Anda di halaman 1dari 24

Aspek Hukum dan Pemeriksaan Tanda-Tanda Kejahatan Seksual

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana


Jl.Arjuna Utara no.6 Jakarta Barat 11510

Pendahuluan

Pada kasus pada skenario ini, akan membahas seorang laki-laki berusia 45 tahun yang
membawa anak perempuannya yang berusia 14 tahun ke IGD sebuah rumah sakit dan
menyatakan bahwa anaknya tersebut baru saja pulang “dibawa lari” oleh teman laki-laki nya
yang berusia 18 tahun selama 3 hari keluar kota. Sang ayah takut apabila telah terjadi sesuatu
pada diri putrinya. Ia juga bimbang apa yang akan diperbuatnya bila sang anak telah
“disetubuhi” laki-laki tersebut dan akan merasa senang apabila anda daapt menjelaskan
berbagai hal tentang aspek medikolegal dan hukum kasus anaknya.

Salah satu praktek seks yang dinilai menyimpang adalah bentuk kekerasan seksual.
Artinya praktek hubungan seksual yang dilakukan dengan cara-cara kekerasan, bertentangan
dengan ajaran dan nilai-nilai agama serta melanggar hukum yang berlaku. Kekerasan
ditunjukkan untuk membuktikan bahwa pelakunya memiliki kekuatan, baik fisik maupun
nonfisik. Dan kekuatannya dapat dijadikan alat untuk melakukan usaha-usaha jahatnya itu.

Untuk mengenali bentuk-bentuk kekerasan terhadap anak sesungguhnya tidaklah jauh


dari sekitar kita. Realitas kekerasan seksual yang dialami anak–anak sampai saat ini masih
menjadi masalah yang cukup besar di Indonesia.

Pembahasan

Aspek Medikolegal

Peraturan Medikolegal diatur dalam KUHAP (Kitab Undang-Undang Hukum Acara


Pidana). Dimana didalamnnya memuat tatalaksana bagaimana suatu perkara pidana itu harus
ditangani. Penanganan Kasus Pidana itu sendiri antara lain:

I. Penemuan dan Pelaporan


Penemuan dan pelaporan dilakukan oleh warga masyarakat yang melihat, mengethui
atau mengalami suatu kejadian yang diduga merupakan suatu tindak pidana. Pelaporan

1
dilakukan ke pihak yang berwajib dan dalam hal ini yaitu Kepolisian RI, dll. Pelaporan
juga bisa dilakukan melalui instansi pemerintah terdekat seperti RT (Rukun Tetangga)
atau RW(Rukun Warga). Hak dan kewajiban pelaporan ini diatur didalam pasal 108
KUHAP.
II. Penyelidikan
Yaitu serangkaian tindakan penyelidik untuk mencari dan menemukan suatu peristiwa
yang diduga sebagai tindak pidana guna menentukan dapat atau tidaknnya dilakukan
penyidikan menurut cara yang diatur oleh undang-undang. Penyelidik yang dimaksud
adalah setiap pejabat polisi negara Republik Indonesia yang tertera didalam Pasal 4
KUHAP. Didalam Pasal 5 KUHAP disebutkan wewenang dan tindakan yang dilakukan
oleh penyelidik:

(1) Penyelidik sebagaimana dimaksud pasal 4:


a. Karena kewajibannya mempunyai wewenang:
1. Menerima laporan atau pengaduan dari seorang tentang adanya tindak
pidana
2. Mencari keterangan dan barang bukti
3. Menyuruh berhenti seseorang yang dicurigai dan menanyakan serta
memeriksa tanda pengenal diri
4. Mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggung jawab
b. Atas perintah penyidik dapat melakukan tindakan berupa:
1. Penangkapan, larangan meninggalkan tempat, penggeledahan dan
penyitaan
2. Pemeriksaan dan penyitaan surat
3. Mengambil sidik jari dan memotret seseorang
4. Membawa dan menghadapkan seseorang pada penyidik
(2) Penyelidik membuat dan menyampaikan laporan hasil pelaksanaan
tindakan sebgaimana tersebut pada ayat (1) huruf a dan b kepada penyidik.

III. Penyidikan
Adalah serangkaian tindakan penyidik dalam hal dan menurut cara yang idatur dalam
undang-undang ini untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu

2
membuat terang tentang tindak pidana yang terjadi dan guna menemukan tersngkanya.
Penyidikan dilakukan oleh penyidik yaitu pejabat polisi Negara RI dan pejabat pegawai
negeri sipil tertentu yang diberi wewenang khusus oleh undang-undang sebagaimana
diatur di dalam pasal 6 KUHAP. Penyidik dapat meminta bantuan seorang ahli dan
didalm hal kejadian mengenai tubuh manusia, maka penyidik dapat meminta bantuan
dokter untuk dilakukan penanganan secara kedokteran forensik. Kewajiban seorang
dokter antara lain:

1. Melakuakan pemeriksaan kedokteran forensik atas korban apabila diminta secara


resmi oleh penyidik.
2. Menolak melakuak kedokteran pemeriksaan kedokteran forensik tersebut diatas
dapat dikenai pidana penjara , selama lamanya 9 bulan.

Kewajiban untuk membantu peradilan sebagai seorang dokter forensik itu diatur
dalam asal 133 KUHAP dimana seperti yang disebutkan diatas penyidik berwenang
muntuk mengajukan permintaan keterangan ahli pada dokter forensik atau kedokteran
kehakiman. Untuk Hak dokter menolak menjadi saksi/ahli diatur dalam Pasal
120,168,170 KUHAP. Sedangkan sangsi bagi pelanggar kewajiban dokter diatur di
dalam Pasal 216,222,224,522 KUHP. Untuk melakukan prosedur Bedah mayat klinis,
anatomis, dan transplantasi oleh seorang dokter forensik diatur menurut peraturan
pemerintah No.18 Tahun1981. Dan bagi seorang dokter forensik yang membuat sebuah
keterangan palsu didalam hasil akhir pemeriksaan dikenakan Pasal 267 KUHP dan pasal
7 KODEKI.

IV. Pemberkasan Perkara


Dilakukan oleh penyidik, menghimpun semua hasil penyidikannya, termasuk hasil
pemeriksaan kedokteran forensik yang dimintakan kepada dokter. Dan nanti hasil berkas
perkara inin diteruskan ke penuntut umum.

V. Penuntutan

3
Yaitu tindakan penuntut Umum untuk melimpahkan perkara pidana ke Pengadilan
Negeri yang berwenang dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam undang-undang
ini dengan permintaan supaya diperiksa dan diputus oleh Hakim disidang Pengadilan.

