Anda di halaman 1dari 37

Robekan Selaput Dara pada Anak Dibawah Umur

Universitas Kristen Krida Wacana


Jl. Arjuna Utara No. 6, Jakarta 11510

Skenario
Seorang ibu muda bersama dengan seorang anak perempuannya yang berusia 11 tahun
datang ke poliklinik anak di sebuah rumah sakit. Setelah berada di dalam ruang periksa, si ibu
menjelaskan bahwa anaknya mengeluh sakit bila inginkencing sejak dua hari yang lalu.
Dalam wawancara berikutnya dokter tidak memperoleh keterangan lain, maka dokter pun
memulai melakukan pemeriksaaan fisik si anak.

Pada pemeriksaan fisik dokter menemukan robekan lama selaput dara disertai dengan
erosi dan peradangan jaringan vulva sisi kanan. Dokter berkesimpulan bahwa sangat besar
kemungkinan terjadi ”persetubuhan” beberapa hari sebelumnya. Dokter pun lebih intensif
mengorek keterangan dari si anak dan si ibu. Akhirnya terungkaplah fakta bahwa si anak
telah di setubuhi oleh seorang laki – laki yang telah lama dikenal sebagai pacar si ibu. Si ibu
telah bercerai 3 tahun dengan suaminya ( ayah si anak) dan saat ini sedang menjalin
hubungan dengan laki –laki lain sebagai pacarnya. Si ibu meminta kepada dokter agar jangan
membawa kasus ini ke polisi karena ia akan malu dibuatnya. Ia berjanji untuk memutuskan
hubungan dengan si laki – laki tersebut agar kejadian serupa tidak terulang lagi. Dokter
menilai bahwa pasien perlu dikonsultasikan kepada ahlinya.

I. ASPEK HUKUM

Undang-Undang Tentang Kejahatan Seksual

Persetubuhan yang merupakan kejahatan seperti yang dimaksudkan oleh undang-


undang, dapat dilihat pada pasal-pasal yang tertera pada bab XIV KUHP, yaitu bab tentang
kejahatan terhadap kesusilaan; yang meliputi baik persetubuhan di dalam perkawinan
maupun persetubuhan di luar perkawinan.

1|EMERGENCY MEDICINE II
KUHP pasal 284

(1) Diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan:


1a. Seorang pria telah kawin yang melakukan gendak (overspel), padahal diketahui,
bahwa pasal 27 BW (Burgerlyk Wetboek) berlaku baginya.

b. Seorang wanita telah kawin yang melakukan gendak, padahal diketahui, bahwa pasal
27 BW (Burgelyk Wetboek) berlaku baginya.

2a. Seorang pria yang turut serta melakukan perbuatan itu, padahal diketahui, bahwa yang
turut bersalah telah kawin.

b. Seorang wanita tidak kawin yang turut serta melakukan perbuatan itu padal diketahui
olehnya, bahwa yang turut bersalah telah kawin dan pasal 27 BW (Burgerly Wetboek)
berlaku baginya.

(2) Tidak dilakukan penuntutan melainkan atas pengaduan suami/istri yang tercemar, dan
bilamana bagi mereka berlaku pasal 27 BW, dalam tempo tiga bulan diikuti dengan
permintaan bercerai atau pisah meja dan tempat tidur, karena alasan itu juga.

(3) Terhadap pengaduan ini tidak berlaku pasal 72, 73, dan 75.

(4) Pengaduan dapat ditarik kembali selama pemeriksaan dalam sidang pengadilan belum
dimulai.

(5) Jika bagi suami istri berlaku pasal 27 BW, pengaduan ini tidak diindahkan selama
perkawinan belum diputuskan karena perceraian atau sebelum keputusan yang
menyatakan pisah meja dan tempat tidur menjadi tetap.

BW pasal 27

Dalam waktu yang sama seorang laki hanya diperbolehkan mempunyai satu orang
perempuan sebagai istrinya, seorang perempuan hanya satu orang laki sebagai suaminya.

KUHP pasal 285

2|EMERGENCY MEDICINE II
Barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seorang wanita bersetubuh
dengan dia di luar perkawinan, diancam karena melakukan perkosaan, dengan pidana penjara
paling lama dua belas tahun.

KUHP pasal 286

Barang siapa bersetubuh dengan seorang wanita di luar perkawinan, padahal diketahui bahwa
wanita itu dalam keadaan pingsan atau tidak berdaya, diancam dengan pidana penjara paling
lama sembilan tahun.

KUHP pasal 287

(1) Barang siapa bersetubuh dengan seorang wanita di luar perkawinan, padahal diketahui
atau sepatutnya harus diduga, bahwa umurnya belum lima belas tahun, atau kalau
umurnya tidak ternyata, bahwa belum mampu dikawin, diancam dengan pidana penjara
paling lama sembilan tahun.
(2) Penuntutan hanya dilakukan atas pengaduan, kecuali jika umurnya wanita belum sampai
dua belas tahun atau jika ada salah suatu hal tersebut pasal 291 dan pasal 294.

KUHP pasal 288

(1) Barang siapa bersetubuh dengan seorang wanita di dalam perkawinan, yang diketahui
atau sepatutnya harus diduga bahwa belum mampu dikawin, diancam, apabila perbuatan
mengakibatkan luka-luka dengan pidana penjara paling lama empat tahun.
(2) Jika perbuatan mengakibatkan luka berat, dijatuhkan pidana penjara paling lama delapan
tahun.
(3) Jika mengakibatkan mati, dijatuhkan pidana penjara paling lama dua belas tahun.

KUHP pasal 289

3|EMERGENCY MEDICINE II
Barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seorang untuk melakukan
atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul, diancam karena perbuatan yang menyerang
kehormatan kesusilaan, dengan pidana pejara paling lama sembilan tahun.

KUHP pasal 290

Diancam dengan pidana paling lama tujuh tahun:

1: barang siapa melakukan perbuatan cabul, dengan seorang padahal diketahui, bahwa orang
itu pingsan atau tidak berdaya;

2: barang siapa melakukan perbuatan cabul dengan seorang padahal diketahui atau
sepatutnya harus diduga, bahwa umurnya belum lima belas tahun atau kalu umurnya tidak
ternyata, bahwa belum mampu dikawin.

3: barang siapa membujuk seorang yang diketahui atau sepatutnya harus diduga, bahwa
umurnya belum lima belas tahun atau kalu umurnya tidak ternyata, bahwa belum mampu
dikawin, untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul, atau bersetubuh
di luar perkawinan dengan orang lain.

KUHP pasal 291

(1) Jika salah satu kejahatan yang diterangkan dalam pasal 286, 287, 289, dan 290
mengakibatkan luka-luka berat, dijatuhkan pidana penjara paling lama 12 tahun.
(2) Jika salah satu kejahatan yang diterangkan dalam pasal 285, 286, 287, dan 290 itu
mengakibatkan mati, dijatuhkan pidana penjara paling lama lima belas tahun.

KUHP pasal 292

Orang yang cukup umur, yang melakukan perbuatan cabul dengan orang lain sama kelamin,
yang diketahui atau sepatutnya harus diduga, bahwa belum cukup umur, deancam dengan
pidana penjara paling lama lima tahun.

KUHP pasal 293

4|EMERGENCY MEDICINE II
(1) Barang siapa dengan memberi atau menjanjikan uang atau barang, menyalahgunakan
perbawa yang timbul dari hubungan keadaan, atau dengan menyesatkan sengaja
menggerakkan seorang belum cukup umur dan baik tingkahlakunya, untuk melakukan
atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul dengan dia, padahal tentang belum cukup
umurnya itudiketahui atau selayaknya harus diduga, diancam dengan pidana penjara lima
tahun.
(2) Penuntutan hanya dilakuan atas pngaduan orang yang terhadap dirinya dilakukan
kejahatan itu.
(3) Tenggang tersebut dalam pasal 74, bagi pengaduan ini adalah masing-masing 9 bulan dan
12 bulan.

KUHP pasal 294

Barang siapa melakukan perbuatan cabul dengan anaknya, anak tirinya, anak angkatnya, anak
di bawah pengawasannya, yang belum cukup umur, atau dengan orang yang belum cukup
umur pemeliharaannya, pendidikan atau penjagaannya diserahkan kepadanya, diancam
dengan pidana penjarapaling lama tujuh tahun:

1: pejabat yang melakukan perbuatan cabul dengan orang yang karena jabatan adalah
bawahannya, atau dengan orang yang penjagaannya dipercayakan atau diserahkan
kepadanya:

2: seorang pengurus, dokter, guru, pegawai, pengawas atau pesuruh dalam penjara, tempat
pekerjaan negara, tempat pemudikan, rumah piatu, rumah sakit, rumah sakit ingatan atau
lembaga sosial, yang melakukan perbuatan cabul dengan orang yang dimasukkan ke
dalamnya.

KUHP pasal 295

(1) Diancam:
1: dengan pidana penjara paling lama 5 tahun, barang siapa dengan sengaja
menghubungkan atau memudahkan dilakukannya perbuatan cabul oleh anaknya, anak
tirinya, anak angkatnya, atau anak di bawah pengawasannya yang belum cukup umur,
atau oleh orang yang belum cukup umur yang pemeliharaannya, pendidikan, atau

5|EMERGENCY MEDICINE II
penjagaannya diserahkan kepadanya, atau pun oleh bujangnya atau bawahannya yang
belum cukup umur, dengan orang lain;

2: dengan pidana penjara paling lama empat tahun, barang siapa dengan sengaja
menghubungkan atau memudahkan perbuatan cabul kecuali tersebut ke-1 di atas yang
dilakukan oleh orang yang diketahui belum cukup umurnya atau yang sepatutnya
harus diduga demikian, dengan orang lain.

(2) Jika yang bersalah, melakukan keahatan itu sebagai pencaharian atau kebiasaan, maka
pidana dapat ditambah sepertiga.

