Anda di halaman 1dari 17

BAB I

TINJAUAN PUSTAKA

A. ANATOMI DAN FISIOLOGI PAYUDARA


Payudara merupakan kelenjar aksesoris kulit yang terletak pada iga
dua sampai iga enam, dari pinggir lateral sternum sampai linea aksilaris
media. Kelenjar ini dimiliki oleh pria dan wanita. Namun, pada masa
pubertas, payudara wanita lambat laun akan membesar hingga membentuk
setengah lingkaran, sedangkan pada pria tidak. Pembesaran ini terutama
terjadi akibat penimbunan lemak dan dipengaruhi oleh hormone (Ardiansyah,
2012).
Secara umum, payudara terdiri atas dua jenis jaringan, yaitu jaringan
glandular (kelenjar) dan jaringan stromal (penopang). Jaringan kelenjar
meliputi kelenjar susu (lobus) dan salurannya (ductus). Sedangkan jaringan
penopang meliputi jaringan lemak dan jaringan ikat. Selain itu, payudara juga
memiliki aliran limfe. Aliran limfe payudara sering dikaitkan dengan
timbulnya kanker maupun penyebaran (metastase) kanker payudara
(Ardiansyah, 2012).
Setiap payudara terdiri atas 15-20 lobus yang tersusun radier dan
berpusat pada papilla mamma. Saluran utama tiap lobus memiliki ampulla
yang membesar tepat sebelum ujungnya yang bermuara ke papilla. Tiap
papilla dikelilingi oleh daerah kulit yang berwarna lebih gelap yang disebut
areola mammae. Pada areola mammae, terdapat tonjolan-tonjolan halus yang
merupakan tonjolan dari kelenjar areola di bawahnya. Jika dilakukan perabaan
pada payudara, akan terasa perbedaan di tempat yang berlainan. Pada bagian
lateral atas (dekat aksila), cenderung terasa bergumpal-gumpal besar. Pada
bagian bawah, akan terasa seperti pasir atau kerikil. Sedangkan bagian di

1
bawah puting susu, akan terasa seperti kumpulan biji yang besar. Namun,
perabaan ini dapat berbeda pada orang yang berbeda (Ardiansyah, 2012).
Menurut (Ashadi,201) untuk mempermudah menyatakan letak suatu
kelainan, payudara dibagi menjadi lima regio, yaitu :
1. Kuadran atas bagian medial (inner upper quadrant)
2. Kuadran atas bagian lateral (outer upper quadrant)
3. Kuadran bawah bagian medial (inner lower quadrant)
4. Kuadran bawah bagian lateral (outer lower quadrant)
5. Regio puting susu (nipple)

Secara fisiologi, unit fungsional terkecil jaringan payudara adalah


asinus. Sel epitel asinus memproduksi air susu dengan komposisi dari unsur
protein yang disekresi apparatus golgi bersama faktor imun IgA dan IgG,
unsur lipid dalam bentuk droplet yang diliputi sitoplasma sel. Dalam
perkembangannya, kelenjar payudara dipengaruhi oleh hormon dari berbagai
kelenjar endokrin seperti hipofisis anterior, adrenal, dan ovarium. Kelenjar
hipofisis anterior memiliki pengaruh terhadap hormonal siklik follicle
stimulating hormone (FSH) dan luteinizing hormone (LH). Sedangkan
ovarium menghasilkan estrogen dan progesteron yang merupakan hormon
siklus haid. Pengaruh hormon siklus haid yang paling sering menimbulkan
dampak yang nyata adalah payudara terasa tegang, membesar atau kadang

2
disertai rasa nyeri. Sedangkan pada masa pramenopause dan perimenopause
sistem keseimbangan hormonal siklus haid terganggu sehingga beresiko
terhadap perkembangan dan involusi siklik fisiologis, seperti jaringan
parenkim atrofi diganti jaringan stroma payudara, dapat timbul fenomena
kista kecil dalam susunan lobular atau cystic change yang merupakan proses
aging (Ashadi, 2010).

