Anda di halaman 1dari 17

1

Case Report

G2P1A0 Hamil 11-12 Minggu dengan Kehamilan Ektopik


Terganggu

Disusun oleh :

Athaya Hafizhah, S.Ked

17360038

Pembimbing:

dr. Bambang Kurniawan, Sp.OG

BAGIAN OBSTETRI DAN GINEKOLOGI

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MALAHAYATI

RUMAH SAKIT PERTAMINA BINTANG AMIN BANDAR LAMPUNG

2017
2

LEMBAR PENGESAHAN

Telah dipresentasikan tugas Case Report berjudul :

G2P1A0 Hamil 11-12 Minggu dengan Kehamilan Ektopik Terganggu

Dipresentasikan pada hari , tanggal Juli 2017

Bandar Lampung, Juli 2017

Pembimbing, Penyaji,

dr. Bambang Kurniawan, Sp.OG Athaya Hafizhah, S.Ked


3

I. REKAM MEDIK
A. Identitas Pasien
Nama : Ny. O
Med.Rec/Reg : 09-00-49
Umur : 23 Tahun
Suku bangsa : Indonesia
Agama : Islam
Pendidikan :-
Pekerjaan : IRT
Alamat : Rajabasa – Bandar Lampung
MRS : 31 Mei 2017 pukul 23.08 WIB

B. Anamnesis
1. Keluhan Utama :
Hamildisertainyeriperutbagianbawahdankeluardarahdarikemaluan

2. Riwayat perjalanan penyakit :


Os datang ke IGD RSPBA dengan keluhan nyeri perut bagian bawah sejak
1 hari sebelum masuk RS yang disertai dengan keluar darah dari kemaluan
berwarna merah kecoklatandansudah 4 kali gantipembalut (± 100 cc).
Osmengakutidakadagumpalansepertihatiayam.

3. Riwayat Perkawinan :
Menikah

4. Riwayat Reproduksi :
Riwayat menarche usia 14 tahun, siklus teratur, lama siklus 28 hari, lama
haid 7 hari, banyaknya 2-4 pembalut perhari, volume 50cc, disminore (-)

5. Riwayat kehamilan/melahirkan :
G2P1A0
4

Anak pertama ♂ lahir hidup tahun 2014, aterm, partus spontan ditolong
oleh tenaga kesehatan, 2300 gr/45 cm

6. Riwayat KB :
KB suntik 3 bulan

7. Riwayat Hamil Saat ini :


HPHT : 09-03-2017
TP : 16-12-2017
Antenatal care : ya
Imunisasi TT : tidak
Keluhan saat hamil : perdarahan

8. Riwayat Penyakit Dahulu :


Os mengaku tidak pernah menderita suatu penyakit atau dilakukan
perawatan di Rumah Sakit.

9. Riwayat Penyakit Keluarga :


Os mengaku tidak ada penyakit yang diderita pada keluarga kandung.

10. Riwayat Kebiasaan :


Os mengaku tidak mempunyai kebiasaan mengkonsumsi alkohol, obat-
obatan atau merokok.

11. Riwayat gizi / sosioekonomi :


Cukup

C. Data Objektif
1. Pemeriksaan Umum
a. Keadaan umum : Baik
Kesadaran : Compos Mentis
5

Berat badan : 50 kg
Tinggi badan : 145 cm
Tekanan darah : 110/80 mmHg
Nadi : 85x/mnt, reguler, kuat
Pernafasan : 20x/mnt
Suhu : 36,5°C, aksiler.
b. Status Generalis
Kepala
Bentuk kepala : Normosefali, tidak ada deformitas
Rambut :Warna hitam, distribusi merata, tidak mudah
dicabut
Wajah : Simetris, tidak ada deformitas
Mata :Kelopak mata oedem (-), konjungtiva anemis (+/+),
sklera ikterik (-/-), pupil isokor (+/+), refleks cahaya
langsung (+/+)
Telinga : Normotia, deformitas (-), nyeri tekan tragus (-),
nyeri tekan mastoid (-), sekret (-)
Hidung : Pernafasan cuping hidung (-), sekret (-), septum
deviasi (-), mukosa hiperemis (-)
Bibir : simetris, sianosis (-), mukosa lembab
Mulut : Tonsil tenang T1-T1, faring tidak hiperemis, uvula
ditengah, oral hygiene baik
Leher
Bentuk : Simetris, normal
KGB : tidak teraba membesar
Trachea : lurus ditengah
Kelenjar tiroid : tidak teraba membesar
Toraks
Dinding dada : simetris dalam keadaan statis dan dinamis
6