KUHP pasal 296

Barang siapa dengan sengaja menghubungkan atau memudahkan perbuatan cabul oleh orang
lain dengan orang lain, dan menjadikannya sebagai pencaharian atau kebiasaan, diancam
dengan pidana penjara paling lama satu tahun empat bulan, atau denda paling banyak seribu
rupiah.1-3

HUKUM PERLINDUNGAN ANAK

Dengan dasar Lex specialis derogat legi generalis, yaitu hukum yang lebih spesifik
dapat menggantikan hukum yang lebih umum, maka kasus kejahatan seksual pada anak
dibawah 12 tahun tersebut dapat tetap dilaporkan kepada polisi tanpa aduan dari korban
maupun walinya. KUHP pasal 287 di atas dapat digantikan oleh Undang – Undang RI No. 23
tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak.

Hal ini dapat kita lihat pada Pasal 17 yang berbunyi :

(1) Setiap anak yang dirampas kebebasannya berhak untuk :

a. mendapatkan perlakuan secara manusiawi dan penempatannya dipisahkan dari orang


dewasa;

b. memperoleh bantuan hukum atau bantuan lainnya secara efektif dalam setiap tahapan
upaya hukum yang berlaku; dan

6|EMERGENCY MEDICINE II
c. membela diri dan memperoleh keadilan di depan pengadilan anak yang objektif dan tidak
memihak dalam sidang tertutup untuk umum.

(2) Setiap anak yang menjadi korban atau pelaku kekerasan seksual atau yang berhadapan
dengan hukum berhak dirahasiakan.

Dan Pasal 18 yang berbunyi :

Setiap anak yang menjadi korban atau pelaku tindak pidana berhak mendapatkan bantuan
hukum dan bantuan lainnya.

Selain itu Pasal 78 juga menerangkan mengenai kewajiban setiap orang untuk melapor ke
polisi.

“Setiap orang yang mengetahui dan sengaja membiarkan anak dalam situasi darurat
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 60, anak yang berhadapan dengan hukum, anak dari
kelompok minoritas dan terisolasi, anak yang tereksploitasi secara ekonomi dan/atau seksual,
anak yang diperdagangkan, anak yang menjadi korban penyalahgunaan narkotika, alkohol,
psikotropika, dan zat adiktif lainnya (napza), anak korban penculikan, anak korban
perdagangan, atau anak korban kekerasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59, padahal
anak tersebut memerlukan pertolongan dan harus dibantu, dipidana dengan pidana penjara
paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp100.000.000,00 (seratus juta
rupiah).”

Jadi dokter harus menjelaskan kepada ibunya bahwa menurut hukum ia wajib membantu
anaknya dengan melaporkan kasus ini kepada polisi.

Selain itu pasal – pasal yang memuat ketentuan lebih rinci mengenai perlindungan anak ini
adalah :

Pasal 1

Dalam undang-undang ini yang dimaksud dengan :

7|EMERGENCY MEDICINE II
1. Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang
masih dalam kandungan.

2. Perlindungan anak adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan hak-
haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi, secara optimal sesuai
dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan
diskriminasi.

3. Perlindungan khusus adalah perlindungan yang diberikan kepada anak dalam situasi
darurat, anak yang berhadapan dengan hukum, anak dari kelompok minoritas dan terisolasi,
anak yang dieksploitasi secara ekonomi dan/atau seksual, anak yang diperdagangkan, anak
yang menjadi korban penyalahgunaan narkotika, alkohol, psikotropika, dan zat adiktif
lainnya (napza), anak korban penculikan, penjualan, perdagangan, anak korban kekerasan
baik fisik dan/atau mental, anak yang menyandang cacat, dan anak korban perlakuan salah
dan penelantaran.

Pasal 3

Perlindungan anak bertujuan untuk menjamin terpenuhinya hak-hak anak agar dapat hidup,
tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat
kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi, demi
terwujudnya anak Indonesia yang berkualitas, berakhlak mulia, dan sejahtera.

Pasal 4

Setiap anak berhak untuk dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara wajar
sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan
dan diskriminasi.

Pasal 13

(1) Setiap anak selama dalam pengasuhan orang tua, wali, atau pihak lain mana pun yang
bertanggung jawab atas pengasuhan, berhak mendapat perlindungan dari perlakuan:

8|EMERGENCY MEDICINE II
a. diskriminasi;

b. eksploitasi, baik ekonomi maupun seksual;

c. penelantaran;

d. kekejaman, kekerasan, dan penganiayaan;

e. ketidakadilan; dan

f. perlakuan salah lainnya.

(2) Dalam hal orang tua, wali atau pengasuh anak melakukan segala bentuk perlakuan
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), maka pelaku dikenakan pemberatan hukuman.

Penjelasan Pasal 13

(1)f. Perlakuan salah lainnya, misalnya tindakan pelecehan atau perbuatan tidak senonoh
kepada anak.

Pasal 81

(1) Setiap orang yang dengan sengaja melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan
memaksa anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain, dipidana dengan
pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan paling singkat 3 (tiga) tahun dan denda
paling banyak Rp 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) dan paling sedikit Rp 60.000.000,00
(enam puluh juta rupiah).

(2) Ketentuan pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berlaku pula bagi setiap orang
yang dengan sengaja melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan, atau membujuk
anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain.

Pasal 82

Setiap orang yang dengan sengaja melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan, memaksa,
melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan, atau membujuk anak untuk melakukan

9|EMERGENCY MEDICINE II
atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul, dipidana dengan pidana penjara paling lama 15
(lima belas) tahun dan paling singkat 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp
300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) dan paling sedikit Rp 60.000.000,00 (enam puluh juta
rupiah).1,4

A. PROSEDUR HUKUM

1. Hal-Hal Yang Perlu Diperhatikan Sebelum Pemeriksaan

1.1. Memiliki permintaan tertulis dari penyidik

Untuk dapat melakukan pemeriksaan yang berguna untuk peradilan, dokter harus
melakukannya berdasarkan permintaan tertulis dari penyidik yang berwenang. Korban harus
diantar oleh polisi karena tubuh korban merupakan benda bukti. Apabila korban datang
sendiri dengan membawa surat permintaan dari polisi, korban jangan diperiksa dahulu tetapi
diminta untuk kembali kepada polisi dan datang bersama polisi.5-8

Visum et Repertum dibuat hanya berdasarkan atas keadaan yang didapatkan pada
tubuh korban pada saat permintaan Visum et Repertum diterima oleh dokter. Jika dokter telah
memeriksa korban yang datang di rumah sakit, atau di tempat praktek atas inisiatif korban
sendiri tanpa permintaan polisi, lalu beberapa waktu kemudian polisi mengajukan permintaan
untuk dibuatkan Visum et Repertum, maka hasil pemeriksaan sebelumnya tidak boleh
dicantumkan dalam Visum et Repertum karena segala sesuatu yang diketahui dokter tentang
diri korban sebelum ada pemintaan untuk dibuatkan Visum et Repertum merupakan rahasia
kedokteran yang wajib disimpannya (KUHP pasal 322).5-8

Dalam hal demikian, korban harus dibawa kembali untuk diperiksa dan Visum et
Repertum dibuat berdasarkan keadaan yang ditemukan pada waktu permintaan diajukan.
Hasil pemeriksaan yang lalu tidak dicantumkan dalam bentuk Visum et Repertum, tetapi
dalam bentuk surat keterangan.5-8

1.2. Informed Consent

Sebelum memeriksa, dokter harus mendapatkan surat ijin terlebih dahulu dari pihak
korban, karena meskipun sudah ada surat permintaan dari polisi, belum tentu korban

10 | E M E R G E N C Y M E D I C I N E I I
menyetujui dilakukannya pemeriksaan atas dirinya. Selain itu, bagian yang akan diperiksa
meliputi daerah yang bersifat pribadi. Jika korban sudah dewasa dan tidak ada gangguan
jiwa, maka dia berhak memberi persetujuan, saudaranya atau pihak keluarga tidak berhak
memberikan persetujuan. Sedangkan jika korban anak kecil dan jiwanya terganggu, maka
persetujuan diberikan oleh orang tuanya atau saudara terdekatnya, atau walinya.1-3

Dalam melakukan pemeriksaan, tempat yang digunakan sebaiknya tenang dan dapat
memberikan rasa nyaman bagi korban. Oleh karena itu, perlu dibatasi jumlah orang yang
berada dalam kamar pemeriksaan, hanya dokter, perawat, korban, dan keluarga atau teman
korban apabila korban menghendakinya. Pada saat memeriksa, dokter harus didampingi oleh
seorang perawat atau bidan.1-3

1.3. Pemeriksaan sebaiknya dilakukan secepat mungkin

Korban sebaiknya tidak dibiarkan menunggu dengan perasaan was-was dan cemas di
kamar periksa. Pemeriksa harus menjelaskan terlebih dahulu tindakan-tindakan yang akan
dilakukan pada korban dan hasil pemeriksaan akan disampaikan ke pengadilan.Visum et
Repertum diselesaikan secepat mungkin agar perkara dapat cepat diselesaikan.3

II. PROSEDUR MEDIKOLEGAL

Prosedur medikolegal adalah tata cara atau prosedur penatalaksanaan dan berbagai
aspek yang berkaitan pelayanan kedokteran untuk kepentingan hukum. Secara garis besar
prosedur medikolegal mengacu kepada peraturan perundang-undangan yang berlaku di
Indonesia, dan pada beberapa bidang juga mengacu kepada sumpah dokter dan etika
kedokteran.8

Setiap pemeriksaan untuk pengadilan harus berdasarkan permintaan tertulis dari


penyidik yang berwenang. Korban harus dihantar oleh polisi karena tubuh korban merupakan
bahan bukti.1-8

