Anda di halaman 1dari 23

ANALISIS PENERAPAN BUDAYA ORGANISASI 5S

(SEIRI, SEITON, SEISO, SEIKETSU, DAN SHITSUKE)


DI PT CHITOSE INTERNASIONAL TBK

Analysis of Culture Organization 5S (Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, And


Shitsuke) in PT Chitose Internasional Tbk

Proposal Tugas Akhir Mahasiswa Diploma III Administrasi Bisnis

Oleh :

Putri Manik Astagina

NIM: 155211022

PROGRAM STUDI D-III ADMINISTRASI BISNIS


JURUSAN ADMINISTRASI NIAGA
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
2018

i
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah
memberikan berkat dan rahmat- Nya sehingga penulis dapat membuat proposal
tugas akhir dengan judul “Analisis Penerapan Budaya Organisasi 5S (Seiri,
Seiton, Seiso, Seiketsu, dan Shitsuke) di PT Chitose Internasional Tbk” yang
diselesaikan dengan baik dan tepat pada waktunya.

Penyusunan proposal tugas akhir ini bertujuan untuk memberikan gambaran


terhadap calon pembimbing tugas akhir mengenai topik yang menjadi bahasan
dalam tugas akhir yang akan dibuat oleh penulis. Dalam penulisan proposal ini,
penulis mengucapkan terima kasih kepada beberapa pihak khususnya para
pembimbing praktik kerja lapangan yang telah membantu penulis dalam
pengambilan permasalahan yang dapat diangkat untuk memenuhi tugas akhir
penulis.
Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang mendasar pada
proposal tugas akhir ini. Oleh karena itu penulis mengharapkan pembaca untuk
memberikan saran serta kritik yang dapat membangun. Sehingga diharapkan
proposal tugas akhir dapat diterima dan menjadi topik yang tepat untuk penelitian
tugas akhir.

Cimahi, 10 April 2018

Penulis

i
DAFTAR ISI’[

KATA PENGANTAR ............................................................................................. i


DAFTAR ISI ........................................................................................................... ii
1. JUDUL ............................................................................................................. 1
2. PENDAHULUAN ........................................................................................... 1
2.1. Latar Belakang Masalah .......................................................................... 1
2.2. Identifikasi Masalah ................................................................................. 4
2.3. Maksud dan Tujuan Penelitian ................................................................. 4
2.4. Manfaat Penelitian .................................................................................... 5
2.5. Metode Penelitian ..................................................................................... 5
2.6. Lokasi dan Waktu Penelitian .................................................................... 5
3. LANDASAN TEORI .......................................................................................... 6
3.1. Budaya Organisasi ....................................................................................... 6
3.1.1. Pengertian Budaya Organisasi .............................................................. 6
3.1.2. Fungsi Budaya Organisasi..................................................................... 8
3.1.2. Karakteristik Budaya Organisasi........................................................... 8
3.2 Budaya Kerja 5S ......................................................................................... 11
4. JADWAL PELAKSANAAN ............................................................................ 17
5. RANCANGAN ANGGARAN BIAYA ............................................................ 17
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 18

ii
1. JUDUL
“ANALISIS PENERAPAN BUDAYA KERJA 5S (SEIRI, SEITON,
SEISO, SEIKETSU, DAN SHITSUKE ) DI PT CHITOSE
INTERNASIONAL TBK”

2. PENDAHULUAN
2.1. Latar Belakang Masalah
Dalam organisasi terdapat suatu variabel sistem yang memengaruhi cara
bersikap para anggotanya. Anggota dalam organisasi berasal dari latar belakang
yang berbeda, hal tersebut membuat perilaku dari anggota tersebut berbeda dengan
anggota lainnya. Suatu organisasi selalu memiliki tujuan dari terbentuknya
organisasi tersebut, sehingga untuk menciptakan dan menciptakan cara bersikap
atau berperilaku anggotanya agar sesuai dengan keinginan organisasi maka perilaku
tersebut bisa diatur dengan diterapkannya budaya organisasi. Budaya organisasi
dibentuk untuk menciptakan ikatan sosial dengan tujuan meningkatkan
kebersamaan antar anggota organisasi dengan diterapkannya standar-standar yang
sesuai dengan apa yang ingin diciptakan agar para anggota dapat melakukan
pekerjaan dengan berlandaskan budaya organisasi. Budaya organisasi hadir dengan
cara-cara yang tidak menghakimi. Budaya organisasi tercipta dari apa yang telah
dilakukan sebelumnya setelah itu menganalisis keberhasilan yang dicapai
organisasi tersebut dan mempelajari upaya-upaya apa saja yang membuat
keberhasilan dari organisasi tersebut, sehingga sumber utama budaya organisasi
adalah para pendirinya. Para pendiri organisasi secara tradisional memiliki
pengaruh yang dominan dalam membentu budaya awal karena mereka memiliki
visi atas wujud terciptanya organisasi tersebut. Sehingga budaya organisasi tidak
akan lepas dari pemikiran para pendiri organisasi.
Salah satu organisasi yang menerapkan budaya organisasi adalah PT
Chitose Internasional Tbk. PT Chitose Internasional Tbk adalah perusahaan yang
bergerak di bidang furnitur dengan produk inti yang dihasilkan adalah kursi. Pada
awal berdiri PT Chitose Internasional Tbk diresmikan dengan nama PT Chitose
Indonesia Manufacturing Limited pada 15 Juni 1978. Perusahaan ini bekerja sama

