Anda di halaman 1dari 12

TUTORIAL BLOK 18 SKENARIO 2

PERTEMUAN 1

KLARIFIKASI ISTILAH :

1.

PENETAPAN PERMASALAHAN :

1. Apa pengertian resesi gingival dan apa saja tanda gejalanya?


2. Apa etiologi resesi gingiva ? Apa hubungan high frenulum dengan resesi gingiva ?
3. Apa saja klasifikasi dari resesi gingival ?
Bagaimana pathogenesis dan patofisiologi (perlekatan2 apa saja yang lepas, darimana
,dsb.)

terjadinya resesi gingiva ?

4. Apa yang menyebabkan gigi pasien merasa sensitive ketika makan makanan asam
dan minum dingin ? Dan mengapa saat malam dan pagi hari merasa sensitive dan
sakit ?

5. Apakah terapi pada scenario ? Mengapa perlu adanya initial therapy sebelum diberi
spesifik therapy ?
6. Apa komplikasi dari resesi gingival ?

7. Bagaimana menangani hipersensitif giginya (bahan desensitizer) ?

8. Apa faktor yang memperparah terjadinya resesi ?

Jurnal tentang perawatan resesi gingiva

ANALISIS MASALAH :

1. Apa pengertian resesi gingival dan apa saja tanda gejalanya?


PENGERTIAN
Merupakan suatu kondisi terbukanya akar gigi dimana margin gingva mengalami
migrasi menjauhi semento enamel junction yang disebabkan karena gingival
kehilangan perlekatan periodontal.
Resesi gingival : tereksposnya akar gig karena penurunan gingival ke arah apical
gigi, kebanyakan laki laki dari pada perempuan

Adalah migrasi epithelial cekat dimana perlekatan dari CEJ menuju ke arah apical

TANDA DAN GEJALA


- Akar terbuka
- Penurunan gingiva
- Gigi terlihat lebih memanjang dari normal
- Ada segitiga gelap pada interdental
- Abrasi apeks gigi  resesi yang lebih parah
- Hipersentitivitas dentin , terjadi karena tidak ada lapisan keras seperti email
pada akar, di CEJ lapisan email tipis sehingga mudah terekspos dan terasa sakit
pada kasus resesi yang parah

2. Apa etiologi resesi gingiva ? Apa hubungan high frenulum dengan resesi gingiva ?

ETIOLOGI

- Menyikat gigi

- Traumatik

3 macam :

1. Faktor anatomi -> frenulum ke koronal , factor penuaan


2. F. fisiologis -> pergerakan ortho
3. F. patologis -> menyikat gigi karena traumatic, kalkulus, posisi gigi diluar lengkung
rahang, gingivanya lebih tipis
- Kelainan posisi diluar lengkung  gingival menjadi lebih tipis sehingga mudah
terjadi resesi
- Orthodonsi  iatrogenic, kesalahan operator

3. Apa saja klasifikasi dari resesi gingival ?

Klasifikasi menurut kedalamannya (dari CEJ sampai margin gingival):


1. kelas 1 , <3mm
2. kelas 2, 3-4 mm
3. kelas 3 > 4mm

Klasifikasi menurut Miller :

1.Kelas 1 = resesi blm sampai ke mucogingival junct. ,blm terjadi kerusakan tulang
dan jaringan lunak interdental

2. kelas 2 = sampai ke mucogingival junct, belum terjadi kerusakan tulang dan


interdental terekspos

3. Kelas 3 = sampai mucogingival junct dan sudah ada kerusakan tulang dan
jaringan interdental terekspos

4. Kelas 4 = sampai mucogingival junct, kerusakan tulang dan interdental parah,


dan atau dengan malposisi gigi

Malposisi = salah satu tanda resesi

4. Bagaimana pathogenesis dan patofisiologi terjadinya resesi gingiva ?


PATOGENESIS

PATOFISIOLOGIS
(perlekatan2 apa saja yang lepas, darimana ,dsb.)
Frenulum tinggi  tarikan pada margin gingival saat bicara dan makan  terjadi
impaksi makanan di gingival yang tertarik  peradangan

Kalkulus semakin lama semakin tebal  ?

