Anda di halaman 1dari 9

1.

Anatomi payudara
Payudara adalah suatu kelenjar yang terdiri atas jaringan lemak, kelenjar fibrosa, dan
jaringan ikat. Jaringan ikat memisahkan payudara dari otot–otot dinding dada, otot pektoralis
dan otot serratus anterior. Payudara terletak di fascia superficialis yang meliputi dinding
anterior dada dan meluas dari pinggir lateral sternum sampai linea axillaris media, dan pinggir
lateral atas payudara meluas sampai sekitar pinggir bawah musculus pectoralis major dan
masuk ke axilla. Pada wanita dewasa muda payudara terletak di atas costa II–IV.
Secara umum payudara dibagi atas korpus, areola dan puting. Korpus adalah bagian yang
membesar. Di dalamnya terdapat alveolus (penghasil ASI), lobulus, dan lobus. Areola
merupakan bagian yang kecokelatan atau kehitaman di sekitar puting. Tuberkel–tuberkel
Montgomery adalah kelenjar sebasea pada permukaan areola. Puting (papilla mammaria)
merupakan bagian yang menonjol dan berpigmen di puncak payudara dan tempat keluarnya
ASI.
Puting mempunyai perforasi pada ujungnya dengan beberapa lubang kecil, yaitu apertura
duktus laktiferosa. Suplai arteri ke payudara berasal dari arteri mammaria internal, yang
merupakan cabang arteri subklavia. Konstribusi tambahan berasal dari cabang arteri aksilari
toraks. Darah dialirkan dari payudara melalui vena dalam dan vena supervisial yang menuju
vena kava superior sedangkan aliran limfatik dari bagian sentral kelenjar mammae, kulit,
puting, dan aerola adalah melalui sisi lateral menuju aksila. Dengan demikian, limfe dari
payudara mengalir melalui nodus limfe aksilar.

