Anda di halaman 1dari 48

POLITIK HUKUM PENANGGULANGAN TINDAK PIDANA

KORPORASI (CORPORATE CRIME) MELALUI


PENDEKATAN RESTORATIF

Oleh : Abdul Chair Ramadhan

A. Latar Belakang
Kegiatan pembangunan bagi negara Dunia Ketiga di era globalisasi,
khususnya di bidang ekonomi, memerlukan kerangka normatif untuk menjaga
tertib sosial. Oleh sebab itu, diperlukan pembangunan hukum1 untuk memfasilitasi
kehidupan perekonomian. Hukum menjadi instrumen untuk melakukan perubahan
di bidang ekonomi sesuai dengan tuntutan pergaulan masyarakat dunia yang
terwujud dalam hukum nasional. Dalam hal ini diharapkan kepentingan nasional
mampu beroperasi dalam tata pergaulan antarbangsa. Hukum berperan
melaksanakan fungsinya sebagai a tool of social engineering atau untuk
melakukan rekayasa sosial, khususnya dalam bidang kehidupan perekonomian. Hal
ini diilhami pemikiran Roscoe Pound yang sudah muncul sejak 1912.2
Perkembangan globalisasi, khususnya ekonomi bermuatan ekses positif
maupun negatif. Dalam hal ini perlunya peran hukum dalam kehidupan
perekonomian, yang bersifat nasional maupun internasional, yang tidak dapat

1
Pembangunan hukum mengandung makna ganda. Pertama, ia bisa diartikan sebagai suatu
usaha untuk memperbarui hukum positif sendiri sehingga sesuai dengan kebutuhan untuk
melayani masyarakat pada tingkat perkembangannya yang mutakhir, suatu pengertian yang
biasanya disebut sebagai modernisasi hukum. Kedua, ia bisa diartikan sebagai suatu usaha
untuk memfungsionalkan hukum dalam masa pembangunan, yaitu dengan cara ikut
mengadakan perubahan sosial sebagaimana dibutuhkan oleh suatu masyarakat yang sedang
membangun. Lihat: Satjipto Rahardjo, Hukum dan Perubahan Sosial, (Bandung: Alumni,
1983), hlm.231. Sedangkan Muladi dan Dwidja Priyatno mengatakan bahwa pembangunan
hukum sebagai upaya untuk menegakkan keadilan, kebenaran, dan ketertiban dalam negara
hukum Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 diarahkan
untuk meningkatkan kesadaran hukum, menjamin penegakan, pelayanan, dan kepastian hukum,
serta mewujudkan tata hukum nasional yang mengabdi pada kepentingan nasional. Dalam
rangka pembangunan hukum perlu lebih ditingkatkan upaya pembaruan hukum secara terarah
dan terpadu antara lain kodifikasi dan unifikasi bidang-bidang hukum tertentu serta
penyusunan perundang-undangan baru yang sangat dibutuhkan untuk dapat mendukung
pembangunan di berbagai bidang sesuai dengan tuntutan pembangunan serta tingkat kesadaran
hukum dan dinamika yang berkembang dalam masyarakat. Lihat: Muladi dan Dwidja Priyatno,
Pertanggungjawaban Pidana Korporasi, Cet.1 (Jakarta: Kencana Prenada Media Group,
2010), hlm.11-12.
2
Satjipto Rahardjo dalam Supanto, Kejahatan Ekonomi Global dan Kebijakan Hukum Pidana,
Cet.1, (Bandung: Alumni, 2010), hlm.4.

1
dibedakan lagi karena pengaturan hukum sudah menjadi global. Sehubungan
dengan potensi kriminal terkait dengan pendayagunaan hukum pidana untuk
menanggulangi kejahatan.3 Situasi global memunculkan tipe kejahatan berdimensi
baru khususnya di bidang ekonomi, yang berkembang sebagai kejahatan ekonomi
global. Ini menjadi tantangan dalam kebijakan penanggulangan kejahatan. 4
Dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia No.7 Tahun 2005 Tentang
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2004-2009 dinyatakan
pada Lampirannya: adanya permasalahan pembangunan nasional Tahun 2004-2009
(ada 11), diantaranya: masih tingginya kejahatan konvensional dan transnasional,
masih banyaknya peraturan perundang-undangan yang belum mencerminkan
keadilan, kesetaraan, dan penghormatan serta perlindungan Hak Asasi Manusia
(HAM). Selanjutnya, dalam UU No.17 Tahun 2007 Tentang Rencana
Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025, dinyatakan di antaranya
adanya tantangan, menyangkut ekonomi antara lain, bahwa secara eksternal,
tantangan tersebut dihadapkan pada situasi persaingan ekonomi antarnegara yang
makin runcing akibat makin pesat dan meluasnya proses globalisasi, dan juga
mengenai hukum, bahwa tantangan ke depan adalah mewujudkan sistem hukum
nasional yang mantap. Di samping itu, ditentukan adanya misi pembangunan
nasional, antara lain: mewujudkan bangsa yang berdaya saing, mewujudkan
masyarakat demokratis berlandaskan hukum.
Dalam perkembangan di bidang perekonomian, tidak dapat dihindari adanya
berbagai kriminalisasi maupun dekriminalisasi.5 Persoalan ini menjadi sangat
penting dalam pembahasan hukum pidana. Dikatakan demikian, oleh karena
keberadaan hukum pidana akan difungsikan dalam pengaturan kegiatan di bidang

3
Supanto, Perspektif Hukum Pidana Menghadapi Perkembangan Kejahatan Ekonomi Global,
dalam Memahami Hukum Dari Konstruksi Sampai Implementasi, (Jakarta: RajaGrafindo
Persada, 2011), hlm. 195
4
Ibid, hlm.196.
5
Bahkan, perlu dipikirkan proses penalisasi maupun depenalisasi. Penentuan ketercelaan
terhadap suatu perbuatan sulit untuk mengukurnya. Satu pihak menganggap bahwa perbuatan
tertentu masih berruang lingkup yang dibenarkan dalam dunia usaha, tetapi pihak lain
berpendapat perbuatan tersebut sudah merupakan perbuatan yang tercela. Sudut pandang yang
berbeda ini akan mempersulit penentuan ukuran proses kriminalisasi dan dekriminalisasi.
Lihat: Loebby Loqman, Hukum Pidana di Bidang Perekonomian, Majalah Hukum dan
Pembangunan, No.5 Tahun XXIV Oktober, Jakarta: Fak.Hukum UI, 1994, hlm.390.

2
perekonomian. Hukum pidana dimanfaatkan untuk menegakkan norma-norma di
bidang perekonomian, dalam rangka kebijakan pembangunan di bidang ekonomi.6
Berkaitan dengan hal ini Setiyono mengatakan bahwa perkembangan
ekonomi pada akhir-akhir ini membuat dunia usaha semakin kompleks. Banyaknya
berbagai macam barang dan jasa yang ditawarkan saat ini membuat persaingan
antar korporasi semakin tajam. Persaingan antar korporasi tersebut membuat
kemajuan di bidang ekonomi semakin pesat. Tetapi tidak boleh dilupakan di sini,
kemajuan bidang ekonomi yang pesat justru tidak akan melenyapkan terjadinya
suatu kejahatan. Bahkan hampir dapat dipastikan bahwa faktor dominan penyebab
perkembangan kejahatan ialah akibat dari perkembangan di bidang ekonomi.7
Munculnya kejahatan korporasi, memang tidak dapat dilepaskan dari tumbuh
dan berkembangnya korporasi. Apabila ditelusuri sejarah perkembangannya,
sebenarnya korporasi sudah dikenal sejak abad pertengahan, namun sifatnya
terbatas hanya sebagai sarana pengaturan pekerjaan kelompok para individual
seperti serikat kerja, perkumpulan gereja. Pada waktu itu, peranan korporasi lebih
ditekankan pada kelompok kerjasama daripada tujuan pemanfaatan penyediaan
modal seperti korporasi pada umumnya.8
Salah satu permasalahan dalam memfungsikan hukum pidana adalah
ditujukan kepada korporasi dalam kejahatan ekonomi.9 Tindak pidana ekonomi ini
diatur dalam berbagai undang-undang selain di dalam Undang-Undang Tindak

6
Bandingkan dengan Supanto, Kejahatan Ekonomi Global dan Kebijakan Hukum Pidana,
Cet.1, (Bandung: Alumni, 2010), hlm.7.
7
Setiyono, Kejahatan Korporasi, (Malang: Bayumedia Publishing, 2003), hlm.63.
8
Menurut Clinard dan Yeager pertumbuhan korporasi di awal abad XX dimana pada tahun
1909, di AS hanya ada 2 perusahaan industri United State Steel dan Standard Oil of New
Jersey yang sekarang berganti nama menjadi Exxon, memiliki asset lebih kurang $ 500 juta
setara dengan 42 milyar (mata uang tahun 1980-an). Tahun 1971 dua korporasi tersebut hasil
penjualannya mendekati $ 47 milyar, kira-kira sama dengan dolar tetap untuk penjualan lebih
dari 200.000 perusahaan industri tahun 1899. Pertumbuhan korporasi raksasa multinasional
yang begitu cepat dapat mempekerjakan berpuluh-puluh tenaga kerja sangat mempengaruhi
pilihan konsumen dan mendominasi segmen-segmen ekonomi dunia melalui operasi global
mereka. Suatu hal yang perlu dicatat sehubungan dengan korporasi dewasa ini, tujuannnya
diarahkan pada tercapainya tujuan pertumbuhan dan keuntungan, di samping itu, dengan
permainan dari para pemegang saham sebagai peran kunci dalam operasionalnya, maka tidak
heran jika korporasi itu sebenarnya merupakan a sociological organization and political
instrument, an ecoNomormic force and judicial person. Lihat: Marshall B Clinard & Peter C
Yeager, Corporate Crime, (New York: The Free Press,1980), hlm.1-2 & 48.
9
Kejahatan ekonomi adalah setiap perbuatan yang melanggar peraturan perundang-undangan
dalam bidang perekonomian dan bidang keuangan serta mempunyai sanksi pidana.
http://eprints.undip.ac.id (Diunduh tanggal 14 Maret 2013: jam, 21.15 WIB)

3
Pidana Ekonomi No.7/drt/1955.10 Kejahatan korporasi yang semakin canggih baik
bentuk atau jenisnya maupun modus operandinya sering melampui batas-batas
negara (trans-border crime) dan juga sering dipengaruhi oleh negara lain akibat era
globalisasi.11 Di samping itu, sebagai dampak era globalisasi, kejahatan korporasi
yang menonjol adalah price fixing (memainkan harga barang secara tidak sah),
false advertising (penipuan iklan) seperti di bidang farmasi (obat-obatan), dan
kejahatan lingkungan hidup (environmental crime)12, serta kejahatan perbankan,
seperti: cyber crime, money laundering, illegal logging, dan lain-lain.13
Berdasarkan laporan Kongres PBB VI tentang The Prevention of Crime and
The Treatment of Offenders (1980 di Caracas), diidentifikasikan bentuk-bentuk
penyimpangan di bidang ekonomi (economic abuse).14 Guiding principles for

10
Dalam perkembangannya, prinsip pertanggungjawaban korporasi dapat ditemukan dalam
berbagai peraturan perundang-undangan, seperti: Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1984
Tentang Perindustrian, Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 Tentang Pasar Modal, Undang-
Undang Nomor 5 Tahun 1999 Tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha
Tidak Sehat, Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen, dan
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi,
Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2002 Tentang Tindak Pidana Pencucian Uang sebagaimana
telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2003 dan diubah kembali dengan
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan Dan
Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang dan lain-lain.
11
Sebagai contoh, pada awal 1990-an secara internasional perhatian terhadap kejahatan korporasi
ini disebabkan antara lain dengan makin gencarnya perang melawan narkotika dilakukan oleh
negara maju (dipimpin oleh Amerika Serikat). Perang ini juga ditunjukan pada sumber
keuangan perdagangan narkotika internasional dan karena itu melibatkan perjuangan untuk
mengajak negara-negara di dunia menyusun Anti Money Laundering Act. Sedangkan di
Indonesia, tindak pidana pencucian uang diatur dalam Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2002
dan telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2003 kemudian terakhir diubah
dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan Dan
Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. Hal ini tentu melibatkan dunia perbankan dan
karena itu permasalahannya diperluas pada international financial crimes. Permasalahan
money laundering ini tidak terbatas pada perdagangan narkotika karena telah lama diduga
bahwa uang haram ini juga digunakan dalam perdagangan senjata secara tidak sah dan dalam
memajukan terorisme, pandangan ini antara lain dianut oleh Center for International Financial
Crimes Studies pada College of Law, University of Florida, USA yang menjadi penyelenggara
dari International Conference on Money Laundering, Asset For-feiture and White Collar
Crime di New York City, Februari 1994. Lihat: Mardjono Reksodiputro, Tindak Pidana
Korporasi dan Cara Penanggulangannya, Bahan Penataran Hukum Pidana dan Kriminologi,
(FH UNDIP, 1994), hlm.2.
12
Dwidja Priyatno,”Antisipasi Hukum Pidana Terhadap Kejahatan Korporasi dalam Era
Globalisasi”, dalam Karya Vira Jati No.90, tahun 1995, (Bandung: Seskoad, 1995), hlm.47-48.
13
Sholehuddin, Sistem Sanksi Dalam Hukum Pidana: Ide Dasar Double Track System dan
Implementasinya, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2003), hlm.5
14
Report of The United Nations Congress VI, hlm.67. Rinciannya: (a) tax evasion, (b) credit and
custom fraud, (c) embezzlement of public funds, (d) misappropriation of public funds, (e)
violations of currency regulation, (f) speculation and swindling in land transaction, (g)
environmental offences, (h) over pricing, (i) over invoicing, (k) labour exploitation, (l) export
and import of sub-standar and even dangerously unsafe products.

