Anda di halaman 1dari 12

Wahabisme Melayani Imperialisme Barat di Indonesia

May 27, 2018 - Politics

Oleh: Andre Vltchek (penulis buku “Exposing Lies of the Empire”)

Diterjemahkan oleh: Rossie Indira

————————-

Pengantar dari Dina Y. Sulaeman (Direktur ICMES)

Aksi terorisme beruntun yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini oleh sebagian pihak disikapi
setengah-setengah. Ada pihak yang melulu berfokus pada bahayanya doktrin radikal-intoleran
Wahabisme; ada pula pihak yang membawa teori konspirasi mengenai rekayasa elit lokal dan
global untuk ‘menyerang Islam’. Sangat sedikit analisis yang memberikan gambaran yang lebih
utuh atas fenomena terorisme dari perspektif sistem dunia yang tidak adil, dimana negara-negara
kaya selalu ingin memperbudak negara-negara berkembang dengan cara mematikan daya nalar
warganya. Tulisan berikut ini adalah di antara yang sedikit itu. Andre Vltchek dengan sangat
tajam menjelaskan kepada kita kaitan antara terorisme di Indonesia dengan kondisi ekonomi-
politik dalam negeri, serta kaitan eratnya dengan ambisi negara-negara Barat untuk
melanggengkan imperialisme [modern] mereka di Indonesia. Dalam pemenuhan ambisi
imperialismenya, Barat memanfaatkan Arab Saudi dan ideologi Wahabisme. Menariknya, bahkan
Putra Mahkota Arab Saudi, Muhammad bin Salman pun mengakui bahwa Wahabisme
disebarluaskan Riyadh atas permintaan Washington. Silahkan simak pembahasannya dalam
tulisan berikut ini.

============

Ketika putra mahkota Arab Saudi diwawancara oleh surat kabar The Washington Post dan beliau
menyatakan bahwa sebenarnya pihak Baratlah yang mendorong negaranya untuk menyebarkan
paham Wahhabisme ke seluruh penjuru dunia, ada keheningan panjang di hampir semua media
massa tidak hanya di Barat, tetapi juga di negara-negara seperti Mesir dan Indonesia.

1
Mereka yang membaca pernyataan itu, mengharapkan adanya teguran keras dari Riyadh. Tapi
ternyata tidak ada teguran apapun. Langit tidak runtuh. Kilat tidak menyambar sang pangeran
ataupun harian the Post.

Jelas sekali bahwa tidak semua yang dikatakan oleh Putra Mahkota itu muncul di halaman-
halaman The Washington Post, tetapi apa yang mereka terbitkan sebenarnya cukup untuk
menjatuhkan seluruh rezim di negara-negara seperti Indonesia, Malaysia atau Brunei. Atau
setidaknya cukup jika negara-negara tersebut dalam ‘keadaan normal’. Yang disebut ‘keadaan
normal’ adalah jika penduduk di sana tidak benar-benar diindoktrinasi dan diprogram secara
menyeluruh, dan jika para penguasa di negara-negara ini tidak menganut, atau mentolerir,
bentuk/doktrin agama yang paling agresif, chauvinistik dan ritualistik (dibandingkan dengan
agama yang bersifat intelektual atau spiritual).

Jika kita membaca apa yang tersirat, Pangeran Arab Saudi itu menyatakan bahwa sebenarnya pihak
Barat lah yang, ketika berperang dalam ‘perang ideologis’ melawan Uni Soviet dan negara sosialis
lainnya, mereka memilih Islam dan sayap ultra-ortodoks dan radikalnya – Wahabisme – sebagai
sekutu dalam menghancurkan hampir semua aspirasi progresif, anti-imperialis dan egaliter di
negara-negara dengan mayoritas Muslim.

Seperti dilansir oleh RT pada tanggal 28 Maret 2018:

“Penyebaran Wahabisme yang didanai oleh Arab Saudi dimulai ketika negara-negara Barat
meminta Riyadh untuk membantu melawan Uni Soviet selama Perang Dingin, demikian Putra
Mahkota Mohammad bin Salman mengatakan kepada Washington Post.

