Anda di halaman 1dari 35

BAB I

PENDAHLUAN
1.1 Latar Belakang
Menurut National Cancer Institute (2010), kandung kemih adalah
organ berongga di abdomen bagian bawah. Kandung kemih menyimpan urin;
cairan limbah yang dihasilkan oleh ginjal. Kandung kemih adalah bagian dari
saluran kencing. Urin lewat dari setiap ginjal menuju ke kandung kemih
melalui selang panjang yang disebut ureter. Urin meninggalkan kandung
kemih melalui uretra untuk kemudian dikeluarkan dari tubuh. Dinding
kandung kemih memiliki tiga lapisan jaringan, yakni inner, middle, dan outer.
Sel- sel lapisan kandung kemih dapat berkembang abnormal dan
menyebabkan kanker kandung kemih. Kanker dimulai dari sel dan
menghambat penyusunan jaringan, dimana jaringan menyusun kandung kemih
dan organ lain di dalam tubuh. Sel-sel normal tumbuh dan terbagi untuk
membentuk sel-sel baru sebagaimana diperlukan tubuh. Saat sel normal
menua atau rusak lalu mati, sel-sel baru akan menggantikan. Saat terjadi
tumor, sel-sel baru terbentuk saat tubuh tidak membutuhkannya dan sel-sel tua
atau rusak tidak akan mati. Tumor pada kandung kemih dapat berupa tumor
jinak dan tumor ganas (kanker). Kanker inilah yang dapat menjadi ancaman
untuk hidup, biasanya dapat dihilangkan tetapi dapat tumbuh kembali, dapat
menjalar atau merusak jaringan atau organ di sekitarnya, dan dapat menyebar
ke bagian tubuh yang lain.
Diperkirakan sekitar 386.300 kasus baru dan 150.200 kematian akibat
kanker kandung kemih muncul di tahun 2008 di seluruh dunia (Jema, et
al.2011 dalam Rouissi, et al. 2011). Terdapat sekitar 70.530 baru terdiagnosa
kasus kanker kandung kemih (5.760 pada pria dan 17.770 pada wanita) dan
sekitar 14.680 terkait kematian (10.410 pada pria dan 4.270 pada wanita) di
USA di 2010 (Jemal, et al. 2010 dalam Rouissi, et al. 2011). Angka kejadian
paling tinggi rata-rata terjadi di Eropa, Amerika Utara, dan Afrika Utara.
Sedangkan angka yang tererndah ditemukan di Melanesia dan Afrika Tengah
(Jemal, et al. 2011 dalam Rouissi, et al. 2011).

1
Dari National Cancer Institute (2010), baik tumor jinak maupun tumor
ganas dapat terbentuk di permukaan dinding kandung kemih atau di dalam
dindingnya sendiri dan dengan cepat menyebar ke otot di bawahnya. Sekitar
90% kanker kandung kemih merupakan transisi dari sel karsinoma yang
muncul dari transisi epithelium dari membran mukosa. Kanker ini terkadang
juga merupakan transisi dari tumor jinak. Dalam jumlah yang lebih sedikit,
kanker kandung kemih melingkupi adenokarsinoma dan karsinona sel
skuamosa. Pasien dengan kanker kandung kemih dapat ditangani dengan jalan
operasi, kemoterapi, terapi biologi, dan terapi radiasi. Terkadang seroang
pasien dapat menerima lebih dari satu penanganan, tergantung dari lokasi dari
kanker kandung kemihnya, apakah kanker telah menyebar ke lapisan otot atau
lapisan luar kandung kemih, apakah kanker telah menyebar ke organ tubuh
lain, stadium dari kanker, dan usia dan kondisi umum pasien.
Setiap pasien sebaiknya memiliki tim atau spesialis yang mampu
membantu perencanaan penyembuhan, termasuk melibatkan seorang perawat
onkologi. Perawat disini akan membantu pasien yang mendapatkan
penanganan dalam bentuk operasi untuk melakukan perawatan luka, ostonomi,
kontinensia. Seorang pasien juga berhak mendapatkan penjelasan dari pilihan
penanganan, hasil yang diharapkan dan efek samping yang ditimbulkan dari
penanganan.
Setelah mendapatkan penanganan, pasien akan lebih baik jika
melakukan follow up misalnya setiap tiga atau enam bulan sekali. Follow up
dan checkup ini akan membantu memastikan bahwa tidak ada perubahan
kondisi kesehatan dan akan dapat segera dilakukan penanganan jika terdapat
masalah kesehatan, karena pada dasarnya kanker kandung kemih memiliki
kemungkinan untuk muncul kembali. Tenanga kesehatan akan melakukan
pemeriksaan fisik, tes darah, sitoskopi, atau CT scans untuk memastikan
munculnya kembali kanker kandung kemih.

2
1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah Definisi Kanker Kandung Kemih?
2. Bagaimana Klasifikasi Kanker Kandung Kemih?
3. Apa Etiologi Kanker Kandung Kemih?
4. Bagaimana Patofisiologi Kanker Kendung Kemih?
5. Apa Saja Manifestasi Klinis Kanker Kandung Kemih?
6. Apa Saja Pemeriksaan Diagnostik Untuk Klien Kanker Kandung Kemih?
7. Bagaimana Penatalaksanaan Klien Kanker Kandung Kemih?
8. Apa Saja Komplikasi Dari Kanker Kandung Kemih?
9. Bagaimana Prognosis Dari Kanker Kandung Kemih?
10. Bagaimana Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Kanker Kandung
Kemih?

1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Membantu mahasiswa dalam memahami secara umum konsep dari
kanker kandung kemih.

1.3.2 Tujuan Khusus


1. Mampu melakukan pengkajian pada klien dengan kanker kandung
kemih.
2. Mampu menemukan msalah keperawatan pada klien dengan kanker
kandng kemih.
3. Mampu merencanakan tindakan keperawatan pada klien dengan
kanker kandung kemih.
4. Mampu melaksanakan tindakan keperawatan pada klien dengan kanker
kandung kemih.
5. Mapu mengevaluasi tindakan yang sudah dilakukan pada klien dengan
kanker kandung kemih.
6. Mampu mendokumentasikan semua kegiatan keperawatan dalam
bentuk narasi.

3
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Ca Kandung Kemih


Kanker kandung kemih adalah kanker nonagresif yang muncul pada
lapisan sel transisional kandung kemih. Kanker ini sifatnya kambuh. Dalam
kasus yang lebih sedikit, kanker kandung kemih ditemukan menginvasi
lapisan lebih dalam dari jaringan kandung kemih. Dalam kasus ini, kanker
cenderung lebih agresif. Paparan zat kimia industri (cat, tekstil), riwayat
penggunaan cyclophosphamide , dan merokok meningkatkan resiko kanker
kandung kemih (DiGiulio, et al. 2007).
Kebanyakan kanker kandung kemih merupakan pertumbuhan papiloma
di urotelium kandung kemih, meskipun pertumbuhan ini dapat menyebar ke
dinding kandung kemih. Kanker kandung kemih adalah neoplasma yang
paling sering terjadi di saluran kemih, dilaporkan mendekati angka 3% dari
semua kematian yang disebabkan oleh kanker. Kanker ini paling sering
muncul pada orang- orang di usia 40 – 60 tahun. Kanker kandung kemih juga
muncul 2 – 3 kali lebih sering pada pria daripada wanita meskipun angka
kejadian pada wanita juga meningkat. Kanker ini sekarang menjadi urutan
nomor 5 dari kanker yang paling sering terjadi pada pria dan menjadi urutan
10 dari kanker yang paling sering terjadi pada wanita. Kanker ini juga lebih
sering terjadi pada orang kulit putih daripada orang kulit hitam dan lebih
sering muncul di daerah perkotaan dan di daerah industri bagian utara
(Coleman, et al. 1997)

