Anda di halaman 1dari 16

PENDAHULUAN

“Otonomi” Berasal dari Bahasa Yunai autonomos (autonomia), yang artinya “keputusan
sendiri” (Self-ruling). Ada banyak pengertian tentang otonomi. Tapi, yang di maksud dengan
pengertian otonomi di sini adalah hal yang berhubungan dengan makna subyektifitas dari sebuah
kedaulatan dalam wujud negara selaku individu.

Jika merujuk pada pengertian otonomi, maka ciri penting dari bentuk otonomi adalah
“tidak dikontrol” oleh pihak lain ataupun kekuatan luar. Dengan demikian, otonomi dapat
mengandung pengertian :

1. Bentuk “pemerintahan sendiri” (self government), yaitu hak untuk memerintah dan
menentukan nasib sendiri (self-determination).
2. Pemerintahan sendiri yang dihormati, diakui, dan dijamin tidak adanya kontrol oleh pihak
lain terhadap fungsi daerah.
3. Memiliki pendapat yang cukup untuk menentukan nasib sendiri dan memenuhi
kesejahteraan hidup masyarakatnya.
4. Memiliki supremasi kekuasaan (supremacy of authority) dan aturan hukum (rule) yang
dilaksanakan sepenuhnya oleh pemegang kekuasaan di daerahnya.

Jika ditilik dari ciri dan pengertian otonomi tersebut, terlihat bahwa lahirnya konsep
otonomi itu lebih ditempatkan muatannya ke dalam bentuk negara federalis (negara serikat).
Seperti halnya di Amerika Serikat, dimana di setiap negara bagian, memiliki ciri, salah satunya,
supremasi kekuasaan (supremacy of authority) dan aturan hukum (rule of law) sendiri – meski
untuk beberapa hal mereka tunduk pada konstitusi negara.

Begitupun untuk memahami pengertian otonomi daerah di Indonesia, tak pelak kita harus
melihatnya dari sejarah yang melingkupinya. Bahwa sejarah bergulirnya otonomi daerah di
Indonesia di tandai dengan konsep otonomi daerah yang semula di perkenalkan Bung Hatta
(Mohammad Hatta), yang lebih berorientasi ke system negara federalis (negara serikat). Dan
harus diakui pula, bahwa Bung Hatta adalah penganjur di bentuknya negara serikat sebagai
konsekuensi menempatkan kedaulatan rakyat sebagai staatsidee negara.1

1
Agustin Teras Narang, S.H.;2003,Reformasi Hukum,Pustaka Sinar Harapan, hal 97.
1
PEMBAHASAN

1. Otonomi Daerah Pada Masa Orde Lama

Pelaksanaan pemerintahan daerah pada masa pemerintahan orde lama, di bawah


kepemimpinan Ir. Soekarno, sukar untuk diberikan suatu generalisasi tunggal, bahwa apakah
pada orde lama pemerintahan daerah dilaksanakan dengan sistem yang tersentralisasi, atau
melaksanakan sistem pemerintahan yang desentralisasi (otonomi). Pemikiran tersebut didasarkan
pada kenyataan bahwa pada era pemerintahan rezim Soekarno yang kemudian oleh orde baru
disebut orde lama (1945-1966), ditandai sebagai era yang penuh gejolak, baik pemberontakan di
daerah-daerah yang menuntut pemisahan diri seperti RMS (Republik Maluku Selatan), Permesta,
pemerintahan karena ideologi Republik Indonesia (PRRI) maupun yang memberontak karena
ideologi seperti PKI di Madiun, DI/TII Kartusuwiryo di Jawa Barat, yang kemudian meluas ke
Aceh, Sulawesi, dan Kalimantan.

Di lain pihak, era pemeritahan orde lama diwarnai dengan perubahan konstitusi yang
dengan sendirinya juga akan mempengaruhi sistem pemerintahan yang ditetapkan di daerah-
daerah. Sebagaimana telah diketahui, bahwa era 1945-1949 bangsa Indonesia masih bergelut
melawan Belanda dengan sekutunya yang ingin menjajah kembali Indonesia melawan Belanda
dengan sekutunya yang ingin menjajah kembali Indonesia. Dilahirkan dua UU yang mengatur
pemerintahan daerah, yang pertama yaitu UU No. 1 Tahun 1945 tentang kedudukan peraturan
mengenai komite nasional daerah UU ini sangat singkat, yang hanya memuat enam pasal yang
ditetapkan ada tanggal 23 November 1945. UU No. 1 Tahun 1945 mengatur pembentukan KND
(Komite Nasional Daerah), sebagaimana kita ketahui bahwa pada masa awal kemerdekaan
setelah proklamasi, bangsa Indonesia belum memiliki perangkat kenegaraan yang memadai,
sehingga diaturlah bahwa pada masa awal kemerdekaan KNIP (Komite Nasional Indonesia
Pusat) menyelenggarakan semua tugas-tugas lembaga kenegaraan, sampai terbentuknya lembaga
negara seperti yang dimaksud dalam UUD 1945. Ketentuan ini dapat dibaca dalam Pasal III
aturan peralihan UUD 1945 yang berbunyi:

2
“Sebelum majelis permusyawaratan rakyat, dewan perwakilan rakyat dan dewan
pertimbangan agung dibentuk menurut undang-undang dasar ini, segala kekuasaannya
dijalankan oleh presiden dengan bantuan komite nasional”.