5. Apa yang menyebabkan gigi pasien merasa sensitif ketika makan makanan asam
dan minum dingin ? Dan mengapa saat malam dan pagi hari merasa sensitive dan
sakit (teori sensasi nyeri)?
Rangsangan --> malam hari tidur  berbaring  merubah posisi tubuh  cairan
jaringan terguncang  merasa nyeri

Makan es nyentuh ke giginya  terjadi ngilu

Minum panas  ngilu  karena cairannya menekan dindingnya


Serabut Adelta sensitive dingin
Serabut saraf c sensitive panas

6. Apakah terapi pada scenario ? Mengapa perlu adanya initial therapy sebelum diberi
spesifik therapy ?

Sebelum bedah dilakukan terapi initial spt scalling


1.Terapi bedah (specific therapy)

Klasifikasi miller kelas 3 dan 4

Bedah flap posisi coronal kelas 1 dan 2, bias meningkatkan pertumbuhan jaringan lunak dan
tulang

2. Terapi non bedah

 pakai gingival buatan dari soft liner

Kekurangannya : tidak bisa menutup seluruh gingival yang resesi ,hanya menutupi bukal

 Masuk di klasifikasi miller kelas 1 dan 2

Resesi kelas 1(kedalaman <5 mm) : tidak perlu bedah


Kelas 2 non bedah juga

Resesi > 4mm harus dibedah

Faktor etiologi : reversible(bedah flap) dan irreversible

Indikasi bedah flap kelas1 dan 2

Kombinasi flap dengan growth factor sbg mediator biologis

Initial therapy

Control PI agar saat dilakukan bedah tidak terjadi bakterimia

Spesific treatment
Jurnal tentang laporan kasus

7. Apa komplikasi dari resesi gingival ?


- Karies
- Periodontitis
- Gigi ekstrusi
- Ganguan TMj
- Abrasi parah sampai nekros pulpa
- Maloklusi
- Luksasi
- Estetik= buruk
LO Skenario 2 Blok 18

1. Resesi Gingiva
Resesi gingiva adalah terbukanya permukaan akar gigi akibat migrasi gingival
margin dan junctionalepithelium ke apikal. Secara klinis ditandai dengan gingival margin
berada apikal dari cemeto-enamel junction (CEJ). Kondisi ini dapat terjadi pada satu
maupun sekelompok gigi, baik pada rahang atas maupun rahang bawah.

Sumber: Krismariono, A., 2014. PRINSIP DASAR PERAWATAN RESESI GINGIVA. dentika Dental Journal,
Volume 18, pp. 96-100.

2. Etiologi Resesi Gingiva


Etiologi resesi gingiva dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:
1. Faktor Anatomi,
Faktor anatomi yang dapat menyebabkan resesi gingiva adalah fenestration dan dehiscence
yang terjadi pada tulang alveolar, posisi gigi di luar lengkung yang normal, serta morfologi akar
yang prominent. Semua kondisi tersebut menyebabkan tulang alveolar maupun gingiva yang
melapisinya menjadi lebih tipis, sehingga memudahkan terjadinya resesi gingiva. Selain itu,
perlekatan frenum dan frenulum yang terlalu koronal, attached gingiva yang sempit, serta faktor
keturunan, misalnya epitel gingiva yang tipis dan mudah rusak, cenderung mengakibatkan resesi
gingiva.
2. Faktor Fisiologi
Resesi gingiva secara fisiologis dapat terjadi akibat pergerakan gigi secara ortodontik, baik ke
arah lingual maupun labial, yang cenderung mengakibatkan terjadinya dehiscence.
Bertambahnya umur juga menjadi salah satu penyebab
3. Faktor Patologi.
Sedangkan resesi gingiva secara patologis antara lain dapat terjadi karena: keradangan gingiva
akibat oral hygiene buruk sehingga terjadi akumulasi plak dan kalkulus, trauma oklusi, trauma
sikat gigi, merokok, mengkonsumsi alkohol, tepi restorasi yang tidak baik, faktor hormonal, serta
akibat prosedur operasi periodontal.
Faktor etiologi resesi gingiva yang berhubungan dengan penyakit periodontal cenderung bersifat
irreversible. Sebaliknya, resesi gingiva yang diakibatkan oleh trauma oklusi maupun trauma akibat
kesalahan menyikat gigi bersifat reversible, artinya gingival margin dapat dikembalikan ke posisi
normalnya dengan prosedur rekonstruksi periodontal disertai dengan eliminasi penyebabnya.

