Anda di halaman 1dari 17

2.1.6.

Keracunan Pestisida dan Jalur Masuk Pestisida Pada Manusia

A. Keracunan Pestisida

Walaupun pestisida ini mempunyai manfaat yang cukup besar pada masyarakat,

namun dapat pula memberikan dampak negatif pada manusia dan lingkungan. Pada

manusia pestisida dapat menimbulkan keracunan yang dapat mengancam jiwa

manusia ataupun menimbulkan penyakit/cacat (Munaf, 1997).

Ada 2 tipe keracunan yang ditimbulkan pestisida, yaitu (Quijano, 1999):

1. Keracunan akut

Keracunan akut terjadi bila efek-efek keracunan pestisida dirasakan langsung

pada saat itu. Beberapa efek kesehatan akut adalah sakit kepala, pusing, mual, sakit

dada, muntah-muntah, kudis, sakit otot, keringat berlebih, kram. Diare, sulit bernafas,

pandangan kabur, bahkan dapat menyebabkan kematian.


Berdasarkan luas keracunan yang ditimbulkan keracunan akut dapat dibagi 2

efek, yaitu:

a. Efek lokal, terjadi bila efek hanya mempengaruhi bagian tubuh yang terkena

kontak langsung dengan pestisida. Biasanya berupa iritasi, seperti rasa kering,

kemerahan dan gatal-gatal di mata, hidung, tenggorokan dan kulit, mata

berair, batuk, dan sebagainya.

b. Efek sistemik muncul bila pestisida masuk ke dalam tubuh manusia dan

mempengaruhi seluruh sistem tubuh. Darah akan membawa pestisida ke

seluruh bagian dari tubuh dan memengaruhi mata, jantung, paru-paru, perut,

hati, lambung, otot, usus, otak, dan syaraf.

2. Keracunan kronis

Keracunan kronis terjadi bila efek-efek keracunan pada kesehatan

membutuhkan waktu untuk muncul atau berkembang. Efek-efek jangka panjang ini

dapat muncul setelah berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun setelah terkena

pestisida. Pestisida memberikan dampak kronis pada sistem syaraf, hati, perut, system

kekebalan tubuh, keseimbangan hormon, kanker. Bayi juga dapat terkena pestisida

ketika diberi ASI, dapat terjadi jika ibunya terkena pestisida.

Setiap golongan pestisida menimbulkan gejala keracunan yang berbeda-beda

karena bahan aktif yang dikandung setiap golongan berbeda. Namun ada pula gejala

yang ditimbulkan mirip (Wudianto, 2005).

a. Golongan organofosfat, gejala keracunannya adalah timbul gerakan otot-otot

tertentu, penglihatan kabur, mata berair, mulut berbusa, banyak berkeringat,

air liur banyak keluar, mual, pusing, kejang-kejang, muntah-muntah, detak


jantung menjadi cepat, mencret, sesak nafas, otot tidak bisa digerakkan dan

akhirnya pingsan.

Organofosfat menghambat kerja enzim kholineterase, enzim ini secara normal

menghidrolisis asetycholin menjadi asetat dan kholin. Pada saat enzim

dihambat, mengakibatkan jumlah asetylkholin meningkat dan berikatan

dengan reseptor muskarinik dan nikotinik pada system syaraf yang

menyebabkan gejala keracunan dan berpengaruh pada seluruh bagian tubuh

(Mulachella, 2010)

b. Golongan organoklor, jenis pestisida ini dapat menimbulkan keracunan

dengan gejala sakit kepala, pusing, mual, muntah-muntah, mencret, badan

lemah, gugup, gemetar, kejang-kejang, dan kehilangan kesadaran.

c. Golongan karbamat, gejalanya sama dengan gejala yang di timbulkan

golongan organofosfat, hanya saja berlangsung lebih singkat karena lebih

cepat terurai dalam tubuh.

d. Golongan bipiridilium, setelah 1-3 jam pestisida masuk dalam tubuh baru

timbul sakit perut, mual, muntah-muntah, dan diare.

e. Gologan arsen, tingkat akut akan terasa nyeri pada perut, muntah, dan diare,

sementara keracunan semi akut ditandai dengan sakit kepala dan banyak

keluar air ludah.

f. Golongan antikoagulan, gejala yang ditimbulkan seperti nyeri punggung,

lambung dan usus, muntah-muntah, perdarahan hidung dan gusi, kulit

berbintik-bintik merah, kerusakan ginjal.