Paru-paru
Inspeksi : gerakan kedua hemithorak simetris saat inspirasi
dan ekspirasi
Palpasi : gerakan dada simetris, tidak hemithoraks
tertinggal, vokal fremitus kedua hemithoraks sama,
krepitas (-), nyeri tekan (-)
Perkusi :tidak dilakukan
Auskultasi : suara nafas vesikuler, ronkhi -/-, wheezing -/-
Jantung
Inspeksi : tidak tampak pulsasi ictus cordis, tidak ada tanda
radang
Palpasi : ictus cordis teraba di sela iga v, 2 cm sebelah
medial garis midklavikularis kiri
Perkusi : tidak dilakukan
Auskultasi : bunyi jantung I-II reguler, murmur (-), gallop
(-)
Abdomen
Inspeksi : tidakadabekaslukaoperasi
Palpasi : terababallotemen
Auskultasi : bisingusus normal
Anogenital
Inspeksi : perdarahanpervaginam (+), perineum utuh
Ekstremitas
Akral hangat pada ujung-ujung jari tangan dan kaki, oedem tungkai -/-,
varises (-), refleks fisiologis +/+, refleks patologis -/-.

2. Pemeriksaan Obstetri dan Ginekologi


a. Pemeriksaan Luar
 Inspeksi : didapatkan darah berwarna merah
kecoklatan
 Palpasi : nyeri tekan pada perut bawah bagian kiri
7

b. Inspekulo
 Inspekulo : tidakdilakukan
 Rectal Toucher : tidakdilakukan

D. Pemeriksaan Penunjang
1. Laboratorium:
Darah rutin Pre op
Hb : 8,7 gr/dl
Leukosit : 5.900 ul
Hit. Jenis leukosit basofil : 0% (0-1%)
Hit. Jenis leukosit eosinofil : 0% (0-3%)
Hit. Jenis leukosit batang : 2% (2-6%)
Hit. Jenis leukosit segmen : 75% (50-70%)
Hit. Jenis leukosit limposit : 17% (20-40%)
Hit. Jenis leukosit Monosit : 6% (2-8%)
Eritrosit : 3,4 ul
Hematokrit : 28%
Trombosit : 293.000 ul
MCV : 82 fl
MCH : 30 pg
MCHC : 35 g/dl

Darah rutin Post Op


Hb : 8,4 gr/dl
Leukosit : 14.400 ul
Hit. Jenis leukosit basofil : 0% (0-1%)
Hit. Jenis leukosit eosinofil : 0% (0-3%)
Hit. Jenis leukosit batang : 2% (2-6%)
Hit. Jenis leukosit segmen : 80% (50-70%)
Hit. Jenis leukosit limposit : 14% (20-40%)
Hit. Jenis leukosit Monosit : 4% (2-8%)
8

Eritrosit : 3,2 ul
Hematokrit : 28%
Trombosit : 171.000 ul
MCV : 83 fl
MCH : 31 pg
MCHC : 35 g/dl

2. USG (Ultrasonografi) : tanggal 01/06/2017 pukul 09:10 dengan dr


Bambang Sp. OG

Tampak carian bebas di kavum douglas. Tidak terdapat gestational sac.