VI. Persidangan
Didalam persidangan dipimpin oleh hakim atau majelis hakim. Dimana didalam
persidangan itu dilakukan pemeriksaan terhadap terdakwa, para saksi dan juga para ahli.
Dokter dapat dihadirkan di sidang pengadilan untuk bertindak selaku saksi ahli atau
selaku dokter pemeriksan. Dokter pun berhak menolak menjadi saksi/ahli yang
sebagaimana diatur di dala pasal 120,168,179 KUHAP.

VII. Vonis
Vonis dijatuhkan oleh hakim dengan ketentuan sebagai berikut:

 Keyakinan pada diri hakim bahwa memang telah terjadi suatu tindak pidana dan
bahwa terdakwa memang bersalah melakukan tindak pidana tersebut
 Keyakinan Hakin Harus Ditunjang oleh sekurang-kurangnya 2 alat bukti yang sah
yang diatur dalam pasal 184 KUHAP ( keterangan saksi, keterangan ahli, surat,
petunjuk, keterangan terdakwa).

Kasus yang terjadi pada korban merupakan delik aduan. Pada kasus ini prosedur
medikolegalnya telah sampai pada penyidikkan ,karena telah ada permintaan untuk dilakukan
visum et repertum.

Aspek Hukum

Pasal 285

Barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seorang wanita bersetubuh
dengan dia di luar perkawinan, diancam karena melakukan perkosaan dengan pidana penjara
paling lama dua belas tahun.

4
Pasal 286

Barang siapa bersetubuh dengan seorang wanita di luar perkawinan, padahal diketahui bahwa
wanita itu dalam keadaan pingsan atau tidak berdaya, diancam dengan pidana penjara paling
lama sembilan tahun.

Pasal 287

(1) Barang siapa bersetubuh dengan seorang wanita di luar perkawinan, padahal diketahuinya
atau sepatutnya harus diduganya bahwa umumya belum lima belas tahun, atau kalau umurnya
tidak jelas, bawa belum waktunya untuk dikawin, diancam dengan pidana penjara paling
lama sembilan tahun.

(2) Penuntutan hanya dilakukan atas pengaduan, kecuali jika umur wanita belum sampai dua
belas tahun atau jika ada salah satu hal berdasarkan pasal 291 dan pasal 294.

Pasal 288

(1) Barang siapa dalam perkawinan bersetubuh dengan seormig wanita yang diketahuinya
atau sepatutnya harus didugunya bahwa yang bersangkutan belum waktunya untuk dikawin,
apabila perbuatan mengakibatkan luka-luka diancam dengan pidana penjara paling lama
empat tahun.

(2) Jika perbuatan mengakibatkan luka-luka berat, dijatuhkan pidana penjara paling lama
delapan tahun.

(3) Jika mengakibatkan mati, dijatuhkan pidana penjara paling lama dua belas tahun.

Pasal 289

Barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seorang untuk melakukan
atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul, diancam karena melakukan perbuatan yang
menyerang kehormatan kesusilaan, dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun.

Pasal 290

Diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun:

1. barang siapa melakukan perbuatan cabul dengan seorang, padahal diketahuinya


bahwa orang itu pingsan atau tidak berdaya;

5
2. barang siapa melakukan perbuatan cabul dengan seorang padahal diketahuinya
atau sepatutnya harus diduganya, bahwa umumya belum lima belas tahun atau
kalau umumya tidak jelas, yang bersangkutan belum waktunya untuk dikawin;
3. barang siapa membujuk seseorang yang diketahuinya atau sepatutnya harus
diduganya bahwa umurnya belum lima belas tahun atau kalau umumya tidak jelas
yang bersangkutan atau kutan belum waktunya untuk dikawin, untuk melakukan
atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul, atau bersetubuh di luar perkawinan
dengan orang lain.

Pasal 291

(1) Jika salah satu kejahatan berdasarkan pasal 286, 2 87, 289, dan 290 mengakibatkan
luka luka berat, dijatuhkan pidana penjara paling lama dua belas tahun;
(2) Jika salah satu kejahatan berdasarkan pasal 285, 2 86, 287, 289 dan 290
mengakibatkan kematian dijatuhkan pidana penjara paling lama lima belas tahun.

Pasal 292
Orang dewasa yang melakukan perbuatan cabul dengan orang lain sesama kelamin, yang
diketahuinya atau sepatutnya harus diduganya belum dewasa, diancam dengan pidana penjara
paling lama lima tahun.

Pasal 293
(1) Barang siapa dengan memberi atau menjanjikan uang atau barang, menyalahgunakan
pembawa yang timbul dari hubungan keadaan, atau dengan penyesatan sengaja
menggerakkan seorang belum dewasa dan baik tingkahlakunya untuk melakukan atau
membiarkan dilakukan perbuatan cabul dengan dia, padahal tentang belum
kedewasaannya, diketahui atau selayaknya harus diduganya, diancam dengan pidana
penjara paling lama lima tahun.
(2) Penuntutan hanya dilakukan atas pengaduan orang yang terhadap dirinya dilakukan
kejahatan itu.
(3) Tenggang waktu tersebut dalam pasal 74 bagi pengaduan ini adalah masing-masing
sembilan bulan dan dua belas bulan.

6
Pasal 294
(1) Barang siapa melakukan perbuatan cabul dengan anaknya, tirinya, anak angkatnya, anak
di bawah pengawannya yang belum dewasa, atau dengan orang yang belum dewasa
yang pemeliharaanya, pendidikan atau penjagaannya diannya yang belum dewasa,
diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun.
(2) Diancam dengan pidana yang sama:

1. pejabat yang melakukan perbuatan cabul dengan orang yang karena jabatan adalah
bawahannya, atau dengan orang yang penjagaannya dipercayakan atau diserahkan
kepadanya,
2. pengurus, dokter, guru, pegawai, pengawas atau pesuruh dalam penjara, tempat
pekerjaan negara, tempat pen- didikan, rumah piatu, rumah sakit, rumah sakit jiwa
atau lembaga sosial, yang melakukan perbuatan cabul dengan orang yang
dimasukkan ke dalamnya.

Pasal 295

(1) Diancam:

1. dengan pidana penjara paling lama lima tahun barang siapa dengan sengaja
menyebabkan atau memudahkan dilakukannya perbuatan cabul oleh anaknya,
anak tirinya, anak angkatnya, atau anak di bawah pengawasannya yang belum
dewasa, atau oleh orang yang belum dewasa yang pemeliharaannya, pendidikan
atau penjagaannya diserahkan kepadanya, ataupun oleh bujangnya atau
bawahannya yang belum cukup umur, dengan orang lain;
2. dengan pidana penjara paling lama empat tahun barang siapa dengan sengaja
menghubungkan atau memudahkan perbuatan cabul, kecuali yang tersebut dalam
butir 1 di atas., yang dilakukan oleh orang yang diketahuinya belum dewasa atau
yang sepatutnya harus diduganya demikian, dengan orang lain.