Menurut WHO 1986, ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi keracunan

pestisida antara lain :

1. Dosis. Dosis pestisida berpengaruh langsung terhadap bahaya keracunan

pestisida, karena itu dalam melakukan pencampuran pestisida untuk

penyemprotan petani hendaknya memperhatikan takaran atau dosis yang

tertera pada label. Dosis atau takaran yang melebihi aturan akan

membahayakan penyemprot itu sendiri. Setiap zat kimia pada dasarnya

bersifat racun dan terjadinya keracunan ditentukan oleh dosis dan cara

pemberian.

2. Toksisitas senyawa pestisida. Merupakan kesanggupan pestisida untuk

membunuh sasarannya. Pestisida yang mempunyai daya bunuh tinggi dalam

penggunaan dengan kadar yang rendah menimbulkan gangguan lebih sedikit

bila dibandingkan dengan pestisida dengan daya bunuh rendah tetapi dengan

kadar tinggi. Toksisitas pestisida dapat diketahui dari LD 50 oral dan dermal

yaitu dosis yang diberikan dalam makanan hewan-hewan percobaan yang

menyebabkan 50% dari hewan-hewan tersebut mati.

3. Jangka waktu atau lamanya terpapar pestisida. Paparan yang berlangsung

terus-menerus lebih berbahaya daripada paparan yang terputus-putus pada

waktu yang sama. Jadi pemaparan yang telah lewat perlu diperhatikan bila

terjadi resiko pemaparan baru. Karena itu penyemprot yang terpapar berulang

kali dan berlangsung lama dapat menimbulkan keracunan kronik.

4. Jalan masuk pestisida dalam tubuh. Keracunan pestisida terjadi bila ada bahan

pestisida yang mengenai dan/atau masuk ke dalam tubuh dalam jumlah


tertentu. Keracunan akut atau kronik akibat kontak dengan pestisida dapat

melalui mulut, penyerapan melalui kulit dan saluran pernafasan. Pada petani

pengguna pestisida keracunan yang terjadi lebih banyak terpapar melalui kulit

dibandingkan dengan paparan melalui saluran pencernaan dan pernafasan

(Afriyanto, 2008).

B. Jalur Masuk Pestisida Pada Manusia

Pestisida dapat masuk kedalam tubuh manusia melalui berbagai rute, yakni

(Djojosumarto, 2004):

1. Penetrasi lewat kulit (dermal contamination)

Pestisida yang menempel di permukaan kulit dapat meresap ke dalam tubuh

dan menimbulkan keracunan. Kejadian kontaminasi pestisida lewat kulit

merupakan kontaminasi yang paling sering terjadi.

Pekerjaan yang menimbulkan resiko tinggi kontaminasi lewat kulit adalah:

a. Penyemprotan dan aplikasi lainnya, termasuk pemaparan langsung oleh

droplet atau drift pestisida dan menyeka wajah dengan tangan, lengan

baju, atau sarung tangan yang terkontaminsai pestisida.

b. Pencampuran pestisida.

c. Mencuci alat-alat aplikasi

2. Terhisap lewat saluran pernafasan (inhalation)

Keracunan pestisida karena partikel pestisida terhisap lewat hidung

merupakan terbanyak kedua setelah kulit. Gas dan partikel semprotan yang

sangat halus (kurang dari 10 mikron) dapat masuk ke paru-paru, sedangkan


partikel yang lebih besar (lebih dari 50 mikron) akan menempel di selaput

lendir atau kerongkongan.

Pekerjaan-pekerjaan yang menyebabkan terjadinya kontaminasi lewat saluran

pernafasan adalah :

a. Bekerja dengan pestisida (menimbang, mencampur, dsb) di ruang

tertutup atau yang ventilasinya buruk.

b. Aplikasi pestisida berbentuk gas atau yang akan membentuk gas,

aerosol, terutama aplikasi di dalam ruangan, aplikasi berbentuk tepung

mempunyai resiko tinggi.

c. Mencampur pestisida berbentuk tepung (debu terhisap pernafasan).

3. Masuk ke dalam saluran pencernaan makanan lewat mulut (oral)

Pestisida keracunan lewat mulut sebenarnya tidak sering terjadi dibandingkan

dengan kontaminasi lewat kulit. Keracunan lewat mulut dapat terjadi karena :

a. Kasus bunuh diri.

b. Makan, minum, dan merokok ketika bekerja dengan pestisida.

c. Menyeka keringat di wajah dengan tangan, lengan baju, atau sarung

tangan yang terkontaminasi pestisida.

d. Drift pestisida terbawa angin masuk ke mulut.

e. Makanan dan minuman terkontaminasi pestisida.