Jika korban dibawa ke dokter untuk mendapatkan pertolongan medis, maka dokter
punya kewajiban untuk melaporkan kasus tersebut ke polisi atau menyuruh keluarga korban
untuk melapor ke polisi. Korban yang melapor terlebih dahulu ke polisi pada akhirnya juga

11 | E M E R G E N C Y M E D I C I N E I I
akan dibawa ke dokter untuk mendapatkan pertolongan medis sekaligus pemeriksaan forensik
untuk dibuatkan visum et repertumnya.1-8

III.1. Kewajiban Dokter Membantu Peradilan


a. Pasal 133 KUHAP
(1) “Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban baik
luka, keracunan ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang merupakan tindak
pidana, ia berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli
kedokteran kehakiman atau dokter dan atau ahli lainnya.”4
(2) “Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan
secara tertulis, yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan
luka atau pemeriksaan bedah mayat.”4
(3) “Mayat yang dikirim kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter pada rumah
sakit harus diperlakukan secara baik dengan penuh penghormatan terhadap mayat
tersebut dan diberi label yang memuat identitas mayat, dilakukan dengan diberi cap
jabatan yang dilekatkan pada ibu jari kaki atau bagian lain badan mayat.”4

b. Pasal 179 KUHAP


(1) “Setiap orang yang dimana pendapatnya sebagai ahli kedokteran kehakiman atau
dokter atau ahli lainnya wajib memberikan keterangan ahli demi keadilan.”4
(2) “Semua ketentuan tersebut di atas untuk saksi berlaku juga bagi mereka yang
memberikan keterangan ahli, dengan ketentuan bahwa mereka mengucapkan
sumpah atau janji akan memberikan keterangan yang sebaik-baiknya dan
sebenar-benarnya menurut pengetahuan dalam bidang keahliannya.”4

III.2. Hak Menolak Menjadi Saksi/Ahli


a. Pasal 120 KUHAP
(1) “Dalam hal penyidik menganggap perlu, ia dapat minta pendapat orang ahli atau
orang yang memiliki keahlian khusus.”4
(2) “Ahli tersebut mengangkat sumpah atau mengucapkan janji di muka penyidik
bahwa ia akan memberi keterangan menurut pengetahuannya yang sebaik-
baiknya kecuali bila disebabkan karena harkat serta martabat, pekerjaan atau
jabatannya yang mewajibkan ia menyimpan rahasia dapat menolak untuk
memberikan keterangan yang diminta.”4

12 | E M E R G E N C Y M E D I C I N E I I
b. Pasal 168 KUHAP
“Kecuali ditentukan lain dalam undang-undang ini, maka tidak dapat didengar
keterangannya dan dapat mengundurkan diri sebagai saksi:
(1) Keluarga sedarah atau semenda dalam garis lurus ke atas atau ke bawah sampai
derajat ketiga dari terdakwa atau yang bersama-sama sebagai terdakwa.4
(2) Saudara dari terdakwa atau yang bersama-sama sebagai terdakwa, saudara ibu
atau saudara bapak, juga mereka yang mempunyai hubungan karena perkawinan
dan anak-anak saudara terdakwa sampai derajat ketiga.4
(3) Suami atau istri terdakwa meskipun sudah bercerai atau yang bersama-sama
sebagai terdakwa.”4

c. Pasal 170 KUHAP


(1) “Mereka yang karena pekerjaan, harkat martabat atau jabatannya diwajibkan
menyimpan rahasia, dapat minta dibebaskan dari kewajiban untuk memberi
keterangan sebagai saksi, yaitu tentang hal yang dipercayakan kepada mereka.”4
(2) “Hakim menentukan sah atau tidaknya segala alasan untuk permintaan tersebut.”4

III.3. Sangsi Bagi Pelanggar Kewajiban Dokter


a. Pasal 216 KUHP
“Barang siapa dengan sengaja tidak menuruti perintah atau permintaan yang dilakukan
menurut undang-undang oleh pejabat yang tugasanya mengawasi sesuatu, atau oleh pejabat
berdasarkan tugasnya, demikian pula yang diberi kuasa untuk mengusut atau memeriksa
tindak pidana; demikian pula barang siapa dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi
atau menggagalkan tindakan guna menjalankan ketentuan,
(1) Diancam dengan pidana penjara paling lama empat bulan dua minggu atau denda
paling banyak sembilan ribu rupiah.4
(2) Disamakan dengan pejabat tersebut di atas, setiap orang yang menurut undang-
undang terus meneruus atau untuk sementara waktu diserahi tugas menjalankan
jabatan umum.4
(3) Jika pada waktu melakukan kejahatan belum lewat dua tahun sejak adanya
pemidanaan yang menjadi tetap karena kejahatan semacam itu juga, maka pidananya
dapat ditambah sepertiga.”4
b. Pasal 222 KUHP

13 | E M E R G E N C Y M E D I C I N E I I
“Barang siapa dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi atau menggagalkan
pemeriksaan mayat untuk pengadilan, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan
bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.”4

III.4. Rahasia Jabatan dan Pembuatan SKA/VetR


III.4.1. Peraturan Pemerintah no 10 tahun 1966 Tentang Wajib Simpan Rahasia
Kedokteran
- Pasal 3 PP No 10/1966
“Yang diwajibkan menyimpan rahasia yang dimaksud dalam pasal 1 ialah:
(1) Tenaga kesehatan menurut pasal 2 UU tentang tenaga kesehatan.4
(2) Mahasiswa kedokteran, murid yang bertugas dalam lapangan pemeriksaan,
pengobatan dan atau perawatan, dan orang lain yang ditetapkan oleh menteri
kesehatan.”4
III.4.2. Pasal 322 KUHP
(1) “Barang siapa dengan sengaja membuka rahasia yang wajib disimpannya karena
jabatan atau pencariannya baik yang sekarang maupun yang dahulu, diancam
dengan pidana penjara paling lama sembulan bulan atau pidana denda paling banyak
sembilan ribu rupiah.”4
(2) “Jika kejahatan dilakukan terhadap seseorang tertentu, maka perbuatan itu hanya
dapat dituntut atas pengaduan orang lain.”4
III.4.3. Pasal 49 KUHP
(1) “Tidak dipidana, barang siapa melakukan perbuatan pembelaan terpaksa untuk diri
sendiri maupun untuk orang lain, kehormatan kesusilaan atau harta benda sendiri
maupun orang lain, karena ada serangan atau ancaman serangan yang sangat dekat
pada saat itu yang melawan hokum.”4
(2) “Pembelaan terpaksa yang melampaui batas, yang langsing disebabkan
keguncangan jiwa yang hebat karena serangan atau ancaman serangan itu, tidak
dipidana.”4

III.5. Keterangan Palsu


a. Pasal 267 KUHP

14 | E M E R G E N C Y M E D I C I N E I I
(1) “Seorang dokter yang dengan sengaja memberi surat keterangan palsu tentang
ada atau tidaknya penyakit, kelemahan atau cacat, diancam dengan pidana
penjara paling lama empat bulan.”4
(2) “Jika keterangan diberikan dengan maksud untuk memasukkan seorang ke dalam
rumah sakit gila atau untuk menahannya di situ, dijatuhkan pidana penjara paling
lama delapan tahun enam bulan.”4
(3) “Diancam dengan pidana yang sama, barang siapa dengan sengaja memakai surat
keterangan palsu itu seolah-olah isinya sesuai dengan kebenaran.”4
b. Pasal 7 KODEKI
“Seorang dokter hanya memberikan keterangan atau pendapat yang dapat dibuktikan
kebenarannya.”4

PEMERIKSAAN MEDIS
Pemeriksaan kasus – kasus yang merupakan persetubuhan yang merupakan tindak pidana
hendaknya dilakukan dengan teiti dan waspada. Pemeriksa harus yakin akan semua bukti –
bukti yang ditemukannya karena berbeda dengan di klinik, ia tidak lagi mempunyai
kesempatan untuk melakukan pemeriksaan ulang guna memperoleh lebih banyak bukti.
Tetapi dalam melaksanakan kewajibannya, dokter jangan sampai meletakkan kepentingan si
korban di bawah kepentingan pemeriksaan, terutama bila si korban adalah anak – anak.
Hendaknya pemeriksaan tidak sampai menambah trauma psikis yang sudah di deritanya.4

Visum et Repertum yang dihasilkan mungkin menjadi dasar untuk membebaskan terdakwa
dari penuntutan atau sebaliknya untuk menjatuhkan hukuman. Di Indonesia pemeriksaan
korban persetubuhan yang diduga merupakan tindak kejahatan seksual umumnya dilakukan
oleh dokter ahli kebidanan dan penyakit kandungan, kecuali di tempat yang tak ada dokter
ahli demikian, dokter umumlah yang harus melakukan pemeriksaan tersebut.1

Sebagai ahli klinis yang perhatian utamanya tertuju pada kepentingan pengobatan penderita,
memang agak sukar untuk melaukan pemeriksaan yang berhubungan dengan kejahatan.
Sebaiknya korban kejahatan seksual dianggap sebagai orang yang telah mengalami cedera
fisik dan atau mental sehingga sebaiknya pemeriksaan ditangani oleh dokter klinik.
Penundaan pemeriksaan dapat memberikan hasil yang kurang memuaskan.1

15 | E M E R G E N C Y M E D I C I N E I I
Pada tindak pidana di atas perlu dibuktikan telah terjadi persetubuhan dan telah terjadi
paksaan dengan kekerasan atau dengan ancaman kekerasan. Dokter dapat menentukan
apakah persetubuhan telah terjadi atau tidak, dan apakah terdapat tanda – tanda kekerasan.
Tetapi ia tidak dapat menentukan apakah terdapat unsur paksaan dalam pidana ini.
Ditemukannya tanda kekerasan pada tubuh korban tidak selalu merupakan akibat paksaan,
mungkin juga disebabkan oleh hal lain yang tidak ada hubungannya dengan paksaan.
Demikian pula jika dokter tidak menemukan tanda kekerasan, maka hal itu belum merupakan
bukti tidak terjadi paksaan.1

Pada hakekatnya dokter tak dapat menentukan unsur paksaan yang terdapat pada tindak
pidana perkosaan, sehingga ia juga tidak mungkin menentukan apakah perkosaan telah
terjadi. Yang berwenang untuk menentukan hal tersebut adalah hakim, karena perkosaan
adalah pengertian hukum, bukan istilah medis, sehingga dokter jangan menggunakan istilah
perkosaan dalam Visum et Repertum.5

Jika terbukti bahwa si terdakwa telah sengaja membuat wanita itu pingsan atau tidak berdaya
ia dapat dituntut telah melakukan tindak pidana perkosaan karena dengan membuat wanita itu
pingsan atau tidak berdaya ia telah melakukan kekerasan. Jika umur korban belum cukup 15
tahun tetapi sudah diatas 12 tahun, penuntutan baru dilakukan bila ada pengaduan dari yang
bersangkutan. Jadi dengan keadaan itu persetubuhan tersebut merupakan delik aduan, bila
tidak ada pengaduan, tidak ada penuntutan.

