sintesa ATP. CPDA-1 dapat mengawetkan darah sampai 35 hari. Penambahan AS-1 (Adsol)
atau AS-3 (Nutrice) dapat memperpanjang pengawetan darah sampai 6 minggu.
Semua unit darah dipisahkan menjadi beberapa komponen diantaranya sel darah merah,
trombosit, dan plasma. Satu unit Whole blood menghasilkan sekitar 250 mL Packed Red Cell
(PRCs) dengan hematokrit 70%, jika ditambahkan larutan saline, volume satu unit PRCs
mencapai 350 mL. Normalnya, sel darah merah disimpan pada suhu 1-6 C, tetapi bisa juga
dibekukan dalam larutan hipertonik gliserol sampai 10 tahun, teknik ini biasanya digunakan
untuk menyimpan darah dengan fenotip yang jarang.
Ketika supernatan disentrifuse akan menghasilkan trombosit dan plasma. Satu unit trombosit
umumnya mengandung 50-70 mL plasma dan dapat disimpan pada suhu 20-24 C sampai 5
hari. Sisa supernatan plasma diproses dan dibekukan untuk menghasilkan Fresh Frozen
Plasma. Pembekuan yang cepat membantu mencegah inaktivasi faktor pembekuan (V dan
VIII).
TRANSFUSI INTRAOPERATIF
Packed Red Blood Cells
Transfusi darah sebaiknya diberikan Packed Red Cell. Pasien yang menjalani pembedahan
memerlukan sel darah merah, dan cairan kristaloid maupun koloid yang diberikan melalui
akses intravena kedua. Darah untuk intraoperasi harus dihangatkan sampai 37C, terutama
ketika lebih dari 2-3 unit yang akan ditransfusikan, jika tidak dihangatkan akan menyebabkan
hipotermia, kemudian 2,3-diphosphoglycerate (2,3 DPG) dalam darah menurun sehingga
menyebabkan hemoglobin-oxygen menurun, dan akhirnya terjadi hipoksia jaringan.
Fresh Frozen Plasma
Fresh Frozen Plasma (FFP) mengandung plasma protein, termasuk faktor pembekuan. Indikasi
transfusi FFP diantaranya adalah defisiensi faktor isolated, reversal of warfarin therapy, dan
koreksi dari koagulopati yang berhubungan dengan penyakit liver. Setiap unit FFP umumnya
meningkatkan faktor pembekuan 2-3% pada orang dewasa. Dosis terapi awal 10-15ml/kg.
Tujuannya adalah untuk mencapai 30% dari konsentrasi pembekuan yang normal.
FFP juga digunakan pada pasien yang telah menerima transfusi darah massive dan perdarahan
yang berlanjut setelah transfusi trombosit. Pasien dengan defisiensi antitrombin III atau
trombotic thrombocytopenc purpura juga dapat diberika FFP. Seperti PRC, FFP juga harus
dihangatkan pada suhu 37Csebelum ditransfusikan.
Trombosit
Transfusi trombosit harus diberikan pada pasien trombositopenia atau disfungsional trombosit
pada saat perdarahan. Sebagai profilaksis pada pasien dengan hitung trombosit 10.000-20.000
x 109/L karena berisiko perdarahan spontan.
Hitung trombosit kurang dari 50.000 x 109/L berhubungan dengan meningkatnya kehilangan
darah pada saat pembedahan. Sebagai profilaksis pasien Trombositopeni sebaiknya diberikan
transfusi trombosit sebelum pembedthan dan prosedur invasif.
Tranfusi Granulosit
Transfusi granulosit diindikasikan pada pasien neutropenia dengan infeksi bakteri yang tidak
respon terhadap antibiotik.
KOMPLIKASI TRANSFUSI DARAH
KOMPLIKASI IMUN
Pada transfusi dapat terjadi respon imun antara darah penerima dengan pendonor.
1. REAKSI HEMOLITIK
Reaksi hemolitik adalah terjadinya destruksi sel darah merah oleh antibodi penerima
pada saat transfusi. Reaksi hemolitik diklasifikasikan menjadi 2 yaitu acute hemolytic
reactions (intravskular) dan delayed hemolytic reactions (ekstravascular)
A. Acute Hemolytic Reactions
Acute intravaskular hemolysis berhubungan dengan inkompatibilitas ABO, dan
frekuensi terjadinya diperkirakan sekitar 1:38.000. penyebab yang paling umum
adalah kesalahan indentifikasi pasien, spesimen darah, atau unit transfusi. Pada
pasien yang sadar, gejala yang timbul diantaranya menggigil, demam, nausea, chest
pain dan flank pain. Pada pasien yang teranestesi gejala nya meliputi peningkatan
temperatur, takikardi, hipotensi, hemoglobinuria. Disseminated intravaskular
coaguation dan gagal ginjal dapat terjadi dengan cepat.
Penanganan dari reaksi hemolitik adalah sebagai berikut:
- Jika dicurigai terjadi reaksi hemolitik, transfusi harus segera dihentikan dan bank
darah harus segera diberi informasi
- Darah beserta identitas pasien harus diperiksa ulang
- Darah pasien harus diambil untuk diindentifikasi jumlah hemoglobin dalam
plasma, pengujian ulang kompatibilitas, dan mengetahui jumlah trombosit
- Pasang kateter urin, dan lakukan pemeriksaan urin
- Diuresis harus dimulai dengan manitol dan cairan intravena

B. Delayed Hemolytic Reaction


Delayed hemolytic reaction sering disebut dengan hemolisis ekstravaskular yang
biasanya disebabkan oleh antibodi terhadap non-D antigen pada sistem Rh atau
terhadap sistem lain seperto Kell, Duffy, atau Kidd antigen. Reaksi hemolitik tipe
ini terjadi 2-21 hari setelah transfusi, dan gejalanyameliputi malaise, jaundice, dan
demam. Hematokrit tidak meningkat dan tidak ada perdarahan. Bilirubin tak
terkonjungasi meningkat sebagai hasil dari pemecahan hemoglobin. Penangan
delayed hemolytic reaction adalah terapi suportif.

