Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PENDAHULUAN

KLIEN DENGAN RISIKO BUNUH DIRI

I. KASUS(MASALAH UTAMA)
Resiko Bunuh Diri

II. PROSES TERJADINYA MASALAH


A. DEFINISI
1. Menurut Clinton, bunuh diri adalah suatu upaya yang disadari dan bertujuan
untuk mengakhiri kehidupan, individu secara sadar berhasrat dan berupaya
melaksanakan hasratnya untuk mati. Perilaku bunuh diri meliputi isyarat-
isyarat, percobaan atau ancaman verbal, yang akan mengakibatkan
kematian, luka atau menyakiti diri sendiri (Yosep, 2011).
2. Upaya bunuh diri adalah suatu tindakan bunuh diri yang gagal dilakukan atau
tidak berhasil dilakukan sampai selseai. Pada jenis yang terakhir, individu
tidak menyelesaikan tindakan bunuh diri karena berhasil ditolong orang lain,
atau tindakan bunuh diri selesai dilakukan, tetapi individu berhasil
diselamatkan. Bunuh diri melibatkan ambivalensi antara keinginan untuk mati
(Videbeck,S L., 2008).
3. Ungkapan bunuh diri dapat dibedakan menjadi 3, yaitu : 1) suicide attemp
atau upaya bunuh diri adalah dengan sengaja melakukan kegiatan tersebut,
bila dilakukan sampai tuntas akan menimbulkan kematian 2) suicide gesture
atau isyarat bunuh diri adalah bunuh diri yang direncanakan untuk usaha
mempengaruhi perilaku orang lain 3) suicide threat atau ancaman bunuh diri
adalah suatu peringatan baik secara langsung atau tidak langsung, verbal
atau tidak verbal bahwa seseorang sedang mengupayakan bunuh diri
(Yosep, 2011).

B. KLASIFIKASI
Perilaku bunuh diri terbagi menjadi tiga kategori (Stuart, 2006):
1. Ancaman bunuh diri yaitu peringatan verbal atau nonverbal bahwa
seseorang tersebut mempertimbangkan untuk bunuh diri. Orang yang ingin
bunuh diri mungkin mengungkapkan secara verbal bahwa ia tidak akan
berada di sekitar kita lebih lama lagi atau mengomunikasikan secara non
verbal.
2. Upaya bunuh diri yaitu semua tindakan terhadap diri sendiri yang dilakukan
oleh individu yang dapat menyebabkan kematian jika tidak dicegah.
3. Bunuh diri yaitu mungkin terjadi setelah tanda peringatan terlewatkan atau
diabaikan. Orang yang melakukan bunuh diri dan yang tidak bunuh diri akan
terjadi jika tidak ditemukan tepat pada waktunya.

Sementara itu, Yosep (2010) mengklasifikasikan terdapat tiga jenis bunuh


diri, meliputi:
1. Bunuh diri anomik
Bunuh diri anomik adalah suatu perilaku bunuh diri yang didasari oleh faktor
lingkungan yang penuh tekanan (stressful) sehingga mendorong seseorang
untuk bunuh diri.
2. Bunuh diri altruistik
Bunuh diri altruistik adalah tindakan bunuh diri yang berkaitan dengan
kehormatan seseorang ketika gagal dalam melaksanakan tugasnya.
3. Bunuh diri egoistik
Bunuh diri egoistik adalah tindakan bunuh diri yang diakibatkan faktor dalam
diri seseorang seperti putus cinta atau putus harapan.

C. RENTANG RESPON
RENTANG RESPON PROTEKTIF DIRI

RENTANG RESPONS PROTEKTIF-DIRI

Peningkatan Pengambilan Pencedaraan Bunuh


Perilaku
diri resiko yang diri diri
destruktif-diri
meningkatkan
tidak langsung
pertumbuhan

Rentang respon protektif diri menurut Keliat (1999):


1. Peningkatan diri
Seseorang dapat meningkatkan proteksi atau pertahanan diri secara wajar
terhadap situasional yang membutuhkan pertahanan diri. Sebagai contoh
seseorang mempertahankam diri dari pendapatnya yang berbeda mengenal
loyalitas terhadap pemimpin di tempat kerjanya.
2. Beresiko destruktif
Seseorang memiliki kecenderungan atau beresiko mengalami perilaku
destruktif atau menyalahkan diri sendiri terhadap situasi yang seharusnya
dapat mempertahankan diri, seperti seseorang merasa patah semangat
kerja ketika dirinya dianggap tidak loyal terhadap pimpinan padahal sudah
melakukan pekerjaan secara optimal.