Tetapi akan berbeda jika :

a. Umur korban belum cukup 12 tahun.


b. Korban yang belum cukup 15 tahun itu menderita luka berat atau mati akibat
perbuatan itu ( KUHP pasal 291 ), atau
c. Korban yang belum cukup 15 tahun itu adalah anaknya, anak tirinya, muridnya, anak
yang berada di bawah pengawasannya, bujangnya atau bawahannya ( pasal 294 ).

Dalam keadaan di atas, penuntutan dapat dilakukan walaupun tidak ada pengaduan karena
bukan lagi merupakan delik aduan.1

Anamnesis
Pada umumnya anamnesis yang diberikan oleh orang sakit dapat dipercaya, sebaliknya
anamnesis yang diperoleh dari korban tidak selalu benar. Untuk orangtua korban dan

16 | E M E R G E N C Y M E D I C I N E I I
tersangka hanya dilakukan penanyaan berkaitan dengan informed consent. Untuk lebih
lanjutnya, penyidik yang akan menanyai tersangka dan orangtua yang mengantar. Terdorong
oleh berbagai maksud atau perasaan, misalnya maksud untuk memeras, rasa dendam,
menyesal atau karena takut pada ayah atau ibu, korban mungkin mengemukakan hal-hal yang
tidak benar. Anamnesis merupakan suatu yang tidak dapat dilihat atau ditemukan oleh dokter
sehingga bukan merupakan pemeriksaan yang obyektif, sehingga seharusnya tidak
dimasukkan dalam Visum et Repertum. Anamnesis dibuat terpisah dan dilampirkan pada
Visum et Repertum dengan judul “keterangan yang diperoleh dari korban”. Dalam
mengambil anamnesis, dokter meminta pada korban untuk menceritakan segala sesuatu
tentang kejadian yang dialaminya dan sebaiknya terarah. Anamnesis terdiri dari bagian yang
bersifat umum dan khusus.1

a. Anamnesis umum
Pengumpulan data tentang umur, tanggal dan tempat lahir, status perkawinan, siklus haid,
penggunaan obat-obatan, penyakit kelamin dan penyakit kandungan serta adanya penyakit
lain : epilepsy, katalepsi, syncope. Cari tahu pula apakah pernah bersetubuh? Persetubuhan
yang terakhir? Apakah menggunakan kondom? Keluhan saat pemeriksaan?1

Penentuan umur korban amat perlu ditentukan pada pemeriksaan medis, karena hal itu
menentukan jenis delik (delik aduan atau bukan), jenis pasal yang dilanggar dan jumlah
hukuman yang dapat dijatuhkan. Dalam hal korban mengetahui secara pasti tanggal
lahirnya/umurnya, apalagi jika dikuatkan oleh bukti diri (KTP,SIM dsb) , maka umur dapat
langsung disimpulkan dari hal tersebut. Akan tetapi jika korban tak mengetahui umurnya
secara pasti maka perlu diperiksa erupsi gigi molar II dan molar III. Gigi molar II mengalami
erupsi pada usia kurang lebih 12 tahun, sedang gigi molar III pada usia 17 sampai 21 tahun.
Untuk wanita yang telah tumbuh molar IInya, perlu dilakukan foto rongent gigi. Jika
setengah sampai seluruh mahkota molar III sudah mengalami mineralisasi (terbentuk) , tapi
akarnya belum maka usianya kurang dari 15 tahun. Kriteria sudah tidaknya wanita
mengalami haid pertama atau menarche tak dapat dipakai untuk menentukan umur karena
usia menarch saat ini tidak lagi pada usia 15 tahun tetapi seringkali jauh lebih muda dari itu.6

b. Anamnesis khusus.
Hal khusus yang perlu diketahui adalah waktu kejadian; tanggal dan jam. Bila waktu antara
kejadian dan pelaporan kepada yang berwajib berselang beberapa hari atau minggu, dapat

17 | E M E R G E N C Y M E D I C I N E I I
diperkirakan bahwa peristiwa itu bukan peristiwa perkosaan, tetapi persetubuhan yang pada
dasarnya tidak disetujui oleh wanita yang bersangkutan. Karena berbagai alasan, misalnya
perempuan itu merasa tertipu, cemas akan menjadi hamil atau selang beberapa hari baru
diketahui ayah atau ibu dan karena ketakutan mengaku bahwa ia telah disetubuhi dengan
paksa. Jika korban benar telah diperkosa biasanya akan segera melapor. Tetapi saat pelaporan
yang terlambat mungkin juga disebabkan karena korban diancam untuk tidak melapor kepada
polisi. Dari data ini dokter dapat mengerti mengapa ia tidak dapat menemukan lagi
spermatozoa, atau tanda-tanda lain dari persetubuhan. Tanyakan pula di mana tempat
terjadinya. 1

Sebagai petunjuk dalam pencarian trace evidence yang berasal dari tempat kejadian, misalnya
rumput, tanah, dan sebagainya yang mungkin melekat pada pakaian atau tubuh korban.
Sebaliknya petugas pun dapat mengetahui di mana harus mencari trace evidence yang
ditinggalkan oleh korban atau pelaku. Perlu diketahui apakah korban melawan. Jika korban
melawan maka pakaian mungkin ditemukan robekan, pada tubuh korban mungkin ditemukan
tanda-tanda bekas kekerasan dan pada alat kelamin mungkin terdapat bekas perlawanan.
Kerokan kuku mungkin menunjukkan adanya sel-sel epitel kulit dan darah yang berasal dari
pemerkosa atau penyerang. Cari tahu apakah korban pingsan. Ada kemungkinan korban
menjadi pingsan karena ketakutan tetapi mungkin juga korban dibuat pingsan oleh laki-laki
pelaku dengan pemberian obat tidur atau obat bius. Tanyakan apakah terjadi penetrasi dan
ejakulasi, apakah setelah kejadian, korban mencuci, mandi dan mengganti pakaian. Tanyakan
juga mengenai pelaku, apakah ia dikenal atau tidak? Berapa orang pelaku? Usia pelaku dan
hubungan dengan korban?

PEMERIKSAAN FISIK KORBAN

Pakaian

Pakaian ditentukan helai demi helai dan dilihat apakah terdapat robekan lama atau baru
sepanjang jahitan atau melintang pada pakaian, kancing terputus akibat tatikan, bercak darah,
air mani, lumpur dan lain-lain yang mungkin berasal dari tempat kejadian.

Dicatat juga apakah pakaian rapi atau tidak, benda yang melekat dan pakaian yang
mengandung trace evidence dikirim ke laboratorium.

Pemeriksaan Tubuh

18 | E M E R G E N C Y M E D I C I N E I I
1. Dijelaskan penampilan, keadaan emosional dan tanda-tanda bekas hilang kesedaran
atau diberikan obat seperti needle marks. Pada kasus yang diduga terjadi kehilangan
kesadaran hendaklah dilakukan pemeriksaan urin dan darah.
2. Dilihat adanya atau tidak tanda-tanda kekerasan, memer atau luka lecet pada daerah
mulut, leher, pergelangan tangan, lengan, paha bagian dalam dan pinggang.
3. Dicatat perkembangan alat kelamin sekunder, pemeriksaan refleks cahaya pupil,
tinggi dan berat badan, tekanan darah, keadaan jantung dan abdomen.
4. Dilihat juga apakah terdapat trace evidence yang melekat pada tubuh korban dan
sekiranya ada, diambil dan diperlakukan seperti bahan bukti.

Pemeriksaan Khusus (Bagian Genitalia)

Pemeriksaan dilakukan dengan menggunakan speculum hanya apabila pemeriksaan


mengijinkan dan sebaiknya dilakukan oleh dokter spesialis obstetrik dan ginekologi.

1. Rambut kemaluan
- Ada atau tidaknya rambut melekat karena air mani mengering
- Rambut digunting untuk pemeriksaan laboratorium dan untuk perbandingan
dengan rambut kemaluan pria tersangka.
2. Cari bercak air mani sekitar alat kelamin, kerok dengan sisi tumpul skalpel atau swab
dengan kapas lidi dibasahi garam fisiologis
3. Vulva
- Tanda-tanda kekerasan seperti hiperemi,edema, memar dan luka lecet akibat
goresan kuku.
- Introitus vagina dilihat apakah ada tanda-tanda kekerasan.
- Bahan sampel dari vestibulum diambil untuk pemeriksaan sperma.
4. Selaput dara
- Apakah ruptur atau tidak,
- Tentukan apakah ruptur baru atau lama. Pada ruptur lama, robekan menjalar
sampai insertion disertai adanya jaringan parut di bawahnya.
- Catat lokasi ruptur dan apakah sampai insertion atau tidak.
- Ukur lingkaran orifisium dengan cara memasukkan ujung kelingking atau telunjuk
perlahan-lahan sehingga teraba selaput dara menjepit ujung jari. Ukur lingkaran
ujung jari pada batas ini. Ukuran pada seorang perawan kira-kira 2,5cm dan
lingkaran yang memungkinkan persetubuhan adalah 9cm.