UU No. 1 Tahun 1945 sukar diterima oleh daerah-daerah di luar jawa dan Madura, mengingat
situasi saat itu, Daerah Kesultanan Yogyakarta dan Kasunan Surakarta di Solo pun juga tidak
diatur secara jelas, mengingat pemerintah pusat pada saat itu masih menghargai keberadaan
kedua daerah tersebut, yang tetap diakui oleh pemerintah Hindia Belanda, walaupun dengan
berbagai pembatasan dan intervensi.

Kemudian yang kedua, pada saat pemerintahan republik Indonesia dipindahkan ke


Yogyakarta, pada tanggal 10 Juli tahun 1948, dikeluarkanlah UU No. 22 tahun 1948 tentang
pemerintahan daerah. Undang-undang ini langsung dinyatakan berlaku oleh pemerintah
Indonesia pada hari itu juga. UU ini tidak mendapatkan pengesahan dari DPR sebagai yang diatur
dalam UUD 1945, tetapi oleh BP-KNIP. UU No. 22 Tahun 1948 memuat hal-hal sebagai berikut:

1. Pemerintah daerah dinyatakan terdiri atas DPRD dan DPD (Pasal 2:1)
2. Kepala daerah menjabat ketua DPD (Pasal 2:3)
3. Anggota DPD dipilih oleh dan dari anggota DPRD. Apabila anggota DPD berhenti dari
keanggotaannya sebagai DPRD, maka dengan sendirinya yang bersangkutan juga berhenti
dari keanggotaan DPD atau sebaliknya.
4. DPRD yang membuat pedoman untuk DPD guna mengatur cara menjalankan kekuasaan
dan kewajibannya, yang sebelum diberlakukan harus mendapatkan persetujuan Presiden
(pasal 15)
5. DPRD mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri berdasarkan UU Pembentukan
bagi tiap-tiap daerah (Pasal 23)
6. Sekretaris Daerah tidak dikenal, yang ada adalah sekretaris DPRD, yang merangkap
sekretaris DPD, yang diangkat dan diberhentikan oleh DPRD, atas usul DPD (pasal 20).

Dari enam poin tersebut di atas, dapat dicermati bahwa dalam UU No. 22 tahun 1948
tentang pemerintahan daerah, kewenangan DPRD sangat besar, dan dengan mudah dapat kita
tarik kesimpulan, bahwa UU No. 22 tahun 1948 dibuat dengan sistem parlementer. Sebab

3
kewenangan kepala daerah sangat minimal, bila dibandingkan dengan kewenangan kepala daerah
dalam UU No. 5 Tahun 1974 tentang pokok-pokok pemerintahan di daerah.

Selain itu, dalam UU No. 22 tahun 1948, juga diatur dengan tegas dalam pasal 26, bahwa
DPRD dapat membela kepentingan daerah dan penduduknya dihadapan pemerintah dan DPR.
Dengan pasal tersebut dapat dikatakan bahwa pemerintah pusat saat itu sangat menghargai
keberadaan daerah. Padahal anggota-anggota DPR juga merupakan wakil rakyat yang juga dipilih
dari daerah-daerah. Selain itu dalam pasal 27 UU No. 22 tahun 1948, juga mengatur bahwa
daerah-daerah dapat mengadakan kerjasama.

Dengan demikian yang dapat ditarik dari UU ini adalah:

1. Sangat menghargai keberadaan daerah-daerah sebagai satu kesatuan masyarakat yang


berbudaya dan memiliki karakteristik sendiri-sendiri
2. Kekuasaan kepala daerah diminimalkan yang dikedepankan adalah kekuasaan DPRD
3. Memiliki nuansa parlementer. Dengan demikian sebenarnya tidak sejalan dengan UUD
1945 yang mengantu asas Presidensil. Walaupun demikian penyimpangan ini mungkin
karena masih dalam masa awal kemerdekaan.

