Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN KASUS

SEORANG LAKI-LAKI DEWASA DENGAN CHF

Disusun oleh :
dr. Anizatun Nuskiyati

Pembimbing :
dr. Eddy Susatyo, Sp.PD
dr. Swastika Juni Suryandari

PROGRAM INTERNSHIP DOKTER INDONESIA


PERIODE 21 NOVEMBER 2017- 21 NOVEMBER 2018
RSUD DR. R. SOETRASNO REMBANG

1
HALAMAN PENGESAHAN

Nama : dr. Anizatun Nuskiyati


Judul : Laporan Kasus Seorang Laki-laki Dewasa dengan CHF
Bagian : Program Internship Dokter Indonesia
Pembimbing : dr. Eddy Susatyo, Sp.PD
dr. Swastika Juni Suryandari

Rembang, Maret 2018


Pembimbing Pembimbing

dr. Eddy Susatyo, Sp.PD dr. Swastika Juni S

Penulis

dr. Anizatun Nuskiyati

2
BAB I
LAPORAN KASUS

A. IDENTITAS PENDERITA
Nama : Tn S
Umur : 52 Th.
Jenis kelamin : Laki-laki
Alamat : Sumberagung 2/1 Pancur Rembang
Agama : Islam
Ruang : HND
No. CM : 195587
Tanggal Masuk : 28 Februari 2018

B. DATA DASAR
1. Anamnesis (Alloanamnesis)
Autoanamnesi sdengan penderita tanggal 1 Maret 2018 pukul 12.00 WIB.
Keluhan Utama : Sesak
a. Riwayat Penyakit Sekarang :
± 1 tahun SMRS os mengeluh sesak napas, sesak dipengaruhi
aktifitas bila berjalan ± 50 m, sesak tidak dipengaruhi posisi dan cuaca.
Nyeri dada (-), dada berdebar-debar (+) timbul bersamaan dengan
sesak napas setelah beraktifitas, batuk (-), dahak (-), demam (-), mual
(-), muntah (-), BAB dan BAK tidak ada keluhan.
± 3 bulan SMRS os mengeluh sesak napas ketika beraktifitas
berjalan jauh ± 10 meter, sesak berkurang bila os istirahat, os juga
sering terbangun di malam hari karena sesak dan sesak berkurang
bila os duduk, sesak dipengaruhi cuaca (-), batuk (-), dahak (-), demam
(-). Os juga mengeluh kedua kakinya bengkak, mual (-), muntah (-),
nyeri ulu hati (-), sembab pada kelopak mata di pagi hari (-), BAB dan
BAK tidak ada keluhan.

3
± 2 hari SMRS os mengeluh sesak napas hebat, sesak dipengaruhi
posisi (os lebih nyaman jika duduk), sesak tidak dipengaruhi
aktifitas dan cuaca. Batuk (-), dahak (-) demam (-). Os juga mengeluh
kedua kakinya bengkak, mual (-), muntah (-), nyeri ulu hati (-), sembab
pada mata (-), BAB dan BAK tidak ada keluhan. Kemudian os berobat ke
PKM Pamotan lalu di rujuk ke RSUD dr.Soetrasno Rembang.
b. Riwayat Penyakit Dahulu :
 Riwayat sakit yang sama : (-)
 Riwayat penyakit jantung : (-)
 Riwayat Sakit Ginjal : (-)
 Riwayat Hipertensi : (+)
 Riwayat Kencing Manis : (-)
 Riwayat pengobatan batuk lama : (-)
 Riwayat Asma : (-)
 Riwayat Cuci darah : (-)
 Riwayat merokok : (+)

c. Riwayat Penyakit Keluarga :


 Riwayat Penyakit Jantung : (-)
 Riwayat Hipertensi : (-)
 Riwayat DM : (-)
 Riwayat sakit Ginjal : (-)

d. Riwayat Sosial Ekonomi


Penderita adalah tulang ngarit. Sebelum sakit pasien bekerja sebagai
pegawai toko. Biaya kesehatan pasien di tanggung oleh BPJS PBI
Kesan sosial ekonomi : kurang .
e. Riwayat Pengobatan
Penderita memiliki riwayat hipertensi dan jarang sekali memeriksakan
dirinya ke dokter ataupun ke rumah sakit, dan berobatnya pun tidak rutin.
f. Riwayat Gizi
Berat Badan : ± 58 kg
Tinggi badan : ±160 cm
Usia : 52 tahun