3. Perilaku destruktif diri tidak langsung


Seseorang telah mengambil sikap yang kurang tepat (maladptive) terhadap
situasi yang membutuhkan dirinya untuk mempertahankan diri. Misalnya,
karena pandangan pimpinan terhadap kerjanya yang tidak loyal, maka
seorang karyawan menjadi tidak masuk kantor atau bekerja seenaknya dan
tidak optimal.
4. Pencederaan diri
Seseorang melakukan percobaan bunuh diri atau pencederaan diri akibat
hilangnya harapan terhadap situasi yang ada.
5. Bunuh diri
Seseorang telah melakukan kegiatan bunuh diri sampai dengan nyawanya
hilang (Direja, 2011).

D. ETIOLOGI
1. Stressor pencetus secara umum
Stressor pencetus bunuh diri sebagian besar adalah kejadian memalukan,
masalah interpersonal, dipermalukan di depan umum, kehilangan pekerjaan,
ancaman penjara dan yang paling penting adalah mengetahui cara-cara
bunuh diri. Faktor resiko secara psikososial: putus asa, ras, jenis kelamin
laki-laki, lansia, hidup sendiri, klien yang memiliki riwayat pernah mencoba
bunuh diri, riwayat keluarga bunuh diri, riwayat keluarga adiksi obat,
diagnostik: penyakit kronis, psikosis, penyalahgunaan zat.
2. Faktor yang mempengaruhi bunuh diri
a. Faktor Predisposisi
Berbagai pengalaman yang dialami tiap orang yang merupakan faktor
predisposisi, artinya mungkin terjadi atau mungkin tidak terjadi perilaku
kekerasan jika faktor berikut dialami oleh individu :
1) Psikologis
Kegagalan yang di alami dapat menimbulkan frustasi yang kemudian
dapat timbul agresif atau amuk. Masa kanak-kanak yang tidak
menyenangkan yaitu perasaan ditolak, dihina, dianiaya atau saksi
penganiayaan.
2) Perilaku
Reinforcement yang diterima pada saat melakukan kekerasan,
sering mengobservasi kekerasan dirumah atau di luar rumah. Semua
aspek ini menstimulasi individu untuk mengadopsi perilaku
kekerasan.
3) Sosial budaya
Budaya tertutup dan membalas secara diam (pasif agresif) dari
control social yang tidak pasti terhadap perilaku kekerasan akan
menciptakan seolah-olah perilaku kekerasan diterima (permissive).
4) Bioneurologis
Banyak pendapat bahwa kerusakan lobus frontalis, lobus temporal
dan ketidakseimbangan neurotransmitter juga berperan dalam
perilaku kekerasan.
5) Diagnostik psikiatrik
Lebih dari 90% orang dewasa yang mengakhiri hidupnya dengan
cara bunuh diri mempunyai riwayat gangguan jiwa. Tipe gangguan
jiwa yang membuat individu beresiko untuk melakukan tindakan
bunuh diri adalah gangguan afektif, penyalahgunaan zat, skizofrenia.
6) Sifat kepribadian
Tiga tipe kepribadian yang erat hubungannya dengan besarnya
resiko bunuh diri adalah antipasti, impulsive dan depresi.
7) Lingkungan psikososial
Faktor predisposisi terjadinya perilaku bunuh diri, diantaranya adalah
pengalaman kehilangan, kehilangan dukungan sosial, kejadian-
kejadian negatif dalam hidup, penyakit kronis, perpisahan atau
bahkan perceraian, kekuatan dukungan sosial sangat penting dalam
menciptakan intervensi yang terapeutik, dengan terlebih dahulu
mengetahui penyebab masalah, respon seseorang dalam
menghadapi masalah tersebut, dan lain-lain.
8) Riwayat keluarga
9) Riwayat keluarga yang pernah melakukan bunuh diri merupakan
faktor penting yang menyebabkan seseorang melakukan tindakan
bunuh diri.
10) Faktor biokimia
Data menunjukkan bahwa pada klien dengan resiko bunuh diri terjadi
peningkatan zat-zat kimia yang terdapat di dalam otak seperti
serotonin, adrenalin dan dopamine. Peningkatan zat tersebut dapat
dilihat melalui rekam gelombang Electro Enchepalo (EEG).