B. FIBROKISTIK MAMMAE
1. Definisi
Fibrokistik adalah kelainan akibat dari peningkatan dan distorsi
perubahan siklik payudara yang terjadi secara normal selama daur haid.
Penyakit fibrokistik pada umumnya terjadi pada wanita berusia 25-50
tahun (>50%). Perubahan fibrokistik dibagi menjadi perubahan
nonproliferatif dan perubahan proliferatif, bermanifestasi dalam beberapa
bentuk yang biasanya melibatkan kombinasi dari 3 respon jaringan dasar,
proliferasi epitel (proliferatif), fibrosis dan pertumbuhan kista
(nonproliferatif) (Syaifoellah, 2009).
Proliferasi sel-sel epitel menyebabkan adenosis. Pada kasus-kasus lain
fibrosis lebih dominan dan kelainan proliferasi epitel kurang tampak.
Perubahan proliferatif mencakup serangkaian hiperplasia sel epitel
duktulus atau duktus banal atau atipikal serta adenosis sklerotikans.
Perubahan nonproliferatif ditandai dengan peningkatan stroma fibrosa
disertai oleh dilatasi duktus dan pembentukan kista dengan berbagai
ukuran. Stroma mengelilingi semua bentuk kista biasanya terdiri atas
jaringan fibrosa yang kehilangan gambaran miksomatosa. Infiltrat
limfositik stroma sering ditemukan pada lesi ini dan varian lain perubahan
fibrokistik (Lukito, 2007).

3
2. Etiologi
Sampai saat ini etiologi fibrokistik mammae belum diketahui dengan
pasti, namun menurut (Ramli, 2008) penyebabnya adalah multifaktorial
yang saling mempengaruhi satu sama lain, yaitu:
a. Genetik, Ini berdasarkan :
1) Bila ada riwayat keluarga dengan benjolan di payudara
2) Pernah mengalami infeksi, trauma, atau operasi tumor jinak
payudara.
3) Mempunyai kanker payudara kontralateral
4) Pernah menjalani operasi ginekologis, misalnya tumor ovarium.
b. Pengaruh Hormon
Hormone yang berperan adalah hormone estrogen dan progesteron
c. Makanan
1) Terutama makanan yang mengandung banyak lemak.
2) Karsinogen : terdapat lebih dari 2000 karsinogen dalam lingkungan
hidup kita.
3) Penggunaan obat yang mengandung estrogen
d. Radiasi di Daerah Dada
Riwayat pernah mengalami radiasi di dinding dada karena radiasi
dapat menyebabkan mutagen.

3. Patogenesis
Fibrokistik payudara biasanya muncul akibat dari hormon. Hubungan
dengan adanya respons jaringan payudara dan perubahan kadar hormon
estrogen yang terjadi setiap bulannya selama masa reproduktif
berlangsung. Seperti yang kita ketahui, bahwa setiap bulannya selama
siklus haid makan jaringan payudara akan mengalami pembengkakan. Dan
rangsangan dari hormon pada jaringan payudara ini akan menyebabkan
payudara menahan air serta kelenjar susu dan juga salurannya akan

4
mengalami pelebaran. Cairan inilah yang selanjutnya berkumpul dan pada
akhirnya akan membentuk kista payudara.
Disaat sedang siklus haid, maka payudara sendiri memang akan
mengalami pembengkakan, terasa nyeri dan mempunyai benjolan. Dan
setelah masa menstruasi, maka biasanya pembengkakan yang terjadi akan
semakin berkurang, dan tidak akan terasa sakit. Karena penyebabnya
adalah hormon maka fibrikostik payudara dapat mengecil, bahkan bisa
hilang sendiri disaat seorang wanita mulai memasuki masa menopause
(Ramli, 2008).

5
4. Pathway

6
5. Gejala Klinis
Gejala klinis menurut (Syaifoellah, 2009), yaitu :
a. Biasanya multipel: bengkak dan nyeri tekan pada bilateral payudara
menjelang menstruasi
b. Teraba massa yang bergerak bebas pada payudara
c. Biasanya payudara teraba lebih keras dan benjolan pada payudara
membesar sesaat sebelum menstruasi.

6. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan menurut (Syaifoellah,
2009), yaitu :
a. Mammografi
Suatu teknik pemeriksaan soft tissue. Tanda berupa fibrosis reaktif,
cornet sign, adanya perbedaan yang nyata ukuran klinik,
roentgenologik, dan adanya mikrokalsifikasi. Tanda- tanda sekunder
berupa retraksi, penebalan kulit, bertambahnya vaskularisasi,
perubahan posisi papilla dan areola berupa bridge of tumor, keadaan
daerah tumor dan jaringan fibroglanduler tidak teratur, infiltrasi dalam
jaringan lunak di belakang mammae, dan adanya metastasis ke
kelenjar. Mammografi dapat mendeteksi tumor-tumor yang secara
palpasi tidak teraba, jadi sangat baik untuk diagnosis dini dan
skrining.Hanya saja untuk mass screening.Cara ini merupakan cara
yang mahal dan hanya dianjurkan pada wanita dengan faktor high risk.
Ketepatan 83%-95%, tergantung dari teknisi dan ahli radiologinya.
b. Aspirasi Jarum Halus (BIOPSI)
Dalam prosedur ini dokter menyisipkan jarum tipis kedalam benjolan
payudara dan berupaya untuk menarik (aspirasi) cairan di dalam
benjolan.