4
BMI : 22.56 Kg/M2

2. Pemeriksaan Fisik
Tanggal 1 Maret pukul 12.00 WIB (di HND RSUD Rembang)
Status Present
Jenis kelamin : Laki-laki
Usia : 52 tahun
Keadaan umum : Lemah
Kesadaran : Compos Mentis, GCS M : 6 E :4 V : 5
Tanda vital : TD : 150/90 mmHg
HR = 81 x/menit, reguler, isi dan tegangan cukup.
: RR = 29 x/menit, reguler
: Suhu = 37 C (aksila)
: SPO2 : 100%

A. Pemeriksaan khusus
a. Kesan umum
- Rambut : Warna hitam, agak lurus, tidak mudah rontok
- Kulit : Warna sawo matang, lembab, turgor kulit
normal
b. Mata
- Bola mata : tidak terdapat eksoftalmus
- Konjungtiva : anemia -/-, perdarahan -/-
- Sklera : icterus -/-
- Palpebra : oedema -/-
- Pupil : isokor 3 mm/ 3mm, reflek cahaya langsung
dan tak langsung +/+
- Lensa : katarak -/-
c. Telinga
- Bentuk : Normal
- Lubang : Normal

5
- Discharge : Tidak ada
- Tanda Radang : Tidak ada
d. Hidung
- Pernafasan cuping hidung (-)
- Tidak tampak adanya sekret atau perdarahan
- Tidak ada tanda-tanda Sianosis.
e. Mulut
- Bibir : tidak ada kelainan kongenital, sianosis (-),
oedem (-), kering (+)
- Lidah : ukuran normal, tidak kotor, tidak tremor
- Gigi : tidak ada yang goyang, karies (-)
- Mukosa : hiperemi (-)
f. Leher
- Deviasi trakea : tidak ada
- Kaku kuduk : tidak ada
- Tiroid : tidak ada pembesaran
- JVP : ada peningkatan JVP (5+2) cm H2O,
- KGB : tidak ada pembesaran
g. Thorak
- PULMO
- Pulmo anterior
o Inspeksi : simetris, ketertinggalan gerak (-/-),
nafas teratur dan retraksi (-/-), pergerakan otot bantu
pernafasan (-/-), terdapat luka (-/-)
o Palpasi : nyeri tekan (-), gerakan dada simetris,
tidak ada ketertinggalan gerak, luka (-/-), krepitasi (-/-)
o Perkusi : hemithorax dextra et sinistra sonor
o Auskultasi : vesikuler +/+, Rhonki basah halus +/
+ pada kedua basal paru , Wheezing -/-
 Pulmo posterior
o Inspeksi : nafas teratur dan pergerakan simetris
o Palpasi : gerakan simetris, krepitasi -/-

6
o Perkusi : sonor +/+
o Auskultasi : vesikuler +/+, Rbh +/+ pada kedua
basal paru, wheezing -/-
- COR :
- Inspeksi : Iktus cordis tampak
- Palpasi : Iktus cordis teraba, tidak kuat angkat, thrill
di ICS 3,4,5 (-), pulsus epigastrik (-), pulsus sternalift (-)
- Perkusi :
- Batas-batas jantung
- Kanan bawah : ICS 5 linea sternalis dextra

- Kiri bawah : ICS 5 linea midclavicularis


sinistra 2 cm ke medial
- Pinggang : ICS 3 linea parasternalis
- Atas : ICS 2 linea sternalis sinistra
- Auskultasi : bising jantung I-II regular, S3 (-), S4
(-)

h. Abdomen
- Inspeksi : Datar
- Auskultasi : bising usus (+) normal
- Palpasi : Hepar ukuran normal, lien ukuran normal,
supel (+)
o Perkusi : Hipertimpani, shifting dullness (-), acites (-),
pekak sisi (-), pekak alih (-)
i. Ekstremitas :
- Superior : Akral dingin -/-, Oedema -/-, capillary refill
<2 detik
- Inferior : Akral dingin -/-, Oedema +/+, capillary refill
<2 detik, deformitas(-/-), sianosis (-/-).