4
Crime Prevention and Criminal Justice in the Context of Development and a New
International Economic Order (United Nation Congres VII on The Prevention of
Crime and Treatment of Offenders) menentukan protection against industrial
crime, economic crime.15 Pada tahun 1991 diselenggarakan kongres PBB: The
Prevention of The Treatment of Offenders ke VIII16, yang dalam rekomendasinya
mengenai Crime prevention and criminal justice in the context of development.
Dalam Kongres PBB VIII tersebut dirumuskan problem corruption in public
administration menyebabkan kerusakan dan melemahnya ekonomi. Keprihatinan
dikemukakan Kongres PBB VIII mengenai the increase in the abuse of computers,
pengakuan secara serius terhadap kejahatan: transnational crimes, yang merusak
the political and economical stability of nation, yang perkembangannya
sophisticated and dynamic. Kongres PBB IX tahun 199517 menyepakati perlunya
memerangi organized crime. Pada tahun 2000 diselenggarakan Kongres PBB18
menentukan international Cooperation in Combating Transnational Crime: New
Challenges in the Twenty-first Century.
Korporasi sebagai subjek tindak pidana masih merupakan hal yang baru,
walaupun telah banyak tercantum dalam berbagai peraturan perundang-undangan,
tetapi proses penegakan hukumnya masih sangat lambat. Diterimanya korporasi
sebagai subjek tindak pidana menimbulkan permasalahan hukum pidana di
Indonesia, khususnya yang menyangkut pertanggungjawaban pidana pada
korporasi. Apakah unsur kesalahan tetap dipertahankan seperti halnya pada
manusia, kesalahan dalam hukum pidana ini berarti mengenai
jantungnya.19Sehingga secara dogmatis dapat dikatakan bahwa dalam hukum
pidana unsur kesalahan harus ada, sebagai dasar untuk memidana si pembuat.20

15
The Secretariat Sevent United Nations Congrss of the Prevention on Crime and The Treatment
of Offenders, 26 August-6 September 1985 (New York: United Nations,1986), hlm.9.
16
Eighth United Nations Congress on the Prevention of Crime and the Treatment of Offenders,
27 August – 7 September 1990 (New York: United Nations, 1991).
17
Ninth United Nations Congress on the Prevention of Crime and the Treatment of Offenders,
(Cairo 29 April – 8 May 1995).
18
Tenth United Nations Congress on the Prevention of Crime and the Treatment of Offenders,
(Vienna 10-17 April 2000).
19
Sudarto, Hukum Pidana 1 (Semarang: Badan Penyediaan Bahan-Bahan Kuliah FH-UNDIP,
1987), hlm.86
20
Sebagai prospeknya mengenai pertanggungjawaban korporasi dalam hukum pidana, seperti
yang terdapat di negara Anglo-Saxon (Inggris), di mana syarat adanya kesalahan sebagai
prinsip umum untuk adanya pertanggungjawaban pidana dikenal dengan asas “mens rea”,

5
Masalah pidana dan pemidanaan dalam sejarahnya selalu mengalami
perubahan. Dari abad ke abad, keberadaannya banyak diperdebatkan oleh para ahli.
Bila disimak dari sudut perkembangan masyarakat manusia, perubahan itu adalah
hal yang wajar, karena manusia akan selalu berupaya untuk memperbaharui
tentang suatu hal demi meningkatkan kesejahteraannya dengan mendasarkan diri
pada pengalaman di masa lampau.21 Begitupun dalam masalah pidana dan
pemidanaan terhadap korporasi.
Sebagaimana diketahui dalam penanganan suatu tindak pidana maka bobot
penanganan haruslah memperhatikan kepentingan semua pihak yang terlibat baik
korban, pelaku, masyarakat maupun negara khususnya penggunaan asas “Ultimum
Remedium” yang menjadi prinsip utama, yang harus diperhatikan dalam
penanganan tindak pidana korporasi. Penanganan penyelesaian tindak pidana
korporasi memerlukan suatu bobot penangan yan harus memperhatikan collateral
consequencies-nya bagi para stake holders (para innocents shareholders, para
karyawan, nasabah, masyarakat termasuk Negara) sehingga proses
penyelesaiannya tidak akan mengganggu kelancaran aktivitas korporasi yang
merupakan penggerak roda perekonomian Negara.22
Seiring dalam hal korporasi dapat dipertanggungjawabkan secara pidana,
maka pertanggungjawaban korporasi secara pidana harus diikuti dengan
menyediakan jenis pidana yang sesuai untuk diterapkan pada suatu korporasi.
Tidak semua jenis pidana yang ada dapat diterapkan atau dijatuhkan kepada
korporasi. Perlu diketahui, dengan dapat dipertanggungjawabkannya korporasi
secara pidana, tidak dengan sendirinya pengurus korporasi yang terdapat di
dalamnya tidak dapat dipersalahkan.23 Sulit sekali untuk menentukan kesalahan
korporasi yang merupakan urat nadi dari hukum pidana. Kesalahan yang

menurut doktrin dikenal adanya “strict liability” dan “vicarious liability”, yaitu prinsip
pertanggungjawaban pidana tanpa harus mensyaratkan unsur kesalahan pada si pelaku tindak
pidana, apakah dapat diterapkan dalam hukum pidana kita, yang sampai sekarang masih
menganut asas kesalahan, khususnya menyangkut masalah pertanggungjawaban pidana
korporasi. Lebih lanjut, apakah korporasi dapat mempunyai kesalahan, baik berupa
kesengajaan atau kealpaan. Sehubungan dengan hal tersebut, dapatkah korporasi mempunyai
alasan yang dapat menghapuskan pemidanaan, seperti halnya subjek hukum manusia.
21
Sholehuddin, Op.Cit, hlm.1.
22
Ibid, hlm.vi
23
Loebby Loqman, Kapita Selekta Tindak Pidana di Bidang Perekonomian, (Jakarta: Datacom,
2002), hlm.16.

6
dilimpahkan kepada korporasi sebenarnya bukan kesalahan korporasi secara
pribadi, sebab pada hakekatnya yang melakukan tindak pidana adalah orang
(pengurus korporasi). Terkait dengan sanksi pidana bagi pertanggungjawaban
korporasi yang ada dalam peraturan perundang-undangan, belum tertata secara
baik dan jelas mana yang termasuk pidana pokok, pidana tambahan serta tindakan.
Akibat ketidakjelasan sanksi pidnaa tersebut akan terjadi keragu-raguan pada
majelis hakim untuk menjatuhkan sanksi pidana, sehingga kecil kemungkinan
terwujudnya kepastian hukum dan peraturan hukum yang ideal.
Salah satu alternatif dalam menanggulangi tindak pidana yang dilakukan oleh
korporasi adalah melalui pendekatan restoratif. Melalui pendekatan restoratif -
sebagai alternatif dari pendekatan represif atau retributif - dalam menangani
perkara tindak pidana korporasi, diharapkan penanganan terhadap tindak pidana
korporasi dapat lebih efisien, efektif dan berdayaguna. Dengan demikian dalam
tulisan makalah ini akan dilakukan kajian dan analisis tentang model
pertanggungjawaban pidana korporasi melalui pendekatan restoratif.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalahan yang telah disampaikan di atas, maka
pokok permasalahan dalam penulisan makalah ini dapat dirumuskan yakni sebagai
berikut di bawah ini:
1. Bagaimana politik hukum pidana dalam perumusan korporasi sebagai
subjek hukum?
2. Bagaimana model pertanggungjawaban pidana oleh korporasi melalui
pendekatan resoratif?

C. Maksud dan Tujuan Penulisan


Penulisan makalah ini dimaksudkan untuk menggali, menghimpun dan
menginventarisir pendapat, pemikiran para ahli dalam bidang hukum tindak pidana
ekonomi yang disusun dalam bentuk pandangan dan pendapat dari para pakar.
Secara khusus dalam penulisan ini diarahkan untuk mengetahui dan menganalisis
tentang pertanggungjawaban korporasi melalui pendekatan restoratif.

7
Sedangkan tujuan disusunnya penulisan makalah ini yaitu sebagai
pemenuhan tugas mata kuliah tindak pidana ekonomi pada Program Doktor Ilmu
Hukum (PDIH) Universitas Negeri Sebelas Maret, atau setidak-tidaknya sebagai
salah satu sumber referensi bagi pihak-pihak yang memerlukan.

D. Tinjauan Pustaka
1. Pengertian Korporasi (Badan Hukum)
Secara etimologi kata korporasi (Belanda: corporatie, Inggris: corporation,
Jerman: korporation) berasal dari kata “corporatio” dalam bahasa Latin, yang
berarti hasil dari pekerjaan membadankan, dengan lain perkataan badan yang
dijadikan orang, badan yang diperoleh dengan perbuatan manusia sebagai lawan
24
terhadap badan manusia, yang terjadi menurut alam. Menurut Satjipto korporasi
adalah suatu badan hasil cipta hukum. Badan yang diciptakan itu terdiri dari
corpus, yaitu struktur fisiknya dan ke dalamnya hukum memasukkan unsur animus
yang membuat badan itu mempunyai kepribadian. Oleh karena badan hukum itu
merupakan ciptaan hukum, maka kecuali penciptaannya, kematiannya pun juga
ditentukan oleh hukum.25
Secara terminologi kata korporasi oleh banyak ahli diberikan peristilahan
yang beragam, antara lain: Subekti dan Tjitrosudibio, yang dimaksud dengan
corporatie atau korporasi adalah suatu perseroan yang merupakan badan hukum.26
Menurut Wirjono, korporasi adalah suatu perkumpulan orang, dalam korporasi
biasanya yang mempunyai kepentingan adalah orang-orang yang merupakan
anggota dari korporasi itu, anggota mana juga memiliki kekuasaan dalam peraturan
korporasi berupa rapat anggota sebagai alat kekuasaan yang tertinggi dalam
peraturan korporasi.27
Apa yang disebut dengan badan hukum itu sebenarnya tiada lain sekedar
suatu ciptaan hukum, yaitu dengan menunjuk kepada adanya suatu badan dimana
terhadap badan ini diberi status sebagai subjek hukum.28 Sehingga subjek hukum

24
Soetan K. Malikoel Adil, Pembaharuan Hukum Perdata Kita (Jakarta: Pembangunan, 1955),
hlm.83.
25
Satjipto Rahardjo, Ilmu Hukum, (Bandung: Alumni, 1986), hlm.110.
26
Subekti dan R. Tjitrosudibio, Kamus Hukum, (Jakarta: Pradnya Paramita, 1979), hlm.34.
27
Chidir Ali, Badan Hukum, (Bandung: Alumni, 1987), hlm.74
28
Ibid.

8
secara singkat dapat diartikan, yaitu mereka yang mempunyai hak dan kewajiban
dalam hukum yaitu manusia (natuurlijk person) dan sesuatu yang menurut
kebutuhan masyarakat oleh hukum diakui sebagai pendukung hak dan kewajiban,
yang terakhir ini disebut badan hukum.
Diciptakannya pengakuan adanya suatu badan, yang sekalipun badan ini
sekedar suatu badan, namun dianggap badan ini dapat menjalankan segala tindakan
hukum dengan segala risiko yang timbul, terlepas dari pribadi-pribadi manusia
yang terhimpun di dalamnya, dalam hal ini mempunyai latar belakang pemikiran
tersendiri. Adapun latar belakang pemikiran penetapan Badan Hukum sebagai
subyek hukum, mengutip pendapat Rudhi Prasetya, menyebutkan: 29
“bahwa terjadinya penetapan tersebut tiada lain sekedar untuk
mempermudah menunjuk siapa subyek hukumnya yang harus bertanggung
jawab diantara sedemikian banyak orang-orang yang terhimpun dalam
badan tersebut, andaikata terjadi akibat hukum, yaitu yang secara yuridis
dikonstruksikan dengan menunjuk “badan” itu adalah sebagai subjek
hukum yang harus bertangung jawab.”

2. Teori Badan Hukum


Badan hukum sebagai salah satu subjek hukum memiliki berbagai teori. Dari
berbagai teori tersebut, menurut Erman Rajagukguk dapat digolongkan dalam dua
bagian besar, yaitu:30
Pertama: mereka yang menganggap bahwa badan hukum itu sebagai wujud
yang nyata, dianggap mempunyai “panca indra” sendiri seperti manusia.
Akibatnya, badan hukum itu disamakan dengan orang atau manusia.
Kedua adalah, mereka yang menganggap badan hukum itu tidak sebagai
wujud yang nyata. Di belakang badan hukum itu sebenarnya berdiri manusia.
Akibatnya, kalau badan hukum itu membuat kesalahan, maka kesalahan itu adalah

29
Rudhi Prasetya, Perkembangan Korporasi Dalam Proses Modernisasi dan Penyimpangan-
Penyimpangannya, Makalah disampaikan pada seminar nasional ”Kejahatan Korporasi” yang
diselenggarakan oleh Fakultas Hukum UNDIP di Semarang pada tanggal 23-24 Nopember
1989, hlm.3.
30
Erman Rajaguguk, Badan Hukum Sebagai Subyek Hukum, (Jakarta: Mitra Management
Centre,1994), hlm. 2. Perbedaan teori mengenai badan hukum ini mempunyai implikasi yang
besar terhadap pemisahan pertanggung jawaban antara badan hukum dan orang-orang yang
berada dibelakang badan hukum tersebut. Pemahaman badan hukum demikian itu adalah
merupakan pengertian umum. Badan hukum itu dapat mengambil berbagai bentuk. Ada yang
dalam bentuk Perseroan Terbatas (PT), dalam bentuk perkumpulan tertentu; ada pula yang
berbentuk koperasi, dan BUMN dan lain sebagainya.

9
merupakan kesalahan manusia yang berdiri di belakang badan hukum itu secara
bersama-sama tersebut.
Lebih lanjut Erman Rajagukguk menjelaskan tentang kapan suatu
perkumpulan dapat disebut sebagai suatu badan hukum. Suatu perkumpulan dapat
disebut sebagai suatu badan hukum adalah apabila memenuhi syarat-syarat
tertentu. Syarat-syarat dimaksud dapat dibagi dalam 3 (tiga) kelompok yaitu:31
1). Syarat-syarat menurut doktrin, yaitu:
Menurut Meyers, sesuatu baru dapat dikatakan badan hukum jika terpenuhi 4
(empat) unsur, yaitu:
(1). Adanya kekayaan perkumpulan yang terpisah dari kekayaan anggota-
anggotanya.
(2). Adanya kepentingan yang diakui dan dilindungi oleh hukum, dan
kepentingan yang dilindungi itu harus bukan kepentingan satu orang
atau beberapa orang saja.
(3). Kepentingan tersebut harus untuk jangka waktu yang panjang.
(4). Harus ada kekayaan yang terpisah tidak saja untuk menjaga
kepentingan-kepentingan anggotanya, melainkan juga kepentingan-
kepentingan tertentu yang terpisah dari kepentingan-kepentingan
anggota-anggotanya.
Paham lain menambahkan, di samping 4 (empat) unsur tersebut di atas, yaitu
adanya organisasi yang teratur, badan hukum sebagai subjek
hukum merupakan kesatuan sendiri dengan organ-organnya melakukan
perbuatan-perbuatan hukum. Tentang tata cara bagaimana organ badan
hukum yang terdiri dari manusia-manusia itu bertindak, dipilih, diganti dan
sebagainya, ditentukan oleh Anggaran Dasar dan peraturan-peraturan
lainnya.
2). Syarat-syarat menurut peraturan perundang-undangan, yaitu:
(1). Dinyatakan dengan tegas bahwa suatu organisasi mempunyai status
badan hukum, misalnya Perseroan Terbatas (PT) adalah suatu badan
hukum. Undang-undang juga mengatakan bahwa Bank Rakyat

31
Ibid.

10
Indonesia (BRI) adalah merupakan dan berstatus sebagai suatu badan
hukum, dan lain sebagainya.
(2). Tidak dinyatakan secara tegas. Namun dapat ditarik kesimpulan dari
peraturan yang bersangkutan, bahwa badan itu adalah badan hukum,
misalnya suatu perkumpulan untuk dapat diakui sebagai badan hukum
harus mendapat pengakuan dari Departemen Kehakiman dan HAM atau
oleh pejabat lain yang ditunjuk oleh Menteri Kehakiman HAM.
3). Syarat-syarat menurut kebiasan dan Yurisprudensi (keputusan-keputusan
pengadilan).
Pertumbuhan korporasi di Indonesia (terutama dalam pengertian peraturan
perundang-undangan tersebut di atas) semakin berkembang dengan pesat,
baik dalam jumlahnya maupun dalam wujud macam bidang usaha yang
dikelolanya. Hal ini dapat dilihat pada perkembangan dan pertumbuhan
industri yang bergerak di berbagai bidang seperti pertanian, kehutanan,
makanan, pharmasi, perbankan, elektronika, otomotif, perumahan,
konstruksi, transportasi, hiburan, dan masih banyak lagi. Setiap hari kita
dibanjiri dengan produk-produk untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari
hingga untuk “investasi”. Hampir seluruh kebutuhan kita seperti diuraikan di
atas, dapat dilayani oleh korporasi, sehingga dapat dikatakan bahwa sejak
dalam kandungan hingga ke liang kubur kita di bawah kekuasaan korporasi.
Untuk penyediaan keperluan semua ini, korporasi menyerap banyak tenaga
kerja, sehingga dengan keberadaan korporasi yang sedemikian ini tentunya
ikut mengurangi angka pengangguran, meski perlu diingat bahwa dengan
munculnya industri maka ribuan orang juga akan kehilangan pekerjaannya.
Belum lagi sumbangan yang dihasilkan baik berupa pajak maupun devisa,
sehingga korporasi nampak sangat positif. Namun di sisi lain kita juga
menyaksikan perilaku negatif yang ditunjukkan oleh korporasi seperti
pencemaran, pengrusakan sumber daya alam yang terbatas, persaingan
curang, manipulasi pajak, eksploitasi terhadap buruh, produk-produk yang
membahayakan kesehatan pemakainya serta penipuan terhadap konsumen.32