2.2 Klafisikasi Ca Kandung Kemih


Klasifikasi DUKE-MASINA, JEWTT dengan modifikasi STRONG
MARSHAL untuk menentukan operasi atau observasi (Jiang & Lizhong 2008)
T = Pembesaran local tumor primer, ditentukan melalui : Pemeriksaan klinis,
uroghrafy, cystoscopy, pemeriksaan bimanual dibawah anestesi umum dan
biopsy atau tansuretheral reseksi.
Tis Carcinoma insitu (pre invasive Ca)
TX Cara pemeriksaan untuk menetapkan penyebaran tumor, tak dapat Dilakukan
T0 Tanda-tanda tumor primer tidak ada
T1 Pada pemeriksaan bimanual didapatkan massa yang bergerak

4
T2 Pada pemeriksaan bimanual ada indurasi daripada dinding buli-buli
T3 Pada pemeriksaan bimanual indurasi atau massa nodular yang bergerak
bebas dapat diraba di buli-buli
T3a Invasi otot yang lebih dalam
T3b Perluasan lewat dinding buli-buli
T4 Tumor sudah melewati struktur sebelahnya
T4a Tumor mengadakan invasi ke dalam prostate, uterus vagina T4b
Tumor sudah melekat pada dinding pelvis atau infiltrasi ke dalam abdomen
N = Pembesaran secara klinis untuk pembesaran kelenjar limfe, pemeriksaan
kinis, lympgraphy, urography, operative
NX Minimal yang ditetapkan kel.Lymfe regional tidak dapat ditemukan
N0 Tanpa tanda-tanda pembesaran kelenjar lymfe regional
N1 Pembesaran tunggal kelenjar lymfe regional yang homolateral
N2 Pembesaran kontralateral atau bilateral atau kelenjar lymfe regional yang
multiple
N3 Masa yang melekat pada dinding pelvis dengan rongga yang bebas antaranya
dan tumor
N4 Pembesaran kelenjar lymfe juxta regional
M = Metastase jauh termasuk pembesaran kelenjar limfe yang jauh,
Pemeriksaan klinis , thorax foto, dan test biokimia
MX Kebutuhan cara pemeriksaan minimal untuk menetapkan adanya metastase
jauh, tak dapat dilaksanakan
M1 Adanya metastase jauh
M1a Adanya metastase yang tersembunyi pada test-test biokimia
M1b Metastase tunggal dalam satu organ yang tunggal
M1c Metastase multiple dalam satu terdapat organ yang multiple
M1d Metastase dalam organ yang multiple

Sedangkan untuk tipe dan lokasinya adalah sebagai berikut: (Jiang &
Lizhong 2008) Tipe tumor didasarkan pada tipe selnya, tingkat anaplasia dan
invasi.
1. Efidermoid Ca, kira-kira 5% neoplasma buli-buli squamosa cell
anaplastik, invasi yang dalam dan cepat metastasenya.
2. Adeno Ca, sangat jarang dan sering muncul pada bekas urachus
3. Rhabdomyo sarcoma, sering terjadi pada anak-anak laki-laki (adolescent),
infiltasi, metastase cepat dan biasanya fatal.
4. Primary Malignant lymphoma, neurofibroma dan pheochromacytoma,
dapat menimbulkan serangan hipertensi selama kencing.
5. Ca dari pada kulit, melanoma, lambung, paru dan mamma mungkin
mengadakan metastase ke buli-buli, invasi ke buli-buli oleh endometriosis
dapat terjadi.

5
2.3 Etiologi Ca Kandung Kemih
Menurut Coleman, et al, (1997), proses penyakit dari kanker kandung
kemih memiliki beberapa kemungkinan penyebab. Diperkirakan terdapat
korelasi yang sangat kuat antara merokok dengan kejadian kanker kandung
kemih. Paparan industri terhadap zat-zat dan kondisi tertentu juga dapat
menyebabkan kanker kandung kemih. Periode laten dari paparan industri
dapat terjadi hingga 20 – 45 tahun. Percobaan untuk menghubungkan
konsumsi kopi dan kanker kandung kemih menghasilkan penemuan yang
berlawanan. Kontroversi lain menghubungkan pemanis buatan dengan
kejadian kanker kandung kemih meskipun penelitian terbaru tidak
menemukan peningkatan secara signifikan. Sebagian ahli percaya bahwa klien
yang mengalami kekambuhan kanker kandung kemih harus menghindari
pemanis buatan karena dapat memicu agen penyebab kanker.
Kanker kandung kemih memiliki beberapa faktor etiologi termasuk
interaksi antara latar belakang genetik dan faktor lingkungan dan merokok
adalah faktor resiko utama pemicu kanker kandung kemih (Cohen, et al.2000
dalam Rouissi, et al. 2011), dan bertanggung jawab atas 50% kasus pada pria
dan 35% pada wanita (Zeegers, et al. 2000 dalam Rouissi, et al.2011). Asap
rokok mengandung sejumlah xenobiotics termasuk oksidan dan radikal bebas,
sehingga asap rokok dapat menurunkan serum dan folat sel darah merah dalam
darah dan antioksidan vitamin B12 (Maninno, et al.2003; Tungtrongchitr, et
al. 2003 dalam Rouissi, et al. 2011). Sebagai tambahan laporan
mengindikasikan bahwa konsentrasi total plasma homocysteine lebih tinggi
pada perokok daripada non perokok (Lwin, et al.2002; Saw, et al. 2001 dalam
Rouissi. et al. 2011). Penemuan-penemuan ini menunjukkan bahwa fungsi
polimorfisme pada gen terlibat dalam metabolisme folat dan tingkat serum
dari vitamin B12 memiliki peranan penting dalam perkembangan
karsinogenesis kanker.

6
Bagaimana pun juga, peneliti yakin bahwa orang-orang dengan faktor
resiko tertentu akan memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk terpapar kanker
kandung kemih. Penelitian menemukan bahwa faktor-faktor berikut beresiko
terhadap munculnya kaner kandung kemih (National Cancer Institute 2010):
1. Merokok
Merokok merupakan faktor resiko utama untuk kanker kandung
kemih. Merokok merupakan penyebab utama dari beberapa kasus kanker
kandung kemih. Orang yang merokok selama bertahun-tahun memiliki
resiko lebih tinggi daripada orang yang tidak merokok atau orang yang
merokok dalam jangka waktu yang pendek.
2. Bahan-bahan kimia di tempat kerja
Orang-orang tertentu memiliki resiko lebih tinggi karena bahan
kimia penyebab kanker di tempat mereka bekerja. Pekerja di industri
pewarnaan, karet, kimia, logam, tekstil, dan bulu, akan memiliki resiko
terkena kanker kandung kemih. Resiko lain juga muncul pada piñata
rambut, masinis, pekerja printer, pengecat, dan supir truk.
3. Riwayat kanker kandung kemih
Orang-orang yang memiliki riwayat kanker kandung kemih memiliki
kemungkinan untuk kembali memiliki penyakit yang sama.
4. Pengobatan kanker tertentu
Orang yang pernah mendapatkan pengobatan kanker dengan obat-
obatan tertentu seperti cyclophosphamide akan meningkatkan resiko
kanker kandung kemih. Juga orang yang pernah mendapatkan terapi
hadradiasi di abdomen atau panggul akan memiliki resiko
5. Arsenik
Arsenik merupakan suatu racun yang mampu meningkatkan
resiko kanker kandung kemih. Di beberapa bagian dunia, kadar arsenic
mungkin ditemukan tinggi pada air minum.
6. Riwayat keluarga dengan kanker kandung kemih
Keluarga yang memiliki riwayat kanker kandung kemih maupun
kanker lain seperti kanker kolon dan kanker ginjal (RCC) akan
menimbulkan resiko kanker kandung kemih.

