Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Obat merupakan semua zat baik kimiawi, hewani maupun nabati yang
dalam dosis dapat menyembuhkan, meringankan atau mencegah penyakit
berikut gejalanya. Kebanyakan obat yang digunakan dimasa lalu adalah obat
yang berasala dari tanaman (Tjay, 2007).
Hipertensi merupakan penyakit heterogen yang dapat disebabkan oleh
penyebab spesifik atau mekanisme patofisiologi yang tidak diketahui
penyebabnnya. Hipertensi sekunder bernilai kurang dari 10% kasus hipertensi,
pada umumnya kasus tersebut dapat disebabkan oleh penyakit ginjal kronik
atau renovascular. (Sukandar, 2008).
Penyakit darah yang tinggi yang lebih dikenal sebagai Hipertensi
merupakan penyakit yang dapat perhatian dari semua kalangan masyarakat
mengigat dampak yang timbulnya baik jangka pendek maupun jangka panjang.
Sehingga membutuhkan penanggulangan jangka panjang yang menyeluruh dan
terpadu. Penyakit Hipertensi menimbulkan angka morbidital (kesakitan) dan
mortalitasnya (kematian) yang tinggi.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan ternyata prevalensi (angka
kejadian) hipertensi meningkat dengan bertambahnya usia. Dari berbagai
penelitian epidemiologis yang dilakukan di Indonesia menunjukkan 1,8-26,8%
penduduk yang berusia diatas 20 tahun adalah penderita Hipertensi. Saat ini
terdapat kecendrungan bahwa masyarakat perkotaan lebih banyak menderita
hipetensi dibandingkan masyarakat pedesaan. Hal ini dihubungan dengan gaya
hidup masyarakat kota yang berhubungan dengan resiko penyakit hipertensi
seperti strees, oberitas (kegemukan), kurangnya olah raga, merokok, alkohol,
dan makanan-makanan tinggi kadar lemak.
Secara umum masyarakat sering menghubungkan konsumsi garam dan
hipertensi. Pengaruh asupan garam dan hipertensi melalui peningkatan eksresi
(pengeluaran) kelebihan garam sehingga kembali pada keadaan hemodinamik
(sistem pendarahan) yang normal, pada hipertensi esensial mekanisme ini
terganggu, disamping faktor lain yang berpengaruh. Obesitas atau kegemukan
dimana berat badan mencapai indeks massa > 27 (berat badan kg) dibagi
kuadrat tinggi badan (cm) juga merupakan salah satu faktor resiko terhadap
timbulnya hipertensi
Mekanisme kerja obat anti hipertensi yaitu meningkatkan pengeluaran
air dari tubuh, memperlambat kerja jantung, ,e,perlebar pembuluh darah,
menstimulasi sistem saraf pusat dan mengurangi pengaruh sistem saraf otonom
terhadap jantung dan pembuluh darah.(Tjay, 2007)
Berdasarkan uraian diatas maka akan dilakukan praktikum tentang obat
-obat antihipertensi pada mencit (Mus musculus) yang diinduksi dengan NaCl
untuk melihat bagaimana efek terapi dari obat antihipertensi (Amlodipin dan
Kaptopril) serta mengamati cepatnya efek yang ditimbulkan masing-masing
obat antihipertensi.
I.2 Maksud dan Tujuan
I.2.1 Maksud
Adapun maksud percobaan yaitu agar dapat memahami dan memilih
obat - obat hipertensi, sehingga penggunaannya lebih tepat dan rasional.
I.2.2 Tujuan
Adapun tujuan percobaan yaitu untuk mengetahui dan menguji efek
farmakologi dari obat - obat anti hipertensi dalam menurunkan tekanan darah
pada hewan uji mencit (Mus musculus) yang diinduksi dengan adrenalin.
I.3 Prinsip Percobaan
Adapun prinsip dari percobaan adalah penentuan efek antihipertensi
Amlodipin dan captopril sebagai kontrol positif dan NaCMC sebagai kontrol
negatif dengan menginduksi mencit dengan 1 mL larutan NaCl untuk
menaikkan tekanan darah pada mencit (Mus musculus).
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Teori hipertensi
II.1.1 Definisi hipertensi
Hipertensi didefinisikan dengan meningkatnya tekanan darah arteri
yang peristen. The Seven Joint National Commite mengklasifikasikan tekanan
darah pada orang dewasa. Pendeerita dengan tekanan darah diastolik (TDD)
kurang dari 90 mmHg dan tekana darah sistolik (TDS) lebih besar sama
dengan 140 mmHg mengalami hipertensis sitolik terisolasi (Sukandar. 2008).
Tekanan darah itu mirip cuaca. Setiap orang membicarakannya, tetapi
tidak cukup banyak orang yang melakukan suatu mengenainya. Tekanan
darah tinggi atau hipertensi besar, kasus tidak menunjukkan gejala apapun
(Robert. 2010).
Tekana darah ditentukan oleh dua faktor utama yaitu curah jantung
(cardiac output) dan resistensi vaskuler perifer (pheripheral resistance
vascular). Curah jantung merupakan hasil kali antara frequensi denyut jantung
dengan isi sekuncup ditentukan oleh aliran balik vena (Venous return) dan
kekuatan kontraksi miokard resistensi perifer ditentukan oleh rumor otot polos
pembuluh darah, elastisitas pembuluh darah dan viskositas pembuluh darah.
Semua parameter diatas dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain sistem
saraf dan parasimpatis sistem renin angiotensi aldosteron (SRAA) dan faktor
lokal berupa dan bahan – bahan vasoaktif yang diproduksi oleh sel endotel
pembuluh darah (Gunawan. 2007).
