Anda di halaman 1dari 14

MANAJEMEN SUPLAI OBAT

“TOR (TURN OVER RATIO)”

OLEH : KELOMPOK V

NUR AFNI RIDWAN (O1A114032)


SISKARYAWATI SUBHANUDDIN (O1A115069)
SITI ADAWIA (O1A115070)
NI NYOMAN FITRI ASTARI (O1A115161)
IIN PRIM (O1A115094)

JURUSAN FARMASI
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah


melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis memperoleh
kesehatan dan kekuatan untuk dapat menyelesaikan makalah yang berjudul
“TOR (Turn Over Tatio)” dalam memenuhi tugas kuliah Kimia Mecinal.
Penghargaan yang tulus dan ucapan terima kasih yang sebesar-
besarnya penulis sampaikan kepada seluruh pihak, khususnya kepada dosen
pembibing atas kebijaksanaan dan kesediaannya dalam membimbing
sehingga tugas ini dapat terselesaikan.
Penulis menyadari sepenuhnya atas keterbatasan ilmu maupun dari
segi penyampaian yang menjadikan makalah ini masih jauh dari sempurna.
Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat diperlukan dari
semua pihak untuk kesempurnaan makalah ini.

Kendari, Ferbuari 2018

Penyusun
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................i


DAFTAR ISI .......................................................................................................ii
BAB I. PENDAHULUAN ..................................................................................1
A. Latar Belakang ........................................................................................1
B. Rumusan Masalah ...................................................................................2
C. Tujuan .....................................................................................................2
BAB II. PEMBAHASAN ...................................................................................3
A. Definisi Turn Over Ratio ........................................................................3
B. Kombinasi OEQ-ABC ............................................................................4
C. Kombinasi ABC-VEN ............................................................................6
BAB III PENUTUP ............................................................................................
A. Kesimpulan ...................................................................................................
B. Saran..............................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA .........................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Manajemen suplai obat merupakan suatu rangkaian kegiatan yang
menyangkut aspek perencanaan, pengadaan, penyimpanan dan
pendistribusian obat yang dikelola secara optimal untuk menjamin
tercapainya ketepatan jumlah, mutu dan jenis obat. Manajemen suplai
obat harus dimulai dengan perencanaan yang baik sebagai dasar
pengelolaan selanjutnya.
Dua konsep utama yang digunakan untuk mengukur prestasi kerja dari
suatu manajemen adalah dengan mengukur efisiensi dan efktifitasnya.
Efisiensi adalah suatu keadaan yang ketersedaan obatnya tidak menambah
beban atau dapat menurunkan biaya.Efisiensi dari pengadaan ditentukan
oleh frekuensi pembelian. Untuk menghitung frekuensi pemesanan
paling optimal dengan mengetahui Turn Over Ratio (TOR) nya yang
diperoleh dengan membandingkan harga penjualan dengan nilai
persediaan. Oleh karena itu makalah ini disusun untuk membahas lebih
lanjut tentang Turn Over Ratio da bagaimana hubungannya dengan
manajemen suplai obat.

B. Rumusan Masalah
1. Apakah yang dimaksud dengan Turn Over Ratio ?
2. Bagaimanakah kombinasi EOQ-ABC?
3. Bagaimanakah kombinasi ABC-VEN?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui yang dimaksud dengan Turn Over Ratio.
2. Untuk mengetahui kombinasi EOQ-ABC.
3. Untuk mengetahui kombinasi ABC-VEN.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Turn Over Ratio
Efisiensi persediaan obat diukur dengan besaran nilai Turn Over
Ratio (TOR) obat yaitu harga pokok penjualan dibagi nilai rata-rata
persediaan obat. Semakin tinggi nilai TOR, semakin efisien pengelolaan
persediaan (Maimun, 2008).
Untuk menghitung frekuensi pemesanan paling optimal dengan
mengetahui Turn Over Ratio (TOR) nya yang diperoleh dengan
membandingkan harga penjualan dengan nilai persediaan. Nilai TOR ini
dipengaruhi oleh periode yang digunakan, jumlah pemakaian dan nilai
persediaan.

Turn Over Ratio akan tinggi bila nilai persediaannya kecil. Tetapi
nilai persediaan yang kecil bukan berarti efisien dan efektif. Untuk
menentukan persediaan yang paling optimal ditentukan mulai dari proses
perencanaan, proses pengadaan dan pengendalian persediaan, sehingga
tingkat persediaanya tetap terjaga sehingga biaya produksi dapat ditekan
serendah mungkin.

