Anda di halaman 1dari 17

Makalah Manajemen Pemasaran Bank

PEMASARAN DALAM PERSPEKTIF ISLAM

DOSEN PEMBIMBING : SYAWAL FITRIADY, M.B.A.

UNIT : 05

HARI/JAM : SELASA/ 10:20 s.d 12:55

DISUSUN OLEH :

KELOMPOK 1

RIEZKY ISNAENI – 170603250

AL ANAMILA RODIMAN – 160603107

SYARIFAH YUSTIKA – 160603110

JURUSAN PERBANKAN SYARIAH

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI AR RANIRY BANDA ACEH

2017/2018
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan yang Maha Esa, karena
atas berkat dan limpahan rahmat-Nyalah maka penulis dapat menyelesaikan
makalah ini dengan tepat waktu.
Berikut ini penulis mempersembahkan sebuah makalah dengan judul
“Pemasaran dalam Perspektif Islam”, yang menurut penulis dapat memberikan
manfaat yang besar bagi kita untuk mempelajari pemasaran Islam lebih
mendalam.
Melalui kata pengantar ini penulis lebih dahulu meminta maaf dan
memohon permakluman bilamana isi makalah ini ada kekurangan dan ada tulisan
yang penulis buat kurang tepat.
Dengan ini penulis mempersembahkan makalah ini dengan penuh rasa
terima kasih dan semoga Allah SWT memberkahi makalah ini sehingga dapat
memberikan manfaat.

Banda Aceh, 10 April 2018

Kelompok 1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................... i

DAFTAR ISI ................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN ............................................................................... 1

A. Latar Belakang Masalah ....................................................................... 1


B. Rumusan Masalah ................................................................................ 2
C. Tujuan Penulisan .................................................................................. 2

BAB II PEMBAHASAN ................................................................................ 3

A. Definisi Pemasaran Syariah ................................................................. 3


B. Karakteristik Pemasaran Syariah ......................................................... 4
C. Penerapan Etika Islam dalam Marketing Mix ...................................... 5
D. Etika Pemasar dalam Islam .................................................................. 9

BAB III PENUTUP ........................................................................................ 10

Kesimpulan ............................................................................................... 10

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 11


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Seiring dengan sejarah manusia dalam memenuhi kebutuhannya,
ada pihak yang meminta dan ada yang menawarkan. Pemasaran menarik
perhatian yang sangat besar baik dari perusahaan, lembaga maupun antar
bangsa. Proses pemasaran menjadi bagian penting dalam menawarkan
barang dagangan kepada calon pembeli. Apabila seorang pengusaha
mempunyai manajemen pemasaran yang bagus, maka usahanya akan cepat
berkembang.
Keberhasilan usaha suatu perusahaan ditentukan oleh keberhasilan
pemasarannya. Pemasaran merupakan suatu proses kegiatan yang mulai
jauh sebelum barang-barang/bahan-bahan masuk dalam proses produksi.
Pada zaman dahulu pemasaran dianggap sebagai tempat para artis
menggeruk keuntungan, orang penuh tipu muslihat. Penjaja barang yang
menggoda keinginan orang. Oleh sebab itu banyak konsumen yang ditelan
oleh orang-orang jahat,tapi anehnya kita suka saja kena bujukan dan
rayuan dan membeli barang yang seharusnya tidak dibutuhkan.
Cepat atau lambat perusahaan harus memperbaiki kemampuannya
untuk mempertahankan dan mengembangkan perusahaannya. Kiblat
perusahaan adalah para langganan dan semua fungsi bekerjasama untuk
melayani dan memuaskan konsumen. Akhirnya banyak ahli pemasaran
mengatakan bahwa pemasaran perlu diutamakan dalam perusahaan jika
kebutuhan pelanggan dipuaskan secara efisien. Dalam hal ini maka
manajemen pemasaran itu sangat memegang peranan penting agar
perusahaan tetap berjalan bahkan maju dalam bisnisnya.
Pemasaran yang berhasil sudah tentu memiliki konsep yang baik
pula, tidak ada unsur penipuan maupun ketidakjujuran, biasanya
pemasaran seperti ini menggunakan konsep religius atau memasukkan
unsur-unsur keagamaan,sehingga ada kehati-hatian dalam
memasarkannya. Maka dalam makalah ini akan dibahas bagaimana
manajemen pemasaran Islami?