Walaupun demikian UU No. 22 tahun 1948 tetap berlaku sampai keluarnya UU No. 1
Tahun 1957 tentang pokok-pokok pemerintahan di daerah, meskipun pada tanggal 27 Desember
1949, Belanda dengan pihak Indonesia yang diwakili oleh Drs. Moh. Hatta telah mengambil
kesepakatan tentang pembentukan negara Indonesia serikat (RIS) dengan pemerintahan Belanda.
Dan Belanda mengakui kedaulatan pemerintahan RIS kecuali Irian Jaya yang akan diserahkan
kemudian, sikap mempertahankan Irian dan sikap mengalahnya pemerintah Indonesia atas
kesepakatan menyangkut Irian Jaya inilah yang kemudian menjadi kemelut yang hingga kini
tetap menjadi problem diantara sebagian masyarakat Irian Jaya dengan pemerintah Indonesia.

Sejak tanggal 27 Desember 1949 dengan sendiirnya Indonesia berbentuk negara serikat,
walaupun baru diumumkan lembaran negara oleh pemerintah RI pada tanggal 6 Februari 1950.
Pengaturan tentang pemerintahan daerah, diatur berdasarkan keberadaan negara-negara bagian
yang untuk lebih jelasnya dapat dicermati dalam pasal 2 Konsultasi Republik Indonesia Serikat
sebagai berikut:
4
Republik Indonesia serikat menuju seluruh daerah Indonesia, yaitu daerah bersama

1. Negara RI dengan daerah menurut status quo seperti tersebut dalam persetujuan
Renville tanggal 17 Januari tahun 1948:

 Negara Indonesia Timur


 Negara Pasundan, termasuk distrik Federal Jakarta;
 Negara Jawa Timur
 Negara Madura
 Negara Sumatera Timur dengan pengertian bahwa status quo asahan selatan
dan labuhan batu berhubungan dengan negara Sumatera Timur tetap berlaku,
negara Sumatera Selatan.
2. Satuan-satuan kenegaraan yang tegak sendiri
 Jawa Tengah
 Bangka Belitung
 Riau
 Kalimantan Barat (Daerah istimewa)
 Dayak Besar
 Daerah Banjar
 Kalimantan Tenggara dan
 Kalimantan Timur

3. Daerah-Daerah Indonesia Selebihnya yang Bukan Daerah-Daerah Bagian

Menyangkut pemerintahan daerah, dalam kurun waktu 1950-1959,


pemerintah tidak mengeluarkan satu UU yang mengatur tentang pemerintahhan
daerah, hal tersebut sesuai dengan ketentuan dalam pasal 131, 132 dan pasal 133
UUDS 1950. Dalam ketiga pasal tersebut ditegaskan antara lain:

1. Peraturan perundangan yang ada di daerah-daerah sebelumnya tetap


berlaku sampai ada penggantinya

5
2. Pemerintah akan memberikan otonomi yang seluas-luasnya kepada
pemerintah daerah
3. Mempertegas kedudukan daerah-daerah Swapraja (bekas kerajaan yang
pemerintahannya memiliki kekhususan).

Dengan demikian UU No. 22 Tahun 1948 yang hanya berlaku di wilayah republik
Indonesia dinyatakan tetap berlaku, demikian pula UU No. 44 tahun 1950 yang berlaku di
wilayah Indonesia timur juga tetap berlaku serta peraturan-peraturan peninggalan Belanda yang
ada di daerah-daerah lainnya. UU No. 32 tahun 1956 tentang pertimbangan keuangan antara
negara dengan daerah-daerah yang berhak mengurus rumah tangganya sendiri, yang diundangkan
pada tanggal 31 Desember 1956. Dalam dictum mengingatnya UU No. 32 tahun 1956 ini,
tercantum antara lain UU No. 22 tahun 1948, dan UU No. 44 tahun 1950. Dengan demikian
sampai tahun 1956, pengaturan pemerintahan daerah masih berjalan sendiri-sendiri sesuai
keadaan sebelumnya. Sampai dengan keluarnya UU No. 1 tahun 1957 tentang pokok-pokok
pemerintah daerah.

UU No. 1 tahun 1957 yang diundangkan pada tanggal 18 Januari tahun 1957 dengan tegas
mencabut UU No. 22 tahun 1948, dan UU No. 44 tahun 1950. Walaupun demikian apabila
dicermati UU No. 1 tahun 1957 tidak memiliki perbedaan yang berarti dengan UU No. 22 tahun
1948, dalam banyak hal seperti yang menyangkut pemerintahan daerah tetap sama, kecuali aturan
mengenai tingkatan daerah, kalau dalam UU No. 22 tahun 1948 daerah dibagi atas daerah
propinsi, daerah kabupaten (kota besar) dan desa (kota kecil). Dalam UU No. 1 tahun 1957,
pembagiannya dipertegas dengan sebutan daerah propinsi (Dati I), daerah kabupaten (Dati II),
dan daerah tingkat ke III.