E. Diagnosa kerja :
G2P1A0 hamil 11-12 minggu dengan Kehamilan Ektopik Terganggu

F. Diagnosa banding :
Kehamilan ektopik
9

G. Prognosis:
Dubia

H. Terapi :
1. Rencanalaparotomi
2. Persiapanalat,izindanobat
3. IVFD RL xxgtt/menit
4. CekHb pre operasi
5. Inj. Ceftriaxone 1 amp
6. Persiapantransfusi PRC 2 kolf
7. Pasangkateter
8. Puasa

I.Follow Up:
Pre Op
Wakt
Tanggal Pemeriksaan Tindakan
u
01/06/201 07:00 S: perut mules - Lapor dr. bambang,
7 WIB disertaikeluardarahdarikemal Sp. OG
uan Adv :
O: KU : kompos mentis - Inbion 1x1
GCS 15 - USG
Skalanyeri 2
TD 110/70 mmHg,
N 80x/mnt, RR 22/mnt
T 36,2°C
A:G2P1A0 hamil 11-12
minggu dengan abortus
imminens
07:30 S: perut mules - monitor TTV
WIB disertaikeluardarahdarikemal - observasiskalanyeri
10

uan , perdarahan
O: KU : kompos mentis - IVFD RL + 1 amp
GCS 15 duvadilanxxgtt/men
Skalanyeri 2 it
TD 110/70 mmHg, - Inj. Ceftriaxone 2x1
N 80x/mnt, RR 22/mnt gr IV
T 36,2°C, Hb 8,7 gr/dL - Inj. As. traneksamat
A:G2P1A0 hamil 11-12 3x500 mg IV
minggu dengan abortus - Inbion tab 1x1
imminens - Rc USG
drBambangSp.OGp
ukul 09:30 WIB
09:10 S: perut mules - monitor TTV
WIB disertaikeluardarahdarikemal - RencanaLaparotom
uan i jam 13.00
O: KU : kompos mentis - Puasa
GCS 15 - Pasangkateter
Skalanyeri 2 - CekHbCito
TD 110/70 mmHg, - Rencanatransfusi
N 80x/mnt, RR 22/mnt PRC 2 kolf post op
T 36,2°C, Hb 8,7 gr/dL - Inj. Ceftriaxone 1
A:G2P1A0 hamil 11-12 gr pre op
minggu dengan KET

LaporanOperasi
Tanggal 03/06/2017
Pukul 11:00 Dilakukanlaparotomi + SOS
Didapatkankonsepsipada tuba sinistrakemudian
dilakukanSalpingo-ooforektomisinistra.
11

Diagnosis Post Operasi


KehamilanEktopikTerganggu

Post Op
Wakt
Tanggal Pemeriksaan Tindakan
u
01/06/201 16:30 S: nyerisetelahoperasi - observasi TTV
7 WIB O: KU : kompos mentis - cekHb post op
TD 120/80 mmHg, - imobilisasi 24jam
N 81x/mnt, RR 20/mnt, T - diet biasa
36,5°C - IVFD RL
A:post laparotomi a/i KET xxgtt/menit
- pronalgessupp
3x1/rectal
- Inj. As.
traneksamat 3x500
amp IV
- Inj. Ceftriaxone
2x1 gr IV
2/06//2017 08:00 S: nyerisetelahoperasi - monitor TTV
12

WIB O: KU : kompos mentis - IVFD RL


TD 110/80 mmHg, xxgtt/menit
N 80x/mnt, RR 22/mnt, T - pronalgessupp
36,2°CHb 8,4 3x1/rectal
A:post laparotomia/i KET - Inj. As.
traneksamat 3x500
amp IV
- Inj. Ceftriaxone
2x1 gr IV
- Transfusi PRC 1
kolf
- CekHb post
transfuse
- Affkateter
15:00 S: - monitor TTV
WIB nyerisetelahoperasiberkuran - IVFD RL xx
g gtt/menit
O: KU : kompos mentis - Cefadroxil 3x500
TD 110/70 mmHg, tab/oral
N 80x/mnt, RR 20/mnt, T - Asammefenamat
36,0°C, Hb 10 3x500 tab/oral
A:post laparotomi a/i KET - Inbion 1x1tab/oral
03/06/201 09:00 S: nyerisetelahoperasi - cefadroxil
7 O: KU : kompos mentis 3x1tab/oral
TD 110/80 mmHg, - asammefenamat
N 80x/mnt, RR 20/mnt, T 3x1tab/oral
36,0°C - inbion 1x1tab/oral
A:post laparotomi a/i KET - bolehpulang
13