(3) Jika yang melakukan kejahatan itu sebagai pencarian atau kebiasaan, maka pidana
dapat ditambah sepertiga.

7
Pasal 296
Barang siapa dengan sengaja menyebabkan atau memudahkan cabul oleh orang lain
dengan orang lain, dan menjadikannya sebagai pencarian atau kebiasaan, diancam dengan
pidana penjara paling lama satu tahun empat bulan atau pidana denda paling banyak lima
belas ribu rupiah.

Pemeriksaan pada Kejahatan Seksual

Pemeriksaan secara medis pada korban kejahatan seksual, baik pada anak-anak
maupun dewasa pada dasarnya sama dengan pada pasien lain, yaitu anamnesis, pemeriksaan
fisik, dan pemeriksaan penunjang.

Anamnesis

Merupakan kegiatan tanya jawab antara dokter dan pasien dengan dasar ilmu pengetauhan
yang dimiliki dokter untuk mendapat informasi penting dari pasien atau wali pasien untuk
kepentingan diagnosis. Pada kasus ini dapat ditanyakan beberapa hal yang dapat membantu,
seperti :

1. Kapan waktu peristiwa tersebut terjadi?


2. Di mana tempat terjadinya?
3. Dengan siapa saja korban pergi ke tempat tersebut?
4. Apakah korban pingsan?
5. Apakah telah terjadi kekerasan yang dilakukan pada korban? Jika iya, apakah
korban melawan?
6. Apakah telah terjadi penetrasi dan ejakulasi? Jika iya, apakah setelah kejadian
korban mencuci, mandi dan berganti pakaian?
7. Apakah pasien memiliki riwayat sakit atau luka sebelumnya? (hal ini untuk
menghindari kerugian yang dapat menimpa korban maupun orang yang diduga
bersalah)

Interpretasi:
Korban yang berusia 14 tahun mengaku bahwa dia diajak pacarnya yang berusia 18
tahun pergi berjalan-jalan.Tanpa diduga oleh korban,ternyata sang pacar membawanya jalan
jalan ke luar kota dan korban pun tidak berdaya menolak karena takut hubungannya diakhiri
oleh pacarnya tersebut. Mereka bermalam di villa milik sang pacar,pada malam kedua ketika

8
korban diberi minuman oleh sang pacar,setelah itu korban tidak sadarkan diri. Setelah
terbangun korban langsung menangis dan sangat terpukul karena tubuhnya sudah dalam
keadaan tanpa busana

Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan pada tubuh korban meliputi pemeriksaan umum:

- Kesadaran umum : compos mentis - Tinggi badan :-


- Tekanan darah : 110/80 mmHg - Pernapasan : 20x/menit
- Nadi : 90x/menit - Suhu : 36°C
- Berat badan :-
Kemudian dilanjutkan ke pemeriksaan fisik secara menyeluruh dari kepala sampai
kaki sehingga dapat ditemukan kelainan yang mungkin dapat menjadi informasi penting
untuk kasus ini.

Kepala dan leher : dalam batas normal

Mata : refleks cahaya positif

Telinga : dalam batas normal

Hidung : dalam batas normal

Tenggorokan : dalam batas normal

Thorax (jantung dan paru) : dalam batas normal

Abdomen : hepar lien tidak teraba, dalam batas normal

Genitalia eksterna : yang akan di periksa adalah bagian clitoris , labium mayor,
labium minor, vestibulum vagina, glandula bartholini, orificium vagina dan hymen.

Ekstremitas : dalam batas normal

Interpretasi :

Dalam kasus tindak kejahatan seksual, pemeriksaan fisik yang penting pertama adalah
apakah benar telah terjadi persetubuhan atau tidak . Pada pemeriksaan genitalia eksterna
korban diketahui bahwa ada tanda-tanda hiperemi. Pada pemeriksaan hymen (selaput dara)

9
juga didapatkan rupture hymen sampai dasar yang baru di arah jam 5 . Pada pemeriksaan
sekitar genitalia dan di rambut kemaluan korban juga ditemukan adanya rambut kemaluan
yang saling melekat. Hal ini menunjukkan bahwa telah terjadi persetubuhan.

Kemudian pemeriksaan fisik selanjutnya adalah memeriksa pada kulit korban apakah terdapat
tanda-tanda kekerasan seperti:

- Luka memar atau lecet terutama pada paha bagian dalam, tangan, kepala, mulut
leher hingga seluruh tubuh.
- Luka bekas cakaran atau bekas gigitan (bite marks) yang terdapat pada tubuh
korban (apabila korban juga mencakar pelaku dapat diperiksa kerokan kuku yang
diambil dari bawah kuku korban untuk pemeriksaan selanjutnya).
- Luka bekas jeratan pada tangan apabila korban diikat tangannya.
Interpretasi :

Pada tubuh korban ditemukan adanya memar dan bekas gigitan di payudara, leher
dan selangkangan .Tidak terdapat kelainan didaerah lain. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi
kekerasan pada tubuh korban.

Pemeriksaan Pakaian
Pakaian yang diperiksa adalah pakaian yang dipakai korban saat kejadian termasuk
pakaian dalam korban. Yang perlu dilakukan untuk pemeriksaan pakaian korban seandainya
pakaian korban belum dicuci adalah:
1) Bercak, kotoran, atau debu , pemeriksaan ini dilakukan untuk memeriksa apakah
ada trace evidence yang selanjutnya dikirim ke laboratorium kriminologi untuk
pemeriksaan lebih lanjut.
2) Robekan pada baju. Robekan lama atau baru. Sepanjang jahitan atau melintang
pada pakaian.
3) Kancing terputus akibat tarikan.
4) Bercak darah, cairan mani, untuk memeriksa apakah telah terjadi kekerasan dan
persetubuhan pada korban.
Interpretasi:
Tidak ditemukan bercak kotoran atau debu pada pakaian korban. Tidak ditemukan
adanya robekan pada baju ataupun kancing terputus pada korban. Bercak darah,
cairan mani tidak ditemukan pada pakaian korban.

10
Pemeriksaan Penunjang

1. Toksikologi

Dilakukan dengan mengambil darah dan urin korban untuk memeriksa apakah adanya
kemungkinan diberikan obat bius/obat tidur.

Interpretasi :

Terdapat hasil positif di urin terdapat metamfetamin,yang mengindikasikan bahwa di


tubuh korban telah masuk metamfetamin yang member pengaruh berupa rasa kantuk dan
lemas.