Superior Inferior
Sianosis -/- -/-
Akral dingin -/- -/-

7
Oedem -/- +/+
Capillary refill < 2″ < 2″
ADP Kuat +/+

LABORAT (28 FEBRUARI 2018)


HEMATOLOGY HASIL KETERANGAN
Hb 14,5
Leukosit 6,74
Eritrosit 4,9
Hematokrit 45,3
Trombosit 220
MCV 92,4
MCH 29,6
MCHC 32
RDW 17 H
MPV 11,2 H
LIMFOSIT % 18,2 L
MONOSIT % 13,6 H
EOSINOFIL % 5,7 H
BASOFIL % 0,3
NEUTROFIL SG % 62,2
KIMIA KLINIK
GDS 90
Natrium 138,3
Kalium 3,98
Chlorida 101,6
Ureum 25
Kreatinin 0,96

Ro Thorax

8
Kesimpulan : Kardiomegali (LV), Gambaran Kongestif Pulmonum, Efusi
Pleura Dupleks
EKG

1. Frekuensi : 100 x/min

9
2. Irama : sinus
3. Zona transisi : -
4. Axis : extrime right axis deviation
5. PR interval : 0,16 ms
6. Gel P :
7. P pulmonal P mitral lead II V1 =tinggi 3 mm, interval = 0,12ms
8. Defleksi terminal V1 negatif lebar : 0,04 ms dalam 1 mm
9. Gel QRS : poor R wave Progession
10. Segmen ST : elevasi : -
11. Depresi :-
12. Lead extremitas : Low Voltage
13. Kesimpulan :
 Biatrial Enlargment
 Poor R wave Progession
 Oedem Extremitas

B. DAFTAR MASALAH
a. Anamnesis :
a) ± 1 tahun SMRS os mengeluh sesak napas, sesak dipengaruhi aktifitas bila
berjalan ± 50 m, dada berdebar-debar (+) timbul bersamaan dengan sesak
napas setelah beraktifitas.
b) ± 3 bulan SMRS os mengeluh sesak napas ketika beraktifitas berjalan jauh ±
10 meter, sesak berkurang bila os istirahat, os juga sering terbangun di
malam hari karena sesak dan sesak berkurang bila os duduk, Os juga
mengeluh kedua kakinya bengkak.
c) ± 2 hari SMRS os mengeluh sesak napas hebat, sesak dipengaruhi posisi (os
lebih nyaman jika duduk), sesak tidak dipengaruhi aktifitas Os juga
mengeluh kedua kakinya bengkak
b. Pemeriksaan fisik :
a) Bibir kering
b) ada peningkatan JVP (5+2) cm H2O
c) vesikuler +/+, Rhonki basah halus +/+ pada kedua basal paru
d) Iktus cordis tampak
e) Iktus cordis teraba, tidak kuat angkat
f) Kiri bawah: ICS 5 linea midclavicularis sinistra 2 cm ke medial
g) Oedem ektremitas bawah +/+

10
C. DIAGNOSA BANDING
 CHF
 CKD
 Pneumonia

D. DIAGNOSA
1. CHF ec HHD
2. Efusi Pleura dupleks ec CHF

E. PENATALAKSANAAN
1. Non Farmakologik :
a. Istirahat ½ duduk
b. Diet Jantung II
c. O2 3 L/menit
d. Kateter urin
2. Farmakologik :
a. IVFD RL 10 tpm
b. Inj. Furosemid 1x40mg
c. Omeprazol 2x1
d. Spironolacton 25mg 1x1
e. Bisoprolol 2,5mg 1x1
f. Vitamin Bc 3x1
3. Edukasi : Edukasi diberikan kepada istri dan pasien
a. Kurangi aktifitas fisik
b. Menghindari stress
c. Minum obat teratur
d. Istirahat cukup dengan posisi ½ duduk.
4. Monitor : KU, TTV, Sesak, Urine, dan tanda2 bahaya lainnya.
F. USULAN PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Echocardiograhy
2. Kimia klinik : Kolesterol total, kolesterol HDL, kolesterol LDL, trigliserida,
protein total, albumin, globulin, Na, K.