Jantung kita sering diibaratkan dengan suatu pompa yang menyalurkan
cairan (darah) melalui pipa elastis (pembuluh) kewadah (organ) dan kemudian
kembali. Bila jantung menguncup, kontraksi darah dengan pesat bdipompa
kedalam pembuluh nadi besar (aorta) dengan tekana agak tinggi. Dari sinilah
darah dialirkan berangsur – angsur kedalam arteri dan arteriole lainnya dengan
tekanan semakin berkurang (Tjay, 2007).
II.1.2 Penyebab hipertensi
Penyebab khusus hipertensi hanya bisa ditetapkan pada sekitar 10 –
15% pasien. Penting untuk mempertimbangkan penyebab khusus pada setiap
kasus karena beberapa diantara mereka perlu dilakukan pembedahan secara
definitif : konstriksi arteri ginjal, koartasi aorta, feokromasitoma, penyakit
chusing dan aldosteronisme primer. Peningkatan tekanan darah biasanya
disebabkan oleh kombinasi beberapa kelainan (multifactor). Bukti
epidemiologi menunjukkan pada faktor genetik, stress, psikologis, serta faktor
lingkungan dan diet yang diduga sebagai penyebab terjadinya hipertensi
tekanan darah bersamaan dengan umur tidak terjadi pada populasi dengan
asupan natrium harian rendah. Pasien yang memiliki hipertensi labil
cenderung tekanan darahnya naik setelah mengkonsumsi makanan dengan
garam yang berlebihan dibandingkan dengan orang normal (Katzung. 2001).
Hipertensi merupakan penyakit heterogen yang dapat disebabkan oleh
penyebab yang spesifik (hipertensi sekunder) atau mekanisme patofisiologi
yang tidak diketahui penyebabnya. Hipertensi sekunder bernilai kurang dari
10% kasus hipertensi, pada umumnya kasus tersebut disebabkan oleh penyakit
ginjal kronik atau renovasculer. Multifaktor yang dapat menimbulkan
hipertensi primer, adalah:
a. Ketidak normalan hormonal meliputi sistem renin angiotensin-aldosteron,
hormon natriuretik atau hiperinsulnemia.
b. Masalah patologi pada sistem saraf pusat, serabut saraf otonom, volume
plasma, dan kontriksi arteriole.
c. Defisiensi senyawa sintesis lokal vasodilatasi pada endotelium vaskular
misalnya prostasiklin, bradikinin, dan nitrat oksida atau terjadinya
peningkatan produksi senyawa vasokontriktor seperti angiotensin I dan II.
d. Asupan natrium tinggi dan peningkatan sirkulasi hormon natriuretik yang
menginhibisi transpor natrium intraseluler menghasilkan peningkatan
reaktivitas dan tekanan darah.
e. Peningkatan konsentrasi kalsium intraseluler, memicu perubahan vascular,
fungsi otot halus dan peningkatan resistensi vaskular perifer
(Sukandar Dkk. 2008).
Ada beberapa faktor ytang dapat meningkatakan tekana darah secara
reversible, antara lain :
a. Garam, ion natrium mengakibatkan retensi air, sehingga volume darah
bertambah dan menyebabkan daya tahan tubuh pembuluh meningkat.
b. Merokok, nikotin dalam rokok berkhasiat vasokontriksi dan meningkatkan
tekanan darah, merokok memperkuat efek buruk dari hipertensi terhadap
sistem pembuluh.
c. Pil anti hamil,mengandung hormon wanita estrogen , yang juga bersifat
retensi terhadap garam dan air.
d. Stress, dapat meningkatkan tekanan darah untuk sementara akibat
pelepasan adrenalin dan non adrenalin bersifat vaskontriktif.
e. Hormon pria dan kortikosteroid yang juga bersifat air.
f. Kehamilan
(Tjay, 2007).
Penting untuk menyeimbangkan antar resiko – resiko toksisitas pada
penggunaan obat dengan resiko – resiko tanpa pengobatan, yanmg sebanding
dengan akibat peningkatan tekanan darah sebelumnya memberikan model
pengobatan dan bervariasi menurut karakteristik setiap pasien. Oleh
karenanya, tidak ada model tunggal pengobatan yang sesuai untuk digunakan
pada lebih banyak sejumlah kecil pasien hipertensi. Persamaan tersebut harus
familiar dari fisiologi. Berdasarkan persamaan ini, penurunan baik curah
jantung maupun resistensi perifer akan menurunkan tekana darah. (Janet,
2001).
Kurang kepatuhan merupakan penyebab paling sering untuk kegagalan
terapi antihipertensi. Pasien hipertensi biasanya tidak menunjukkan gejala dan
baru terdiagnosis setelah menjalani skrining rutin sebelum adanya tanda-tanda
kerusakan organ yang parah. Jadi terapi ditunjukkan untuk menghindari akibat
sifat dari penyakit, bukan mengobarti kelainan pada pasien itu. (Mary, 2007).
Respon terhadap terapi vasodilator pada bentuk – bentuk hipertensi
pulmonal lain berbeda – beda. Kinerja ventrikel kanan, yang merupakan
penentu terbaik hasil akhirnya pada hipertensi pulmonal primer, mungkin
menurun karena blokade pemasukan kalsium (Ingeboard, 1999).
II.1.3 Klasifikasi tekanan darah
Komite nasional mengenai tekanan darah dan hipertensi, sebuah
cabang dari nasional institutes of healt di Amerika Serikat, mengangkat topik
ini pada 2003. Tujuan dari jenis terapi hipertensi (dikenal sebagai pedoman
JNC7) yang dirumuskannya memberikan petunjuk revolusioner yang
mengulas pentingnya pengendalian tekanan darah disetiap pengelompokan
tekanan darah dan hipertensi berdasarkan pedoman JNC7.