32
I. S. Susanto, Kriminologi, (Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro, 1995), hlm.1.

11
Kendati pun korporasi di samping bercorak positif, tapi di lain pihak juga
memberikan efek negatif yang sangat membahayakan bagi kehidupan masyarakat,
namun pertumbuhan dan peranan korporasi tetap eksis dan semakin membesar
sehingga menjadikan masyarakat yang konsumtif semakin tergantung pada
keberadaan korporasi tersebut. Korporasi tumbuh bagai raksasa yang
mengangkangi banyak segi kehidupan masyarakat, sehingga mempunyai
konsekuensi terhadap keberadaan korporasi secara ekonomi, politik dan kekuasaan
semakin menguat.33
3. Tindak Pidana Korporasi
Black’s Law Dictionary menyebutkan kejahatan korporasi atau corporate
crime adalah “any criminal offense committed by and hence chargeable to a
corporation because of activities of its officers or employees (e.g., price fixing,
toxic waste dumping), often referred to as white collar crime.”34 Kejahatan
korporasi adalah tindak pidana yang dilakukan oleh korporasi, dan oleh karena itu
dapat dibebankan pada suatu korporasi karena aktivitas-aktivitas pegawai atau
karyawannya (seperti penetapan harga, pembuangan limbah), sering juga disebut
sebagai “kejahatan kerah putih”.35
Pemikiran tentang kejahatan korporasi,36 banyak menimbulkan pro dan
kontra dikalangan ahli hukum, khususnya hukum pidana. Di dalam hukum pidana
ada doktrin yang berkembang yaitu doktrin universitas delinguere non potest yaitu
korporasi tidak mungkin melakukan tindak pidana, ini dipengaruhi oleh pemikiran
yang menyatakan bahwa keberadaan korporasi dalam hukum pidana hanyalah fiksi
hukum, sehingga tidak mempunyai nilai moral yang diisyaratkan untuk dapat
dipersalahkan secara pidana (unsur kesalahan). Padahal dalam suatu delik (tindak
pidana) mensyaratkan adanya kesalahan (mens rea) selain adanya perbuatan (actus

33
Marshall B. Clinard & Peter C, Yeager, Corporate Crime, (New York: The Free Press1980),
hlm.3.
34
Henry Campbell Black, Black’s Law Dictionary, (West Publishing Co., St. Paul,
Minnessota, 1990), hlm. 339.
35
Bismar Nasution, Kejahatan Korporasi dan Pertanggungjawabannya,
http://bismar.wordpress.com. (Diunduh tanggal 23 Maret 2013, Jam:15.30 WIB).
36
Sebagai bahan perbandingan berkaitan dengan kejahatan korporasi ini, baca lebih lanjut:
Setiyono, Kejahatan Korporasi, Analisis Viktimologis dan pertanggungjawaban Korporasi
Dalam Hukum Pidana Indonesia, (Malang: Averroes Press, 2002).

12
reus).37 Tindak pidana (crime) dapat diidentifikasi dengaan timbulnya kerugian,
yang kemudian mengakibatkan timbulnya pertanggungjawaban atau criminal
liability. Kemudian mengundang perdebatan adalah bagaimana
korporasi mempertanggungjawabkan atau corporate liability mengingat bahwa
dalam kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Indonesia yang dianggap
sebagai subjek hukum pidana adalah orang perorangan dalam konotasi biologis
yang alami (natuurlijke persoon). Di samping itu, KUHP juga masih menganut
asas sociates delinquere non potest dimana badan hukum dianggap tidak dapat
melakukan tindak pidana.38
Sehubungan dengan apa yang diuraikan di atas, maka terdapat perubahan
(pergeseran) wajah pelaku kejahatan di Indonesia, yang disebabkan oleh
perkembangan pembangunan nasional kita. Pergeseran dimaksud adalah tentang
kejahatan yang dilakukan oleh korporasi. Pelaku kejahatan di sini bukanlah
manusia, tetapi adalah suatu kesatuan yang disamakan dengan manusia39.
Tindak pidana yang dilakukan oleh korporasi (corporate crime) tergolong
“White Collar Criminality” (WCC). Mengutip pendapat Mardjono Reksodiputro40
yang mengatakan, bahwa tindak pidana korporasi adalah merupakan sebagian dari
WCC. Istilah WCC dilontarkan di Amerika Serikat dalam tahun 1939 dengan
batasan: “suatu pelanggaran hukum pidana oleh seseorang dari kelas sosial
ekonomi atas, dalam pelaksanaan kegiatan jabatannya.” Mardjono Reksodiputro41
mengatakan: ”bahwa tindak pidana korporasi harus dilihat sebagai bagian dari
WCC, seperti yang telah diuraikan di atas, adalah dalam rangka untuk
membedakannya dari pelanggaran hukum pidana atau ketentuan pidana yang
dilakukan oleh perusahaan atau usaha dagang yang berlingkup kegiatan ekonomi
atau bisnis dengan skala kecil atau terbatas.”

37
Pertanggungjawaban Korporasi, http://www.wikimediaindonesia, diunduh tanggal 23 Maret
2013, Jam:16.00 WIB.
38
Bismar Nasution, Kejahatan Korporasi dan Pertanggungjawabannya http://www.google.com,
(Diunduh tanggal 23 Maret 2013, Jam:16.30 WIB).
39
Soedjono Dirdjosisworo, Anatomi Kejahatan Di Indonesia (Gelagat dan Proyeksi
Antisipasinya Pada Awal Abad Ke 21), (Jakarta: PT Granesia, 1996), hlm.15.
40
Mardjono Reksodiputro, Kemajuan Pembangunan Ekonomi dan Kejahatan. (Jakarta: Pusat
Pelayanan Keadilan dan Pengabdian Hukum (d/h) Lembaga Kriminologi Universitas
Indonesia, 1994), hlm.103.
41
Ibid, hlm. 105.

13
Permasalahan hukum pidana yang timbul sehubungan dengan pertanggung
jawaban dan kesalahan justru ditimbulkan oleh perusahaan-perusahaan berskala
kegiatan besar. Dalam kegiatan pembangunan perekonomian kita selama dua
dasawarsa yang lalu, yang telah menumbuhkan berbagai perusahaan besar, maka
hukum, termasuk hukum pidana dituntut untuk turut berkembang agar dapat
mengantisipasi penyalahgunaan kemajuan yang telah dicapai itu yang berakibat
merugikan masyarakat dan negara.

E. Pembahasan dan Analisis


1. Politik Hukum Pemidanaan Korporasi
Berbagai upaya dalam menanggulangi kejahatan telah banyak dilakukan.
Salah satu di antara adalah dengan menggunakan sarana hukum pidana. Dalam
kaitan ini Zudan42 menyatakan bahwa hukum itu dibuat untuk manusia sehingga
hukum harus mampu mewujudkan peningkatan martabat manusia, kesejahteraan
masyarakat dan melahirkan kebahagiaan bagi umat manusia. Keberadaan hukum
juga terikat dengan ruang dan waktu. Dengan demikian, hukum harus dibangun
secara dinamis sesuai dengan perkembangan manusianya yang berada pada
tempatnya dan masanya sendiri-sendiri. Untuk itu, maka peranan politik hukum
dalam perumusan (formulasi) pemidanaan terhadap korporasi menjadi sangat
penting dan strategis.
Secara etimologis istilah politik hukum merupakan terjemahan dari istilah
hukum Belanda rechtspolitiek, yang merupakan bentukan dari dua kata: recht dan
politiek. Dalam bahasa Indonesia kata recht berarti hukum, sedangkan kata politiek
di dalamnya terkandung pula arti beleid, yang biasanya diterjemahkan sebagai
kebijaksanaan atau kebijakan (policy).43 Mohammad Radhie memberikan arti
politik hukum sebagai suatu pernyataan kehendak penguasa negara mengenai
hukum yang berlaku di wilayahnya dan mengenai arah hukum, perkembangan
hukum yang dibangun.44 Dengan demikian, politik hukum diartikan dalam arti

42
Satya Arinanto & Ninuk Triyanti, Memahami Hukum, Dari Konstruksi Sampai Implementasi,
(Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2011), hlm.xviii
43
Marjanne Termorshuizen, Kamus Hukum Belanda-Indonesia, (Jakarta: Djambatan, 1999),
hlm.235.
44
Teuku Mohammad Radhie, Pembaruan dan Politik Hukum dalam Rangka Pembangunan
Nasional, dalam majalah Prisma No. 6 Tahun II Desember 1973, hlm.3.

14
luas, yang meliputi kebijakan tentang hukum yang berlaku (ius constitutum)45 dan
hukum yang akan diberlakukan (ius constituendum)46. Sementara itu, Padmo
Wahyono memberikan arti politik hukum sebagai arah kebijakan mengenai hukum
yang akan di bentuk atau diberlakukan. Menurut Padmo, politik hukum adalah
sebagai kebijakan dasar yang menentukan arah, bentuk, maupun isi dari hukum
yang akan di bentuk.47
Sedangkan menurut Mahfud, politik hukum adalah legal policy atau garis
kebijakan resmi tentang hukum yang akan diberlakukan baik dengan pembuatan
hukum baru maupun dengan penggantian hukum lama, dalam rangka mencapai
tujuan negara yang mencakup proses pembuatan dan dan pelaksanaan hukum.
Dengan demikan, politik hukum merupakan proses memilih tentang hukum-hukum
yang akan diberlakukan sekaligus pilihan tentang hukum-hukum yang akan dicabut
atau tidak diberlakukan yang kesemuanya dimaksudkan untuk mencapai tujuan
negara seperti yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945.48
Politik hukum (sekarang dan di masa yang akan datang) harus
memperhatikan pengaruh global. Dalam konteks global, politik hukum tidak dapat
semata-mata melindungi kepentingan nasional, tetapi juga harus melindungi
kepentingan internasional atau juga harus melindungi kepentingan lintas negara.

45
Ius constitutum dalam kepustakaan ilmu hukum diartikan sebagai hukum yang berlaku kini dan
yang akan datang. Ius constitutum itu sendiri adalah suatu istilah bahasa Latin yang berarti
hukum yang telah ditetapkan. Lihat: Abdul Latif & Hasbi Ali, Poltik Hukum, Cet.1, (Jakarta:
Sinar Grafika, 2010), hlm.37.
46
Ius constituendum dalam arti harfiah, yakni hukum yang seharusnya berlaku meliputi dua
pengertian, yakni apa dan bagaimana hukum yang harus ditetapkan serta apa dan bagaimana
penetapan hukum itu. Pembicaraan mengenai apa dan bagaimana hukum yang harus ditetapkan
(ius constituendum) itu meliputi apakah hukum dan ketentuan hukum itu, bagaimana
perumusan ketentuan hukum itu, bagaimana fungsi bahasa dalam perumusan ketentuan hukum
itu, dan bagaimana isi ketentuan hukum itu. Menurut Oppenheim, hukum adalah a body of
rules for human conduct within a community which by common consent of this community shall
be enforced by external power. Dari definisi itu tampak bahwa hukum merupakan seperangkat
ketentuan (rules) bagi tingkah laku manusia dalam kehidupan masyarakat. Ketentuan (rule) itu
oleh Black diartikan a legal precept attaching a definite detailed legal consequence to a
definite detailed statement of act. Dengan demikian, berdasarkan pengertian itu ketentuan
hukum adalah suatu aturan yang menetapkan akibat hukum tertentu pada suatu fakta tertentu.
Akibat hukum itu bila dilihat dari hukum tata negara dapat pula merupakan wewenang atau
tugas. Adapun fakta dalam pengertian itu dapat merupakan suatu subjek, suatu keadaan atau
perbuatan. Hukum yang harus ditetapkan sebagai ius constituendum itu dengan demikian
adalah suatu ketentuan hukum, mungkin satu ketentuan hukum saja atau mungkin seperangkat
ketentuan-ketentuan hukum.
47
Padmo Wahjono, Indonesia Negara berdasarkan Atas hukum, (Jakarta: Ghalia Indonesia,
1986), hlm.160.
48
Moh.Mahfud MD, Politik Hukum di Indonesia. (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2010), hlm.1.

15
Dalam rangka merumuskan pola pertanggungjawaban korporasi, maka harus
dilakukan dengan “pendekatan integral” - terkait dengan upaya Pencegahan dan
Penanggulangan kejahatan (PPK) - ada keseimbangan antara “penal” dan “non-
penal”.49 Sarana “penal” merupakan “penal policy” atau “penal-law enforcement
Policy” yang fungsionalisasi/opresionalisasinya melalui beberapa tahap:50
1) formulasi (kebijakan legislatif/legislasi);
2) aplikasi (kebijakan yudikatif/yudisial);
3) eksekusi (kebijakan eksekutif/administratif).
Tahap formulasi, yaitu tahap penegakkan hukum in abstracto oleh badan
pembuat undang-undang. Tahap ini dapat pula disebut tahap kebijakan
legislatif/legislasi. Kebijakan legislatif/legislasi adalah suatu perencanaan atau
program dari pembuat undang-undang mengenai apa yang akan dilakukan dalam
menghadapi problem tertentu dan cara bagaimana melakukan atau melaksanakan
sesuatu yang telah direncanakan atau diprogramkan itu.51
Tahap aplikasi, yaitu tahap penerapan hukum pidana oleh aparat-aparat
penegak hukum mulai dari Kepolisian sampai Pengadilan.Tahap kedua ini dapat
pula disebut tahap kebijakan yudikatif.
Tahap eksekusi, yaitu tahap pelaksanaan hukum pidana secara konkrit oleh
aparat-aparat pelaksana pidana.Tahap ini dapat disebut tahap kebijakan eksekutif
atau administratif.52
Dengan adanya tahap formulasi, maka upaya Pencegahan dan
Penanggulangan kejahatan (PPK) bukan hanya tugas aparat penegak/penerap
hukum, tetapi juga tugas aparat pemuat hukum (aparat legislatif); bahkan
kebijakan legislatif merupakan tahap paling strategis dari upaya Pencegahan dan
Penanggulangan Kejahatan (PPK) melalaui penal policy. Oleh karena itu,

49
Barda Nawawi Arief, Masalah Penegakan Hukum Dan Kebijakan Penanggulangan Kejahatan,
(Bandung , Citra Aditya Bakti, 2001), hlm.74-75.
50
Tentang ketiga tahapan ini, M. Cherif Basssiouni, mempergunakan istilah: proses legislatif,
proses peradilan (judicial) dan proses administrasi atau tahap formulasi, aplikasi dan tahap
eksekusi. Lihat: M. Cherif Basssiouni, Substantive Criminal Law, (Illionis,USA,Charles
C.Thomas Publisher,1978), hlm.78.
51
Barda Nawawi Arief,Kebijakan Legislatif Dalam Penanggulangan Kejahatan Dengan Pidana
Penjara (Semarang, Badan Penerbit UNDIP, 1994), hlm.59.
52
Muladi, Kapita Selekta Sistem Paradilan Pidana, (Semarang,Badan Penerbit UNDIP,1995),
hlm.13-14.