19 | E M E R G E N C Y M E D I C I N E I I
- Harus ingat bahwa persetubuhan tidak selalu terjadi deflorasi.
5. Frenulum labiorum pudenda dan commisura labiorum posterior diperiksa untuk
melihat utuh atau tidak.
6. Perlu juga dilakukan pemeriksaan untuk melihat apakah ada atau tidak penyakit
kelamin.

PEMERIKSAAN PADA PRIA TERSANGKA

Pemeriksaan yang dapat dilakukan meliputi:

1. Pakaian
2. Rambut kemaluan
- Diambil sebagai bahan pembanding sekiranya terdapat rambut yang ditemukan di
kemaluan korban.
3. Bercak semen
- Dicatat apakah adanya bercak semen.
- Tidak mempunyai arti dalam pembuktian sehingga tidak perlu ditentukan
4. Darah
- Kemungkinan darah dari deflorasi.
- Dilakukan pemeriksaan golongan darah yang ditemukan.
5. Tanda bekas kekerasan
- Akibat perlawanan oleh korban
6. Pemeriksaan sel epitel vagina pada glans penis
- Untuk menentukan apakah pria baru melakukan persetubuhan.
- Dilakukan dengan menekan kaca objek pada glans penis, daerah corona atau
frenulum. Kemudian diletakkan terbalik di atas cawan berisi lugol sehingga uap
yodium mewarnai lapisan kaca objek tersebut.
- Sitoplasma sel epitel vgina akan berwarna coklat tua karena mengandungi
glikogen.
7. Dilakukan pemeriksaan secret urethra untuk menetukan apakah ada atau tidak
penyakit kelamin.

PEMERIKSAAN LABORATORIUM

Pemeriksaan cairan mani (semen) pada korban.

20 | E M E R G E N C Y M E D I C I N E I I
Untuk membuktikan adanya cairan mani, perlu dideteksi dengan pemeriksaan laboratorium
sebagai berikut :
*. Reaksi fosfatase asam
Prinsipnya adalah enzim Fosfatase asam menghidrolisis Na-α naftil fosfat; α-naftol yang
telah dibebaskan akan bereaksi dengan brentamine menghasilkan zat warnaazo yang
berwarna biru ungu. Cara pemeriksaan yaitu bahan yang dicurigai ditempelkan pada kertas
saring yang telah terlebih dahulu di basahi dengan aquades beberapa menit. Kemudian kertas
saring diangkat dan disemprot dengan reagens. Ditentukan waktu reaksi dari penyemprotan
sampai timbul warna ungu.1, 7
*. Untuk membedakan fosfatase asam dari cairan semen dan fosfatase asam dari
cairan lain menggunakan percobaan berikut :
-. Inhibisi dengan I(-) tartrat ( Sivaram )
Untukmembedakan bercak mani dari bercak lain dari bercak lain digunakan I (-) tartat yang
menghambat aktivitas enzim fosfatase asam dalam semen. 1, 7

-. Elektroforesis ( Baxter )
Serum anti mani manusia selain spesifik untuk antigen manusia juga mengandung zat anti
terhadap fosfatase asam. Pada fosfatase asam tampak pucat presipitin kea rah anoda
sedangkan fosfatase vaginal puncak presipitin ke arah katoda. Cara ini adalah satu – satunya
cara untuk menentukan dengan pasti adanya mani manusia pada keadaan azoospermia.
Dengan cara ini Baxter dapat menentukan adanya semen di dalam vagina sampai 4 hari pasca
persetubuhan. 1, 7

-. Reaksi Florence
Test ini tidak khas untuk cairan mani karena ekstrak jaringan berbagai organ, putih telur dan
serangga akan memberikan Kristal serupa. Secret vagina kadang – kadang memberikan hasil
positif. Sebaliknya bila cairan mani belum cukup berdegradasi maka hasilnya mungkin
negative. 1, 7
*. Reaksi ini dilakukan bila terdapat azoospermia dan cara lain untukmenentukan
semen tidak dapat dilakukan. 1, 7
-. Reaksi Berberio
Dasar reaksi adalah menentukanadanya spermin dalam semen. 1, 7

Pemeriksaan bercak cairan mani pada pakaian

21 | E M E R G E N C Y M E D I C I N E I I
1. Visual
Bercak mani berbatas tegas dan lebih gelap dari sekitarnya. Bercak yang sudah agak tua
berwarna kekuning – kuningan. Pada bahan sutera/nylon batasnya sering tidak jelas tetapi
selalu lebih gelap dari sekitarnya. Pada tekstil yang tidakmenyerap, bercak segar akan
menunjukkan permukaan mengkilat dan translusen, kemudian akan mongering. Dalam waktu
kira – kira 1 bulan akan berwarna kuning sampai coklat. 1, 7
2. Sinar UV
Di bawah sinar UV bercak semen menunjukkan fluoresensi putih. Hasil pemeriksaan ini
kurang memuaskan untukbercak pada sutera buatan atau nylon karena tidakmemberi
fluoresensi. Bahan makanan, urin, serbuk detergen dan secret vagina juga memberikan
fuoresensi juga. 1, 7
3. Perabaan taktil
Secara perabaan/taktil, bercak mani teraba member kesan kaku seperti kanji. Pada tekstil
yang tidakmenyerap, bila tidak teraba kaku, kita masih dapat mengenalinya karena
permukaan bercak akan teraba kasar. 1, 7

Pentuan Spermatozoa
1) Tanpa pewarnaan
Pemeriksaan ini berguna untuk melihat apakah terdapat spermatozoa yang bergerak.
motilitas spermatozoa ini palig bermakna memperkirakan saat terjadinya persetubuhan.
Umumnya disepakati bahwa dalam 2 – 3 jam setelah persetubuhan masih dapat ditemukan
spermatozoa yang bergerak di dalam vagina. Haid akan memperpanjang waktu ini menjadi 3
– 4 jam. Setelah itu spermatozoa tidak bergerak lagi dan akhirnya ekornya akan menghilang (
lisis ), sehingga harus dilakukan pemeriksaan dengan pewarnaan. 1, 7

Cara pemeriksaan : Satu tetes lender vagina diletakkan pada kaca obyek, dilihat dengan
pembesaran 500 X serta kondensor diturunkan. Perhatikan pergerakan sperma. Menurut
Voight, sperma masih bergerak kira – kira 4 jam setelah persetubuhan. Menurut Gonzales,
sperma masih bergerak 30 – 60 menit pasca persetubuhan, tetapi kadang – kadang bila
ovulasi atau terdapat secret service dapat bertahan sampai 20 jam. Menurut Nicols, sperma
masih ditemukan 5 – 6 hari pasca persetubuhan, walaupun setelah 3 hari hanya tinggal
beberapa saja. Pada orang yang mati setelah persetubuhan, sperma masih dapat ditemukan
sampai 2 minggu pasca persetubuhan, bahkan mungkin lebih lama lagi. 1, 7

22 | E M E R G E N C Y M E D I C I N E I I
Berdasarkan data di atas maka dapat disimpulkan bahwa spermatozoa masih dapat ditemukan
sampai 3 hari pasca persetubuhan, kadang – kadang sampai 6 hari pasca persetubuhan. Bila
sperma tidak ditemukan belum tentu di vagina tidak ada ejakulat mengingat kemungkinan
azoospermia atau pasca vasektomi sehinga perlu penetuan cairan mani dalam cairan vagina. 1,
7

2) Dengan pewarnaan
Dibuat sediaan apus dan difiksasi dengan melewatkan gelas sediaan apus pada nyala api.
Pulas dengan HE, Methylene Blue atau Malachite Green. Cara pewarnaan yang paling mudah
adalah malachite green. 1, 7
Cara pemeriksaan : warnai dengan larutan Malachite green 1% selama 10 – 15 menit, lalu
cuci dengan air mengalir dan setelah itu lakukan counter stain dengan larutan Eosin yellowish
1% selama 1 menit, terakhir cuci lagi dengan air mengalir. 1, 7

Keuntungan pulasan ini adalah inti sel epitel dan leukosit tidak terdiferensiasi, sel epitel
berwarna merah muda merata dan leukosit tidak terwarnai. Kepala sperma tampak merah dan
lehernya tampak merah muda, ekornya berwarna hijau. 1, 7

Penentuan golongan darah

Bila didapatkan sel darah merah dalam keadaan utuh, maka penentuan golongan darah dapat
dilakukan secara langsung seperti pada penentuan golongan darah orang hidup, yaitu dengan
meneteskan 1 tetes antiserum ke atas 1 tetes darah dan dilihat terjadinya aglutinasi. 1,7

Bila sel darah merah sudah rusak, maka penentuan darah golongan darah dapat dilakukan
dengan cara menentukan jenis agglutinin dan antigen. Antigen mempunyai sifat yang jauh
lebih stabil dibandingkan dengan aglutinin. Di antara sistem-sistem golongan darah, yang
paling lama bertahan adalah antigen dari sistem golongan darah ABO. 1,7

Penentuan jenis antigen dapat dilakukan dengan cara absorbs inhibisi, absorbs elusi, atau
aglutinasi campuran. Bila terjadi aglutinasi berarti darah mengandung antigen yang sesuai
dengan antigen sel indikator. 1,7

Pemeriksaan DNA

23 | E M E R G E N C Y M E D I C I N E I I
DNA menggunakan konsep polimorfisme. Polimorfisme adalah istilah yang digunakan untuk
menunjukkan adanya suatu bentuk yang berbeda dari suatu struktur dasar yang sama. Jika
terdapat variasi pada suatu lokus yang spesifik dalam suatu populasi, maka lokus tersebut
dikatakan bersifat polimorfik. Sifat polimorfik ini disamping menunjukkan variasi individu,
juga memberikan keuntungan karena dapat digunakan untuk membedakan satu orang dengan
orang lainnya. 1

Jenis pemeriksaan DNA :

A. Pemeriksaan DNA tanpa amplifikasi

Menggunakan metode Southern Blot dan memerlukan DNA yang relatif utuh. Pemeriksaan
lebih lama. Pemeriksaan dapat berupa :

-. Pelacak multilokus : banyak pita DNA.