11
G. PROGNOSA
Qua ad vitam : dubia
Qua ad sanam : dubia ad malam
Qua ad fungsionam : dubia ad malam
FOLLOW UP
2 Maret 2018
S : Sesak napas
O : Keadaan Umum
Sensorium Compos Mentis
Tekanan Darah 140/80 mmHg
Nadi 98 x/m reguler
Frekuensi Pernapasan 26 x / m
Temperatur 36.8ºC

Keadaan Spesifik
Kepala Palpebra conjungtiva pucat (-), Sklera ikterik
(-)
Leher
JVP (5+2) cm H2O, Pembesaran KGB (-)
Thorax
Cor :
HR : 98x/m reguler, M (-), G(-)
Pulmo :
Vesikuler (+) normal, Ronkhi Basah Halus (+)
di kedua basal paru, Wheezing (-)

Abdomen
Datar, Shifting dullness (-), hepar dan lien sulit
dbn, Nyeri tekan (-), Bising usus (+) normal

Ekstremitas
Edema (+) minimal
A : CHF e.c HHD + Hipertensi stage I

12
Efusi pleura
P : - Istirahat ½ duduk
- O2 3L/menit
- Diet Jantung II
- IVFD RL 10 tpm
- Inj. Furosemid
1x40mg
- Omeprazol 2x1
- Spironolacton
25mg 1x1
- Bisoprolol 2,5mg
1x1
- Vitamin Bc 3x1
- Nebulizer :
pulmicort + ventolin/8jam

3 Maret 2018
S : Sesak napas
O : Keadaan Umum
Sensorium Compos Mentis
Tekanan Darah 130/80 mmHg
Nadi 86 x/m reguler
Frekuensi Pernapasan 28x / m
Temperatur 36.6ºC

Keadaan Spesifik
Kepala Palpebra conjungtiva pucat (-), Sklera ikterik
Leher (-)
Thorax JVP (5+2) cm H2O, Pembesaran KGB (-)
Cor :
HR : 86x/m reguler, M (-), G(-)
Pulmo :
Vesikuler (+) normal, Ronkhi Basah Halus (+)

13
di kedua basal paru, Wheezing (-)

Abdomen
Datar, Shifting dullness (-), hepar dan lien sulit
dbn, Nyeri tekan (-), Bising usus (+) normal
Ekstremitas
Edema (+) minimal
A : CHF e.c HHD + Hipertensi stage I
P : - Istirahat ½ duduk
- O2 3L/menit
- Diet Jantung II
- IVFD RL 10 tpm
- Inj. Furosemid
1x40mg
- Omeprazol 2x1
- Spironolacton
25mg 1x1
- Bisoprolol 2,5mg
1x1
- Vitamin Bc 3x1
- Nebulizer : pulmicort + ventolin/8jam

4 Maret 2012
S : Sesak napas berkurang
O : Keadaan Umum
Sensorium Compos Mentis
Tekanan Darah 120/80 mmHg
Nadi 80 x/m reguler
Frekuensi Pernapasan 26x /m
Temperatur 36.6ºC

Keadaan Spesifik
Kepala Palpebra conjungtiva pucat (-), Sklera ikterik

14
(-)
Leher
Thorax JVP (5+2) cm H2O, Pembesaran KGB (-)
Cor :
HR : 80x/m reguler, M(-), G(-)
Pulmo :
Vesikuler (+) normal, Ronkhi Basah Halus (+)
di kedua basal paru, Wheezing (-)