2. Pemeriksaan cairan mani (semen)

Cairan mani merupakan cairan agak kental, berwarna putih kekuningan, keruh dan berbau
khas. Cairan mani pada saat ejakulasi kental kemudian akibat enzim proteolitik menjadi cair
dalam waktu yang singkat (10-20 menit). Dalam keadaan normal, volume cairan mani 3-5ml
pada 1 kali ejakulasi dengan pH 7.2 – 7.6. Cairan mani mengandung spermatozoa, sel-sel
epitel dan sel-sel lain yang tersuspensi dalam cairan disebut plasma seminal yang
mengandung spermin dan beberapa enzim seperti fosfatase asam. Spermatozoa mempunyai
bentuk khas untuk spesies tertentu dengan jumlah yang bervariasi, biasanya antara 60 sampai
120 juta per ml.

Untuk menentukan adanya cairan mani dalam vagina guna membuktikan adanya suatu
persetubuhan, perlu diambil bahan dari forniks posterior vagina dan dilakukan pemeriksaan-
pemeriksaan laboratorium sebagai berikut:

 Pemeriksaan spermatozoa (mikroskopis)


a. Tanpa pewarnaan

Pemeriksaan ini berguna untuk melihat apakah terdapat spermatozoa yang bergerak.
Pemeriksaan motilitas spermatozoa ini paling bermakna untuk memperkirakan saat terjadinya
persetubuhan. Umumnya disepakati bahwa dalam 2-3 jam setelah persetubuhan masih dapat
ditemukan spermatozoa yang bergerak dalam vagina. Haid akan memperpanjang waktu ini
menjadi 3-4 jam. Setelah itu spermatozoa tidak bergerak lagi dan akhirnya ekornya akan
menghilang (lisis), sehingga harus dilakukan pemeriksaan dengan pewarnaan.

11
Cara pemeriksaan: satu tetes lender vagina diletakkan pada kaca obyek, dilihat dengan
pembesaran 500x serta kondensor diturunkan.. Bila sperma tidak ditemukan, belum tentu
dalam vagina tidak ada ejakulat mengingat kemungkinan azoospermia atau pasca vasektomi
sehingga perlu dilakukan penentuan cairan mani dalan cairan vagina.

b. Dengan pewarnaan

Dibuat sediaan apus dan difiksasi dengan melewatkan gelas sediaan apus tersebut pada nyala
api. Pulas dengan HE, Methylene Blue atau Malachite green. Cara pewarnaan yang mudah
dan baik untuk kepentingan forensik adalah dengan pulasan malachite green dengan prosedur
sebagai berikut:

Warnai dengan larutan Malachite green 1% selama 10-15 menit, lalu cuci dengan air
mengalir dan setelah itu lakukan counter stain dengan larutan Eosin Yellowish 1% selama 1
menit, terakhir cuci lagi dengan air.

 Penentuan cairan mani (kimiawi)


Untuk membuktikan adanya cairan mani dalam sekret vagina, perlu dideteksi adanya zat-zat
yang banyak terdapat dalam cairan mani dengan pemeriksaan laboratorium berikut:

a. Reaksi fosfatase asam

Dasar reaksi: adanya enzim fosfatase asam dalam kadar tinggi yang dihasilkan oleh kelenjar
prostate. Aktifitas enzim fosfatase asam rata-rata adalah sebesar 2500 U.K.A. (kaye). Dalam
sekret vagina setelah 3 hari abstinensi seksualis ditemukan aktifitas 0-6 Unit (Risfeld). Cara
pemeriksaannya yaitu dengan menempelkan cairan yang dicurigai pada kertas saring yang
terlebih dahulu dibasahi dengan aquades selama beberapa menit. Kemudian kertas saring
diangkat dan disemprotkan / diteteskan dengan reagen. Ditentukan waktu reaksi dari saat
penyemprotan sampai timbul warna ungu, karena intensitas warna maksimal tercapai secara
berangsur-angsur.

Hasil :

Bercak yang tidak mengandung enzim fosfatase memberikan warna serentak dengan
intensitas tetap, sedangkan bercak yang mengandung enzim tersebut memberikan intensitas
warna secara berangsur-angsur.

12
Waktu reaksi 30 detik merupakan indikasi kuat adanya cairan mani. Bila 30 – 65 detik, masih
perlu dikuatkan dengan pemeriksaan elektroforesis. Waktu reaksi > 65 detik, belum dapat
menyatakan sepenuhnya tidak terdapat cairan mani karena pernah ditemukan waktu reaksi >
65 detik tetapi spermatozoa positif. Enzim fosfatase asam yang terdapat di dalam vagina
memberikan waktu reaksi rata-rata 90 – 100 detik. Kehamilan, adanya bakteri-bakteri dan
jamur, dapat mempercepat waktu reaksi.

b. Reaksi Berberio

Reaksi ini dilakukan dan mempunyai arti bila mikroskopik tidak ditemukan spermatozoa.
Prinsip dari reaksi berberio adalah :menentukan adanya spermin dalam semen. Pemeriksaan
ini menggunakan reagen asam pikrat jenuh. Dimana cara pemeriksaannya yaitu dengan
mengekstraksi bercak yang dicurigai sperma dengan sedikit akuades. Ekstrak diletakkan pada
kaca objek, biarkan mengering, tutup dengan kaca penutup. Reagen dialirkan dengan pipet
dibawah kaca penutup.

Hasil :

Hasil positif bila, didapatkan kristal spermin pikrat kekuningan berbentuk jarum dengan
ujung tumpul. Kadang-kadang terdapat garis refraksi yang terletak longitudinal. Kristal
mungkin pula berbentuk ovoid.

3. Pemeriksaan Bercak Mani Pada Pakaian

a. Secara visual

Bercak mani berbatas tegas dan warnanya lebih gelap daripada sekitarnya. Bercak yang
sudah agak tua berwarna kekuningan.