B. Rumusan Masalah
1. Apa definisi pemasaran syariah?
2. Bagaimana karakteristik pemasaran syariah?
3. Bagaimana penerapan etika Islam dalam marketing mix?
4. Bagaimana etika pemasar dalam Islam?

C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui definisi pemasaran syariah.
2. Untuk mengetahui bagaimana karakteristik pemasaran syariah.
3. Untuk mengetahui bagaimana penerapan etika Islam dalam marketing
mix.
4. Untuk mengetahui bagaimana etika pemasar dalam Islam.
BAB II

PEMBAHASAN

A. Definisi Pemasaran Syariah


Kata “syariah” (al-syari’ah) telah ada dalam bahasa Arab sebelum
turunnya Al-Quran. Kata yang semakna dengannya juga ada dalam Taurat
dan Injil. Kata syari’at dalam bahasa Ibrani disebutkan sebanyak 200 kali,
yang selalu mengisyaratkan pada makna “kehendak Tuhan yang
diwahyukan sebagai wujud kekuasaan-Nya atas segala perbuatan
manusia.”
Dalam Al-Quran kata syari’ah disebutkan hanya sekali dalam
Surah Al-Jatsiyah, “Kemudian Kami Jadikan kamuberda didalam suatu
syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan
janganlah kalu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak
mengetahui” (QS Al-Jatsiyah: 18).
Kemudian kata itu muncul dalam bentuk kata kerja dan turunnya
sebanyak tiga kali: “Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama
apa yang telah diwasiatkan_Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami
wahyukan kepadamu, dan apa yang telah kami wasiatkan kepada Ibrahim,
Musa dan Isa…” (QS As-Syura: 13)
“Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan (syi’ah) dan
jalan” (QS Al-Maidah:48).
“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang
mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya
tak ada ketetapan yang menetuka (dari Alllah), tentulah merteka telah
dibinasakan. Dan sesunggguhnya orang-orang yang zalim ituakan
memperoleh azabyang amat pedih” (QS As-Syur: 21).
Kata syariah berasal dari kata syara’a al-syai’a yang berarti
‘menerangkan’ atau ‘menjelaskan sesuatu’. Atau berasal dari kata syir’ah
dan syari’ah yang berarti “suatu tempat yang dijadikan sarana untuk
mengambil air secara langsung sehingga orang yang mengambilnya tidal
memerlukan bantuan alat lain”. Syaikh Al-Qardhawi mengatakan, cakupan
dari pengertian syariah menurut pandangan Islam sangatlah luas dan
komprehensif (al-syumul). Didalamnya mengandung makna mengatur
seluruh aspek kehidupan, mulai dari aspek ibadah (hubungan manusia
dengan Tuhannya), aspek keluarga (seperti nikah, talak, nafkah, wasiat,
warisan), aspek bisnis (perdagangan, industri, perbankan, asuransi, utang-
piutang, pemasaran, hibah), aspek ekonomi (permodalan, zakat, bait, al-
maf, fa’I, ghanimah), aspek hukum dan peradilan, aspek undang-undang
hingga hubungan antar Negara.
Pemasaran sendiri adalah bentuk muamalah yang dibenarkan
dalam Islam, sepanjang dalam segala proses transaksinya terpelihara dari
hal-hal terlarang oleh ketentuan syariah. Maka, syariah marketing adalah
sebuah disiplin bisnis strategis yang mengarahkan proses penciptaan,
penawaran dan perubahan value dari suatu inisiator kepada stakeholders-
nya, yang dalam keseluruhan prosesnya sesuai dengan akad danprinsip-
prinsip muamalah (bisnis) dalam Islam.
Ini artinya bahwa dalam syariah marketing, seluruh proses, baik
proses penciptaan, proses penawaran, maupun proses perubahan nilai
(value), tidak boleh ada hal-hal yang bertentangan dengan akad dan
prinsip-prinsip muamalah yang Islami. Sepanjang hal tersebut dapat
dijamin, dan penyimoangan prinsip-prinsip muamalah islami tidak terjadi
dalam suatu transaksi apapun dalam pemasaran dapat dibolehkan.