Abdomen
Datar, Shifting dullness (-), hepar dan lien sulit
dbn, Nyeri tekan (-), Bising usus (+) normal
Ekstremitas
Edema (+) minimal
A : CHF e.c HHD
P : - Istirahat ½ duduk
- O2 3L/menit
- Diet Jantung II
- IVFD RL 10 tpm
- Inj. Furosemid
1x40mg
- Omeprazol 2x1
- Spironolacton
25mg 1x1
- Bisoprolol 2,5mg
1x1
- Vitamin Bc 3x1
- Nebulizer : pulmicort + ventolin/12jam

5 Maret 2018
S : Sesak napas (-)
O : Keadaan Umum
Sensorium Compos Mentis

15
Tekanan Darah 108/70 mmHg
Nadi 84 x/m reguler
Frekuensi Pernapasan 24 x/m
Temperatur 36.6ºC

Keadaan Spesifik
Kepala Palpebra conjungtiva pucat (-), Sklera ikterik
(-)
Leher
Thorax JVP (5+2) cm H2O, Pembesaran KGB (-)
Cor :
HR : 84x/m reguler, M (-), G(-)
Pulmo :
Vesikuler (+) normal, Ronkhi Basah Halus (+)
di kedua basal paru, Wheezing (-)

Abdomen
Datar, Shifting dullness (-), hepar dan lien sulit
dbn, Nyeri tekan (-), Bising usus (+) normal
Ekstremitas

Edema (+) minimal


A : CHF e.c HHD
Edema perbaikan
P : - Istirahat ½ duduk
- O2 3L/menit
- Diet Jantung II
- IVFD RL 10 tpm
- Inj. Furosemid
1x40mg
- Omeprazol 2x1
- Spironolacton
25mg 1x1

16
- Bisoprolol 2,5mg
1x1
- Vitamin Bc 3x1

17
BAB II
PEMBAHASAN
CONGESTIVE HEART FAILURE

1. DEFINISI GAGAL JANTUNG

Gagal jantung adalah kumpulan gejala yang kompleks dimana seorang pasien
harus memiliki tampilan berupa: Gejala gagal jantung (nafas pendek yang tipikal saat
istrahat atau saat melakukan aktifitas disertai / tidak kelelahan); tanda retensi cairan
(kongesti paru atau edema pergelangan kaki); adanya bukti objektif dari gangguan
struktur atau fungsi jantung saat istrahat (Tabel 1 dan 2).

Disadur dari ESC Guidelines for the diagnosis and treatment of acute and chronic heart failure
20081

2. ETIOLOGI
3. MANIFESTASI KLINIS GAGAL JANTUNG
Disadur dari ESC Guidelines for the diagnosis and treatment of acute and chronic heart failure
20122
4. KLASIFIKASI GAGAL JANTUNG
Disadur dari ESC Guidelines for the diagnosis and treatment of acute and chronic heart failure
20081

Istilah tambahan

Gagal jantung sering juga diklasifikasikan sebagai gagal jantung dengan penurunan fungsi sistolik
(fraksi ejeksi) atau dengan gangguan fungsi diastolik (fungsi sistolik atau fraksi ejeksi normal),
yang selanjutnya akan disebut sebagai Heart Failure with Preserved Ejection Fraction (HFPEF).
Selain itu, myocardial remodeling juga akan berlanjut dan menimbulkan sindroma klinis gagal
jantung.
5. ALGORITMA DIAGNOSIS GAGAL JANTUNG

6. PEMERIKSAAN PENUNJANG

1. Elektrokardiogram (EKG)
2. Foto Toraks

3. Pemeriksaan Laboratorium

Pemeriksaan laboratorium rutin pada pasien diduga gagal jantung adalah darah perifer lengkap
(hemo-globin, leukosit, trombosit), elektrolit, kreatinin, laju filtrasi glomerulus (GFR),
glukosa, tes fungsi hati dan urinalisis. Pemeriksaan tambahan laindipertimbangkan sesuai
tampilan klinis.
4. Peptida Natriuretik
5. Troponin I atau T

Pemeriksaan troponin dilakukan pada penderita gagal jantung jika gambaran klinisnya disertai
dugaan sindroma koroner akut.
6. Ekokardiografi