2.1.7. Pencegahan Keracunan Pestisida

Menurut Djojosumarto (2004) ada beberapa langkah-langkah untuk menjamin

keselamatan dalam penggunaan pestisida adalah sebagai berikut:


1. Sebelum melakukan penyemprotan

a. Jangan melakukan pekerjaan penyemprotan pestisida bila merasa tidak

sehat.

b. Jangan mengijinkan anak-anak berada di sekitar tempat pestisida yang

akan digunakan atau mengijinkan anak-anak melakukan pekerjaan

penyemprotan pestisida.

c. Catat nama pestisida yang digunakan dan jika dapat catat juga nama

bahan aktifnya. Catatan ini penting bagi dokter bila terjadi sesuatu.

d. Pakaian dan peralatan perlindungan sudah harus dipakai sejak persiapan

penyemprotan, misalnya ketika menakar dan mencampur pestisida.

e. Jangan masukkan rokok, makanan, dan sebagainya ke dalam kantung

pekerjaan.

f. Periksa alat-alat aplikasi sebelum digunakan. Jangan menggunakan alat

semprot yang bocor. Kencangkan sambungan-sambungan yang sering

terjadi bocor.

g. Siapkan air bersih dan sabun di dekat tempat kerja untuk mencuci

tangan dan keperluan lain.

h. Siapkan handuk kecil yang bersih dalam kantung plastik tertutup dan

dibawa ke tempat kerja.

2. Ketika melakukan aplikasi

a. Perhatikan arah angin. Jangan melakukan penyemprotan yang

menentang arah angin keran drift pestisida dapat membalik dan

mengenai diri sendiri.


b. Jangan membawa makanan, minuman, dan rokok dalam kantung

pakaian kerja.

c. Jangan makan, minum, atau merokok selama menyemprot atau

mengaplikasikan pestisida.

d. Jangan menyeka keringat di wajah dengan tangan, sarung tangan, atau

lengan baju yang terkontaminasi petisida untuk menghindari pestisida

masuk ke mata atau mulut. Untuk keperluan itu gunakan handuk bersih

untuk menyeka keringat atau kotoran diwajah.

e. Bila nozzle tersumbat, jangan meniup nozzle yang terkontaminasi

langsung dengan mulut.

3. Sesudah aplikasi

a. Cuci tangan dengan sabun hingga bersih segera sesudah pekerjaan

selesai.

b. Segera mandi setelah sampai dirumah dan ganti pakaian kerja dengan

pakaian sehari-hari.

c. Jika tempat kerja jauh dari rumah dan harus mandi dekat tempat kerja,

sediakan pakaian bersih dalam kantung plastik tertutup. Sesudah ganti

pakaian, bawalah pakaian kerja dalam kantung tersendiri.

d. Cuci pakaian kerja terpisah dari cucian lainnya.

e. Makan, minum, atau merokok hanya dilakukan sesudah mandi atau

seketika sesudah mencuci tangan dengan sabun.


2.2. Penyuluhan

2.2.1. Penyuluhan Pertanian

Penyuluhan pertanian adalah proses pembelajaran bagi pelaku utama dan

pelaku usaha agar mereka mau dan mampu menolong serta mengorganisasikan

dirinya dalam mengakses informasi pasar, teknologi, permodalan, dan sumberdaya

lainnya sebagai upaya untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi usaha, pendapatan,

dan kesejahteraannya, serta meningkatkan kesadaran dalam pelestarian fungsi

lingkungan hidup.

Menurut Sastraatmadja (1993), penyuluhan pertanian didefinisikan sebagai

pendidikan nonformal yang ditujukan kepada petani dan keluarganya dengan tujuan

jangka pendek untuk mengubah perilaku termasuk sikap, tindakan dan pengetahuan

ke arah yang lebih baik, serta tujuan jangka panjang untuk meningkatkan

kesejahteraan masyarakat Indonesia. Disamping menciptakan suatu perubahan

perilaku bagi masyarakat petani, penyuluhan pertanian pun diharapkan mampu

mengarahkan wawasan berpikir dan menumbuhkan karakter sebagai bangsa yang

sedang melakukan pembangunan.

2.2.2. Metode Penyuluhan

Dalam Suhardiyono (1992), ada 4(empat) metode penyuluhan menurut target

orang yang menghadiri kegiatan penyuluhan. Penggolongan metode penyuluhan ini

dapat dinyatakan sebagai berikut:


1. Metode Perorangan

Metode penyuluhan ini ditujukan bagi petani secara perorangan yang

memperoleh perhatian khusus dari penyuluh. setiap petani dikunjungi oleh penyuluh

secara individu.