B. Karakteristik Pemasaran Syariah


Ada 4 karakteristik syariah marketing yang dapat menjadi panduan
bagi para pemasar sebagai berikut:
1. Teistis (rabaniyyah)
Salah satu ciri khas syariah marketing yang tidak dimiliki dalam
pemasaran konvensional yang dikenal selama ini adalah sifat yang religius
(dinniyah). Kondisi ini tercipta tidak karena keterpaksaan, tetapi berangkat
dari kesadaran akan nilai-nilai religius, yang dipandang penting dan
mewarnai aktivitas pemasaran agar tidak terperosok kedalam perbuatan
yang dapat merugikan orang lain.
Jiwa seorang syariah marketer menyakini bahwa hukum-hukum
syariat yang teistis atau bersifat ketuhanan ini adalah hukum yang paling
sempurna. seorang syariah marketer meyakini bahwa Allah swt. selalu
dekat dan mengawasinya ketika dia sedang melaksanakan segala macam
bentuk bisnis. Dia pun yakin bahwa Allah swt. akan meminta pertanggung
jawaban darinya atas pelaksanaan syariat itu pada hari ketika semua
dikumpulkan untuk diperlihatkan amal-amalnya (di hari kiamat).
2. Etis (akhlaqiyyah)
Sifat etis ini sebenarnya merupakan turunan dari sifat teistis.
Dengan demikian, syariah marketing adalah konsep pemasaran yang
sangat mengedepankan nilai-nilai moral dan etika, tidak peduli apapun
agamanya. Karena nilai etika adalah nilai yang bersifat universal, yang
diajarkan oleh semua agama.
Untuk mencapai tujuan tersebut, Allah swt. memberikan petunjuk
melalui para rasul-Nya yang meliputi segala sesuatu yang dibutuhkan
manusia, baik akidah, akhlak (moral, etika), maupun syariah. Dua
komponen pertama, akidah dan akhlak bersifat konstan, keduanya tidak
mengalami perubahan apapun dengan berbedanya waktu dan tempat.
Sedangkan syariah senantiasa berubah sesuai dengan kebutuhan dan taraf
peradaban manusia, yang berbeda-beda sesuai dengan rasulnya masing-
masing.
3. Realistis (al-waqi’iyyah)
Realistis (Al-Waqi’iyyah)S yariah marketing bukanlah konsep
yang eksklusif, fanatis, anti-modernitas, dan kaku. Syariah marketing
adalah konsep pemasaran yang fleksibel, sebagaimana keluwesan syariah
Islamiyah yang melandasinya.
Syariah marketer bukanlah berarti para pemasar itu harus
berpenampilan ala bangsa Arab dan mengharamkan dasi karena dianggap
merupakan simbol masyarakat barat. Syariah marketer adalah para
pemasar profesional dengan penampilan yang bersih, rapi, dan bersahaja,
apapun model atau gaya berpakaian yang dikenakannya. Mereka bekerja
dengan profesional dan mengedepankan nilai-nilai religius, kesalehan,
aspek moral, dan kejujuran dalam segala aktivitas pemasarannya.
4. Humanistis (insaniyyah)
Humanistis (Al-insaniyyah) adalah bahwa syariah diciptakan untuk
manusia agar derajatnya terangkat, sifat kemanusiaannya terjaga dan
terpelihara, serta sifat-sifat kehewanannya dapat terkekang dengan
panduan syariah. Dengan memiliki nilai humanistis ia menjadi manusia
yang terkontrol, dan seimbang (tawazun), bukan manusia yang serakah,
yang menghalalkan segala cara untuk meraih keuntungan yang sebesar-
besarnya. Bukan menjadi manusia yang bahagia diatas penderitaan orang
lain atau manusia yang kering dengan kepedulian sosial.
Syariat Islam adalah syariah humanistis (insaniyyah). Syariat Islam
diciptakan untuk manusia sesuai dengan kapasitasnya tanpa menghiraukan
ras, warna kulit, kebangsaan, dan status. Hal inilah yang membuat syariah
memiliki sifat universal sehingga menjadi syariat humanistis universal.