Dengan demikian pelaksanaan pemerintahan daerah dalam rangka pelaksanaan otonomi


daerah pada orde lama, agak sukar untuk mengadakan penilaian secara umum, akan tetapi
melihat beberapa muatan UU yang pernah berlaku, maka dapat disimpulkan bahwa pada masa
orde lama utamanya pada saat UU No. 1 tahun 1945, dan UU No. 22 tahun 1948 dan UU No. 1
tahun 1957 daerah-daerah masih diberi keleluasaan yang besar untuk berotonomi, akan tetapi
pasca Dekrit Presiden 5 Juli tahun 1959 pemerintahan daerah telah bernuansa sangat sentralisasi.

https://www.duniapelajar.com/2012/07/20/otonomi-daerah-pada-masa-orde-lama/
6
2. Pelaksanaan Otonomi Daerah di Masa Orde Baru

Pemerintah orde baru pada awalnya hadir sebagai koreksi atas kegagalan pemerintah orde
lama. Koreksi tersebut sebagaimana disampaikan oleh Jenderal Soeharto, tokoh supersemar yang
kemudian menjadi presiden paling lama ini adalah sebagaimana disampaikan pada pembukaan
Kongres Luar Biasa Kesatuan dan keutuhan partai nasional Indonesia, Soeharto (dalam LP3ES,
1988:134) menyatakan sebagai berikut: Ketiga penyelewengan dimaksud adalah;

1. Radikalisme PKI
2. Terjadinya oportunisme politik yang didorong oleh ambisi pribadi
3. Terjadinya penyelewengan ekonomi

Keadaan ekonomi pada era orde lama di bawah kepemimpinan Ir. Soekarno memang
masih morat marit, keadaan tersebut di samping karena kondisi bangsa Indonesia yang baru
merdeka, juga karena kebijakan pemerintahan rezim Soekarno yang dinilai terlalu
memperhatikan masalah politik, tetapi mengesampingkan masalah ekonomi. Di dalam negeri,
pemerintah sangat memberikan kesempatan yang sebesar-besarnya bagi politisi sipil untuk
tampil, sedangkan dipanggung politik internasional, Indonesia juga sangat aktif, sampai
keluarnya Indonesia dari PBB.

Politik Ir. Soekarno yang hendak membangun kesatuan antara tiga golongan politik utama
Indonesia (PNI, PKI, Agama) yang dikenal dengan istilah NASAKOM, yang berakhir pada
meletusnya tragedi G 30 S PKI tahun 1965.

Krisis politik yang mengiringi meletusnya G30SPKI tahun 1965 dengan sendirinya juga
menyebabkan terjadinya krisis ekonomi. Keadaan ekonomi Indonesia pada saat itu sangat
terpuruk, rupiah mengalami apresiasi yang sangat tajam terhadap Dollar Amerika, inflasi pada
akhir pemerintahan orde lama dan awal orde baru adalah 600%. Akibat krisis politik dan
keterpurukan ekonomi yang ada, menyebabkan jenderal Soeharto yang didukung oleh kalangan
teknokrat menyusun strategi pembangunan ekonomi, dan mengesampingkan pembangunan
politik. Akan tetapi walaupun demikian pemerintah orde baru harus mempertahankan
kekuasaannya melalui pemilihan umum.

7
Dengan demikian untuk mempertahankan kekuasaannya pemerintah orde baru harus
mendekati dua partai besar tersebut (PNI dan NU). Akan tetapi kedua partai ini memiliki
persoalan yang sama terhadap orde baru, PNI dipandang sebagai partainya Soekarno, malah
dalam pemilu 1971 PNI telah mengidentifikasikan diri dengan Ir. Soekarno. Sedangkan untuk
mendikte NU juga bukan merupakan pilihan yang tepat bagi orde baru, sebab orde baru yang
pancasilais tidak akan sejalan dengan NU yang merupakan partai agama yang masih mencita-
citakan pendirian negara islam. Dengan demikian pilihan terbaik orde baru adalah membesarkan
golongan karya untuk dijadikan sebagai kendaraan politik pemerintahan orde baru. Sejak saat
itulah berbagai manipulasi politik dilakukan oleh pemerintahan rezim orde baru, dengan mesin
utama militer dan birokrasi, upaya pemenangan golongan karya ini kemudian dikenal dengan
istilah politik masa mengambang, yaitu kebijakan untuk membuat masa rakyat tidak memiliki
kedekatan emosional dengan partainya.

Kehadiran UU No. 5 Tahun 1974 tenang pemerintahan daerah diyakini akan mampu
menciptakan stabilitas daerah, dengan demikian eksekutif diberi kewenangan yang sangat besar
sebagai penguasa tunggal di daerah. Walupun demikian UU tersebut dinyatakan bahwa
pemerintah daerah terdiri atas kepala daerah dan DPRD, akan tetapi tidak ada balances sama
sekali, sebab sebagaimana di pusat, di daerah DPRD juga hanya merupakan tukang stempel untuk
kepentingan eksekutif.