1
dengan pihak-pihak dari Negara Jepang sehingga pada tahun 1980 perseroan
memulai aktivitas komersial dengan bantuan Chitose Japan dan Perseroan mulai
melakukan ekspor pertama kali ke Jepang pada tahun 1986. Para pendiri perusahaan
di dominasi oleh para warga Negara Jepang sehingga budaya organisasi yang
diterapkan adalah budaya organisasi dari Jepang.
Pada awalnya perkembangan budaya organisasi di Asia, dipelopori oleh
Negara Jepang. Perkembangan budaya tersebut diiringi dengan perkembangan yang
sangat luar biasa, diantaranya kemenangan Jepang atas Rusia tahun 1905, awal
kebangkitan Jepang dan Asia. Dimulai dari restorasi Meiji, Masa Meiji (1867 –
1912) merupakan salah satu periode yang paling istimewa dalam sejarah Jepang.
Di bawah pimpinan kaisar Meiji, Jepang bergerak maju sehingga hanya dalam
beberapa dasawarsa mencapai pembentukan suatu bangsa modern yang memiliki
perindustrian modern dan lembaga-lembaga politik modern. Pada tahun-tahun
pertama pemerintahannya, kaisar Meiji memindahkan ibu kota kekaisaran dari
Kyoto ke Edo. Edo pun berganti nama baru menjadi Tokyo (ibu kota Timur). Dibuat
undang-undang dasar yang menetapkan sebuah kabinet dan badan-badan legistlatif.
Golongan-golongan masyarakat selama masa Edo membuat masyarakat terbagi
berdasarkan kasta telah dihapuskan. Kaisar Meiji membawa pencerahan dalam
membimbing bangsanya melewati peralihan yang sangat mencuat. Lalu berakhir
pada saat meninggalnya kaisar Meiji pada tahun 1912. Tetapi pengembangan
budaya diteruskan oleh penerusnya Kaisar Taisho dan Kaisar Hirohito. Pada masa
kepemimpinan Kaisar Taisho dan Kaisar Hirohito telah menjadikan Jepang menjadi
bangsa unggul. Bahkan setelah kekalahan perang dunia kedua yang menghancurkan
Jepang, Negara Jepang merasa termotivasi untuk membangun kembali keadaan
negaranya setelah perang dunia kedua.

Kehancuran yang dahsyat pada Perang Dunia II dengan dijatuhkannya bom


atom di kota Hiroshima dan Nagasaki, Jepang mampu bertahan dan bahkan bangkit
dengan kekuatan yang sangat luar biasa menjadi suatu negara maju di kawasan Asia
Timur, dan mampu menempatkan negara dalam posisinya di jajaran negaranegara
dengan perekonomian terkuat di dunia. Hal ini dibuktikan pada pertengahan era
1990-an, Produk National Bruto (PNB) Jepang mencapai US$ 37,5 miliar atau

2
337,5 triliun rupiah, yang sekaligus menempatkan Jepang pada posisi ke-2 setelah
Swiss yang memiliki PNB tertinggi di dunia. Tapi mengapa negara dengan banyak
kekurangan ini mampu bertahan dan bangkit menjadi negara maju di dunia.
Manajemen dalam pandangan bangsa Jepang adalah komitmen kolektif yang lahir
dari kesadaran diri dan rasionalitas untuk mengabdi pada institusi (perusahaan)
tempat bekerja, baik secara fisik maupun nalar. Manajemen kolektif atau
manajemen konsensus yang terdapat dalam perusahaan Jepang adalah kolektivitas
dengan makna bahwa kerjasama, sinergi, dan berkarya bukan hanya saling
mendorong satu sama lain, namun lebih dari itu dilakukan secara hand in hand,
aktif dalam mengambil keputusan, menentukan tujuan dari team work. Dengan
berorientasi terhadap hal tersebut Jepang berhasil menumbuhkan perilaku tersebut
di negaranya.

Ahli survei AS yang bernama Dr. W. Edward Deming yang mencoba


membantu Jepang untuk pembangunan kembali ekonomi Jepang sehingga konsep
Deming mulai tahun 1970-an telah diterapkan oleh perusahaan Jepang yang
terkenal dengan “14 kunci Dr. Deming”. Konsep Deming sukses diterapkan di
Negara Jepang, kemudian konsep tersebut lebih dikenal dengan konsep kaizen dan
secara luas baru diperkenalkan oleh Masaaki Imai dalam bukunya “Kaizen : the key
to Japan’s competitive success” (1986). Konsep Kaizen merupakan dari Jepang
yang memfokuskan diri pada pengembangan dan penyempurnaan secara terus
menerus atau berkesinambungan dalam perusahaan bisnis Kaizen berasal dari
Bahasa Jepang yaitu kai artinya perubahan dan zen artinya baik. Kunci keunggulan
perusahaan Jepang adalah sangat unggul dalam persaingan adalah mampunya
menghilangkan pemborosan dan menghindari berbagai kesulitan. Sehingga Jepang
selalu memiliki prinsip untuk melakukan perubahan yang lebih baik. Dengan
penerapan konsep Kaizen, Jepang menjadi pelopor di Asia sebagai pencipta dari
penerapan budaya organisasi. Bahkan industri rintisan Jepang memiliki
keungggulan dan melebihi Jerman dan negara Eropa lainnya. Konsep utama
Kaizen terdiri dari konsep PDCA (Plan Do Check Action), 5S, 3M, dan standarisasi
Kaizen. Namun untuk menarapkan budaya organisasi yang berhubungan dengan
produktivitas dan pengaturan dalam penempatan tempat kerja makan budaya yang

