Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Dewasa ini kondisi pendidikan kita memprihatinkan yang ditandai dengan
menurunnya mutu pendidikan. Menurunnya mutu pendidikan akan berdampak
pada kualitas lulusan yang selanjutnya mengakibatkan rendahnya kualitas sumber
daya manusia Indonesia. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, guru adalah
orang yang pekerjaan atau mata pencahariannya mengajar. Hanya dengan kata
mengajar saja tidak cukup, pada dasarnya terdapat seperangkat tugas yang harus
dilaksanakan oleh guru berhubungan dengan profesinya sebagai pengajar, tugas
guru ini sangat berkaitan dengan kompetensi profesionalnya.

Pendidikan sebenarnya menjadi kunci utama dalam pembangunan suatu


bangsa untuk lebih maju di masa yang akan datang. Guru selalu menjadi fokus
utama atas ketidakberesan sistem pendidikan. Namun, tidak dapat dipungkiri juga
bahwa, pada sisi lain guru juga menjadi sosok yang paling diharapkan dapat
mereformasi tatanan pendidikan. Guru menjadi bagian terpenting yang dapat
menghubungkan antara pengajaran dengan harapan akan masa depan pendidikan
di sekolah yang lebih baik.

Mengingat peranan strategis guru dalam setiap upaya peningkatan mutu,


relevansi, dan efisiensi pendidikan, maka dikenal dengan adanya peningkatan dan
pengembangan aspek kompetensi profesional guru. Hal tersebut yang akan kami
bahas dalam makalah ini. Tentu saja tidak luput dari dasar bahwa peningkatan dan
pengembangan aspek kompetensi profesional guru merupakan suatu kebutuhan
dan keharusan yang dimiliki oleh ranah pendidikan di Indonesia ini. Benar bahwa
mutu pendidikan bukan hanya ditentukan oleh guru semata yang menjadi pelaku
utama proses pendidikan, melainkan juga oleh beberapa komponen pendidikan
lainnya, seperti kualitas dan karakteristik input, lingkungan serta sarana dan
prasarana. Namun demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa faktor guru merupakan
faktor yang dominan dalam menghasilkan mutu lulusan. Diduga salah satu faktor
guru yang menyebabkan rendahnya mutu lulusan adalah rendahnya kompetensi
guru. Dugaan ini diperkuat, dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Blazely dkk
(1997), yang melaporkan bahwa pembelajaran di sekolah cenderung sangat
teoretik dan tidak terkait dengan lingkungan dimana anak belajar. Hal ini
berakibat peserta didik tidak mampu menerapkan apa yang telah dipelajari di
sekolah guna memecahkan permasalahan yang muncul dalam kehidupan.

Pendidikan dan pengajaran banyak mengalami kemajuan dalam


perkembangannya selama ini yang bergantung kepada kepiawan guru dalam

1
menerapkan kompetensi standar yang harus dimiliki termasuk kompetensi
profesional. Tetapi, banyak juga ketidakberhasilan di dunia pendidikan
dikarenakan banyak kesalahan konsep dikarenakan kepiawaian guru dalam
mendidik dan mengajar siswa yang kurang baik. Banyak pula kejadian dimana
para siswa menjadi insan yang kurang baik dikarenakan ketidaktepatan guru
dalam memberikan teguran kepada siswa yang menyebabkan siswa tersebut
mengalami gangguan psikologis yang berupa benci berlebihan terhadap seorang
guru yang menyebabkan mereka menjadi seorang dengan kepribadian pengekang.
Hal ini tentunya seangat mempengaruhi penurunan mutu pendidikan di Indonesia.

Pada dasarnya, telah lama pemerintah menyadari terjadinya penurunan


mutu pendidikan di Indonesia. Menghadapi keadaan tersebut, pemerintah
berusaha keras melakukan upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan. Karena
itu, setiap GBHN dan Repelita maupun Propenas selalu dirumuskan bahwa salah
satu prioritas pembangunan adalah peningkatan mutu pendidikan. Begitu
peningkatan mutu pendidikan, maka berbagai inovasi dan perbaikan pendidikan
dilakukan antara lain penyempurnaan kurikulum, pengadaan bahan ajar,
pengadaan dan penyempurnaan fasilitas pembelajaran, peningkatan mutu guru
maupun perbaikan kesejahteraan guru. Untuk itu, perbaikan, peningkatan, serta
pengembangan kompetensi guru dalam proses belajar mengajar sangat diperlukan
agar tidak terjadinya kesalahan – kesalahan yang mengakibatkan kegagalan di
bidang pendidikan. Hal ini di lakukan dengan harapan dapat meningkatkan mutu,
relevansi, serta efisiensi di bidang pendidikan di Indonesia agar dapat bersaing
dengan dunia pendidikan secara global.

Berdasarkan latar belakang di atas, di dalam makalah ini kami akan


membahas mengenai “Meningkatkan Kompetensi Guru Menuju Guru
Profesional”.

1.2. Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah yang terdapat pada makalah ini adalah :
1. Apa pengertian kompetensi guru ?
2. Bagaimana standar kompetensi guru ?
3. Apa saja prinsip-prinsip kompetensi guru ?
4. Bagaimana upaya peningkatan kompetensi guru ?
5. Bagaimana kompetensi profesional guru ?
6. Apa syarat-syarat kompetensi guru profesional ?

1.3. Tujuan
Adapun tujuan dari dibuatnya makalah ini adalah :

2
1. Untuk mengetahui pengertian kompetensi guru.
2. Untuk mengetahui standar kompetensi guru.
3. Untuk mengetahui prinsip-prinsip kompetensi guru.
4. Untuk mengetahui upaya peningkatan kompetensi guru.
5. Untuk mengetahui kompetensi profesional guru.
6. Untuk mengetahui syarat-syarat kompetensi guru profesional.

3
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Kompetensi Guru


Menurut Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen,
Kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang
harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru atau dosen dalam melaksanakan
tugas keprofesionalan. Kompetensi merupakan syarat yang harus dimiliki guru
agar dapat melaksanakan tugas dengan profesional sehingga mencapai tujuan
pembelajaran secara efektif dan efisien.

Selain itu, Robert A. Roe (2001) mengemukakan bahwa definisi dari


kompetensi adalah kemampuan untuk menjalankan suatu tugas, peran, atau
kemampuan untuk mengintegrasikan suatu pengetahuan, keterampilan–
keterampilan yang berdasarkan pada pengalaman dan pembelajaran yang
dilakukan.

Kompetensi adalah peingintegrasian dari pengetahuan, keterampilan, dan


sikap yang memungkinkan untuk melaksanakan satu cara efektif. Sedangkan guru
adalah tenaga kependidikan. Jadi Kompetensi guru adalah pengetahuan,
keterampilan dan sikap yang harus dimiliki oleh seorang guru.