Kategori Sistolik Distolik
Optimal 115 atau kurang 75 atau kurang
Normal Kurang dari 120 Kurang dari 80
Prehipertensi 120-133 80-90
Hipertensi tahap 1 140-159 90-99
Hipertensi tahap 2 Lebih dari 160 Lebih dari 100
(Robert. 2010).
Jika angka sistolik (atas) dan diastolik (bawah) berada dalam rentang
selah satu dari kategori normal, secara keseluruhan seorang pasien termasuk
dalam kategori tersebut. Lebih tinggi TD arteri sistolik atau diastolik lebih
besar morbiditas atau mortalitas kardiovaskuler. Pada tahun belakangan ini,
akibat wajar ini memperlihatkan bahwa lebih rendah tekanan sistolik atau
diastolik lebih rendah resiko kardiovaskuler (Edward, 1995).
II.2 Penggolongan Obat Hipertensi
II.2.1 Golongan diuretik
Diuretik meningkatkan pengeluaran garam dan air oleh ginjal hingga
volume darah dan tekanan darah menurun. Di samping itu berpengaruh
langsung terhadap dinding pembuluh, yakni penurunan kadar Na membuat
dinding lebih tebal terhadap non adrenalin, hingga daya tahanannya berkurang
(Tjay, 2007).
Pada umumnya diuretik dibagi ke dalam beberapa kelompok yaitu
a. Diuretik lengkungan
Obat-obat ini berkhasiat kuat dan pesat tetapi agak singkat (4-6) jam.
Banyak digunakan pada keadaan akut, misalnya pada udem otak dan paru-
paru. Contohnya obat furosemid, tumetanida, dan etakrinat.
b. Derivat thiazida
Obat-obat ini memiliki kurva dosis efek datar, artinya bila dosis optimal
dinaikkan lagi efeknya tidak bertambah. Contohnya obat
hidroklorothiazida, klortalidon, mefrusida, indapamid dan klopamid
c. Diuretik hemat kalium
Efek obat ini hanya lemah dan khusus digunakan terkombinasi dengan
diuretik lainnya guna manghemat ekstrak kalium. Contohnya
spironolakton, kanrenoat.
II.2.2 Penghemat adrenalin beta (β bloker) (Ellin, 2009)
Berbagai mekanisme penurunan tekanan darah akibat pemberian β
bloker dapat dikaitkan dengan hambatan reseptor β, antara lain
a. Penurunan frekuensi jantung dan kontraktilitas miokard sehingga
menurunkan curah jantung.
b. Hambatan sekresi renin di sel-sel justaglomerulus ginjal dengan akibat
penurunan produksi angiotensi II.
c. Efek sentral yang mempengaruhi aktifitas saraf simpatik, perubahan pada
aktifitas neuron adrenergik perifer dan peningkatan biosintesis
II.2.3 Penghambat adrenoreseptor alfa (α bloker) (Neal, 2006)
Hambatan reseptor α, menyebabkan vasodilatasi di arterior dan venalo
sehingga menurunkan resistensi perifer. Di samping itu vasodilatasi
menyebabkan aliran balik vena berkurang yang selanjutnya menurunkan curah
jantung. Contohnya prazasin, terazasin, bunazasin, doksazasin, dan lain-lain.
II.2.4 Zat-zat dengan kerja pusat (Edward, 1995)
Agonis α adrenergik menstimulasi reseptor α2adrenergik yang banyak
sekali terdapat disusunan saraf pusat (otak dan medula). Akibat perangsangan
ini melalui suatu mekanisme feedback negatif. Antara lain, aktifitas saraf
adrenergik perifer dikurangi. Contohnya obat klonidin dan moxonidin,
metildopa dan guanfasin.
II.2.5 Vasodilator
Zat-zat yang berkhasiat vasodilatasi langsung terhadap arteriole dan
dengan demikian menurunkan tekanan darah tinggi. Contoh obat hidrolazin,
dinidrolazin, minoksidil (Tjay, 2007).
II.3 Pengobatan Hipertensi
II.3.1 Terapi non farmakologi (Mary, 2007)
a. Penderita prehipertensi dan hipertensi sebaiknya dianjurkan untuk
memodifikasi gaya hidup, termasuk (1) penurunan berat badan jika
kelebihan berat badan (2) melakukan diet makanan yang diambil DASH
(Dielery of proaches fo stop hypartension) (3) mengurangi asupan Na
hingga lebih kecil selama dengan 2,4 gram/hari (69 perhari NaCl) (4)
melakukan aktifitas fisik seperti aerobik (5) mengurangi konsumsi alkohol,
dan (6) menghentikan kebiasaan merokok.
b. Penderita yang didiagnosis hipertensi tetapi 1 dan 2 sebaiknya di
tempatkan pada saat memodifikasi gaya hidup dan terapi obat secara
bersamaan.
II.3.2 Terapi farmakologi (Janet, 2001)
a. Pemilihan obat tergantung pada derajat meningkatnya tekanan darah dan
sebelum compulling indocations.
b. Kebanyakan penderita hipertensi tetap 2 sebaiknya tetapi diawali dengan
diuretik thiazid. Penderita hipertensi tahap 2 pada umumnya diberikan
terapi kombinasi salah satu obatnya diuretik thiazida kecuali terdapat
kontroindikasi.
c. Ada 6 compleling indications yang spesifik dengan obat antihipertensi serta
memberikan keuntungan yang unik.
d. Diuretik, β bloker, inhibitor angiotensin conuerting channel bloker
merupakan agen primer berdasarkan pada data kerusakan organ target atau
morbilitas dan kematian kardiovaskuler.
e. α bloker, α2 sentral, inhibitor adrenergik, dan vasodilatasi merupakan
alternatif yang dapat digunakan pada penderita setelah mendapatkan obat
pilihan pertama (sukandar)
II.4 Uraian Obat, Uraian Bahan dan Uraian Hewan Uji
II.4.1 Uraian obat
a. Amlodipin (FI III, 1979; Depkes RI, 2007; Gunawan, 2007)
Nama resmi : AMLODIPINE
Nama lain : Amlodipi
Rumus Struktur :