Pemilihan kepala daerah yang dilakukan DPRD adalah retorika belaka, sebab siapa yang
harus jadi telah ditetapkan sebelumnya termasuk siapa mendapatkan berapa suara. Apabila
skenario tidak berhasil, dan calon yang diunggulkan ternyata tidak terpilih, maka pemerintah
pusat akan dengan mudah memilih/mengangkat kembali orang yang telah diproritaskan tersebut,
sebab hasil pemilihan DPRD kemudian diajukan kepada pusat, and pusat bebas menentukan siapa
yang akan dilantik dari hasil usulan/hasil pemilihan tersebut (Pasal 15 UU No. 5 tahun 1974).

Jadi otonomi yang nyata dan bertanggung jawab sebagaimana yang diamanatkan oleh UU
No. 5 Tahun 1974 dalam pasal 11 hanya merupakan retorika belaka, sebab sampai UU No. 5
tahun 1974 dicabut, tidak pernah ada peraturan pelaksanaannya. Pemerintah orde baru memang
pernah mengadakan otonomi percontohan atau lebih tepatnya uji coba penerapan otonomi
daerah yang dilaksanakan pada satu daerah kabupaten/kota pada masing-masing propinsi.

8
Program tersebut gagal total, karena memang semangat orde baru bukan untuk
mengadakan otonomi daerah, tetapi strategi yang matang agar ada alasan kuat untuk tetap
menerapkan sentralisasi kekuasaan atau pemerintahan daerah. Kegagalan otonomi percontohan
ala orde baru tersebut disinyalir karena pemerintah pusat hanya memberikan kewenangan yang
sebesar-besarnya tetapi tidak memberikan uang, alat dan aparat. Istilah yang berkembang saat itu
adalah ‘kepala dilepas akan tetapi ekor ditahan’.

Pemerintah order baru tidak akan mau memberikan otonomi daerah, sebab memberikan
otonomi berarti membagi kekuasaan sedangkan pembagian kekuasaan akan menyebabkan
kekuasaan akan berkurang dan berkurangnya kekuasaan akan menyebabkan berkurangnya
wibawa pemerintahan pusat yang kemudian akan menyebabkan terjadinya pembangkangan
pemerintah daerah yang jauh dari kekuasaan pemerintah pusat.

Padahal apabila kita cermati, maka strategi pemerintah orde baru dalam menjalankan
UUD 1945 yang katanya akan konsekuen telah mulai tampak, sebab dengan penyeragaman
pemerintah daerah maka dengan sendirinya pemeritah orde baru telah melanggar pasal 18 UUD
1945 yang mengatur bahwa daerah-daerah dibentuk atas daerah besar dan kecil dengan
memandang dan mengingat dasar-dasar permusyawaratan dan hak-hak asal usul dari daerah-
daerah yang bersifat istimewa. Pemerintah orde baru tanpa ada persetujuan dari masyarakat di
daerah-daerah mengadakan penyeragaman dengan menghapus keistimewaan daerah-daerah yang
pada masa orde lama di akui sebagai daerah-daerah swapraja yang dalam pengaturannya tetap
mengindahkan adat istiadat dan kebiasaan masyarakat sebelumnya.

Setelah pemilihan Umum 1971 yang telah memberikan kemenangan yang besar bagi
GOLKAR sebagai partai politik rezim orde baru (walupun orba tetap tidak ingin menyebut
GOLKAR sebagai parpol) maka ketetapan MPRS No. XXI/ 1966 tentang pemberian otonomi
yang seluas-luasnya dicabut dengan ketetapan MPR No. V/MPR/1973 tentang peninjauan
produk-produk yang berupa ketetapan MPRS RI. Dengan alasan bahwa muatan Tap No
XXI/I/MPRS / 1966 tentang pemberian otonomi yang seluas-luasnya tersebut telah ditampung
dalam garis-garis besar haluan Negara. Dengan demikian semakin nampak kalau rezim Orba
berupaya agar daerah-daerah harus tunduk di bawah rezim orde baru tanpa syarat.