C. Penerapan Etika Islam dalam Marketing Mix


Konsep marketing mix merupakan salah satu konsep dalam
pemasaran modern pada saat sekarang ini. Dimana konsep tersebut adalah
salah satu kegiatan pemasaran yang sangat menentukan keberhasilan
perusahaan dalam mengejar maksimum profit.
Yusanto dan widjajakusuma (2002:170) mengatakan bahwa dalam
menggagas bisnis Islami haruslah memperhatikan implementasi syariat
pada marketing mix. Marketing mix atau Bauran Pemasaran adalah
seperangkat alat pemasaran yang digunakan perusahaan untuk terus-
menerus mencapai tujuan pemasarannya pada pasar yang menjadi sasaran.
Implementasi syariat dapat diterapkan dalam variabel-variabel marketing
mix yakni product, price, place,dan promotion.
Berkaitan dengan bauran pemasaran konvensional, maka
penerapan dalam syariah akan merujuk pada konsep dasar kaidah fiqih
yakni ”Al-ashlu fil-muamalah al-ibahah illa ayyadulla dalilun ’ala
tahrimiha” yang berarti bahwa pada dasarnya semua bentuk muamalah
boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya (Kartajaya dan
Sula, 2008: 27). Berikut adalah penerapan etika Islam dalam marketing
mix dalam perspektif syariah, yakni:
1. Product (produk)
Kotler dan Keller mendefinisikan produk sebagai segala sesuatu
yang dapat ditawarkan pada pasar untuk memenuhi keinginan dan
kebutuhan (2009:358). Namun, jika ditinjau dari perspektif syariah, Islam
memiliki batasan tertentu yang lebih spesifik mengenai definisi produk.
Menurut Al Muslih (2004, 331-386), ada tiga hal yang perlu dipenuhi
dalam menawarkan sebuah produk:
a) produk yang ditawarkan memiliki kejelasan barang, kejelasan ukuran/
takaran, kejelasan komposisi, tidak rusak/ kadaluarsa dan menggunakan
bahan yang baik
b) produk yang diperjual-belikan adalah produk yang halal
c) dalam promosi maupun iklan tidak melakukan kebohongan. ”Jika barang
itu rusak katakanlah rusak, jangan engkau sembunyikan. Jika barang itu
murah, jangan engkau katakan mahal. Jika barang ini jelek katakanlah
jelek, jangan engkau katakan bagus”. (HR. Tirmidzi).
Uraian diatas jelas mengatakan bahwa hukum menjual produk
cacat dan disembunyikan adalah haram. Artinya, produk meliputi barang
dan jasa yang ditawarkan pada calon pembeli haruslah yang berkualitas
sesuai dengan yang dijanjikan. Persyaratan mutlak yang juga harus ada
dalam sebuah produk adalah harus memenuhi kriteria halal.
2. Price (harga)
Definisi harga menurut Kotler (1995) adalah Harga adalah
sejumlah uang yang dibebankan untuk sebuah produk atau jasa. Secara
lebih luas, harga adalah keseluruhan nilai yang ditukarkan konsumen
untuk mendapatkan keuntungan dari kepemilikan terhadap sebuah produk