RM/BM : C20H25CIN2O5 C6H6O3S/ 408,879


Pemerian : Bubuk putih atau hampir putih.
Kelarutan : Sedikit larut dalam air dan alcohol isopropyl,
dilarutkan dalam alcohol, bebas larut dalam metil
alkohol
Penyimpanan : Simpan dalam wadah kedap udara dan terlindung
dari cahaya
Indikasi : Efektif mengobati hipertensi pada pasien dengan
angina atau diabetes.
Efek samping : Pusing, konstipasi, nyeri kepala, dan perasaan lelah
akibat penurunan tekanan darah.
Farmakodinamik : Penghambat kanal kalsium menghambat gerakan
kalsium masuk melalui pengikatan dengan kanal
kalsium tipe-L dalam jantung dan otot polos
pembuluh darah koroner dan perifer.
Farmakokinetik : Amlodipin mempunyai waktu paruh yang sangat
panjang dan tidak memerlukan formulasi lepas-
lambat.
Kontraindikasi : Peningkatan resiko infark miokardium akibat
vasodilatasi berlebihan dan stimulasi reflex jantung.
b. Kaptopril (FI IV, 1995; Gunawan, 2007; Tan, 2002)
Nama resmi : CAPTOPRIL
Nama lain : Kaptopril
Rumus Struktur :