Dalam pernyataannya kepada harian tersebut, bin Salman mengatakan bahwa sekutu-sekutu
Barat Arab Saudi mendesak negara itu untuk berinvestasi di masjid-masjid dan madrasah-
madrasah di luar negeri selama Perang Dingin, dalam upaya untuk mencegah pengaruh Uni
Soviet di negara-negara Muslim…

Wawancara dengan putra mahkota itu awalnya tidak boleh dipublikasikan. Namun demikian,
kedutaan Arab Saudi kemudian setuju untuk Washington Post menerbitkan beberapa bagian
khusus dari pertemuan tersebut.”

Sejak awal penyebaran Wahhabisme, satu demi satu negara jatuh; dirusak oleh ketidakpedulian
(ignorance), semangat fanatik dan ketakutan, yang telah mencegah orang-orang dari negara-
negara seperti Indonesia pasca-1965 atau Irak pasca-invasi Barat, untuk mundur (ke era sebelum
intervensi Barat) dan pada saat yang sama maju, menuju sesuatu yang dulunya bersifat amat alami
bagi budaya mereka di masa yang belum begitu lama berlalu – menuju sosialisme atau sekurang-
kurangnya sekularisme yang toleran.

2
Pangeran Saudi, Mohamed Bin Salman dan Menlu AS, John Kerry (2016, foto:AFP)

Kenyataannya, Wahhabisme tidak mencerminkan Islam. Atau lebih tepatnya, paham ini
memotong dan menggagalkan perkembangan alami Islam, cita-cita Islam untuk dunia yang
egaliter, dan untuk sosialisme.

Orang-orang Inggris berada di balik kelahiran gerakan ini; orang-orang Inggris dan salah satu
pengkhotbah yang paling radikal, fundamentalis, dan regresif sepanjang masa – Muhammad ibn
Abd al-Wahhab.

Inti dari aliansi dan dogma Wahabi/Inggris, dari dulu hingga kini, sangatlah sederhana: “Para
pemimpin agama akan memaksa umatnya menjadi orang-orang yang selalu dalam keadaan
ketakutan yang parah dan irasional, untuk selanjutnya menjadi orang-orang yang amat patuh.
Tidak boleh ada kritik apapun terhadap agama; tidak boleh mempertanyakan esensinya dan
khususnya penafsiran Kitab yang konservatif dan kuno. Setelah dikondisikan dengan cara ini, pada
awalnya umat berhenti mempertanyakan dan mengkritik feodalisme, kemudian tidak
mempertanyakan penindasan kapitalis; mereka juga menerima tanpa syarat perampasan sumber
daya alam mereka oleh para elit lokal dan asing. Semua upaya untuk membangun masyarakat
sosialis dan egaliter terhalang secara brutal, ‘atas nama Islam’ dan ‘atas nama Tuhan’.

Tentu saja, sebagai akibatnya, kaum imperialis Barat dan para budak ‘elit’ lokalnya tertawa
sepanjang jalan menuju bank, dengan mengorbankan jutaan orang miskin yang tertipu di negara-
negara yang dikendalikan oleh dogma-dogma Wahhabi dan Barat.

Hanya sedikit penduduk di negara-negara jajahan yang sudah benar-benar menderita menyadari
bahwa Wahhabisme tidak melayani Tuhan atau rakyat; paham ini hanya membantu kepentingan
dan keserakahan pihak Barat.

3
Justru inilah yang sekarang terjadi di Indonesia, tetapi juga di beberapa negara lain yang sudah
ditaklukkan oleh Barat, termasuk Irak dan Afghanistan.

Kalau saja Suriah jatuh, maka bangsa yang secara historis sekuler dan berorientasi sosial ini akan
dipaksa untuk menganut dogma yang sama. Rakyat di sana sangat menyadari hal ini karena mereka
berpendidikan. Mereka juga melihat apa yang sudah terjadi pada Libya dan Irak dan mereka pasti
tidak ingin berakhir seperti mereka. Pihak Barat dan antek-anteknya seperti Arab Saudi-lah yang
melepas teroris-teroris pejuang Wahhabi untuk melawan negara Suriah dan rakyatnya.