9
Kemungkinan besar Rezim Orba di bawah komando Pak Harto ini, ingin membangun
pemerintahan Indonesia seperti pada zaman kejayaan mataram Islam di bawah pimpinan Sultan
Agung. Pada masa kepemimpinan kesultanan Mataram, menganut asas keagungbinataraan yang
bermaksud bahwa kekausaan harus terpusat pada satu tangan, dan tidak boleh ada yang
menyaingi. Kalau ada saingan, maka saingan tersebut harus diperangi, atau dibunuh agar
kekuasaan tetap tunggal adanya. Maka kita lihat, betapa jelas rezim orde baru melemahkan semua
lembaga tinggi negara. DPR, DPA, BPK, dan MA adalah perpanjangan tangan presiden malah
MPR yang seharusnya pemegang kedaulatan tertinggi di negara RI malah dijadikan tukang
stempel kebijakan orde baru otonomi daerah.

https://www.duniapelajar.com/2012/07/21/otonomi-daerah-pada-masa-orde-baru/

3. Otonomi Daerah Pada Era Reformasi

Setelah tiga puluh dua tahun Presiden Soeharto memegang tampuk kekuasaan, tuntutan
perubahan yang ditandai dengan gerakan reformasi, yang menuntut perbaikan pada kehidupan
politik dan demokratisasi, di samping kehidupan ekonomi yang baru saja terpuruk. Pada era ini,
pemerintahan rezim orde baru yang pada awalnya baik, khususnya apabila dilihat dari segi
peningkatan kesejahteraan rakyat, ditandai dengan peningkatan pertumbuhan ekonomi pada
dekade 1980-an sampai awal 1990-an. Akhirnya mengalami krisis moneter yang melanda
kawasan Asia pada tahun 1997.

Namun keberhasilan pemerintahan orde baru dalam bidang ekonomi, banyak dipuji oleh
dunia internasional, dan disebut sebagai suatu keajaiban (miracle) Indonesia disebut sebagai satu
di antara lima macan asia, yang terdiri dari RRC, Korsel, Singapura, Malaysia, dan Indonesia.
Keberhasilan ekonomi ini tidak urung menjadikan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang
mendapatkan tempat yang terhormat dalam pergaulan bangsa-bangsa. Penghargaan dari negara-
negara lain tersebut diakui oleh presiden Megawati Soekarnoputri, sebagaimana yang dilansir
kompas pada edisi Senin 26 Oktober 2001. Pengakuan tersebut disampaikan oleh Megawati
Soekarnoputri pada saat memberikan pengarahan kepada jajaran Diplomat Indonesia yang
berbunyi sebagai berikut:

10
“Dari dekat saya juga menyimak dengan penuh keprihatinan betapa
menurunnya pandangan dan citra negara dan bangsa kita di luar negeri. Kita
merasakan betapa telah tiadanya lagi rasa kagum dan berkurangnya sikap hormat
yang pernah hingga ketika Indonesia disebut sebagai satu diantara beberapa negara
dengan pertumbuhan ekonomi yang menakjubkan selama dasawarsa 80-an dan awal
90-an.”

Krisis moneter yang melanda asia kemudian menjadi momentum untuk menggusur
pemerintahan orde baru. Harus diakui bahwa terlepas dari keberhasilannya meningkatkan
pertumbuhan ekonomi, pemerintah orde baru telah gagal menciptakan sistem politik dan
kehidupan bernegara yang demokratis.

Dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah, rezim orba dinilai tidak adil oleh daerah-
daerah yang memiliki nilai lebih dalam arti memiliki sumber daya alam yang berlimpah. Ketidak
adilan tersebut ditandai dengan pengaturan sistem pemerintahan darah yang sentralistis,
berdasarkan UU No. 5 Tahun 1974 tentang pemerintahan daerah UU No. 5 tahun 1974 dibuat
dengan asumsi bahwa dengan memberikan otonomi yang seluas-luasnya daerah akan menjadi
tidak respek terhadap pemerintah pusat yang pada akhirnya akan menyebabkan disintegrasi
Otonomi Daerah.

Krisis moneter menjadi momentum melemahnya Rezim Soeharto, para intelektual politik
dan mahasiswa kemudian menurut perbaikan ekonomi. Tuntutan akhirnya mengkristal menjadi
perlawanan terhadap rezim orba, rakyat yang selama tiga puluh dua tahun terpasung hak-hak
politiknya, kemudian menuntut turunnya presiden Soeharto. ABRI yang selama ini menjadi
andalan rezim orde baru, tidak bisa berbuat banyak untuk melindungi kekuasaan orde baru. Polri
malah dimusuhi oleh masa rakyat, pos-pos polisi banyak yang dihancurkan masa. Hanya marinir
yang mendapat penerimaan simpatik dari masa.

 Pelaksanaan Otonomi Daerah di Indonesia

Lemahnya pemerintahan rezim orba, kemudian diikuti oleh gejolak di daerah-daerah.


Riau menuntut merdeka, kalimantan, makassar juga tidak ketinggalan menurut negara Indonesia
timur malah Sulawesi merdeka. Papua dan Aceh telah lebih dulu bergolak dan telah menjadi

11
pekerjaan rutin militer untuk memadamkannya, sementara di Maluku dan Kalimantan Barat
kemudian meluas ke poso Sulawesi Tengah, terjadi kerusuhan yang melibatkan RASA.