Darah rutin Post Transfusi PRC


Hb : 10 gr/dl
Leukosit : 10.000 ul
Hit. Jenis leukosit basofil : 0% (0-1%)
Hit. Jenis leukosit eosinofil : 0% (0-3%)
Hit. Jenis leukosit batang : 2% (2-6%)
Hit. Jenis leukosit segmen : 70% (50-70%)
Hit. Jenis leukosit limposit : 15% (20-40%)
Hit. Jenis leukosit Monosit : 6% (2-8%)
Eritrosit : 3,4 ul
Hematokrit : 28%
Trombosit : 200.000 ul
MCV : 82 fl
MCH : 30 pg
MCHC : 35 g/dl

II. PERMASALAHAN :
1. Apakah diagnosis pada pasien ini sudah tepat?
2. Apakah penatalaksanaan pada pasien ini sudah tepat?

III. ANALISIS KASUS


1. Apakah diagnosis pada pasien ini sudah tepat?
Kehamilan ektopik ialah suatu kehamilan yang pertumbuhan sel
telur yang telah dibuahi tidak menempel pada dinding endometrium kavum
uteri. Lebih dari 95% kehamilan ektopik berada disaluran telur (tuba
fallopi). Nyeri merupakan keluhan utama pada kehamilan ektopik
terganggu. Pada ruptur tuba nyeri perut bagian bawah terjadi secara tiba-
tiba dan disertai dengan perdarahan yang menyebabkan penderita pingsan
dan masuk kedalam syok. Perdarahan pervaginam merupakan tanda penting
kedua pada kehamilan ektopik yang terganggu. Hal ini menunjukkan
14

kematian janin dan berasal dari kavum uteri karena pelepasan desidua.
Perdarahan yang berasal dari uterus biasanya tidak banyak dan berwarna
coklat tua. Amenore merupakan juga tanda yang penting pada kehamilan
ektopik. Lamanya amenore bergantung pada kehidupan janin, sehingga
dapat bervariasi. Sebagian penderita tidak mengalami amenore karena
kematian janin terjadi sebelum haid berikutya.
Pada proses awal kehamilan apabila embrio tidak bisa mencapai
endometrium untuk proses nidasi, maka embrio dapat tumbuh disaluran
tuba dan kemudian akan mengalami beberapa proses seperti pada
kehamilan pada umumnya. Karena tuba bukan merupakan suatu media
yang baik untuk pertumbuhan embrio atau mudigah, maka pertumbuhan
dapat mengalami beberapa perubahan dalam bentuk berikut ini:
 Hasil Konsepsi mati dini dan diresorbsi
Ovum yang dibuahi cepat mati karena vaskularisasi kurang dan dengan
mudah terjad resorbsi total. Dalam keadaan ini penderita tidak mengeluh
apa-apa, hanya haidnya terlambat untuk beberapa hari.
 Abortus kedalam lumen tuba
Pada pelepasan hasil konsepsi yang tidak sempurna pada abortus,
perdarahan akan terus berlangsung. Perdarahan yang berlangsung terus
menyebabkan tuba membesar dan kebiru-biruan (hematosalping) dan
selanjutnya darah mengalir ke rongga perut melalui ostium tuba. Darah
ini akan berkumpul di kavum douglas dan akan membentuk hematokel
retrouterina.
 Ruptur dinding tuba
Ruptur tuba sering terjadi bila ovum berimplantasi pada ismus dan
biasanya pada kehamilan muda. Ruptur dapat terjadi secara spontan atau
karena trauma ringan seperti koitus dan pemeriksaan vaginal. Dalam hal
ini akan terjadi perdarahan dalam rongga perut, kadang-kadang sedikit,
kadang-kadang banyak, sampai menimbulkan syok dan kematian. Pada
ruptur ke rongga perut seluruh janin dapat keluar dari tuba tetapi bila
robekan tuba kecil, perdarahan terjadi tanpa hasil konsepsi dikeluarkan
15