3
diterapkan di PT Chitose Internasional Tbk adalah budaya organisasi 5S. Budaya
organisasi 5S terdiri dari Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, dan Shitsuke, di mana bila
diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi Ringkas, Rapi, Resik, Rawat,
dan Rajin.

Penerapan budaya organisasi 5S telah diterapkan dari awal perusahaan


tersebut berdiri hingga saat ini. Namun, penerapan budaya organisasi tersebut
belum diterapkan secara maksimal, sehingga masih terlihat beberapa
penyimpangan dari penerapan budaya 5S. Penataan lingkungan kerja di PT Chitose
Internasional Tbk masih ada yang belum sesuai dengan budaya kerja 5S. Faktor
kurangnya pengetahuan akan pemahaman 5S dan kurangnya kesadaran para
pegawai mengenai kenggulan dari penerapan budaya organisasi 5S. Sehingga pada
penelitian kali ini akan menganalisis mengenai “Analisis Penerapan Budaya
Organisasi 5S (Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, dan Shitsuke ) di PT Chitose
Internasional Tbk”. Sehingga diharapkan hasil dari penelitian ini adalah
mengetahui sejauh mana para pegawai memahami dan mengimplementasikan
budaya organisasi unggulan 5S di lingkungan organisasi PT Chitose Internasional
Tbk.

2.2. Identifikasi Masalah


Berdasarkan latar belakang masalah tersebut maka perumusan masalah
yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah:

1. Bagaimana pemahaman dan bentuk usaha karyawan mengenai budaya


kerja unggulan 5S?
2. Pendekatan apa yang dibutuhkan untuk meningkatkan penerapan budaya
kerja unggulan 5S di PT Chitose Internasional Tbk?

2.3. Maksud dan Tujuan Penelitian


Adapun maksud dan tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Mengetahui sejauh mana para karyawan memahami dan


mengimplementasikan budaya kerja unggulan 5S.

4
2. Mengetahui pendekatan yang tepat untuk menciptakan budaya kerja
unggulan 5S.

2.4. Manfaat Penelitian


Adapun manfaat dari penelitian ini yang diharapkan dapat bermanfaat bagi
berbagai pihak diantaranya:

1. Bagi Penulis
Penelitian ini disamping sebagai salah satu syarat dalam
menyelesaikan studi D3 Administrasi Politeknik Negeri Bandung,
bermanfaat untuk memperbanyak pemahaman mahasiswa akan
budaya kerja di lingkungan kerja.
2. Bagi Perusahaan
Diharapkan penelitian ini dapat memberikan solusi agar penerapan
budaya kerja 5S dapat ditingkatkan dengan pendekatan yang
diciptakan.

2.5. Metode Penelitian


Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kuantitatif.
Penelitian ini akan dilakukan dengan survei dan memakai daftar pertanyaan yang
baku. Instrumen penelitian yang digunakan adalah kuesioner. Hasil yang
didapatkan berupa data-data yang akan dijelaskan berdasarkan persentase dari
sebuah fenomena yang ada. Sehingga pada akhir penelitian ini akan menghasilkan
tingkat penerapan budaya organisasi 5S di PT Chitose Internasional Tbk.

2.6. Lokasi dan Waktu Penelitian


Lokasi dalam pelaksanaan penelitian adalah di PT Chitose Internasional
Tbk yang ber-alamat di Jln. Industri III No.5, Kota Cimahi. Waktu penelitian dari
proses awal mengetahui latar belakang masalah hingga pembuatan laporan adalah
selama kurang lebih tiga bulan.

5
3. LANDASAN TEORI
3.1. Budaya Organisasi
3.1.1. Pengertian Budaya Organisasi
Organisasi mampu beroperasi secara efisien ketika ada variabel yang
menjadi sistem di dalam organisasi. Variabel ini kita sebut budaya organisasi.
Budaya organisasi merujuk kepada suatu sistem yang dipegang oleh anggotanya
sehingga budaya organisai yang diciptakan dapat memberikan petunjuk kepada
anggota organisasi lainnya untuk berperilaku sesuai dengan budaya organisasi yang
diterapkan. Budaya organisasi tercipta dari kebiasaan, tradisi, dan cara-cara umum
dalam mengerjakan sesuatu yang sudah ada dalam suatu organisasi. Upaya upaya
yang membuat organisasi berhasil mencapai tujuan akan menjadi suatu pola
perilaku yang diterapkan dan menjadi kebiasaan baik di organisasi tersebut.
Sehingga budaya organisasi tercipta dari upaya yang dilakukan suatu organisasi
untuk mencapai suatu keberhasilan, selanjutnya upaya tersebut digunakan sebagai
kebiasaan dalam berperilaku.