Sumber: Krismariono, A., 2014. PRINSIP DASAR PERAWATAN RESESI GINGIVA. dentika Dental Journal,
Volume 18, pp. 96-100.

Faktor etiologi yang umum adalah (1) faktor lokal, (2)penyakit periodontal, (3) kekuatan
mekanik, (4) factor iatrogenic , dan (5) faktor anatomi.
1. Faktor lokal: Plak dan kalkulus telah dikaitkan dengan peradangan pada jaringan ikat
yang berdekatan dengan epitel junctional yang mengakibatkan perkembangan resesi
gingiva.
2. Penyakit periodontal: Interaksi antara bakteri yang ada dalam plak dan respon imun
pejamu
hasil dalam degradasi matriks, resorpsi tulang, dan pertumbuhan bawah epitel,
menghasilkan poket periodontal, resesi gingiva, atau kombinasi keduanya.
3. Kekuatan mekanis: penyikatan gigi yang salah adalah penyebab umum resesi gingiva.
Penggosokan gigi yang agresif secara bertahap mengurangi jaringan gingiva. Gingiva
tampak bebas dari peradangan namun pergeseran apikal dari gingiva marginal
mengekspos permukaan akar. Gesekan dari jaringan lunak yaitu ablasi gingiva telah
terlibat dalam resesi gingiva. Traumatisme oklusal juga merupakan faktor etiologi yang
mengarah ke Masalah MG tetapi mekanisme kerjanya tidak pernah ditunjukkan.
4. Faktor iatrogenik: Gerakan gigi ortodontik dapat mengubah jaringan marginal dan
papillary. Penciptaan dehiscence selama gerakan ortodontik sering menghasilkan resesi
gingiva, lebih umum ini terjadi pada gigi seri bawah dan akar mesio buccal molar
pertama, terutama pada gigi premolar.
kasus ekstraksi, tetapi dapat terjadi di lokasi manapun. Penelitian telah menunjukkan
bahwa volume jaringan lunak dapat menjadi kunci faktor dalam memprediksi apakah
resesi gingiva akan terjadi selama atau setelah terapi ortodontik. Prosedur restoratif dan
prostodontik seperti preparasi mahkota memanjang subgingiva, teknik impresi yang
melibatkan retraksi gingiva, restorasi sub gingiva yang ditempatkan dan mahkota serta
restorasi yang menjorok. Demikian pula, gigi tiruan yang tidak dirancang dengan baik
dan penempatan jepit dapat mendukung akumulasi plak di sekitar gigi penyangga
akibatnya untuk resesi gingiva.
5. Faktor anatomi: dehiscence tulang Alveolar, kelainan fraktur menyimpang, posisi gigi
dan morfologi gingiva dapat berperan dalam pengembangan resesi gingiva. gingiva
keratin biasanya terkait dengan resesi gingiva. Namun, beberapa penelitian membantah
gagasan tersebut dan memiliki menunjukkan bahwa dengan pemeliharaan periodontal
yang sesuai, area gingiva keratin yang tidak adekuat tidak menunjukkan resesi gingiva
lebih lanjut ketika dibandingkan dengan situs gingiva yang dirangkai. Namun demikian,
pada pasien yang menghentikan program pemeliharaan, peradangan kambuh seiring
dengan resesi. Morfologi atau biotipe periodontium dapat menjadi tipis dan bergigi, atau
tebal dan rata. Resesi dari papillary dan facial gingiva umum dalam biotipe tipis karena
tulangnya juga tipis dan ada insiden yang lebih tinggi dehiscence dan fenestrations di
tulang tipis. Minimal gaya menyikat dapat menyebabkan resesi jaringan lunak dan
paparan akar gigi dengan dehiscence tertutupi gingiva tipis. Resesi sering berlanjut
sampai jaringan lunak margin mendekati batas tulang, tetapi gagal lanjutkan dengan tidak
adanya peradangan dan ini. Fenomena telah disebut sebagai resesi membatasi diri Posisi
gigi dalam kaitannya dengan bucco-lingual dimensi proses alveolar berpengaruh pada
posisi dan ketebalan gingiva yang akan didirikan di sekitar gigi. Ketika gigi diposisikan
secara wajah, tulang dan jaringan lunak di wajah gigi itu lebih tipis dan lebih rentan
terhadap resesi jaringan lunak dari gigi yang berdekatan. Studi juga menunjukkan
hubungan antara akar keunggulan dan resesi gingiva.