 Pada bahan sutera / nilon, batas sering tidak jelas, tetapi selalu lebih gelap daripada
sekitarnya.
 Pada tekstil yang tidak menyerap, bercak segar menunjukkan permukaan mengkilat
dan translusen kemudian mengering. Dalam waktu kira-kira 1 bulan akan berwarna
kuning sampai coklat.
 Pada tekstil yang menyerap, bercak segar tidak berwarna atau bertepi kelabu yang
berangsur-angsurmenguning sampai coklat dalam waktu 1 bulan.
 Dibawah sinar ultraviolet, bercak semen menunjukkan flouresensi putih. Bercak
pada sutera buatan atau nilon mungkin tidak berflouresensi. Flouresensi terlihat jelas
13
pada bercak mani pada bahan yang terbuat dari serabut katun. Bahan makanan, urin,
sekret vagina, dan serbuk deterjen yang tersisa pada pakaian sering berflouresensi
juga.

b. Secara taktil (perabaan)

Bercak mani teraba kaku seperti kanji. Pada tekstil yang tidak menyerap, bila tidak teraba
kaku, masih dapat dikenali dari permukaan bercak yang teraba kasar.

c. Skrining awal (dengan Reagen fosfatase asam)

Cara pemeriksaan :

Sehelai kertas saring yang telah dibasahi akuades ditempelkan pada bercak yang dicurigai
selama 5 – 10 menit. Keringkan lalu semprotkan / teteskan dengan reagen. Bila terlihat
bercak ungu, kertas saring diletakkan kembali pada pakaian sesuai dengan letaknya semula
untuk mengetahui letak bercak pada kain.

Tanda-Tanda Persetubuhan

 Robekan Hymen
Variasi anatomi dari keadaan yang hymen imperforata sampai keadaan dimana
hampir tidak terdapat hymen dapat ditemukan, tetapi pemeriksaan yang dilakukan
secara hati-hati akan selalu memperlihatkan unsur-unsur dari hymen. Laserasi vaginal
biasa timbul pada coitus normal ataupaun pada perkosaan. Biasanya laserasi vaginal
disebabkan karena coitus namun dapat juga disebabkan oleh masturbasi, dengan
memasukkan benda asing seperti tampon . Perlukaan vaginal bukanlah hal yang
jarang, dan derajatnya bervariasi dari perlukaan minor akibat koitus normal hingga
introital mayor atau minor dan robekan vaginal, dan robekan dinding vagina. Trauma
minor pada vagina biasanya disebabkan oleh koitus normal. Hymen dan introitus
ditahan pada bagian anterior dimana daerah ini jarang terkena luka. Hymen yang
kresentik merupakan penampakan yang sering ditemukan pada wanita yang masih
perawan. Trauma atau luka sering diharapkan terjadi pada bagian posterior dimana
pada bagian ini terdapat daerah jaringan tanpa penyokong yang luas. Trauma vaginal
pada saat koitus biasanya terdapat pada bagian bawah, posterior , bagian dari introitus,
termasuk bagian bawah hymen dan fourchette posterior. Robekan hymen biasanya
terdapat pada bagian posterior (63% antara posisi jam 5 dan jam 7, dengan posisi

14
pasien supinasi). Robekan yang lebih parah lagi terdapat pada perluasan laserasi
hymen ke dinding vagina atau corpus penineum dan rektum dan disertai dengan
perdarahan nyata.

 Cairan semen
Cairan seminal ditambahkan kedalam saluran vagina ketika ejakulasi terjadi
selama koitus. Ketika penis ditarik, maka saluran vagina akan meluas sejauh panjang
vagina. Kelemahan dari bagian-bagian atau perubahan dari postur lubang vagina
perempuan akan menyebabkan kebocoran, yang akan membuat cairan semen
tertinggal dan menetap di rambut pubis, perineum, dan paha bagian atas dan tentu
juga pada sprei atau pakaian dalam pada waktu kejadian. Maka pada korban
dilakukan pemeriksaan cairan semen dari swab atau bilasan forniks posterior dan pada
bercak pakaian. Apabila ditemukan spermatozoa dan cairan mani pada pemeriksaan
ini, ini menunjukkan persetubuhan telah terjadi.

Tanda-Tanda Kekerasan
Cedera Akibat Kekerasan Fisik atau Perlawanan
 Menampar, memukul, menendang, dan menjatuhkan semuanya merupakan tindakan
yang dilakukan pada saat terjadi perlawanan. Bukti-bukti dari kekerasan ini sering
kali terlihat sebagai kontusio disekitar mata, pipi, bibir tetapi bukti ini juga
ditemukan tersebar hampir di seluruh bagian tubuh.
 Bagian belakang dari kepala biasanya dibenturkan ke tanah. Jika benturannya cukup
berat, hentakan yang mengenai bagian tulang akan menyebabkan laserasi, hidung
mungkin dapat patah; gigi-geligi tanggal; rahang mungkin akan mengalami fraktur.
 Goresan berbentuk garis pada perut dan lengan bawah memberikan kesan bahwa
korban terseret pada permukaan yang kasar. Partikel-partikel dari kotoran mungkin
membantu dalam mengidentifikasi tempat penyerangan.
 Luka-luka lainnya yang masih berhubungan dengan penyerangan termasuk memar
pada daerah ruas jari, daerah perbatasan ulnar pada sikut atau pada daerah betis.
 Kuku jari korban terkadang patah jika ia mencakar penyerangnya. Bahan-bahan di
bawah kuku seperti jaringan epitel dan darah dapat dikumpulkan dan sangat
membantu dalam mengidentifikasi sang pelaku.

15
Cedera pada Bagian Genital Ekxterna dan Anal
Pelebaran anus (notch atau cleft) selaput dara di daerah posterior, mencapai dekat
dasar (sering merupakan artefak pada posisi pemeriksaan tertentu, tetapi bila konsisten
pada beberapa posisi, maka mungkin akibat kekerasan tumpul atau penetrasi sebelumnya)

 Lecet akut, laserasi atau memar labia, jaringan sekitar selaput dara atau perineum
 Jejak gigitan atau hisapan di genitalia atau paha bagian dalam
 Jaringan parut atau laserasi baru daerah posterior fourchette tanpa mengenai selaput
dara
 Jaringan parut perianal (jarang, mungkin akibat keadaan medis lain seperti chron’s
disease atau akibat tindakan medis sebelumnya)
 Eritema (kemerahan/memar) vestibulum atau jaringan sekitar anus (dapat akibat zat
iritan, infeksi atau iritan)
 Adesi labia (mungkin akibat iritasi atau rabaan)
 Friabilitas (retak) daerah posterior fourchette (akibat iritasi, infeksi atau traksi labia
mayor pada pemeriksaan)
 Penebalan selaput dara (mungkin akibat estrogen, terlipatnya tepi selaput, bengkak
karena infeksi atau trauma)
 Kulit genital semu
 Fisura ani (biasanya iritasi perianal)
 Pendataran lipat anus (akibat relaksasi sfingter aksterna)
 Pelebaran anus dengan adanya tinja (refleks normal)
 Perdarahan pervaginam (mungkin berasal dari sumber lain, seperti uretra, atau
mungkin akibat infeksi vagina, benda asing atau trauma yang aksidental