2. REAKSI NON HEMOLITIK


Reaksi imun non hemolitik disebabkan oleh sensitisasi sel darah putih, trombosit, atau
protein plasma penerima terhadap pendonor. Risiko reaksi ini dapat diperkecil dengan
menggunakan leukoreduced blood product.

Febrile Reaction
Sensitisasi sel darah putih atau trombosit manifestasinya berupa febrile reaction. Reaksi
ini ditandai dengan peningkatan temperatur tanpa adanya hemolisis. Pasien dengan
riwayat reaksi febril harus mendapatkan leukoreduced transfusions.

Reaksi Urtikaria
Reaksi urtikarikaria biasanya ditandai dengan eritema, bengkak, dan gatal tanpa
demam. Penyebab reaksi ini adalah sensitisasi protein plasma. Reaksi urtikaria dapat
diatasi dengan antihistamin (H1 dan mungkin H2 blockers) dan steroid.

Reaksi Anafilaksis
Reaksi anafilaksisi dapat diatasi dengan pemberian epinefrin, cairan, kortikosteroid, H1
dan H2 blockers.

Transfusion-Related Acute Lung Injury


Acute lung injury timbul seperti hipoksia dan noncardiogenic pulmonary edema yang
terjadi dalam waktu 6 jam setelah transfusi komponen darah, terutama transfusi
trombosit dan FFP. Hal ini terjadi karena kerusakan membran alveolar dan kapiler yang
disebabkan sel darah putih yang teragregasi di sirkulasi pulmoner. Penalaksanaan acute
lung injury sama dengan penatalaksanaan pada acure respiratory distress syndrome.

KOMPLIKASI INFEKSI
Infeksi Virus
A. Hepatitis B
Insiden hepatitis virus setelah transfusi sangat bervariasi, sekitar 1:200.000
transfusi (hepatitis B) sampai 1:1.900.000 (hepatitis C). Kebanyakan kasus akut
adalah anikterik. Hepatitis C infeksi yang paling serius, beberapa kasus menjadi
hepatitis kronik, dengan sirosis hati 20% dari kronik carrier dan hepatocellular
carcinoma mencapai 5% dari kronik carrier.
B. Acquired Immunodeficincy Syndrome (AIDS)
Virus yang menyebabkan AIDS, HIV-1 ditularkan melalui transfusi darah. HIV-2
juga serupa, tapi virus kurang virulen. Semua darah diperiksa untuk mengetahui
adanya anti-HIV-I dan anti-HIV-2 antibodi.
C. Infeksi Virus Lainnya
Cytomegalovirus (CMV) dan Epstein-Barr virus
D. Infeksi Parasit
Penyakit parasit yang dapat ditularkan melalui transfuk,si separti malaria,
toxoplasmosis, dan chaga’s disease. Namun, kasus-kasus tersebut jarang terjadi
E. Infesi Bakteri

TRANSFUSI DARAH MASIF


Transfusi darah masif adalah kebutuhan transfusi satu sampai dua kali volume darah pasien.
Pada kebanyakan pasien dewasa, sama dengan 10-20 unit.
Koagulopati
Penyebab umum dari perdarahan non bedah adalah dilutional trombositopenia setelah transfusi
darah masif. Transfusi trombosit dan FFP dianjurkan pada keadaan ini.
Citrate Toxicity
Kalsium berikatan dengan bahan pengawet sitrat setelah transfusi darah masif, dan akan terjadi
hipokalsemia yang menyebabkan depresi jantung.
Hipotermia
Transfusi darah masif
STRATEGI ALTERNATIF PADA PENATALAKSAAN KEHILANGAN DARAH
SAAT PEMBEDAHAH
AUTOLOGOUS TRANSFUSION
Pasien yang akan menjalani prosedur bedah elektif memiliki kesempatan untuk melakukan
transfusi darah mereka sendiri untuk digunakan selama operasi. Darah dapat dikumpulkan dari
4-5 minggu sebelum operasi. Pasien diperbolehkan untuk mendonorkan satu unit darah jika
hematokrit 34% atau hemoglobin sekitar 11g/dl. Dengan suplemen besi dan terapi eritropoietin
, 3-4 unit darah bisa dikumpulkan sebelum operasi. Autologous transfusion mengurangi risiko
infeksi dan reaksi transfusi.
BLOOD SALVAGE & REINFUSION
Darah diaspirasi dan dicampur dengan heparin ke dalam resevoir. Kemudian, darah dibersihkan
dari debris dan antikoagulan, lalu ditransfusikan kembali.
NORMOVOLEMIC HEMODILUSI
Satu atau dua unit darah dikeluarkan sebelum operasi melalui kateter intravena dan digantikan
dengan cairan kristaloid dan koloid, agar pasien tetap normovolemic tetapi dengan hematokrit
21-25%. Darah yang dikeluarkan disimpan dalam kantong CPD pada suhu ruangan selama 6
jam untuk menjaga fungsi dari trombosit, kemudian darah ditransfusikan kembali ketika
diperlukan.
DONOR- TRANSFUSI LANGSUNG
Pasien dapat meminta donor darah langsung dari anggota keluarga atau teman yang
mengandung ABO kompatibilitas. Bank darah umumnya memerlukan donor kurang lebih 7
hari sebelum operasi untuk memproses darah dan mengkonfirmasi kompatibilitas.