RM/BM : C9H15NO3S/ 217,28


Pemerian : Serbuk hablur putih atau hampir putih, bau khas
seperti sulfida.
Kelarutan : Mudah larut dalam air, dalam metanol, dalam
etanol (95%) P dan dalam kloroform P.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Indikasi : Mengurani gejala yang timbul akibat putus obat
hipertensi esensial. Pengobatan hipertensi ringan
sampai sedang.
Efek samping : Hipotensi, batuk kering, hiperkalemia, rash, edema,
angioneuretik, gagal ginjal akut, proteinuria, efek
teratogenik.
Farmakodinamik : Penekanan system rennin-angiotensin-aldesteron.
Mencegah perubahan angiotensin I menjadi
angiotensin II oleh inhibisi ACE (Angiotensin
Converting Enzym).
Farmakokinetik : Diabsorbsi dengan baik pada pemberian oral
dengan biovaibilitas 70-75%. Pemberian bersama
makanan akan mengurangi absorbsi 30%, oleh
karena itu obat ini harus diberikan 1 jam sebelum
maka. Sebagian besar Ace- inhibitor mengalami
metabolisme di hati, kecuali lisinopril yang tidak
dimetabolisme. Eliminasi umumnya melalui
ginjal, kecuali fosinopril yang mengalami dimensi
diginjal dan bilier.
Kontraindikasi : Ace-inhibitoridikontraindikasi pada wanita hamil
karena bersifat teratogenik. Pemberian pada ibu
menyusui juga kontraindikasi karena Ace inhibitor
diindikaiskan untuk hipertensi dengan penyakit
ginjal kronik. Namun harus hati-hati terutama bila
ada hiperkalemia karena Ace inhibitor akan
memperberat hiperkalemia. Kadar kreatinin darah
perlu dipantau selama pemberian Ace inhibitor.
II.4.2 Uraian Bahan
a. Aquadest (FI IV, 1995)
Nama resmi : AQUA DESTILATA
Nama lain : Air Suling
RM/BM : H2O / 18,06 gr/mol
Rumus Struktur :

Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna dan tidak berbau


Kelarutan : Larut dalam kebanyakan pelarut polar
Kegunaan : Sebagai Pelarut
Inkompatibilitas : Dapat bereaksi dengan zat dan eksipien yang
mengalami hidrolisis
Penyimpanan : Dalam wadah yang tertutup baik.
b. Etanol (FI IV, 1995)
Nama resmi : AETHANOLUM
Nama lain : Etanol,Alkohol
RM/BM : C2H5OH / 46,07 gr/mol
Rumus struktur :

Pemerian : Cairan tak berwarna, jernih, mudah menguap dan


mudah bergerak, bau khas, rasa panas dan mudah
terbakar.
Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air, dalam klorofom P
dan dalam eter P.
Khasiat : Antiseptik (untuk membunuh bakteri mikroba
berbahaya).
Kegunaan : Sebagai Pelarut
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya,
ditempat sejuk, dan jauh dari nyala api.
c. Na CMC (Rowe, 2009)
Nama resmi : NATRII CARBOXYMETHYLCELLULOSUM
Nama lain : Natrium Karboksimetilselulosa
RM/BM : C23H46N2O6.H2SO4.H2O
Rumus struktur :