-. Pelacak single lokus : dua pita/orang. 1

B. Pemeriksaan DNA dengan amplifikasi

Menggunakan metode PCR. Kemampuannya bisa memperbanyak DNA jutaan sampai


milyaran kali memungkinkan dianalisisnya sampel forensic yang jumlahnya amat minim, hal
ini penting karena banyak dari sampel forensic merupakan sampel postmortem yang tak segar
lagi. Memerlukan DNA sedikit dan tidak perlu utuh. Pemeriksaannya cenderung cepat.

Pemeriksaan terhadap N. gonorrhoea

Pemeriksaan dari secret ureter (urut dengan jari) dan dipulas dengan pewarnaan Gram.
Pemeriksaan dilakukan pada hari ke I, III, V dan VII. Jika pada pemeriksaan didapatkan N.
gonorrhoea berarti terbukti adanya kontak seksual dengan seseorang penderita, bila pada pria
tertuduh juga ditemukan N. gonorrhea, ini merupakan petunjuk yang cukup kuat. Jika
terdapat ulkus, sekret perlu diambil untuk pemeriksaan serologik dan bakteriologik. -.
Pemeriksaan kehamilan dan pemeriksaan toksikologik terhadap urin dan darah juga
dilakukan bila ada indikasi.1

24 | E M E R G E N C Y M E D I C I N E I I
INTEPRETASI HASIL

PEMBUKTIAN ADANYA PERSETUBUHAN

Persetubuhan adalah suatu peristiwa dimana terjadi penetrasi penis ke dalam vagina,
penetrasi tersebut dapat lengkap atau tidak lengkap dan dengan atau tanpa disertai ejakulasi.
Dengan demikian hasil dari upaya pembuktian persetubuhan dipengaruhi berbagai faktor,
diantaranya:

a. besarnya penis dan derajat penetrasinya


b. bentuk dan elastisitas hymen
c. ada tidaknya ejakulasi dan keadaan ejakulat itu sndiri
d. posisi persetubuhan
e. keaslian barang bukti serta waktu pemeriksaan

Dengan demikian, tidak terdapatnya robekan pada hymen, tidak dapat dipastikan bahwa pada
wanita tidak terjadi penetrasi; sebaliknya adanya robekan pada hymen hanya merupakan
adanya suatu benda (penis atau benda lain), yang masuk ke dalam vagina Apabila pada
persetubuhan tersebut disertai dengan ejakulasi dan ejakulat tersebut mengandung sperma,
maka adanya sperma di dalam liang vagina merupakan tanda pasti adanya persetubuhan.
Apabila ejakulat tidak mengandung sperma maka pembuktian adanya persetubuhan dapat
diketahui dengan melakukan pemeriksaan terhadap ejakulat tersebut. Komponen yang
terdapat di dalam ejakulat dan dapat diperiksa adalah enzim asam fosfatase, kholin, dan
spermin.

Apabila pada kejahatan seksual yang disertai dengan persetubuhan itu tidak sampai berakhir
dengan ejakulasi, dengan sendirinya pembuktian adanya persetubuhan secara kedokteran
forensik tidak mungkin dapat dilakukan secara pasti. Maksimal dokter dapat mengatakan
bahwa pada diri wanita yang diperiksanya tidak ditemukan tanda-tanda persetubuhan, yang
mencakup dua kemungkinan:

1. Memang tidak ada persetubuhan

2. Persetubuhan ada tetapi tanda-tandanya tidak dapat ditemukan.

Apabila persetubuhan telah dapat dibuktikan secara pasti, maka perkiraan saat terjadinya
persetubuhan, harus ditentukan; hal ini menyangkut masalah alibi yang sangat penting di
dalam proses penyidikan. Sperma di dalam vagina masih dapat bergerak dalam waktu 4-5

25 | E M E R G E N C Y M E D I C I N E I I
jam post-coital, sperma masih dapat ditemukan tidak bergerak sampai 24-36 jam post-coital,
dan bila wanitanya masih akan dapat ditemukan sampai 7-8 hari. Perkiraan saat terjadinya
persetubuhan juga dapat ditentukan dari proses penyembuhan dari selaput dara yang robek.
Pada umumnya penyembuhan tersebut akan tercapai dalam waktu 7-10 hari post-coital.

Hal lain yang dapat diperiksa untuk menentukan terjadinya persetubuhan adalah pemeriksaan
adanya kehamilan dan adanya penyakit kelamin. Terjadinya kehamilan jelas merupakan
tanda adanya persetubuhan, akan tetapi oleh karena waktu yang dibutuhkan untuk itu cukup
lama, dengan demikian nilai bukti ini menjadi kurang.

Terjangkitnya penyakit kelamin pada wanita hanya merupakan petunjuk bahwa wanita itu
telah mengalami persetubuhan dengan laki-laki yang menderita penyakit kelamin sejenis.
Penyakit kelamin yang masa inkubasinya singkat lebih bermakna di dalam upaya pembuktian
bila dibandingkan dengan penyakit kelamin yang masa inkubasinya lama.

Tanda-tanda persetubuhan dengan berlangsungnya waktu akan menghilang dengan


sendirinya, luka-luka akan sembuh dan mayat akan menjadi hancur. Dengan demikian
pemeriksaan sedini mungkin merupakan keharusan, bila dari pemeriksaan diharapkan hasil
yang maksimal. Pakaian korban yang telah diganti, tubuh wanita yang telah dibersihkan akan
menyulitkan pemeriksaan oleh karena keadaannya sudah tidak asli. 8

PEMBUKTIAN ADANYA KEKERASAN

Seorang dokter dapat menentukan apakah tanda-tanda kekerasan. Tetapi ia tidak dapat
menentukan apakah terdapat unsur paksaan pada tindakan ini.

Ditemukannya tanda kekerasan pada tubuh korban tidak selalu merupakan akibat paksaan,
mungkin juga disebabkan oleh hal-hal lain yang tidak ada hubungannya dengan paksaan.
Demikian pula jika dokter tidak menemukan tanda kekerasan, maka hal itu belum merupakan
bukti bahwa paksaan tidak terjadi. Oleh karena hal ini pada bagian kesimpulan suatu visum et
repertum hanya dituliskan ada tidaknya tanda-tanda kekerasan serta jenis kekerasan yang
menyebabkan.

Pada pemeriksaan perlu diperhatikan apakah korban menunjukkan tanda-tanda bekas


kehilangan kesadaran, atau tanda-tanda telah berada di bawah pengaruh alkohol, hipnotik,

26 | E M E R G E N C Y M E D I C I N E I I
narkotik. Apabila ada petunjuk bahwa alkonol, hipnotik, atau narkotik telah dipergunakan,
maka dokter perlu mengambil urin dan darah untuk pemeriksaan toksikologi.9

Gambar 1. Contoh tanda kekerasan pada kasus kejahatan seksual4

PERKIRAAN UMUR

Dokter perlu menyimpulkan apakah wajah dan bentuk badan korban sesuai dengan umur
yang dikatakannya. Keadaan perkembangan payudara dan pertumbuhan rambut kemaluan
perlu dikemukakan. Ditentukan apakah gigi geraham belakang ke-2 sudah tumbuh atau
belum;yang terjadi pada usia kira-kira 12 tahun, sedangkan gigi geraham ke- 3 akan muncul
pada usia 17-21 tahun atau lebih. Untuk wanita yang telah tumbuh gigi geraham 2-nya, perlu
dilakukan foto ronsen gigi. Jika setengah sampai seluruh mahkota geraham 3 sudah
mengalami mineralisasi (terbentuk), tapi akarnya belum maka usianya kurang dari 15 tahun.
Kriteria sudah tidaknya wanita mengalami haid pertama atau menarche tak dapat dipakai
untuk menentukan umur karena usia menarch saat ini tidak lagi pada usia 15 tahun tetapi
seringkali jauh lebih muda.

27 | E M E R G E N C Y M E D I C I N E I I
PENENTUAN SUDAH ATAU BELUM WAKTUNYA DIKAWIN

Bila pada wanita itu telah mengalami menstruasi, maka sudah waktunya untuk dikawin. Bila
seorang wanita menyatakan belum pernah menstruasi, maka penentuaan ada atau tidaknya
ovulasi masih diperlukan. Muller menganjurkan agar dilakukan observasi selama 8 minggu di
rumah sakit untuk menentukan adakah selama itu wanita tadi mendapatkan menstruasi. Untuk
menentukan apakah seorang wanita sudah pernah mengalami ovulasi atau belum, dapat
dilakukan pemeriksaan vaginal smear.