Sumber: Swathi Ravipudi, D. A. P. P. D. V., 2017. Gingival Recession: Short Literature Review on Etiology,
Classifications and Various Treatment Options.. J. Pharm. Sci. & Res., Volume 9, pp. 215-220.

3. Klasifikasi Resesi Gingiva

Klasifikasi digunakan baik sebagai alat diagnostik dan prognostik untuk prosedur
penutupan akar:
1. Sullivan dan Atkins pada tahun 1968 mengklasifikasikan resesi gingiva menjadi
empat kategori menurut morfologi mereka sebagai Dalam dan Lebar, Dangkal dan
Lebar, Dalam dan Sempit, Dangkal dan Sempit. [Gambar 1]
2. Bengue et al pada tahun 1983 [31] mengklasifikasikan resesi berdasarkan morfologi
dan prognosis mereka: "U" memiliki resesi tipe prognosis buruk, resesi tipe "V"
memiliki prognosis yang baik dan Resesi tipe "I" memiliki prognosis yang baik.
[Gambar 2]
3. Miller pada tahun 1985 mengusulkan klasifikasi yang paling banyak digunakan saat
ini. Klasifikasi Miller adalah sebagai berikut:
 Kelas I - Marginal tissue recession yang tidak meluas ke mucogingival
junction (MGJ), tanpa kehilangan periodontal di area interdental; gigi juga
sejajar dalam lengkungan. Seratus tutupan akar dapat diantisipasi.
 Kelas II — Marginal tissue recession yang meluas ke atau melampaui MGJ,
tanpa kehilangan periodontal di area interdental; gigi juga sejajar dalam
lengkungan. Seratus tutupan akar dapat diantisipasi.
 Kelas III - Resesi jaringan marjinal yang meluas ke atau di luar MGJ; tulang
atau jaringan lunak yang hilang di daerah interdental hadir, atau ada mal-
positioning dari gigi. Cakupan akar parsial dapat diharapkan.
 Kelas IV — Marginal tissue recession yang meluas ke atau melampaui MGJ.
Itu tulang atau jaringan lunak yang hilang di daerah interdental dan / atau
malpositioning gigi sangat parah sehingga cakupan akar tidak harus dicoba.
4. Modifikasi pengelompokan Miller pada tahun 2010, Mahajan mengklasifikasikan
resesi gingiva berdasarkan tingkat keparahan jaringan lunak dan keras di daerah inter
proksimal.
 Kelas I: GRD tidak meluas ke MGJ,
 Kelas II: GRD memanjang ke MGJ / lebih jauh lagi,
 Kelas III: GRD dengan tulang atau jaringan lunak kehilangan di daerah
interdental hingga serviks 1/3 dari permukaan akar dan / atau malposisi gigi
 Kelas IV: GRD dengan tulang yang parah atau kehilangan jaringan lunak di
interdental daerah yang lebih besar dari serviks 1/3 dari permukaan akar dan /
atau malposisi gigi yang parah.
Berdasarkan kelas prognosis resesi disarankan. Kelas I dan Kelas II dengan profil
gingiva tebal memiliki prognosis terbaik, Kelas I dan Kelas II dengan profil gingiva tipis
memiliki prognosis yang baik, Kelas III dengan profil gingiva tebal memiliki prognosis
yang adil dan Kelas III dan Kelas IV dengan profil gingiva yang tipis memiliki prognosis
yang buruk.
5. Indeks resesi Smith (IR) 1997 dalam indeks ini dua digit dipisahkan oleh tanda
hubung menggambarkan horizontal dan komponen vertikal dari situs resesi, diawali
oleh F atau L. Komponen horizontal adalah nilai bilangan bulat antara 0–5 tergantung
pada tingkat keparahan paparan CEJ pada aspek wajah atau lingual gigi, antara titik
tengah mesial dan distal. Digit kedua dari IR memberikan tingkat resesi vertikal yang
diukur dalam milimeter pada rentang 0-9. Tanda bintang menunjukkan keterlibatan
MGJ. Tabel 1 dan 2 menunjukkan penilaian berdasarkan tingkat resesi.
6. Nordland dan Tarnow 1998 mengusulkan sistem klasifikasi untuk ketinggian papiler
interproksimal berdasarkan tiga tanda anatomi: Titik kontak interdental, batas apikal
CEJ wajah dan luas koronal dari CEJ proksimal. Normal: papilla interdental mengisi
ruang embrasure sampai batas apikal kontak interdental titik / area.
 Kelas I: ujung papilla interdental terletak antara titik kontak interdental dan