Pemerian : Serbuk atau butiran putih atau putih kuning gading


tidak berbau/ hampir tidak berbau, higroskopik
Kelarutan : Mudah terdispersi dalam air, membentuk suspense
koloidal, tidak larut dalam etanol (95%), dalam eter
dan dalam pelarut organik
Khasiat : Sebagai kontrol negatif
Kegunaan : Sebagai pensuspensi obat/sampel
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
II.4 3 Uraian Hewan uji Mencit (Mus musculus) (Malole, 2006)
a. Klasifikasi Mencit (Mus musculus)
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Class : Mamalia
Ordo : Rodentia
Familia : Muridae
Genus : Mus
Spesies : Mus musculus
b. Karakteristik Mencit (Mus musculus) (Malole, 2006)
Berat badan dewasa
Jantan : 28 – 40 gram
Betina : 25 – 40 gram
Berat lahir : 0,5 -1,5 gram
Luas permukaan tubuh : 36 cm2
Temperatur tubuh : 36,50 - 380C
Jumlah diploid : 40
Harapan hidup : 1,5 – 3,0 tahun
Konsumsi makanan : 15 gram/100 gram perhari
Konsumsi air minum : 15 gram/100 gram perhari
Mulai dikawinkan
a. Jantan : 50 hari
b. Betina : 50 – 60 hari
Produksi anak : 8 perbulan
Jumlah pernapasan : 94 – 163 perhari
Komposisi air susu
a. Lemak : 12,1%
b. Protein : 9,0%
c. Laktosa : 3,2%
Volume tidal : 0,09 – 0,23
Detak jantung : 325 – 780 permenit
Volume darah : 76 – 80 mg/kg
c. Morfologi Mencit (Mus musculus)
Mencit (Mus musculus) adalah hewan pengerat (Rodentia) yang cepat
berbiak, mudah dipelihara dalam jumlah banyak, variasi genetiknya cukup
besar, serta anatomi dan fisiologinya, karakteristik dengan baik. Mencit (Mus
musculus) hidup dalam daerah cukup luas, penyebarannya mulai dari iklim
dingin, maupun panas dapat hidup terus menerus. Kadang secara bebas
sebagai hewan liar. Mencit (Mus musculus) paling banyak digunakan adalah
mencit albino swiss (Malole, 2006).
BAB III
METODE PERCOBAAN
III.1 Waktu dan tempat
Praktikum Farmakologi II dilaksanakan pada hari Minggu tanggal 15
April tahun 2018. Pada pukul 09.00 WITA yang bertempat di Laboratorium
Farmakologi-Toksikologi, Jurusan Farmasi, Fakultas Olahraga dan
Kesehatan, Universitas Negeri Gorontalo.
III.2 Alat dan bahan
III.2.1 Alat
1. Batang Pengaduk
2. Gelas Piala
3. Gelas kimia
4. Loyang
5. Neraca Analitik
6. Spoit 1 mL
7. Stopwatch
III.2.2 Bahan
1. Aquadest
2. Alkohol 70%
3. Amlodipin
4. Captopril
5. Na CMC
6. NaCl
7. Tisu
III.2.3 Hewan
1. Mencit jantan atau betina
III.3 Cara Kerja
1. Di induksi masing-masing mencit dengan NaCl
2. Diamati perubahan warna merah pada telinga mencit
3. Diberi larutan Na CMC sebanyak 1 mL pada mencit 1 secara intravena
4. Diberi larutan suspensi obat Amlodipin sebanyak 1 mL pada mencit 2
secara intravena
5. Diberi larutan suspensi obat Captopril sebanyak 1 mL pada mencit 3 secara
intravena
6. Diamati kuping mencit pada menit 0, 15, 30, 45 dan 60
BAB IV
PEMBAHASAN
IV.1 Hasil Pengamatan