B. Kombinasi EOQ-ABC
Economic Order Quantity (EOQ) adalah sejumlah persediaan
barang yang dapat dipesan pada suatu periode untuk tujuan
meminimalkan biaya dari persediaan barang tersebut. Dua macam biaya
yang dipertimbangkan dalam model EOQ adalah biaya penyimpanan dan
biaya pemesanan.Model EOQ adalah salah satu tehnik kontrol persediaan
tertua dan paling banyak dikenal.
Teknik ini relatif mudah digunakan, tetapi berdasarkan asumsi
yaitu :
a. Jumlah permintaan diketahui, konstan dan independen.
b. Penerimaan persediaan bersifat instan dan selesai seluruhnya, dengan
kata lain persediaan dari sebuah pesanan datang dalam satu kelompok
pada suatu waktu.
c. Tidak tersedia diskon kuantitas.
d. Biaya variabel hanya biaya untuk penyetelan/pemesanan dan biaya
menyimpan persediaan dalam waktu tertentu.
e. Kehabisan persediaan dapat sepenuhnya dihindari jika pemesanan
dilakukan pada waktu yang tepat (Kusuma, 2016).

Dengan metode EOQ instalasi farmasi rumah sakit mampu untuk


menentukan jumlah persediaan pengaman yang harus ada di instalasi
farmasi rumah sakit pada setiap periode produksi. Selain itu metode EOQ
juga dapat membantu untuk menetapkan kapan pembelian persediaan
kembali dilakukan (Reorder Point). Dalam metode ini biaya biaya
persediaan juga menjadi pertimbangan tersendiri dalam menentukan
pembelian persediaan obat. Pembelian persediaan obat yang optimal
adalah pembelian yang mampu mengkombinasikan antara biaya
pemesanan dengan biaya penyimpanan sehingga diperol eh biaya
persediaan yang minimal(Yudhistira, 2011).
Berikut ini adalah rumus untuk menentukan jumlah pemesanan
optimum :

Keterangan :
Q : jumlah optimum unit per pesanan
D : jumlah permintaan suatu periode
S : biaya pemesanan untuk setiap pesanan
H : biaya penyimpanan per unit per tahun
(Kusuma, 2016).
Model EOQ biasa digunakan untuk barang jadi yang dibeli, sedang
model ELS (Economic Lot Size) biasa digunakan untuk barang yang
diproduksi sendiri.
Rumus EOQ adalah:

Keterangan
Co : Cost per Order (sekali Pesan)
Cm : Cost of maintenance dari persediaan dalam setahun
S : Jumlah permintaan setahun
U : Cost per unit(harga satuan)

Dalam menetapkan jumlah persediaan obatdapat digunakan analisis


kuantitas pesanan yang ekonomis atau yang sering disebut dengan
Economic Order Quantity(EOQ). Analisis EOQ memiliki tujuan untuk
menentukan berapa jumlah obat yang dipesan dan menentukan waktu
pemesanan obat(Yudhistira, 2011).
ABC yaitu metode yang membagi barang-barang ke dalam tiga
tingkatan. Latar belakang metode ini lahir dari prinsip bahwa sebagian
kecil jumlah barang berperan dalam sebagian besar investasi (prinsip
Pareto).
Dalam analisis ABC jumlah obat-obatan di rumah sakit banyak
sehingga sulit untuk menerapkan metode secara visual, sehingga perlu
metode kontrol tambahan yaitu metode analisis ABC. Metode ini
membagi barang-barang ke dalam tiga tingkatan. Latar belakang metode
ini lahir dari prinsip bahwa sebagian kecil jumlah barang berperan dalam
sebagian besar investasi (prinsip Pareto). analisis ABC berdasarkan
hukum Pareto yang mengatakan bahwa hanya sedikit jumlah barang yang
mempunyai nilai besar sedangkan sisa barang lainnya yang jumlahnya
banyak hanya mempunyai nilai yang kecil (Kusuma, 2016).
Analisis ABC memberikan perspektif mengenai biaya dengan lebih
mendalam pada pihak manajemen dan membantu mereka untuk
menentukan prioritas untuk meningkatkan efisiensi dan mengurangi
biaya. Analisis ABC dapat membantu untuk merasionalisasikan jumlah
pemesanan dan mengurangi persediaan untuk periode tertentu. Jika
semua barang diperlakukan dengan cara yang sama maka dapat
dibutuhkan biaya besar dan kemungkinan salah dalam mempriorotaskan
barang (Kusuma, 2016).
Hal yang tidak efisien dan efektif, adalah apabila kita melakukan
pengawasan dan pengendalian yang ketat terhadap jenis-jenis bahan yang
mempunyai nilai penggunaan yang rendah. Oleh karena itu cukup
menekankan pengawasan persediaan yang ketat terhadap jenis persediaan
yang mempunyai nilai penggunaan yang terbesar. Dengan menggunakan
analisis ini membuat pihak manajemen untuk lebih berfokus pada
barang-barang yang memiliki nilai penggunaan lebih tinggi sehingga
dapat ditangani dengan lebih efisien (Kusuma, 2016).
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam membuat analisis ABC:
a. Jika barang dapat saling mensubstitusi maka mereka dianggap
sebagai satu barang.
b. Dalam mengklasifikasi menjadi kelompok A,B, dan C yang harus
dilihat adalah total nilai konsumsi, bukan harga per unit barang.
c. Semua barang yang dikonsumsi oleh organisasi harus
diklasifikasikan bersama-sama, tidak dikelompokkan lagi.
d. Periode konsumsi tidak harus selama 1 tahum, dapat disesuaikan
dengan kebutuhan seperti misalnya 6 bulan, 4 bulan dan bahkan 1
bulan.
Cara melakukan analisis ABC dibedakan menjadi dua yaitu :
a. Analisis ABC Pemakaian
Langkah-langkah yang dilakukan yaitu sebagai berikut :
 Mengumpulkan daftar jenis obat dalam satu periode.
 Membuat daftar pemakaian dari masing-masing jenis obat.
 Jumlah pemakaian masing-masing jenis obat diurutkan
berdasarkan jumlah pemakaian terbanyak ke jumlah pemakaian
yang terkecil.
 Menghitung prosentase untuk masing-masing dan prosentase
kumulatifnya.
 Mengelompokkan obat menjadi 3 kelompok berdasarkan
prosentse 70-20-10, yaitu ; sampai dengan 70% masuk kelompok
A, 71-90% masuk kelompok B, lebih dari 90% masuk kelompok
C.
b. Analisis ABC Investasi
Langkah-langkah yang dilakukan yaitu sebagai berikut :
 Mengumpulkan seluruh daftar jenis obat selama satu periode
 Mencatat harga pembelian masing-masing jenis untuk periode
tersebut.
 Menghitung biaya pemakaian setiap jenis dengan cara
mengkalikan antara jumlah pemakaian dengan harga satuan.
 Menyusun nilai investasi dari yang terbesar hingga yang terkecil.
 Menghitung prosentase dan kumulatifnya.
 Mengelompokkan obat menjadi 3 kelompok dengan prosentase
70-20-10 (Kusuma, 2016).