sebagian besar coronal interdental CEJ.
 Kelas II: ujung papilla interdental terletak apikal terhadap interproximal CEJ
tetapi koronal ke batas apikal CEJ wajah.
 Kelas III: ujung papilla interdental terletak di tingkat dengan atau apikal CEJ
wajah. Gambar 3 menunjukkan klasifikasi.
7. Klasifikasi Kairo pada tahun 2011 mengusulkan klasifikasi baru menggunakan
tingkat keterikatan klinis antar gigi (ICAL) sebagai kriteria identifikasi di mana
 Resesi Tipe 1 (RT1) dikaitkan dengan tidak ada kehilangan perlekatan
interdental,
 Resesi Tipe 2 (RT2) kehilangan ICAL sama atau lebih kecil dari kehilangan
lampiran bukal dan
 Resesi Tipe 3 (RT3) kehilangan ICAL lebih tinggi daripada jumlah
kehilangan lampiran bukal.
8. Ashish Kumar pada 2013 mengklasifikasikan resesi pada permukaan wajah gigi
rahang atas, resesi palatal, resesi wajah dan lingual gigi mandibular, termasuk resesi
papilaris interdental.
 Kelas I: tidak ada kehilangan tulang interdental atau jaringan lunak. Ini adalah
sub diklasifikasikan menjadi 2 kelompok:
- Kelas I-A: Gingival margin pada F / L aspek terletak apikal terhadap CEJ,
tetapi koronal untuk MGJ dengan melekat gingiva hadir di antara marginal
gingiva dan MGJ.
- Class I-B: Margin gingiva pada aspek F / L terletak pada atau apikal untuk
MGJ dengan tidak adanya gingiva yang melekat antara marginal gingiva
dan MGJ. Salah satu dari subdivisi dapat berada di aspek F atau L atau
keduanya (F dan L).
 Kelas II: Ujung papilla interdental terletak di antara titik kontak interdental
dan tingkat di CEJ pertengahan-bukal / mid-lingually. Keropos tulang
interproksimal terlihat pada radiograf. Ini adalah sub diklasifikasikan menjadi
3 kategori.
- Kelas II-A: Tidak ada resesi jaringan marginal pada aspek F / L.
- Kelas II-B: Margin Gingival pada F / L aspek terletak apikal untuk CEJ
tetapi koronal untuk MGJ dengan melekat gingiva hadir antara gingiva
marginal dan MGJ.
- Kelas II-C: Margin gingiva pada aspek F / L terletak pada atau apikal pada
MGJ dengan tidak adanya gingiva yang melekat antara gingiva utama dan
MGJ. Entah dari subdivisi bisa berada di aspek F atau L atau keduanya (F
dan L).
 Kelas III: Ujung papilla interdental terletak di atau apikal ke tingkat CEJ di
pertengahan-bukal / lingual. Keropos tulang interproksimal terlihat pada
radiograf. Ini adalah sub diklasifikasikan menjadi 2 kategori:
- Kelas III-A: Gingival margin pada F / L aspek terletak apikal terhadap
CEJ, tetapi koronal untuk MGJ dengan gingiva terlampir hadir.
- Kelas III-B: Gingival margin pada F / L aspek terletak pada apikal ke
MGJ dengan tidak adanya gingiva yang melekat antara marginal gingiva
dan MGJ. Salah satu dari subdivisi dapat berada di aspek F atau L atau
keduanya (F dan L).
9. Klasifikasi palatal GR: Posisi interdental papila tetap menjadi dasar pengelompokan
resesi gingiva pada aspek palatal. Kriteria sub-klasifikasi memiliki telah dimodifikasi
untuk mengkompensasi ketiadaan MGJ.
 Resesi palatal-1: Tidak ada kehilangan tulang interdental atau tisu lembut. Sub
ini dibagi menjadi dua kategori. PR-1-A: resesi jaringan marginal ≤3mm dari
CEJ. PR-I-B: Marginal tissue recession> 3mm dari CEJ.
 Resesi palatal II: Ujung papilla interdental terletak di antara titik kontak
interdental dan level CEJ pada pertengahan palatal. Keropos tulang
interproksimal terlihat pada radiograf. Sub ini dibagi menjadi dua kategori.
 PR-II-AS: Marginal tissue recession ≤3mm dari CEJ. PRII- B: Marginal tissue
recession> 3mm dari CEJ
 Resesi palatal III: Ujung papilla interdental adalah terletak di atau apikal ke
tingkat CEJ di pertengahan palatally. Keropos tulang interproksimal terlihat
pada radiograf. PR-IIIA: Marginal tissue recession ≤3mm dari CEJ.
 PR-III-B: Marginal tissue recession> 3mm dari CEJ