7
7. Infeksi
Infeksi kronis saluran kencing dan infeksi dari parasit S.
haematobium juga dikaitkan dengan peningkatan resiko kanker kandung
kemih, seringnya pada karsinoma sel skuamosa. Inflamasi kronis juga
diperkirakan memainkan peran penting pada proses karsinogenesis pada
kasus ini.
Faktor resiko lain yang menyebabkan kanker kandung kemih
menurut Wein, AJ (2012):
1. Pada karsinoma urothelial kandung kemih :
a. Merokok
b. Paparan industry
c. Paparan zat kimia
d. Paparan cyclophosphamide
2. Pada karsinoma sel skuamosa kandung kemih:
a. Schistosomiasis, merupakan sebuah infeksi dari Schistosoma
haematobium
b. Batu pada saluran kemih, jika terjadi bertahun-tahun
c. Penggunaan kateter selama bertahun-tahun
d. Divertikula kandung kemih
3. Pada adenokarsinoma kandung kemih:
a. Sisa dari tindakan urachal
b. Neurogenic bladder
c. Metastasis dari malignansi primer
d. Ekstropi kandung kemih
e. Invasi tumor/kanker dari organ lain seperti kolon dan ginjal
4. Penyebab lain yang jarang terjadi: Penggunaan analgesik yang
mengandung phenacetin.

8
2.4 Manifestasi Klinis Ca Kandung Kemih
Kanker kandung kemih dapat menyebabkan beberapa gejala seperti
berikut: (National Cancer Institute 2010)
1. Terdapat darah dalam urin (urine terlihat seperti berkarat atau merah
gelap).
2. Adanya dorongan mendesak untuk mengosongkan kandung kemih.
3. Harus mengosongkan kandung kemih lebih sering dari biasanya.
4. Adanya dorongan untuk mengosongkan kandung kemih tanpa ada hasil.
5. Merasa perlu berusaha keras saat mengosongkan kandung kemih.
6. Merasa nyeri saat mengosongkan kandung kemih.

2.5 Patofisiologi Ca Kandung Kemih


Keganasan yang terjadi pada kandung kemih ini kebanyakan menyerang
pada sel epitel transisional kandung kemih (Monahan, et al, 2007).
Perubahan (mutasi gen) pada kandung kemih melibatkan zat-zat
karsinogen yang didapat dari lingkungan seperti tembakau, aromatik amina,
arsen; faktor resiko lain yang mempengaruhi proses pertumbuhan sel kanker
pada kandung kemih diantaranya : genetik dan riwayat penyakit kandung
kemih sebelumnya. Secara umum, karsinogenesis dapat terjadi melalui
aktivasi proto-onkogen dan rusaknya gen supresor tumor yang termasuk
fosfatase dan tensin homolog (PTEN) dan p53. Akibat dari mutasi ini terdapat
delesi dari kromosom 9 atau mengaktifkan mutasi dari reseptor faktor
pertumbuhan fibroblast 3 (FGFR 3) (Ching & Hansel 2010).
Karsinoma kandung yang masih dini merupakan tumor superficial.
Tumor ini lama-kelamaan dapat mengadakan infiltrasi ke lamina propia, otot
dan lemak perivesika yang kemudian menyebar langsung ke jaringan
sekitarnya. Hematuria yang disertai nyeri merupakan gejala awal kanker pada
kebanyakan pasien (Nursalam & Batticaca 2006).

9
2.6 Pemeriksaan Penunjang Ca Kandung Kemih
1. Pemeriksaan Laboratorium
a. Urinalisis
Pemeriksaan ini meliputi:
1) Maskroskopik dengan menilai warna, bau, dan berat jenis urine.
2) Kimiawi meliputi pemeriksaan derajat keasaman/pH, protein, dan
gula dalam urine.
3) Mikroskopik mencari kemungkinan adanya sel-sel, cast (silinder),
atau bentukan lain di dalam urine.
4) Pada analisis mikoskopik urine, ditemukannya sel – sel darah
merah secara signifikan (lebih dari 2 per lapang pandang)
menunjukkan adanya cedera pada sistem saluran kemih dan
didapatkannya leukositoria (>5/lpb) menunjukkan adanya proses
inflamasi pada saluran kemih.

b. Pemeriksaan Darah
1) Darah rutin : pemeriksaan darah rutin terdiri atas pemeriksaan
kadar hemoglo bin, leukosit, laju endap darah, hitung jenis
leukosit, dan hitung trombosit.
2) Faal ginjal : Beberapa uji faal ginjal yang sering diperiksa adalah
pemeriksaan kadar kreatinin, kadar ureum atau BUN (Blood Urea
Nitrogen), dan klirens kreatinin. Sayangnya kedua uji ini baru
menunjukkan kelainan, pada saat ginjal sudah kehilangan 2/3 dari
fungsinya. Pemeriksaan klirens kreatinin untuk menguji rerata laju
filtrasi glomerulus atau glomurular filtration rate (GFR).
3) Faal Hepar : Pemeriksaan faal hepar ditujukan untuk mencari
adanya metastasis suatu keganasan atau untuk melihat fungsi hepar
secara umum.
4) β - Human Chorionic Gonadotropin : β – HCG digunakan untuk
menunjukkan adanya peningkatan metastase tumor kandung kemih
(Oliver, et.al. 1989)

10
5) Cell survey antigen study : Pemeriksaan laboratorium untuk
mencari sel antigen terhadap kanker, bahan yang digunakan adalah
darah vena (Nursalam & Batticaca 2009).

a. Kultur Urine
Digunakan untuk memeriksa adanya infeksi saluran kemih.

b. Histopatologi
Pemeriksaan patologi anatomik adalah pemeriksaan histopatologis
yang diambil melalui biopsi jaringan ataupun melalui operasi. Pada
pemeriksaan ini dapat ditentukan suatu jaringan normal,
mengalami proses inflamasi, pertumbuhan benigna, atau terjadi
maligna. Selain itu pemeriksaan ini dapat menentukan stadium
patologik serta derajat diferensiasi suatu keganasan.

c. Sitologi
Pemeriksaan sel-sel urotelium yang terlepas bersama urine
(biasanya nilai negative palsu tinggi). Sample urine sebaiknya
diambil setelah pasien melakukan aktivitas (loncat-loncat atau lari
di tempat) dengan harapan lebih banyak sel urotelium yang terlepas
di urine. Derajat perubahan sel diklasifikasikan dalam lima kelas
mulai dari; normal, sel yang mengalam i peradangan, sel atipik,
disuga menjadi sel ganas, dan sel yang sudah mengalami
perubahan morfologi menjadi sel ganas.

2. Pemeriksaan Radiologis
a. Foto Polos Abdomen (BOF. BNO. KUB)
Foto polos abdomen atau KUB (Kidney Ureter Bladder) adalah foto
skrining untuk pemeriksaan kelainan urologi (Purnomo 2011).

11
b. USG
Sebelum pemeriksaan, pasien dipuasakan untuk meminimalkan gas di
usus yang dapat menghalangi pemeriksaan. Pemeriksaan USG
merupakan pemeriksaan yang tidak invasive yang dapat menilai
bentuk dan kelainan dari buli (Muttaqin 2011)

c. Sitoskopi
Prosedur pemeriksaan ini merupakan inspeksi langsung uretra dan
kandung kemih dengan mengunakan alat sitiskopi (merupakan suat
alat yang mempunyai lensa optic pada ujungnya sehingga dapat
dengan leluasa melihat langsung). Sitoskopi juga memungkinkan ahli
urologi untuk mendapatkan specimen urine dari etiap ginjal guna
mengevaluasi fungsi ginjal (Muttaqin 20011).