Istilah kompetensi menunjuk pada suatu kemampuan sebab competence mean


fitness of ability yang berarti kemampuan atau kecakapan. Sumber dari Depdiknas
menyatakan bahwa kompetensi menunjuk kepada kemampuan melaksanakan
sesuatu yang diperoleh melalui pendidikan atau latihan. Kompetensi merupakan
kemampuan untuk menjalankan aktivitas dalam suatu pekerjaan, yang ditunjukkan
oleh kemampuan mentransfer keterampilan dan pengetahuan pada situasi yang
baru. Oleh sebab itu, seorang yang memiliki kompetensi berarti yang
bersangkutan memiliki kemampuan yang dapat diamati dan diukur.

Pengertian kompetensi guru berdasarkan Undang-undang Nomor 14 Tahun


2005 adalah kompetensi guru dapat dimaknai sebagai kebulatan pengetahuan,
keterampilan dan sikap yang berwujud tindakan cerdas dan penuh tanggung jawab
dalam melaksanakan tugas sebagai agen pembelajaran. Menurut Mulyasa (2008),
kompetensi guru merupakan perpaduan antara kemampuan personalia, keilmuan,
teknologi, sosial, dan spiritual yang membentuk kompetensi standar profesi guru,
yang mencakup penguasaan materi, pemahaman terhadap peserta didik,
pembelajaran yang mendidik, pengembangan pribadi dan profesionalitas.
Kompetensi guru lebih merujuk pada kemampuan guru untuk mengajar dan
mendidik sehingga menghasilkan perubahan perilaku belajar dari peserta didik.
Kemampuan guru yang dimaksud adalah tidak hanya dari segi pengetahuan saja
tetapi juga dari segi kepribadian, sosial dan profesional sebagai guru.

Kompetensi Guru depdiknas merumuskan definisi kompetensi sebagai


pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam
kebiasaan berfikir dan bertindak. Dalam kaitannya dengan tenaga profesional

4
kependidikan, maka Rastodio (2009) mendefinisikan kompetensi guru sebagai
penguasaan terhadap pengetahuan, keterampilan, nilai, dan sikap yang di
realisasikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak dalam menjalankan profesi
sebagai guru. Dari beberapa pendapat para ahli dapat disimpulkan bahwa
kompetensi guru merupakan kemampuan guru untuk mentransfer pengetahuan
dan keterampilannya dalam melaksanakan kewajiban pembelajaran secara
profesional dan bertanggungjawab.

2.2 Standar Kompetensi Guru


Kompetensi Yang Harus Dimiliki Seorang Guru. Berdasarkan Peraturan
Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 74 Tahun 2008
tentang Guru. Dijelaskan bahwa Standar Kompetensi Guru dikembangkan secara
utuh dari 4 kompetensi utama, yaitu: kompetensi pedagogik, Kepribadian, sosial
dan profesional. Kepmendiknas nomor 16 tahun 2007 menetapkan standar
kompetensi guru yang di kembangkan secara utuh dari empat kompetensi utama :
Kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional. Keempat kompetensi
tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Kompetensi Pedagogik
Kompetensi Pedagogik yaitu kemampuan yang harus dimiliki guru
berkenaan dengan karakteristik siswa dilihat dari berbagai aspek seperti
moral, emosional, dan intelektual. Berkenaan dengan aspek-aspek yang
diamati oleh pengawas, kemampuan yang harus dimiliki guru berkenaan
dengan kompetensi pedagogik adalah:
1) Penguasaan terhadap karakteristik peserta didik dari aspek fisik, moral,
sosial, kultural, emosional dan intelektual.
2) Penguasaan terhadap teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran
yang mendidik.
3) Mampu mengembangkan kurikulum yang terkait dengan bidang
pengembangan yang diampu.
4) Menyelenggarakan kegiatan pengembangan yang mendidik.
5) Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk kepentingan
penyelenggaraan kegiatan pengembangan yang mendidik.
6) Memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik untuk
mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki.
7) Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan peserta
didik.
8) Melakukan penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar,
memanfaatkan hasil penilaian dan evaluasi untuk kepentingan
pembelajaran.
9) Melakukan tindakan reflektif untuk peningkatan kualitas pembelajaran.

Kompetensi Pedagogik merupakan kompetensi seorang guru dalam


mengelola pembelajaran. Sebagaimana dimaksud pada ayat (2) merupakan

5
kemampuan guru dalam pengelolaan pembelajaran peserta didik yang
sekurang-kurangnya meliputi:

1) Pemahaman wawasan atau landasan kependidikan

2) Pemahaman terhadap peserta didik

3) Pengembangan kurikulum atau silabus

4) Perancangan pembelajaran

5) Pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis

6) Pemanfaatan teknologi pembelajaran

7) Evaluasi hasil belajar

8) Pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi

yang dimilikinya.

Kompetensi sebagaimana tersebut di atas menurut


Soedijarto, hendaknya dimiliki oleh guru sebelum menjadi guru profesional
dengan kompetensi sebagai berikut:

a. Guru memiliki kemampuan merencanakan program pembelajaran.

b. Mampu melaksanakan program pembelajaran.

c. Mampu mendiagnosis berbagai hambatan dan masalah yang dihadapi


peserta didik.

d. Mampu menyempurnakan program pembelajaran berdasarkan umpan

balik yang telah dikumpulkan secara sistematik.

2. Kompetensi Kepribadian
Kompetensi kepribadian meliputi pelaksanaan tugas sebagai guru yang
harus didukung oleh suatu perasaan bangga akan tugas yang dipercayakan
kepadanya untuk mempersiapkan generasi berkualitas masa depan bangsa.
Walaupun berat tantangan dan rintangan yang dihadapi dalam pelaksanaan
tugasnya harus tetap tegar dalam melaksakan tugas sebagai seorang guru.
Berkenaan dengan aspek-aspek yang diamati oleh pengawas, kemampuan
yang harus dimiliki guru berkenaan dengan kompetensi kepribadian adalah:
1) Bertindak sesuai dengan norma agama, hukum, sosial, dan kebudayaan
nasional Indonesia.
2) Menampilkan diri sebagai pribadi yang jujur, berakhlak mulia, dan
teladan bagi peserta didik dan masyarakat.
3) Menampilkan diri sebagai pribadi yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan
berwibawa.

6
4) Menunjukan etos kerja, tanggung jawab yang tinggi, rasa bangga menjadi
guru, dan rasa percaya diri.
5) Menjunjung tinggi kode etik profesi guru.