Budaya organisasi pada dasarnya tidak dapat dilepaskan dari konteks


budaya secara umum yang ada dalam masyarakat. Berdasarkan pengertian Kast
(dalam Robbins, 2003) dimana budaya organisasi merupakan seperangkat sistem
nilai dan kepercayaan yang dianut bersama yang berinteraksi dengan orang-orang
suatu perusahaan, strukur organisasi dan sistem pengawasan untuk menghasilkan
norma-norma perilaku. Budaya organisasi merupakan bagian dari budaya umum
yang berkembang dalam masyarakat dalam lingkup spesifik yang bersifat abstrak.
Atas dasar itu, pemahaman terhadap unsur-unsur dan karakteristik budaya
organisasi dalam suatu organisasi maka merupakan hal yang sangat penting dalam
mempelajari atau mengkajinya.

Marcoulides dan Heck (1993) dalam Wahyudi (Okt 2017) mengemukakan


bahwa budaya organisasi sebagai suatu konsep dapat menjadi suatu sarana untuk
mengukur kesesuaian dari tujuan organisasi, standar dan organisasi tugas serta
dampak yang dihasilkan. Tanpa ukuran yang valid dan reliable dari aspek kritis
budaya organisasi, maka pernyataan tentang dampak budaya pada kinerja akan
terus berdasarkan spekulasi, observasi personal dan studi kasus.

6
Sedangkan definisi budaya organisasi menurut Edgar Schein dalam
Ivancevich, Konopaske, & T.Matteson (2005) budaya organisasi merupakan suatu
pola dari asumsi dasar yang diciptakan, ditemukan, atau dikembangkan oleh
kelompok tertentu saat belajar menghadapi masalah adaptasi eksternal dan integrasi
internal yang telah berjalan cukup baik untuk dianggap valid dan oleh karena itu,
untuk diajarkan kepada anggota baru sebagai cara yang benar untuk berpersepsi,
berpikir, dan berperasaan sehubungan dengan masalah yang dihadapinya. Dari
definisi tersebut menunjukan bahwa budaya melibatkan asumsi, adaptasi, persepsi,
dan pembelajaran.

Menurut C.A. O'Reilly III (1991) terdapat tujuh karakter utama yang
menjadi elemen-elemen penting suatu budaya organisasi. Tujuh karakter tersebut
adalah:

1. Inovasi dan pengambilan risiko: Tingkat daya pendorong karyawan untuk


bersikap inovatif dan berani mengambil risiko.
2. Perhatian terhadap detail: Tingkat tuntutan terhadap karyawan untuk
mampu memperlihatkan ketepatan, analisis, dan perhatian terhadap detail.
3. Orientasi terhadap hasil: Tingkat tuntutan terhadap manajemen untuk lebih
memusatkan perhatian pada hasil, dibandingkan perhatian teknik dan proses
yang digunakan untuk meraih hasil terssebut.
4. Orientasi terhadap individu: Tingkat kepuasan manajemen dalam
mempertimbangkan efek-efek hasil terhadap individu yang ada di dalam
organisasi.
5. Orientasi terhadap tim: Tingkat aktivitas pekerjaan yang diatur dalam tim,
bukan secara perorangan.
6. Agresivitas: Tingkat tuntutan terhadap orang-orang agar berlaku agresif dan
bersaing, dan tidak bersikap santai.
7. Stabilitas: Tingkat penekanan aktivitas organisasi dalam mempertahankan
status quo berbanding pertumbuhan.

Masing-masing karakteristik berada suatu kesatuan, dari tingkat yang


rendah menuju tingkat yang tinggi. Menilai suatu organisasi dengan menggunakan

7
tujuh karakter ini akan mengasilkan gambaran mengenai budaya organisasi
tersebut.

3.1.2 Fungsi Budaya Organisasi


Budaya memiliki beberapa funsgi dalam suatu organisasi. Menurut Robbins
(2002) fungsi dari budaya organnisasi adalah: Pertama, budaya memiliki suatu
peran batas-batas penentu artinya budaya menciptakan perbedaan antara satu
organisasi dengan organisasi lainnya. Kedua, budaya berfungsi untuk
menyampaikan rasa identitas kepada anggota-anggota organisasi. Ketiga, budaya
mempermudah pernerusan komitmen hingga mencapai batasan yang lebih luas,
melebihi batasan ketertarikan individu. Keempat, budaya mendorong stabilitas
sistem sosial. Budaya merupakan suatu ikatan sosial yang membantu meningkatkan
kebersamaan antar anggota organisasi. Budaya organisasi menyediakan standar-
standar yang sesuai mengenai apa yang harus dikatakan dan dilakukan oleh para
anggotanya.