Terlepas dari retorika sekulernya yang munafik, yang dibuat terutama untuk konsumsi lokal dan
bukan buat koloni-koloninya, pihak Barat memuji-muji atau setidaknya menolak untuk secara
terbuka mengkritik anak-anaknya yang brutal dan ‘anti-manusia’ – sebuah konsep yang ditelan
mentah-mentah dan sudah menghancurkan baik Kerajaan Arab Saudi maupun Indonesia. Bahkan,
pihak Barat berusaha meyakinkan dunia bahwa kedua negara ini ‘normal’, dan dalam kasus
Indonesia, negara yang ‘demokratis’ dan ‘toleran’. Pada saat yang sama, pihak Barat dengan
konsisten menentang hampir semua negara dengan mayoritas Muslim yang besar, yang sekuler
atau relatif sekuler, seperti Suriah (sampai sekarang), tetapi juga Afghanistan, Iran (sebelum
kudeta tahun 1953), Irak dan Libya, sebelum mereka dihancurkan secara menyeluruh dan brutal.

Semua hal di atas terjadi karena kondisi KSA, Indonesia, dan Afghanistan sekarang adalah hasil
langsung dari intervensi dan indoktrinasi Barat. Dogma Wahhabi yang disuntikkan memberikan
‘proyek’ Barat ini cita rasa Muslim, sementara memberikan justifikasi pada ‘anggaran
pembelanjaan pertahanan’ senilai triliunan dolar untuk apa yang disebut ‘Perang Melawan Teror’
(konsep yang menyerupai kolam ikan di Asia di mana ikan dimasukkan ke kolam untuk kemudian
boleh dipancing tapi harus bayar).

Petempur Taliban di distrik Ahmad Aba, Paktia (foto: AFP)

4
Ketaatan, bahkan kepatuhan – adalah yang diinginkan oleh pihak Barat dari negara-negara klien
dan koloni-koloni barunya. KSA merupakan hadiah yang penting karena mereka punya minyak
dan posisi strategis di kawasan itu. Penguasa Arab Saudi seringkali berusaha mati-matian untuk
menyenangkan majikan mereka di London dan Washington, dengan menerapkan kebijakan luar
negeri pro-Barat yang paling agresif. Afghanistan dinilai ‘berharga’ karena lokasi geografisnya
yang berpotensi memungkinkan Barat untuk mengintimidasi dan bahkan akhirnya menginvasi Iran
dan Pakistan, sementara menyuntikkan gerakan Muslim ekstremis ke Cina, Rusia, dan bekas
republik-republik Uni Soviet di Asia Tengah. Antara 1 – 3 juta orang Indonesia ‘harus’ dibantai
pada tahun 1965-1966, untuk memastikan kekuasaan kelompok turbo-kapitalis yang korup yang
dapat menjamin mengalirnya sumber daya alam yang melimpah ruah (walaupun sekarang dengan
cepat menipis), yang tidak terganggu dan sering tidak kena pajak, ke tempat-tempat seperti
Amerika Utara, Eropa, Jepang dan Australia.

Terus terang, sama sekali tidak ada yang ‘normal’ tentang negara-negara seperti Indonesia dan
KSA. Faktanya, akan memakan waktu beberapa dekade, bahkan kemungkinan besar beberapa
generasi, untuk mengembalikan negara-negara ini ke keadaan ‘normal’. Bahkan jika prosesnya
segera dimulai, pihak Barat berharap bahwa pada saat itu berakhir, hampir semua sumber daya
alam negara-negara ini sudah habis.

Namun proses ini belum dimulai. Alasan utama untuk stagnasi intelektual dan kurangnya resistensi
jelas sekali: masyarakat di negara-negara seperti Indonesia dan KSA sudah dikondisikan
sedemikian rupa sehingga mereka tidak dapat melihat kenyataan brutal yang ada di sekitar mereka.
Mereka diindoktrinasi dan ‘ditenangkan’. Mereka diberitahu bahwa sosialisme sama dengan
ateisme dan bahwa ateisme itu jahat, ilegal dan ‘berdosa’.

Oleh karenanya, Islam diubah oleh para demagog Barat dan Arab Saudi, dan telah ‘dikirim untuk
bertempur’ melawan kemajuan dan pengaturan dunia yang adil dan egaliter.