Gambar 1. Anatomi payudara


2. Ca mammae
a. Etiologi
Penyebab spesifik kanker payudara masih belum diketahui, tetapi terdapat banyak
faktor yang diperkirakan mempunyai pengaruh terhadap terjadinya kanker payudara
diantaranya:
1) Faktor reproduksi
Karakteristik reproduktif yang berhubungan dengan risiko terjadinya kanker
payudara adalah nuliparitas, menarche pada umur muda, menopause pada umur lebih
tua, dan kehamilan pertama pada umur tua. Risiko utama kanker payudara adalah
bertambahnya umur. Diperkirakan, periode antara terjadinya haid pertama dengan
umur saat kehamilan pertama merupakan window of initiation perkembangan kanker
payudara. Secara anatomi dan fungsional, payudara akan mengalami atrofi dengan
bertambahnya umur. Kurang dari 25% kanker payudara terjadi pada masa sebelum
menopause sehingga diperkirakan awal terjadinya tumor terjadi jauh sebelum
terjadinya perubahan klinis.
2) Penggunaan hormone
Hormon estrogen berhubungan dengan terjadinya kanker payudara. Laporan dari
Harvard School of Public Health menyatakan bahwa terdapat peningkatan kanker
payudara yang signifikan pada para pengguna terapi estrogen replacement. Suatu
metaanalisis menyatakan bahwa walaupun tidak terdapat risiko kanker payudara pada
pengguna kontrasepsi oral, wanita yang menggunakan obat ini untuk waktu yang
lama mempunyai risiko tinggi untuk mengalami kanker payudara sebelum
menopause. Sel-sel yang sensitive terhadap rangsangan hormonal mungkin
mengalami perubahan degenerasi jinak atau menjadi ganas.
3) Penyakit fibrokistik
Pada wanita dengan adenosis, fibroadenoma, dan fibrosis, tidak ada peningkatan
risiko terjadinya kanker payudara. Pada hiperplasis dan papiloma, risiko sedikit
meningkat 1,5 sampai 2 kali. Sedangkan pada hiperplasia atipik, risiko meningkat
hingga 5 kali.
4) Obesitas
Terdapat hubungan yang positif antara berat badan dan bentuk tubuh dengan kanker
payudara pada wanita pasca menopause. Variasi terhadap kekerapan kanker ini di
negara-negara Barat dan bukan Barat serta perubahan kekerapan sesudah migrasi
menunjukkan bahwa terdapat pengaruh diet terhadap terjadinya keganasan ini.
5) Konsumsi lemak
Konsumsi lemak diperkirakan sebagai suatu faktor risiko terjadinya kanker payudara.
Willet dkk. melakukan studi prospektif selama 8 tahun tentang konsumsi lemak dan
serat dalam hubungannya dengan risiko kanker payudara pada wanita umur 34
sampai 59 tahun.
6) Radiasi
Eksposur dengan radiasi ionisasi selama atau sesudah pubertas meningkatkan
terjadinya risiko kanker payudara. Dari beberapa penelitian yang dilakukan
disimpulkan bahwa risiko kanker radiasi berhubungan secara linier dengan dosis dan
umur saat terjadinya eksposur.
7) Riwayat keluarga dan faktor genetik
Riwayat keluarga merupakan komponen yang penting dalam riwayat penderita yang
akan dilaksanakan skrining untuk kanker payudara. Terdapat peningkatan risiko
keganasan pada wanita yang keluarganya menderita kanker payudara. Pada studi
genetik ditemukan bahwa kanker payudara berhubungan dengan gen tertentu.
Apabila terdapat BRCA 1, yaitu suatu gen kerentanan terhadap kanker payudara,
probabilitas untuk terjadi kanker payudara sebesar 60% pada umur 50 tahun dan
sebesar 85% pada umur 70 tahun.
8) Faktor Genetik
Kanker peyudara dapat terjadi karena adanya beberapa faktor genetik yang
diturunkan dari orangtua kepada anaknya. Faktor genetik yang dimaksud adalah
adanya mutasi pada beberapa gen yang berperan penting dalam pembentukan kanker
payudara gen yang dimaksud adalah beberapa gen yang bersifat onkogen dan gen
yang bersifat mensupresi tumor.Gen pensupresi tumor yang berperan penting dalam
pembentukan kanker payudara diantaranya adalah gen BRCA1 dan gen BRCA2.
9) Umur
Pada tahun 2001, dari 447 kasus kanker payudara yang berobat di RS Kanker
Dharmais Jakarta 9,1% diantaranya adalah perempuan berusia kurang dari 30 tahun.
Semakin bertambahnya umur meningkatkan risiko kanker payudara. Wanita paling
sering terserang kanker payudara adalah usia di atas 40 tahun. Wanita berumur di
bawah 40 tahun juga dapat terserang kanker payudara, namun risikonya lebih rendah
dibandingkan wanita di atas 40 tahun. Penelitian Devi Nur Octaviana tahun 2011
yang berjudul “faktor-faktor risiko kanker payudara pada pasien kanker payudara
wanita di rumah sakit kanker Dharmais Jakarta” menyatakan bahwa kelompok kasus
kanker payudara banyak terdapat pada rentang usia 40-49 tahun yaitu sebesar 41,7%,
kemudian pada rentang usia 50-59 tahun yaitu sebesar 37,5 %. Menurut penelitian
rini indrati (2005) kasus kanker yang terjadi pada rentang usia 20-29 tahun sebanyak
1,9% , 30-39 tahun sebanyak 21,2% , 40-49 tahun sebanyak 38,5% , 50-59 tahun
sebanyak 32,7% , 60-69 tahun adalah 3,8% dan >70 tahun adalah 1,9%. Adapun
penggolongan kategori umur sebagai berikut :
a) 26 – 35 : dewasa awal
b) 36 – 45 : dewasa akhir
c) 46 – 55 : lansia awal.
d) 56 – 65 : lansia akhir
Depkes RI. Buku Saku Pencegahan Kanker Leher Rahim dan Kanker Payudara.
Jakarta: Ditjen PP & PL; 2009.
b. Faktor resiko (sama dengan a)
c. Pencegahan
1. Pencegahan primer
Pencegahan primer adalah usaha mencegah timbulnya kanker pada orang sehat
yang memiliki risiko untuk terkena kanker payudara. Pencegahan primer dilakukan
terhadap individu yang memiliki risiko untuk terkena kanker payudara. Beberapa
usaha yang dapat dilakukan antara lain:
1) Penggunaan Obat-obatan Hormonal
a) Penggunaan obat-obatan hormonal harus sesuai dengan saran dokter.
b) Wanita yang mempunyai riwayat keluarga menderita kanker payudara atau
yang berhubungan, sebaiknya tidak menggunakan alat kontrasepsi yang
mengandung hormon seperti pil, suntikan, dan susuk KB.
2) Pemberian ASI
Memberikan ASI pada anak setelah melahirkan selama mungkin dapat
mengurangi risiko terkena kanker payudara. Hal ini di sebabkan selama proses
menyusui, tubuh akan memproduksi hormon oksitosin yang dapat mengurangi
produksi hormon estrogen. Hormon estrogen memegang peranan penting dalam
perkembangan sel kanker payudara. Semua wanita di atas umur 20 tahun sebaiknya
melakukan SADARI setiap bulan untuk menemukan ada tidaknya benjolan pada
payudara. Sebaiknya SADARI dilakukan pada waktu 5-7 hari setelah menstruasi
terakhir ketika payudara sudah tidak membengkak dan sudah menjadi lembut
3) Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI)
Semua wanita di atas umur 20 tahun sebaiknya melakukan SADARI setiap bulan
untuk menemukan ada tidaknya benjolan pada payudara. Sebaiknya SADARI dilakukan
pada waktu 5-7 hari setelah menstruasi terakhir ketika payudara sudah tidak membengkak
dan sudah menjadi lembut. Langkah-langkah SADARI dapat dilakukan seperti pada
gambar 2.
Tahap I Melihat Perubahan di Hadapan Cermin:
Tahap II Melihat Perubahan dengan Cara Berbaring:

4) Pemeriksaan Mammografi
Pemeriksaan melalui mammografi memiliki akurasi tinggi yaitu sekitar 90%
dari semua penderita kanker payudara, tetapi keterpaparan terus-menerus pada
mammografi pada wanita yang sehat merupakan salah satu faktor risiko terjadinya
kanker payudara. Karena hal tersebut, menurut American Cancer Society
mammografi dilaksanakan dengan beberapa pertimbangan antara lain:
a) Untuk perempuan berumur 35-39 tahun, cukup dilakukan 1 kali mammografi.
b) Untuk perempuan berumur 40-50 tahun, mammografi dilakukan 1-2 tahun sekali.
c) Untuk perempuan berumur di atas 50 tahun, mammografi dilakukan setiap tahun
dan pemeriksaan rutin.
2. Pencegahan sekunder
Pencegahan sekunder dilakukan dengan melakukan diagnosis dini terhadap
penderita kanker payudara dan biasanya diarahkan pada individu yang telah positif
menderita kanker payudara agar dapat dilakukan pengobatan dan penanganan yang tepat.
Penanganan yang tepat pada penderita kanker payudara sesuai dengan stadiumnya akan
dapat mengurangi kecatatan, mencegah komplikasi penyakit, dan memperpanjang
harapan hidup penderita Pencegahan sekunder dapat dilakukan dengan beberapa cara
yaitu:
a) Pemeriksaan Klinis
Pemeriksaan klinis di mulai dengan mewawancarai penderita kanker payudara,
pemeriksaan klinis payudara, untuk mencari benjolan atau kelainan lainnya, insfeksi
payudara, palpasi, dan pemeriksaan kelenjar getah bening regional atau aksila.
Dilanjutkan dengan pemeriksaan penunjang dilakukan dengan menggunakan alat-alat
tertentu antara lain dengan termografi, ultrasonografi, scintimammografi, lalu
dilanjutkan dengan pemeriksaan histopatologis untuk mendiagnosis secara pasti
penderita kanker payudara.
b) Penatalaksanaan Medis yang Tepat
Semakin dini kanker payudara ditemukan maka penyembuhan akan semakin
mudah. Penatalaksanaan medis tergantung dari stadium kanker didiagnosis yaitu
dapat berupa operasi/pembedahan, radioterapi, kemoterapi, dan terapi homonal.
3. Pencegahan Tertier
Pencegahan tertier dapat dilakukan dengan perawatan paliatif dengan tujuan
mempertahankan kualitas hidup penderita dan memperlambat progresifitas penyakit dan
mengurangi rasa nyeri dan keluhan lain serta perbaikan di bidang psikologis, sosial, dan
26
spritual. Untuk mengurangi ketidakmampuan dapat dikakukan Rehabilitasi supaya
penderita dapat melakukan aktivitasnya kembali.Upaya rehabilitasi dilakukan baik secara
fisik, mental, maupun sosial, seperti menghilangkan rasa nyeri, harus mendapatkan
asupan gizi yang baik, dukungan moral dari orang-orang terdekat terhadap penderita
pasca operasi.
1. Breast Cancer Estimated Incidence, Mortality and Prevalence Worldwide in 2012.
International Agency for Reasearch on Cancer. 2012.
2. Putri N. Deteksi Dini Kanker Payudara. Yogyakarta: Aura Media; 2009