atau jasa.
Namun dalam menentukan harga tidak boleh menggunakan cara-
cara yang merugikan pebisnis lainnya. Islam tentu memperbolehkan
pedagang untuk mengambil keuntungan. Karena hakekat dari berdagang
adalah untuk mencari keuntungan. Namun, untuk mengambil keuntungan
tersebut janganlah berlebih-lebihan (Ghazali, 1983: 308). Karena, jika
harga yang ditetapkan adalah harga wajar, maka pedagang tersebut pasti
akan unggul dalam kuantitas. Dengan kata lain, mendapat banyak
keuntungan dari banyaknya jumlah barang yang terjual, dan tampak
nyatalah keberkahan rizkinya (Ghazali, 1983: 309). Dalam proses
penentuan harga, Islam juga memandang bahwa harga haruslah
disesuaikan dengan kondisi barang yang dijual. Nabi Muhammad SAW
pernah marah saat melihat seorang pedagang menyembunyikan jagung
basah di bawah jagung kering, kemudian si pedagang menjualnya dengan
harga tinggi (Ghazali, 1983: 298). Dalam sebuah hadits beliau
mengatakan: “Mengapa tidak engkau letakkan yang kebasahan itu diatas
bahan makanan itu, sehingga orang-orang dapat mengetahui keadaannya.
Barang siapa menipu, maka ia bukanlah masuk golongan kita” (HR.
Muslim).
3. Promotion (promosi)
Salah satu tujuan promosi dalam periklanan adalah untuk
memberitahukan atau mendidik konsumen (Abdullah dan Ahmad, 2010).
Tujuan promosi lain menurut Kotler dan Amstrong (2004) adalah
menginformasikan keadaan terkini kepada konsumen potensial tentang
keberadaan produk atau jasa, untuk mengajak konsumen merubah perilaku
mereka dalam percobaan produk atau pembelian, untuk mengembangkan
sikap baik terhadap produk, merek atau perusahaan dan untuk
mengingatkan konsumen tentang keunggulan produk.
Al-Qur’an tidak melarang adanya periklanan dan memang
periklanan dapat digunakan untuk mempromosikan kebenaran Islam (Al-
Makaty et al, 1996). Namun, periklanan yang berisi tentang pernyataan-
pernyataan yang dilebih-lebihkan termasuk kedalam bentuk penipuan,
tidak peduli apakah deskripsi pernyataan tersebut sebagai metafor atau
sebagai kiasan (Haque et al, 2010) tentu sudah pasti dilarang.
Pemasaran dalam tinjauan syariah menyandarkan pedoman
etikanya pada nilai-nilai Islami yang terdapat dalam Al-Quran dan Hadits.
Promosi dalam tinjauan syariah harus sesuai dengan sharia
complianceyang merefleksikan kebenaran, keadilan dan kejujuran kepada
masyarakat. Segala informasi yang terkait dengan produk harus
diberitahukan secara transparan dan terbuka sehingga tidak ada potensi
unsur penipuan dan kecurangan dalam melakukan promosi. Promosi yang
tidak sesuai dengan kualitas atau kompetensi, contohnya promosi yang