Istilah ekokardiograf digunakan untuk semua teknik pencitraan ultrasound jantung termasuk
pulsed and continuous wave Doppler, colour Doppler dan tissue Doppler imaging (TDI).
Konfirmasi diagnosis gagal jantung dan/atau disfungsi jantung dengan pemeriksaan
ekokardiografi adalah keharusan dan dilakukan secepatnya pada pasien dengan dugaan gagal
jantung. Pengukuran fungsi ventrikel untuk membedakan antara pasien disfungsi sistolik
dengan pasien dengan fungsi sistolik normal adalah fraksi ejeksi ventrikel kiri (normal > 45 -
50%).

Diagnosis gagal jantung dengan fraksi ejeksi normal (HFPEF/ heart failure with preserved
ejection fraction)

Ekokardiografi mempunyai peran penting dalam mendiagnosis gagal jantung dengan fraksi ejeksi
normal. Diagnosis harus memenuhi tiga kriteria:

1. Terdapat tanda dan/atau gejala gagal jantung


2. Fungsi sistolik ventrikel kiri normal atau hanya sedikit terganggu (fraksi ejeksi > 45 - 50%)
3. Terdapat bukti disfungsi diastolik (relaksasi ventrikel kiri abnormal / kekakuan diastol

7. TERAPI NON FARMAKOLOGI

1. Ketaatan pasien berobat

2. Pemantauan berat badan mandiri

3. Asupan cairan
Restriksi cairan 1,5 - 2 Liter/hari dipertimbangkan terutama pada pasien dengan gejala berat
yang disertai hiponatremia. Restriksi cairan rutin pada semua pasien dengan gejala ringan
sampai sedang tidak memberikan keuntungan klinis (kelas rekomendasi IIb, tingkatan bukti C)
4. Pengurangan berat badan

Pengurangan berat badan pasien obesitas (IMT > 30 kg/m2) dengan gagal jantung
dipertimbangkan untuk mencegah perburukan gagal jantung, mengurangi gejala dan
meningkatkan kualitas hidup (kelas rekomendasi IIa, tingkatan bukti C)
5. Kehilangan berat badan tanpa rencana

Malnutrisi klinis atau subklinis umum dijumpai pada gagal jantung berat.Kaheksia jantung
(cardiac cachexia) merupakan prediktor penurunan angka kelangsungan hidup.Jika selama 6
bulan terakhir berat badan > 6 % dari berat badan stabil sebelumnya tanpa disertai retensi
cairan, pasien didefinisikan sebagai kaheksia. Status nutrisi pasien harus dihitung dengan hati-
hati (kelas rekomendasi I, tingkatan bukti C)
6. Latihan fisik

Latihan fisik direkomendasikan kepada semua pasien gagal jantung kronik stabil. Program
latihan fisik memberikan efek yang sama baik dikerjakan di rumah sakit atau di rumah (kelas
rekomendasi I, tingkatan bukti A)
7. Aktvitas seksual

8. TATA LAKSANA FARMAKOLOGI

TUJUAN TATA LAKSANA GAGAL JANTUNG

Tujuan diagnosis dan terapi gagal jantung yaitu untuk mengurangi morbiditas dan mortalitas (Tabel
8). Tindakan preventif dan pencegahan perburukan penyakit jantung tetap merupakan bagian
penting dalam tata laksana penyakit jantung. Gambar 2 menyajikan strategi pengobatan
mengunakan obat dan alat pada pasien gagal jantung simtomatik dan disfungsi sistolik. Sangatlah
penting untuk mendeteksi dan mempertimbangkan pengobatan terhadap kormorbid kardiovaskular
dan non kardiovaskular yang sering dijumpai.
Gambar 2Strategi pengobatan pada pasien gagal jantung kronik simptomatik (NYHA fc II-IV).
Disadur dari ESC Guidelines for the diagnosis and treatment of acute and chronic heart failure
20122
TERAPI FARKAMOLOGIS PADA GAGAL JANTUNG DENGAN EF NORMAL
( GAGAL JANTUNG DIASTOLIK )
Sampai saat ini belum ada terapi yang terbukti secara khusus, dapat menurunkanmortalitas dan
morbiditas pada pasien dengan gagal jantung diastolik. Diuretik digunakan untuk mengatasi
retensi garam dan cairan serta mengatasi keluhan sesak nafas. Terapi iskemia miokard dan
hipertensi yang adekuat sangat penting dalam penting dalam tatalaksana kelainan ini, termasuk
tatalaksana pengaturan laju nadi, terutam pada pasien dengan fibrilasi atrial.