Kelomok P Parameter Waktu Hasil Gambar


ercobaan Pengamat ke- Pengamatan
an
15 Masih berwarna
merah

Kontrol Warna 30 Berwarna merah


(Na CMC) Telinga
45 Kembali normal

60 Kembali normal

15 Mulai memucat

30 Pucat
Amlodipin Warna
Telinga 45 Pucat

60 Pucat

15 Merah kepucatan

30 Semakin pucat

Captopril Warna 45 Pucat


Telinga
60 pucat

IV.2 Perhitungan
IV.3 Pembahasan
Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah suatu gangguan pada
pembuluh darah yang mengakibatkan suplai oksigen dan nutrisi yang dibaa
oleh darah, terhambat sampai ke jaringan tubuh yang membutuhkannya
(Sustrani, 2006). WHO (World Health Oragnization) memberikan batasan
tekanan darah normal adalah 140/90 mmHg. Batasan ini tidak membedakan
antara usia dan jenis kelamin (Marliani, 2007). Hipertensi dapat didefinisikan
sebagai tekanan darah persisten dimana tekanan sistoliknya diatas 140 mmHg
dan diatoliknya diatas 90 mmHg.
Mekanisme terjadinya hipertensi adalah terbentuknya Angiotensin I
dan Angiotensin II. Oleh Angiotensin I Converting Enzyme (ACE). Selanjutnya
oleh hormon, renin (diproduksi oleh ginjal) akan diubah menjadi Angiotensin I
oleh ACE yang terdapat dalam paru-paru, Angiotensin I diubah menjadi
Angiotensin II. Angiotensin II inilah yang memiliki peranan kunci dalam
menaikkan tekanan darah melalui dua aksi utama. Aksi pertama adalah
meningkatkan sekresi hormon antidiuretik (ADH) dan rasa haus. Akibatnya
volume darah meningkat (tekanan darah meningkat). Aksi kedua adalah
menstimulasi sekresi aldosteron dari korteks adrenol. Akibatnya akan
meningkatkan volume dan tekanan darah (Yogiantoro, 2006).
Adapun pada praktikum ini dilakukan percobaan Pengobatan
Hipertensi dengan menggunakan hewan mencit (Mus Musculus) sebagai hewan
uji coba. Percobaan hipertensi ini menggunakan 3 macam obat yakni Na CMC,
Amlodipin, dan Katopril yang diinduksikan secara Intraperitonial. Pemberian
secara intraperitonial dipilih karena dijelaskan bahwa onset paling cepat adalah
Intraperitonial, hal ini dikarenakan Intra peritonial mengandung banyak
pembuluh darah sehingga obat langsung masuk ke dalam pembuluh darah
Joenoes, 2002. Langkah awal, ekor mencit dibersihkan dengan cara diusap
menggunakan tisu yang telah dibasahi dengan alkohol 70% agar steril dan
dapat memperjelas pembuluh vena dari ekor mencit (Adnan, 2002). Setelah itu
3 mencit sebelum diinduksikan dengan obat Na CMC, Amlodipin, dan Katopril
dibuat hipertensi terlebih dahulu dengan diinduksikan NaCl sebanyak 0,5 yang
mekanisme kerjanya untuk meningkatkan reabsorpsi air dan garam pada
tubulus ginjal, meningkatkan pengeluaran vasopressin sehingga meningkatkan
retensi air serta menyebabkan vasokonstriksi (Badyal, 2003).
IV.1 Na CMC
Setelah diinduksi dengan NaCl, diamati perubahan warna telinga pada
mencit. Telinga mencit yang berwarna merah menunjukan terjadinya
vasokontriksi dimana terjadi penyempitan pembuluh darah, sehingga terjadi
peningkatan tekanan darah (Muliyati, 2011). Setelahnya, diinduksikan lagi
dengan Na CMC. Pemberian Na-CMC dalam percobaan ini adalah sebagai
kontrol negatif untuk membandingkan efek dari obat amlodipin dan katopril
terhadap hewan coba. Fungsi kontrol negatif adalah untuk mengetahui apakah
obat yang digunakan tersebut mempunyai efek pada hewan mencit (Raymond,
2003). Na CMC dipilih sebagai pensuspensi dalam kontrol negatif ini karena
mempunyai toksisitas yang rendah dan terdispersi di dalam air dibandingkan
dengan pensuspensi lain (Raymond dan Paul, 2003).
Adapun setelah pemberian Na CMC ini, diamati perubahan warna
telinga pada mencit menit ke 15,30,45, dan 60. Pada menit ke 15 dan 30 telinga
mencit masih berwarna merah. Setelah menit ke 45 dan 60 warna telinganya
sudah kembali normal. Hal ini menunjukan penggunaan Na CMC sebagai
kontrol negatif dapat menurunkan tekanan darah (Raymond dan Paul, 2013).
IV.2 Amlodipin
Pada mencit kedua diinduksikan dengan obat amlodipin. Mekanisme
kerja amlodipin adalah menghambat ion kalsium masuk kedalam vaskularisasi
otot polos dan otot jantung sehingga mampu menurunkan tekanan darah
(Samingthan, 2011). Penelitian yang dilakukan oleh Ruilope (2005),
mendapatkan penurunan tekanan darah obat amlodipin adalah sebesar 32,94 /
16,38 mmHg.