Cedera akibat gigitan


Gigitan agresif ini dapat menyebabkan kerusakan dari jaringan. Goresan-goresan yang
tertinggal sebagai goresan dari gigi disepanjang kulit yang tergigit memiliki bentuk
yang beragam dengan bentuk dari ujung insisi, dan sekali lagi hal ini dapat berharga
dalam proses identifikasi. Tekanan dari gigi itu sendiri, biasanya jika dilakukan secara
perlahan oleh gigi seri, akan meninggalkan sebuah area berbentuk bulan sabit yang
berwarna pucat, masing-masing dikelilingi oleh sebuah gambaran leher yang livid,
keseluruhan dari lesi mencerminkan sebuah lengkungan dari gigi-geligi. Dimensi dan

16
bentuknya akan menolong untuk mengindikasi apakah si penggigit itu adalah seorang
manusia atau bukan, dan dapat memperkirakan usia dari sang penggigit. Cairan saliva
yang ada dan imunologi mungkin dapat membantu untuk penyelidikan dari sang pelaku.
Dokter harus mengingat bahwa swabdilakukan sebelum sang korban mencuci
badannya..

Cedera Seksual Orogenital


a. Sindroma Fellatio Cedera oral akibat fellatio diduga disebabkan oleh kombinasi dari
tekanan negatif intraoral dan dampak langsung dari penis pada daerah palatum. Lesi
patologis yang terjadi biasanya berupa perdarahan submukosa, dengan temuan klinis
meliputi eritema, petekie, atau ekimosis pada sambungan antara palatum durum dan
mole. Lesi dapat unilateral atau bilateral, dapat terpisah atau membentuk gabungan,
dan biasanya tidak melibatkan uvula atau dinding faring. Lesi yang timbul tersebut
biasanya tidak nyeri dan rata (datar).
b. Sindroma Cunnilingus Saat melakukan cunnilingus, lidah terjulur jauh ke luar, dan
bergerak-gerak, secara tidak disadari akan menggesek frenulum lingual pada gigi
insisivus mandibular. Temuan klinis menunjukkanlesi ulseratif kecil dengan eksudat
fibrin berwarna keputihan dengan tepi eritem pada bagian tengah dari frenulum
lingual. Pada aktivitas cunnilingus berulang dapat menyebabkan fibroma traumatik
kecil. Gejala meliputi nyeri pada lidah dan tenggorokan.

Visusm et Repertum

Visum et repertum adalah keterangan tertulis yang dibuat oleh dokter, berisi temuan dan
pendapat berdasarkan keilmuannya tentang hasil pemeriksaan medis terhadap manusia atau
bagian dari tubuh manusia, baik hidup maupun mati, atas permintaan tertulis (resmi) dan
penyidik yang berwenang (atau hakim untuk visum et repertum psikiatrik) yang dibuat atas
sumpah atau dikuatkan dengan sumpah, untuk kepentingan peradilan.

Visum et repertum adalah bukti yang sah berupa surat (pasal 184 jo pasal 187 butir c KUHAP)

Ketentuan umum pembuatan visum et repertum adalah:

1. Diketik di atas kertas berkepala surat instansi pemeriksa.


2. Bernomor, bertanggal di bagian kiri atasnya dicantumkan kata “Pro Justitia”

17
3. Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, tanpa singkatan dan tidak
menggunakan istilah asing
4. Ditandatangani dan diberi nama jelas pembuatnya serta dibubuhi stempel instansi
tersebut

Visum et repertum dibuat sesegera mungkin dan diberikan kepada (instansi) penyidik
pemintanya, dengan memperhatikan ketentuan tentang rahsia jabatan bagi dokter serta
ketentuan kearsipan.

Pada umumnya, korban kejahatan susila yang dimintakan visum et repertumnya


kepada dokter adalah kasus dugaan adanya persetubuhan yang diancam hukum oleh KUHP.
Persetubuhan yang diancam pidana oleh KUHP meliputi pemerkosaan, persetubuhan pada
wanita yang tidak berdaya, persetubuhan dengan wanita yang belum cukup umur.

Untuk kepentingan peradilan, dokter berkewajiban untuk membuktikan adanya


persetubuhan, adanya kekerasan (termasuk pemberian racun/obat/zat agar menjadi tidak
berdaya) serta usia korban. Selain itu dokter juga diharapkan memeriksa adanya penyakit
hubungan seksual, kehamilan dan kelainan psikiatrik/kejiwaan sebagai akibat dari tindak
pidana tersebut. Dokter tidak dibebani pembuktian adanya pemerkosaan, karena istilah
pemerkosaan adalah istilah hukum yang harus dibuktikan di depan sidang pengadilan.

Untuk dapat memeriksa korban wanita tersebut, selain adanya surat permintaan visum
et repertum, dokter sebaiknya juga mempersiapkan si korban atau orang tuanya bila ia masih
belum cukup umur, agar dapat dilakukan pemeriksaan serta saksi atau pendamping perawat
wanita dan pemeriksaan sebaiknya dilakukan dalam ruang tertutup yang tenang.

Dalam kesimpulan visum et repertum korban kejahatan susila diharapkan tercantum


perkiraan tentang usia korban, ada atau tidaknya tanda persetubuhan dan bila mungkin,
menyebutkan kapan perkiraan terjadinya, dan ada tidaknya tanda kekerasan.

Aspek Psikososial

Pelaku merupakan pelaksana utama dalam hal terjadinya perkosaan tetapi bukan
berarti terjadinya perkosaan tersebut semata-mata disebakan oleh perilaku menyimpang dari
pelaku, tetapi dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang berada di luar diri si pelaku. Namun

18
secara umum dapat disebutkan bahwa faktor-faktor penyebab timbulnya kejahatan dibagi
dalam 2 bagian yaitu: faktor intern, dan faktor ekstern.

a. Faktor Internal
Faktor intern adalah faktor-faktor yang terdapat pada diri individu. Faktor ini khusus
dilihat dari individu serta dicari hal-hal yang mempunyai hubungan dengan kejahatan
perkosaan. Hal ini dapat ditinjau dari:

(a) Faktor Kejiwaan,


yakni kondisi kejiwaan atau keadaan diri yang tidak normal dari seseorang
dapat juga mendorong seseorang melakukan kejahatan. Misalnya, nafsu seks yang
abnormal, sehingga melakukan perkosaan terhadap korban wanita yang tidak
menyadari keadaan diri si penjahat, yakni sakit jiwa, psycho patologi dan aspek
psikologis dari instink-seksual. Dalam keadaan sakit jiwa, si penderita memiliki
kelainan mental yang didapat baik dari faktor keturunan maupun dari sikap kelebihan
dalam pribadi orang tersebut, sehingga pada akhirnya ia sulit menetralisir rangsangan
seksual yang tumbuh dalam dirinya dan rangsangan seksual sebagai energi psikis
tersebut bila tidak diarahkan akan menimbulkan hubungan-hubungan yang
menyimpang dan dapat menimbulkan korban pada pihak lain. Dalam keadaan seperti
ini sering dijumpai dalam perbuatan manusia itu terdapat kesilapan-kesilapan tanpa
disadari. Jika terdapatnya perbuatan-perbuatan tidak sadar yang muncul dapat
menimbulkan perbuatan yang menyimpang maupun cenderung pada perbuatan
kejahatan.