Sebagaimana dimaksud pada ayat 2 sekurang-kurangnya mencakup


kepribadian yang beriman dan bertaqwa, berakhlak mulia, arif dan bijaksana,
demokratis, mantap, berwibawa, stabil, dewasa, jujur, sportif, menjadi teladan
bagi peserta didik dan masyarakat, secara objektif mampu mengevaluasi
kinerja sendiri, dan mengembangkan diri secara mandiri dan berkelanjutan.

3. Kompetensi Sosial
Kompetensi sosial merupakan kompetensi seorang guru dalam bidang
berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan efisien dengan peserta
didik, sesama guru, orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar.
Kompetensi sosial berkenaan dengan guru di mata masyarakat dan siswa,
dalam artian guru sebagai panutan yang perlu dicontoh dan merupakan
suritauladan dalam kehidupannya sehari-hari. Berkenaan dengan aspek-aspek
yang diamati oleh pengawas, kemampuan yang harus dimiliki guru berkenaan
dengan kompetensi sosial adalah:
1) Bertindak objektif serta tidak diskriminatif karena pertimbangan jenis
kelamin, agama, ras, kondisi fisik, latar belakang keluarga, dan status
sosial ekonomi.
2) Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan sesama
pendidik, tenaga kependidikan, orang tua, dan masyarakat.
3) Beradaptasi di tempat bertugas di seluruh wilayah Republik Indonesia
yang memiliki keragaman sosial budaya.
4) Berkomunikasi dengan komunitas profesi sendiri dan profesi lain secara
lisan dan tulisan atau bentuk lain.

Kompetensi sosial ini sekurang-kurangnya meliputi:

a) Berkomunikasi lisan, tulis, dan/atau isyarat secara santun.

b) Menggunakan teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional.

c) Bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama peserta didik, tenaga
kependidikan, pimpinan satuan pendidikan, orang tua atau wali peserta
didik.

d) Bergaul secara santun dengan masyarakat sekitar dengan mengindahkan


norma serta sistem nilai yang berlaku.

e) Menerapkan prinsip persaudaraan sejati dan semangat kebersamaan.

4. Kompetensi Profesional

7
Kompetensi Profesional merupakan kemampuan guru dalam menguasai
bidang ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau seni dan budaya yang
diampunya sekurang-kurangnya meliputi:

a. Materi pelajaran secara luas dan mendalam sesuai dengan standar isi
program satuan pendidikan, mata pelajaran dan/atau kelompok mata
pelajaran yang akan diampu.

b. Konsep dan metode disiplin keilmuan, teknologi, atau seni yang relevan,
yang secara konseptual menaungi atau koheren dengan program satuan
pendidikan, mata pelajaran dan/atau kelompok mata pelajaran yang akan
diampu.

Kompetensi Profesional yaitu kemampuan yang harus dimiliki guru


dalam perencanaan dan pelaksanaan proses pembelajaran. Berkenaan dengan
aspek-aspek yang diamati oleh pengawas, kemampuan yang harus dimiliki
guru berkenaan dengan kompetensi profesional adalah:
1) Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang
mendukung mata pelajaran yang diampu.
2) Menguasai standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran/
bidang pengembangan yang diampu.
3) Mengembangkan materi pelajaran yang diampu secara kreatif.
4) Mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan melakukan
tindakan reflektif.
5) Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk berkomunikasi
dan mengembangkan diri.

2.3 Prinsip-Prinsip Kompetensi Guru


Dalam dunia pendidikan terdapat prinsip-prinsip yang mendasari untuk
berpikir, bertindak dalam dunia pendidikan itu sendiri. Dalam pendidikan,
terdapat beberapa prinsip dasar yang dibagi menjadi prinsip umum dan prinsip
khusus. Secara umum program peningkatan kompetensi guru diselenggarakan
dengan menggunakan prinsip-prinsip seperti berikut ini:

 Demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung


tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan
bangsa.

 Satu kesatuan yang sistemik dengan sistem terbuka dan multimakna.

 Suatu proses pembudayaan dan pemberdayaan guru yang berlangsung


sepanjang hayat.

 Memberi keteladanan, membangun kemauan, dan mengembangkan


kreativitas guru dalam proses pembelajaran.

8
 Memberdayakan semua komponen masyarakat melalui peran serta dalam
penyelenggaraan dan pengendalian mutu layanan pendidikan.

Sedangkan prinsip khusus program peningkatan kompetensi guru


diselenggarakan dengan menggunakan prinsip-prinsip seperti berikut ini:

 Ilmiah, keseluruhan materi dan kegiatan yang menjadi muatan dalam


kompetensi dan indikator harus benar dan dapat dipertanggungjawabkan
secara keilmuan.

 Relevan, rumusannya berorientasi pada tugas dan fungsi guru sebagai tenaga
pendidik profesional yakni memiliki kompetensi pedagogik, kepribadian,
sosial, dan profesional.

 Sistematis, setiap komponen dalam kompetensi jabatan guru berhubungan


secara fungsional dalam mencapai kompetensi.

 Konsisten, adanya hubungan yang taat asas antara kompetensi dan indikator.

 Aktual dan kontekstual, yakni rumusan kompetensi dan indikator dapat


mengikuti perkembangan Iptek.

 Fleksibel, rumusan kompetensi dan indikator dapat berubah sesuai dengan


kebutuhan dan perkembangan jaman.

 Demokratis, setiap guru memiliki hak dan peluang yang sama untuk
diberdayakan melalui proses pembinaan dan pengembangan
profesionalitasnya, baik secara individual maupun institusional.

 Obyektif, setiap guru dibina dan dikembangkan profesi dan karirnya dengan
mengacu kepada hasil penilaian yang dilaksanakan berdasarkan indikator-
indikator terukur dari kompetensi profesinya.

 Komperehensif, setiap guru dibina dan dikembangkan profesi dan karirnya


untuk mencapai kompetensi profesi dan kinerja yang bermutu dalam
memberikan layanan pendidikan dalam rangka membangun generasi yang
memiliki pengetahuan, kemampuan atau kompetensi, mampu menjadi dirinya
sendiri, dan bisa menjalani hidup bersama orang lain.

 Memandirikan, setiap guru secara terus menerus diberdayakan untuk mampu


meningkatkan kompetensi guru secara berkesinambungan, sehingga memiliki
kemandirian profesional dalam melaksanakan tugas dan fungsi profesinya.

 Profesional, pembinaan dan pengembangan profesi dan karir guru


dilaksanakan dengan mengedepankan nilai-nilai profesionalitas.

 Bertahap, dimana pembinaan dan pengembangan profesi dan karir guru


dilaksanakan berdasarkan tahapan waktu atau tahapan kualitas kompetensi
yang dimiliki oleh guru.