Semua obat yang tidak dianjurkan pemberiannya ataupun yang harus dihindari pada pasien
dengan gagal jantung sistolik, juga berlaku pada gagal jantung diastolik, terkecuali CCB
dihidropiridin, karena mempunyai efek kontrol laju nadi.

9. GAGAL JANTUNG DAN KOMORBIDITAS

Penanganan komorbiditas ( penyakit penyerta ) merupakan hal yang sangat penting pada
tatalaksana pasien dengan gagal jantung. Terdapat 4 alasan utama dalam hal ini, yaitu :

1. Penyakit penyerta dapat mempengaruhi pengobatan gagal jantung itu sendiri


2. Terapi untuk penyakit penyerta dapat memperburuk gejala dan kondisi gagal jantung
(misalnya penggunaan NSAID)
3. Obat yang digunakan untuk gagal jantung dan yang digunakan untuk penyakit penyerta
dapat saling berinteraksi ( misalnya penggunaan penyekat β pada penderita asma berat ),
sehingga akan mengurangi kepatuhan pasien dalam berobat
4. Sebagian besar penyakit penyerta berhubungan dengan keadaan klinis gagal jantung dan
prognosis yang lebih buruk (misalnya diabetes, hipertensi, dll)

DISFUNGSI GINJAL DAN SINDROMA KARDIORENAL

Laju fitrasi glomerulus akan menurun pada sebagian besar pasien gagal janrtung, terutama pada
stadium gagal jantung yang lanjut ( advanced ). Fungsi renal merupakan predictor independen
yang kuat bagi prognosis pasien gagal jantung. Penghambat renin-angiotensin-aldosteron (ACE/
ARB, MRA) biasanya akan menyebabkan penurunan ringan laju filtrasi glomerulus, namun hal
ini jangan dijadikan penyebab penghentian terapi obat-obat tersebut, kecuali terjadi penurunan
yang sangat signifikan. Sebaliknya, bila terjadi penurunan laju filtrasi glomerulus yang
signifikan, makan harus dipikirkan adanya stenosis arteri renalis.Hipotensi, hiponatremia dan
dehidrasi juga dapat menyebabkan penurunan fungsi ginjal. Hal lain yang juga dapat
menurunkan fungsi ginjal, yang kurang dipahami, adalah hipervolum, gagal jantung kanan dan
kongesti vena ginajl. Sedangkan obat-obatn yag dapat menyebabkan gangguan fungsi ginjal
antara lain NSAID, beberapa antibiotic (gentamicin, trimethoprim), digoxin,tiazid.

10. KOMORBIDITAS LAIN

1. Anemia dan defisiensi besi


Anemia, didefiniskan sebagai konsentrasi hemoglobin < 13 g/dL pada pria dan < 12 g/dL
pada perempuan, merupakan suatu kondisi yang sering ditemukan pada gagal jantung.
Kondisi ini lebih sering dijumpai pada usia lanjut, perempuan dan pada pasien dengan
gangguan fungsi ginjal. Anemia berhubungan dengan status fungsional dan prognosis yang
lebih buruk, serta risiko rehospitalisasi yang lebih tinggi.Defisiensi besi dapat menyebabkan
disfungsi muscular dan anemia pada gagal jantung. Beberapa studi menunjukan terapi
dengan stimulan eritropoetin memberikan perbaikan status fungsional pasien, akan tetapi hal
ini masih dalam penelitian yang lebih lanjut.