Versi agama yang ini dengan tidak malu-malu membela imperialisme Barat, kapitalisme brutal,
serta keruntuhan intelektual dan kreatifitas dari negara-negara tempat disuntikkannya versi agama
yang ini, termasuk Indonesia. Akhirnya, di sana pihak Barat mentoleransi adanya korupsi yang
menyeluruh, tidak adanya pelayanan sosial, dan bahkan genosida dan holocausts yang pertama-
tama dilakukan terhadap orang Indonesia sendiri, kemudian terhadap rakyat Timor Timur, dan
yang sampai sekarang masih berlangsung adalah terhadap rakyat Papua yang tak berdaya membela
dirinya sendiri. Dan bukan hanya masalah ‘toleransi’ – pihak Barat berpartisipasi langsung dalam
kampanye pembantaian dan pemusnahan ini, karena mereka juga turut serta dalam menyebarkan
bentuk-bentuk terorisme dan dogma Wahabi ke seluruh penjuru dunia. Semua ini terjadi
sementara puluhan juta pengikut Wahhabisme setiap hari pergi ke masjid, melakukan berbagai
ritual secara mekanis tanpa pemikiran yang mendalam atau tanpa pencarian jiwa.

Wahhabisme telah bekerja dengan baik – dalam hal ini baik untuk perusahaan-perusahaan
pertambangan dan bank-bank yang berkantor pusat di London dan New York. Dogma ini juga
bekerja dengan sangat baik untuk para penguasa dan ‘elit’ lokal di dalam negara klien.

5
Ziauddin Sardar, seorang cendekiawan Muslim terkemuka dari Pakistan yang tinggal di London,
tidak ragu-ragu mengatakan bahwa ‘fundamentalisme Muslim’ adalah hasil dari imperialisme dan
kolonialisme Barat.

Dalam percakapan kami beberapa tahun lalu, dia menjelaskan:

“Kepercayaan yang ada antara Islam dan Barat memang telah rusak… Kita perlu menyadari
bahwa kolonialisme telah mengakibatkan lebih dari sekedar merusak negara dan budaya Muslim.
Kolonialisme memainkan peran utama dalam penindasan dan akhirnya hilangnya pengetahuan
dan pembelajaran, pemikiran dan kreativitas, dari budaya Muslim. Pertemuan dengan penjajah
dimulai dengan menyisihkan pengetahuan dan pembelajaran Islam, yang kemudian menjadi dasar
dari ‘Renaisans Eropa’ dan ‘Pencerahan’ dan diakhiri dengan penghapusan pengetahuan dan
pembelajaran ini dari masyarakat Muslim dan dari sejarah itu sendiri. Hal tersebut dilakukan
baik secara fisik – menghancurkan dan menutup institusi pembelajaran, melarang kearifan lokal
tertentu, membunuh pemikir dan cendekiawan lokal – dan dengan menulis ulang sejarah sebagai
sejarah peradaban Barat di mana semua sejarah peradaban minor lainnya dimasukkan ke
dalamnya.”

“Akibatnya, budaya Muslim terpisah dari sejarah mereka sendiri dan oleh karenanya
menimbulkan banyak konsekuensi yang serius. Sebagai contoh, penindasan kolonial terhadap
ilmu pengetahuan Islam menyebabkan perpindahan budaya ilmiah dari masyarakat Muslim. Hal
ini dilakukan dengan memperkenalkan sistem administrasi, hukum, pendidikan dan ekonomi baru
yang semuanya dirancang untuk menanamkan ketergantungan, ketaatan dan kepatuhan kepada
kekuasaan-kekuasaan kolonial. Kemunduran ilmu pengetahuan dan pembelajaran Islam adalah
salah satu aspek dari kehancuran ekonomi dan politik secara umum dan memburuknya
masyarakat Muslim. Dengan demikian Islam telah berubah dari budaya yang dinamis dan cara
hidup yang holistik menjadi hanya retorika belaka. Pendidikan Islam telah menjadi cul de sac,
tiket satu arah menuju marjinalitas. Hal ini juga menyebabkan reduksi konseptual peradaban
Muslim. Maksud saya, konsep-konsep yang membentuk dan memberi arah kepada masyarakat
Muslim menjadi terpisah dari kehidupan sehari-hari umat Islam – mengarah kepada kebuntuan
intelektual yang kita temukan dalam masyarakat Muslim sekarang. Neo-kolonialisme Barat
melanggengkan sistem tersebut.”