7
7. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan pada kelainan fibrokistik menurut (Lukito, 2007) ada 2
macam yakni :
a. Medikamentosa
Pemberian obat-obatan anti nyeri dapat diberikan untuk mengurangi
nyeri yang ringan sampai sedang. Pemberian obat anti diuretik serta
pembatasan pemberian cairan dan garam.
b. Pembedahan
Penatalaksanaan secara pembedahan dilakukan bila :
1) Pengobatan medis tidak memberikan perbaikan.
2) Ditemukan pada usia pertengahan sampai tua.
3) Nyeri hebat dan berulang.
4) Perasaan kecemasan yang berlebihan dari pasien.
c. Reduksi Mammoplasti
Reduksi mammoplasti dilakukan pada keadaan :
1) Mamary hipertrofi
Gejala antara lain nyeri pada punggung dan leher serta spasme
otot. Pasien umumnya tidak mengetahui bahwa reduksi
mammoplasti dapat mengurangi gejala. Beratnya payudara dapat
menyebabkan kifosis tulang belakang.
2) Makromastia
Pasien dengan makromastia akan datang dengan keluhan ulnar
parestesia sebagai akibat dari terperangkapnya bagian terbawah
pleksus brakialis. Sulit bagi wanita yang mengalami makromastia
untuk melakukan aktifitas olahraga dan latihan. Pada kebanyakan
wanita akan menyebabkan gangguan penampilan serta kurang rasa
percaya diri. Bilateral makromastia sebagai akibat akhir
sensitivitas organ terhadap estrogen.

8
3) Gigantomastia
Pembesaran masif payudara selama kehamilan dan selama masa
adolesen. Payudara membesar sangat cepat dan secara tidak
proporsional. Komplikasi setelah reduksi mammoplasti adalah :
a) Hematoma
b) Infeksi
c) Nekrosis flap kulit dan kompleks nipple areola
d) Inversi Nipple
e) Asimetri
f) Timbul Keloid

9
BAB II

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian
1. Identitas
Meliputi nama, usia, alamat, tanggal lahir, diagnose medis dan identitas
penanggungjawab
2. Keluhan utama
Teraba benjolan
3. Riwayat penyakit sekarang
Merasa berdenyut pada payudaranya. Lama- kelamaan timbul benjolan
kecil. Benjolan semakin lama semakin membesar dan disertai rasa nyeri
tekan.
4. Riwayat penyakit dahulu
Pernah menjalani operasi pada payudara
5. Riwayat penyakit keluarga
Bila ada riwayat keluarga dengan benjolan di payudara
6. Pemeriksaan fisik
a) Breathing (B1)
Inspeksi : bentuk dada, gerakan pernapasan, kesimetrisan dada,
kepatenan jalan napas.
Tampak massa di mammae dengan konsistensi keras dan permukaan
tidak rata pada pemeriksaan payudara
Palpasi: apakah pengembangan dada kanan kiri teraba sama.
Auskultasi: untuk menilai suara napas apakah, vesikuler, ronchi,
wheezing atau lainnya.
Perkusi: apakah sonor atau pekak.
b) Blood (B2)
Inspeksi: kaji warna kulit, adakah sianosis atau tidak, perdarahan.
Palpasi: kaji CRT, akral hangat/dingin.

10
Perkusi: untuk mengkaji apakah suara jantung pekak atau tidak.
Auskultasi: kaji adanya suara jantung, reguler/ irreguler, adakah suara
tambahan mur-mur maupun gallop.