9
 Berjenjang, pembinaan dan pengembangan profesi dan karir guru
dilaksanakan secara berjenjang berdasarkan jenjang kompetensi atau tingkat
kesulitan kompetensi yang ada pada standar kompetensi.

 Berkelanjutan, pembinaan dan pengembangan profesi dan karir guru


dilaksanakan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan
seni, serta adanya kebutuhan penyegaran kompetensi guru.

 Akuntabel, pembinaan dan pengembangan profesi dan karir guru dapat


dipertanggungjawabkan secara transparan kepada publik.

 Efektif, pelaksanaan pembinaan dan pengembangan profesi dan karir guru


harus mampu memberikan informasi yang bisa digunakan sebagai dasar
pengambilan keputusan yang tepat oleh pihak-pihak yang terkait dengan
profesi dan karir lebih lanjut dalam upaya peningkatan kompetensi dan
kinerja guru.

 Efisien, pelaksanaan pembinaan dan pengembangan profesi dan karir guru


harus didasari atas pertimbangan penggunaan sumberdaya seminimal
mungkin untuk mendapatkan hasil yang optimal.

Cony R. Semiawan mengemukakan bahwa kompetensi guru memiliki tiga


kriteria yang terdiri dari:

 Knowledge kriteria yakni kemampuan intelektual yang dimiliki seorang guru


yang meliputi penguasaan materi pelajaran, pengetahuan mengenai cara
mengajar, pengetahuan mengenai belajar dan tingkah laku
individu, pengetahuan tentang bimbingan dan penyuluhan, pengetahuan
tentang kemasyarakatan, dan pengetahuan umum.

 Performance kriteria adalah kemampuan guru yang berkaitan dengan


perbagai keterampilan dan perilaku, yang meliputi keterampilan mengajar,
membimbing, menilai, menggunakan alat bantu pengajaran, bergaul dan
berkomunikasi dengan siswa dan keterampilan menyusun persiapan mengajar
atau perencanaan mengajar.

 Product kriteria yakni kemampuan guru dalam mengukur kemampuan dan


kemajuan siswa setelah mengikuti proses belajar mengajar.

2.4 Upaya Peningkatan Kompetensi Guru


Pengembangan profesi guru secara berkesinambungan, dimaksudkan untuk
merangsang, memelihara, dan meningkatkan kompetensi guru dalam memecahkan
masalah-masalah pendidikan dan pembelajaran yang berdampak pada peningkatan
mutu hasil belajar siswa. Oleh karena itu, peningkatan kompetensi guru untuk
dapat melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya secara profesional di satuan
pendidikan, menjadi kebutuhan yang amat mendesak dan tidak dapat ditunda-

10
tunda. Hal ini mengingat perkembangan atau kenyataan yang ada saat ini maupun
di masa depan.
Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, seni dan budaya yang semakin
maju dan pesat, menuntut setiap guru untuk dapat menguasai dan
memanfaatkannya dalam rangka memperluas atau memperdalam materi
pembelajaran, dan untuk mendukung pelaksanaan pembelajaran, seperti
penggunaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK).
Perkembangan yang semakin maju tersebut, mendorong perubahan kebutuhan
peserta didik dan masyarakat. Kebutuhan yang makin meningkat itu, memicu
semakin banyaknya tuntutan peserta didik yang harus dipenuhi untuk dapat
memenangkan persaingan di masyarakat. Lebih-lebih dewasa ini, peserta didik
dan masyarakat dihadapkan pada kenyataan diberlakukannya pasar bebas, yang
akan berdampak pada semakin ketatnya persaingan baik saat ini maupun di masa
depan.
Peningkatan kompetensi keguruan, semakin dibutuhkan mengingat terjadinya
perkembangan dalam pemerintahan, dari sistem sentralisasi menjadi
desentralisasi. Pemberlakuan sistem otonomi daerah itu, juga diikuti oleh
perubahan sistem pengelolaan pendidikan dengan menganut pola desentralisasi.
“Pengelolaan pendidikan secara terdesenralisasi akan semakin mendekatkan
pendidikan kepada stakeholders pendidikan di daerah dan karena itu maka guru
semakin dituntut untuk menjabarkan keinginan dan kebutuhan-kebutuhan
masyarakat terhadap pendidikan melalui kompetensi yang dimilikinya”.
Adapun Upaya-upaya untuk mengembangkan kompetensi guru dipaparkan
oleh para ahli yaitu sebagai berikut:
1. Menurut Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen
Pendidikan Nasional, sebagai berikut:
 Program peningkatan kualifikasi pendidikan guru
 Program penyetaraan dan sertifikasi
 Program pelatihan terintegrasi berbasis kompetensi
 Program supervisi pendidikan
 Program pemberdayaan MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran)
 Simposium guru
 Program pelatihan tradisional lainnya
 Membaca dan menulis jurnal atau karya ilmiah
 Berpartisipasi dalam pertemuan ilmiah
 Melakukan penelitian (khususnya Penelitian Tindakan Kelas)
 Magang
 Mengikuti berita aktual dari media pemberitaan
 Berpartisipasi dan aktif dalam organisasi profesi
 Menggalang kerjasama dengan teman sejawat
2. Menurut Depdiknas upaya untuk meningkatkan pengembangan kompetensi
guru adalah sebagai berikut:
a) Program Sertifikasi

11
Sertifikasi guru adalah proses perolehan sertifikat pendidik bagi
guru. Sertifikat pendidik bagi guru berlaku sepanjang yang bersangkutan
menjalankan tugas sebagai guru sesuai dengan peraturan perundang-
undangan. Serifikat pendidik ditandai dengan satu nomor registrasi guru
yang dikeluarkan oleh Departemen Pendidikan Nasional. Tujuan
diadakanya sertifikasi guru adalah sebagai berikut:
 Menentukan kelayakan guru dalam melaksanakan tugas sebagai agen
pembelajaran dan mewujudkan tujuan pendidikan nasional.
 Meningkatkan proses dan mutu hasil pendidikan.
 Meningkatkan martabat guru.
 Meningkatkan profesionalisme guru.
Sedangkan manfaat diadakanya sertifikasi guru adalah sebagai
berikut:
 Melindungi profesi guru dari praktek-praktek yang tidak
kompeten,yang dapat merusak citra profesi guru.
 Melindungi masyarakat dari praktek-praktek pendidikan yang tidak
berkualitas dan tidak professional.
 Meningkatkan kesejahteraan guru
Sertifikasi diperoleh melalui pendidikan profesi yang diakhiri
dengan uji kompetensi. Dalam program sertifikasi telah ditentukan
kualifikasi pendidikan bagi semua guru di semua tingkatan, yaitu
minimal sarjana atau Diploma IV. Dengan kualifikasi itu, diharapkan
guru akan memiliki kompetensi yang memadai.
Sertifikasi guru diselenggarakan oleh perguruan tinggi yang
memiliki program pengadaan tenaga kependidikan yang terakreditasi
atau ditunjuk pemerintah. Setelah disertifikasi guru akan memperoleh
sertifikat pendidik, yaitu bukti formal sebagai pengakuan yang diberikan
kepada guru sebagai tenaga profesional. Dengan memiliki sertifikat
pendidik, guru akan memperoleh penghasilan di atas kebutuhan
minimum, meliputi: gaji pokok, tunjangan yang melekat pada gaji, serta
penghasilan lain berupa tunjangan profesi, tunjangan fungsional,
tunjangan khusus, dan maslahat tambahan yang terkait dengan tugasnya
sebagai guru yang ditetapkan dengan prinsip penghargaan atas dasar
prestasi. Guru yang diangkat oleh satuan pendidikan yang
diselenggarakan oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah diberi gaji
sesuai dengan peraturan perundang-undangan, sementara guru yang
diangkat oleh satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat
diberi gaji berdasarkan perjanjian kerja atau kesepakatan kerja bersama.
Untuk memperoleh sertifikat pendidik tidak semudah membalikkan
telapan tangan, dan memerlukan kerja keras para guru. Sertifikat
pendidik akan dapat diperoleh guru apabila mereka benar-benar memiliki
kompetensi dan profesionalisme. Bagi para guru yang memiliki
kompetensi dan profesionalisme, hal ini mungkin bukan merupakan