Lengsernya Soeharto tanggal 21 Mei 1999, kemudian diikuti dengan tampilnya Prof. Dr.
Ing. B.J. Habibie sebagai presiden yang juga banyak diperdebatkan, tetapi aturan yang tertulis
dalam pasal 7 UUD 1945, jelas menjalankan kewajibannya dalam masa jabatannya, maka ia
digantikan oleh wakil presiden sampai habis waktunya.

Penolakan terhadap berbagai manipulasi politik orde baru tersebut mendapatkan


momentumnya pada saat krisis multidimensi yang kemudian merontokan mitos Indonesia
sebagai negara yang mempunyai julukan ajaib. Indonesia pasca orde baru adalah negara yang
baru menata demokrasi dan mengalami keterpurukan ekonomi.

Dalam bidang pemerintahan daerah, Habibie menjawab tuntutan daerah kaya, dengan
mengeluarkan UU No. 22 tahun 1999 tentang pemerintahan Daerah, dan UU No. 25 tahun 1999
tentang pertimbangan keuangan antara pusat dan daerah. Kedua UU tersebut secara subtansial
sangat berbeda dengan UU No. 5 Tahun 1974 tentang pemerintahan daerah. Dalam beberapa hal
UU No. 22 tahun 1999 dianggap telah menganut asas-asas federalism, sering dengan semakin
sedikitnya kewenangan yang dimiliki pemerintah pusat di daerah. Dalam pasal 7 UU No. 22
tahun 1999, yang menegaskan bahwa kewenangan pemerintah pusat di daerah hanya meliputi:

1. Bidang pertahanan
2. Bidang moneter dan fiskal
3. Bidang politik luar negeri
4. Bidang peradilan
5. Agama

Berakhirnya kekuasaan Habibi sebagai akibat kebijaksanaan yang kontroversial yang


mengizinkan Timor Timur mengadakan referendum, yang kemudian menyebabkan lepasnya
Tim-Tim dari Indonesia. Persoalan tersebut menjadi sandungan utama Habibie untuk masa
jabatan kedua pasca pemilu 1999, sebab pertanggung jawabannya ditolak oleh MPR-RI.
Walaupun secara realistis kebijakan-kebijakan Habibie sebenarnya logis, tetapi realitas politik
menyatakan bahwa Habibie harus turun dari kursi kepresidenan.
12
Abdurrahman Wahid yang semakin banyak dipersoalkan oleh kalangan politisi senanyan,
akhirnya harus turun dari kursi kepresidenan seiring dengan hasil temuan pansus Bulogate/Brunei
Gate yang memberikan kesimpulan patut diduga kalau Abdurrahman Wahid terlibat kasus
tersebut. Abdurrahman Wahid akhirnya digantikan oleh Megawati Soekarnoputri sebagai
presiden RI. Megawati Soekarno Putri yang rasionalis telah banyak diprediksi sebelumnya,
bahwa pemerintahannya tidak akan sungguh-sungguh menangani pelaksanaan otonomi
daerah berdasarkan UU No. 22 tahun 1999 dan UU No. 25 Tahun 1999 dalam banyak hal kedua
UU tersebut mengandung banyak persoalan. Di era Megawati Soekarnoputri dengan
Mendagrinya Hari Sabarno, timbul upaya-upaya untuk merevisi UU No. 22 Tahun 1999, padahal
UU tersebut belum sepenuhnya dijalankan, berhubung masih banyaknya aturan pelaksanaan
kedua UU tersebut yang belum dikeluarkan oleh pemerintah.

https://www.duniapelajar.com/2012/07/22/otonomi-daerah-pada-masa-reformasi/

 Dasar hukum pelaksanaan otonomi daerah

Pelaksanaan otonomi daerah yang mulai dicanangkan sejak tanggal 1 Januari 2001 (ketika itu
masih berlaku UU Nomor 22 Tahun 1999, sekarang diperbarui dengan UU Nomor 32 Tahun
2004) memiliki dasar hukum sebagai berikut.

1. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945


UUD 1945 Pasal 18 Ayat (1) – (7) adalah sebagai berikut :
Ayat (1) : NKRI dibagi atas daerah-daerah provinsi dan daerah provinsi itu dibagi
atas kabupaten kota yang tiap-tiap provinsi, kabupaten.

Ayat (2) : Pemerintahan daerah Provinsi, daerah kabupaten dan kota mengatur
dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan
tugas pembantuan.

Ayat (3) : Pemerintahan daerah provinsi, daerah kabupaten dan kota memiliki
DPR yang anggota-anggotanya dipilih melalui Pemilu.