Di Indonesia, setelah kudeta militer yang disponsori pihak Barat di tahun 1965, yang
menghancurkan Partai Komunis Indonesia (PKI) dan memberikan kekuasaan pada rejim pro-pasar
dan pro-Barat yang ekstrim, keadaan menjadi sedemikian buruk dengan kecepatan, perkiraan dan
konsistensi yang menakutkan.

Sementara Suharto, seorang diktator fasis yang merupakan implan Barat setelah tahun 1965,
dikatakan ‘mencurigai Islam’, namun sebenarnya dia benar-benar menggunakan semua agama
besar di negara kepulauan ini dengan sangat tepat dan memberikan dampak yang fatal. Selama
despotisme pro-pasarnya, semua gerakan dan ‘-isme’ sayap kiri dilarang, begitu pula sebagian
besar bentuk seni dan pemikiran yang progresif. Bahasa Cina dibuat ilegal. Atheisme juga
dilarang. Indonesia dengan cepat menjadi salah satu negara yang paling religius di dunia.

6
Setidaknya satu juta orang, termasuk anggota PKI, secara brutal dibantai dan menjadi salah satu
genosida paling mengerikan di abad ke-20.

Kediktatoran fasis Jendral Soeharto sering memainkan kartu Islam untuk tujuan politiknya. Seperti
dijelaskan oleh John Pilger dalam bukunya “The New Rulers of The World”:

“Dalam pogrom 1965-1966, para jenderal di era Soeharto sering menggunakan kelompok-
kelompok Islamis untuk menyerang kaum komunis dan siapa saja yang menghalangi jalan mereka.
Muncul sebuah pola; kapanpun tentara ingin menegaskan otoritas politiknya, maka mereka akan
menggunakan kaum Islamis dalam tindakan kekerasan dan sabotase, sehingga mereka dapat
menyalahkan sektarianisme dan kemudian menggunakannya untuk membenarkan tindakan keras
yang tak terelakkan – oleh tentara…”

‘Sebuah contoh yang baik’ tentang kerja sama antara kediktatoran sayap kanan yang kejam dengan
kaum Islam radikal.

Setelah Soeharto mengundurkan diri, kecenderungan terhadap interpretasi yang aneh dan
fundamentalis dari agama monoteis terus berlanjut. Arab Saudi dan Wahhabisme yang disukai dan
disponsori pihak Barat memainkan peran yang semakin penting. Begitu juga agama Kristen,
seringkali pengkhotbahnya adalah kaum radikal sayap kanan yang diusir dari Republik Rakyat
China dan anak-anaknya; terutama di kota Surabaya tetapi juga di tempat lain.

Dari negara sekuler dan progresif di bawah kepemimpinan Presiden Soekarno, Indonesia secara
bertahap turun menjadi negara yang semakin terbelakang dan fanatik Wahhabi atau Pentakosta.

Setelah dipaksa mengundurkan diri sebagai presiden Indonesia dalam sebuah keadaan yang
dianggap banyak orang sebagai kudeta konstitusional, seorang ulama progresif Muslim dan tidak
diragukan lagi sebagai seorang tokoh sosialis, Abdurrahman Wahid (dikenal di Indonesia dengan
nama panggilannya Gus Dur), membagikan pikirannya kepada saya ‘on the record’:

Gus Dur (alm)

7
“Sekarang ini, sebagian besar rakyat Indonesia tidak peduli atau tidak berpikir tentang Tuhan.
Mereka hanya menjalankan ritual. Jika Tuhan turun ke bumi dan memberi tahu mereka bahwa
interpretasi mereka tentang Islam itu salah, maka mereka akan terus menjalankan Islam yang ini
dan mengabaikan apa yang dikatakan oleh Tuhan.”

‘Gus Dur’ juga dapat melihat dengan jelas semua trik-trik militer dan elit pro-Barat. Dia antara
lain mengatakan kepada saya bahwa pemboman Marriott Hotel Jakarta di tahun 2003 diorganisir
oleh pasukan keamanan Indonesia, dan kemudian menyalahkan kaum Islamis yang sebenarnya
hanya melaksanakan perintah yang diberikan kepada mereka oleh para pemimpin politik mereka
yang berasal dari rezim militer pro-Barat, yang sampai sekarang disamarkan sebagai ‘demokrasi
multi partai’.