3. FAM
a. Etiologi
b. Faktor resiko
c. Prognosis
4. Fibrositik
a. Patofisiologi
b. Diagnosis
c. Edukasi
5. Bagaimana hubungan menarche <10 tahun dengan kasus?
Pergeseran usia Menarche yang lebih muda, akan menyebabkan remaja putri mengalami
dampak kanker payudara. Perbaikan nutrisi akan berdampak kepada penurunan usia menarche.
Menarche dini lebih cenderung ditemui pada wanita dengan status nutrisi yang baik. Hal ini
dikarenakan status nutrisi mempengaruhi maturitas sistem endokrin.
Karena resiko kanker payudara akan meningkat pada wanita yang mengalami menstruasi
pertama sebelum umur 12 tahun, umur menstruasi yang lebih awal berhubungan dengan
lamanya paparan hormon estrogen dan progesteron pada wanita yang berpengaruh terhadap
proses poliferasi jaringan, termasuk jaringan payudara.
Depkes RI. Prevalensi Kejadian Kanker Payudara Di Indonesia. 2012. (Diakses tanggal 02 juni
2018). Didapat dari : http://www.depkesri.co.id.

6. Deteksi dini Ca mammae?


Deteksi dini bertujuan mendiagnosis kanker payudara lebih awal, sehingga menurunkan
morbiditas dan mortalitas. Panduan Nasional Penanganan Kanker Payudara versi 1.0 2015
menyatakan pentingnya upaya pencegahan dan skrining kanker payudara.
Hingga saat ini mammografi masih menjadi salah satu modalitas skrining paling efektif
yang diakui oleh berbagai kalangan medis ahli di dunia, dan bahwa manfaat skrining dengan
mammografi berbanding lurus dengan meningkatnya usia, namun kontroversi efektivitas,
biaya skrining, dan radiasi juga menjadi pertimbangan. Komunikasi dan keterbukaan informasi
antara dokter dan pasien sangat penting dalam penentuan kapan perlu dimulai skrining.
ACS tidak memasukkan pemeriksaan klinis payudara dan payudara sendiri dalam
rekomendasinya, tetapi USPSTF (US Preventive Services Task Force) masih memasukkan
pemeriksaan payudara klinis sebagai bagian dari skrining dengan catatan bahwa dalam praktik
belum ada teknik standar pemeriksaan tersebut. Dalam Panduan Nasional Penanganan Kanker
Payudara versi 1.0 2015, pemeriksaan payudara berkala masih menjadi bagian deteksi dini.10
Pemeriksaan klinis masih dapat mendeteksi sejumlah kasus kanker payudara dengan limitasi
antara lain hasil positif palsu yang menyebabkan dilakukannya pemeriksaan imaging dan
biopsi.18 Semua panduan tetap menganjurkan agar semua wanita familiar dengan payudaranya
sendiri dan segera melaporkan jika terdapat perubahan pada payudaranya.