menampilkan imajinasi yang terlalu tinggi bagi konsumennya, adalah
termasuk dalam praktik penipuan dan kebohongan. Untuk itu promosi
yang semacam tersebut sangat dilarang dalam Islam (Kartajaya dan Sula,
2008: 178).
4. Place (tempat/distribusi)
Seorang pebisnis muslim tidak akan melakukan tindakan
kedzaliman terhadap pesaing lain, suap untuk melicinkan saluran
pasarannya, dan machevialis tindakan lainnya (Yusanto dan
Widjajakusuma, 2002: 170). Dalam menentukan place atau saluran
distribusi, perusahaan Islami harus mengutamakan tempat-tempat yang
sesuai dengan target market, sehingga dapat efektif dan efisien. Sehingga
pada intinya, dalam menentukan marketing-mix harus didasari pada
prinsip-prinsip keadilan dan kejujuran. Yusanto dan Widjajakusuma
(2002: 21) berpendapat perbedaan antara bisnis Islami dan non-Islami
terletak pada aturan halal dan haram, sehingga harus terdapat kehati-hatian
dalam menjalankan strategi.
Tujuan dari fungsi distribusi adalah mempercepat sampainya
barang di tangan konsumen atau pasar pada saat yang tepat. Kebijakan
distribusi setidaknya harus memenuhi tiga kriteria. Pertama, yaitu
ketepatan dan kecepatan waktu tiba di tangan konsumen. kedua, keamanan
yang terjaga dari kerusakan, dan yang ketiga sarana kompetisi dalam
memberikan kecepatan dan ketepatan memenuhi kebutuhan konsumen.
Oleh karena itu, Islam melarang adanya ikhtikar atau penimbunan
(monopoly’s rent-seeking), sebab ikhtikar akan menyebabkan berhentinya
saluran distribusi yang mengakibatkan kelangkaan sehingga harga barang
tersebut akan meningkat (Karim, 2007: 153). Larangan ikhtikar didasari
hadits yang menyebutkan bahwa: “Tidaklah orang melakukan ikhtikar itu
kecuali ia berdosa”. (HR Muslim, Ahmad, dan Abu Dawud).
5. People (orang)
Yaitu menempatkan SDM pada tempat yang sesuai dengan
kapasitasnya (the right man on the right place), memang memerlukan
sebuah strategi manajemen SDM yang cukup baik, karena jika strategi
yang diimplementasikan keliru, maka akan berakibat fatal terhadap tingkat
kepuasan pelanggan secara jangka panjang.
6. Process (proses)
Bagaimana proses atau mekanisme mulai dari melakukan
penawaran produk hingga proses menangani keluhan pelanggan yang
efektif dan efisien. Proses ini akan menjadi salah satu bagian yang sangat
penting bagi perkembangan perusahaan agar dapat menghasilkan produk
berupa jasa yang prosesnya bisa berjalan efektif dan efisien, selain itu
tentunya juga bisa diterima dengan baik oleh pelanggan.
7. Physical Evidence (bukti fisik)
Merupakan suatu hal yang mempengaruhi kepuasan konsumen
untuk membeli dan menggunakan barang dan jasa yang ditawarkan.