Sedangkan aspek psikologis sebagai salah satu aspek dari hubungan seksual
adalah aspek yang mendasari puas atau tidak puasnya dalam melakukan hubungan
seksual dengan segala eksesnya. Jadi bukanlah berarti dalam mengadakan setiap
hubungan seksual dapat memberikan kepuasan, oleh karena itu pula kemungkinan
ekses-ekses tertentu yang merupakan aspek psikologis tersebut akan muncul akibat
ketidakpuasan dalam melakukan hubungan seks. Dan aspek inilah yang dapat
merupakan penyimpangan hubungan seksual terhadap pihak lain yang menjadi
korbannya. Orang yang mengidap kelainan jiwa, dalam hal melakukan perkosaan
cenderung melakukan dengan sadis, sadisme ini terkadang juga termasuk misalnya
melakukan di hadapan orang lain atau melakukan bersama-sama dengan orang lain.

19
Kemudian disamping itu, zat-zat tertentu seperti alkohol dan penggunaan narkotika
dapat juga membuat seseorang yang normal melakukan perbuatan yang tidak normal.
Seseorang yang sudah mabuk akibat meminum minuman keras akan berani
melakukan tindakan yang brutal. Dalam kondisi jiwanya yang tidak stabil ia akan
mudah terangsang oleh hal-hal yang buruk termasuk kejahatan seksual.

(b) Faktor Moral.


Moral merupakan faktor penting untuk menentukan timbulnya kejahatan.
Moral sering disebut sebagai filter terhadap munculnya perilaku yang menyimpang,
sebab moral itu adalah ajaran tingkah laku tentang kebaikan-kebaikan dan merupakan
hal yang vital dalam menentukan tingkah laku. Dengan bermoralnya seseorang maka
dengan sendirinya dia akan terhindar dari segala perbuatan yang tercela. Sedangkan
orang yang tidak bermoral cenderung untuk melakukan kejahatan.

Pada kenyataannya, moral bukan sesuatu yang tidak bisa berubah, melainkan
ada pasang surutnya, baik dalam diri individu maupun masyarakat. Timbulnya kasus-
kasus perkosaan, disebabkan moral pelakunya yang sangat rendah. Dari kasus-kasus
tersebut banyak diantaranya terjadi, korbannya bukanlah orang asing lagi baginya
bahkan saudara dan anak kandung sendiri. Kasus-kasus tersebut memberi kesan
kepada kita bahwa pelakunya adalah orang-orang yang tidak bermoral sehingga
dengan teganya melakukan perbuatan yang terkutuk itu terhadap putri kandungnya
sendiri. Di lain kasus melakukan perbuatan yang tidak manusiawi itu secara bersama-
sama dan di hadapan teman-temannya tanpa adanya rasa malu.

Salah satu hal yang mempengaruhi merosotnya moral seseorang dipengaruhi


oleh kurangnya pendidikan agama. Agama merupakan unsur pokok dalam kehidupan
manusia yang merupakan kebutuhan spiritual yang sama. Norma-norma yang terdapat
di dalamnya mempunyai nilai yang tertinggi dalam hidup manusia. Sebab norma-
norma tersebut adalah norma-norma ketuhanan dan segala sesuatu yang digariskan
oleh agama adalah baik dan membimbing ke arah yang jalan yang baik dan benar,
sehingga bila manusia benar-benar mendalami dan mengerti isi agama, pastilah ia

20
akan menjadi manusia yang baik dan tidak akan berbuat hal-hal yang merugikan atau
kejahatan walaupun menghadapi banyak godaan.

b. Faktor Eksternal
Faktor ekstern adalah faktor-faktor yang berada di luar diri si pelaku. Faktor ekstern
ini berpangkal pokok pada individu. Dicari hal-hal yang mempunyai hubungan dengan
kejahatan kesusilaan. Hal ini dapat ditinjau dari:

(a) Faktor Sosial Budaya,


meningkatnya kasus-kasus kejahatan kesusilaan atau perkosaan terkait erat
dengan aspek sosial budaya. Karena aspek sosial budaya yang berkembang di tengah-
tengah masyarakat itu sendiri sangat mempengaruhi naik turunnya moralitas
seseorang. Suatu kenyataan yang terjadi dewasa ini, sebagai akibat pesatnya kemajuan
ilmu pengetahuan dan teknologi, maka tidak dapat dihindarkan timbulnya dampak
negatif terhadap kehidupan manusia. Akibat modernisasi tersebut, berkembanglah
budaya yang semakin terbuka pergaulan yang semakin bebas, cara berpakaian kaum
hawa yang semakin merangsang, dan kadang-kadang dan berbagai perhiasan yang
mahal, kebiasaan bepergian jauh sendirian, adalah faktorfaktor dominan yang
mempengaruhi tingginya frekuensi kasus perkosaan.

Aspek sosial budaya yang berkembang di tengah-tengah masyarakat dapat


mempengaruhi tinggi rendahnya moralitas masyarakat. Bagi orang yang mempunyai
moralitas tinggi atau iman yang kuat dapat mengatasi diri sehingga tidak diperbudak
oleh hasil peradaban tersebut, melainkan dapat menyaringnya dengan menyerap hal-
hal yang positif. Salah satu contoh faktor sosial budaya yang dapat mendukung
timbulnya perkosaan adalah remaja yang berpacaran sambil menonton film porno
tanpa adanya rasa malu. Kebiasaan yang demikian pada tahap selanjutnya akan
mempengaruhi pikiran si pelaku. Sehingga dapat mendorongnya untuk menirukan
adegan yang dilihatnya, maka timbul kejahatan kesusilaan dengan berbagai bentuknya
dan salah satu diantaranya adalah kejahatan perkosaan.