c) Brain (B3)
Meliputi pemeriksaan kepala dan neurosensori, tingkat kesadaran
secara kualitas maupun kuantitas, apakah bayi/ anak kejang, kaji
adanya keluhan nyeri kepala.
Pengkajian GCS dibagi menjadi tiga area pengkajian yaitu:
a) Respon membuka mata (Eye response) yang terdiri dari:
(1) Membuka secara spontan =4
(2) Berespon terhadap suara =3
(3) Bersepon terhadap nyeri =2
(4) Tidak ada respon =1
b) Respon verbal (Verbal Response), meliputi:
(1) Berorientasi baik = 5
(2) Bingung, berbicara mengacau, disorientasi tempat dan
waktu = 4
(3) Bisa membentuk kata tapi tidak bisa membentuk kalimat =
3
(4) Mengerang = 2
(5) Tidak bersuara = 1
c) Respon motorik (Motoric response), terdiri dari:
(1) Spontan = 6
(2) Melokalisir nyeri = 5
(3) Menghindar/ tubuh menjauhi stimulus saat diberi rangsang
nyeri = 4
(4) Fleksi abnormal = 3
(5) Ekstensi abnormal = 2
(6) Tidak ada respon = 1

11
d) Bladder (B4)
Untuk mengetahui ada tidaknya distensi pada kandung kemih, apakah
terdapat hematuri maupun melena.
e) Bowel (B5)
Untuk mengkaji status nutrisi klien apakah mengalami penurunan
berat badan, kaji adanya asites atau tidak, kaji ABCD bayi/anak
(Antropometri, Biochemical, Clinical Sign, Diet).
f) Bone (B6)
Untuk mengetahui adanya deformitas atau fraktur maupun gangguan
pada sistem muskuloskeletal.

B. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri akut berhubungan dengan terdesaknya jaringan dan tindakan eksisi
pembedahan
2. Risiko infeksi berhubungan dengan tindakan eksisi jaringan
3. Kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan tindakan pembedahan
4. Resiko cedera berhubungan dengan tindakan general anastesi

12
C. Intervensi
No Diagnosa Perencanaan Keperawatan
Keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
1 Nyeri akut NOC : NIC:
berhubungan 1. Paint level 1. Kaji skala nyeri.
dengan 2. Paint control 2. Atur posisi
terdesaknya 3. Comvort level imobilisasi.
jaringan dan Kriteria hasil: 3. Bantu klien dalam
tindakan eksisi 1. Mampu mengontrol mengidentifikasi
pembedahan nyeri (tahu penyebab nyeri dan faktor
nyeri, ampu pencetus.
menggunakan teknik 4. Jelaskan dan bantu
nonfarmakologi untuk klien terkait dengan
mengurangi nyeri). tindakan pereda
2. Melaporkan bahwa nyeri
nyeri berkurang nonfarmakologi
dengan menggunakan dan noninvasif.
manajemen nyeri. 5. Ajarkan relaksasi
3. Menyatakan rasa nafas dalam.
nyaman setelah nyeri 6. Ajarkan metode
berkurang. distraksi selama
nyeri.
7. Kolaborasi dengan
dokter dalam
pemberian
analgesik.
2 Risiko infeksi NOC: NIC:
berhubungan 1. Joint movement: 1. Kaji mobilitas yang
dengan active ada dan observasi
tindakan eksisi 2. Mobility level adanya peningkatan
jaringan 3. Self care: ADL’s kemampuan klien
Kriteria hasil: dalam aktivitas.
1. Klien meningkat Kaji secara teratur
dalam aktivitas fisik fungsi motorik.
2. Mengerti tujuan dari 2. Atur posisi
peningkatan mobilitas imobilisasi.
3. Memverbalkan 3. Ajarkan klien
perasaan dalam melakukan latihan
meningkatkan gerak aktif pada
kekuatan dan ekstremitas yang
kemampuan tidak sakit.
berpindah. 4. Bantu klien
4. Memperagakan melakukan latihan
penggunaan alat bantu ROM dan

13
untuk mobilisasi perawatan diri
sesuai toleransi.
5. Kolaborasi dengan
fisioterapi untuk
melatih fisik klien.
3 Kerusakan NOC : NIC :
integritas Tissue integrity : skin and 1. Observasi luka:
jaringan mucous membranes lokasi,dimensi,
berhubungan
§ Kriteria Hasil: kedalaman luka,
dengan
tindakan insisi § 1. Perfusi jaringan normal karakteristik, warna
§ 2. Tidak ada tanda-tanda cairan, granulasi,
infeksi jaringan
3. Ketebalan dan tekstur nekrotik, tanda-
jaringan normal tanda infeksi lokal,
4.Menunjukkan formasi traktus
pemahaman dalam 2. Lakukan tehnik
proses perbaikan kulit perawatan luka
dan mencegah dengan steril
terjadinya cidera 3. Ajarkan pada
berulang keluarga tentang
5.Menunjukkan terjadinya luka dan perawatan
proses penyembuhan luka
luka 4. Kolaborasi ahli gizi
pemberian diet
TKTP, vitamin
5. Kolaborasi dengan
dokter dalam
pemberian obat anti
inflamasi