2. Penyakit paru obstuktif kronis dan asma


PPOK dan asma dapat mengakibatkan kesulitan dalam mendiagnosa gagal jantung terutama
pada gagal jantung diastolik.Kondisi ini berhubungan erat dengan prognosis dan status
fungsional yang lebih buruk.Penyekat β merupakan kontraindikasi pada asma yang sedang-
berat tetapi tidak pada PPOK.Penyekat β selektif (bisoprolol, metoprolol, nebivolol) lebih
dianjurkan. Kortikosteroid oral dapat menyebabkan retensi natrium dan cairan dan akan
memperburuk gagal jantung, tetapi hal ini tidak terjadi pada pemberian secara inhalasi.
PPOK juga menyebabkan perburukan prognosis.

3. Hiperlipidemia
Peningkatan LDL jarang terjadi pada gagal jantung sistolik. Pasien agagal jantung sistolik
lanjut, biasanya akan mmiliki kadar LDL yang sangat rendah yang berhubungan dengan
prognosis yang lebih buruk.

4. Hiperurisemia
Hioerurisemia dan gout sering terjadi pada gagal jantung dan biasanya disebabkan karena
pemberian diuretik yang berlebihan.Hiperurisemia berhubungan dengan prognosis yang
lebih buruk pada gagal jantung sistolik.Allupurinol dapat digunakan untuk pencegahan gout
walaupun dengan tingkat keamanan yang belum jelas.Pada gout yang simtomatik,
pemberian kolkisin lebih baik daripada NSAID, tetapi pemberiannya pada pasien dengan
gangguan ginjal harus berhati-hati dan dapat menyebabkan diare.Dapat juga diberikan
kortikosteroid intra-artikular, tetapi pemberian kortikosteroid secara sistemik tidak
dianjurkan karena dapat menyebakan retensi garam dan cairan.

5. Kanker
Beberapa obat kemoterapi (antrasiklin dan trastuzumab) dapat menyebabkan atau
memperburuk disfungsi ventrikel kiri dan gagal jantung.Deksrazon dapat memberikan
proteksi jantung bagi pasien yang menerima terapi antrasiklin.Evaluasi fraksi ejeksi pra dan
paska kemoterapi merupakan hal yang penting untuk dikerjakan.Pada pasien kemoterapi
yang mengalami gagal jantung maka kemoterapi harus dihentikan dan mendapat terapi
standar gagal jantung sebagaimana seharusnya.

6. Disfungsi erektil
Disfungsi erektil harus diterapi sebagaimana mestinya. Pemberian penghambat
fosfordiesterase V ( sildenafil ) bukan merupakan kontraindikasi, terkecuali pada pasien
yang mendapat nitrat rutin. Beberapa studi menunjukan bahwa obat itu juga dapat efek
hemodinamik yang menguntungkan bagi pasien gagl jantung sistolik, namun pada gagal
jantung diastolik, pemberian obat ini harus berhati-hati, karena beberapa studi menyatakan
bahwa obat ini dapat menyebabkan gangguan pada LVOT ( Left Ventricle Outflow Tract)
KEPUSTAKAAN :

1. Dickstein K, Cohen-Solal A, Filippatos G, et al. ESC Guidelines for the


diagnosis and treatment of acute and chronic heart failure 2008. Eur
Heart J 2008;29:2388–442.

2. McMurray JJ V, Adamopoulos S, Anker SD, et al. ESC Guidelines for


the diagnosis and treatment of acute and chronic heart failure 2012: The
Task Force for the Diagnosis and Treatment of Acute and Chronic Heart
Failure 2012 of the European Society of Cardiology. Developed in
collaboration with the Heart. Eur Heart J [Internet]
2013;32:e1–641 – e61. Available from:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/22611136

3. Rydén L, Grant PJ, Anker SD, et al. ESC guidelines on diabetes, pre-
diabetes, and cardiovascular diseases developed in collaboration with
the EASD. Eur Heart J 2013;34:3035–87. Piña I. Acute HF: Guidance
on Reducing Readmissions [Internet].2013 [cited 2015 Feb 21].