Setelah didapatkan kelompok barang A,B, dan C, maka selanjutnya


dapat dibuat kebijakan untuk pengendaliannya sesuai dengan
kepentingan kelompok barang tersebut. Dengan melakukan pendekatan
analisis ABC, semua item barang diklasifikasikan. Hal ini memberikan
keuntungan tersendiri baik pada aspek persediaan maupun aspek
keuangan. Dengan memanfaatkan analisis ABC akan mempermudah
dalam mengelola dan melakukan pengawasan terhadap persediaan obat.
Dengan nilai persediaan yang tinggi, item barang yang berada paling atas
pada daftar ABC akan membutuhkan perhatian khusus.
Sedangkan keterbatasan analisis ABC yaitu:
a. Harus ada standarisasi dan pengkodean setiap barang
b. Dapat menyebabkan kurangnya perhatian terhadap barang yang kritis
tetapi nilainya rendah
c. Harus di review secara periodik sehingga perubahan harga dan
konsumsi dapat dipertimbangkan kembali.
Analisis ABC bisa berjalan dengan baik di beberapa industri, tetapi
mempunyai kelemahan terutama di farmasi rumah sakit. Kelemahan
tersebut adalah :
a. Klasifikasi berdasarkan ABC tidak memberikan informasi
berhubungan dengan obat yang penting dan kritis.
b. Beberapa obat dengan pemakaian yang tinggi yang nilai kontribusinya
tinggi pada persediaan, bisa saja tidak penting seperti obat yang ada di
kelas B dan C.
Berdasarkan kelemahan yang sudah disebutkan di atas, klasifikasi
obat dengan analisis ABC tidaklah cukup dalam mendukung manajemen
pengendalian persediaan obat. Oleh karena itu, analisis ABC harus
disertai dengan klasifikasi obat berdasarkan klasifikasi VEN dimana
analisa ini berfokus pada obat-obat kritis(Kusuma, 2016).

C. Kombinasi ABC-VEN
Untuk mempertajam analisa dalam pengendalian persediaan obat,
digunakan gabungan antara analisis ABC dan klasifikasi VEN kedalam
suatu matriks. Dengan metode gabungan ini, bisa diketahui nilai
penggunaan obat yang sesuai dengan tingkatan kebutuhan klinisnya.
Matriks tersebut dapat dibuat seperti berikut :
Tabel: Matriks Analisa ABC-VEN