VISUM et REPERTUM

Visum et Repertum adalah keterangan yang dibuat dokter atas permintaan penyidik yang
berwenang mengenai hasil pemeriksaan medis terhadap manusia atau bagian dari tubuh
manusia, baik hidup maupun mati, atas permintaan tertulis (resmi) dan penyidik yang
berwenang (atau hakim untuk visum et repertum psikiatrik) yang dibuat atas sumpah atau
dikuatkan dengan sumpah, untuk kepentingan peradilan. Ada beberapa jenis Visum et
Repertum, yaitu:

 Visum et Repertum Perlukaan atau Keracunan


 Visum et Repertum Kejahatan Susila
 Visum et Repertum Psikiatrik
 Visum et Repertum Jenazah

Visum et repertum adalah salah satu alat bukti yang sah sebagaimana tertulis dalam pasal 184
KUHP. Visum et Repertum turut berperan dalam proses pembuktian suatu perkara pidana
terhadap kesehatan dan jiwa manusia, dimana ia menguraikan segala sesuatu tentang hasil
pemeriksaan medik yang tertuang di dalam bagian pemberitaan, yang karenanya dapat
dianggap sebagai pengganti barang bukti. Visum et repertum juga memuat keterangan atau
pendapat dokter mengenai hasil pemeriksaan medik tersebut yang tertuang di dalam bagian
kesimpulan. Dengan demikian visum et repertum secara utuh telah menjembatani ilmu
kedokteran dengan ilmu hukum sehingga dengan membaca visum et repertum, dapat
diketahui dengan jelas apa yang telah terjadi pada seseorang, dan para praktisi hukum dapat
menerapkan norma-norma hukum pada perkara pidana yang menyangkut tubuh dan jiwa
manusia.7

28 | E M E R G E N C Y M E D I C I N E I I
Ketentuan umum pembuatan visum et repertum adalah:

 Diketik di atas kertas berkepala surat instansi pemeriksa.


 Bernomor, bertanggal dan bagian kiri atasnya dicantumkan kata “Pro Justitia”.
 Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, tanpa singkatan dan tidak
menggunakan istilah asing.
 Ditandatangani dan diberi nama jelas pembuatannya serta dibubuhi stempel instansi
tersebut.1

Susunan Visum et Repertum

Ada 5 bagian visum et repertum, yaitu:

Pembukaan

Ditulis ‘pro justicia’ yang berarti demi keadilan dan ditulis di kiri atas sebagai pengganti
materai.

Pendahuluan

Bagian pendahuluan berisi:

 Identitas tempat pembuatan visum berdasarkan surat permohonan mengenai jam, tanggal,
dan tempat
 Pernyataan dokter, identitas dokter
 Identitas peminta visum
 Wilayah
 Identitas korban
 Identitas tempat perkara

Pemberitaan

Bagian Pemberitaan: Bagian ini memuat semua hasil pemeriksaan terhadap “barang bukti”
yang dituliskan secara sistematik, jelas dan dapat dimengerti oleh orang yang tidak berlatar
belakang pendidikan kedokteran. Dan terbagi tiga bagian, yaitu Pemeriksaan luar,
Pemeriksaan dalam (bedah jenazah) dan Pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan
pendukung lainnya.

Kesimpulan

29 | E M E R G E N C Y M E D I C I N E I I
Bagian kesimpulan memuat pendapat pribadi dokter tentang hubungan sebab akibat antara
apa yang dilihat dan ditemukan dokter dengan penyebabnya. Misalnya jenis luka, kualifikasi
luka, atau bila korban mati maka dokter menulis sebab kematiannya.

Penutup

Bagian penutup memuat sumpah atau janji, tanda tangan, dan nama terang dokter yang
membuat. Sumpah atau janji dokter dibuat sesuai dengan sumpah jabatan atau pekerjaan
dokter.7

CONTOH VISUM ET REPERTUM

DEPARTEMEN ILMU KEDOKTERAN FORENSIK&MEDIKOLEGAL

RUMAH SAKIT Dr. CIPTO MANGUNKUSUMO

Jl. Salemba Raya No.6, Jakarta 10430, telp:021-3106976

PROJUSTITIA Jakarta, 17 Januari 2011

VISUM ET REPERTUM

No. : 11/FKU/I/2011.

Yang bertanda tangan dibawah ini: Winda, Dokter pada Rumah Sakit Umum Pusat Nasional
Dr. Cipto Mangunkusumo, atas permintaan dari RESORT JAKARTA BARAT dengan Nomor
11/VeR/1/2011/Res tertanggal: 7 Januari tahun 2013,dengan ini menerangkan bahwa: pada tanggal
7 Januari tahun 2013 pukul 13.00 WIB, bertempat di RSUP Nasional Dr.Cipto Mangunkusumo, telah
melakukan pemeriksaan terhadap korban dengan nomor registrasi 09907668 yang menurut surat
tersebut adalah.--------------------------------------------------------------

Nama : Indah Purnama Sari--------------------------------------------------------------------------

Umur : 11 Tahun--------------------------------------------------------------------------------------

Jenis kelamin : Perempuan------------------------------------------------------------------------------------

30 | E M E R G E N C Y M E D I C I N E I I
Warga Negara : Indonesia-------------------------------------------------------------------------------------

Pekerjaan : Pelajar-----------------------------------------------------------------------------------------

Agama : islam.------------------------------------------------------------------------------------------

Alamat : Tanjung Duren Raya No.12, Jakarta Barat----------------------------------------------

HASIL PEMERIKSAAN

1. Korban datang dalam keadaan sadar, dengan keadaan umum tampak sakit ringan.--------

Korban mengaku: dua hari sebelum pemeriksaan sekitar pukul 10.00 WIB, mengeluh sakit bila
ingin kencing --------------------------

Saat ini korban merasa pusing dan didaerah kemaluannya terasa nyeri.---------

2. Pada korban ditemukan : -------------------------------------------------------------------------------

a. Pada dahi kanan terdapat lima sentimeter dari garis pertengahan depan, tiga sentimeter
diatas sudut mata, terdapat mamar warna ungu kebiruan dengan ukuran lima sentimeter
kali tiga sentimeter.----------------------------------------------------------------------------------

b. Pada pipi kanan terdapat lima sentimeter dari sudut hidung kanan, memar warna ungu
kebiruan dengan ukuran lima sentimeter kali 2 sentimeter-------------------------------------

c. Pada kemaluan terjadinya robekan selaput dara sampai ke dasar pada lokasi pukul lima
sampai tujuh.------------------------------------------------------------------------------------------

d. Pada daerah liang vagina terdapat luka lecet dua sentimeter kali dua sentimeter, pada bibir
kemaluan terdapat memar berwarna biru kehitaman dengan ukuran dua sentimeter kali
tiga sentimeter.----------------------------------------------------------------------------------

3. Terhadap korban dilakukan: membersihkan dan mengobati luka, memberikan propilaksis


tetanus dan vaksinasi. Pemberian obat pencegah Infeksi Menular Seksual, pemberian obat
pencegah kehamilan.-------------------------------------------------------------------------------------

4. Korban dirujuk pada pelayanan tingkat yang lebih tinggi.-----------------------------------------

31 | E M E R G E N C Y M E D I C I N E I I
KESIMPULAN

Pada pemeriksaan korban perempuan berusia sebelas tahun ini, ditemukan memar pada
dahi kanan dan pada daerah pipi kanan memar. Pada kemaluan terjadinya robekan selaput dara.
Pada daerah liang vagina terdapat luka lecet. Pada bibir kemaluan terdapat memar akibat kekerasan
tumpul yang dapat menimbulkan penyakit/halangan dalam melaksanakan pekerjaan atau jabatan
atau pencarian sementara-----------------------------------------------------------------------

Demikianlah visum et repertum ini dibuat dengan sebenarnya dengan menggunakan


keilmuan sebaik-baiknya, mengingat sumpah sesuai dengan Kitab Undang-undang Hukum Acara
Pidana.------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Mengetahui,

Dokter pemeriksa

ASPEK PSIKOSOSIAL

Penelitian menunjukkan bahwa kejadian kejahatan susila lebih sering dilakukan oleh pihak
yang sebelumnya saling mengenal, misalnya antara tetangga, paman dengan keponakan, atau
dengan teman yang umurnya tidak berbeda jauh. Kita tidak dapat mengatakan telah terjadi
suatu kejahatan seksual jika pelaku dan korban sama-sama berusia diatas 15 tahun, apalagi
jika dilakukan suka sama suka. Tetapi, kebanyakan pelaku dari tindakan asusila biasanya
adalah orang yang usianya lebih tua.

Tindakan ini dilakukan dapat dengan berbagai cara, misalnya pelaku langsung
mempertontonkan organ genitalnya kepada korban, atau mungkin mengajak korban
menonton video porno bersama, atau bahkan langsung menyetubuhi korban. Sedangkan
korban, biasanya mengenal pelaku dengan baik, dan pelaku sering mengiming-imingi korban
dengan sesuatu, semisal permen untuk anak yang masih kecil, atau makanan, atau minuman,
atau bahkan ancaman. Apapun tindakan itu, korban harus mendapatkan perlindungan dan
segera diterapi secara intensif yang dikenal sebagai terapi psikososial.10

Sayangnya, anak yang menjadi korban sering kali diam dan tidak ingin menceritakan
kejadian yang dialaminya. Jika korban melakukannya berdasarkan rasa suka, maka sudah
pasti korban tidak akan melaporkan kegiatan itu kepada siapapun. Tetapi lain halnya jika
korban merasa sangat menderita atas kegiatan tersebut. Korban tersebut diam bukan karena

32 | E M E R G E N C Y M E D I C I N E I I
menikmati, tetapi karena takut akan ancaman dari pelaku, dan juga rasa malu yang kelak
harus dihadapi korban seandainya ia menceritakan masalah ini kepada orang lain, termasuk
kepada orang tua.