Di Indonesia, ketaatan terhadap agama yang ekstrem membawa penganutnya kepada penerimaan
buta terhadap sistem kapitalis fasis, dan imperialisme Barat beserta propagandanya. Kreativitas
dan pluralisme intelektual telah benar-benar hilang.

Indonesia sebagai bangsa terpadat ke-4 di planet ini sekarang tidak punya ilmuwan, arsitek, filsuf,
atau seniman yang berkaliber internasional. Perekonomiannya didorong hanya dari penjarahan
sumber daya alam yang tak terkendali dari pulau-pulau besar yang punya sumber daya alam yang
melimpah dan dulunya punya hutan-hutan asli dan tidak terjamah, seperti Sumatera dan Borneo
Indonesia (Kalimantan), serta Papua bagian Barat yang diduduki Indonesia. Skala kerusakan
lingkungannya sangat monumental; sesuatu yang sedang saya coba abadikan dalam dua film
dokumenter dan sebuah buku.

Kesadaran tentang hal-hal di atas, bahkan di antara para korban, sangatlah minimal atau tidak ada
sama sekali.

Di sebuah negara yang kekayaan, identitas, budaya dan masa depannya sudah dirampok habis,
sekarang agama memainkan peran yang paling penting. Tidak ada yang tersisa sama sekali untuk
mayoritas rakyat di sana. Nihilisme, sinisme, korupsi, dan premanisme berkuasa tanpa perlawanan.
Di kota-kota yang tidak punya teater, galeri, bioskop seni, tetapi juga tidak punya transportasi
umum atau bahkan tempat pejalan kaki, pusat-pusat kotanya amat besar tapi diserahkan
sepenuhnya ke ‘pasar’ dan juga tidak punya taman atau penghijauan apa pun, agama siap mengisi
kekosongan tersebut. Dengan kemunduran, orientasi pro-pasar dan sifat tamak, maka tentu saja
hasilnya mudah diprediksi.

Di kota Surabaya, ketika saya membuat film dokumenter untuk jaringan televisi Amerika Selatan
TeleSur (Surabaya – Eaten Alive by Capitalism), tanpa diduga saya melihat ada pertemuan (misa)
Kristen Protestan di sebuah mal, dengan ribuan orang berada dalam keadaan trans, berseru dengan
mata melihat ke langit-langit. Seorang pengkhotbah perempuan menyerukan ke mikrofon:

“Tuhan mengasihi orang kaya, dan itulah mengapa mereka kaya! Tuhan membenci orang miskin,
dan itu sebabnya mereka miskin!”

Von Hayek, Friedmann, Rockefeller, Wahab, dan Lloyd George kalau disatukan pun tidak akan
bisa mendefinisikan cita-cita mereka dengan cara yang lebih tepat.

8
*

Sebetulnya apa sih yang dikatakan Pangeran Saudi dalam wawancara yang sangat berkesan dan
merupakan terobosan dengan koran The Washington Post? Dan mengapa pula hal itu sangat
relevan dengan negara-negara seperti Indonesia?

Intinya, dia mengatakan bahwa pihak Barat-lah yang meminta Arab Saudi untuk menjadikan
negara klien menjadi lebih relijius, dengan membangun madrasah-madrasah dan masjid-masjid.
Dia juga menambahkan:

“Saya percaya Islam adalah agama yang masuk akal, Islam adalah agama yang sederhana, dan
orang-orang itu mencoba membajaknya.”

Orang-orang? Arab Saudi sendiri? Ulama-ulama di negara-negara seperti Indonesia? Para


penguasa Barat?

Ketika membahas masalah ini dengan banyak pemimpin agama di kota Teheran, Iran, saya
berulang kali diberi tahu:

“Pihak Barat berhasil menciptakan agama yang benar-benar baru dan aneh, kemudian
menyuntikkannya ke berbagai negara. Mereka menyebutnya Islam, tetapi kami tidak
mengenalinya… Itu bukan Islam, sama sekali bukan Islam.”

Pada bulan Mei 2018, di Indonesia, para narapidana teroris melakukan kerusuhan di penjara,
menyandera, dan dengan brutal membunuh beberapa penjaga penjara. Setelah pemberontakan
dilumpuhkan, terjadi beberapa ledakan bom yang mengguncang Jawa Timur. Gereja dan kantor
polisi terkena. Banyak yang meninggal.