12
persoalan yang pelik, melainkan tinggal menunggu waktu. Sebaliknya,
para guru yang kurang memiliki kompetensi dan profesionalisme, hal ini
dapat menjadi persoalan yang pelik ketika giliran untuk disertifikasi telah
tiba. Sehubungan dengan hal itu, sesuatu yang pasti adalah guru harus
mempersiapkan diri sedini mungkin untuk disertifikasi, agar kesempatan
yang baik itu tidak hilang begitu saja karena tidak adanya persiapan yang
memadai. Guru harus siap mental, keilmuan, dan finansial. Dalam kaitan
dengan persiapan dalam hal keilmuan, guru perlu meningkatkan
kompetensi dan profesionalismenya.

b) Peningkatan Kompetensi dan Profesionalisme Guru


Untuk kepentingan sertifikasi dan menjamin mutu pendidikan
perlu dilakukan peningkatan kompetensi dan profesionalisme seorang
guru. Hal ini perlu dipahami karena dengan adanya pasca sertifikasi guru
harus tetap meningkatkan kemampuan dan profesionalismenya agar mutu
pendidikan tetap terjamin. Peningkatan kompetensi dan profesionalisme
guru dapat dilakukan dengan beberapa cara antara lain sebagai berikut ini:
1) Studi Lanjut Program Strata 2
Studi lanjut program Strata 2 atau Magister merupakan cara
pertama yang dapat ditempuh oleh para guru dalam meningkatkan
kompetensi dan profesionalismenya. Ada dua jenis program magister
yang dapat diikuti, yaitu program magister yang menyelenggarakan
program pendidikan ilmu murni dan ilmu pendidikan. Ada
kecenderungan para guru lebih suka untuk mengikuti program ilmu
pendidikan untuk meningkatkan kompetensi dan profesionalismenya.

2) Kursus dan Pelatihan


Keikutsertaan dalam kursus dan pelatihan tentang kependidikan
merupakan cara kedua yang dapat ditempuh oleh guru untuk
meningkatkan kompetensi dan profesionalismenya. Walaupun tugas
utama seorang guru adalah mengajar, namun tidak ada salahnya dalam
rangka peningkatan kompetensi dan profesionalismenya juga perlu
dilengkapi dengan kemampuan meneliti dan menulis artikel/ buku.
3) Pemanfaatan Jurnal
Jurnal yang diterbitkan oleh masyarakat profesi atau perguruan
tinggi dapat dimanfaatkan untuk peningkatan kompetensi dan
profesionalisme. Artikel-artikel di dalam jurnal biasanya berisi tentang
perkembangan terkini suatu disiplin tertentu. Dengan demikian, jurnal
dapat dipergunakan untuk memutakhirkan pengetahuan yang dimiliki
oleh seorang guru. Dengan memiliki bekal ilmu pengetahuan yang
memadai, seorang guru bisa mengembangkan kompetensi dan
profesionalismenya seorang guru dalam mentransfer ilmu kepada
peserta didik. Selain itu, jurnal-jurnal itu dapat dijadikan media untuk

13
mengomunikasikan tulisan hasil pemikiran dan penelitian guru yang
dapat digunakan untuk mendapatkan angka kredit yang dibutuhkan
pada saat sertifikasi dan kenaikan pangkat.

4) Seminar
Keikutsertaan dalam seminar merupakan alternatif keempat yang
dapat ditempuh untuk meningkatkan kompetensi dan profesionalisme
seorang guru. Tampaknya hal ini merupakan cara yang paling diminati
dan sedang menjadi trend para guru dalam era sertifikasi, karena dapat
menjadi sarana untuk mendapatkan angka kredit. Melalui seminar guru
mendapatkan informasi-informasi baru. Forum seminar yang
diselengarakan oleh dan untuk guru dapat menjadi wahana yang baik
untuk mengomunikasikan berbagai hal yang menyangkut bidang ilmu
dan profesinya sebagai guru.

3. Menurut Sunaryo upaya pengembangan kompetensi guru untuk menjadi


seorang guru profesional adalah sebagai berikut:
 Pre service education
Pre service education dapat dilakukan dengan cara peningkatan
kualitas masukan (input) calon guru.

 In service education
In service education dapat dilakukan dengan memotivasi para guru
yang sudah mengajar agar dapat memperoleh pendidikan yang lebih tinggi,
misalnya perlu lebih dimantapkan agar semua guru dapat kesempatan yang
sama dan diberikan kemudahan-kemudahan untuk mengikuti pendidikan
yang lebih tinggi.

 In service training
In service training harus dilakukan dengan memperbanyak
penyelenggaraan, pelatihan, penataran dan seminar-seminar. Materi latihan
juga perlu dipertajam ke arah yang lebih teknis operasional. Salah satu tugas
guru dalam melakukan pengembangan profesi adalah penulisan karya
ilmiah dan karya tulis di bidangnya. Untuk ini perlu ada pelatihan tentang
hal tersebut. Ada kalanya para guru dalam mengajar sering menemui
permasalahan.

 On service training
On service training yaitu kegiatan yang dapat dilakukan dengan
mengadakan pertemuan berkala dan rutin di antara para guru yang
mempunyai bagian yang sama sehingga terjadi tukar pikiran di antara para
guru itu dalam mencari alternatif pemecahannya.