16
kesalahan/kelemahan kebijakan legislatif merupakan kesalahan strategis yang
dapat menghambat upaya Pencegahan dan Penanggulangan Kejahatan (PPK) pada
tahap aplikasi dan eksekusi.
Sistem pertanggungjawaban pidana korporasi dalam perspektif kebijakan
kriminal dan kebijakan pidana, tidak lepas dari tahap formulasi yang di dalamnya
menyangkut tentang definisi dari korporasi, latar belakang tahap perkembangan
korporasi sebagai subjek hukum pidana, perkembangan teori-teori
pertanggungjawaban pidana dan model pengaturan jenis sanksi pidana untuk
korporasi juga merupakan hal yang sangat penting. Dikatakan demikian oleh
karena apabila terdapat kelemahan perumusan dapat menghambat penegakan
hukum dalam rangka pertanggungjawaban korporasi dalam hukum pidana. Di
samping itu berbicara masalah sistem pertanggungjawaban pidana dalam
perspektif kebijakan kriminal dan kebijakan pidana tidak dapat dilepaskan
bagaimana melakukan reorientasi dan reformulasi kebijakan legislasi terhadap
sistem pertanggungjawaban pidana korporasi.
Tahap-tahap perkembangan korporasi sebagai subjek tindak pidana, secara
garis besarnya dibagi menjadi tiga tahap. Tahap pertama , ditandai dengan usaha-
usaha agar sifat delik yang dilakukan korporasi dibatasi pada perorangan
(natuurlijk persoon). Apabila suatu tindak pidana terjadi dalam lingkungan
korporasi, maka tindak pidana tersebut dianggap dilakukan oleh pengurus
korporasi tersebut. Dalam tahap ini membebankan “tugas mengurus” (zorgplicht)
kepada pengurus.53 Tahap ini, sebenarnya merupakan dasar bagi Pasal 51 W.v.Sr
Ned (Pasal 59 KUHP), yang sangat dipengaruhi oleh asas “societas delinquere non
potest” yaitu badan-badan hukum tidak dapat melakukan tindak pidana.
Tahap kedua , korporasi diakui dapat melakukan tindak pidana, akan tetapi
yang dapat dipertanggungjawabkan secara pidana, adalah para pengurusnya yang
secara nyata memimpin korporasi tersebut, dan hal ini dinyatakan secara tegas
dalam peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang hal tersebut.54 Dalam

53
Mardjono Reksodiputro, Tinjauan Terhadap Perkembangan Delik-delik Khusus Dalam
Masyarakat Yang Mengalami Modernisasi, Kertas Kerja pada Seminar Perkembangan Delik-
delik Khusus Dalam Masyarakat Yang Mengalami Modernisasi,di FH UNAIR, (Bandung,
Binacipta,1982), hlm 51.
54
Schaffmeister. D.N. Keijzer & E. PH.Sutorius, Hukum Pidana,Editor Penerjemah J.E.
Sahetapy, (Yogyakarta: Liberty,1995), hlm 276.

17
tahap ini pertanggungjawaban pidana korporasi secara langsung masih belum
muncul55.
Tahap ketiga ini merupakan permulaan adanya tanggungjawab langsung dari
korporasi yang dimulai pada waktu dan sesudah Perang Dunia Kedua. Dalam tahap
ini dibuka kemungkinan untuk menuntut korporasi dan meminta pertanggung-
jawabannya menurut hukum pidana. Peraturan perundang-undangan yang
menempatkan korporasi sebagai subjek tindak pidana dan secara langsung dapat
dipertanggungjawabkan secara pidana adalah Undang-Undang Nomor 7 Drt Tahun
1955 Tentang Pengusutan, Penuntutan dan Peradilan Tindak Pidana Ekonomi,
yang lebih dikenal dengan nama Undang-Undang tentang Tindak Pidana Ekonomi.
Pasal 15 ayat (1), Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1984 Tentang Pos, Pasal 19
ayat (3), Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Jo.Undang-Undang Nomor 20
Tahun 2001, Pasal 20 ayat (1) Tentang Tindak Pidana Korupsi, Pasal 4 ayat (1),
Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2002 jo. Undang-Undang Nomor 25 Tahun
2003 Tentang Tindak Pidana Pencucian Uang sebagaimana telah diubah dengan
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010.
Tahap-tahap perkembangan korporasi sebagai subjek tindak pidana
berpengaruh juga terhadap kedudukan korporasi sebagai pembuat dan sifat
pertanggungjawaban pidana korporasi dalam peraturan perundang-undangan yaitu,
terdapat tiga model pertanggungjawaban pidana korporasi:
a. Pengurus korporasi sebagai pembuat dan penguruslah yang bertanggungjawab;
b. Korporasi sebagai pembuat dan pengurus bertanggungjawab; dan
c. Korporasi sebagai pembuat dan juga sebagai yang bertanggungjawab.
Untuk menetapkan suatu perbuatan sebagai tindak pidana, perlu diperhatikan
kriteria umum sebagai berikut :
a. Apakah perbuatan itu diakui oleh masyarakat karena merugikan, atau dapat
merugikan, mendatangkan korban;

55
Contoh peraturan perundang-undangan dalam tahap ini : Undang-undang Nomor
12/Drt/1951,LN.1951-78 Tentang Senjata Api. Pasal 4 ayat (1) : “Bilamana sesuatu perbuatan
yang dapat dihukum menurut undang-undang ini dilakukan oleh atau atas kekuasaan suatu
badan hukum, maka penuntutan dapat dilakukan dan hukuman dapat dijatuhkan kepada
pengurus atau kepada wakilnya setempat.”(kursif oleh penulis) Ayat (2) “Ketentuan pada
ayat (1) di muka berlaku juga terhadap badan-badan hukum, yang bertindak selaku pengurus
atau wakil dari suatu badan hukum lain.”

18
b. Apakah biaya mengkriminalisasikan seimbang dengan hasil yang akan
dicapai. Artinya biaya pembuatan undang-undang, pengawasan dan
penegakan hukum, beban yang dipikul korban dan pelaku kejahatan itu
sendiri harus seimbang dengan situasi tertib hukum yang akan dicapai;
c. Apakah akan makin bertambah beban aparat penegak hukum sehingga terjadi
ketidak seimbangan kemampuan dan beban tugas, atau nyata-nyata tidak
dapat diemban oleh kemampuan yang dimiliki petugas penegak hukum;
d. Apakah perbuatan itu menghambat atau menghalangi cita-cita bangsa
Indonesia, yakni terwujudnya masyarakat yang adil dan makmur sehingga
merupakan bahaya bagi keselamatan masyarakat.56
2. Teori Pertanggungjawaban Pidana oleh Korporasi
Pertanggungjawaban pidana, dalam istilah asing disebut juga
teorekenbaardheid atau criminal responbility, yang menjurus pemidanaan pelaku
dengan maksud untuk menentukan apakah seseorang terdakwa atau tersangka
dipertanggungjawabkan atas suatu tindak pidana yang terjadi atau tidak. Untuk
dapat dipidananya si pelaku, disyaratkan bahwa tindak pidana bahwa yang
dilakukannya itu haruslah memenuhi unsur-unsur yang telah ditentukan oleh
undang-undang. Dilihat dari kemampuan betanggungjawab, maka seseorang yang
mampu bertanggungjawab dapat dipertanggungjawabkan atas perbuatannya.57
Sehubungan dengan diterimanya korporasi sebagai pelaku tindak pidana dan dapat
dipertanggungjawabkan, maka berbicara mengenai pertanggungjawaban pidana
korporasi ada beberapa doktrin tentang pertanggungjawaban pidana korporasi
antara lain: pertama; doktrin identifikasi (directing minds theory), kedua; doktrin
pertanggungjawab pengganti (vicarious liability), dan ketiga; doktrin
pertanggungjawaban yang ketat menurut undang-undang (strict liability).
1) Doktrin identifikasi (directing minds theory)
Teori ini pada prinsipnya mengatakan bahwa setiap subjek hukum dapat
dimintai pertanggungjawaban pidana, apabila terlebih dahulu dapat dibuktikan
adanya kesalahan atau yang dikenal dengan istilah mens rea (guilty mind) dengan
mengidentifikasi suatu kesalahan yang dilakukan oleh korporasi melalui cara

56
Satjipto Raharjo, Hukum dan Perubahan…Op.Cit, hlm.62.
57
Muladi dan Priyatno Dwidja, Op.Cit, hlm.34.

19
mengaitkan perbuatan mens rea para individu yang mewakili korporasi selaku
directing mind atau alter ego.58 Doktrin identifikasi59 (directing minds theory)
pada prinsipnya mengatakan, bahwa:60
“Mereka yang mengendalikan korporasi, untuk kepentingan
pertanggungjawaban pidana, diperlakukan sebagai perwujudan korporasi:
perbuatan-perbuatan dan sikap bathin (states of mind) dari mereka yang
mengendalikan sebuah perusahaan menurut hukum adalah perbuatan-
perbuatan dan sikap bathin dari perusahaan itu sendiri.”

Berdasarkan penjelasan di atas, apabila individu diberi wewenang untuk


bertindak atas nama dan selama menjalankan usaha korporasi tersebut, dimana
unsur mens rea yang ada dalam para individu tersebut dianggap sebagai unsur
mens rea bagi perusahaan, sehingga dengan demikian korporasi harus

58
Rufinus Hotmaulana Hutauruk, Penanggulangan Kejahatan Korporasi Melalui Pendekatan
Restoratif, Suatu Terobosan Hukum, (Jakarta: Sinar Grafika, 2013), hlm.48.
59
Teori ini diadopsi di Inggris sejak tahun 1915, yaitu melalui kasus Lennard’s Carrying Co. Ltd
v. Asiatic Petroleum Co., [1915] A.C. 705, at 713 (H.L.). Dalam kasus ini, Hakim Pengadilan
berpendapat : “[A] corporation is an abstraction. It has no mind of its own anymore than it has
a body of its own; its active and directing will must consequently be sought in the person of
somebody who for some purposes maybe called an agent, but who is really the directing mind
and will of the corporation, the very ego and centre of the personality of the corporation….For
if Mr. Lennard was the directing mind of the company, then his action must, unless a
corporation is not to be liable at all, have been an action which was the action of the company
itself……”
Terjemahan bebas:
“Suatu korporasi adalah sebuah abstraksi. Ia tidak punya akal pikiran sendiri dan begitu pula
tubuh sendiri; kehendaknya harus dicari atau ditemukan dalam diri seseorang yang untuk
tujuan tertentu dapat disebut sebagai agen/perantara, yang benar-benar merupakan otak dan
kehendak untuk mengarahkan (directing mind and will) dari korporasi tersebut……Jika Tuan
Lennard merupakan otak pengarah dari perusahaan, maka tindakannya pasti merupakan
tindakan dari perusahaan itu sendiri.”
Lihat: Gerry Ferguson, Corruption and Criminal Liability,
http://www.icclr.law.ubc.ca/Publications/ Reports/ FergusonG.PDF, hlm.5. (Diunduh tanggal )
Dalam kasus lain di Inggris, yaitu kasus Tesco Supermarkets Ltd v Nattrass [1972] A.C. 153,
Hakim Pengadilan berpendapat : “The person who acts is not speaking or acting for the
company. He is acting as the company and his mind which directs his acts is the mind of the
company. If it is a guilty mind then that guilt is the guilt of the company.”
Terjemahan bebas:
“Orang yang bertindak bukan berbicara atau bertindak atas nama perusahaan. Ia bertindak
sebagai perusahaan, dan akal pikirannya yang mengarahkan tindakannya berarti adalah akal
pikiran dari perusahaan. Jika akal pikirannya bersalah, berarti kesalahan itu merupakan
kesalahan perusahaan.”
http://en.wikipedia.org/wiki/Corporate_liability (Diunduh tanggal )
Dengan kata lain unsur mens rea dari pertanggungjawaban pidana korporasi terpenuhi dengan
dipenuhinya unsur mens rea pengurus korporasi atau perusahaan tersebut. Begitu pula dengan
actus reus yang diwujudkan oleh pengurus korporasi yang berarti merupakan actus reus
perusahaan. Lihat: http://bismar.wordpress.com/2009/12/23/kejahatan-korporasi/(Diunduh
tanggal )
60
Law Com No.237, 4 March 1996, London Stationery Office, hlm.67, sebagaimana dikutip oleh
Rufinus Hotmaulana Hutauruk, Op.Cit, hlm.48.

20
bertanggungjawab atas perbuatan yang dilakukan oleh pejabat senior di dalam
perusahaan sepanjang ia melakukannya dalam ruang lingkup kewenangan atau
dalam urusan transaksi perusahaan.61 Dengan kata lain unsur mens rea dari
pertanggungjawaban pidana korporasi terpenuhi dengan dipenuhinya unsur mens
rea pengurus korporasi atau perusahaan tersebut. Begitu pula dengan actus reus
yang diwujudkan oleh pengurus korporasi yang berarti merupakan actus reus
perusahaan.
Menurut Peter sebagaimana dikutip oleh Dwidja, mengatakan bahwa:62
“Secara lebih khusus, tindak pidana dan sikap bathin dari pejabat senior
dapat diangap menjadi sikap bathin atau tindakan perusahaan sendiri,
(sedemikian rupa) untuk membentuk pertanggungjawaban pidana
perusahaan. Unsur-unsur dari sebuah tindak pidana dapat dikumpulkan dari
perbuatan dan sikap bathin dari beberapa pejabat seniornya, dalam lingkup
keadaan yang layak.”

Sehubungan dengan hal tersebut Djoko Sarwoko mengemukakan bahwa


jikalau di dalam aktivitas korporasi di bidang hukum perdata terdapat
kemungkinan adanya penyimpangan yang dikenal dengan utra vires, yang dapat
dimintakan pertanggungjawaban secara perdata, demikian pula jika terjadi
penyimpangan yang telah melanggar ketentuan-ketentuan di dalam hukum pidana.
Lebih lanjut, Roeslan berpendapat bahwa:63
“Membedakan dapat dipidananya perbuatan dengan dapat dipidananya
orang yang melakukan perbuatan, atau membedakan tindak pidana dengan
pertanggungjawaban atau kesalahan dalam arti yang seluas-luasnya. Asas
geen straf zonder schuld tidak mutlak berlaku. Artinya, untuk
mempertaggungjawabkan koroporasi tidak selalu harus memperhatikan
kesalahan pembuat, tetapi cukup mendasarkan adagium res ipsa loquitur
(fakta sudah bicara sendiri). Karena realitas dalam masyarakat
menunjukkan, bahwa kerugian dan bahaya yang disebabkan oleh perbuatan-
perbuatan korporasi sangat besar, baik kerugian yang bersifat fisik, ekonomi
maupun biaya sosial (social cost). Di samping itu, yang menjadi korban
bukan hanya orang perorangan melainkan juga masyarakat dan negara.”

61
Ibid, hlm.48-49.
62
Petter Gillies, Criminal Law, Sidney, The Law Book Company Limited, 1990, Second Edition,
hlm.133 dalam: Dwija Priyatno, Kebijakan Legislasi tentang Sistem Pertanggungjawaban
Pidana Korporasi di Indonesia, (Bandung: CV. Utomo, 2004), hlm.90.
63
Edi Yunara, Korupsi dan Pertanggungjawaban Pidana Korporasi, Berikut Studi Kasus,
(Bandung: Citra Aditya Bakti, 2005), hlm.29.

21
Pertanggungjawaban ini berbeda dengan pertanggungjawaban pidana
pengganti (vicarious liability) dan pertanggungjawaban ketat (strict liability),
dimana pada doktrin identifikasi ini, asas “mens rea” tidak dikesampingkan,
sedangkan pada doktrin vicarious liability dan doktrin strict liability tidak
disyaratkan asas “mens rea”, atau asas “mens rea” tidak berlaku mutlak.
2). Doktrin pertanggungjawab pengganti (vicarious liability)
Dalam hal pertanggungjawaban pidana terhadap korporasi, ada pula
pandangan yang mengatakan bahwa suatu korporasi dapat dimintakan
pertanggungjawaban secara pidana atas setiap tindakan dari pegawainya dan
pengurusnya, yang dikenal dengan vicarious liability.64
Menurut Black’s Law Dictionary, vicarious liability adalah:
“Liability that a supervisory party (such as an employer) bear for the
actionable conduct of sub-ordinate or associate (such as an employee)
because of the relationship between the two parties.”