Berdasarkan fungsi budaya organisasi yang dijelaskan budaya organisasi


berperan penting dalam mencapai tujuan organisasi. Budaya organisasi menuntut
para anggotanya untuk berperilaku sesuai dengan budaya yang berlaku.. Budaya
mendorong terciptanya komitmen organisasi dan meningkatkan konsistensi
karyawan. Budaya dari sudut pandang karyawan bisa mengurangi keambiguan.
Keambiguan para anggotanya untuk berperilaku dalam organisasi tersebut.

3.1.2. Karakteristik Budaya Organisasi


Karakteristik budaya organisasi menurut Robbins dalam bukunya yang
berjudul Prinsip Prinsip Perilaku Organisasi (2002) adalah:

1. Inisiatif individual
Inisiatif individual adalah tingkat tanggung jawab, kebebasan atau
indepedensi yang dipunyai setiap anggota organisasi dalam mengemukakan
pendapat. Inisiatif individual tersebut perlu dihargai oleh kelompok atau
pimpinan suatu organisasi sepanjang menyangkut ide untuk memajukan
organisasi dan memberikan pelayanan bagi masyarakat.
2. Toleransi terhadap tindakan beresiko

8
Suatu budaya organisasi dikatakan baik apabila dapat memberikan
toleransi kepada anggota atau para pegawai agar dapat bertindak agresif dan
inovatif dalam rangka memberikan pelayanan kepada masyarakat
sertaberani mengambil resiko terhadap apa yang dilakukannya.

3. Pengarahan

Pengarahan dimaksudkan sejauh mana organisasi dapat


menciptakan dengan jelas sasaran dan harapan yang diinginkan. Sasaran
dan harapan tersebut jelas tercantum dalam visi, misi, dan tujuan organisasi.
Kondisi ini dapat berpengaruh terhadap kinerja organisasi.

4. Integrasi
Integrasi dimaksudkan sejauh mana organisasi dapat mendorong
unit-unit organisasi untuk bekerja secara terkoordinasi. Kekompakan unit-
unit tersebut dapat mendorong kualitas dan kuantitas pekerjaan yang
dihasilkan.
5. Dukungan Pimpinan
Dukungan pimpinan dimaksudkan sejauh mana pimpinan dapat
memberikan komunikasi atau arahan, bantuan serta dukungan yang jelas
terhadap bawahan. Dukungan pimpinan yang dapar dilakukan dalam
menjalankan budaya organisasi adalah:

1. Kontrol

Alat kontrol yang dapat dipakai adalah peraturan-peraturan atau


norma-norma yang berlaku di dalam suatu organisasi.

2. Identitas

Identitas diperhatikan untuk mengetahui sejauh mana para anggota


suatu organisasi atau perusahaan dapat mengidentifikasikan dirinya sebagai
suatu kesatuan dalam organisasidan bukan sebagai kelompok kerja tertentu
atau keahlian profesional tertentu.

3. Pemberian penghargaan

9
Sejauh mana organisasi memberikan penghargaan kepada pegawai
yang didasarkan atas prestasi kerja pegawai, bukan didasarkan atas
senioritas, sikap pilih kasih, dan sebagainya.

4. Toleransi terhadap konflik

Sejauh mana para pegawai atau karyawan di dorong untuk


mengemukakan konflik dan kritik secara terbuka. Perbedaan
pendapatmerupakan fenomena yang sering terjadi dalam suatu organisasi.
Namun perbedaan pendapat dan kritik tersebut bisa digunakan untuk
melakukan perbaikan atau perubahan strategi untuk memberikan pelayanan
yang maksimal kepada masyarakat

5. Pola komunikasi

Sejauh mana komunikasi dibatasi oleh hierarki kewenangan yang


formal. Kadang-kadang hierarki kewenangan dapat menghambat terjadinya
pola komunikasi antara atasan dan bawahan atau antar karyawan itu sendiri

Sedangkan menurut Luthans (2006) menyatakan budaya organisasi


mempunyai sejumlah karakteristik penting. Beberapa diantaranya adalah:

1. Aturan perilaku yang diamati.


Ketika anggota organisasi berinteraksi satu sama lain, mereka
menggunakan bahasa, istilah, dan ritual umum yang berkaitan dengan rasa
hormat dan cara berperilaku.
2. Norma.
Norma adalah standar perilaku, mencakup pedoman mengenai
seberapa banyak pekerjaan yang dilakukan, yang dalam banyak perusahaan
menjadi ”jangan melakukan terlalu banyak; jangan terlalu sedikit.”
3. Nilai dominan.
Organisasi mendukung dan berharap peserta membagikan nilai-nilai
utama. Contohnya adalah tata nilai, kualitas produk tinggi, sedikit absen,
dan efisiensi tinggi.
4. Filosofi.

10
Terdapat kebijakan yang membentuk kepercayaan organisasi
mengenai bagaimana karyawan dan atau pelanggan diperlakukan.
5. Aturan.
Terdapat pedoman ketat berkaitan dengan pencapaian perusahaan.
Pendatang baru harus mempelajari teknik dan prosedur yang ada agar
diterima sebagai anggota kelompok yang berkembang.
6. Iklim Organisasi.
Merupakan keseluruhan ”perasaan” yang disampaikan dengan
pengaturan baru yang bersifat fisik, cara peserta berinteraksi, dan cara
anggota organisasi berhubungan dengan pelanggan dan individu dari luar.