14
4. Menurut Muhammad Yusuf upaya untuk mengembangkan Kompetensi
profesional guru adalah sebagai berikut:
a. Melaksanakan pembinaan professional guru
Kepala sekolah bisa menyusun program penyetaraan bagi guru-guru
yang memiliki kualifikasi D III agar mengikuti penyetaraan S1/Akta IV,
sehingga mereka dapat menambah wawasan keilmuan dan pengetahuan
yang menunjang tugasnya.

b. Untuk meningkatkan prefossional guru yang sifatnya khusus, bisa


dilakukan kepala sekolah dengan mengikutsertakan guru melalui seminar
dan pelatihan yang diadakan Diknas maupun di luar Diknas. Hal tersebut
dilakukan untuk meningkatkan kinerja guru dalam membenahi dan
metodologi pembelajaran.

c. Peningkatan prefessionalisme guru melalui PKG (Pemantapan kerja guru)


Melalui wadah inilah para guru diarahkan untuk mencari berbagai
pengalaman mengenai metodologi pembelajaran dan bahan ajar yang dapat
diterapkan di dalam kelas.

d. Meningkatkan kesejahteraan guru


Kesejahteraan guru tidak dapat diabaikan, karena merupakan salah
satu faktor penentu dalam peningkatan kinerja, yang secara langsung
terhadap mutu pendidikan.
5. Menurut Prof. Dr. Piet A. Sahertian upaya pengembangan kompetensi guru
bisa dilakukan dengan cara sebagai berikut:
Mengikuti Penataran Guru
Penataran guru adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan
kegiatan-kegiatan pada sebagian personalia yang bekerja akan
meningkatkan pertumbuhan dan kualifikasi mereka.

Mengikuti Musyawarah Guru Bidang Studi


Musyawarah guru bidang studi ini bertujuan untuk menyatukan
terhadap kekurangan konsep makna dan fungsi pendidikan serta
pemecahanya terhadap kekurangan yang ada. Disamping itu juga untuk
mendorong guru melakukan tugas dengan baik, sehingga mampu
membawa mereka kearah peningkatan kompetensinya.

Mengikuti Kursus
Mengikuti kursus merupakan suatu kegiatan untuk membantu guru
dalam mengembangkan pengetahuan sesuai dengan keahlianya masing-
masing. Dalam mengikuti kursus, guru diarahkan kepada dua hal, yaitu:
a. Penyegaran.

15
b. Upaya peningkatan pengetahuan,keterampilan,dan mengubah sikap
tertentu.

Menambah pengetahuan melalui Media Masa atau Elektronik


Salah satu media yang cukup membantu dalam meningkatkan
profesionalisme guru dalam proses belajar mengajar adalah media cetak
dan media elektronik. Hal ini akan membawa pemikiran-pemikiran baru
dan wawasan-wawasan baru bagi seorang guru dalam pengajaran.

Peningkatan Profesi melalui belajar sendiri


Cara lain yang baik untuk meningkatkan profesi guru adalah
berusaha mengikuti perkembangan dengan cara belajar sendiri,dan belajar
sendiri dapat dilakukan perorangan dengan mengajarkan kepada guru
untuk membaca dan memilih topik yang sesuai dengan kebutuhan di
sekolah.

2.5 Kompetensi Profesional Guru


Pada dasarnya terdapat seperangkat tugas yang harus dilaksanakan oleh guru
berhubungan dengan profesinya sebagai pengajar, tugas guru ini sangat berkaitan
dengan kompetensi profesionalnya. Hakikat profesi guru merupakan suatu profesi,
yang berarti suatu jabatan yang memerlukan keahlian khusus sebagai guru dan
tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang di luar bidang pendidikan. Walaupun
pada kenyataannya masih terdapat hal-hal tersebut di luar bidang kependidikan.
Ciri seseorang yang memiliki kompetensi apabila dapat melakukan sesuatu,
hal ini sesuai dengan pendapat Munandar bahwa, kompetensi merupakan daya
untuk melakukan suatu tindakan sebagai hasil dari pembawaan dan latihan.
Pendapat ini, menginformasikan dua faktor yang mempengaruhi terbentuknya
kompetensi, yakni ; (a) faktor bawaan, seperti bakat, dan (b) faktor latihan, seperti
hasil belajar.
Menurut soedijarto, guru yang memiliki kompetensi profesional perlu
menguasai antara lain:
a) Disiplin ilmu pengetahuan sebagai sumber bahan pelajaran.
b) Bahan ajar yang diajarkan.
c) Pengetahuan tentang karakteristik siswa.
d) Pengetahuan tentang filsafat dan tujuan pendidikan.
e) Pengetahuan serta penguasaan metode dan model mengajar.
f) Penguasaan terhadap prinsip-prinsip teknologi pembelajaran.
g) Pengetahuan terhadap penilaian, dan mampu merencanakan, memimpin, guna
kelancaran proses pendidikan.
Tuntutan atas berbagai kompetensi ini mendorong guru untuk memperoleh
informasi yang dapat memperkaya kemampuan agar tidak mengalami ketinggalan
dalam kompetensi profesionalnya. Semua hal yang disebutkan diatas merupakan
hal yang dapat menunjang terbentuknya kompetensi guru. Dengan kompetensi
profesional tersebut, dapat diduga berpengaruh pada proses pengelolaan