3. Biopsy
Jika pada test pencitraan dicurigai kanker telah menyebar, biopsi
dapat digunakan untuk memastikan penyebaran kanker ke luar kandung
kemih seperti jaringan sekitar kandung kemih, kelenjar limfa, atau organ
tubuh lain (American Cancer Society 2012). Secara umum peran perawat
dalam menjalakan pengkajian diagnostik meliputi: (Muttaqin 2011)
a. Memenuhi informasi umum tentang prosedur diagnostik yang akan
dilaksankan.
b. Memberikan informasi waktu dan jadwal yang tepat kapan prosedur
diagnostic akan dilaksanakan.
c. Memberikan informasi tentang aktivitas yang diperlukan pasien
memberikan instruksi tentang perawatan pascaprosedur, pembatasan
diet, dan aktivitas.
d. Memberikan informasi tentang nutrient khusus yang diberikan setelah
diagnosis.
e. Memberikan dukungan psikologis untuk menurunkan tingkat
kecemasan.

12
f. Mengajarkan teknik distraksi dan relaksasi untuk menurunkan
ketidaknyamanan.
g. Mendorong anggota keluarga dan orang terdekat, untuk memberikan
dukungan emosi pada pasien selama tes diagnostic.

2.7 Penatalaksanaan Ca Kandung Kemih


1. Tindakan Konservatif
Irigasi kandung kemih adalah tindakan mencuci kandung kemih
dengan cairan yang mengalir. Tindakan ini dilakukan untuk
mempertahankan kepatenan kandung kemih, membuang atau
meminimalkan obstruksi seperti bekuan dan plug mucus dalam kandung
kemih, mecegah atau mengatasi inflamasi atau infeksi kandung kemih dan
untuk memasukan obat untuk pengobatan kandung kemih local (Johnson,
2005).
2. Tindakan Invansive Minimal
Transurethral reseksi bledder (TURB): Prosedur ini, atau disebut
dengan "reseksi transurethral dari tumor kandung kemih", umum untuk
kanker kandung kemih tahap awal, atau mereka yang terbatas pada lapisan
superfisial dari dinding kandung kemih. Operasi kanker kandung kemih ini
dilakukan dengan melewatkan instrumen melalui uretra, yang menghindari
memotong melalui perut.
3. Pembedahan untuk kanker kandung kemih (Cancer Treatment Cancer of
America, 2013)
Pembedahan biasanya pilihan pengobatan pertama untuk tahap awal
kanker kandung kemih karena tumor memiliki kemungkinan tidak
menyebar ke area lain dari tubuh. Prosedur pembedahan kanker kandung
kemih adalah Cystectomy, pembedahan ini bisa digunakan untuk
menghapus baik seluruh atau sebagian dari kandung kemih. Kadang-
kadang, kandung kemih dapat diakses melalui sayatan di perut.
4. Diversi Urine (NKUDIC 2013)
Prosedur ini untuk mengalihkan urine yang diperlukan dalam
menangani kegasanan pada system perkemihan.Ketika urin tidak dapat

13
mengalir keluar dari tubuh , dapat menumpuk di kandung kemih, ureter,
dan ginjal. Akibatnya, limbah tubuh dan air tambahan tidak kosong dari
tubuh, berpotensi mengakibatkan rasa sakit, infeksi saluran kemih, gagal
ginjal, atau jika tidak diobati dapat menimbulkan kematian. Diversi urin
dapat bersifat sementara atau permanen, tergantung pada alasan untuk
prosedur ini.
Diversi urin sementara mengalirkan urine selama beberapa hari atau
minggu. Diversi urin sementara mengalirkan urin hingga penyebab
penyumbatan diatasi atau setelah operasi saluran kemih dilakukan. Jenis
diversi urin sementara ini termasuk nefrostomi dan kateterisasi urin.

2.8 Komplikasi Ca Kandung Kemih


Komplikasi dari kanker kandung kemih bisa merupakan akibat dari
pengobatan (missal: operasi) dan bisa merupakan akibat dari terganggunya
mekanisme tubuh akibat kanker itu sendiri. Kompilikasi akibat dari kanker
meliputi: (Medlineplus 2014)
a. Retensi urin akut
Striktur uretra dapat secara total menghalangi aliran urin, menyebabkan
retensi urin akut. Retensi urine adalah ketidakmampuan dalam mengeluarkan
urine sesuai dengan keinginan, sehingga urine yang terkumpul di buli-buli
melampaui batas maksimal.
b. Hydronephrosis
Hydronephrosis adalah pembesaran satu atau kedua ginjal yang
disebabkan oleh terhalangnya aliran urin.
c. Masalah seksual (NHS N.D.)
1) Disfungsi ereksi, terjadi pada pria setelah radikal sistektomi dan dapat
diobati dengan inhibitor phosphodiesterase tipe 5.
2) Penyempitan vagina, akibat radiotherapy dan cystectomy yang
menyebabkan vagina memendek dan menyempit. Hal
ini menyebabkan rasa sakit saat penetrasi dan sulit.

14
d. Infeksi
Bisa terjadi akibat penatalaksanaan divers urin, dimana terdapat lubang
stoma yang rentan terhadap kuman yang dapat menyebabkan infeksi. selain itu
perawatan yang kurang tepat setelah pembedahan juga dapat beresiko
terjadinya infeksi
e. Sedangkan komplikasi lain dikaitkan dengan daerah metastase penyakit.
Penyebaran dapat terjadi secara limfogen menuju kelenjar limfe, obturator,
iliaka eksterna dan iliaka komunis serta penyebaran secara hematogen
paling sering terjadi di hepar, paru dan tulang.

15
BAB III

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN Ca KANDUNG KEMIH

3.1 Pengkajian
3.1.1 Anamnesa
a. Identitas pasien (data demografi)
Data demografi pasien meliputi: nama, alamat, jenis kelamin, usia,
pekerjaan, dst. Pajanan okupasional dengan zat – zat karsinogen
khususnya bahan pewarna dan pelarut yang digunakan dalam indutri
dapat menjadi faktor resiko.
b. Keluhan utama
Keluhan yang paling lazim didapatkan adalah adanya darah pada
urin (hematuria). Hematuria mungkin dapat dilihat dengan mata
telanjang (gross), tetapi mungkin pula hanya terlihat dengan bantuan
mikroskop (mikroskopis). Hematuria biasanya tidak menimbulkan rasa
sakit. Keluhan lainnya meliputi sering BAK dan nyeri saat BAK
(diuria).
Pasien dengan penyakit lanjut dapat hadir dengan nyeri panggul
atau tulang, edema ekstremitas bawah dari kompresi korpus iliaka, atau
nyeri panggul dari obstruksi saluran kemih. Superfisial kanker
kandung kemih jarang ditemukan selama pemeriksaan fisik. Kadang –
kadang, massa abdomen atau pelvis dapat teraba. Periksa untuk
limfadenopati.
c. Riwayat penyakit sekarang
Mendiskripsikan secara kronologis tentang perjalanan penyakit
pasien mulai dari awal mula sakit sampai dibawa ke rumah sakit.
d. Riwayat penyakit dahulu
Pasien memiliki riwayat kesehatan seperti infeksi atau iritasi
saluran kemih atau gangguan berkemih seperti hematuria dan disuria.
e. Riwayat penyakit keluarga
Berhunbungan dengan riwayat kanker dalam keluarga seperti
kanker prostat, kanker ginjal, dan lain-lain.