Kombinasi dari klasifikasi VEN dan ABC memberikan matriks yang


terdiri dari sembilan kategori. Setiap grup dari matriks diatas
memerlukan kebijakan dan manajemen pengendalian persediaan yang
berbeda-beda, seperti tersebut dibawah ini :
a. AV mewakili obat yang mempunyai tingkatan kritis yang vitaldengan
jumlah pemakaian yang tinggi. Item-item obat yang berada di grup
ini membutuhkan perhatian khusus dan analisa yang komprehensif.
Rekomendasi untuk obat yang masuk dalam matriks ini adalah
menyediakan obat dengan stok sedikit tetapi lebih sering melakukan
pembelian. Disisi lain obat ini harus selalu tersedia di persediaan
untuk kasus darurat. Kejadian kehabisan persediaan untuk obat
vitalmenimbulkan dampak negatif dalam pelayanan medis. Oleh
karena itu, untuk obat yang masuk dalam kelas AV harus dianalisa
dengan hati-hati melalui kontrol dan memantau persediaan secara
rutin.
b. AN mencakup obat-obat dengan pemakaian yang berkontribusi besar
pada total persediaan tetapi merupakan obat yang nonessential.
Kemanjuran dari beberapa obat nonessentialmasih diragukan dan
beberapa dari merka dapat digantikan oleh obat lain. Pembatasan obat
dari golongan ini dapat mengurangi tingkat persediaan dan
meningkatkan kinerja keuangan. Persediaan sebaiknya diset pada
tingkat rendah.
c. CV mencakup obat-obat yang harus selalu tersedia, tetapi obat-obat
ini tidak mempunyai dampak yang besar pada aspek keuangan.
Pemesanan untuk obat golongan ini dapat dilakukan pada kuantitas
yang besar untuk mendapatkan diskon.
d. CN merupakan grup obat yang hanya sedikit essentialdan penting
baik berdasarkan analisis ABC maupun VEN. Safety stock sebaiknya
diset pada tingkatan yang rendah.
e. AE dan BV merupakan grup yang tidak dapat diabaikan karena AE
merupakan grup yang penting berdasarkan nilainya, sedangkan BV
penting berdasarkan perawatan medis. Metode EOQ bisa diterapkan
untuk menentukan jumlah order dari masing-masing item pada grup
ini. Untuk grup AE, obat yang essential dengan nilai yang tinggi,
dapat disimpan pada tingkat persediaan yang rendah tapi lebih sering
dilakukan pembelian. Grup BV yang mencakup obat vitaldengan nilai
persediaan yang rendah dapat disimpan dengan jumlah yang lebih
banyak daripada obat pada grup AE.
f. BE, BN, dan CE bisa dikontrol dengan tingkat persediaan yang
sedang. Analisanya berdasarkan penggunaan pada waktu lampau.
Safety stock yang sedang sesuai untuk kategori ini(Kusuma, 2016)..
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Turn Over Ratio (TOR) dapat diperoleh dengan membandingkan
harga penjualan dengan nilai persediaan. Nilai TOR ini dipengaruhi
oleh periode yang digunakan, jumlah pemakaian dan nilai
persediaan.
2. Economic Order Quantity (EOQ) adalah sejumlah persediaan barang
yang dapat dipesan pada suatu periode untuk tujuan meminimalkan
biaya dari persediaan barang tersebut. Sedangkan ABC yaitu metode
yang membagi barang-barang ke dalam tiga tingkatan.
3. Untuk mempertajam analisa dalam pengendalian persediaan obat,
digunakan gabungan antara analisis ABC dan klasifikasi VEN
kedalam suatu matriks. Dengan metode gabungan ini, bisa diketahui
nilai penggunaan obat yang sesuai dengan tingkatan kebutuhan
klinisnya.

B. Saran
Saran yang dapat kami sampaikan ialah kiranya agar makalah ini
dapat dimanfaatkan oleh para pembaca, serta kritikan yang membangun
diperlukan demi kemudahan dalam pembuatan makalah selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA

http://hadikurniawanapt.blogspot.co.id/2012/10/tugas-manajemen-farmasi-
rumah-sakit.html

Kusuma M.A, 2016, Rancangan Model Manajemen Persediaan Obat


Kategori AV Dengan Analisis ABC (Pareto) Dan Klasifikasi VEN
Pada Instalasi Farmasi Rumah Sakit Bedah Surabaya, Universitas
Airlangga.

Maimun, A., 2008, Perencanaan Obat Antibiotik Berdasarkan Kombinasi


Metode Konsumsi Dengan Analisis ABC Dan Reorder Point Terhadap
Nilai Persediaan Dan Turn Over Ratio Di Instalasi Farmasi RS Darul
Istiqomah Kaliwungu Kendal, Tesis.

Yudhistira, 2011, Perancangan Dan Implementasi Sistem Manajemen


Persediaan Obat Dengan Analisis Abc Dan Eoq (Economic Order
Quantity) Pada Instalasi Farmasi Rsud Arifin Ahmad ,Fakultas Sains
Dan Teknologi Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau
Pekanbaru.