13
Ayat (4) : Gubernur, bupati dan wali kota masing-masing sebagai kepala
pemerintahan daerah provinsi, kabupaten dan kota dipilih secara
demokratis

Ayah (5) : Pemerintah daerah menjalankan otonomi seluas-seluasnya, kecuali


urusan pemerintahan yang oleh undang-undang ditentukan sebagai
urusan pemerintah pusat

Ayat (6) : Pemerintah daerah berhak menetapkan peraturan daerah dan


peraturan-peraturan lain untuk melaksanakan otonomi dan tugas
pembantuan.

Ayat (7) : Susunan dan tata cara penyelenggaraan pemerintah daerah diatur
dalam undang-undang

 UUD 1945 pasal 18A ayat (1) dan (2) adalah sebagai berikut :

Ayat (1) : Hubungan wewenang antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah
provinsi, kabupaten dan kota atau antara provinsi dan kabupaten dan
kota, diatur dengan undang-undang dengan memperhatikan
kekhususan dan keragaman daerah.

Ayat (2) : Hubungan keuangan, pelayanan umum, pemanfaatan sumber daya


alam dan sumber daya lainnya antara pemerintah pusat dan
pemerintah daerah diatur dan dilaksanakan secara adil dan selaras
berdasarkan undang-undang.

 UUD 1945 pasal 18B ayat (1) dan (2) adalah sebagai berikut :

Ayat (1) : Negara mengakui dan menghormati satuan-satuan pemerintah daerah


yang bersifat khusus atau bersifat istimewa yang diatur dengan
undang-undang.

Ayat (2) : Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat


hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup

14
dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip NKRI,
yang diatur dalam undang-undang.

 UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah

UU nomor 32 tahun 2004 pasal 2 ayat (1) – (4) adalah sebagai berikut :

Ayat (1) : NKRI dibagi atas daerah-daerah provinsi dan daerah provinsi dibagi
atas kabupaten dan kota yang masing-masing mempunyai
pemerintahan daerah.

Ayat (2) : Pemerintah daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1)

Ayat (3) : Pemerintah daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) menjalankan
otonomi seluas-luasnya, kecuali urusan pemerintahan yang menjadi
urusan pemerintah, dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan
masyarakat, pelayanan umum dan daya saing daerah.

Ayat (4) : Pemerintah daerah dalam menyelenggarakan urusan pemerintahan


memiliki hubungan dengan pemerintah dan dengan pemerintah
daerah lainnya.

 UU Nomor Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan
Pemerintah Daerah

 UU nomor 33 tahun 2004 pasal 2 ayat (1) – (3) adalah sebagai berikut :

Ayat (1) : Perimbangan keuangan antara pemerintah dan pemerintah daerah


merupakan subsistem keuangan negara sebagai konsekuensi
pembagian tugas antara pemerintah dan pemerintah daerah.

Ayat (2) : Pemberian sumber keuangan negara kepada pemerintah daerah dalam
rangka pelaksanaan desentralisasi didasarkan atas penyerahan tugas
oleh pemerintah kepada pemerintah daerah dengan memperhatikan
stabilitas dan keseimbangan fiskal.

15
Ayat (3) : Perimbangan keuangan antara pemerintah dan pemerintah daerah
merupakan suatu sistem yang menyeluruh dalam rangka pendanaan
penyelenggaraan asas desentralisasi, dekosentrasi dan tugas
pembantuan.

 Tujuan dan Manfaat Pelaksanaan Otonomi Daerah

Tujuan otonomi daerah tercantum dalam UU nomor 32 Tahun 2004 Pasal 2 Ayat
(3) yang berbunyi, “Pemerintah daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) menjalankan
otonomi seluas-luasnya, kecuali urusan pemerintahan yang menjadi urusan pemerintah
dengan tujuan meningkatkan masyarakat, pelayanan umum dan daya saing daerah.”

 Prinsip dan Asas Otonomi Daerah

Setelah UU No. 22 Tahun 1999 dan UU No. 25 Tahun 1999 diganti dan mulai
diberlakukan UU No. 32 Tahun 2004 dan UU No. 33 Tahun 2004 maka kewenangan
pemerintah didesentralisasikan kepada daerah. Artinya, pemerintah pusat tidak lagi
mengurus kepentingan rumah tangga daerah, kewenangan mengurus dan mengatur rumah
tangga daerah diserahkan kepada masyarakat di daerah.

Dalam pasal 20 UU No. 32 Tahun 2004 disebutkan bahwa penyelenggaraan


pemerintah berpedoman pada asas umum penyelenggaraan negara yang terdiri atas :

1. Asas kepastian hukum


2. Asas tertib penyelenggaraan negara
3. Asas kepentingan umum
4. Asas keterbukaan
5. Asas proporsionalitas
6. Asas profesionalitas
7. Asas akuntabilitas
8. Asas efisiensi
9. Asas efektivitas.

https://www.duniapelajar.com/2011/10/21/makalah-otonomi-daerah/
16