16
f. Riwayat penggunaan obat-obatan
Pasien mungkin mengkonsumsi obat-obatan seperti siklofosfamid
(cytoxan) yang menjadi faktor penyebab.
g. Pola kebiasaan yang mempengaruhi kesehatan.
Misalnya kebiasaan merokok. Panjanan lingkungan dengan zat
karsinogen seperti 2-naftilamin, senyawa nitrat.

3.1.2 Pemeriksaan fisik


a. Keadaan umum pasien (tanda-tanda vital) pasien
b. Kesadaran
c. Pemeriksaan Head to Toes
- Kepala: normal
- Mata: inspeksi: konjungtiva anemis
- Hidung: normal
- Dada & axila: normal
- Pernafasan: normal
- Sirkulasi jantung : terjadi peningkatan aliran darah ke kandung
kemih karena proliferasi sel meningkat
- Abdomen : inspeksi: distensi abdomen, palpasi: nyeri tekan pada
abdomen
- Genitouary: inspeksi: hematuria, palpasi: teraba ada massa pada
daerah suprasimfisis, abdomen kuadran bawah.
- Ekstremitas (integumen & muskuluskletal): inspeksi:
kemerahan/iritasi pada daerah genitalia. palpasi: tugor kulit jelek.
Kulit tampak pucat.

3.1.3 Pengkajian diagnostic


1. Pemeriksaan Laboratorium
a. Urinalisis : Pada analisis mikoskopik urine, ditemukannya sel – sel
darah merah secara signifikan (lebih dari 2 per lapang pandang)
menunjukkan adanya cedera pada sistem saluran kemih dan
didapatkannya leukositoria (>5/lpb) menunjukkan adanya proses
inflamasi pada saluran kemih (Purnomo, 2011)

17
b. Pemeriksaan Darah
1) Darah rutin (Purnomo 2011) : Pemeriksaan darah rutin terdiri
atas pemeriksaan kadar hemoglobin, leukosit, laju endap darah,
hitung jenis leukosit, dan hitung trombosit.
2) Faal ginjal (Purnomo 2011) : Beberapa uji faal ginjal yang
sering diperiksa adalah pemeriksaan kadar kreatinin, kadar
ureum atau BUN (Blood Urea Nitrogen), dan klirens kreatinin.
3) Faal Hepar (Purnomo 2011) : Pemeriksaan faal hepar ditujukan
untuk mencari adanya metastasis suatu keganasan atau untuk
melihat fungsi hepar secara umum.
4) Pemeriksaan penanda tumor (tumor marker) : Pemeriksaan
penanda tumor antara lain adalah : PAP (Prostatic Acid
Phosphate) dan PSA (Prostat Spesific Antigen) yang berguna
untuk menegakkan diagnosis karsinoma. PSA ini dapat
digunakan sebagai deteksi awal tumor yang tidak invasif (Luo
2004).
5) Cell survey antigen study (Nursalam 2009) : Pemeriksaan
laboratorium untuk mencari sel antigen terhadap kanker, bahan
yang digunakan adalah darah vena.
6) Kultur urine : Digunakan untuk memeriksa adanya infeksi
saluran kemih.
7) Histopatologi : Pemeriksaan ini dapat menentukan suatu
jaringan normal, mengalami proses inflamasi, pertumbuhan
benigna, atau terjadi maligna. Selain itu pemeriksaan ini dapat
menentukan stadium patologik serta derajat diferensiasi suatu
keganasan.
8) Sitologi : Pemeriksaan sel-sel urotelium yang terlepas bersama
urine (biasanya nilai negative palsu tinggi). Derajat perubahan
sel diklasifikasikan dalam lima kelas mulai dari; normal, sel
yang mengalami peradangan, sel atipik, disuga menjadi sel
ganas, dan sel yang sudah mengalami perubahan morfologi
menjadi sel ganas.

2. Pemeriksaan Radiologis
a. Foto Polos Abdomen (BOF; BNO; KUB) (Purnomo 2011) : Foto
polos abdomen atau KUB (Kidney Ureter Bladder) adalah foto
skrining untuk pemeriksaan kelainan urologi. h. USG (Muttaqin
2011). Sebelum pemeriksaan, pasien dipuasakan untuk
meminimalkan gas di usus yang dapat menghalangi pemeriksaan.
Pemeriksaan USG merupakan pemeriksaan yang tidak invasive
yang dapat menilai bentuk dan kelainan dari buli.

18
b. Sitoskopi (Muttaqin 2011) : Prosedur pemeriksaan ini merupakan
inspeksi langsung uretra dan kandung kemih dengan menggunakan
alat sitoskopi (meruapakan suat alat yang mempunyai lensa optik
pada ujungnya sehingga dapat dengan leluasa melihat langsung).
Sitoskop juga memungkinkan ahli urologi untuk mendapatkan
spesimen urine dari setiap ginjal guna mengevaluasi fungsi ginjal.
Alat forceps dapat dimasukkan melalui sitokop untuk keperluan
biopsi pada kandunng kemih.
c. Flow Cytometri (Nursalam 2009) : Mendeteksi adanya kelaian
kromosom sel-sel urotelim.
d. Pielogram Intravena / IVP (Price dan Wilson 2005) : Prosedur
yang lazim pada IVP adalah foto polos radiografi abdomen yang
kemudian dilanjutkan dengan penyuntikan media kontras
intravena. IVP dapat memastikan keberadaan posisi ginjal, serta
menilai ukuran dan bentuk ginjal. Efek berbagai pemyakit terhadap
kemampuan ginjal untuk memekatkan dan mengekskresi zat warna
juga dapat dinilai.
e. Arteriogram ginjal (Price dan Wilson 2005) : Tindakan
memasukkan kateter melalui arteri femoralis dan aorta abdominlis
sampai setinggi arteri renalis selanjutnya media kontas disuntikkan.
Tindakan ini untuk dapat sipakai untuk melihat pembuluh darah
pada neoplasma.
f. CT-scan (Price dan Wilson 2005) : CT-scan berperan penting
dalam penetapan stadium neoplasma menggantikan IVP dalam
kasus trauma ginjal.

3. Biopsy
Jika pada test pencitraan dicurigai kanker telah menyebar, biopsi
dapat digunakan untuk memastikan penyebaran kanker ke luar
kandung kemih seperti jaringan sekitar kandung kemih, kelenjar linfa,
atau organ tubuh lain.

3.2 Diagnosa Keperawatan


1. Gangguan eliminasi urine berhubungan dengan retensi urine, diuria,
nokturia
2. Nyeri berhubungan dengan supresi sel saraf akibat pembesaran karsinoma
pada kandung kemih
3. Ketidakefektifan perfusi jaringan ginjal berhubungan dengan gangguan
transport oksigen melalui membrane kapiler

19
4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan anemia
5. Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan luka post operasi

3.3 Intervensi Keperawatan


1. Gangguan eliminasi urine berhubungan dengan retensi urine, diuria,
nokturia
a. Tujuan dan Kriteria Hasil :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam,
diharapkan eliminasi urine dapat optimal sesuai dengan toleransi
individu. Dengan kriteria hasil :
- Pasien tidak mengeluh mengalami gangguan eliminasi urine.
- Pasien berpartisipasi dalam aktivitas yang berhubungan dengan
perawatan nefrostomi tube.

b. Intervensi Keperawatan :
1) Ajarkan cara perawatan nefrostomi tube
R/ Pasca bedah dengan nefrostomi tube yang ada, maka pasien
atau keluarga perlu diajak dala berpartisipasi agar kemandirian
meningkat.
2) Pantau proses penyembuhan luka insisi pada sekitar nefrostomi
tube
R/ mengembangkan intervensi dini terhadap kemungkinan
komplikasi
3) Anjurkan klien mengunjungai seorang yang telah mengalami
nefrostomi tube
R/ menurunkan kecemasan dan ketakutan terhadap kemapuan
beradaptasi
4) Sarankan klien untuk mencegah kontak urine dengan kulit, untuk
mencegah iritasi kulit akibat diversi urine.
R/ menurunkan resiko infeksi
5) Nilai kemampuan partisipasi klien dan keluarga.
R/ sebagai pegangan informasi.