Para pembunuh itu menggunakan anggota keluarga mereka, bahkan anak-anak kecil, untuk
melakukan serangan. Para lelaki yang bertanggung jawab atas serangan-serangan itu terinspirasi
dari mantan pejuang yang dulu ditanamkan di Suriah – para teroris dan pembunuh yang ditangkap
dan dideportasi oleh Damaskus untuk kembali ke negara mereka sendiri, negara besar tapi morat-
marit.

Sekarang mereka berada di negara mereka sendiri, membunuh sesama orang Indonesia. Situasinya
sama seperti di masa lalu – para kader jihadi Indonesia yang berperang melawan pemerintah
Afghanistan yang pro-Soviet, dan kemudian pulang dan membunuh ratusan dan ribuan orang di
Poso, Ambon dan tempat-tempat lainnya.

Kaum ekstremis Indonesia menjadi terkenal di dunia, bertempur sebagai anggota legiuner Barat
dalam peperangannya di Afghanistan, Suriah, Filipina dan tempat-tempat lainnya.

Pengaruh mereka di dalam negeri juga berkembang. Sekarang ini tidak mungkin lagi untuk
menyebutkan reformasi sosial atau sosialis di hadapan publik. Rapat-rapat dibubarkan, peserta

9
dipukuli, dan bahkan anggota parlemen diintimidasi, dituduh sebagai “komunis”, di negara di
mana rezimnya masih melarang aliran Komunisme.

Ahok, Gubernur Jakarta yang progresif dan sangat populer, awalnya kalah dalam pemilihan kepala
daerah dan kemudian dia diadili dan dijebloskan ke penjara karena dituduh “menghina Islam”,
tuduhan yang jelas-jelas mengada-ada. Dosa utamanya – membersihkan sungai-sungai yang
tercemar di Jakarta, membangun jaringan transportasi umum, dan memperbaiki kehidupan rakyat
biasa. Jelas sekali hal-hal itu ‘tidak Islami’, setidaknya dari sudut pandang kaum Wahhabi dan
rezim global Barat.

Islam Indonesia yang radikal sekarang ditakuti. Mereka belum tertandingi. Mereka bahkan seperti
mendapat tempat karena hampir tidak ada yang berani mengkritiknya secara terbuka. Kalau tidak
dilawan, mereka akan segera membanjiri dan menekan seluruh masyarakat.

Dan pihak Barat menggunakan ‘political correctness’ (mengungkapkan dengan cara-cara yang
benar secara politik). Sekarang dianggap ‘tidak sopan’ untuk mengkritik ‘Islam’nya Indonesia atau
Arab Saudi, untuk ‘menghormati’ rakyat dan ‘budaya’ mereka. Pada kenyataannya, bukan rakyat
Arab Saudi atau Indonesia yang mendapatkan ‘perlindungan’ – tapi pihak Barat dan kebijakan-
kebijakan imperialisnya; kebijakan dan manipulasi yang digunakan melawan rakyat Muslim dan
esensi agamanya.

Tabligh Akbar Pro-ISIS di Bundaran HI Jakarta (Maret 2014)

10
Sementara dogma Wahhabi/Barat semakin kuat, hutan Indonesia yang tersisa memanas. Negara
ini secara harfiah habis dijarah oleh perusahaan multi-nasional Barat dan oleh para elit lokal yang
korup.

Agama, rezim fasis Indonesia dan imperialisme Barat terus maju, bergandengan tangan. Tetapi
maju kemana? Kemungkinan besar menuju kehancuran total negara Indonesia. Menuju
kesengsaraan yang akan segera tiba, ketika semuanya sudah habis dijarah dan ditambang.

Hal ini sama seperti ketika Wahhabisme dulu bergandengan tangan dengan kaum imperialis dan
penjarah Inggris. Yang menjadi pengecualian adalah bahwa orang-orang Saudi menemukan
ladang-ladang minyak yang besar, cukup untuk menghidupi diri mereka sendiri (atau setidaknya
untuk para elit dan kelas menengah, karena orang miskin masih hidup sengsara di sana) dan
interpretasi Islam mereka yang aneh, yang diilhami dan disponsori oleh Inggris.