Di saat seperti ini, peran orang tua sangat dibutuhkan untuk membangun kembali mental anak
yang terpuruk. Jika anak tidak menginginkan aktivitas seksual tersebut, maka perilaku anak
dapat berubah total, misalnya menjadi lebih pendiam, sering melamun, takut untuk bertemu
dengan orang dewasa, dan sering bermimpi buruk pada malam hari. Orang tua harus
membujuk sang anak, dan dapat mengatakan bahwa tekanan yang diberikan oleh pelaku
bukanlah sebuah hal yang buruk, sehingga anak mau menceritakan masalahnya. Hal yang
terbaik untuk menghindarkan anak dari pelaku kejahatan susila adalah dengan memberikan
nasihat yang pas dan mudah dimengerti oleh anak tersebut sesuai dengan usianya. Untuk
anak seperti pada kasus diatas, karena usianya membuat sang anak sudah mulai dapat diajak
berdiskusi, orang tua tidak perlu menutupi apa itu hubungan seksual, dan sudah dapat
memberitahu akibat dari perkosaan, penyakit akibat hubungan kelamin, dan kehamilan yang
tidak diinginkan karena mencoba-coba melakukan hubungan seksual dengan pasangan.

Nasihat tersebut tidak dapat melindungi anak-anak 100% terbebas dari tindakan kejahatan
susila, karena sampai kapanpun tindakan kejahatan tersebut tidak akan pernah hilang. Tetapi,
dengan membekali anak dengan nasihat-nasihat tersebut, para orang tua berharap agar anak-
anak mereka dapat terbebas dari bahaya tersebut, karena sekali saja kejahatan tersebut
menimpa sang anak, maka trauma psikologis yang dihasilkan dapat menghantuinya terus
menerus hingga dewasa dan dapat mempengaruhi kehidupannya. 8,9

Aspek Psikososial Tatalaksana

-. Problem perilaku dan emosi pada anak Pendampingan psikologis sesuai usia anak,
(ketakutan, agresif, depresi) bisa juga dirujuk ke Psikiater,

Problem keluarga (Orang tua yang terlalu Intervensi keluarga, amankan anak, rujuk ke
menekan dan mengintimidasi) LPA.

Problem sosial (malu, tidak mau Pendampingan psikologis sesuai usia anak,
bersosialisasi) bisa juga dirujuk ke Psikiater,

Tabel 2. Aspek psikososial yang dapat timbul dan penatalaksanaannya8

33 | E M E R G E N C Y M E D I C I N E I I
PERANAN LSM

Lembaga Swadaya Masyarakat (disingkat LSM) adalah sebuah organisasi yang didirikan oleh
perorangan ataupun sekelompok orang yang secara sukarela yang memberikan pelayanan
kepada masyarakat umum tanpa bertujuan untuk memperoleh keuntungan dari kegiatannya.
Organisasi ini dalam terjemahan harfiahnya dari Bahasa Inggris dikenal juga sebagai
Organisasi non pemerintah (disingkat ornop atau ONP). Organisasi tersebut bukan menjadi
bagian dari pemerintah, birokrasi ataupun negara.Maka secara garis besar organisasi non
pemerintah dapat di lihat dengan ciri sbb : 9

 Organisasi ini bukan bagian dari pemerintah, birokrasi ataupun negara

 Dalam melakukan kegiatan tidak bertujuan untuk memperoleh keuntungan (nirlaba)

 Kegiatan dilakukan untuk kepentingan masyarakat umum, tidak hanya untuk kepentingan
para anggota seperti yang di lakukan koperasi ataupun organisasi profesi

Berdasarkan Undang-undang No.16 tahun 2001 tentang Yayasan, maka secara umum
organisasi non pemerintah di indonesia berbentuk yayasan.

PERAN LSM DALAM PENANGAN MASALAH KEJAHATAN SEKSUAL

KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia)

Peran (Pasal 76) :Melakukan sosialisasi Perundangan, mengumpulkan data dan informasi,
menerima pengaduan masyarakat, melakukan penelaahan, pemantauan, evaluasi dan
pengawasan terhadap penyelenggaraan perlindungan anak.Memberikan laporan, saran,
masukan dan pertimbangan kepada presiden dalam rangka perlindungan anak.

KOMNAS ( Komisi Nasional Perlindungan Anak)

Prinsip organisasi :Memiliki prinsip sebagai organisasi yang independen dan memegang
teguh prinsip pertanggungjawaban publik serta mengedepankan peluang dan kesempatan
pada anak dan partisipasi anak serta menghargai dan memihak pada prinsip dasar anak.
Menjamin hak anak untuk menyatakan pendapatnya secara bebas dalam semua hal yang
menyangkut dirinya dan pandangan anak selalu dipertimbangkan sesuai kematangan anak.
Secara khusus akan mengupayakan dan membela hak untuk berpartisipasi dan didengar
pendapatnya dalam setiap kegiatan, proses peradilan dan administrasi yang mempengaruhi
hidup anak.

34 | E M E R G E N C Y M E D I C I N E I I
Komisi Nasional Perlindungan Anak memiliki peran :

1. Pemantauan dan Pengembangan Perlindungan Anak


2. Advokasi dan Pendampingan pelaksanaan Hak-Hak Anak
3. Kajian strategis terhadap berbagai kebijakan yang menyangkut Kepentingan Terbaik
Anak
4. Kordinasi antar Lembaga, baik tingkat Regional, Nasional maupun Internasional

Komisi Nasional Perlindungan Anak memiliki fungsi :

1. Melakukan pengumpulan data, informasi dan investigasi terhadap pelanggaran hak-


hak anak di Indonesia.
2. Melakukan kajian hukum dan Kebijakan Regional dan Nasional yang tidak memihak
pada kepentingan terbaik anak.
3. Memberikan penilaian dan pendapat kepada pemerintah dalam rangka
mengintegrasikan hak-hak anak dalam setiap kebijakan.
4. Memberikan pendapat dan laporan independen tentang hukum dan kebijakan
berkaitan dengan anak.
5. Menyebarluaskan, publikasi dan sosialisasi informasi tentang hak-hak anak dan
situasi anak di Indonesia.
6. Menyampaikan pendapat dan usulan tentang pemantauan, (pemajuan atau kemajuan),
dan perlindungan hak-hak anak kepada parlemen, pemerintah dan lembaga terkait.
7. Mempunyai mandat untuk membuat laporan alternative kemajuan perlindungan anak
di tingkat nasional.
8. Melakukan perlindungan khusus.

35 | E M E R G E N C Y M E D I C I N E I I
PENUTUP
KESIMPULAN
Persetubuhan adalah suatu peristiwa di mana alat kelamin laki-laki masuk ke dalam
alat kelamin perempuan, sebagian atau seluruhnya dan dengan atau tanpa terjadinya pancaran
air mani.
Dengan demikian, besarnya zakar dengan ketegangannya, sampai seberapa jauh zakar
masuk, ke dalam selaput dara serta posisi persetubuhan mempengaruhi hasil pemeriksaan.
Jika zakar masuk seluruhnya dan keadaan selaput dara masih cukup baik, maka pada
pemeriksaan dapat diharapkan adanya robekan pada selaput dara. Jika selaput daranya elastic
tentu tidak aka nada robekan. Adanya robekan pada selaput dara hanya akan menunjukkan
adanya benda (padat/kenyal) yang masuk, dengan demikian bukan merupakan tanda pasti
dari adanya persetubuhan.
Adanya pancaran air mani (ejakulasi), pada pemeriksaan diharapkan dapat ditemukan
sel mani/sperma. Adanya sperma di dalam liang senggama (vagina) merupakan tanda pasti
akan adanya persetubuhan. Pemeriksaan ditujukan pada penentuan adanya zat-zat tertentu
dalam air mani, seperti asam fosfatase, spermin dan kholin; yang tentunya nilai pembuktian
adanya persetubuhan lebih rendah oleh karena tidak mempunyai nilai deskriptif yang mutlak
atau tidak khas.
Bila ditemukan sperma dalam vagina korban berarti terbukti telah terjadi
persetubuhan, dan jika ada pengaduan dari pihak korban, maka laki-laki yang membawa telah
“membawa lari” anak perempuan tersebut, maka ia dapat dikenakan tindak pidana
persetubuhan dengan perempuan yang belum cukup umur.

36 | E M E R G E N C Y M E D I C I N E I I
DAFTAR PUSTAKA

1. Wibisana W, Mun’im TWA, dkk. Pemeriksaan Medik pada Kasus Kejahatan Seksual.
Ilmu Kedokteran Forensik. Ed 1, Cetakan ke-2. Bagian Kedokteran Forensik FKUI.
1997:147-58.
2. Idries, A.M., Tjiptomartono, A.L. Penerapan Ilmu Kedokteran Forensik Dalam Proses
Penyidikan. Jakarta : Sagung Seto; 2008: h. 113-32.
3. Atmadja S, Djaja. Pemeriksaan Forensik pada Kasus Perkosaan dan Delik Aduan
Lainnya. Diunduh dari http://reproduksiumj.blogspot.com 2017
4. Staf pengajar bagian kedokteran forensik. Prosedur medikolegal. Peraturan
Perundang-undangan Bidang Kedokteran. Cetakan ke-2. Penerbit Bagian Kedokteran
Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 1994:11-25.
5. Sampurna, B, Syamsu Z, Siswaja TD. “Bioetik dan Hukum Kedokteran”. Cetakan
kedua. Jakarta. 2007.
6. Staf pengajar bagian kedokteran forensik FKUI. Visum et Repertum. Teknik Autopsi
Forensik. Cetakan ke-4. Penerbit Bagian Kedokteran Forensik FKUI. 2000:72-81.
7. Mansjoer, Arief [et al.]. Ilmu Kedokteran Forensik - Visum et Repertum. Kapita
Selekta Kedokteran. Ed 3, Vol 2, cetakan ke-8. Media Aesculapius FKUI. 2009:171-
81.
8. Medikolegal. Diunduh dari http://www.scribd.com/doc/17330455/MEDIKOLEGAL,
02 januari 2018.
9. Pelecehan Seksual pada Anak. Diunduh dari www.scribd.com, pada tanggal 02
Januari 2018.

10. Psikososial. Di unduh dari www.library.usu.co.id . 2 Januari 2018.

37 | E M E R G E N C Y M E D I C I N E I I