3.2 Budaya Kerja 5S


Jepang adalah salah satu Negara yang memasuki era globalisasi dan bisa
bersaing dalam perdagangan internasional. Kekuatan dari sistem manajemen
Jepang terletak pada orientasinya terhadap sumber daya manusia. Perusahaan
Jepang memiliki budaya organisasi yang mengacu terhadap meningkatkan nilai
tambah, kualitas kerja dan produktivitas kerja setiap anggotanya (Iwan
Setiawan, 2004). Untuk mewujudkan hal tersebut Jepang memiliki budaya kerja
unggulan yang disebut 5S. Nama 5S berasal dari huruf pertama istilah Jepang
yaitu Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, Shitsuke yang menjadi semboyan, karena
istilah ini mungkin sukar diingat oleh orang-orang non Jepang sehingga pada
pengertian budaya kerja 5S tersebut dapat diterjemahkan menjadi pemilahan,
penataan, pembersihan, pemantapan, pembiasaan. Pada kegiatan 5S ini
karyawan mampu memberikan hasil produktivitas yang lebih tinggi dan mutu
yang lebih baik karena orang yang mempedulikan pekerjaannya mampu
melaksanakan tugasnya dengan lebih baik. (Takashi Osada, 1995 : x-xi). Budaya
kerja unggulan 5S digunakan oleh banyak organisai dari berbagai bidang. 5S
tidak hanya diterapkan di perusahaan rintisan Jepang saja, namun bisa di
implementasikan di berbagai organisasi. Berikut ini pengertian mengenai 5S:

11
1. Seiri (Pemilahan)

Umumnya istilah ini mengatur segala sesuatu, memilah sesuai dengan


aturan atau prinsip tertentu (Takashi Osada, 1995). 5S Seiri berarti membedakan
antara yang diperlukan dengan yang tidak diperlukan, mengambil keputusan
yang tegas dan menerapkan manajemen stratifikasi (skala urutan atau prioritas),
ada berbagai teori yang berbeda tentang bagaimana memilah pekerjaan tetapi
yang perlu dilakukan pada langkah awal semua penggunaan teori itu adalah
membagi segala sesuatu ke dalam kelompok sesuai dengan urutan
kepentingannya. Hal ini dapat diterapkan dengan melakukan manajemen
stratifikasi yaitu menurut diagram pareto dan metode KJ adalah merupakan alat
kendali mutu standar yang dipergunakan untuk memecahkan masalah dan
memprioritaskan masalah serta memilah informasi. (Pengetahuan dasar
implementasi 5S, 2008).

Pada manajemen stratifikasi mencakup memutuskan pentingnya suatu


barangbarang (peralatan), mengurangi persediaan barang-barang (peralatan)
yang tidak perlukan, sekaligus memastikan bahwa barang-barang (peralatan)
yang diperlukan disimpan dalam jarak dekat supaya lebih efisien maka kunci
pokok manajemen stratifikasi yang baik adalah kemampuan untuk membuat
keputusan tentang frekuensi pemakaiannya dan memastikan bahwa barang-
barang (peralatan) tersebut berada di tempatnya. Kemudian pada barangbarang
(peralatan) yang tidak diperlukan harus disimpan jauh-jauh begitu pula
sebaliknya barang-barang (peralatan) yang dibutuhkan dan diperlukan pada saat
kerja harus disimpan di daerah yang paling dekat dengan keperluan kerja dan
barang-barang (peralatan) yang rusak atau cacat sebaiknya perlu memiliki
kesadaran untuk memperbaikinya.

2. Seiton (Penataan)

Menurut Takashi Osada (1995:67) mengatakan bahwa setelah


membuang barangbarang (peralatan) yang tidak diperlukan maka langkah
berikutnya adalah mengambil keputusan berapa banyak barang-barang
(peralatan) yang akan disimpan dan dimana barangbarang (peralatan) tersebut
diletakkan hal inilah yang dinamakan penataan (Seiton). Penataan berarti

12
menyimpan barang-barang (peralatan) dengan memperhatikan efisiensi, mutu
dan keamanan serta mencari cara penyimpanan yang optimal. Penataan diawali
dengan studi efisiensi intensif dan mendetail. Dimulai dengan stratifikasi
organisasi, prinsip penataan berusaha memformulasikan peraturan yang
mengendalikan stratifikasi. Seringkali mulai dengan memutuskan berapa kali
menggunakan segala sesuatu dan memulainya dari situ :

(a) barang-barang (peralatan) yang tidak pergunakan dibuang;


(b) barang-barang (peralatan) yang tidak pergunakan tetapi ingin
dipergunakan seandainya diperlukan : simpan sebagai sesuatu untuk
keadaan tidak terduga;
(c) barang-barang (peralatan) yang pergunakan hanya sewaktu-waktu
saja : simpan sejauh mungkin;
(d) Barang-barang (peralatan) yang kadang-kadang pergunakan : simpan
di tempat kerja;
(e) Barang-barang (peralatan) yang sering pergunakan : simpan di
tempat kerja atau disimpan para pekerja.