Menurut Kartasapoetra (1994) metode perorangan sangat efektif digunakan

dalam penyuluhan karena sasaran dapat secara langsung memecahkan masalahnya

dengan bimbingan khusus dari penyuluh. Dari segi jumlah sasaran yang ingin dicapai,

metode ini kurang efektif karena terbatasnya jangkauan penyuluh untuk mengunjungi

dan membimbing sasaran secara individu. Dalam Notoatmodjo (2003), pendekatan

untuk metode perorangan antara lain bimbingan dan interview (wawancara).

2. Metode Kelompok

Kegiatan penyuluhan menggunakan metode kelompok ini mengarahkan sasaran

kegiatannya pada petani secara berkelompok atau kelompok tani. Kegiatan ini

melibatkan tatap muka secara langsung antara penyuluh dengan kelompok tani.

Metode pendekatan kelompok menurut Kartasapoetra (1994) cukup efektif

dikarenakan petani dibimbing dan diarahkan secara kelompok untuk melakukan

sesuatu kegiatan yang lebih produktif atas dasar kerjasama. Dalam pendekatan

kelompok banyak manfaat yang dapat diambil, disamping dari transfer tekhnologi

informasi juga terjadinya tukar pendapat dan pengalaman antar sasaran penyuluhan

dalam kelompok yang bersangkutan. Dalam Notoatmodjo (2003), metode pendekatan

untuk kelompok besar dan kecil berbeda. Untuk kelompok besar yaitu peserta
penyuluhan lebih dari 15 orang, metode yang baik antara lain ceramah dan seminar.

Sedangkan untuk kelompok kecil, dimana peserta penyuluhan kurang dari 15 orang

dan metode yang cocok untuk kelompok ini antara lain diskusi kelompok, curah

pendapat, bola salju, kelompok-kelompok kecil.

3. Metode Massa

Kegiatan penyuluhan menggunakan metode ini mengarahkan sasaran

kegiatannya kepada masyarakat tani pada umumnya. Dalam pelaksanaan penyuluhan

menggunakan metode ini , dapat terjadi tatap muka secara langsung antara penyuluh

dengan petani. Namun dapat juga tidak terjadi kontak secara langsung antara petani

dengan penyuluh karena penyuluh menggunakan media seperti radio, televisi atau

sarana komunikasi yang lain.

Dipandang dari segi penyampaian informasi metode ini cukup baik, namun

terbatas hanya dapat menimbulkan kesadaran atau keingintahuan semata. Beberapa

peneliti menunjukkan bahwa metode pendekatan massal dapat mempercepat proses

perubahan, tetapi jarang dapat mewujudkan perubahan dalam prilaku. Menurut

Notoatmodjo (2003), metode pendekatan untuk pendidikan massa antara lain ceramah

umum, pidato melalui media elektronik, tulisan di majalah atau koran, billboard.

2.2.3. Media Penyuluhan

Alat bantu/media adalah alat-alat yang digunakan oleh pendidik dalam

menyampaikan bahan pendidikan/pengajaran. Sedangkan yang dimaksud dengan

media promosi kesehatan adalah alat bantu pendidikan . Disebut media promosi

kesehatan karena alat-alat tersebut merupakan saluran (channel) untuk


menyampaikan informasi kesehatan dan karena alat-alat tersebut digunakan untuk

memudahkan penerimaan pesan-pesan kesehatan bagi masyarakat atau klien.

Sesorang atau masyarakat di dalam proses pendidikan dapat memperoleh

pengalaman/pengetahuan melalui berbagai macam alat bantu pendidikan. Tetapi

masing-masing alat mempunyai intensitas yang berbeda-beda di dalam membantu

permasalahan sesorang.

Berdasarkan fungsinya sebagai menyampaikan pesan-pesan kesehatan, media

dibagi 3, yakni (Notoatmodjo, 2007):

1. Media cetak

Media cetak sebagai alat bantu menyampaikan pesan-pesan kesehatan sangat

bervariasi, antara lain seperti booklet, leaflet, flyer, flif chart, rubric, poster, dan

foto yang mengungkapkan informasi kesehatan.

2. Media elektronik

Media elektronik sebagai sasaran untuk menyampaikan pesan-pesan kesehatan

berbeda-beda jenisnya, seperti televisi, radio, video, slide, dan film strip.

3. Media papan (billboard)

Papan (billboard) yang dipasang di tempat-tempat umum dapat berisi dengan

pesan-pesan atau informasi-informasi kesehatan. Media papan disini juga

mencakup pesan-pesan yang ditulis pada lembaran seng yang ditempel pada

kenderaan umum (bus dan taksi).