16
pendidikan sehingga mampu melahirkan keluaran pendidikan yang bermutu.
Keluaran yang bermutu dapat dilihat pada hasil langsung pendidikan yang berupa
nilai yang dicapai siswa dan dapat juga dilihat dari dampak pengiring, yakni
dimasyarakat. Selain itu, salah satu unsur pembentuk kompetensi profesional guru
adalah tingkat komitmennya terhadap profesi guru dan didukung oleh tingkat
abstraksi atau kemampuan menggunakan nalar. Guru yang rendah tingkat
komitmennya, ditandai oleh ciri-ciri sebagai berikut:
 Perhatian yang disisihkan untuk memerhatikan siswanya hanya sedikit.
 Waktu dan tenaga yang dikeluarkan untuk melaksanakan tugasnya hanya
sedikit.
 Perhatian utama guru hanyalah jabatannya.
Sebaliknya, guru yang mempunyai tingkatan komitmen tinggi, ditandai oleh
ciri-ciri sebagai berikut:
 Perhatiannya terhadap siswa cukup tinggi.
 Waktu dan tenaga yang dikeluarkan untuk melaksanakan tugasnya banyak.
 Banyak bekerja untuk kepentingan orang lain.
Kompetensi guru berkaitan dengan profesionalisme, yaitu guru yang
profesional adalah guru yang kompeten (berkemampuan). Karena itu, kompetensi
profesionalisme guru dapat diartikan sebagai kemampuan dan kewenangan guru
dalam menjalankan profesi keguruannya dengan kemampuan tinggi.
Profesionalisme seorang guru merupakan suatu keharusan dalam mewujudkan
sekolah berbasis pengetahuan, yaitu pemahaman tentang pembelajaran,
kurikulum, dan perkembangan manusia termasuk gaya belajar. Pada umumnya di
sekolah-sekolah yang memiliki guru dengan kompetensi profesional akan
menerapkan “pembelajaran dengan melakukan” untuk menggantikan cara
mengajar dimana guru hanya berbicara dan peserta didik hanya mendengarkan.
Dalam suasana seperti itu, peserta didik secara aktif dilibatkan dalam
memecahkan masalah, mencari sumber informasi, data evaluasi, serta menyajikan
dan mempertahankan pandangan dan hasil kerja mereka kepada teman sejawat
dan yang lainnya. Sedangkan para guru dapat bekerja secara intensif dengan guru
lainnya dalam merencanakan pembelajaran, baik individual maupun tim,
membuat keputusan tentang desain sekolah, kolaborasi tentang pengembangan
kurikulum, dan partisipasi dalam proses penilaian. Kompetensi profesional
seorang guru adalah seperangkat kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang
guru agar ia dapat melaksanakan tugas mengajarnya dengan berhasil. Adapun
kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru, terdiri dari 4 yaitu ;
kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan
kompetensi profesional mengajar. Keberhasilan guru dalam menjalankan
profesinya sangat ditentukan oleh keempatnya dengan penekanan pada
kemampuan mengajar.
Dengan demikian, bahwa untuk menjadi guru profesional yang memiliki
akuntabilitas dalam melaksanakan ketiga kompetensi tersebut, dibutuhkan tekad
dan keinginan yang kuat dalam diri setiap guru atau calon guru untuk
mewujudkannya. Sebagai seorang guru perlu mengetahui dan menerapkan

17
beberapa prinsip mengajar agar seorang guru dapat melaksanakan tugasnya secara
profesional, yaitu sebagai berikut:
1) Guru harus dapat membangkitkan perhatian peserta didik pada materi mata
pelajaran yang diberikan serta dapat menggunakan berbagai media dan
sumber belajar yang bervariasi.
2) Guru harus dapat membangkitkan minat peserta didik untuk aktif dalam
berpikir serta mencari dan menemukan sendiri pengetahuan.
3) Guru harus dapat membuat urutan (sequence) dalam pemberian pelajaran dan
penyesuaiannya dengan usia dan tahapan tugas perkembangan peserta didik.
4) Guru perlu menghubungkan pelajaran yang akan diberikan dengan
pengetahuan yang telah dimiliki peserta didik (kegiatan apersepsi), agar
peserta didik menjadi mudah dalam memahami pelajarannya yang
diterimanya.
5) Sesuai dengan prinsip repitisi dalam proses pembelajaran, diharapkan guru
dapat menjelaskan unit pelajaran secara berulang-ulang hingga tanggapan
peserta didik menjadi jelas.
6) Guru wajib memerhatikan dan memikirkan korelasi atau hubungan antara
mata pelajaran dan/atau praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari.
7) Guru harus tetap menjaga konsentrasi belajar para peserta didik dengan cara
memberikan kesempatan berupa pengalaman secara langsung,
mengamati/meneliti, dan menyimpulkan pengetahuan yang didapatnya.
8) Guru harus mengembangkan sikap peserta didik dalam membina hubungan
sosial, baik dalam kelas maupun diluar kelas.
9) Guru harus menyelidiki dan mendalami perbedaan peserta secara individual
agar dapat melayani siswa sesuai dengan perbedaannya tersebut.
10) Guru juga dapat melaksanakan evaluasi yang efektif serta menggunakan
hasilnya untuk mengetahui prestasi dan kemajuan siswa serta menggunakan
hasilnya untuk mengetahui prestasi dan kemajuan siswa serta dapat
melakukan perbaikan dan pengembangan.

Seiring dengan kemajuan teknologi informasi yang berkembang pesat, guru


tidak lagi hanya bertindak sebagai penyaji informasi, tetapi juga harus mampu
bertindak sebagai fasilitator, motivator, dan pembimbing yang lebih banyak
memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mencari dan mengolah
sendiri informasi. Dengan demikian keahlian guru harus terus dikembangkan dan
tidak hanya terbatas pada penguasaan prinsip mengajar seperti yang telah
diuraikan di atas. Bertitik tolak dari pendapat para ahli tersebut diatas, maka yang
dimaksud “Kompetensi Profesionalisme Guru” adalah orang yang memiliki
kemampuan dan keahlian khusus dalam bidangnya sehingga ia mampu
menjalankan tugas dan fungsinya sebagai seorang guru dengan hasil yang baik.

2.6 Syarat-Syarat Kompetensi Guru Profesional


Terdapat beberapa syarat dalam mendapatkan kompetensi keprofesionalan
guru, yaitu:
1. Mempunyai Ke Empat Standar Kompetensi Guru

18
2. Memenuhi Tugas dan Tanggung Jawab Guru
 Mewariskan kebudayaan dalam bentuk kecakapan, kepandaian dan
pengalaman empirik, kepada para muridnya.
 Membentuk kepribadian anak didik sesuai dengan nilai dasar negara.
 Mengantarkan anak didik menjadi warga negara yang baik, memfungsikan
diri sebagai media dan perantara pembelajaran bagi anak didik.
 Mengarahkan dan membimbing anak sehingga memiliki kedewasaan
dalam berbicara, bertindak dan bersikap.
 Memungsikan diri sebagai penghubung antara sekolah dan masyarakat
lingkungan, baik sekolah negeri atau swasta.
 Harus mampu mengawali dan menegakkan disiplin baik untuk dirinya,
maupun murid dan orang lain.
 Memungsikan diri sebagai administrator dan sekaligus manajer yang
disenangi.
 Melakukan tugasnya dengan sempurna sebagai amanat profesi.
 Guru diberi tanggung jawab paling besar dalam hal perencanaan dan
pelaksanaan kurikulum serta evaluasi keberhasilannya.
 Membimbing anak untuk belajar memahami dan menyelesaikan masalah
yang dihadapi muridnya.
 Guru harus dapat merangsang anak didik untuk memiliki semangat yang
tinggi dan gairah yang kuat dalam membentuk kelompok studi,
mengembangkan kegiatan ekstra kurikuler dalam rangka memperkaya
pengalaman.