Sumber: Swathi Ravipudi, D. A. P. P. D. V., 2017. Gingival Recession: Short Literature Review on Etiology,
Classifications and Various Treatment Options.. J. Pharm. Sci. & Res., Volume 9, pp. 215-220.

4. Patofisiologis dan pathogenesis resesi gingiva


 Patogenesis
Mekanisme resesi gingiva karena inflamasi local proses di CT dengan
akumulasi mononuclear Sel-sel dijelaskan oleh Baker dan Seymour pada tahun
1976 mereka menjelaskan berbagai tahap dalam pengembangan resesi gingiva.
Pada tahap awal ada yang normal atau subklinis peradangan, setelah peradangan
ini muncul secara klinis dan histologis ada proliferasi pasak retensi epitelial.
Tahap 3 menunjukkan peningkatan epitel proliferasi yang mengakibatkan
hilangnya inti CT dan akhirnya ada penggabungan epitelium oral dan sulkuler
yang menghasilkan pemisahan dan resesi jaringan gingiva karena kehilangan
pasokan nutrisi. Waerhaug [29] mengusulkan bahwa jarak antara pinggiran plak
di permukaan gigi dan labial, ekstensi apikal infiltrasi inflamasi hampir tidak
pernah melebihi 1-2 mm. Jadi jika gingiva bebas banyak infiltrate hanya akan
menempati sebagian kecil dari konektif Namun jaringan, jika tipis seluruh
jaringan ikat Bagian mungkin terlibat akibatnya ada proliferasi sel epitel dari
mulut dan dento-gingiva epitel. Dengan demikian zona CT menurun dan itu
dilenyapkan oleh perpaduan dua epitel ini. Akhirnya, itu epitel kehilangan sumber
nutrisinya, dan resesi gingiva terjadi.

Sumber: Swathi Ravipudi, D. A. P. P. D. V., 2017. Gingival Recession: Short Literature Review on Etiology,
Classifications and Various Treatment Options.. J. Pharm. Sci. & Res., Volume 9, pp. 215-220.
5. Tanda dan gejala resesi gingiva
 Hipersensitivitas
Penjelasan dan penanganannya ada di jurnal

Sumber: Mattulada, I. K., 2015. Penanganan dentin hipersensitif (Management of dentin hypersensitive). Makassar
Dent J , pp. 148-151.