21
Peran Lembaga Swadaya Masyarakat

Dalam bidang perlindungan anak adanya eskalasi kriminalis terhadap anak belum
banyak menunjukkan perlindungan yang maksimal. Data dari Komisi Perlindungan Anak
Indonesia (KPAI) menunjukkan selama tahun 2007 terdapat 455 kasus kekerasan terhadap
anak. Di samping itu, data dari Kejaksaan Agung selama tahun 2006 terdapat 600 kasus
kekerasan terhadap anak yang telah diputus oleh peradilan. Anak masih dijadikan objek
sasaran perlakuan yang tidak seharusnya atau menjurus ke bentuk kriminalitas oleh pihak-
pihak yang tidak bertanggungjawab, dan oleh oknum pelaku anak. Hal itu banyak
dipengaruhi oleh lingkungan yang sarat dengan informasi dan teknologi, pornografi, dan lain-
lain memicu kegiatan yang bersifat kriminal, seperti pencabulan, pelecehan seksual,
perkosaan, perdagangan anak, penganiayaan sampai dengan pembunuhan. Bentuk kekerasan
lain seperti perdagangan anak (trafficking), berdasarkan catatan Komnas Perlindungan Anak,
jumlah yang terperangkap dalam perdagangan anak pada tahun 2006 adalah 42.771 oreang
meningkat menjadi 745.817 orang pada tahun 2007 dan pada akhir Juni 2008 jumlahnya
mencapai 400.000 orang. Di lingkungan pendidikan yang diharapkan sebagai wadah
mendidik anak sebagai tunas bangsa pun tidak terlepas dari adanya bentuk-bentuk kekerasan
terhadap anak. Sebagai contoh, masih ada kekerasan di antara murid sekolah dalam bentuk
bullying atau dengan dalih orientasi masa pendidikan sekolah, sampai kekerasan yang
dilakukan oleh guru sekolah. Dalam bidang hukum, perlindungan terhadap anak juga menjadi
fokus penting karenaperlindungan terhadap anak yang terlibat dalam kasus hukum masih
kurang mendapatkan penanganan yang semestinya. Perlindungan terhadap hak anak perlu
dilakukan sejak tahap penyelidikan, penuntutan, persidangan bahkan sampai proses
penghukuman. Bentuk penghukuman terhadap narapidana anak juga harus dipertimbangkan
dengan baik. Pengaruh lingkungan penjara akan banyak mempengaruhi jiwa anak. Oleh
karena itu, hukuman dapat diganti, misalnya dalam bentuk kerja sosial dan lain sebagainya.
Di bidang kesehatan dan pendidikan, masih banyak anak Indonesia yang belum mendapatkan
hak tersebut. Mengingat jumlah anak Indonesia sebesar 30% dari 243 juta jiwa penduduk
Indonesia, anak merupakan potensi strategis dari sebuah bangsa yang perlu diberikan
perlindungan semestinya.

Dalam UU Perlindungan Anak, kebijakan penangulangan kekerasan pada anak, dapat


diidentifaksi pada bagian upaya perlindungan anak, yaitu mencakup:

22
(1) Diwajibkannya ijin penelitian kesehatan yang menggunakan anak sebagai objek penelitian
kepada orang tua dan harus mengutamakan kepentingan yang terbaik bagi anak (Pasal 47);

(2) Diwajibkannya bagi pihak sekolah (lembaga pendidikan) untuk memberikan perlindungan
terhadap anak di dalam dan di lingkungan sekolah dari tindakan kekerasan yang dilakukan
oleh guru, pengelola sekolah atau teman-temannya di dalam sekolah yang

bersangkutan, atau lembaga pendidikan lainnya (Pasal 54);

(3) Diwajibkannya bagi pemerinyah untuk menyelenggarakan pemeliharaan dan perawatan


anak terlantar, baik dalam lembaga maupun di luar lembaga (Pasal 55);

(4) penyebarluasan dan/atau sosialisasi ketentuan peraturan perundang-undangan yang


berkaitan dengan perlindungan anak yang dieksploitasi secara ekonomi dan/atau seksual, dan
pelibatan berbagai instansi pemerintah, perusahaan, serikat pekerja, lembaga swadaya
masyarakat, dan masyarakat dalam penghapusan eksploitasi terhadap anak secara ekonomi
dan/atau seksual (Pasal 66);

(5) penyebarluasan dan sosialisasi ketentuan peraturan perundang-undangan yang


melindungi anak korban tindak kekerasan (Pasal 69).

Kesimpulan

Forensik klinik adalah bagian dari ilmu kedokteran forensik yang mencakup
pemeriksaan forensik terhadap korban hidup dan investigasinya, kemudian aspek
medikolegal, juga psikopatologinya, dengan kata lain forensik klinik merupakan area praktek
medis yang mengintegrasikan antara peranan medis dan hukum terutama dalam kasus-kasus
berkaitan kejahatan susila. Namun, Untuk menyelesaikan permasalahan kasus kejahatan
seksual, tidak hanya membutuhkan intervensi medis semata-mata tapi, menuntut diambilnya
langkah penanganan yang holistik dan komprehensif termasuk dukungan psikososial yang
secara otomatis membutuhkan dukungan optimal dari keluarga dan masyarakat. Tugas dokter
tidak hanya menjalankan fungsi maksimal dalam bidang kesehatan, namun dokter tersebut
dituntut untuk memanfaatkan ilmu pengetahuan kedokteran seoptimal mungkin dan
mematuhi tuntutan undang-undang terhadapnya terutama dalam kasus-kasus yang melibatkan
proses hukum.

23
DAFTAR PUSTAKA

1. Pengantar Medikolegal. Diunduh dari http://www.scribd.com/doc/40442614/01-


Pengantar-medikolegal
2. Aspek Hukum Bagi Pedofilia di Indonesia. Diunduh dari
http://pedophiliasexabuse.wordpress.com/2009/05/28/aspek-hukum-bagi-pedofilia-di-
indonesia/, 28 Desember 2017
3. http://eprints.undip.ac.id/17750/1/Ira_Dwiati_Tesis.pdf
4. Peranan Forensik Klinik Dalam Kasus Kekerasan Terhadap Anak dan Perempuan.
Diunduh dari http://reproduksiumj.blogspot.com/2009/12/peranan-forensik-klinik-
dalam-kasus.html, 28 Desember 2017 (pemeriksaan medik)
5. Dampak Sosial Psikologis Perkosaan. Diunduh dari
http://fatur.staff.ugm.ac.id/file/JURNAL%20-%20Dampak%20Sosial-
Psikologis%20Perkosaan.pdf, 28 Desember 2017 (dampak psikososial)
6. Bentuk-bentuk Kekerasan Seksual Terhadap Anak Di Bawah Umur. Diunduh dari
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/18417/1/equ-feb2008-13%20(2).pdf,
28 Desember 2017 (faktor psikososial)
7. Kekerasan Pada Anak. Diunduh dari
http://eprints.ums.ac.id/337/1/6._SUDARYONO.pdf, 28 Desember 2017 (peran LSM)

24