3. Guru Profesional Senantiasa Meningkatkan Kualitasnya


Tugas dan kewajiban guru baik yang terkait langsung dengan proses
belajar mengajar maupun yang tidak terkait langsung, sangatlah banyak dan
berpengaruh pada hasil belajar mengajar. Bila peserta didik mendapatkan
nilai-nilai tinggi, maka guru mendapat pujian. Pantas menjadi guru dan harus
dipertahankan walaupun tetap disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa.
Tetapi bila yang terjadi sebaliknya, yakni para peserta didik mendapat nilai
yang rendah, maka serta merta juga kesalahan ditumpahkan kepada sang
guru. Predikat guru bodoh, tidak bisa mengajar, tidak memiliki kemampuan
menjalankan tugasnya sebagi guru, lebih baik beralih fungsi menjadi
karyawan atau tata usaha juga dialamatkan kepada guru.
Oleh karena itu, perlu diperhatikan secara sungguh-sungguh bagaimana
memberikan prioritas yang tinggi kepada guru. Sehingga mereka dapat
memperoleh kesempatan untuk selalu meningkatkan kemampuannya
melaksanakan tugas sebagai guru. Guru harus diberikan kepercayaan untuk
melaksanakan tugasnya melakukan proses belajar mengajar yang baik.
Kepada guru perlu diberikan dorongan dan suasana yang kondusif untuk
menemukan berbagai alternatif metode dan cara mengembangkan proses
pembelajaran sesuai perkembangan zaman. Agar dapat meningkatkan
keterlibatannya dalam melaksanakan tugas sebagai guru, dia harus
memahami, menguasai, dan terampil menggunakan sumber-sumber belajar

19
baru di dirinya. Sumber belajar bukan hanya guru, apabila guru tidak mampu
menyesuaikan diri dengan perkembangan perubahan. Maka guru tersebut
akan mudah ditinggalkan oleh muridnya.

4. Memenuhi Standar Profesional di Indonesia


Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia standar berarti antara lain
sesuatu yang dipakai sebagai contoh atau dasar yang sah bagi ukuran, takaran,
dan timbangan. Standar dapat juga dipahami sebagai kriteria minimal yang
harus dipenuhi. Jadi standar profesional guru mempunyai kriteria minimal
berpendidikan sarjana atau diploma empat serta dilengkapi dengan sertifikasi
profesi.

20
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari makalah ini yaitu:
1. Kompetensi guru merupakan kemampuan guru untuk mentransfer
pengetahuan dan keterampilannya dalam melaksanakan kewajiban
pembelajaran secara profesional dan bertanggung jawab.
2. Standar kompetensi guru yang di kembangkan secara utuh dari empat
kompetensi utama yaitu kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan
profesional.
3. Prinsip-prinsip kompetensi guru demokratis, berkeadilan, satu kesatuan,
proses pembudayaan dan pemberdayaan guru, memberi keteladanan,
memberdayakan semua komponen masyarakat, ilmiah, relevan, sistematis,
konsisten, aktual & kontekstual, fleksibel, obyektif, komperehensif,
memandirikan, profesional, bertahap, berjenjang, berkelanjutan, akuntabel,
efektif dan efisien.

4. Upaya-upaya peningkatkan kompetensi guru menurut Direktorat Jenderal


Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional yaitu
membuat program peningkatan kualifikasi pendidikan guru, program
penyetaraan dan sertifikasi, program pelatihan terintegrasi berbasis
kompetensi, program supervisi pendidikan, program pemberdayaan
MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran), simposium guru, program
pelatihan tradisional lainnya, membaca dan menulis jurnal atau karya
ilmiah, berpartisipasi dalam pertemuan ilmiah, melakukan penelitian
(khususnya Penelitian Tindakan Kelas), magang, mengikuti berita aktual
dari media pemberitaan, berpartisipasi dan aktif dalam organisasi profesi,
dan menggalang kerjasama dengan teman sejawat.

5. Kompetensi profesionalisme guru dapat diartikan sebagai kemampuan dan


kewenangan guru dalam menjalankan profesi keguruannya dengan
kemampuan tinggi.
6. Syarat-syarat kompetensi keprofesionalan guru yaitu mempunyai ke empat
standar kompetensi guru, memenuhi tugas dan tanggung jawab guru,
guru profesional senantiasa meningkatkan kualitasnya, dan memenuhi
standar profesional di Indonesia.
3.2 Saran
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi yang membaca makalah ini,
khususnya untuk kelompok kami, dan semoga makalah ini dapat menjadi rujukan
ataupun media belajar bagi siapa saja yang ingin mempelajari “Meningkatkan
Kompetensi Guru Menuju Guru Profesional”. Namun tak dapat di pungkiri bahwa

21
dalam pembuatan tugas makalah ini banyak kekurangan, untuk itu masukan dan
kritik yang membangun sangat di perlukan. Diharapkan bagi para pembaca untuk
membaca referensi lain guna menambah pengetahuan tentang “Meningkatkan
Kompetensi Guru Menuju Guru Profesional”.

22
DAFTAR PUSTAKA

Aqib, Zainal. 2009. Menjadi Guru Profesional Berstandar Nasional. Bandung:


Yrama Widya.

Cony, R. Semiawan. 2003. Pendidikan Anak Berbakat. Jakarta: Universitas


Negeri Jakarta.

Dede Mohamad Riva. 2010. Upaya Meningkatkan Profesionalisme Guru. [online]


tersedia: http://www.duniaesai.com/pendidikan/didik18.html (Diakses
tanggal 19 Mei 2018).

Fitrianur. 2010. Kompetensi Profesionalisme Guru. [online] tesedia:


http://www.tarakankota.go.id (Diakses tanggal 19 Mei 2018).

Hamlik, Oemar. 2002. Pendidikan Guru “Berdasarkan Pendekatan Kompetensi”.


Jakarta: Bumi Aksara.

Mulyasa, E. 2008. Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru. Bandung: PT


Remaja Rosdakarya.

Sahertian, Piet A. 1990. Supervisi Pendidikan dalam rangka program inservice


education. Jakarta: Rineka Cipta.

Sanusi, Achmad dkk. 1991. Studi Pengembangan Model Pendidikan Profesional


Tenaga Kependidikan. Bandung: IKIP Bandung Press.

Satori, Djam’an dkk. 2010. Profesi Keguruan. Jakarta: Universitas Terbuka.

Soedijarto. 2008. Landasan dan Arah Pendidikan Nasional Kita. Jakarta:


Kompas.

Soetjipto, Raflis Kosasi. 1994. Profesi Keguruan. Bandung: Rineka Cipta.

Sutikno, Sobry. 2008. Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Prospect

Undang-Undang Republik Indonesia. 2003. No. 20 tentang Sistem Pendidikan


Nasional. Jakarta.

Undang-Undang Republik Indonesia. 2005. No.14 tentang Guru dan Dosen.


Jakarta.

23