b. Faktor Presipitasi
Faktor presipitasi dapat bersumber dari klien, lingkungan atau
interaksi dengan orang lain. Kondisi klien seperti kelemahan fisik
(penyakit fisik), keputusasaan, ketidakberdayaan, percaya diri yang
kurang dapat menjadi penyebab perilaku kekerasan. Demikian pula
dengan situasi yang yang rebut, padat, kritikan yang mengarah pada
penghinaan, kehilangan orang yang dicintai/pekerjaan dan kekerasan
merupakan factor penyebab yang lain. Interaksi sosial yang provokatif
dan konflik dapat memicu perilaku kekerasan.
Perilaku destruktif diri dapat ditimbulkan oleh stress berlebihan
yang dialami oleh individu. Pencetusnya sering kali berupa kejadian
hidup yang memalukan. Faktor lain yang dapat menjadi pencetus
adalah melihat atau membaca melalui media mengenai orang yang
melakukan bunuh diri ataupun percobaan bunuh diri. Bagi individu yang
emosinya labil, hal tersebut bisa sangat rentan.

c. Faktor – faktor lain yang mempengaruhi bunuh diri


1) Faktor mood dan biokimiawi otak
Ghanshyam Pandey beserta timnya dari university of Illinois,
Chicago, menemukan bahwa aktivitas enzim di dalam pikiran
manusia bisa memperngaruhi mood yang memicu keinginan
mengakhiri nyawanya sendiri. Pandey mengetahui fakta tersebut
setelah melakukan eksperimen terhadap 34 remaja yang 17
diantaranya meninggal akibat bunuh diri. Ditemukan bahwa tingkat
aktivitas protein kinase C (PKC) pada otak pelaku bunuh diri lebih
rendah dibanding mereka yang meinggal bukan karena bunuh diri.
Temuan yang dipublikasikan di Jurnal Achives of General
Psychiatry menyatakan PKC merupakan komponen yang berperan
dalam komunikasi sel, terhubung erat dengan gangguan mood
seperti depresi masa lalu.
Psikolog dari Benefit Strategic HRD Hj. Roswita mengatakan,
“depresi berat menjadi penyebab utama. Depresi timbul, karena
pelaku tidak kuat menanggung beban permasalahan yang
menimpa. Karena terus menerus mendapat tekanan, permasalahan
klien menumpuk dan puncaknya memicu keinginan bunuh diri.”
2) Faktor riwayat gangguan mental
Pandey dan timnya sangat tertarik untuk mengetahui kaitan lain
antara PKC dengan kasus bunuh diri di kalangan remaja belasan
tahun. Dari 17 remaja yang meninggal akibat bunuh diri, Sembilan
di antaranya memiliki sejarah gangguan mental. Delapan yang lain
tidak mempunyai riwayat gangguan psikis, namun dua diantaranya
mempunyai sejarah kecanduan alcohol dan obat terlarang.
3) Faktor meniru, imitasi dan pembelajaran
Gangguan kejiwaan memang dipengaruhi pula oleh factor genetic.
Tidak secara otomatis tetapi melalui proses yang berlangsung
secara genetic yang mempengaruhi proses biologis juga. Dalam
kasus bunuh diri, dikatakan ada proses pembelajaran. Para korban
memiliki pengalaman dari salah satu keluarganya yang pernah
melakukan percobaan bunuh diri atau meninggal karena bunuh diri.
Tidak hanya itu bisa juga terjadi pembelajaran dari pengetahuan
lainnya.
4) Faktor Isolasi sosial dan Human Relations
Orang memilih bunuh diri secara umum oleh stress dikarenakan
kegagalan beradaptasi. Ini dapat terjadi di lingkungan, keluarga,
sekolah, pergaulan dalam masyarakat,dan sebagainya. Demikian
pula bila seseorang merasa terisolasi, kehilangan hubungan atau
terputusnya hubungan dengan orang yang disayangi. Padahal
hubungan interpersonal merupakan sifat alami manusia. Bahkan
bunuh diri bisa dikarenakan karena perasaan bersalah. Suami
membunuh istri, kemudian dilanjutkan dengan membunuh dirinya
sendiri, bisa dijadikan contoh kasus.
5) Faktor Hilangnya rasa aman dan ancaman kebutuhan dasar.
Rasa tidak aman merupakan penyebab terjadinya banyak kasus
bunuh diri di Jakarta dan sekitarnya akhir-akhir ini. Tidak adanya
rasa aman untuk menjalankan usaha bagi warga serta ancaman
terhadap tempat tinggal mereka berpotensi kuat memunculkan
gangguan kejiwaan seseorang hingga tahap bunuh diri.
6) Faktor Religiusitas
Bunuh diri merupakan sebagai gejala tipisnya iman atau kurang
begitu memahami ilmu agama. Memperkuat keimanan dan
pendalaman masalah keagamaan salah satu jalan keluarnya.
Dengan alasan apapun dan di agama mana pun, bunuh diri di
pandang dosa besar dan mengingkari kekuasaan Tuhan. Di Eropa,
Swiss, Negara yang tergolong paling makmur itu, bunuh diri
menempati urutan ketiga di banding kematian yang disebabkan
oleh kanker. Ironisnya pelaku lebih banyak dari kalangan terdidik
ketimbang awam. Secara global, jumlah angka bunuh diri terus
meningkat. Kenyataan tingginya angka bunuh diri di Negara maju
itu menyiratkan, dengan kehidupan spiritualis yang porak poranda,
kasus bunuh diri sangat signifikan. Di jerman barat, kematian lewat
bunuh diri mencapai 6000 orang tiap tahun. Begitulah nuansa
kehidupan kalangan orang yang tidak mempercayai adanya Tuhan
sebagai pengatur seluruh alam semesta dan hidup ini.