Setelah itu, dilihat kembali perubahan warna telinga pada mencit, menit
ke 15,30,45, dan 60. Pada menit ke 15 telinga mencit mulai memucat. Hasil
yang didapatkan dari obat tersebut berbeda dengan literatur Hal ini juga
menunjukan adanya ketidaksesuain hasil pengamatan dengan keterangan pada
literatur dimana menurut Nafrialdi (2008), amlodipin yang digunakan sebagai
obat anhipertensi darurat karena hanya dengan dosis awalnya yaitu 10 mg
dapat menurunkan tekanan darah dalam waktu 10 menit. Sementara jika dilihat,
adanya perubahan warna pada telinga mencit mulai terjadi pada menit ke 15.
Efek yang diberikan lebih lambat daripada yang dijelaskan pada literatur.
Kemungkinan kesalahan yang terjadi adalah dosis obat yang digunakan tidak
sesuai.
IV.3 Kaptopril
Pada mencit ketiga, diinduksikan dengan obat katopril yang
merupakan obat antihipertensi. Adapun mekanisme kerja obat Katopril adalah
menghambat enzim ACE yaitu enzim yang dibutuhkan untuk mengubah
Angiotensin I menjadi Angiotensin II sehingga sekresi aldosteron menurun dan
retensi air juga natrium berkurang. Hal tersebut menyebabkan terjadinya
vasodilatasi (pelebaran pembuluh darah) dan penurunan tekanan darah
(Gunawan et al, 2007). Menurut penelitian Ohman (1981) kaptopril dapat
menurunkan tekanan darah sebesar 26/16 mmHg.
Setelah itu, dilihat kembali perubahan warna telinga pada mencit,
menit ke 15,30,45, dan 60. Pada menit ke 15 telinga mencit berwarna merah
pucat. Menit ke 30 menjadi pucat, dan pada menit ke 45 dan 60 menjadi
semakin pucat. Dari hasil yang didapatkan inilah dapat dilihat bahwa reaksi
obat antihipertensi yakni kaptopril mulai menunjukan efek yang signifikan atau
menyeluruh pada menit ke 60. Hal ini sesuai dengan keterangan literatur Tan
(2002), dimana dikatakan bahwa kaptopril memberikan efek maksimalnya
setelah 1,5 jam.
BAB V
PENUTUP
V.1 Kesimpulan
Dari hasil percobaan yng dilakukan di Laboratorium, maka dapat
disimpulkan bahwa:
1. Efek Obat Amlodipin yang dihasilkan pada menit ke 15 terjadi
kepucatan pada telinga mencit. Pada menit ke 30 dan 60 telinga mencit ber
ubah menjadi pucat. Artinya obat sudah memberikan efek yang baik dan
sesuai.
2. Efek obat Kaptopril yang dihasilkan pada menit ke 15 terjadi reaksi dimana
telingan mencit mulai berwarna merah kepucatan. Kemudian pada menit ke
30 dan 60 telinga mencit sudah berubah menjadi pucat. Artinya obat sudah
memberikan efek yang baik dan sesuai.
3. Efek control NaCMC yang dihasilkan pada menit ke 15 terjadi reaksi
dimana telingan mencit masih berwarna merah. Kemudian pada menit ke
30 masih berwarna merah. Pada menit ke-30 dan 60 telinga mencit sudah
berubah menjadi pucat. Artinya NaCMC sudah memberikan efek yang baik
dan sesuai.
4. Dari ketiga jenis suspensi yang paling bagus digunakan yaitu captopril
karena bekerja terhadap lipid darah dan mengurangin resistensi insulin.
V.2 Saran
V.2.1 Saran Untuk Jurusan
Diharapkan kepada asisten agar lebih mengawasi dan memimbing
praktikan terutama yang belum paham tentang metode analisis obat
tradisional.
V.2.2 Saran Untuk Laboratorium
Agar kiranya semua alat-alat dan bahan yang digunakan untuk praktek
disediakan di Laboratorium.
V.2.3 Saran untuk asisten
Sebagai praktikan, kami mengharapkan bimbingan baik di dalam
laboratorium maupun di luar Laboratorium.
V.2.4 Saran untuk praktikan
Agar lebih berhati-hati saat melakukan praktikum dan tetap menjaga
kebersihan laboratorium.
DAFTAR PUSTAKA
Depkes RI. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Dirjen POM. Jakarta.

Depkes RI. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Dirjen POM. Jakarta.

Depkes RI. 2007. Pelayanan Informasi Obat. Dirjen Bina Kefarmasian dan Alat
Kesehatan. Jakarta.

Elin dkk. 2009. ISO FARMAKOPE. PT ISFI. Jakarta.

Gunawan. 2007`. Farmakologi Dan Terapi Edisi V. FKUI. Jakarta.

Ingebord dkk. 1999. Farmakologi & Terapi Pediatri. Hipokrates. Jakarta.

Janet. 2008. Konsep Dasar Farmakologi. EGC. Jakarta.

Katzung. 2001. Farmakologi Dasar Dan klinik Edisi I. Salemba Medika.


Francisko.

Mary dkk. 2001. Farmakologi Ulasan Bergambar Edisi II. Widya Medika.
Jakarta.

Malole. 2006. Penanganan Hewan uji di laboratorium. ITB. Bandung.

Neal. 2006. Farmakologi Medis Edisi V. Erlangga. Jakarta.

Tjay. 2007. Obat-Obat Penting. PT Elex Media Komputindo. Jakarta.