6. Terapi dan Indikasi

 Terapi
- Non bedah

Tujuan terapi nonsurgical adalah untuk mempertahankan atau meningkatkan


periodonsium dan permukaan akar yang terbuka ketika temuan dan diagnosis tidak
membutuhkan pembedahan pengobatan atau ketika kontraindikasi untuk operasi ada. Jika cacat
resesi minimal, tidak di daerah estetika tanpa hipersensitivitas dentin atau karies akar tidak ada
pengobatan ditunjukkan. Sangat penting untuk mengidentifikasi dan mengelola inisi etiologi
untuk mencegah resesi lebih lanjut. Selain itu, penting juga menjaga oral yang baik kebersihan
sehingga peradangan gingiva yang diinduksi plak dicegah karena dapat mengakibatkan resesi
lebih lanjut terutama di biotipe gingiva tipis. Dalam kasus tertentu dimana pasien memiliki garis
senyum tinggi dan zenit gingiva tidak rata karena resesi atau di mana karies atau dentin akar
hipersensitivitas berkembang mungkin diperlukan untuk intervensi dan manajemen. Jika
terutama pasien Keluhan sensitivitas dan estetika tidak banyak perhatian, maka manajemen
sensitivitas menggunakan agen desensitisasi yang tersedia secara komersial saja mungkin cukup.
Kecil resesi cacat lokal dengan kepekaan, keausan atau karies dari permukaan akar dapat
dikoreksi dengan mengikat komposit berwarna gigi di atas permukaan akar yang terbuka.
Penempatan yang cermat dari komposit restorasi sangat penting untuk memastikan bahwa tidak
ada plak margin yang kuat yang akan meningkatkan gingival lebih lanjut resesi. Kehadiran
bersama dengan hilangnya hasil papila interdental di Jarak antara gigi-gigi ini disebut sebagai
'hitam segitiga'. Beberapa pasien juga mengeluhkan pembicaraan yang berubah
karena udara yang keluar melalui ruang-ruang ini antar-proksimal. Penggunaan prostesis gingiva
yang dapat dilepas dapat menggantikan volume besar jaringan lunak yang terurai, isi
interproksimal ruang untuk menghilangkan segitiga hitam dan meningkatkan estetika. Gigi yang
diposisikan mal baik secara bukal / labial mungkin memiliki a dehiscence buccal atau terkait
resesi. Ini kebanyakan sering terlihat di gigi seri bawah yang ditempatkan secara lateral di mana
ada berkerumun dari segmen labial bawah. Jika pasien bersedia untuk manajemen ortodontik
maka setiap bedah intervensi jika direncanakan harus ditunda sampai setelahnya Gerakan gigi
ortodontik selesai. Ilmiah bukti menunjukkan bahwa gerakan gigi ortodontik lingually
memungkinkan pertumbuhan tulang alveolar pada aspek bukal sehingga memungkinkan
penebalan jaringan gingiva dan pergeseran koronal berikutnya di margin gingiva mengakibatkan
koreksi diri dari cacat resesi. Jika berikut intervensi bedah perawatan ortodontik masih
diindikasikan maka hasilnya cenderung memiliki prediktabilitas yang lebih tinggi daripada jika
dilakukan sebelum perawatan ortodontik.
- Bedah

Carlo et al mengusulkan representasi skematis dari berbagai teknik penutupan akar untuk
kelas I, II, III setelah resesi penyakit periodontal. Pertama, kedalaman poket harus dinilai. Jika
kedalaman poket adalah <5mm (dangkal) dengan memadai KT cangkok pedikel (flap Coronally
maju (CAF) / Posisi lateral flap / double papilla flap) sering direkomendasikan. Sebaliknya, KT
yang tidak memadai dengan saku dangkal dapat diindikasikan untuk cangkok jaringan lunak
bebas. (Penyambungan jaringan ikat (CTG) bersama dengan CAF / Laterally diposisikan flap /
Double papilla flap / Teknik amplop, atau gingival graft gratis (FGG) dengan CAF). Jika poket
periodontal dalam dengan kedalaman probing> 5mm jelas, dan KT memadai maka teknik GTR
bisa dilakukan bersama dengan CAF. Jumlah KT yang tidak mencukupi apikal terhadap resesi
menunjukkan kebutuhan akan jaringan lunak bebas cangkok bersama dengan membran dan
CAF. Menurut Craiz Galanza, ketika ada kehadiran lebar yang cukup dari melekat gingiva
(WAG) dirasakan kebutuhan estetik tanpa karies akar yang tidak dapat dilepas, secara koronal
diposisikan graft dianjurkan. Ketika WAG tidak memadai dengan kebutuhan estetika yang
dirasakan dan jaringan donor yang memadai tersedia, CTG / FGG direkomendasikan. Dua tahap
prosedur pembedahan dimana cangkok tahap I Pedikel adalah direkomendasikan diikuti dengan
pemeliharaan tahap II) disarankan di hadapan karies akar.

Sumber: Mattulada, I. K., 2015. Penanganan dentin hipersensitif (Management of dentin hypersensitive). Makassar
Dent J , pp. 148-151.