2.3.Pengetahuan

Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan

penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui pancaindra


manusia, yakni indera penglihatan, pendengaraan, penciuman, rasa, dan raba.

Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk

tindakan seseorang (overt behavior).

1. Proses adopsi perilaku

Penelitian Rogers (1974) dalam Notoatmodjo 2003 mengungkapkan bahwa

sebelum orang mengadopsi perilaku baru (berperilaku baru), di dalam diri orang

tersebut terjadi proses yang berurutan, yakni:

a. Awareness (kesadaran), yakni orang tersebut menyadari dalam arti

mengetahui stimulus (objek) terlebih dahulu.

b. Interest, yakni orang mulai tertarik kepada stimulus.

c. Evaluation (menimbang-nimbang baik dan tidaknya stimulus tersebut bagi

dirinya), hal ini berarti sikap responden sudah lebih baik lagi.

d. Trial, orang telah mencoba perilaku baru.

e. Adoption, subyek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan,

kesadaran, dan sikapnya terhadap stimulus.

2. Tingkat pengetahuan di dalam domain kognitif

Pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan,

yaitu (Notoatmodjo 2003):

a. Tahu (know) diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari

sebelumnya.

b. Memahami (comprehension) diartikan sebagai suatu kemampuan untuk

menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat

menginterpretasikan materi tersebut secara benar.


c. Aplikasi (aplication) diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi

yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya).

d. Analisis (analysis) adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau

suatu objek kedalam komponen-komponennya.

e. Sintesis (synthesis) menunjukkan kepada kemampuan untuk meletakkan atau

menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.

f. Evaluasi (evaluation) berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan

justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek.

2.4.Sikap

Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang

terhadap suatu stimulus atau objek. Sikap secara nyata menunjukkan konotasi adanya

kesesuaian reaksi terhadap stimulus tertentu yang dalam kehidupan sehari-hari

meruapakan reaksi yang bersifat emosional terhadap stimulus social. Menurut

Newcomb, sikap merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak, dan bukan

merupakan pelaksanaan motif tertentu (Notoatmodjo, 2003).

1. Komponen sikap

Menurut Allport (1954), sikap mempunyai 3 komponen pokok, yaitu:

a. Kepercayaan (keyakinan), ide, dan konsep terhadap suatu objek.

b. Kehidupam emosional atau evaluasi terhadap suatu objek.

c. Kecenderungan untuk bertindak (tend to behave)


2. Tingkatan sikap

Seperti pengetahuan, sikap juga terdiri dari beberapa tingkatan, yaitu:

a. Menerima (receiving) diartikan bahwa orang (subjek) mau dan

memperhatikan stimulus yang diberikan (objek)

b. Merespon (responding), memberikan jawaban apabila ditanya,

mengerjakan, dan menyelesaikan tugas yang diberikan merupakan suatu

indikasi dari sikap.

c. Menghargai (valuing), mengajak orang lain untuk mengerjakan suatu

mendiskusikan suatu masalah merupakan suatu indikasi sikap tingkat tiga.

d. Bertanggung jawab (responsible), bertanggung jawab atas segala sesuatu

yang telah dipilihnya dengan segala risiko adalah sikap yang paling tinggi.

Pengukuran sikap dapat dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Secara

langsung dapat ditanyakan bagaimana pendapat atau pernyataan responden terhadap

suatu objek. Secara tidak langsung dapat dilakukan dengan pernyataan hipotesis,

kemudian ditanyakan pendapat responden.


2.5. Kerangka Konsep

Intervensi:
• Penyuluhan Penyemprotan
Pestisida
• Leaflet Penyemprotan
Pestisida

Kelompok intervensi

  Pengetahuan 
 sikap 
 Pengetahuan
Sikap
Kelompok kontrol
  Pengetahuan 
 sikap 

Tanpa Intervensi
2.6. Hipotesis Penelitian

1. Ha : Ada pengaruh penyuluhan pestisida terhadap pengetahuan petani jeruk tentang

penyemprotan pestisida.

Ho : Tidak ada pengaruh penyuluhan pestisida terhadap pengetahuan petani

jeruk tentang penyemprotan pestisida.

2. Ha : Ada pengaruh penyuluhan pestisida terhadap sikap petani jeruk tentang

penyemprotan pestisida.

Ho : Tidak ada pengaruh penyuluhan pestisida terhadap sikap petani jeruk tentang
penyemprotan pestisida.