20
2. Nyeri berhubungan dengan supresi sel saraf akibat pembesaran karsinoma
pada kandung kemih
a. Tujuan dan Kriteria Hasil :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam,
diharapkan nyeri pasien menurun. Dengan kriteria hasil :
- Klien dapat mengenali letak nyeri
- Klien tampak lebih nyaman

b. Intervensi Keperawatan :
1) Perhatikan lokasi, intensitas, durasi nyeri dan skala nyeri
R/ menentukan keparahan nyeri dan menentukan penurunan skala
nyeri
2) Berikan rasa nyaman (perubahan posisi, kompres hangat)
R/ menurunkan ketegangan otot
3) Dorong menggunakan teknik relaksasi (nafas dalam, imaginary
atau visualisasi)
R/ meningkatkan kemapuan koping klien
4) Kolaborasi pemberian obat analgesic, kortikosteroid,
antispasmodic
R/ menurunkan nyeri dan meningkatkan relaksasi otot

3. Ketidakefektifan perfusi jaringan ginjal berhubungan dengan gangguan


transport oksigen melalui membrane kapiler
a. Tujuan dan Kriteria Hasil :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam,
diharapkan perfusi jaringan ginjal adekuat. Dengan kriteria hasil :
- Klien tidak pucat dan tidak ada pernafasan cuping hidung.
- Haluaran urine klien adekuat dan tidak ada hematuria
- Hb meningkat
b. Intervensi Keperawatan :
1) Observasi status hidrasi dan TTV
R/ memantau tekanan ortostatik

21
2) Panta hasil laboratorium yang relevan
R/ mengetahui peningkatan Hb
3) Pantau BUN, elektrolit serum, kreatinin erum, pH, dan kadar
hematocrit
R/ untuk mengetahui faal ginjal
4) Observasi hematuria
R/ memantau pembekuan darah
5) Pertahankan keakuratan pencatatan asupan dan haluaran
R/ mencegah dehidrasi maupun overhidrasi

4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan anemia


a. Tujuan dan Kriteria Hasil :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam,
diharapkan klien menunjukan toleransi terhadap aktivitas. Dengan
kriteria hasil :
- Klien mampu beraktivitas secara bertahap
- Tidak ada keluhan sesak napas dan fatigue selama aktivitas.

b. Intervensi Keperawatan :
1) Evaluasi motivasi dan keinginan klien untuk meningkatkan
aktivitas
R/ menjadi data dasar kepatuhan pasien
2) Ajarkan tentang pengaturan aktivitas dan teknik manajemen waktu
R/ untuk mencegah kelelahan
3) Penggunaan teknik relaksasi (misal : distraksi, visualisasi) selama
aktivitas
R/untuk mencegah cepat lelah
4) Pantau respon kardiorespiratori (misal : dyspnea, pucat, frekuensi
nafas dan denyut nadi)
R/ menjadi indikasi aktivitas untuk disudahi (istirahat dulu)
5) Pantau asupan nutrisi
R/ untuk memastikan sumber-sumber energi yang adekuat

22
6) Pantau pola tidur dan lamanya waktu tidur
R/ mengetahui pola istirahat klien

5. Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan luka post operasi


a. Tujuan dan Kriteria Hasil :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam,
diharapkan tidak terjadi infeksi. Dengan kriteria hasil :
- TTV normal
- Tidak ada tanda dan gejala ISK pada klien

b. Intervensi Keperawatan :
1) Pertahankan intake cairan yang adekuat
R/ meningkatkan aliran urine
2) Ajarkan klien cuci tangan
R/ memberikan formasi tentang personal higine
3) Ajarkan klien tentang tanda dan gejala infeksi serta anjurkan untuk
melaporkannya
R/ memberikan informasi untuk meningkatkan kepatuhan
4) Ajarkan klien dan keluarga untuk mengalirkan kantor untuk
mencegah refluks
R/ dapat mencegah infeksi
5) Kaji jenis pembedahan, dan apakah adanya anjuran khusus dari tim
dokter bedah dalam melakukan perawatan luka
R/ mengidentifikasi kemajuan atau penyimpangan dari tujuan yang
diharapkan
6) Lakukan mobilisasi miring kanan-kiiri tiap 2 jam
R/ mencegah penekanan setempat yang berlanjut pada nekrosis
jaringan lunak

23
BAB IV

ASUHAN KEPERAWATAN Ca KANDUNG KEMIH

4.1 Kasus Semu


Seorang laki-laki (62 tahun) pendidikan terakhir SLTP bekerja sebagai
wiraswasta di bidang percetakan sablon. Masuk Rumah Sakit tanggal 18
Februari 2014 dengan diagnosa Ca Buli T3 NX M0. Pada tanggal yang sama
dilakukan pengkajian. Didapatkan data sbb.: klien mengeluh nyeri, kencing
darah selama satu bulan, buang air kecil tidak lancar disertai darah selama 10
hari sebelum dibawa ke Rumah Sakit, tidak ada riwayat alergi makanan dan
obat. Dari pemeriksaan didapatkan hasil sbb.: TD: 140/90 mmHg, nadi:
92x/menit, RR: 20x/menit, suhu: 36,5°C. Sistem kardiovaskuler dan
pernafasan normal, terpasang kateter threeway dan irigasi cairan, urin merah,
output: 600cc/3jam, intake: 750cc/3jam. Klien menyatakan nyeri kandung
kemih sesaat dan kadang-kadang. Meski terpasang kateter, urin tidak keluar
secara lancar sehingga perlu dilakukan tindakan spooling. TB: 168 cm, BB
sekarang 52 kg, 1 bulan sebelumnya 60 kg, diet biasa, nafsu makan baik,
frekuensi peristaltik 3x/menit, tidak bisa BAB selama 4 hari, skibala (+). Hasil
pemeriksaan laboratorium: BUN 8,5 albumin 2,7 kreatinin 0,8 SGOT 17
SGPT 23 CRP 55,3 LED 13.000 Hb 12,5 natrium 135 kalium 3,9 kalsium 101.
Hasil pemeriksaan urin: Glukosa(-) eritrosit(+) lebih dari 100/lapang pandang,
leukosit 20/lapang pandang, kristal(+). Terapi: Asam trasenamat 3x500 gr,
merop 3x1 gr, metamizol 3x1 gr, antrain 3x1 gr, dulcolax 1x, diet TKTP eksta
putih telur.

24
4.2 Pengkajian
1. Identitas klien
Nama : Tn. S
Usia : 62 tahun
Pekerjaan : Wiraswasta, percetakan sablon
Pendidikan terakhir : SLTP
Tanggal MRS : 18 Febuari 2014
Dx medis : Ca Buli T3 NX M0
Tanggal pengkajian : 18 Febuari 2014

2. Keluhan utama : Nyeri pada pelvis


P= Sakitnya bertambah berat ketika diakhir berkemih. Q= Nyeri tumpul
dan terasa dalam
R= Nyeri terdapat pada bagian sudut kostovertebrata dan menjalar ke
umbilikus.
S= Nyeri yang dirasakan dari skal 1-10 disebutkan 7.
T= Nyeri terasa pada saat berkemih dan bertambah parah pada saat akhir
berkemih. Kadang-kadang nyeri juga terasa sewaktu-waktu.