Menurut uraian indosdm (2008) menjelaskan mengenai adapun penataan


barang-barang (peralatan) dapat menggunakan langkah-langkah sebagai berikut :

1. Menentukan tempat untuk barang-barang (peralatan) secara tepat :


Kondisi ini dimaksudkan untuk menentukan tempat barang-barang
(peralatan) harus ada kriteria untuk menentukan jika tidak ada kriteria
dan pola tertentu tidak mungkin seseorang dapat mengetahui tempatnya
yang tepat sehingga untuk mencari barang-barang (peralatan) tersebut
diperlukan waktu yang lebih lama.
2. Menentukan bagaimana menyimpan barang-barang (peralatan) : Hal ini
dimaksudkan bahwa barang-barang (peralatan) tersebut harus disimpan
supaya mudah ditemukan dan mudah diambil kemudian penyimpanan
harus dilakukan dengan memperhatikan supaya mudah ditemukan
kembali.
3. Mentaati aturan : Dimaksudkan bahwa selalu menyimpan barang-
barang (peralatan) ke tempat semula hal ini memang kedengaran mudah

13
tetapi sulit dalam pelaksanaannya karena terkadang karyawan enggan
untuk mengembalikan barangbarang (peralatan) ke tempat semula.
3. Seiso (Pembersihan)

Kegiatan budaya kerja 5S pada aktivitas Seiso menurut Takashi Osada


(1995:109) mengatakan bahwa kegiatan Seiso secara umum berarti
membersihkan barang-barang (peralatan) yang ada sehingga menjadi bersih,
dalam istilah 5S Seiso berarti membuang sampah, kotoran dan benda-benda asing
serta membersihkan segala sesuatu dari tempatnya dan pembersihan merupakan
salah satu bentuk dari aktivitas pemeriksaan. Pada kondisi ini diutamakan
pembersihan sebagai pemeriksaan terhadap kebersihan dan menciptakan tempat
kerja yang tidak memiliki cacat dan cela sehingga membersihkan memiliki arti
lebih dari sekedar membuat barang-barang (peralatan) bersih, hal ini lebih
merupakan sebuah falsafah dan komitmen untuk bertanggungjawab atas segala
aspek barang-barang (peralatan) yang dipergunakan dan untuk memastikan
sebuah barang-barang (peralatan) selalu berada dalam kondisi prima (baik).
Kondisi membersihkan ini merupakan suatu aktivitas yang dilakukan secara terus
menerus (kontinyu) sebagai bentuk aktivitas dalam melakukan pemeriksaan
terhadap kegiatan rutinitas. Kegiatan melakukan pembersihan dapat ditentukan
dengan melakukan 3 (tiga) langkah pembersihan, yaitu :

1. Aktivitas tingkat makro yaitu membersihkan segala sesuatu untuk


menangani penyebab keseluruhannya,
2. Tingkat individual yaitu membersihkan tempat kerja khusus dan bagian
mesin khusus,
3. Aktivitas tingkat mikro yaitu membersihkan bagian dan alat khusus serta
penyebab kotoran diidentifikasi dan diperbaiki.

4. Seiketsu (Pemantapan)

Kegiatan Seiketsu menurut Takashi Osada (1995:129) menjelaskan bahwa


kegiatan Seiketsu merupakan pemantapan atau pemeliharaan keadaan yang bersih
sehingga pemantapan ini dianggap sebagai kegiatan pengulangan terhadap
pemilahan, penataan dan pembersihan serta sebagai kesadaran aktivitas untuk
memastikan bahwa keadaan 5S (Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, Shitsuke) selalu

14
terpelihara, ini berarti dalam melaksanakan aktivitas 5S secara teratur dapat melatih
ketrampilan untuk menciptakan dan memelihara kontrol visual (pengawasan
kegiatan secara manual). Jadi Seiketsu (pemantapan) merupakan suatu aktivitas
yang dilakukan secara terus menerus dan secara berulang-ulang dengan melakukan
pemeliharaan terhadap pemilahan, penataan dan pembersihan dengan demikian
pemantapan mencakup kebersihan pribadi dan kebersihan lingkungan kerja
sehingga diperlukan manajemen visual terhadap pemantapan 5S. Inovasi dan
manajemen visual (produksi, mutu, keamanan dan sebagainya) dipergunakan untuk
mencapai dan memelihara kondisi yang dimantapkan sehingga dapat bertindak
dengan cepat. Pada kontrol visual memerlukan alat bantu visual yaitu harus melatih
ketrampilan dalam merancang alat kreatif untuk memperlancar proses pada kontrol
visual tetapi juga harus memerlukan keempat indera lain untuk membantu orang
memiliki pemahaman secara menyeluruh tentang apa yang sedang terjadi.
Gambaran terhadap jenis peragaan pada kontrol visual (alat yang membuat
seseorang segera dapat mengatakan ada sesuatu yang tidak beres) misalnya
memerlukan lampu peringatan atau sejenisnya (sirine) sehingga orang-orang akan
memperhatikan bahwa sedang terjadi masalah yang dibutuhkan meliputi hal-hal
sebagai berikut :

a. Peragaan untuk membantu orang mencegah membuat kesalahan operasi,


b. Waspada terhadap bahaya,
c. Indikasi dimana barang-barang (peralatan) harus diletakkan,
d. Penandaan peralatan,
e. Peringatan untuk berhati-hati dan cara operasi,
f. Peragaan pemeliharaan preventif.