Terjemahan bebas:
“Pertanggungjawaban dari suatu pihak supervisor (seperti seorang majikan)
yang dikenakan atas perbuatan dari bawahannya atau asosiasinya (seperti
seorang pegawai) oleh karena hubungan antara kedua belah pihak.”

Pertanggungjawaban pengganti adalah pertanggungjawaban seseorang tanpa


kesalahan pribadi, bertanggungjawab atas tindakan orang lain (a vicarious liability
is one where in one person, though without personal fault, is more liable for the
conduct of another).65 Menurut doktrin vicarious liability, seseorang dapat
dipertanggungjawabkan atas perbuatan dan kesalahan orang lain.
Pertanggungjawaban demikian hampir semuanya ditujukan pada delik Undang-

64
Doktrin ini pada mulanya diadopsi di Inggris, menyebutkan bahwa korporasi
bertanggungjawab atas perbuatan yang dilakukan oleh pegawai-pegawainya, agen/perantara
atau pihak-pihak lain yang menjadi tanggung jawab korporasi. Dengan kesalahan yang
dilakukan oleh salah satu individu tersebut, kesalahan itu secara otomatis diatribusikan kepada
korporasi. Dalam hal ini korporasi bisa dipersalahkan meskipun tindakan yang dilakukan
tersebut tidak disadari atau tidak dapat dikontrol. Berdasarkan hal ini, teori ini dikritik karena
tidak mempedulikan unsur mens rea (guilty mind) dari mereka yang dibebankan
pertanggungjawaban. Pengadilan di Inggris dan Kanada telah menolak doktrin ini, dan
mengadopsi teori identifikasi. Namun, pendekatan doktrin ini masih digunakan di pengadilan
federal Amerika Serikat. Christopher M. Little & Natasha Savoline, Corporate Criminal
Liability in Canada: The Criminalization of Occupational Health & Safety Offences, Filion
Wakely Thorup Angeletti (Management Labour Lawyers), hlm.8, Lihat:
www.filion.on.ca/pdf/CML%202003%20Paper.pdf (Diunduh tanggal)
65
Hanafi, Reformasi Sistem Pertanggungjawaban Pidana, Jurnal Hukum Vol. 6-1999, hlm.33.

22
Undang (statutory offences). Dengan kata lain, tidak semua delik dapat dilakukan
secara vicarious. Pengadilan telah mengembangkan sejumlah prinsip-prinsip
mengenai hal ini. Salah satunya adalah “employment principle.” 66
Menurut Barda Nawawi Arief, vicarious liability diartikan sebagai
pertanggungjawaban menurut hukum seseorang atas perbuatan salah yang
dilakukan oleh orang lain (the legal responsibility of one person for the wrong ful
acts of another). Pertanggungjawaban, misalnya terjadi dalam hal perbuatan-
perbuatan yang dilakukan oleh orang lain itu ada dalam ruang lingkup pekerjaan
atau jabatannya. Jadi, pada umumnya terbatas pada kasus-kasus yang menyangkut
hubungan antara majikan dengan buruh, pembantu atau bawahannya. Dengan
demikian dalam pengertian vicarious liability ini, walaupun seseorang tidak
melakukan sendiri suatu tindak pidana dan tidak mempunyai kesalahan dalam arti
yang biasa, ia masih tetap dapat dipertanggungjawabkan.67
Menurut Marcus Flatcher dalam perkara pidana ada 2 (dua) syarat penting
yang harus dipenuhi untuk dapat menerapkan perbuatan pidana dengan
pertanggungjawaban pengganti, syarat tersebut adalah:68
(1) Harus terdapat suatu hubungan pekerjaan, seperti hubungan antara majikan
dan pegawai/pekerja;
(2) Perbuatan pidana yang dilakukan oleh pegawai atau pekerja tersebut
berkaitan atau masih dalam ruang lingkup pekerjaannya.
Di samping 2 (dua) syarat tersebut di atas, terdapat 2 (dua) prinsip yang harus
dipenuhi dalam menerapkan vicarious liability, yaitu prinsip pendelegasian (the
delegation principle) dan prinsip perbuatan buruh merupakan perbuatan majikan
(the servant’s act is the mater’s act in law).
Pengaturan tentang prinsip-prinsip vicarious liability, telah pula diatur dalam
Rancangan KUHP Tahun 2004, sebagaimana terlihat dalam rumusan Pasal 35 ayat
(3) yang menetapkan bahwa:

66
Barda Nawawi Arief, Sari Kuliah Perbandingan Hukum Pidana, (Jakarta: PT RajaGrafindo,
2002), hlm.151.
67
Muladi dan Barda Nawawi Arief, Teori-Teori Dan Kebijakan Pidana, (Bandung: Alumni,
1984), hlm.41.
68
Hanafi, Op.Cit,hlm. 34

23
- Dalam hal tertentu, setiap orang dapat dipertanggungjawabkan atas tindak
pidana yang dilakukan oleh orang lain, jika ditentukan dalam suatu undang-
undang.69
- Di dalam penjelasan pasal demi pasal (Penjelasan Pasal 35 ayat (3) )
Rancangan KUHP Tahun 2004, dikemukakan, bahwa:
Ketentuan ayat ini merupakan pengecualian dari asas tiada pidana tanpa
kesalahan. Lahirnya pengecualian ini merupakan penghalusan dan
pendalaman asas regulatif dari yuridis moral yaitu dalam hal-hal tertentu
tanggungjawab seseorang dipandang patut diperluas sampai kepada tindakan
bawahannya yang melakukan pekerjaan atau perbuatan untuknya atau dalam
batas-batas perintahnya. Oleh karena itu, meskipun seseorang dalam
kenyataannya tidak melakukan tindak pidana namun dalam rangka
pertanggungjawaban pidana ia dipandang mempunyai kesalahan jika
perbuatan orang lain yang berada dalam kedudukan yang sedemikian itu
merupakan tindak pidana. Sebagai suatu pengecualian, maka ketentuan ini
penggunaannya harus dibatasi untuk kejadian-kejadian tertentu yang
ditentukan secara tegas oleh undang-undang agar tidak digunakan secara
sewenang-wenang. Atas pertanggungjawaban yang bersifat pengecualian ini
dikenal sebagai asas tanggungjawab mutlak atas vicarious liability.
3). Doktrin pertanggungjawaban yang ketat menurut undang-undang (strict
liability)
Dalam hal pertanggungjawaban pidana korporasi, terdapat pula pandangan
yang mengatakan bahwa korporasi dapat dimintakan pertanggungjawaban tanpa
membuktikan terlebih dahulu adanya kesalahan, yaitu yang dikenal dengan
pertanggungjawaban mutlak, atau strict liability. Romli menyatakan bahwa hukum
pidana Inggris selain menganut asas “actus non facit reum nisi mens sit rea” (a
harmful act without a blame worthy mental state is not punishable), juga
menganut prinsip pertanggungjawab mutlak tanpa harus membuktikan ada atau
tidak adanya unsur kesalahan pada si pelaku tindak pidana. Prinsip

69
Lihat: Pasal 35 ayat (3) Rancangan KUHP Tahun 2004.

24
pertanggungjawaban tersebut dikenal sebagai strict liability crimes.70 Prinsip
pertanggunggjawaban ini dikenal sebagai strict liability.
Prinsip pertanggungjawaban pidana mutlak ini menurut Hukum Pidana
Inggris hanya diberlakukan terhadap perkara pelanggaran ringan yaitu pelanggaran
terhadap ketertiban umum atau kesejahteraan umum. Termasuk ke dalam kategori
ini pelanggaran-pelanggaran tersebut di atas ialah :
a. Contempt of court atau pelanggaran terhadap tata tertib pengadilan;
b. Criminal libel atau defamation atau pencemaran nama baik seseorang; dan
c. Public nuissance atau mengganggu ketertiban masyarakat (umum).71
Di Inggris, prinsip pertanggungjawab mutlak atau “strict liability crimes”,
tersebut berlaku hanya terhadap perbuatan yang bersifat pelanggaran ringan dan
tidak terhadap pelanggaran yang bersifat berat.
Menurut Barda Nawawi Arief, pertanggungjawaban pidana ketat ini dapat
juga semata berdasarkan undang-undang, yaitu dalam hal korporasi melanggar atau
tidak memenuhi kewajiban/kondisi/situasi tertentu yang ditentukan oleh undang-
undang, misalnya undang-undang menetapkan sebagai suatu delik bagi :
1). Korporasi yang menjalankan usahanya tanpa ijin ;
2). Korporasi pemegang ijin yang melanggar syarat-syarat (kondisi/situasi) yang
ditentukan dalam ijin itu;
3). Korporasi yang mengoperasikan kendaraan yang tidak diasuransikan.72
Menurut L. B. Curson, dokrtin strict liability ini didasarkan pada alasan-
alasan sebagai berikut : 73
1). Adalah sangat esensial untuk menjamin dipatuhinya peraturan penting
tertentu yang diperlukan untuk kesejahteraan sosial.
2). Pembuktian adanya mens rea akan menjadi sangat sulit untuk pelanggaran
yang berhubungan dengan kesejahteraan sosial.
3). Tingginya tingkat bahaya sosial yang ditimbulkan oleh perbuatan yang
bersangkutan.

70
Romli Atmasasmita, Perbandingan Hukum Pidana, (Bandung: Mandar Maju, 1996), hlm. 76.
71
Ibid, hlm. 77.
72
Barda Nawawi Arief, Kapita Selekta Hukum Pidana, (Bandung: PT Citra Aditya Bakti, 2003),
hlm.237-238.
73
Muladi dan Priyatno Dwidja, Op.Cit, hlm.108.

25
Argumentasi yang hampir serupa dikemukakan pula dalam bukunya Ted
Honderich. Alasan yang bisa dikemukakan untuk strict liability adalah :
1). Sulitnya membuktikan pertanggungjawaban untuk tindak pidana tertentu.
2). Sangat perlunya mencegah jenis-jenis tindak pidana tertentu untuk
menghindari bahaya yang sangat luas.
3). Pidana yang dijatuhkan sebagai akibat dari strict liability adalah ringan.74
Prinsip-prinsip strict liability yang diatur dalam Rancangan KUHP Tahun
2004 dapat dilihat dari beberapa ketentuan antara lain dalam Pasal 35 ayat (2).
Pasal 35 ayat (2) Rancangan KUHP Tahun 2004 menetapkan:
“Bagi tindak pidana tertentu, undang-undang dapat menentukan bahwa
seseorang dapat dipidana semata-mata karena telah dipenuhinya unsur-
unsur tindak pidana tersebut tanpa memperhatikan adanya kesalahan.”

Di dalam penjelasan padal demi pasal (penjelasan Pasal 35 ayat (2)


Rancangan KUHP Tahun 2004) dikemukakan, bahwa:
“Ketentuan dalam ayat ini juga merupakan suatu perkecualian seperti
halnya ayat (2). Oleh karena itu, tidak berlaku juga bagi semua tindak
pidana, melainkan hanya untuk tindak pidana tertentu yang ditetapkan oleh
undang-undang. Untuk tindak pidana tertentu tersebut, pembuat tindak
pidananya telah dapat dipidana hanya karena telah dipenuhinya unsur-unsur
tindak pidana oleh perbuatannya. Di sini kesalahan pembuat tindak pidana
dalam melakukan perbuatan tersebut tidak lagi diperhatikan. Asas ini
dikenal sebagai asas strict liability.”

Dapat dikatakan bahwa walaupun prinsip strict liability dan vicarious


liability dalam menetapkan pertanggungjawaban pidana terhadap korporasi adalah
konsep sistem hukum common law, namun di dalam menetapkan kebijakan hukum
pidana, khususnya dalam kebijakan faktual mengenai pertanggungjawaban pidana
terhadap korporasi di Indonesia, telah mengadopsi kedua doktrin atau prinsip
tersebut, khususnya penerapan prinsip “pertanggungjawaban berdasarkan
kesalahan (liability based on fault).
Pengertian korporasi di dalam hukum pidana sebagai ius constituendum dapat
dijumpai dalam Konsep Rancangan KUHP Baru Buku I 2004-2005 Pasal 182 yang
menyatakan, “Korporasi adalah kumpulan terorganisasi dan dari orang dan/atau
kekayaan baik merupakan badan hukum maupun bukan badan hukum.” Ternyata

74
Ibid.

26
pengertian korporasi dalam Konsep Rancangan Buku I KUHP 2004-2005, tersebut
mirip dengan pengertian korporasi di negara Belanda, sebagaimana terdapat dalam
bukunya Van Bemmelen yang berjudul Ons Strafrecht I Het Materiele Strafrecht
Algemeen deel, antara lain menyatakan: 75
“Dalam naskah dari bab ini selalu dipakai dalil umum ‘kor-porasi’, dalam
mana termasuk semua badan hukum khusus dan umum (maksudnya badan
hukum privat dan badan hukum publik-pen), perkumpulan, yayasan,
pendeknya semua perseroan yang tidak bersifat alamiah.”

Rumusan tersebut di atas kita jumpai dalam Pasal 51 W.v.S. Belanda, yang
berbunyi:
1). Tindak pidana dapat dilakukan oleh manusia alamiah dan badan hukum;
2). Apabila suatu tindak pidana dilakukan oleh badan hukum, dapat dilakukan
tuntutan pidana, dan jika dianggap perlu dapat dijatuhkan pidana dan
tindakan-tindakan yang tercantum dlaam undang-undang terhadap:
a. Badan hukum; atau
b. Terhadap mereka yang memerintahkan melakukan perbuatan itu,
demikian pula terhadap mereka yang bertindak sebagai pimpinan
melakukan tindakan yang dilarang itu; atau
c. Terhadap yang disebutkan di dalam a dan b bersama-sama.
3). Bagi pemakaian ayat selebihnya disamakan dengan badan hukum perseroan
tanpa hak badan hukum, perserikatan, dan yayasan.
Dengan demikian, ternyata korporasi dalam hukum pidana lebih luas
pengertiannya bila dibandingkan dengan pengertian korporasi dalam hukum
perdata. Sebab, korporasi dalam hukum pidana bisa berbentuk badan hukum atau
non badan hukum, sedangkan menurut hukum perdata korporasi mempunyai
kedudukan sebagai badan hukum. Pengaturan tentang pertanggungjawaban pidana
korporasi dalam Rancangan KUHP Tahun 2004, dapat ditemukan dalam berbagai
pasal, antara lain sebagai berikut:
Pasal 46:
Jika tindak pidana dilakukan oleh korporasi, pertanggungjawaban pidana
dikenakan terhadap korporasi dan/atau pengurusnya.

75
J. M. van Bemmelen, Hukum Pidana I : Hukum Pidana Material Bagian Umum, diterjemahkan
oleh Hasnan, (Bandung: Binacipta, 1986), hlm.239.

27
Penjelasan:
Cukup jelas
Pasal 47:
Korporasi dapat dipertanggungjawabkan secara pidana terhadap suatu
perbuatan yang dilakukan untuk dan/atau atas nama korporasi, jika perbuatan
tersebut termasuk dalam lingkup usahanya sebagaimana ditentukan dalam
anggaran dasar atau ketentuan lain yang berlaku bagi korporasi yang
bersangkutan.
Penjelasan:
Mengenai kedudukan sebagai pembuat tindak pidana dan sifat
pertanggungjawaban pidana bagi korporasi terdapat kemungkinan berikut.
1. Pengurus korporasi sebagai pembuat tindak pidana dan oleh karena itu
penguruslah yang bertanggungjawab.
2. Korporasi sebagai pembuat tindak pidana dan penguruslah yang
bertanggungjawab.
3. Korporasi sebagai pembuat tindak pidana dan juga sebagai yang
bertanggungjawab.
Oleh karena itu, jika suatu tindak pidana dilakukan oleh dan untuk suatu
korporasi, maka penuntutannya dapat dilakukan dan pidananya dapat
dijatuhkan terhadap korporasi sendiri, atau korporasi dan pengurusnya, atau
pengurusnya saja.
Pasal 48:
Pertanggungjawaban pidana pengurus korporasi dibatasi sepanjang pengurus
mempunyai kedudukan fungsional dalam struktur organisasi korporasi.
Penjelasan:
Sebagaimana ditentukan dalam Pasal 44 tanggungjawab korporasi dalam
hukum pidana diterima sebagai suatu prinsip hukum. Namun korporasi tidak
dapat dipertanggungjawabkan dalam hukum pidana terhadap semua objek,
kecuali jika secara khusus telah ditentukan bahwa perbuatan tersebut masuk
dalam lingkungan usahanya. Hal ini harus secara tegas diatur dalam
Anggaran Dasar atau ketentuan lain yang berlaku sebagai Anggaran Dasar
dari korporasi yang bersangkutan.