3. Riwayat kesehatan
Klien mengeluh nyeri pada pelvis dan keluar darah saat
berkemih.selama 1 bulan, buang air kecil tidak lancar disertai darah
selama 10 hari sebelum dibawa ke Rumah Sakit.

4. Riwayat kesehatan masa lalu


Klien mempunyai riwayat hipertensi sejak 15 tahun yang lalu.

5. Riwayat kesehatan keluarga


Kakek dari klien menderita kanker ginjal

6. Riwayat Obat-obatan
Klien mendapatkan terapi asam trasenamat 3x500 gr, merop 3x1
gr, metamizol 3x1 gr, antrain 3x1 gr, dan dulcolax 1x

25
7. Riwayat alergi
Klien tidak memiliki riwayat alergi makanan dan obat-obatan

8. Pola kebiasaan klien


Klien merokok sejak 35 tahun yang lalu, habis 10 batang/hari, dan
klien mempunyai kebiasaan minum kopi setiap hari.

9. Pola persepsi
Klien sering menahan kencing ketika ingin berkemih

10. Riwayat psikososial


a. Persepsi terhadap kondisi klien
Klien merasa keadaan tubuhnya melemah dan tidak dapat beraktivitas
seperti biasa setelah menderita sakit.
b. Mekanisme koping dan sistem pendukung
Klien memperbanyak istirahat. Klien mendapatkan dukungan penuh
dari keluarganya untuk lekas sembuh.
c. Pengkajian pengetahuan klien dan keluarga
Klien tidak mengetahui tentang kondisi penyakitnya.
d. Nilai kepercayaan
Klien menganggap bahwa penyakit yang sekarang dideritanya
merupakan teguran dari Tuhan.

11. Pemeriksaan fisik


a. Keadaan umum : Komposmetis
b. Tanda-Tanda Vital :
TD : 140/90 mmHg Nadi : 92 x/menit
RR : 20 x/menit Suhu : 36,5oC
c. Pemeriksaan fisik (Head to toe)
Pada wajah / muka: tampak pucat, konjungtiva anemnis
Pada kulit : akral hangat, basah dan pucat
Pada perut : teraba masa feses pada perut kuadran bawah.
Pada alat genetalia: hematuria, disuria
d. Sistem Tubuh
1) B1 (Breathing) : tidak ada kelainan pada sistem pernafasan. Sura
nafas vesikuler.

26
2) B2 (Blood) : tidak ada nyeri dada. Sura jantung regular
3) B3 (Brain) :
Kesadaran : komposmetis
a) GCS : E = 4, V = 5, M = 6, total = 15
b) Wajah tampak pucat
c) Mata : sklera normal, konjungtiva pucat, pupil isokor
d) Persepsi sensori : normal
4) B4 (Bladder)
Terpasang kateter three way dan irigasi cairan.
Urin tidak keluar secara lancar sehingga perlu dilakukan tindakan
spooling, produksi urin 600cc/3jam, warna merah. Distensi daerah
suprapubik, nyeri tekan (+).
Balance cairan: Intake = Output 750/3jam x 8 =
600/3jam x 8 + IWL
6000 = 4800 (15 x 52)
6000 = 4800 + 780
6000 = 5580
B = +420
5) B5 (Bowel)
Klien mengalami distensi abdomen.
Tidak bisa BAB selama 4 hari, skibala (+).
Frekwensi pristaltik 3x/menit.
Nafsu makan baik, porsi habis, mendapat diet TKTP ekstra putih
telur.
BB sekarang 52 kg, TB: 168 cm
IMT=BB/(TB) 2 = 52/(1,68)2 = 18,44 kategori kurus
Diet TKTP ekstra putih telur.

6) B6 (Bone) : tidka ada kelainan pada sistem musculoskeletal

27
12. Pemeriksaan diagnostic
a. Pemeriksaan Laboratorium
1) Hb klien normal (12,5 g/dL). Nilai normalnya 12-16 g/dL.
2) BUN klien normal (8,5 mg/dL) dengan konsentrasi BUN normal
besarnya antara 6-20 mg/dL.
3) Kreatinin klien normal (0,8 mg/dL), dengan konsentrasi kreatinin
plasma normal besarnya 0,5 – 1,3 mg/dL.
4) Albumin rendah (2,7 g/dL). Nilai normalnya 3,0-5,0 g/dL.
5) Nilai SGOT normal (17 IU/L) dan SGPT normal (23 IU/L). Nilai
normalnya untuk SGOT 5-40 IU/L dan SGPT: 0-40 IU/L.
6) CRP tinggi (55,3 mg/L). Nilai normalnya 0-55 mg/L.
7) LED tinggi (13.000 sel/mm3). Nilai normalnya 4.500-10.000
sel/mm3.
8) Natrium normal 135 mEq/L, kalium normal 3,9 mEq/L, dan
kalsium normal 101 mg/L.
9) Pemeriksaan urin: Glukosa(-) eritrosit(+) lebih dari 100/lapang
pandang, leukosit 20/lapang pandang, kristal(+).

b. Pemeriksaan Penunjang
1) Cystoscopy : Pada kasus ini didapatkan adanya lesi dan masa pada
kandung kemih.
2) Biopsy : Pada biopsi didapatkan adanya penghalang, pertumbuhan
sel ganas. Jenis kanker dapat ditentukan dari sampel biopsi. Tes ini
paling sering dilakukan untuk memeriksa kanker kandung kemih
atau uretra. Normal Hasil : dinding kandung kemih halus. Kandung
kemih ukuran normal, bentuk, dan posisi.

28
4.3 Analisa Data

No Data Etiologi Masalah


1 Data Subjektif : Ca Bledder : Nyeri Kronis
Klien mengeluh nyeri di daerah suprapubic Inflamasi
sejak 1 bulan yang lalu. kandung
kemih
Data Objektif :
P : sakit bertambah berat ketika diakhir
berkemih.
Q : nyeri tumpul dan terasa dalam.
R : nyeri terdapat pada bagian sudut
kostovertebrata dan menjalar ke umbilicus
S : nyeri terasa pada saat berkemih dan
bertambah parah pada saat akhir berkemih.
Kadang-kadang nyeri juga terasa sewaktu-
waktu.
- Wajah klien tampak meringis.
- TD : 140/90 mmHg, N : 92 x/menit, RR :
20 x/menit
2 Data Subjektif : Penurunan Konstipasi
Klien mengatakan tidak bisa BAB selama 4 peristaltis
hari. usus

Data Objektif :
- Skibala (+)
- Distensi abdomen
- Peristaltic menurun, 3x/menit

29
3 Data Subjektif : Resiko Infeksi
Klien mengeluh nyeri suprapubic, BB
menurun, urin merah

Data Objektif :
- BB klien turun 5kg
- Distensi daerah suprapubic, nyeri tekan
(+)
- CRP tinggi (55,3 mg/L)
4 Data Subjektif : Hipoalbumin
Klien mengatakan cepat letih dan lemah.

Data Objektif :
- Klien tampak lelah
- Albumin rendah 2,7 g/dL
- LED tinggi 13.000 sel/mm3

4.4 Diagnosa Keperawatan


1. Nyeri kronis berhubungan dengan respon inflamasi kandung kemih,
supresisel saraf kandung kemih.
2. Konstipasi berhubungan dengan penurunan peristaltis usus, kegagalan
relaksasi sfingter anus akibat penekanan ke kolon.
3. Resiko tinggi infeksi.
4. Hipoalbumin.