E. MANIFESTASI KLINIS
Menurut Direja (2011) Tanda Gejala Resiko Bunuh Diri adalah sebagai berikut:
1. Observasi
 Muka merah
 Pandangan tajam
 Otot tegang
 Nada suara tinggi
 Berdebat
 Sering pula tampak klien memaksakan kehendak (memukul jika tidak
senang).
2. Wawancara:
 Mempunyai ide untuk bunuh diri
 Mengungkapkan keinginan untuk mati, mengungkapkan rasa bersalah dan
keputusasaan, impulsive, dan memiliki riwayat percobaan bunuh diri
 Verbal terselubung (bebicara tentang kematian, menanyakan tentang obat
dosis mematikan)
 Status emosional (harapan, penolakan, cemas meningkat, panic, marah,
dan mengasingkan diri)
 Kesehatan mental (secara klinis klien terlihat sebagai orang depresi,
psikosis, dan menyalahgunakan alkohol).
 Kesehatan fisik (biasanya pada klien dengan penyakit kronis atau
terminal).
 Pengangguran (tidak bekerja, kehilangan pekerjaan, atau mengalami
kegagalan dalam karier)
 Status perkawinan (mengalami kegagalan dalam perkawinan)
 Konflik interpersonal
 Menjadi korban perilaku kekerasan saat kecil

F. SKALA PENILAIAN BUNUH DIRI


SAD PERSONS
 Sex (Jenis Kelamin)
Pria memiliki angka bunuh diri tiga kali lebih tinggi karena mereka
menggunakan cara yang lebih mematikan untuk bunuh diri
 Age (Usia)
Remaja, usia pertengahan (45 tahun), dan lebih dari 65 tahun
 Depression (Depresi)
25%-80% individu yang berudaha bunuh diri mengalami gangguan mood
 Previous attempts (upaya sebelumnya)
50-80% individu yang berhasil bunuh diri pernah berusaha melakukan
bunuh diri minimal satu kali sebelumnya
 Etoh
20-90% bunuh diri yang berhasil dilakukan dikaitkan dengan
penyalahgunaan obat atau alkohol berat
 Rational thought loss (kehilangan pikiran rasional)
Psikosis meningkatkan risiko bunuh diri
 Social support,lack (tidak ada dukungan sosial)
Tidak adanya dukungan dari kerabat, teman, praktik keagamaan, dan
kepuasan pekerjaan meningkatkan risiko bunuh diri
 Organized plan (rencana terorganisasi)
Metode,waktu, tanggal,tempat, fantasi tentang pemakaman dan duka cita
orang terdekat
 No Significant other (tidak ada ruang terdekat)
Individu yang masih sendiri, janda/duda, cerai dan berpisah memiliki risiko
lebih tinggi untuk bunuh diri
 Sickness (penyakit)
 Penyakit terminal, penyakit yang menimbulkan nyeri, dan penyakit yang
melemahkan meningkatkan risiko bunuh diri.
Poin Panduan
0-2 Dapat tinggal di rumah dengan dukungan orang terdekat dan terapi rawat jalan
Dukungan orang terdekat dengan asuhan rawat jalan yang lebih intens;dapat
3 atau 4
mempertimbangkan hospitalisasi
5 atau 6 Hospitalisasi sangat dipertimbangkan
>7 Hospitalisasi direkomendasikan
(Videbeck,S L., 2008).