28
Pasal 49:
(1) Dalam pertimbangan suatu tuntutan pidana, harus dipertimbangkan
apakah bagian hukum lain telah memberikan perlindungan yang lebih
berguna daripada menjatuhkan pidana terhadap suatu korporasi.
(2) Pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus dinyatakan
dalam putusan hakim.
Penjelasan:
Dalam hukum pidana, penjatuhan pidana selalu dipandang sebagai ultimum
remedium. Oleh karena itu, dalam menuntut korporasi harus dipertimbangkan
apakan bagian hukum lain telah memberikan perlindungan yang lebih
berguna dibandingkan dengan tuntutan pidana dan pemidanaan. Jika memang
telah ada bagian hukum lain yang mampu memberikan perlindungan yang
lebih berguna, maka tuntutan pidana atas korporasi tersebut dapat
dikesampingkan. Pengeyampingan tuntutan pidana atas korporasi tersebut
harus didasarkan pada motif atau alasan yang jelas.
Pasal 50:
Alasan pemaaf atau alasan pembenar yang dapat diajukan oleh pembuat yang
bertindak untuk dan/atau atas nama korporasi, dapat diajukan oleh korporasi
sepanjang alasan tersebut langsung berhubungan dengan perbuatan yang
didakwakan kepada korporasi.
Penjelasan:
Cukup jelas.
Bentuk-bentuk kerugian dan juga korban akibat kejahatan korporasi, tidak
seketika itu dapat dirasakan (korban aktual), akan tetapi baru terasa dan terlihat
pada saat kemudian (korban potensial). Menurut Clinard dan Yeager, ada 6
(enam) jenis korban kejahatan korporasi berdasarkan studi yang dilakukannya
terhadap kejahatan korporasi, yaitu:76
1). Konsumen (keamanan atau kualitas produk). Bilamana resiko keamanan dan
kesehatan dihubungkan dengan penggunaan produk, maka konsumen telah
menjadi korban dari produk tersebut.

76
http://www.scribd.com/doc/60799942/4-Korban-Kejahatan-Korporasi diakses tanggal 20
Maret 2013, jam:15.30 WIB.

29
2). Konsumen (kekuasaan ekonomi). Pelanggaran kredit yakni, yakni
memberikan informasi yang salah dalam periklanan denga tujuan untuk
mempengaruhi konsumen.
3). Sebaian besar sistem ekonomi telah terpengarruh oleh praktik-praktik
perdagangan yang tidak jujur secara langsung (pelanggaran terhadap
ketentuan anti monopoli dan pelanggaran-pelanggaran terhadaap peraturan
persaingan lainnya) dan kebanyakan pelanggaran keuangan kecuali yang
berkaitan dengan belanja konsumen.
4). Pelanggaran lingkuangan (Pencemaran udara dan air) yang menjadi korban
yakni lingkungan fisik.
5). Tenaga kerja menjadi korban dalam pelanggaran terhadap ketentuan upah.
6). Pemerintah menjadi korban, karena adanya pelanggaran-pelanggaran atau
administrasi atau perintah pengadilan dan kasus-kasus penipuan pajak.
Secara Garis besar kerugian yang ditimbulkan kejahatan korporasi meliputi ;
1). Kerugian dibidang ekonomi.
Meskipun sulit mengukur secara tepat jumlah kerugian yang ditimbulkan
kejahatan korporasi, namun dalam berbagai peristiwa yang ditimbulkan
menunjukkan tingkat kerugian ekonomi yang luar biasa besarnya.
2). Kerugian di bidang kesehatan dan keselamatan jiwa.
Melalui studi di Amerika, banyaknya korban kematian dan cacat sebagai
akibat perbuatan korporasi baik dari produk yang dihasilkan oleh korporasi
maupun dalam proses produksi, sehingga yang menjadi korban adalah
masyarakat luas, konsumen dan pekerja korporasi itu sendiri.
3). Kerugian dibidang sosial dan moral.
Dampak yang ditimbulkan korporasi adalah merusak kepercayaan
masyarakat perilaku bisnis. Bahwa kejahatan korporasi merupakan kejahatan
yang paling mencemaskan, bukan saja kerugian yang ditimbulkannya
melainkan merusak terhadap ukuran-ukuran moral perilaku bisnis.77

77
Mulyadi Mahmud dan Surbakti Feri Antono, Politik Hukum Pidana Terhadap Kejahatan
Korporasi, (Jakarta: PT Sofmedia, 2010), hlm.28.

30
Dengan melihat banyaknya korban yang ditimbulkan oleh korporasi, maka
sangatlah wajar jika korporasi juga harus bertanggungjawab atas semua
perbuatannya.
3. Pendekatan Restoratif dalam Menanggulangi Kejahatan
Pada dasarnya konsep pendekatan restoratif digunakan dalam penyelesaian
konflik atau kerusakan yang timbul akibar tindak pidana yang terjadi dalam
hubungan antara anggota masyarakat yang harus diselesaikan dan dipulihkan oleh
seluruh pihak secara bersama-sama. Penyelesaian ini dititikberatkan kepada
keseimbangan melalui pemberian kesempatan terhadap korban untuk berperan
dalam proses penyelesaian tindak pidana.
Umbreit memberikan batasan pengertian tentang restoratif ini, sebagai
berikut:78
“Keadilan restoratif adalah sebuah tanggapan terhadap tindak pidana yang
berpusatkan pada korban yang mengizinkan korban, pelaku tindak pidana,
keluarga-keluarga mereka, dan para perwakilan dari masyarakat untuk
menangani kerusakan dan kerugian yang diakibatkan oleh tindak pidana.”

Terhadap pandangan tersebut, Daly mengatakan, bahwa konsep Umbreit


tersebut memfokuskan kepada memperbaiki kerusakan dan kerugian yang
disebabkan oleh tindak pidana, yang harus ditunjang melalui konsep restitusi, yaitu
mengupayakan untuk memulihkan kerusakan dan kerugian yang diderita oleh para
korban tindak pidana dan memfasilitasi terjadinya perdamaian.79
Tony Marshall mengatakan bahwa sebenarnya keadilan restoratif adalah
suatu konsep penyelesaian suatu tindak pidana tertentu yang melibatkan semua
pihak yang berkepentingan untuk bersama-sama mencari pemecahan dan sekaligus
mencari penyelesaian dalam menghadapi kejadian setelah timbulnya tindak pidana
tersebut serta bagaimana mengatasi implikasinya di masa datang.80

78
Mark Umbreit, Family Group Conferencing: Implication for Crime Victims, The Center for
Restoratative Justice, University of Minnesota, http://www. Ojp.us-
doj/ovc/publications/infores/restorative_justice.html. (Diunduh tanggal 3 Juni 2013, jam: 21.30
WIB).
79
http: web.infotrac.gale-group.com. (Diunduh tanggal 3 Juni 2013, jam: 22.00 WIB).
80
Tony Masrshal, Restorative Justice: An Overview, Londong: Home Office Research
Development and Statistic Directorate, 1999, hlm.5. Lihat: www.restorativejustice.org
(Diunduh tanggal 3 Juni 2013, jam: 22.20 WIB).

31
Sedangkan Wright mengatakan, bahwa tujuan utama dari keadilan restoratif
adalah pemulihan sedangkan tujuan kedua adalah ganti rugi.81
Prinsip utama penyelesaian tindak pidana melalui pendekatan restoratif
merupakan suatu penyelesaian yang bukan hanya sekedar alat untuk mendorong
seseorang untuk melakukan kompromi terhadap terciptanya kesepakatan, tetapi
pendekatan dimaksud harus mampu menembus ruang hati dan pikiran para pihak
yang terlibat dalam proses penyelesaian dalam memahami makna dan tujuan
dilakukannya suatu pemulihan dan sanksi yang diterapkan adalah sanksi
memulihkan dan bersifat mencegah.82
Dalam tindak pidana korupsi yang dilakukan oleh korporasi, Romli
menyebutkan bahwa pendekatan restoratif mencerminkan teori pemidanaan yang
mengutamakan penjeraan dan pencegahan khusus; pendekatan preventif, yaitu
merupakan sistem pencegahan kejahatan yang efektif; pendekatan restoratif, yaitu
pengaturan tentang pengembalian asset hasil tindak pidana termasuk mekanisme
dan proses penyitaan yang sangat diperlukan dalam menyelesaikan tindak pidana
korupsi83. Selanjutnya beliau mengatakan bahwa pendekatan restoratif bertujuan
memulihkan keadaan yang bermasalah atau mengalami ketidakseimbangan
menjadi tidak bermasalah atau mencapai harmoni dalam kehidupan masyarakat
tertentu atau dapat memberi kemaslahatan bagi bangsa dan negara.84
Menurut Gandjar, restorative justice secara teoritis dan praktis dapat dipakai
dalam penyelesaian suatu tindak pidana, Gandjar menjelaskan sebagai berikut:85
“ Dalam kerangka filosofis, hadirnya pendekatan restorative justice dalam
hukum pidana bukan bertujuan untuk mengabolisi hukum pidana, atau
melebur hukum pidana dan hukum perdata, karena pendekatan restorative
justice yang mengutamakan jalur mediasi antara korban dan pelaku.
Pendekatan restorative justice justru mengembalikan fungsi hukum pidana
pada jalurnya semula yaitu pada fungsi ultimum remidium, suatu senjata
81
Wright, 1991, hlm.117 diakses dari www.restorativejustice.org. (Diunduh tanggal 3 Juni 2013,
jam: 21:40 WIB).
82
Rufinus Hotmaulana Hutahuruk, Op.Cit, hlm.107.
83
Romli Atmasasmita, Paper: Strategi Pemberantasan Korupsi Transnasional Paska Ratifikasi
Konvensi PBB Menentang Korupsi Tahun 2003, hlm.15.
84
Romli Atmasasmita, Pengantar Hukum Kejahatan Bisnis, (Bogor: Kencana, 2003), hlm.73.
85
Gandjar L Bondan, Karakteristik Korban Dari Setiap Tindak Pidana Yang Menjadi Fokus
AKtivitas Perlindungan Saksi Dan Korban (Korupsi, Terorisme, Narkotika, Pelanggaran HAM
Dan Tindak Pidana Lain Yang Ditentukan LPSK) Dan Kewenangan LPSK dalam Rangka
Pemberian Reparasi dan Kompensasi, dalam buku Reparasi dan Kompensassi Korban dalam
Restorative Justice, (Jakarta: Kerjasama antara Lembaga Perlindungan Saksi Dan Korban
dengan Departemen Kriminologi FISIP UI, 2011), hlm. 76.

32
pamungkas bilamana upaya hukum lain sudah tidak dapat lagi digunakan
dalam menghadapi suatu tindak pidana dalam masyarakat. Dalam tataran
praktis penanganan dan penyelesaian perkara pidana dengan menggunakan
pendekatan restorative justice menawarkan alternative jawaban atas
sejumlah masalah yang dihadapi dalam sistem peradilan pidana, misalnya
proses administrasi peradilan yang sulit, lama, dan mahal, penumpukan
perkara atau putusan pengadilan yang tidak menampung kepentingan
korban.”

Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa penyelesaian


perkara melalui pendekatan restoratif adalah terwujudnya pemulihan atas
kerusakan dan kerugian yang diderita oleh para korban tindak pidana dan
diberikannya ganti kerugian terhadap para korban berdasarkan kesepakatan yang
disepakati bersama.
Di Indonesia perkara pidana diselesaikan melalui sistem peradilan pidana.
Sistem peradilan pidana menurut Mardjono adalah sistem dalam suatu masyarakat
untuk menanggulangi kejahatan.86 Tujuan sistem peradilan pidana, yaitu:87
1). Mencegah masyarakat menjadi korban kejahatan;
2). Menyelesaikan kasus kejahatan yang terjadi sehingga masyarakat puas bahwa
keadilan telah ditegakkan dan yang bersalah dipidana; dan
3). Mengusahakan agar mereka yang pernah melakukan kejahatan tidak
mengulangi lagi kejahatan.
Melihat rumusan tujuan sistem peradilan pidana sebagaimana disebutkan di
atas, maka pendekatan restoratif menjadi salah satu alternatif dalam penyelesaian
perkara tindak pidana yang dilakukan oleh korporasi. Ketiga tujuan sistem
peradilan pidana tersebut menjadi cocok untuk memfungsikan pendekatan
restoratif sebagai pelaksanaan prinsip ultimum remedium.
Bagi masyarakat Indonesia sebenarnya, pendekatan restoratif telah dikenal
dan dipraktikkan sejak zaman dahulu sebagaimana yang terdapat dalam hukum
adat. Jikalau dalam sistem peradilan pidana berdasarkan hukum barat, setiap tindak
pidana adalah pelanggaran hukum terhadap negara bukan orang-perorangan secara
pribadi, maka dalam hukum adat suatu tindak pidana dapat dipandang sebagai

86
Mardjono Reksodiputro (a), Sistem Peradilan Pidana Indonesia (Peran Penegak Hukum
Melawan Kejahatan) dalam buku Hak Asasi Manusia Dalam Sistem Peradilan Pidana,
kumpulan karangan buku ketiga , (Jakarta, Pusat Pelayanan Keadilan dan Pengabdian Hukum
Lembaga Kriminologi Universitas Indonesia, 2007), hlm. 84.
87
Ibid.

33
suatu pelanggaran terhadap orang-perorangan, suatu pelanggaran terhadap suatu
golongan keluarga atau suatu pelanggaran terhadap suatu desa, sehingga mereka
masing-masing berhak untuk mengurusnya.88 Penyelesaian sengketa di luar
pengadilan bagi bangsa Indonesia merupakan hal yang menjadi falsafah bangsa
Indonesia sejak dahulu kala, hanya penamaannya tidak memakai kalimat
Penyelesaian Sengketa di Luar Pengadilan. Penyelesaian sengketa ini merupakan
falsafah nenek moyang bangsa Indonesia yang telah berkembang di tengah-tengah
masyarakat, misalnya masyarakat antar daerah yang bertikai lebih mengutamakan
menyelesaikannya dalam bentuk musyawarah. Musyawarah ini telah diangkat ke
permukaan oleh pendiri bangsa Indonesia dengan mencantumkannya dalam UUD
1945.89
Pandangan yang sama juga dikemukakan Joni Emerzon, yang menyatakan
bahwa penyelesaian sengketa melalui lembaga-lembaga Alternatif Penyelesaian
Sengketa (Alternative Dispute Resolution/ADR) secara tidak langsung sudah
berkembang dalam kehidupan masyarakat Indonesia, seperti negosiasi, mediasi,
konsilidasi, dan arbitrase, walaupun tidak persis sama dengan apa yang dilakukan
di Australia dan Amerika yang sudah melembaga.90
Dalam sistem hukum pidana Indonesia, penerapan pendekatan restoratif
merupakan suatu kebijakan yang relatif baru dan masih bersifat sektoral namun
demikian kebijakan tersebut adalah sesuai dan sejalan dengan deklarasi PBB yang
diselenggarakan pada tahun 2000, tertuang dalam Prinsip-Prinsip Pokok tentang
Penggunaan Program Keadilan Restoratif dalam Permasalahan-Permasalahan
Pidana (United Nations Declaration on the Basic Principles on the Use of
Restorative Justice Programmes in Criminal Matters). Dalam deklarasi tersebut
PBB telah menganjurkan agar setiap negara mendayagunakan konsep restorative
justice secara lebih luas pada suatu sistem peradilan pidana masing-masing negra
sebagaimana yang kemudian dipertegas dalam deklarasi Wina (Vienna Declaration
on Crime and Justice: “Meeting the Challenges of the Twenty-first Century”)
dalam butir 27 dan butir 28 yang menyebutkan.