30
4.5 Intervensi Keperawatan

No Diagnose Tujuan dan kriteria hasil intervensi Rasional


1 Nyeri kronis berhubungan Setelah dilakukan 1. Lakukan pengkajian nyeri yang 1. Membantu membedakan
dengan respon inflamasi tindakan keperawatan komprehensif, observasi karakteristik penyebab nyeri dan
kandung kemih, supresisel dalam 2x24 jam, skala nyeri, skala nyeri, lokasi nyeri serta catat memberikan informasi
saraf kandung kemih. nyeri yang dilaporkan temuan yang didapat tentang kemajuan/perbaikan
berkurang. penyakit, terjadinya
komplikasi, dan keefektifan
Dengan Kriteria Hasil: intervesi
1. Skala nyeri berkurang. 2. Kompres hangat pada area nyeri 2. Efek dilatasi dinding ginjal
2. Wajah klien rileks memberikan respon spasme
tidak meringis. akan menurun
3. Dapat melakukan 3. Bantu klien untuk menggunakan teknik 3. Meningkatkan istirahat,
teknik relaksasi relaksasi, contoh : bimbingan imajinasi, memusatkan perhatian,
individual yang efektif visualisasi dapat meningkatkan koping
untuk mencapai 4. Ajarkan teknik relaksasi nafas dalam saat 4. Meningkatkan intake
kenyamanan. nyeri muncul oksigen sehingga akan
menurunkan stimulus
internal

5. Tingkatkan tirah baring, biarkan klien 5. Tirah baring pada posisi


melakukan posisi yang nyaman fowler rendah menurunkan
tekanan intraabdomen

6. Kolaborasi dalam pemberian obat 6. Memblok lintasan nyeri


analgesic sesuai indikasi sehingga nyeri akan
berkurang

31
2 Konstipasi berhubungan Setelah dilakukan 1. Kaji pola defekasi klien sebelumnya dan 1. Pola defekasi yang normal
dengan penurunan tindakan keperawatan pola diet serta intake cairan klien, dukung harus dipertahankan dengan
peristaltis usus, kegagalan selama 2x24 jam, pola tindakan perbaikan asupan serat setiap hari,
relaksasi sfingter anus defekasi klien kembali intake cairan yang adekuat
akibat penekanan ke kolon normal. 2. Dorong intake cairan harian minimal 2L 2. Intake cairan yang cukup
perhari, anjurkan minum air hangat diperlukan untuk
Dengan kriteria hasil : sebelum sarapan. mempertahankan pola
1. Defekasi minimal 3x defekasi dan konsistensi
seminggu feses yang baik, air hangat
2. Konsistensi feses dapat menstimulus evakuasi
lunak feses.
3. Skibala (-) 3. Lakukan ambulasi sering pada klien yang 3. Abulansi yang teratur akan
4. Peristaltic usus dalam mengalami hospitalisasi sesuai toleran meningkatkan tonus otot
batas normal klien. yang diperlukan untuk
defekasi
4. Ajarkan latihan fisik yang dapat 4. Kontraksi otot abdomen
meningkatkan tonus otot abdomen dapat membantu
(kecuali jika terdapat kontraindikasi) mengeluarkan feses
5. Kolaborasi pemberian laksatif 5. Laksatif dapat melunakan
konsistesi feses sehingga
mudah keluar
3 Resiko tinggi infeksi Setelah dilakukan 1. Pertahankan teknik aseptif dan cuci 1. Untuk menghindari infeksi
tindakan selama 2x24 tangan yang benar menyebar lebih luas
jam, komplikasi akibat 2. Berikan perawatan kateter dan peritoneal 2. Untuk meminimalkan
infeksi minimal rutin penyebaran infeksi lebih
jauh
Dengan kriteria hasil : 3. Observasi untuk melaporkan nyeri, 3. Diduga kemungkinan
1. LED, CRP dalam peningkatan suhu tubuh terus-menerus penyebaran infeksi ke

32
batas normal dan tidak dan peningkatan jumla leukosit peritoneum
terdapat leukosir pada 4. Kolaborasi pemberian antibiotic sesuai 4. Program antibiotika
urin indikasi profilaksis untuk
menurunkan resiko
kontaminasi peritonitis
4 Hipoalbumin Setelah dilakukan 1. Monitor keadaan umum dan TTV klien 1. Memantau terjadinya
tindakan keperawatan komplikasi
selama 2x24 jam, klien 2. Monitor kadar albumin klien 2. Penurunan albumin
mengalami peningkatan merupakan indicator adanya
kadar albumin noral. gangguan sintesis protein
3. Tingkatkan asupan protein, misalnya 3. Protein merupakan bahan
Dengan kriteria hasil : dengan diet TKTP esktra putih telur dasar pembentukan albumin
1. Albumin serum 4. Kolaborasi pemberian palsbumin infuse 4. Plasbumin infuse
normal 3.0 – 5.0 g/dL merupakan salah satu terapi
2. LED normal 4.500 – untuk meningkatkan kadar
10.000 sel/mm3 albumin
3. Klien tidak lemah 5. Berikan motivasi untuk asupa nutrisi 5. Asupan nutrisi dan cairan
yang bergizi dan masukan cairan yang yang adekuat membantu
adekuat sesuai indikasi meningkatkan kadar
albumin

33
BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Simpulan
Vesica urinaria terletak tepat di belakang os pubis di dalam rongga
pelvis. Pada orang dewasa, kapasitas maksimum vesika urinaria sekitar 500
ml. Miksi merupakan refleks sederhana dan terjadi bila vesica urinaria
mengalami peregangan. Pada orang dewasa peregangan sederhana ini
dihambat oleh aktivitas cortex cerebri sampai waktu dan tempat untuk miksi
tersedia. Kanker kandung kemih mengacu pada tumor ganas dari mukosa
kandung kemih, merupakan tumor ganas yang paling sering terjadi. Faktor
resiko dari kanker kandung kemih antara lain faktor keturunan, merokok, dan
faktor lingkungan seperti paparan radiasi dan zat kimia. Secara umum,
karsinogenesis dapat terjadi melalui aktivasi proto-onkogen dan rusaknya gen
supresor tumor yang termasuk fosfatase dan tensin homolog (PTEN) dan p53.
Manifestasi yang muncul berupa nyeri saat berkemih dan adanya darah pada
urin. Tindakan pertama adalah reseksi kandung kemih transuretra atau TUR
kandung kemih.Intervensi ini berguna untuk menentukan luas infiltrate tumor.

5.2 Saran
Diharapkan melalui makalah ini pembaca mampu mengerti tentang
definisi, etilologi, patofisiologi, komplikasi serta asuhan keperawatan pada
klien dengan Kanker Kandung Kemih. Berdasarkan materi yang telah
dijelaskan dalam makalah ini, maka perawat seyogyanya mengerti dan
memahami akan medikasi. Sehingga perawat dapat mengimplementasikannya
dalam proses penanganan terhadap pasien. Maka asuhan keperawatan yang
diberikan pada pasien akan berjalan dengan baik dan maksimal.

34
DAFTAR PUSTAKA

Hawks, Jane Hokanson. Joyke M. Black. (2014). Keperawatan Medical Bedah


Management Klinis Untuk Hasil Yang Diharapkan Ed 08 buku
2.Singapore : Elsevier.
Judith, W. M. (2015). Diagnosis Keperawatan : NANDA, Intervensi NIC, Hasil
NOC Ed 10. Jakarta : EGC.
Selvia, Akub. Anita Dwi K, dkk. (2014). Makalah Keperawatan Perkemihan
Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Kanker Kandung Kemih.
Surabaya
Taylor, Cynthia M. (2010). Diagnosis Keperawatan : Dengan Asuhan
Keperawatan Ed 10. Jakarta : EGC.

35