III. POHON MASALAH


RBD

Melukai diri sendiri

Mempengaruhi kejiwaan

Kecanduan (penyalahgunaan zat)
faktor religius 
tidak ada Menggunakan obat-obat narkotika Hobi menonton film
  kekerasan
stres Koping tidak efektif 
 riwayat perilaku
Kehilangan pekerjaan kekerasan saat kecil

A. DATA YANG PERLU DIKAJI


Data yang perlu dikumpulkan saat pengkajian :
a. Riwayat masa lalu :
 Riwayat percobaan bunuh diri dan mutilasi diri
 Riwayat keluarga terhadap bunuh diri
 Riwayat gangguan mood, penyalahgunaan NAPZA dan skizofrenia
 Riwayat penyakit fisik yang kronik, nyeri kronik.
 Klien yang memiliki riwayat gangguan kepribadian boderline, paranoid,
antisosial
 Klien yang sedang mengalami kehilangan dan proses berduka
b. Simptom yang menyertainya:
Apakah klien mengalami :
 Ide bunuh diri
 Ancaman bunh diri
 Percobaan bunuh diri
 Sindrome mencederai diri sendiri yang disengaja
 Derajat yang tinggi terhadap keputusasaan, ketidakberdayaan dan
anhedonia dimana hal ini merupakan faktor krusial terkait dengan resiko
bunuh diri.

Bila individu menyatakan memiliki rencana bagaimana untuk membunuh diri


mereka sendiri. Perlu dilakukan penkajian lebih mendalam lagi diantaranya :
 Cari tahu rencana apa yang sudah di rencanakan
 Menentukan seberapa jauh klien sudah melakukan aksinya atau perencanaan
untuk melakukan aksinya yang sesuai dengan rencananya.
 Menentukan seberapa banyak waktu yang di pakai pasien untuk
merencanakan dan mengagas akan suicide
 Menentukan bagaiamana metoda yang mematikan itu mampu diakses oleh
klien.

Hal-hal yang perlu diperhatikan didalam melakukan pengkajian tentang


riwayat kesehatan mental klien yang mengalami resiko bunuh diri :
 Menciptakan hubungan saling percaya yang terapeutik
 Memilih tempat yang tenang dan menjaga privacy klien
 Mempertahankan ketenangan, suara yang tidak mengancam dan mendorong
komunikasi terbuka.
 Menentukan keluhan utama klien dengan menggunakan kata-kata yang
dimengerti klien
 Mendiskuiskan gangguan jiwa sebelumnya dan riwayat pengobatannya
 Mendaptakan data tentang demografi dan social ekonomi
 Mendiskusikan keyakinan budaya dan keagamaan
 Peroleh riwayat penyakit fisik klien

B. DIAGNOSIS KEPERAWATAN
Risiko bunuh diri

C. RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN


Tujuan:
1. Pasien ancaman/percobaan bunuh diri
a. Pasien mampu membina hubungan saling percaya
b. Pasien tetap aman dan selamat
2. Pasien isyarat bunuh diri
a. Pasien mampu membina hubungan saling percaya
b. Pasien mampu mengontrol pikiran bunuh diri melalui pikiran positif diri
c. Pasien mampu mengontrol pikiran bunuh diri melalui pikiran positif keluarga
dan lingkungan
d. Pasien mampu menyusun rencana masa depan
e. Pasien mampu melakukan kegiatan rencana masa depan
D. Tindakan Keperawatan
1. Membina hubungan saling percaya
2. Melindungi pasien dari perilaku bunuh diri (Ancaman/percobaan bunuh diri)
3. Isyarat bunuh diri :
a. Mendiskusikan tentang cara mengatasi keinginan bunuh diri: berpikir
positif terhadap diri, keluarga dan lingkunga
b. Meningkatkan harga diri pasien
c. Meningkatkan kemampuan meyusun rencana masa depan
DAFTAR PUSTAKA

Keliat B., A. 1999. Proses keperawatan kesehatan jiwa. Edisi 1. Jakarta: EGC.
Stuart G., W., Sundeen. 1995. Principles and Practice of Psykiatric Nursing (5 thed.).
St.Louis Mosby Year Book.
Direja, A., H., Surya. 2011. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Jiwa. Yogyakarta : Nuha Medika.
Yosep, I. 2010. Keperawatan Jiwa. Bandung: Refika Aditama
Videbeck, S., L. 2008.Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta: EGC.