88
Rufinus Hotmaulana Hutahuruk, Op.Cit, hlm.108.
89
Supriadi, Hukum Lingkungan di Indonesia Sebuah Pengantar, (Jakarta: Sinar Grafika, 2006),
hlm.213.
90
Joni Emerzon, Alternatif Penyelesaian Sengketa di Luar Pengadilan (Jakarta: Gramedia
Pusraka Utama, 2001), hlm.26.

34
27. We decide to introduce, wherw appropriate, national, regional and
international action plans in support of victims of crime, such as mechanisms
for meditation and restorative justice, and we establish 2002 as a target date
for States to review their relevant practices, to develop further victim support
services and awareness campaigns on the rights of victims and to consider
the establishment of funds for victims, in addition to developing and
implementating witness protection policies.
28. We encourage the development of restorative justice policies, procedures and
programmes that are respectful of the rights, needs and interests of victims,
offenders, communities, and all other parties.

Terjemahan
Kami memutuskan untuk memperkenalkan, jika sesuai, rencana-rencana
tindakan untuk mendukung korban-korban kejahatan secara nasional,
regional dan internasional, seperti mekanisme untuk mediasi dan keadilan
restoratif, dan kami menetapkan tahun 2002 adalah sebagai tahun target
bagi negara-negara untuk meninjau ulang praktik-praktik mereka yang
relevan, agar dikembangkan lebih lanjut untuk mendukung pelayanan-
pelayanan dukungan terhadap korban dan melakukan kampanye-kampanye
yang bersifat memberikan kesadaran atas adanya hak-hak dari korban dan
untuk mempertimbangkan penetapan pendanaan bagi korban, dan sebagai
tambahan adalah dikembangkannya dan diimplementasikannya kebijakan-
kebijakan perlindungan saksi.

Kami mendorong pengembangan kebijakan-kebijakan, tata-cara tata-cara,


dan program-program keadilan restoratif, yang menghormati hak-hak,
kebutuhan-kebutuhan, dan kepentingan-kepentingan korban, pelaku,
masyarakat, serta semua pihak lainnya.

Pendekatan restortif juga diadopsi dalam Konvensi UNCAC 2003 ini


sebagaimana diatur dalam salah satu pasalnya, yaitu Pasal 37 tentang kerjasama
dengan otoritas penegak hukum. Pasal 37 ayat (1) ini mewajibkan kepada setiap
negara yang menjadi pihak dalam konvensi UNCAC 200391 untuk mengambil
tindakan-tindakan yang sesuai untuk mendorong mereka yang turut serta atau yang
telah turut serta dalam suatu perbuatan pidana yang ditetapkan dalam konvensi
(korupsi), agar memberikan informasi yang berguna untuk penyidikan dan
pembuktian dan untuk menyediakan bantuan nyata dan khusus kepada para pejabat
yang berwenang, yang dapat memberikan kontribusi menjauhkan para pelaku dari
proses tindak pidana dan untuk memulihkan proses-proses itu.

91
Telah diratifikasi oleh Indonesia dengan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2006 tentang
Pengesahan United Nations Convetions Against Corruption, 2003 (Konvensi Perserikatan
Bangsa-Bangsa Anti Korupsi, 2003) tanggal 18 April 2006.

35
Demikian juga dalam Kongres Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke-11
tentang Pencegahan Kejahatan dan Peradilan Pidana (Eleventh United Nations
Congress on Crime Prevention and Criminal Justice) yang diselenggarakan di
Bangkok Tahun 2005, telah ditegaskan kembali pendekatan restoratif. Butir 32
Deklarasi Bangkok tersebut di bawah judul “Sinergi dan Tanggapan: Persekutuan
Strategis dalam Pencegahan Tindak Pidana dan Peradilan Pidana (Synergies and
Responses: Strategic Alliances in Crime Prevention and Criminal Justice)”
menyebutkan sebagai berikut:
“To promote the interests of victims and teha rehabilitation of offenders, we
recognize the importance of further developing restorative justice policies,
procedures and programmes that include alternatives to prosecution, thereby
avoiding possible adverse effect of imprisonment, helping to decrease the
caseload of criminal couts and promoting the incorporation of restorative
justice approaches into criminal justice systems, as appropriate.”

Terjemahan:
“Untuk meningkatkan kepentingan-kepentingan korban dan rehabilitasi
pelanggar, diakui pentingnya mengembangkan kebijakan-kebijakan keadilan
restoratif, prosedur-prosedur, dan program-program, yang meliputi
alternatif-alternatif terhadap penuntutan, yaitu dengan cara menghindarkan
efek-efek pemenjaraan, membantu menurunkan muatan atau tunggakan
kasus dari pengadilan pidana dan meningkatkan penyatuan pendekatan-
pendekatan keadilan restoratif ke dalam sistem-sistem peradilan pidana
sebagaimana layaknya.”

4. Analisis Teori Hukum Terhadap Keberlakuan Restoratif Dalam


Tindak Pidana Korporasi
Pemenuhan rasa keadilan merupakan kunci dari seluruh rangkaian penegakan
hukum, sehingga hukum dapat dirasakan kemanfaatannya dan secara umum
hukum menjadi sarana pembangunan. Dengan demikian pendekatan restoratif
dalam tindak pidana terhadap korporasi melalui upaya pemulihan atas hak-hak
korban menjadi sangat relevan sebagai alternatif penerapan sanksi kepada
korporasi. Penerapan restoratif ini juga sangat berkaitan dengan aspek kemanfaatan
sebagaimana digambarkan oleh Roscue Pond sebagai berikut: “ law as tool of
social engineering”, yang artinya hukum dapat digunakan sebagai suatu sarana
pembaharuan (untuk membentuk, membangun, merubah), hukum sebagai sarana

36
rekayasa sosial.92 Pemenuhan rasa keadilan merupakan kunci dari seluruh
rangkaian penegakan hukum, sehingga hukum dapat dirasakan kemanfaatannya
dan secara umum hukum menjadi sarana pembangunan. Keadilan merupakan suatu
hak yang harus diwujudkan dalam sikap dan perilaku manusia di masyarakat agar
kepentingan masyarakat terlindungi, dengan adanya pengaturan hukum yang
bersendikan keadilan tersebut.
Sejalan dengan ini, Adam Smith merumuskan tentang keadilan komutatif,
dimana prinsip utama keadilan komutatif adalah no harm atau prinsip tidak
melukai dan merugikan orang lain. Keadilan komutatif ini menyangkut jaminan
dan penghargaan atas hak-hak individu, khususnya hak-hak asasi. Menurut Smith,
keadilan komutatif tidak hanya menyangkut pemulihan kembali kerusakan yang
terjadi, melainkan juga menyangkut pencegahan terhadap terlanggarnya hak dan
kepentingan pihak lain.93 Dengan lain kata dapat dikatakan bahwa keadilan
komunikatif tidak terutama terletak dalam melakukan suatu tindakan positif untuk
orang lain, melainkan terletak dalam tidak melakukan tindakan yang merugikan
orang lain. Tujuan keadilan adalah melindungi orang dari kerugian yang diderita
akibat orang lain.94Keadilan komutatif lalu tertuang dalam hukum yang tidak
hanya menetapkan pemulihan kerugian, melainkan juga hukum yang mengatur
agar tidak terjadi pelanggaran atas hak dan kepentingan pihak tertentu.95 Teori
keadilan berdasar Smith berkaitan dengan konsep resiprositas atau kesetaraan nilai
dalam pemulihan kembali kerugian maupun pertukaran ekonomi. Teori keadilan
Smith ini dikembangkan kemudian bahwa prinsip utama keadilan komunitatif tidak
melukai dan merugikan orang lain. Keadilan menurut Smith menyangkut adanya
jaminan dan penghargaan atas hak-hak individu.96
Sedangkan ditinjau dari aspek kemanfaatan, maka pendekatan restoratif juga
diyakini dapat memberikan kemanfaatan atau kebahagiaan yang besar bagi para

92
W. Friedman, Legal Theory, Dalam Naskah Akademis Tentang Peradilan Anak, Mahkamah
Agung RI, Tahun 2005, hlm.8.
93
A. Sonny Keraf, Pasar Bebas Keadilan dan Peran Pemerintah (Yogyakarta: Kanisius, 1996),
hlm. hlm.112.
94
Ibid, hlm.116.
95
Ibid, hlm.112.
96
Sri Gambir Melati Hatta, Peranan Itikad Baik Dalam Hukum Kontrak dan Perkembangannya,
Serta Implikasinya Terhadap Hukum dan Keadilan, Pidato diucapkan pada Upacara
Pengukuhan Jabatan Guru Besar Tetap Madya pada Fakultas Hukum Universitas Indonesia,
tanggal 30 Agustus 2000, hlm.16.

37
korban tindak pidana korporasi. Seperti yang dikatakan oleh Jeremy Bentham
bahwa tujuan hukum semata-mata untuk memberikan kemanfaatan atau
kebahagiaan yang sebesar-besarnya bagi sebanyak-banyaknya warga masyarakat.
Penekanannya didasarkan pada filsafat sosial bahwa setiap warga masyarakat
mencari kebahagiaan dan hukum merupakan alatnya. Adanya negara dan hukum
semata-mata hanya demi manfaat sejati, yaitu kebahagiaan mayoritas masyarakat.
Manfaat adalah satu istilah abstrak. Istilah ini mengungkapkan sifat atau
kecenderungan sesuatu untuk mencegah kejahatan atau memperoleh kebaikan.
Kejahatan adalah penderitaan atau penyebab penderitaan. Kebaikan adalah
kesenangan atau penyebab kesenangan.97 Yang paling sesuai dengan manfaat atau
kepentingan seorang individu adalah yang cenderung memperbanyak jumlah
kebahagiaan itu. Yang paling sesuai dengan manfaat atau kepentingan masyarakat
adalah yang cenderung memperbesar jumlah kebahagiaan individu yang
membentuk masyarakat itu.98 Jeremy Bentham juga mengatakan bahwa
pemidanaan adalah tidak diperlukan apabila jenis-jenis lain dari pengendalian atau
pengawasan atau intervensi-intervensi telah berhasil dilakukan. Sedangkan Sally S.
Simpson menekankan bahwa penegakan upaya yang lebih luas haruslah dipusatkan
atas pengendalian-pengendalian yang bersifat informal dan intervensi-intervensi
(dari pemerintah).99
Paradigma yang dibangun dalam sistem peradilan pidana saat ini menentukan
bagaimana Negara harus memainkan peranannya berdasarkan kewenangan yang
dimilikinya, Negara memiliki otoritas untuk mengatur warganegara melalui organ-
organnya.100 Bahwa dasar dari pandangan ini menempatkan Negara sebagai
pemegang hak menetapkan sejumlah norma yang berlaku dalam hukum pidana (ius
punale) dan hak memidana (ius puniendi) sebagai bentuk penanganan suatu tindak
pidana yang terjadi dalam masyarakat.101 Namun demikian, penggunaan lembaga

97
Jeremy Bentham, The Theory of Legislation (Teori Perundang-undangan: Prinsip-prinsip
Legislasi, Hukum Perdata dan Hukum Pidana), diterjemahkan oleh Nurhadi (Bandung:
Nusamedia & Nuansa, 2006), hlm.26.
98
Ibid.
99
Sally J.Simpson, Corporate Crime, Law, and Social, (Cambridge University Press, 2002),
hlm.9-10.
100
Eva Achjani Zulfa, Restorative Justice Dan Peradilan Pro-Korban, dalam buku Reparasi dan
Kompensasi Korban Dalam Restorative Jusctice, (Jakarta: Kerjasama antara Lembaga
Perlindungan Saksi dan Korban Dengan Departemen Kriminologi FISIP UI, 2011), hlm. 27.
101
Ibid.

38
hukum pidana sebagai alat penanganan konflik menempatkan dirinya sebagai
mekanisme terkahir yang dimana lembaga lain tidak dapat menjalankan fungsinya
untuk menangani konflik yang terjadi, dengan demikian hukum pidana bersifat
ultimun remidium.102 Pendekatan penegakan hukum dengan menggunakan
pendekatan restoratif pada tindak pidana korporasi lebih memberikan manfaat
besar dalam rangka upaya pemulihan atas hak-hak korban.
Proses restorative justice dalam perkara tindak pidana korporasi pada
dasarnya dilakukan melalui diskresi (kebijaksanaan) dan diversi ini, merupakan
upaya pengalihan dari proses peradilan pidana ke luar proses formal untuk
diselesaikan secara musyawarah. Penyelesaian melalui musyawarah sebetulnya
bukan hal baru bagi bangsa Indonesia. Sebelum pendudukan Belanda, bangsa kita
sudah memiliki hukum sendiri, yaitu hukum adat. Hukum adat tidak membedakan
penyelesaian perkara pidana dengan perkara perdata, semua perkara dapat
diselesaikan secara musyawarah dengan tujuan untuk mendapatkan keseimbangan
atau pemulihan keadaan.
Istilah “penyelesaian di luar pengadilan” umumnya dikenal sebagai kebijakan
yang dilakukan oleh aparat penegak hukum yang memiliki wewenang untuk
melakukan beberapa hal sebagai berikut: sebagai penentu keluaran akhir dari suatu
kasus sengketa, konflik, pertikaian atau pelanggaran, namun juga memiliki
wewenang melakukan diskresi / pengenyampingan perkara pidana yang dilakukan
oleh pihak tertentu, dilanjutkan dengan permintaan kepada pelaku / pelanggar agar
mengakomodasi kerugian korban. Istilah umum yang populer adalah dilakukannya
“perdamaian” dalam perkara pelanggaran hukum pidana.
Keuntungan dari penggunaan “penyelesaian di luar pengadilan” dalam
menyelesaikan kasus-kasus pidana korporasi adalah bahwa pilihan penyelesaian
pada umumnya diserahkan kepada pihak pelaku dan korban (negara). Keuntungan
lain yang juga amat menonjol adalah biaya yang murah. Sebagai suatu bentuk
pengganti sanksi, pihak pelaku dapat menawarkan kompensasi yang dirundingkan
atau disepakati dengan pihak korban (negara). Dengan demikian, keadilan menjadi
buah dari kesepakatan bersama antar para pihak sendiri, yaitu pihak korban
(negara) dan pelaku, bukan berdasarkan kalkulasi jaksa dan putusan hakim.