D. Etika Pemasar dalam Islam


Etika adalah norma, nilai, kaidah, ukuran bagi tingkah laku yang
baik. Etika merupakan dasar moral, termasuk ilmu mengenai kebaikan dan
sifat-sifat tentang hak. Etika berisi tuntunan tentang perilaku, sikap dan
tindakan yang diakui, sehubungan dengan suatu jenis kegiatan manusia.
Sedangkan pemasaran adalah suatu proses sosial dan manajeral yang di
dalamnya individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan
dan inginkan melalui penciptaan, penawaran, dan pertukaran.
Etika pemasaran dalam perspektif islam adalah tingkah laku
seorang pemasar dalam memasarkan produknya dengan kaidah Islam.
Definisi ini mengarahkan kita bahwa orientasi pemasaran adalah pasar.
Sebab, pasar merupakan mitra sasaran dan sumber penghasilan yang dapat
menghidupi dan mendukung pertumbuhan perusahaan. Oleh karena itu,
apa pun yang dilakukan oleh aktivitas pemasaran berorientasi pada
kepuasan pasar. Kepuasan pasar adalah kondisi saling rida dan saling
memberi rahmat antara pembeli dan penjual atas transaksi yang dilakukan.
Ada sembilan etika pemasar, yang akan menjadi prinsip-prinsip
bagi syariah marketer dalam menjalankan fungi-fungsi pemasaran, yaitu:
1. Memiliki kepribadian spiritual (takwa)
2. Berprilaku bail dan simpatik (Shidq)
3. Berprilaku adil dalam bisnis (Al-Adl)
4. Bersikap melayani dan rendah hati (Khidmah)
5. Menepati janji dan tidak curang
6. Jujur dan terpercaya (Al- Amanah)
7. Tidak suka berburuk sangka (Su’uzh-zhann)
8. Tidak suka menjelek-jelekkan (Ghibah)
9. Tidak melakukan sogok (Riswah)
Selain itu ada lima hal sifat yang harus dimiliki oleh seorang
marketer yaitu:
1. Shiddiq (benar dan jujur), seorang pemasar sifat shiddiq haruslah menjiwai
seluruh prilakunya dalam melakukan pemasaran, dalam berhubungan
dengan pelanggan, dalam bertransaksi dengan nasabah, dan dalam
membuat perjanjian dengan mitra bisnisnya.
2. Amanah (terpercaya, kredibel) artinya, dapat dipercaya, bertanggung
jawab, dan kredibel, juga bermakna keinginan untuk untuk memenuhi
sesuatu sesuai dengan ketentuan. Diantara nilai yang terkait dengan
kejujuran dan melengkapinya adalah amanah.
3. Fathanah (cerdas) dapat diartikan sebagai intelektual, kecerdikan atau
kebijaksanaan. Pemimpin yang fathanah adalah pemimpin yang
memahami, mengerti dan menghayati secara mendalam segala hal yang
menjadi tugas dan kewajibannya.
4. Tabligh (komunikatif) artinya, komunikatif dan argumentatif. Orang yang
memiliki sifat ini akan menyampaikannya dengan benar dan dengan tutur
kata yang tepat. Berbicara dengan orang lain dengan sesuatu yang mudah
dipahaminya, berdiskusi dan melakukan presentasi bisnis dengan bahasa
yang mudah dipahami sehingga orang tersebut mudah memahami pesan
bisnis yang ingin kita sampaikan.
5. Istiqamah artinya konsisten, yaitu seorang pemasar syariah dalam praktik
pemasarannya selalu istiqamah dalam penerapan aturan syariah.
Kelima sifat ini merupakan sifat-sifat Nabi Muhammad Saw yang
sudah sangat dikenal tapi masih jarang diimplementasikan khususnya
dalam dunia bisnis.
BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Manajemen pemasaran Syari’ah adalah sebuah disiplin bisnis strategis


yang mengarahkan proses penciptaan, penawaran dan perubahan value dari suatu
inisiator kepada stakeholders-nya, yang dalam keseluruhan prosesnya sesuai
dengan akad danprinsip-prinsip muamalah (bisnis) dalam Islam.

Marketing mix dalam Islam harus didasari pada prinsip-prinsip keadilan


dan kejujuran, produk haruslah halal dan baik,dalam menentukan harga tidak
boleh menggunakan cara-cara yang merugikan pebisnis lainnya. Islam tentu
memperbolehkan pedagang untuk mengambil keuntungan. Karena hakekat dari
berdagang adalah untuk mencari keuntungan. Segaimana Imam Ghozali
mengatakan bahwa untuk mengambil keuntungan tersebut janganlah berlebih-
lebihan.

Etika pemasaran dalam perspektif islam adalah tingkah laku seorang


pemasar dalam memasarkan produknya dengan kaidah Islam. Dasar hukum etika
pemasaran terkandung dalam Al-Quran dan Hadits diantaranya adalah Q.S. An-
Nisa’ : 29 dan H.R. Ahmad.
DAFTAR PUSTAKA

Sutanto, Herry dan Khaerul Umam. 2013. Manajemen Pemasaran Bank Syariah.
Bandung : CV Pustaka Setia
Kartajaya, Hermawan dan Muhammad Syakir Sula. 2008. Syariah Marketing.
Bandung : Mizan Pustaka
http://dalamislam.com/hukum-islam/ekonomi/etika-pemasaran-dalam-islam