4 Resiko cedera NOC: NIC:


berhubungan Risk Kontrol 1. Pertahankan
dengan Kriteria hasil: imobilisasi.
tindakan 1. Klien terbebas dari 2. Bila klien terpasang
general cedera. gips, pantau adanya
anastesi 2. Klien mampu penekanan
menjelaskan cara/ setempat dan
metode untuk sirkulasi perifer.
mencegah cedera. 3. Bila terpasang
3. Klien mampu bidai, sokong
memodifikasi gaya fraktur dengan

14
hidup untuk mencegah bantal atau
injury. gulungan selimut
untuk
mempertahankan
posisi yang netral.
4. Memasang side rail
tempat tidur.
5. Sediakan
lingkungan yang
aman untuk pasien.
6. Menganjurkan
keluarga untuk
menemani pasien.
7. Menjelaskan pada
pasien dan keluarga
cara mencegah
cedera.

4 Resiko infeksi NOC: NIC:


berhubungan 1. Immune status 1. Monitor tanda dan
dengan 2. Knowledge: Infection gejala infeksi.
diskontinuitas control 2. Cuci tangan
jaringan. 3. Risk control sebelum dan
Kriteria hasil: sesudah tindakan
1. Klien bebas dari tanda keperawatan.
dan gejala infeksi 3. Ajarkan pasien dan
2. Mendeskripsikan keluarga tanda dan
proses penularan gejala infeksi.
penyakit, factor yang 4. Ajarkan pada
mempengaruhi pasien dan keluarga
penularan serta cara menghindari
penatalaksanaannya infeksi.
3. Menunjukkan 5. Kolaborasi dalam
kemampuan untuk pemberian
mencegah timbulnya antibiotik.
infeksi
4. Jumlah leukosit dalam
batas normal
5. Menunjukkan perilaku
hidup sehat

15
D. Implementasi
Hal lain yang tidak kalah penting pada tahap implementasi ini adalah

mengevaluasi respon atau hasil dari tindakan keperawatan yang dilakukan

terhadap klien serta mendokumentasikan semua tindakan yang telah

dilaksanakan berikut respon atau hasilnya. Pelaksanaan asuhan keperawatan

ini merupakan realisasi dari rencana tindakan keperawatan yang diberikan

kepada pasien. Pelaksanaan adalah inisiatif dari rencana tindakan untuk

mencapai tujuan yang spesifik, tahap pelaksanaan dimulai setelah rencana

tindakan disusun dan diharapkan untuk membantu klien mencapai tujuan yang

diharapkan yang mencakup peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit,

pemulihan kesehatan, dan memfasilitasi koping (Nursalam, 2008)

E. Evaluasi

Evaluasi adalah respon pasien terhadap terapi dan kemajuan mengarah pada

hasil yang diharapkan. Aktifitas ini berfungsi sebagai umpan balik dan bagian

kontrol proses keperawatan, melalui ststus pernyataan diagnostik pasien

secara individual dinilai untuk diselesaikan, dilanjutkan, atau memerlukan

perbaikan (Muttaqin,2011).

16
DAFTAR PUSTAKA

Ardiansyah, M. 2012. Medikal Bedah Untuk Mahasiswa Keperawatan. Yogyakarta :

Diva Press

Ashadi, Toni. Dkk.2010. Ilmu Penyakit Dalam. Kapita Selekta Kedokteran Jilid I.

FKUI : Jakarta

H. M. Syaifoellah Noer. Prof. dr, dkk. 2009. Ilmu Penyakit Dalam. FKUI : Jakarta.

Muttaqin, Arif & Sari, Kurmala. 2011.Aplikasi Asuhan Keperawatan Medikal bedah.

Jakarta : Salemba Medika

Nurarif, Amin huda,dkk. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa

Medik & NANDA NIC – NOC Edisi Revisi Jilid 3. Mediaction : Jogja

Nursalam. 2008. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan.

Jakarta: Salemba Medika

Pisi Lukito dkk. 2007. Kelainan Fibrokistik Dalam: Sjamsuhidajat, Wim de Jong

penyunting Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta : EGC

Ramli M. 2008. Kanker Payudara Dalam: Soelarto R penyunting Kumpulan Kuliah

Ilmu Bedah. Bagian Bedah FKUI. Jakarta : FKUI

17