102
Ibid.

39
E. Penutup
1. Kesimpulan
Sistem pertanggungjawaban pidana korporasi dalam perspektif kebijakan
kriminal dan hukum pidana tidak dapat dilepaskan dengan pengertian kebijakan
kriminal atau upaya penanggulangan kejahatan pada hakikatnya merupakan bagian
integral dari upaya perlindungan masyarakat (social defence) dan upaya mencapai
kesejahteraan masyarakat masyarakat (social welfare). Apabila terdapat banyak
kelemahan dalam perumusan sistem pertanggungjawaban pidana korporasi dalam
peraturan perundang-undangan di Indonesia, maka akan mempengaruhi pula
proses penegakan hukumnya. Pendekatan restoratif dalam penyelesaian kasus
tindak pidana korporasi dalam praktik hukum di Indonesia memiliki potensi yang
besar dalam sistem peradilan pidana Indonesia. Melalui pendekatan restoratif ini
diyakini lebih menghargai hak-hak korban dan lebih mudah untuk melakukan
proses rehabilitasi pelaku pidana seraya mencari alternatif dari penuntutan dengan
cara menghindari efek-efek pemenjaraan yang selama ini masih dipergunakan
dalam sistem peradilan pidana pada umumnya. Keterlibatan pihak korban dalam
proses penyelesaian tindak pidana korporasi, merupakan cerminan dari
pelaksanaan prinsip-prinsip keseimbangan dan keadilan yang belum sepenuhnya
dapat ditempuh dalam sistem hukum pidana di Indonesia. Pendekatan restoratif
memaknai keadilan hanya dapat diberikan melalui keterlibatan para pihak dalam
menyelesaikan suatu konflik yang timbul akibat tindak pidana, dan bukan sekadar
pemenuhan keadilan menurut ketentuan peraturan perundang-undangan.
Memberikan hak kepada pelaku dan korban untuk dapat menyelesaikan konflik
yang terjadi di antara mereka, merupakan hal yang utama dalam pandangan
pendekatan restoratif, karena pendekatan restoratif, memandang suatu tindak
pidana bukan semata-mata merupakan suatu pelanggaran terhadap hukum negara
tetapi merupakan suatu perbuatan dari seseorang kepada orang lain yang
menimbukan kerusakan atau kerugian yang harus dipulihkan.
Prinsip utama dalam penyelesaian tindak pidana melalui pendekatan
restoratif adalah bagaimana mencari upaya yang dapat mengatasai berbagai konflik
secara etis dan layak, mendorong seseorang untuk dapat melakukan kesepakatan
dalam penyelesaian yang akan ditempuhnya. Adapun bentuk sanksi yang dipilih

40
dalam pendekatan restoratif, adalah yang bersifat memulihkan dan menjauhi
bentuk sanksi yang bersifat pemenjaraan, dan pemilihan atas sanksi tersebut
dilakukan atas dasar kesepakatan di antara kedua belah pihak.
Dalam pandangan pendekatan restoratif, pemilihan jenis sanksi yang bersifat
pemulihan ini dianggap jauh lebih penting dan lebih berdayaguna daripada sanksi
yang menekankan pada hukuman pemenjaraan yang merupakan pilihan alternatif
terakhir. Pendekatan restoratif dalam sistem hukum pidana Indonesia juga
merupakan amanat pelaksanaan dari asas yang tercantum dalam hukum pidana
yakni ultimum remedium. Dengan demikian, maka pendekatan restoratif dipandang
sangat efektif dalam menanggulangi tindak pidana korporasi oleh karena konsep
yang ditawarkan dalam pendekatan restoratif adalah di samping proses
penyelesaiannya lebih cepat dan sederhana, juga dapat meniadakan efek samping
yang pada umumnya sering terjadi dalam implementasi pendekatan represif
retributif.
2. Saran
Dalam kesempatan penulisan makalah ini, penulis menyampaikan
sumbangsarannya yakni sebagai berikut di bawah ini.
1). Dalam proses penegakan hukum terhadap tindak pidana yang dilakukan oleh
korporasi, terutama yang menyangkut kepentingan masyarakat selaku pihak
korban, maka diupayakan pendekatan restoratif terlebih dahulu dengan
melibatkan para korban dalam menentukan upaya pemulihan (sanksi) yang
akan ditempuh.
2). Diperlukan adanya suatu undang-undang khusus yang mengatur tentang
kedudukan badan hukum (korporasi) yang di dalamnya ditentukan tentang
ssitem dan mekanisme penyelesaian perkara melalui pendekatan restoratif.
3). Diperlukan adanya suatu lembaga khusus yang menangani perkara korporasi
dengen pendekatan restoratif sehingga keberlakuan resrtoratif dalam
menangani perkara dimaksud dapat terwujud secara kelembagaan yang
otoritatif.

41
DAFTAR PUSTAKA

Buku
A. Sonny Keraf, Pasar Bebas Keadilan dan Peran Pemerintah, Yogyakarta:
Kanisius, 1996.
Abdul Latif & Hasbi Ali, Poltik Hukum, Cet.1, Jakarta: Sinar Grafika, 2010.
Barda Nawawi Arief, Kebijakan Legislatif Dalam Penanggulangan Kejahatan
Dengan Pidana Penjara, Semarang, Badan Penerbit UNDIP, 1994.
__________, Masalah Penegakan Hukum Dan Kebijakan Penanggulangan
Kejahatan, Bandung , Citra Aditya Bakti, 2001.
__________, Sari Kuliah Perbandingan Hukum Pidana, Jakarta: PT RajaGrafindo,
2002.
__________, Kapita Selekta Hukum Pidana, Bandung: PT Citra Aditya Bakti,
2003.
Basssiouni M. Cherif , Substantive Criminal Law, Illionis,USA,Charles C.Thomas
Publisher,1978.
Black, Henry Campbell, Black’s Law Dictionary, West Publishing Co., St. Paul,
Minnessota, 1990.
Bentham Jeremy, The Theory of Legislation (Teori Perundang-undangan:
Prinsip-prinsip Legislasi, Hukum Perdata dan Hukum Pidana),
diterjemahkan oleh Nurhadi, Bandung: Nusamedia & Nuansa, 2006.
Chidir Ali, Badan Hukum, Bandung: Alumni, 1987.
Clinard Marshall B and Peter C Yeager. Corporate Crime. New York: The Free
Press, 1980.
Dwija Priyatno, Kebijakan Legislasi tentang Sistem Pertanggungjawaban Pidana
Korporasi di Indonesia, Bandung: CV. Utomo, 2004.
Eva Achjani Zulfa, Restorative Justice Dan Peradilan Pro-Korban, dalam buku
Reparasi dan Kompensasi Korban Dalam Restorative Jusctice, Jakarta:
Kerjasama antara Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban Dengan
Departemen Kriminologi FISIP UI, 2011.

42
Erman Rajaguguk, Badan Hukum Sebagai Subyek Hukum, Jakarta: Mitra
Management Centre,1994.
Gandjar L Bondan, Reparasi dan Kompensassi Korban dalam Restorative Justice,
Jakarta: Kerjasama antara Lembaga Perlindungan Saksi Dan Korban
dengan Departemen Kriminologi FISIP UI, 2011.
Gillies Petter, Criminal Law, Second Edition, Sidney, The Law Book Company
Limited, 1990,
I. S. Susanto, Kriminologi, Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro,
1995.
Joni Emerzon, Alternatif Penyelesaian Sengketa di Luar Pengadilan, Jakarta:
Gramedia Pusraka Utama, 2001.
J.Simpson, Sally, Corporate Crime, Law, and Social, Cambridge University Press,
2002.
Keijzer Schaffmeister D.N, E. PH. Sutorius, Hukum Pidana,Editor Penerjemah J.E.
Sahetapy, Yogyakarta: Liberty,1995.
Loebby Loqman, Kapita Selekta Tindak Pidana di Bidang Perekonomian, Jakarta:
Datacom, 2002.
Mardjono Reksodiputro, Tinjauan Terhadap Perkembangan Delik-delik Khusus
Dalam Masyarakat Yang Mengalami Modernisasi, Kertas Kerja pada
Seminar Perkembangan Delik-delik Khusus Dalam Masyarakat Yang
Mengalami Modernisasi,di FH UNAIR, Bandung, Binacipta,1982.
___________, Kemajuan Pembangunan Ekonomi dan Kejahatan. Jakarta: Pusat
Pelayanan Keadilan dan Pengabdian Hukum (d/h) Lembaga
Kriminologi Universitas Indonesia, 1994.
___________, Hak Asasi Manusia Dalam Sistem Peradilan Pidana, kumpulan
karangan buku ketiga, Jakarta, Pusat Pelayanan Keadilan dan Pengabdian
Hukum Lembaga Kriminologi Universitas Indonesia, 2007.
Moh. Mahfud MD, Politik Hukum di Indonesia. Jakarta: RajaGrafindo Persada,
2010.
Muladi dan Dwidja Priyatno, Pertanggungjawaban Pidana Korporasi, Cet.1,
Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2010.

43
Muladi dan Barda Nawawi Arief, Teori-Teori Dan Kebijakan Pidana, Bandung:
Alumni, 1984.
Muladi, Kapita Selekta Sistem Paradilan Pidana, Semarang, Badan Penerbit
UNDIP, 1995.
Mulyadi Mahmud dan Surbakti Feri Antono, Politik Hukum Pidana Terhadap
Kejahatan Korporasi, Jakarta: PT Sofmedia, 2010.
Padmo Wahjono, Indonesia Negara berdasarkan Atas hukum, Jakarta: Ghalia
Indonesia, 1986.
Romli Atmasasmita, Perbandingan Hukum Pidana, Bandung: Mandar Maju, 1996.
___________, Pengantar Hukum Kejahatan Bisnis, Bogor: Kencana, 2003.
Rufinus Hotmaulana Hutauruk, Penanggulangan Kejahatan Korporasi Melalui
Pendekatan Restoratif, Suatu Terobosan Hukum, Jakarta: Sinar Grafika,
2013.
Satjipto Rahardjo dalam Supanto, Kejahatan Ekonomi Global dan Kebijakan
Hukum Pidana, Cet.1, Bandung: Alumni, 2010.
___________, Ilmu Hukum, Bandung: Alumni, 1986.
___________, Hukum dan Perubahan Sosial, Alumni,Bandung, 1983
Satya Arinanto & Ninuk Triyanti, Memahami Hukum, Dari Konstruksi Sampai
Implementasi, Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2011.
Setiyono, Kejahatan Korporasi, Analisis Viktimologis dan pertanggungjawaban
Korporasi Dalam Hukum Pidana Indonesia, Malang: Averroes Press, 2002.
__________, Kejahatan Korporasi, Malang: Bayumedia Publishing, 2003.
Sholehuddin, Sistem Sanksi Dalam Hukum Pidana: Ide Dasar Double Track
System dan Implementasinya, Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2003.
Soedjono Dirdjosisworo, Anatomi Kejahatan Di Indonesia (Gelagat dan Proyeksi
Antisipasinya Pada Awal Abad Ke 21), Jakarta: PT Granesia, 1996.
Soetan K. Malikoel Adil, Pembaharuan Hukum Perdata Kita, Jakarta:
Pembangunan, 1955.
Subekti dan R. Tjitrosudibio, Kamus Hukum, Jakarta: Pradnya Paramita, 1979.
Sudarto, Hukum Pidana 1, Semarang: Badan Penyediaan Bahan-Bahan Kuliah FH-
UNDIP, 1987.

44
Supanto, Perspektif Hukum Pidana Menghadapi Perkembangan Kejahatan
Ekonomi Global, dalam Memahami Hukum Dari Konstruksi Sampai
Implementasi, Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2011.
__________, Kejahatan Ekonomi Global dan Kebijakan Hukum Pidana, Cet.1,
Bandung: Alumni, 2010.
Supriadi, Hukum Lingkungan di Indonesia Sebuah Pengantar, Jakarta: Sinar
Grafika, 2006.
Termorshuizen Marjanne, Kamus Hukum Belanda-Indonesia, Jakarta: Djambatan,
1999.
Van Bemmelen J. M., Hukum Pidana I : Hukum Pidana Material Bagian Umum,
diterjemahkan oleh Hasnan, Bandung: Binacipta, 1986.

Makalah, Jurnal, Pidato Pengukuhan, dll.


Dwidja Priyatno,”Antisipasi Hukum Pidana Terhadap Kejahatan Korporasi dalam
Era Globalisasi”, dalam Karya Vira Jati No.90, tahun 1995, Bandung:
Seskoad, 1995.
Friedman W., Legal Theory, Dalam Naskah Akademis Tentang Peradilan Anak,
Mahkamah Agung RI, Tahun 2005.
Hanafi, Reformasi Sistem Pertanggungjawaban Pidana, Jurnal Hukum Vol. 6-
1999.
Loebby Loqman, Hukum Pidana di Bidang Perekonomian, Majalah Hukum dan
Pembangunan, No.5 Tahun XXIV Oktober, Jakarta: Fak.Hukum UI, 1994.
Mardjono Reksodiputro, Tindak Pidana Korporasi dan Cara Penanggulangannya,
Bahan Penataran Hukum Pidana dan Kriminologi, FH UNDIP, 1994.
Romli Atmasasmita, Paper: Strategi Pemberantasan Korupsi Transnasional Paska
Ratifikasi Konvensi PBB Menentang Korupsi Tahun 2003.
Rudhi Prasetya, Perkembangan Korporasi Dalam Proses Modernisasi Dan
Penyimpangan-Penyimpangannya, Makalah disampaikan pada seminar
nasional ”Kejahatan Korporasi” yang diselenggarakan oleh Fakultas
Hukum UNDIP di Semarang pada tanggal 23-24 Nopember 1989.

45
Sri Gambir Melati Hatta, Peranan Itikad Baik Dalam Hukum Kontrak dan
Perkembangannya, Serta Implikasinya Terhadap Hukum dan Keadilan,
Pidato diucapkan pada Upacara Pengukuhan Jabatan Guru Besar Tetap
Madya pada Fakultas Hukum Universitas Indonesia, tanggal 30 Agustus
2000.
Teuku Mohammad Radhie, Pembaruan dan Politik Hukum dalam Rangka
Pembangunan Nasional, dalam majalah Prisma No. 6 Tahun II Desember
1973.

Internet
http://eprints.undip.ac.id (diunduh tanggal 14 Maret 2013: jam, 21.15 WIB).
http://bismar.wordpress.com. (diunduh tanggal 23 Maret 2013, Jam:15.30 WIB).
http://www.wikimediaindonesia. (diunduh tanggal 23 Maret 2013, Jam:16.00
WIB).
http://www.google.com. (diunduh tanggal 23 Maret 2013, Jam:16.30 WIB).
http://www.scribd.com. (diunduh tanggal 20 Maret 2013, jam:15.30 WIB).
http://www. Ojp.us-doj/ovc/publications/infores/restorative_justice.html. (diunduh
tanggal 3 Juni 2013, jam: 21.30 WIB).
http: web.infotrac.gale-group.com. (diunduh tanggal 3 Juni 2013, jam: 22.00
WIB).
www.restorativejustice.org. (diunduh tanggal 3 Juni 2013, jam: 22.00 WIB).

Dokumen
The Secretariat Sevent United Nations Congrss of the Prevention on Crime and
The Treatment of Offenders, 26 August-6 September 1985, New York: United
Nations,1986.
Eighth United Nations Congress on the Prevention of Crime and the Treatment of
Offenders, 27 August – 7 September 1990, New York: United Nations, 1991.
Ninth United Nations Congress on the Prevention of Crime and the Treatment of
Offenders, Cairo 29 April – 8 May 1995.
Tenth United Nations Congress on the Prevention of Crime and the Treatment of
Offenders, Vienna 10-17 April 2000.

46
Peraturan Perundang-Undangan
Republik Indonesia, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945
Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2003 sebagaimana telah
diubah dengan Nomor 8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan Dan
Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang
Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika
Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 Tentang Lingkungan
Hidup sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun
2009
Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2006 Tentang Pengesahan
United Nations Convetions Against Corruption, 2003 (Konvensi
Perserikatan Bangsa-Bangsa Anti Korupsi, 2003)
Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2002 Tentang
Ketenagalistrikan
Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 Tentang Minyak dan
Gas Bumi
Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo. Undang-Undang
Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Tindak Pidana Korupsi
Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan
Konsumen
Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 Tentang Larangan
Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat
Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 Tentang Perbankan
Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1985 Tentang Pasar Modal
Republik Indonesia, Undang-Undang Drt Nomor 7 Tahun 1955 Tentang Tindak
Pidana Ekonomi
Republik Indonesia, Undang-Undang Drt Nomor 17 Tahun 1951 Tentang
Penimbunan Barang-Barang.

47
48