5.Shitsuke ( Pembiasaan )

Pemahaman mengenai shitsuke (pembiasaan) menurut Takashi Osada


(1995:149) menjelaskan mengenai kegiatan shitsuke merupakan bentuk pelatihan
dan kemampuan untuk melakukan apa yang ingin dilakukan meskipun keadaan
itu sulit untuk dilaksanakan.

15
Dalam 5S Shitsuke berarti menanamkan (memiliki) kemampuan untuk
melakukan sesuatu dengan cara yang benar, yang dalam hal ini adalah
menekankan penciptaan tempat kerja dengan kebiasaan dan perilaku yang baik,
dengan mengajarkan setiap orang apa yang harus dilakukan dan memerintahkan
setiap orang untuk melaksanakannya sehingga kebiasaan buruk akan terbuang
dan kebiasaan baik akan terbentuk, orang mempraktekkannya dengan membuat
dan mematuhi peraturan. Melakukan hal yang benar sebagai suatu kebiasaan
merupakan pembiasaan untuk melakukan pekerjaan berulang-ulang sehingga
kegiatan tersebut dapat dilakukannya dengan benar. Hal ini merupakan cara
mengubah kebiasaan yang buruk dan menciptakan kebiasaan baik. Kegiatan 5S
tidak akan berhasil tanpa melakukan pembiasaan pada pekerjaan secara efisien
tanpa adanya kesalahan. Dengan memperhatikan hal-hal yang kecil harus
mampu bekerja keras dan sabar dengan mengembangkan kebiasaan yang baik
dan bekerja secara teratur dan melaksanakan aktivitas rutin.

Pembentukan kebiasaan pada kegiatan shitsuke ini dapat dilakukan bila


mentaati prosedur yang dapat dilakukan sebagai berikut :

a. Membiasakan (sistematis) perilaku untuk memperoleh hasil yang baik,


b. Perbaiki komunikasi dan pelatihan untuk memperoleh mutu yang terjamin,
c. Atur supaya setiap orang mengambil bagian dan setiap orang melakukan
sesuatu kemudian mengimplementasikan,
d. Atur segala sesuatu sehingga setiap orang merasa bertanggungjawab atas apa
yang mereka kerja,
e. Melembagakan praktek yang baik dan menciptakan tempat kerja yang
disiplin,
f. Setiap orang bekerja sama memperkuat team dan memperkuat perusahaan.

16
4. JADWAL PELAKSANAAN

APRIL MEI JUNI JULI


No Kegiatan
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1. Pengajuan Proposal Tugas Akhir
2. Pembuatan Laporan Bab 1

LIBUR HARI RAYA IDUL


3. Pembuatan Laporan Bab 2
4. Pengambilan Data
5. Pembuatan Laporan Bab 3

FITRI
6. Penyebaran Kuesioner
7. Pengolahan Data
8. Pembuatan Laporan Bab 4
9. Revising dan Editing
Pengumpulan Laporan Tugas
10.
Akhir
11. Sidang Tugas Akhir

5. RANCANGAN ANGGARAN BIAYA

HARGA
NO. KEPERLUAN QTY HARGA TOTAL
SATUAN
1. Tinta Printer Cartridge 4 pcs Rp. 80.000 Rp. 320.000,00

2 Kertas 2 rim Rp. 35.000 Rp. 70.000,00

3. Fotocopy 2 paket Rp. 100.000 Rp. 200.000,00

4. Penjilidan 3 paket Rp. 30.000 Rp. 90.000,00

5. Transportasi 1 paket Rp. 100.000 Rp. 100.000,00

6. DVD-R 3 pcs Rp. 5.000 Rp. 15.000,00

7. Tempat DVD 3 pcs Rp. 2.000 Rp 6.000,00

8. Biaya Tidak Terduga 1 paket Rp. 200.000 Rp. 200.000,00

TOTAL Rp. 1.001.000,00

17
DAFTAR PUSTAKA

C.A. O'Reilly III, J. d. (1991, September). People and Organizational Culture: A


Profile Comparison Approach to Assessing Person-Organization Fit.
Academy of Management Journal , 487-516.
Ivancevich, J. M., Konopaske, R., & T.Matteson, M. (2005). Perilaku dan
Manajemen Organisasi. Jakarta: Erlangga.
Luthans, F. (2006). Perilaku Organisasi Edisi 10. Yogyakarta: Andi.
Robbins, S. P. (2002). Prinsip Prinsip Perilaku Organisasi . Jakarta: Erlangga.
Robbins, S. P. (2003). Organizational Behavior, Concept Contropversies and
Applications. Prentice Hall Inc. USA. Terjemahan. Jakarta: P.T. Indeks
Kelompok Gramedia.
Wahyudi. (Okt 2017). Penerapan Budaya 5S dan Pengaruhnya Terhadap Kinerja
Karyawan. Teknoterap Vol.1 No. 1 , 51.

18
6
12