dari tuba. Darah yang tertampung pada rongga perut akan mengalir ke
kavum douglas yang makin lama makin banyak dan akhirnya dapat
memenuhi rongga abdomen.
Pada kasus ini diagnosa kehamilan ektopik terganggu ditegakkan
berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.
1. Anamnesis
 Amenore
 Terdapat gejala-gejala kehamilan muda seperti mual dan muntah
 Os datang dengan keluhan nyeri perut kiri bawah. Os juga
mengalami perdarahan warna merah kecoklatan (± 100 cc) sejak 1
hari yang lalu itu merupakan tanda dan gejala kehamilan ektopik.
2. Pemeriksaan fisik
 Inspeksi
Dari pemeriksaan keadaan umum, os tampak pucat dan lemas.
 Palpasi
Nyeri tekan pada perut bawah bagian kiri.
 Auskultasi
Tidak terdengar bunyi denyut jantung janin.
3. Pemeriksaan penunjang
Dari pemeriksaan USG yang dilakukan didapatkan “cairan di luar
kavum uteri” identik dengan kehamilan ektopik. Pemeriksaan
laboratorium berguna untuk menegakkan diagnosis kehamilan ektopik
terganggu terutama bila ada tanda-tanda perdarahan dalam rongga
perut. Apabila jumlah leukosit melebihi 20.000 menunjukkan keadaan
kehamilan ektopik terganggu yang disertai dengan infeksi pelvik. Tes
kehamilan berguna apabila positif. Akan tetapi, tes negative tidak
menyingkirkan kemungkinan kehamilan ektopik terganggu karena
kematian hasil konsepsi dan degenerasi trofoblas menyebabkan
produksi HCG menurun dan menyebabkan tes negatif.
Berdasarkan hal yang di atas dapat disimpulkan bahwa diagnose
kasus sudah tepat karena pada kasus ini terdapat cairan bebas di luar
16

kavum uterus dan sudah tidak terdapat gestational sac (kantong gestasi)
yang menandakan sudah terjadi ruptur.

2. Apakah penatalaksanaan pada pasien ini sudah tepat ?


Penanganan kehamilan ektopik pada umumnya adalah laparotomi.
Dalam tindakan demikian beberapa hal perlu diperhatikan dan
dipertimbangkan yaitu:
 Kondisi penderita saat itu
 Keinginan penderita akan fungsi reproduksinya
 Lokasi kehamilan ektopik
Pada kasus ini dilakukan laparotomi dan salphingo-ooforektomi
sinistra yaitu pengangkatan tuba fallopi dan ovarium sebelah kiri.
Salphingo-ooforektomi dapat dilakukan dalam beberapa kondisi yaitu
kondisi penderita buruk misalnya dalam keadaan syok, kondisi tuba buruk,
terdapat jaringan parut yang tinggi resikonya akan kehamilan ektopik
berulang. Pada kasus kehamilan ektopik terganggu keadaan tuba sudah
memburuk akibat ruptur, untuk mendapatkan kemungkinan terbaik untuk
hamil intrauterine selanjutnya dan untuk mengurangi risiko kehamilan
ektopik lainnya, disarankan untuk dilakukan salpongektomi.

KESIMPULAN
1. Diagnosis padakasussudahtepatyaitukehamilanektopiktergangguyang
didapatkandarihasil anamnesis, pemeriksaanfisik,
pemeriksaanpenunjangdantindakanlaparotomi.
2. Penatalaksanaan pada pasien ini sudah
tepat.Padakasusuinidilakukantindakanaktifyaitulaparotomidilanjutkandengansa
lphingo-ooforektomisinistrauntukmenghindarikomplikasiperdarahan, syokdan
sepsis sertamencegahkehamilanektopikberulang.
17

DAFTAR PUSTAKA

1. Prawirohardjo, S. 2011. IlmuKebidananSarwonoPrawirohardjo. Edisi IV.


Jakarta: PT. BinaPustakaSarwonoPrawirohardjo.
2. Bouyer J, Rachou E, Germain E, et al. 2000. Risk factors for extrauterine
pregnancy in women using an intrauterine device.
3. Latimore WL, Stanford JB. 2000. Ectopic pregnancy with oral contraceptives
use. BMJ.