Indonesia dan negara-negara lain yang menjadi korban dogma ini, tidak dan tidak akan begitu
‘beruntung’.

Sangat menggembirakan bahwa Pangeran Mahkota Arab Saudi Mohammad bin Salman berbicara
secara terbuka dan mengklarifikasi situasi ini. Tetapi siapa yang mendengarkan?

Untuk rakyat Indonesia, pernyataannya datang terlambat. Pernyataan tersebut tidak membuat
banyak orang terbuka matanya, tidak menimbulkan pemberontakan, tidak ada revolusi. Untuk
memahami apa yang dia katakan setidaknya perlu tahu tentang dasar-dasar sejarah lokal dan dunia,
setidaknya harus mampu berpikir logis. Hal-hal ini lah yang amat kurang di negara-negara yang
terhimpit pelukan kaum imperialis yang merusak.

Mantan Presiden Indonesia, Abdurrahman Wahid, memang benar: “Jika Tuhan datang dan
berkata… orang tidak akan mengikuti apa yang dikatakan oleh Tuhan…”

Indonesia akan terus patuh pada Tuan Wahab, dan dogma kapitalis dan imperialis Barat yang
‘mengatur semuanya’. Mereka akan tetap demikian sampai di masa depan, merasa paling benar
sendiri, memutar lagu-lagu lama dari Amerika Utara untuk mengisi keheningan, agar tidak usah
berpikir dan tidak akan mempertanyakan apa yang terjadi di sekitar mereka. Tidak akan ada
keragu-raguan. Tidak akan ada perubahan, tidak akan ada kebangkitan dan tidak akan ada revolusi.

Sampai pohon terakhir tumbang. Sampai sungai dan anak sungai terakhir diracuni. Sampai tidak
ada yang tersisa untuk rakyat. Sampai ada kepasrahan total dan absolut. Sampai semuanya
terbakar, hitam dan abu-abu. Mungkin saat itulah, beberapa akar kecil dari kebangkitan dan
resistensi akan mulai tumbuh.

Andre Vltchek adalah seorang filsuf, novelis, pembuat film dan wartawan investigasi. Dia sudah
meliput perang dan konflik di berbagai negara. Tiga buku terbarunya adalah tribute-nya
kepada “The Great October Socialist Revolution”, novel revolusionernya Aurora, dan buku
bestselling-nya yang non-fiksi dan politis: “Exposing Lies Of The Empire”. Bukunya tentang

11
Indonesia diberi judul: “Indonesia – Archipelago of Fear”, dan sudah diterjemahkan ke dalam
bahasa Indonesia dengan judul “Indonesia – Untaian Ketakutan di Nusantara”. Silahkan lihat
buku-buku lainnya disini. Silahkan lihat Rwanda Gambit, film dokumenternya tentang Rwanda
dan DRCongo, serta film/dialognya dengan Noam Chomsky “On Western Terrorism”. Sekarang
ini Andre Vltchek tinggal dan bekerja di Asia Timur dan Timur Tengah, dan terus berkarya di
berbagai belahan dunia. Dia dapat dihubungi melalui website-nya atau Twitter-nya atau melalui
emailnya: andre.vltchek.readers@gmail.com

Rossie Indira adalah seorang penulis dan penerbit di PT. Badak Merah Semesta, sebuah
penerbitan yang mandiri dan progresif. Buku terbarunya “Bude Ocie di Maroko” adalah cerita
perjalanannya ke Maroko, dan merupakan buku ke-2 dari serial “Surat dari Bude Ocie”, buku
cerita perjalanannya ke Amerika Latin yang diterbitkan oleh penerbit Kompas. Bersama Andre
Vltchek, Rossie menulis sebuah buku perbincangan dengan penulis terkemuka Asia Tenggara
Pramoedya Ananta Toer yang diberi judul Exile (diterjemahkan ke dalam bahasa Korea, Spanyol
dan bahasa Indonesia). Badak Merah menerbitkan terjemahan dalam bahasa Indonesia dengan
judul “Terasing! – di negeri sendiri”. Rossie juga menjadi penterjemah dan manajer produksi
dalam film dokumenter “Terlena – Breaking of a Nation” tentang genosida di Indonesia pada
tahun 1965. Rossie dapat dihubungi melalui website-nya atau twitter-nya.

12